PERDAGANGAN INDONESIA DI ASIA:
STUDI KASUS STANDARD INTERNATIONAL
TRADE CLASSIFICATIONS 5, 6, 7 DAN 8
DISERTASI
JOKO SUBANDRIO USMAN
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam
disertasi saya yang berjudul:
ANALISIS TINGKAT KETERBUKAAN PERDAGANGAN
INDONESIA DI ASIA: STUDI KASUS STANDARD INTERNATIONAL
TRADE CLASSIFICATIONS 5, 6, 7 DAN 8
Merupakan gagasan atas hasil penelitian saya sendiri, dengan bimbingan
Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.
Disertasi ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program
sejenis di perguruan tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan
telah dinyatakan secara jelas sumbernya dan dapat diperiksa kebenarannya.
Bogor, Februari 2012
JOKO SUBANDRIO USMAN. 2012. Analysis of Indonesian Trade Openness in Asia: Case Study for Standard International Trade Classifications 5, 6, 7 and 8 (MANGARA TAMBUNAN as Chairman, ANNY RATNAWATI and HERMANTO SIREGAR as Members of Advisory Committee)
This research has objectives to analyzeIndonesian trade openness and trade flows set particularly for its industrial products, in Asia. The research employed Gravity Model in its all analysis. The research covered eight Indonesian trading partners which includes ASEAN (represented by Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand and the Philippine) and China, Japan, India and South Korea, abbreviated by JACIK. The research utilized secondary data from UNComtrade and IFS International Financial Statistic IMF for the periode 1998 to 2008. The research disclosed that trade openness has positive relationship with our economic growth, number of population, exchange rates and trade conformity index, however it has negative relationship with distance between countries. The research also found that Indonesian international trade flows a Heckscher-Ohlin model more than increasing return or product differentiation or still an inter-industry trade rather than intra-industry trade, substantiated by positive sign of Trade Conformity Index and average lower Grubel Llyod index. The research also found that in general our international trade flows has considerable opportunity to augment its performance, substantiated by research’s finding on Speed of Convergence test in our bilateral trade with our partners, suggesting that they are desirable partners for an Asia FTA.
JOKO SUBANDRIO USMAN. 2012. Analisis Tingkat Keterbukaan Perdagangan Indonesia di Asia: Studi Kasus Standard International Trade
Classifications 5, 6, 7 dan 8 (MANGARA TAMBUNAN, sebagai Ketua,
ANNY RATNAWATI dan HERMANTO SIREGAR sebagai Anggota
Komisi Pembimbing)
Doha Development Agenda (WTO) belum mampu menyelesaikan
perbedaan-perbedaan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang mengenai isu-isu kebijakan perdagangan international atau trade
multilateralism agreement. Situasi tersebut telah mendorong terbentuknya
bilateralisme dan regionalisme di dunia, termasuk di wilayah Asia secara tak terkendali. Pada tahun 2006, diperkirakan sudah terbentuk sebanyak 57 Free
Trade Agreements (FTA) di kawasan Asia. Hal ini betul-betul akan menjadi
stumbling blocks bagi suatu multilateral trading system dan terjadinya
spaghetti/ noodle bowl syndrome dikawasan Asia Timur atau dikenal dengan kesemprawutan bilateral FTA dan regional FTA. Kesemprawutan tersebut diantaranya mengenai waktu berlakunya kerjasama tersebut dan pengaturan bilateral yang saling bertentangan serta adanya diskriminatif. Sementara itu perdagangan bilateral Indonesia dengan seluruh mitra dagangnya tumbuh sangat cepat. Pada tahun 2002, nilai perdagangan bilateral Indonesia hanya sekitar 5 milyar USD setiap bulannya, namun pada tahun 2011 sudah mencapai 30 milyar USD. Saat ini, perdagangan bilateral Indonesia dengan wilayah ASEAN+3+India sudah mencapai 62 persen dari seluruh perdagangan bilateral Indonesa di dunia.
Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menganalisis Keterbukaan Perdagangan Indonesia dengan mitra dagangnya di kawasan Asia, khususnya pada kelompok komoditi SITC5, 6, 7 dan 8. Negara yang tercakup dalam penelitian ini adalah Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, Jepang, Korea Selatan, China, dan India. Negara-negara tersebut biasa disingkat dengan JACIK (Japan, ASEAN, China, India dan Korea Selatan).
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secondary data yang berasal dari UNComtrade dan IFS (International Financial Statistic) IMF 1988-2008. Metode yang digunakan dalam melakukan analisisnya adalah
Gravity Model. Untuk mendukung kesimpulan pada model gravity tersebut
maka dihitung juga nilai Speed of Convergence (SoC), Trade Conformity
Index danGrubel Lloyd Index.
Sementara itu, hasil perhitungan nilai Speed of Convergence (SoC) yang sebagian besar bernilai negatif. Hal ini berarti akan menguntungkan bagi Indonesia jika wilayah tersebut ikut berpartisipasi dalam Asian FTA. Nilai SoC Jepang dan sebagian Korea Selatan bernilai positif bukan berarti bahwa ekspor Indonesia dengan tujuan dua negara tersebut sudah jenuh, tetapi hal ini disebabkan karena perdagangan kita dengan kedua negara tersebut berbobot ekspor hasil pertambangan seperti minyak mentah dan gas bumi, batu bara dan nickel ore yang bukan kelompok komoditi yang diteliti saat ini. Sedangkan dalam studi keterbukaan perdagangan ini, hanya menggunakan produk-produk industri yang termasuk dalam kelompok komoditi SITC5, 6, 7 dan 8.
Selanjutnya penelitian ini juga menunjukan bahwa perdagangan Indonesia dengan negara-negara di wilayah ini berpola inter-industry trade
yang ditunjukkan dengan tanda positif dari koefisien Trade Conformity Index
(TCI) serta nilai Grubel Lloyd Index (GLI) yang relatif rendah. Tapi perlu diperhatikan bahwa cukup banyak komoditi industri Indonesia yang mempunyai Grubel Lloyd Index diatas 0.50 yang berarti sudah masuk kategori
intra-industry trade. Intra-industry trade adalah perdagangan kelompok
barang-barang yang sama sebagai hasil dari product differentiation baik barang mentah maupun barang jadi. Perdagangan produk-produk ini mempunyai tingkat integrasi yang tinggi karena indutri yang ada diberbagai negara hampir sama satu sama lainnya, contohnya spare parts dan komponen otomotif dan elektronik. Produk hasil industri tersebut mendominasi perdagangan intra-industri di kawasan Asia.
Pemerintah perlu mengambil kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong perkembangan perdagangan inter-industry trade maupun
intra-industry trade. Disamping itu, juga harus dibantu agar dapat menciptakan
industri down stream dari produk-produk berbasis sumber daya alam dan mendorong investasi asing. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan peran dari intra-industry trade. Sementara itu, peningkatan trade openness Indonesia harus selalu diwaspadai dan dikendalikan baik kebijakan perdagangan maupun kerjasama keuangan regional seperti Chiang Mai Initiative Multilateralism.
Hal ini akan sangat diperlukan dalam menjaga terjadinya gejolak perekonomian dunia.
© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
1 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa
mencantumkan atau menyebutkan sumber
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan
karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2 Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh
STUDI KASUS
STANDARD INTERNATIONAL
TRADE CLASSIFICATIONS
5, 6, 7 DAN 8
JOKO SUBANDRIO USMAN
DISERTASI
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup : 1. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi.
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor,
2. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS.
Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka : 1. Dr. Ir. Hasudungan Tampubolon
Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.
2. Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS.
International Trade Classifications 5, 6, 7 dan 8 Nama Mahasiswa : Joko Subandrio Usman
Nomor Pokok : A.161040324
Menyetujui : 1. Komisi Pembimbing
Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan, MSc. Ketua
Dr. Ir. Anny Ratnawati, MS. Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc.
Anggota Anggota
Diketahui
2. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian
3. Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor
Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA. Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr.
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan disertasi dengan judul “Analisis Tingkat Keterbukaan Perdagangan Indonesia di Asia: Studi Kasus Standard International Trade
Classifications 5, 6, 7 dan 8”. Disertasi tersebut merupakan syarat untuk
menyelesaikan studi program doktor pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.
Pada kesempatan ini penulis secara tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada para pembimbing; Prof. Dr. Ir. Mangara
Tambunan, MSc selaku ketua komisi pembimbing; Dr. Ir. Anny Ratnawati, M.S.; Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec yang masing-masing sebagai
anggota komisi pembimbing, yang telah banyak memberikan perhatian, waktu dan masukan dalam penyusunan disertasi ini.
Ucapan terimakasih dan penghargaan juga ingin penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Rektor IPB, Bapak Dekan dan Sekretaris Program Pascasarjana
IPB serta seluruh staf pengajar dan administrasi pada program pascasarjana Ilmu Ekonomi Pertanian, atas semua bantuan dan fasilitas yang disediakan sehingga penulis dapat mengikuti pendidikan dengan baik dan lancar.
2. Bapak Prof. Bonar M.Sinaga, MA. sebagai dosen dan Ketua Program
Sudi Ilmu Ekonomi Pertanian, yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan, masukan dan dorongan yang sangat berharga.
3. Ibu Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS. sebagai dosen ilmu Perdagangan
Internasional yang telah memberikan dorongan awal agar penulis menyusun disertasi dibidang perdagangan internasional.
4. Rekan-rekan mahasiswa Program EPN khusus2, terutama Sdr. Adi
banyak membantu mempersiapkan data dari UNComtrade hingga data siap untuk diolah.
6. Kepada kawan-kawan dari Lembaga Kajian Kebijakan Publik CINAPS,
khususnya Prof. Dr. Sudijarto, MA. dan Dr. Ir. Hasudungan Tampubolon
yang terus mendorong agar segera menyelesaikan disertasi ini.
7. Kepada Sdr. Hasan Ashari dan Barudin, statistisi Badan Pusat Statistik
yang telah membantu dalam data processing disertasi ini.
8. Kepada Almarhum orang tua saya, Bapak Usman Mintodiharjo (alm)
dan Ibu Siti Chatijah (alm), serta Bapak Setyo Sewoyo (alm) serta Ibu Mursina Setyo Sewoyo (alm). Bapak dan Ibu telah memberikan yang
terbaik sebagaimana yang orang tua harus berikan kepada anaknya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas jasa dan kebaikan Bapak dan Ibu.
9. Akhirnya kepada Istri saya tercinta Endang Sriati dan kedua anak saya
Wahyuni Hanindriowati Subandrio dan Hendro Ganjar Gunarso
Subandrio kepadamulah disertasi ini saya dedikasikan. Kalian telah memberikan yang terbaik yang seharusnya Istri kepada Suaminya dan anak kepada Bapaknya.
10. Pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang secara
langsung maupun tidak langsung ikut membantu kelancaran studi saya, khususnya dalam penyelesaian disertasi ini.
Penulis menyadari bahwa sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki keterbatasan dalam menyusun disertasi ini. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkannya.
Bogor, Februari 2012
Penulis lahir pada tanggal 29 Nopember 1939, dari pasangan R. Usman Mintodihardjo dan Siti Chatidjah. Penulis beristrikan Endang Sriati dan dikaruniai dua anak yaitu Wahyuni Hanindriowati Subandrio dan Hendro Ganjar Gunarso Subandrio.
Penulis berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai Insinyur Pertanian di Institut Pertanian Bogor tahun 1964 dan memperoleh gelar Master of Sciece in Economic dari Misissippi State University, Amerika Serikat pada tahun 1974.
Penulis mendapat pendidikan non degree antara lain di United Nations
Institue for Economic Development and Planning tahun 1969 di Bangkok di bidang Economic Development and Planning, Short Course di Centre for Tropical Agriculture University of Florida, Gainsville, dibidang Agricultural Development Planning tahun 1974. Selanjutnya penulis mendapatkan pendidikan Executive Development Program dibidang Corporate Strategy di
Harvard University Graduate School of Business tahun 1983. Jurnal yang
sudah diterbitkan terkait dengan studi ini adalah “Kajian: Indonesia dan Integrasi Perdagangan di Asia”, (2012) serta “Tingkat Keterbukaan dan Kompetisis dalam Arus Perdagangan Indonesia di Asia”, (2012).
Penulis pernah bertugas di Komando Tertinggi Operasi Ekonomi
KOTOE tahun 1964-1966, selaku Sektretaris Team Pengadaan dan Distribusi Pangan. Kemudian dipindahkan ke Departemen Pertanian menjadi anggota Team Counterparts Bank Dunia untuk Agricultural Development Program 1967-1968, selanjutnya menjadi Sekretaris Penyusunan Pelita I Subsector Pangan Departemen Pertanian 1968-1969, selanjutnya pada 1970-1972
Halaman
1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 10
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11
2.1. Tinjauan Teoritis ... 11
2.1.1. Teori Perdagangan Internasional ... 11
2.1.2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi pada Perdagangan ... 12
2.1.3. Keuntungan dari Perdagangan ... 17
2.1.3.1. Pengaruh Perdagangan pada Kesejahteraan Individu ... 17
2.1.3.2. Pengaruh Perdagangan pada Penerimaan Faktor Produksi ... 18
xviii
3.3. Integrasi Perdagangan dan Arus Perdagangan Intraregional ... 49
3.3.1. Proses Regionalisasi: Intraregional ………..…... 49
3.3.2. Komposisi Perdagangan Intraregional …………...……… 50
3.3.3. Komposisi Perdagangan Intraindustri ………….…..…… 51
3.4. Kerangka Operasional Penelitian ... 53
3.5. Hipotesis Penelitian ... 55
4.3. Teknik Estimasi Model Regresi Menggunakan Panel Data ... 66
V. GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN AKTIVITAS PERDAGANGAN INDONESIA …... 71
5.1. Kondisi Perekonomian Beberapa Negara di Dunia ... 71
5.2. Kondisi Perekonomian Indonesia ………..………... 73
5.3. Kerjasama Perdagangan Internasional di Indonesia ... 76
5.3.1. Perkembangan Pelaksanaan Kerjasama ... 76
5.3.2. Perkembangan Pelaksanaan Kerjasama Perdagangan Bilateral antara Indonesia dengan Negara-negara ASEAN 77
xix
6.5. Speed of Convergence (SoC) Test dan Grubel Lloyd Index (GLI) .. 112
6.5.1. Speed of Convergence (SoC) ... 112
6.5.2. Grubel Lloyd Index ... 116
6.6. Sintesis atas Hasil Penelitian Mengenai Model Gravity untuk Tingkat Keterbukaan (Openness) dan Aliran Perdagangan (Trade) 122
VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN ... 125
7.1. Simpulan ... 125
7.2. Implikasi Kebijakan ... 128
7.3. Saran Penelitian Lanjutan ... 131
DAFTAR PUSTAKA ... 133
xx
Nomor Halaman
1. Literature on Trade Openness (TO) and Growth Country ... 29
2. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Kawasan dan Beberapa Negara di
Dunia, 2005-2009 ………..………... 72
3. Nilai Perdagangan Bilateral Indonesia dengan Beberapa Negara
ASEAN Plus, 2009-2011 ………..……... 78
4. Trade Conformity Index (TCI) dari Masing-masing Kelompok
Komoditi SITC pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia ... 85
5. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model
Openness ... 88
6. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade
untuk Seluruh Kelompok Komoditi ... 94
7. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade
untuk Kelompok Komoditi SITC5 ... 102
8. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade
untuk Kelompok Komoditi SITC6 ... 105
9. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade
untuk Kelompok Komoditi SITC7 ... 109
10. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade
untuk Kelompok Komoditi SITC8 ... 111
11. Nilai SoC dari Masing-masing Kelompok Komoditi SITC pada
Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia ... 113
12. Proporsi Grubel Lloyd Index dari Masing-masing Kelompok GLI pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia menurut Kelompok
xxi
xxii
Nomor Halaman
1. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Konsumsi ... 14
2. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Produksi ………. 15
3. Penggolongan Individu dalam Perdagangan ... 17
4. Keuntungan Total Perdagangan, Keuntungan Konsumsi dan
Keuntungan Produksi ………... 20
5. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 54
xxiii
xxiv
Nomor Halaman
1. Nama Jenis Komoditi Berdasarkan SITC ………..……... 141
2. Trade Conformity Index (TCI) dari Tiap-tiap Negara Mitra Dagang
Indonesia, Tahun 1989-2008 ………... 150
3. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC5
pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 151
4. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC6
pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 152
5. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC7
pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 153
6. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC8
pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 154
7. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI)dari Tiap-tiap Negara Mitra Dagang
Indonesia, Tahun 1989-2008 ………... 155
8. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC5 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …...… 156
9. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC6 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …...… 157
10. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC7 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …..… 158
11. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC8 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …..… 159
12. Hasil Estimasi Model Openness ………..…... 160
13. Hasil Estimasi Model Trade ……..………..………... 161
14. Hasil Estimasi Model Trade menurut Kelompok Komoditi SITC ... 162
xxv
1.1. Latar Belakang
Bentuk kerjasama ekonomi dan perdagangan baik bilateral maupun
multilateral antar sesama kawasan maupun sesama kepentingan sudah banyak
dilaksanakan. Sejak kegagalan pertemuan WTO di Seattle 1999, dan kemajuan
yang kurang menggembirakan dari APEC dan ASEAN pada saat itu, dan
ketidakjelasan arah perkembangan ekonomi setelah terjadi krisis Asia tahun
1997/1998 maka terjadilah perubahan paradigma perekonomian di kawasan Asia.
Perubahan wawasan perekonomian tersebut ditandai dengan mulai tumbuh dan
berkembangnya gejala ekonomi di Asia yang pada awalnya tidak menyetujui
bentuk-bentuk preferential agreement, saat ini mulai menyetujui perjanjian
perekonomian perdagangan regional dan perdagangan bilateral.
Kebijakan perdagangan bebas tersebut menekankan adanya penurunan tarif
yang lebih rendah dan penghapusan kuota impor, yang juga merupakan bagian
dari proses integrasi di dalam blok perdagangan regional. Meskipun kerjasama
perdagangan yang seharusnya membawa keuntungan jangka panjang dengan
memungkinkan suatu negara untuk memperoleh keuntungan dari hasil melakukan
spesialisasi produksi berdasarkan keuntungan komparatif yang dimiliki, namun
sejumlah masalah mungkin terjadi. Pertama dapat mengakibatkan terjadinya
defisit neraca perdagangan, sebagai akibat dari bertambahnya jumlah barang
impor yang dibeli konsumen karena harganya lebih murah. Kedua adalah
terjadinya defisit anggaran pemerintah, karena pendapatan yang diterima
dampak terhadap distribusi pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang
semakin memprihatinkan. Sebagaimana kritikan Stiglitz (2002) mengenai konsep
pasar bebas yang tidak adil dan berimbang.
Hingga saat ini, Doha Development Agenda (WTO) belum mampu
menyelesaikan perbedaan-perbedaan antara negara maju dengan
negara-negara berkembang mengenai isu-isu kebijakan perdagangan international atau
trade multilateralism agreement. Situasi tersebut telah mendorong terbentuknya
bilateralisme dan regionalisme di dunia, termasuk di wilayah Asia secara tak
terkendali. Pada tahun 2006, diperkirakan sudah terbentuk sebanyak 57 Free
Trade Agreements (FTA) di kawasan Asia. Hal ini betul-betul akan menjadi
building blocks bagi suatu multilateral trading system dan terjadinya spaghetti/
noodle bowl syndrome dikawasan Asia Timur atau dikenal dengan
kesemprawutan bilateral FTA dan regional FTA. Kesemprawutan tersebut
diantaranya mengenai waktu berlakunya kerjasama tersebut dan pengaturan
bilateral yang saling bertentangan serta adanya diskriminatif (Baldwin, 2007).
Keadaan tersebut ditanggapi dengan cepat oleh negara-negara ASEAN dan Asia
Utara seperti Jepang, Korea dan China. ASEAN mempercepat Regional Free
Trade Agreement (RFTA) -nya, kemudian disusul oleh negara-negara ASEAN
dan Jepang yang membicarakan dan menyetujui Economic Partneship Agreement
dalam format keserasian. Selanjutnya negara-negara ASEAN dan China juga
membentuk China ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA). Sedangkan Korea
lebih aktif dalam mendorong dibentuknya ASEAN +3.
Sejak 4 November 2002, Indonesia bersama negara ASEAN telah
mengenai pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan ASEAN-China. Hal ini
berarti akan meningkatkan peluang dalam menyerap peningkatan pangsa pasar
yang mencapai 1,7 miliar penduduk ASEAN-China, apalagi jika kerjasama
tersebut didorong untuk lebih intensif lagi. Disamping itu dilakukan juga bentuk
kerjasama ekonomi dan perdagangan lainnya baik bilateral maupun multilateral
seperti AFTA (ASEAN Free Trade Agreement), APEC (Asia Pacific Economic
Cooperation) dan WTO (World Trade Organization). Bahkan AFTA dan APEC
sudah mulai dilaksanakan pada tahun 2003 (Bank Indonesia, 2010).
Jepang yang terkenal sangat konservatif mulai ikut membentuk perjanjian
perdagangan bilateral dengan beberapa negara seperti Singapura dan Korea
Selatan. Indonesia juga sedang menegosiasikan persetujuan bilateral dengan
Jepang dalam rangka Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (EPA),
yang sekarang dilihat sebagai bagian dari ASEAN-Japan Comprehensive
Partnership Agreement. Kondisi ini memunculkn apa yang sering dinamakan
dengan suatu new age of comprehensive of economic partnership agreements,
dimana Free Trade Agreement (FTA) salah satu komponen utamanya. China telah
menjadi partner dialog utama ASEAN untuk membentuk ASEAN + One Free
Trade Agreements dengan memberlakukan early harvest atau berarti segera
dilakukan penurunan tarif untuk beberapa jenis komoditi diantara negara-negara
anggota.
Gejala FTA tidak hanya terjadi antara negara-negara di kawasan Asia tetapi
juga terjadi antara negara Asia (dimotori Singapura dan Thailand) dengan
Amerika Serikat dan Australia. Sedangkan Malaysia dan Korea Selatan ikut
agreement dengan Amerika Serikat. Indonesia bukan termasuk negara yang
berada di depan dalam membentuk persetujuan perdagangan bebas (FTA) secara
bilateral. Sementara itu anggota ASEAN sedang mengupayakan untuk
meningkatkan AFTA menjadi ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun
2015, dimana tidak hanya arus barang yang bebas, tetapi juga arus jasa dan
investasi, serta arus modal dan tenaga kerja yang lebih bebas. Proses ini terlalu
lambat dan program penerapannya cenderung tidak strategis. Terlampau banyak
yang ingin dicapai tetapi mekanisme kelembagaan ASEAN belum mampu
mendukung sepenuhnya.
Melihat perkembangan ini, India dengan kebijakan Look East-nya mencoba
memanfaatkan forum EAS (East Asia Summit), yang untuk pertama kalinya
diselenggarakan di Kualalumpur Tahun 2005 dan terakhir di Bali Tahun 2011.
Hal ini mendorong dibentuknnya Pan Asia Closer Economic Cooperation dalam
bentuk ASEAN +3+India, dengan sebutan JACIK (Japan, ASEAN, China, India,
Korea) Free Trade Agreement. India telah mempercepat terbentuknya
ASEAN-India FTA terlebih dahulu yang hingga saat ini perjanjian tersebut sedang
menunggu ratifikasi dari masing-masing negara ASEAN.
Pembentukan JACIK (Japan, ASEAN, China, India dan Korea Selatan) atau
Asia FTA ini maka akan ada penggabungan tiga negara dengan jumlah populasi
yang sangat besar dan disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
yaitu China, India dan Indonesia. Disamping itu, akan terjadi penggabungan
negara-negara New Industrial Nations seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan
Cooperation dalam bentuk Free Trade Agreement, (Prachin, 2003; Roberts, 2004;
Nagesh, 2007).
Namun hingga saat ini masih belum banyak penelitian tentang justifikasi
manfaat pembentukan JACIK FTA tersebut. Beberapa penelitian pernah
dilakukan antara lain oleh Muhanty (2004) serta Kawai et al. (2008) dari Asia
Development Bank Institute. Kedua penelitian ini mengatakan bahwa FTA
tersebut akan memberikan welfare gain yang besar terhadap wilayah ini maupun
kepada negara-negara anggotanya. Indonesia sudah selayaknya mengetahui
dimana posisinya dan apa yang harus dilakukan ke depan dalam menghadapi
perdagangan internasional di wilayah tersebut, terutama perdagangan
produk-produk industri. Hal ini karena Indonesia sudah mulai melangkah menjadi negara
industri sebagai bagian dari pusat industri manufacturing dunia di Asia (Tho,
2002; Davis et al., 2003; Roberts, 2004).
Penelitian ini berusaha menganalisis arus perdagangan, konvergensi serta
potensi dan interdependensi perdagangan dikawasan Asia. Studi ini diharapkan
pula dapat memberikan rekomendasi khususnya kepada pemerintah maupun dunia
usaha untuk mengetahui Regional Free Trade Agreement (RFTA) mana yang
paling baik untuk Indonesia. Selanjutnya akan mencoba untuk mengkaji apakah
ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan peubah makro lainnya dengan
trade openness.
1.2. Perumusan Masalah
Makin terbukanya perdagangan di Asia merupakan suatu upaya untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan volume perdagangan,
mempercepat pertumbuhan output serta meningkatkan mobilitas faktor produksi,
melalui kesepakatan penurunan atau penghilangan semua jenis hambatan
perdagangan bilateral antara negara-negara di Asia. Secara teoritis meningkatnya
trade openness di Asia selain menimbulkan dampak kreasi (creation), dapat pula
menimbulkan dampak diversi (divertion) yang berupa penurunan efisiensi dan
pengurangan volume perdagangan yang pada akhirnya dapat menimbulkan
penurunan kesejahteraan masyarakat di negara-negara Asia.
Beberapa hasil penelitian terdahulu (Ridwan, 2011) sepakat bahwa
pembentukan keterbukaan perdagangan lebih banyak memberikan dampak kreasi
daripada dampak diversi. Salah satu bentuk integrasi ekonomi yang dianggap
paling berhasil adalah integrasi ekonomi Eropa yang terus ditingkatkan menjadi
Uni Eropa yang telah meningkatkan volume perdagangan, pertumbuhan output
yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kesejahteraan bagi
negara-negara anggota. Meskipun sekarang ini, kerjasama tersebut sedang
mengalami masalah karena ada beberapa hal yang terjadi diluar dugaan.
Negara-negara yang ada dalam kawasan ASEAN juga mengharapkan
perkembangan integrasi ekonomi ASEAN yang lebih luas dan memberikan
manfaat pada kesejahteraan negara-negara anggota ASEAN. Untuk mewujudkan
cita-cita tersebut di kawasan ASEAN, telah disepakati adanya integrasi ekonomi
dengan membentuk liberalisasi perdagangan (ASEAN Free Trade
Agreement/AFTA) pada tahun 1992 dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2003,
namun kebijakan penurunan tarif telah dilakukan sejak tahun 1995. Selanjutnya
menjadi ASEAN Economi Community (AEC) yang akan diimplementasikan pada
Tahun 2015.
Gejala bilateralisasi dan regionalisasi ini telah menjadi kenyataan dan dapat
dipastikan akan berperan lebih cepat dan nyata apabila agenda Doha
Developtment tidak menunjukkan perkembangan yang menjanjikan bagi
anggotanya. Selama beberapa tahun terakhir ini gejala proliferasi FTA banyak
menjadi pembahasan dikalangan para politisi dan akademisi. Mereka
memperkirakan akan terjadi inkonsistensi dalam aturan dan waktu penjadwalan
masing-masing FTA tersebut. Tantangan yang nyata adalah apabila proliferasi ini
berlanjut sehingga belum diketahui bagaimana kondisi FTA yang berjumlah
banyak tersebut.
Usman (2006), menunjukkan bahwa arus perdagangan diantara blok
kawasan yang terbaik bagi Indoensia adalah berada dalam wilayah Asia Timur.
Dimana blok ini akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi creation arus
perdagangan bilateral antara negara-negara di kawasan Asia Timur. Sedangkan
untuk blok ASEAN meskipun memberikan pengaruh yang positif tetapi tidak
signifikan dan hanya berdampak kecil bagi peningkatan volume perdagangan,
sama halnya pada blok kerjasama di tingkat APEC. Dari hasil kajian ini dapat
diketahui bahwa kerjasama dalam kerangka ASEAN yang selama ini terjadi
mempunyai pengaruh yang tidak begitu besar bagi peningkatan pertumbuhan
ekonomi Indonesia. Disamping itu, Blok APEC kelihatannya terlalu lama dan
terkesan cukup lambat dalam menyelesaikan masalah-masalah kesepakatan dalam
Berdasarkan kondisi tersebut, maka bukan tidak mungkin negara kawasan
Asia secara alami akan membentuk kawasan FTA yang baru sebagai blok Asia.
Hal ini dimungkinkan karena secara geografis negara-negara tersebut relatif
berbatasan dan berdekatan serta mempunyai kepentingan yang relatif sama. Hal
yang sama juga dikemukakan oleh Lee et al. (2005) yang menyatakan bahwa
bentuk FTA/RTA antara negara-negara yang berdekatan secara geografis (jarak
anatarnegara) maka secara signifikan perdagangan akan meningkat di antara
negara-negara anggotanya. Mereka juga menemukan bahwa letak geografis akan
memberikan kontribusi terhadap peningkatan perdagangan antara negara dan rest
of the world, dan lebih lanjut menyatakan bahwa FTA/RTA Asia sepertinya dapat
menciptakan (creation) pertumbuhan perdagangan antara negara-negara anggota
tanpa mengurangi perdagangan dari nonanggota. Peneliti seperti Lee et al. (2002)
juga mengungkapkan bahwa ASEAN+3 secara alami juga akan memilih
kebijakan untuk membentuk RTA di Asia Timur, dan pada waktu yang sama,
ASEAN+3 tidak akan divergen dari prinsip keterbukaan regionalisme dan
multilarisme. Apabila India diintegrasikan dalam kawasan tersebut terciptalah
kawasan JACIK yang terdiri dari Jepang, ASEAN, China, India dan Korea.
Penelitian ini akan mencoba melihat peluang kerjasama perdagangan diantara
negara-negara yang termasuk kawasan JACIK.
Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis mencoba merumuskan
beberapa pertanyaan diantaranya adalah:
1. Seberapa besar trade openness dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan
2. Faktor-faktor apa saja yang mendorong keputusan Indonesia untuk bergabung
dalam JACIK Free Trade Agreement (JACIKFTA)?
3. Bagaimana memperkirakan complementary dalam perdagangan bilateral yang
dilakukan Indonesia terutama pada produk-produk industri manufaktur?
1.3. Tujuan Penelitian
Mengacu pada latar belakang dan permasalahan sebelumnya, maka dapat
dirumuskan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah Blok
Perdagangan Asia/ JACIK FTA merupakan Blok Perdagangan yang optimal bagi
Indonesia. Sedangkan tujuan yang spesifik dari penelitian ini adalah:
1. Mengetahui hubungan pertumbuhan ekonomi dan kinerja perdagangan
bilateral serta peubah-peubah makroekonomi lainnya terhadap tingkat
keterbukaan perdagangan/trade openness Indonesia.
2. Menganalisis arus perdagangan Indonesia dengan negara-negara mitra
dagangnya khususnya di Asia. Berdasarkan peubah-peubah yang digunakan
dalam penelitian ini maka diharapkan bisa melihat konvergensi perdagangan
dan potensi perdagangan bilateral Indonesia. Serta dapat memberikan
rekomendasi mengenai Regional Free Trade Agreement (RFTA).
3. Mengetahui dan mengkaji inter-industry trade dan intra-industry trade dari
perdagangan Indonesia di kawasan Asia, sehingga dapat dilakukan kajian
yang lebih luas dan mendalam terhadap tingkat interdipendensi regional dari
perdagangan Indonesia.
4. Mengetahui dan mengkaji perdagangan luar negeri khususnya pada
produk-produk industri manufaktur (SITC5, 6, 7, dan 8) sehingga dapat dilakukan
1.4. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya
adalah:
1. Memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan dan
kerjasama perdagangan internasional yang dilakukan oleh Indonesia.
2. Bagi penulis dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan dan memberikan
pemahaman yang semakin mendalam tentang kegiatan perdagangan
internasional, blok-blok perdagangan, dan pengaruh dari pertumbuhan
perekonomian nasional.
3. Bagi pemerintah, diharapkan dapat menjadi masukan dalam rangka perbaikan
kebijakan terkait pertumbuhan arus perdagangan internasional serta
keikutsertaan Indonesia dalam blok-blok perdagangan.
4. Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi terkini tentang
aktivitas perdagangan internasional dan perkembangan blok-blok
perdagangan dalam perekonomian Indonesia.
1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini hanya mencakup 4 negara anggota ASEAN yang cukup besar
ditambah 4 negara Asia lainnya yang mempunyai letak geografis berdekatan dan
mempunyai hubungan perdagangan yang cukup erat. Negara-negara tersebut
adalah Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, China, Jepang, Korea
Selatan dan India. Mengingat keterbatasan data yang dimiliki peneliti untuk
Negara Singapura, maka dalam penggunaan model, data dari negara tersebut tidak
2.1. Tinjauan Teoritis
2.1.1. Teori Perdagangan Internasional
Perdagangan Internasional mulai berkembang dalam studi empiris yang
dilakukan oleh Adam Smith yang suatu teori bahwa dua negara akan melakukan
perdagangan secara sukarela jika kedua negara tersebut memperoleh keuntungan
yang didasarkan pada keunggulan absolut (absolute). Dengan adanya
perdagangan setiap negara dapat melakukan spesialisasi produksi dalam komoditi
yang memiliki keunggulan absolut dan menukarkan sebagian outputnya dengan
negara lain, yang efisiensi dalam penggunaan input. Ada dua alasan utama
mengapa suatu negara mengadakan perdagangan internasional, yaitu, pertama
karena kedua negara berbeda dalam sumberdaya sehingga memperoleh
keuntungan dalam perdagangan (gains from trade) dan kedua, karena kedua
negara berdagang dengan tujuan untuk mencapai apa yang disebut sebagai
economies of scale dalam produksi (Krugman et al., 2000).
Sementara itu David Ricardo, studinya mengenai perdagangan
Internasional telah berkembang melahirkan teori perdagangan yang menyatakan
memiliki biaya relatif terkecil untuk jenis barang yang berbeda. Sama halnya
dengan J.S. Mill yang beranggapan bahwa suatu negara akan berspesialisasi pada
ekspor suatu barang dimana negara tersebut memiliki keunggulan komparatif
terbesar dan impor barang dimana negara tersebut memiliki kelemahan
Jadi keduanya menekankan pada suatu negara akan melakukan ekspor
suatu barang yang dapat dihasilkan dengan biaya produksi lebih rendah dan
mengimpor barang, jika dibuat sendiri memerlukan biaya yang besar atau dapat
dikatakan bahwa perdagangan internasional didasarkan pada efisiensi relatif.
Selanjutnya muncul teori modern dari Heckcher dan Ohlin (H-O) bahwa
perdagangan Internasional terjadi karena opportunity cost yang berbeda antara
kedua negara yang diakibatkan oleh perbedaan dalam jumlah faktor produksi yang
dimiliki kedua negara tersebut. Suatu negara akan akan berspesialisasi dalam
produksi dan ekspor barang yang input utamanya relatif sangat banyak dan impor
barang yang input utamanya tidak dimiliki negara tersebut.
2.1.2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi pada Perdagangan
Terbukanya perekonomian dunia maka peran perdagangan internasional
semakin strategis dalam perekonomian suatu negara. Negara melakukan
perdagangan internasional kerena beberapa alasan, antara lain: (1) Setiap negara
mempunyai keunggulan kompararif yang berbeda-beda, sehingga dengan
melakukan perdagangan maka keuntugan perdagangan (gain from trade) akan
diterima oleh kedua belah pihak, dan (2) Negara melakukan perdagangan dengan
tujuan mencapai skala ekonomi (economic of scale) dalam produksi. Maksudnya
adalah apabila setiap negara hanya menghasilkan sejumlah barang tertentu
(spesialisasi), maka mereka dapat menghasilkan barang tersebut dengan skala
yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut
memproduksi sendiri dari seluruh jenis barang yang dibutuhkan (Chacholiaades,
Tingkat pertumbuhan akan mempengaruhi tingkat perdagangan suatu
negara. Dalam model Solow dikemukan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi
adalah pertumbuhan tenaga kerja, akumulasi modal dan tingkat teknologi (Romer,
1996). Pertumbuhan ekonomi menyebabkan kurva kemungkinan produksi/ PPF
(production possibilities frontier) bergeser ke luar.
Tingkat produksi optimum tergantung pada pergeseran kurva
kemungkinan produksi. Asumsi yang digunakan adalah setelah PPF bergeser
keluar, maka terjadi kenaikan biaya (increasing cost) yang berimplikasi pada
spesialiasi yang tidak lengkap.
Efek dari ketidaklengkapan spesialisasi, maka pengaruh pertumbuhan pada
volume yang diperdagangkan (klasifikasi pertumbuhan) tergantung pada
kombinasi perilaku konsumsi dan produksi. Untuk memudahkan di dalam analisis
pengaruh pertumbuhan ekonomi pada perdagangan, maka pengaruh dipisahkan ke
dalam pergeseran konsumsi dan produksi, serta kombinasi keduanya. Pengaruh
pertumbuhan ekonomi, menyebabkan pergeseran ke luar dari kurva konsumsi
frontier secara paralel. Pengaruh konsumsi adalah netral apabila rata-rata
kecenderungan konsumsi barang impor konstan, pengaruh konsumsi adalah bias
pro perdagangan apabila rata-rata kecenderungan konsumsi impor meningkat
sejalan dengan pertumbuhan.
Sementara pengaruh konsumsi adalah bias anti perdagangan apabila
rata-rata kecenderungan konsumsi impor menurun sejalan dengan pertumbuhan.
Sebagai tambahan terdapat dua kondisi ekstrim adalah konsumsi yang ultra bias
besar dari kenaikan absolut pendapatan nasional dan bias ultra anti perdagangan
apabila konsumsi domestik barang-barang impor turun secara absolut.
Apabila P1K1 adalah kurva konsumsi frontier awal, dimana produksi
adalah P1 dan konsumsi pada C1. Asumsi negara melakukan spesialisasi pada X,
maka perekonomian mengekspor X1P1 unit untuk ditukarkan dengan X1C1 dari
barang Y. Kemiringan dari kurva kemungkinan konsumsi frontier X1P1 adalah
satu, konsisten dengan asumsi ratio harga dunia adalah tertentu dan sama dengan
satu. Pertumbuhan ekonomi akan menggeser kurva kemungkinan konsumsi
frontier pada K2P2 konsumsi akhir terjadi pada berbagai titik di K2P2
(Chacholiades, 1978: Krugmen et al., 1994)
Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997)
Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Konsumsi
Pengaruh pertumbuhan ekonomi pada produksi ditunjukkan oleh
pergeseran ke atas kurva kemungkinan produksi frontier. Pengaruh pada produksi
pengaruh produksi adalah bias pro perdagangan apabila rata-rata kecenderungan
produksi barang ekspor meningkat sejalan dengan pertumbuhan.
Sementara pengaruh produksi adalah bias anti perdagangan apabila
rata-rata kecenderungan produksi barang ekspor adalah menurun sejalan dengan
pertumbuhan ekonomi. Dua kondisi ekstrim adalah produksi yang bias ultra pro
perdagangan yaitu apabila kenaikan absolut dalam produksi barang ekspor lebih
besar dari kenaikan absolut pendapatan dan kondisi sebaliknya disebut bias ultra
anti perdagangan.
Pengaruh total dari adanya pertumbuhan ekonomi perdagangan,
tergantung pada penjumlahan dampak pada produksi dan konsumsi. Apabila
pengaruhnya pada produksi dan konsumsi keduanya dengan arah yang sama,
maka pengaruh total biasanya adalah bias.
Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997).
Jika ada salah satu pengaruh dalam produksi atau konsumsi adalah netral,
maka pengaruh total adalah bias dengan arah yang sama dengan bias pada
pengaruh yang lain. Tetapi apabila pengaruh pada produksi dan konsumsi bias
dengan arah yang berbeda, maka pengaruh total tidak dapat diduga secara mudah.
Ketika pengaruh pada produksi adalah bias ultra anti perdagangan maka pengaruh
total adalah bias ultra anti perdagangan kecuali ketika pengaruh konsumsi adalah
bias ultra pro perdagangan sehingga pengaruh total sama dengan nol. Apabila
pengaruh pada konsumsi adalah bias ultra anti perdagangan maka pengaruh total
juga bias ultra anti perdagangan, kecuali ketika pengaruh produksi adalah bias
ultra pro perdagangan maka pengaruh total adalah adalah nol (Chacholiades,
1978: Krugmen et al., 1994).
Perdagangan terjadi disebabkan adanya perbedaan harga keseimbangan
barang-barang antar negara. Dengan terjadinya perdagangan maka harga relatif
barang-barang akan menuju keseimbangan. Secara umum, keuntungan dari suatu
perdagangan akan berpengaruh pada kesejahteraan individu, penerimaan faktor
produksi dan kesejahteraan masyarakat.
2.1.3. Keuntungan dari Perdagangan
2.1.3.1. Pengaruh Perdagangan pada Kesejahteraan Individu
Perdagangan terjadi karena adanya perbedaan harga keseimbangan
barang-barang-barang antar negara. Terjadinya perdagangan maka harga relatif
barang-barang akan menuju keseimbangan. Pengaruh perdagangan terhadap
barang X atau barang Y (asumsi dua pasar barang). Secara garis besar terdapat
tiga kelompok individu sebagai berikut (Chacholiades, 1978) :
1. Individu yang memproduksi sebanyak kebutuhan konsumsi sendiri (self
sufficient) dalam arti mencukupi sendiri kebutuhan faktor produksi dan
kebutuhan barang-barang.
2. Individu yang dalam kondisi keseimbangan umum menukarkan barang X
untuk barang Y yaitu memproduksi lebih banyak X dan lebih sedikit Y dari
yang dikonsumsinya.
3. Individu yang dalam kondisi keseimbangan umum menukarkan barang Y
untuk barang X atau memproduksi lebih sedikit X dan lebih banyak Y dari
pada yang dikonsumsi
Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997).
Gambar 3. Penggolongan Individu dalam Perdagangan.
Gambar 3 memperlihatkan kurva MN sebagai kurva kemungkinan
produksi frontier individu, UV adalah kurva kemungkinan konsumsi frontier
individu dan II adalah kurva indiferen individu pada kondisi keseimbangan umum
individu A dapat meningkatkan kesejahteraannya dengan ikut serta perdagangan.
Pada setiap garis anggaran (selain UV) maka kurva kemungkinan produksi
frontier harus bersinggung dengan kurva II’ dimana individu A dapat mencapai
kurva indiferen yang lebih tinggi. Keuntungan total perdagangan yang dapat
dinikmati dalam bentuk keuntungan konsumsi dan keuntungan produksi. Pada
tingkat produksi seperti semula, individu A lebih sejahtera melalui pertukaran
(keuntungan konsumsi) atau kesejahteraanya juga meningkat dengan menggeser
titik produksi (keuntungan produksi).
Bagi individu B dan C, perdagangan tidak selalu memberikan keuntungan,
apabila rasio harga dunia berbeda dari (Px/Py), maka salah satu individu akan lebih
sejahtera dan individu lain berkurang kesejahteraannya. Sebagai contoh apabila
barang X relatif lebih murah pada pasar dunia, maka individu C akan mampu
meraih kurva indiferen yang lebih tinggi dari II yaitu ketika kurva UV menjadi
lebih datar. Sementara individu B berkurang kesejahteraannya karena tidak
mampu mencapai kurva indiferen semula II.
2.1.3.2. Pengaruh Perdagangan pada Penerimaan Faktor Produksi
Untuk memahami hal ini, diasumsikan dalam perekonomian terdapat dua
kelompok faktor produksi, yaitu pekerja dan pemilik faktor produksi (tanah).
Pemilik tanah tidak menawarkan tenaga kerja sementara tenaga kerja tidak
memiliki tanah, tetapi menawarkan tenaga. Perekonomian menghasilkan dua
barang X dan Y dalam kondisi constan return to scale, barang Y adalah relatif
intensif tanah dari barang X. Rasio harga dunia (Px/Py) lebih kecil dari rasio harga
domestik sebelum perdagangan atau harga-harga barang X di pasar dunia lebih
sehingga produksi domestik Y meningkat sementara produksi domestik X
mengalami penurunan. Peningkatan produksi barang Y yang intensif tanah,
menyebabkan kedua barang cenderung menjadi lebih intensif tenaga kerja dan
Marginal Phisycal Product (MPP) dari tenaga kerja menurun sementara MPP dari
tanah meningkat di kedua industri.
Pengaruh selanjutnya adalah pendapatan relatif tenaga kerja turun dan
pendapatan relatif tanah naik dan sumberdaya akan ditransfer dari industri X ke
industri Y. Dampaknya terhadap kesejahteraan golongan faktor produksi
ditentukan oleh pendapatan absolut dalam setiap golongan. Jika perdagangan
internasional meningkatkan pendapatan nasional, maka pendapatan absolut tenaga
kerja juga naik walaupun pendapatan relatif mereka turun. Dengan kata lain,
faktor produksi yang digunakan secara intensif untuk memproduksi barang yang
mengalami kenaikan harga akan mendapat keuntungan dari perdagangan
sementara faktor lainnya mengalami kerugian (Chacholiades, 1978; Krugman et
al., 2000).
2.1.3.3. Pengaruh Perdagangan pada Kesejahteraan Masyarakat
Keuntungan total dari suatu perdagangan umumnya dibagi ke dalam dua
komponen, yaitu (Chacholiades, 1978; Krugmean et al., 1994).
1. Keuntungan pertukaran internasional atau keuntungan konsumsi yang timbul
dalam perekonomian ketika kombinasi barang yang sama juga diproduksi saat
terjadi perdagangan bebas.
2. Keuntungan dari spesialisasi atau keuntungan produksi yang timbul dalam
perekonomian dalam bentuk pergeseran titik produksi akibat perbedaan harga
P
Perdagangan internasional memungkinkan perekonomian untuk bergerak
dari kurva indifferen sosial (KIS) yang lebih rendah ke arah kurva indifferen
sosial yang lebih tinggi. Asumsi bahwa kumpulan kurva indifferen sosial
menjelaskan tidak hanya perilaku konsumsi tetapi juga perubahan kesejahteraan
sosial. Dengan menggunakan peta kurva indifferen sosial tertentu yang
menggambarkan kesejahteraan sosial dalam hubungannya dengan perilaku
konsumsi, maka perubahan kesejahteraan masyarakat akibat perdagangan
ditunjukkan pada Gambar 4.
Kurva MP1P0N menunjukkan kurva kemungkinan produksi frontier.
Sebelum perdagangan keseimbangan terjadi pada P0 saat kurva KKP
bersinggungan dengan kurva indifferen sosial tertinggi yang dimungkinkannya
(SIC1). Ketika perdagangan dibuka, perekonomian berproduksi pada P1 dan
konsumsi pada E2. Garis lurus yang melalui P1 dan E2 adalah kemungkinan
konsumsi frontier.
Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997)
Kesejahteraan sosial meningkat sebab perekonomian bergerak dari SIC1 ke
SIC3. Untuk melihat keuntungan konsumsi, diasumsikan setelah perdagangan
produksi tetap pada P0. Kasus pada ketidakmobilitasan yang sempurna dari faktor
produksi antar industri dan harga faktor produksi fleksible, yaitu ketika batas
kemungkinan produksi adalah segi empat OVP0U.
Pada kondisi tersebut keuntungan perdagangan ditunjukkan olah
keuntungan konsumsi yaitu perubahan titik konsumsi P0 ke titik konsumsi E1 pada
kurva indifferen yang lebih tinggi (bergerak dari SIC1 ke SIC2). Sementara
keuntungan produksi ditunjukkan oleh pergerakan dari E1 ke E2 sebagai hasil
perubahan dari pola produksi (P0 ke P1).
2.2. Penelitian Terdahulu
Studi ini melanjutkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dalam
membangun analisis arus perdagangan internasional antar beberapa negara yang
tergabung dalam blok-blok perdagangan khususnya yang dilakukan oleh
Indonesia dengan menggunakan berbagai model penelitian seperti model gravity.
Kajian tersebut pernah dilakukan oleh Sohn (2005), Ridwan (2011), Guttmann et
al. (2004) dan beberapa peneliti lainnya. Berikut ini disajikan beberapa ringkasan
hasil penelitian sebelumnya yang menjadi rujukan peneliti.
Studi yang dilakukan oleh Guttmann et al. (2004), berusaha untuk
menjawab mengapa perdagangan luar negeri Australia relatif rendah
dibandingkan dengan ukuran perekonomiannya dengan melihat keterbukaan
perekonomian Australia (ekspor ditambah impor sebagai proporsi dari GDP) pada
Tahun 2002 terendah ketiga di antara 30 negara maju (OECD). Paper ini
gravity menunjukkan bahwa perdagangan Australia lebih besar dari yang
diharapkan, sementara persamaan keterbukaan (openness) menunjukkan bahwa
tingkat perdagangan relatif lebih mendekati dengan yang diharapkan. Faktor yang
paling penting yang menjelaskan rendahnya rasio keterbukaan perekonomian
Autralia adalah jarak terhadap luar wilayah (rest of the world) dan luas ukuran
geografi. Hasil dari persamaan openness menunjukkan bahwa faktor-faktor yang
baik menjelaskan rendahnya tingkat perdagangan Australia disebabkan oleh
keterpencilan (remoteness) dan ukuran luas wilayah(large size).
Do (2006) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat
perdagangan antara Vietnam dan 23 negara European Countries (EC23) di
OECD. Model diestimasi dengan menggunakan pooled, fixed dan random effects.
Hasil utama penelitian ini mengindikasikan bahwa arus perdagangan bilateral
antara Vietnam dan EC23 ditentukan oleh ukuran ekonomi, ukuran pasar dan
exchange rate volatility. Sementara jarak (distance) dan hubungan sejarah antara
negara terlihat tidak memiliki pengaruh terhadap perdagangan bilateral antara
Vietnam dan EC23.
Kim et al. (2003) mengkaji tentang faktor-faktor yang menentukan pola
perdagangan bilateral dengan menggunakan persamaan model gravity dinamis.
Sampel yang digunakan adalah 10 negara UE. Hasil temuan mereka menunjukkan
bahwa masuknya Foreign Direct Investment (FDI) pada industri-industri skala
besar akan menghasilkan tingkat pertumbuhan ekspor yang tinggi dibanding
dengan impor di dalam industri sektor ini dan sebaliknya, tingkat pertumbuhan
pendapatan secara relatif mungkin menyebabkan tingginya pertumbuhan impor
Lee et al. (2005) melakukan penelitian tentang integrasi regional di Asia
Timur. Hasil penelitian mereka mengindikasikan bahwa bentuk RTA antara
negara yang diperkirakan secara geografi (diukur oleh jarak atau border) maka
secara signifikan perdagangan akan meningkat di antara negara-negara
anggotanya. Mereka juga menemukan bahwa geografi akan memberikan
kontribusi terhadap peningkatan perdagangan antara negara dan rest of the world,
dan lebih lanjut menyatakan bahwa RTA Asia Timur sepertinya dapat
menciptakan (creation) tambahan perdagangan antara negara anggota tanpa
mengurangi perdagangan dari nonanggota.
Oktaviani (2001) menganalis dampak liberalisasi perdagangan dalam
skema kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC) terhadap kondisi makroekonomi
Indonesia. Teknik analisis menggunakan model peramalan Indonesia dengan basis
model keseimbangan umun (ORANI-F) dengan memodifiksi model yang
dikembangkan di Australia. Model ini lebil detail dibanding model CGE
(Computable General Equilibrium) biasa karena menggabungkan fleksibilitas
untuk “menangkap” berbagai asumsi alternatif yang berkaitan dengan perilaku
investasi dan penggunaan lahan. Pengaruh liberalisasi perdagangan dianalisis
dengan cara memasukkan perubahan kondisi harga perdagangan dunia - karena
adanya perdagangan bebas-sebagai peubah eksogen ke dalam model. Sedangkan
pengaruh perdagangan bebas APEC terhadap perubahan kondisi pasar dunia
dianalisi dengan model analisis perdagangan global (GTAP). Hasil simulasi
menunjukkan bahwa perbaikan produktivitas dan kesempatan kerja akan
meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil lebih besar dari perbaikan pada
Implikasinya adalah bahwa kedua peubah di atas dapat distimulasi lebih cepat lagi
untuk berkontribusi bagi pemulihan ekonomi.
Studi yang dilakukan Diao et al. (2002) menganalisis dua skenario
liberalisasi perdagangan potensial, yaitu Free Trade Area of the Americas
(FTAA) dan kemungkinan hubungan antara Mercosur dengan Eropean Union
(EU), dalam model Computable General Equilibrium (CGE). Model tersebut juga
memasukkan beberapa elemen makro seperti mekanisme aliran dana, meliputi
keuntungan dan kekakuan upah dan tingkat pertukaran (suku bunga). Hasil
analisis kedua skenario tersebut yang perlu ditekankan dalam tulisan ini adalah
dampaknya terhadap perubahan total ekspor dan total impor. Perubahan dalam
perdagangan sebagai hasil dari disepakatinya Free Trade Area of the Americas
(FTAA) dan kemungkinan hubungan antara Mercosur dengan Eropean Union
(EU). Dalam FTAA, ekspor dan impor meningkat secara signifikan untuk
negara-negara penting di Amerika, pada saat perdagangan meningkat dengan baik di US
dan Kanada (eksportir besar yang terdisversif) serta Meksiko (mempunyai akses
yang baik ke US).
Robert (2004) menggunakan model gravity untuk menjelaskan FTA
China-ASEAN (CAFTA). Estimasi dilakukan dengan teknik pendugaan OLS.
Dari hasil estimasi menunjukkan bahwa ukuran ekonomi (GDP) dan jarak antara
negara signifikan mempengaruhi perdagangan antara China dan ASEAN. Dalam
model ini, biaya perdagangan atau biaya transport diproksi dengan jarak antara
dua negara, yang menyatakan bahwa semakin jauh jarak antara negara anggotanya
estimasi menunjukkan bahwa besarnya penurunan tingkat perdagangan tersebut
adalah sebesar 1.2 persen.
Glick et al. (2001) melakukan penelitian dengan mempertanyakan apakah
currency union mempengaruhi perdagangan. Estimasi model gravtiy dilakukan
dengan teknik pooled, random dan fixed effect. Hasil estimasi menunjukkan
bahwa kofisien currency union, CU (yang diproksi dengan peubah dummy,
dimana nilai CU = 1 jika negara menggunakan mata uang yang sama, dan CU = 0
untuk yang lainnya) adalah sebesar 1.3 dan secara statistik adalah signifikan pada
level 1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa negara-negara dagang dan patner
dagangnya yang menggunakan mata uang bersama (CU) masing-masing dapat
meningkatkan volume perdagangan untuk masing-masing negara adalah sebesar
(e1.3 = 3.7) ceteris paribus.
Fillipini et al. (2002) mencoba untuk menggunakan model gravity dalam
rangka untuk menganalisis arus perdagangan antar negara industri Asia Timur
termasuk China dan beberapa negara maju dalam rangka untuk menunjukkan
keragaan perdagangan di Asia Timur selama 25 tahun. Model dimodifikasi
dengan memasukkan unsur perbedaan teknologi (technology distance). Dalam
rangka untuk memahami relevansi gap teknologi negara-negara dalam
menentukan arus perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien
estimasi industri yang menggunakan produk ekspor dengan teknologi tinggi
adalah negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa gap teknologi antara negara
pengekspor di sektor teknologi tinggi dapat menurunkan arus volume
pengekspor dan pengimpor di industri sektor tertentu, maka semakin kecil tingkat
perdagangan antara kedua negara.
Lee et al. (2002) mencoba untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk
kerjasama yang sesuai dari RTA di Asia Timur dengan menggunakan penjelasan
secara empiris bentuk perdagangan Intra-Regional bias dari berbagai kelompok
regional yang tidak resmi (informal). Hasil temuan mereka mengindikasikan
bahwa hal demikian sulit untuk memverifikasi bahwa tiga negara di bagian Utara
Asia, China-Jepang-Korea untuk membentuk blok perdagangan regional. China
dan ASEAN tidak memiliki hubugan yang khusus dalam perdagangan. Lebih
lanjut mereka menyatakan bahwa ASEAN+3 akan secara alami memilih
kebijakan untuk membentuk RTA di Asia Timur, dan pada waktu yang sama,
ASEAN+3 tidak akan divergen dari prinsip keterbukaan regionalisme dan
multilarisme.
Sohn (2005) mengkaji tentang pola perdagangan Korea dengan
menggunakan model gravity. Model persamaan gravity memasukkan peubah
Trade Conformity Index (TCI) dan anggota APEC untuk mengindentifikasi pola
perdagangan Korea. Data yang digunakan adalah 30 negara patner dagang utama
Korea tahun 1995. Model diestimasi dengan menggunakan Ordinary Least
Squares (OLS). Hasil estimasi menunjukkan bahwa model gravity sangat efektif
dalam menjelaskan arus perdagangan bilateral Korea dan model gravity sangat
baik diaplikasikan pada kasus negara tunggal. Koefisien pada struktur
perdagangan menunjukkan bahwa perdagangan Korea mengacu pada pola
perdagangan Heckscher-Ohlin inter-industry, bukan intra-industry. Arus
daripada perbedaan pada economies of scale. Peubah APEC menunjukkan
pengaruh positif signifikan pada volume perdagangan Korea, artinya bahwa
disana terdapat arus perdagangan yang besar intra-APEC yang mungkin datang
terutama dari aktivitas pasar privat. Menurut hasil empiris ini, APEC berkembang
sebagai natural trading block.
Ridwan (2011) melakukan penelitian tentang aliran perdagangan dan
investasi di kawasan ASEAN dan negara anggotanya. Penelitian ini menggunakan
model gravitasi yang memfokuskan penelitiannya hanya pada 5 negara ASEAN
(Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina). Hasil analisisnya
menyebutkan bahwa aliran perdagangan di kawasan ASEAN dan negara
anggotanya dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh Indeks Integrasi
Perdagangan, FDI, jumlah penduduk, keterbukaan ekonomi, suku bunga dan
GDP. Sedangkan peubah seperti tarif, jarak dan nilai tukar riil umumnya
berpengaruh secara negatif terhadap aliran perdagangan. Keikutsertaan negara
ASEAN pada integrasi ekonomi APEC berpengaruh positif terhadap peningkatan
perdagangan. Pengaruh APEC lebih besar daripada ASEAN. Hal tersebut
membuktikan rendahnya intensitas perdagangan intra-trade antar sesama negara
ASEAN.
Bussiere et al. (2005) meneliti tentang integrasi perdagangan dari Central
and Eastern European Countries (CEES). Model yang digunakan adalah gravity
sedangkan data yang digunakan adalah time series dan cross-section yang
digabung jadi pooled data. Series dimulai dari tahun 1980–2003, sedangkan data
cross-section sebanyak 61 negara. Teknik estimasi menggunakan fixed effect,
menunjukkan secara gradual convergen kearah tingkat perdagangan “normal”.
Karena dekatnya geografi mereka dengan area Euro dan tingkat GDP mereka,
negara-negara ini secara alami memiliki kondisi yang menunjang share
perdagangan mereka dengan area Euro. Hasil ini menunjukan bahwa percepatan
peningkatan perdagangan antara negara-negara ini awalnya rendah –
dibandingkan dengan yang diindikasikan model – tetapi selanjutnya konvergen ke
tingkat normal.
Corillo et al. (2002) melakukan penelitian menggunakan model persamaan
gravity untuk menjelaskan pengaruh Andean Community (AC) dan Mercusor
terhadap perdagangan intra-region dan intra-industry pada periode 1980-1997.
Hasilnya menunjukan market size dan distance, AC Preferential Trade Agreement
(PTA) memiliki pengaruh signifikan terhadap kedua produk diferensiasi dan
produk pilihan, terutama pada barang-barang capital intensive. Sebaliknya
Mercusor FTA hanya memiliki pengaruh positif terhadap capital intensive
subkategori dari produk-produk pilihan.
Studi tentang pengaruh openness terhadap pertumbuhan ekonomi banyak
dilakukan menggunakan cross-sectional data. Hasil menunjukan kontradiksi,
bahwa openness kita mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi sering pula
openness tidak memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi. Studi Edward
(1998) menggunakan data cross-sector dari negara-negara berkembang
menunjukan bahwa, openness memberi dampak kepada pertumbuhan ekonomi.
Sementara dari studi Rodrik (2003) menunjukan bahwa openness tidak
menunjukan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Studi dari Guttman et al.