Jurnal
Kesehatan Masyarakat
DEWAN REDAKSI
PENASEHAT
Prof. H. Sugeng Juwono Mardihusodo, dr. DAP&E, M.Sc (Tropmed)
PENANGGUNGJAWAB Ariana Sumekar, SKM.,M.Sc
PIMPINAN REDAKSI
Siti Uswatun Chasanah, S.K.M.,M.Kes.
SEKERTARIS REDAKSI Heni Febriani, S.Si.,M.P.H.
BENDAHARA Sigit Hartono, S.E.
PENANGGUNG JAWAB EDITOR Tedy Candra Lesmana, S.Hut.,M.Kes.
HUMAS DAN PUBLIKASI Sri Lestari, S.K.M.
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT kami ucapkan atas tersusunnya Jurnal Kesehatan Masyarakat Volume 08/Nomor 1/Maret/2015. Dalam tersusunnya Jurnal Kesehatan Masyarakat edisi ini, semoga dapat memberikan manfaat dan memperluas wawasan dibidang penelitian dan pendidikan.
Ucapan terima kasih kami sampaikan pada para penulis dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat yang telah berkenan menjalin kerjasama dalam menerbitkan naskah Jurnal ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada segenap jajaran Jurnal Kesehatan Masyarakat atas dedikasi dan kerjasamanya dalam upaya mewujudkan penerbitan Jurnal Kesehatan Masyarakat edisi ini.
Salam,
Jurnal Kesehatan Masyarakat
Volume 08/Nomor 1/Maret/2015
Daftar Isi:
ARTIKEL PENELITIAN
Manajemen Pengolahan Limbah Padat Rumah Sakit Jogja ... 309
Kualitas Pelayanan Antenatal Bidan dan Pencapaian Cakupan K4 Bidan Desa
di Kabupaten Rembang ... 318
Pengaruh Pemberian Buku Saku Demam Berdarah Dengue Terhadap Penurunan Kepadatan Jentik Nyamuk aedes aegypti L. di Kelurahan
Gedongkiwo Mantrijeron Kota Yogyakarta ... 326
Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang Dengan kinerja Perawat di
Ruang Rawat Inap ... 332
RSUD Ahmad Yani Metro Lampung dampak Perubahan Iklim pada Penyakit
Menular: sebuah Kajian Literatur ... 342
Hubungan Antara Pengetahuan Ibu dengan Pemberian Imunisasi Dasar pada
Bayi di Puskesmas Jetis Kota Yogyakarta ... 349
Perbedaan Konsentrasi Perekat antara Briket Bioarang Tandan Kosong Sawit
dengan Briket Bioarang Tempurung Kelapa Terhadap Waktu Lama Membara ... 356
Dampak Psikologis Terhadap Istri yang Menjadi Korban Kekerasan dalam
Rumah Tangga Di P2TP2A provinsi Kalimantan Timur Tahun 2014 ... 369
Analisis Pengetahu, Sikap, Dan Perilaku Penggunaan Alat Pelindung Diri
(Apd) pada Perajin Perak di Industri Perak “X” Yogyakarta ... 374
Hubungan Antara Dukungan Keluarga dan Motivasi Kontrol Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Klinik Kartika Husada Sitimulyo Piyungan
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol 08/ No.01/Maret/2015
MANAJEMEN PENGOLAHAN LIMBAH PADAT RUMAH SAKIT JOGJA
Muchsin Maulana1, Hari Kusnanto2, Agus Suwarni3
1
Postgraduate of Public Health, Gadjah Mada University. [email protected]
2
Field Epidemiology Training Program, Gadjah Mada University
3
Health Polytechnic, Health Ministries
Diterima 17 Februari 2015; Disetujui 28 Februari 2015
ABSTRACT
Jogja Hospital is a Government-owned Hospital run by the Government of city of Jogyakarta. In its daily activities, the hospital produces waste which, if not properly discharged or burned, may cause adverse effect on workers as well as the surrounding area. Jogja hospital has Incinerator, thus simplifying the management such waste. The waste management including the rules, procedures and policymaking need to be explored to investigate the process of waste management of Jogja hospital. Methods in this study used a qualitative descriptive case study in order to get a clear picture or description about certain situation objectively. The unit analysis was the solid waste management in the Jogja Hospital. In-depth interviews were conducted with the Head of Environmental Health Installation and Waste Management Officer. Data were obtained through observation, in-depth interviews and document studies. The results shows, the process of solid waste management at the Jogja hospital was carried out by the hospital waste management officer under the direction of the Hospital Environmental Health Installation. Waste Management Officer was a by-contract employee financed by the Hospital. The Incinerator Facility helped the hospital in processing the medical waste.
Keywords: Management; treatment; solid waste, Hospital Jogja
ABSTRAK
Manajemen Pengolahan Limbah Padat Rumah Sakit Jogja
swadana dari rumah sakit. Fasilitas incenerator di rumah sakit memberikan kemudahan dalam proses pengolahan sampah medis.
Kata Kunci: Manajemen, pengolahan, limbah padat, Rumah Sakit Jogja
PENDAHULUAN
Selama beberapa dekade, organisasi
kesehatan memiliki layanan outsourcing
seperti layanan makanan dan rumah
tangga. Sarpin dan Wideman
mengemukakan program perawatan yang
dikelola saat ini mencoba untuk
mengurangi biaya kesehatan dengan
beralih ke outsourcing dalam cara-cara
baru untuk mempertahankan standar
tinggi perawatan sambil menanggapi
realitas ekonomi saat ini[1]. Outsourcing
memiliki banyak manfaat dan merupakan
solusi untuk membatasi keuangan dan
kebutuhan investasi kurang modal[2].
Alasan untuk outsourcing: 1) untuk
mengurangi biaya; 2) untuk fokus pada
keunggulan kompetitif inti; 3) untuk
memperkenalkan fleksibilitas tenaga
kerja; 4) untuk mengelola
masalah-masalah hubungan industrial dan
peningkatan terkait dalam kekuatan
manajemen atas tenaga kerja; 5) untuk
memenuhi tujuan pribadi, dan 6) untuk
membentuk lembaga-lembaga sektor
publik untuk menyesuaikan dengan
agenda pemerintah yang menyediakan
dana tersebut[3]. Kerjasama dengan
penyedia layanan kontrak telah
menyebabkan peningkatan yang
signifikan dalam kualitas tingkat
pelayanan[1].
Untuk pelaksanaan reformasi
kesehatan yang efektif, berbagai bentuk
dan tingkat privatisasi telah menjadi
komponen penting dari solusi yang
diusulkan untuk meningkatkan sistem
kesehatan di seluruh dunia, namun
terutama di negara berkembang,
terbatasnya data yang tersedia untuk
mengevaluasi efek dan konsekuensi dari
privatisasi [4]. Salah satu strategi
kesehatan yang digunakan eksekutif atau
pimpinan rumah sakit untuk memenuhi
target menghemat biaya adalah
outsourcing, namun outsourcing akan
gagal jika tidak ditangani dengan baik.
Sangat sedikit penelitian yang telah
dilakukan pada proses pengambilan
keputusan outsourcing di sektor publik
terutama di sektor kesehatan [5].
Rumah Sakit Jogja merupakan
rumah sakit pemerintah yang berhasil
melakukan pengolahan limbah dengan
baik, sehingga perlu diekplorasi untuk
mengetahui bagaimana pemanfaatan
Muchsin Maulana, Hari Kusnanto, Agus Suwarni
Kota Yogyakarta dan proses pengelolaan
limbah di Rumah Sakit Jogja.
METODE
Penelitian ini menggunakan
rancangan studi kasus deskriptif kualitatif
untuk menggambarkan manajemen limbah
padat di Rumah Sakit Jogja. Wawancara
mendalam dilakukan kepada Kepala
Instalasi Kesehatan Lingkungan dan
Petugas Pengelolaan Limbah. Sumber
data didapat dari pengamatan, wawancara
mendalam dan studi dokumen.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Manajemen Kontrak
Hasil pengamatan menunjukkan
sumber daya manusia yang mengelola
limbah Rumah Sakit Jogja adalah petugas
yang bekerja di Instalasi Kesehatan
Lingkungan dan petugas yang langsung
berhadapan dengan limbah padat rumah
sakit (petugas pengolahan limbah).
Petugas yang bekerja di Instalasi
Kesehatan Lingkungan terdiri dari Kepala
Instalasi Kesehatan Lingkungan, Kepala
Sub-Instalasi I, Kepala Sub-Instalasi II,
Kepala Sub-Instalasi Administrasi
Logistik, Perencanaan dan Pengembangan
dan Staf Urusan.
Sumber daya manusia yang berada
di Instalasi Kesehatan Lingkungan Rumah
Sakit Jogja mempunyai koordinasi yang
baik dalam distribusi kerja, hal ini
dikarenakan pembagian kerja yang merata
sehingga tidak terjadi penumpukan
pekerjaan. Lundstrom memaparkan
petugas kesehatan memiliki peran penting
dalam pengelolaan lingkungan efek dari
praktik mereka[6]. Setiap upaya yang
dilakukan oleh mereka membangun basis
suara perilaku dan pemikiran yang
diperlukan untuk mencapai visi yang lebih
besar untuk planet yang sehat. Sumber
daya manusia yang bekerja di Instalasi
Kesehatan Lingkungan yaitu petugas
pengolahan limbah yang berhadapan
langsung dengan limbah dan bertanggung
jawab penuh atas limbah yang berasal dari
rumah sakit maupun limbah yang berasal
dari luar rumah sakit.
Sumber daya manusia dalam
pengolahan limbah padat di Rumah Sakit
Jogja berdasarkan jenis jabatan dan tugas,
pendidikan serta jumlah tenaga yang
Manajemen Pengolahan Limbah Padat Rumah Sakit Jogja
Tabel 1. Sumber Daya Manusia dalam Pengolahan Limbah Padat di Rumah Sakit Jogja
No Jenis Jabatan dan Tugas Pendidikan Jumlah
1. Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan S 1/SE 1
2. Kepala Sub Instalasi I D3/AMKL 1
3. Kepala Sub Instalasi II S 1/SKM 1
4. Kepala Sub Instalasi Administrasi Logistik, Perencanaan dan Pengembangan
D3/AMKL 1
5. Staf Urusan D3/AMKL 1
6. Petugas pengolahan Limbah (PPL):
o Operator Insinerator o Petugas Limbah Medis o Petugas Limbah Non Medis
SMA/SMP
Hasil wawancara mendalam
terhadap Kepala Instalasi Kesehatan
Lingkungan untuk mengetahui jumlah dan
status petugas pengolahan limbah sebagai
berikut:
“Jumlah PPL ada 6 orang mas, trus
pendidikan mereka 5 orang tamatan SMA
dan 1 orang tamatan SMP, mmm… 1
orang petugas sampah medis, 3 orang
petugas sampah non medis dan 2 orang
operator Insinerator mas. Petugasnya itu,
karyawan kontrak/cleaning service
kontrak mas, dengan pembayaran
swadana dari rumah sakit”.
Hasil wawancara dengan Petugas
Pengelolaan Limbah (PPL) Padat Rumah
Sakit Jogja untuk mengetahui riwayat
pelatihannya sebagai berikut:
“Untuk pelatihannya kami belum
pernah mendapatkan pelatihan yang
resmi e mas… hanya pelatihan dari
Rumah Sakit yang diberikan sebelum kami
turun di lapangan… yang kasi
pelatihannya ya dari bagian Instalasi
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit
mas…”.
Patil mengemukakan program
pelatihan wajib dilakukan untuk seluruh
staf baru di rumah sakit untuk
membiasakan mereka dengan prosedur
operasi yang dipraktikkan di rumah
sakit[7]. Sawalem et al memaparkan, hasil
survei pada personil, 85% termasuk
manajer, staf pembersih, dan pekerja
lingkungan, tidak dilatih untuk
pengelolaan sampah di rumah sakit dan
tidak memiliki penjelasan rinci tentang
tugas mereka dalam hal penanganan
limbah, 55% dari dokter dan perawat tidak
mengetahui protokol pengelolaan limbah
rumah sakit dan menunjukkan
pengetahuan yang cukup tentang potensi
bahaya, dan 90% pekerja kota
Muchsin Maulana, Hari Kusnanto, Agus Suwarni
limbah rumah sakit ke tempat
pembuangan akhir dan tidak pernah
waspada terhadap bahaya terkait dengan
limbah rumah sakit[8].
Ferreira menjelaskan perbedaan
antara rumah sakit umum dan swasta
terutama karena ukuran unit-unit atau
bagian yang ada dalam rumah sakit.
Rumah sakit umum terdapat bagian atau
instalasi yang bertanggung jawab untuk
pengumpulan sampah dalam layanan
(penyimpanan di tempat), transportasi di
tempat pusat penyimpanan sementara,
transportasi off-site dan pembuangan
akhir, sedangkan rumah sakit swasta,
cleaning service melakukan semua operasi
pengelolaan limbah di rumah sakit
sebelum transportasi off-site dilakukan
oleh perusahaan yang bertanggung jawab
untuk pembuangan akhir[9]. Penelitian
Blenkharn menyatakan petugas harus
diberikan latihan yang tepat untuk
memastikan sampah dikelola dengan
benar untuk menjamin keselamatan
karyawan dan orang lain[10].
Penelitian Abdullah menunjukkan
kebutuhan akan program pelatihan untuk
berbagai tingkat staf di rumah sakit dari
administrator, manajer, dokter, perawat,
sampai petugas penanganan dan
pemeliharaan limbah serta staf operasi
insinerator[11]. Ali mengemukakan dalam
rangka mewujudkan dan memenuhi
standar kualitas kesehatan pengelolaan
sampah di fasilitas kesehatan, pekerja
harus dilatih untuk melaksanakan tugas
mereka secara akurat dan aman[12]. Di
Thailand, meskipun rumah sakit tidak
memiliki program reguler pelatihan untuk
staf, semua staf baru atau anggota diberi
orientasi menyeluruh dan kuliah tentang
keselamatan kerja di tempat kerja dan
berhubungan dengan manajemen limbah.
Penelitian Blenkharn menyatakan
pengelolaan limbah klinis yang lemah
memperburuk risiko infeksi bagi yang
terkena limbah medis, seharusnya
kompromi kebersihan rumah sakit
memiliki implikasi kontrol infeksi[13].
Kepala Instalasi Kesehatan
Lingkungan Rumah Sakit Jogja
menyatakan PPL merupakan karyawan
kontrak di bawah kendali Instalasi
Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit, serta
pembayaran swadana dari rumah sakit.
Kebijakan ini pula yang membuat PPL
mematuhi standard operating procedur
yang berlaku dalam pengolahan limbah di
Rumah Sakit Jogja. Young memaparkan
pada sektor kesehatan, outsourcing lebih
sering terjadi pada layanan non-klinis dari
layanan klinis[14]. Mengingat daerah
mana yang menjadi outsourcing yang
Manajemen Pengolahan Limbah Padat Rumah Sakit Jogja
pasar tenaga kerja, termasuk tingkat
keterampilan karyawan dan ketersediaan
tenaga kerja, sifat hubungan industrial dan
persepsi tentang apa inti dalam kaitannya
dengan perawatan pasien, meskipun
persepsi itu konsisten. Menurut Towne
dan Hoppszallern dengan biaya kesehatan
yang meningkat, masuk akal untuk
menyimpulkan bahwa rumah sakit akan
melihat ke outsourcing/kontrak sebagai
cara tradisional untuk mengendalikan
biaya. Rumah sakit, terutama untuk rumah
sakit umum, bisa mendapatkan manfaat
dari outsourcing untuk menghidupkan
kembali keterbatasan sumber daya penuh
waktu-setara dan manusia[15]. Castella
menyimpulkan bahwa dalam strategi
outsourcing/kontrak kami memiliki
banyak kesempatan untuk meningkatkan
pelayanan umum rumah sakit, mengurangi
biaya, memperbarui peralatan dan
instalasi, tanpa menggunakan sumber
daya yang terbatas rumah sakit terutama
ditujukan untuk kesehatan, yang
merupakan bisnis inti yang
sebenarnya[16]. Socrates and Michael
penelitian di rumah sakit publik Yunani
dalam penggunaan kontrak penyedia
layanan menunjukkan outsourcing dalam
kesehatan publik organisasi di Yunani
memiliki pemikiran potensi untuk
pengembangan lebih lanjut. penelitian ini
memberikan kontrak penyedia layanan
kerangka kerja yang diharapkan akan
membantu mereka dalam meningkatkan
bisnis mereka di pasar yang dinamis dan
berkembang pesat[1]. Penelitian Danvers
dan Nikolov di 16 negara bagian dan
empat wilayah Amerika Serikat,
mengidentifikasi ada dampak keuntungan
dari outsourcing untuk rumah sakit
perkotaan, tetapi efek yang agak positif
untuk rumah sakit pendidikan[17]. Chih et
al menjelaskan bahwa rumah sakit,
terutama untuk rumah sakit umum,
mendapatkan manfaat dari outsourcing
untuk menghidupkan kembali waktu kerja
penuh dan paruh waktu dalam
keterbatasan sumber daya manusia[18].
Keuntungan lainnya seperti menghemat
energi personil manajemen, meningkatkan
efisiensi dan semangat kerja karyawan,
dan membantu rumah sakit memperoleh
instrumen baru tanpa beban keuangan.
Peneliti menarik kesimpulan bahwa
langkah ini diambil dalam rangka
menjamin efektifnya penggunaan tenaga
pengolahan limbah, sehingga jika PPL
melakukan kesalahan yang fatal maka
sewaktu-waktu dapat diputus kontrak
Muchsin Maulana, Hari Kusnanto, Agus Suwarni
KESIMPULAN DAN SARAN
Organisasi pengelolaan limbah di
Rumah Sakit Jogja mempunyai organisasi
tersendiri dengan tingkat kompetensi dan
akses organisasi baik, yang mana sudah
ada bidang yang membawahi masalah
sanitasi lingkungan Rumah Sakit Jogja
(Instalasi Kesehatan Lingkungan). Petugas
Pengelolaan Limbah (PPL) merupakan
karyawan kontrak di bawah kendali
Instalasi Kesehatan Lingkungan Rumah
Sakit dengan pembayaran swadana dari
Rumah Sakit. Pertemuan secara rutin
dengan mengikutsertakan Pimpinan
Rumah Sakit, Bagian Administrasi,
Kepala Instalasi Kesehatan Lingkungan,
Staf, Petugas Pengelolaan Limbah yang
secara langsung maupun tidak langsung
terlibat dengan pengelolaan limbah dalam
rangka untuk berbagi dan mendiskusikan
teknis atau kesulitan praktis dan
memberikan saran khusus ke Rumah
Sakit.
DAFTAR PUSTAKA
Ab Rahim, N., Baldry, D., & Amaratunga,
D. (2010) Decision Making in
Outsourcing Support Services in
The United Kingdom Public
Healthcare.
Abdullah, F., Qdais H, A., & Rabi, A.
(2007) Site investigation on
medical waste management
practices in northern Jordan. Waste
Management, Vol 28 450–458.
Aksan, H, AD., Ergin, I., & Ocek, Z.,
(2010) The change in capacity and
service delivery at public and
private hospitals in Turkey: A
closer look at regional differences.
Ali, M., & Kuroiwa, C. (2009 ) Status and
Challenges of Hospital Solid
Waste Management: Case Studies
from Thailand, Pakistan, and
Mongolia. J Mater Cycles Waste
Management, Vol 11:251–257.
Blenkharn, J, I. (2006a) Potential
compromise of hospital hygiene by
clinical waste carts. Journal of
Hospital Infection, Vol 63,
423e42.
Blenkharn, J, I. (2006b) Standards of
Clinical Waste Management in UK
Hospitals. Journal of Hospital
Infection, Vol 62, 300–303.
Castella, F., (1999) Outsourcing in
hospital services: Teaching
Hospital of Badalona, Spain.
Health Estate, 1999
Manajemen Pengolahan Limbah Padat Rumah Sakit Jogja
Chih, T, H., Jar, Y, P., Hero C. (2009) The
study on the outsourcing of
Taiwan's hospitals. BMC Health
Services Research 2009, 9:78
Danvers, K., & Nikolov, P., (2010)
outsourcing affect hospital
profitability: Department of
Accountancy, Clarion University,
Clarion, Pennsylvania, USA. J
Health Care Finance, 2010
Fall;37(1):13-29.
El-Sharkawy, G, F. (2009) Effect of An
Educational Program About
Medical Waste Management on
Awareness of Internship
Physicians in Zagazig University
Hospitals. Journal of Occupational
Health and Safety. Vol. 2 No. 1
June.
Ferreira, V., & Teixeira, M, R., (2010),
The Medical Waste Management
Practices and Associated Risk
Perceptions in Algarve Hospitals,
Portugal. Faculty of Sciences and
Technology, University of
Algarve, Campus de Gambelas,
Faro; Portugal.
Patil, G, V., & Pokhrel, K. (2004)
Biomedical Solid Waste
Management in an Indian
Greek perspective. Journal of
Health Organization and
Management Vol. 20 No. 1, 2006.
Tourani, S., Maleki, M., Ghodousi, M, S.,
& Gohari M.R (2010), Efficiency
and Effectiveness of the Firoozgar
Teaching Hospital's Pharmacy
after Outsourcing, Tehran, Iran,
Journal of Health Administration
2010; 12 (38).
Towne, J., & Hoppszallern, S., (2003)
13th Annual Contract Management
Survey: This article first appeared
in the October 2003 issue of
H&HN magazine.
Young, S. (2005) Outsourcing in the
Health Sector: The Interplay of
Economics and Politics,
International Journal of Public
Sector Management, 18(1) p25-36.
Young, S. (2007) Outsourcing: two case
Muchsin Maulana, Hari Kusnanto, Agus Suwarni
hospital sector, Policy and
Planning, Australian Health
Review February 2007 Vol 31 No
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol 08/No.01/Maret/2015 KUALITAS PELAYANAN ANTENATAL BIDAN DAN PENCAPAIAN CAKUPAN K4
BIDAN DESA DI KABUPATEN REMBANG
Fitri Indrawati1
1
Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Negeri Semarang Diterima 24 Februari 2015; Disetujui 28 Februari 2015
ABSTRACT
Many factors affect the achievement of K4. Coverage of K4 in Rembang District in 2013 has yet to reach the target set by the national (93%) that is equal to 80,79%. The purpose of this study was to determine the relationship between the quality of antenatal care provided by midwives with the coverage K4 midwife. The study is an observational analytic study with cross sectional approach. The population in this study were all midwives in Rembang, amounting to 287 midwives. The sample in this study is the 75 village midwive. The results of this study showed that there was significant relationship between the quality of antenatal care provided by midwives with the coverage K4 midwive.
Keyword: quality of service; antenatal; midwives; K4 scope
ABSTRAK
Banyak faktor yang mempengaruhi pencapaian K4. Cakupan K4 di Kabupaten Rembang pada tahun 2013 masih belum mencapai target yang ditetapkan nasional (93%) yaitu sebesar 80,79%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kualitas pelayanan antenatal yang diberikan oleh bidan desa dengan pencapaian cakupan K4 bidan desa. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh bidan desa di Kabupaten Rembang yang berjumlah 287 bidan. Sampel pada penelitian ini adalah bidan desa yang berjumlah 75 bidan. Ada hubungan yang bermakna antara kualitas pelayanan antenatal yang diberikan oleh bidan desa dengan pencapaian cakupan K4 bidan desa. Saran untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang adalah agar memberikan pendidikan yang berkelanjutan kepada bidan desa sehingga dapat meningkatkan kualitas pelayanan antenatal.
Keyword: kualitas pelayanan; antenatal; bidan; cakupan K4
PENDAHULUAN
Angka kematian ibu (AKI) di
Indonesia masih tetap tinggi. Berdasarkan
Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) tahun 2012, angka
kematian ibu sebesar 359 per 100.000
kelahiran hidup[1]. Target AKI di
Indonesia sesuai dengan target yang
dituangkan dalam Millennium
Development Goal (MDG) sebesar 102
per 100.000 kelahiran hidup pada tahun
2015[2]. Kebijakan Departemen
Kesehatan dalam upaya mempercepat
Fitri Indrawati
Bayi (AKB) pada dasarnya mengacu
kepada intervensi strategis “Empat Pilar
Safe Motherhood” (keluarga berencana,
ANC, persalinan bersih dan aman,
pelayanan dasar obstetri). Akses terhadap
pelayanan antenatal di Indonesia sudah
cukup baik, namun mutu pelayanan
antenatal itu sendiri masih perlu
ditingkatkan[3].
WHO)merekomendasikan minimal
empat kunjungan antenatal, dengan
ketentuan waktu pemberian pelayanan
yang dianjurkan yaitu minimal 1 kali pada
triwulan pertama, 1 kali pada triwulan
kedua, dan dua kali pada triwulan ketiga
yang terdiri dari intervensi seperti
vaksinasi tetanus toxoid, skrining dan
pengobatan untuk infeksi, dan identifikasi
tanda-tanda bahaya selama kehamilan.
Selain itu, WHO menyarankan bahwa
pelaksanaan dari suatu paket intervensi
yang kompleks seperti perawatan
antenatal harus dimonitor dan diaudit
dengan fokus pada kualitas pelayanan,
yaitu praktek-praktek berbasis bukti yang
dimaksudkan untuk disampaikan melalui
program ini, outcome ibu dan perinatal,
terutama saat dilahirkan[4].
Pemerintah melalui Kementerian
Kesehatan mencanangkan Pedoman
Pelayanan Antenatal Terpadu sebagai
salah satu panduan untuk pelaksanaan
antenatal dan peningkatan K1 dan K4 ibu
hamil dengan tujuan untuk memenuhi hak
setiap ibu hamil memperoleh pelayanan
antenatal yang berkualitas sehingga
mampu menjalani kehamilan dengan
sehat, bersalin dengan selamat, dan
melahirkan bayi yang sehat. Sasaran
penggunaan buku pedoman ini adalah
tenaga kesehatan yang memberikan
pelayanan kesehatan ibu, bayi baru lahir
dan keluarga berencana. Pelayanan
antenatal adalah pelayanan kesehatan
yang diberikan kepada ibu selama masa
kehamilannya sesuai dengan standar
pelayanan antenatal yang mencakup
anamnesis, pemerikasaan fisik umum dan
kebidanan, pemeriksaan laboratorium atas
indikasi tertentu serta indikasi dasar dan
khusus. Cakupan K4 adalah pelayanan
antenatal sesuai standar paling sedikit 4
kali, yaitu minimal 1 kali pada triwulan
pertama, 1 kali pada triwulan kedua dan 2
kali pada triwulan ketiga. Cakupan K4
merupakan salah satu indikator yang
digunakan dalam mengukur keberhasilan
pelayanan antenatal. Pelayanan antenatal
terpadu diberikan oleh tenaga kesehatan
yang kompeten yaitu dokter, bidan dan
perawat terlatih sesuai dengan ketentuan
yang berlaku. Pelayanan antenatal terpadu
terdiri dari: anamnesa, pemeriksaan fisik,
Kualitas Pelayanan Antenatal Bidan dan Pencapaian Cakupan K4 Bidan Desa di Kabupaten Rembang
pemeriksaan antenatal terpadu dan
komunikasi informasi dan edukasi (KIE)
yang efektif[5].
Target cakupan K4 nasional pada
tahun 2012 adalah sebesar 90%. Pada
tahun 2012 angka cakupan pelayanan
antenatal secara nasional untuk persentase
pencapaian K4 sebesar 90,18%. Masih
terdapat disparitas antar provinsi dan antar
kabupaten/kota yang variasinya cukup
besar(6). Pencapaian cakupan K4 di Jawa
Tengah pada tahun 2012 secara umum
sudah melampaui target nasional, yakni
sebesar 92,99%, tetapi beberapa
Kabupaten/Kota di Jawa Tengah masih
memiliki cakupan kunjungan K4 di bawah
target[6]. Pada tahun 2013 target yang
ditetapkan secara nasional untuk cakupan
K4 adalah 93%. Dari 35 Kabupaten/Kota
di Jawa Tengah terdapat 7 Kabupaten
yang persentase cakupan K4 kurang dari
target nasional. Salah satunya adalah
Kabupaten Rembang, yakni menduduki
peringkat 3 terendah. Dengan persentase
cakupan K4 sebesar 80,79%[7]. Di
Kabupaten Rembang terdapat 16
puskesmas dengan jumlah bidan desa
sebanyak 287 bidan. Dari 287 bidan desa,
94 bidan desa telah memenuhi target
nasional cakupan K4, sedangkan yang
belum memenuhi target pencapaian
cakupan K4 nasional sebanyak 193 bidan.
Kualitas pelayanan antenatal adalah
segala bentuk aktivitas pelayanan
kesehatan yang diberikan kepada ibu
selama masa kehamilannya sesuai dengan
standar pelayanan antenatal yang
mencakup anamnesis, pemeriksaan fisik,
diagnosis kebidanan intervensi,
Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE)
antenatal dan dokumentasi kebidanan
bidan[8]. Dari latar belakang tersebut
maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian tentang kualitas pelayanan
antenatal terhadap pencapaian cakupan K4
bidan desa di Kabupaten Rembang tahun
2013.
METODE
Jenis penelitian ini observasional
analitik, dengan rancangan cross
sectional. Data dikumpulkan melalui
wawancara langsung dan pengamatan
dengan menggunakan kuesioner dan
lembar pengamatan. Populasi penelitian
ini adalah seluruh bidan desa pelaksana
KIA/pelayanan antenatal di wilayah kerja
Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang
sebanyak 287 bidan desa. Sampel
penelitian ini sebanyak 75 bidan desa
diambil dengan simple random sampling.
Data diolah menggunakan analisis
variabel tunggal untuk mengetahui
Fitri Indrawati
kualitas pelayanan antenatal dan variabel
terikat yaitu pencapaian cakupan K4 bidan
desa. Analisis dua variabel digunakan
untuk mengetahui hubungan antara
variabel bebas dan variabel terikat. Hasil
pengumpulan, analisis dan pengolahan
data disajikan dalam bentuk tabel
frekuensi disertai dengan narasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Distribusi Bidan menurut Umur
Umur F %
25-29 30-34 35-39 40-44
≥45
22 24 9 15 5
29,33 32,00 12,00 20,00 6,67
Total 75 100,00
Umur bidan menurut Tabel 1 mempunyai frekuensi tertinggi pada umur antara
30-34 tahun dengan persentase 32% dan terendah berumur ≥45 tahun dengan persentase
6,67%.
Tabel 2. Distribusi Bidan menurut Tempat Tinggal
Tempat tinggal F %
Desa 43 57,33
Polindes 27 36,00
Lain-lain 5 6,67
Total 75 100,00
Bidan yang bertempat tinggal di polindes menurut Tabel 2 sebanyak 57,33% dan
yang bertempat tinggal di luar desa (lain-lain) dengan sebanyak 6,67%.
Tabel 3. Distribusi Responden menurut Kualitas Pelayanan Antenatal
Kualitas Pelayanan Antenatal F %
Sesuai 56 74,67
Tidak sesuai 19 25,33
Kualitas Pelayanan Antenatal Bidan Dan Pencapaian Cakupan K4 Bidan Desa Di Kabupaten Rembang
Tabel 4. Distribusi Bidan menurut Pencapaian Cakupan K4
Cakupan K4 F %
Sesuai target 43 57,33
Tidak sesuai target 32 42,67
Total 75 100,00
Bidan yang memenuhi target pencapaian cakupan K4 menurut Tabel 4 diketahui
sebanyak 43 (57,33%), sedangkan yang tidak memenuhi target sebanyak 32 (42,67%).
Tabel 5. Hubungan Kualitas Pelayanan Antenatal dengan Pencapaian Cakupan K4 Bidan Desa
Kualitas pelayanan antenatal Pencapaian cakupan K4
Hasil uji Sesuai
target
Tidak sesuai target
Jumlah
n % n % n %
Sesuai 38 88,37 18 56,25 56 100 0,03
Tidak sesuai 5 11,63 14 43,75 19 100
Total 75 100
Tabel 5 menunjukkan hasil uji
statistik dengan menggunakan Chi Square
diperoleh nilai p 0,03 maka Ho ditolak
dan Ha diterima berarti ada hubungan
antara kualitas pelayanan antenatal yang
diberikan oleh bidan desa dengan
pencapaian cakupan K4 bidan desa. K4
adalah ibu hamil dengan kontak 4 kali
atau lebih dengan tenaga kesehatan yang
mempunyai kompetensi, untuk
mendapatkan pelayanan terpadu dan
komprehensif sesuai standar. Kontak 4
kali dilakukan pada sekali pada trimester I
(kehamilan hingga 12 minggu), trimester
ke 2 (>12-24 minggu) dan minimal 2 kali
kontak pada trimester ke 3 yang dilakukan
setelah minggu ke 24 sampai dengan
minggu ke 36. Kunjungan antenatal bisa
lebih dari 4 kali sesuai kebutuhan dan jika
ada keluhan, penyakit atau gangguan
kehamilan. Kunjungan ini termasuk dalam
K4[5].
Menurut Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor
938/MENKES/SK/VIII/2007 untuk
mewujudkan pelayanan kebidanan yang
berkualitas diperlukan adanya standar
sebagai acuan bagi bidan dalam
memberikan asuhan kepada klien di setiap
tingkat fasilitas pelayanan kesehatan, yang
bertujuan adanya standar sebagai acuan
dan landasan dalam melaksanakan
tindakan/kegiatan dalam lingkup tanggung
Fitri Indrawati
asuhan kebidanan berkualitas, sebagai
parameter tingkat kualitas dan
keberhasilan asuhan yang diberikan bidan
dan sebagai perlindungan hukum bagi
bidan dan klien/pasien[9].
Sejalan dengan penelitian Widowati
(2006) yang menunjukkan ada hubungan
yang signifikan antara kualitas pelayanan
ANC dengan cakupan K4, selain
karakteristik bidan dan kelengkapan
sarana[10]. Sistem perawatan kesehatan
yang berkualitas adalah perawatan
berkelanjutan, bukan hanya untuk layanan
pengobatan, tetapi untuk promosi
kesehatan dan pencegahan[11].
Ketanggapan adalah kecepatan dan
ketanggapan bidan dalam memberikan
jasa. Dengan indikator di mana bidan
cepat dan tanggap dalam melayani ibu
hamil, dengan memberikan pemeriksaan
baik fisik maupun kebidanan, serta
memberikan pemeriksaan laboratorium
atas indikasi tertentu serta indikasi dasar
dan khusus sampai dengan melakukan
KIE kepada ibu hamil. Menurut Nasriwati
(2010) hubungan antar manusia yang baik
akan menimbulkan kemitraan, saling
percaya, saling menghormati dan
keterbukaan[12].
Menurut Solikhah (2008) dengan
terciptanya kualitas pelayanan akan
menciptakan kepuasan pasien, sehingga
pasien kembali memanfaatkan pelayanan
tersebut. Begitu pula dengan pelayanan
antenatal pada ibu hamil, dengan kualitas
pelayanan yang baik, maka cakupan K4
juga semakin meningkat[13].
KESIMPULAN DAN SARAN
Terdapat hubungan yang bermakna
antara kualitas pelayanan antenatal yang
diberikan oleh bidan desa dengan
pencapaian cakupan K4 bidan desa. Bagi
Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang
untuk memberikan pendidikan yang
berkelanjutan kepada bidan desa sehingga
kualitas pelayanan antenatal dapat lebih
optimal. Kepada bidan desa diharapkan
untuk senantiasa meningkatkan kualitas
pelayanan sehingga cakupan K4 bidan
desa dapat memenuhi target yang telah
ditetapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Statistics Indonesia (Badan Pusat
Statistik) & Macro International,
2013, Indonesia Demographic and
Health Survey 2012, Calverton,
Maryland, USA: BPS and Macro
International.
WHO, 2011b, Monitoring Maternal,
Newborn and Child Health:
Kualitas Pelayanan Antenatal Bidan Dan Pencapaian Cakupan K4 Bidan Desa Di Kabupaten Rembang
Indicators. Switzerland: World
Health Organization.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2007a, Pedoman
Pelayanan Antenatal, Direktorat
Jendral Pembinaan Kesehatan
Masyarakat, Direktorat Bina
Kesehatan Keluarga Departemen
Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.
WHO, 2011a, WHO Statement on
Antenatal Care January 2011.
Switzerland: Department of
Reproductive Health and Research
World Health Organization.
Available:
http://whqlibdoc.who.int/hq/2011/
WHORHR11.12engpdf [Accesed
2 Februari 2015].
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2010, Pedoman
Pelayanan Antenatal Terpadu,
Direktorat Jendral Bina Gizi dan
KIA Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia, 2013, Rencana Aksi
Percepatan Penurunan Angka
Kematian Ibu di Indonesia,
Direktorat Jendral Bina Gizi dan
KIA Kementrian Kesehatan
Republik Indonesia, Jakarta.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah,
2013, Laporan Penyelenggaraan
Rapat Kerja Kesehatan Daerah
Tahun 2013, Dinas Kesehatan
Provinsi Jawa Tengah, Semarang.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2008, Pedoman
Peningkatan Mutu Pelayanan
Medik Dasar, Direktorat Jendral
Bina Gizi dan KIA Departemen
Kesehatan Republik Indonesia,
Jakarta.
Departemen Kesehatan Republik
Indonesia, 2007b, Keputusan
Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor
369/MENKES/SK/III/2007
Tentang Standar Profesi Bidan,
Kementrian Republik Indonesia.
Widowati, Christina dan Hakimi. H.M.
(2006). Manajemen Pelayanan
Kesehatan Ibu dan Anak Dan
Kualitas Antenatal Care di
Puskesmas Keacamatan Semarang
Barat. Jurnal KMPK, Program
Magister Universitas Gajahmada,
No. 17 April 2006
Sajid, M.S. & Baiq, M.K., 2007, Quality
of Health Care: an Absolute
Necessity for Public Satisfaction.
International Journal of Health
Fitri Indrawati
Nasriwaty. (2010). Analisis Kualitas
Pelayanan di Puskesmas Sulili
Kabupaten Pinrang, Tesis
Program Pascasarjanan Universitas
Hasanuddin Makasar.
Solikhah. (2008). Hubungan Kepuasan
Pasien Dengan Minat Pasien
Dalam Pemanfaatan Ulang
Pelayanan Pengobatan. Jurnal
Manajemen Pelayanan Kesehatan,
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol 08/ No.01/Maret/2015 PENGARUH PEMBERIAN BUKU SAKU DEMAM BERDARAH DENGUE TERHADAP PENURUNAN KEPADATAN JENTIK NYAMUK Aedes aegypti L. di
KELURAHAN GEDONGKIWO MANTRIJERON KOTA YOGYAKARTA
Tri Wahyuni Sukesi1, Bayu Shela2
1,2 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Diterima 2 Februari 2015; Disetujui 28 Februari 2015
ABSTRACT
The environment is very bad Gedongkiwo Village and unhealthy. The condition of every corner of the house a lot of small pools of unused, used items such as paint cans scattered, small aquariums, buckets of water reservoirs and many other items that may be a nest to lay eggs of Aedes sp. This is what causes the density of mosquito larvae in high Gedongkiwo Village area. The objective of this study was to know the impact of the provision of a paperback book Dengue Fever to decrease the density of larvae of Aedes sp in Gedongkiwo Village, District Mantrijeron, Yogyakarta. This research is a quasi experimental. The population in this study is the number of homes that are on RT 17 and RT 18 as many as 48 houses with a total sample of 43 homes. Analysis of the data in this study using univariate analysis to obtain an overview of each independent variable and the dependent variable and using bivariate analytical hypothesis test between two variables with independent variables and the dependent variable. Giving pocket book turned out to give effect to the dengue mosquito larvae density that can be seen from the value of HI, Cid's BI.
Keywords: Aedes aegypti L., pocket books, effectiveness.
ABSTRAK
Keadaan lingkungan Kelurahan Gedongkiwo sangat buruk dan tidak sehat. Kondisi setiap sudut rumah banyak sekali kolam-kolam kecil yang tidak terpakai, barang bekas yang berserakan seperti kaleng cat, aquarium kecil, ember-ember penampungan air dan banyak barang-barang lain yang dapat menjadi tempat sarang nyamuk Aedes sp bertelur. Hal tersebut yang menyebabkan kepadatan jentik nyamuk di wilayah Kelurahan Gedongkiwo tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pemberian buku saku Demam Berdarah Dengue terhadap penurunan kepadatan jentik nyamuk Aedes sp di Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta. Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimental Populasi dalam penelitian ini yaitu jumlah rumah yang berada di RT 17 dan RT 18 sebanyak 48 rumah dengan jumlah sampel sebanyak 43 rumah. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis satu variabel untuk memperoleh gambaran pada masing-masing variabel bebas dan terikat serta menggunakan analisis dua variabel uji hipotesis antara dua variabel dengan variabel bebas dan variabel terikat. Pemberian buku saku DBD ternyata memberikan pengaruh terhadap kepadatan jentik nyamuk yaitu dilihat dari nilai HI, Cid an BI.
Tri Wahyuni Sukesi, Bayu Shela
PENDAHULUAN
Penyebab meningkatnya jumlah
kasus dan semakin bertambahnya wilayah
terjangkit Demam Berdarah Dengue
(DBD) antara lain karena transportasi
penduduk dari suatu daerah ke daerah lain
dalam waktu singkat, adanya
pemukiman-pemukiman baru, penyimpanan air
tradisional, serta perilaku dan
pengetahuan masyarakat yang masih
kurang terhadap Pembersihan Sarang
Nyamuk (PSN)[1]. Promosi kesehatan
dengan meningkatkan pengetahuan
masyarakat menggunakan alat bantu
berupa Booklet, leaflet, flyer, poster, buku
saku, spanduk, video dan slide[2].
Daerah Istimewa Yogyakarta
merupakan salah satu daerah endemis
DBD dengan angka insidensi DBD pada
tahun 1999-2003 sebesar 28,2 per 10.000
penduduk dengan jumlah kasus sebesar
4.857 jiwa dan 75 jiwa di antaranya
meninggal dunia[3]. Kelurahan
Gedongkiwo berdekatan dengan aliran
sungai serta banyaknya kolam-kolam di
sekitar rumah yang menyebabkan nyamuk
Aedes aegypti senang untuk berdiam dan
bertelur yang mendasari kejadian DBD di
Kelurahan Gedongkiwo sangat tinggi pada
tahun 2010. Peneliti ini dilakukan untuk
mengetahui dampak pemberian buku saku
DBD terhadap penurunan kepadatan jentik
nyamuk A. aegypti di Kelurahan
Gedongkiwo, Kecamatan, Mantrijeron
Kota Yogyakarta.
METODE
Jenis penelitian ini adalah quasi
eksperimental. Observasi dilakukan untuk
mengetahui tingkat pengetahuan dan
penurunan kepadatan jentik nyamuk.
Pre-test dilakukan sebelum pembagian buku
saku. Setelah kegiatan intervensi
dilakukan, kemudian dilakukan post test.
Perbedaan antara pre test dan post test
diasumsikan sebagai efek dari
eksperiment atau perlakuan[4]. Penelitian
dilakukan di Kelurahan Gedongkiwo,
Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta
dengan jumlah sampel sebanyak 43
rumah. Penelitian ini menggunakan
kuesioner untuk mengukur tingkat
pengetahuan DBD dan checklist untuk
mengukur keberadaan jentik dan alat
bantu berupa buku saku sebagai media
penyampian informasi DBD.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pemantauan jentik
terhadap kepadatan dan keberadaan
jentik nyamuk Aedes sp. sebelum dan
setelah pemberian buku saku DBD dapat
Pengaruh Pemberian Buku Saku Demam Berdarah Dengue Terhadap Penurunan Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes aegypti L. di Kelurahan Gedongkiwo Mantrijeron Kota Yogyakarta
Tabel 1. Distribusi Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes sp.Sebelum dan Setelah Pemberian
Buku Saku DBD di Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta Tahun 2012
Jenis Container Sebelum Penyuluhan Setelah Penyuluhan Positif Negatif Positif Negatif
Tempayan 5 3 0 8
Bak Mandi Drum Ember 28 12 21 19
Penampungan Air Kulkas 0 1 0 1
Penampungan Air Dispenser 19 21 6 34
Vas Bunga 10 11 7 14
Tempat Minum Burung 3 8 2 9
Bejana Sampah Padat Ban Bekas Kaleng Bekas Botol Bekas Pecahan Kaca Ember
20 6 2 24
Tempayan 9 8 5 12
Bak Mandi Drum Ember 0 0 0 0
Penampungan Air Kulkas 2 5 0 7
Penampungan Air Dispenser 0 2 0 2
Vas Bunga 11 4 1 14
Tempat Minum Burung 9 2 1 10
Catatan: Data primer terolah
Kepadatan jentik nyamuk Aedes sp.
pada Tabel 1 menunjukkan baik sebelum
maupun setelah pemberian buku saku
DBD, hampir semua jenis kontainer
positif berisi larva Aedes sp. Total
jumlah kontainer yang positif larva
sebanyak 141. kontainer yang paling
banyak ditemukan jentik sebelum
pemberian buku saku yaitu bak mandi
sebanyak 28 positif, vas bunga sebanyak
20 positif, ember sebanyak 19 positif,
ember bekas sebanyak 14 positif, kaleng
bekas sebanyak 11 positif, penampungan
air kulkas sebanyak 10 positif, dan tempat
minum burung sebanyak 9 positif. Setelah
pemberian buku saku DBD jumlah
kontainer yang positif larva menurun
menjadi 51 kontainer. Kontainer yang
masih terdapat jentik setelah pemberian
buku saku adalah bak mandi sebanyak 21
positif jentik, vas bunga sebanyak 2
positif jentik, ember sebanyak 6 positif
jentik, ember bekas sebanyak 6 positif
jentik, kaleng bekas berjumlah 1 positif
jentik, penampungan air kulkas 7 positif
jentik dan tempat minum burung menjadi
5 positif jentik.
Pengetahuan masyarakat di
Kelurahan Gedongkiwo sebenarnya sudah
sangat positif dan secara umum
mendukung upaya pemberantasan DBD,
namun perilaku masyarakat masih sangat
buruk berdasarkan hasil penelitian dan
wawancara didapatkan sebagian besar
responden dikategorikan tidak melakukan
Tri Wahyuni Sukesi1, Bayu Shela2
masih kurang dikatakan perilaku yang
baik apabila dalam setiap minggu
melakukan PSN secara rutin dengan baik
minimal satu kali dalam seminggu
menguras bak mandi, mengubur
barang-barang bekas, menutup penampungan air
dan plus ikanisasi pada setiap
penampungan air[5]. Selain perilaku yang
buruk masyarakat memiliki
ketergantungan terhadap pelaksanaan
fogging sebagai satu-satunya metode
pemberantasan DBD yang dianggap
paling baik daripada pelaksanaan PSN
(3M).
Berdasarkan hasil analisis indikator
kepadatan jentik nyamuk Aedes sp baik
sebelum dan setelah pemberian buku saku
DBD dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Distribusi Indikator Kepadatan Vektor Nyamuk Aedes sp.Sebelum dan Setelah
Pemberian Buku Saku DBD di Kelurahan Gedongkiwo, Kecamatan Mantrijeron, Kota Yogyakarta Tahun 2012
Indikator CI (%) HI (%) BI %
Sebelum Pemberian Buku Saku DBD 62 86 328
Setelah Pemberian Buku Saku DBD 22 56 118
Catatan: Data primer
Parameter entomologi yang
digunakan berupa Container Index (CI),
House Index (HI) dan Breteau Index (BI).
CI adalah persentase kontainer yang
mengandung larva dan atau pupa, HI
adalah persentase rumah yang positif
mengandung larva dan atau pupa,
sedangkan BI adalah persentase jumlah
kontainer yang positif dengan larva Aedes
sp dalam 100 rumah[6]. Distribusi
kepadatan vektor nyamuk berdasarkan
Tabel 2 diketahui sebelum pemberian
buku saku DBD didapatkan CI sebesar
62%, HI sebesar 86%. Setelah diberikan
pemberian buku saku DBD semua
kontainer menurun jumlahnya CI menjadi
22%, HI menjadi 56%. Nilai BI sebelum
diberikan buku saku adalah 328% dan
yang setelah diberikan buku saku adalah
118%.
HI merupakan salah satu indikator
yang digunakan untuk menghitung risiko
penyebaran penyakit. Indikator ini
menunjukkan persentase rumah yang
positif untuk menjadi tempat
perkembangbiakan nyamuk. Dari hasil
perhitungan keberadaan jentik di
Kelurahan Gedongkiwo didapatkan nilai
CI dan HI masih lebih tinggi dari standar
WHO yang menyatakan suatu wilayah
dikatakan mempunyai kepadatan jentik
Pengaruh Pemberian Buku Saku Demam Berdarah Dengue Terhadap Penurunan Kepadatan Jentik Nyamuk Aedes aegypti L. di Kelurahan Gedongkiwo Mantrijeron Kota Yogyakarta
serta berisiko tinggi untuk penularan
DBD jika CI ≥ 5% dan HI ≥ 10%. Nilai BI diberikan buku saku sebesar 328% dan
sesudah diberikan buku saku menjadi
118%. Hal ini menunjukkan meskipun
pemberian buku saku sudah jelas mampu
memberikan efek penurunan kepadatan
nyamuk tetapi masih banyak faktor yang
mempengaruhi kesadaran seseorang untuk
bisa merubah perilakunya. Nilai BI jika
dibandingkan dengan standard WHO yaitu
50% masih sangat jauh[7]. Hal ini berarti
wilayah Gedongkiwo masih memiliki
tingkat kepadatan nyamuk A. Aegypti
yang masih cukup tinggi untuk bisa
menyebarkan penyakit DBD.
Gambar 1. Nilai HI, CI dan BI Sebelum dan Sesudah Pemberian Buku Saku DBD
Apabila kondisi ini terus didiamkan
saja tanpa adanya upaya preventif seperti
penyadaran perilaku masyarakat untuk
berperan aktif dalam upaya 3M maka
kasus DBD akan tetap terjadi. Penyakit
DBD sangat dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan baik lingkungan fisik ataupun
sosial. Lingkungan social memberikan
pengaruh yang sangat besar terhadap
kondisi lingkungan fisik. Perilaku
masyarakat yang cenderung tidak peduli
terhadap beberapa program pemerintah
dalam pencegahan DBD akan
memberikan efek yang besar. DBD yang
melibatkan masyarakat luas sebagai agent
of change. Program yang diciptakan oleh
pemerintah tidak akan menunjukkan hasil
yang signifikan tanpa adanya peran serta
masyarakat di dalamnya. Penyelengaraan
upaya kesehatan tidak lepas dari
pemberdayaan masyarakat dalam kaitan
ini perilaku hidup masyarakat sejak usia
dini perlu ditingkatkan melalui berbagai
kegiatan penyuluhan dan pendidikan
kesehatan, sehingga menjadi bagian dari
norma hidup dan budaya masyarakat
dalam meningkatkan kesadaran dan
kemandirian masyarakat dalam rangka
hidup sehat8.
0 100 200 300 400
HI CI BI
Sebelum
Tri Wahyuni Sukesi1, Bayu Shela2
KESIMPULAN DAN SARAN
Ada pengaruh pemberian buku saku
DBD terhadap kepadatan jentik telah
terjadi penurunan tingkat kepadatan
populasi nyamuk Ae. aegypti di Kelurahan
Gedongkiwo Mantrijeron Yogyakarta.
Dengan penurunan nilai HI sebesar 30%,
nilai CI penurunannya 40% dan nilai BI
penurunannya sebesar 210%. Untuk dapat
mengendalikan populasi nyamuk Ae.
Aegypti diperlukan kolaborasi yang kuat
dan berkesinambungan antara pemerintah
dan masyarakat.
Notoatmodjo, S.,2007, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Rineka Cipta, Jakarta : Hal. 3, 9,69, 70, 107, 108, 109, 110, 111, 112, 140, 141.
Subargus, A., 2007, “Analisis terhadap
Kebijakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Dalam Upaya Peanggulangan Demam Berdarah Dengue (DBD) Di Wilayah Provinsi Daerah Istimewah
Yogyakarta”,
http://skripsistikes.wordpress.com, diambil pada tanggal 3 Maret 2012, Yogyakarta.
Arikunto, S., 2010, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Edisi Revisi, Rieneka cipta, Jakarta : kebijakan program dbd.pdf. diambil pada tanggal 3 Maret 2012, Yogyakarta.
Hasyimi, M., dan Soekirno., 2004,
“Pengamatan Tempat Perindukan
Aedes aegypti pada Tempat Penampungan Air Rumah Tangga pada Masyarakat Pengguna Air
Olahan”, Jurnal Ekologi Kesehatan, Vol 3, No. 1, April 2004 hal. 37,42.
WHO, 1997, Dengue Haemorrhagic Fever : diagnosis, treatmen,
JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol 08/No.01/Maret/2015 HUBUNGAN GAYA KEPEMIMPINAN KEPALA RUANG DENGAN
KINERJA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RSUD AHMAD YANI METRO LAMPUNG
Zulfian Tiandani1, Ahmad Ahid Mudayana2
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Ahmad Dahlan [email protected], [email protected] Diterima 4 Februari 2015; Disetujui 28 Februari 2015
ABSTRACT
The behavior of nurses who come and do not go home on time, the office hours are not in place for various reasons beyond the task can degrade the performance of nurses. Leadership style required a hospital room Ahmad Yani Hospital Metro Lampung adar be motivating nurses and nurse's performance. This study aims to analyze the relationship between leadership style performance space with nurses in inpatient hospitals Ahmad Yani Metro Lampung. This type of cross sectional analytic study. The study population is a nurse in the hospital inpatient Ahmad Yani Metro Lampung many as 172 people with a total sample of 51 people. Measuring instrument in the form of a questionnaire study. Analysis of the data using a hypothesis test between two variables. The results showed an autocratic leadership style as much as 96.1% lower category and 3.9% higher. Laissez faire leadership style category as much as 94.1% lower and 5.9% higher. Democratic leadership style category as much as 96.1% higher and 3.9% lower. Nurse performance category as much as 90.2% higher and lower by 9.8%. There is a relationship between autocratic leadership style, laissez faire leadership style, democratic leadership style with the performance of nurses in Inpatient Hospital Ahmad Yani Metro Lampung.
Keywords: leadership style; performance; nurse
ABSTRAK
Zulfian Tiandani, Ahmad Ahid Mudayana
kepemimpinan laissezfaire, gaya kepemimpinan demokratis dengan kinerja perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Ahmad Yani Metro Lampung.
Kata Kunci: Gaya kepemimpinan; kinerja; perawat
PENDAHULUAN
Perawat yang memberikan
pelayanan yang konstan dan terus
menerus selama 24 jam kepada pasien
setiap hari memberi konstribusi dalam
menentukan kualitas pelayanan di rumah
sakit. Setiap upaya untuk meningkatkan
kualitas pelayanan rumah sakit harus juga
disertai upaya untuk meningkatkan
kualitas pelayanan keperawatan salah
satunya dengan peningkatan kinerja
perawat. Rendahnya kinerja disebabkan
oleh sistem pembagian kekuasaan yang
cenderung memusat pada pimpinan1.
Rasio perawat di Indonesia tahun
2011 adalah 92,8 per 100.000 penduduk
dengan rentang 32,5-340 per 100.000
penduduk. Beberapa provinsi memiliki
rasio perawat per 100.000 penduduk di
atas angka nasional. Rasio perawat per
100.000 penduduk di Provinsi Lampung
pada tahun 2011 berkisar antara
20,5-326,5. Rasio terkecil Kabupaten
Tanggamus dan terbesar Kota Metro yaitu
326,5.
RSUD Ahmad Yani Metro adalah
semula Rumah Sakit milik Pemerintah
Kabupaten Lampung Tengah yang
kemudian aset tanah dan bangunan pada
bulan Januari 2002 berdasarkan SK
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Kabupaten Lampung Tengah Nomor:
188.342/IV/07/2002 diserahkan kepada
Pemerintah Daerah Kota Metro. Jumlah
tempat tidur rawat inap RSUD Ahmad
Yani Metro sebanyak 233 tampat tidur.
RSUD Ahmad Yani Metro Lampung
mempunyai 5 kelas ruang rawat yang
terbagi dalam 10 ruang. Jumlah kepala
ruang rawat inap sebanyak 10 orang
dengan jumlah perawat sebanyak 172
orang. Jumlah pasien pada tahun 2013
sebanyak 14.646 orang. Peneliti ingin
mengetahui apakah gaya kepemimpinan
yang diterapkan di RSUD Ahmad Yani
Metro Lampung mempengaruhi kinerja
perawatnya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat analitik
dengan pendekatan cross sectional.
Populasi penelitian ini yaitu perawat di
ruang rawat inap RSUD Ahmad Yani
Metro Lampung sebanyak 172 orang
dengan jumlah sampel sebanyak 51 orang
yang diambil dengan random sampling.
Pengumpulan data menggunakan
Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Ahmad Yani Metro Lampung
oleh perawat tanpa diwakilkan oleh orang
lain. Pengolahan data dilakukan dengan
komputer. Analisis data meliputi analisis
variabel tunggal digunakan untuk
mendapatkan gambaran distribusi perawat
dan dua variabel digunakan untuk menguji
hipotesis antara dua variabel yang diduga
memiliki pengaruh dengan menggunakan
Uji Pearson.
HASIL DAN PEMBAHASAN Distribusi Perawat
Distribusi perawat menurut jenis kelamin
dan umur disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Distribusi Perawat menurut Jenis Kelamin, Umur, Pendidikan Terakhir dan Masa Kerja di RSUD Ahmad Yani Metro Lampung
Variabel F %
Jenis kelamin
Laki-laki 14 27,7
Perempuan 37 72,5
Umur (tahun)
≤ 30 17 33,3
31-40 27 52,9
≥ 40 7 13,7
Pendidikan terakhir
D3 32 62,7
D4 3 5,9
S1 16 31,4
Masa kerja (tahun)
< 5 14 27,5
5-10 15 29,4
> 10 22 43,1
Jumlah 50 100,0
Perawat RSUD Ahmad Yani Metro
Lampung menurut Tabel 1 diketahui
berjenis kelamin perempuan sebanyak
72,5% dan laki-laki sebanyak 27,5%;
berumur 31 - 40 tahun sebanyak 52,9%, ≤
30 sebanyak 33,3%, dan ≥ 40 sebanyak
13,7%. Pendidikan terakhir perawat D3
sebanyak 62,7%, S1 sebanyak 31,4% dan
D4 sebanyak 5,9%. Perawat yang telah
bekerja dengan masa kerja < 5 tahun
sebanyak 27,5%, 5 – 10 tahun sebanyak
29,4% dan > 10 tahun sebanyak 43,1%.
Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan otokratis, laissez
faire dan demokratis disajikan pada Tabel
Zulfian Tiandani, Ahmad Ahid Mudayana
Tabel 2. Gaya Kepemimpinan di RSUD Ahmad Yani Metro Lampung
Gaya Kepemimpinan F %
Otokratis
Tinggi 2 3,9
Rendah 49 96,1
Laissez Faire
Tinggi 3 5,9
Rendah 48 94,1
Demokratis
Tinggi 49 96,1
Rendah 2 3,9
Jumlah 100,0
Gaya kepemimpinan berdasarkan
Tabel 2 menunjukkan kategori otokratis
tinggi sebanyak 3,9% dan rendah
sebanyak 9,1%. Gaya kepemimpinan
laissez faire tinggi sebanyak 5,9% dan
rendah sebanyak 94,1%. Gaya
kepemimpinan demokratis tinggi
sebanyak 96,1% dan rendah sebanyak
3,9%.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa gaya kepemimpinan otokratis
termasuk dalam kategori cukup rendah,
dan terdapat hubungan antara gaya
kepemimpinan otokratis dan kinerja
perawat di ruang rawat inap RSUD
Ahmad Yani Metro Lampung. Apabila
gaya kepemimpinan otokratis meningkat
maka kinerja perawat akan menurun,
demikian pula sebaliknya apabila gaya
kepemimpinan otokratis menurun maka
kinerja perawat akan naik. Hasil penelitian
ini sejalan dengan pernyataanyang
menyatakan bahwa terdapat hubungan
antara gaya kepemimpinan berdasarkan
pengambilan keputusan dengan kinerja
tenaga kesehatan di Puskesmas Wara
Selatan Kota Palopo2. Hasil penelitian lain
juga menyatakan terdapat hubungan yang
signifikan antara gaya kepemimpinan
kepala ruangan dengan kinerja perawat
pelaksana dalam melakukan tindakan
keperawatan pada tingkat kemaknaan
90%3.
Kepemimpinan otoriter juga
mempunyai kelebihan diantaranya
seorang pemimpin otoriter biasanya
bersifat pekerja keras dan memiliki
disiplin tinggi dan penentuan keputusan
lebih cepat karena tidak menggunakan
musyawarah atau diskusi. Kepemimpinan
yang otokratis, pemimpin bertindak
sebagai diktator terhadap anggota-anggota
kelompoknya. Baginya memimpin adalah
menggerakkan dan memaksa kelompok.
Kekuasaan pemimpin yang otokratis
hanya dibatasi oleh undang-undang.
Kewajiban bawahan atau
Hubungan Gaya Kepemimpinan Kepala Ruang dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Ahmad Yani Metro Lampung
menjalankan, tidak boleh membantah atau
pun mengajukan saran. Pemimpin yang
otokratis tidak menghendaki rapat-rapat
atau musyawarah, sedangkan rapat
hanyalah untuk menyampaikan
instruksi-instruksi4.
Gaya kepemimpinan otokratik,
pemimpin menentukan semua kebijakan,
kemudian memberikan petunjuk untuk
penerapannya. Pengumuman
keputusannya tanpa memerlukan umpan
balik dari kelompok yang dipimpin.
Pemimpinlah yang menentukan
langkah-langkah dan interaksi yang perlu
dilaksanakan. Umpan balik kepada
anggota hanya diberikan dalam bentuk
pujian atau kritik. memberikan umpan
balik terhadap informasi dan pemimpin
akan mengembangkan gambaran
kepemimpinan yang menjurus ke gaya
paternalistik5.
Hasil penelitian ini menunjukkan
gaya kepemimpinan Laissez Faire
termasuk dalam kategori cukup rendah,
dan terdapat hubungan antara gaya
kepemimpinan Laissez Faire dan kinerja
perawat di ruang rawat inap RSUD
Ahmad Yani Metro Lampung. Apabila
gaya kepemimpinan Laissez Faire
meningkat maka kinerja perawat akan
menurun, demikian pula sebaliknya
apabila gaya kepemimpinan Laissez Faire
menurun maka kinerja perawat akan naik.
Faktor lain yang mempengaruhi kinerja
perawat adalah kepuasan kerja dan
supervisi. Penelitian lain menyatakan
bahwa terdapat hubungan antara kepuasan
kerja dan supervisi dengan kinerja
perawat di Rumah Sakit Tingkat III
16.06.01 Ambon6. Penelitian lain
menyebutkan bahwa kepemimpinan
efektif kepala ruang yang dipersepsikan
perawat pelaksana berhubungan dengan
penerapan komunikasi terapeutik perawat
pelaksana di Rumah Sakit dr. Iskak
Tulungagung7.
Tipe kepemimpinan ini sebenarnya
pemimpin tidak memberikan pimpinan,
karena membiarkan orang-orang berbuat
sekehendaknya. Pemimpin tipe ini sama
sekali tidak memberikan kontrol dan
koreksi terhadap pekerjaan
anggota-anggotanya, bahkan pembagian tugas dan
kerja sama juga diserahkan kepada
anggota-anggota kelompok tanpa petunjuk
atau saran-saran dari pimpinan.
Kekuasaan dan tanggung jawab
bersimpang siur, berserakan di antara
anggota-anggota kelompok, tidak merata.
Dengan demikian, mudah terjadi
kekacauan dan bentrokan-bentrokan4.
Gaya kepemimpinan Laissez Faire,
pemimpin memberikan kebebasan penuh
Zulfian Tiandani, Ahmad Ahid Mudayana
sumberdaya sudah tersedia dan anggota
diminta bekerja secara optimal. Pemimpin
hanya bertugas memberikan tanggapan
kalau ada pertanyaan yang diajukan
kepadanya. Umpan balik tidak pernah
diberikan kepada anggota kecuali diminta.
Pemimpin dengan gaya Laissez Faire
disebut seorang liberator5.
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa gaya kepemimpinan demokratis
termasuk dalam kategori cukup rendah,
dan terdapat hubungan antara gaya
kepemimpinan demokratis dan kinerja
perawat di ruang rawat inap RSUD
Ahmad Yani Metro Lampung. Penelitian
lain menyimpulkan bahwa kepala ruang di
Rumah Sakit swasta di Demak
menggunakan tiga gaya kepemimpinan
yaitu demokratis, otokratis dan Laissez
Faire, sedangkan gaya kepemimpinan
demokratis merupakan gaya
kepemimpinan dengan tingkat persentase
yang paling tinggi8. Dalam gaya
kepemimpinan demokratis, pemimpin
menyarankan kepada anggota kelompok
mengembangkan keputusannya sendiri.
Pemimpin memberikan wawasan kepada
anggota kelompok tentang tugas-tugas
kelompok yang harus dikerjakan dan
langkah-langkah yang perlu diambil
sebelum kelompok mulai melaksanakan
tugasnya. Kelompok diberikan kebebasan
melakukan kegiatan dan berinteraksi satu
sama lain. Umpan balik diberikan secara
objektif kepada kelompok sesuai dengan
situasi yang berkembang di
lingkungannya5.
Pemimpin demokratis menafsirkan
kepemimpinannya bukan sebagai diktator,
melainkan sebagai pemimpin di
tengah-tengah anggota kelompoknya. Hubungan
dengan anggota-anggota kelompok bukan
sebagai majikan terhadap buruhnya,
melainkan sebagai kakak terhadap
saudara-saudaranya. Pemimpin yang
demokratis selalu berusaha menstimulasi
anggota-anggotanya agar bekerja secara
kooperatif untuk mencapai tujuan
bersama. Tindakan dan usaha-usahanya
selalu berpangkal pada kepentingan dan
kebutuhan kelompoknya dan
mempertimbangkan kesanggupan serta
kemampuan kelompoknya. Pemimpin
yang demokratis selalu berusaha
memupuk rasa kekeluargaan dan
persatuan. Ia senantiasa berusaha
membangun semangat anggota-anggota
kelompok dalam menjalankan dan