• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN TWO STAY TWO STRAY DI SMPN 3 PERCUT SEI TUAN T.A 2015/2016.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN TWO STAY TWO STRAY DI SMPN 3 PERCUT SEI TUAN T.A 2015/2016."

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN TWO STAY TWO STRAY DI SMPN 3 PERCUT SEI TUAN T.A 2015/2016

Oleh :

Yusrina Azizah Borotan NIM 4123111091

Program Studi Pendidikan Matematika

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)

iii

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA YANG DIAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

TIPE NUMBERED HEAD TOGETHER DAN TWO STAY TWO STRAY DI SMPN 3 PERCUT SEI TUAN

T.A 2015/2016

Yusrina Azizah Borotan (NIM: 4123111091) ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan hasil belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan

Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi segi empat. Jenis penelitian ini adalah

eksperimen semu. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan dengan teknik pengambilan sampel adalah sampling acak sederhana dan pemilihan kelas dilakukan secara random, maka terpilih kelas VII 5 sebagai kelas eksperimen I sebanyak 38 siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran

Numbered Head Together dan kelas VII 8 sebagai kelas eksperimen II sebanyak

38 siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran Two Stay Two Stray. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa pretes dan posttest yang berbentuk essay test (uraian) masing-masing sebanyak 5 soal. Sebelum tes diberikan kepada siswa (sampel), terlebih dahulu tes divalidkan oleh 2 orang dosen dan 1 orang guru matematika dan dinyatakan valid. Sebelum pengujian hipotesis, terlebih dahulu diuji normalitas dan homogenitas data. Dari pengujian ini diperoleh bahwa sampel berasal dari populasi yang memiliki varians yang homogen dan berdistribusi normal. Dari hasil uji t data nilai posttest diperoleh thitung = 1,687 sedangkan ttabel = 1,666. Karena thitung > ttabel (1,687 > 1,666), maka

Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa hasil belajar matematika siswa

yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head

Together (NHT) lebih tinggi dari hasil belajar matematika siswa yang diajar

dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS).

(4)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin, puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkah dan rahmat-Nya sehingga skripsi ini dapat

terselesaikan. Skripsi ini berjudul “Perbandingan Hasil Belajar Matematika antara

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) dan Two

Stay Two Stray (TSTS) di SMPN 3 Percut Sei Tuan T.A 2015/2016”. Skripsi ini

disusun untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan

matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UNIMED.

Dalam penyelesaian skripsi ini, penulis ingin menyampaikan terima kasih

kepada Bapak Prof. Dr. Asmin, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang

telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan saran positif kepada penulis dari

awal pemilihan judul penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini. Ucapan

terima kasih juga disampaikan pada Bapak Dr. Edy Surya, M.Si, Bapak Dr.

Hermawan Syahputra, M.Si, dan Ibu Dr. Faiz Ahyaningsih, M.Si selaku dosen

penguji yang telah memberikan masukan dan saran mulai dari perencanaan

penelitian sampai selesainya penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga

disampaikan kepada Bapak Rektor UNIMED Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd

selaku pimpinan UNIMED beserta seluruh Wakil Rektor, Bapak Dr. Asrin Lubis,

M.Pd selaku Dekan FMIPA UNIMED beserta Wakil Dekan I, II dan III di

lingkungan UNIMED, Bapak Dr. Edy Surya, M.Si selaku Ketua Jurusan

Matematika, Bapak Drs. Zul Amry, M.Si, Ph.D selaku Ketua Program Studi

Jurusan Pendidikan Matematika, dan Bapak Drs. Yasifati Hia, M.Si selaku

Sekretaris Jurusan Matematika. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada

Bapak Prof. Dr. Mukhtar, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Akademik dan kepada

seluruh Bapak dan Ibu dosen serta staf pegawai jurusan Matematika FMIPA

UNIMED yang telah banyak membantu penulis.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Rusman selaku

Kepala Sekolah SMPN 3 Percut Sei Tuan, Ibu R.Gultom selaku Wakil Kepala

Sekolah Bagian Kurikulum SMPN 3 Percut Sei Tuan, dan Bapak Drs. A.M.

(5)

v

Pegawai SMPN 3 Percut Sei Tuan yang telah banyak membantu dan mengarahkan

penulis selama penelitian.

Teristimewa penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahanda tercinta

Usron, SH dan Ibunda tercinta Nur Adinah Lubis yang selalu mendukung,

mendoakan, dan memberi semangat kepada penulis hingga skripsi ini selesai, juga

kepada adik-adik tersayang Ridha Khairiyah B., Rika Rustiah B., dan Iqbal Al

Qodri Borotan yang juga selalu memberikan dukungan dan doa.

Penulis juga menyampaikan ucapan terima kasih buat seluruh

teman-teman jurusan matematika stambuk 2012 khususnya seluruh teman-teman-teman-teman kelas

Matematika Reguler C, sahabatku (Efriliana, Irma Nst, Febryanti, Diamony, Mey

Linda, Yulitaria, Eva Kartika, Eva Suryani, Nurul Khai), teman satu kos-kosan

(Aida, Naimmah), teman-teman PPL SMP Negeri 2 Babalan (Indah P.S, Desi

Elfiana, Dawiyah, Wisri Ardita dan kawan-kawan PPL yang lain) dan juga Husin

R.S, Siswa-siswi SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan dan abang/kakak serta

teman-teman yang tidak penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan,

motivasi dan saran-saran kepada penulis.

Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian skripsi

ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi isi maupun

tata bahasa. Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat

membangun dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya skripsi ini

bermanfaat dalam memperkaya ilmu pengetahuan.

Medan, Agustus 2016

Penulis,

Yusrina Azizah Borotan

(6)

vi

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan i

Riwayat Hidup ii

Abstrak iii

Kata Pengantar iv

Daftar Isi vi

Daftar Gambar ix

Daftar Tabel x

Daftar Lampiran xi

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang Masalah 1

1.2.Identifikasi Masalah 7

1.3.Batasan Masalah 7

1.4.Rumusan Masalah 7

1.5.Tujuan Penelitian 8

1.6.Manfaat Penelitian 8

1.7.Definisi Operasional 8

BAB II KAJIAN PUSTAKA

2.1.Kerangka Teoritis 10

2.1.1.Belajar 10

2.1.2.Teori Belajar 10

2.1.3.Hasil Belajar 12

2.1.4.Model Pembelajaran 16

2.1.5.Model Pembelajaran Kooperatif 17

2.1.6.Model Pembelajaran Numbered Head Together (NHT) 22

2.1.7.Model Pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS) 24

2.2.Materi Segi Empat 27

(7)

vii

2.2.2. Persegi 29

2.2.3. Jajargenjang 29

2.2.4. Belah Ketupat 31

2.2.5. Layang-Layang 32

2.2.6. Trapesium 33

2.3.Penelitian Yang Relevan 34

2.4.Kerangka Konseptual 35

2.5.Hipotesis Penelitian 37

BAB III METODE PENELITIAN

3.1.Lokasi dan Waktu Penelitian

3.1.1.Lokasi Penelitian 38

3.1.2.Waktu Penelitian 38

3.2.Populasi dan Sampel Penelitian 38

3.2.1.Populasi 38

3.2.2.Sampel 38

3.3. Variabel Penelitian 38

3.4.Jenis dan Desain Penelitian 39

3.4.1. Jenis Penelitian 39

3.4.2. Desain Penelitian 40

3.5. Prosedur Penelitian 41

3.6. Instrumen Penelitian 43

3.7 Analisis Instrumen Tes 44

3.7.1. Uji Validitas 44

3.8. Teknik Analisis Data 44

3.8.1. Menghitung Rata-rata Skor 44

3.8.2. Menghitung Standard Deviasi 45

3.8.3. Uji Normalitas 45

3.8.4. Uji Homogenitas 46

(8)

viii

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1.Deskripsi Hasil Penelitian 48

4.1.1. Skor Pretest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 48

4.1.2. Skor Posttest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 49

4.2.Analisis Data Hasil Penelitian 50

4.2.1. Uji Normalitas Data 50

4.2.2. Uji Homogenitas Data 51

4.2.3. Uji Hipotesis 52

4.3.Pembahasan Hasil Penelitian 53

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan 56

5.2.Saran 56

(9)

ix

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Alur Diskusi dengan Model Two Stay Two Stray (TSTS) 25

Gambar 2.2 Persegi Panjang ABCD 28

Gambar 2.3 Persegi ABCD 29

Gambar 2.4 Jajargenjang ABCD 29

Gambar 2.5 Jajargenjang ABCD 30

Gambar 2.6 Jajargenjang ABCD 30

Gambar 2.7 Belah Ketupat ABCD 31

Gambar 2.8 Layang-layang ABCD 33

Gambar 2.9 Trapesium ABCD 34

Gambar 2.10 Trapesium ABCD 34

Gambar 3.1 Skema Prosedur Penelitian 43

Gambar 4.1 Diagram Data Pretest Kelas Eksperimen I dan

Kelas Eksperimen II 49

Gambar 4.2 Diagram Data Posttest Kelas Eksperimen I dan

(10)

x

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Langkah Langkah Model Pembelajaran Kooperatif 20

Tabel 3.1 Desain Penelitian 40

Tabel 4.1 Data Pretest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 48

Tabel 4.2 Data Posttest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II 49

Tabel 4.3 Data Hasil Uji Normalitas 51

Tabel 4.4 Data Hasil Uji Homogenitas 52

Tabel 4.5 Ringkasan Perhitungan Uji Hipotesis 53

(11)

xi

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen I

Pertemuan I 59

Lampiran 2.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen I

Pertemuan II 65

Lampiran 3.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen II

Pertemuan I 71

Lampiran 4.Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Kelas Eksperimen II

Pertemuan II 77

Lampiran 5.Lembar Aktivitas Siswa – I 83

Lampiran 6.Lembar Aktivitas Siswa – II 89

Lampiran 7. Alternatif Jawaban Lembar Aktivitas Siswa – I 96

Lampiran 8. Alternatif Jawaban Lembar Aktivitas Siswa – II 101

Lampiran 9. Kisi – Kisi Pretest 108

Lampiran 10.Lembar Validasi Pretest 109

Lampiran 11.Soal Pretest 112

Lampiran 12.Alternatif Penyelesaian Pretest 114

Lampiran 13.Pedoman Penskoran Pretest 117

Lampiran 14.Kisi-Kisi Postest 119

Lampiran 15.Lembar Validasi Posttest 120

Lampiran 16.Soal Posttest 123

Lampiran 17.Alternatif Penyelesaian Posttest 125

Lampiran 18.Pedoman Penskoran Posttest 129

Lampiran 19.Lembar Validator Soal Pretest dan Posttest 131

Lampiran 20.Data Pretest (T1) dan Posttest (T2) Kelas Eksperimen I 132

Lampiran 21.Data Pretest (T1) dan Posttest (T2)Kelas Eksperimen II 134

Lampiran 22.Perhitungan Rata-Rata, Varians dan Standar Deviasi

Untuk Pretest (T1), Posttest (T2) 136

Lampiran 23.Perhitungan Uji Normalitas 139

(12)

xii

Lampiran 25.Perhitungan Uji Hipotesis untuk Data Pretest 145

Lampiran 26.Perhitungan Uji Hipotesis untuk Data Posttest 148

Lampiran 27.Tabel Wilayah Luas di Bawah Kurva Normal 0 ke Z 151

Lampiran 28.Daftar Nilai Kritik Uji Liliefors 153

Lampiran 29.Tabel Distribusi Nilai F 154

Lampiran 30.Daftar Nilai Presentil Untuk Distribusi t 156

(13)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan

yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia (SDM)

yang mampu bersaing di era global. Agar mampu bersaing, tentunya dibutuhkan

sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas. Trianto (2011:4) mengungkapkan

bahwa: “Upaya yang tepat untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang

berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat dipandang dan seyogianya

berfungsi sebagai alat untuk membangun SDM yang bermutu tinggi adalah

pendidikan”. Pendidikan yang dapat diperoleh melalui sekolah merupakan tempat

yang sangat tepat untuk membina SDM yang berkualitas.

UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

menyebutkan bahwa :

“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan

suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan

negara.”

Dalam dunia pendidikan, matematika merupakan pelajaran di sekolah

yang dipandang penting dan wajib dipelajari oleh setiap peserta didik mulai dari

sekolah dasar hingga sekolah lanjutan tingkat atas dan bahkan juga perguruan

tinggi. Penyebab utama pentingnya matematika yaitu seperti yang diungkapkan

oleh Abdurrahman (2012:202) yang menyebutkan, “Semua orang harus

mempelajari matematika karena merupakan sarana untuk memecahkan masalah

kehidupan sehari-hari”.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Cokrof (dalam Abdurrahman, 2012:

204) juga mengatakan bahwa:

“Matematika perlu diajarkan kepada siswa karena (1) Selalu digunakan

(14)

2

singkat dan jelas; (4) Dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara; (5) Meningkatkan kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6) Memberikan kepuasan

terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.”

Banyak orang yang menganggap bahwa pelajaran matematika adalah

pelajaran yang sulit seperti yang diungkapkan Abdurrahman (2012:202) bahwa:

“Matematika merupakan bidang studi yang dianggap paling sulit oleh para siswa baik yang tidak berkesulitan belajar dan lebih-lebih bagi siswa yang berkesulitan

belajar”. Pendapat tersebut dikuatkan oleh Turmudi (2012:1) yang

mengungkapkan bahwa :

“Bertahun-tahun ahli pendidikan dan ahli matematika telah

mengupayakan agar matematika dapat dikuasai siswa dengan baik. Namun, hasilnya masih menunjukkan bahwa tidak banyak siswa yang menyukai matematika dari setiap kelasnya. Meskipun kadang-kadang menjadi suatu kebanggan bagi guru matematika karena pelajaran yang

dipegangnya sangat ‟bergengsi‟ sehingga menyebabkan tidak banyak

siswa yang dapat lulus dari pelajaran ini.”

Berdasarkan pendapat di atas, anggapan bahwa belajar matematika itu

sulit dan banyak yang tidak menyukai matematika merupakan salah satu penyebab

hasil belajar matematika rendah. Rendahnya hasil belajar matematika bukan

hanya disebabkan karena matematika yang sulit. Ada beberapa faktor yang

mempengaruhi hasil belajar yang diungkapkan oleh Slameto (2010:60-72) yaitu

faktor keluarga, faktor sekolah yang mencakup metode belajar mengajar maupun

lingkungan belajar, dan faktor dari masyarakat.

Meskipun kemajuan teknologi saat ini sangatlah pesat dan menjadi

pendukung kemajuan pendidikan di negara ini, akan tetapi peran guru masih tetap

sangat diperlukan. Setiap media, model, pendekatan, dan metode pembelajaran

yang digunakan guru dalam mengajar sangat berpengaruh terhadap hasil belajar

siswa baik hasil belajar dari segi kognitif, afektif maupun psikomotor.

Dalam wawancara yang dilakukan di SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan

dengan salah seorang guru matematika, Ibu R.Gultom, mengatakan bahwa:

(15)

3

Selain itu pengetahuan dasar siswa sangat kurang, sehingga guru harus bekerja ekstra keras dalam menyampaikan materi agar dipahami siswa. Tapi jika hanya guru yang berusaha mengajari sedangkan siswanya tidak berusaha untuk belajar, hasilnya akan sama saja. Siswa-siswa sekarang tidak memperhatikan guru saat menerangkan”

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di beberapa kelas VII

diperoleh bahwa saat proses pembelajaran matematika di SMP Negeri 3 Percut

Sei Tuan masih didominasi oleh guru. Guru secara aktif mengajarkan matematika.

Pada saat pembelajaran, siswa menampakkan sikap kurang bersemangat, kurang

siap mengikuti pembelajaran, suasana kurang aktif, interaksi antara guru dengan

siswa sangat kurang, siswa cenderung pasif dan hanya menerima apa saja yang

diberikan guru, bahkan ada beberapa siswa yang berbicara dengan temannya saat

proses pembelajaran berlangsung. Selain itu juga, sering dijumpai adanya

kencenderungan siswa tidak mau bertanya, meskipun ia belum memahami materi

pelajaran matematika yang diajarkan tersebut. Sehingga dengan hal-hal yang

negatif itu menyebabkan hasil belajar matematika siswa menjadi menurun.

Kondisi tersebut tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Agar

tujuan pembelajaran matematika dapat tercapai sesuai yang diinginkan, berbagai

upaya bisa dilakukan oleh guru. Salah satu caranya dengan menciptakan proses

pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Agar proses pembelajaran efektif

dapat terwujud, perlu adanya perubahan cara mengajar dari model pembelajaran

tradisional menuju model pembelajaran yang inovatif.

Model pembelajaran yang dapat menciptakan proses belajar mengajar

yang efektif dengan adanya komunikasi dua arah antara guru dengan peserta

didik, yang tidak hanya menekankan pada apa yang dipelajari tetapi menekankan

bagaimana ia harus belajar. Soekamto (dalam Shoimin, 2014:23) mengemukakan,

“Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan

belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran

dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar.”

Ada banyak model pembelajaran yang telah dikembangkan oleh guru

(16)

4

Salah satu contohnya adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran

kooperatif merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja

dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari

dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen.

Dalam pembelajaran kooperatif proses pembelajaran tidak harus belajar dari guru

kepada siswa. Siswa dapat saling membelajarkan sesama siswa lainnya.

Aris Shoimin (2014:45) mengemukakan bahwa:

“Model pembelajaran kooperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkonstruksi konsep dan menyelesaikan persoalan. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). Tiap anggota kelompok terdiri dari 4-5 orang, heterogen ( kemampuan, gender, karakter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupan laporan presentasi.”

Model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang

banyak digunakan dan menjadi perhatian serta dianjurkan oleh para ahli

pendidikan. Hal ini dikarenakan berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh

Slavin (dalam Rusman, 2014:205) menyatakan bahwa:

“Penggunaan pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan prestasi belajar siswa dan sekaligus dapat meningkatkan hubungan sosial, menumbuhkan sikap toleransi, dan dapat menghargai pendapat orang lain. Pembelajaran kooperatif dapat memenuhi kebutuhan siswa dalam berpikir kritis, memecahkan masalah, dan mengintegrasikan pengetahuan dengan pengalaman. Dengan alasan tersebut, pembelajaran kooperatif diharapkan mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.”

Pendapat tersebut diperkuat oleh Johnson & Johnson (dalam Trianto,

2011:57) menyatakan bahwa :

“Tujuan pokok belajar kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.”

Banyak model kooperatif yang dikembangkan dalam pembelajaran

matematika. Adapun model pembelajaran kooperatif pada penelitian ini adalah

model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) dan Two Stay Two Stray

(17)

5

menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran sehingga siswa dapat bertukar

informasi dan pendapat satu sama lainnya.

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)

dikembangkan oleh Spencer Kagan (1993). Shoimin (2014:107-108) menyatakan,

“Model NHT mengacu pada belajar kelompok siswa, masing-masing anggota memiliki bagian tugas (pertanyaan) dengan nomor yang berbeda-beda. Setiap

siswa mendapat kesempatan yang sama untuk menunjang timnya guna

memperoleh hasil yang maksimal sehingga termotivasi untuk belajar”. Dengan

demikian setiap individu mendapat tugas dan tanggung jawab sehingga tujuan

pembelajaran dapat tercapai. Model pembelajaran ini juga memiliki tujuan untuk

meningkatkan penguasaan akademik. Dalam hal ini, siswa juga diharapkan

mampu memahami materi sendiri dengan cara diskusi.

Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)

merupakan rangkaian penyampaian materi dengan menggunakan kelompok

sebagai wadah dalam menyatukan pikiran siswa terhadap pertanyaan yang

dilontarkan atau diajukan oleh guru, kemudian akan dipertanggungjawabkan oleh

siswa sesuai dengan nomor permintaan guru dari masing-masing kelompok.

Dengan konsep diskusi kelompok seperti ini, setiap siswa akan menjadi lebih aktif

dan sungguh-sungguh dalam melakukan diskusi dikarenakan ketidaktahuan

mereka kapan mereka akan dipanggil untuk menyelesaikan pertanyaan dari guru,

sehingga akan lebih mempersiapkan diri.

Kelebihan model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) antara

lain setiap murid menjadi siap, dapat melakukan diskusi dengan

sungguh-sungguh, murid yang pandai dapat mengajari yang kurang pandai, terjadi interaksi

secara intens antarsiswa dalam menjawab soal, dan tidak ada yang mendominasi

dalam kelompok karena ada nomor yang membatasi.

Selain memiliki kelebihan, model pembelajaran Numbered Head

Together (NHT) juga memiliki kekurangan yaitu tidak semua anggota kelompok

dipanggil oleh guru karena kemungkinan waktu terbatas.

Model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS)

(18)

6

memberikan kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan

informasi dengan kelompok lain. Model pembelajaran kooperatif TSTS adalah

dua orang siswa tinggal di kelompok dan dua orang siswa bertamu ke kelompok

lain. Dua orang yang tinggal bertugas memberikan informasi kepada tamu tentang

hasil kelompoknya, sedangkan yang bertamu bertugas mencatat hasil diskusi

kelompok yang dikunjunginya (Shoimin, 2014:222).

Pada model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray (TSTS),

setiap siswa diharuskan untuk membagikan hasil diskusi kepada kelompok lain

sehingga setiap siswa harus mengerti dengan hasil diskusi mereka. Model

pembelajaran TSTS melatih kemandirian siswa dalam belajar dan proses

pembelajaran tidak akan membosankan sebab antara siswa selalu berinteraksi

dalam kelompok maupun di luar kelompok.

Adapun kelebihan dari model pembelajaran Two Stay Two Stray (TSTS)

adalah menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa, kemampuan berbicara

siswa dapat ditingkatkan, diharapkan siswa akan berani mengungkapkan

pendapatnya, dan kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna.

Sedangkan kekurangan dari model Two Stay Two Stray (TSTS) yang dijelaskan

oleh Istarani (2014:203) adalah dapat mengundang keributan ketika siswa

bertamu ke kelompok lain, dan tidak terlalu cocok diterapkan dalam jumlah siswa

banyak karena membutuhkan waktu yang lama.

Dengan model pembelajaran seperti NHT dan TSTS diharapkan siswa

terlibat aktif, baik secara individual maupun dalam kelompok belajar. Dengan

adanya aktivitas siswa di dalam kelas diharapkan tercipta proses pembelajaran

yang efektif dan menyenangkan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Berdasarkan keseluruhan uraian di atas, peneliti merasa perlu melakukan

penelitian untuk melihat perbandingan hasil belajar dengan menggunakan model

pembelajaran yang berbeda dalam mengajarkan matematika. Karena luasnya

cakupan materi matematika peneliti mengambil materi segi empat yang ada pada

kelas VII. Dalam hal ini peneliti akan mengadakan penelitian dengan judul

(19)

7

Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together dan Two Stay Two Stray di Kelas VII SMPN 3 Percut Sei Tuan T.A 2015/2016”

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, dapat diidentifikasikan

beberapa permasalahan sebagai berikut:

1. Rendahnya minat belajar matematika siswa SMPN 3 Percut Sei Tuan.

2. Pembelajaran matematika di SMPN 3 Percut Sei Tuan cenderung masih

berorientasi pada guru.

3. Model pembelajaran yang digunakan guru di SMPN 3 Percut Sei Tuan

kurang bervariasi

4. Hasil belajar matematika siswa di SMPN 3 Percut Sei Tuan masih

tergolong rendah.

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, agar

penelitian ini lebih fokus dan terarah maka penelitian ini dibatasi pada

penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT)

dan Two Stay Two Stray (TSTS) serta perbandingan terhadap hasil belajar siswa

pada materi segi empat di kelas VII SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan T.A

2015/2016 dengan hanya melihat aspek kognitif.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan batasan masalah, masalah penelitian ini dapat dirumuskan

sebagai berikut: “Apakah hasil belajar matematika menggunakan model

pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) lebih tinggi

dibanding Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi segi empat di kelas VII SMP

(20)

8

1.5 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini

adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar siswa yang diajarkan dengan model

pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) lebih tinggi

dibanding tipe Two Stay Two Stray (TSTS) pada materi segi empat di kelas VII

SMP Negeri 3 Percut Sei Tuan Tahun Ajaran 2015/2016.

1.6 Manfaat Penelitian

Setelah dilakukan penelitian diharapkan hasil penelitian dapat

memberikan manfaat. Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini

adalah:

a. Bagi peneliti

Sebagai penambah wawasan sekaligus sebagai bahan pegangan bagi

peneliti dalam menjalankan tugas pengajaran sebagai calon tenaga

pengajar di masa yang akan datang.

b. Bagi Guru

Memiliki alternatif dalam penggunaan model pembelajaran dalam upaya

meningkatkan hasil belajar siswa.

c. Bagi siswa

Dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together

(NHT) dan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stay Two Stray

(TSTS) diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

1.7 Definisi Operasional

Untuk melakukan pengukuran variabel dalam penelitian ini maka

variabel-variabel didefinisikan sebagai berikut:

1. Model pembelajaran Numbered Head Together (NHT) adalah model

pembelajaran kooperatif yang menekankan pada struktur khusus yang

dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki tujuan

(21)

9

2. Two Stay Two Stray (TSTS) adalah model pembelajaran kooperatif yang

memberikan kesempatan kelompok untuk membagikan hasil dan informasi

dengan kelompok lain.

3. Hasil belajar adalah merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa

yang mengikuti proses belajar mengajar. Siswa mampu mencapai tujuan

pembelajaran yaitu menurunkan rumus keliling dan luas segi empat,

menghitung keliling dan luas segi empat, dan menyelesaikan masalah nyata

(22)

56

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis pengolahan data diperoleh

kesimpulan, yaitu: Secara statistik dengan menggunakan uji-t disimpulkan bahwa

hasil belajar yang diajarkan dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered

Head Together lebih tinggi dari hasil belajar matematika siswa yang diajarkan

dengan model pembelajaran kooperatif tipe Two Stray Two Stray pada materi segi

empat di kelas VII SMPN 3 Percut Sei Tuan T.A 2015/2016. Hal ini dapat dilihat

dari hasil pengujian hipotesis dimana thitung > ttabel yaitu 1,687 > 1,666.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran yang dapat peneliti berikan

adalah:

a. Kepada guru matematika hendaknya menerapkan model pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together sebagai salah satu alternatif

dalam kegiatan pembelajaran serta model pembelajaran yang diharapkan

dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.

b. Kepada guru matematika yang ingin menerapkan model pembelajaran

kooperatif tipe Numbered Head Together dan Two Stay Two Stray

sebaiknya lebih memperhatikan alokasi waktu yang ada agar seluruh

(23)

57

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono, (2012), Pendidikan Bagi Anak Kesulitan Belajar, Rineka Cipta, Jakarta.

Arikunto, Suharsimi, (2010), Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta.

---, (2013), Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi), PT. Bumi Aksara, Jakarta

Daryanto dan Muljo, (2012), Model Pembelajaran Inovatif, Gava Media, Yogyakarta.

Dimyati dan Mudjiono, (2013), Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta.

Hamalik, Oemar, (2008), Proses Belajar Mengajar, Bumi Aksara, Jakarta.

Huda, Miftahul, (2011), Cooperatif Learning: Metode, Teknik, Struktur, dan

Model Penerapan, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Istarani, (2012), 58 Model Pembelajaran Inovatif: Referensi Guru Dalam

Menentukan Model Pembelajaran, Media Persada, Medan.

Purwanto, (2011), Evaluasi Hasil Belajar, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Rusman, (2014), Model-Model Pembelajaran Mengembangkan Profesionalisme

Guru Edisi Kedua, Rajawali Pers, Jakarta.

Sanjaya, Wina, (2012), Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses

Pendidikan, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Sardiman, (2011), Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar, Rajawali Pers, Jakarta.

Shoimin, Aris, (2014), 68 Model Pembelajaran Inovatif Dalam Kurikulum 2013, Arr-Ruzz Media, Yogyakarta.

Slameto, (2010), Belajar dan Faktor-Faktor yang mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta.

Sudjana, (2005), Metoda Statistika, Tarsito, Bandung.

Sumiati dan Asra, (2013), Metode Pembelajaran, Wacana Prima, Bandung.

Trianto, (2011), Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif, Kencana Prenada Media Group, Jakarta.

Turmudi, (2012) Taktik dan Strategi Pembelajran Matematika: Referensi untuk

(24)

58

Gambar

Tabel 2.1 Langkah Langkah Model Pembelajaran Kooperatif

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh antara pola asuh orang tua terhadap prestasi belajar IPA siswa kelas VII SMP Nurul Islam Ngemplak

Sehubungan dengan akan dilaksanakannya Pembuktian Kualifikasi untuk paket pekerjaan Belanja Pembuatan Aplikasi Si-Monev ABDYA dengan ini kami undang Saudara untuk dapat hadir pada

bahwa penguasaan konsep perkembangan teknologi siswa kelompok eksperimen yang diberi perlakuan model CTL lebih baik dari- pada penguasaan konsep perkembangan tek-

Aktivitas semua pihak pada ketiga tempat tersebut (daratan/hulu, hutan mangrove, perairan laut) telah menimbulkan dampak negatif terhadap keberadaan dan keberlanjutan fungsi

[r]

[r]

THE QUALITY IMPROVEMENT ON INTEGRAL MATHEMATICS LEARNING BY GUIDED DISCOVERY MODEL AT CLASS XII BUILDING TECHNIQUE STATE 2 VOCATIONAL HIGH SCHOOL

Toko Benang-benang Hobi yang bergerak dalam bidang kerajinan kristik mempunyai lebih dari 75 pelanggan tetap yang berada di luar daerah, maka dibutuhkan sistem