PEMBUATAN PANEL BETON RINGAN BERBASIS
PERLIT DAN EFEK KOMPOSISI TERHADAP
KARAKTERISTIKNYA
T E S I S
Oleh
JAUHARAH CUT ALI
077026010/FIS
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PEMBUATAN PANEL BETON RINGAN BERBASIS
PERLIT DAN EFEK KOMPOSISI TERHADAP
KARAKTERISTIKNYA
T E S I S
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ilmu Fisika pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara
Oleh
JAUHARAH CUT ALI
077026010/FIS
SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul Tesis : PEMBUATAN PANEL BETON RINGAN BERBASIS PERLIT DAN EFEK KOMPOSISI TERHADAP
KARAKTERISTIKNYA Nama Mahasiswa : Jauharah Cut Ali
Nomor Pokok : 077026010 Program Studi : Fisika
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Prof. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc) (Prof. Drs. H. Mohammad Syukur, MS) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Direktur
(Prof. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc) (Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B.,M.Sc)
Telah diuji pada
Tanggal : 08 Juni 2009
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Prof. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc.
Anggota : 1. Prof. Drs. H. Mohammad Syukur, MS
2. Dra. Justinon, MS
3. Dr. Ir. Reza Fadhilla, M.I.M.
ABSTRAK
Telah dilakukan pembuatan panel beton ringan (beton perlit I dan II) dari campuran semen - perlit dan semen - agregat (campuran perlit dan pasir). Kualitas beton ringan secara umum sangat ditentukan oleh komposisi bahan baku dan proses pengeringannya. Prosedur pembuatan beton perlit I menggunakan bahan baku (semen + perlit) dan beton perlit II (semen + perlit + pasir), diaduk hingga rata dan dicetak berbentuk selinder (diameter 27 mm dan tinggi 90 mm), sedangkan bentuk balok berukuran 160 x 40 x 40 cm3. Kemudian sampel tersebut dikeringkan secara alami (7, 14, 21 dan 28 hari) serta menggunakan autoclave dengan tekanan 1,5 bar (selama 20, 30, 60 dan 90 menit). Karakteristik beton ringan yang diukur meliputi: densitas, kuat tekan, kuat patah, kuat tarik, penyerapan air, penyusutan, firing resistance (firing retardant), konduktivitas termal, dan analisa mikrostrukturnya dengan XRD. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa beton perlit I dan II dengan komposisi: 80,00; 85,72; dan 88,89 % (volum perlit atau volum agregat) yang dikeringkan selama 28 hari (secara alami) dan dengan autoclave selama 90 menit memiliki sifat fisis, mekanik dan termal, memenuhi persyaratan sebagai panel beton ringan. Nilai densitas dari beton perlit I yang diperoleh dari proses pengeringan alami (28 hari), dan dikeringkan dengan menggunakan
autoclave bertekanan 1,5 bar (90 menit) adalah sekitar: 315,22 - 662,08 kg/m3 (0,315 -
0,662 g/cm3). Panel beton ringan (beton perlit II) yang dikeringkan selama 28 hari (alami) dan dikeringkan selama 90 menit (menggunakan autoclave) menghasilkan densitas pada rentang: 1050,22 - 1420,35 kg/m3.
Penyerapan air beton perlit I dan II pada komposisi terbaik adalah: 8 – 20 % dan penyusutannya sekitar 0,05 - 0,17 %. Ketahanan api terbaik dari beton perlit I dan II yang dibakar selama 4 jam (titik nyala api) adalah pada komposisi 80,00 dan 85,72 % volum perlit, dan 80,00; 85,72 dan 88,89 % agregat. Panel beton perlit I dan II memiliki kamampuan meredam panas dengan nilai konduktivitas panas sekitar: 0,61 –
0,97 W/m2.K, sehingga dapat dipergunakan sebagai panel isolasi panas. Beton perlit I didominasi oleh fasa-fasa: Ca2SiO4 (C2S), Ca3SiO5 (C3S), dan Ca3Al2SiO6 (C3A), dan fasa minor SiO2 yang berasal dari perlit. Beton perlit II memiliki fasa dominan SiO2 yang berasal dari pasir dan perlit: quarzt, tridymit dan crystobalit, sedangkan fasa dari semen: Ca2SiO4 (C2S), dan Ca3SiO5 (C3S).
ABSTRACT
The making of light weight concrete (perlit concrete I and II) have been done by using mixture cement - perlit and cement - aggregate (mixture of perlit and sand). Generally, the quality of light weight concrete was determined by composition of raw material and process. The procedure of perlit concrete making was used raw material (cement + perlit) for perlit concrete I and (cement + perlit + sand) for concrete perlit II, Raw material was mixed until homogeneous and casting in form of cylinder (diameter = 27
mm and high = 90 mm), also in beam form (160 x 40 x 40 cm3). Then the sample was
dried naturally (7, 14, 21 and 28 day) and also used the autoclave with pressure 1.5 bar (during 20, 30, 60 and 90 minutes). The light weight Concrete characteristic measured cover: density, compressive strength, bending strength, tensile strength, water absorption, shrinkage, firing resistance (firing retardant), thermal conductivity, and microstructure analysis by using XRD. The characterization results indicate that the perlit concrete I and II with the composition: 80.00; 85.72; and 88.89 % (perlit volume or aggregate volume), dried during 28 day (naturally) and by using autoclave during 90 minute have the physical, mechanical and thermal properties that fulfill the condition as light weight concrete panel. The density of perlit concrete I, obtained from natural draining process (28 day), and dried by using autoclave with pressure 1.5 bar
(90 minute) are about: 315.22 – 662.08 kg/m3 (0.315 – 0.662 g/cm3). The light weight
concrete panel (perlit concrete II) that is dried during 28 days and 90 minute (using
autoclave) have density in range: 1050.22 – 1420.35 kg/ m3. The best composition for
water absorption of perlit concrete I and II are: 8 - 20 % and shrinkage about 0.05 –
0.17 %. The best fire resistance performance of perlite concrete I and II, fired during 4 hours (flash point) are: composition 80.00% and 85.72% (perlit volume), and 80.00%; 85.72% and 88.89% (aggregate). The perlit concrete panel I and II have the capability
to reduce the heat with thermal conductivity about: 0.61 – 0.97 W/m2.K, so it can be
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat kepada Allah SWT. atas segala
limpahan rahmat dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.
Kami ucapkan terima kasih sebesar – besarnya kepada Pemerintah Republik Indonesia
c.q. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah memberikan bantuan dana
sehingga kami dapat melaksanakan Program Magister Sains pada Program Studi
Magister Ilmu Fisika Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Dengan selesainya tesis ini, perkenankanlah saya mengucapkan terima kasih
yang sebesar – besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp..A(K) selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami untuk
mengikuti dan menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Ilmu Fisika Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B., M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk
menjadi Mahasiswa Program Magister Sains pada Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Eddy Marlianto, M.Sc selaku Ketua Program Studi Magister
Fisika Sekolah Pascasarjana sekaligus sebagai Ketua Komisi Pembimbing yang
telah banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam membimbing penulis hingga
terselesaikannya penulisan tesis ini.
4. Bapak Drs. Nasir Saleh, M.Eng.Sc selaku Sekretaris Magister Sains Program Studi
Ilmu Fisika Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Yang telah banyak
meluangkan waktu dan pikiran dalam memberikan petunjuk dan arahan hingga
terselesainya penulisan tesis ini.
5. Bapak Prof. Drs. Mohammad Syukur, M.Sc selaku Anggota Komisi Pembimbing
6. Bapak Prof. (Riset) Drs. H. Perdamean Sebayang, M.Si selaku Pembimbing
Lapangan yang dengan penuh kesabaran menuntun dan membimbing kami hingga
selesainya penelitian ini.
7. Bapak dan Ibu Dosen Staf Pengajar Program Studi Ilmu Fisika Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas dorongan, arahan dan saran hingga
selesainya tesis ini.
8. Rekan-rekan mahasiswa Sekolah Pascasarjana angkatan 2007 dan semua pihak
yang telah memberikan bantuan dan dorongan kepada penulis selama perkuliahan
hingga selesainya tesis ini.
9. Teristimewa ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada ayahanda Drs. Tgk. Cut Ali dan ibunda Hendon beserta
suami tercinta Drs. M. Gade, M.Si dan kelima ananda tersayang Nurul Wahida;
Neily Maulida Ulfa; Zhuhriana Putri; Zahratul Faizah; dan Azzam Fawwaz, beserta
seluruh keluarga yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang tetap memberikan
semangat kepada penulis selama dalam pendidikan dan waktu penulisan tesis ini.
Terima kasih atas segala pengorbanan kalian baik berupa moril maupun meteril,
budi baik, tidak dapat dibalas hanya diserahkan kepada Allah SWT.jua.
Akhir kata semoga tesis ini bermanfaat bagi pembaca, dalam usaha
meningkatkan mutu pendidikan, dan penulis menyadari bahwa tesis ini masih banyak
kekurangan, karena itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan saran dan
kritik yang dapat menyempurnakan tesis ini.Amin.
Medan, Juni 2009
Penulis,
RIWAYAT HIDUP
1. Nama Lengkap : Jauharah Cut Ali
2. N I P : 132 159 262
3. Tempat/Tanggal Lahir : Kec. Meureudu, 18 Nopember 1972
4. Jenis Kelamin : Wanita
5. Alamat Rumah : Jalan Padi Raya No. 22 Lingkungan XIV Pasar V
Tembung ( Telp. 061-91138556 )
6. e-mail : [email protected]
7. Pekerjaan : PNS ( Guru MAN 3 MEDAN )
8. Pangkat/Golongan : Penata Tk.I / III/d / Guru dewasa Tk.I
9. Alamat Sekolah : Jalan Pertahanan Patumbak
10.Data Pendidikan :
SD Negeri Mns. Mulieng Sigli, lulus tahun 1985
SMP Negeri 2 Meureudu Sigli, lulus tahun 1988
SMA Negeri Meureudu Sigli, lulus tahun 1991
Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah Medan, lulus tahun 1996
3.5 Karakterisasi... 17
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 23
4.1 Hasil Penelitian... 23
4.2 Pembahasan... 43
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 56
5.1 Kesimpulan... 56
5.2 Saran... 57
DAFTAR TABEL
Nomor Judul Halaman
2.1 Komposisi dari Semen ( portland cement)... 7
2.2 Karakteristik dari Semen Portland Tipe I ... ... 8
2.3 Sifat-Sifat Fisis Perlit Sintetis... 9
3.1 Komposisi Beton Perlit I... 15
3.2 Komposisi Beton Perlit II... 16
4.1 Komposisi Kimia dari Perlit... 40
DAFTAR GAMBAR
Nomor Judul Halaman
2.1 Difraksi dari Bidang Kristal... 12
3.1 Diagram Alir Preparasi Beton Perlit... 16
4.1 Hubungan antara Densitas terhadap Komposisi Perlit ( % Volum)
dari Beton Perlit I melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, 28... 23
4.2 Hubungan antara Densitas terhadap Komposisi Perlit ( % Volum ) dari Beton Perlit I melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60 dan 90 Menit... 24
4.3 Hubungan antara Densitas terhadap Komposisi Perlit ( % Volum )
dari Beton Perlit II Melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, 28... 24
4.4 Hubungan antara Densitas terhadap Komposisi Perlit ( % Volum ) dari Beton Perlit II Melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60 dan 90 Menit... 25
4.5 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit I terhadap Panambahan Perlit
( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 26
4.6 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit I terhadap Panambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 26
4.7 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit II terhadap Panambahan Perlit
(% Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami: 7, 14, 21, dan 28 Hari... 27
4.8 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit II terhadap Panambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 27
4.9 Hubungan antara Kuat Patah Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit
( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21 dan 28 Hari... 28
4.10 Hubungan antara Kuat Patah Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit ... 29
( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21 dan 28 Hari... 29
4.12 Hubungan antara Kuat Patah Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit ... 30
4.13 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit
( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 31
4.14 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 31
4.15 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit II terhadap Penambahan Agregat ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 32
4.16 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 32
4.17 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 33
4.18 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 34
4.19 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 34
4.20 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 35
4.21 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit
( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 36
4.22 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit ( % Volum ) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 36
4.23 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit
( % Volum ) melalui Proses Pengeringan Alami : 7, 14, 21, dan 28 Hari... 37
selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit... 37
4.25 Kurva Hasil Uji Ketahanan Api untuk Sampel Beton Perlit I yang Telah
Dikeringkan dengan Cara Alami selama 28 Hari... 38
4.26 Kurva Hasil Uji Ketahanan Api untuk Sampel Beton Perlit I yang Telah
Dikeringkan dengan Cara Autoclave selama 90 Menit... 39
4.27 Kurva Hasil Uji Ketahanan Api untuk Sampel Beton Perlit II yang Telah Dikeringkan dengan Cara Alami selama 28 Hari... 39
4.28 Kurva Hasil Uji Ketahanan Api untuk Sampel Beton Perlit II yang Telah
Dikeringkan dengan Cara Autoclave selama 90 Menit... 40
4.29 Pola Difraksi Sinar X dari Beton Perlit I... 42
4.30 Pola Difraksi Sinar X dari Beton Perlit II... 42
Nomor Judul Halaman
1. Tabel 1.A Nilai Densitas Beton Perlit I yang Dikeringkan secara Alami... 61
2. Tabel 1.B Nilai Densitas Beton Perlit I yang Dikeringkan dengan Autoclave.... 61
3. Tabel 2.A Nilai Densitas Beton Perlit II yang Dikeringkan secara Alami... 62
4. Tabel 2.B Nilai Densitas Beton Perlit II yang Dikeringkan dengan Autoclave... 62
5. Tabel 3.A Nilai Kuat Tekan Beton Perlit I yang Dikeringkan Secara Alami... 63
6. Tabel 3.B Nilai Kuat Tekan Beton Perlit I yang Dikeringkan dengan
Autoclave... 63
7. Tabel 4.A Nilai Kuat Tekan Beton Perlit II yang Dikeringkan secara Alami... 64
8. Tabel 4.B Nilai Kuat Tekan Beton Perlit II yang Dikeringkan dengan
Autoclave... 64
9. Tabel 5.A Nilai Kuat Patah (MOR) Beton Perlit I yang Dikeringkan secara
Alami... 65
10. Tabel 5.B Nilai Kuat Patah (MOR) Beton Perlit I yang Dikeringkan dengan
Autoclave... 65
11. Tabel 6.A Nilai Kuat Patah (MOR) Beton Perlit II Yang Dikeringkan secara Alami ... 66
12. Tabel 6.B Nilai Kuat Patah (MOR) Beton Perlit II Yang Dikeringkan dengan Autoclave... 66
13. Tabel 7.A Nilai Kuat Tarik Beton Perlit I yang dikeringkan Secara Alami... 67
14. Tabel 7.B Nilai Kuat Tarik Beton Perlit I yang Dikeringkan dengan
Autoclave... 67
15. Tabel 8.A Nilai Kuat Tarik Beton Perlit II yang Dikeringkan secara Alami... 68
16. Tabel 8.B Nilai Kuat Tarik Beton Perlit II yang Dikeringkan dengan
Autoclave... 68 17. Tabel 9.A Nilai Penyerapan Air Beton Perlit I yang Dikeringkan secara
Alami... 69
18. Tabel 9.B Nilai Penyerapan Air Beton Perlit I yang Dikeringkan dengan
19. Tabel 10.A Nilai Penyerapan Air Beton Perlit II yang Dikeringkan secara
Alami………... 70
20. Tabel 10.B Nilai Penyerapan Air Beton Perlit II yang Dikeringkan dengan Autoclave………...…... 70
21. Tabel 11.A Nilai Penyusustan Beton Perlit I yang Dikeringkan secara Alami... 71
22. Tabel 11.B Nilai Penyusustan Air Beton Perlit I yang Dikeringkan dengan Autoclave... 71
23. Tabel 12.A Nilai Penyusustan Beton Perlit II yang Dikeringkan Secara Alami... 72
24. Tabel 12.B Nilai Penyusustan Beton Perlit II yang Dikeringkan dengan Autoclave... 72
25. Tabel 13.A Nilai Kuat Tekan Beton Perlit I setelah Dilakukan Firing Test... 73
26. Tabel 13.B Nilai Kuat Tekan Beton Perlit I setelah Dilakukan Firing Test... 73
27. Tabel 14.A Nilai Kuat Tekan Beton Perlit II setelah Dilakukan Firing Test... 74
28. Tabel 14.B Nilai Kuat Tekan Beton Perlit II setelah Dilakukan Firing Test... 74
29. Tabel 15.A Data XRD Beton perlit I... 75
30. Tabel 15.B Analisi Data XRD Beton Perlit I... 75
31. Tabel 16.A Data XRD Beton Perlit II... 76
32. Tabel 16.B Analisi Data XRD Beton Perlit II... 76
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1. Latar Belakang
Panel beton adalah beton yang berbentuk lembaran, berukuran lebih panjang
dari bahan bangunan lainnya, seperti: batako, dan bata merah, material ini terbuat dari
campuran semen, pasir dan agregat. Pada umumnya panel beton banyak digunakan
pada konstruksi dinding maupun lantai. Penggunaan panel beton dalam pembangunan
rumah dan gedung bertingkat dengan tujuan agar waktu konstruksinya dapat
dipercepat, karena produk aerated concrete sangat ringan dan mudah dalam
pemasangannya. Dengan semakin cepat proyek konstruksi selesai tentunya dapat
menghemat biaya konstruksi secara keseluruhan.
Dengan adanya keunggulan tersebut maka beton ringan khususnya beton
berpori sangat sesuai dan tepat untuk dipergunakan pada pembangunan perumahan, dan
perkantoran. Karakteristik panel beton yang beredar di pasaran: memiliki densitas
rata-rata > 2000 kg/m3, dengan kuat tekan bervariasi dari 3 – 50 MPa (Aggarwal P, 2007).
Dilihat dari nilai densitasnya maka panel beton ini tergolong cukup berat, sehingga
untuk satu panel berukuran 240 x 60 x 6 cm memiliki bobot sekitar 100 - 125 kg.
Akibatnya untuk mengangkatnya baik pada waktu pengangkutan ataupun instalasinya
memerlukan tenaga lebih dari 2 orang atau membutuhkan alat berat sebagai media
bantunya. Disamping itu karena materialnya cukup berat sehingga waktu instalasinya
memakan waktu lama. Kelemahan lainnya adalah tidak mampu untuk meredam panas
digunakan sebagai penyekat ruangan.
Akan tetapi bila dilihat dari nilai kekuatan mekaniknya memang sudah cukup
memadai. Ada beberapa usaha untuk mengatasi masalah bobot beton ini, antara lain
dengan cara merekayasa material beton sehingga densitasnya cenderung berkurang atau
sering disebut dengan beton ringan (Ergul Yassar, et.al, 2003). Semakin ringan panel
beton, maka mudah mengangkatnya, cepat instalasinya, tidak memerlukan tenaga kerja
yang banyak, dan tidak memerlukan alat-alat berat. Keuntungan lain penggunaan panel
beton ringan adalah: daya redam terhadap rambatan panas maupun suara akan jauh
lebih bagus, dan daya ketahanan api (firing resistance) lebih baik.
Beberapa teknik untuk menurunkan densitas beton, yaitu: dibuat berpori
(aerated concrete, foam concrete), atau mengganti agregat beton dengan agregat ringan
(Ergul Yassar, et.al, 2003), seperti: batu apung, serat alami, abu sekam, perlit, dan
polystyrefoam. Umumnya agregat-agregat ringan tersebut memiliki massa yang ringan
dengan densitas < 1 g/cm3 (Ergul Yassar, et.al, 2003). Perlit adalah batuan yang
terbentuk oleh lava riolit. Pada waktu lava mengalir, bagian bawahnya bersentuhan
dengan media air dan akibat beban diatasnya dan aliran lava yang tertahan akan terjadi
pendinginan sangat cepat, maka terbentuklah pertilisasi. Dalam penelitian ini
dilakukan pembuatan panel beton ringan dari campuran semen, pasir, dan perlit.
Dengan demikian dapat dikuasai teknologi pembuatannya beton perlit sebagai
panel beton ringan dan diharapkan tercapainya densitas < 1600 kg/m3 dengan kekuatan
mekanik/kuat tekan maksimal 1200 lb/in2 (Schundler, 2009). Ketersediaan perlit di
Indonesia cukup berlimpah, di daerah vulkanik seperti di Pulau Jawa, Pulau Sumatera
1. 2. Perumusan Masalah
Panel beton ringan berbasis perlit merupakan beton yang dibuat dari campuran
agregat ringan. Dari karakteristik di atas akan dilihat sejauh manakah pengaruh variasi
komposisi campuran bahan baku terhadap kualitas panel beton ringan berbasis perlit.
1. 3. Pembatasan Masalah
Penelitian pembuatan beton perlit menggunakan 2 (dua) macam komposisi dan
dua macam pengeringan yaitu :
1. Komposisi beton perlit merupakan campuran antara semen dengan perlit
2. Komposisi beton perlit II yang merupakan campuran antara semen dengan
agregat, dimana digunakan 50% pasir dan 50% perlit
3. Pengeringan secara alami yaitu, 7, 14, 21 dan 28 hari.
4. Pengeringan secara cepat dengan menggunakan autoclave bertekanan 1,5 bar
yaitu selama 20, 30, 60 dan 90 menit.
1. 4. Tujuan Penelitian
1. Menguasai teknik pembuatan panel beton ringan dengan menggunakan
agregat ringan perlit.
2. Mengetahui pengaruh variasi komposisi perlit terhadap karakteristik beton
ringan : densitas, kuat tekan, kuat patah, penyusutan, penyerapan air,
1. 5. Hipotesa
Dengan mencampurkan antara semen dengan perlit (beton I) dan antara semen
dengan pasir dan perlit (beton perlit II) akan dihasilkan beton ringan yang densitasnya
dapat mencapai < 1600 kg/m3 dan kuat tekanya maksimal tercapai 1200 lb/in2. Variasi
komposisi perlit dan lamanya pengeringan beton baik secara alami atau lambat maupun
secara cepat dengan autoclave bertekanan 1,5 bar akan memberikan pengaruh terhadap
karakteristik beton ringan secara signifikan.
1. 6. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat hasil penelitian adalah untuk menambah ilmu pengetahuan
tentang teknologi pembuatan beton ringan dan aplikasinya , serta dapat diperolehnya
ilmu pengetahuan dalam bidang proses pembuatan beton secara umum dan teknik
karakterisasi material khususnya material beton.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. 1. Beton
Beton tergolong suatu komposit dengan matrik yang berfungsi perekat (semen)
dan bahan pengisi (filler) yang berupa agregat (batu kecil atau pasir) (Tri Mulyono,
2005). Pada beton proses penguatan ikatan antar agregat melalui proses hidratasi
semen, dalam proses reaksi hidratasi tersebut akan terbentuk Calsium silikat hidrat (CS
fasa), calcium aluminat hidrat (CA fasa) dan calcium alumina silikat hidrat (CAS).
Proses penguatan atau pengerasan pada beton sangat tergantung pada perbandingan
(ratio berat) air terhadap semen, normalnya bervariasi dari 0,4 – 1,0 (Tri Mulyono,
2005; Andrew R. Barron et.al, 2008). Beton dikualifikasikan menjadi dua golongan
yaitu beton normal dan beton ringan. Beton normal tergolong beton yang memiliki
densitas sekitar 2200 – 2400 kg/m3 dan kekuatannya tergantung komposisi campuran
beton (mix design) ( Engineering Tool Box, 2008 ). Beton ringan adalah suatu beton
yang memiliki densitas < 1800 kg/m3, begitu juga kekuatannya bisa disesuaikan pada
penggunaan dan pencampuran bahan bakunya (mix design) (Tri Mulyono, 2005;
Andrew R. Barron et.al, 2008). Jenis dari beton ringan (Siporex Oy, 2000) ada dua
golongan yaitu: (a) beton ringan berpori (aerated concrete) dan (b) beton ringan non
aerated. Beton ringan berpori (aerated) adalah beton yang dibuat sehingga strukturnya
banyak terdapat pori-pori, beton semacam ini diproduksi dengan bahan baku dari
campuran semen, pasir, gypsum, CaCO3 dan katalis Aluminium (Yothin Ungkoon,
menimbulkan panas (reaksi eksotermal) sehingga timbul gelembung-gelembus gas H2O
dan CO2. Dari reaksi tersebut, akhirnya gelembung tersebut akan menimbulkan jejak
pori dalam badan beton yang sudah mengeras. Semakin banyak gas yang dihasilkan
akan semakin banyak pori-pori terbentuk, dan beton akan semakin ringan. Berbeda
dengan beton non aerated, pada beton ini agar menjadi ringan dalam pembuatannya
ditambahkan agregat ringan (Yothin Ungkoon,2007). Banyak kemungkinan agregat
ringan yang digunakan antara lain: batu apung (pumice), perlit, serat sintesis/alami, slag
baja, dan lain-lain (Tri Mulyono, 2005). Pada penelitian ini digunakan perlit sebagai
agregat.
2. 2. Semen
Semen merupakan bahan perekat anorganik yang banyak digunakan dalam
bidang bangunan. Banyak sekali tipe-tipe semen dan yang paling banyak digunakan
adalah semen tipe I atau disebut dengan portland cement. Bahan baku portland semen
adalah kapur sebagai sumber CaO, tanah liat sebagai sumber silika (SiO2), aluminium
oksida (Al2O3), dan besi oksida. Material ini bereaksi di dalam suatu dapur atau tungku
membentuk klinker, kemudian melalui penghalusan dengan ball mill dan dicampurkan
bahan gipsum dan terbentuklah semen (Andrew R. Barron, 2008).
Kandungan senyawa-senyawa di dalam semen antara lain: C3S (Tricalcium
silicate), C2S (Dicalcium silicate), C3A (Tricalcium aluminate), dan C4AF
(Tetracalcium aluminoferrite), dimana C = CaO, S = SiO2, A = Al2O3, dan F = Fe2O3,
dan bahan ikutan lainnya antara lain: MgO, TiO2, Mn2O3, K2O, dan Na2O (Diefenderf,
pengerasan pada semen akibat adanya reaksi antara komponen-komponen di dalam
semen dengan air yang disebut reaksi hidratasi semen, dengan komposisi seperti pada
tabel dibawah ini :.
Tabel 2. 1 Komposisi dari Semen (portland cement)
Komponen Formula Simbol % berat
Tricalcium Silicate 3CaO.SiO2 C3S 50
Dicalcium Silicate 2CaO.SiO2 C2S 25
Tricalcium Aluminate 3CaO.Al2O3 C3A 12
Tetracalcium
Aluminoferrite 4CaO.Al2O3.Fe2O3 C4AF 8
Gypsum CaSO4.2H2O CSH2 3.5
Lamanya proses pengerasan berlangsung cukup lama dan umumnya
berlangsung maksimum selama 28 hari (Haque N. I , H. Al-Khaiat, 1999).
Reaksi-reaksi yang terjadi selama proses pengerasan antara lain:
2C3S+ 6H C3S2H3+ 3CH
2C2S+ 4H C3S2H3+ CH
C3A+ 3CSH2+ 26H C6As3H32
2C3A+ C6As3H32+ 4H 3C4ASH12
C4Af+ 3CSH2+ 21H C6(A,F)S3H32+ (A,F)H3 ( 2.4a)
C4Af+ C6(A,F)S3H32+ 7H 3C4(A,F)SH12+ (A,F)H3
dimana:
H = Air ( H2O)
CH = Zat kapur Hidroksida (Ca[OH]2)
CSH2 = Gipsum (CaSO4 hidrat)
C6As3H32 = 6-calcium aluminat trisulfate-32-hydrate (Ettringite)
3C4ASH12 = Tetracalcium aluminat monosulfate-12-hydrate.
Karakteristik semen ditinjau dari sifat fisis dan mekanik pada tabel dibawah ini :
Tabel. 2. 2 Karakteristik dari Semen Portland Tipe I
Parameter Nilai
Spesifik gravitasi 3,15
Waktu pengerasan awal > 30 menit
Waktu pengerasan akhir < 600 menit
Kehalusan 10 %
Kuat Tekan umur 3 hari 23 N/mm2
Kuat Tekan umur 7 hari 35,8 N/mm2
Sumber : Aggarwal, 2007
2. 3. Perlit
Mineral Perlit merupakan mineral vulkanik yang berupa amorfus alumina
silikat, sintetis perlit dibuat dari pemanasan mineral perlit sampai pada suhu 870oC,
pada suhu tersebut volume perlit akan mengembang cukup besar hingga berongga,
oleh karena itu perlit sintetis disebut sebagai expanded Perlit yang memiki massa yang
sangat ringan dan banyak diaplikasikan sebagai bahan baku beton ringan. (Pichor,
2005) Perlit sintetis memiliki komposisi kimia: min. 69% SiO2, max.18% Al2O3, 6%
(CaO+MgO) , 8% (Na2O+K2O), 3% Fe2O3 . Beberapa sifat fisis dari perlit sintetis
Tabel 2. 3 Sifat-Sifat Fisis Perlit Sintetis
Parameter Nilai
Bulk density, kg/m3 125 ± 15
Powder Density, g/cm3 2,23 - 2,40
Titik lebur, oC 950 – 1050
Average particle size, mm about 1,0
Thermal conductivity,W/mK 0,045 - 0,059
Water absorption, % V/V 30 – 40
Kuat Tekan, MPa 0,10 - 0,40
Sumber : Pichor, 2005
2. 4. Karakterisasi Beton Ringan
2. 4. 1. Densitas
Untuk pengukuran densitas dihitung dengan persamaan :
V
2. 4. 2. Kuat Tekan (CompressiveStrength)
Pengukuran kuat tekan (compressive strength) dapat ditentukan dengan
2. 4. 3. Kuat Patah (Bending Strength)
Pengukuran kuat patah (bending strength) dihitung dengan persamaan berikut
( Lam F, et al, 2001 ) :
2. 4. 4. Kuat Tarik (Tensile Strength)
Pengukuran kuat tarik dihitung dengan persamaan sebagai berikut:
Kuat Tarik =
2. 4. 5. Penyerapan Air (Water absorbtion)
Untuk penyerapan air dihitung dengan persamaan :
Untuk pengujian penyusutan dari beton perlit I dan II dilakukan dengan cara
pengeringan 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari yaitu sebagai Lt. Kemudian
penyusutan dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :
Lo - Lt
Penyusutan = --- x 100 % ...……….(2. 6)
Lo
2. 4. 7. Ketahanan Api
Uji ketahanan api dilakukan berdasarkan standar SNI 03 – 1741-1989, dari
masing-masing komposisi sampel yang dibuat. Pengujian dilakukan dengan mengamati
berapa lama sampel beton dapat terbakar langsung dengan api sehingga kekuatan
mekanik / kuat tekannya masih kondisi baik atau tidak terjadi degradasi.
2. 4. 8. Konduktifitas Termal (Thermal Conductivity)
Pengujian konduktivitas panas dari beton ringan perlit digunakan dengan
2. 4. 9. Analisa Mikrostruktur Difraksi Sinar X
Analisa untuk mengidentifikasi struktur kristal atau fasa-fasa yang terbentuk
menggunakan difraksi sinar X atau XRD. Metoda yang digunakan untuk menganalisa
hasil analisa difraksi sinar X adalah dengan cara membandingkan nilai d (jarak antara
bidang kristal) dari hasil pengukuran dengan nilai d pada kartu JCPDS.
Sifat-sifat suatu material merupakan fungsi intrinsic dari fasa-fasa yang
terkandungnya. Keberadaan fasa yang dominan maupun yang minor akan
mempengaruhi sifat keseluruhan dari bahan. Dengan menggunakan difraksi sinar X
dapat diidentifikasi fasa-fasa yang terdapat dalam bahan. Sinar X merupakan
gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,5 sampai 2,5 Angstrom yang
mendekati jarak antar atom kristal (Hassen dan Chan, 1992). Jika sinar X ditembakkan
kesegala arah dan dalam arah tertentu berkas sinar yang dihamburkan akan sefasa dan
saling menguatkan. Jika atom-atom tersusun secara periodic pada sebuah kisi maka
sinar yang dihamburkan oleh atom-atom tersebut memiliki hubungan fasa tertentu..
Hubungan fasa menghasilkan interferensi konstruktif dalam arah tertentu
membentuk berkas difraksi seperti pada gambar diatas. Berkas sinar X dengan panjang
gelombang jatuh dengan sudut pada sekumpulan bidang kristal yang berjarak d.
Sinar yang dipantulkan dengan sudut hanya dapat tampak jika berkas-berkas dari tiap
bidang yang berdekatan saling menguatkan. Oleh karena itu berkas sinar yang
dihamburkan dari bidang difraksi sesuai dengan jarak antar kisi. Persamaan dari
pantulan sinar yang saling menguatkan dinyatakan dengan hukum Bragg yaitu (Hassen
dan Chan, 1992) :
n = 2 d sin ...(2. 8)
dengan n adalah orde difraksi, adalah panjang gelombang, d adalah jarak antara
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3. 1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pusat Penelitian Fisika LIPI Kawasan Puspiptek
Serpong.
3. 2. Bahan Dan Peralatan
Bahan baku yang dipergunakan untuk pembuatan panel beton ringan :
1. Semen type I (Portland cement) 3. Perlit
2. Pasir Bangka 4. Air
Sedangkan peralatan yang dipergunakan untuk penelitian ini antara lain :
1. Timbangan 5. X-Ray Diffractometer
2. Gelas Ukur 6. Ayakan screen 8 mm
3. Cetakan beton ( mould steel) 7. Autoclave
4. UTM (Universal Testing Machine)
3. 3. Variabel Dan Parameter
Varibel-variabel penelitian ini antara lain:
1. Variasi pencampuran bahan baku Beton I (semen dan agregat), agregat berupa
100% perlit,dengan ratio berat antara Perlit: Semen = 4 : 1, 6 : 1, 8 : 1, dan 10: 1
2. Variasi pencampuran bahan baku beton II ( semen dan agregat ) dimana
ratio berat agregat : semen = 4 : 1, 6 : 1, 8 : 1, dan 10 : 1.
3. Variasi waktu pengerasan beton (aging time): 7, 14, 21, dan 28 hari.
4. Variasi waktu pengerasan beton (aging time) dengan menggunakan autoclave
pada tekanan 1,5 bar, dengan waktu: 20, 30, 60 dan 90 menit.
Parameter-parameter yang dilakukan meliputi pengujian: Densitas, Penyerapan
air, Penyusutan, Kuat tekan, Kuat patah, Kuat Tarik, konduktivitas panas, firing
resistance, dan struktur kristalnya dengan XRD
3. 4. Preparasi Sampel Beton Ringan
Preparasi pembuatan sampel beton ringan seperti diagram alir pada gambar
3. 1. Komposisi dari masing-masing beton I dan II pada tabel di bawah ini :
Tabel 3. 1 Komposisi Beton Perlit I
Kode
Untuk pembuatan beton perlit, pertama diukur dan ditimbang masing-masing
bahan baku sesuai dengan komposisi seperti pada variabel (tabel 3. 1 dan 3. 2). Setelah
diukur dan ditimbang, kemudian ketiga bahan baku tersebut dicampur dalam suatu
wadah plastik, dengan diaduk menggunakan sendok semen, kemudian tambahkan air,
Tabel 3. 2 Komposisi Beton Perlit II
Gambar 3. 1 Diagram Alir Preparasi Beton Perlit
Misalkan semen yang digunakan sebanyak 50 gram, maka air yang di perlukan
= 0,8 x 50 = 40 gram. Kemudian adonan diaduk hingga merata dan homogen.
PENGERASAN Dibiarkan diudara terbuka selama 7, 14, 21, dan 28 hari dan atau dengan autoclave selama :
20, 30, 60, dan 90 menit.
Selanjutnya adonan yang dihasilkan dituangkan dalam cetakan yang terbuat dari besi
dengan ukuran: 16 x 4 x 4 cm. Setelah adonan dicetak kemudian dikeringkan diudara
terbuka atau direbus dalam autoclave agar terjadi proses pengerasan. Dari
masing-masing komposisi, dibuat waktu pengeringan diudara terbuka selama 7 hari, 14 hari,
21 hari, dan 28 hari, sedangkan di dalam autoclave dibuat selama 20,30, 60, dan 90
menit. Setelah benda uji mengalami proses pengeringan baru dilakukan pengujian yang
meliputi: densitas, penyerapan air, penyusutan, kuat tekan, kuat patah, kuat tarik,
konduktivitas panas, firing resistance, dan struktur kristalnya dengan XRD.
3. 5. Karakterisasi
3. 5. 1. Densitas
Pengukuran densitas (bulk density) dari masing-masing komposisi beton yang
telah dibuat, dilakukan sebagai berikut :
1. Sampel yang telah mengalami pengerasan (ageing) 28 hari, dikeringkan di
dalam drying oven dengan suhu 100oC, selama 1 jam.
2. Kemudian timbang massa sampel kering (beton), m dengan menggunakan
neraca digital.
3. Sampel yang telah ditimbang, kemudian diukur volumenya, V dengan cara
mengukur diameter dan tinggi benda uji.
4. Sampel yang telah diukur masa dan volume, dilakukan penghitungan
densitasnya.
Dengan mengetahui besaran-besaran tersebut di atas, maka nilai densitas beton dapat
3. 5. 2. Kuat Tekan (Compressive strength)
Untuk mengetahui besarnya nilai kuat tekan dari beton, dilakukan pengujian
sebagai berikut :
1. Sampel berbentuk selinder diukur diameternya, minimal dilakukan tiga kali
pengulangan. Dengan mengetahui diameternya maka luas penampang
dapat dihitung, A = (d2/4).
2. Atur tegangan supply sebesar 40 volt, untuk menggerakkan motor penggerak
kearah atas maupun bawah. Sebelum pengujian berlangsung, alat ukur (gaya)
terlebih dahulu dikalibrasi dengan jarum penunjuk tepat pada angka nol.
3. Kemudian tempatkan sampel tepat berada di tengah pada posisi pemberian
gaya, dan arahkan switch ON/OFF ke arah ON, maka pembebanan secara
otomatis akan bergerak dengan kecepatan konstan sebesar 4 mm/menit.
4. Apabila sampel telah pecah, arahkan switch kearah OFF maka motor
penggerak akan berhenti. Kemudian catat besarnya gaya yang ditampilkan
pada panel display, saat beton tersebut rusak.
Dengan menggunakan persamaan (2. 2) maka nilai kuat tekan dari beton dapat
ditentukan.
3. 5. 3. Kuat Patah (Flexural Strength)
Untuk mengetahui besarnya kuat patah dari beton, dilakukan pengujian berikut :
1. Sampel berbentuk balok diukur lebar dan tingginya, minimal dilakukan tiga
kali pengulangan, kemudian atur jarak titik tumpu (span) sebesar 10 cm
sebagai dudukan sampel.
penggerak kearah atas maupun bawah. Sebelum pengujian berlangsung,
alat ukur (gaya) terlebih dahulu dikalibrasi dengan jarum penunjuk tepat pada
angka nol.
3. Kemudian tempatkan sampel tepat berada di tengah pada posisi pemberian
gaya (lihat gambar), dan arahkan switch ON/OFF ke arah ON, maka
pembebanan secara otomatis akan bergerak dengan kecepatan konstan sebesar
4 mm/menit.
4. Apabila sampel telah patah, arahkan switch kearah OFF maka motor
penggerak akan berhenti. Kemudian catat besarnya gaya yang ditampilkan
pada panel display, saat beton tersebut patah.
Dengan menggunakan persamaan (2. 3) maka nilai kuat patah dari beton dapat
diperoleh.
3. 5. 4. Kuat Tarik (Tensile Strength)
Untuk mengetahui besarnya kuat tarik dari beton, dilakukan pengujian berikut :
1. Sampel berbentuk silinder diukur diameternya (d), minimal dilakukan tiga
kali pengulangan, kemudian pasang tali penggantung yang telah tersedia
sebagai dudukan sampel.
2. Atur tegangan supply sebesar 40 volt, untuk menggerakkan motor penggerak
kearah atas maupun bawah. Sebelum pengujian berlangsung, alat ukur (gaya)
terlebih dahulu dikalibrasi dengan jarum penunjuk tepat pada angka nol.
3. Kemudian tempatkan sampel tepat berada di tengah pada posisi pemberian
gaya, dan arahkan switch ON/OFF ke arah ON, maka pembebanan secara
4. Apabila sampel telah putus, arahkan switch kearah OFF maka motor
penggerak akan berhenti. Catat besarnya gaya yang ditampilkan pada panel
display, saat beton tersebut putus.
Dengan menggunakan persamaan (2. 4) maka nilai kuat tarik dari beton dapat
ditentukan.
3. 5. 5. Penyerapan Air (Water absorption)
Untuk mengetahui besarnya penyerapan air dari beton yang telah dibuat, maka
perlu dilakukan pengujian yang mengacu pada standar ASTM C 20 – 00.
Prosedur pengukuran penyerapan air adalah sebagai berikut:
1. Sampel yang telah dikeringkan di dalam drying oven dengan suhu 100oC
selama 1 jam, ditimbang massanya dengan menggunakan neraca digital,
disebut massa sampel kering.
2. Kemudian sampel direndam di dalam air selama 1 jam sampai massa sampel
jenuh dan catat massanya.
Dengan menggunakan persamaan (2. 5) maka nilai penyerapan air dari beton dapat
ditentukan.
3. 5. 6. Penyusutan
Pengukuran penyusutan dari beton dilakukan berdasrkan perubahan dimensi.
Mula-mula ukur panjang sampel yang baru dikeluarkan dari cetakan, disebut panjang
awal (Lo). Setelah sampel mengalami proses pengerasan atau pengeringan selama 7,
14, 21 dan 28 hari, kemudian diukur panjangnya disebut sebagai panjang akhir (Lt).
Dengan menggunakan persamaan 2.6. Maka nilai penyusutan dari beton dapat
3. 5. 7 Uji Ketahanan Api
Uji ketahanan api dilakukan dari masing – masing komposisi sampel yang
dibuat. Pengujian dilakukan dengan mengamati berapa lama sampel beton dapat
terbakar langsung dengan api sehingga kekuatan mekanik / kuat tekannya masih
kondisi baik atau tidak terjadi degradasi (Ongah R, 2008)
3. 5. 8. Konduktivitas Termal (Thermal Conductivity)
Untuk mengetahui besarnya konduktivitas termal dari beton, dilakukan
pengujian sebagai berikut :
1. Sampel beton dibuat berbentuk selinder (koin) dengan diameter 10 cm, dan
tebal 3 - 5 mm, untuk memastikan dimensinya gunakan mikrometer dan
jangka sorong dan diukur dimensinya minimal tiga kali pengulangan.
2. Timbang pelat alas kuningan, C dan catat massanya (m), kemudian
gantungkan dengan tali penggantung, X pada statip penggantung.
3. Letakkan benda uji, B (beton ringan perlit) di atas pelat alas tersebut, dan
olesin permukaan benda uji tersebut dengan bahan pelumas agar kontak
panasnya menjadi lebih baik
4. Ketel uap, S diletakkan diatas benda uji dan hubungkan dengan ketel air panas
dengan menggunakan selang.
5. Masukkan termometer T1 pada lubang ketel uap dan termometer T2 pada pelat
alas kuningan.
6. Catat kenaikan temperatur T1 dan T2 setiap dua menit sampai kondisi
kesetimbangan (stady state) tercapai. Keadaan setimbang dinyatakan apabila
7. Apabila T1 dan T2 sudah mencapai setimbang angkat ketel uap dan panaskan
pelat alas beserta benda uji dengan alat pemanas, hingga temperatur T2 naik
sekitar 10 oC.
8. Setelah temperaturnya tercapai, matikan alat pemanas dan catat penurunan
temperatur T2 setiap dua menit, sehingga selisih suhunya sekitar 20 oC.
9. Kemudian plot kurva kenaikan temperatur selama pemanasan dan penurunan
temperatur sewaktu pendinginan terhadap waktu.
Dengan menggunakan persamaan (2. 8) maka nilai konduktivitas termal dari beton
ringan perlit dapat ditentukan.
3. 5. 9 Analisa Mikrostruktur dengan Difraksi Sinar –X (XRD)
Struktur kristal atau fasa yang terbentuk dari beton ringan perlit dapat
diidentifikasikan berdasarkan data yang diperoleh dari alat X-ray Diffraction (XRD).
Hasil yang diperoleh adalah berupa pola difraksi yang menyatakan hubungan antara
intensitas (I) terhadap sudut difraksi (2), kemudian pola ini dicocokkan nilai jarak kisi
(d) dengan data dari JCPDS card untuk mengetahui fasa yang terbentuk. Dengan
menggunakan persamaan 2. 9, maka besarnya jarak kisi (d) dapat ditentukan, kemudian
BAB IV
Dari gambar 4. 1, terlihat bahwa densitas beton ringan untuk beton perlit I yang
dikeringkan secara alami diperoleh berkisar antara 315,22 – 1235,41 kg/m3. Gambar 4. 1 Hubungan antara Densitas terhadap Komposisi Perlit (% Volum) dari
Beton Perlit I melalui Proses Pengeringan Alami: 7, 14, 21, dan 28 Hari 250
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
Dari gambar 4. 2, terlihat bahwa densitas beton ringan untuk beton perlit I yang
dikeringkan secara cepat dengan autoclave bertekanan 1,5 bar berkisar antara 308,68 –
1132,12 kg/m3.
Gambar 4. 2 Hubungan antara Densitas terhadap Komposisi Perlit (% Volum) dari Beton Perlit I melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Perlit
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Agregat
Dari gambar 4.3 diperoleh nilai densitas beton perlit II yang dikeringkan secara
alami berkisar antara 1074,36 – 1620,42 kg/m3.
Perubahan nilai densitas beton perlit II seperti ditunjukkan pada gambar 4.4
masih menyerupai pada gambar 4.3 dan juga nilai densitas yang dihasilkan masih
dalam kisaran 1050,22 – 1405,20 kg/m3. Pada gambar 4.4 terlihat bahwa waktu
pengeringan 60 menit dengan 90 menit tidak terjadi perubahan densitas yang besar, jadi
dengan waktu pengeringan 60 menit telah dapat diperoleh densitas beton yang sesuai
dengan referensi yaitu dibawah 1440 kg/m3 untuk berbagai komposisi. Hal ini tentunya
merupakan hasil capaian yang lebih cepat dibandingkan bila pengeringan secara alami
28 hari. Tetapi dengan menggunakan sampel pada komposisi 85,72 %, 88,89%, dan
90,91 % volume agregat dapat tercapai densitas di bawah 1440 kg/m3 dengan waktu
pengeringan 30 menit menggunakan autoclave 1,5 bar. 1050
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Agregat
4. 1. 2. Kuat Tekan
Hasil pengukuran kuat tekan, baik beton perlit I maupun beton perlit II yang
dikeringkan secara alami dan autoclave (Lampiran 3 dan 4) dapat digambarkan
masing–masing dibawah ini :
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Perlit
Gambar 4. 6. Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit
Gambar 4. 5 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan Alami: 7, 14, 21, dan 28 Hari. 0
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
Pada gambar 4.5, terlihat bahwa kuat tekan dari beton perlit I yang dikeringkan
secara alami adalah berkisar antara 39,87 – 460,31 lb/in2. Sedangkan pada gambar 4.6
pola perubahan kuat tekan beton perlit I yang dikeringkan secara cepat menggunakan
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Agregat
Gambar 4. 7 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan Alami: 7, 14, 21, dan 28 Hari
7 hari
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Agregat
Gambar 4. 8 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit
Dari gambar 4.7 terlihat bahwa nilai kuat tekan beton perlit II yang dikeringkan
secara alami berkisar antara : 320,15 – 1285,30 lb/in2. Sedangkan pada gambar 4.8
terlihat bahwa nilai kuat tekan beton perlit II yang dikeringkan secara cepat dengan
menggunakan autoclave berkisar antara : 319,88 – 1286,08 lb/in2.
4. 1. 3. Kuat Patah
Hasil pengukuran kuat patah, baik beton perlit I maupun beton perlit II yang
dikeringkan secara alami dan autoclave (Lampiran 5 dan 6) dapat digambarkan
masing–masing dibawah ini :
Pada gambar 4. 9, terlihat bahwa nilai kuat patah dari beton perlit I yang
dikeringkan secara alami adalah berkisar antara 16,09 – 315,32 lb/in2.
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Perlit
Pada gambar 4.10 ditunjukkan hasil pengujian kuat patah untuk sampel beton
perlit I yang dikeringkan secara cepat menggunakan autoclave bertekanan 1,5 bar
berkisar antara : 10,32 – 320,01 lb/in2.
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Perlit
Gambar 4. 10 Hubungan antara Kuat Tekan Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave selama : 20, 30, 60, dan 90 Menit
Gambar 4. 11 Hubungan antara Kuat Patah Beton Perlit II terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan Alami: 7, 14, 21, dan 28 Hari
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
Pada gambar 4.11 memperlihatkan hasil pengujian kuat patah untuk sampel
beton perlit II yang dikeringkan secara alami berkisar antara : 20,35 – 475,12 lb/in2.
Pada gambar 4.12 ditunjukkan hasil pengujian kuat tekan untuk sampel beton
perlit II yang dikeringkan secara cepat menggunakan autoclave bertekanan 1,5 bar
berkisar antara : 17,72 – 478,10 lb/in2.
4. 1. 4. Kuat Tarik
Hasil pengukuran kuat tarik, baik beton perlit I maupun beton perlit II yang
dikeringkan secara alami dan autoclave (Lampiran 7 dan 8) dapat digambarkan
masing–masing dibawah ini :
Berdasarkan gambar 4.13, kuat tarik dari beton perlit I setelah dikeringkan
secara alami memiliki nilai sekitar: 8,88 – 81,33 lb/in2. 0
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Agrgat
Sedangkan pada gambar 4.14, kuat tarik dari beton perlit II setelah dikeringkan
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Perlit
28 hari Batas Maksimal
Batas Minimal
Gambar 4. 13 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan Alami: 7, 14, 21, dan 28 Hari.
80,00 82,00 84,00 86,00 88,00 90,00 92,00
% Volum Agregat
Gambar 4. 15 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama 20, 30, 60, dan 90 Menit
Gambar 4.16 Hubungan antara Kuat Tarik Beton Perlit II terhadap Penambahan Agregat (% Volum) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave
selama 20, 30, 60, dan 90 Menit
Berdasarkan gambar 4.15, kuat tarik dari beton perlit I setelah dikeringkan
dengan menggunakan autoclave memiliki nilai sekitar : 5,02 – 82,33 lb/in2. Sedangkan 0
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
% Volum Perlit
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
pada gambar 4.16, kuat tarik dari beton perlit II setelah dikeringkan dengan
mengunakan autoclave memiliki nilai berkisar antara : 9,99 – 124,86 lb/in2.
4. 1. 5. Penyerapan Air
Hasil pengukuran penyerapan air, baik beton perlit I maupun beton perlit II
yang dikeringkan secara alami dan autoclave (Lampiran 9 dan 10) dapat digambarkan
masing–masing dibawah ini :
Gambar 4. 17 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan
Alami 7, 14, 21, dan 28 Hari
Berdasarkan gambar 4.17, penyerapan air dari beton perlit I setelah dikeringkan
secara alami memiliki nilai sekitar: 10,11 – 37,45 %. Sedangkan gambar 4.18,
penyerapan air dari beton perlit I setelah dikeringkan dengan menggunakan autoclave
memiliki nilai sekitar : 11,05 – 39,01 %.
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
Gambar 4. 18 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit I terhadap Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan
dengan Autoclave selama 20, 30, 60, dan 90 Menit
Gambar 4. 19 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit II terhadap Penambahan Agregat (% Volum) melalui Proses Pengeringan
Alami 7, 14, 21, dan 28 Hari
Pada gambar 4.19 terlihat bahwa penyerapan air dari beton perlit II setelah
dikeringkan secara alami memiliki nilai penyerapan air berkisar antara:8,25–35,92 %. 0
10 20 30 40
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
% Volum Agregat
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
Gambar 4. 20 Hubungan antara Penyerapan Air Beton Perlit II terhadap Penambahan Agregat (% Volum) melalui Proses Pengeringan
dengan Autoclave selama 20, 30, 60, dan 90 Menit
Pada gambar 4.20 terlihat bahwa penyerapan air dari beton perlit II setelah
dikeringkan dengan menggunakan autoclave bertekanan 1,5 bar memiliki nilai
penyerapan air berkisar antara : 8,12 – 36,30 %.
4. 1. 6. Penyusutan
Hasil pengukuran penyusutan, baik beton perlit I maupun beton perlit II yang
dikeringkan secara alami dan autoclave (Lampiran 11 dan 12) dapat digambarkan
masing–masing dibawah ini :
Berdasarkan gambar 4.21, penyusutan dari beton perlit I setelah dikeringkan
secara alami memiliki nilai sekitar: 0,08 – 0,15 %. Sedangkan gambar 4.22, penyusutan
dari beton perlit I setelah dikeringkan dengan menggunakan autoclave memiliki nilai
sekitar : 0,09 – 0,17 %.
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
Gambar 4. 21 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit I terhadap
Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan Alami 7, 14, 21, dan 28 Hari
Gambar 4. 22 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit I terhadap
Penambahan Perlit (% Volum) melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave selama 20, 30, 60, dan 90 Menit
Pada gambar 4.23 terlihat bahwa penyusutan dari beton perlit II setelah
dikeringkan secara alami memiliki nilai penyerapan air berkisar antara: 0,04 –0,11 %.
Sedangkan pada gambar 4.24 terlihat bahwa penyusutan dari beton perlit dengan 0.04
0.08 0.12 0.16
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
% Volum Perlit
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
menggunakan autoclave bertekanan 1,5 bar memiliki nilai penyusutan berkisar antara :
0,05 – 0,11 %.
Gambar 4. 23 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit II terhadap
Penambahan Agregat (% Volum) Melalui Proses Pengeringan Alami 7, 14, 21, dan 28 Hari
Gambar 4. 24 Hubungan antara Penyusutan Beton Perlit II terhadap
Penambahan Agregat (% Volum) Melalui Proses Pengeringan dengan Autoclave selama 20, 30, 60, dan 90 Menit
0.04 0.08 0.12 0.16 0.2
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
% Volum Agregat
80.00 82.00 84.00 86.00 88.00 90.00 92.00
4. 1. 7. Uji Ketahan Api (Firing Test)
Hasil pengukuran uji ketahanan api, baik beton perlit I maupun beton perlit II
yang dikeringkan secara alami dan autoclave (Lampiran 13 dan 14) dapat digambarkan
masing–masing dibawah ini :
Gambar 4.25 Kurva hasil Uji Ketahan Api untuk Sampel Beton Perlit I yang telah Dikeringkan 28 Hari
Berdasarkan gambar 4.25, uji ketahanan api dari beton perlit I setelah
dikeringkan secara alami memiliki nilai sekitar: 68,27 - 460,31 lb/in2. Sedangkan
gambar 4.26, uji ketahanan api dari beton perlit I setelah dikeringkan dengan
menggunakan autoclave memiliki nilai sekitar : 69,02 – 464,08 lb/in2.
Pada gambar 4.27 untuk uji ketahanan api dari beton perlit II yang dikeringkan
secara alami memiliki nilai sekitar : 894,30 – 1285,30 lb/in2 dan pada gambar 4.28 uji
ketahanan api dari beton perlit II yang dikeringkan dengan menggunakan autoclave
Gambar 4.26 Kurva hasil Uji Ketahan Api untuk Sampel Beton Perlit I yang telah Dikeringkan dengan Autoclave 90 Menit
Gambar 4.27 Kurva hasil Uji Ketahan Api Untuk Sampel Beton Perlit II yang Telah Dikeringkan 28 Hari
Nyala Api 30 menit Nyala Api 60 menit Nyala Api 120 menit Nyala Api 180 menit
Gambar 4.28 Kurva hasil Uji Ketahan Api untuk Sampel Beton Perlit II yang telah Dikeringkan dengan Autoclave 90 Menit
4. 1. 8. Hasil Analisa Komposisi Kimia Perlit
Hasil analisa komposisi kimia perlit menggunakan X-Ray Fluorocent (XRF)
seperti pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.1 Komposi Kimia dari Perlit
Oksida % berat
Nyala Api 30 menit Nyala Api 60 menit
Nyala Api 120 menit Nyala Api 180 menit
4. 1. 9. Konduktivitas Panas
Data nilai daya hantar panas ( konduktivitas panas ) beton perlit I dan II
berbagai komposisi dan berbagai waktu pengeringan seperti tabel di bawah ini :
Tabel 4. 2 Data Nilai Daya Hantar Panas dari Beton Perlit I dan II
4. 1. 10. Analisa Difraksi Sinar X (XRD)
Hasil difraksi sinar X untuk kedua jenis beton perlit I dan II seperti pada
gambar 4.29 dan 4.30 di bawah ini :
Gambar 4.29. Pola Difraksi Sinar X dari Beton Perlit I
Gambar 4.30 Pola Difraksi Sinar X dari Beton Perlit II Cr
C2S Cr
Trd
C3A
C3A
C3S
C2S
C3A C2S
C3A
Q Cr
Cr Trd
Trd
Q
C3S
4. 2. Pembahasan
4. 2. 1. Densitas
Dari hasil penelitian (gambar 4.1), terlihat bahwa densitas beton ringan untuk
beton perlit I yang dikeringkan secara alami diperoleh berkisar antara 315,22 – 1235,41
kg/m3. Ternyata beton perlit I untuk berbagai komposisi perlit dari 80 - 90,91 %
volume yang dikeringkan secara alami sampai 28 hari memiliki densitas yang sangat
rendah yaitu pada kisaran 315,22 - 660,56 kg/m3.
Sedangkan beton perlit I (gambar 4.2) untuk berbagai komposisi yang
dikeringkan secara cepat dengan autoclave selama 20, 30, 60 dan 90 menit, diperoleh
densitas antara 308,68 – 1132,12 kg/m3.
Untuk beton perlit II (gambar 4.3) yang dikeringkan secara alami dalam
berbagai komposisi agregat (campuran 50 % pasir, 50 % perlit) pada berbagai waktu
pengeringan diperoleh densitas 1074,36 – 1620,42 kg/m3, menunjukkan pola yang
sama dengan beton perlit I (tanpa pasir). Perbedaannya dalah pada nilai densitas, beton
perlit II jauh lebih besar dibandingkan dengan beton perlit I.
Sedangkan nilai densitas beton perlit II yang dikeringkan dengan menggunakan
autoclave berbagai komposisi dalam kisaran 1050,22 – 1615,33 kg/m3. Berdasarkan
referensi, beton ringan untuk aplikasi sebagai perlite insulating concrete memiliki
persyaratan densitas sekitar 320 – 640 kg/m3 dan typical density yang ekonomis adalah
sekitar 432 kg/m3. Jika hal ini di bandingkan dengan hasil penelitian, maka komposisi
yang sesuai untuk persyaratan sebagai perlite insulating concrete adalah sampel beton
perlit I dengan komposisi 85,72 % volum perlit dan 88,89 % volum perlit setelah
Pada referensi lain, beton yang diklasifikasikan sebagai beton ringan adalah
yang memiliki densitas < 1000 kg/m3 (Siporex Oy, 2000). Kecenderungan pola yang
diperoleh mirip dengan yang ditampilkan pada gambar 4. 1. Perbedaannya hanya pada
waktu pengeringan atau pengerasan (ageing) yang relatif lebih cepat dibanding dengan
cara alami (konvensional) dan peristiwa atau reaksi yang terjadi adalah relatif sama.
Densitas beton yang dibuat dari campuran semen, pasir, dan perlit untuk
sebagai panel beton ringan (insulating light weight concrete) memiliki densitas
maksimal 1440 kg/m3 (Schundler, 2009) Rata-rata untuk semua komposisi setelah
melalui pengeringan selama 28 hari memiliki densitas yang mendekati nilai referensi
tersebut. Sedangkan untuk waktu pengeringan selama 14 dan 21 hari hanya komposisi
yang memenuhi syarat adalah pada: 85,72 %, 88,89%, dan 90,91 % volum agregat.
Perubahan nilai densitas beton perlit II seperti ditunjukkan pada gambar 4.4
masih menyerupai pada gambar 4.3 dan juga nilai densitas yang dihasilkan masih
dalam kisaran 1050,22 – 1405,20 kg/m3. Pada gambar 4.4 terlihat bahwa waktu
pengeringan 60 menit dengan 90 menit tidak terjadi perubahan densitas yang besar, jadi
dengan waktu pengeringan 60 menit telah dapat diperoleh densitas beton yang sesuai
dengan referensi yaitu dibawah 1440 kg/m3 untuk berbagai komposisi. Hal ini tentunya
merupakan hasil capaian yang lebih cepat dibandingkan bila pengeringan secara alami
28 hari. Tetapi dengan menggunakan sampel pada komposisi 85,72 %, 88,89%, dan
90,91 % volume agregat dapat tercapai densitas di bawah 1440 kg/m3 dengan waktu
pengeringan 30 menit menggunakan autoclave 1,5 bar. Jadi proses pengerasan semen
untuk mampu mengikat agregat dapat dipercepat melalui pemanasan bertekanan 1,5
(trikalsium silikat) dan C3A (tricalcium aluminat) yang ada pada semen menjadi lebih
cepat.
4. 2. 2. Kuat Tekan
Dari hasil pengukuran kuat tekan seperti ditunjukkan pada gambar 4.5
memperlihatkan bahwa semakin banyak komposisi perlit cenderung menurunkan kuat
tekan pada beton perlit I, sebaliknya semakin lama waktu pengeringan cenderung
meningkat kuat tekannya. Bila dibandingkan antara hasil eksperimen dengan batasan
referensi maka kuat tekan sampel beton perlit I yang telah dikeringkan selama 7 hari
belum memenuhi batasan minimal kuat tekan, untuk sampel beton perlit yang telah
dikeringkan selama 14 hari dan 21 hari hanya pada komposisi: 80 % dan 85,72 %
perlit yang berada diatas batas minimal kuat tekannya.
Sesuai dengan referensi, nilai kuat tekan dari beton perlit I dari campuran
semen dan perlit yang dikeringkan secara alami adalah sebesar minimal 95 lb/in2 dan
maksimal 440 lb/in2 .
Sampel beton perlit I yang telah dikeringkan selama 28 hari hanya pada
komposisi 80 % perlit yang memiliki kuat tekan diatas batas nilai maksimal, sedangkan
sampel yang komposisi perlit pada 85,72 % dan 88,89 % memiliki kuat tekan yang
berada diantara batas minimal dan maksimal. Sedangkan hasil pengujian kuat tekan
sampel beton perlit I yang dikeringkan dengan autoclave pada tekanan 1,5 bar untuk
berbagai waktu pengeringan ditunjukkan pada gambar 4.6. Pola perubahan kuat tekan
beton perlit I yang dikeringkan secara cepat menggunakan tekanan 1,5 bar memiliki
pola yang sama dengan pengeringan secara normal. Sampel dengan komposisi perlit 80
diatas batas minimal kuat tekan beton perlit yaitu sekitar 107,66 lb/in2 dan 142,98 lb/in2
. Sampel perlit dengan komposisi 80,00%; 85,72 %; dan 88,89 % perlit serta
dikeringkan selama 60 menit dan nilai kuat tekannya meningkat hingga mencapai
sekitar: 95,6 – 370,15 lb/in2 , dan bila dikeringkan lebih lama lagi yaitu 90 menit kuat
tekannya meningkat lagi hingga mencapai sekitar: 110,22 – 464,08 lb/in2. Hal ini
terlihat juga bahwa semakin banyak komposisi perlitnya maka cenderung menurun kuat
tekannya, karena kekuatan mekanik dari perlit sendiri cukup rendah.
Dari gambar 4.7 terlihat bahwa nilai kuat tekan beton perlit II setelah
dikeringkan selama 7 sampai dengan 28 hari memiliki nilai kuat tekan dalam rentang:
320,15 – 1285,30 lb/in2. Bila dibandingkan dengan kuat tekan beton perlit I, maka kuat
tekan beton perlit II jauh lebih besar, karena pada beton perlit II kekuatannya
diperbesar dengan adanya agregat pasir, dimana antara pasir dan semen dapat mengikat
perlit dengan lebih kuat dibandingkan semen saja. Persyaratan kuat tekan beton perlit
yang menggunakan campuran dengan pasir dan telah dikeringkan selama 28 hari
adalah minimal 1000 lb/in2 dan maksimal 1200 lb/in2.
Ternyata dari hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk sampel dengan semua
komposisi setelah dikeringkan alami selama 7, 14, dan 21 hari memiliki kuat tekan
yang masih rendah dan belum memenuhi persyaratan kuat tekan untuk beton perlit
yang menggunakan campuran pasir. Sedangkan sampel dengan komposisi perlit: 85,72
%, dan 88,89 % dan telah dikeringkan selama 28 hari memiliki kuat tekan yang sesuai
dengan persyaratan kuat tekan untuk beton perlit yang menggunakan campuran pasir