RELAPS PADA PASIEN SKIZOFRENIA

18 

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Masing-masing dari kita mungkin pernah menyaksikan di jalan-jalan, orang yang berpakaian compang-camping bahkan terkadang telanjang sama sekali, berkulit dekil, rambut gimbal, atau kasar seperti bertahun-tahun tidak dicuci dan disisir. Jika diperhatikan lebih lanjut, terkadang mereka tampak berbicara sendiri tanpa ada lawan bicara, terkadang mengomel, atau marah-marah pada orang-orang disekitarnya tanpa tujuan yang jelas. Apabila melihat hal tersebut, biasanya kita langsung menyebutnya sebagai “orang gila”, “orang sinting”, “orang edan”, dan sebagainya. Secara ilmiah orang semacam ini dikatakan menderita gangguan “skizofrenia”, yaitu suatu gangguan yang dianggap sebagai salah satu gangguan mental yang paling berbahaya.

Skizofrenia adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani; “schizein” yang berarti “terpisah” atau “pecah” dan “phrenia” yang berarti “jiwa”. Arti dari kata-kata tersebut menjelaskan tentang karakteristik utama dari gangguan skizofrenia, yaitu adanya pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku dari orang yang mengalaminya. Gangguan skizofrenia tergolong pada gangguan psikotik, yang ciri utamanya antara lain adalah kegagalan dalam reality testing.

Gangguan skizofrenia sebenarnya telah dibicarakan sejak ratusan tahun yang lalu. Dalam sejarahnya, banyak sekali tokoh psikiatri maupun neurologi yang berperan. Beberapa tokoh yang dianggap memberikan sumbangan penting antara lain Emil Kraepelin dan Eugen Bleuler.

Prevalensi penderita skizofrenia di Indonesia adalah 0,3 - 1% dan biasanya timbul pada usia sekitar 18 – 45 tahun, namun ada juga yang baru berusia 11-12 tahun sudah menderita skizofrenia. Apabila penduduk Indonesia sekitar 200 juta jiwa, maka diperkirakan sekitar 2 juta jiwa menderita skizofrenia, dimana sekitar 99% pasien di RS Jiwa di Indonesia adalah penderita skizofrenia (Arif, 2006).

(2)

medis lainnya. Mereka sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, misalnya perlakuan kekerasan, diasingkan, diisolasi atau dipasung. Mereka sering sekali disebut sebagai orang gila (insanity atau madness). Ini mungkin disebabkan karena ketidaktahuan atau pengertian yang salah dari keluarga atau anggota masyarakat mengenai skizofrenia. Masyarakat pada umumnya mengesampingkan bahwa perubahan pada seseorang yang menderita skizofrenia berhubungan dengan kepribadiannya yang terpecah, tetapi masyarakat lebih menekankan kepada penderita bahwa mereka adalah orang yang sangat berbahaya bagi lingkungan sekitarnya.

Skizofrenia bukan masalah psikologis semata, ini merupakan gangguan jiwa yang harus ditangani dengan tepat dan benar. Manifestasi gangguan ini sering ditemukan pada kelompok usia muda. Hal ini akan mempengaruhi perasaan, pikiran, perilaku, pergerakan, pembicaraan, inisiatif, pekerjaan dan kehidupan sosial dari penderita. Akibat kurangnya pengetahuan mengenai skizofrenia, menyebabkan timbulnya pengertian yang salah baik di pihak keluarga maupun lingkungan sekitar sehingga penanganannya menjadi lebih lama disebabkan kebingungan keluarga dalam mencari bantuan yang tepat.

Kurangnya kesadaran masyarakat akan penyakit ini mungkin berhubungan dengan penatalaksanaan dan fasilitas perawatan yang kurang memadai. Onset yang timbul pertama kali pada skizofrenia sering ditemukan pada usia remaja atau dewasa muda, perjalanan penyakit yang kronik dan tidak sembuh. Hal ini menyebabkan penderita sering dianggap menjadi beban dan kurang berguna bagi masyarakat. Beban ekonomi dan penderitaan yang harus ditanggung oleh penderita skizofrenia ternyata sangat besar. Ini dapat dilihat dari data yang ada bahwa 8% pasien dengan skizofrenia tidak bekerja, 50% melakukan usaha bunuh diri, 10% berhasil melakukan bunuh diri, belum lagi besarnya biaya yang harus dikeluarkan baik secara langsung untuk membeli obat-obatan dan biaya perawatan, maupun secara tidak langsung seperti hilangnya pendapatan pasien, waktu yang diberikan oleh care-givers untuk penderita, serta penderitaan yang dialami oleh pasien dan pihak keluarga (Sinaga, 2007).

(3)

sosial yang dialami keluarga. Kehadiran skizofrenia dalam mereka sungguh menimbulkan aib yang besar. Hal ini tidak terbatas pada keluarga dengan status sosial-ekonomi-pendidikan yang rendah saja, namun juga dialami oleh keluarga kalangan atas.

Biasanya keluarga yang memiliki anggota keluarga yang menderita skizofrenia akan menyerahkan sepenuhnya perawatan dan pengobatan kepada pihak rumah sakit jiwa karena mereka kurang mengetahui bagaiman cara merawat penderita skizofrenia dan mereka berkeyakinan bahwa dengan menjalani perawatan di rumah sakit jiwa maka pasien akan mendapat perawatan dan pengobatan yang tepat sehingga kemungkinan untuk pulih sangat besar.

Pada dasarnya semua pasien skizofrenia memang harus menjalani perawatan inap di rumah sakit jiwa, semua pasien skizofrenia seharusnya dirawat di rumah sakit jiwa sebisa mungkin saat penampilan pertama. Rumah sakit memberikan lingkungan suportif dan memaparkan pada yang lain dengan kondisi yang sama dengan terapi yang serupa. Indikasi utama perawatan di rumah sakit jiwa adalah untuk tujuan diagnostik, menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh, dan perilaku yang sangat kacau atau tidak sesuai, termasuk ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, pakaian, dan tempat berlindung. Tujuan utama perawatan di rumah sakit jiwa yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung masyarakat.

Biasanya pasien yang pertama kali dibawa ke rumah sakit jiwa untuk berobat pasti akan meronta-ronta, mengamuk bahkan cenderung bersikap kasar karena dia menolak untuk diobati. Tetapi pihak rumah sakit harus bisa menenangkan pasien tersebut untuk pengobatan selanjutnya. Setelah diberi pengobatan dan terapi-terapi psikologis, pasien akan mulai terbiasa dan bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar serta mulai bisa menerima obat-obatan anti psikotik yang dia konsumsi.

(4)

yang aktif adalah lebih efektif daripada institusi yang biasanya dan komunitas terapeutik berorientasi-tilikan (Kaplan, Sadock, & Grebb, 1997).

Rencana pengobatan di rumah sakit jiwa harus memiliki orientasi praktis ke arah masalah kehidupan, perawatan diri sendiri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan sosial. Perawatan di rumah sakit jiwa harus diarahkan untuk mengikat pasien dengan fasilitas pascarawat. Kunjungan rumah kadang-kadang dapat membantu pasien tetap diluar rumah sakit untuk periode waktu yang lama dan dapat memperbaiki kualitas kehidupan sehari-hari pasien.

Meskipun sebenarnya skizofrenia tidak bisa disembuhkan secara total, tetapi dengan menggunakan obat-obatan anti-psikotik dan psikoterapi maka gejala-gejala positif skizofrenia dapat dikendalikan. Pemulihan menyeluruh mungkin saja dilakukan tapi tidak bisa dipastikan.

Dengan mendapat perawatan yang tepat dari pihak rumah sakit jiwa, keluarga pasien penderita skizofrenia berharap bahwa pasien akan pulih dari simtom-simtom penyebab gangguan tersebut dan dapat beraktivitas seperti biasa serta tidak lagi membebani keluarga dan masyarakat.

Pasien rawat inap yang sudah menunjukkan perilaku yang baik setelah pengobatan dan tidak lagi menunjukkan gejala-gejala yang buruk maka dapat direkomendasikan oleh rumah sakit jiwa untuk pulang ke rumah dan menjalani rawat jalan dengan pengawasan keluarganya. Namun bagaimana jika seorang pasien yang sebelumnya mendapat perawatan yang cukup baik dan pengobatan yang sesuai dengan dosis yang diberikan oleh dokter serta diizinkan untuk menjalani rawat jalan tidak berapa lama mengalami kekambuhan dengan menunjukkan gejala-gejala seperti saat belum mendapatkan perawatan dirumah sakit jiwa. Hal inilah yang biasa disebut dengan relaps atau kekambuhan kembali.

(5)

Kebanyakan pasien-pasien skizofrenia mengalami perjalanan penyakit yang kronik dengan berbagai bentuk karakteristik relaps dengan eksaserbasi psikosis dan peningkatan angka rehospitalisasi. Terjadinya relaps dapat menurunkan tingkat dan durasi remisi, memperburuk disabilitas dan meningkatkan refrakteritas bagi pengobatan selanjutnya.

Dalam buku Minister Supply dan Service Canada (2005) dijelaskan bahwa banyak keluarga mengatakan ketika pasien keluar dari rumah sakit, mereka berharap masalah utama yang berada di balik pasien sedang dalam jalan menuju perbaikan. Mereka percaya bahwa dengan pengobatan dan terapi yang tepat, pasien akan semakin membaik sampai kemudian sembuh. Ketika pasien mengalami kekambuhan saat dalam rawat jalan, banyak diantara keluarga tersebut merasa terkejut.

Relaps atau kekambuhan paling mengikuti perjalanan bagi kehidupan pasien skizofrenia. Dalam sebuah penelitian yang ditulis oleh Davies (1994) hampir 80% pasien skizofrenia mengalami relaps berulang kali. Relaps biasanya terjadi bila keluarga hanya menyerahkan perawatan pada rumah sakit jiwa dan obat-obatan anti psikotik tanpa disukung perawatan langsung dari keluarga.

Dalam sebuah penelitian yang ditulis dalam The Hongkong Medical Diary bahwa studi naturalistik telah menemukan tingkat kekambuhan atau relaps pada pasien skizofrenia adalah 70%-82% hingga lima tahun setelah pasien masuk rumah sakit pertama kali. Penelitian di Hongkong menemukan bahwa dari 93 pasien skizofrenia masing-masing memiliki potensi relaps 21%, 33%, dan 40% pada tahun pertama, kedua, dan ketiga.

(6)

Daerah Provinsi Sumatera Utara dan juga menunjukkan tingginya angka relaps pada penderita remisi sempurna (Sirait, 2008).

Terjadinya relaps pada pasien skizofrenia tentu akan merugikan dan membahayakan pasien, keluarga, dan masyarakat. Ketika tanda-tanda kekambuhan atau relaps muncul, pasien bisa saja berperilaku menyimpang seperti mengamuk, bertindak anarkis seperti menghancurkan barang-barang atau yang lebih parah lagi pasien akan melukai bahkan membunuh orang lain atau dirinya sendiri. Jika hal itu terjadi masyarakat akan menganggap bahwa gangguan yang diderita pasien tersebut sudah tidak bisa disembuhkan lagi. Keluarga pun akan dirugikan dari segi materi karena jika pasien mengalami rehospitalisasi atau kembali menjalani rawat inap di rumah sakit jiwa maka akan banyak biaya yang harus mereka keluarkan untuk pengobatan.

Alasan peneliti melakukan penelitian ini dan memilih kelompok relaps sebagai target populasi dalam penelitian ini didasarkan pada kenyataan bahwa rehospitalisasi sering terjadi pada pasien-pasien skizofrenia yang mengalami relaps di rumah sakit jiwa. Mengingat gangguan skizofrenia sangat sulit disembuhkan maka potensi pasien yang mengalami relaps akan semakin besar jika tidak ada dukungan baik dari pihak rumah sakit, keluarga atau masyarakat.

Berdasarkan hal itu, peneliti merasa perlu melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab relaps pada pasien skizofrenia. Peneliti menjadi tertarik untuk melakukan penggalian lebih dalam terkait dengan apa yang menyebabkan pasien itu kambuh bahkan setelah pasien mendapat perawatan medis maupun psikologis. Peneliti juga beranggapan bahwa penelitian ini juga dapat digunakan untuk meminimalkan kejadian relaps sehingga dapat menurunkan angka rehospitalisasi.

B. Rumusan masalah

(7)

C. Tujuan penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa penderita skizofrenia mengalami relaps.

D. Manfaat penelitian 1. Manfaat teotitis

Memberikan wacana dan informasi tambahan terhadap ilmu psikologi secara umum khususnya psikologi klinis.

2. Manfaat praktis

a. Memberikan informasi tentang penyebab terjadinya relaps pada pasien skizofrenia sehingga pihak rumah sakit dan keluarga dapat melakukan pencegahan untuk meminimalkan terjadinya relaps pada pasien

(8)

RELAPS PADA PASIEN SKIZOFRENIA

SKRIPSI

Oleh :

Diny Rezki Amelia

08810096

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(9)
(10)
(11)
(12)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum WR. WB

Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT. Atas

segala rahmat, taufik serta hidayah-Nya yang telah diberikan kepada penulis,

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Relaps Pada Pasien

Skizofrenia”.

Penulis menyadari dalam penyelesaian skripsi ini, penulis banyak

memperoleh bimbingan dan motivasi dari berbagai pihak, oleh karena itu pada

kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1.

Dra. Cahyaning Suryaningrum, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus sebagai dosen pembimbing I

yang telah banyak meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, masukan

dan nasehat yang sangat berarti bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini.

2.

Zainul Anwar, M.Psi selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan

waktu untuk memberikan bimbingan, masukan dan nasehat yang sangat berarti

bagi penulis dalam penyusunan skripsi ini.

3.

Hudaniah, M.Si selaku dosen wali yang telah memberikan bimbingan, dukungan

dan perhatian kepada penulis mulai dari awal perkuliahan hingga selesainya

skripsi ini.

4.

Bapak dan ibu dosen Fakultas Psikologi yang telah memberikan ilmunya kepada

penulis, semoga bapak dan ibu dosen selalu dalam rahmat dan lindungan Allah

SWT serta ilmu yang telah diajarkan dapat bermanfaat dikemudian hari.

5.

Mama dan papa tercinta yang telah mendidik, membimbing dan memberikan

nasehat serta mendoakan agar penulis selalu mencapai keberhasilan dan

kesuksesan serta memberikan dorongan moril dan materil sehingga kuliah dan

skripsi ini bisa terselesaikan.

6.

Adikku Muhammad Iqbal, terimakasih untuk doa dan dukungannya, jadilah anak

(13)

7.

Perawat pelaksana RSJD Sambang Lihum, terutama perawat pelaksana di

ruangan mahoni, jati, dan agatis, terima kasih untuk kesediaan waktunya

menyiapkan subjek untuk penulis.

11.

Ketiga subyek penulis, pasien RSJD Sambang Lihum dan keluarga, terima kasih

sudah bersedia memberikan informasinya kepada penulis.

12.

Taufik Rahman, S.Kep, yang datang tepat pada waktunya dan selalu

menyemangati penulis dan memberikan motivasi serta nasehat untuk sabar

dalam menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih sudah membantu penulis dalam

pelaksanaan penelitian dan membantu mempertemukan penulis dengan subjek

dan keluarga subjek.

13.

Sany dan tirani, sahabat sekaligus saudara baru selama di malang yang selalu

bisa menciptakan kesenangan, tawa dan kebahagiaan selama kuliah di Fakultas

Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang. Terima kasih untuk semangat

dan motivasi yang sudah diberikan kepada penulis.

14.

Teman-teman mahasiswa psikologi 2008 khususnya kelas B, para kakak tingkat

dan adik tingkat, terima kasih untuk pertemanan dan bantuannya selama penulis

menempuh studi di Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang.

Semoga ALLAH SWT membalas segala amal dan kebaikannya. Penulis

menyadari bahwa karya tulis ini masih jauh dari sempurna dengan segala

keterbatasan yang ada, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya skripsi ini

sangat penulis harapkan. Meski demikian, penulis berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi peneliti khususnya dan pembaca pada umumnya.

Wassalamualaikum Wa rahmatullahi Wa barakatuh.

Malang, 31 Maret 2012

Penulis

Diny Rezki Amelia

(14)

DAFTAR ISI

A.

Latar Belakang Masalah ... 1

B.

Rumusan Masalah ... 6

C.

Subyek Penelitian dan Informan ... 25

D.

Konteks Penelitian ... 26

E.

Jenis Data, Instrumen Penelitian, dan Metode

Pengumpulan Data ... 26

1.

Jenis Data ... 26

2.

Instrumen Penelitian ... 26

3.

Metode Pengumpulan Data ... 26

F.

Prosedur Penelitian... 27

G.

Analisa Data ... 30

H.

Keabsahan Data ... 32

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Identitas Subyek. ... 33

B.

Deskripsi Data ... 33

C.

Hasil Analisa Data... 41

D.

Rangkuman Hasil Penelitian ... 55

(15)

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1: Identitas Subyek Penelitian. ... 33

Tabel 4.2: Faktor Penyebab Relaps pada Subyek UM ... 41

Tabel 4.3: Faktor Penyebab Relaps pada Subyek ZK. ... 46

Tabel 4.4: Faktor Penyebab Relaps pada Subyek AV ... 51

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Informed Consent... ... 65

Lampiran 2: Jadwal Kegiatan Penelitian... ... 69

Lampiran 3: Panduan Wawancara... ... 72

Lampiran 4: Verbatim Subyek... ... 76

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2008).

Psikologi kepribadian

. Malang: UMM Press

Arif, I.S. (2006).

Skizofrenia

(Memahami dinamika keluarga pasien). Bandung:

Refika Aditama

Kaplan, H.I., & Sadock, B.J. (1998).

Ilmu kedokteran jiwa darurat

. Jakarta: Widya

Medika

Kaplan, H.I., Sadock, B.J. & Grebb, J.A. (1997).

Sinopsis psikiatri

(Ilmu

pengetahuan perilaku psikiatri klinis). Jakarta: Binarupa Aksara

Kembaren, L. (2011).

Psikoedukasi keluarga pada pasien skizofrenia

. Diakses 2

Maslim, R. (2001).

Buku saku diagnosis gangguan jiwa

. Jakarta: PT Nuh Jaya

(18)

Moleong, L.J. (2011).

Metodologi Penelitian Kualitatif

. Bandung: PT Remaja

Rosdakarya Offset

Morgan, H.G. & Morgan, M.H. (1990).

Segi praktis psikiatri

. Jakarta: Binarupa

Aksara

Nolen, S. & Hoeksema. (2001).

Abnormal psychology

(second edition). New york:

Mc Graw Hill

Pieter, H.Z. & Lubis, N.L. (2010).

Pengantar psikologi dalam keperawatan

. Jakarta:

Prenada Media

Semiun, Y. (2006).

Kesehatan mental 3

. Yogyakarta: Kanisius

Simanjuntak, Y.P. (2008).

Faktor risiko terjadinya relaps pada pasien skizofrenia

paranoid

(Tesis). Diakses 2 April 2012 diperoleh dari http://

www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6360/3/00E00835.pdf

Sinaga, B.R. (2007).

Skizofrenia dan diagnosis banding

. Jakarta: UI Press

Sirait, A. (2008).

Pengaruh koping keluarga terhadap terjadinya relaps pada

skizofrenia remisi sempurna di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera

Utara

(Tesis).

Diakses

7

April

2012

diperoleh

dari

http://

www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/6815/1/047023001.pdf

Sugiyono. (2010).

Memahami Penelitian Kualitatif

. Bandung: CV. Alfabeta

Tomb, D.A. (2004).

Buku saku psikiatri

. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Townsend, M.C. (1998).

Buku saku diagnosa keperawatan pada keperawatan

psikiatri

. Jakarta: Buku Kedokteran EGC

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...