commit to user
i
PENGANTAR KARYA TUGAS AKHIR
VISUAL BRANDING BANDARA ADI SOEMARMO
SURAKARTA
Diajukan Untuk Menempuh Ujian Tugas Akhir Sebagai Syarat Guna Mencapai Gelar Ahli Madya
D3 Desain Komunikasi Visual
Oleh : FAUZIA HAFIZ
C9507028
PROGRAM STUDI D3 DESAIN KOMUNIKASI VISUAL FAKULTAS SASTRA DAN SENI RUPA
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
commit to user
ii
PERSETUJUAN
Pengantar Karya Tugas Akhir dengan Judul:
VISUAL BRANDING BANDARA ADI SOEMARMO SURAKARTA
Telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan penguji:
Pembimbing Tugas Akhir I Pembimbing Tugas Akhir II
Andreas S. Widodo, S.Sn M.Hum Ercilia R Octavia, S.Sn NIP. 19751201 200112 1 002 NIP. 19801011 200812 2001
Koordinator Tugas Akhir
Arif Iman Santoso, S.Sn
commit to user
iii
LEMBAR PENGESAHAN
Diterima dan Disetujui oleh Panitia Tugas Akhir Jurusan Seni Rupa Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta
Diterima Guna Mencapai Gelar Ahli Madya Pada January 2010
Tim Penguji :
1. Ketua Sidang Ujian Tugas Akhir
Drs. Ahmad Kurnia Wirasutisna, S.Sn ( ) NIP. 19430726 198003 1 001
2. Sekretaris Sidang Ujian Tugas Akhir
Esty Wulandari, S. Sos, M.Si ( ) NIP. 19791109 200801 2 015
3. Penguji I
Andreas S. Widodo, S.Sn M.Hum ( ) NIP. 19751201 200112 1 002
4. Penguji II
Ercilia R Octavia, S.Sn ( ) NIP. 19801011 200812 2 001
Mengetahui
Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Ketua Pogram
Universitas Sebelas Maret D3 Desain Komunikasi Visual
commit to user
iv
MOTTO
“Kebahagiaan dalam melihat dan memahami merupakan anugerah
terindah alami”
( Albert Einstein)
“Juara adalah tantangan bukan hanya pajangan”
commit to user
v
PERSEMBAHAN
Tugas Akhir ini penulis persembahkan kepada :
Kedua Orang tua penulis yang selalu bijak dalam mengantarkan buah hatinya menuju gerbang kesuksesan,
keluarga besar,
Serta Sahabat dan teman penulis dalam memberikan setiap ide kreatif dan juga masukan yang sangat berharga bagi penulis
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
serta segala karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir dengan
judul “Visual Branding Bandara Adi Soemarmo Surakarta“. Adapun Tugas Akhir ini
disusun guna meraih gelar Ahli Madya program D3 Desain Komunikasi Visual.
Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Terselesaikannya Tugas Akhir ini tentunya tidak lepas dari bantuan, dorongan dan
bimbingan serta motivasi dari semua pihak yang telah membantu penulis. Maka
ungkapan rasa terima kasih dan penghargaan yang tinggi pantas penulis sampaikan
kepada:
1. Drs. Sudarno, MA, selaku Dekan Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas
Maret.
2. Andreas S. Widodo, S.Sn M.Hum,, selaku Ketua Program D3 Desain Komunikasi
Visual dan Pembimbing I Tugas Akhir.
3. Ercilia R Octavia, S.Sn, selaku Pembimbing II Tugas Akhir.
4. Jazuli A Munib, S.Sn, selaku Pembimbing Akademik.
5. Andri Iskandri selaku General Manager Bandara Adi Soemarmo Surakarta.
6. Priyabada Andi B selaku pelaksana madya operasional Bandara Adi Soemarmo
Surakarta.
7. Segenap petugas TU D3 DKV.
commit to user
vii
9. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu oleh penulis sehingga Tugas
Akhir ini dapat terselesaikan.
Disadari sepenuhnya bahwa konsep Tugas Akhir ini jauh dari sempurna, maka dari
itu penulis sangat mengharapkan saran dan kritiknya. Supaya untuk maju kedepannya
bisa lebih diterima dan bermanfaat bagi kita semua, amin.
Surakarta, Desember 2010
commit to user
commit to user
c. Wayfinding System(eksterior) ... 78
d. Palang Pintu Parkir(Post Parkir) ... 82
e. Archigraphic Pos Parkir ... 84
f. Seragam Petugas Parkir ... 86
g. Standing Floor Peraturan Parkir... 87
h. Standing Floor Peraturan Memasuki Bandara ... 88
commit to user
x
j.Seragam karyawan di Bandara Adi Soemarmo ... 92
k.Wayfinding System (interior) ... 93
l. Signage identitas atau penamaan fasilitas ... 108
m. Cover Kursi Tunggu ... 134
n.Poster Indoor Bandara ... 136
o. Brosur ... 138
p. Kotak Dispenser ... 140
q. Flag Chain ... 141
r. Stationery atau Perlengkapan Kantor ... 142
s. Gimmick ... 150
BAB V PENUTUP ... 155
A. Simpulan ... 155
B. Saran ... 157
VISUAL BRANDING BANDARA ADI SOEMARMO SURAKARTA
Fauzia Hafiz1
Andreas Slamet Widodo, S.Sn, M.Hum2 Ercilia Rini Octaviana, S.Sn3
ABSTRAK
2011. Batik merupakan pusaka tradisi yang bernilai budaya di Kota Surakarta. Keberadaannya menjadi aset penting bagi Kota Surakarta, yakni sebagai image kota tersebut. Di mata dunia batik telah diakui melalui penetapan yang diberikan oleh UNESCO pada 2 October 2009 sehingga memperkuat kedudukan Kota Surakarta sebagai Kota Batik. Tidak hanya Kota Surakarta yang mendapat predikat sebagai kota batik, sebelumnya Pekalongan dan Yogyakarta telah mendapat predikat tersebut. Oleh karena itu, melalui perancangan ini Kota Surakarta akan menjadi kota pariwisata yang mememorable bagi para wisatawan asing maupun domestik melalui destinationnya yang berupa Bandara Adi Soemarmo yang terletak di Eks-Karisiden Surakarta tepatnya di Boyolali yang diharapkan mampu memperkuat image Kota Surakarta sebagai kota batik dengan konsep “Solo The City Of Batik”. Bandara Adi Soemarmo akan mendapatkan sentuhan visual dengan motif batik yang terkonsep.
1
Mahasiswa jurusan D III Deskomvis dengan NIM C9507028
2
Dosen Pembimbing I
3
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Surakarta merupakan salah satu kota bersejarah di Indonesia, karenanya
terdapat peninggalan berupa dua warisan budaya dari leluhur yang adiluhung, yaitu
Keraton Kasunanan Surakarta dan Keraton Mangkunegaran. Efek historis dari dua
peninggalan budaya yang agung tersebut mempengaruhi tatanan masyarakat yang
berlandaskan nilai-nilai adiluhung, serta budaya-budaya keraton yang masih kental.
Salah satu bentuk warisan budaya leluhur Kota Surakarta ialah batik. Batik
merupakan pusaka tradisi warisan budaya leluhur yang sangat dijunjung tinggi oleh
kota ini. Meskipun sempat akan musnah dan diklaim oleh negara tetangga, batik
muncul kembali dengan eksotisme budaya agung yang melekat kuat didalamnya.
Selain itu, ditetapkannya Kota Surakarta sebagai Kota Batik oleh UNESCO pada 2
Oktober 2009 menambah kuat citra batik dimata internasional. Usaha dan kerja keras
dari Pemkot Surakarta sendiri dalam mengangkat dan mendongkrak pariwisata di
Kota Surakarta sangat serius.
Terbukti dengan di tetapkannya Bandara Adi Soemarmo Surakarta yang kini
telah berstatus sebagai Bandara Internasional yang diresmikan oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono pada tanggal 7 Maret 2009. Berdasar dengan latar belakang
tersebut, Kota Surakarta akan lebih percaya diri dalam meningkatkan hubungan
commit to user
sebagai Kota MICE yang didapat oleh Kota Surakarta, yang berpengaruh terhadap
kedatangan mancanegara maupun domestik akan lebih dipermudah dengan kehadiran
bandara internasional tersebut. Dengan demikian Bandara Internasional Adi
Soemarmo turut menjadi bagian terpenting dalam usaha mewujudkan Kota Surakarta
sebagai salah satu tempat kunjungan pariwisata dunia, sehingga Bandara
Internasional Adi Soemarmo diharapkan mampu menjadi gerbang pengantar Kota
Surakarta menjadi kota yang dikenal oleh Indonesia sendiri pada khususnya dan
dimata dunia internasional pada umumnya.
Bandara Adi Soemarmo sebagai gerbang pengantar ke Kota Surakarta, maka
diperlukannya ciri yang khusus untuk lebih menonjolkan image Kota Surakarta yang
dicitrakan sebagai Kota Batik. Berdasarkan uraian tersebut, maka diperlukan
perancangan yang efektif untuk menguatkan citra Kota Surakarta sebagai Kota Batik
dimata dunia melalui Bandara Internasional Adi Soemarmo. Oleh sebab itu, Konsep
tugas akhir ini berjudul Visual Branding Bandara Adi Soemarmo Surakarta.
B. Rumusan Masalah
Kota Surakarta kini telah berbenah menjadi kota pariwisata yang besar dengan
mengeksplor seluruh kebudayaan yang ada didalamnya. Masyarakat turut dilibatkan
untuk ikut serta dalam penyelenggaraan setiap event budaya. Bahkan dunia
internasional telah mengakui bahwa Surakarta merupakan Kota Batik. Pemerintah
commit to user
ke Kota Surakarta. Salah satu aset terpenting yang dimiliki pemerintah Kota
Surakarta saat ini dalam mendongkrak kunjungan pariwisata di Kota Surakarta tak
luput dari peran serta Bandara Internasional Adi Soemarmo yang tak sedikit
mendatangkan wisatawan ataupun pelaku bisnis baik dari mancanegara maupun
domestik dalam berkunjung ke Kota Surakarta.
Pengenalan dan juga pendekatan image Bandara Internasional Adi Soemarmo
dimata publik diperlukan bagian penting dari identitas Kota Surakarta. Oleh karena
itu rumusan masalah dalam Perancangan Branding Bandara Internasional Adi
Soemarmo meliputi :
1. Bagaimana merancang konsep Bandara Adi Soemarmo yang sesuai dengan image
yang melekat pada Kota Surakarta sebagai Kota Batik ?
2. Bagaimana merancang visual bandara yang efektif dan komunikatif dengan
memilih media yang tepat dan penempatannya dilingkungan bandara dengan
sentuhan desain komunikasi visual agar tercipta image Kota Surakarta melalui
commit to user
C. Tujuan Perancangan
1. Mampu menemukan konsep perancangan yang tepat untuk Bandara Adi
Soemarmo dengan mengacu pada image Kota Surakarta sebagai Kota
Batik, sehingga Bandara Internasional Adi Soemarmo menjadi elemen
yang mampu mengangkat image Kota Surakarta sebagai Kota Batik
sehingga dapat mendongkrak pariwisata di Kota Surakarta khususnya
pariwisata budaya.
2. Mampu mengangkat brand Kota Surakarta sebagai kota batik melalui perancangan visual brand Bandara Adi Soemarmo yang mampu
menguatkan citra Kota Surakarta melalui Bandara Internasional Adi
commit to user
BAB II
IDENTIFIKASI DATA
A. Data Produk
1. Kota Solo sebagai Kota Batik
Kota Surakarta merupakan salah kota budaya di Indonesia. Beragam seni
dan budaya tumbuh di kota bengawan tersebut. Pada hakekatnya budaya yang
kental dari kota Surakarta, merupakan budaya dari dalam keraton. Salah satu
budaya kota Surakarta yang telah menjadi warisan budaya dunia ialah batik.
Kota Surakarta memiliki nafas batik sejak dari zaman nenek moyang
terdahulu sekitar abad 17. Pada zaman dahulu, batik merupakan sarana
mediasi dalam berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa. Batik di Kota
Surakarta mulai tumbuh dalam lingkungan Keraton. Awalnya batik hanya
sekadar hobi dari para keluarga raja di dalam berhias lewat pakaian. Namun
perkembangan selanjutnya, oleh masyarakat, batik dikembangkan menjadi
komoditi perdagangan.
Batik Surakarta terkenal dengan beragam corak dan pola tradisionalnya
baik dalam proses cap maupun dalam batik tulisnya. Bahan-bahan yang
dipergunakan untuk pewarnaan masih tetap banyak memakai bahan-bahan
dalam negeri seperti soga Jawa yang sudah terkenal sejak dari dahulu. Bebagai
motif yang terdapat di Batik Surakarta yang terkenal antara lain : Parang
Kusumo,Parang Gapit, Parang Sarpa, Kawung Picis, Kawung Beton,
Sidomukti, Sidoluhur. Tentunya dengan berbagai corak yang beragam
commit to user
Indonesia. Batik Surakarta juga terkenal akan karakteristiknya yang lembut
dan juga indah.
Perkembangan batik pada saat ini, khususnya di Kota Surakarta telah
meluas pemanfaatannya sepeti digunakan sebagai elemen visual arsitektur
bangunan, media publik , souvenir dan juga yang lainnya. Batik juga telah
menjadi trend setter yang digunakan dalam setiap acara formal di kantor
ataupun disetiap instansi Kota Surakarta. Didalam suatu instansi pemerintahan
misalnya pada sekolah, mulai dari taman kanak-kanak hingga sekolah
menengah atas telah dipekenalkan batik melalui seragam mereka dan bahkan
ada pula yang dimasukkan kedalam kurikulum pembelajaran mereka.
Alasan seperti ini, mendorong dan memicu pemerintah kota untuk terus
berupaya dalam melestarikan budaya batik di Kota Surakarta. Bukti nyata
wujud dari suka cita dan pelestarian batik tersebut ialah dengan didirikannya
suatu sentra kerajinan batik di Kampung Batik Laweyan dan Kampung Batik
Kauman yang masing-masing terletak di pusatnya kota Surakarta. Hal ini tidak
luput dari latar sejarah yang ada di kampung Laweyan dan Kauman pada
zaman dahulu. Dengan dukungan serta partisipasi masyarakat Kota Surakarta,
mereka bahu-membahu dalam mengangkat citra Kota Surakarta sebagai Kota
Batik di Indonesia. Wisata budaya Surakarta pun mulai digencar-gencarkan
pada dunia dengan berbagai event dan expo-expo tentang batik. Solo Batik
Carnival, Srawung Batik, Solo International Batik Expo, dan masih banyak
lagi. Tentunya gebrakan wisata budaya di Kota Surakarta tersebut mampu
commit to user
strategi brand pariwisata kota Surakarta,“Solo The Spirit of Java”, kota
bengawan ini bergolak penuh percaya diri dalam menata kotanya dengan
semangat berbudaya dan juga menguatkan image kota batik didalamnya
dengan serangkaian event dan juga expo yang berhubungan dengan batik.
Alhasil dunia berkata, bahwa batik merupakan pusaka dunia dan
ditetapkannya sebagai bagian dari budaya Indonesia oleh UNESCO pada
tanggal 2 Oktober 2009. Kota Surakarta dianggap mampu melestarikan
kebudayaan batik mereka dan memiliki image yang kuat sebagai kota batik.
Sebagai wujud rasa syukur, warga kota Surakarta bersama dengan pemerintah
kota Surakarta mengadakan Karnaval Budaya “ Solo Membatik Dunia ” yang
dilaksanakan sehari setelah Kota Surakarta mendapat sebutan sebagai kota
batik oleh UNESCO dan akan diadakan lagi setiap tanggal 2 Oktober. Solo
akan semakin expresif dalam dunia kepariwisataan dengan kekuatan brand
pariwisata mereka.
2. Bandara Adi Soemarmo merupakan Media Promosi Kota Surakarta sebagai Kota Batik
Kota Surakarta telah mendapat predikat sebagai kota batik oleh dunia
melalui brand pariwisatanya. Brand pada dasarnya adalah perpaduan antara
seni dan sains untuk menyampaikan sebuah janji yang dibuat oleh perusahaan
kepada audiencenya. Melalui janji ini, perusahaan berusaha menjalin ikatan
dengan pelanggannya secara emosional, baik dari segi pemenuhan kebutuhan,
loyalitas dan dukungan yang terus menerus (Surianto Rustan, 2009 : 1).
commit to user
kuat pada Kota Surakarta sebagai kota batik. Dalam upayanya lebih
memperluas dan meningkatkan pendapatan, Kota Surakarta gencar melakukan
kampanye dan promosi pariwisata baik pada expo pariwisata dalam negeri
maupun internasioanl. Promosi tersebut akan lebih kuat karena di dukung oleh
serangkaian acara karnaval-karnaval batik yang dipromosikan oleh pemerintah
Kota Surakarta hingga di ajang expo pariwisata dunia, seperti Cinghay Parade
di Singapura dan rencanaya juga akan diperkenalkan di Afrika Selatan dalam
menyambut Piala Dunia 2010. Oleh pemerintah Kota Surakarta, kota batik ini
akan dikonsep menjadi “Rio De Janiero” nya Indonesia dimana berbagai
karnaval dan juga expo-expo akan lebih menggeliat lagi di Kota Surakarta.
Kota Surakarta akan menjadi kota yang selalu menawarkan wisata budayanya
dalam mengisi pendapatan daerah mereka. Seluruh element masyarakat
dirangkul dan diajak untuk ikut berpartisipasi dalam berbagai event budaya.
Selain element masyarakat yang perlu diberdayakan untuk mengangkat
pariwisata Kota Surakarta di mata internasional, perlu adanya element lain
yang turut diperhatikan agar mampu menyumbangkan peran sertanya dalam
mengangkat potensi wisata Kota Surakarta bahkan lebih meningkatkan
pendapatan Kota Surakarta melalui pariwisata. Bandara Adi Soemarmo yang
terletak di Ngemplak Boyolali merupakan salah satu aset terpenting dari suatu
daerah dalam mendatangkan wisatawan untuk menigkatkan devisa. Bandara
Adi Soemarmo yang sekarang telah berstatus sebagai “Bandara Internasional”
tentunya akan menjadi aset yang sangat penting dalam menunjang pariwisata
commit to user
di lalui untuk menuju Kota Surakarta untuk wisatawan lokal maupun
mancanegara. Promosi yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta pada dunia
internasional akan sangat terbantu dengan adanya Bandara Adi Soemarmo
tersebut.
Bandara Adi Soemarmo akan diposisikan sebagai gerbangnya menuju
kota batik yang implementasinya akan lebih menguatkan citra & image Kota
Surakarta sebagai kota batik. Bandara internasional merupakan akses
hubungan internasional antar negara. Bagi wisatawan asing, bandara
internasional merupakan pijakan kaki yang pertama kali ketika datang dalam
suatu negara. Olehkarena itu, Bandara Adi Soemarmo perlu divisualisasikan
sejalan dengan implementasi citra Kota Surakarta sebagai Kota Batik. Untuk
mendukung promosi Pemerintah Kota Surakarta dalam mewujudkan Kota
Surakarta sebagai tujuan pariwisata internasional, Bandara Adi Soemarmo
tentunya harus memiliki image yang kuat, yang mampu mendukung citra Kota
Surakarta sebagai kota batik. Pemerintah Kota Surakarta akan terus berupaya
dalam meningkatkan promosi wisata internasionalnya melalui serangkaian
event-event karnaval dan juga expo-expo budaya di Kota Surakarta. Hal ini
diharapkan akan mampu menarik perhatian para wisatawan lokal maupun
mancanegara untuk berwisata ke Kota Surakarta.
B. Data Pemasaran
Dalam upayanya mendongkrak dan terus memajukan pariwisata budaya,
commit to user
Untuk menguatkan image Kota Surakarta sebagai kota batik, strategi
pemasaran yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta, yakni dengan
mengadakan event-event dan expo yang berkaitan dengan batik, diantaranya :
1. Membatik oleh Anak-anak
2. Gelar Batik Nusantara
3. Srawung Batik Solo
4. Solo Batik Carnival
5. Solo Batik Fashion
6. Solo Membatik Dunia
7. Solo Membatik Aspal
Pemerintah Kota Surakarta mengonsep setiap event-event budaya tersebut
dengan mengikutsertakan masyarakat Kota Surakarta untuk ikut terlibat secara
langsung dan berperan aktif didalamya sebagai satu kesatuan promosi wisata
budaya yang terpadu.
C. Data Konsumen
Kota Surakarta memiliki sejumlah tempat-tempat pariwisata budaya
yang masih original. Selain itu, event-event budaya kerap diadakan di Kota
Surakarta. Hal ini merupakan bentuk usaha Pemerintah Kota Surakarta dalam
memajukan pariwisata Kota Surakarta dan juga dalam rangka meningkatkan
jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Surakarta baik wisatawan mancanegara
maupun wisatawan dalam negeri. Untuk mengetahui tingkat keefektifan dan
commit to user
Pariwisata dan Seni Budaya Kota Surakarta membuat data laporan kunjungan
wisatawan ke obyek dan daya tarik wisata (ODTW) Kota Surakarta, sebagai
berikut :
Data kunjungan wisatawan ke Kota Surakarta tahun 2005-2009
Sumber : Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta Melihat tabel kunjungan pariwisata di Kota Surakarta dari tahun 2005
sampai tahun 2009 membuktikan bahwa adanya peningkatan kunjungan
wisatawan di Kota Surakarta. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa usaha
Pemerintah Kota Surakarta dalam mempromosikan Kota Surakarta sangat
serius dengan memadukan kekompakan antara pemerintah kota dengan
masyarakatnya. Melalui event-event budaya dan juga exhibition budaya,
commit to user
D. Target Market
Adapun target market wisata budaya Kota Surakarta yakni wisatawan yang
berkunjung ke Kota Surakarta yang berdasarkan beberapa segmentasi :
1. Segmentasi Geografis
a. Wilayah : Se-ex karesidenan Kota Surakarta
Provinsi Jawa Tengah
Seluruh wilayah di Indonesia
Wilayah di Asia
Wilayah di Amerika dan Eropa
b. Kepadatan : perkotaan
2. Segmentasai Demografis
a. Umur : 21 – 60 tahun.
b. Jenis Kelamin : permpuan dan laki-laki dewasa.
c. Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai
Perguruan Tinggi.
d. Status Sosial : Menengah keatas.
3. Segmentasi Psikografis
a. Kesempatan Penggunaan : kesempatan penggunaan bersifat
temporer artinya, pemakaian jasa pariwisata Kota Surakarta
akan mengalami peningkatan dan suatu saat akan mengalami
penurunan jika elemen masyarakat beserta pemerintah kota
tidak melakukan inovasi dan peremajaan baik dalam segi
commit to user
b. Manfaat yang dicari : kualitas, prestise ,dan memorable.
c. Status Pemakaian : temporer
E.
Target Audience
Kepada siapa kita akan berbicara atau siapa yang akan menjadi sasaran
iklan kita tersebut disebut dengan istilah target audience. Dalam marketing
brief target audience sudah disebutkan dengan mengidentifikasi kelompok
sasaran tersebut antara lain dengan melalui parameter yang biasa disebut SES
(Socio Economic Strata) ( Agus S. Madjadikara, 2005 : 31 ).
Wisatawan domestik ataupun asing yang berkunjung di Kota Surakarta
merupakan konsumen dari kelas menengah ke atas.
1. Segmentasi Geografis
a. Wilayah : Se-ex karesidenan Kota Surakarta
Provinsi Jawa Tengah
Seluruh wilayah di Indonesia
Wilayah di Asia
Wilayah di Amerika dan Eropa
b. Kepadatan : perkotaan
2. Segmentasai Demografis
a. Umur : 21 – 60 tahun
b. Jenis Kelamin : permpuan dan laki-laki dewasa.
c. Pendidikan : Sekolah Menengah Atas (SMA) sampai
commit to user
d. Status Sosial : Menengah keatas.
3. Segmentasi Psikografis
a. Kesempatan Penggunaan : kesempatan penggunaan bersifat
temporer artinya, pemakaian jasa pariwisata Kota Surakarta
akan mengalami peningkatan dan suatu saat akan mengalami
penurunan jika elemen masyarakat beserta pemerintah kota
tidak melakukan inovasi dan peremajaan baik dalam segi
fasilitas maupun konsep dalam setiap event pariwisata.
b. Manfaat yang dicari : kualitas, prestise ,dan memorable.
c. Status Pemakaian : temporer
F.
Promosi
Kegiatan promosi yang merupakan implementasi Kota Surakarta sebagai
Kota Batik yang telah terselenggara sebagai wujud usaha Pemerintah Kota
Surakarta dalam meningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kota
Surakarta untuk mewujudkan Kota Surakarta sebagai kota tujuan wisata
budaya dunia :
1. Membatik oleh Anak-anak
Event budaya pertama kali yang diadakan oleh Pemerintah Kota
Surakarta sejak diluncurkannya brand pariwisata Kota Surakarta “ Solo
commit to user
Surakarta dalam mempromosikan Batik Solo. Event ini di ikuti kurang
lebih oleh 100 anak-anak di Kota Surakarta dengan lokasi di City Walk di
Kampung Kauman. Tujuan dari event ini ialah sebagai pendobrak awal
untuk menggairahkan kembali warga Kota Surakarta khususnya akan batik
dan menjaga kelestarian pusaka Kota Surakarta tersebut. Acara ini
terbilang sukses karena mampu memberikan efek spirit dan inspirasi untuk
menyelenggarakan event budaya berikutnya.
2. Gelar Batik Nusantara
Pemerintah Kota Surakarta tak henti-hentinya dan kehilangan akal
dalam mempromosikan pariwisata di kota bengawan tersebut. Event
membatik oleh seratus anak di Kota Surakarta tersebut dinilai mampu
mendorong event-event lain untuk bermunculan di Kota Surakarta. Gelar
Batik Nusantara diselenggarakan atas semangat dan termotivasi dari
gebrakan event membatik oleh anak-anak tersebut yang dinilai telah
mampu menarik perhatian masyarakat Surakarta akan wisata budaya di
Kota Surakarta. Gelar Batik Nusantara merupakan pagelaran dan
workshop tentang batik yang mencakup batik seluruh wilayah di
nusantara. Tujuan dari event ini ialah sebagai media untuk
memperkenalkan batik Kota Surakarta dilingkup nusantara sebagai pusaka
budaya Indonesia tentunya. Selain itu, acara ini juga secara tidak langsung
commit to user
3. Srawung Batik Solo
Srawung Batik merupakan program pameran batik outdoor yang
mewadahi pelaku-pelaku batik dari berbagai daerah di nusantara untuk
saling berinteraksi, bertemu, sharing, bertukar informasi, berdiskusi,
berpromosi dan menjual produk batik. Srawung Batik I mulai diadakan
pada tahun 2008 yang mana mendampingi acara Solo Batik Carnival 2008.
Srawung Batik merupakan program pendamping Solo Batik Carnival, dan
wujud partisipasi Tahun Industri Kreatif 2010. Untuk menjawab tantangan
kreativitas penciptaan motif baru, strategi pemasaran, penjualan, dan
perdagangan batik yang terus mencari formulanya yang sesuai dengan
kebutuhan masa kini. Srawung Batik dinilai akan lebih menjadi faktor
penunjang dan penguat event Solo Batik Carnival sendiri. Dengan
keterlibatan Srawung Batik, Solo Batik Carnival alkan lebih hidup dengan
settingan tempat karnaval yang ditata dengan paduan sentuhan batik pula.
4. Solo Batik Carnival
Solo Batik Carnival merupakan karnaval yang berbasis masyarakakat
Kota Surakarta. Seluruh element telibat dalam penyelenggaraan karnaval
tersebut mulai dari Pemerintah Kota Surakarta hingga berbagai lapisan
masyarakat Kota Surakarta. Latar belakang event budaya ini ialah keaneka
ragaman corak batik di Kota Surakarta yang memiliki nilai seni yang
tinggi dan berpotensi dalam memperkuat image Kota Surakarta sebagai
commit to user
mengambil tema Wayang perekrutan para peserta sendiri dilakukan
dengan cara promosi acara melalui media print ad dan juga elektronik
seperti facebook, twitter, friendster, dan lain-lain. Peserta yang telah
mendaftarkan diri selanjutnya dibina dan diarahkan dalam merancang
kostum mereka sendiri. Sukses Solo Batik Carnival I pada 2008,
Pemerintah Kota Surakarta dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata kota Solo menggelar kembali Solo Batik Carnival II pada 26-28
Juni 2009 dengan mengambil tema Topeng. Event ini menjadikan Kota
Surakarta mampu terangkat dan sedikit demi sedikit dikenal oleh dunia
dengan Solo Batik Carnivalnya. Terbukti Solo Batik Carnival mampu
tampil dalam parade kebudayaan di Singapura yang bernama “ Cinghay
Parade ”. Tidak hanya itu, Solo Batik Carnival juga telah menjelajah
Negara Belanda dengan tampil dalam acara yang serupa dengan pasar
malemnya di Indonesia. Pada perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika
Selatan tahun ini, TIM Solo Batik Carnival didaulat juga untuk ikut serta
dalam acara pembukaan Piala Dunia 2010. Dengan prestasi yang cukup
membanggakan tersebut, Solo Batik Carnival diadakan kembali dengan
tema Flora dan fauna pada edisi ke-3 . Solo Batik Carnival III akan
diselenggarakan pada tanggal 23 Juni 2010. Solo Batik Carnival ditujukan
commit to user
5. Solo Batik Fashion
Solo Batik Fashion merupakan suatu event budaya untuk mengukuhkan
Citra Surakarta sebagai salah satu kota wisata dan budaya dengan menampilkan
trend fashion dengan corak batik. Kegiatan ini melibatkan desainer lokal dan
sejumlah pengrajin batik. Meski bertujuan mengangkat batik sebagai ikonnya,
namun rancangan batik yang ditampilkan dalam SBF juga akan dipenuhi
sentuhan modern seperti SBF I tahun pada tanggal 10 -12 Juli 2009 yang telah
sukses terselenggara. Solo Batik Fashion merupakan inovasi yang dikembangkan
oleh para desainer agar batik sebagai fashion dapat lebih diminati oleh para
konsumen dan mereka tidak akan mudah bosan dengan munculnya varian-varian
batik yang teraplikasikan di baju. Dan tujuan akhirnya yakni eksistensi batik akan
tetap terjaga.
6. Solo Membatik Dunia
Solo Mebatik Dunia merupakan wujud rasa suka cita dari seluruh
masyarakat di Kota Surakarta karena diakuinya batik sebagai pusaka dunia
oleh UNESCO dan ditetapkannya Kota Surakarta sebagai Kota Batik. Solo
Membatik Dunia digelar satu hari setelah UNESCO menetapkan batik
sebagai pusaka dunia pada tanggal 2 Oktober 2009. Wujud rasa suka cita
tersebut diwujudkan dengan pawai dan karnaval disepanjang jalan Slamet
Riyadi Surakarta. Seluruh elemen masyrakat Kota Surakarta yang
bertindak sebagai peserta semua berpakaian batik. Mulai dari perangkat
desa, kelurahan, kecamatan sampai pemkot semua berpartisipasi dalam
commit to user
Indonesia dan terlebih pada dunia karena frekuensi Kota Surakarta yang
semakin meningkat dalam penyelenggaraan festival budayanya sebagai
wujud keseriusan dalam memacu potensi wisata budaya di Kota Surakarta.
Dengan ditetapkannya Kota Surakarta sebagai Kota Batik, event-event
wisata budaya mulai bermunculan di Kota Surakarta. Pemerintah optimis
peningkatan wisatawan yang berkunjung ke Kota Surakarta akan semakin
signifikan dengan ditujang peremajaan dan penambahan fasilitas baru
yang semakin memperkuat citra pariwisata Kota Surakarta.
7. Solo Membatik Aspal
Solo Membatik Aspal merupakan serangkaian kegiatan event budaya
di Kota Surakarta yang merupakan bagian dari acara Solo Membatik
Dunia. Solo Membatik Aspal diselenggarakan satu hari setelah diakuinya
batik menjadi pusaka dunia oleh UNESCO. Kegiatan tersebut sebagai
bentuk perayaan diakuinya batik sebagai warisan budaya dunia oleh
UNESCO. Event ini di ikuti oleh ribuan anak SD se-Surakarta. Mereka
membatik jalan sepanjang ruas Jalan Diponegoro, Windujenar, Surakarta.
Alasan pemilihan jalan beraspal sebagai media alternatif pendidikan seni
rupa karena berseni lukis tidak harus terpaku pada media kertas atau
kanvas, di aspal pun jadi media yang mampu meledakkan ekspresi anak..
Anak-anak yang beraksi membatik aspal tersebut merupakan gabungan
siswa dari beberapa sekolah di Solo di antaranya, SDN Ketelan, SDN
commit to user
dan SMP. Mereka membatik jalan bukan dengan cat atau malam, namun
dengan kapur tulis. Aksi yang berlangsung selama satu jam, dari pukul
08.00 WIB hingga pukul 09.00 WIB itu membuat jalan yang terletak di
jantung Kota Solo menjadi lautan batik berwarna putih. Aksi ribuan anak
membatik jalan itu menghabiskan kapur tulis sebanyak 10.000 batang.
"Alasan pemilihan kapur tulis agar tidak mengotori jalan, karena kapur
mudah dihapus. Selain sebagai bentuk ekspresi suka cita dari masyarakat
Kota Surakarta, aksi itu juga untuk mendukung branding kota solo sebagai
kota batik. Kota Solo mempunyai jargon Solo Batik dan Batik Solo.
Momen ini tepat setelah Indonesia dipercaya UNESCO sebagai pemilik
warisan budaya berupa batik. Dengan membatik anak bisa berimajinasi
luar biasa. itu bisa menciptakan motif-motif baru dan unik.
G. Komparasi
Komparasi merupakan usaha dalam membadingkan produk yang kita jual
dengan produk yang telah ada. Selain Bandara Adi Soemarmo Surakarta yang
memiliki branding dari Kota Surakarta sebagai Kota Batik, di Indonesia yang
lainnya ialah Bandara Ngurah Rai di Bali dan juga Bandara Internasional
Soekarno - Hatta. Oleh karena itu kami memilih Bandara Ngurah Rai di Bali
dan juga Bandara sebagai pembandingnya dengan mengacu pada bandara
yang berpotensi untuk di lakukan branding. Pada dasarnya bandara yang telah
dibranding dengan mengacu terhadap kota dimana ia berada, pastilah memiliki
commit to user
Perbandingan antara Bandara Adi Soemarmo - Surakarta, Bandara
Ngurah Rai – Bali, dan juga Bandara Soekarno – Hatta – Jakarta dilihat dari
beberapa faktor :
Design di Bandara
Bandara Adi
Soemarmo -
Surakarta
EGD dibuat dengan
dominasi corak dan motif
batik Kota Surakarta, baik
pada sign age maupun way
findingnya.
Keunikan EGD terlihat
pada plane area, terdapat
archigraphic yang besar
umum dan visit to Jakarta
secara khusus.
Bentuk, struktur serta
ornament bandara bergaya
khas Indonesia dengan
gaya dan penempatan EGD
sangat eksklusif, hal ini
sangat merepresentasikan
sebagai
commit to user
Bandara Ngurah
Rai - Bali
EGD dibuat dengan
perpaduan antara unsure
kebudayaan religious Bali
dan ditunjang dengan corak
modernisasi.
Penempatan EGD di setiap
sudut ruangan sangat
compatible dengan element
disekitarnya
karena ditunjang dengan
kemantapan dan kekuatan
image Bali sebagai kota
commit to user
BAB III
KONSEP PERANCANGAN
A. Konsep Karya
1. Konsep Kreatif
Kota Surakarta salah satu kota yang menyandang gelar sebagai kota batik
yang memiliki latar belakang historis tentang kekayaan batik nusantara. Beragam
jenis motif dan corak batik ada di kota ini. Melalui kekuatan promosi serta adanya
kerjasama yang baik antara pemerintah kota dengan masyarakat Kota Surakarta,
menjadikan batik di kota ini sangat dijunjung tinggi dan mampu dikemas dalam
wadah promosi kota yang luar biasa. Kekuatan batik di Kota Surakarta sebenarnya
merupakan perpaduan antara kekuatan dari nilai seni batik itu sendiri dan juga
kekuatan dari keterpaduan seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kelestarian
batik Surakarta dan juga memperkenalkan pada kota lain di Indonesia.
Tak lepas dari semua itu, Kota Surakarta memiliki akses internasional yang
memiliki potensi sebagai penguat image kota tersebut sebagai kota batik. Bandara
Adi Soemarmo melalui perancangan ini, akan dimanfaatkan oleh Kota Surakarta
sebagai penguat Kota Batik dengan tujuan utama meningkatkan wisatawan
domestik maupun asing. Bandara Adi Soemarmo dianggap efektif dalam
mempromosikan Kota Surakarta, karena berfungsi sebagai gerbang masuk ke kota
tersebut, baik antarkota dalam satu negara maupun antarnegara. Dengan visual
branding Bandara Adi Soemarmo yang mengacu pada Kota Surakarta sebagai
commit to user
akses internasionalnya tersebut. Sehingga, diharapkan para wisatawan akan
merasakan aura Kota Surakarta yang sangat kental ketika pertama kali
menginjakkan kaki di kota batik tersebut.
Diperlukan strategi kreatif dalam mempromosikan Kota Surakarta sebagai
Kota Batik melalui perancangan visual Bandara Adi Soemarmo sebagai
penguatnya, dengan tujuan :
a. Memperkenalkan Kota Surakarta sebagai Kota Batik yang memiliki potensi
pariwisata budaya dunia dan bertujuan sebagai tempat tujuan utama pariwisata
dunia.
b. Menarik perhatian para wisatawan asing maupun domestik untuk
meningkatkan pengunjung ke Kota Surakarta.
c. Memperkuat memorable (kenangan) para wisatawan yang berkunjung ke Kota
Surakarta akan keunikan Kota Surakarta, sehingga diharapkan para wisatawan
akan kembali lagi ke Kota Surakarta.
2. Positioning
Positioning adalah menempatkan sebuah produk atau jasa untuk mendapatkan posisi yang baik di mata konsumen ( Adi Kusrianto, 2007 : 55 ). Menciptakan
posisi dalam pikiran (mindset) atau benak konsumen (Agus S. Madjadikara, 2005
: 60). Positioning berhubungan dengan bagaimana memainkan komunikasi agar dalam benak konsumen tertanam suatu citra tertentu, yang dalam hal ini
konsumen akan diperkenalkan dengan Kota Surakarta melalui sentuhan awal yang
commit to user
dengan budaya Surakarta khususnya Batik. Sehingga ada kesan keunikan dari
Kota Surakarta pada waktu para wisatawan pertama menginjakkan kaki di kota
tersebut. Hal ini tentunya akan memberikan memorable (kenangan) bagi para
wisatawan sehingga mereka akan terus mencari tahu lebih banyak tentang Kota
Surakarta dengan hadir kembali ke kota batik terserbut. Maka dalam hal ini,
Bandara Adi Soemarmo ditempatkan sebagai “gerbang menuju Kota Batik”.
3. Unique Selling Preposition
Kota Surakarta mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan dengan kota
yang menyandang sebagai kota batik yang lain. Dari segi corak dan jenis
batiknya, Kota Surakarta memiliki corak yang beraneka ragam dengan jenis yang
sangat banyak dan bervariasi. Warna khas batik Kota Surakarta ialah “SOGA”
yakni coklat agak kemerah-merahan. Selain itu, faktor promosi yang sangat
gencar dilakukan Pemerintah Kota Surakarta dalam mengenalkan tradisi kota
tersebut, khususnya tradisi batik mampu mengangkat image Kota Surakarta
sebagai kota batik. USP (Unique Selling Preposition) dari Kota Surakarta ini
sendiri ialah adanya bandara internasional yang memperkuat image Kota
Surakarta sebagai Kota Batik, yakni Bandara Internasional Adi Soemarmo.
Melalui pencitraan awal sebelum para wisatawan domestik maupun mancanegara
memasuki atau baru menginjakkan kaki yang pertamakali di Kota Surakarta
melalui sentuhan corak batik di bandara tersebut, dengan sendirinya image Kota
Surakarta sebagai Kota Batik akan menguat. Fokus dari visual branding itu sendiri
commit to user
pandangan pertama, sehingga memorable dari para wisatawan akan selalu
tertambat pada Kota Surakarta sebagai kota tujuan wisata.
B.
Konsep Perancangan
Strategi perancangan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam
pencapaian tujuan pada akhirnya. Jika strategi perancangan tidak tepat dan tidak
sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, maka dapat dikatakan promosi yang
kita lakukan tidak berhasil dan tidak sampai pada target audience. Sehingga dalam
merancang suatu strategi perancangan diperlukan suatu pemikiran atau gagasan
yang tepat untuk dapat direalisasikan menjadi sebuah media promosi yang
komunikatif dan efektif. Ada beberapa pokok pikiran yang mengacu pada pola
dukungan dalam menciptakan desain secara global dan menyeluruh. Unsur
pendukung tersebut terbagi menjadi dua bagian, yaitu:
1. Strategi Visual Verbal
a. Headline
Headline sering disebut judul. Hal ini merupakan bagian terpenting dari
suatu media promosi yang dipakai sebagai penangkap perhatian utama.
Salah satu kunci keberhasilan promosi adalah adanya headline yang
persuasive, simpel, dan juga memiliki kekuatan verbal untuk
meningkatkan rasa penasaran audience terhadap promosi tersebut. Karena
fungsi utama headline sendiri untuk menarik perhatian khalayak umum
dengan cepat dan berusaha menarik konsumen sebanyak-banyaknya dalam
commit to user
suatu pendukung ide dan gagasan, maka headline diharapkan dapat
menarik perhatian sasaran untuk memasuki tujuan pemahaman pesan,
mengantar untuk menterjemahkan bahasa visual dan menarik pihak
khalayak untuk membaca body copy lebih lanjut. Headline umumnya
ditulis dengan huruf besar dibandingkan dengan huruf lainnya. Dan
menggunakan pilihan kata yang singkat, informatif, komunikatif, mudah
dibaca dan mudah dimengerti oleh khalayak sasaran.
Maka headline dari perancangan ini adalah:
1) We are the gate to the city of batik. 2) Welcome to the zone of batik. 3) Nol km zona bebas buta batik.
4) Kami adalah gerbang menuju kota batik.
5) Wilujeng rawuh dumateng kutho Solo.
b. Sub headline
Sub headline merupakan jembatan penghubung antara headline dengan body text. Sub headline digunakan apabila kalimat dalam headline cukup
panjang sehingga kurang efektif. Apabila headline sudah memiliki
kemampuan lebih untuk meningkatkan ketertarikan untuk membaca body
text, maka sub headline tidak diperlukan lagi. Kalimat dalam suatu Sub Headline lebih jelas dan lebih menarik agar mudah dicerna oleh konsumen yang membacanya.
commit to user
1) Pintu menuju Kota Solo untuk berwisata batik.
2) Disinilah kawasan belanja batik yang tepat.
3) Bermacam-macam jenis batik ada di kota ini jadi jangan
takut untuk tidak tahu tentang batik.
4) Kutho budaya ingkang tansah ngagungaken budaya
adiluhung.
c. Body copy
Body copy merupakan penjelas dari headline sehingga perlu dibuat
sekomunikatif dan seefektif mungkin. Bodycopy berfungsi menerangkan
tentang produk sebenarnya yang yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pesan yang disampaikan bersifat ringkas, sederhana, mudah dimengerti
oleh khalayak konsumen. Body copy menjadi perluasan ide yang
disampaikan oleh headline dan ilustrasi. Dalam perancangan ini, body
copy yang digunakan haruslah menerangkan bahwa Solo adalah kota batik
dengan kalimat yang jelas dan efektif.
d. Baseline
Baseline adalah unsur yang lain dan biasanya ditempatkan di bagian bidang keseluruhan (biasanya dicantumkan nama perusahaan, brand name
dan mungkin juga slogan atau alamat perusahaan). Kalimat yang
digunakan sebagai baseline yaitu PT. Angkasa Pura I (PERSERO) Kantor
Cabang Bandara Internasional Adi Soemarmo Surakarta – 5718, Telp.
(0271) 780400 – 780715 – 781164. Fax 78005 AFTN WRSQ YDYX.
commit to user
e. Slogan
Slogan adalah inti sari dari pesan yang ingin disampaikan. Slogan dapat
membantu mengenalkan dan menanamkan citra produk ataupun image
produk pada benak masyarakat. Salah satu unsur dalam keberhasilan suatu
slogan adalah kalimat atau kata-kata yang digunakan harus padat, jelas,
menarik dan komunikatif sehingga dapat terus diingat konsumen
(memorable).
Slogan yang dipilih dalam perancangan ini ialah The world understand
(dunia memahami). Slogan tersebut dipilih untuk menguatkan promosi
wisata budaya kota Surakarta di mata Internasional dan lokal secara
subjektif sehingga jawaban apakah Solo merupakan kota batik, tentunya
akan muncul dari masing-masing pribadi (para wisatawan yang telah
berkunjung ke Kota Solo) tanpa kita memberikan paksaan kepada para
wisatawan tentang pemahaman yang sesuai dengan konsep branding.
2. Strategi Visual Non Verbal
a. Layout
Layout adalah pengaturan dari berbagai unsur komposisi seperti misal huruf teks, garis, bidang, gambar dam sebagainya. Layout adalah kemasan setiap
elemen lain dari “paket catalog” yang merefleksikan konsep desain (Fred E. Hahn
dan Kenneth G. Mangun, 1999 : 174). Proses layout dimulai dari pemikiran
utama kemudian masuk ke layout kasar (rough sket), yaitu penuangan bebas yang
commit to user
perancangan komunikasi visual seperti bentuk, warna, dan tipografi sudah dibuat
sehingga lebih menekankan pada persoalan dalam penataan letak dari unsur-unsur
tersebut dan akhirnya diharapkan akan mendapat pesan yang ingin
diinformasikan.
Pada perancangan promosi ini akan mengacu pada 3 tipe layout, seperti:
1) AXIAL
Elemen iklan ditelakkan berdasarkan sebuah
sumber sumbu yang diletakkan pada posisi
tertentu di halaman iklan. Pada metode ini
ditampakkan banyak bidang kosong.
2) GROUP
Layout ini menggunakan sejumlah elemen
berupa foto yang diletakkan berkelompok dalam
suatu titik konsentrasi pandang di halaman iklan.
Tujuannnya adalah untuk memberikan satu pusat
commit to user
3) BAND
Elemen iklan dipasang membentang seperti
sabuk, tetapi letaknya membujur vertikal.
Tipikal tersebut memberikan blocking materi
setinggi halaman iklan.
4) MONDRIAN Layout
Mengacu pada konsep seorang pelukis Belanda bernama Piet Mondrian,
yaitu penyajian iklan yang mengacu pada bentuk-bentuk square,
landscape, atau portrait. Masing- masing bidangnya sejajar dengan bidang
penyajian serta memuat gambar atau copy yang saling berpadu sehingga
membentuk komposisi yang konseptual.
5) PICTURE WINDOW Layout
Tata letak iklan dimana produk yang diiklankan ditampilkan secara close
up. Bisa dalam bentuk produknya itu sendiri atau bisa juga menggunakan
model (public figure)
6) MULTI PANEL Layout
Bentuk iklan dimana satu bidang penyajian dibagi menjadi beberapa tema
visual dalam bentuk yang sama (square atau double square semuanya)
b. Ilustrasi
commit to user
memberi penjelasan atas suatu maksud atau tujuan secara visual (Adi
Kusrianto, 2007 : 140). Ilustrasi merupakan salah satu unsur penting yang
sering digunakan dalam komunikasi sebuah produk karena sering
dianggap sebagai bahasa universal yang dapat menembus rintangan yag
ditimbulkan oleh perbedaan bahasa kata-kata (Iwan Wirya, 1999 : 32).
Dalam dunia periklanan, hal ini merupakan unsur yang sangat penting
karena sering dianggap sebagai ‘bahasa universal’. Ilustrasi disampaikan
dalam bentuk gambar atau foto. Fungsi dari ilustrasi adalah menarik
simpati dari khalayak sasaran dengan menjelaskan maksud dan tujuan dari
pesan dalam bentuk gambar atau foto. Di samping itu pula ilustrasi dapat
menghubungkan antara maksud-maksud yang berbeda antara bahasa dan
kata. Pada suatu iklan gambar dapat mengungkapkan berbagai penilaian,
maka ilustrasi haruslah relevan dengan produk ataupun jasa yang
ditawarkan dan mampu ‘berbicara’ walau hanya dengan sekilas
memandang. Sehingga dapat menarik dan merangsang khalayak untuk
membaca keseluruhan isi pesan.
Adapun penggolongan ilustrasi menurut teknik pembuatannya ada 3
macam, yaitu :
a. Ilustrasi tangan (drawing), yang biasa didefinisikan sebagai ilustrasi
yang dalam pembuatannya menggunakan cara manual, yakni
menggambar dengan kemampuan gerak alami tangan.
b. Ilustrasi fotografi , yang biasa di definisikan sebagai ilustrasi yang
commit to user
manipulasinya.
c. Ilustrasi komputer, yang dalam definisi pembuatannya menggunakan
teknik pengolahan komputer, baik dari hasil gambar tangan, fotografi,
maupun penggabungan dari keduanya. Teknik pembuatan ilustrasi ini
bisa disebut juga teknik digitalisasi dengan menggunakan program
komputer Adobe Photoshop, Corel Draw, Iilustrator, dan lainnya.
Gambar yang ingin ditampilkan bukan sebuah kumpulan gambar
produk tetapi pembuatannya nampilkan dari sebuah logo dalam
berbagai aplikasi desain promosi dan menjadikan sebagai visual key
karena penulis ingin memberikan sentuhan etnik tetapi elegant dan
berkelas dan berkesan exsklusif pada produk branding tersebut,
sehingga tanpa gambar produk pun mampu menarik perhatian
konsumen dan mampu untuk di ingat oleh konsumen (memorable).
commit to user
Konsep Logo
Bandara Internasional Adi Soemarmo ditujukan sebagai penguat image
Kota Surakarta sebagai kota batik di mata dunia. Oleh karena itu Bandara Adi
Soemarmo haruslah memiliki visualisasi yang mampu menawarkan atau
mempromosikan Kota Surakarta sebagai kota batik atau minimal mampu
mewakili visual Kota Surakarta secara umum. Visual dalam artian ini ialah
mampu merepresentasikan wajah Kota Surakarta baik dari segi budaya
ataupun karakter masyarakatnya kepada para pengguna jasa penerbangan baik
itu lokal ataupun internasional yang singgah di Kota Surakarta. Hal tersebut
dapat ditunjukkan melalui Bandara Adi Soemarmo sebagai media untuk
memperkenalkan dan juga memperkuat image Kota Surakarta sebagai Kota
batik dengan visualnya.
Dasar bentuk dan nilai visual Logo
Logo “ Solo the city of Batik “ ini terdiri dari dua elemen dan satu logo
type. Huruf “S” di distilasi sedemikian rupa sehingga menyerupai pola parang
yakni pola batik klasik khas Solo. Pola parang ini bermakna suatu keagungan
dan memiliki suatu nilai kehormatan yang tinggi(adiluhung). Hal ini
merepresentasikan bahwa Kota Surakarta merupakan kota yang memiliki
keagungan budaya di dalamnya. Kota batik ini menjadi lain dengan kota batik
lainnya, dengan semangat dalam mempromosikan batik di mata dunia.
Elemen kedua yakni kuncup bunga tulip dan bakal daun yang akan mekar. Hal
inimerepresentasikan bahwa Kota Surakarta memiliki potensi untuk tumbuh
commit to user
ketradisionalannya dengan menghasilkan generasi penerus yang mampu
menjaga dan melestarikan budaya luhurnya.
Colour guide
Warna coklat ini merupakan warna coklat yang
bersifat kontemporer, yakni warna populer dipakai
pada masa tertentu dan bersifat modern. Warna ini
mengkomunikasikan bahwa Kota Surakarta
merupakan kota yang modern dan dinamis dengan mengacu pada slogan “
commit to user
telah menjadi kota yang modern di masa yang akan datang tetapi tetap
mempertahankan pada tradisi lokal.
Warna coklat soga merupakan warna khas batik di
Kota Surakarta yang tidak dimiliki oleh batik di
kota lain di Indonesia. Warna ini
mengkomunikasikan bahwa Kota Surakarta
merupakan kota dengan khazanah budaya nya yang sangat agung terlebih
dengan didukung oleh berbagai corak khas batiknya yang menguatkan
Surakarta sebagai kota batik .
commit to user
Century
Nn
Uu Vv Ww Xx Yy Zz
1 2 3 4 5 6 7 8 9
empertahankan
budaya tradisionalnya dan melahirkan generasi penerusnya.
onviguration
Aa Bb Cc Dd Ee Ff Gg Hh Ii Jj Kk Ll Mm
Oo Pp Qq Rr Ss Tt
0
Century memiliki karakter klasik dan elegant. Font ini merepresentasikan
bahwa Kota Surakarta berkarakter kuat akan kebudayaan leluhurnya. Didalam
suatu kemodsernisasian dunia, Kota Surakarta mampu m
commit to user
Grid
commit to user
commit to user
d. Typografi
Typografi merupakan unsur penunjang yang sangat penting yang dapat membawa kesan atau citra yang ingin ditampilkan atau dijual oleh
perusahaan. Selain itu, typografi juga dapat berpengaruh terhadap
keberhasilan branding. Citra yang kuat yang tedapat pada typografi akan
selalu berada dibenak konsumen dan akan senantiasa di ingat oleh
konsumen. Sebagai figure informative, huruf sebaiknya memenuhi
persyaratan teknis dari segi ketampakan (legibility), keterbacaan
(readability), dan aspek-aspek ergonomik lainnya. Typografi yang baik
mengarah pada keterbacaan dan menariknya desain huruf tertentu
sehingga dapat menciptakan karakter atau karakteristik produk yang
bersangkutan. (Frank Jefkins, 1996 : 248)
Jenis typografi yang digunakan dalam visual branding Bandara Adi
Soemarmo disesuaikan dengan citra yang ditampilkan Kota Solo sebagai
Kota Batik. Tipografinya harus sesuai dengan karakter Kota Surakarta
sendiri dan juga komunikatif, padat makna, selain itu unsur futuristik harus
ada di dalamnya.
Perancangan typography didasarkan pada pertimbangan gaya desain, fungsi dan juga karakter huruf yang digunakan. Dari tema yang diangkat,
menggunakan typography yang berbentuk sederhana, namun tetap sesuai
commit to user
Maka jenis huruf yang akan dipilih adalah:
Calibri
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
1234567890
Alasan pemilihan font:
Calibri termasuk jenis san serif memiliki kesan futuristik, simple dan
modern serta berkarakter kuat sehingga mampu menonjolkan image
modern dan internasional bagi bandara Adi Soemarmo itu sendiri. Calibri
memberikan sentuhan yang lugas sehingga biasanya digunakan untuk
kalimat penjelas dalam suatu ilustrasi.
Myriad Pro - normal
ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ
abcdefghijklmnopqrstuvwxyz
1234567890
Alasan pemilihan font:
Myriad Pro memiliki karakteristik yang simple, lugas, serta bergaya
modern. Font ini berkesan futuristik sehingga mampu memunculkan
sentuhan gaya desain modern yang tak lepas dari unsur etnik pada
commit to user
penerbangan yang singgah di Bandara Adi Soemarmo menangkap kesan
modern dari Bandara tersebut.
Century
Aa Bb Cc Dd Ee Ff Gg Hh Ii Jj Kk Ll Mm Nn
Oo Pp Qq Rr Ss Tt Uu Vv Ww Xx Yy Zz
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Century memiliki karakter klasik dan elegant. Font ini merepresentasikan
bahwa Kota Surakarta berkarakter kuat akan kebudayaan leluhurnya.
Didalam suatu kemodsernisasian dunia, Kota Surakarta mampu
mempertahankan budaya tradisionalnya dan melahirkan generasi
penerusnya.
Arial
Aa Bb Cc Dd Ee Ff Gg Hh Ii Jj Kk Ll Mm Nn Oo Pp Qq Rr Ss Tt Uu Vv Ww Xx Yy Zz 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Huruf ini termasuk jenis sanserif atau tanpa kait. Alasan pemilihan huruf
ini karena bekesan simpel dan tegas tujuannya untuk menguatkan kesan
modern Bandara Adi Soemarmo melalui visual branding ini.
Katy Berry
Aa Bb Cc Dd Ee Ff Gg Hh Ii Jj Kk Ll Mm Nn
Oo Pp Qq Rr Ss Tt Uu Vv Ww Xx Yy Zz
commit to user
Huruf ini termasuk golongan huruf decorative karena berfungsi sebagai
huruf hiasan dan penggunaannya pun jauh dari kesan formalitas. Huruf ini
dipilih karena memiliki kesan decorative yang kuat dan sangat memorable
untuk dijadikan suatu icon.
Harabara
Aa Bb Cc Dd Ee Ff Gg Hh Ii Jj Kk Ll Mm Nn
Oo Pp Qq Rr Ss Tt Uu Vv Ww Xx Yy Zz
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9
Harabara merupakan font decorative yang memiliki bentuk yang simple,
terkesan etnik karena pola lengkungnya pada setiap hurufnya.
e. Warna
Warna merupakan representasi bahasa komunikasi yang disampaikan
lewat indera penglihatan. Warna juga merupakan unsur yang sangat tajam
untuk menyentuh kepekaan penglihatan, sehingga mampu merangsang
munculnya rasa haru, sedih, gembira, mood atau semangat (Adi Kusrianto,
2007 : 46). Penggunaan warna menunjukkan identitas dari produk tersebut
yang selanjutnya akan dipakai dalam setiap media visual yang akan
digunakan.
Warna-warna yang akan dominan digunakan dalam perancangan
visual brand Bandara Adi Soemarmo adalah warna-warna yang natural
commit to user
bertujuan menguatkan citra Kota Surakarta sebagai Kota Batik. Warna
yang dipakai antara lain coklat, hitam, putih, dan juga biru tua.
1) Warna coklat (soga)
Warna coklat mengkomunikasikan suatu ke naturalan (alami).
Penggunaan warna coklat ini diharapkan agar Bandara Adi Soemarmo
mampu merepresentasikan sebagai Bandara Internasional yang berada di
Kota Batik dengan mengangkat nilai-nilai batik di dalamnya untuk lebih
mengenalkan Kota Surakarta sebagai kota batik.
2) Warna coklat gold
Warna coklat ini merupakan warna coklat yang bersifat kontemporer,
yakni warna populer dipakai pada masa tertentu dan bersifat modern.
Warna ini mengkomunikasikan bahwa Kota Surakarta merupakan kota
yang modern dan dinamis dengan mengacu pada slogan “ Solo past as
Solo future “. Dengan maksud bahwa meskipun Kota Surakarta telah
menjadi kota yang modern di masa yang akan datang tetapi tetap
mempertahankan pada tradisi lokal.
3) Warna coklat muda
Warna coklat muda merepresentasikan suatu kenaturalan dalam budaya
Jawa dan berfungsi sebagai penguat image tradisional dalam perancangan
“Solo the City of Batik” tersebut.
at muda merepresentasikan suatu kenaturalan dalam budaya
Jawa dan berfungsi sebagai penguat image tradisional dalam perancangan
commit to user
C. Target Karya
Sebagai penunjang dalam memperkenalkan Kota Surakarta sebagai kota
batik, dengan Bandara Adi Soemarmo yang dipilih sebagai media untuk
mempromosikannya, maka dipilihlah target karya sebagai berikut :
1. Media Lini Atas (ATL)
Media lini atas merupakan Media iklan yang mengharuskan
pembayaran komisi kepada biro iklan (Frank Jefkins, 1996 : 28).
Media lini atas merupakan media iklan yang penempatannya
terjangkau oleh banyak khalayak umum. Oleh karena itu, media lini
atas lebih banyak menyaring target audience.
Traffic ad
2. Media Lini Bawah (BTL)
Media lini bawah merupakan iklan ataupun media yang biasa
diselenggarakan sendiri atau tidak melalui jasa industri iklan.
a. Billboard Wilujeng Rawuh.
b. Name Board Adi Sumarmo. c. Wayfiding system (Eksterior). d. Palang pintu parkir (post parkir).
e. Archigraphic pos parkir. f. Seragam petugas parkir.
commit to user
i. X-banner bandara.
j. Seragam petugas-petugas di bandara Adi Soemarmo.
k. Wayfiding system (interior).
l. Sign age identitas atau penamaan fasilitas. m. Cover kursi tunggu bandara.
n. Poster Indoor.
o. Brosur.
p. Kotak Dispenser.
q. Flag chain.
r. Stationery ( perlengkapan kantor ) 1) Amplop
2) Kertas Surat
3) Kartu Pos
4) ID card karyawan
commit to user
D. Media Placement
Media adalah segala sesuatu untuk menyampaikan / mengaplikasikan iklan
atau pesan yang disampaikan melalui alat atau sarana komunikasi, misalnya
melalui media cetak maupun media elektronik. Strategi media diperlukan agar
pesan-pesan periklanan yang akan disampaikan dapat dirancang dan dilakukan
dengan baik dan dapat diterima masyarakat luas sehingga promosi Kota Surakarta
sebagai kota batik berhasil . Dalam dunia periklanan media dibedakan menjadi 2
yaitu:
1. Media lini Atas (Above The Line Media) Traffic Ad.
1. Alasan pemilihan media :
Traffic Ad, merupakan petunjuk arah letak suatu instansi ataupun wilayah. Traffic ad sangat dibutuhkan oleh seseorang / publik yang
masih awam dengan suatu tempat dan dimana keberadaannya. Hal ini
sangat efektif untuk dijadikan sebagai media promosi “Solo the city of
batik” karena yang strategis dan terjangkau oleh publik letaknya (keberadaannya).
2. Konsep desain :
Konsep desain dari traffic ad sendiri dengan memunculkan logo “Solo
the city of batik” pada bidangnya dan juga nama Bandara Adi Soemarmo. Selain logo dan nama bandara, tentunya keterangan jarak
commit to user
media dituliskan headline “Wilujeng rawuh dumateng kutho Solo” dan
pada bagian bawah dimunculkan tagline “the world understand” .
Ukuran media ini ialah 60 cm x 30 cm dan tinggi 2 m.
3. Penempatan media :
Penempatan traffic ad tersebut yakni :
a. Di perempatan pasar Mangu (sebelah utara bandara)
b. Di perempatan gagak sipat (Jembatan Sebelah Selatan Bandara Adi
Sumarmo)
c. Perempatan Pasar Colomadu.
2. Media lini bawah (Below The Line Media)
Berdasarkan hal tersebut maka 4 media yang akan dipilih untuk menjadi media
promosi Kota Surakarta sebagai kota batik melalui Bandara Adi Soemarmo yaitu:
a. Billboard Wilujeng Rawuh 1. Alasan pemilihan media :
Billboard wilujeng rawuh merupakan media komunikasi secara tidak
langsung yang ditujukan kepada para penumpang pesawat yang singgah
di kota Surakarta dan hendak berkunjung ke kota Surakarta. wilujeng
rawuh dalam bahasa Indonesia “selamat datang” merupakan komunikasi
khas masyarakat Surakarta dalam menyambut tamu.
Baliho wilujeng rawuh ini sangat efektif sebagai media promosi “ Solo
commit to user
akan kota Surakarta saat menginjakkan kaki yang pertama kali di
Bandara Adi Sumarmo.
2. Konsep desain :
Konsep desain Billboard Sugeng Rawuh ini memadukan headline,
subheadline, tagline serta logo “Solo The City Of Batik” dengan ilustrasi vector tangan yang sedang memegang canthing. Dalam hal ini
batik diexpose dan diharapkan mampu mempengaruhi audiences.
Ukuran baliho ini yakni : 6 m x 4 m.
3. Penempatan media :
Media ini ditempatkan di area parkir “Bandara Adi Sumarmo” di
sebelah sisi utara dan barat.
b. Name Board Adi Sumarmo 1. Alasan pemilihan media :
Name board merupakan media yang digunakan untuk mempublikasikan suatu instansi. Name board fungsinya sangatlah penting dan pokok
sebagai promosi. Name Board bandara sangat efektif digunakan sebagai
media untuk memperkenalkan kepada publik “Solo The City Of Batik”
karena dalam perancangan media ini konsep tersebut diexpose dalam
name board tersebut selain nama Bandara Adi Sumarmo.
2. Konsep desain :
Konsep desain name board Bandara Adi Soemarmo sendiri yakni
commit to user
Soemarmo” dengan menempatkan juga logo “Solo The City Of Batik”
yang berupa archigraphic juga yang penempatannya dibawah nama
identitas bandara tersebut. Selain itu, headline beserta tagline juga
ditampilkan dalam name board bandara tersebut. Ukuran media ini
yakni : 50 cm x 1 m dengan tinggi 2 m.
3. Penempatan media :
Media ini ditempatkan di jalan masuk bandara kearah parkiran bandara
yang bertujuan mengenalkan kepada publik terlebih dahulu tentang
image kota yang disinggahinya yakni Kota Surakarta.
c. Wayfinding system (Eksterior) 1. Alasan pemilihan media :
Wayfinding system merupakan kesatuan suatu sistem petunjuk arah yang dimiliki oleh setiap bandara di dunia khususnya Bandara Adi
Soemarmo. Wayfinding system ini digunakan untuk mempermudah para
pengunjung bandara (calon penumpang ataupun penumpang pesawat
terbang) dalam menemukan fasilitas yang akan digunakan bandara
tersebut dengan waktu yang relatif singkat. Karena fungsinya sangatlah
penting di bandara ini sebagai alat komunikasi, maka perlulah dirancang
kesatuan wayfinding system yang terintegrasi (integrated wayfinding
system) untuk menarik perhatian para pengunjung bandara dan juga bisa
commit to user
Batik” baik interior wayfinding maupun eksterior bandara Adi
Soemarmo.
Wayfinding eksterior merupakan wayfiding system yang terdapat di luar
ruangan utama Bandara Adi Soemarmo. Wayfinding ini terdiri dari :
a. Penunjuk arah parkir
b. Penunjuk arah transit
c. Penunjuk arah untuk masuk keluar area parkir
2. Konsep desain :
Seluruh wayfinding system eksterior ini akan terintegrasi menjadi satu
kesatuan dengan konsep desain yang terpadu. Pengecualian atau
pembeda hanya terletak pada fungsinya masing-masing dan icon yang
sesuai dengan ilustrasi masing-masing. Dan masing-masing item
wayfinding tersebut akan dibubuhkan logo “Solo The City Of Batik” dan tagline the world understand ukuran masing-masing item :
a. Penunjuk arah parkir : 1 m x 30 cm
b. Penunjuk transit : 40 x 40 cm
c. Penunjuk arah keluar dan masuk : 40 x 40 cm
3. Penempatan media
Penempatan media wayfinding system khusus eksterior ini akan
ditempatkan pada area parkir Bandara Adi Soemarmo.
commit to user
Palang pintu parkir merupakan item yang strategis dan efektif dalam
mempromosikan “Solo The City Of Batik” karena palang pintu ini selalu
berhadapan dengan publik ketika mereka mau masuk ataupun
meninggalkan Bandara.
2. Konsep desain :
Konsep desain palang pintu parkir ini yakni hanya memunculkan logo
“Solo The City Of Batik” dan juga tagline wilujeng rawuh dumateng
kutho Solo pada palangnya dan garis crossnya menggunakan main
colour logo yakni coklat muda dengan ukuran desain 100 cm x 20 cm
dengan teknik cutting sticker pada logo “Solo The City Of Batik”.
3. Penempatan media :
Media ini ditempatkan pada palang pintu parkir.
e. Archigraphic pos parkir 1. Alasan pemilihan media :
Pos parkir merupakan media yang paling awal bertatap muka dengan
publik media ini sangat strategis untuk diberikan sentuhan promosi
“Solo The City Of Batik” karena medianya cukup besar dan banyak terdapat ruang kosong.
2. Konsep desain :
Archigraphic yang berupa “Solo The City Of Batik” dan juga main
commit to user
tersebut. Selain itu, sentuhan elemen huruf “S” pada logo yang
ditransparansi akan menjadi background pos parkir tersebut.
3. Penempatan media :
Archigraphic ini akan ditampilkan pada media Pos Parkir bandara.
f. Seragam petugas parkir 1. Alasan pemilihan media :
Uniform atau seragam sangat berperan dalam menguatkan identitas
suatu instalasi. Media ini tergolong strategis dan efisien untuk
melakukan promosi yang dalam hal ini promosi “Solo The City Of
Batik” yang dilakukan di Bandara Adi Soemarmo. Kembali ke
integrated desain, visual branding Adi Soemarmo, maka seragam untuk petugas parkir perlu di serasikan dengan konsep branding.
2. Konsep media :
Konsep yang diambil ialah dengan menempatkan logo “Solo The City of
Batik” dan merubah visual seragam dengan main colour coklat soga
dengan sedikit motif batik dalam seragam tersebut.
3. Penempatan media :
Media ini digunakan oleh setiap petugas parkir di Bandara Adi