• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR OPTIK GEOMETRI BERBASIS INKUIRI UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN FISIKA STKIP TAPANULI SELATAN PADANGSIDIMPUAN.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PENGEMBANGAN BAHAN AJAR OPTIK GEOMETRI BERBASIS INKUIRI UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN FISIKA STKIP TAPANULI SELATAN PADANGSIDIMPUAN."

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR OPTIK GEOMETRI BERBASIS

INKUIRI UNTUK MAHASISWA PENDIDIKAN FISIKA

STKIP TAPANULI SELATAN PADANGSIDIMPUAN

TESIS

Diajukan Guna Memenuhi Salah satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan

Program Studi Teknologi Pendidikan

Oleh:

RAHMAH HAYATI NASUTION

8126122036

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

iii

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT atas Rahmat dan Karunia-Nya saya dapat menyelesaikan Tesis ini dengan judul “Pengembangan

Bahan Ajar Optik Geometri Berbasis Inkuiri Untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan”. Dalam proses penyusunan tesis

terdapat beberapa hal yang harus dilalui, diantaranya menghadapi kendala dan keterbatasan serta bimbingan/arahan yang terwujud dalam motivasi berbagai

pihak, sehingga keterbatasan dan kekurangan dapat teratasi dengan baik.

Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada mereka yang telah berjasa,

yaitu kepada:

1. Teristimewa kepada suamiku terkasih dan tercinta Armada Hasibuan, Am.Keb sebagai motivator terkuat dan terhebat dengan kasih sayang, doanya

dan ridhonya diberikan kepada ananda sehingga penulis tetap termotivasi serta anak-anakku tersayang dan tercinta Azziddhan Faiz dan Aziz Zukhair

sebagai penyemangat yang senantiasa memotivasi hidupku.

2. Teristimewa juga kepada Ayahanda tercinta Syamsuddin Nasution dan Ibunda Zainab Tanjung sebagai motivator terkuat dan terhebat dengan kasih

sayang dan doanya diberikan kepada ananda sehingga penulis tetap termotivasi.

(6)

iv

4. Bapak Prof. Dr. Harun Sitompul, M.Pd., Bapak Prof. Dr. Julaga Situmorang, M.Pd., dan Ibu Dr. Derlina, M.Si., selaku Narasumber yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun untuk menjadikan Tesis ini

menjadi lebih baik.

5. Bapak Prof. Dr. Harun Sitompul, M.Pd., selaku ketua program studi

Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Unimed, dan Bapak Dr. R. Mursid, M.Pd., selaku sekretaris program studi Teknologi Pendidikan Program Pascasarjana Unimed yang senantiasa memberikan dorongan kepada

kami dan yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun untuk menjadikan Tesis ini menjadi lebih baik.

6. Prof. Dr. Abdul Muin Sibuea, M.Pd., selaku Direktur Program Pascasarjana Unimed serta Asisten I, II dan III beserta staf Program Pascasarjana Unimed. 7. Bapak/Ibu dosen yang mengajar di program studi Teknologi Pendidikan

Program Pascasarjana Unimed.

8. Ketua STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan beserta staf dan jajarannya, Bapak/Ibu Dosen pendidikan fisika STKIP Tapanuli Selatan dan Mahasiswa

Pendidikan Fisika khususnya Semester VI yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

9. Sahabat dan teman terbaik (Sri Hartini, M.Pd, Dedes Asriani.Srg, M.Pd, dan Aprida Irmayana, S.Pd.) yang telah memberi dorongan dan semangat kepada penulis.

10. Rekan-rekan mahasiswa Program Pascasarjana Unimed program studi Teknologi Pendidikan angkatan 2012 yang memberikan saran-saran kepada

(7)

v

Semoga Allah membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada penulis. Semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi perkembangan dunia pendidikan, khususnya pendidikan matematika. Untuk itu, penulis masih mengharapkan kritik

dan saran yang membangun demi kesempurnaan tesis ini.

Medan, 29 Januari 2016 Penulis,

(8)

vi

BAB II KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERFIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

3. Hakikat Pengembangan Modul Gelombang ... 37

1) Tahap-tahap Pengembangan ... 41

4. Rancangan Pengembangan Bahan Ajara Modul Gelombang52 1) Tahap Identifikasi ... 52

2) Tahap Desain Pengembangan ... 53

3) Tahap Evaluasi ... 57

5. Strategi Pembelajaran Ikuiri Dengan Menggunakan Modul Berbasis Inkuiri ... 61

a. Mengajukan Permasalahan ... 65

b. Merumuskan Hipotesis ... 66

(9)

vii

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian Data Pengembangan Produk ... 106

1. Deskripsi Analisis Kebutuhan ... 106

2. Deskripsi Tahap perancangan ... 112

B. Deskripsi Hasil Penelitian Uji Keefektifan Bahan Ajar Optik Geometri Berbasis Inkuiri ... 130

1. Deskripsi Data Penelitian ... 130

2. Uji Persyaratan Analisis Data ... 139

(10)

viii

b. Uji Hipotesis ... 142

C. Pembahasan Hasil Penelitian ... 148

D. Keterbatasan Penelitian ... 150

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan ... 152

B. Implikasi ... 152

C. Saran ... 153

(11)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 1.1 Rekap Nilai Mata Kuliah Gelombang Tiga Tahun Terakhir ... 7

Tabel 2.1 Kategori danKarakteristik Bahan Ajaran Cetak ... 29

Tabel 2.2 Kelebihan dan Kekurangan Jenis Bahan Ajaran Noncetak ... 30

Tabel 2.3 Peranan Bahan Ajaran ... 31

Tabel 3.1 Validasi Bahan ajaran ... 83

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Lembar Penilaian Untuk Ahli Materi ... 86

Tabel 3.3 Kisi -Kisi Lembar Penilaian Untuk Ahli Media ... 87

Tabel 3.4 Kisi -Kisi Lembar Penilaian Untuk Dosen Fisika Stkip TapanuliSelatan PadangSidimpuan ... 90

Tabel 3.5 Kisi-Kisi Angket Respon Mahasiswa ... 91

Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen Keefektifan Bahan Ajar Optik Geometri Berbasis Intruiri ... 93

Tabel 3.7 Kriteria Interpretasi Penilaian ... 96

Tabel 3.8 Kriteria keefektifan mahasiswa terhadap bahan ajar optik geometri ... 104

Tabel 3.9 Kriteria Interpretasi Skor Kelayakan Modul ... 105

Tabel 4.1 Hasil wawancara kepada Dosen ... 107

Tabel 4.2 Penilaian Dosen Fisika ... 109

Tabel 4.3 Kategori Penilaian ... 110

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Penilaian Dosen Fisika ... 110

Tabel 4.5 Persentase Rata-rata Hasil Penilaian Dosen Fisika ... 111

Tabel 4.6 Penilaian Ahli Materi ... 113

Tabel 4.7 Kategori Penilaian ... 113

Tabel 4.8 Perhitungan Penilaian Ahli Materi ... 114

Tabel 4.9 Skor Rata-rata Penilaian Oleh Ahli Materi ... 114

Tabel 4.10 Komentar Validasi Ahli Materi Pembelajaran ... 115

Tabel 4.11 Penilaian Ahli Media ... 116

Tabel 4.12 Kategori Penilaian ... 116

Tabel 4.13 Perhitungan Penilaian Ahli Media ... 117

Tabel 4.14 Skor Rata-rata Penilaian Ahli Media Pembelajaran ... 117

Tabel 4.15 Komentar Validasi Ahli Media Pembelajaran ... 119

Tabel 4.16 Uji coba Perorangan ... 120

Tabel 4.17 Kategori penilaian ... 120

Tabel 4.18 Hasil perhitungan uji Coba Perorangan ... 121

Tabel 4.19 Persentase Rata-rata Hasil Penilaian Uji Coba Perorangan ... 121

Tabel 4.20 Uji Coba Terbatas/ Kelompok Kecil ... 123

Tabel 4.21 Kategori Penilaian ... 123

Tabel 4.22 Hasil Perhitungan Uji Coba Kelompok Kecil ... 124

Tabel 4.23 Persentase Rata-rata Hasil Penilaian Pada Uji Coba Kelompok Kecil ... 124

Tabel 4.24 Uji Keseluruhan/ Uji Lapangan ... 126

Tabel 4.25 Kategori Penialaian ... 126

(12)

x

Tabel 4.27 Persentase Rata-rata Hasil Penilaian Pada

Uji Coba Lapangan ... 128 Tabel 4.28 Persentase Skor Total Hasil Penilaian Validasi Ahli dan

Uji Coba Bahan Ajar Optik Geometri Berbasis Inkuiri ... 129 Tabel 4.29 Rekapitulasi Data Hasil Belajar Pre-test pada

Materi Pokok Optik Geometri Mahasiswa Pendidikan

Fisika STKIP Tapanuli selatan Padangsidimpuan ... 131 Tabel 4.30 Skor Mean, Median, dan Modus Dari Pre-test

Hasil Belajar Optik Geometri Mahasiswa Pendidikan

Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan ... 132 Tabel 4.31 Distribusi frekuensi Pre-test Hasil Belajar Optik

Geometri di STKIP Tapanuli selatan Padangsidimpuan ... 134 Tabel 4.32 Skor Mean, Median, dan Modus Dari Post-test

Hasil Belajar Optik Geometri mahasiswa Pendidikan

Fisika Semester VI ... 136 Tabel 4.33 Distribusi frekuensi Post-test Hasil Belajar Optik

Geometri di Semester VI Mahasiswa Pendidikan Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan ... 139 Tabel 4.34 Uji Normalitas Data Hasil Belajar Tes Awal (pre-test)

Optik Geometri Mahasiswa Semester VI Pendidikan

Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan ... 139 Tabel 4.35 Uji Normalitas Data Hasil Belajar Tes Akhir (post-test)

(13)

xi

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 2.1 Pemantulan Cahaya ... 25 Gambar 2.2 Pemantulan Teratur ... 26 Gambar 2.3 Pemantulan Tidak teratur ... 26 Gambar 3.1 Bagan model Pengembangan Desain Instructional

Dick & Carey ... 78 Gambar 3.2 Bagan prosedur penelitian dan pengembangan Bahan Ajar pembelajaran Gelombang berorientasi inkuiri diadaptasi dari Borg & Gall (1983)dipadu dengan Dick, Carey & Carey

(2005) ... 79 Gambar 4.1 Diagram jumlah skor rata-rata hasil penilaian dosen fisika .. 112 Gambar 4.2 Diagram jumlah skor rata-rata hasil penilaian ahli materi .... 115 Gambar 4.3 Diagram jumlah skor rata-rata hasil penilaian ahli media .... 116 Gambar 4.4 Diagram persentase rata-rata hasil penilaian uji coba

perorangan ... 122 Gambar 4.5 Diagram persentase rata-rata hasil penilaian uji coba

kelompok kecil ... 125 Gambar 4.6 Diagram persentase rata-rata hasil penilaian uji coba

lapangan ... 128 Gambar 4.7 Diagram rangkuman persentase skor total hasil

penilaian validasi ahli dan uji coba modul pembelajaran ... 130 Gambar 4.8 Posisi Nilai Mean Pre-test Hasil Belajar

Optik Geometri Sebelum Menggunakan Bahan Ajar

Optik Geometri Berbasis Inkuiri ... 132 Gambar 4.9 Histogram Frekuensi Pre-tes Hasil Belajar Optik

Geometri Sebelum Menggunakan Bahan Ajar

Modul Gelombang Berbasis Inkuiri ... 135 Gambar 4.10 Posisi Nilai Mean Post-tes Hasil Belajar Optik

(14)

xii

Optik Geometri Berbasis Inkuiri ... 136 Gambar 4.11 Histogram Frekuensi Post-test Hasil Belajar Optik

Geometri sesudah Menggunakan Bahan Ajar Optik

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Belajar di perguruan tinggi sangat menjunjung kemandirian, mahasiswa

dituntut untuk aktif membaca, mencari, dan menganalisis sebuah masalah secara

mandiri. Kemandirian belajar harus dimulai sejak pertama kali mahasiswa memasuki

perguruan tinggi. Seseorang yang terbiasa dicekoki materi ketika belajar di sekolah

menengah harus menghadapi situasi belajar yang berbeda ketika memasuki

perguruan tinggi yaitu belajar mandiri, ternyata banyak mahasiswa yang kewalahan

menghadapi situasi ini, di ruangan kuliah hanya beberapa persen saja yang pro-aktif

menganggap dosennya sebagai fasilitator ketika diskusi. Banyak mahasiswa datang

ke ruangan perkuliahan hannya untuk datang, duduk, diam, mendengarkan, dan

mencatat apa yang dikatakan oleh dosen lalu keluar ruangan perkuliahan. Hal

tersebut merupakan indikator ketidaksiapan mereka memasuki perguruan tinggi.

Kegiatan pembelajaran di kampus merupakan bagian dari kegiatan

pendidikan pada umumnya, yang secara otomatis berusaha untuk membawa

masyarakat (mahasiswa) menuju kekeadaan yang lebih baik. Bila diperhatikan,

keberhasilan dalam pendidikan tidaklah lepas dari kegiatan proses belajar mengajar.

Belajar merupakan tindakan dan perilaku mahasiswa yang kompleks. Belajar hanya

dialami oleh mahasiswa itu sendiri dan mahasiswa sebagai penentu terjadinya atau

tidak terjadinya proses belajar. Tujuan pembelajaran dikatakan berhasil apabila

mahasiswa telah memiliki kemampuan untuk menguasai materi yang telah diajarkan

yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Keberhasilan pembelajaran biasanya dapat

(16)

2

dilihat dari nilai akhir semester mahasiswa yang telah dicapai. Nilai tersebut dapat

berupa nilai-nilai akumulasi UTS, tugas, UAS. Namun pada kenyataan sehari-hari

masih banyak nilai mahasiswa yang belum mencapai nilai yang baik. Ketidak

berhasilan ini sangat dirasakan pada pembelajaran Gelombang di STKIP “Tapanuli

Selatan”. Dalam proses pembelajaran sehari-hari, berdasarkan hasil observasi

lapangan para dosen fisika banyak mahasiswa yang menganggap bahwa pelajaran

Gelombang merupakan pelajaran yang sulit sehingga kurang berminat dan kurang

memperhatikan. Sikap mahasiswa terhadap mata kuliah Gelombang terutama

ditandai oleh tak ada perhatian sampai penolakan mendalam. Selain itu, banyak juga

mahasiswa yang malas, kurang motivasi, kurang perhatian, kurang serius, kurang

kerja keras dan masa bodoh dalam belajar sehingga tujuan pembelajaran kurang

berhasil.

Selain itu, berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan kepada

para mahasiswa fisika, pada proses pembelajaran sehari-hari sering sekali dosen

mengajar tidak sesuai dengan sifat-sifat materi, kurang kreatif, kurang variatif dan

kurang memperhatikan kemampuan yang berbeda-beda yang dimiliki mahasiswa.

Kebanyakan dosen dari mulai menyampaikan materi pelajaran sampai berakhirnya

pelajaran hanya berceramah saja tanpa memotivasi dan tidak meminta mahasiswa

untuk aktif dalam proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran kurang

menarik dan terasa monoton. Selain itu, ada beberapa kesalahan yang cenderung

dilakukan oleh para dosen Fisika sehingga mahasiswa mengalami kesulitan dalam

memahami Gelombang. Kesalahan tersebut antara lain : (1) Gelombang hanya

disajikan sebagai kumpulan rumus yang harus dihafalkan oleh mahasiswa; (2) dalam

(17)

3

memperjelas gambaran mahasiswa tentang materi yang dipelajari; dan (3) masih

banyak dosen yang ketika mengajar memiliki kecenderungan untuk mempersulit,

bukan mempermudah; (4) dalam proses kegiatan pembelajaran, dosen belum mampu

memanfaatkan sumber belajar lain, selain modul, sehingga materi sangat terbatas dan

kadang tidak sesuai dengan tuntutan kurikulum; (5) kurangnya kemampuan dosen

untuk mengembangkan materi ajar dengan berbagai bentuk penyajian sehingga

pembelajaran terkesan monoton dan membosankan; (6) kurang memahami

karakteristik peserta didik, hal ini menyebabkan peran aktif mahasiswa dalam

pembelajaran masih rendah; (7) pemanfaatan alat bantu mengajar yang ada tidak

maksimal dipergunakan; (8) kurang mampu mengaplikasikan teori dan praktek,

strategi pembelajaran yang kurang tepat, serta minimnya penggunaan media

pembelajaran. Masih banyak dosen yang belum berwawasan luas, belum memiliki

kreativitas tinggi, belum memiliki ketrampilan metodologis yang handal, belum

memiliki ketrampilan penggunaan strategi pembelajaran, belum memiliki rasa

percaya diri yang tinggi, dan belum berani mengemas dan mengembangkan materi

merupakan faktor penyebab ketidakberhasilan pembelajaran.

Selain faktor dosen yang belum berwawasan luas, belum memiliki kreativitas

tinggi, belum memiliki ketrampilan metodologis yang handal, belum memiliki

ketrampilan penggunaan strategi pembelajaran, belum memiliki rasa percaya diri

yang tinggi, dan belum berani mengemas dan mengembangkan materi, pembelajaran

juga dipengaruhi oleh ketersediaan sarana, prasarana dan sumber belajar dan

lingkungan atau suasana pembelajaran. Sekarang ini, masih terdapat beberapa

kampus yang belum memiliki sarana dan sumber belajar yang lengkap yang berupa

(18)

4

ruang laboratorium dan sebagainya. Selain itu, lingkungan atau suasana dalam proses

pembelajaran sekarang ini kebanyakan kurang menyenangkan dan kurang bermakna,

sehingga tujuan pembelajaran kurang berhasil. Untuk mencapai keberhasilan tujuan

pembelajaran yang telah ditetapkan kurikulum, maka diperlukan terobosan-terobosan

untuk menghadapi permasalahan-permasalahan di atas.

Seorang dosen dituntut untuk kreatif, variatif dan mengembangkan

pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Hal itu dapat dilakukan dengan

memilih pendekatan dan metode pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan sifat

materi atau bahan ajar dan sesuai dengan kondisi yang diinginkan mahasiswa. Selain

itu, agar pembelajaran berhasil dosen harus memahami dan memperhatikan aktivitas

yang berbeda-beda yang dimiliki mahasiswa agar materi yang disampaikan dapat

diterima oleh semua mahasiswa. Hal ini sesuai dengan teori belajar yang

disampaikan oleh Bruner, Ausubel dan Piaget. Belajar bermakna ialah suatu proses

dimana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dipunyai

seseorang yang sedang belajar.

Proses pembelajaran dan metode pembelajaran yang digunakan oleh seorang

dosen sangat memegang peranan penting dalam mencapai penguasaan konsep suatu

pelajaran. Pembelajaran adalah setiap kegiatan yang dirancang untuk membantu

seseorang mempelajari suatu kemampuan dan atau nilai yang baru. Mahasiswa yang

cocok dengan pembelajaran yang diterapkan dosen dalam mengajar akan merasa

senang dengan pelajaran tersebut sehingga mahasiswa tersebut menjadi bersemangat

akibatnya mahasiswa tersebut mudah menerima konsep yang disampaikan yang

(19)

5

Sedangkan metode pembelajaran adalah suatu bentuk pengajaran yang diarahkan

atau diorientasikan pada strategi dosen pada proses pembelajaran.

Telah banyak langkah-langkah yang dilakukan pemerintah untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran diperguruan tinggi, diawali dengan diadakannya

desain dari kurikulum, Peningkatan standar penilaian sampai pada proses

pembelajaran dan ketersediaan bahan ajar. Dosen memegang peranan penting di

dalam proses pembelajaran, karena seorang dosenlah yang mengelola proses

pembelajaran serta dapat memberikan bahan perkuliahan yang sesuai dengan

kebutuhan. Seorang dosen dituntut untuk dapat memberikan bahan ajar berupa buku

teks pembelajaran yang memadai bagi mahasiswanya.

Jika setiap dosen menyusun bahan ajar pembelajaran yang dilakukan di setiap

semester maka secara keseluruhan proses pembelajaran dapat berjalan lancar.

Berdasarkan tujuan pembelajaran, sasaran mutu pembelajaran dan tersedianya bahan

ajar pembelajaran, maka Program Studi mampu menilai tingkat keberhasilan proses

pembelajaran semua mata kuliah yang diselenggarakan. Bila semua dosen telah

melakukan demikian, sasaran mutu pembelajaran ini dapat ditingkatkan lagi menjadi

sasaran mutu pembelajaran untuk Program Studi Pendidikan Fisika.

Dalam belajar fisika pada matakuliah Gelombang di perguruan tinggi

program studi pendidikan fisika hendaknya fakta, konsep dan prinsip-prinsip fakta

tidak diterima secara prosedural tanpa pemahaman dan penalaran. Pengetahuan tidak

dapat dipindahkan begitu saja dari pengetahuan yang ada pada dosen ke mahasiswa.

Mahasiswa sendirilah yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan

(20)

6

pengertian dibentuk oleh mahasiswa secara aktif, bukan hanya diterima secara pasif

dari dosen mereka.

Gelombang adalah mata kuliah wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa

Program Studi Pendidikan Fisika Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan

(STKIP) Tapanuli Selatan Padangsidimpuan. Sebelum mempelajari Gelombang,

semua mahasiswa diwajibkan mengikuti perkuliahan dan dinyatakan lulus mata

kuliah Fisika Dasar I dan Fisika Dasar II. Dalam Fisika Dasar inilah mahasiswa

diharapkan memiliki pengetahuan dasar tentang Fisika dan nantinya akan menjadi

dasar bagi mahasiswa untuk mengikuti mata kuliah berikutnya di tingkat yang lebih

tinggi. Oleh karena itu, diperlukan suatu usaha agar mahasiswa dapat memahami

mata kuliah ini dengan baik.

Tujuan mata kuliah Gelombang berdasarkan silabus Program Studi

Pendidikan Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan adalah agar mahasiswa

memiliki kemampuan untuk menyatakan deskripsi gelombang dalam berbagai

medium, serta sifat-sifat umum gelombang dan penerapannya pada gelombang

permukaan air, gelombang bunyi, serta gelombang elektromagnetik. Tujuan mata

kuliah gelombang dalam tiga tahun terakhir ini dapat dikatakan belum tercapai,

karena berdasarkan Daftar Nilai Akademik Mahasiswa masih banyak mahasiswa

yang mendapat nilai kurang dari 76 (kategori: C). Hal ini dapat dilihat dari rekap

(21)

7

Tabel 1.1

Rekap Nilai Mata Kuliah Gelombang Tiga Tahun Terakhir Tahun Sumber : DPNA Program Studi Pendidikan Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan.

Berdasarkan pengamatan dan wawancara informal yang dilakukan peneliti

(2012) terhadap dosen dan mahasiswa khususnya, dalam perkuliahan pendalaman

Gelombang diperoleh keterangan bahwa pada umumnya bahan perkuliahan selama

ini sebanyak 40% dan belum mampu memenuhi kebutuhan sesuai dengan

karakteristik dosen dan mahasiswa baik itu perhatian, minat, motivasi, dan kesadaran

mahasiswa. Mahasiswa berasal dari berbagai daerah yang tingkat pendidikannya

masih rendah dan iklim akademik yang masih kurang. Akibatnya, perhatian

mahasiswa untuk mengikuti proses perkuliahan Fisika sangat rendah. Di samping itu,

mahasiswa kurang memiliki minat untuk membaca bahan perkuliahan. Hal ini dapat

dilihat ketika mahasiswa diberi kesempatan untuk membaca bahan perkuliahan,

umumnya mahasiswa lebih banyak bermain dan berbicara sesama teman saja.

Motivasi yang dimiliki mahasiswa untuk selalu hadir dalam perkuliahan juga masih

rendah, dari persentase kehadiran mahasiswa selama perkuliahan terlihat masih

banyak mahasiswa yang tidak bisa mengikuti ujian akhir semester karena kurangnya

persentase kehadiran. Ditambah lagi kurangnya kesiapan mahasiswa dalam

mengikuti perkuliahan, ketika dosen menanyakan materi perkuliahan minggu lalu

mahasiswa tidak bisa menjelaskan dengan baik. Kesadaran yang masih rendah

dalam diri mahasiswa untuk mencari dan menemukan konsep dasar Gelombang juga

(22)

8

Perkuliahan yang dilakukan selama ini belum dapat berjalan dengan lancar,

karena banyak mahasiswa yang belum memiliki buku pegangan untuk mengikuti

perkuliahan. Hal ini terjadi karena mahasiswa belum diwajibkan untuk memiliki

bahan ajar, dan selama ini STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan belum

menyediakan diktat perkuliahan seperti kebanyakan di perguruan tinggi lainnya.

Bahan ajar yang tersedia di perpustakaan juga tidak sesuai dengan karakteristik dan

kebutuhan mahasiswa fisika khususnya untuk matakuliah gelombang. Di samping

itu, mahasiswa kurang aktif dalam mencari bahan pelajaran, sehingga mahasiswa

hanya mengandalkan penjelaskan dosen dengan cara mencatat materi tersebut.

Selain itu, mahasiswa bersifat pasif dalam pembelajaran. Mahasiswa lebih cenderung

menerima apa saja yang dijelaskan oleh dosen. Proses perkuliahan menjadi tidak

kondusif, karena perkuliahan selalu menggunakan metode ceramah, selain itu

diperlukan waktu untuk mencatat materi yang telah dijelaskan dosen. Kegiatan

seperti ini membutuhkan waktu lama dan pada akhirnya tujuan perkuliahan tidak

dapat dicapai sesuai waktunya.

Pembelajaran di perguruan tinggi menuntut agar mahasiswa aktif dalam

perkuliahan, mahasiswa juga harus dapat belajar dan menemukan sendiri konsep

Fisika tersebut. Kenyataannya di lapangan, terlihat bahwa banyak mahasiswa yang

hanya mengandalkan apa yang dia peroleh dari penjelasan dosen yang telah dicatat

dan menunggu materi untuk dicopikan. Hal ini mengakibatkan mahasiswa tidak

dapat berperan aktif, dan susah menemukan sendiri konsep gelombang tersebut.

Berdasarkan kesulitan mahasiswa dalam menemukan konsep gelombang

rata-rata 90% dikarenakan bahan ajar yang kurang efektif, maka bahan ajar adalah salah

(23)

9

kepada mahasiswa. Menurut Setiawan (2007: 116), bahan ajar yang disusun dengan

baik dapat memberikan banyak keuntungan bagi mahasiswa antara lain: membantu

mahasiswa belajar tanpa harus ada dosen, mahasiswa dapat belajar kapan dan dimana

saja, mahasiswa dapat belajar dengan kecepatan sendiri, mahasiswa dapat belajar

menurut urutannya sendiri, dan meningkatkan potensi mahasiswa agar menjadi

mahasiwa mandiri. Biasanya, bahan ajar bersifat mandiri, artinya dapat dipelajari oleh

peserta didik secara mandiri karena sistematis dan lengkap (Panen dan Purwanto, 2004 :

16).

Bahan ajar modul adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu

dosen dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud

berupa tertulis maupun tidak tertulis (Amri dan Ahmadi 2010:159). Menurut

Dharmasraya (2008:1), bahan ajar modul merupakan bagian penting dalam pelaksanaan

pendidikan di perguruan tinggi. Melalui bahan ajar modul dosen akan lebih mudah

dalam melaksanakan pembelajaran dan siswa akan lebih terbantu dan mudah dalam

belajar. Bahan ajar modul dapat dibuat dalam berbagai bentuk sesuai dengan kebutuhan

dan karakteristik materi ajar yang akan disajikan. Pada pendidikan menengah umum, di

samping buku-buku teks, juga dikenalkan adanya lembar-lembar pembelajaran

(instructional sheet) dengan nama yang bermacam-macam, antara lain: lembar tugas (job

sheet), lembar kerja (work sheet), lembar informasi (information sheet), dan bahan ajar

lainnya baik cetak maupun non-cetak. Semua bahan yang digunakan untuk mendukung

proses belajar itu disebut sebagai bahan ajar.

Analisis dilakukan dengan melihat karakteristik mahasiswa yang beragam

latar belakang, terbatasnya jumlah buku fisika universitas yang tersedia di

(24)

10

diperpustakaan, dan kurangnya minat mahasiswa untuk mencari buku maupun

memiliki buku yang dibutuhkan dalam pembelajaran. Mahasiswa lebih banyak

menggunakan buku fisika untuk sekolah menengah dibandingkan buku universitas

maupun internet. Bahan ajar modul Optik Geometri berbasis inkuiri yang dimaksud

untuk dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan mahasiswa maka diperoleh

sebesar 90% mahasiswa sangat membutuhkan bahan ajar, sedangkan dosen 80%

membutuhkan bahan ajar.

Perkuliahan Gelombang selama ini masih bersifat teacher centered.

Mahasiswa hanya datang, duduk, mendengar, dan mencatat materi yang dijelaskan

dosennya. Mahasiswa juga belum memiliki persiapan untuk mengikuti perkuliahan,

serta kurangnya orientasi dari dosen untuk mengkondisikan agar mahasiswa siap

dalam mengikuti pelajaran. Perkuliahan Gelombang terlihat bahwa mahasiswa belum

mampu untuk merumuskan masalah yang telah diorientasikan dosennya. Mahasiswa

tidak dapat merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, dan menguji hipotesis dari

masalah yang diberikan, akhirnya mahasiswa sulit dalam merumuskan kesimpulan

dari materi gelombang yang diajarkan oleh dosennya. Diperlukan perubahan dalam

proses pekuliahan Gelombang selama ini berupa suatu model pembelajaran baru

untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa.

Berbagai upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas perkuliahan, namun

hasil refleksi dari dosen tim mata kuliah Gelombang menunjukkan kurangnya

kemampuan mahasiswa dalam menguasai materi Gelombang serta hasil belajarnya

belum memuaskan dikarenakan beberapa faktor. Pertama, Jurusan Fisika belum

memiliki bahan ajar gelombang dan optika secara permanen yang akan digunakan

(25)

11

sehingga beberapa materi gelombang belum dapat dipahami. Beberapa bahan ajar

yang sudah ada belum memiliki format yang seragam dan bahkan beberapa bahan

ajar yang sudah ada, susah dipahami mahasiswa sehingga membingungkan saat

digunakan dalam perkuliahan. Format dan isi bahan ajar tersebut rata-rata belum

dapat memandu mahasiswa untuk mempelajari materi gelombang.

Bahasan optika geometri merupakan kajian yang penerapan konsepnya

banyak dijumpai mahasiswa dalam kehidupan sehari-hari. Dalam KTSP maupun

kurikulum 2013, materi optika geometri muncul diakhir semester. Materi optika

geometri belum dapat disampaikan secara maksimal karena terbatasnya waktu.

Selain itu, dalam kurikulum 2013 materi pemantulan dan pembiasan cahaya oleh

cermin dan lensa ditiadakan. Sementara materi pemantulan dan pembiasan cahaya

oleh cermin dan lensa sangat dibutuhkan dan masih tetap diajarkan sebagai

kemampuan prasyarat mahasiswa untuk dapat memamhami alat optik.

Materi optika geometri memiliki karakter materi yang kompleks. Untuk

dapat memahaminya dibutuhkan waktu yang banyak. Di sisi lain tidak semua kajian

optika geometri dapat dipelajari melalui eksperimen di kampus karena keterbatasan

waktu dan sarana. Salah satu alternatif untuk membantu mengatasi keterbatasan

pelaksanaan eksperimen dengan tetap berusaha menyajikan permasalahan nyata

kepada mahasiswa adalah dengan menggunakan modul yang memuat permasalahan

lokal. Dengan membantu menyajikan permasalahan nyata yang bersifat lokal dalam

modul, pengalaman yang lebih nyata dalam sebuah eksperimen dapat terwakili.

Penyajian permasalahan nyata yang bersifat lokal ke dalam modul untuk membantu

mahasiswa mudah dalam belajar meskipun dengan atau tanpa didampingi dosen

(26)

12

Untuk mengatasi masalah tersebut perlu dicarikan bahan ajar gelombang

yang sesuai dan dapat menyelesaikan permasalah di atas. Bahan ajar yang sesuai

dengan kondisi ini adalah bahan ajar gelombang berbasis inkuiri. Menurut Sanjaya

(2006:196), Pembelajaran yang menggunakan model inkuiri adalah pembelajaran

yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan

menemukan sendiri jawaban dari suatu masalah yang dipertanyakan. Pembelajaran

inkuiri ini dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa pada materi gelombang,

karena dengan inkuiri ini mahasiswa dituntut untuk melakukan orientasi,

merumuskan masalah, merumuskan hipotesis, mengumpulkan data, menguji

hipotesis dan pada akhirnya mahasiswa dapat menyimpulkan materi gelombang

tersebut. Melalui pembelajaran yang dilakukan dengan model inkuiri diharapkan

mahasiswa dapat menemukan sendiri konsep-konsep dan prinsip fisika sehingga ilmu

pengetahuan yang diperoleh bertahan lebih lama. Berdasarkan uraian di atas maka

dalam penelitian ini perlu dikembangkan bahan ajar Optik Geometri Berbasis Inkuiri

untuk mahasiswa pendidikan fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian yang dikemukakan pada latar belakang di atas dapat

diidentifikasi beberapa masalah dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) apakah yang

menjadi penyebab rendahnya pemahaman mahasiswa tentang Optik Geometri. (2)

mengapa kurangnya minat mahasiswa untuk memiliki buku perkuliahan gelombang.

(3) mengapa kurang efektifnya proses pembelajaran gelombang. (4) apakah yang

menjadi penyebab kurangnya bahan ajar bagi para dosen. (5) apakah masalah yang

(27)

13

(6) mengapa terbatasnya media pembelajaran gelombang. (7) apa yang menyebabkan

diktat perkuliahan gelombang yang belum tersedia. (8) apa yang menyebabkan

terbatasnya sarana dan prasarana pembelajaran gelombang. (9) mengapa bahan ajar

Gelombang yang dibuat dosen belum ada yang dikembangkan dengan berbasis

Inkuiri. (10) mengapa model Pembelajaran Gelombang yang diterapkan saat ini

merupakan pembelajaran yang berpusat pada dosen bukan berpusat pada mahasiswa.

(11) mengapa pembelajaran Gelombang yang diterapkan saat ini merupakan

pembelajaran yang lebih menekankan pada hasil bukan pada proses. (12) mengapa

kreatifitas dosen dalam pembelajaran Gelombang dalam mengembangkan bahan ajar

masih kurang. (13) apa yang menyebabkan hasil belajar Gelombang di STKIP

Tapanuli Selatan Padangsidimpuan masih rendah. (14) ketersediaan bahan ajar

pendamping pembelajaran gelombang dikampus yang sesuai dengan kurikulum

belum ada. (15) bahan ajar berupa modul gelombang pada pokok bahasan optik

geometri belum ada. (16) materi optika geometri masih jarang dikaitkan dengan

permasalahan lokal dan mudah dijumpai mahasiswa.

C. Batasan Masalah

Ditinjau dari identifikasi masalah yang muncul, maka masalah yang muncul

sangat luas sehingga perlu pembatasan masalah. Adapun yang akan diteliti dalam

penelitian ini adalah Pengembangan Bahan Ajar Optik Geometri Berbasis Inkuiri

untuk Mahasiswa Pendidikan Fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan yang

mencakup materi refleksi dan refraksi, refleksi total, refleksi pada cermin sferis,

aberasi sferis pada kaca, refraksi pada permukaan sferis, aberasi kromatis, lensa dan

(28)

14

D. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan mengingat identifikasi masalah serta batasan

masalah, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

1. Apakah bahan ajar Optik Geometri berbasis inkuiri yang dihasilkan memenuhi

syarat dan layak sebagai media pembelajaran yang baik bagi mahasiswa

Pendidikan Fisika STKIP Tapanuli selatan Padangsidimpuan?

2. Apakah Bahan Ajar Optik Geometri Berbasis Inkuiri efektif digunakan untuk

mahasiswa pendidikan fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui apakah bahan ajar optik geometri berbasis inkuiri yang

dihasilkan memenuhi syarat dan layak sebagai media pembelajaran yang baik bagi

mahasiswa fisika STKIP Tapanuli selatan Padangsidimpuan.

2. Untuk mengetahui keefektifan bahan ajar optik geometri berbasis inkuiri yang

dihasilkan bagi mahasiswa pendidikan fisika STKIP Tapanuli selatan

Padangsidimpuan.

F. Manfaat Penelitian

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat: (1) memperkaya khasanah

ilmu pengetahuan terutama tentang pengembangan modul pembelajaran Gelombang

guna meningkatkan kualitas pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Optik

Geometri, (2) Menjadi sumbangan pemikiran dan bahan acuan teori bagi dosen,

(29)

15

mengkaji lebih dalam tentang pengembangan dan pemanfaatan media untuk

meningkatkan kualitas pembelajaran.

Secara rinci manfaat penelitian pengembangan bahan ajar Optik Geometri

berbasis inkuiri adalah:

1. Mahasiswa sebagai pemecahan masalah belajar pada pendalaman mata kuliah

Gelombang berupa bahan ajar untuk perkuliahan.

2. Dosen sebagai salah satu alternatif alat bantu bagi dosen Fisika dalam

meningkatkan kualitas perkuliahan.

3. Peneliti merupakan salah satu syarat dalam mencapai gelar Magister Pendidikan

dan dapat dijadikan referensi dan informasi untuk melakukan penelitian

selanjutnya.

4. Pembaca, untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan, serta sebagai

landasan untuk melanjutkan penelitian ini

Sedangkan secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat (1) membantu

mahasiswa dalam memahami materi gelombang dengan pembelajaran yang efektif

yang pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar Gelombang mereka. (2)

membantu dosen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pemanfaatan

media bahan ajar berbasis inkuiri yang sesuai dengan perkembangan teknologi

informasi dan komunikasi sehingga pembelajaran yang dilaksanakan bisa lebih

(30)

152

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

A. Kesimpulan

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bahan ajar modul gelombang berbasis inkuiri untuk mahasiswa di prodi pendidikan fisika STKIP Tapanuli

Selatan Padangsidimpuan. Dari hasil pembahasan hasil penelitian dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Hasil validasi dari para validator menunjukkan bahwa bahan ajar modul gelombang berbasis inkuiri yang dikembangkan valid dan layak untuk dipergunakan mahasiswa dalam pemebelajaran gelombang.

2. Bahan ajar modul gelombang berbasis inkuiri untuk mahasiswa pendidikan fisika efektif digunakan dalam pembelajaran gelombang. Ini dilihat dan adanya hasil belajar

mahasiswa selama perkuliahan berlangsung.

B. Implikasi

Penelitian ini telah menghasilkan bahan ajar modul gelombang berbasis inkuiri di

prodi Pendidikan fisika STKIP Tapanuli Selatan Padangsidimpuan. Pada dasar penelitian ini juga dapat memberikan gambaran dan masukan khususnya kepada penyelenggara

pendidikan (ketua prodi pendidikan fisika, dan dosen pengampu mata kuliah), dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain itu dapat membuat pembelajaran gelombang menjadi lebih mudah, dan efektif serta dapat dijadikan indikator untuk meningkatkan hasil

belajar mahasiswa.

Pengembangan bahan ajar modul gelombang berbasis inkuiri ini dapat dilakukan oleh dosen-dosen di satu lembaga pendidikan. Namun yang perlu diperhatikan adalah kelayakan

(31)

153

dan efektifitas dari perangkat tersebut tidak boleh diabaikan, karena hal-hal tersebut sangat menentukan tingkat kualitas perangkat pembelajaran yang dikembangkan.

Pengembangan bahan ajar modul ini mengacu pada prinsip pembelajaran yang

menekankan pada prinsip memberikan kebebasan pada mahasiswa untuk belajar dengan kemampuan dan kecepatannya sendiri. Pada pembelajaran menggunakan modul ini, dituntut

kemandirian mahasiswa dan harus melakukan serangkaian aktivitas pembelajaran. Pengembangan modul juga dapat dilakukan pada materi-materi perkuliahan fisika lainnya karena pada prinsipnya semua materi dapat dibuatkan bahan ajamya berupa modul.

Pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar modul gelombang berbasis inkuir pada penggunaan waktu yang dibutuhkan tergantung pada kemampuan mahasiswa. Jika mahasiswa berkemampuan tinggi kendala waktu tidak menjadi masalah, tetapi jika

mahasiswa di dalam kelas banyak memiliki kemampuan rendah, tentu penggunaan perangkat ini kurang efektif.

C. Saran

1. Bahan Ajar modul gelombang berbasis inkuiri dapat dijadikan contoh bagi dosen dalam mengembangkan modul yang lain. Perbaikan dan modifikasi terus dilakukan

asal tetap mempertahankan prinsip inkuiri.

2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan modul yang dikembangkan dalam penelitian ini dapat meningkatkan aktivitas dan motivasi

(32)

154

3. Karena uji coba perangkat pembelajaran ini masih sangat terbatas yaitu 22 orang dan hanya satu kelas saja, sebaiknya dosen/guru mengujicobakan pada kelas

lain yang paralel atau bagi yang berminat untuk menggunakan sekaligus mengujicobakan perangkat ini dilembaga-lembaga pendidikan tinggi/sekolah dengan

(33)

155

DAFTAR PUSTAKA

Aspar. (2011). Pengembangan perangkat pembelajaran fisika SMA berorientasi pendekatan

inkuiri pada materi Impuls dan Momentum Linear. Tesis, Program Pasca Sarjana

Universitas Negeri Padang.

Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Tim Penyusun Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Panduan Pengembangan Bahan Ajar. Departemen

Pendidikan Nasional. Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan

Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas. Depdiknas. 2003. Kurikulum Standar Kompetensi, Jakarta : Depdiknas

Depdiknas. 2006. Model Penilaian Kelas Kurikulum Berbasis Kompetensi SMA /MA,Jakarta : BNSP Depdiknas

Desmalinda. (2011). Pengembangan perangkat pembelajaran fisika berorientasi inkuiri

terpimpin materi Induksi Magnetik dan Induksi Elektromagnetik untuk SMA Kelas XII IPA. Tesis. Program Pasca Sarjana Universitas Negeri Padang.

Dikmenum dalam Muslich, M. (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan

Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara

Englewood Cliffs. Inc dalam Muslich, M. (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi

dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara

Festiyed, (2012), Modul Rekonstruksi Perangkat Pembelajaran di Perguruan Tinggi,

Program Applied Approach (AA) Pekerti, UNP Padang.

Grasindo dalam Trianto. (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Konsep,

Landasan, dan Implementasinya Pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Lufri. (2008). Strategi Pembelajaran Biologi, Teori, Praktik dan Penelitian. Buku Ajar. Padang. UNP Press.

Mulyasa, E. (2010). Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Purwanto, MN. (2010). Psikologi Pendidikan. bandung: PT Remaja Rosdakarya.

_________________ (2004). Prinsip-prinsip dan Evaluasi Pengajaran. Bandung. Remaja Rosdakarya.

Pupuh F & Sobry MS. (2007). Strategi Belajar Mengajar melalui Penanaman Konsep Umum

dan Konsep Islam. Bandung: Aditama.

(34)

156

Riduwan. (2011). Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula . Bandung:Alfabeta.

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Sardiman, AM. (2007). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.

Setiawan, D. (2007). Pengembangan Bahan ajar, jakarta, Universitas Terbuka.

Setyosari. (1990). Pengajaran Modul. Malang: Proyek Operasi dan Perawatan Fasilitas IKIP Malang.

Slameto. (2010). Dasar-dasar Pembelajaran, Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Sugiyono, (2008). “Metodologi Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, Alfabeta, Bandung.

Sukardi. (2008). Evaluasi Pendidikan Prinsip dan Operasional. Yogyakarta: Bumi Aksara.

Sukmadinata, NS, (2005). Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Program Pasca Sarjana UI dan PT Remaja Rosdakarya.

Sungkono, (2003). Pengembangan Bahan Ajar. Yogyakarta: FIP UNY.

Surapranata, S. (2009). Analisis, Valisitas, Reliabilitas dan Interpretasi Hasil Tes. Bandung: PT Remaja Rosdakarya offset.

Suryosubroto. (1983). Sistem Pengajaran dengan Modul. Yoyakarta: Bina Aksara.

Syarifuddin (2006) yang berjudul “ Pengaruh pembelajaran inkuiri-kooperatif terhadap hasil belajar fisika siswa. Tesis S2 UNP Padang.

Tian Belawati, dkk. (2003). Pengembangan Bahan Ajar . Jakarta: Pusat Penerbitan UT. Trianto. (2009). Mengembangkan Model pembelajaran Tematik. Jakarta: PT. Prestasi Pustaka

Trianto, (2007). Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Vembrianto, ST. (1983). Pengantar Pengajaran Modul. Yogyakarta: Yayasan Pendidikan Paramita.

Wena, M. (2011). Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer Suatu Tinjauan Konseptual

Gambar

Tabel 4.27 Persentase Rata-rata  Hasil Penilaian Pada                     Uji Coba Lapangan  ...............................................................
Gambar 4.11 Histogram Frekuensi Post-test Hasil Belajar Optik
Tabel 1.1   Rekap Nilai Mata Kuliah Gelombang Tiga  Tahun Terakhir

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan Inayah dan Hidayah-Nya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir ini dengan judul:

Kesimpulan daripada perbincangan ini, Masadir memainkan peranan penting dalam bidang pengkajian sejarah Islam. Sumber sebagai nadi kepada ilmu sejarah, tanpa

Toba , dimana perusahaan saudara termasuk telah dinyatakan lulus evaluasi administrasi, teknis dan harga, maka dengan ini kami mengundang saudara untuk hadir dalam

Penguatan habituasi (respons) rusa terhadap bunyi pluit dan keeper berbaju merah dengan pemberian tambahan urin keeper pada pakan rusa dalam proses penjinakan dan

Perceived quality merupakan persepsi pelanggan terhadap keseluruhan kualitas atau keunggulan produk berkaitan dengan maksud yang diharapkan. Untuk mengukur

Istilah namimah sering diartikan adu domba ( makna kias ), Mereka adalah orang yang pekerjaannya memecah belah terhadap kondisi yang baik menjadi tidak baik, Namimah

merupakan salah satu latihan menggunakan gerakan low impact yang efektif menurunkan berat badan sebab Pilates excercise memiliki banyak kesamaan dengan latihan