• Tidak ada hasil yang ditemukan

STRUKTUR TARI OTEH RODA PADA MASYARAKAT GAYO DI REDELONG KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "STRUKTUR TARI OTEH RODA PADA MASYARAKAT GAYO DI REDELONG KECAMATAN BUKIT KABUPATEN BENER MERIAH."

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

STRUKTUR TARI OTEH RODA PADA MASYARAKAT GAYO DI REDELONG KECAMATAN BUKIT

KABUPATEN BENER MERIAH

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh: JELITA FITRI

2101142016

JURUSAN SENDRATASIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang

pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan

oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskas ini dan disebutkan dalam daftar

pustaka.

Medan, Maret 2015

(3)
(4)
(5)
(6)

i

ABSTRAK

JELITA FITRI,NIM2101142016, Struktur Tari Oteh Roda pada Masyarakat Gayo di Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah, Jurusan Sendratasik Program Studi Pendidikan Tari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan, 2015.

Penelitian ini merupakan kajian mengenai struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

Dalam pembahasan penelitian ini digunakan teori-teori yang berhubungan dengan topik penelitian seperti pengertian tari, teori struktur dan teori bentuk.

Metode yang digunakan untuk membahas struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah adalah metode deskriptif kualitatif. Populasi pada penelitian ini sekaligus menjadi sampel penelitian yaitu tokoh adat, seniman dan penari. Teknik pengumpulan data meliputi studi kepustakaan, wawancara, observasi dan dokumentasi.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa tari Oteh Roda merupakan tari yang menggambarkan kegiatan masyarkat Gayo pada saat setelah musim panen tiba. Tari Oteh Roda diciptakan oleh 4 seniman Gayo yaitu Bapak Saripudin Kadir, Alm Syeh Kilang, Ibu Mariam Kobat dan Ibu Sadimah. Pada penyajiannya, tari Oteh Roda terdapat struktur tari atau susunan serta hubungan antara satu kesatuan dalam tarian tersebut, kemudian terdapat tahapan dalam penyajiannya yaitu tahap sebelum pertunjukan, awal, isi, pada tahap isi mengkaji tahapan atau urutan gerak dari awal pertunjukan sampai akhir kemudian diakhiri dengan tahap akhir. Pada setiap tahapan diiringi oleh syair yang berfungsi sebagai pembawa suasana pada setiap ragam gerak dalam tarian ini, selain syair tarian ini diiringi oleh alat musik. Pada tahap persiapan atau sebelum sebelum pertunjukan membahas tentang bentuk tariOteh Roda termasuk kedalamnya tema, gerak, musik pengiring, properti, busana, tata rias dan pentas.

(7)

ii

PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang senantiasa

menganugerahkan nikmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan penelitian ini dan menjadikannya kedalam bentuk Skripsi.

Namun demikian, penulis tetap berupaya semaksimal mungkin untuk

dapat menyelesaikan penulisan ini dengan judul “Struktur tari Oteh Roda pada

Masyarakat Gayo di Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah”.

Terselesaikannya penulisan ini adalah berkat dukungan serta bantuan dari semua

pihak yang membantu penulis baik dari awal penulisan sampai pada akhir

penulisan ini. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya

kepada:

1. Prof. Dr. Ibnu Hajar, M.Si selaku Rektor Universitas Negeri Medan.

2. Dr. Isda Pramuniati,M.Hum selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni.

3. Uyuni Widiastuti, M.Pd Selaku Ketua Jurusan Sendratasik.

4. Nurwani S.S.T, M.Hum selaku Ketua Program Studi Pendidikan Tari

5. Yusnizar Heniwati, S.S.T, M.Hum Selaku Dosen Pembimbing I

6. Iskandar Muda, M.Sn selaku Dosen Pembimbing II

7. Drs. Inggit Prastiawan, M.Sn selaku Dosen Pembimbing Akademik

sekaligus Penguji dan Dra. Tuti Rahayu, M. Si selaku Penguji.

8. Dosen, staf pengajar khususnya Program Studi Pendidikan Tari yang telah

banyak memberikan pengetahuan kepada peneliti selama proses

perkuliahan.

9. Teristimewa Penulis ucapkan terimakasih kepada Ayahanda Syafruddin

(8)

iii

dukungan baik secara moral maupun materil, motivasi dan doa. Serta

kepada kedua adik tersayang Rima Gustira dan Oby Nanda.

10.Kepada keluarga besar Bapak D.Fernandes S.H dan Ibu Ernila, Randyan

Pradana, Rendina Pradipta, Tri Indah Ramadani dan Desni Yola yang telah

memberikan dukungan motivasi dan do’a kepada penulis dalam

menyelesaikan tulisan ini.

11.Bapak narasumber Yaman, Ibrahim Kadir, Ibu Mahiyar dan Raihana

sebagai narasumber yang telah memberikan banyak informasi kepada

penulis untuk menyelesaikan tulisan ini.

12.Sahabat penulis Ratna Wati,S.Pd, Hafni Lisanti,S.Sos, Putri Norma

Sari,S.Pd, yang telah terlebih dahulu menyesesaikan studinya. Dwinda

Ardamayanti, Sefrina Wahyuni, Reza, Sheila Roisyah dan Kautsar Niara

yang sama-sama berjuang dengan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

Dik Elia Zuhra, Vianera Yunita, Mutiara Carissa, Yuken Ilarika yang telah

memberikan motivasi, kepada penulis dalam menyelesaikan tulisan ini.

Medan, Maret 2015 Penulis

(9)

iv

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Pembatasan Masalah ... 8

D. Rumusan Masalah ... 8

E. Tujuan Penelitian ... 8

F. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II LANDASAN TEORITIS DAN KERANGKA KONSEPTUAL . 10 A. Landasan Teoritis ... 10

1. Pengertian Tari . 10 2. Teori Struktur ... 10

3. Teori Bentuk... 11

B. Kerangka Konseptual ... 14

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 16

A. Metode Penelitian... 16

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 16

C. Populasi dan Sampel ... 17

1. Populasi ... 17

(10)

v

D. Teknik Pengumpulan Data ... 17

1. Studi Kepustakaan ... 18

2. Observasi ... 20

3. Wawancara ... 20

4. Dokumentasi ... 20

E. Teknik Analisis Data ... 21

BAB IV PEMBAHASAN ... 22

A. Gambaran Umum Masyarakat Gayo di Kabupaten Bener Meriah .... 22

1. Letak Geografis ... 22

2. Latar Belakang Mayarakat Gayo ... 24

a. Sistem Kepercayaan ... 27

b. Adat Istiadat ... 28

c. Sistem Kemasyarakatan ... 30

d. Sistem Kekerabatan ... 31

e. Sistem Mata pencaharian ... 34

f. Kesenian ... 35

B. Asal Usul Tari Oteh Roda Pada Masyarakat Gayo di Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah ... 36

C. Struktur Tari Oteh Roda ... 38

1. Struktur Penyajian Dalam Pertunjukan Tari Oteh Roda ... 39

2. Bentuk Tari Oteh Roda ... 41

a. Tema ... 41

b. Gerak ... 41

c. Musik pengiring tari ... 46

1) Musik Iringan yang Berasal dari Alat Musik ... 47

2) Musik yang Berasal dari Vokal ... 47

d. Kostum atau Busana ... 50

e. Tata Rias... 54

f. Pola Lantai ... 55

(11)

vi

h. Properti ... 56

i. Pentas ... 56

D. Bentuk Penyajian Tari Oteh Roda... 57

BAB V PENUTUP ... 69

A. Kesimpulan ... 69

B. Saran ... 70

DAFTAR PUSTAKA ... 72

DAFTAR ACUAN INTERNET ... 74

LAMPIRAN 1 GAMBAR...

LAMPIRAN 2 DATA INFORMAN ...

(12)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Luas Daerah dan Jumlah Penduduk ... 23

Tabel 4.2 Tahapan Pertunjukan Tari Oteh Roda ... 39

Tabel 4.3 Syair Pengiring Tari Oteh Roda ... 48

(13)

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 ... 15

Gambar 4.1 Peta Kabupaten Bener Meriah ... 22

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Keluarga Masyarakat Gayo ... 33

Gambar 4.3 Motif Gerak 1 Nuke Pumu Tidak Menggunakan Propert ... 42

Gambar 4.4 Motif Gerak 1 Nuke Pumu Menggunakan Properti ... 42

Gambar 4.5 Motif Gerak 2 Munatang Tidak Menggunakan Properti ... 43

Gambar 4.6 Motif Gerak 2 Munatang Menggunakan Properti ... 43

Gambar 4.7 Motif Gerak 3 ... 43

Gambar 4.8 Motif Gerak 4 ... 43

Gambar 4.9 Motif Gerak 5 ... 44

Gambar 4.10 Motif Gerak 6 ... 44

Gambar 4.11 Motif Gerak 7 ... 45

Gambar 4.12 Motif Gerak 8 ... 46

Gambar 4.13 Busana Tari Oteh Roda ... 52

Gambar 4.14 Baju ... 52

Gambar 4.15 Pingang (Rok) ... 53

Gambar 4.16 Ketawak (Tali Pinggang) ... 53

Gambar 4.17 Aksesoris untuk Kepala ... 54

Gambar 4.18 Pola Lantai... 55

(14)

viii

Gambar 4.20 Alat Musik Teganing ...

Gambar 4.21 Alat Musik canang ...

Gambar 4.22 Alat Musik Gong ...

Gambar 4.23 Alat Musik Gitar ...

Gambar 4.24 Alat Musik Keyboard ...

Gambar 4.25 Foto Bersama Bapak Ibrahim Kadir...

Gambar 4.26 Foto Bersama Bapak Yaman ...

Gambar 4.27 Foto Bersama Ibu Mahiyar ...

Gambar 4.28 Foto Bersama Ibu Raihana ...

Gambar 4.29 Foto Bersama Penari ...

(15)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Nanggroe Aceh Darussalam merupakan satu provinsi yang terletak

diujung Barat Pulau Sumatera. Kelompok masyarakat Aceh adalah salah satu

kelompok ”asal” di daerah Aceh. Meraka biasa menyebut dirinya Ureueng Aceh.

Masyarakat Aceh merupakan penduduk asli yang tersebar populasinya di Daerah

Istimewa Aceh. Mereka mendiami Kotamadaya Sabang, Banda Aceh, Kabupaten

Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Selatan dan Aceh Barat. Di

Provinsi Aceh terdapat pula suku antara lain suku Aceh, Gayo, Alas, Tamiang,

Aneuk Jamee, Simeulue, Kluet, dan Gaumbok Cadek. Aceh merupakan daerah

yang subur dan kaya akan hasil alam, antara lain berupa padi, cengkeh, lada, pala,

kelapa, kopi dan lain-lain. Oleh karena itu mata pencaharian pokok masyarakat

Aceh adalah betani di sawah dan ladang. Adapun masyarakat yang bermukim di

sepanjang pantai dengan mata pencaharian sebagai nelayan. Berbagai jenis mata

pencaharian pada masyarakat Aceh, namun sebagian besar masyarakatnya adalah

sebagai petani padi. Mata pencaharian merupakan satu kebiasaan pada masyarakat

tertentu, dan merupakan salah satu unsur dari kebudayaan.

Kebudayaan merupakan hasil cipta manusia dan juga merupakan suatu

kekayaan yang sampai saat ini masih kita miliki dan patut kita pelihara. Tiap

masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda dengan kebudayaan

masyarakat lain. Beragam kebudayaan inilah yang menjadi bukti bahwa bangsa

kita kaya akan budaya. Beragam kebudayaan di Indonesia, berarti beragam pula

jenis, bentuk serta kebiasaan masyarakatnya. Dengan keberagaman tersebut, akan

(16)

2

banyak hal yang membedakan antara satu masyarakat dengan masyarakat yang

lain. Tetapi hal itu juga yang akan menjadi persamaan antara perbedaan tersebut,

yakni menjadikan kebudayaan itu sebagai salah satu ciri khas dari masyarakat

tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Rarp Linton (Ihromi, 2000:18) bahwa :

“kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan masyarakat manapun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Meskipun banyak perbedaan diantara kebudayaan-kebudayaan manusia, namun isi dari kebudayaan yang berbeda itu dapat digolongkan kedalam sejumlah katagori yang sama”.

Menurut E.B. Taylor dalam Soekanto (1990:172) “kebudayaan adalah

kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,

adat-istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang

didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat”. Dari uraian tersebut dapat

diketahui bahwa kesenian merupakan salah satu wujud dari kebudayaan yang

dimiliki oleh setiap manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Seperti

yang telah dijabarkan di atas bahwa kebudayaan tersebut dapat dijadikan sebagai

ciri khas pembeda antara satu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Adapun

salah satu wujud dari kebudayaan tersebut adalah kesenian.

Suatu kebiasaan masyarakat tertentu dapat melahirkan satu jenis kesenian

yang media ungkapnya dapat melalui media gerak, musik, pahat dan lain

sebagainya. Sebagai salah satu contoh dari kegaiatan atau kebiasaan masyarakat

tersebut ialah bercocok tanam, seperti menanam kopi, padi, tembakau, palawija

dan lain sebagainya. Beragam gerakan yang terdapat pada kegiatan bercocok

tanam tersebut, misalnya seperti gerakan pada saat menyangkul, membajak

(17)

3

kegiatan-kegiatan tersebut, para seniman tertarik untuk mulai mendistilisasi

gerakan-gerakan, hingga tercipta gerakan-gerakan yang indah dan bermakna yang

sering disebut dengan tari.

Gayo salah satu suku yang ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Suku Gayo

mendiami wilayah kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Sebagian besar masyarakat Gayo bermatapencarian sebagai petani. Salah satu

aktivitas pertanian yang dilakukakan oleh masyarakat Gayo yaitu Berume

(bersawah). Mulai dari membajak sawah manabur benih, nenanam sampai

memanem padi. Banyak tarian suku Gayo yang tercipta karena terinspirasi dari

rutinitas sebagai petani padi. Seperti tari Resam Berume, Kesume Gayo, dan tari

Oteh Roda. Adapun yang akan menjadi topik pada penelitian ini ialah tari Oteh

Roda.

Tari Oteh Roda adalah salah satu jenis tari kreasi yang berasal dari suku

Gayo. Tarian ini menggambarkan kehidupan suku Gayo dalam mengerjakan

(mengolah) padi apabila musim panen padi tiba. Tari Oteh Roda terdiri dari dua

kata yaitu oteh dan roda. Oteh artinya panggilan untuk anak gadis pada

masyarakat Gayo. Roda artinya kincir air atau penumbuk padi. Oteh Roda artinya

anak gadis yang sedang menumbuk padi, dimana pada masa lalu tidak ada alat

atau mesin yang digunakan untuk menumbuk padi. Tari Oteh Roda ini diciptakan

pada tahun 1970-an. Tari Oteh Roda biasanya ditarikan oleh penari wanita

berjumlah 5-9 orang penari, dari setiap penari mempunyai perannya

(18)

4

mengayak atau menampi dan penari lainnya mengumpulkan padi yang telah

ditumbuk.

Pada awalnya tarian ini hanya ditampilkan pada acara-acara tertentu saja

misalnya pada saat musim panen tiba. Akan tetapi saat ini tari Oteh Roda mulai

ditampilkan pada acara-acara seperti acara pernikahan, khitanan dan sering juga di

pertunjukkan pada pagelaran-pagelaran seni Gayo. Tari ini juga banyak

mengalami perkembangan, misalnya dari segi gerak, busana dan alat musik

namun tidak menghilangkan ciri khas atau keaslian dari tarian tersebut.

Masyarakat Gayo khususnya di Kabupaten Bener Meriah sangat antusias

dalam mengembangkan serta melestarikan salah satu tarian kreasi yang sudah

mentradisi tersebut. Terlebih lagi setelah pemerintah daerah menetapkan tari Oteh

Roda sebagai salah satu dari 3 tarian yang harus diterapkan dalam pembelajaran

seni budaya pada sekolah-sekolah dan akan sering dipertunjukkan bahkan

diperlombakan di Kabupaten tersebut.

Tari Oteh Roda menggambarkan beberapa proses tata pekerjaan setelah

musim panen padi tiba. Mulai dari menjemur padi, munutu (menumbuk padi),

munampi (mengayak) dan munatang (mengangkat padi). Dari beberapa proses

tata pekerjaan pada musim panen di atas kemudian tersusun gerak tari Oteh Roda.

Dalam penyajiaanya tari ini terdiri dari tiga tahap yaitu pembukaan, isi dan

penutup. Dalam penyusunan gerak berdasarkan tahapan tersebut, terdapat

hubungan antara satu kesatuan dalam tarian tersebut. Baik dari segi gerak, syair

(19)

5

Struktur merupakan susunan dari satu kesatuan yang saling berhubungan.

Struktur adalah bangun (teoritis) yang terdiri atas unsur-unsur dan berhubungan

satu sama lain dalam satu kesatuan dan terdiri dari struktur atas, struktur bawah.

Struktur mempunyai sifat antara lain sebagai berikut : totalitas, transformatif dan

otoregul. (http://id.m.wikipedia.org/wiki/Struktur diakses pada Oktober 2014).

Struktur yang dimaksud dalam tari Oteh Roda ini ialah bagaimana susunan dari

satu tarian tersebut, serta adanya hubungan antara gerak dengan gerak yang lain,

huhungan antara gerak dengan tema, musik, syair, properti, busana dan pentas.

Dalam penyajian tari Oteh Roda tersebut, terdapat susunan atau tahapan

dalam penyajian antara lain ragam gerak tari mulai dari gerak masuk ke pentas,

gerakan salam memberikan penghormatan, isi terdapat gerakan mujemur

(menjemur), peralihan, munutu (menumbuk), munapi (menampi), mulelingang

(melenggang), munyenangi ate (munyenangkan hati), bebaris (berbaris),

munatang (mengangkat) dansalam penutup.Dari beberapa ragam gerak tersebut,

secara keseluruhan saling berhubungan satu sama lain. Misalnya dari susunan

gerak pertama yakni gerak mujemur (menjemur) kemudian setelah itu dilanjutkan

dengan gerakan munutu (menumbuk), hal ini di urutan sesuai dengan pekerjaan

yang dilakukan oleh masyarakat Gayo pada kegiatan setelah panen tersebut.

Musik iringan merupakan salah satu elemen tari yang dijadikan sebagai

unsur pendukung dalam sebuah tarian, musik iringan dapat berfungsi sebagai

penambah suasana dalam satu tarian. Musik iringan tersebut juga dapat berasal

dari penari yang disebut dengan musik internal, sebagaimana dikatakan bahwa

(20)

6

medium bantu dalam media ekpresi. Musik pengiring tari yang berasal dari irama

bunyian sebagai musik internal. Kemudian ada juga musik tari yang berasal dari

luar tubuh penari yang mana musiknya berasal dari alat musik yang dapat

dijadikan sebagai media ekspresi dalam musik pengiring tari yang sifatnya

eksternal. Adapun dalam tari Oteh Roda ini menggunakan musik eksternal yakni

musik yang dihasilkan dari alat musik. Musik iringan tari Oteh Roda pada

awalnya menggunakan alat musik tradisional seperti Canang, Gong, Memong,

Gendang, Suling dan Teganing. Tetapi perkembangan zaman musik iringan tarian

ini juga mulai berubah. Sudah mulai memakai alat musik modern seperti

keyboard. Tetapi masih ada juga yang tetap memakai alat musik tradisional dan

memadukan dengan alat musik modern.

Musik iringan pada tari Oteh Roda dimainkan untuk mengiringi tarian

tersebut, mulai dari awal penari masuk sampai tarian itu selesai. Kemudian selain

diiringi oleh alat musik, pada tarian terebut juga menggunakan syair lagu yang

dilantunkan bersamaan dengan musik yang dimainkan. Syair lagu pada tarian ini

sesuai dengan gerakkan tari yang ditarikan. Jika pada tarian ini tidak diiringi

dengan alat musik, tarian ini dapat diiringi dengan syair lagu tersebut. Misalnya

pada saat gerakan mujemur (menjemur), syair yang dilantunkan “Mujemur i wan lao porak sara gerbak mah ku jingki ala hu woo jangkerlak”. Syair yang

dilantunkan berarti para gadis Gayo yang sedang menjemur padi di tengah terik

matahari. Begitu pula dengan ragam gerak selanjutnya, yakni saling berhubungan

dengan syair yang dilantunkan. Syair dalam tarian ini juga dijadikan sebagai

(21)

7

Berdasarkan penjelasan latar belakang diatas, penulis merasa tertarik

untuk mengangkat topik penelitian tetang tari Oteh Roda. Hasil penelitian ini

kiranya dapat menambah wawasan pembaca khususnya masyarakat suku Gayo

serta dapat menajadi motivasi generasi muda suku Gayo untuk tetap menjaga,

mempertahankan, melestarikan mewariskan budaya tersebut. Adapun judul

penelitian ini adalah “Struktur Tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di Redelong

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah”.

B. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah adalah salah satu proses penelitian yang dapat di

katakan paling penting dari proses lainnya. Tujuan dari identifakasi masalah

adalah agar penelitian yang dilakukan menjadi terarah serta cakupan masalah

yang dibahas tidak terlalu luas. Hal ini sejalan dengan pendapat Ali Moh.Nazir

(1983:49) mengatakan bahwa:

“Untuk kepentingan karya ilmiah, sesuatu yang perlu diperhatikan adalah masalah penelitian sedapat mungkin diusahakan tidak terlalu luas. Masalah yang luas akan menghasilkan analisis yang sempit dan sebaliknya bila ruang lingkup masalah dipersempit, maka dapat diharapkan analisis secara luas dan mendalam”.

Dari uraian latar belakang masalah, maka permasalahan penelitian dapat di

identifakasikan menjadi beberapa bagian, diantaranya:

1. Bagaimanakah keberadaan tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di

Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah?

2. Bagaimanakah Struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di

(22)

8

3. Bagaimanakah musik iringan tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di

Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah?

C. Pembatasan masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah, maka perlu dilakukan pembatasan

masalah untuk memudahkan masalah yang dihadapi dalam penelitian ini. Adapun

batasan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di

Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah?

D. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, indentifikasi masalah dan

pembatasan masalah, maka permasalahan dapat rumuskan sebagai berikut:

“Bagaimana struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di Redelong

Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah “.

E. Tujuan Penelitian

Setiap kegiatan selalu mengarah pada tujuan, yang merupakan suatu

keberhasilan penelitian, dan tujuan penelitian merupakan jawaban atas pertanyaan

dalam penelitian. Maka tujuan yang hendak dicapai oleh penulis adalah:

1. Mendeskripsikan Struktur tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di Redelong

(23)

9

F. Manfaat penelitian

Temuan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai:

1. Sebagai bahan motivasi bagi setiap pembaca, khususnya generasi muda

masyarakat Gayo di Redelong kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah.

2. Sebagai bahan informasi kepada masyarakat atau lembaga yang membangun

visi dan ,misi kebudayaan khususnya dibidang seni tradisional.

3. Sebagai bahan referensi untuk menjadi acuan pada penelitian yang relevan

dikemudian hari.

4. Sebagai apresiasi bagi mahasiswa dan mahasiswi program studi seni tari di

(24)

69

BAB V

KESIMPULAN

A. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian yang dilakukan di lapangan dan penejelasan yang

sudah diuraikan mulai dari latar belakang hingga pembahasan, maka dapat

disimpulkan secara keseluruhan terhadap tari Oteh Roda pada masyarakat Gayo di

Redelong Kecamatan Bukit Kabupaten Bener Meriah sebagai berikut :

1. Mata pencaharian masyarakat Gayo mayoritas sebagai petani yakni

berkebun dan bersawah. Adapun hasil dari pertanian tersebut seperti kopi,

padi, palawija dan lain sebagainya. Salah satu kegiatan yang rutin

dilakukan masyarakat Gayo ialah bersawah bercocok tanam padi. Dari

kegiatan rutin tersebut menginspirasi seniman Gayo untuk menciptakan

beragam jenis kesenian salah satunya dibidang tari. Adapun salah satu

tarian masyarakat Gayo yang tercipta dari kegiatan masyarakatnya ialah

tari Oteh Roda.

2. Tari Oteh Roda merupakan salah satu tari kreasi dari masyarakat Gayo.

Oteh Roda terdiri dari dua kata yaitu Oteh berarti panggilan kepada anak

gadis pada masyarakat Gayo, Roda artinya kincir air atau penumbuk padi.

Oteh Roda berarti anak gadis yang sedang menumbuk padi, dimana pada

masa lalu tidak ada alat atau mesin yang digunakan untuk menumbuk padi.

Tari Oteh Roda ini diciptakan pada tahun 1970-an oleh 4 seniman Gayo

yaitu antara bapak Saripudin Kadir, alm Syeh Kilang, Ibu Sadimah, dan

ibu Mariam Kobat. Tari Oteh Roda biasanya ditarikan oleh penari wanita

(25)

70

berjumlah 5-9 orang penari, dari setiap penari mempunyai perannya

masing-masing misalnya salah seorang penari menumbuk padi salah

seorang lainnya mengayak/ menampi dan penari lainnya mengumpulkan

padi yang telah ditumbuk.

3. Pada tari Oteh Roda terdapat tiga tahap penyajian yaitu antara lain

pembukaan, isi dan pentup yang disebut dengan struktur. Pada tahapan isi

terdapat ragam gerak atau susunan dari tarian tersebut. Pada setiap ragam

dalam tarian ini diiringi dengan alat musik dan syair sebagai pembawa

suasana tarian tersebut. Selain itu, pada pembahasan struktur juga terdapat

hubungan antara satu kesatuan pada tarian ini yaitu antara tari dengan

properti serta syair yang dilantunkan.

4. Selain membahas tentang susunan dari tarian tersebut, pada penelitian ini

juga mengkaji bentuk dalam tarian tarian tersebut yang membahas

bagaimana bentuk gerak, tema, musik pengiring, busana, tata rias, properti

dan pentas tari Oteh Roda.

B. SARAN

Dari hasil kesimpulan penelitian diatas, maka dapat diajikan beberapa

saran antara lain sebagai berikut :

1. Penulis berharap dengan adanya penelitian ini masyarakat Gayo untuk

menjaga , mengembangkan serta melestarikan tari-tarian yang berada pada

(26)

71

2. Diharapkan kepada masyarakat Gayo khususnya kepada pemerintah

daerah agar senantiasa memperkenalkan berbagai tari-tarian kepada

masyarakat luas baik lokal maupun diluar daerah. Dengan begitu

keberadaan tari-tarian tersebut.

3. Dengan meningkatkan kepedulian terhadap kesenian daerah, berarti telah

menyelamatkan anak cucu kita dari pengaruh budaya luar yang akan

merusak budaya sendiri.

(27)

69

DAFTAR PUSTAKA

Dalman, H. (2012). Menulis Karya Ilmiah. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Endraswara, Suwardi. (2006). Metode, Teori, Teknik Penelitian Kebudayaan. Sleman: Pustaka Widyatama.

Hadi, Sumandiyo (2007). Kajian Tari Teks dan Konteks. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Halida, Dea. (2014). Struktur Tari Dulang Pada Masyarakat Melayu di kecamatan Stabat kabupaten Langkat. Skripsi Sendratasik. Universitas Negeri Medan.

Ibrahim, Mahmud. (2010). Syariat dan Adat Istiadat Jilid I . Takengon: Yayasan Maqmam Mahmuda Takengon.

Ibrahim, Mahmud. (2010). Syariat dan Adat Istiadat Jilid II . Takengon: Yayasan Maqmam Mahmuda Takengon.

Ibrahim, Mahmud. (2005). Syariat dan Adat Istiadat Jilid III . Takengon: Yayasan Maqmam Mahmuda Takengon.

Ibrahim, Mahmud (2007). Mujahid Dataran Tinggi Gayo. Takengon: Yayasan Maqamam Mahmuda Takengon

Insani, Nurul (2013). Sejarah dan Bentuk Penyajian Tari Resam Berume pada Masyarakat Gayo di Aceh Tengah. Skripsi Sendratasik. Universitas Negeri Medan.

Ihromi (2000). Pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Gramedia.

Langer, Suzanne, K (1988), Problematika Seni Terjemahan F.X Widyarato, Bnadung: Akademi Seni Tari Indonesia.

(28)

70

Saadah (2013) “Etika dan Estetika Tari Guel Pada Mayarakat Gayo Kabupaten

Aceh Tengah”. Skripsi Sendratasik. Universitas Negeri Medan.

Soedarsono.(1972). Djawa Bali: Dua Pusat Perkembangan Dramaturgi Tradisionel di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada Universitas Press.

Soeharto, Ben (1985), Komposisi Tari. Yogyakarta: Ikalasti Yogyakarta.

Soekanto, Soerjono. (1990). Sosiologi, Suatu Pengantar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Strauss, Levi, C. (1963). Structural Anthropologi. New York. Basic Book.Pnc

Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

T. Syamsuddin dkk, (1979/1980). Sistem Gotong Royong dalam Masyarakat Pedesaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Aceh: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Wahyu Desiana Syahzuar (2014) “Tari Kesume Gayo Pada Masyarakat Gayo

Kabupaten Aceh Tengah Tinjauan Terhadap Bentuk”. Skripsi

(29)

71

DAFTAR ACUAN INTERNET

(http://id.m.wikipedia.org/wiki/Struktur)

(http://id.m.wikipwedia.org/wiki/com)

(http:id.m.wikipedia.org/wiki/Suku_Gayo)

Gambar

Tabel 4.1 Luas Daerah dan Jumlah Penduduk ..............................................
Gambar 4.22 Alat Musik Gong .......................................................................

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka didapat kesimpulan bahwa masyarakat di Desa Wonosari Kecamatan Bandar Kabupaten Bener Meriah Provinsi Aceh telah

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana eksistensi lembaga pendidikan tradisional “Meunasah” di Kecamatan Wih Pesam Kabupaten Bener Meriah juga

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada Perkebunan Kopi di Kecamatan Bener Kelipah Kabupaten Bener Meriah dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:1) Jumlah jenis

Sebagai contoh masyarakat Kecamatan Permata yang juga ikut berpartisipasi dalam pemilukada secara langsung di Kabupaten Kabupaten Bener Meriah untuk memilih bupati dan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk menganalisis faktor–faktor yang mempengaruhi produksi kentang di Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah

Siswa laki-laki SMA Negeri 1 Bukit Kabupaten Bener Meriah Aceh Pada

Penelitian ini bertujuanmelihat Gambaran Karakteristik dan Sosial Budaya Keluarga Terhadap Perilaku Merokok Siswa Laki-Laki SMA Negeri 1 Bukit Kabupaten Bener Meriah Aceh Pada

Bahan baku yang digunakan dalam proses Produksi Kopi Tubruk Gayo di Desa Conto Kecamatan Timang Gajah Kabupaten Bener Meriah terdiri dari Biji Kopi yang menjadi