i
STUDI KOMPARASI DAYA TARIK
INTERPERSONAL PADA MAHASISWA UNNES
YANG BERPACARAN DITINJAU DARI JENIS
KELAMIN
SKRIPSI
disajikan sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi
oleh
Anike Dian Ayu Kusuma Dewi 1550408031
JURUSAN PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
ii
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “Studi Komparasi Faktor
-Faktor Daya Tarik Interpersonal Pada Mahasiswa UNNES Yang Berpacaran
Ditinjau Dari Jenis Kelamin” merupakan hasil karya saya sendiri. Pendapat dan
temuan dari orang lain yang terdapat dalam skripsi ini ditulis berdasarkan kode
etik penulisan ilmiah.
Semarang, Februari 2013
iv
MOTTO DAN PERUNTUKAN
Motto
Berdoa dan Selalu Berusaha, Aku Percaya Bahwa Aku Mampu. SEMANGAT..!!!
Peruntukan
Kepada papi, mami, Adik-adik penulis dan kakek, nenek.
v
PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat limpahan rahmat, taufik,
serta hidayah-Nya penulis mampu menyelesaikan skripsi dengan judul “Studi
Komparasi Faktor-Faktor Daya Tarik Interpersonal Pada Mahasiswa UNNES
Yang Berpacaran Ditinjau Dari Jenis Kelamin”.
Pada kesempatan ini, penulis akan menyampaikan ucapan terimakasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skrirpsi ini,
diantaranya:
1. Drs. Hardjono, M. Pd, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri
Semarang.
2. Dr. Edy Purwanto, M.Si., Ketua Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan
Universitas Negeri Semarang.
3. Drs. Sugeng Hariyadi, S.Psi.,M.S.,selaku penguji utama skripsi yang telah
memberikan masukan dan penilaian terhadap skripsi yang telah disusun oleh
peneliti.
4. Drs. Sugiyarta Stanislaus, M.Si dosen pembimbing I yang telah memberikan
arahan, motivasi, dan masukan kepada penulis.
5. Moh. Iqbal Mabruri, S. Psi., M. Si dosen pembimbing II yang telah
memberikan arahan, motivasi, dan masukan kepada penulis.
6. Semua dosen Psikologi yang telah memberikan banyak ilmu dan pelajaran
vi
7. Seluruh mahasiswa UNNES khusunya yang menjadi subjek dalam penelitian
dan telah banyak membantu serta berpartisipasi selama proses penelitian.
8. Kedua orangtua penulis yang senantiasa memberi semangat, nasehat,
memotivasi, mendoakan dan menyayangi penulis dengan sepenuh hati.
9. Adik-adik penulis (Arde, Anggi, Aninda) yang memberikan support,
ketulusan, dan bantuan, serta memberikan kegembiraan dan keceriaan.
10.Kawan-kawan penulis Belina, Farida, Fitri, Riris, Ruly, Yanu, Ratri, Tifa,
Upik, Ella, Dina, Bani, Ayu citra, Ika, yang telah membantu dalam proses
penelitian, yang memberikan semangat, dukungan, serta menemani penulis
dalam suka dan duka.
11.Mas wahyu yang telah membantu dalam proses penelitian, yang memberikan
semangat, dukungan, serta menemani penulis dalam suka dan duka.
12.Mbak arin, mbak ajeng, mbak dinta, mas al, mas fandy, mas wendy, mas
bambang, mas agung, dek hepi, dek danang, dek kotino atas bantuan, canda
tawa, serta semangatnya.
13.Teman-teman psikologi angkatan 2008 terimakasih atas pengalaman dan
perjuangan bersama kita selama menempuh kuliah di psikologi ini.
14.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, baik secara
langsung maupun tidak langsung yang telah membantu menyelesaikan skripsi
Semoga kebaikan dan keikhlasan akan mendapat balasan dari Allah SWT dan
juga semoga karyaku ini bermanfaat.
Semarang, Februari 2013
vii
ABSTRAK
Dewi, Anike Dian Ayu Kusuma. 2013. Studi Komparasi Faktor-Faktor Daya Tarik Interpersonal pada Mahasiswa UNNES yang Berpacaran ditinjau dari Jenis Kelamin, Skripsi, Jurusan Psikologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Pembimbing I Drs. Sugiyarta Stanislaus, M. Si. dan Pembimbing II Moh. Iqbal Mabruri, S. Psi., M. Si.
Kata kunci: daya tarik interpersonal.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena perbedaan dalam memilih pasangan atau pacar yang dimiliki oleh individu yang terjadi pada mahasiswa UNNES. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor-faktor daya tarik interpersonal pada mahasiswa UNNES yang berpacaran ditinjau dari jenis kelamin.
Penelitian ini merupakan penelitian Kuantitatif Komparasi. Subjek penelitian berjumlah 60 pasang mahasiswa yang ditentukan dengan teknik sampling insidental. Daya tarik interpersonal diukur menggunakan skala daya tarik interpersonal memiliki 42 item. Koefisien reliabilitas skala daya tarik interpersonal sebesar 0,757. Uji perbedaan menggunakan teknik uji t dengan bantuan program SPSS 17.0 for windows.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan faktor-faktor daya tarik interpersonal pada mahasiswa UNNES yang berpacaran ditinjau dari jenis kelamin. Nilai t sebesar 0,538 dengan taraf signifikansi 5% dengan bantuan SPSS
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN ... ii
PENGESAHAN ... iii
MOTTO DAN PERUNTUKAN ... iv
PRAKATA ... v
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xv
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 12
1.3 Tujuan Penelitian ... 12
1.4 Manfaat Penelitian ... 12
BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Daya Tarik Interpersonal ... 14
2.1.1 Pengertian Daya Tarik Interpersonal ... 14
2.1.2 Hal-hal yang Menentukan Daya Tarik Interpersonal ... 17
ix
2.2 Perbedaan Jenis Kelamin ... 33
2.2. 1 Pengertian Perbedaan Jenis Kelamin ... 33
2.3 Berpacaran ... 35
2.3.1 Pengertian Berpacaran ... 35
2.4 Kerangka Berfikir ... 36
2.5 Hipotesis ... 39
BAB 3 METODE PENELITIAN 3. 1 Jenis Penelitian ... 40
3. 2 Variabel Penelitian ... 40
3.2.1 Identifikasi Variabel Penelitian ... 40
3.2.1 Definisi Operasional ... 41
3. 3 Populasi dan Sampel ... 42
3.3.1 Populasi ... 42
3.3.2 Sampel ... 42
3. 4 Metode Pengumpulan Data ... 43
3. 5 Validitas dan Reliabilitas ... 45
3.5.1 Validitas ... 45
3.5.2 Reliabilitas ... 47
3. 6 Metode Analisis Data ... 48
x
4.1.1 Orientasi Kancah Penelitian ... 50
4.1.2 Penentuan Sampel ... 51
4.1.3 Proses Perijinan ... 52
4. 2. Uji Coba Intsrumen ... 52
4.2.1 Menyusun Instrumen Penelitian ... 52
4.2.2 Uji Coba Instrumen ... 53
4. 3. Pelaksanaan Penelitian ... 53
4.4.1 Pengumpulan Data ... 53
4.4.2 Pelaksanaan Skoring ... 53
4. 4. Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 54
4.4.1 Gambaran Umum Daya Tarik Interpersonal pada Mahasiswa UNNES yang Berpacaran Ditinjau dari Jenis Kelamin... 55
4.4.2 Gambaran Spesifik Aspek Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari jenis Kelamin Perempuan ... 57
4.4.2.1 Ringkasan Aspek Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin Perempuan ... 60
4.4.3 Gambaran Spesifik Indikator Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin Perempuan... 61
4.4.3.1Ringkasan Indikator Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin Perempuan ... 75
4.4.4 Gambaran Spesifik Aspek Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin Laki-laki ... 76
4.4.4.1Ringkasan Aspek Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin Laki-laki ... 80
4.4.5 Gambaran Spesifik Indikator Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin Laki-laki ... 80
xi
4.4.6 Mean Empiris dan Mean Teoritis ... 96
4. 5. Hasil Penelitian ... 97
4.5.1 Hasil Uji Asumsi ... 97
4.5.1.1 Uji Normalitas ... 97
4.5.1.2 Uji Homogenitas ... 98
4.5.1.3 Uji Hipotesis ... 99
4.5.2 Uji Perbedaan T-test ... 100
4. 6. Pembahasan ... 101
4.6.1 Perbedaan Daya Tarik Interpersonal Ditinjau Dari Jenis Kelamin ... 104
4. 7. Keterbatasan Penelitian ... 107
BAB 5 PENUTUP 5.1 Simpulan ... 108
5.2 Saran ... 108
DAFTAR PUSTAKA ... 110
xii
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1.1 Stereotip Gender Umum ... 7
2.1 Stereotip Gender Umum ... 34
3.1 Skor Skala Daya Tarik Interpersonal ... 44
3.2 Blue Print Skala Daya Tarik Interpersonal ... 45
3.3 Hasil Penelitian Instrumen Daya Tarik Interpersonal ... 47
4.1 Penggolongan Kriteria Analisis Berdasar Mean Hipotetik ... 54
4.2 Distribusi Frekuensi Daya Tarik Interpersonal ... 56
4.3 Distribusi Frekuensi Aspek Personal Jenis Kelamin Perempuan ... 58
4.4 Distribusi Frekuensi Aspek Situasional Jenis Kelamin Perempuan ... 59
4.5 Distribusi Ringkasan Indikator Daya Tarik Interpersonal Jenis kelamin Perempuan ... 60
4.6 Distribusi Frekuensi Indikator Kesamaan Karakteristik Jenis Kelamin Perempun ... 62
4.7 Distribusi Frekuensi Indikator Tekanan Emosional Jenis Kelamin Perempuan ... 64
4.8 Distribusi Frekuensi Indikator harga Diri yang Rendah Jenis Kelamin Perempuan ... 65
4.9 Distribusi Frekuensi Indikator Isolasi Sosial Jenis Kelamin Perempuan ... 67
4.10 Distribusi Frekuensi Indikator Daya Tarik Fisik Jenis Kelamin Perempuan ... 68
4.11 Distribusi Frekuensi Indikator Ganjaran Jenis Kelamin Perempuan ... 70
4.12 Distribusi Frekuensi Indikator Familiarity Jenis Kelamin Perempuan ... 71
xiii
4.14 Distribusi Frekuensi Indikator Kemampuan Jenis Kelamin
Perempuan ... 74
4.15 Ringkasan Indikator Daya Tarik Interpersonal Jenis Kelamin Perempuan ... 75
4.16 Distribusi Frekuensi Aspek Personal Jenis Kelamin Laki-Laki ... 77
4.17 Distribusi Frekuensi Aspek Situasional Jenis Kelamin Laki-Laki ... 79
4.18 Distribusi Ringkasan Indikator Daya Tarik Interpersonal Jenis kelamin Laki-Laki ... 80
4.19 Distribusi Frekuensi Indikator Kesamaan Karakteristik Jenis Kelamin Laki-Laki ... 82
4.20 Distribusi Frekuensi Indikator Tekanan Emosional Jenis Kelamin Laki-Lak ... 83
4.21 Distribusi Frekuensi Indikator harga Diri yang Rendah Jenis Kelamin Laki-Laki ... 85
4.22 Distribusi Frekuensi Indikator Isolasi Sosial Jenis Kelamin Laki-Laki ... 87
4.23 Distribusi Frekuensi Indikator Daya Tarik Fisik Jenis Kelamin Laki-Laki ... 88
4.24 Distribusi Frekuensi Indikator Ganjaran Jenis Kelamin Laki-Laki ... 90
4.25 Distribusi Frekuensi Indikator Familiarity Jenis Kelamin Laki-Laki ... 91
4.26 Distribusi Frekuensi Indikator Kedekatan Jenis Kelamin Laki-Laki ... 93
4.27 Distribusi Frekuensi Indikator Kemampuan Jenis Kelamin Laki-Laki ... 94
4.28 Ringkasan Indikator Daya Tarik Interpersonal Jenis Kelamin Laki-Laki ... 95
4.29 Hasil Perhitungan Mean Empiris dan Teoritik ... 96
4.30 Hasil Perhitungan Uji Normalitas ... 98
xiv
xv
DAFTAR GAMBAR
Gambar Halaman
2.1 Kerangka Berfikir ... 39
4.1 Diagram Daya Tarik Interpersonal ... 56
4.2 Diagram Aspek Personal Jenis Kelamin Perempuan ... 58
4.3 Diagram Aspek Situasional Jenis Kelamin Perempuan ... 60
4.4 Diagram Ringkasan Aspek Personal & Situasional Jenis Kelamin Perempuan ... 61
4.5 Diagram Indikator Kesamaan Karakteristik Jenis Kelamin Perempuan ... 63
4.6 Diagram Indikator Tekanan Emosional Jenis Kelamin Perempuan ... 64
4.7 Diagram Indikator Harga Diri yang Rendah Jenis Kelamin Perempuan ... 66
4.8 Diagram Indikator Isolasi Sosial Jenis Kelamin Perempuan ... 67
4.9 Diagram Indikator Daya Tarik Fisik Jenis Kelamin Perempuan ... 69
4.10 Diagram Indikator Ganjaran Jenis Kelamin Perempuan ... 70
4.11 Diagram Indikator Familiarity Jenis Kelamin Perempuan ... 72
4.12 Diagram Indikator Kedekatan jenis Kelamin Perempuan ... 73
4.13 Diagram Indikator Kemampuan Jenis Kelamin Perempuan ... 75
4.14 Diagram Ringkasan Indikator Daya Tarik Interpersonal Jenis kelamin Perempuan ... 76
4.15 Diagram Aspek Personal Jenis Kelamin Laki-Laki ... 78
xvi
4.17 Diagram Ringkasan Aspek Personal & Situasional Jenis Kelamin
Laki-Laki ... 80
4.18 Diagram Indikator Kesamaan Karakteristik Jenis Kelamin Laki-Laki ... 82
4.19 Diagram Indikator Tekanan Emosional Jenis Kelamin Laki-Laki ... 84
4.20 Diagram Indikator Harga Diri yang Rendah Jenis Kelamin Laki-Laki ... 86
4.21 Diagram Indikator Isolasi Sosial Jenis Kelamin Laki-Laki ... 87
4.22 Diagram Indikator Daya Tarik Fisik Jenis Kelamin Laki-Laki ... 89
4.23 Diagram Indikator Ganjaran Jenis Kelamin Laki-Laki ... 90
4.24 Diagram Indikator Familiarity Jenis Kelamin Laki-Laki ... 92
4.25 Diagram Indikator Kedekatan jenis Kelamin Laki-Laki ... 93
4.26 Diagram Indikator Kemampuan Jenis Kelamin Laki-Laki ... 95
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Halaman
1 Instrumen Penelitian ... 112
2 Tabulasi Data Skor Peneltian ... 120
3 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 125
1
1.1
Latar Belakang
Individu sebagai makhluk pribadi yang membutuhkan otonomi dan
kebebasan untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga manusia akan selalu
membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Setiap manusia
melakukan komunikasi, agar kebutuhannya dapat dipenuhi oleh orang lain, dari
perjumpaan awal, perhatian seseorang sering terfokus pada bagaimana
memelihara dan mengarahkan hubungan yang lebih akrab. Sehingga dapat
memunculkan daya tarik awal, dan menjadi hubungan yang lebih akrab atau
mungkin menimbulkan keintiman dan bahkan cinta dari daya tarik interpersonal
(Dayakisni & Hudaniah 2009: 123).
Daya tarik fisik merupakan hal yang penting bagi seseorang untuk
menentukan pasangan hidupnya. Selain dari daya tarik fisik terdapat pula, daya
tarik kepribadian. Wanita akan lebih tertarik pada pria yang mapan, sehingga
masa depan pernikahannya akan lebih terjamin. Kemapanan pada pria ditunjukkan
oleh kepandaian, ambisi, dan hubungan sosial yang baik dengan teman-teman
disekitarnya. Selain wanita, pria juga memiliki pilihannya sendiri dalam memilih
wanita sebagai pasanganya. Misalnya, pria cenderung tertarik pada wanita yang
memiliki daya tarik fisik menarik, misalnya cantik, berambut panjang, berkulit
bersih. Bagi pria, fisik yang demikian menunjukkan tanda bahwa wanita tersebut
datang (dalam Wisnuwardhani dan Mashoedi 2012:82). Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa pria dan wanita mempunyai perbedaan kriteria untuk
memunculkan daya tarik interpersonal pada lawan jenisnya.
Suatu kenyataan bahwa kita selalu ingin berhubungan dengan orang lain
yang berarti kita tertarik pada orang lain, atau kita ingin menarik orang lain. Maka
akan muncul istilah-istilah menyukai, mencintai, persahabatan, dan hubungan
intim lainnya, seperti daya tarik interpersonal sekarang ini telah menjadi kekuatan
yang amat penting dalam masyarakat. Faktor-faktor yang mendukung daya tarik
interpersonal secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu faktor personal dan
situasional faktor personal yaitu faktor-faktor yang berasal dari karakteristik
peribadi individu sedangkan faktor situasional berasal dari sifat-sifat obyektif.
Didalam faktor tersebut mempunyai beberapa sub aspek yaitu kedekatan,
keakraban, dan persamaan. Aspek yang tampaknya juga membantu adalah
kecantikan atau ketampanan dengan demikian ada ketergantungan di antara
keduanya. Dalam ketergantungan itu, manusia akan terus menerus menjalin
sebuah ikatan hubungan, untuk saling mengisi kekurangan serta kelebihan
masing-masing dan apabila ikatan hubungan yang terjalin tersebut dirasa
menguntungkan, maka tidak menutup kemungkinan hubungan ini akan terus
berlanjut sampai pada masa yang tidak dapat di tentukan.
Fenomena yang terjadi pada mahasiswa mengenai pacaran, serta apa yang
mereka lihat dari lawan jenis berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan
dengan wawancara pada beberapa mahasiswa UNNES didapatkan bahwa mereka
perilaku, cara bicara, materi. Penulis melakukan interview kepada 8 mahasiswa
perempuan dan 8 mahasiswa laki-laki dengan hasil bahwa 6 orang mahasiswa
perempuan tidak begitu mengutamakan daya tarik fisik dan penampilan, lebih
besar pada ketulusannya, kehangatan personal, dan kompetensi. Sedangkan pada
mahasiswa laki-laki hampir mereka mengutamakan daya tarik fisik dan
penampilan sedangkan pada ketulusan, kehangatan personal, kompetensi hanya
sebagai pelengkap. Seperti yang diungkapkan oleh, AS (21) AS mengatakan
ketulusan baginya sangat penting, tetapi tidak dipungkiri bahwa fisik juga sebagai
salah satu alasan untuk memilih pasangan. AD (21) AD mengatakan saya tertarik
dengan pasangan saya karena lebih pintar dari saya, dan tulus mencintai saya. WS
(22) WS mengungkapkan bahwa tertarik dengan pasangannya karena
pasangannya cantik. AR (20) AR mengatakan tertarik dengan pasangannya karena
pasangannya lemah lembut dalam berbicara dan keren apabila memakai baju.
Perilaku berpacaran di Indonesia dikenal sebagai hubungan pranikah
antara pria dan wanita yang dapat diterima oleh masyarakat. Ketika seseorang
menjalani hubungan berpacaran, maka seseorang berusaha untuk memperoleh
fungsi dan pengharapan sebagai pacar. Fungsi utama berpacaran agar dapat
mengembangankan hubungan interpersonal individu pada hubungan heteroseksual
bahkan pernikahan. Namun demikian, fungsi lainnya adalah individu secara tidak
sadar juga ingin menambah kemampuan dalam hubungan interpersonal untuk
belajar menghormati satu sama lain (Duvall and Miller dalam Wisnuwardhani dan
Mashoedi 2012:83). Pria dan wanita memiliki tujuan yang berbeda dalam
Berpacaran dapat terjadi akibat ketertarikan dan kedekatan fisik, mereka
juga melakukan pertukaran sosial diantara satu dengan yang lain, serta mamiliki
karakteristik personal yaitu dengan cara memulai komunikasi dengan mencari
kesamaan diantara satu dengan yang lainnya, tekanan emosional dimana
seseorang akan menginginkan kehadiran orang lain, harga diri yang rendah
sesorang yang rendah diri mudah mencintai, isolasi sosial, ganjaran, familiarty,
kemampuan. Karena medapatkan akibat yang akan mereka dapatkan dari
partnernya. Selain itu apabila partner kita memberikan sesuatu yang sama sebagai
balasan. Hubungan percintaan tentunya juga sangat membutuhkan sesuatu
kedekatan fisik untuk mempertahankan kelancaran berkomunikasi. Maka dari itu,
kemanapun dan kapanpun mereka akan menyempatkan diri untuk menghabiskan
waktu berdua, bahkan mereka juga menggunakan sarana komunikasi seperti
handphone untuk mengirimkan pesan pendek, telepon, e-mail dan lainnya, untuk
memenuhi hasrat dan perasaan yang mendalam, yang secara wajar dimiliki oleh
pasangan yang sedang jatuh cinta.
Kecenderungan untuk berada bersama orang lain memang cukup kuat bagi
kebanyakan orang lain. Hal ini sebenarnya sudah terjadi semenjak masa bayi,
dimana bayi mulai membangun rasa kasih sayang yang kuat pada satu orang
dewasa atau lebih. Setiap orang akan selalu berusaha mencari orang yang terbaik
untuk dijadikan pacar. Seorang laki-laki hendaklah mencari pacar seorang wanita,
dan sebaliknya hendaklah seorang wanita mencari pacar seorang pria. Manusia
adalah makhluk jasmani dan rohani. Awal ketertarikan dapat dimulai dari segi
dapat berpacaran. Seorang pria dapat tertarik kepada seorang wanita karena
kecantikan, kesabaran, kelemah - lembutan atau kegigihannya, dengan berpacaran
dua individu berusaha saling mengasihi dan mencintai untuk kemudian
dipersatukan sekalipun memiliki rentan usia yang jauh. Baik tua maupun muda
tidak lepas dari usaha cinta-mencintai.
Individu menilai bahwa berpacaran merupakan sarana untuk menciptakan
persahabatan, mendapatkan dukungan emosional, kasih sayang, kesenangan dan
eksplorasi seksual. Cara pria dan wanita melakukan hubungan pacaran
ditunjukkan melalui midang (ngapel), pacaran modern, dan pacaran backstreet
(Bennet dalam Wisnuwardhani dan Mashoedi 2012:83). Midang atau ngapel
adalah cara hubungan berpacaran tradisional di mana pria mendatangi rumah
wanita yang merupakan pasangannya. Hari di mana pria melakukan ngapel dapat
dilakukan pada hari apa saja, namun pada umumnya ngapel sering dilakukan pada
malam minggu. Ngapel menunjukkan bahwa hubungan pacaran direstui oleh
kedua orang tua, baik dari pria maupun wanita.
Pacaran modern merupakan bentuk yang berbeda di bandingkan dengan
ngapel, pacaran modern merupakan praktik pacaran yang dilakukan diluar rumah
dan tidak ada pengawasan dari orang tua. Nama lain pacaran modern adalah
kencan. Tempat berkencan umumnya adalah mal, bioskop, supermarket, dan
lain-lain begitu pula seperti halnya yang dilakukan oleh mahasiswa UNNES pada saat
berpacaran.
Perbedaan antara pria dan wanita adalah prinsip universal dalam
ketrampilan yang berbeda dan mengembangkan kepribadian yang berbeda pula.
Saat dewasa, pria dan wanita biasanya mengasumsikan peran gender (jenis
kelamin) seperti suami dan istri, ayah dan ibu, kultur berbeda-beda dalam
mendefinisikan maskulin dan feminin dan juga berbeda dalam hal sejauh mana
perbedaan dan persamaan gender (jenis kelamin), tetapi penggunaan gender (jenis
kelamin) untuk menata kehidupan sosial merupakan aspek yang mendasar
Helgeson (dalam Taylor, dkk 2009: 412)
Studi yang dilakukan oleh matlin (dalam Taylor, dkk 2009:413),
menunjukkan bahwa pria ditunjukkan dalam berbagai macam peran sosial dan
aktivitas sosial, sedangkan wanita lebih terbatas pada peran keluarga dan
domestik. Pria umumnya digambarkan sebagai ahli dan pemimpin, wanita sebagai
subordinat. Pria biasanya lebih aktif, asertif, dan berpengaruh ketimbang wanita.
Tabel 1.1 Stereotip Gender Umum
Ciri khas wanita Ciri khas lelaki
Lembut Agresif
Gampang menangis Tidak emosional
Suka seni dan sastra Menyukai matematika
dan sains Tidak menggunkan
kata kasar
Menyukai dunia
Berbudi Ambisius
Agamis Objektif
Tertarik pada
penampilannya sendiri Dominan
Peka pada perasaan
orang lain Kompetitif
Butuh keamanan Percaya diri
Suka mengobrol Logis
Rapi Bertindak sebagai
pemimpin
Tergantung Independen
Pria dan wanita mempunyai perbedaan kriteria untuk memunculkan daya
tarik interpersonal pada lawan jenisnya misalnya wanita akan lebih tertarik pada
pria yang mapan, kemapanan pada pria ditunjukkan oleh kepandaian, ambisi, dan
hubungan sosial yang baik dengan teman-teman disekitarnya. Selain wanita, pria
juga memiliki pilihannya sendiri dalam memilih wanita sebagai pasanganya.
Misalnya, pria cenderung tertarik pada wanita yang memiliki daya tarik fisik
menarik, misalnya cantik, berambut panjang, berkulit bersih. Menurut penelitian
yang dilakukan Rachmawati, Hubungan Daya Tarik Interpersonal Pasangan dan
Perasaan Cinta Terhadap Pasangan Pada Masa Dewasa Awal. Hasil dari
penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menilai daya tarik interpersonal
terhadap pasangan juga berada pada kategori tinggi dengan persentase 50%. Hasil
analisis r = 0,800 dengan Sig 0,000 < 0,050, menunjukkan bahwa daya tarik
interpersonal pasangan mempunyai hubungan dengan perasaan cinta terhadap
pasangan pada masa dewasa awal. Berdasarkan hasil penelitian dapat
disimpulkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan antara daya tarik
interpersonal dan perasaan cinta pada masa dewasa awal terhadap pasangannya.
Penelitian yang di lakukan Prassetyanto mengenai Hubungan Daya Tarik
Interpersonal dengan Keterbukaan Diri Pengguna Situs Jejaring Sosial,
menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswa menilai daya tarik interpersonal
pada kategori sedang dengan persentase 41,7%. Sedangkan keterbukaan diri
mahasiswa psikologi dalam penggunaan situs jejaring sosial sebagian besar
berada pada kategori sedang dengan persentase 43,7%. Hasil analisis r = 0,421
dengan Sig 0,000 < 0,050, menunjukkan bahwa daya tarik interpersonal
mempunyai hubungan dengan keterbukaan diri mahasiswa psikologi dalam
penggunaan situs jejaring sosial maka ada hubungan positif antara daya tarik
interpersonal dengan keterbukaan diri mahasiswa psikologi dalam penggunaan
situs jejaring sosial begitu juga menurut penelitian yang dilakukan Batool dan
Najma (2010: 142), hubungan memuaskan memainkan peran penting dalam
individu mental dan kesejahteraan fisik. Psikolog sosial telah tertarik pada
bagaimana hubungan dibangun dan dipelihara. Hubungan yang mengarah ke
persahabatan dan romantis adalah kekuatan yang menarik orang bersama-sama
menolak pemisahan mereka dan hal itu berkaitan dengan berapa banyak kita
termasuk pemilihan pasangan dan waktu hidup persahabatan, kualitas orang lain
dan situasi sosial menentukan tingkat kita tarik atau tolakan terhadap dia.
Menyadari bahwa orang lain setuju dengan kita membentengi keyakinan kita dan
mempertinggi harga diri. Kita sering berasumsi bahwa sikap kita berbagi dengan
orang yang menarik kita dengan cara lain.
Sebuah studi dikutip dalam Batool dan Najma (2010 : 142) yang dilakukan
oleh Byrne and Blaylock mengungkapkan pernikahan yang sebagian mungkin
berdasarkan ilusi kesamaan yaitu, pasangan cenderung untuk melihat kesamaan
yang lebih dalam sikap antara mereka dari pada pada kenyataannya yang ada.
Sebuah penelitian besar yang dilakukan di University of Michigan mengukur
hubungan persahabatan dengan sikap berdasarkan kesamaan. Kesamaan awal
antara teman sekamar berakhir di persahabatan yang baik dari perbedaan awal.
Diulang pada kelompok baru menghasilkan hasil yang sama. Mungkin ada banyak
alasan di balik hubungan kesamaan daya tarik. Salah satu alasan bahwa kesamaan
keturunan menyukai mungkin bahwa orang menghargai pilihan mereka sendiri
dan menikmatinya, sedang dengan orang lain yang sesuai preferensi mereka,
mungkin meningkatkan harga diri mereka selama proses tersebut. Tapi mungkin
alasan utama bahwa kesamaan menghasilkan suka hanyalah faktor seperti,
kedekatan dan keakraban. Situational dan norma-norma sosial berdampak banyak
dalam membawa mereka dekat yang berbagi kesamaan. Tidak hanya kelompok
sosial, namun mayoritas kelompok agama juga lebih suka anggota agama yang
yang sama dianggap sesuai untuk satu sama lain. Misalnya, beberapa lebih tua
wanita dan seorang pria muda masih dirasakan sebagai tidak cocok.
Faktor-faktor situasional juga memainkan peranan penting. Sebagian besar
orang memilih pasangan mereka di perguruan tinggi atau sekolah pascasarjana
karena mereka menganggap mereka sama di tingkat kualifikasi, kecerdasan
umum, ambisi, dan mungkin dalam usia dan status sosial ekonomi.
Daya tarik interpersonal merupakan salah satu faktor penentu ketika
seseorang ingin berhubungan dengan orang lain. Dalam penelitian Montoya dan
Horton (2004 : 708) menjelaskan bahwa daya tarik berdasarkan evaluasi dari
kualitas individu yang pada gilirannya dapat dibuktikan oleh jenis tanda-tanda
seperti kesamaan sikap, kualitas positif, dan daya tarik fisik. Setiap individu
mempunyai tingkat ketertarikan personal dalam memulai membina hubungan
sosial. Puncak pengalaman psikososial ini tercapai pada masa dewasa awal,
dimana individu mulai mengkristalisasikan hubungan dengan seorang individu
yang paling dicintai, dipercaya, ataupun yang telah dibina sebelumnya.
Berinteraksi dengan orang lain, membuat perhatian seringkali terfokus
pada bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan yang tercipta
berdasarkan daya tarik awal untuk selanjutnya akan dapat menimbulkan
keintiman dan bahkan cinta. Para ahli psikologi telah banyak mengkaji
faktor-faktor yang mempengaruhi daya tarik seseorang terhadap orang lain. Hal ini
disebabkan karena manusia akan berusaha memprioritaskan hubungan antar
Penulis memilih Universitas Negeri Semarang sebagai tempat penelitian
Studi Komparasi Faktor-faktor Daya Tarik Interpersonal pada mahasiswa yang
Berpacaran ditinjau dari Jenis kelamin dikarenakan Universitas Negeri Semarang
adalah salah satu Universitas Negeri yang berada di kota Semarang. Universitas
Negeri Semarang memiliki mahasiswa 23.529, dan memiliki beberapa fakultas,
yaitu FIP (Fakultas Ilmu Pendidikan) mahasiswa berjumlah 3.160 ,FBS (Fakultas
Bahasa dan Seni) mahasiswa berjumlah 4.468, FIS (Fakultas Ilmu Sosial)
mahasiswa berjumlah 2.296, FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam) mahasiswa berjumlah 2.794 , FT (Fakultas Teknik) mahasiswa berjumlah
2.296, FIK (Fakultas Ilmu Keolahragaan) mahasiswa berjumlah 3.309, FE
(Fakultas Ekonomi) mahasiswa berjumlah 2.983 , FH (Fakultas Hukum)
mahasiswa sebesar 835, PPS (Program Pasca Sarjana) mahasiswa sebesar 1.580
(www.unnes.ac.id), karena banyaknya mahasiswa pendatang yang berkuliah di
UNNES dan memungkinkan untuk timbulnya daya tarik interpersonal antar
individu, maka penulis mengambil UNNES sebagai tempat penelitian.
Daya tarik interpersonal adalah suatu proses berkenalan dipengaruhi oleh
adanya kesukaan, yang dilihat dari fisik, penampilan, perilaku, kompetensi,
ketulusan sehingga dapat memunculkan hubungan yang akan terjalin antara kedua
belah pihak. Diharapkan dari fenomena yang ada, penulis ingin meneliti Studi
Komparasi Faktor-faktor Daya Tarik Interpersonal pada Mahasiswa UNNES yang
Berpacaran ditinjau dari Jenis Kelamin. Harapan penulis, melalui penelitian ini
penulis dapat memaparkan secara mendetail, seberapa besar perbedaan daya tarik
yang akan didapatkan dari penelitian yang dilihat dari sudut pandang psikologi
diharapkan pada perkembangannya didapatinya sesuai dengan apa yang
diharapkan baik bagi diri sendiri dan individu lain sehingga menimbulkan
hubungan yang baik dengan pasangannya. Sehingga penelitian ini dapat berfungsi
sebagai kontribusi nyata adanya perbedaan faktor-faktor daya tarik interpersonal
pada mahasiswa yang berpacaran.
1.2 Rumusan Masalah
Berlandaskan dari latar belakang diatas, maka permasalahan dalam
penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
” Apakah ada perbedaan faktor-faktor daya tarik interpersonal pada
mahasiswa UNNES yang berpacaran ditinjau dari jenis kelamin”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui perbedaan faktor-faktor daya
tarik interpersonal pada mahasiswa UNNES yang berpacaran ditinjau dari jenis
kelamin.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat teoritis
a. Diharapkan hasil dari penelitian ini nantinya dapat memperkaya kajian teoretis
tentang faktor-faktor daya tarik interpersonal di bidang psikologi secara umum,
dan bidang psikologi social secara khusus.
b. Memperoleh penjelasan mengenai perbedaan daya tarik interpersonal yang
1.4.2 Manfaat praktis
Bagi peneliti selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan masukan mengenai
studi komparasi faktor-faktor daya tarik interpersonal pada mahasiswa UNNES
yang berpacaran ditinjau dari jenis kelamin dan sebagai pertimbangan
penelitiannya.
Penelitian ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagaimana proses
daya tarik interpersonal yang terjadi yang dikaji dari sudut pandang psikologi.
14
2.1 Daya tarik interpersonal
2.1.1 Pengertian
Bab dua ini akan menjelaskan mengenai hubungan interpersonal (antar
pribadi) yang mencakup mengenai bagaimana terjadinya suatu hubungan
interpersonal. Mulai dari daya tarik interpersonal, faktor-faktor yang
mempengaruhi, aspek yang menentukan bagaimana hubungan akhirnya terjalin.
Hubungan interpersonal menurut Person (dalam Sarlito dan Eko 2009: 67),
manusia adalah mahkluk sosial, yang artinya sebagai mahkluk sosial, individu
tidak dapat menjalin hubungan sendiri, selalu menjalin hubungan dengan orang
lain, mencoba untuk mengenali dan memahami kebutuhan satu sama lain,
membentuk interaksi, serta berusaha mempertahankan interaksi tersebut. Individu
melakukan hubungan interpersonal ketika mencoba untuk berinteraksi dengan
individu lain, hubungan interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang
atau lebih, yang memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola
interaksi yang konsisten. Ketika akan menjalin hubungan interpersonal, akan
terdapat suatu proses dan biasanya dimulai dengan daya tarik interpersonal.
Daya tarik interpersonal adalah suatu proses psikologis berfokus pada
bagaimana memelihara dan mengarahkan hubungan hal itu dipengaruhi oleh
adanya kesukaan, yang dilihat dari fisik, penampilan, perilaku, kompetensi,
belah pihak. Atkinson (2008: 381) daya tarik interpersonal yaitu sikap kita
terhadap orang lain.
Baron dan Byrne (Sarlito dan Eko 2009: 67) menjelaskan bahwa daya
tarik interpersonal adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, di mana
penilaian ini dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, dari strong liking sampai
dengan strong dislike. Rakhmat (2007: 110) mengungkapkan bahwa Daya tarik
interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif, dan daya tarik
seseorang. Barlund (Rakhmat 2007: 111) mengemukakan daya tarik interpersonal
adalah ketertarikan seseorang terhadap orang lain.
Byrne (Rakhmat 2007: 112) menjelaskan daya tarik interpersonal
merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antara individu.
Merujuk pada sikap seseorang terhadap orang lain. Ketertarikan
diekspreksikan sepanjang suatu dimensi yang berkisar dari sangat suka hingga
sangat tidak suka (Baron dan Byrne 2003: 262).
Suatu proses berkenalan dengan orang lain, kemudian memberikan
penilaian terhadap orang tersebut, apakah orang tersebut cukup sesuai untuk
menjadi teman kita atau orang tersebut ternyata kurang sesuai, sehingga kita
memilih untuk tidak melakukan interaksi sama sekali (Sarlito dan Eko 2009: 67).
Brehm & Kassin (Dayakisni dan Hudaniyah 2009: 124) mengartikan daya
tarik interpersonal sebagai istilah yang digunakan untuk merujuk secara khusus
keinginan seseorang untuk mendekati orang lain. Pengertian yang hampir sama
kecenderungan seseorang untuk menilai seseorang atau kelompok secara positif
untuk mendekatinya dan berperilaku positif padanya.
Daya tarik interpersonal adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang
lain. Ketika berkenalan dengan orang lain, sebenarnya melakukan penilaian
terhadap orang tersebut, apakah orang tersebut cukup sesuai untuk menjadi teman
atau orang tersebut kurang sesuai sehingga lenih memilih untuk tidak melakukan
interaksi sama sekali ( Wisnuwardhani dan Mashoedi 2012: 2 )
Daya Tarik interpersonal mengacu pada sesuatu yang menarik dua orang
bersama-sama ( Zanden 1984: 250)
Dayakisni dan Hudaniyah (2009: 124) mengartikan daya tarik
interpersonal adalah suatu proses bagaimana orang dapat saling tertarik, saling
mengenal, bagaimana ada gairah tarik menarik satu sama lain.
Istilah daya tarik interpersonal mengacu pada beragam pengalaman,
mencakup rasa suka, persahabatan, kagum, birahi, dan cinta (Dayakisni dan
Yuniardi 2004: 220).
Sman & Deaux (1980: 168) menjelaskan:
...interpersonal attraction can be conceptualized as a basic learning process. This model assumes that most stimuli can be classified as rewards or punishment and it assumes that rewarding stimuli elicit positive feelings or affect whereas punishing stimuli elicit negative feelings or affect...
Pengertian para tokoh mengenai daya tarik interpersonal, maka dapat
disimpulkan bahwa daya tarik interpersonal adalah sikap kita terhadap orang lain
dan suatu evaluasi perasaan yang dibuat seseorang yang merujuk secara khusus
keinginan seseorang untuk mendekati orang lain berdasarkan kualitas positif yang
dimiliki, dimana setiap individu memiliki derajat perasaan tersendiri yang
mungkin berbeda dengan individu lain.
2.1.2 Hal-hal yang menentukan Daya Tarik Interpersonal
Perjumpaan awal, perhatian sering berfokus pada bagaimana memelihara
dan mengarahkan hubungan yang tercipta dari daya tarik awal menjadi hubungan
yang lebih akrab. Daya tarik interpersonal memiliki beberapa hal-hal yang
menentukan daya tarik yaitu:
a. Kedekatan merupakan penentu daya tarik yang penting, orang cenderung
menyenangi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan. Persahabatan lebih
mudah tumbuh di antara tetangga yang berdekatan, atau di antara mahasiswa
yang duduk berdampingan (Atkinson 2008: 382). Kedekatan-kedekatan secara
fisik memiliki pengaruh yang besar terhadap pilihan persahabatan kami. Hal
lain dianggap sama, kita cenderung untuk menyukai orang-orang yang secara
geografis dekat dengan kita Segal (dalam Zanden 1984: 253).
Kedekatan juga memainkan bagian dalam pemilihan pasangan.
Orang-orang yang tinggal di dekat satu sama lain, pergi ke sekolah yang sama, dan
bekerja sama cenderung untuk menikahi satu sama lain. Alfred C. Clarke (dalam
Zanden 1984 : 255). menegaskan hipotesis ini dalam wawancara dengan 431
menemukan bahwa pada saat kencan pertama, 54 persen dari pasangan tinggal
dalam enam belas blok dari satu sama lain.
b. Keakraban adalah salah satu alasan bahwa kedekatan dapat menimbulkan rasa
senang pada seseorang ialah bahwa kedekatan dapat meningkatkan keakraban
(Atkinson 2008: 383).
c. Kesamaan pada penelitian yang dilakukan pada tahun 1870 mendukung
keputusan ini lebih dari 99 persen pasangan suami-istri di AS terdiri atas ras
yang sama; 94 persen beragama sama. Lagi pula, penelitian statistik
menunjukkan bahwa suami-istri sangat mirip satu sama lain, tidak hanya
dengan ciri sosiologis seperti usia, ras, agama, pendidikan, dan kelas
sosioekonomi tetapi juga dalam hal ciri fisik seperti tinggi, warna mata, dan
ciri psikologis seperti intelegensi Rubin (dalam Atkinson 2008: 384). Salah
satu alasan bahwa kemiripan dapat menimbulkan rasa suka adalah bahwa orang
lain yang menghargai pendapat dan pilihan mereka sendiri dan senang bergaul
dengn mereka yang cocok dengan pilihannya, mungkin dapat menaikkan harga
diri mereka dalam proses tersebut (Atkinson 2008: 384).
d. Daya tarik fisik kebanyakan kita sering bersikap tidak adil dengan
memungkinkan penampilan, fisik seseorang sebagai penentu seberapa jauh
orang dapat menyukai dirinya (Atkinson 2008: 385). Banyak penelitian
mengungkapkan bahwa kita cenderung menyukai orang lain yang mirip dengan
kita. Dalam percobaan setelah percobaan, subyek mengatakan bahwa mereka
menyukai orang-orang yang eksperimen menunjukkan dekat dengan mereka
terhadap orang-orang yang tidak setuju dengan mereka. Studi pernikahan juga
menunjukkan kecenderungan "ingin menikah seperti". Lebih dari seratus
penelitian telah dilakukan pada homogamy. Mereka telah berurusan dengan
karakteristik yang beragam seperti usia, ras, agama, kebangsaan, kelas sosial,
sikap sosial, pendidikan, status perkawinan sebelumnya, kecerdasan,
neurotisisme, kestabilan emosi, tuli, kesehatan, dan tinggi fisik. Dengan
beberapa pengecualian, orang yang mirip menikah lebih sering dari yang
diharapkan secara kebetulan.
Para ahli psikologi telah banyak mengkaji faktor-faktor yang
mempengaruhi daya tarik seseorang terhadap orang lain. Hal ini disebabkan
karena manusia akan berusaha untuk memprioritaskan hubungan antarpribadi
sepanjang hidupnya. Kecenderungan untuk berafiliasi (keinginan untuk berada
bersama dengan orang lain) memang cukup kuat bagi kebanyakan orang. Hal ini
sebenarnya sudah terjadi semenjak masa bayi, dimana bayi mulai membangun
rasa kasih sayang yang kuat pada satu orang dewasa atau lebih.
Pada dasarnya faktor-faktor yang mendukung daya tarik interpersonal
secara garis besar dibedakan menjadi dua, yaitu faktor personal dan situasional.
Pada umumnya beberapa faktor yang dianggap sangat penting dalam menentukan
daya tarik interpersonal (Dayakisni & Hudaniah 2009: 124) adalah:
a. Kesamaan (similarity)
Kita cenderung menyukai orang yang sama dengan kita dalam sikap, nilai,
minat, latar belakang, dan kepribadian. Ada berbagai alasan yang dikemukakan,
Pertama, menurut acuan Konsistensi Kognitif dari Heider, jika kita
menyukai orang, kita ingin mereka memilih sikap yang sama dengan kita. Hal ini,
supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten. Anda resah kalau orang yang anda
sukai menyukai apa yang anda benci. Kedua, Don Byrne menunjukan hubungan
linear antara daya tarik dengan kesamaan, dengan menggunakan teori peneguhan
dari Behaviorisme. Persepsi tentang adanya kesamaan mendatangkan ganjaran,
dan perbedaan tidak mengenakkan. Kesamaan sikap orang lain dengan kita
memperteguh kemampuan kita dalam menafsirkan realitas sosial. Orang yang
mempunyai kesamaan dengan kita cenderung menyetujui gagasan kita dan
mendukung keyakinan kita tentang kebenaran pandangan kita. Ketiga,
pengetahuan bahwa orang lain adalah sama dengan anda, menyebabkan anda
mengantisipasi bahwa interaksi di masa datang akan positif dan memberi
ganjaran. Terakhir, kita cenderung berinteraksi lebih akrab dengan orang yang
memiliki kesamaan dengan kita, merekapun juga menjadi lebih kenal dengan kita.
Perbedaan kepribadian dapat menjadi moderator bagi efek kesamaan ini. Leonard
menemukan bahwa kesamaan sebenarnya akan mengurangi ketertarikan ketika
orang memiliki konsep diri yang negatif. Orang yang memiliki konsep diri rendah
lebih tertarik dengan orang-orang yang tidak sama dengan mereka. Jamieson,
Lydon, dan Zanna menemukan bahwa individu yang memiliki self-monitoring
rendah lebih dipengaruhi oleh kesamaan sikap. Sebaliknya high self-monitors
tertarik kepada orang lain yang memiliki kesamaan pada aktivitas yang mereka
b. Kedekatan (proximity)
Orang cenderung menyukai mereka yang tempat tinggalnya berdekatan.
Persahabatan lebih mudah timbul (tumbuh) diantara tetangga yang berdekatan.
Atau diantara mahasiswa yang berdekatan. Yang membuat orang berdekatan,
Pertama, kedekatan biasanya meningkatkan keakraban. Kita lebih sering berjumpa
dengan tetangga sebelah kita dari pada orang yang ada di jalan. Eksposur yang
berulang ini dapat meningkatkan rasa suka. Kedua, kedekatan sering berkaitan
dengan kesamaan. Ketiga, orang yang dekat secara fisik lebih mudah di dapat dari
pada orang yang jauh. Kemudahan ini mempengaruhi keseimbangan ganjaran dan
kerugian interaksi. Hal ini sesuai dengan persepsi teori pertukaran sosial. Di
perlukan sedikit usaha untuk mengobrol dengan tetangga sebelah. Sebaiknya,
hubungan jarak jauh membutuhkan waktu, perencanaan dan biaya yang relatif
tinggi.
Keempat, berdasar teori Konsistensi Kognitif kita berusaha
mempertahankan keseimbangan antara hubungan perasaan dan hubungan
kesatuan. Secara lebih spesifik, kita di motifasi untuk menyukai orang yang ada
kaitannya dengan kita dan untuk mencari kedekatan dengan orang yang kita sukai.
Tinggal atau bekerja berdampingan dengan orang yang tidak kita sukai akan
menimbulkan tekanan psikologik, sehingga kita mengalami tekanan kognitif
untuk menyukai orang yang ada hubungannya dengan kita.
Kelima, orang memiliki harapan untuk berinteraksi lebih sering dengan
untuk menekankan aspek-aspek positif dan meminimalkan aspek negatif dari
hubungan itu sehingga hubungan di masa datang akan lebih menyenangkan.
c. Keakraban (Familiarity)
Keakraban berhadapan dengan seseorang akan meningkatkan rasa suka
kita terhadap orang itu. Robert Zajonc perintis dari riset tentang: efek
terpaan”(mere exposure effect). Hasil penelitiannya menunjukan bahwa orang
mengembangkan perasaan positif pada obyek dan individu yang sering mereka
lihat.
d. Daya tarik fisik
Dalam masyarakaat kita biasanya muncul setereotip daya tarik fisik, yang
mengasumsikan bahwa “apa yang cantik adalah baik”. Berdasar hanya
pengamatan sepintas, orang akan membuat suatu kesimpulan tentang sejumlah
asumsi kepribadian dan kompetensi, berdasar hanya semata-mata hanya pada
penampilan.
Penelitian Dion, Berscheid, dan Walster (dalam Dayakisni dan Hudaniyah
2009: 126) tentang penilaian orang pada wajah cantik, membuktikan bahwa
mereka cenderung di nilai akan lebih berhasil dalam hidupnya, dan di anggap
memiliki sifat-sifat baik. Beberapa penelitian lain mengungkapkan bahwa
karangan orang yang di pandang cantik di nilai lebih baik dari pada karangan
serupa yang dibuat oleh orang yang di pandang jelek. Orang cantik atau tampan
juga lebih efektif dalam mempengaruhi pendapat orang lain, dan biasanya
Daya tarik fisik menjadi salah satu factor penting, Salah satu alasannya
karena sebagaimana ras dan jenis kelamin, penampilan fisik adalah sumber
informasi yang tampak dan dengan cepat mudah didapat. Jika informasi
karakteristik personal lain seperti inteligensi atau kebaikan hati tidak cepat
tersedia dan kurang menonjol. Demikian juga, kecantikan bagi pasangan dapat
meningkatkaan harga diri (“radiating beauty effect”). Meskipun penampilan fisik
mungkin juga akan berakibat negatif, artinnya seseorang yang dikelilingi orang
cantik nampak menjadi kurang menarik karena adanya proses perbandingan. Hal
ini disebabkan adanya “contrast effect”.
Daya tarik fisik sendiri dapat mempengaruhi kepribadian si pemiliknya.
Dayakisni dan Hudaniyah 2009: 127 menyatakan bahwa kita dapat
mengidentifikasikan tiga faktor sosial yang berkaitan dengan daya tarik fisik.
Pertama, orang-orang memiliki haraapan yang berbeda tentang individu yang
menarik penampilan fisiknya dengan yang tidak. Kedua, orang-orang yang secara
fisik menarik menerima perlakuan yang berbeda dan lebih mendapaatkan
keberuntungan dalam pertukaran sosial. Ketiga, perlakuan yang berbeda akan
mengarahkan pada perbedaan kepribadian dan ketrampilan sosial (social skill),
barangkali ini di sebabkan oleh keinginan memenuhi buat diri sendiri (
self-fulfilling prophecy). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang
memiliki daya tarik fisik cenderung memiliki harga diri tinggi dari pada anak
yang kurang menarik fisiknya dan cenderung kurang agresif dibandingkan
anak-anak yang kurang menarik. Selain itu, mereka cenderung memiliki hubungan yang
e. Kemampuan (ability)
Menurut teori Pertukaran Sosial dan Reinforcement, ketika orang lain
memberi ganjaran atau konsekuensi positif pada kita, maka kita cenderung ingin
bersamanya dan menyukainya. Orang yang mampu, kompeten dan pintar dapat
memberi beberpa ganjaran (keuntungan) kepada kita. Mereka dapat membantu
kita dalam menyelesaikan masalah, memberikan nasihat, membantu kita
menafsirka kejadian-kejadian yang ada, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan
orang yang tidak kompeten atau tidak pintar.
Suatu perkecualian yang menarik adalah hasil telah Aronson, Willerman &
Floyd (dalam Dayakisni dan Hudaniyah 2009: 128) yang menemukan orang yang
paling disenangi justru orang yang memiliki kemampuan yang tinggi tetapi
menunjukkan beberapa kelemahan. Ia menciptakan empat kondisi eksperimental:
(1) orang yang memiliki kemampuan tinggi dan berbuat salah; (2) berkemampuan
tinggi tapi tidak berbuat salah; (3) orang yang memiliki kemampuan rata-rata dan
berbuat salah; (4) orang yang berkemampuan rata-rata dan tidak berbuat salah.
Orang pertama dinilai paling menarik, dan orang ketiga yang dinilai paling tidak
menarik.orang yang sempurna tanpa kesalahan adalah yang kedua dalam hal daya
tarik. Dan orang biasa yang tidak berbuat salah menduduki urutan yang ketiga.
Tetapi beberapa penelitian berikutnya, kebanyakan menunjukan bahwa
suatu kesalahan mengurangi daya bahkan hal itu terjadi pada orang yang memiliki
f. Tekanan emosional (stress)
Bila orang berada dalam situasi yang mencemaskan atau menakutkan, ia
cenderung menginginkan kehadiran orang lain. Sehingga timbul rasa suka pada
orang tersebut. Hasil penelitian Schater menunjukkan bahwa subyek denga rasa
takut tinggi lebih ingin berafiliasi dibandingkan subyek dengan rasa takut rendah.
Semakin besar rasa takut, semakin besar kecenderungan untuk berafiliasi.
Pertanyaan yang diajukan: proses psikologik apa yang terdapat pada orang itu,
sehingga terjadi hal demikian, Dua kemungkinan telah diselidiki. Pertama, adalah
hipotesis pengalihan: orang yang takut berafiliasi untuk mengalihkan pikiran dari
masalah yang mereka hadapi. Dalam hal ini tidak dipersoalkan dengan siapa
mereka berafiliasi. Kedua, adalah hipotesis yang di ajukan teori perbandingan
sosial (social-comparasion Theory): orang berafiliasi untuk membandingkan
perasaan merka sendiri dengan perasaan orang lain dalam situasi yang sama. Bila
kita dalam situasi yang baru atau luar biasa dan tidak mempunyai kepastian
tentang bagaimana kita bereaksi, kita meminta bantuan orang lain sebagai sumber
informasi. Dalam hal ini, penting bagi kita untuk berafiliasi hanya dengan orang
yang menghadapi situasi yang sama. Beberapa telah menguji kemampuan ini, dan
hasilnya tetap mendukung hipotesis perbandingan sosial,
g. Munculnya perasaan/mood yang positif atau positive emotional arousal
Kita cenderung tertarik atau suka kepada orang lain dimana kehadirannya
berbarengan dengan munculnya perasaan positif, bahkan meski perasaan positif
yang muncul tidak berkaitan dengan perilaku orang tersebut. Bebrapa telah
sekeliling kita menyenangkan. Misalnya, orang lebih menilai positif orang lain
ketiak mereka duduk bersama dalam ruang dengan suhu yang nyaman dari pada
dalm ruang yang panas Griffit (dalam Dayakisni dan Hudaniyah 2009:129).
Sebaliknya, keterkaitan kepada orang lain berkurang ketika sekeliling kita padat,
bising atau tercemar.
h. Harga diri yang rendah
Hasil penelitian Elaine Walster menarik kesimpulan, bila harga diri di
rendahkan, hasrat afiliasi (bergabung orang lain) bertambah, dan ia makin
responsif untuk menerima kasih sayang orang lain.
i. Kesukaan secara timbal balik (Reciprocal liking)
Ketika kita mengetahui orang lain menyukai kita, maka kita dapat
mengharapkan ganjaran (reward) dari mereka. Karena itu, mengetahui kita
disukai merupakan ganjaran yang menguatkan. Kita dapat mengharapkan orang
lain akan membantu kita di masa yang akan datang, dan kita juga akan menglami
perasaan baik atau positif menghadapi suatu kenyataan bahwa orang lain cukup
memikirkan tentang kita menjadi seorang teman (meningkatkan harga diri).
Karena itu kesukaan menghasilkan kesukaan. Persahabatan biasanya memberikan
arti bahwa persahabatan itu akan kembali lagi.
Hubungan timbal balik merupakan sesuatu yang komplek. Beberapa studi
mengemukakan bahwa perceived reciprocity (seberapa banyak berfikir seseorang
menyukai kita) adalah lebih penting dari pada actual reciprocity (seberapa banyak
seseorang sebenarnya menyukai kita). Beberpa hasil penelitian membuktikan
ketika rasa suka itu tidak secara langsung timbal balik. Sebagai ilustrasi, hasil
penelitian Curtis & Miller dalam Dayakisni (2009:130) menemukan bahwa orang
yang secara salah dibimbing pada suatu keyakinan bahwa subyek lain menyukai
mereka, maka ia akan lebih setuju dengan subyek lain itu, lebih mengungkapkan
diri, dan lebih memiliki nada suara dan sikap yang pada umumnya positif pada
subyek itu, dari pada mereka yang tidak di bimbing pada suatu keyakinan bahwa
mereka disukai. Orang pertama, ternyata perilakunya yang demikian itu
membimbing pada perilaku positif yang timbal balik oleh subyek lain itu dan
meningkatkan kesukaan diantara merka. Dengan demikian terjadi fenomena
self-fulfilling prophecy yaitu keyakinan kita merasa disukai orang lain mungkin
menyebabkan kita berperilaku dalam cara-cara yang menyenangkan orang lain
tersebut sehingga menyebabkan orang lain pun akhirnya juga menyukai kita.
j. Ketika yang Berlawanan Saling Tertarik: Saling Melengkapi (complementary)
Kita telah melihat bahwa kesamaan sikap dan nilai mendorong
meningkatnya daya tarik. Tetapi dengan sadistis dan masokisme keduannya
tampak tak benar-benar sama, yang satu menyukai untuk melukai orang lain tetapi
lainnya justru senang di perlakukan kasar oleh orang lain, disini nampaknya ada
daya tarik yang berlawanan. Individu yang memiliki kepribadian dominan tidak
akan berhubungan lebih lama dengan orang lain yang dominan juga. Individu
yang dominan membutuhkan partner atau pasangan yang submisif yang akan
membantu memenuhi kebutuhan-kebutuhan di antara mereka. Perilaku yang
saling melengkapi adalah mungkin untuk tingkah laku dominan-submisif Strong,
Complementary need theory mengatakan ada beberapa tipe hubungan
dekat, misalnya perkawinan yang mungkin mensyaratkan sistem saling
melengkapi semacam itu agar dapat berhasil. Tetapi dalam hubungan semacam
itu, walaupun kebutuhannya berbeda (yang satu dominan, yang lain submisif),
namun hal ini masih dapat dipandang sebagai kasus kesamaan yang spesifik,
karena kedua pasangan memiliki kesamaan pandangan atau sama-sama setuju
mengenai peran-peran yang akan dipenuhi masing-masing pihak. Mereka
setidaknya memiliki kesamaan sikap tentang bagaimana hubungan itu di
kembangkan, mereka mungkin menjadi teman baik, kaarena mereka
membutuhkan satu sama lain untuk memuaskan keingina mereka. Saling
melengkapi mungkin penting dalam hubungan saling tukar menukar untuk jangka
pendek dalam kondisi-kondisi tertentu, seperti ketika orang tidak jelas memahami
apa yang mereka duga untuk dilakukan. Untuk mendapatkan ide-ide baru, mereka
mungkin lebih suka berinteraksi dengan orang yang tak sama yang melihat
sesuatu secara berbeda dan yang mungkin dapat memberi mereka interprestasi
baru tentang kejadian-kejadian yang masih teka-teki bagi mereka.
Selanjutnya secara lebih khusus hal-hal yang menentukan daya tarik
interpersonal oleh ahli lain disebut sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi daya
tarik interpersonal diantaranya Rakhmat (2007: 111) :
a. Kesamaan karakteristik personal
Kesamaan karakteristik personal dimulai dari percakapan mulai dari
masalah demografis (di mana tinggal, pekerjaan) sampai
sama-sama menyukai Rhoma Irama dan sama-sama lulus UNPAD, maka akan
saling menyukai dan begitupula sebaliknya, apabila tidak memiliki kesamaan rasa
suka tidak akan muncul.
Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan,
tingkat sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Reader dan
English mengukur kepribadian subjek-subjeknya dengan rangkaian tes
kepribadian. Ditemukan, mereka yang bersahabat menunjukkan korelasi yang erat
dalam kepribadiannya. Penelitian tentang pengaruh kesamaan ini banyak
dilakukan dengan berbagai kerangka teori.
Menurut teori Cognitive Consistency dari Fritz Heider, manusia selalu
berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Heider
mengemukakan “kita cenderung menyukai orang, kita ingin mereka memilih
sikap yang sama dengan kita, dan jika kita menyukai orang, kita ingin mereka
memilih sikap yang sama dengan kita.” Kita ingin memiliki sikap yang sama
dengan orang yang kita sukai, supaya seluruh unsur kognitif kita konsisten.
Asas kesamaan ini pada kenyataan bukanlah satu-satunya determinan
atraksi. Atraksi interpersonal akhirnya merupakan gabungan dari efek keseluruhan
interaksi diantara individu. Bagi komunikator, lebih tepat untuk memulai
komunikasi dengan mencari kesamaan di antara semua peserta komunikasi.
b. Tekanan Emosional
Bila orang berada dalam keadaan yang mencemaskannya atau harus
memikul emosionalnya, ia akan menginginkan kehadiran orang lain. Stanley
mengumpulkan dua kelompok mahasiswi. Kepada kelompok pertama
diberitahukan bahwa mereka akan menjadi subjek eksperimen yang meneliti
kejutan listrik yamg sangat menyakitkan. Kepada kelompok kedua diberitahukan
bahwa mereka hanya akan mendapatkan kejutan ringan saja. Schachter
menemukan di antara subjek pada kelompok pertama, 63 persen ingin menunggu
bersama orang lain, dan di antara subjek kelompok kedua hanya 33 persen yang
memerlukan sahabat. Schachter menyimpulkan bahwa situasi penimbul cemas
meningkatkan kebutuhan akan kasih sayang. Orang-orang yang pernah
mengalami penderitaan bersama-sama akan membentuk kelompok yang
solidaritas tinggi.
c. Harga diri yang rendah
Elaine Walster membayar beberapa orang mahasiswi untuk menjadi
peserta dalam penelitian tentang kepribadian. Sesuai dengan rancangan penelitian,
sebelum eksperimen dimulai, subjek “secara kebetulan”(sebetulnya tidak)
berjumpa dengan seseorang mahasiswa yang bermaksud menemui peneliti.
Terjadilah percakapan sambil menunggu kedatangan peneliti. Mahasiswa
menunjukkan minat yang besar pada mahasiswi itu. Mereka mengobrol selama 15
menit, dan sang perjaka mengajak berkencan. Setelah itu, sujek diberi tes
kepribadian, sebagian subjek diberi penilaian yang positif (misalnya, kepribadian
dewasa, orisinal, dan sensitif), setengahnya lagi diberi penilaian negatif (misalnya,
belum dewasa, antisosial tidak memiliki bakat kepemimpinan). Maksud Walster,
diminta memberikan penilaian sejujur-jujurnya pada lima orang, termasuk
laki-laki yang mengajak mengobrol.
Ternyata, mahasiswi yang direndahkan harga dirinya cenderung lebih
menyenangi laki-laki itu. Menurut kesimpulan Walster, bila harga diri
direndahkan, hasrat afiliasi (bergabung dengan yang lain) bertambah, dan ia
makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Orang yang rendah diri
mudah mencintai orang lain.
d. Isolasi sosial
Isolasi sosial adalah pengalaman yang tidak enak. Beberapa orang peneliti
telah menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial amat besar pengaruhnya terhadap
kesukaan kita pada orang lain.
Menurut Rakhmat (2007: 111) faktor-aktor situasional yang
mempengaruhi daya tarik interpersonal
a. Daya tarik fisik menjadi penyebab utama daya tarik interpersonal, senang pada
orang-orang yang tampan dan cantik. Beberapa penelitian telah
mengungkapkan bahwa daya tarik fisik sering menjadi penyebab utama daya
tarik interpersonal. Kita senang pada orang-orang yang tampan atau cantik.
Mereka, pada gilirannya sangat mudah memperoleh perhatian orang.
b. Ganjaran itu berupa bantuan, dorongan morel, pujian, atau hal-hal yang
meningkatkan harga diri. Kita akan menyukai orang yang menyukai kita; kita
akan menyenangi orang yang memuji kita. Menurut teori pertukaran sosial,
interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang. Kita akan melanjutkan
pada interaksi yang banyak mendatangkan laba. Bila pergaulan saya dengan
anda sangat menyenangkan, sangat menguntungkan dari segi psikologis atau
ekonomis, kita akan saling menyenangi.
c. Familiarity, artinya sudah mengenali dengan baik. Prinsip familiarity dicermikan dalam pribahasa indonesia, “kalau tak kenal, maka tak sayang”
(witing tresno jalaran soko kulino) jika kita sering berjumpa dengan seseorang
asal tidak ada hal-hal lain kita akan menyukainya.
d. Kedekatan, menyenangi apabila saling berdekatan persahabatan lebih mudah
tumbuh diantara tetangga yang berdekata, atau di antara mahasisiwa yang
duduk berdampingan. Bahwa orang yang berdekatan tempat saling menyukai,
sering dianggap hal hal yang biasa. Dari segi psikologis, ini hal yang luar biasa
bagaiman tempat yang keliatannya netral mampu mempengaruhi tatanan
psikologis manusia.
e. Kemampuan, cenderung menyenangi orang-orang yang memiliki kemampuan
lebih tinggi dari pada kita, atau lebih berhasil dalam kehidupanya. Arason
menemukan dalam penelitian yang dilakukannya, bahwa yang paling disenangi
adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi tetapi menunjukkan beberapa
kelemahan. Ia menciptakan empat kondisi eksperimental; (1) orang yang
memiliki kemampuan tinggi dan berbuat salah; (2) berkemampuan tinggi tapi
tidak berbuat salah; (3) orang yang memiliki kemampuan rata-rata dan berbuat
salah; dan (4) orang yang berkemampuan rata-rata dan tidak berbuat salah.
Orang yang pertama dinilai paling menarik, dan orang ketiga dinilai paling
dalam hal daya tarik. Dan orang biasa yang tidak berbuat salah, menduduki
urutan ketiga. Jadi jika anda cerdas, tampan, dan serba bisa, usahakanlah
supaya anda jangan terlalu sempurna, tunjukkan kelemahan anda. Sebab, kalau
anda sempurna betul, anda bukan “man” lagi tapi “superman”.
2.1.3 Prinsip Daya Tarik Interpersonal
Barlund (dalam Rakhmat 2007: 110), ahli komunikasi interpersonal,
menulis, “Mengetahui garis-garis daya tarik dan penghindaran dalam sistem sosial
artinya mampu meramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada siapa pesan itu
akan mengalir, dan lebih-lebih lagi bagaimana pesan akan diterima”. Ini berarti,
dengan mengetahui siapa tertarik pada siapa atau siapa menghindari siapa, kita
dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Makin tertarik
kita kepada seseorang, makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan
dia. Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang, kita sebut
sebagai atraksi interpersonal (atraksi berasal dari bahasa latin attrahere - ad:
menuju ; trahere; menarik).
2.2 Perbedaan jenis kelamin
2.2.1 Pengertian
Jenis kelamin adalah salah satu paling dasar dalam kehidupan sosial.
Proses mengkategorisasikan orang dan sesuatu menjadi maskulin atau feminin
dinamakan gender typing atau penjenisan gender. Proses ini biasanya terjadi
secara otomatis, tanpa banyak pemikiran mendalam Glick & Fiske (dalam Taylor,
diwajah, dada, atau gaya busana. Orang biasanya menampilkan jenis kelaminnya
sebagai bagian utama dari presentasi dirinya.
Perbedaan antara pria dan wanita adalah prinsip universal dalam
kehidupan sosial. Saat masih anak-anak,pria dan wanita diharapkan menguasai
ketrampilan yang berbeda dan mengembangkan kepribadian yang berbeda pula.
Saat dewasa, pria dan wanita biasanya mengasumsikan peran gender(jenis
kelamin) seperti suami dan istri, ayah dan ibu, kultur berbeda-beda dalam
mendefinisikan maskulin dan feminin dan juga berbeda dalam hal sejauh mana
perbedaan dan persamaan gender (jenis kelamin), tetapi penggunaan gender (jenis
kelamin) untuk menata kehidupan sosial merupakan aspek yang mendasar
(Helgeson dalam Taylor, dkk 2009 :412). Perbedaan jenis kelamin tampak juga
pada komunikasi verbal. Perempuan tidak hanya berbicara dengan cara yang
berbeda dengan laki-laki, tetapi mereka juga cenderung membicarakan hal-hal
yang berbeda (Wisnuwardhani dan Mashoedi 2012: 51).
2.3 Berpacaran
2.3.1 Pengertian
Pacaran adalah hubungan pranikah antara pria dan wanita yang diterima oleh masyarakat Bannet dalam Wisnuwardhani dan Mashoedi (2012: 83).
Individu menilai hubungan pacaran merupakan sarana dimana adanya
persahabatan, mendapatkan dukungan emosional, kasih sayang, kesenangan, dan
eksplorasi seksual. Pria dan wanita melakukan hubungan pacaran ditunjukkan
melalui midang (ngapel), pacaran modern, dan pacaran backstreet (Bennet dalam
hubungan berpacaran tradisional di mana pria mendatangi rumah wanita yang
merupakan pasangannya. Di mana pria melakukan ngapel dapat dilakukan pada
hari apa saja, namun pada umumnya ngapel sering dilakukan pada malam
minggu. Ngapel menunjukkan bahwa hubungan pacaran direstui oleh kedua orang
tua, baik dari pria maupun wanita. Fungsi utama pacaran adalah agar dapat
mengembangkan hubungan interpersonal individu pada hubungan heteroseksual,
bahkan pranikah (Wisnuwardhani dan Mashoedi 2012: 83).
2.4 Kerangka Berfikir
Keinginan untuk melakukan kontak dengan orang lain, pada umumnya
dilandasi adanya imbalan sosial yang dapat diperoleh individu jika berhubungan
dengan orang lain. Kita dapat melakukan analisa terhadap fenomena ini dari dua
hal yaitu perbandingan sosial dan dukungan emosional. Berdasarkan analisa
perbandingan sosial, kita membutuhkan orang lain sebagai standart untuk
men