Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk Statistic df Sig. Statistic df Sig.
HASIL .234 27 .001 .846 27 .001
a. Lilliefors Significance Correction
NPar Tests
Kruskal-Wallis Test
Test Statisticsa,b
HASIL Chi-Square 25.802
df 8
Asymp. Sig. .001 a. Kruskal Wallis Test b. Grouping Variable: konsentrasi
NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 50% 3 5.00 15.00
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 50% 3 5.00 15.00
5% 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Asymp. Sig. (2-tailed) .050 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 40% 3 5.00 15.00
5% 3 2.00 6.00
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Asymp. Sig. (2-tailed) .050 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 30% 3 5.00 15.00
5% 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Asymp. Sig. (2-tailed) .050 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Asymp. Sig. (2-tailed) .050 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Ranks
HASIL 20% 3 5.00 15.00
5% 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Asymp. Sig. (2-tailed) .050 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentras
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 10% 3 5.00 15.00
5% 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -1.964
Asymp. Sig. (2-tailed) .050 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 5% 3 5.00 15.00
2.5% 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.087
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Ranks
konsentrasi N Mean Rank Sum of Ranks
HASIL 5% 3 5.00 15.00
1.25% 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.087
Asymp. Sig. (2-tailed) .037 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: konsentrasi
Ranks
HASIL 5% 3 5.00 15.00
kontrol 3 2.00 6.00
Total 6
Test Statisticsb
HASIL Mann-Whitney U .000
Wilcoxon W 6.000
Z -2.087
Asymp. Sig. (2-tailed) .037 Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .100a a. Not corrected for ties.
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Republik Indonesia. Riset kesehatan dasar 2007. Jakarta 2008; 131, 142.
2. Gurenlian JR. The role of dental plaque biofilm in oral health. J Dent Hygiene 2007; 81(5): 1-11.
3. Imaculata R, Tedjosasongko U, Cornelia S. Pemberian minyak wijen (Sesamum indicum) terhadap Streptococcus mutans (in vitro). Indonesian Pediatric Dental J
2010; 2(3): 1-7.
4. Sondang P, T. Hamada. Menuju gigi dan mulut sehat: pencegahan dan pemeliharaan. Medan: USU Press, 2008; 4-9.
5. Dharsono V, Moduto L, Prasetyo E, Perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada saliva penderita pria dan wanita dengan karies tinggi. Conservative
Dentistry J 2013; 3(1): 1-5.
6. Cvetkovic A, Ivanovic M. The role of Streptococcus mutans group and salivary immunoglobulins in etiology of early childhood caries. Serbian Dent J 2006; 53: 113-23.
7. Sabir A. Aktivitas Antibakteri flavonoid propolis Trigona sp terhadap bakteri Streptococcus mutans (in vitro). Dent. J 2005; 38(3): 135-41.
8. Namita P, Mukesh R. Medicinal plants used as antimicrobial agents: a review. IRJP 2012; 3(1) :1-8.
9. Amos. Gambir sebagai antibakteri dalam formulasi obat kumur. Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia 2009; 11: 188-92.
10.Sari CY. Penggunaan buah mengkudu untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Majority J 2015; 4(5): 34-40.
11.Winarti C. Peluang pengembangan minuman fungsional dari buah mengkudu. Litbang Pertanian J 2005; 24(4): 149-55.
dental caries causing Streptococcus mutans and Streptococcus mitis: a review. Journal of Dentistry Tehran University of Med 2014; 11(6) : 703-10.
13.Pawlus AD, Kinghorn AD. Review of the ethnobotany, chemistry, biological activity and safety of the botanical dietary supplement Morinda citrifolia (noni). JPP 2007; 59 : 1587-609.
14.Goyal D, Sharma S, Mahmood A. Inhibition of dextransucrase activity in Streptococcus mutans by plant phenolics. Indian J. Biochem. Biophys. 2013;
50(1): 53.
15.Ferrazano GF, Amato I, Ingenito A, Zarrelli A, Pinto G, and Pollio A. Plant polyphenols and their anti cariogenic properties : a review. Molecules 2011; 16: 1486.
16.Parubak AS., Senyawa flavonoid yang bersifat antibakteri dari akway (Drimys becariana) . Chem. Prog 2013; 6(1) : 34-37.
17.Rifdayani N, Budiarti LY, Carabelly AN. Perbandingan efek bakterisidal ekstrak mengkudu (Morinda citrifolia) 100% dan povidone iodine 1% terhadap Streptococcus mutans in vitro. Dentino Jurnal KG 2014; 2(1) : 1–6.
18.Dharmawati IGA. Efek ekstrak mengkudu menghambat pertumbuhan Streptokokus mutans penyebab dental plak secara in vitro. Tesis. Denpasar: Program Studi Ilmu Biomedik Universitas Udayana, 2011: 42-47.
19.Andrews JM. Determination of minimum inhibitory concentrations. Birmingham: Department of Microbiology, City Hospital NHS Trust, 2006: 1-19.
20.Rajarajan S, John NK, Shanti S. In vitro bactericidal activities of extracts from ripe and unripe fruit of noni. Nature Precedings 2009:1-6.
21.Hariana A. Tumbuhan obat dan khasiatnya. Jakarta: Penebar Swadaya, 2008; 118-19.
23.Djauhariya E, Rahardjo M, Ma’mun. Karakterisasi morfologi dan mutu buah mengkudu. Buletin Plasma Nutfah 2006: 12(1): 1-8.
24.Ferita I. Pengaruh konsentrasi m-bio terhadap pertumbuhan bibit mengkudu (Morinda citrifolia). Stigma. 2004; 12: 1-4.
25.Widayat w. Khasiat buah mengkudu
(Desember 1.2014).
26.Forssten SD, Bjorklund M, Ouwehand AC. Review Streptococcus mutans, Caries and Simulation Models. Nutrients 2010: 290-98.
27.Simon L. The role of streptococcus mutans and oral ecology in the formation of dental caries. JYI 2007:1-5.
28.Samaranayake L. Essential microbiology for dentistry (fourth edition) Churchill Livingstone Elsevier. 2012: 280–93.
29.Efri, Aeny T N. Keefektifan ekstrak mengkudu pada berbagai konsentrasi terhadap penghambatan pertumbuhan bakteri Ralstonia sp. secara in vitro. J Hama dan Peny. Tumb. Tropika.2004:83–8.
30.Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikrobiologi kedokteran. Alih bahasa. Hartanto, C. Rahman, A Dimanti, A Diani Jakarta: EGC, 2008: 199-200: 233.
31.Rohman A, Riyanto S, Utari D. Aktivitas antioksidan, kandungan fenolik total dan kandungan flavonoid total ekstrak etil asetat buah mengkudu serta fraksi – fraksinya. Maj. Farm. Ind. 2006: 136–42.
32.Rahayu, Winiarti, P. Aktivitas antimikroba bumbu masakan tradisional hasil olahan industri terhadap bakteri patogen dan perusak. J Tek. Ind. Pangan. 2000: 1–14.
34.Arifianti L, Oktarina RD, Kusumawati I. Pengaruh jenis pelarut pengektraksi terhadap kadar sinensetin dalam ekstrak daun Orthosiphon stamineus benth. E-Journal Planta Husada 2014:2(1):1-4.
35.Ariestanto D, Lutfan M, Furoida Y. Potensi pemanfaatan flavonoid limbah kulit kakao sebagai bahan tambahan permbuatan permen antikariogenik. BIMKGI. 2012:8-11.
36.Koo H, Rosalen PL, Cury JA, Park YK, Bowen WH. Effects of compounds found in propolis on Streptococcus mutans growth and on glucosyltransferase activity. Antimicrobial agents and chem. J 2002: 46(5): 1302-09.
37.Gartika M, Satari MH. Beberapa bahan alam sebagai alternatif bahan pencegah karies.http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2013/08/pustaka_unpad_beb erapa_bahan_alam.pdf. (Februari 13. 2016).
38.Prabhakar AR, Basavraj P, Basappa N. Comparative evaluation of Morinda citrifolia with chlorexidine as antimicrobial endodontic irrigants and their effect on micro hardness of root canal dentin. Oral Health Sci. Int. J. 2013; 3(1) :5-9. 39.Affandi A, Andrini F, Lesmana SD. Penentuan konsentrasi hambat minimal dan
konsentrasi bunuh minimal larutan povidone iodine 10% terhadpat MRSA dan MSSA. JIK 2009; 1: 14-9.
BAB 3
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian adalah penelitian eksperimental laboratoris.
3.2 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah posttest only control group design.
3.3 Tempat dan Waktu Penelitian
3.3.1 Tempat
1. Laboratorium Obat Tradisional Fakultas Farmasi USU sebagai tempat pembuatan simplisia, perkolasi, dan pembuatan ekstrak buah mengkudu muda.
2. Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi USU sebagai tempat penelitian daya hambat ekstrak buah mengkudu muda.
3.3.2 Waktu
Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu ± 12 bulan (Februari 2015– Februari 2016) untuk pembuatan proposal, persiapan pembuatan ekstrak buah mengkudu muda, pelaksanaan penelitian dan pembuatan laporan.
3.4 Sampel Penelitian
3.4.1 Sampel
3.4.2 Besar Sampel
Penentuan besar sampel sesuai dengan rumus Federer :
( t – 1 ) ( r – 1 ) ≥ 15 ( 9 – 1 ) ( r – 1 ) ≥ 15 8r – 8 ≥ 15
8r ≥ 23
r ≥ 3
3.4.3 Penggolongan Sampel Penelitian
Dalam penelitian daya hambat ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan sampel digolongkan dalam 8 kelompok konsentrasi dan 1 kelompok kontrol yaitu:
a) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 50% b) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 40% c) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 30% d) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 20% e) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 10% f) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 5% g) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 2,5% h) Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 1,25% i) Kontrol (Dimethyl sulfoxide)
Keterangan :
3.5 Penentuan Nilai Konsentrasi Hambat Minimum (KHM)
Metode yang digunakan dalam penentuan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak buah mengkudu muda adalah metode difusi cakram (Kirby Bauer) dengan dilakukan 3 kali pengulangan setiap sampel.
3.6 Variabel dan Definisi Operasional
1. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak buah mengkudu muda. Sebanyak 2 kg buah mengkudu muda dikeringkan, dihaluskan, dan didapat serbuk seberat 500 gram, kemudian dicampur dengan etanol 70% dan diperkolasi dengan kecepatan tetes cairan 20 tetes/menit. Setelah itu diuapkan menggunakan rotary evaporator menjadi ekstrak kental buah mengkudu muda. Pada proses ini etanol yang
terdapat Ekstrak kental buah mengkudu muda kemudian diencerkan menjadi 8 konsentrasi, yaitu 50%, 40%, 30%, 20%, 10%, 5%, 2,5% dan 1,25%.
2. Variabel terikat
Variabel terikat penelitian ini adalah pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan pada media Mueller Hinton Agar dengan pengukuran diameter zona inhibisi (zona bening) pada biakan bakteri untuk menentukan nilai konsentrasi hambat minimum (KHM). Pertumbuhan Streptokokus mutan pada media padat ditandai dengan adanya koloni bakteri berwarna putih.
Konsentrasi hambat minimum (KHM) adalah kadar terendah dari suatu bahan yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji.
3. Variabel terkendali
a. Media biakan Streptokokus mutan yaitu Mueller Hinton Agar (MHA)
Mueller Hinton Agar adalah agar standar uji sensitivitas antibiotik dan digunakan pada metode Kirby Bauer. Komposisinya terdiri atas Beef Infusion 300 gram, Casamino acid 17,5 gram, agar 17 gram.
3.7 Prosedur Penelitian
a. Pembuatan Ekstrak Buah Mengkudu Muda
1. Pembuatan simplisia
Sebanyak 2 kg buah mengkudu muda diseleksi kemudian dicuci bersih dengan air mengalir dan dikeringkan. Buah kemudian diiris halus setebal ± 3 mm dan dengan menggunakan kertas alas perkamen dikeringkan pada lemari pengering. Buah yang sudah kering kemudian dihaluskan dengan blender sampai menjadi serbuk (simplisia) dan didapat sebanyak 500 gram.
Gambar 5. Simplisia buah mengkudu muda
2. Proses maserasi
Simplisia dimasukkan kedalam wadah dan ditambahkan etanol 70% untuk perendaman lalu disimpan dalam wadah tertutup dan didiamkan selama 1 jam pada suhu ruangan sambil sesekali diaduk dengan menggunakan spatula.
3. Proses perkolasi
dibiarkan terbuka dan menetes dengan kecepatan 20 tetes/menit (1 ml/menit), kemudian ekstrak ditampung dengan tabung. Setelah itu perkolat yang diperoleh dipekatkan dengan alat penguap vaccum rotavapor. Prinsip vaccum rotavapor adalah pemisahan ekstrak dari cairan pelarutnya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran. Sehingga cairan pelarut dapat menguap. Dengan bantuan vakum, uap larutan pelarut akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekul-molekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu penampung. Prinsip ini membuat pelarut dapat dipisahkan dari zat terlarut didalamnya. Didapatkan ekstrak kental 100%. Ekstrak dimasukkan ke dalam botol dan disimpan didalam kulkas.
Gambar 6. Ekstrak kental buah mengkudu b. Pengenceran Bahan coba
Untuk memperoleh masing-masing konsentrasi ekstrak dilakukan pengenceran sampai didapat konsentrasi 1,25%. Untuk konsentrasi 50% diambil 500 mg ekstrak kental tadi kemudian ditambahkan pelarut DMSO sebanyak 1 ml. Untuk konsentrasi 40% diambil 0.8 ml dari konsentrasi sebelumnya kemudian ditambahkan DMSO sampai 1 ml demikian seterusnya sampai diperoleh konsentrasi ekstrak 1,25%.
c. Pembuatan Media Bakteri
Sebelum spesimen dibiakkan dibuat media Mueller Hinton Agar (MHA) sebanyak 34 gram dilarutkan ke dalam 500 ml akuades dan dipanaskan diatas tungku pemanas magnetik sampai mendidih. Kemudian disterilkan di dalam autoklaf selama 15 menit.
d. Pembiakan Suspensi Bakteri
Cara pembuatan suspensi Streptokokus mutan adalah 2 cc media nutrient agar steril dimasukkan dalam tabung reaksi dan ditambah 1 ose Streptokokus mutan. Kemudian dimasukkan ke inkubator selama 24 jam dengan suhu 37oC. Setelah 24 jam
suspensi dikocok dan diukur tingkat kekeruhan atau absorbansinya menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 560 nm dengan absorbansi 0,005 sesuai dengan larutan standar Mac Farland untuk bakteri yaitu 0,5.
e. Prosedur Uji Daya Antibakteri
Gambar 8. Mueller Hinton agar yang sudah diinokulasi bakteri S.mutan
f. Tahap Pengamatan
Setelah diinkubasi selama 24 jam pada suhu 370C dalam inkubator, petri disk
diambil dan diamati. Diameter daerah inhibisi (daerah yang jernih) diukur dengan jangka sorong dan dicatat. Cara pengukuran daerah inhibisi yaitu dengan membalikkan petri disk sehingga terlihat daerah hambatan yang tampak transparan, kemudian diameter zona hambat diukur dengan jangka sorong dan dicatat.
3.8 Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi yaitu data dimasukkan kedalam program komputer untuk dianalisis secara statistik dengan :
1. Uji normalitas Saphiro-wilk untuk mengetahui data hasil penelitian terdistribusi normal atau tidak.
2. Uji Kruskal-Wallis untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang signifikan pada seluruh kelompok perlakuan.
3.9 Alur Penelitian
Pembuatan ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 50 %, 40%, 30 %, 20 %, 10 %, 5 %, 2,5 % dan 1,25 %
50% 30% 20% 5% 1,25% kontrol
Cakram disk
Media lempeng MHA yang telah diinokulasi Streptokokus
mutan
Pengukuran zona hambat (mm) dan Penentuan KHM
Hasil
Analisis data
Kesimpulan
2,5%
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1 Daya Hambat Ekstrak Mengkudu Terhadap Streptokokus Mutan
Hasil penelitian menunjukkan zona daya hambat terbesar didapat pada kelompok ekstrak mengkudu 50% dengan diameter rata-rata mencapai 15,53±0,25 mm dan zona daya hambat terkecil pada kelompok ekstrak mengkudu 5% dengan diameter rata-rata mencapai 7,53±0,25 mm. Kelompok ekstrak mengkudu 2,5%, 1,25% dan kontrol tidak ditemukan daya hambat. Hal ini menunjukkan pada kelompok ekstrak mengkudu 2,5%, 1,25% dan kontrol tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan. (Tabel 1)
Tabel 1. Data diameter daya hambat ekstrak mengkudu muda terhadap S. mutan
Kelompok subyek
Diameter zona hambat (mm)
1 2 3 Rerata
Ekstrak mengkudu 50% 15,3 15,5 15,8 15,53±0,25 Ekstrak mengkudu 40% 13,1 13,0 13,2 13,10±0,10 Ekstrak mengkudu 30% 11,8 11,9 12 11,9±0,10 Ekstrak mengkudu 20% 10 10,5 10,1 10,20±0,26 Ekstrak mengkudu 10% 9,1 8,8 9,4 9,1±0,30 Ekstrak mengkudu 5% 7,3 7,5 7,8 7,53±0,25
Ekstrak mengkudu 2,5% 0 0 0 0±0,00
Ekstrak mengkudu 1,25% 0 0 0 0±0,00
4.2 Uji Normalitas Data
Data diameter daya hambat ekstrak mengkudu muda terhadap Streptokokus mutan dilakukan uji Saphiro-Wilk yang bertujuan untuk mengetahui normal atau tidak distribusi data penelitian. Hasil uji Saphiro-wilk didapat nilai p=0,001 yang berarti menunjukkan data tidak berdistribusi normal karena p<0,05. Selanjutnya dilakukan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney.
4.3 Analisis Efek Perlakuan Zona Hambat Streptokokus Mutan
Analisis efek perlakuan zona hambat Streptokokus mutan diuji menggunakan uji Kruskal-Wallis didapat nilai p=0,001, karena nilai p<0,05 maka ada perbedaan bermakna pada seluruh kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan seiring bertambah konsentrasi ekstrak mengkudu maka rerata diameter zona hambat yang diperoleh semakin besar. (Tabel 2).
Tabel 2. Hasil analisis uji Kruskal-Wallis
Kelompok Subyek Rerata diameter zona hambat (mm) p
Ekstrak mengkudu 1,25% 0±0,00
0,001
Ekstrak mengkudu 2,5% 0±0,00
Ekstrak mengkudu 5% 7,53±0,25
Ekstrak mengkudu 10% 9,1±0,30
Ekstrak mengkudu 20% 10,20±0,26
Ekstrak mengkudu 30% 11,9±0,10
Ekstrak mengkudu 40% 13,10±0,10
Ekstrak mengkudu 50% 15,53±0,25
BAB 5
PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang signifikan pada seluruh kelompok perlakuan. Hal ini menunjukkan adanya efek daya hambat ekstrak mengkudu terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan secara in vitro. Konsentrasi 50% memiliki efek daya hambat paling besar terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan yaitu dengan rerata zona hambat sebesar 15,53 ± 0,25 mm. Konsentrasi 5% mempunyai efek daya hambat paling kecil dengan rerata zona hambat sebesar 7,53 ± 0,25 mm atau konsentrasi terkecil yang menghambat pertumbuhan Streptokokus mutan. Menurut Elgayyar, aktivitas antibakteri dikatakan kuat jika diameter daya hambat (DDH) yang muncul berukuran lebih dari 8 mm, sedang bila DDH 7 - 8 mm dan bila daerah hambatan kurang dari 7 mm dikatakan lemah. Berdasarkan hasil penelitian ini, aktivitas anti bakteri ekstrak buah mengkudu muda terhadap Streptokokus mutan dikategorikan sedang sampai kuat.16 Aktivitas antibakteri ini terjadi karena semakin tinggi konsentrasi suatu bahan herbal maka aktivitas antibakterinya semakin kuat dan dengan konsentrasi ekstrak yang semakin tinggi mengakibatkan kandungan senyawa fenol ataupun zat antibakterinya juga akan semakin banyak. Selain itu, kerusakan yang terjadi akibat daya hambat bahan antibakteri tidak dapat diimbangi dengan kemampuan perbaikan dari sel bakteri.29
Penelitian aktivitas ekstrak mengkudu terhadap Streptokokus mutan dan Streptokokus mitis oleh Barani Kumarasamy, menunjukkan konsentrasi minimum yang dapat menghambat pertumbuhan Streptokokus mutan dan Streptokokus mitis
adalah 125 μg/ml dan 62,5 μg/ml.12
Penelitian yang dilakukan oleh Nur Rifdayani, mengenai perbandingan efek bakterisidal ekstrak mengkudu 100 % dan povidone iodine 1 % terhadap Streptokokus mutan diperoleh rata-rata zona hambat 13,71 mm
positif dan negatif diperoleh kadar hambat minimum sebesar 0,375 – 24 μg/ml untuk mengkudu matang dan 0,297 – 19 μg/ml untuk mengkudu muda.18
Perbedaan hasil disebabkan oleh variasi konsentrasi ekstrak, metode pengujian, metode ektraksi dan pelarut bahan, serta perbedaan karakteristik bakteri. Pada penelitiannya, Barani menggunakan akuades sebagai pelarut dalam proses ekstraksi, sedangkan peneliti menggunakan etanol. Etanol lebih bersifat polar dan extractive power yang terbaik untuk semua senyawa. Selain itu perbedaan
karakteristik bakteri juga sangat mempengaruhi. Semua bakteri Gram positif tifak memiliki endospora, tidak berkapsul, dan memiliki dinding bakteri yang tersusun dari peptidoglikan dibandingkan dengan dinding bakteri Gram negatif yang tersusun dari lipopolisakarida. Hal ini menyebabkan bakteri Gram positif lebih sensitif terhadap zat antibakteri. 28,30
Efek menghambat pertumbuhan bakteri dari ekstrak mengkudu berkaitan dengan senyawa fenol yang dikandungnya. Senyawa fenolik merupakan senyawa yang tersebar luas sebagai zat warna alam yang menyebabkan warna pada bunga, kayu dan buah. Senyawa fenol yang terdapat pada buah mengkudu berkisar antara 5,94 – 36,52 g/ 100 g material kering.31 Senyawa fenol diketahui mampu melakukan migrasi dari fase cair ke fase lemak yang terdapat pada membran sel sehingga menyebabkan turunnya tegangan permukaan membran sel. Selanjutnya menginaktifkan enzim dan mendenaturasi protein pada bakteri sehingga dinding sel bakteri akan lisis karena terjadinya penurunan permeabilitas yang memungkinkan terganggunya transport ion-ion organik penting yang akan masuk ke sel bakteri. Hal ini akan mengakibatkan pertumbuhan sel terhambat dan sel akan mengalami lisis. Oleh karena itu fenol berperan penting sebagai senyawa antibakteri. Senyawa fenol yang terdapat pada ekstrak buah mengkudu yaitu senyawa alizarin, akubin, tanin dan flavonoid.28,32-34
Flavonoid dalam buah mengkudu mempunyai aktivitas penghambatan lebih besar terhadap bakteri Gram positif antara lain adalah bakteri Stafilokokus aureus dan Stafilokokus saprofitikus. Senyawa flavonoid bersifat polar sehingga lebih mudah menembus lapisan peptidoglikan yang juga bersifat polar daripada lapisan lipid yang nonpolar, menyebabkan aktivitas penghambatan pada bakteri Gram positif lebih besar daripada bakteri Gram negatif. Aktivitas penghambatan dari kandungan buah mengkudu pada bakteri Gram positif menyebabkan terganggunya fungsi dinding sel sebagai pemberi bentuk sel dan melindungi sel dari lisis osmotik. 15,17,18,35
Penggunaan produk herbal merupakan strategi yang paling berhasil untuk penemuan obat-obatan, terdapat 78% antibiotik dan 61% obat antitumor baru yang dipublikasikan.36 Beberapa bahan alam yang telah dilakukan penelitian dan pengembangan serta memiliki potensi sebagai bahan pencegah karies diantaranya ekstrak kunyit, teh hitam, teh hijau, serta propolis (produk lebah).37 Penggunaan mengkudu sebagai suplemen berpotensial dalam meningkatkan kesehatan. Pemakaian jus mengkudu 1 – 3 kali dalam sehari merupakan dosis teraman.13 Jus mengkudu juga diketahui memiliki khasiat sebagai bahan irigasi endodontik, menurut Prabhakar kadar hambat jus mengkudu 6% menunjukkan efek antibacterial terhadap bakteri endodontik.38
Efektivitas antibakteri juga dapat ditentukan dengan menggunakan kadar bunuh minimal (KBM). Hasil beberapa penelitian didapat nilai KBM merupakan 2-3 kali lipat nilai KHM, seperti pada penelitian Affandi, KHM dan KBM larutan povidon iodin terhadap MRSA adalah 0,006% dan 0,012%. Walaupun demikian penelitian untuk mendapatkan nilai KBM sangat diperlukan untuk mengetahui kadar pastinya.39
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan :
1. Ekstrak buah mengkudu muda memiliki efek daya hambat yang kuat terhambat pertumbuhan Streptokokus mutan setelah diinkubasi dengan suhu 37˚C selama 24 jam.
2. Kadar hambat minimum ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan adalah 5%.
6.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kadar bunuh minimal (KBM) dari ekstrak buah mengkudu muda terhadap Streptokokus mutan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Mengkudu (Morinda citrifolia)
Mengkudu adalah jenis yang paling popular dan biasa disebut dengan “Queen of The Morinda”. Tanaman ini sangat popular di kawasan Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan Karibia. Spesies ini mempunyai nama tersendiri disetiap negara, antara lain noni di Hawai, nonu atau nono di Tahiti, cheese fruit di Australia, mengkudu atau pace di Indonesia dan Malaysia.8
Mengkudu merupakan tanaman tropis dan liar, di Indonesia mengkudu dapat tumbuh di tepi pantai hingga ketinggian 1500 m dpl (di atas permukaan laut), baik di lahan subur maupun marginal. Semua bagian tanaman, seperti: akar, batang, daun, dan buah selain sebagai sumber nutrisi juga mempunyai efek farmakologis yang tinggi. Akar mengkudu digunakan untuk mengobati penyakit disentri, sebagai tonikum dan meredakan demam. Kulit batang mengkudu dapat digunakan sebagai antiseptik, menyembuhkan luka, dan sebagai tonikum. Daun mengkudu dimanfaatkan untuk mengobati disentri, kejang usus, pusing-pusing, muntah, dan demam. Selain itu daun mengkudu juga dikonsumsi sebagai sayuran dengan nilai gizi tinggi karena mengandung vitamin A. Buahnya dimanfaatkan untuk mengobati radang, gangguan pernapasan, dan pelembut kulit.Dalam beberapa tahun terakhir meningkatnya animo masyarakat dalam memanfaatkan mengkudu sebagai bahan perawatan, pencegahan, dan pengobatan penyakit menyebabkan komoditas ini banyak diminati. Menurut Alison dkk., ekstrak buah mengkudu bersifat antioksidan, anti-inflamasi, anti-kanker, dan anti diabetes.10,13,21
2.1.1 Klasifikasi
Menurut taksonomi, mengkudu dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom : Plantae
Sub filum : Dycotiledones Divisi : Sphermatophita Famili : Rubiaceae Genus : Morinda Spesies : Citrifolia
Nama ilmiah : Morinda citrifolia.
Gambar 1. Buah mengkudu. 10
2.1.2 Morfologi
(a) (b) (c)
Gambar 2. (a) Pohon mengkudu, (b) Daun mengkudu berwarna hijau tua mengkilat, (c) Bunga mengkudu berbentuk piala berwarna putih. 11,23
Buah mengkudu yang masih muda berwarna hijau, tetapi jika sudah masak akan berwarna kuning. Buah berbentuk bulat atau bulat panjang dengan ujung makin kecil dan tumpul, dan memiliki mata seperti buah nanas. Kulit buah mengkudu sangat tipis. Daging buah tersusun dari buah-buah berbentuk piramid dan berwarna cokelat kemerahan. Setelah matang, daging buah banyak mengandung air. Biji mengkudu berwarna hitam, memiliki albumin keras dan ruang udara yang tampak jelas. 23-25
2.1.3 Kandungan Fitokimia Buah Mengkudu
Sebanyak 160 senyawa fitokimia pada buah mengkudu telah diidentifikasi. Diantaranya sejumlah seronin, skopoletin, proseronin, proseronase, damnacantal, asam amino, enzim alkaloid. Buah mengkudu mengandung beberapa zat antibakteri seperti aspelurosid, akubin, alizarin, dan beberapa zat antrakuinon. Sebagian besar senyawa ini telah diisolasi dan diidentifikasi melalui spektroskopi NMR dan spektrometri massa sementara spektrometri massa kromatografi gas yang digunakan terutama dalam identifikasi asam lemak. Mengkudu juga terdiri atas berbagai zat nutrisi seperti protein, vitamin serta mineral seperti magnesium, besi, dan fosfat yang memiliki efek anti oksidan. Kandungan lainnya yaitu asam karbonat sebagai sumber vitamin C dan anti oksidan dan juga berperan dalam mekanisme pertahanan terhadap mikroorganisme. Skolopetin juga terdapat pada mengkudu dan berfungsi sebagai anti peradangan dan anti alergi. Selain beberapa senyawa tersebut, senyawa yang merupakan anti oksidan primer adalah tanin dan flavonoid yang tergolong senyawa fenolik.10,13,14,17
2.1.4 Manfaat Mengkudu (Morinda citrifolia)
Melalui riset intensif yang dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium, mengkudu mengandung berbagai vitamin, mineral dan enzim, alkaloid, ko-faktor dan steroid tumbuhan yang terbentuk secara alamiah. Berikut adalah mengenai beberapa zat yang terkandung dalam mengkudu serta manfaatnya : 21,25
a. Meningkatkan daya tahan tubuh
b. Menormalkan tekanan darah
Mengkudu mengandung sejenis fitonutrien, yaitu skopoletin yang berfungsi untuk memperlebar saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Hal ini menyebabkan jantung tidak perlu bekerja terlalu keras untuk memompa darah, sehingga tekanan darah menjadi normal.
c. Menghilangkan rasa sakit
Teori Dr. Ralph Heinicke (ahli biokimia AS) yang menyatakan bahwa xeronin yang berperan dalam menghilangkan rasa sakit. Hal ini dikaitkan dengan kemampuan xeronin menormalkan protein pada sel yang abnormal, termasuk sel-sel jaringan otak, tempat berasalnya rasa sakit.
d. Zat antibakteri
Zat antibakteri pada mengkudu adalah antrakuinon, akubin, dan alizarin. Zat ini dapat mematikan bakteri penyebab infeksi. Ekstrak buah mengkudu sangat berguna untuk mendukung perawatan dan penyembuhan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri. Senyawa skopoletin juga bersifat antibakteri, membunuh jamur serta bersifat anti peradangan.
e. Membantu pemulihan sel-sel tubuh
Terpenoid terdapat pada minyak atau lemak esensial yang berfungsi untuk membantu tubuh dalam proses sintesis organik pemulihan sel sel tubuh.
f. Seronin
Seronin juga turut berperan dalam proses siklus energi tubuh. Mekanisme sebagai berikut, seronin akan diserap pada tempat yang berdekatan dengan tempat penyerapan endorfin dan bertindak sebagai prekursor hormon untuk mengaktifkan protein reseptor yang memberikan perasaan enak/nyaman. Akibatnya orang akan merasa enak dan memiliki banyak energi setelah mengkonsumsi sari buah mengkudu.
g. Zat antikanker
2.2 Streptokokus mutan
Golongan Streptokokus mempunyai beberapa strain, tetapi yang dominan dan banyak ditemukan dalam rongga mulut manusia adalah jenis Streptokokus mutan. Mikroorganisme fakultatif ini dapat memetabolisme karbohidrat dan dianggap sebagai agen etiologi terjadinya karies. Sifat kariogenik bakteri ini terkait dengan berbagai faktor termasuk produksi konsentrasi tinggi asam dalam pembentukan plak dan glukosil transferase (GTF).26
Streptokokus mutan merupakan bakteri gram positif, bersifat nonmotil (tidak bergerak). Memiliki bentuk kokus berbentuk bulat atau bulat telur dan tersusun dalam rantai. Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 18˚ - 40˚C.Streptokokus mutan termasuk alfa hemolitik. Berdasarkan penelitian longitudinal terbukti bahwa Streptokokus mutan stabil dalam jumlah besar yang diasosiasikan dengan pengembangan lesi karies pada email.27,28
Taksonomi Streptokokus mutan sebagai berikut : Kingdom : Monera
Spesies : Streptococcus mutans
Gambar 4. Streptokokus mutan 28
2.3 Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Mengkudu
2.4 Kerangka Teori
Ekstrak Buah Mengkudu muda (Morinda citrifolia)
Komponen Aktif (senyawa fenolik)
Memiliki sifat antibakteri
Menghancurkan dinding sel bakteri
2.5 Kerangka Konsep
Variabel Terkendali
a. Media biakan Streptokokus mutan yaitu Mueller Hinton Agar b. Suhu untuk menumbuhkan Streptokokus mutan 37˚C
c. Lama inkubasi Streptokokus mutan 24 jam Variabel Independen
Ekstrak buah mengkudu muda konsentrasi 50%, 40%, 30%, 20%, 10%, 5%,
2,5%, dan 1,25%
Variabel Dependen
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini karies gigi masih merupakan penyakit utama di bidang kesehatan gigi dan mulut. Karies adalah salah satu masalah kesehatan rongga mulut yang dapat menimbulkan rasa sakit dan mengganggu aktivitas serta mengurangi kualitas hidup penderitanya. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, prevalensi penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut adalah sebesar 23,4%, sedangkan prevalensi karies sebesar 46,5% kemudian yang mempunyai pengalaman karies sebesar 72,1%.1
Karies didefinisikan sebagai suatu penyakit pada jaringan keras gigi yaitu enamel, dentin, dan sementum; disebabkan oleh aktivitas mikroba yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan dan menyebabkan terjadinya demineralisasi, kavitasi, dan hancurnya jaringan keras gigi. Plak gigi memegang peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak adalah deposit lunak yang terdiri atas kumpulan bakteri yang berkembang biak dalam suatu lapisan matrik intraseluler. Hasil penelitian menunjukkan kokus gram positif merupakan jenis yang paling banyak dijumpai pada awal pembentukan plak, seperti Streptokokus mutan, Streptokokus sanguis, Streptokokus mitis dan Streptokokus salivarius. Bakteri utama penyebab karies adalah Streptokokus mutan yang memproduksi enzim glucosyltransferase (GTF), menyebabkan bakteri ini melekat erat pada permukaan
gigi dan lebih bersifat asidogenik dibandingkan Streptokokus lainnya.2-4
populasinya dapat meningkat dan menyebabkan proses terjadinya karies gigi berlangsung cepat. Banyak penelitian yang membuktikan adanya korelasi antara jumlah bakteri Streptokokus mutan yang mampu mensintesis polisakarida ekstraseluler glukan dan membentuk koloni yang melekat erat pada permukaan gigi. Oleh karena itu bakteri Streptokokus mutan telah menjadi target utama dalam upaya mencegah terjadinya karies.5-7
Sebanyak 80% penduduk dunia menggunakan obat herbal dalam pengobatan dan pencegahan suatu penyakit. Daun dan buah telah lama digunakan pada bidang kesehatan sebagai obat herbal dalam keperluan preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bertujuan untuk menghasilkan obat-obatan dalam upaya mendukung program pelayanan kesehatan gigi, khususnya mencegah dan mengatasi karies. Pemanfaatan bahan herbal yang digunakan jarang menimbulkan efek samping dibandingkan obat yang terbuat dari bahan sintetis.Namun, pengobatan menggunakan obat herbal juga harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, dari segi manfaat dan keamanannya.7,8
Salah satu cara pencegahan karies yaitu dengan penggunanan obat kumur. Namun tingginya konsentrasi alkohol pada obat kumur mempunyai efek samping yang menyebabkan iritasi pada mukosa mulut.Sehingga perlu alternatif lain sebagai bahan baku dengan efek samping minimal. Menurut Parmar, tanaman herbal merupakan sumber potensial yang dapat berfungsi sebagai agen antimikroba yang baru dalam terapi penyakit infeksi.8,9
Mengkudu dilaporkan memiliki sifat antibakteri, virus, jamur, anti-tumor, analgesik, anti-inflamasi, dan dapat meningkatkan imunitas tubuh. Studi fitokimia menunjukkan bahwa mengkudu memiliki beragam senyawa biologis aktif. Sekitar 160 senyawa fitokimia telah diisolasi dari tanaman mengkudu yang sebagian besar adalah asam organik, senyawa fenolik, dan alkaloid.12,13 Senyawa fenolik yang memiliki efek farmakologis tinggi sebagai antibakteri yaitu flavonoid dan tanin. Menurut Ferrazano dkk., senyawa tanin dan flavonoid menunjukkan adanya indikasi sebagai inhibitor sintesis glukan sekaligus menghambat perlekatan bakteri pada permukaan gigi dan mampu mengacaukan kerja enzim GTF. 14-16
Penelitian terhadap buah mengkudu secara in vitro menunjukkan mengkudu memiliki beberapa aktivitas biologis dan farmakologis terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif, diantaranya Stafilokokus aureus, Streptokokus piogens, Esceriacia coli, Vibrio kolera dan Salmonella tifosa. Penelitian yang dilakukan Barani dkk., secara in vitro menunjukkan ekstrak mengkudu efektif menghambat pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan dan Streptokokus mitis, dengan kadar hambat minimum pada Streptokokus mutan dan Streptokokus mitis setelah diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37˚C adalah 125 μg dan 62,5 μg .12 Begitu juga Nur dkk., menyimpulkan ekstrak buah mengkudu 100% memiliki efek bakterisidal lebih tinggi dibandingkan povidon iodin 1% terhadap Streptokokus mutan.17 Demikian pula, dari hasil penelitian Dharmawati diketahui efek ekstrak mengkudu konsentrasi 50%, 75% dan 100% memberikan daya hambat kuat terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan.18 Belum ditemukannya kadar hambat minimum terhadap Streptokokus mutan sehingga perlu dilakukan penelitian lanjut. Kadar hambat minimum (KHM) adalah kadar terendah dari suatu obat yang mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji. 19
Berdasarkan uraian tersebut penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai daya hambat ekstrak buah mengkudu muda terhadap bakteri Streptokokus mutan serta menentukan kadar hambat minimum ekstrak secara in vitro.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu :
1. Apakah ekstrak buah mengkudu muda dapat menghambat pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan?
2. Berapa kadar hambat minimum (KHM) ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini yaitu :
1. Mengetahui daya hambat ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan.
2. Mengetahui kadar hambat minimum (KHM) ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan.
1.4 Hipotesis Penelitian
Ekstrak buah mengkudu muda mempunyai daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptokokus mutan.
1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah :
2. Hasil penelitian ini diharapkan sebagai dasar penelitian lebih lanjut mengenai manfaat buah mengkudu muda.
DAYA HAMBAT EKSTRAK BUAH MENGKUDU
MUDA TERHADAP PERTUMBUHAN
STREPTOKOKUS MUTAN
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi
METHA LEGINA NIM : 110600116
FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
Fakultas Kedokteran Gigi
Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/ Kesehatan Gigi Masyarakat
Tahun 2016
Metha Legina
Daya hambat ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan.
x + 32 halaman
Streptokokus mutan merupakan flora normal rongga mulut dan merupakan bakteri utama dalam proses terjadinya karies. Buah mengkudu muda mengandung senyawa fenol yang memiliki efek antibakteri. Salah satu alternatif pencegahan karies adalah penggunaan produk herbal sebagai antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek antibakteri dan kadar hambat minimum ekstrak buah mengkudu muda dalam menghambat pertumbuhan Streptokokus mutan. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris dengan rancangan posttest only control group design. Metode penelitian yang digunakan adalah metode difusi cakram (Kirby
Bauer) dengan 3 sampel. Sampel terdiri atas 9 kelompok perlakuan yaitu ekstrak mengkudu muda konsentrasi 50%, 40%, 30%, 20%, 10%, 5%, 2,5% dan 1,25% serta kontrol. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak mengkudu muda secara signifikan menghambat pertumbuhan Streptokokus mutan (p<0,05). Rerata zona hambat yang terbentuk pada konsentrasi 50%, 40%, 30%, 20%, 10%, 5%, 2,5%, 1,25% dan kontrol secara berurutan adalah 15,53±0,25 mm; 13,10±0,10 mm; 11,9±0,10 mm; 10,20±0,26 mm; 9,1±0,30 mm; 7,5±0,25 mm; 0±0,00 mm; 0±0,00 mm dan 0±0,00 mm. Kadar hambat minimum dari ekstrak buah mengkudu muda terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan adalah 5%. Kesimpulan, ekstrak buah mengkudu muda mempunyai efek antibakteri terhadap pertumbuhan Streptokokus mutan.
PERNYATAAN PERSETUJUAN
Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan tim penguji skripsi
Medan, 22 Februari 2016
Pembimbing : Tanda tangan
TIM PENGUJI SKRIPSI
Skripsi ini telah dipertahankan dihadapan tim penguji pada tanggal 22 Februari 2016
TIM PENGUJI
KETUA : Prof. Lina Natamiharja, drg., SKM ANGGOTA : 1. Simson Damanik, drg., M.Kes
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.
Rasa hormat dan terima kasih penulis persembahkan kepada orang tua penulis, ayahanda Yumrizal dan ibunda Zuriati serta saudara penulis Cindy Handani, Winna Handina dan Salsabila atas segala perhatian, kasih sayang, doa dan dukungan moril maupun materil yang selama ini diberikan kepada penulis.
Dalam penulisan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan, bantuan dan doa dari berbagai pihak. Untuk itu dengan kerendahan hati serta penghargaan yang tulus penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada :
1. Prof. Nazruddin, drg., C.Ort., Ph.D., Sp.Ort., Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. Sondang Pintauli, drg., Ph.D., Ketua Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/ Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara dan selaku dosen penasehat akademik atas bimbingan dan arahan serta motivasi yang diberikan selama penulis menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.
3. Prof. Lina Natamiharja, drg., SKM. selaku dosen pembimbing, atas keluangan waktu, saran, dukungan, bantuan, motivasi, dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
4. Simson Damanik, drg., M.Kes., dan Rika Mayasari Alamsyah, drg., M.Kes., selaku tim penguji, atas keluangan waktu, saran dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik.
6. Dr. Panal Sitorus, Msi., Apt selaku kepala Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi USU serta buk Fika yang membantu dan membimbing penulis selama pelaksanaan penelitian.
7. Seluruh staf pengajar dan pegawai Departemen Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan/ Kesehatan Gigi Masyarakat Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan saran dan masukan dalam penyelesaian skripsi ini.
8. Sahabat-sahabat penulis, Dila Riskita, Dwi Ningsih, Keyke Aldila, Ayu Arrista, Suci Sylvana, Cut Nirza, Adinda Munawarah, Affan Ali Al-Harits, Aldrian Raharja, Denny Andrian, Joule Siregar serta teman-teman stambuk 2011 lainnya yang telah memberikan bantuan dan motivasi selama penulisan skripsi ini.
Akhirnya penulis mengharapkan semoga hasil karya atau skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu dan masyarakat.
Medan, 22 Februari 2016 Penulis,
DAFTAR ISI
3.4.1 Sampel ... 15
3.4.2 Besar Sampel ... 16
3.4.3 Penggolongan Sampel Penelitian ... 16
3.5 Penentuan Nilai Kadar Hambat Minimum ... 17
3.6 Variabel dan Definisi Operasional ... 17
3.7 Prosedur Penelitian ... 18
3.8 Pengolahan dan Analisis Data ... 21
3.9 Alur Penelitian ... 22
BAB 4 HASIL PENELITIAN 4.1 Daya Hambat Ekstrak Mengkudu Terhadap Pertumbuhan Streptokokus Mutan ... 23
4.2 Uji Normalitas Data ... 24
4.3 Analisis Efek Perlakuan Zona Hambat Streptokokus Mutan ... 24
BAB 5 PEMBAHASAN ... 25
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN ... 28
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Daya hambat ekstrak buah mengkudu muda terhadap S.mutan ... 23 2. Hasil uji Kuskal-Wallis ... 24
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
1. Buah mengkudu ... 7
2. (a) Pohon mengkudu ... 8
(b) Daun mengkudu berwarna hijau tua mengkilat ... 8
(c) Bunga mengkudu berbentuk piala berwarna putih ... 8
3. Daging buah mengkudu ... 8
4. Streptokokus mutan ... 12
5. Simplisia buah mengkudu muda ... 18
6. Ekstrak kental buah mengkudu ... 19
7. Ekstrak mengkudu dalam berbagai konsentrasi ... 19
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran
1. Surat izin penelitian di Fakultas Farmasi USU 2. Surat persetujuan komisi etik penelitian