PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN TWO STAY TWO STRAY DI SMPN 3 PERCUT SEI TUAN T.A 2015/2016
Oleh :
Yusrina Azizah Borotan NIM 4123111091
Program Studi Pendidikan Matematika
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
iii
PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN TWO STAY TWO STRAY DI SMPN 3 PERCUT SEI TUAN
T.A 2015/2016
Yusrina Azizah Borotan (NIM: 4123111091) ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan
Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi segi empat. Jenis penelitian ini adalah
eksperimen semu. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan dengan teknik pengambilan sampel adalah sampling acak sederhana dan pemilihan kelas dilakukan secara random, maka terpilih kelas VII 5 sebagai kelas eksperimen I sebanyak 38 siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran
Numbered Head Together dan kelas VII 8 sebagai kelas eksperimen II sebanyak
38 siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pretes dan posttest yang berbentuk essay test (uraian) masing-masing sebanyak 5 soal. Sebelum tes diberikan kepada siswa (sampel), terlebih dahulu tes divalidkan oleh 2 orang dosen dan 1 orang guru matematika dan dinyatakan valid. Sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitas data. Dari pengujian ini diperoleh bahwa sampel berasal dari populasi yang memiliki varians yang homogen dan berdistribusi normal. Dari hasil uji t data nilai posttest diperoleh thitung = 1,687 sedangkan ttabel = 1,666. Karena thitung > ttabel (1,687 > 1,666), maka
Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa hasil belajar matematika siswa
yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head
Together (NHT) lebih tinggi dari hasil belajar matematika siswa yang diajar
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS).
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah dan rahmat-Nya sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan. Skripsi ini berjudul “Perbandingan Hasil Belajar Matematika antara
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dan Two
Stay Two Stray (TSTS) di SMPN 3 Percut Sei Tuan T.A 2015/2016”. Skripsi ini
disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan
matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIMED.
Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih
kepada Bapak Prof. Dr. Asmin, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang
telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan saran positif kepada penulis dari
awal pemilihan judul penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Ucapan
terima kasih juga disampaikan pada Bapak Dr. Edy Surya, M.Si, Bapak Dr.
Hermawan Syahputra, M.Si, dan Ibu Dr. Faiz Ahyaningsih, M.Si selaku dosen
penguji yang telah memberikan masukan dan saran mulai dari perencanaan
penelitian sampai selesainya penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga
disampaikan kepada Bapak Rektor UNIMED Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd
selaku pimpinan UNIMED beserta seluruh Wakil Rektor, Bapak Dr. Asrin Lubis,
M.Pd selaku Dekan FMIPA UNIMED beserta Wakil Dekan I, II dan III di
lingkungan UNIMED, Bapak Dr. Edy Surya, M.Si selaku Ketua Jurusan
Matematika, Bapak Drs. Zul Amry, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi
Jurusan Pendidikan Matematika, dan Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si selaku
Sekretaris Jurusan Matematika. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada
Bapak Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Akademik dan kepada
seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staf pegawai jurusan Matematika FMIPA
UNIMED yang telah banyak membantu penulis.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Rusman selaku
Kepala Sekolah SMPN 3 Percut Sei Tuan, Ibu R.Gultom selaku Wakil Kepala
Sekolah Bagian Kurikulum SMPN 3 Percut Sei Tuan, dan Bapak Drs. A.M.
v
Pegawai SMPN 3 Percut Sei Tuan yang telah banyak membantu dan mengarahkan
penulis selama penelitian.
Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda tercinta
Usron, SH dan Ibunda tercinta Nur Adinah Lubis yang selalu mendukung,
mendoakan, dan memberi semangat kepada penulis hingga skripsi ini selesai, juga
kepada adik-adik tersayang Ridha Khairiyah B., Rika Rustiah B., dan Iqbal Al
Qodri Borotan yang juga selalu memberikan dukungan dan doa.
Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih buat seluruh
teman-teman jurusan matematika stambuk 2012 khususnya seluruh teman-teman-teman-teman kelas
Matematika Reguler C, sahabatku (Efriliana, Irma Nst, Febryanti, Diamony, Mey
Linda, Yulitaria, Eva Kartika, Eva Suryani, Nurul Khai), teman satu kos-kosan
(Aida, Naimmah), teman-teman PPL SMP Negeri 2 Babalan (Indah P.S, Desi
Elfiana, Dawiyah, Wisri Ardita dan kawan-kawan PPL yang lain) dan juga Husin
R.S, Siswa-siswi SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan dan abang/kakak serta
teman-teman yang tidak penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan,
motivasi dan saran-saran kepada penulis.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian skripsi
ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun
tata bahasa. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya skripsi ini
bermanfaat dalam memperkaya ilmu pengetahuan.
Medan, Agustus 2016
Penulis,
Yusrina Azizah Borotan
vi
DAFTAR ISI
Halaman
Lembar Pengesahan i
Riwayat Hidup ii
Abstrak iii
Kata Pengantar iv
Daftar Isi vi
Daftar Gambar ix
Daftar Tabel x
Daftar Lampiran xi
BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah 1
1.2.Identifikasi Masalah 7
1.3.Batasan Masalah 7
1.4.Rumusan Masalah 7
1.5.Tujuan Penelitian 8
1.6.Manfaat Penelitian 8
1.7.Definisi Operasional 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA
2.1.Kerangka Teoritis 10
2.1.1.Belajar 10
2.1.2.Teori Belajar 10
2.1.3.Hasil Belajar 12
2.1.4.Model Pembelajaran 16
2.1.5.Model Pembelajaran Kooperatif 17
2.1.6.Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) 22
2.1.7.Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) 24
2.2.Materi Segi Empat 27
vii
2.2.2. Persegi 29
2.2.3. Jajargenjang 29
2.2.4. Belah Ketupat 31
2.2.5. Layang-Layang 32
2.2.6. Trapesium 33
2.3.Penelitian Yang Relevan 34
2.4.Kerangka Konseptual 35
2.5.Hipotesis Penelitian 37
BAB III METODE PENELITIAN
3.1.Lokasi dan Waktu Penelitian
3.1.1.Lokasi Penelitian 38
3.1.2.Waktu Penelitian 38
3.2.Populasi dan Sampel Penelitian 38
3.2.1.Populasi 38
3.2.2.Sampel 38
3.3. Variabel Penelitian 38
3.4.Jenis dan Desain Penelitian 39
3.4.1. Jenis Penelitian 39
3.4.2. Desain Penelitian 40
3.5. Prosedur Penelitian 41
3.6. Instrumen Penelitian 43
3.7 Analisis Instrumen Tes 44
3.7.1. Uji Validitas 44
3.8. Teknik Analisis Data 44
3.8.1. Menghitung Rata-rata Skor 44
3.8.2. Menghitung Standard Deviasi 45
3.8.3. Uji Normalitas 45
3.8.4. Uji Homogenitas 46
viii
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1.Deskripsi Hasil Penelitian 48
4.1.1. Skor Pretest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 48
4.1.2. Skor Posttest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 49
4.2.Analisis Data Hasil Penelitian 50
4.2.1. Uji Normalitas Data 50
4.2.2. Uji Homogenitas Data 51
4.2.3. Uji Hipotesis 52
4.3.Pembahasan Hasil Penelitian 53
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan 56
5.2.Saran 56
ix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Alur Diskusi dengan Model Two Stay Two Stray (TSTS) 25
Gambar 2.2 Persegi Panjang ABCD 28
Gambar 2.3 Persegi ABCD 29
Gambar 2.4 Jajargenjang ABCD 29
Gambar 2.5 Jajargenjang ABCD 30
Gambar 2.6 Jajargenjang ABCD 30
Gambar 2.7 Belah Ketupat ABCD 31
Gambar 2.8 Layang-layang ABCD 33
Gambar 2.9 Trapesium ABCD 34
Gambar 2.10 Trapesium ABCD 34
Gambar 3.1 Skema Prosedur Penelitian 43
Gambar 4.1 Diagram Data Pretest Kelas Eksperimen I dan
Kelas Eksperimen II 49
Gambar 4.2 Diagram Data Posttest Kelas Eksperimen I dan
x
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Langkah Langkah Model Pembelajaran Kooperatif 20
Tabel 3.1 Desain Penelitian 40
Tabel 4.1 Data Pretest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 48
Tabel 4.2 Data Posttest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 49
Tabel 4.3 Data Hasil Uji Normalitas 51
Tabel 4.4 Data Hasil Uji Homogenitas 52
Tabel 4.5 Ringkasan Perhitungan Uji Hipotesis 53
xi
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen I
Pertemuan I 59
Lampiran 2.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen I
Pertemuan II 65
Lampiran 3.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen II
Pertemuan I 71
Lampiran 4.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen II
Pertemuan II 77
Lampiran 5.Lembar Aktivitas Siswa – I 83
Lampiran 6.Lembar Aktivitas Siswa – II 89
Lampiran 7. Alternatif Jawaban Lembar Aktivitas Siswa – I 96
Lampiran 8. Alternatif Jawaban Lembar Aktivitas Siswa – II 101
Lampiran 9. Kisi – Kisi Pretest 108
Lampiran 10.Lembar Validasi Pretest 109
Lampiran 11.Soal Pretest 112
Lampiran 12.Alternatif Penyelesaian Pretest 114
Lampiran 13.Pedoman Penskoran Pretest 117
Lampiran 14.Kisi-Kisi Postest 119
Lampiran 15.Lembar Validasi Posttest 120
Lampiran 16.Soal Posttest 123
Lampiran 17.Alternatif Penyelesaian Posttest 125
Lampiran 18.Pedoman Penskoran Posttest 129
Lampiran 19.Lembar Validator Soal Pretest dan Posttest 131
Lampiran 20.Data Pretest (T1) dan Posttest (T2) Kelas Eksperimen I 132
Lampiran 21.Data Pretest (T1) dan Posttest (T2)Kelas Eksperimen II 134
Lampiran 22.Perhitungan Rata-Rata, Varians dan Standar Deviasi
Untuk Pretest (T1), Posttest (T2) 136
Lampiran 23.Perhitungan Uji Normalitas 139
xii
Lampiran 25.Perhitungan Uji Hipotesis untuk Data Pretest 145
Lampiran 26.Perhitungan Uji Hipotesis untuk Data Posttest 148
Lampiran 27.Tabel Wilayah Luas di Bawah Kurva Normal 0 ke Z 151
Lampiran 28.Daftar Nilai Kritik Uji Liliefors 153
Lampiran 29.Tabel Distribusi Nilai F 154
Lampiran 30.Daftar Nilai Presentil Untuk Distribusi t 156
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan
yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM)
yang mampu bersaing di era global. Agar mampu bersaing, tentunya dibutuhkan
sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Trianto (2011:4) mengungkapkan
bahwa: “Upaya yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang
berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogianya
berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah
pendidikan”. Pendidikan yang dapat diperoleh melalui sekolah merupakan tempat
yang sangat tepat untuk membina SDM yang berkualitas.
UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
menyebutkan bahwa :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan
negara.”
Dalam dunia pendidikan, matematika merupakan pelajaran di sekolah
yang dipandang penting dan wajib dipelajari oleh setiap peserta didik mulai dari
sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas dan bahkan juga perguruan
tinggi. Penyebab utama pentingnya matematika yaitu seperti yang diungkapkan
oleh Abdurrahman (2012:202) yang menyebutkan, “Semua orang harus
mempelajari matematika karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah
kehidupan sehari-hari”.
Sejalan dengan pendapat tersebut, Cokrof (dalam Abdurrahman, 2012:
204) juga mengatakan bahwa:
“Matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) Selalu digunakan
2
singkat dan jelas; (4) Dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) Meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6) Memberikan kepuasan
terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.”
Banyak orang yang menganggap bahwa pelajaran matematika adalah
pelajaran yang sulit seperti yang diungkapkan Abdurrahman (2012:202) bahwa:
“Matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan
belajar”. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Turmudi (2012:1) yang
mengungkapkan bahwa :
“Bertahun-tahun ahli pendidikan dan ahli matematika telah
mengupayakan agar matematika dapat dikuasai siswa dengan baik. Namun, hasilnya masih menunjukkan bahwa tidak banyak siswa yang menyukai matematika dari setiap kelasnya. Meskipun kadang-kadang menjadi suatu kebanggan bagi guru matematika karena pelajaran yang
dipegangnya sangat ‟bergengsi‟ sehingga menyebabkan tidak banyak
siswa yang dapat lulus dari pelajaran ini.”
Berdasarkan pendapat di atas, anggapan bahwa belajar matematika itu
sulit dan banyak yang tidak menyukai matematika merupakan salah satu penyebab
hasil belajar matematika rendah. Rendahnya hasil belajar matematika bukan
hanya disebabkan karena matematika yang sulit. Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi hasil belajar yang diungkapkan oleh Slameto (2010:60-72) yaitu
faktor keluarga, faktor sekolah yang mencakup metode belajar mengajar maupun
lingkungan belajar, dan faktor dari masyarakat.
Meskipun kemajuan teknologi saat ini sangatlah pesat dan menjadi
pendukung kemajuan pendidikan di negara ini, akan tetapi peran guru masih tetap
sangat diperlukan. Setiap media, model, pendekatan, dan metode pembelajaran
yang digunakan guru dalam mengajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar
siswa baik hasil belajar dari segi kognitif, afektif maupun psikomotor.
Dalam wawancara yang dilakukan di SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan
dengan salah seorang guru matematika, Ibu R.Gultom, mengatakan bahwa:
3
Selain itu pengetahuan dasar siswa sangat kurang, sehingga guru harus bekerja ekstra keras dalam menyampaikan materi agar dipahami siswa. Tapi jika hanya guru yang berusaha mengajari sedangkan siswanya tidak berusaha untuk belajar, hasilnya akan sama saja. Siswa-siswa sekarang tidak memperhatikan guru saat menerangkan”
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di beberapa kelas VII
diperoleh bahwa saat proses pembelajaran matematika di SMP Negeri 3 Percut
Sei Tuan masih didominasi oleh guru. Guru secara aktif mengajarkan matematika.
Pada saat pembelajaran, siswa menampakkan sikap kurang bersemangat, kurang
siap mengikuti pembelajaran, suasana kurang aktif, interaksi antara guru dengan
siswa sangat kurang, siswa cenderung pasif dan hanya menerima apa saja yang
diberikan guru, bahkan ada beberapa siswa yang berbicara dengan temannya saat
proses pembelajaran berlangsung. Selain itu juga, sering dijumpai adanya
kencenderungan siswa tidak mau bertanya, meskipun ia belum memahami materi
pelajaran matematika yang diajarkan tersebut. Sehingga dengan hal-hal yang
negatif itu menyebabkan hasil belajar matematika siswa menjadi menurun.
Kondisi tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Agar
tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai sesuai yang diinginkan, berbagai
upaya bisa dilakukan oleh guru. Salah satu caranya dengan menciptakan proses
pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Agar proses pembelajaran efektif
dapat terwujud, perlu adanya perubahan cara mengajar dari model pembelajaran
tradisional menuju model pembelajaran yang inovatif.
Model pembelajaran yang dapat menciptakan proses belajar mengajar
yang efektif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru dengan peserta
didik, yang tidak hanya menekankan pada apa yang dipelajari tetapi menekankan
bagaimana ia harus belajar. Soekamto (dalam Shoimin, 2014:23) mengemukakan,
“Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran
dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”
Ada banyak model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh guru
4
Salah satu contohnya adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran
kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja
dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari
dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.
Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru
kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya.
Aris Shoimin (2014:45) mengemukakan bahwa:
“Model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep dan menyelesaikan persoalan. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). Tiap anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang, heterogen ( kemampuan, gender, karakter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupan laporan presentasi.”
Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang
banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli
pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Slavin (dalam Rusman, 2014:205) menyatakan bahwa:
“Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan dapat menghargai pendapat orang lain. Pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.”
Pendapat tersebut diperkuat oleh Johnson & Johnson (dalam Trianto,
2011:57) menyatakan bahwa :
“Tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.”
Banyak model kooperatif yang dikembangkan dalam pembelajaran
matematika. Adapun model pembelajaran kooperatif pada penelitian ini adalah
model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan Two Stay Two Stray
5
menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran sehingga siswa dapat bertukar
informasi dan pendapat satu sama lainnya.
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)
dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993). Shoimin (2014:107-108) menyatakan,
“Model NHT mengacu pada belajar kelompok siswa, masing-masing anggota memiliki bagian tugas (pertanyaan) dengan nomor yang berbeda-beda. Setiap
siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya guna
memperoleh hasil yang maksimal sehingga termotivasi untuk belajar”. Dengan
demikian setiap individu mendapat tugas dan tanggung jawab sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Model pembelajaran ini juga memiliki tujuan untuk
meningkatkan penguasaan akademik. Dalam hal ini, siswa juga diharapkan
mampu memahami materi sendiri dengan cara diskusi.
Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)
merupakan rangkaian penyampaian materi dengan menggunakan kelompok
sebagai wadah dalam menyatukan pikiran siswa terhadap pertanyaan yang
dilontarkan atau diajukan oleh guru, kemudian akan dipertanggungjawabkan oleh
siswa sesuai dengan nomor permintaan guru dari masing-masing kelompok.
Dengan konsep diskusi kelompok seperti ini, setiap siswa akan menjadi lebih aktif
dan sungguh-sungguh dalam melakukan diskusi dikarenakan ketidaktahuan
mereka kapan mereka akan dipanggil untuk menyelesaikan pertanyaan dari guru,
sehingga akan lebih mempersiapkan diri.
Kelebihan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) antara
lain setiap murid menjadi siap, dapat melakukan diskusi dengan
sungguh-sungguh, murid yang pandai dapat mengajari yang kurang pandai, terjadi interaksi
secara intens antarsiswa dalam menjawab soal, dan tidak ada yang mendominasi
dalam kelompok karena ada nomor yang membatasi.
Selain memiliki kelebihan, model pembelajaran Numbered Head
Together (NHT) juga memiliki kekurangan yaitu tidak semua anggota kelompok
dipanggil oleh guru karena kemungkinan waktu terbatas.
Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)
6
memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan
informasi dengan kelompok lain. Model pembelajaran kooperatif TSTS adalah
dua orang siswa tinggal di kelompok dan dua orang siswa bertamu ke kelompok
lain. Dua orang yang tinggal bertugas memberikan informasi kepada tamu tentang
hasil kelompoknya, sedangkan yang bertamu bertugas mencatat hasil diskusi
kelompok yang dikunjunginya (Shoimin, 2014:222).
Pada model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS),
setiap siswa diharuskan untuk membagikan hasil diskusi kepada kelompok lain
sehingga setiap siswa harus mengerti dengan hasil diskusi mereka. Model
pembelajaran TSTS melatih kemandirian siswa dalam belajar dan proses
pembelajaran tidak akan membosankan sebab antara siswa selalu berinteraksi
dalam kelompok maupun di luar kelompok.
Adapun kelebihan dari model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)
adalah menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa, kemampuan berbicara
siswa dapat ditingkatkan, diharapkan siswa akan berani mengungkapkan
pendapatnya, dan kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna.
Sedangkan kekurangan dari model Two Stay Two Stray (TSTS) yang dijelaskan
oleh Istarani (2014:203) adalah dapat mengundang keributan ketika siswa
bertamu ke kelompok lain, dan tidak terlalu cocok diterapkan dalam jumlah siswa
banyak karena membutuhkan waktu yang lama.
Dengan model pembelajaran seperti NHT dan TSTS diharapkan siswa
terlibat aktif, baik secara individual maupun dalam kelompok belajar. Dengan
adanya aktivitas siswa di dalam kelas diharapkan tercipta proses pembelajaran
yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Berdasarkan keseluruhan uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan
penelitian untuk melihat perbandingan hasil belajar dengan menggunakan model
pembelajaran yang berbeda dalam mengajarkan matematika. Karena luasnya
cakupan materi matematika peneliti mengambil materi segi empat yang ada pada
kelas VII. Dalam hal ini peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul
7
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together dan Two Stay Two Stray di Kelas VII SMPN 3 Percut Sei Tuan T.A 2015/2016”
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan
beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Rendahnya minat belajar matematika siswa SMPN 3 Percut Sei Tuan.
2. Pembelajaran matematika di SMPN 3 Percut Sei Tuan cenderung masih
berorientasi pada guru.
3. Model pembelajaran yang digunakan guru di SMPN 3 Percut Sei Tuan
kurang bervariasi
4. Hasil belajar matematika siswa di SMPN 3 Percut Sei Tuan masih
tergolong rendah.
1.3 Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, agar
penelitian ini lebih fokus dan terarah maka penelitian ini dibatasi pada
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)
dan Two Stay Two Stray (TSTS) serta perbandingan terhadap hasil belajar siswa
pada materi segi empat di kelas VII SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan T.A
2015/2016 dengan hanya melihat aspek kognitif.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah, masalah penelitian ini dapat dirumuskan
sebagai berikut: “Apakah hasil belajar matematika menggunakan model
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) lebih tinggi
dibanding Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi segi empat di kelas VII SMP
8
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model
pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) lebih tinggi
dibanding tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi segi empat di kelas VII
SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan Tahun Ajaran 2015/2016.
1.6 Manfaat Penelitian
Setelah dilakukan penelitian diharapkan hasil penelitian dapat
memberikan manfaat. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini
adalah:
a. Bagi peneliti
Sebagai penambah wawasan sekaligus sebagai bahan pegangan bagi
peneliti dalam menjalankan tugas pengajaran sebagai calon tenaga
pengajar di masa yang akan datang.
b. Bagi Guru
Memiliki alternatif dalam penggunaan model pembelajaran dalam upaya
meningkatkan hasil belajar siswa.
c. Bagi siswa
Dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together
(NHT) dan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray
(TSTS) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
1.7 Definisi Operasional
Untuk melakukan pengukuran variabel dalam penelitian ini maka
variabel-variabel didefinisikan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) adalah model
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang
dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan
9
2. Two Stay Two Stray (TSTS) adalah model pembelajaran kooperatif yang
memberikan kesempatan kelompok untuk membagikan hasil dan informasi
dengan kelompok lain.
3. Hasil belajar adalah merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa
yang mengikuti proses belajar mengajar. Siswa mampu mencapai tujuan
pembelajaran yaitu menurunkan rumus keliling dan luas segi empat,
menghitung keliling dan luas segi empat, dan menyelesaikan masalah nyata
56
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pengolahan data diperoleh
kesimpulan, yaitu: Secara statistik dengan menggunakan uji-t disimpulkan bahwa
hasil belajar yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered
Head Together lebih tinggi dari hasil belajar matematika siswa yang diajarkan
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stray Two Stray pada materi segi
empat di kelas VII SMPN 3 Percut Sei Tuan T.A 2015/2016. Hal ini dapat dilihat
dari hasil pengujian hipotesis dimana thitung > ttabel yaitu 1,687 > 1,666.
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat peneliti berikan
adalah:
a. Kepada guru matematika hendaknya menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Head Together sebagai salah satu alternatif
dalam kegiatan pembelajaran serta model pembelajaran yang diharapkan
dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
b. Kepada guru matematika yang ingin menerapkan model pembelajaran
kooperatif tipe Numbered Head Together dan Two Stay Two Stray
sebaiknya lebih memperhatikan alokasi waktu yang ada agar seluruh
57
DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Mulyono, (2012), Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.
Arikunto, Suharsimi, (2010), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta.
---, (2013), Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi), PT. Bumi Aksara, Jakarta
Daryanto dan Muljo, (2012), Model Pembelajaran Inovatif, Gava Media, Yogyakarta.
Dimyati dan Mudjiono, (2013), Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.
Hamalik, Oemar, (2008), Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta.
Huda, Miftahul, (2011), Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan
Model Penerapan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Istarani, (2012), 58 Model Pembelajaran Inovatif: Referensi Guru Dalam
Menentukan Model Pembelajaran, Media Persada, Medan.
Purwanto, (2011), Evaluasi Hasil Belajar, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Rusman, (2014), Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme
Guru Edisi Kedua, Rajawali Pers, Jakarta.
Sanjaya, Wina, (2012), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Sardiman, (2011), Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Pers, Jakarta.
Shoimin, Aris, (2014), 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013, Arr-Ruzz Media, Yogyakarta.
Slameto, (2010), Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta.
Sudjana, (2005), Metoda Statistika, Tarsito, Bandung.
Sumiati dan Asra, (2013), Metode Pembelajaran, Wacana Prima, Bandung.
Trianto, (2011), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.
Turmudi, (2012) Taktik dan Strategi Pembelajran Matematika: Referensi untuk
58