• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis tingkat keterbukaan perdagangan Indonesia di Asia studi kasus standard international trade classifications 5, 6, 7 dan 8

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Analisis tingkat keterbukaan perdagangan Indonesia di Asia studi kasus standard international trade classifications 5, 6, 7 dan 8"

Copied!
191
0
0

Teks penuh

(1)

PERDAGANGAN INDONESIA DI ASIA:

STUDI KASUS STANDARD INTERNATIONAL

TRADE CLASSIFICATIONS 5, 6, 7 DAN 8

DISERTASI

JOKO SUBANDRIO USMAN

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam

disertasi saya yang berjudul:

ANALISIS TINGKAT KETERBUKAAN PERDAGANGAN

INDONESIA DI ASIA: STUDI KASUS STANDARD INTERNATIONAL

TRADE CLASSIFICATIONS 5, 6, 7 DAN 8

Merupakan gagasan atas hasil penelitian saya sendiri, dengan bimbingan

Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya.

Disertasi ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program

sejenis di perguruan tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan

telah dinyatakan secara jelas sumbernya dan dapat diperiksa kebenarannya.

Bogor, Februari 2012

(3)
(4)

JOKO SUBANDRIO USMAN. 2012. Analysis of Indonesian Trade Openness in Asia: Case Study for Standard International Trade Classifications 5, 6, 7 and 8 (MANGARA TAMBUNAN as Chairman, ANNY RATNAWATI and HERMANTO SIREGAR as Members of Advisory Committee)

This research has objectives to analyzeIndonesian trade openness and trade flows set particularly for its industrial products, in Asia. The research employed Gravity Model in its all analysis. The research covered eight Indonesian trading partners which includes ASEAN (represented by Indonesia, Singapore, Malaysia, Thailand and the Philippine) and China, Japan, India and South Korea, abbreviated by JACIK. The research utilized secondary data from UNComtrade and IFS International Financial Statistic IMF for the periode 1998 to 2008. The research disclosed that trade openness has positive relationship with our economic growth, number of population, exchange rates and trade conformity index, however it has negative relationship with distance between countries. The research also found that Indonesian international trade flows a Heckscher-Ohlin model more than increasing return or product differentiation or still an inter-industry trade rather than intra-industry trade, substantiated by positive sign of Trade Conformity Index and average lower Grubel Llyod index. The research also found that in general our international trade flows has considerable opportunity to augment its performance, substantiated by research’s finding on Speed of Convergence test in our bilateral trade with our partners, suggesting that they are desirable partners for an Asia FTA.

(5)
(6)

JOKO SUBANDRIO USMAN. 2012. Analisis Tingkat Keterbukaan Perdagangan Indonesia di Asia: Studi Kasus Standard International Trade

Classifications 5, 6, 7 dan 8 (MANGARA TAMBUNAN, sebagai Ketua,

ANNY RATNAWATI dan HERMANTO SIREGAR sebagai Anggota

Komisi Pembimbing)

Doha Development Agenda (WTO) belum mampu menyelesaikan

perbedaan-perbedaan antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang mengenai isu-isu kebijakan perdagangan international atau trade

multilateralism agreement. Situasi tersebut telah mendorong terbentuknya

bilateralisme dan regionalisme di dunia, termasuk di wilayah Asia secara tak terkendali. Pada tahun 2006, diperkirakan sudah terbentuk sebanyak 57 Free

Trade Agreements (FTA) di kawasan Asia. Hal ini betul-betul akan menjadi

stumbling blocks bagi suatu multilateral trading system dan terjadinya

spaghetti/ noodle bowl syndrome dikawasan Asia Timur atau dikenal dengan kesemprawutan bilateral FTA dan regional FTA. Kesemprawutan tersebut diantaranya mengenai waktu berlakunya kerjasama tersebut dan pengaturan bilateral yang saling bertentangan serta adanya diskriminatif. Sementara itu perdagangan bilateral Indonesia dengan seluruh mitra dagangnya tumbuh sangat cepat. Pada tahun 2002, nilai perdagangan bilateral Indonesia hanya sekitar 5 milyar USD setiap bulannya, namun pada tahun 2011 sudah mencapai 30 milyar USD. Saat ini, perdagangan bilateral Indonesia dengan wilayah ASEAN+3+India sudah mencapai 62 persen dari seluruh perdagangan bilateral Indonesa di dunia.

Penelitian ini mempunyai tujuan untuk menganalisis Keterbukaan Perdagangan Indonesia dengan mitra dagangnya di kawasan Asia, khususnya pada kelompok komoditi SITC5, 6, 7 dan 8. Negara yang tercakup dalam penelitian ini adalah Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, Jepang, Korea Selatan, China, dan India. Negara-negara tersebut biasa disingkat dengan JACIK (Japan, ASEAN, China, India dan Korea Selatan).

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah secondary data yang berasal dari UNComtrade dan IFS (International Financial Statistic) IMF 1988-2008. Metode yang digunakan dalam melakukan analisisnya adalah

Gravity Model. Untuk mendukung kesimpulan pada model gravity tersebut

maka dihitung juga nilai Speed of Convergence (SoC), Trade Conformity

Index danGrubel Lloyd Index.

(7)

Sementara itu, hasil perhitungan nilai Speed of Convergence (SoC) yang sebagian besar bernilai negatif. Hal ini berarti akan menguntungkan bagi Indonesia jika wilayah tersebut ikut berpartisipasi dalam Asian FTA. Nilai SoC Jepang dan sebagian Korea Selatan bernilai positif bukan berarti bahwa ekspor Indonesia dengan tujuan dua negara tersebut sudah jenuh, tetapi hal ini disebabkan karena perdagangan kita dengan kedua negara tersebut berbobot ekspor hasil pertambangan seperti minyak mentah dan gas bumi, batu bara dan nickel ore yang bukan kelompok komoditi yang diteliti saat ini. Sedangkan dalam studi keterbukaan perdagangan ini, hanya menggunakan produk-produk industri yang termasuk dalam kelompok komoditi SITC5, 6, 7 dan 8.

Selanjutnya penelitian ini juga menunjukan bahwa perdagangan Indonesia dengan negara-negara di wilayah ini berpola inter-industry trade

yang ditunjukkan dengan tanda positif dari koefisien Trade Conformity Index

(TCI) serta nilai Grubel Lloyd Index (GLI) yang relatif rendah. Tapi perlu diperhatikan bahwa cukup banyak komoditi industri Indonesia yang mempunyai Grubel Lloyd Index diatas 0.50 yang berarti sudah masuk kategori

intra-industry trade. Intra-industry trade adalah perdagangan kelompok

barang-barang yang sama sebagai hasil dari product differentiation baik barang mentah maupun barang jadi. Perdagangan produk-produk ini mempunyai tingkat integrasi yang tinggi karena indutri yang ada diberbagai negara hampir sama satu sama lainnya, contohnya spare parts dan komponen otomotif dan elektronik. Produk hasil industri tersebut mendominasi perdagangan intra-industri di kawasan Asia.

Pemerintah perlu mengambil kebijakan-kebijakan yang dapat mendorong perkembangan perdagangan inter-industry trade maupun

intra-industry trade. Disamping itu, juga harus dibantu agar dapat menciptakan

industri down stream dari produk-produk berbasis sumber daya alam dan mendorong investasi asing. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan peran dari intra-industry trade. Sementara itu, peningkatan trade openness Indonesia harus selalu diwaspadai dan dikendalikan baik kebijakan perdagangan maupun kerjasama keuangan regional seperti Chiang Mai Initiative Multilateralism.

Hal ini akan sangat diperlukan dalam menjaga terjadinya gejolak perekonomian dunia.

(8)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2012

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

1 Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa

mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan

karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB

2 Dilarang mengumumkan atau memperbanyak sebagian atau seluruh

(9)
(10)

STUDI KASUS

STANDARD INTERNATIONAL

TRADE CLASSIFICATIONS

5, 6, 7 DAN 8

JOKO SUBANDRIO USMAN

DISERTASI

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor

pada

Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(11)

Penguji Luar Komisi Ujian Tertutup : 1. Dr. Ir. Anna Fariyanti, MSi.

Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor,

2. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS.

Staf Pengajar Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan

Manajemen, Institut Pertanian Bogor.

Penguji Luar Komisi Ujian Terbuka : 1. Dr. Ir. Hasudungan Tampubolon

Staf Pengajar Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

2. Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS.

(12)

International Trade Classifications 5, 6, 7 dan 8 Nama Mahasiswa : Joko Subandrio Usman

Nomor Pokok : A.161040324

Menyetujui : 1. Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Mangara Tambunan, MSc. Ketua

Dr. Ir. Anny Ratnawati, MS. Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc.

Anggota Anggota

Diketahui

2. Ketua Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

3. Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA. Dr. Ir. Dahrul Syah, MSc.Agr.

(13)
(14)

Bismillahirrahmanirrahim

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan disertasi dengan judul “Analisis Tingkat Keterbukaan Perdagangan Indonesia di Asia: Studi Kasus Standard International Trade

Classifications 5, 6, 7 dan 8”. Disertasi tersebut merupakan syarat untuk

menyelesaikan studi program doktor pada program studi Ilmu Ekonomi Pertanian Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini penulis secara tulus mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada para pembimbing; Prof. Dr. Ir. Mangara

Tambunan, MSc selaku ketua komisi pembimbing; Dr. Ir. Anny Ratnawati, M.S.; Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, M.Ec yang masing-masing sebagai

anggota komisi pembimbing, yang telah banyak memberikan perhatian, waktu dan masukan dalam penyusunan disertasi ini.

Ucapan terimakasih dan penghargaan juga ingin penulis sampaikan kepada:

1. Bapak Rektor IPB, Bapak Dekan dan Sekretaris Program Pascasarjana

IPB serta seluruh staf pengajar dan administrasi pada program pascasarjana Ilmu Ekonomi Pertanian, atas semua bantuan dan fasilitas yang disediakan sehingga penulis dapat mengikuti pendidikan dengan baik dan lancar.

2. Bapak Prof. Bonar M.Sinaga, MA. sebagai dosen dan Ketua Program

Sudi Ilmu Ekonomi Pertanian, yang telah banyak memberikan ilmu pengetahuan, masukan dan dorongan yang sangat berharga.

3. Ibu Prof. Dr. Ir. Rina Oktaviani, MS. sebagai dosen ilmu Perdagangan

Internasional yang telah memberikan dorongan awal agar penulis menyusun disertasi dibidang perdagangan internasional.

4. Rekan-rekan mahasiswa Program EPN khusus2, terutama Sdr. Adi

(15)

banyak membantu mempersiapkan data dari UNComtrade hingga data siap untuk diolah.

6. Kepada kawan-kawan dari Lembaga Kajian Kebijakan Publik CINAPS,

khususnya Prof. Dr. Sudijarto, MA. dan Dr. Ir. Hasudungan Tampubolon

yang terus mendorong agar segera menyelesaikan disertasi ini.

7. Kepada Sdr. Hasan Ashari dan Barudin, statistisi Badan Pusat Statistik

yang telah membantu dalam data processing disertasi ini.

8. Kepada Almarhum orang tua saya, Bapak Usman Mintodiharjo (alm)

dan Ibu Siti Chatijah (alm), serta Bapak Setyo Sewoyo (alm) serta Ibu Mursina Setyo Sewoyo (alm). Bapak dan Ibu telah memberikan yang

terbaik sebagaimana yang orang tua harus berikan kepada anaknya. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas jasa dan kebaikan Bapak dan Ibu.

9. Akhirnya kepada Istri saya tercinta Endang Sriati dan kedua anak saya

Wahyuni Hanindriowati Subandrio dan Hendro Ganjar Gunarso

Subandrio kepadamulah disertasi ini saya dedikasikan. Kalian telah memberikan yang terbaik yang seharusnya Istri kepada Suaminya dan anak kepada Bapaknya.

10. Pihak lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, yang secara

langsung maupun tidak langsung ikut membantu kelancaran studi saya, khususnya dalam penyelesaian disertasi ini.

Penulis menyadari bahwa sebagai mahkluk Tuhan Yang Maha Esa memiliki keterbatasan dalam menyusun disertasi ini. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkannya.

Bogor, Februari 2012

(16)

Penulis lahir pada tanggal 29 Nopember 1939, dari pasangan R. Usman Mintodihardjo dan Siti Chatidjah. Penulis beristrikan Endang Sriati dan dikaruniai dua anak yaitu Wahyuni Hanindriowati Subandrio dan Hendro Ganjar Gunarso Subandrio.

Penulis berhasil menyelesaikan pendidikan sebagai Insinyur Pertanian di Institut Pertanian Bogor tahun 1964 dan memperoleh gelar Master of Sciece in Economic dari Misissippi State University, Amerika Serikat pada tahun 1974.

Penulis mendapat pendidikan non degree antara lain di United Nations

Institue for Economic Development and Planning tahun 1969 di Bangkok di bidang Economic Development and Planning, Short Course di Centre for Tropical Agriculture University of Florida, Gainsville, dibidang Agricultural Development Planning tahun 1974. Selanjutnya penulis mendapatkan pendidikan Executive Development Program dibidang Corporate Strategy di

Harvard University Graduate School of Business tahun 1983. Jurnal yang

sudah diterbitkan terkait dengan studi ini adalah “Kajian: Indonesia dan Integrasi Perdagangan di Asia”, (2012) serta “Tingkat Keterbukaan dan Kompetisis dalam Arus Perdagangan Indonesia di Asia”, (2012).

Penulis pernah bertugas di Komando Tertinggi Operasi Ekonomi

KOTOE tahun 1964-1966, selaku Sektretaris Team Pengadaan dan Distribusi Pangan. Kemudian dipindahkan ke Departemen Pertanian menjadi anggota Team Counterparts Bank Dunia untuk Agricultural Development Program 1967-1968, selanjutnya menjadi Sekretaris Penyusunan Pelita I Subsector Pangan Departemen Pertanian 1968-1969, selanjutnya pada 1970-1972

(17)
(18)

Halaman

1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian ... 10

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 11

2.1. Tinjauan Teoritis ... 11

2.1.1. Teori Perdagangan Internasional ... 11

2.1.2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi pada Perdagangan ... 12

2.1.3. Keuntungan dari Perdagangan ... 17

2.1.3.1. Pengaruh Perdagangan pada Kesejahteraan Individu ... 17

2.1.3.2. Pengaruh Perdagangan pada Penerimaan Faktor Produksi ... 18

(19)

xviii

3.3. Integrasi Perdagangan dan Arus Perdagangan Intraregional ... 49

3.3.1. Proses Regionalisasi: Intraregional ………..…... 49

3.3.2. Komposisi Perdagangan Intraregional …………...……… 50

3.3.3. Komposisi Perdagangan Intraindustri ………….…..…… 51

3.4. Kerangka Operasional Penelitian ... 53

3.5. Hipotesis Penelitian ... 55

4.3. Teknik Estimasi Model Regresi Menggunakan Panel Data ... 66

V. GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN AKTIVITAS PERDAGANGAN INDONESIA …... 71

5.1. Kondisi Perekonomian Beberapa Negara di Dunia ... 71

5.2. Kondisi Perekonomian Indonesia ………..………... 73

5.3. Kerjasama Perdagangan Internasional di Indonesia ... 76

5.3.1. Perkembangan Pelaksanaan Kerjasama ... 76

5.3.2. Perkembangan Pelaksanaan Kerjasama Perdagangan Bilateral antara Indonesia dengan Negara-negara ASEAN 77

(20)

xix

6.5. Speed of Convergence (SoC) Test dan Grubel Lloyd Index (GLI) .. 112

6.5.1. Speed of Convergence (SoC) ... 112

6.5.2. Grubel Lloyd Index ... 116

6.6. Sintesis atas Hasil Penelitian Mengenai Model Gravity untuk Tingkat Keterbukaan (Openness) dan Aliran Perdagangan (Trade) 122

VII. SIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN ... 125

7.1. Simpulan ... 125

7.2. Implikasi Kebijakan ... 128

7.3. Saran Penelitian Lanjutan ... 131

DAFTAR PUSTAKA ... 133

(21)

xx

Nomor Halaman

1. Literature on Trade Openness (TO) and Growth Country ... 29

2. Pertumbuhan Ekonomi Beberapa Kawasan dan Beberapa Negara di

Dunia, 2005-2009 ………..………... 72

3. Nilai Perdagangan Bilateral Indonesia dengan Beberapa Negara

ASEAN Plus, 2009-2011 ………..……... 78

4. Trade Conformity Index (TCI) dari Masing-masing Kelompok

Komoditi SITC pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia ... 85

5. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model

Openness ... 88

6. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade

untuk Seluruh Kelompok Komoditi ... 94

7. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade

untuk Kelompok Komoditi SITC5 ... 102

8. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade

untuk Kelompok Komoditi SITC6 ... 105

9. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade

untuk Kelompok Komoditi SITC7 ... 109

10. Koefisien dan P-Value dari Peubah-peubah Bebas pada Model Trade

untuk Kelompok Komoditi SITC8 ... 111

11. Nilai SoC dari Masing-masing Kelompok Komoditi SITC pada

Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia ... 113

12. Proporsi Grubel Lloyd Index dari Masing-masing Kelompok GLI pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia menurut Kelompok

(22)

xxi

(23)

xxii

Nomor Halaman

1. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Konsumsi ... 14

2. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Produksi ………. 15

3. Penggolongan Individu dalam Perdagangan ... 17

4. Keuntungan Total Perdagangan, Keuntungan Konsumsi dan

Keuntungan Produksi ………... 20

5. Kerangka Pemikiran Penelitian ... 54

(24)

xxiii

(25)

xxiv

Nomor Halaman

1. Nama Jenis Komoditi Berdasarkan SITC ………..……... 141

2. Trade Conformity Index (TCI) dari Tiap-tiap Negara Mitra Dagang

Indonesia, Tahun 1989-2008 ………... 150

3. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC5

pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 151

4. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC6

pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 152

5. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC7

pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 153

6. Trade Conformity Index (TCI) dari Kelompok Komoditi SITC8

pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 154

7. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI)dari Tiap-tiap Negara Mitra Dagang

Indonesia, Tahun 1989-2008 ………... 155

8. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC5 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …...… 156

9. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC6 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …...… 157

10. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC7 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …..… 158

11. Nilai Grubel Lloyd Index (GLI) dari Kelompok Komoditi SITC8 pada Tiap-tiap Negara Mitra Dagang Indonesia, Tahun 1989-2008 …..… 159

12. Hasil Estimasi Model Openness ………..…... 160

13. Hasil Estimasi Model Trade ……..………..………... 161

14. Hasil Estimasi Model Trade menurut Kelompok Komoditi SITC ... 162

(26)

xxv

(27)

1.1. Latar Belakang

Bentuk kerjasama ekonomi dan perdagangan baik bilateral maupun

multilateral antar sesama kawasan maupun sesama kepentingan sudah banyak

dilaksanakan. Sejak kegagalan pertemuan WTO di Seattle 1999, dan kemajuan

yang kurang menggembirakan dari APEC dan ASEAN pada saat itu, dan

ketidakjelasan arah perkembangan ekonomi setelah terjadi krisis Asia tahun

1997/1998 maka terjadilah perubahan paradigma perekonomian di kawasan Asia.

Perubahan wawasan perekonomian tersebut ditandai dengan mulai tumbuh dan

berkembangnya gejala ekonomi di Asia yang pada awalnya tidak menyetujui

bentuk-bentuk preferential agreement, saat ini mulai menyetujui perjanjian

perekonomian perdagangan regional dan perdagangan bilateral.

Kebijakan perdagangan bebas tersebut menekankan adanya penurunan tarif

yang lebih rendah dan penghapusan kuota impor, yang juga merupakan bagian

dari proses integrasi di dalam blok perdagangan regional. Meskipun kerjasama

perdagangan yang seharusnya membawa keuntungan jangka panjang dengan

memungkinkan suatu negara untuk memperoleh keuntungan dari hasil melakukan

spesialisasi produksi berdasarkan keuntungan komparatif yang dimiliki, namun

sejumlah masalah mungkin terjadi. Pertama dapat mengakibatkan terjadinya

defisit neraca perdagangan, sebagai akibat dari bertambahnya jumlah barang

impor yang dibeli konsumen karena harganya lebih murah. Kedua adalah

terjadinya defisit anggaran pemerintah, karena pendapatan yang diterima

(28)

dampak terhadap distribusi pendapatan dan tingkat kesejahteraan masyarakat yang

semakin memprihatinkan. Sebagaimana kritikan Stiglitz (2002) mengenai konsep

pasar bebas yang tidak adil dan berimbang.

Hingga saat ini, Doha Development Agenda (WTO) belum mampu

menyelesaikan perbedaan-perbedaan antara negara maju dengan

negara-negara berkembang mengenai isu-isu kebijakan perdagangan international atau

trade multilateralism agreement. Situasi tersebut telah mendorong terbentuknya

bilateralisme dan regionalisme di dunia, termasuk di wilayah Asia secara tak

terkendali. Pada tahun 2006, diperkirakan sudah terbentuk sebanyak 57 Free

Trade Agreements (FTA) di kawasan Asia. Hal ini betul-betul akan menjadi

building blocks bagi suatu multilateral trading system dan terjadinya spaghetti/

noodle bowl syndrome dikawasan Asia Timur atau dikenal dengan

kesemprawutan bilateral FTA dan regional FTA. Kesemprawutan tersebut

diantaranya mengenai waktu berlakunya kerjasama tersebut dan pengaturan

bilateral yang saling bertentangan serta adanya diskriminatif (Baldwin, 2007).

Keadaan tersebut ditanggapi dengan cepat oleh negara-negara ASEAN dan Asia

Utara seperti Jepang, Korea dan China. ASEAN mempercepat Regional Free

Trade Agreement (RFTA) -nya, kemudian disusul oleh negara-negara ASEAN

dan Jepang yang membicarakan dan menyetujui Economic Partneship Agreement

dalam format keserasian. Selanjutnya negara-negara ASEAN dan China juga

membentuk China ASEAN Free Trade Agreement (CAFTA). Sedangkan Korea

lebih aktif dalam mendorong dibentuknya ASEAN +3.

Sejak 4 November 2002, Indonesia bersama negara ASEAN telah

(29)

mengenai pemberlakuan perdagangan bebas di kawasan ASEAN-China. Hal ini

berarti akan meningkatkan peluang dalam menyerap peningkatan pangsa pasar

yang mencapai 1,7 miliar penduduk ASEAN-China, apalagi jika kerjasama

tersebut didorong untuk lebih intensif lagi. Disamping itu dilakukan juga bentuk

kerjasama ekonomi dan perdagangan lainnya baik bilateral maupun multilateral

seperti AFTA (ASEAN Free Trade Agreement), APEC (Asia Pacific Economic

Cooperation) dan WTO (World Trade Organization). Bahkan AFTA dan APEC

sudah mulai dilaksanakan pada tahun 2003 (Bank Indonesia, 2010).

Jepang yang terkenal sangat konservatif mulai ikut membentuk perjanjian

perdagangan bilateral dengan beberapa negara seperti Singapura dan Korea

Selatan. Indonesia juga sedang menegosiasikan persetujuan bilateral dengan

Jepang dalam rangka Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (EPA),

yang sekarang dilihat sebagai bagian dari ASEAN-Japan Comprehensive

Partnership Agreement. Kondisi ini memunculkn apa yang sering dinamakan

dengan suatu new age of comprehensive of economic partnership agreements,

dimana Free Trade Agreement (FTA) salah satu komponen utamanya. China telah

menjadi partner dialog utama ASEAN untuk membentuk ASEAN + One Free

Trade Agreements dengan memberlakukan early harvest atau berarti segera

dilakukan penurunan tarif untuk beberapa jenis komoditi diantara negara-negara

anggota.

Gejala FTA tidak hanya terjadi antara negara-negara di kawasan Asia tetapi

juga terjadi antara negara Asia (dimotori Singapura dan Thailand) dengan

Amerika Serikat dan Australia. Sedangkan Malaysia dan Korea Selatan ikut

(30)

agreement dengan Amerika Serikat. Indonesia bukan termasuk negara yang

berada di depan dalam membentuk persetujuan perdagangan bebas (FTA) secara

bilateral. Sementara itu anggota ASEAN sedang mengupayakan untuk

meningkatkan AFTA menjadi ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun

2015, dimana tidak hanya arus barang yang bebas, tetapi juga arus jasa dan

investasi, serta arus modal dan tenaga kerja yang lebih bebas. Proses ini terlalu

lambat dan program penerapannya cenderung tidak strategis. Terlampau banyak

yang ingin dicapai tetapi mekanisme kelembagaan ASEAN belum mampu

mendukung sepenuhnya.

Melihat perkembangan ini, India dengan kebijakan Look East-nya mencoba

memanfaatkan forum EAS (East Asia Summit), yang untuk pertama kalinya

diselenggarakan di Kualalumpur Tahun 2005 dan terakhir di Bali Tahun 2011.

Hal ini mendorong dibentuknnya Pan Asia Closer Economic Cooperation dalam

bentuk ASEAN +3+India, dengan sebutan JACIK (Japan, ASEAN, China, India,

Korea) Free Trade Agreement. India telah mempercepat terbentuknya

ASEAN-India FTA terlebih dahulu yang hingga saat ini perjanjian tersebut sedang

menunggu ratifikasi dari masing-masing negara ASEAN.

Pembentukan JACIK (Japan, ASEAN, China, India dan Korea Selatan) atau

Asia FTA ini maka akan ada penggabungan tiga negara dengan jumlah populasi

yang sangat besar dan disertai dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi

yaitu China, India dan Indonesia. Disamping itu, akan terjadi penggabungan

negara-negara New Industrial Nations seperti Singapura, Malaysia, Thailand dan

(31)

Cooperation dalam bentuk Free Trade Agreement, (Prachin, 2003; Roberts, 2004;

Nagesh, 2007).

Namun hingga saat ini masih belum banyak penelitian tentang justifikasi

manfaat pembentukan JACIK FTA tersebut. Beberapa penelitian pernah

dilakukan antara lain oleh Muhanty (2004) serta Kawai et al. (2008) dari Asia

Development Bank Institute. Kedua penelitian ini mengatakan bahwa FTA

tersebut akan memberikan welfare gain yang besar terhadap wilayah ini maupun

kepada negara-negara anggotanya. Indonesia sudah selayaknya mengetahui

dimana posisinya dan apa yang harus dilakukan ke depan dalam menghadapi

perdagangan internasional di wilayah tersebut, terutama perdagangan

produk-produk industri. Hal ini karena Indonesia sudah mulai melangkah menjadi negara

industri sebagai bagian dari pusat industri manufacturing dunia di Asia (Tho,

2002; Davis et al., 2003; Roberts, 2004).

Penelitian ini berusaha menganalisis arus perdagangan, konvergensi serta

potensi dan interdependensi perdagangan dikawasan Asia. Studi ini diharapkan

pula dapat memberikan rekomendasi khususnya kepada pemerintah maupun dunia

usaha untuk mengetahui Regional Free Trade Agreement (RFTA) mana yang

paling baik untuk Indonesia. Selanjutnya akan mencoba untuk mengkaji apakah

ada hubungan antara pertumbuhan ekonomi dan peubah makro lainnya dengan

trade openness.

1.2. Perumusan Masalah

Makin terbukanya perdagangan di Asia merupakan suatu upaya untuk

meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan volume perdagangan,

(32)

mempercepat pertumbuhan output serta meningkatkan mobilitas faktor produksi,

melalui kesepakatan penurunan atau penghilangan semua jenis hambatan

perdagangan bilateral antara negara-negara di Asia. Secara teoritis meningkatnya

trade openness di Asia selain menimbulkan dampak kreasi (creation), dapat pula

menimbulkan dampak diversi (divertion) yang berupa penurunan efisiensi dan

pengurangan volume perdagangan yang pada akhirnya dapat menimbulkan

penurunan kesejahteraan masyarakat di negara-negara Asia.

Beberapa hasil penelitian terdahulu (Ridwan, 2011) sepakat bahwa

pembentukan keterbukaan perdagangan lebih banyak memberikan dampak kreasi

daripada dampak diversi. Salah satu bentuk integrasi ekonomi yang dianggap

paling berhasil adalah integrasi ekonomi Eropa yang terus ditingkatkan menjadi

Uni Eropa yang telah meningkatkan volume perdagangan, pertumbuhan output

yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi yang pesat dan kesejahteraan bagi

negara-negara anggota. Meskipun sekarang ini, kerjasama tersebut sedang

mengalami masalah karena ada beberapa hal yang terjadi diluar dugaan.

Negara-negara yang ada dalam kawasan ASEAN juga mengharapkan

perkembangan integrasi ekonomi ASEAN yang lebih luas dan memberikan

manfaat pada kesejahteraan negara-negara anggota ASEAN. Untuk mewujudkan

cita-cita tersebut di kawasan ASEAN, telah disepakati adanya integrasi ekonomi

dengan membentuk liberalisasi perdagangan (ASEAN Free Trade

Agreement/AFTA) pada tahun 1992 dan mulai berlaku sejak 1 Januari 2003,

namun kebijakan penurunan tarif telah dilakukan sejak tahun 1995. Selanjutnya

(33)

menjadi ASEAN Economi Community (AEC) yang akan diimplementasikan pada

Tahun 2015.

Gejala bilateralisasi dan regionalisasi ini telah menjadi kenyataan dan dapat

dipastikan akan berperan lebih cepat dan nyata apabila agenda Doha

Developtment tidak menunjukkan perkembangan yang menjanjikan bagi

anggotanya. Selama beberapa tahun terakhir ini gejala proliferasi FTA banyak

menjadi pembahasan dikalangan para politisi dan akademisi. Mereka

memperkirakan akan terjadi inkonsistensi dalam aturan dan waktu penjadwalan

masing-masing FTA tersebut. Tantangan yang nyata adalah apabila proliferasi ini

berlanjut sehingga belum diketahui bagaimana kondisi FTA yang berjumlah

banyak tersebut.

Usman (2006), menunjukkan bahwa arus perdagangan diantara blok

kawasan yang terbaik bagi Indoensia adalah berada dalam wilayah Asia Timur.

Dimana blok ini akan memberikan pengaruh yang signifikan bagi creation arus

perdagangan bilateral antara negara-negara di kawasan Asia Timur. Sedangkan

untuk blok ASEAN meskipun memberikan pengaruh yang positif tetapi tidak

signifikan dan hanya berdampak kecil bagi peningkatan volume perdagangan,

sama halnya pada blok kerjasama di tingkat APEC. Dari hasil kajian ini dapat

diketahui bahwa kerjasama dalam kerangka ASEAN yang selama ini terjadi

mempunyai pengaruh yang tidak begitu besar bagi peningkatan pertumbuhan

ekonomi Indonesia. Disamping itu, Blok APEC kelihatannya terlalu lama dan

terkesan cukup lambat dalam menyelesaikan masalah-masalah kesepakatan dalam

(34)

Berdasarkan kondisi tersebut, maka bukan tidak mungkin negara kawasan

Asia secara alami akan membentuk kawasan FTA yang baru sebagai blok Asia.

Hal ini dimungkinkan karena secara geografis negara-negara tersebut relatif

berbatasan dan berdekatan serta mempunyai kepentingan yang relatif sama. Hal

yang sama juga dikemukakan oleh Lee et al. (2005) yang menyatakan bahwa

bentuk FTA/RTA antara negara-negara yang berdekatan secara geografis (jarak

anatarnegara) maka secara signifikan perdagangan akan meningkat di antara

negara-negara anggotanya. Mereka juga menemukan bahwa letak geografis akan

memberikan kontribusi terhadap peningkatan perdagangan antara negara dan rest

of the world, dan lebih lanjut menyatakan bahwa FTA/RTA Asia sepertinya dapat

menciptakan (creation) pertumbuhan perdagangan antara negara-negara anggota

tanpa mengurangi perdagangan dari nonanggota. Peneliti seperti Lee et al. (2002)

juga mengungkapkan bahwa ASEAN+3 secara alami juga akan memilih

kebijakan untuk membentuk RTA di Asia Timur, dan pada waktu yang sama,

ASEAN+3 tidak akan divergen dari prinsip keterbukaan regionalisme dan

multilarisme. Apabila India diintegrasikan dalam kawasan tersebut terciptalah

kawasan JACIK yang terdiri dari Jepang, ASEAN, China, India dan Korea.

Penelitian ini akan mencoba melihat peluang kerjasama perdagangan diantara

negara-negara yang termasuk kawasan JACIK.

Berdasarkan permasalahan tersebut maka penulis mencoba merumuskan

beberapa pertanyaan diantaranya adalah:

1. Seberapa besar trade openness dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi dan

(35)

2. Faktor-faktor apa saja yang mendorong keputusan Indonesia untuk bergabung

dalam JACIK Free Trade Agreement (JACIKFTA)?

3. Bagaimana memperkirakan complementary dalam perdagangan bilateral yang

dilakukan Indonesia terutama pada produk-produk industri manufaktur?

1.3. Tujuan Penelitian

Mengacu pada latar belakang dan permasalahan sebelumnya, maka dapat

dirumuskan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah Blok

Perdagangan Asia/ JACIK FTA merupakan Blok Perdagangan yang optimal bagi

Indonesia. Sedangkan tujuan yang spesifik dari penelitian ini adalah:

1. Mengetahui hubungan pertumbuhan ekonomi dan kinerja perdagangan

bilateral serta peubah-peubah makroekonomi lainnya terhadap tingkat

keterbukaan perdagangan/trade openness Indonesia.

2. Menganalisis arus perdagangan Indonesia dengan negara-negara mitra

dagangnya khususnya di Asia. Berdasarkan peubah-peubah yang digunakan

dalam penelitian ini maka diharapkan bisa melihat konvergensi perdagangan

dan potensi perdagangan bilateral Indonesia. Serta dapat memberikan

rekomendasi mengenai Regional Free Trade Agreement (RFTA).

3. Mengetahui dan mengkaji inter-industry trade dan intra-industry trade dari

perdagangan Indonesia di kawasan Asia, sehingga dapat dilakukan kajian

yang lebih luas dan mendalam terhadap tingkat interdipendensi regional dari

perdagangan Indonesia.

4. Mengetahui dan mengkaji perdagangan luar negeri khususnya pada

produk-produk industri manufaktur (SITC5, 6, 7, dan 8) sehingga dapat dilakukan

(36)

1.4. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, diantaranya

adalah:

1. Memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai perkembangan dan

kerjasama perdagangan internasional yang dilakukan oleh Indonesia.

2. Bagi penulis dapat meningkatkan pengetahuan, wawasan dan memberikan

pemahaman yang semakin mendalam tentang kegiatan perdagangan

internasional, blok-blok perdagangan, dan pengaruh dari pertumbuhan

perekonomian nasional.

3. Bagi pemerintah, diharapkan dapat menjadi masukan dalam rangka perbaikan

kebijakan terkait pertumbuhan arus perdagangan internasional serta

keikutsertaan Indonesia dalam blok-blok perdagangan.

4. Penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai kondisi terkini tentang

aktivitas perdagangan internasional dan perkembangan blok-blok

perdagangan dalam perekonomian Indonesia.

1.5. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini hanya mencakup 4 negara anggota ASEAN yang cukup besar

ditambah 4 negara Asia lainnya yang mempunyai letak geografis berdekatan dan

mempunyai hubungan perdagangan yang cukup erat. Negara-negara tersebut

adalah Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina, China, Jepang, Korea

Selatan dan India. Mengingat keterbatasan data yang dimiliki peneliti untuk

Negara Singapura, maka dalam penggunaan model, data dari negara tersebut tidak

(37)

2.1. Tinjauan Teoritis

2.1.1. Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan Internasional mulai berkembang dalam studi empiris yang

dilakukan oleh Adam Smith yang suatu teori bahwa dua negara akan melakukan

perdagangan secara sukarela jika kedua negara tersebut memperoleh keuntungan

yang didasarkan pada keunggulan absolut (absolute). Dengan adanya

perdagangan setiap negara dapat melakukan spesialisasi produksi dalam komoditi

yang memiliki keunggulan absolut dan menukarkan sebagian outputnya dengan

negara lain, yang efisiensi dalam penggunaan input. Ada dua alasan utama

mengapa suatu negara mengadakan perdagangan internasional, yaitu, pertama

karena kedua negara berbeda dalam sumberdaya sehingga memperoleh

keuntungan dalam perdagangan (gains from trade) dan kedua, karena kedua

negara berdagang dengan tujuan untuk mencapai apa yang disebut sebagai

economies of scale dalam produksi (Krugman et al., 2000).

Sementara itu David Ricardo, studinya mengenai perdagangan

Internasional telah berkembang melahirkan teori perdagangan yang menyatakan

memiliki biaya relatif terkecil untuk jenis barang yang berbeda. Sama halnya

dengan J.S. Mill yang beranggapan bahwa suatu negara akan berspesialisasi pada

ekspor suatu barang dimana negara tersebut memiliki keunggulan komparatif

terbesar dan impor barang dimana negara tersebut memiliki kelemahan

(38)

Jadi keduanya menekankan pada suatu negara akan melakukan ekspor

suatu barang yang dapat dihasilkan dengan biaya produksi lebih rendah dan

mengimpor barang, jika dibuat sendiri memerlukan biaya yang besar atau dapat

dikatakan bahwa perdagangan internasional didasarkan pada efisiensi relatif.

Selanjutnya muncul teori modern dari Heckcher dan Ohlin (H-O) bahwa

perdagangan Internasional terjadi karena opportunity cost yang berbeda antara

kedua negara yang diakibatkan oleh perbedaan dalam jumlah faktor produksi yang

dimiliki kedua negara tersebut. Suatu negara akan akan berspesialisasi dalam

produksi dan ekspor barang yang input utamanya relatif sangat banyak dan impor

barang yang input utamanya tidak dimiliki negara tersebut.

2.1.2. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi pada Perdagangan

Terbukanya perekonomian dunia maka peran perdagangan internasional

semakin strategis dalam perekonomian suatu negara. Negara melakukan

perdagangan internasional kerena beberapa alasan, antara lain: (1) Setiap negara

mempunyai keunggulan kompararif yang berbeda-beda, sehingga dengan

melakukan perdagangan maka keuntugan perdagangan (gain from trade) akan

diterima oleh kedua belah pihak, dan (2) Negara melakukan perdagangan dengan

tujuan mencapai skala ekonomi (economic of scale) dalam produksi. Maksudnya

adalah apabila setiap negara hanya menghasilkan sejumlah barang tertentu

(spesialisasi), maka mereka dapat menghasilkan barang tersebut dengan skala

yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut

memproduksi sendiri dari seluruh jenis barang yang dibutuhkan (Chacholiaades,

(39)

Tingkat pertumbuhan akan mempengaruhi tingkat perdagangan suatu

negara. Dalam model Solow dikemukan bahwa sumber pertumbuhan ekonomi

adalah pertumbuhan tenaga kerja, akumulasi modal dan tingkat teknologi (Romer,

1996). Pertumbuhan ekonomi menyebabkan kurva kemungkinan produksi/ PPF

(production possibilities frontier) bergeser ke luar.

Tingkat produksi optimum tergantung pada pergeseran kurva

kemungkinan produksi. Asumsi yang digunakan adalah setelah PPF bergeser

keluar, maka terjadi kenaikan biaya (increasing cost) yang berimplikasi pada

spesialiasi yang tidak lengkap.

Efek dari ketidaklengkapan spesialisasi, maka pengaruh pertumbuhan pada

volume yang diperdagangkan (klasifikasi pertumbuhan) tergantung pada

kombinasi perilaku konsumsi dan produksi. Untuk memudahkan di dalam analisis

pengaruh pertumbuhan ekonomi pada perdagangan, maka pengaruh dipisahkan ke

dalam pergeseran konsumsi dan produksi, serta kombinasi keduanya. Pengaruh

pertumbuhan ekonomi, menyebabkan pergeseran ke luar dari kurva konsumsi

frontier secara paralel. Pengaruh konsumsi adalah netral apabila rata-rata

kecenderungan konsumsi barang impor konstan, pengaruh konsumsi adalah bias

pro perdagangan apabila rata-rata kecenderungan konsumsi impor meningkat

sejalan dengan pertumbuhan.

Sementara pengaruh konsumsi adalah bias anti perdagangan apabila

rata-rata kecenderungan konsumsi impor menurun sejalan dengan pertumbuhan.

Sebagai tambahan terdapat dua kondisi ekstrim adalah konsumsi yang ultra bias

(40)

besar dari kenaikan absolut pendapatan nasional dan bias ultra anti perdagangan

apabila konsumsi domestik barang-barang impor turun secara absolut.

Apabila P1K1 adalah kurva konsumsi frontier awal, dimana produksi

adalah P1 dan konsumsi pada C1. Asumsi negara melakukan spesialisasi pada X,

maka perekonomian mengekspor X1P1 unit untuk ditukarkan dengan X1C1 dari

barang Y. Kemiringan dari kurva kemungkinan konsumsi frontier X1P1 adalah

satu, konsisten dengan asumsi ratio harga dunia adalah tertentu dan sama dengan

satu. Pertumbuhan ekonomi akan menggeser kurva kemungkinan konsumsi

frontier pada K2P2 konsumsi akhir terjadi pada berbagai titik di K2P2

(Chacholiades, 1978: Krugmen et al., 1994)

Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997)

Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Konsumsi

Pengaruh pertumbuhan ekonomi pada produksi ditunjukkan oleh

pergeseran ke atas kurva kemungkinan produksi frontier. Pengaruh pada produksi

(41)

pengaruh produksi adalah bias pro perdagangan apabila rata-rata kecenderungan

produksi barang ekspor meningkat sejalan dengan pertumbuhan.

Sementara pengaruh produksi adalah bias anti perdagangan apabila

rata-rata kecenderungan produksi barang ekspor adalah menurun sejalan dengan

pertumbuhan ekonomi. Dua kondisi ekstrim adalah produksi yang bias ultra pro

perdagangan yaitu apabila kenaikan absolut dalam produksi barang ekspor lebih

besar dari kenaikan absolut pendapatan dan kondisi sebaliknya disebut bias ultra

anti perdagangan.

Pengaruh total dari adanya pertumbuhan ekonomi perdagangan,

tergantung pada penjumlahan dampak pada produksi dan konsumsi. Apabila

pengaruhnya pada produksi dan konsumsi keduanya dengan arah yang sama,

maka pengaruh total biasanya adalah bias.

Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997).

(42)

Jika ada salah satu pengaruh dalam produksi atau konsumsi adalah netral,

maka pengaruh total adalah bias dengan arah yang sama dengan bias pada

pengaruh yang lain. Tetapi apabila pengaruh pada produksi dan konsumsi bias

dengan arah yang berbeda, maka pengaruh total tidak dapat diduga secara mudah.

Ketika pengaruh pada produksi adalah bias ultra anti perdagangan maka pengaruh

total adalah bias ultra anti perdagangan kecuali ketika pengaruh konsumsi adalah

bias ultra pro perdagangan sehingga pengaruh total sama dengan nol. Apabila

pengaruh pada konsumsi adalah bias ultra anti perdagangan maka pengaruh total

juga bias ultra anti perdagangan, kecuali ketika pengaruh produksi adalah bias

ultra pro perdagangan maka pengaruh total adalah adalah nol (Chacholiades,

1978: Krugmen et al., 1994).

Perdagangan terjadi disebabkan adanya perbedaan harga keseimbangan

barang-barang antar negara. Dengan terjadinya perdagangan maka harga relatif

barang-barang akan menuju keseimbangan. Secara umum, keuntungan dari suatu

perdagangan akan berpengaruh pada kesejahteraan individu, penerimaan faktor

produksi dan kesejahteraan masyarakat.

2.1.3. Keuntungan dari Perdagangan

2.1.3.1. Pengaruh Perdagangan pada Kesejahteraan Individu

Perdagangan terjadi karena adanya perbedaan harga keseimbangan

barang-barang-barang antar negara. Terjadinya perdagangan maka harga relatif

barang-barang akan menuju keseimbangan. Pengaruh perdagangan terhadap

(43)

barang X atau barang Y (asumsi dua pasar barang). Secara garis besar terdapat

tiga kelompok individu sebagai berikut (Chacholiades, 1978) :

1. Individu yang memproduksi sebanyak kebutuhan konsumsi sendiri (self

sufficient) dalam arti mencukupi sendiri kebutuhan faktor produksi dan

kebutuhan barang-barang.

2. Individu yang dalam kondisi keseimbangan umum menukarkan barang X

untuk barang Y yaitu memproduksi lebih banyak X dan lebih sedikit Y dari

yang dikonsumsinya.

3. Individu yang dalam kondisi keseimbangan umum menukarkan barang Y

untuk barang X atau memproduksi lebih sedikit X dan lebih banyak Y dari

pada yang dikonsumsi

Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997).

Gambar 3. Penggolongan Individu dalam Perdagangan.

Gambar 3 memperlihatkan kurva MN sebagai kurva kemungkinan

produksi frontier individu, UV adalah kurva kemungkinan konsumsi frontier

individu dan II adalah kurva indiferen individu pada kondisi keseimbangan umum

(44)

individu A dapat meningkatkan kesejahteraannya dengan ikut serta perdagangan.

Pada setiap garis anggaran (selain UV) maka kurva kemungkinan produksi

frontier harus bersinggung dengan kurva II’ dimana individu A dapat mencapai

kurva indiferen yang lebih tinggi. Keuntungan total perdagangan yang dapat

dinikmati dalam bentuk keuntungan konsumsi dan keuntungan produksi. Pada

tingkat produksi seperti semula, individu A lebih sejahtera melalui pertukaran

(keuntungan konsumsi) atau kesejahteraanya juga meningkat dengan menggeser

titik produksi (keuntungan produksi).

Bagi individu B dan C, perdagangan tidak selalu memberikan keuntungan,

apabila rasio harga dunia berbeda dari (Px/Py), maka salah satu individu akan lebih

sejahtera dan individu lain berkurang kesejahteraannya. Sebagai contoh apabila

barang X relatif lebih murah pada pasar dunia, maka individu C akan mampu

meraih kurva indiferen yang lebih tinggi dari II yaitu ketika kurva UV menjadi

lebih datar. Sementara individu B berkurang kesejahteraannya karena tidak

mampu mencapai kurva indiferen semula II.

2.1.3.2. Pengaruh Perdagangan pada Penerimaan Faktor Produksi

Untuk memahami hal ini, diasumsikan dalam perekonomian terdapat dua

kelompok faktor produksi, yaitu pekerja dan pemilik faktor produksi (tanah).

Pemilik tanah tidak menawarkan tenaga kerja sementara tenaga kerja tidak

memiliki tanah, tetapi menawarkan tenaga. Perekonomian menghasilkan dua

barang X dan Y dalam kondisi constan return to scale, barang Y adalah relatif

intensif tanah dari barang X. Rasio harga dunia (Px/Py) lebih kecil dari rasio harga

domestik sebelum perdagangan atau harga-harga barang X di pasar dunia lebih

(45)

sehingga produksi domestik Y meningkat sementara produksi domestik X

mengalami penurunan. Peningkatan produksi barang Y yang intensif tanah,

menyebabkan kedua barang cenderung menjadi lebih intensif tenaga kerja dan

Marginal Phisycal Product (MPP) dari tenaga kerja menurun sementara MPP dari

tanah meningkat di kedua industri.

Pengaruh selanjutnya adalah pendapatan relatif tenaga kerja turun dan

pendapatan relatif tanah naik dan sumberdaya akan ditransfer dari industri X ke

industri Y. Dampaknya terhadap kesejahteraan golongan faktor produksi

ditentukan oleh pendapatan absolut dalam setiap golongan. Jika perdagangan

internasional meningkatkan pendapatan nasional, maka pendapatan absolut tenaga

kerja juga naik walaupun pendapatan relatif mereka turun. Dengan kata lain,

faktor produksi yang digunakan secara intensif untuk memproduksi barang yang

mengalami kenaikan harga akan mendapat keuntungan dari perdagangan

sementara faktor lainnya mengalami kerugian (Chacholiades, 1978; Krugman et

al., 2000).

2.1.3.3. Pengaruh Perdagangan pada Kesejahteraan Masyarakat

Keuntungan total dari suatu perdagangan umumnya dibagi ke dalam dua

komponen, yaitu (Chacholiades, 1978; Krugmean et al., 1994).

1. Keuntungan pertukaran internasional atau keuntungan konsumsi yang timbul

dalam perekonomian ketika kombinasi barang yang sama juga diproduksi saat

terjadi perdagangan bebas.

2. Keuntungan dari spesialisasi atau keuntungan produksi yang timbul dalam

perekonomian dalam bentuk pergeseran titik produksi akibat perbedaan harga

(46)

P

Perdagangan internasional memungkinkan perekonomian untuk bergerak

dari kurva indifferen sosial (KIS) yang lebih rendah ke arah kurva indifferen

sosial yang lebih tinggi. Asumsi bahwa kumpulan kurva indifferen sosial

menjelaskan tidak hanya perilaku konsumsi tetapi juga perubahan kesejahteraan

sosial. Dengan menggunakan peta kurva indifferen sosial tertentu yang

menggambarkan kesejahteraan sosial dalam hubungannya dengan perilaku

konsumsi, maka perubahan kesejahteraan masyarakat akibat perdagangan

ditunjukkan pada Gambar 4.

Kurva MP1P0N menunjukkan kurva kemungkinan produksi frontier.

Sebelum perdagangan keseimbangan terjadi pada P0 saat kurva KKP

bersinggungan dengan kurva indifferen sosial tertinggi yang dimungkinkannya

(SIC1). Ketika perdagangan dibuka, perekonomian berproduksi pada P1 dan

konsumsi pada E2. Garis lurus yang melalui P1 dan E2 adalah kemungkinan

konsumsi frontier.

Sumber: Ekonomi Internasional, Salvatore (1997)

(47)

Kesejahteraan sosial meningkat sebab perekonomian bergerak dari SIC1 ke

SIC3. Untuk melihat keuntungan konsumsi, diasumsikan setelah perdagangan

produksi tetap pada P0. Kasus pada ketidakmobilitasan yang sempurna dari faktor

produksi antar industri dan harga faktor produksi fleksible, yaitu ketika batas

kemungkinan produksi adalah segi empat OVP0U.

Pada kondisi tersebut keuntungan perdagangan ditunjukkan olah

keuntungan konsumsi yaitu perubahan titik konsumsi P0 ke titik konsumsi E1 pada

kurva indifferen yang lebih tinggi (bergerak dari SIC1 ke SIC2). Sementara

keuntungan produksi ditunjukkan oleh pergerakan dari E1 ke E2 sebagai hasil

perubahan dari pola produksi (P0 ke P1).

2.2. Penelitian Terdahulu

Studi ini melanjutkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dalam

membangun analisis arus perdagangan internasional antar beberapa negara yang

tergabung dalam blok-blok perdagangan khususnya yang dilakukan oleh

Indonesia dengan menggunakan berbagai model penelitian seperti model gravity.

Kajian tersebut pernah dilakukan oleh Sohn (2005), Ridwan (2011), Guttmann et

al. (2004) dan beberapa peneliti lainnya. Berikut ini disajikan beberapa ringkasan

hasil penelitian sebelumnya yang menjadi rujukan peneliti.

Studi yang dilakukan oleh Guttmann et al. (2004), berusaha untuk

menjawab mengapa perdagangan luar negeri Australia relatif rendah

dibandingkan dengan ukuran perekonomiannya dengan melihat keterbukaan

perekonomian Australia (ekspor ditambah impor sebagai proporsi dari GDP) pada

Tahun 2002 terendah ketiga di antara 30 negara maju (OECD). Paper ini

(48)

gravity menunjukkan bahwa perdagangan Australia lebih besar dari yang

diharapkan, sementara persamaan keterbukaan (openness) menunjukkan bahwa

tingkat perdagangan relatif lebih mendekati dengan yang diharapkan. Faktor yang

paling penting yang menjelaskan rendahnya rasio keterbukaan perekonomian

Autralia adalah jarak terhadap luar wilayah (rest of the world) dan luas ukuran

geografi. Hasil dari persamaan openness menunjukkan bahwa faktor-faktor yang

baik menjelaskan rendahnya tingkat perdagangan Australia disebabkan oleh

keterpencilan (remoteness) dan ukuran luas wilayah(large size).

Do (2006) menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

perdagangan antara Vietnam dan 23 negara European Countries (EC23) di

OECD. Model diestimasi dengan menggunakan pooled, fixed dan random effects.

Hasil utama penelitian ini mengindikasikan bahwa arus perdagangan bilateral

antara Vietnam dan EC23 ditentukan oleh ukuran ekonomi, ukuran pasar dan

exchange rate volatility. Sementara jarak (distance) dan hubungan sejarah antara

negara terlihat tidak memiliki pengaruh terhadap perdagangan bilateral antara

Vietnam dan EC23.

Kim et al. (2003) mengkaji tentang faktor-faktor yang menentukan pola

perdagangan bilateral dengan menggunakan persamaan model gravity dinamis.

Sampel yang digunakan adalah 10 negara UE. Hasil temuan mereka menunjukkan

bahwa masuknya Foreign Direct Investment (FDI) pada industri-industri skala

besar akan menghasilkan tingkat pertumbuhan ekspor yang tinggi dibanding

dengan impor di dalam industri sektor ini dan sebaliknya, tingkat pertumbuhan

pendapatan secara relatif mungkin menyebabkan tingginya pertumbuhan impor

(49)

Lee et al. (2005) melakukan penelitian tentang integrasi regional di Asia

Timur. Hasil penelitian mereka mengindikasikan bahwa bentuk RTA antara

negara yang diperkirakan secara geografi (diukur oleh jarak atau border) maka

secara signifikan perdagangan akan meningkat di antara negara-negara

anggotanya. Mereka juga menemukan bahwa geografi akan memberikan

kontribusi terhadap peningkatan perdagangan antara negara dan rest of the world,

dan lebih lanjut menyatakan bahwa RTA Asia Timur sepertinya dapat

menciptakan (creation) tambahan perdagangan antara negara anggota tanpa

mengurangi perdagangan dari nonanggota.

Oktaviani (2001) menganalis dampak liberalisasi perdagangan dalam

skema kerjasama ekonomi Asia Pasifik (APEC) terhadap kondisi makroekonomi

Indonesia. Teknik analisis menggunakan model peramalan Indonesia dengan basis

model keseimbangan umun (ORANI-F) dengan memodifiksi model yang

dikembangkan di Australia. Model ini lebil detail dibanding model CGE

(Computable General Equilibrium) biasa karena menggabungkan fleksibilitas

untuk “menangkap” berbagai asumsi alternatif yang berkaitan dengan perilaku

investasi dan penggunaan lahan. Pengaruh liberalisasi perdagangan dianalisis

dengan cara memasukkan perubahan kondisi harga perdagangan dunia - karena

adanya perdagangan bebas-sebagai peubah eksogen ke dalam model. Sedangkan

pengaruh perdagangan bebas APEC terhadap perubahan kondisi pasar dunia

dianalisi dengan model analisis perdagangan global (GTAP). Hasil simulasi

menunjukkan bahwa perbaikan produktivitas dan kesempatan kerja akan

meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) riil lebih besar dari perbaikan pada

(50)

Implikasinya adalah bahwa kedua peubah di atas dapat distimulasi lebih cepat lagi

untuk berkontribusi bagi pemulihan ekonomi.

Studi yang dilakukan Diao et al. (2002) menganalisis dua skenario

liberalisasi perdagangan potensial, yaitu Free Trade Area of the Americas

(FTAA) dan kemungkinan hubungan antara Mercosur dengan Eropean Union

(EU), dalam model Computable General Equilibrium (CGE). Model tersebut juga

memasukkan beberapa elemen makro seperti mekanisme aliran dana, meliputi

keuntungan dan kekakuan upah dan tingkat pertukaran (suku bunga). Hasil

analisis kedua skenario tersebut yang perlu ditekankan dalam tulisan ini adalah

dampaknya terhadap perubahan total ekspor dan total impor. Perubahan dalam

perdagangan sebagai hasil dari disepakatinya Free Trade Area of the Americas

(FTAA) dan kemungkinan hubungan antara Mercosur dengan Eropean Union

(EU). Dalam FTAA, ekspor dan impor meningkat secara signifikan untuk

negara-negara penting di Amerika, pada saat perdagangan meningkat dengan baik di US

dan Kanada (eksportir besar yang terdisversif) serta Meksiko (mempunyai akses

yang baik ke US).

Robert (2004) menggunakan model gravity untuk menjelaskan FTA

China-ASEAN (CAFTA). Estimasi dilakukan dengan teknik pendugaan OLS.

Dari hasil estimasi menunjukkan bahwa ukuran ekonomi (GDP) dan jarak antara

negara signifikan mempengaruhi perdagangan antara China dan ASEAN. Dalam

model ini, biaya perdagangan atau biaya transport diproksi dengan jarak antara

dua negara, yang menyatakan bahwa semakin jauh jarak antara negara anggotanya

(51)

estimasi menunjukkan bahwa besarnya penurunan tingkat perdagangan tersebut

adalah sebesar 1.2 persen.

Glick et al. (2001) melakukan penelitian dengan mempertanyakan apakah

currency union mempengaruhi perdagangan. Estimasi model gravtiy dilakukan

dengan teknik pooled, random dan fixed effect. Hasil estimasi menunjukkan

bahwa kofisien currency union, CU (yang diproksi dengan peubah dummy,

dimana nilai CU = 1 jika negara menggunakan mata uang yang sama, dan CU = 0

untuk yang lainnya) adalah sebesar 1.3 dan secara statistik adalah signifikan pada

level 1 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa negara-negara dagang dan patner

dagangnya yang menggunakan mata uang bersama (CU) masing-masing dapat

meningkatkan volume perdagangan untuk masing-masing negara adalah sebesar

(e1.3 = 3.7) ceteris paribus.

Fillipini et al. (2002) mencoba untuk menggunakan model gravity dalam

rangka untuk menganalisis arus perdagangan antar negara industri Asia Timur

termasuk China dan beberapa negara maju dalam rangka untuk menunjukkan

keragaan perdagangan di Asia Timur selama 25 tahun. Model dimodifikasi

dengan memasukkan unsur perbedaan teknologi (technology distance). Dalam

rangka untuk memahami relevansi gap teknologi negara-negara dalam

menentukan arus perdagangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koefisien

estimasi industri yang menggunakan produk ekspor dengan teknologi tinggi

adalah negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa gap teknologi antara negara

pengekspor di sektor teknologi tinggi dapat menurunkan arus volume

(52)

pengekspor dan pengimpor di industri sektor tertentu, maka semakin kecil tingkat

perdagangan antara kedua negara.

Lee et al. (2002) mencoba untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk

kerjasama yang sesuai dari RTA di Asia Timur dengan menggunakan penjelasan

secara empiris bentuk perdagangan Intra-Regional bias dari berbagai kelompok

regional yang tidak resmi (informal). Hasil temuan mereka mengindikasikan

bahwa hal demikian sulit untuk memverifikasi bahwa tiga negara di bagian Utara

Asia, China-Jepang-Korea untuk membentuk blok perdagangan regional. China

dan ASEAN tidak memiliki hubugan yang khusus dalam perdagangan. Lebih

lanjut mereka menyatakan bahwa ASEAN+3 akan secara alami memilih

kebijakan untuk membentuk RTA di Asia Timur, dan pada waktu yang sama,

ASEAN+3 tidak akan divergen dari prinsip keterbukaan regionalisme dan

multilarisme.

Sohn (2005) mengkaji tentang pola perdagangan Korea dengan

menggunakan model gravity. Model persamaan gravity memasukkan peubah

Trade Conformity Index (TCI) dan anggota APEC untuk mengindentifikasi pola

perdagangan Korea. Data yang digunakan adalah 30 negara patner dagang utama

Korea tahun 1995. Model diestimasi dengan menggunakan Ordinary Least

Squares (OLS). Hasil estimasi menunjukkan bahwa model gravity sangat efektif

dalam menjelaskan arus perdagangan bilateral Korea dan model gravity sangat

baik diaplikasikan pada kasus negara tunggal. Koefisien pada struktur

perdagangan menunjukkan bahwa perdagangan Korea mengacu pada pola

perdagangan Heckscher-Ohlin inter-industry, bukan intra-industry. Arus

(53)

daripada perbedaan pada economies of scale. Peubah APEC menunjukkan

pengaruh positif signifikan pada volume perdagangan Korea, artinya bahwa

disana terdapat arus perdagangan yang besar intra-APEC yang mungkin datang

terutama dari aktivitas pasar privat. Menurut hasil empiris ini, APEC berkembang

sebagai natural trading block.

Ridwan (2011) melakukan penelitian tentang aliran perdagangan dan

investasi di kawasan ASEAN dan negara anggotanya. Penelitian ini menggunakan

model gravitasi yang memfokuskan penelitiannya hanya pada 5 negara ASEAN

(Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina). Hasil analisisnya

menyebutkan bahwa aliran perdagangan di kawasan ASEAN dan negara

anggotanya dipengaruhi secara positif dan signifikan oleh Indeks Integrasi

Perdagangan, FDI, jumlah penduduk, keterbukaan ekonomi, suku bunga dan

GDP. Sedangkan peubah seperti tarif, jarak dan nilai tukar riil umumnya

berpengaruh secara negatif terhadap aliran perdagangan. Keikutsertaan negara

ASEAN pada integrasi ekonomi APEC berpengaruh positif terhadap peningkatan

perdagangan. Pengaruh APEC lebih besar daripada ASEAN. Hal tersebut

membuktikan rendahnya intensitas perdagangan intra-trade antar sesama negara

ASEAN.

Bussiere et al. (2005) meneliti tentang integrasi perdagangan dari Central

and Eastern European Countries (CEES). Model yang digunakan adalah gravity

sedangkan data yang digunakan adalah time series dan cross-section yang

digabung jadi pooled data. Series dimulai dari tahun 1980–2003, sedangkan data

cross-section sebanyak 61 negara. Teknik estimasi menggunakan fixed effect,

(54)

menunjukkan secara gradual convergen kearah tingkat perdagangan “normal”.

Karena dekatnya geografi mereka dengan area Euro dan tingkat GDP mereka,

negara-negara ini secara alami memiliki kondisi yang menunjang share

perdagangan mereka dengan area Euro. Hasil ini menunjukan bahwa percepatan

peningkatan perdagangan antara negara-negara ini awalnya rendah –

dibandingkan dengan yang diindikasikan model – tetapi selanjutnya konvergen ke

tingkat normal.

Corillo et al. (2002) melakukan penelitian menggunakan model persamaan

gravity untuk menjelaskan pengaruh Andean Community (AC) dan Mercusor

terhadap perdagangan intra-region dan intra-industry pada periode 1980-1997.

Hasilnya menunjukan market size dan distance, AC Preferential Trade Agreement

(PTA) memiliki pengaruh signifikan terhadap kedua produk diferensiasi dan

produk pilihan, terutama pada barang-barang capital intensive. Sebaliknya

Mercusor FTA hanya memiliki pengaruh positif terhadap capital intensive

subkategori dari produk-produk pilihan.

Studi tentang pengaruh openness terhadap pertumbuhan ekonomi banyak

dilakukan menggunakan cross-sectional data. Hasil menunjukan kontradiksi,

bahwa openness kita mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi sering pula

openness tidak memberikan efek terhadap pertumbuhan ekonomi. Studi Edward

(1998) menggunakan data cross-sector dari negara-negara berkembang

menunjukan bahwa, openness memberi dampak kepada pertumbuhan ekonomi.

Sementara dari studi Rodrik (2003) menunjukan bahwa openness tidak

menunjukan pengaruh pada pertumbuhan ekonomi. Studi dari Guttman et al.

Gambar

GAMBARAN UMUM PEREKONOMIAN DAN AKTIVITAS
Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Konsumsi
Gambar 2. Kurva Pertumbuhan Ekonomi pada Produksi.
Gambar 3. Penggolongan Individu dalam Perdagangan.
+7

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan tugas ini sebatas pengetahuan

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Taufik dan serta Hidayah-Nya, bahkan kebaikan- Nya yang telah memberikan

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan akhir

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, hidayah serta inayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan Rahmat serta Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan Rahmat dan Taufik dan serta Hidayah-Nya, bahkan kebaikan-Nya yang telah

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan hidayah-Nya lah kami dapat