DAFTAR PUSTAKA
Buku-buku:
Abdurrahman, 1983. Aspek-Aspek Bantuan Hukum di Indonesia, Penerbit: Cendana
Press, Jakarta.
Ginsberg, Morris, 2003. Keadilan dalam Masyarakat, Penerbit: Pondok Edukasi,
Bantul.
Hadikusumah, Hilman, 2010. Pengantar Antropologi Hukum, Penerbit: Citra Aditya
Bakti, Bandung.
Harahap, Yahya, 2009. Pembahasan dan Penerapan KUHAP: Penyidikan dan
Penuntutan, Edisi Kedua, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.
Ishaq, 2008. Dasar-Dasar Ilmu Hukum, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.
Kadafi, Binziad dkk.,2002. Advokat Indonesia Mencari Legitimasi Studi Tentang
Tanggung Jawab Profesi Hukum di Indonesia, Penerbit: Pusat Studi Hukum
& Kebijakan Indonesia, Jakarta.
Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, 2007. Bantuan Hukum: Akses Masyarakat
Marginal Terhadap Keadilan, Penerbit: LBH Jakarta, Jakarta.
Lubis, Mulya T, 1986. Bantuan Hukum dan Kemiskinan Struktural, Penerbit: LP3ES,
Jakarta.
---, 1981. Gerakan Bantuan Hukum di Indonesia (Sebuah Studi Awal) Dalam
Beberapa Pemikiran Mengenai Bantuan Hukum:Ke Arah Bantuan Hukum
Struktural, Penerbit: Alumni, Bandung.
Mertokusumo, Sudikno, 2006. Hukum Acara Perdata Indonesia, Penerbit: Liberty,
Miller, Valerie dan Jane Covey, 2005. Pedoman Advokasi: Kerangka Kerja untuk
Perencanaan, Tindakan, dan Refleksi, Penerbit: Yayasan Obor Indonesia,
Jakarta.
Nasution, Adnan Buyung, 1981. Bantuan Hukum di Indonesia, Penerbit: LP3ES,
Jakarta.
Pandu, Yudha, 2001. Klien & Penasehat Hukum Dalam Perspektif Masa Kini,
Penerbit: Indonesia Legal Center Publishing, Jakarta.
Rahardjo, Satjipto, 1983. Masalah Penegakan Hukum: Suatu Tinjauan Sosiologi
Hukum, Penerbit: Sinar Baru, Bandung.
Rengka, Frans J., 1992. Peranan Lembaga Bantuan Hukum Dalam Proses Peradilan
Pidana Sebuah Studi Kasus Di LBH Jakarta, Tesis Fakultas Pascasarjana ,
Universitas Indonesia, Jakarta.
Sarmadi, Sukris H.A., 2009. Advokat: Litigasi & Non Litigasi Pengadilan, Penerbit:
Mandar Maju, Bandung.
Soekanto, Soerjono, 1983. Bantuan Hukum Suatu Tinjauan Sosio Yuridis, Penerbit:
Ghalia Indonesia, Jakarta.
Soeroso,R., 2006. Pengantar Ilmu Hukum, Penerbit: Sinar Grafika, Jakarta.
Sunggono, Bambang dan Aries Harianto, 2001. Bantuan Hukum dan Hak Asasi
Manusia, Penerbit: Mandar Maju, Bandung.
Winarta, Frans Hendra, 1995. Advokat Indonesia: Citra, Idealisme, dan Keprihatinan,
Penerbit: Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
---, 2000. Bantuan Hukum Suatu Hak Asasi Manusia Bukan Belas Kasihan,
Peraturan Perundang-undangan:
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum
Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 Tentang Advokat
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Pokok-Pokok Kekuasaan
Kehakiman
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2008 Tentang
Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-Cuma
Petunjuk Pelaksanaan Surat Edaran Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 2010 Tentang Pedoman Bantuan Hukum Lampiran A Perkara Perdata,
Pos Bantuan Hukum, dan Zitting Plaats
Website
http://jodisantoso.blogspot.com/2007/06/dasar-konstitusional-bantuan-hukum.html
BAB III
SEJARAH DAN PERKEMBANGAN LEMBAGA BANTUAN
HUKUM DALAM MEMBERIKAN BANTUAN HUKUM
A. Sejarah Lembaga Bantuan Hukum
Kegiatan bantuan hukum sebenarnya sudah dimulai sejak berabad-abad yang lalu. Pada
masa Romawi, pemberian bantuan hukum oleh seseorang hanya didorong oleh motivasi untuk
mendapatkan pengaruh dalam masyarakat. Keadaan tersebut relatif berubah pada abad
pertengahan dimana bantuan hukum diberikan karena adanya sikap dermawan (charity)
sekelompok elit gereja terhadap para pengikutnya. Pada masa itu, belum ada konsep bantuan
hukum yang jelas. Bantuan hukum belum ditafsirkan sebagai hak yang memang harus diterima
oleh semua orang . ada kesan bahwa bantuan hukum diinterpretasikan sebagai bantuan dalam
segala hal ekonomi, sosial, dan adat.34
Kekaburan tersebut disebabkan karena konsep bantuan hukum itu sendiri memang belum
ada. Bantuan (hukum) ini tidak ditafsirkan sebagai hak, tetapi sebagai bantuan. Kemudian
pandangan tersebut bergeser, bantuan hukum yang semula konsepnya berdasarkan
kedermawanan berubah menjadi hak setiap orang. Sejak terjadi revolusi Prancis dan Amerika,
konsep bantuan hukum semakin diperluas dan dipertegas.
Pemberian bantuan hukum tidak semata-mata didasarkan pada charity terhadap masyarakat yang
tidak mampu tapi kerap dihubungkan dengan hak-hak politik.Dalam perkembangannya hingga
sekarang, konsep bantuan hukum selalu dihubungkan dengan cita-cita negara kesejahteraan
(welfare state),
_______________________
dimana pemerintah mempunyai kewajiban untuk memberikan kesejahteraan kepada rakyatnya.
Bantuan hukum dimasukkan sebagai salah satu program peningkatan kesejahteraan rakyat,
terutama di bidang sosial politik dan hukum.
Dari perkembangan pemikiran mengenai konsep bantuan hukum tersebut timbul berbagai
variasi bantuan hukum yang diberikan kepada anggota masyarakat. Cappelletti dan Gordley
dalam artikel yang berjudul “Legal Aid: Modern Themes and Variations”, seperti yang dikutip Soerjono Soekanto membagi bantuan hukum kedalam dua model, yaitu bantuan hukum model
yuridis-individual dan bantuan hukum model kesejahteraan.35 Menurut Cappelletti dan Gordley,
bantuan hukum yuridis-individual merupakan hak yang diberikan kepada warga masyarakat
untuk melindungi kepentingan-kepentingan individualnya. Pelaksanaan bantuan hukum ini
tergantung dari peran aktif masyarakat yang membutuhkan dimana mereka dapat meminta
bantuan pengacara dan kemudian jasa pengacara tersebut nantinya akan dibayar oleh negara.
Sedangkan bantuan hukum kesejahteraan diartikan sebagai suatu hak akan kesejahteraan
yang menjadi bagian dari kerangka perlindungan sosial yang diberikan oleh suatu negara
kesejahteraan (welfare state).
Bantuan hukum kesejahteraan sebagai bagian dari haluan sosial diperlukan guna
menetralisasi ketidakpastian dan kemiskinan. Karena itu pengembangan sosial atau perbaikan
sosial selalu menjadi bagian dari pelaksanaan bantuan hukum kesejahteraan. Peran negara yang
intensif diperlukan dalam merealisasikannya karena negara mempunyai kewajiban untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar warganya sehingga menimbulkan hak-hak yang dapat
_______________________
dituntut oleh mereka. Pemenuhan hak-hak tersebut dapat dilakukan oleh negara melalui
pemberian bantuan hukum kepada warganya.
Lain halnya dengan Schuyt, Groenendijk dan Sloot. Mereka membedakan bantuan
hukum ke dalam lima jenis,yaitu :
1. Bantuan Hukum Preventif ; bantuan hukum yang dilaksanakan dalam bentuk pemberian
penerangan dan penyuluhan hukum kepada masyarakat sehingga mereka mengerti akan
hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
2. Bantuan Hukum Daignostik; bantuan hukum yang dilaksanakan dengan pemberian
nasehat-nasehat hukum atau biasa dikenal dengan konsultasi hukum.
3. Bantuan Hukum Pengendalian Konflik; bantuan hukum yang lebih bertujuan mengatasi
secara aktif permasalahan-permasalahan hukum konkret yang terjadi di masyarakat.
Biasanya dilakukan dengan cara memberikan asistensi hukum kepada anggota
masyarakat yang tidak mampu menyewa/menggunakan jasa advokat untu
memperjuangkan kepentingannya.
4. Bantuan Hukum Pembentukan Hukum; bantuan hukum yang dimaksudkan untuk
memancing yurisprudensi yang lebih tegas, tepat,jelas dan benar.
5. Bantuan Hukum Pembaruan Hukum; bantuan hukum yang lebih ditujukan bagi
pembaruan hukum, baik itu melalui hakim atau melalui pembentuk undang-undang
(dalam arti materil).36
_______________________
Bantuan hukum di Indonesia- jika bantuan hukum diartikan sebagai charity- sudah ada
sejak datangnya agama Nasrani ke Indonesia tahun 1500-an, bersamaan dengan datangnya
bangsa Portugis,Spanyol, Inggris, dan Belanda.
Kalau kata Charity dikaitkan dengan praktek tolong menolong dalam masyarakat hukum
adat kita, maka lembaga tolong menolong ini adalah juga salah satu bentuk dari bantuan hukum
meski tidak terorganisasi. Andaikata kita bisa menafsirkan gotong royong sebagai bagian dari
bantuan hukum, maka sejarah bantuan hukum Indonesia adalah juga sejarah kehidupan bangsa
Indonesia. Paling tidak kita bisa menganggap kehidupan gotong royong ini sebagai janin bantuan
hukum itu sendiri.37
Karena Indonesia termasuk salah satu dari Negara berkembang yang kondisinya kurang lebih
sama dengan Negara-negara berkembang lainnya di Asia, maka munculnya lembaga-lembaga
bantuan hukum di Indonesia tidak dapat terlepas dari sejarah bantuan hukum di Indonesia.
Seperti diketahui, di Indonesia selain memberlakukan hukum adat dari masing-masing daerah
yang oleh Van Vollen Hoven dibagi ke dalam 19 lingkungan hukum adat, juga memberlakukan
hukum import, yaitu hukum penjajahan Belanda atas negeri jajahannya. Dalam hukum adat tidak
dikenal apa yang disebut “Lembaga Bantuan Hukum”. Hal itu dapat dimengerti karena dalam
hukum adat tidak dikenal lembaga peradilan seperti dalam hukum modern. Penyelesaian perkara
dalam hukum adat kebanyakan diselesaikan lewat pemimpin-pemimpin informal yang
mempunyai kharisma khusus. Indonesia baru mengenal “bantuan hukum” sebagai pranata
hukum taktala Indonesia mulai memberlakukan hukum barat yang bermula pada tahun 1848
ketika di Negeri Belanda terdapat perubahan besar dalam sejarah hukumnya. Berdasarkan asas
_______________________
konkordansi, maka dengan Firman Raja, tanggal 16 Mei 1848 Nomor 1 perundangan baru di
negeri Belanda juga diberlakukan untuk Indonesia, antara lain peraturan tentang Susunan
Kehakiman dan Kebijaksanaan Peradilan ( Reglement op de rechterlijke Organisatie et het beleid
der justitie) yang lazim dikenal dikenal dengan singkatan R.O (Stb, 1847-23 jo 1848-58).38
Pranata Advokat dapat diperkirakan baru dimulai pada tahun-tahun sekitar itu.
Dan pada sekitar tahun 1923, kantor Advokat pertama di buka di Tegal dan Semarang. Tetapi
patut diketahui bahwa politik hukum zaman pemerintahan Hindia Belanda sebelum perang dunia
II, dimana Indonesia diberlakukan IS (Indische Straatsregeling) terutama dalam pasal 163 ayat
(1), membedakan penduduk Indonesia atas 3 golongan, yaitu:
a) Golongan Eropah
Yang termasuk golongan Eropah adalah orang Belanda, dan semua orang bukan Belanda, yang
asalnya dari Eropah, orang-orang Jepang, orang-orang yang tidak berasal dari Belanda tetapi di
negaranya menganut hukum kekeluargaan yang sifat dan coraknya sama dengan Nederland.
b) Golongan Bumi Putera
Yang termasuk golongan Bumi Putera adalah semua orang Indonesia asli dari Indonesia.
c) Golongan Timur Asing
Yang termasuk golongan Timur Asing adalah semua orang yang bukan orang Eropah
dan/atau bukan orang Bumi Putera (Tionghoa, Arab, India, Pakistan, dan sebagainya).
Pembedaan golongan penduduk seperti yang diatur dalam pasal 163 ayat (1) IS tersebut
membawa konsekuensi di bidang hukum, sebab masing-masing golongan ternyata mempunyai
_______________________
38
hukumnya sendiri. Karena hukum acara yang dipakai adalah HIR, maka kesulitan-kesulitan yang
muncul adalah banyaknya ketentuan-ketentuan hukum yang menjamin bantuan hukum tidak ikut
diwarisi dalam ketentuan HIR (lihat pasal 250 HIR) yang justru sangat miskin menjamin
ketentuan-ketentuan mengenai bantuan hukum.
Tentu saja ini dirasa tidak adil oleh golongan Bumi Putera. Kesulitan-kesulitan lain yang
muncul adalah masih langkanya Advokat atau dengan kata lain jumlah Advokat yang praktek
relatif sedikit, sehingga akhirnya yang lebih banyak berperan adalah Pokrol.39
Pada tahun 1927 Pokrol-Pokrol membuat organisasi bernama Persatuan Pengacara
Indonesia (PERPI). Yang menggembirakan adalah meskipun jumlah Advokat Indonesia relatif
sedikit, namun sebagian besar mereka adalah orang-orang pergerakan. Dilihat dari sudut ini tentu
saja sangat menguntungkan karena kualitas pembelaan mereka. Pada saat inilah dapat dikatakan
awal lahirnya bantuan hukum bagi golongan yang tidak mampu. Hal ini mudah dipahami oleh
karena pada waktu itu bangsa Indonesia tidak mampu membayar Advokat-Advokat Belanda
yang mahal. Pada jaman Jepang tidak ada perubahan yang berarti, meskipun peraturan tentang
bantuan hukum peninggalan penjajah Belanda masih tetap diberlakukan. Perhatian terhadap
bantuan hukum boleh dikatakan kurang sekali. Memang hal ini dapat dipahami, karena seluruh
perhatian masih tercurah pada masalah bagaimana mempertahankan kemerdekaan secara fisik
dan politis. Walaupun pluralisme dalam bidang peradilan sudah dihapuskan (hanya ada satu
sistem peradilan untuk seluruh penduduk dan satu hukum acara bagi seluruh penduduk). Dalam
tata cara peradilan yang diambil bukanlah yang berdasarkan pada Raad van Justitie yang sarat
_______________________
39 Frans J.Rengka, Tesis Peranan Lembaga Bantuan Hukum Dalam Proses Peradilan Pidana Sebuah Studi
dengan pengaturan bantuan hukum tetapi justru yang diambil adalah tata cara peradilan
berdasarkan Landraad.
Pemilihan tata cara peradilan yang seperti ini membawa konsekuensi terhadap hukum
acara yang dipakai. Peradilan Raad van Justitie menggunakan Rechtsvordering sebagai hukum
acara yang banyak mengatur ketentuan-ketentuan hukum yang menjamin bantuan hukum,
sedangkan Peradilan Landraad yang menggunakan hukum acara HIR justru sangat miskin
ketentuan-ketentuan tentang bantuan hukum. Pada era Orde Lama kualitas bantuan hukum dapat
dikatakan lebih jelek dibanding dengan jaman penjajahan, akan tetapi dari segi politik terdapat
suatu kemajuan besar. Hal ini karena pada waktu itu dukungan politis dalam perkembangan dan
pertumbuhan bantuan hukum sangat dirasakan. Hanya saja pada masa ini lembaga peradilan tak
bisa mandiri lagi karena sudah dipengaruhi oleh badan eksekutif. Akibatnya adalah keadilan
dikorbankan. Sebagai puncaknya, lahirlah Undang-Undang No.19 tahun 1964 yang
mencerminkan campur tangan pihak eksekutif dalam bidang peradilan. Prof.Satjipto Rahardjo
memberi ilustrasi dengan membuat perbandingan antara Undang-Undang No. 19 tahun 1964
dengan Undang-undang No.14 tahun 1970 (sebuah Undang-undang yang menjamin kemandirian
pengadilan dalam menjalankan tugasnya). Ada 2 aspek yang ingin dibandingkan antara kedua
Undang-undang tersebut. Pertama, dilihat dari fungsinya, Undang-undang No.19 tahun 1964
berfungsi sebagai pengayom dan alat revolusi , sedangkan Undang-undang No. 14 tahun 1970
berfungsi menegakkan hukum dan keadilan berdasarkan Pancasila. Kedua, dilihat dari tujuan,
dari Undang-undang No.14 tahun 1970 adalah untuk terselenggaranya Negara hukum Republik
Indonesia.40
Dalam hukum positif Indonesia soal bantuan hukum ini sudah diatur dalam Pasal 250
Herziene Reglemen (HIR). Pasal ini dalam prakteknya lebih mengutamakan bangsa Belanda
daripada bangsa Indonesia. Daya laku pasal ini terbatas bila para advokat tersedia dan bersedia
membela mereka yang dituduh dan diancam hukuman mati dan atau hukuman seumur hidup.
Meskipun daya laku HIR terbatas, bisa ditafsirkan sebagai awal mula pelembagaan
bantuan hukum kedalam hukum positif kita. Meskipun HIR tidak diperlakukan secara penuh
tetapi HIR adalah pedoman yang tampaknya juga diterima sebagai kenyataan praktek.
Undang-Undang baru mengenai hukum acara belum lagi dilahirkan dan agaknya HIR ini masih tetap
dianggap sebagai pedoman sampai dilahirkannya Undang-Undang No.14/1970 (Undang-Undang
Pokok Kekuasaan Kehakiman), dimana “hak untuk mendapatkan bantuan hukum” itu dijamin
melalui Pasal 35, 36 dan 37.
Pada tahun 1970 ini juga didirikanlah Lembaga Bantuan Hukum sebagai pilot proyek dari
PERADIN (Persatuan Advokat Indonesia) yang dibentuk berdasarkan surat keputusan tanggal
26 Oktober 1970 No.001/Kep/DPP/10/1970. Delapan bulan setelah LBH berdiri di Jakarta, maka
dikeluarkan dugaan dan rencana terjadi perkembangan di daerah-daerah, yakni lahirnya secara
spontan Lembaga-lembaga bantuan hukum di daerah-daerah,yakni lahirnya secara spontan
Lembaga-lembaga Bantuan Hukum di Yogyakarta, Solo, dan kemudian menyusul Palembang.
Disamping itu beberapa kota lainnya daerah-daerah juga sudah mengirim utusannya ke
Lembaga Bantuan Hukum di Jakarta,dengan maksud juga hendak mendirikan semacam
_______________________
Lembaga Bantuan Hukum. Selain itu dilingkungan Fakultas-Fakultas Hukum telah pula
didirikan beberapa Biro atau Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum.
Semenjak tahun 1978 terjadi perkembangan yang cukup menarik bagi bantuan hukum di
Indonesia dengan muculnya berbagai lembaga bantuan hukum dengan menggunakan berbagai
nama. Ada lembaga Bantuan Hukum yang sifatnya independen, ada Lembaga Bantuan Hukum
yang dibentuk oleh suatu organisasi politik atau suatu organisasi massa, ada pula yang dikaitkan
dengan Lembaga pendidikan dan lain sebagainya
Di Medan sendiri terdapat diantaranya adalah LBH Medan. Dengan semangat tinggi
beberapa Advokat dan Pengacara yang ingin menyumbangkan tenaga , maka pada tanggal 28
Januari 1978 diresmikanlah LBH Medan di bawah pimpinan Mahjoedanil,SH. Pimpinan LBH
sejak berdiri hingga sekarang adalah :
1. 1978-1982 : Mahjoedanil, SH
2. 1982-1988 : HM. Kamaluddin Lubis,SH
3. 1988-1990 : Hasanuddin, SH
4. 1990-1991 : Alamsyah Hamdani, SH
5. 1991-1994 : Alamsyah Hamdani, SH
6. 1994-1997 : Alamsyah Hamdani, SH
7. 1997-2000 : Kusbianto,SH
8. 2000-2003 : Irham Buana Nasution,SH
9. 2003-2006 : Irham Buana Nasution,SH
10.2006-2009 : Ikwaluddin Simatupang,SH.,M.Hum
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan yang memiliki 2 (dua) Pos, yaitu LBH Medan
Pos Asahan dan LBH Medan Pos Labuhan Batu adalah Lembaga yang Konsern terhadap
Penegakan Hukum dan Perlindungan/Pemenuhan Hak Asasi Manusia, telah menerima
Pengaduan, Melakukan Pemantauan/monitoring, Penelitian serta Pengkajian terhadap jalannya
proses penegakan hukum yang berkeadilan di tengah-tengah Masyarakat Sumatera Utara.
Beberapa tahun setelahnya , berdiri juga LBH Trisila Sumatera Utara atas prakarsa dari
beberapa orang yang kemudian hari menjadi pendiri LBH ini, yaitu:
1. Teuku Yamli
2. Lundu Panjaitan,S.H.
3. Parlindungan Purba,S.H.
4. Kusbianto,S.H.
5. Boni F. Sianipar,S.H.
6. Armansyah,S.H.
7. Hasan Lumbanraja,S.H.
Saat ini LBH Trisila dipimpin oleh Hasan Lumbanraja, S.H. dengan posisi sebagai
Direktur LBH ini. Lembaga ini juga mempunyai pos di Tarutung yaitu Pos LBH Trisila Tapanuli
dan di Tanjung Balai yaitu Pos LBH Trisila Tanjung Balai.
Dari uraian diatas, tergambar sangat jelas bahwa lahirnya Lembaga Bantuan Hukum di
Indonesia bukan berasal dari inisiatif Negara melainkan berasal dari inisiatif Negara melainkan
berasal dari kesadaran kolektif atas sesuatu yang timpang di masyarakat. Namun demikian
pemerintah juga turut mendukung lahirnya Lembaga-Lembaga Bantuan Hukum di Indonesia
menggembirakan karena hal itu berarti ada perkembangan yang meningkat dalam bantuan
hukum di Negara kita.
B. Perkembangan Lembaga Bantuan Hukum
Perkembangan dari bantuan hukum haruslah dikaji secara terus menerus, karena mungkin
saja perubahan waktu, struktur sosial politik dan kondisi lokal menuntut perubahan pendekatan,
paling tidak dalam tekanan. Sebenarnya kita harus sudah mampu menangkap perbedaan tekanan
bantuan hukum di Jakarta dengan di Padang dan Yogyakarta. Juga bila dikaitkan dengan mereka
yang dibantu bantuan hukum terhadap buruh tani dan terhadap tahanan politik. Jadi mungkin ada
beberapa variasi antara bantuan hukum di satu waktu dan keadaan tertentu, dengan bantuan
hukum di waktu dan keadaan tertentu, dengan bantuan hukum di waktu dan keadaan yang lain.
Diatas segalanya, harus diakui bahwa perbedaan yang ada justru merupakan cerminan
dari perbedaan kondisi sosial politik, ekonomi dan budaya dari satu tempat ke tempat lain. Tidak
di semua daerah bantuan hukum bisa diberikan dengan lancar, dan tidak di semua situasi bantuan
hukum merupakan jalan ke luar. Akibatnya wawasan tentang bantuan hukum memang belum
lagi merata. Masih banyak yang belum mengerti, baik di lingkungan aktivis bantuan hukum,
pejabat maupun rakyat.
Sejak lahirnya Lembaga Bantuan Hukum, telah berhasil tidak saja dalam mendorong dan
mempopulerkan gagasan dan konsep bantuan hukum kepada masyarakat, akan tetapi juga
melalui aktivitasnya dan keberhasilannya ia telah menjadi terkenal dan mendapatkan
kepercayaan masyarakat. Lembaga Bantuan Hukum telah berkembang tidak saja dalam jumlah
dengan sifat dan ruang lingkup Lembaga Bantuan Hukum yang luas.41
Selama pertumbuhan dan perkembangannya yang cepat, Lembaga Bantuan Hukum
sering harus berhadapan dengan penguasa, yang merasa dipermalukan karena Lembaga Bantuan
Hukum bersedia menangani perkara-perkara yang kontroversial. Secara sengaja ataupun tidak,
kepentingan pembelaan perkara menempatkan Lembaga Bantuan Hukum kedudukan yang
konfrontatif dengan penguasa. Dalam dekade awal pembentukannya, dikarenakan bertambah
populernya gagasan dan konsep bantuan hukum serta tanggapan masyarakat terutama di daerah,
maka berdirilah lembaga-lembaga yang lain yang memberi pelayanan bantuan hukum yang
sama. Lembaga Bantuan Hukum yang bernaung dibawah LBH/YLBHI sendiri setelah awal
pertama kalinya didirikan di Jakarta kemudian berkembang hampir di seluruh Indonesia. Sampai
saat ini ada 15 kantor Lembaga Bantuan Hukum di Indonesia mulai dari Aceh,Medan,Padang,
Pekanbaru, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Semarang, Jogya, Surabaya, Bali, Ujung
Pandang, Manado, dan Bali.
Menginjak usia ke-25, Daniel S.Lev, sempat menyatakan, pada saat berdiri tahun 1970,
banyak orang menduga bahwa Lembaga Bantuan Hukum hanya akan bertahan paling lama lima
tahun. Menurut Lev, kemampuan Lembaga Bantuan Hukum tetap tegar berdiri selama 25 tahun
sungguh di luar dugaan. Kini Lembaga Bantuan Hukum sudah memasuki 41 tahun, per 28
Oktober 2011. Akronim atau singkatan Lembaga Bantuan Hukum dapat dikatakan sudah
menjadi singkatan yang diketahui masyarakat luas. Nomor telepon Lembaga Bantuan Hukum di
berbagai provinsi, menjadi salah satu nomor telepon penting dalam Yellow Pages, buku petunjuk
penggunaan telepon terbitan Telkom. Kantor Lembaga Bntuan Hukum dipersamakan dengan
_______________________
41 Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Bantuan Hukum:Akses Masyarakat Marginal Terhadap
kantor polisi atau kantor pemadam kebakaran, penting bagi masyarakat untuk menyimpan atau
mengetahui nomor teleponnya,untuk sewaktu-waktu bisa menghubungi.
Demikian juga , akronim Lembaga Bantuan Hukum telah dimuat dalam Kamus Bahasa
Indonesia-Bahasa Inggris. Menunjukkan singkatan Lembaga Bantuan Hukum telah menjadi
akronim sehari-hari. Bahkan dalam skala regional dan internasional, pelafalan el-be-ha(LBH)
telah dikenal luas, selain pelafalan el-bie-eic(LBH), dalam abjad Inggris. Tidak hanya di tingkat
domestik, Lembaga Bantuan Hukum juga dirujuk oleh publikasi regional dan internasional,
sebagai salah satu lembaga penting yang memberikan pelayanan bantuan hukum, dan kerja hak
asasi manusia.
Terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan Lembaga Bantuan Hukum hingga hari ini
terus kokoh berdiri, diantaranya:42
1. Lembaga Bantuan Hukum Memiliki Karakter dan Ciri Khas
Ketika konsep pendirian Lembaga Bantuan Hukum dipresentasikan pada tahun 1970,
kehadirannya tidak semata-mata menjalankan profesinya sebagai mata pencaharian
belaka atau kemuliaan semata-mata, melainkan berbarengan dengan itu sadar dan
berperan dalam perjuangan memerdekakan bangsanya dari penjajahan dan penindasan
kekuasaan kolonial. Jika diselami, semangat kepeloporan dan kerja keras tanpa
memikirkan upah inilah yang terus menular hingga sekarang ini dan menjadi karakter dan
ciri khas Lembaga Bantuan Hukum. Karakter dan ciri khas Lembaga Bantuan Hukum
banyak dipengaruhi oleh para pendiri dan tokoh masyarakat yang terpandang pada
awal-awal pendiriannya seperti :Lukman Wiriadinata, Yap Thiam Hiem, Suardi Tasrif, Iskak,
_______________________
42
Suyudi, dan Sastro Mulyono.
2. Dukungan Intelektual organik di masanya
Ada banyak akademisi yang berpengaruh dalam membentuk aktivis Lembaga Bantuan
Hukum dalam mengembangkan sekaligus menafsirkan bantuan hokum struktural.
Diantaranya adalah Paul Moedigdo, Soetandyo Wignjosoebroto, Satjipto Rahardjo dan
juga Daniel S. Lev. Para aktivis dan akademisi itulah yang banyak menopang secara
teoritik dan memberikan landasan pengetahuan bagi aktivis Lembaga Bantuan Hukum.
Jika diamati, masing-masing Lembaga Bantuan Hukum mempunyai akademisi penopang
intelektual dan pengetahuan para Advokat dan aktivisnya. Lembaga Bantuan Hukum
Surabaya dengan Soetandyo Wignjosoebroto dan Suwoto Mulyosudarmo. Lembaga
Bantuan Hukum Semarang dengan Satjipto Rahardjo. Lembaga Bantuan Hukum
Bandung dengan Goenawan Wiradi. Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta dengan
Ichlasul Amal. Sementara untuk Lembaga Bantuan Hukum Medan tercatat akademisi
dari Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yaitu Mariam Darus dan M.Solly Lubis
yang banyak mendukung kegiatan Lembaga Bantuan Hukum di era 1980-an dan awal
1990-an.
3. Kepercayaan dan legitimasi dari Masyarakat
Kepercayaan dan legitimasi yang datang dari masyarakat memperkokoh keberadaan dan
kelembagaan Lembaga Bantuan Hukum sebagai sebuah lembaga. Perhatian dari semua
pihak serta dukungannya membuat Lembaga Bantuan Hukum mampu bertahan dan
diharapkan terus berkiprah memberikan bantuan hukum secara Cuma-Cuma kepada
masyarakat miskin, kelompok marginal dan dimarginalkan. Prinsip membela tanpa
prinsip yang harus dipertahankan agar kepercayaan dan legitimasi masyarakat terus
diperoleh. Di awal berdirinya Lembaga Bantuan Hukum, sejumlah kasus yang dapat
mewakili keyakinan pembelaan semacam itu antara lain ditunjukkan oleh para Advokat
publik Lembaga Bantuan Hukum: pembelaan para terdakwa yang dituduh terlibat
G-30-S/PKI, kasus sengketa tanah Halim Perdana Kusumah antara sekitar 500 kepala keluarga
dengan Angkatan Udara Republik Indonesia seluas 1000 ha, pembelaan terhadap
Jenderal H.R.Dharsono dan Hariman Siregar dalam kasus Malari 1974. Di era Orde Baru,
sejumlah kasus besar yang ditangani oleh Lembaga Bantuan Hukum antara lain:
pembelaan terhadap sejumlah aktivis pro-demokrasi, termasuk wartawan/jurnalis yang
dituduh subversif di berbagai kota besar di Indonesia, kasus Poniran di Rantau Prapat,
kasus Soemarni dan kasus komando Jihad yang ditangani oleh LBH Medan. Di era
Milennium kasus yang mengemuka yang ditangani oleh Lembaga Bantuan Hukum antara
lain: kasus Abu Bakar Ba‟asyir dan para aktivis muslim yang ditangkap sewenang -wenang di sejumlah tempat pada tahun 2004. Pembelaan terhadap kasus kebebasan
beragama terhadap Ahmaddiyah dan Lia Eden.
4. Transparansi dan Akuntabilitas
Sejak awal berdirinya Lembaga Bantuan Hukum, tradisi penerbitan laporan keuangan
sudah dilakukan. Pada tahun 2003 Lembaga Bantuan Hukum YLBHI menjadi Lembaga
Swadaya Masyarakat pertama yang mempublikasikan laporan keuangannya di 5 surat
kabar nasional termasuk harian berbahasa Inggris.
5. Dukungan Pendanaan Bagi Aktivitas dan Operasional Bantuan Hukum
Hingga saat ini, keberadaan dan keberlanjutan Lembaga Bantuan Hukum tidak lain
berupa sumbangan dari Dewan Pembina dan badan-badan pengurus Lembaga Bantuan
Hukum, dana sumbangan masyarakat, alokasi anggaran dari pemerintah daerah dan
pendanaan dari lembaga dana internasional.
C. Data Penanganan dan Penyelesaian Perkara Perdata oleh LBH Medan dan LBH
Trisila periode 2008-2011
Berdasarkan hasil penelitian, data penanganan dan penyelesaian perkara oleh LBH
Medan adalah sebagai berikut :
Tabel 1
Jumlah Kasus Per Tahun Yang Ditangani LBH Medan
No. Tahun Jumlah Kasus
1. 2008 257
2. 2009 158
3. 2010 249
4. 2011 266
Sumber : LBH Medan 2012
Dari data tersebut diatas tidak ditemukan secara lengkap rincian kasus-kasus-kasus yang
ditangani oleh LBH Medan mulai periode 2008-2011, pada tahun 2009 dari 158 kasus yang
ditangani oleh LBH Medan ada sekitar 85 kasus pidana dan 73 kasus perdata yang ditangani oleh
LBH Medan. Tapi rincian ini tidak dapat ditentukan berapa yang terselesaikan pada tingkat
Konsultasi, berapa pada Tingkat Kepolisian dan berapa yang sampai ke Pengadilan. Pada tahun
2010 terdapat rincian yang cukup jelas yaitu dari total 249 kasus yang diterima oleh LBH
Medan, ada sekitar 163 perkara pidana yang terbagi menjadi 3 tingkatan yakni pada tingkat
Konsultasi terdapat 109 kasus dan pada tingkat Kepolisian terdapat 23 kasus serta di tingkat
Pengadilan sebanyak 11 kasus. Sedangkan sisanya ada sekitar 86 perkara perdata yang juga
dibagi dalam 3 tingkatan yaitu pada Tingkat Konsultasi ada sebanyak 67 kasus, pada tingkat
surat-menyurat sebanyak 7 kasus dan pada Tingkat Pengadilan sebanyak 11 kasus. Dan pada
Konsultasi sebanyak 73 kasus, dan pada tingkat Pengadilan sebanyak 40 kasus. Selebihnya
terdapat 153 kasus Perdata yang terbagi dalam tingkat Konsultasi sebanyak 132 kasus, pada
tingkat surat–menyurat sebanyak 19 kasus, dan pada Pengadilan sebanyak 2 kasus. Kasus menarik yang menjadi perhatian publik adalah Gugatan 1.219 warga Kota Medan pada Januari
2011, yang diwakili oleh Kuasa hukumnya LBH Medan, melalui mekanisme Gugatan Citizen
Law Suite terhadap Pemko Medan terkait Kasus Penerimaan CPNS Pemko Medan, yang sarat
dengan dugaan Manipulasi data kelulusan para Peserta, yang berakibat pada diajukannya gugatan
Citizen Law Suite ke Pengadilan Negeri Medan. Dalam kasus tersebut Putusan Majelis Hakim
Pengadilan Negeri Medan memenangkan para Penggugat yang diwakili oleh Lembaga Bantuan
Hukum (LBH) Medan, dengan menyatakan Pemko Medan Melawan hukum Dan Diperintahkan
Memohon Maaf kepada korban manipulasi penerimaan CPNS.
Adapun data penanganan dan penyelesaian perkara oleh LBH Trisila :
Tabel 2
Jumlah Kasus Per Tahun Yang Ditangani LBH Trisila
No. Tahun Jumlah Kasus
1. 2008 115
2. 2009 97
3. 2010 132
4. 2011 111
Sumber : LBH Trisila 2012
Dari data tersebut diatas juga tidak ditemukan rincian yang cukup jelas dan lengkap
kasus-kasus yang ditangani oleh LBH Trisila mulai periode tahun 2008-2011, hanya pada tahun
2010 terdapat rinciannya yaitu dari 132 kasus yang diterima oleh LBH Trisila ada sekitar 57
kasus pidana dan 75 kasus perdata, namun tidak terdapat rincian berapa yang terselesaikan pada
Tingkat Konsultasi, berada pada Tingkat Kepolisian maupun Pengadilan. Tapi pada tahun 2011,
rincian kasus yang masuk ke LBH Trisila cukup jelas, dimana dari 111 kasus yang masuk,
30 kasus, pada tingkat Kepolisian sebanyak 15 kasus serta di Tingkat Pengadilan sebanyak 5
kasus. Sedangkan sisanya pada kasus perdata sebanyak 61 kasus yang juga terbagi dalam 3
tingkatan, pada Tingkat Konsultasi sebanyak 45 kasus, pada tingkat surat-menyurat sebanyak 13
kasus, dan pada Tingkat Pengadilan sebanyak 3 kasus. Minimnya kasus-kasus yang ditangani
oleh LBH Medan maupun LBH Trisila pada tingkat pengadilan memberikan cerminan bahwa
masyarakat cenderung menyukai penyelesaian perkaranya diselesaikan lewat jalur perdamaian
dan tidak sedikit juga yang tidak mau melanjutkan perkaranya ke tingkat pengadilan karena
terkesan pasrah dengan perkaranya yang berpikir tidak ada gunanya untuk dilanjutkan ke tingkat
Pengadilan.
FUNGSI DAN PERANAN LEMBAGA BANTUAN HUKUM
DALAM MEMBANTU PROSES PENYELESAIAN PERKARA
PERDATA
A. Fungsi LBH Dalam Proses Penyelesaian Perkara Perdata
Fungsi merupakan pelaksanaan dari tujuan yang hendak dicapai. Fungsi merealisir
tujuan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Untuk mengetahui fungsi dari Lembaga Bantuan
Hukum perlu untuk mengetahui tujuan dari pembentukan Lembaga Bantuan Hukum terlebih
dahulu. Tujuan dari pembentukan Lembaga Bantuan Hukum adalah:
1. Memberikan bantuan hukum kepada masyarakat miskin dan buta hukum
2. Menumbuhkan dan membina kesadaran warga masyarakat akan hak-hak sebagai subjek
hukum
3. Mengadakan pembaharuan hukum sesuai dengan tuntutan zaman.
Adapun yang menjadi fungsi Lembaga Bantuan Hukum sehubungan dengan tujuan
Lembaga Bantuan Hukum adalah sebagai berikut:43
a) Public Services
Hal ini sehubungan dengan kondisi sosial ekonomis dimana karena sebagian besar dari
masyarakat kita tergolong tidak mampu atau kurang mampu untuk menggunakan dan
membayar jasa Advokat, maka Lembaga Bantuan Hukum memberikan jasa-jasanya
dengan Cuma-Cuma.
_______________________
b) Social education
Ini sehubungan dengan kondisi sosial kultural, dimana Lembaga Bantuan Hukum dengan
suatu perencanaan yang matang dan sistematis serta metode kerja yang praktis harus
memberikan penerangan-penerangan dan petunjuk-petunjuk untuk mendidik masyarakat
agar lebih sadar dan mengerti hak-hak dan kewajiban-kewajibannya menurut hukum,
sehingga dengan demikian sekaligus menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran
hukum masyarakat. Social education di bidang hukum ini adalah tidak mudah karena
menyangkut mentalitas sikap dan nilai-nilai yang berlaku sekarang dalam masyarakat.
Mentalitas takut, khawatir, segan, perasaan malu bahkan prejudice terhadap segala
sesuatu yang berhubungan dengan hukum dan proses peradilan karena takut
terbawa-bawa harus diubah, menjadi keberanian dan kemauan untuk menyelesaikan segala
sesuatu menurut hukum.
c) Perbaikan tertib hukum
Ini sehubungan dengan kondisi sosial politik, dimana peranan lembaga tidak hanya
terbatas pada perbaikan-perbaikan di bidang peradilan pada umumnya dan profesi
pembelaan pada khususnya, akan tetapi juga dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan
ombudsman selaku partisipasi masyarakat dalam bentuk kontrol dengan kritik-kritik dan
saran-sarannya untuk memperbaiki kepincangan-kepincangan ataupun mengoreksi
tindakan-tindakan penguasa yang merugikan masyarakat.
d) Pembaharuan hukum
Dari pengalaman-pengalaman praktis dalam melaksanakan fungsinya lembaga
menemukan peraturan-peraturan hukum yang sudah usang tidak memenuhi kebutuhan,
Berdasarkan pengalaman ini lembaga dapat mempelopori usul-usul perubahan
Undang-undang kearah pembaharuan hukum sesuai dengan atau untuk memenuhi
kebutuhan-kebutuhan baru dalam masa pembangunan sekarang ini. Usul-usul perubahan
Undang-undang ini tidak perlu dan tidak mungkin mencakup keseluruhan tata hukum, namun
cukuplah dengan perubahan praktis dan urgen. Dalam hal ini lembaga dapat bekerja sama
dengan fakultas-fakultas hukum dalam memikirkan usaha-usaha pembaharuan hukum.
e) Practical training
Fungsi terakhir yang tidak kalah pentingnya bahkan diperlukan oleh lembaga dalam
mendekatkan dirinya dan menjaga hubungan baik dengan sentrum-sentrum ilmu
pengetahuan adalah kerjasama antara lembaga dengan Fakultas-fakultas Hukum
setempat. Kerjasama ini dapat menguntungkan kedua belah pihak. Bagi fakultas-fakultas
hukum, lembaga dapat dijadikan tempat latihan praktek bagi para mahasiswa-mahasiswa
hukum dalam rangka mempersiapkan dirinya menjadi sarjana hukum dimana para
mahasiswa dapat menguji teori-teori yang dipelajari dengan kenyataan-kenyataan dan
kebutuhan-kebutuhan dalam praktek dan dengan demikian sekaligus mendapatkan
pengalaman. Bagi lembaga, kerjasama diharapkan akan membawa efek turut menjaga
idealisme lembaga, disamping memperoleh sumbangan-sumbangan pikiran dan
saran-saran ilmiah maupun partisipasi tenaga mahasiswa untuk perkembangan dan kemajuan
bangsa.
Dalam praktek menangani perkara perdata pada dasarnya LBH yang berfungsi sebagai
advokat hanya sebagai kuasa dari seorang klien yang memberikan kuasanya kepada advokat
untuk menyelesaikan, membela hak-haknya dalam perkaranya baik didalam pengadilan maupun
kuasa ini sifatnya hanya kepercayaan antara klien dan advokat. dalam menangani
perkara-perkara perdata harus diutamakan menempuh jalan perdamaian. Kode etik juga tidak
membenarkan seorang advokat dalam hal ini LBH memberikan janji-janji kepada klien bahwa
perkaranya akan dimenangkan ataupun janji-janji lain yang bersifat memberikan harapan. LBH
sebagai Advokat hanya boleh menjanjikan bahwa perkarannya akan diurus sebaik-baiknya
dengan mengarahkan segala daya kemampuannya guna memenangkan perkaranya. Adapun
fungsi dari LBH dalam proses penyelesaian perkara perdata didasarkan pada jasa hukum yang
diberikannya yang meliputi:
a) Memberikan konsultasi terhadap permasalahan dan kepentingan hukum klien
b) Mewakili dan membela kepentingan hukum klien di dalam maupun di luar pengadilan
c) Mendampingi klien yang buta hukum dalam proses peradilan, agar klien tidak
dibingungkan dengan prosedur yang ada
d) Mempersiapkan dokumen yang diperlukan dalam proses peradilan.
Semua jasa yang diberikan oleh LBH ini diberikan secara Cuma Cuma dan dalam
peradilan perdata, yang dimana hakim mengejar kebenaran formil, yakni kebenaran yang hanya
didasarkan pada bukti-bukti yang diajukan di depan sidang pengadilan sehingga penting sekali
fungsi LBH sebagai pendamping dari kliennya yang buta hukum untuk melewati setiap proses
peradilan dengan prosedur yang benar.
B. Peranan LBH Dalam Proses Penyelesaian Perkara Perdata
Adakalanya peranan lembaga bantuan hukum merupakan nama lain dari suatu
Ombudsman. Dewasa ini Ombudsman berarti semacam lembaga resmi dalam pemerintahan yang
pemerintahan. Jika pengaduan yang dimaksud benar, maka Ombudsman membuat rekomendasi
untuk menyelesaikan pengaduan tersebut. Lembaga ini berasal dari Swedia, tercipta pada tahun
1809, kemudian berkembang di berbagai negeri dalam berbagai bentuk dan variasi, di bawah
sistem hukum yang berbeda-beda.
Di negara baru, keterlibatan pemerintah yang terlalu jauh ke dalam segala sektor
kehidupan, acapkali menimbulkan ekses-ekses yang membawa kecemasan-kecemasan baru,
sehingga apabila dihubungkan dengan struktur kekuasaan yang ada, maka pertanyaan “siapa
yang memerintah siapa” atau “siapa yang mengontrol siapa” menjadi amat relevan.
Dalam prakteknya, lembaga bantuan hukum tidak saja berurusan dengan soal-soal di
meja hijau pengadilan, tetapi juga tak dapat mengelakkan diri untuk menangani pula masalah
masalah penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang dari badan atau pejabat-pejabat pemerintah
sendiri, bahkan juga oleh yang lazim disebut sebagai “oknum” alat negara. Sebagai contoh,
sering terjadi pejabat menggunakan jabatan resmi dari lembaganya, hanya untuk menyelesaikan
soal-soal pribadi. Sebagian besar anggota masyarakat merasa takut kalau ia diharuskan datang ke
sebuah kantor alat negara polisi atau militer dengan surat panggilan resmi, apalagi tanpa
menyebut dalam perkara apa dan untuk apa ia dipanggil. Pernah terjadi panggilan semacam itu
hanya untuk memaksakan suatu penyelesaian hutang piutang pribadi, yang sama sekali tidak ada
hubungannya dengan badan resmi tersebut. Tidak jarang pula pejabat-pejabat melampaui
wewenangnya dalam menjalankan tindakan-tindakan administratif.
Contoh lain adalah pemecatan-pemecatan yang dilakukan sementara pejabat tanpa
melalui prosedur yang telah ditentukan. Ombudsman, jika ia ada, biasanya bertugas menerima
pengaduan dan membuat rekomendasi untuk menyelesaikan masalah-masalah di atas. Hal lain
karena belum berperannya Hukum Administrasi. Bilamana Hukum Administrasi sudah efektif
dan pengadilan administrasi juga memainkan peranannya, maka kasus-kasus yang menyangkut
salah tindak administrasi yang terkadang amat besar pengaruhnya akan bisa diselesaikan. Untuk
sementara lembaga bantuan hukum menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan
memberikan advis dan nasihat, melakukan teguran kepada yang bersangkutan, mengajukan
“appeal” kepada atasannya, atau membuka masalahnya kepada umum melalui bantuan media
pers, dan jika keempat jalan terdahulu tidak berhasil, LBH mengajukan masalahnya ke depan
pengadilan negeri sebagaimana perkara-perkara lainnya.
Di dalam azas-azas serta sifat beracara di muka Pengadilan dalam perkara Perdata tidak
diwajibkan menunjuk kuasa hukum atau Penasihat Hukum. Walaupun demikian, para pihak yang
berperkara-jika mereka menghendaki-boleh diwakili oleh kuasanya (Pasal 123 HIR/Pasal 147
RBg). Sistem Hukum Acara Perdata ini berbeda dengan sistem hukum Hukum Acaa Perdata
dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) yang mewajibkan para pihak yang
berperkara untuk mewakilkan kepada seorang ahli hukum (procureur) dalam beracara di muka
Pengadilan. Perwakilan ini merupakan keharusan yang mutlak dengan akibat batalnya tuntutan
(Pasal 106 ayat (1) Rv) atau diputuskan diluar hadirnya tergugat (Pasal 109 Rv) apabila para
pihak ternyata tidak diwakili. Sistem yang mewajibkan bantuan dari seorang ahli hukum dalam
Rv ini didasarkan atas pertimbangan, bahwa di dalam suatu proses yang memerlukan
pengetahuan hukum dan kecakapan teknis, maka para pihak yang berperkara perlu dibantu oleh
seorang ahli hukum agar segala sesuatunya dapat berjalan lancar dan putusan dijatuhkan dengan
seadil-adilnya. Jika ada seseorang yang meminta untuk diwakili oleh seseorang Advokat – Pengacara secara Cuma-Cuma (Prodeo), Ketua Pengadilan Negeri tidak dapat menunjuk LBH
sendiri ke kantor Advokat-Pengacara setempat kalau Penggugat atau Tergugat mampu
membayar uang jasanya dan jika Penggugat atau Tergugat tidak mampu membayar uang jasa
Advokat dapat minta bantuan hukum kepada LBH atau Lembaga yang melayani bantuan hukum
setempat.
Karena dalam perkara perdata inisiatif mengajukan gugatan datangnya dari pihak yang
bersangkutan atau dari pihak yang merasa haknya dilanggar atau dirugikan oleh orang lain.
Untuk itu dalam mencari bantuan hukum juga harus mencari sendiri tidak dicarikan oleh Hakim.
Hal ini juga menjadi Peranan Lembaga Bantuan Hukum untuk lebih memberikan sosialisasi
kepada masyarakat terkhusus yang miskin ataupun yang buta hukum bahwa mereka juga
mempunyai hak mendapatkan bantuan hukum, tidak pasrah karena tidak dapat membayar jasa
Advokat
Baik LBH Medan dan LBH Trisila Sumatera Utara sering dalam kegiatannya membantu
proses penyelesaian perkara perdata terhadap kliennya, yaitu dalam perkara-perkara perceraian,
sengketa tanah, Perselisihan Hubungan Industrial, wanprestasi maupun kasus terkenal seperti
kasus Penerimaan CPNS Pemko Medan tahun 2010 yang ditangani oleh LBH Medan . Sebagai
contoh peranan LBH dalam menyelesaikan perkara perdata ini terlihat dalam bantuan hukum
yang diberikan LBH Trisila Sumatera Utara kepada kliennya dalam perkara perselisihan
hubungan industrial yang telah berkekuatan hukum tetap dengan Nomor Putusan:
117/G/2011/PHI.Mdn. sebelum LBH ini masuk dalam proses peradilan perdata yang
menyangkut kegiatan-kegiatan dari badan peradilan perdata, LBH ini telah memberikan
konsultasi maupun nasihat hukum agar tercapai perdamaian antara kliennya dan pihak yang
berpekara dengan kliennya. Namun, hal itu tidak terjadi dan LBH ini masuk lebih dalam
perdata. Dalam proses peradilan perdata ini terdiri dari tahap-tahap yang dilewati untuk
menyelesaikan perkara tersebut. Adapun tahap-tahap ini dimulai dari tahap pengajuan Gugatan,
Pemeriksaan di Muka Pengadilan, dan Pelaksanaan Putusan Pengadilan. Dalam tahapan inilah
Lembaga Bantuan Hukum ini sebagai Advokat menjalankan peranannya. Tahapan ini dapat
dijelaskan sebagai berikut.
1. Tahap Pengajuan Gugatan
Setiap proses perkara perdata di muka Pengadilan Negeri dimulai dengan pengajuan surat
gugatan oleh Penggugat. Surat gugatan yang diajukan harus jelas, tidak boleh kabur atau
samar-samar (tidak jelas) baik subyek hukumnya, obyek sengketanya maupun apa-apa yang yang
dituntut oleh Penggugat. Oleh sebab itu Penggugat dalam mengajukan surat gugatan
memerlukan kecakapan teknis dari ahli hukum untuk memmbuat surat gugatannya dengan benar.
Selain itu, dengan adanya ahli hukum ini juga bermanfaat dalam pemeriksaan perdata di
pengadilan. Sebab, bagi kepentingan pemeriksaan perkara perdata, hakim membutuhkan dari
pihak-pihak yang berperkara suatu penjelasan dan keterangan tentang beberapa hal yang harus
diketahui guna memberikan putusan yang tepat. orang yang tidak mengerti peraturan hukum
mungkin sekali memberikan penjelasan dan keterangan yang tidak perlu dan tidak berguna
diketahui, bahkan mungkin merugikan kepentingan pihak yang bersangkutan. Berkaitan dengan
hal tersebut maka peranan Lembaga Bantuan Hukum sebagai Advokat adalah harus dapat
memastikan dan memperkuat dasar pengajuan gugatan agar diterima.
2.Tahap Pemeriksaan di Muka Pengadilan
Dalam tahap ini terdapat tata urutan perdangan perkara perdata yang harus diikuti pihak
yang berperkara, dimulai dari 1) Sidang Pertama, dimana LBH sebagai Advokat turut sert
untuk melakukan usaha perdamaian. 2) Apabila tidak tercapai kesepakatan damai maka sidang
dilanjutkan dengan pembacaan surat gugat oleh penggugat/kuasanya; 3) Apabila perdamaian
berhasil maka dibacakan dalam persidangan dalam bentuk akta perdamaian yang bertitel DEMI
KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YME. Apabila tidak ada perubahan acara
selanjutnya jawaban dari tergugat (jawaban berisi eksepsi, bantahan, permohonan putusan
provisionil, gugatan rekonvensi); 4) Apabila ada gugatan rekonvensi tergugat juga berposisi
sebagai penggugat rekonvensi dilanjutkan Replik dari penggugat, apabila digugat rekonvensi
maka ia berkedudukan sebagai tergugat rekonvensi. 5) Pada saat surat menyurat (jawab
menjawab) ada kemungkinan ada gugatan intervensi (voeging, vrijwaring, toesenkomst).6)
Sebelum pembuktian ada kemungkinan muncul putusan sela (putusan provisionil, putusan
tentang dikabulkannya eksepsi absolut, atau ada gugat intervensi).7) Pembuktian, Dimulai dari
penggugat berupa surat bukti dan saksi dilanjutkan dari tergugat berupa surat bukti dan saksi. 8)
kemudian, dilakukan kesimpulan oleh masing-masing pihak 9) pembacaan putusan oleh Majelis
Hakim. Atas putusan ini para pihak diberitahu hak-haknya apakah akan menerima, pikir-pikir
atau akan banding. Apabila pikir-pikir maka diberi waktu selama 14 hari;
Hakim dalam kewenangannya menerima, memeriksa, dan mengadili serta
menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Hakim menerima perkara, jadi dalam
hal ini sikapnya adalah pasif atau menunggu adanya perkara diajukan kepadanya dan tidak aktif
mencari atau mengejar perkara. Kemudian hakim meneliti perkara dan akhirnya mengadili yang
berarti memberi kepada yang berkepentingan hak atau hukumnya. Maka dalam hal ini peranan
Lembaga Bantuan Hukum sebagai Advokat adalah membantu kliennya memberikan kebenaran
dari bukti-bukti yang diajukan di sidang Pengadilan. Pada tahap ini Lembaga Bantuan Hukum
3.Tahap Pelaksanaan Putusan Pengadilan
Penggugat yang mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri tentunya bermaksud untuk
memulihkan kembali hak perdatanya yang telah dirugikan oleh Tergugat. Oleh karena itu ia tidak
saja menharapkan agar segala tuntutannya dalam gugatan dapat dikabulkan, tetapi juga
mengharapkan putusan pengadilan yang mengabulkan tuntutannya itu dapat dilaksanakan. Setiap
putusan haruslah dapat dieksekusi atau dilaksanakan, karena tidak akan ada artinya jika putusan
tidak dapat dieksekusi. Putusan hakim itu sewaktu-waktu akan menjadi putusan yang
berkekuatan hukum tetap ( inkracht van gewijsde). Namun, bisa saja tidak dapat dilaksanakan,
misalnya dalam pembayaran sejumlah uang Tergugat tidak mempunyai harta kekayaan lagi yang
dapat dilelang. Oleh sebab itu undang-undang menyediakan upaya hukum bagi penggugat agar
terjamin haknya sekiranya gugatannya dikabulkan nanti, yaitu sita jaminan. Sita jaminan
merupakan tindakan persiapan untuk menjamin dapat dilaksanakannya putusan pengadilan
perdata di kemudian hari. Adapun setiap putusan dalam perkara Perdata mempunyai
macam-macam kekuatan, diantaranya kekuatan mengikat dan kekuatan Eksekutorial.
Kekuatan mengikat terjadi saat sudah tidak lagi ada upaya hukum verzet, banding atau
kasasi sehingga putusan ini sudah pasti dan mengikat. Namun, kekuatan mengikat saja belum
cukup bila tidak direalisir. Oleh karena itu putusan Hakim yang berkekuatan hukum tetap juga
dapat dilaksanakan, jika perlu dengan upaya paksa.hal inilah yang dimaksud dengan kekuatan
eksekutorial. Maka dalam hal ini peranan Lembaga Bantuan Hukum sebagai Advokat adalah
memastikan putusan yang diberikan dapat terlaksana jika gugatannya dikabulkan dan jika
Penggugat tidak puas akan putusan tersebut, maka peranan Lembaga Bantuan Hukum adalah
mengajukan upaya hukum banding, kasasi maupun peninjauan kembali sampai akhirnya
Lembaga Bantuan Hukum sebagai lembaga yang memberikan bantuan hokum memiliki
peranan yang cukup signifikan dalam proses peradilan perdata. Peranan ini diarahkan pada hal
yang bersifat teknis yang tentu sulit dipahami oleh orang-orang awam di bidang hukum.
Dari apa yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa peranan Lembaga Bantuan
Hukum sebagai Advokat adalah :
1. Menjamin penggugat dapat melewati prosedur persidangan dengan benar.
2. Membantu hakim dalam menemukan kebenaran formil dalam suatu perkara yang
ditanganinya.
Perlu juga diperhatikan bahwa penyelesaian perkara perdata dalam bantuan hukum ini
tidak dapat berdiri sendiri. Hal ini disebabkan karena kecenderungan penyelesaian perkara
perdata masih memerlukan upaya hukum yang lain, salah satunya adalah Hukum Administrasi
misalnya pelaksanaan dari putusan dari Pengadilan masih memerlukan proses lagi agar hasil
putusan dapat dilakukan dalam artian proses penyelesaian perkara perdata belum dikatakan
selesai pada waktu diumumkan hasil putusan tapi pada saat hasil dari putusan itu telah
dilaksanakan secara tuntas . disebutkan bahwa kalau hanya berpegang pada penyelesaian perkara
perdata dalam bantuan hukum ini cenderung menghilangkan semangat yang diusung LBH itu
sendiri.44
Dan lagi penyelesaian perkara perdata juga merupakan salah satu opsi yang dipersiapkan
LBH dalam menangani perkara yang dihadapinya. Dalam artian jika perkara perdata ini
menyentuh bidang pidana, bukan tidak mungkin penyelesaian perkara juga diselesaikan secara
pidana.
_______________________
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Gambaran umum tentang Lembaga Bantuan Hukum dalam Undang-Undang tentang
Bantuan Hukum adalah Lembaga Bantuan Hukum merupakan salah satu Pemberi
Bantuan Hukum yang dimaksud pada Undang-Undang ini selain organisasi
kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan hukum. Lembaga Bantuan Hukum dalam
menyelenggarakan bantuan hukum cenderung memakai jasa Advokat dan Paralegal
dengan catatan Paralegal tersebut disupervisi oleh Lembaga Bantuan Hukum tersebut.
Namun untuk Penerima Bantuan Hukum belum dapat dijelaskan secara spesifik dalam
Undang-Undang ini, sehingga Lembaga Bantuan Hukum harus memberikan batasan
tertentu siapa saja yang pantas diberi bantuan hukum.Hak dan kewajiban Lembaga
Bantuan Hukum dalam menyelenggarakan bantuan hukum dalam undang-undang ini
sebenarnya sudah dilakukan jauh-jauh hari sebelum adanya Undang-Undang tentang
Bantuan Hukum ini. Dan tata cara pelaksanaan bantuan hukum dalam undang-undang ini
sudah diakomodir untuk memudahkan para Penerima Bantuan Hukum dengan adanya
Bantuan Hukum yang dapat dimintakan ke Pengadilan atau ke Lembaga Bantuan Hukum.
2. Sejarah dan perkembangan Lembaga Bantuan Hukum menunjukkan bahwa rakyat kecil
masih merasa hukum bukan hak mereka sebagai warga negara. Ketidakadilan hukum
inilah yang membuat rakyat kecil tidak dapat menikmati haknya dalam mendapatkan
bantuan hukum. Fakta inilah yang melahirkan Lembaga Bantuan Hukum di Indonesia.
pemikiran kolektif akan adanya ketimpangan dalam masyarakat. Lembaga Bantuan
Hukum mengalami perkembangan yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat.
3. Fungsi dan peranan Lembaga Bantuan Hukum adalah menyadarkan masyarakat akan
hak-haknya ketika mengalami perkara dalam bidang hukum.Fungsi dan peranan
Lembaga Bantuan Hukum sangat membantu terciptanya keseimbangan dalam masyarakat
karena berorientasi pada masyarakat yang miskin dan buta hukum. Dalam
pelaksanaannya fungsi dan peranan Lembaga Bantuan Hukum Medan dan Lembaga
Hukum Trisila masih belum maksimal dikerjakan. Walaupun penanganan kasusnya per
tahun sudah cukup banyak namun dalam pelaksanaan, namun dalam penyelesaian
kasus-kasus ini Lembaga Bantuan Hukum belum dapat memberikan penyadaran hukum kepada
kliennya, yang sering pasrah akan perkara yang dihadapinya. Belum lagi dalam
pelaksanaan putusan dalam peradilan perdata yang masih memerlukan usaha hukum
lainnya untuk memastikan putusan dapat terlaksana, Lembaga Bantuan Hukum masih
menemukan kasus dimana hasil putusan tersebut tidak dijalankan. Oleh sebab itu
Lembaga Bantuan Hukum masih mempunyai fungsi dan peranan untuk mewakili
kliennya sampai perkara yang ditanganinnya benar-benar selesai.
B. Saran
1. Perlu pengaturan yang lebih spesifik dan mendetil lagi untuk Undang-undang tentang
Bantuan Hukum ini, salah satu yang bisa menjadi solusi adalah dengan membuat
Peraturan Pelaksananya.
2. Perlu tanggung jawab yang lebih besar dari Negara dalam memberikan bantuan hukum
3. Dalam menjalankan fungsi dan peranannya, Lembaga Bantuan Hukum perlu lebih turun
ke masyarakat agar dapat lebih menyadarkan masyarakat akan hak-hak mereka dalam
bantuan hukum. Dalam lingkup peradilan perdata yang ditangani Lembaga Bantuan
Hukum juga dapat fleksibel sehingga upaya hukum yang sering diperlukan dalam
BAB II
Pemberi Bantuan Hukum secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum.Sebelum adanya Undang-Undang ini, pengertian dari bantuan hukum belum menemukan defenisi yang jelas. Hal ini disebabkan karena belum adanya pengaturan yang secara khusus mengatur tentang bantuan hukum itu sendiri walaupun pemberian bantuan hukum sudah lama berkembang di Negara ini. Beberapa peraturan perundang-undangan yang memuat tentang bantuan hukum sebelum lahirnya Undang-undang tentang Bantuan Hukum hanya dapat menjelaskan sedikit dan tidak secara spesifik apa yang dimaksud dengan bantuan hukum. Menurut pasal 22 Undang-Undang Advokat, yaitu Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 yang dimaksud dengan Bantuan Hukum adalah jasa hukum yang diberikan oleh Advokat secara cuma-cuma kepada Klien yang tidak mampu. Di dalam Undang-Undang Advokat ini hanya memuat 1 pasal saja mengenai bantuan hukum, yaitu hanya di pasal 22. Penjelasan lebih lanjut dari Bantuan Hukum berdasarkan Undang-Undang ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 83 tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum secara Cuma-Cuma.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 83 tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata cara Pemberian Bantuan Hukum secara cuma-cuma, Bantuan Hukum Secara cuma-cuma adalah jasa hukum yang diberikan Advokat tanpa menerima pembayaran honorarium meliputi pemberian konsultasi hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan pencari keadilan yang tidak mampu.
Meskipun tidak secara khusus menjelaskan tentang bantuan hukum, namun pengertian mengenai bantuan hukum yang dikemukakan pada Undang-Undang Nomor 18 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah Nomor 83 tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum secara cuma-cuma sudah mengarah kepada pengertian bantuan hukum yang dikemukakan dalam Undang-Undang nomor 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum.
Tapi, jika kita merunut ke belakang ,sebelum adanya peraturan perundang-undangan diatas dikalangan profesi hukum belum menemukan defenisi yang jelas mengenai bantuan hukum, padahal pemberian bantuan hukum itu sendiri sudah dilakukan lama sekali. Oleh karena itu, kalangan profesi hukum mencoba membuat dasar dari pengertian bantuan hukum tersebut.
kepada seorang pencari keadilan yang tidak mampu dan sedang menghadapi kesulitan dibidang hukum diluar maupun di muka pengadilan tanpa imbalan jasa.25
Pengertian bantuan hukum yang lingkup kegiatannya cukup luas ditetapkan dalam Lokakarya Bantuan Hukum Tingkat Nasional tahun 1978 yang menyatakan bahwa bantuan hukum merupakan kegiatan pelayanan hukum yang diberikan kepada golongan yang tidak mampu (miskin) baik secara perorangan maupun kepada kelompok-kelompok masyarakat tidak mampu secara kolektif. Lingkup kegiatan meliputi pembelaan, perwakilan baik diluar maupun didalam pengadilan, pendidikan, penelitian, dan penyebaran gagasan.26 Berbicara tentang istilah bantuan hukum adalah memberikan nasehat hukum secara cuma-cuma. Termasuk dalam hal pembelaan pada acara persidangan di pengadilan. Maksud pembelaan disini tidak ditafsirkan sebagai pembelaan yang “membabi buta”. Seperti melakukan pembelaan terhadap kesalahan atau pelanggaran hukum yang dilakukan terdakwa atau tersangka, sehingga ia dapat bebas dari tuntutan. Tetapi pembelaan yang diharapkan adalah upaya mendapatkan keadilan yang diperolehnya berupa hukuman yang setimpal berdasarkan berat ringan kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan.27
Dalam hal ini pengertian dari bantuan hukum belum dapat didefinisikan dengan jelas namun secara umum dapat dikatakan bahwa bantuan hukum adalah bantuan memberikan jasa untuk :
1. Memberikan nasehat hukum ;
2. Bertindak sebagai pendamping bagi mereka yang tidak mampu maupun yang buta hukum.
B. SUBJEK PEMBERI BANTUAN HUKUM
Pada prinsipnya setiap orang dapat memberikan bantuan hukum bilamana ia mempunyai keahlian dalam bidang hukum, akan tetapi demi tertibnya pelaksanaan bantuan hukum diberikan batasan dan persyaratan dalam berbagai peraturan. Persoalan selanjutnya adalah siapa yang seharusnya bertindak untuk menjadi pelaksana pemberi bantuan hukum di negara kita sekarang ini, mengingat banyaknya dan beraneka ragam para pemberi bantuan hukum yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
1. Advokat yang nerupakan anggota suatu organisasi Advokat dan juga menjadi anggota
Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
2. Advokat yang merupakan anggota suatu organisasi Advokat dan bukan menjadi anggota
Lembaga Bantuan Hukum (LBH).
3. Advokat yang bertindak sebagai Penasehat Hukum dari suatu perusahaan.
_______________________
4. Advokat yang tidak menjadi anggota perkumpulan manapun.
5. Pengacara Praktek atau Pokrol.
6. Sarjana-sarjana hukum yang bekerja pada biro-biro hukum/instansi pemerintah.
7. Dosen-dosen dan Mahasiswa-mahasiswa Fakultas Hukum.
8.
Konsultan-Konsultan Hukum.28
Klasifikasi yang disebutkan diatas memang dapat bertindak sebagai pemberi bantuan hukum pada umumnya, tetapi apakah mereka juga yang bertindak sebagai pemberi bantuan hukum bagi golongan miskin (public defender)?. Dalam hal ini, penanganan bantuan hukum kepada golongan miskin sudah seharusnya dilakukan oleh tenaga-tenaga professional, yaitu mereka yang bukan hanya berpendidikan sarjana hukum saja tetapi menekuni pemberian bantuan hukum sebagai pekerjaan pokok mereka sehari-hari. Hal demikian adalah idealnya daripada program bantuan hukum bagi golongan miskin. Akan tetapi kenyataan menunjukkan tenaga-tenaga professional sebagaimana digambarkan tersebut diatas tidak banyak jumlahnya dan distribusinya tidak merata dari satu tempat ke tempat lain. Dengan demikian maka yang harus memegang posisi utama dalam hubungan ini adalah para Advokat bukan hanya Advokat yang berada di bawah naungan Lembaga Bantuan Hukum(LBH). Dalam perkembangannya Lembaga Bantuan Hukum Medan dan LBH Trisila memanfaatkan tenaga Paralegal untuk membantu dalam penyelesaian perkara.
Belum ditemukan padanan kata paralegal (dalam bahasa Inggris) ke dalam bahasa Indonesia. Karenanya, istilah paralegal langsung diadopsi kedalam bahasa Indonesia.
Istilah yang hampir sama yang juga sering digunakan yakni “pokrol bambu”. Istilah paralegal sendiri merupakan istilah dibidang hukum.
Istilah paralegal, dikenakan bagi orang yang bukan advokat, namun memiliki pengetahuan dibidang hukum (materil) dan hukum acara, dengan pengawasan advokat atau organisasi bantuan hukum, yang berperan membantu masyarakat pencari keadilan. Paralegal ini bisa bekerja sendiri didalam komunitasnya atau bekerja untuk organisasi bantuan hukum atau firma hukum. Seseorang yang menjadi paralegal, tidak mesti seorang sarjana hukum atau mengenyam pendidikan hukum di perguruan tinggi. Namun ia mesti mengikuti pendidikan khusus keparalegalan.
_______________________
Karena sifatnya membantu penanganan kasus atau perkara, maka paralegal sering juga disebut dengan asisten hukum (legal assistant). Dalam praktik sehari-hari, peran paralegal sangat penting untuk menjadi jembatan bagi masyarakat pencari keadilan dengan advokat dan aparat penegak hukum lainnya untuk penyelesaian masalah hukum yang dialami individu maupun kelompok masyarakat.
Dengan demikian, setidaknya terdapat 3 kata kunci berkaitan dengan “paralegal”, sebagai berikut:
- Memiliki pengetahuan dan keterampilan dibidang hukum; - Telah mengikuti pendidikan khusus keparalegalan;
- Disupervisi oleh advokat atau organisasi bantuan hukum.29
Karenanya, pada dasarnya pendidikan paralegal mesti disupervisi atau diselenggarakan bekerjasama dengan organisasi bantuan hukum atau setidak-tidaknya melibatkan advokat.
Sebagai ilustrasi, jika seseorang sakit parah, maka tentu seorang yang berprofesi dokter mampu memberikan diagnosa dan perawatan terhadap si pasien. Namun demikian, dalam praktik jika seseorang tergores atau luka ringan, maka tidak serta merta orang itu pergi ke rumah sakit atau meminta pertolongan dokter, namun berupaya menyembuhkan luka ringan itu, misalnya dengan memberi “obat merah” atau memberi perban.
Demikian juga kasus hukum, dalam kasus-kasus tertentu seorang paralegal mampu untuk membantu orang yang terkena kasus hukum. Sebagai contoh membuatkan surat kuasa khusus, membuat surat penangguhan penahanan dan lainnya. Namun untuk perkara-perkara yang kompleks maka perlu ditangani seorang advokat.
Bahwa dalam kasus-kasus spesifik pengetahuan dan keterampilan seorang paralegal lebih banyak daripada seorang advokat, hal ini merupakan sebuah pengecualian. Misalnya tidak sedikit paralegal perburuhan dari organisasi-organisasi buruh yang memang mendalami hukum perburuhan dan mempunyai pengalaman lebih banyak berperkara di pengadilan perselisihan perburuhan ketimban seorang advokat yang mendalami bidang hukum pidana. Karenanya, hubungan paralegal dengan advokat tidak bisa dipisahkan. Relasi paralegal dengan advokat, hampir sama dengan relasi perawat dengan seorang dokter. Karena hubungan semacam ini, keliru jika pendidikan paralegal tidak melibatkan organisasi bantuan hukum atau advokat. Karena peran paralegal tidak bisa berdiri sendiri. Ia hanya dapat berperan optimal pada kasus-kasus tertentu saja dan bukan secara umum.
Untuk menjadi Paralegal, seseorang harus terlebih dahulu mengikuti pelatihan (training) atau pendidikan. Ada 2 bentuk pendidikan paralegal, yakni pendidikan langsung kepada para paralegal dan pendidikan untuk mendidik seseorang menjadi pendidik (training of trainers). Dalam perkembangannya, pendidikan paralegal mengalami dinamika. Periode 1980-an, pada umumnya LBH melakukan pendidikan paralegal berdasarkan komunitas yang mengalami pelanggaran hak asasi manusia dan tengah menghadapi perkara hukum. Maka materi ajar dalam _______________________