KANDUNGAN KOLESTEROL, LEMAK, VITAMIN A DAN E
DALAM DAGING, HATI, DAN TELUR, SERTA PERFORMA
PUYUH DENGAN PEMBERIAN EKSTRAK DAN TEPUNG
DAUN KATUK (
Sauropus androgynus L. Merr
)
DALAM RANSUM
SKRIPSI
SITI MAWADDAH
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
ii
RINGKASAN
Siti Mawaddah D24062085. 2011. Kandungan Kolesterol, Lemak, Vitamin A dan E dalam Daging, Hati, dan Telur, serta Performa Puyuh dengan Pemberian
Ekstrak dan Tepung Daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dalam
Ransum. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Ir. Widya Hermana, M.Si.
Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Wiranda G Piliang, M.Sc.
Daun katuk (Sauropus androgynus L. Merr) merupakan tanaman obat yang sudah banyak diteliti karena banyak manfaatnya. Beberapa manfaat daun katuk yaitu sebagai tanaman obat keluarga, bahan makanan yang bergizi tinggi, zat pewarna makanan, dan dapat memperlancar air susu ibu. Daun katuk memiliki kandungan serat kasar yang paling tinggi pada beberapa tanaman hijau bahan pakan (23,65%). Penggunaan daun katuk dalam pakan ternak dapat dibuat dengan beberapa metode yaitu dalam bentuk tepung dan ekstrak. Masing-masing metode memiliki keunggulan, bentuk tepung mudah dalam pembuatan tetapi serat kasar yang terkandung masih tinggi dan menjadi hambatan dalam pencernaan khususnya unggas. Bentuk ekstrak yang memiliki kemudahan dalam penyimpanan, dan dalam proses pembuatan ekstrak bertujuan untuk mengambil sebagian atau seluruh zat yang ada di dalam tanaman.
Penelitian ini bertujuan untuk mengamati pengaruh perbedaan pemberian ekstrak tepung daun katuk (ETDK) yang dibandingkan dengan tepung daun katuk (TDK) melalui penilaian kandungan kolesterol, lemak, vitamin A dan E pada daging, hati dan telur, serta performa puyuh. Ransum perlakuan yang diberikan terdiri dari empat macam ransum, yaitu ransum basal (R0) sebagai ransum kontrol, R0 + 0,15% ETDK (R1), R0 + 0,30% ETDK (R2), R0 + 10% TDK (R3). Puyuh terbagi atas 4 perlakuan dan 4 ulangan dengan 13 ekor setiap ulangan. Data performa puyuh yang diperoleh dianalisis dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan diuji lanjut dengan uji jarak Duncan jika hasilnya berbeda nyata sedangkan data kandungan kolesterol, lemak, vitamin A dan E dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan analisis performa puyuh yang terdiri dari konsumsi ransum, Hen day, massa telur, bobot telur, konversi ransum tidak berbeda nyata sedangkan untuk warna kuning telur berbeda sangat nyata (P<0,01). Kandungan kolesterol dan lemak terendah pada daging, hati dan telur diperoleh dengan pemberian 10% tepung daun daun katuk dalam ransum, serta kadungan vitamin A dan E tertinggi juga diperoleh pada pemberian 10% tepung daun katuk. Berdasarkan hasil yang diperoleh bahwa pemberian ekstrak dengan kadar 0,15% dan 0,30% tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian tepung daun katuk 10% dalam ransum.
iii
ABSTRACT
The Content of Cholesterol, Fat, Vitamin A and E in Meat, Liver, and Eggs, and
Performance of Quail by Giving Extract and Katuk Leaves Meal (Sauropus
androgynus L. Merr) in The Diet
S. Mawaddah, W. Hermana, W.G. Piliang
Katuk leaves (Sauropus androgynus L. Merr) is a medicinal plant that has been much studied because it has many benefits. The use of katuk leaves in animal feed can be made by several methods, i.e. in the form of meal and extract. Each method has positive and negative values. Positive value in the form of meal is easy in the making, but the crude fiber that was contained in katuk leaves become a barrier in the digestion. While a positive value for the extract is easier in the regulation of dosage, easy storage, for a longer period of time is practical in preparing and maintaining durability of materials, as well as goal of extract is to take part or all of certain substances that contained in plant material. Treatment rations were given consisted of four different diets, basal diet (R0) as a control diet, R0 + 0.15% ETDK (R1), R0 + 0.30% ETDK (R2), R0 + 10% TDK (R3). The quails divided into 4 treatments and 4 replicates with 13 quils each replication. The data of quail performances were analyzed by completely randomized design and further test with Duncan's test if the results are significantly different, while the data content of cholesterol, fat, vitamin A and E were analyzed descriptively. The results showed quail performances of feed consumption, Hen day, egg mass, egg weight, feed conversion ratio were not significantly diffferent, but for egg yolk color was very significantly different (P<0.01). The lowest content of cholesterol and fat in the liver, meat, and eggs obtained by giving 10% katuk leaves meal, as well as the highest content of vitamin A and E results were also obtained by giving 10% katuk leaves meal. Based on the results that the extract katuk leaves meal with concentration 0.15% and 0.30% did not give better results than 10% katuk leaves meal in ration.
iv Judul : Kandungan Kolesterol, Lemak, Vitamin A dan E dalam Daging, Hati, dan Telur, serta Performa Puyuh dengan Pemberian Ekstrak dan Tepung Daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) dalam Ransum
Nama : Siti Mawaddah NIM : D24062085
Menyetujui, Pembimbing Utama,
(Ir. Widya Hermana M.Si) NIP. 19680110 199203 2 001
Pembimbing Anggota,
(Prof. Dr.Ir. Wiranda G Piliang M.Sc) NIP. 19450803 197304 2 001
Mengetahui: Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc.Agr) NIP. 19670506 199103 1 001
v
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 17 November 1988 di Bogor, Jawa Barat. Penulis adalah anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Kahfi Ali Jatmoko dan Ibu Sri Widayati.
Penulis mengawali pendidikan pada tahun 1992 di Taman Kanak-kanak Cendrawasih dan dilanjutkan dengan pendidikan dasar pada tahun 1994 di Sekolah Dasar Islam Al-Azhar 06 Jakapermai sampai tahun 2000. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2000 dan diselesaikan pada tahun 2003 di Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Negeri 3 Bekasi. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bekasi dan diselesaikan pada tahun 2006.
vi
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas nikmat yang tidak terhitung, kasih sayang dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul ”Kandungan Kolesterol, Lemak, Vitamin A dan E dalam Daging, Hati, dan
Telur, serta Performa Puyuh dengan Pemberian Ekstrak dan Tepung Daun Katuk
(Sauropus androgynus L. Merr) dalam ransum”. Skripsi ini disusun berdasarkan
penelitian yang telah dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2009.
Skripsi ini memuat informasi tentang penggunaan daun katuk dalam dua bentuk
yang berbeda. Perbedaan bentuk dan kandungan nutrien dalam katuk yang diberikan
terhadap puyuh memberikan hasil yang berbeda terhadap status kolesterol pada daging,
hati, dan telur puyuh.
Melalui skripsi ini penulis mengharapkan masukan-masukan yang bersifat
membangun yang dapat menjadi pelajaran yang bermanfaat bagi penyusunan skripsi ini
dimasa yang akan datang dengan mengembangkan konsep yang lebih lengkap. Demikian
pengantar ini penulis sampaikan, mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Bogor, 7 September 2011
viii
Sejarah Perkembangan Penelitian Tanaman Katuk ... 5
Anti Nutrisi pada Tanaman Katuk ... 6
Peranan Daun Katuk dalam Menurunkan Kolesterol dan Lemak ... 7
ix
Metode ... 18
Pembuatan Tepung Daun Katuk ... 18
Pembuatan Ekstrak Tepung Daun Katuk ... 18
Pencampuran Ransum ... 19
Perlakuan ... 20
Pemeliharaan ... 20
Prosedur Analisis Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 21
Prosedur Analisis Kandungan Lemak Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 22
Prosedur Analisis Kandungan Vitamin A Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 22
Prosedur Analisis Kandungan Vitamin E Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 24
Peubah yang Diamati ... 24
Kandungan Kolesterol dalam Daging, Hati dan Telur Puyuh. . 24
Kandungan Lemak dalam Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 24
Kandungan Vitamin A dan E dalam Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 24 Kandungan Kolesterol pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 26
Kandungan Lemak pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 28
Kandungan Vitamin A dan E pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 29
x
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Perbandingan Kandungan Serat Kasar pada Beberapa Tanaman Hijauan Bahan Pakan...
8
2. Kandungan Nutrien dari Ransum Kontrol, TDK dan ETDK... 19
3. Kandungan Nutrien Setiap Ransum Berdasarkan Perhitungan... 20
4. Kandungan Fitokimia ETDK dan TDK Hasil Uji Kualitatif... 20
5. Kandungan Kolesterol Daging, Hati, dan Telur Puyuh... 26
6. Kandungan Lemak Daging, Hati, dan Telur Puyuh... 28 7. Kandungan Vitamin A dan E pada Daging, Hati, dan Telur
Puyuh... 30
8. Konsumsi Ransum,Produksi Telur Hen Day, Bobot Telur, Massa Telur, Konversi Ransum, Skor Warna Kuning Telur Puyuh... Telur...
xi
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Daun Katuk …….. ... 4
2. Japanese Quail…….. ... 10
3. Struktur Kimia Kolesterol ……... 12
4. Struktur Kimia Vitamin A …….. ... 15
5. Struktur Kimia Vitamin E …….. ... 16
6. Skema Pembuatan Tepung Daun Katuk (TDK) ... 18
7. Skema Pembuatan Ekstrak Tepung Daun Katuk (ETDK) ... 18
8. Grafik Kandungan Kolesterol pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 27
9. Grafik Kandungan Lemak pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 29
10. Grafik Kandungan Vitamin A pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 30
11. Grafik Kandungan Vitamin E pada Daging, Hati dan Telur Puyuh ... 31
12. Grafik Rataan Konsumsi Ransum Puyuh Selama Penelitian ... 33
13. Grafik Produksi Telur Hen Day Selama Penelitian…….. ... 34
14. Grafik Rataan Bobot Telur Puyuh Selama Penelitian ... 35
15. Grafik Rataan Massa Telur Puyuh Selama Penelitian ... 35
16. Grafik Rataan Konversi Ransum Puyuh Selama Penelitian ... 36
xii
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Puyuh Selama Penelitian...
45
2. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Telur Hen Day Selama Penelitian...
45
3 ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Massa Telur Puyuh Selama Penelitian...
45
4. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Bobot Telur Puyuh Selama Penelitian...
46
5. ANOVA Pengaruh Perlakuan terhadap Konversi Ransum Puyuh Selama Penelitian...
46
1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kolesterol sudah sering didengar oleh sebagian besar masyarakat. Senyawa lemak komplek ini memiliki beberapa fungsi penting seperti membuat hormon seks dan adrenalin serta membentuk membran sel. Kolestrol secara terus menerus dibentuk atau disintesa di dalam hati untuk kebutuhan tubuh. Kolesterol secara terus-menerus dibentuk atau disintesis di dalam hati karena dibutuhkan oleh tubuh, bahkan 70% kolesterol dalam darah merupakan hasil sintesis dalam hati, sedangkan sisanya 30% merupakan sumbangan asupan makanan. Selama jumlah kolesterol baik hasil sintesis maupun yang bersumber dari makanan masih seimbang dengan tingkat kebutuhan, maka tubuh akan tetap sehat. Seiring dengan perkembangan pola hidup masyarakat yang cenderung banyak mengonsumsi makanan berlemak, maka tingkat asupan kolesterol menjadi lebih tinggi dari tingkat kebutuhannya. Asupan makanan dengan kandungan kolesterol tinggi yang berlangsung secara terus-menerus berakibat pada peningkatan kadar kolesterol dalam darah. Kelebihan kolesterol (hiperkolesterolemia) inilah yang menyebabkan dampak buruk terhadap kesehatan.
Pencegahan peningkatan kadar kolesterol dalam tubuh diantaranya dengan mengonsumsi produk pangan hewani yang rendah lemak dan kolesterol. Produk pangan hewan yang rendah lemak dan kolesterol dihasilkan dari pakan yang mengandung serat kasar cukup tinggi karena kecenderungan serat dapat mengikat kolesterol dan diduga bahwa dengan keberadaan serat akan menghambat emulsifikasi lemak dan kolesterol oleh garam empedu, sehingga kolesterol akan terikat oleh serat yang kemudian akan dikeluarkan melalui ekskreta.
Tanaman katuk (Sauropus androgynus L. Merr) merupakan alternatif tanaman yang mampu menurunkan kadar kolesterol kuning telur dan karkas ayam petelur (Ibrahim, 2004). Menurut Subekti (2007) daun katuk memiliki kandungan fitosterol yaitu 2,43 g/100 g kering dan 466 mg/100 g segar yang mampu menurunkan kolesterol serum, telur, karkas, dan hati pada puyuh. Fitosterol mencakup sterol tanaman dan stanol tanaman adalah lemak yang terdapat pada tanaman.
2 dapat memberikan warna kuning telur yang lebih baik. Peranan vitamin E yang terkandung di dalam tanaman katuk befungsi pada reproduksi unggas, meningkatkan performa, memperkuat status imunoglobin, serta meningkatkan kandungan vitamin E pada produk pangan asal hewan sehingga asupan vitamin E pada konsumen meningkat.
Unggas memiliki keterbatasan dalam mencerna serat dengan maksimal pemberian 5% dalam ransum, sedangkan tepung daun katuk mengandung serat kasar yang cukup tinggi (15,89%) sehingga bersifat bulky dan menyebabkan keterbatasan pemberian dalam ransum dibandingkan serat kasar ekstrak tepung daun katuk (0,21%). Diketahui juga bahwa daun katuk mengandung tanin dan saponin yang merupakan antinutrisi (uji kualitatif) yang dapat mengganggu proses pencernaan sehingga menurunkan pertumbuhan (Rahayu, 2005). Penggunaan dalam bentuk ekstrak tepung daun katuk, Subekti (2007) melaporkan terdapat senyawa aktif yang berperan menurunkan kolesterol dalam kuning telur, hati dan karkas perlakuan kemungkinan disebabkan oleh adanya fitosterol terutama stigmasterol yang cukup tinggi.
Berdasarkan alasan tersebut maka, metode pemberian ekstrak tepung daun katuk yang mengandung serat kasar sangat kecil karena diduga terekstraknya komponen zat-zat yang menjadi kendala dalam pencernaan unggas dapat terurai, serta pemanfaatan senyawa aktif yang terdapat dalam bentuk ekstrak menjadi solusi dari keterbatasan pemberian serat kasar pada ternak unggas. Pemberian dalam bentuk ekstrak tepung daun katuk dipertahankan untuk meningkatkan warna kuning telur serta kandungan vitamin A dan E di dalam hati, daging dan telur.
Tujuan
3
TINJAUAN PUSTAKA
Daun Katuk Taksonomi, Morfologi, dan Jenis
Katuk dengan nama latin Sauropus androgynus (L.) Merr, merupakan tanaman yang dapat tumbuh tinggi hingga mencapai 2 m - 3 m, termasuk famili Euphorbiceae dengan bentuk daun lonjong hingga bulat (Gambar 1), (Puspaningtyas et al., 1997). Tanaman katuk tumbuh menahun (perennial), berbentuk semak perdu. Susunan morfologi tanaman katuk terdiri atas akar, batang, daun, buah, dan biji. Sistem perakaran tanaman katuk menyebar ke segala arah dan dapat mencapai kedalaman antara 30 cm - 50 cm. Batang tanaman tumbuh tegak dan berkayu. Pada stadium muda batang berwarna hijau dan setelah tua berubah menjadi kelabu keputih-putihan (Rukmana dan Harahap, 2011).
Sampai saat ini plasma nutfah tanaman katuk yang tumbuh di alam belum di karakterisasi menurut jenis dan varietas. Namun di lapangan dikenal dua jenis katuk, yaitu katuk merah dan katuk hijau. Perbedaan diantara katuk hijau dan katuk merah yaitu katuk hijau produktif menghasilkan daun sehingga dibudidayakan oleh masyarakat sedangkan katuk merah kurang produktif menghasilkan daun, tumbuh secara liar dan ditanam sebagai tanaman hias (Rukmana dan Harahap, 2011).
Menurut Prajogo dan Santa (1997), dalam sistematika (taksonomi) tumbuhan kedudukan tanaman katuk dapat diklasifikasikan sebagai berikut.
Divisi : Spermatophyta Sub divisi : Angiospermae Kelas : Euphorbiales Suku : Euphorbiaceae Marga : Saoropus
Jenis : Sauropus androgynus (L.) Merr.
4
Daerah Asal dan Penyebaran
Tanaman katuk ada hampir di seluruh Asia Tenggara khususnya Thailand dikenal dengan nama Pak Wanban. Tanaman ini tumbuh tersebar di beberapa daerah yang beriklim tropis dan subtropis, terutama yang mempunyai curah hujan yang tinggi. Tumbuhan ini umumnya ditanam sebagai tumbuhan pagar di sepanjang jalan atau tumbuh liar, walaupun kadang-kadang ada yang ditanam di sela-sela tanaman lain dan tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 1.300 m di atas permukaan laut, (Wijono, 2004). Di Indonesia, menurut Azis dan Muktiningsih (2006) tanaman katuk tumbuh di tanah ketinggian 0 - 2.100 m di atas permukaan laut.
Beberapa literatur menyatakan bahwa plasma nutfah tanaman katuk berasal dari India. Dalam perkembangan selanjutnya, tanaman katuk menyebar luas di kawasan Malaysia dan daerah sekitarnya yang beriklim tropis. Sejarah masuknya tanaman katuk ke Indonesia belum diketahui secara pasti. Namun, sejak abad 16 tanaman katuk telah banyak ditanam di berbagai daerah di wilayah nusantara, terutama dijadikan pagar hidup disepanjang jalan desa, batas-batas pekarangan, hutan jati, dan kebun-kebun atau tegalan (Rukmana dan Harahap, 2011). Penyebaran katuk di Indonesia dijumpai di Jawa, Sumatra, Kalimantan, Kepulauan Sunda, Maluku, Ternate dan Ambon (Setyowati, 1997). Sauropus androgynus (L.) Merr memiliki berbagai nama di Indonesia diantaranya yang terkenal dengan nama katuk (Sunda), babing, katu, katukan (Jawa), semani (Minang), cekop manis, memata, atau karakur (Madura).
Gambar 1. Daun Katuk
5
Beberapa Penelitian Tanaman Katuk pada Ternak
Keistimewaan yang dimiliki tanaman katuk telah menarik minat para peneliti untuk mengeksplorasi manfaat dan pengaruhnya pada ternak. Penelitian tentang daun katuk sudah diujicobakan pada berbagai ternak dengan metode dan taraf yang berbeda-beda. Pada hewan monogastrik seperti babi, itik, puyuh, ayam broiler, ayam petelur, sedangkan pada hewan ruminan seperti sapi, kambing, dan domba.
Penelitian tanaman katuk difokuskan pada ternak unggas telah banyak dilakukan. Penggunaan pada taraf 5%, 10%, dan 15% tepung daun katuk dalam ransum untuk kualitas karkas terbaik ditunjukan pada ayam broiler yang diberi 15% tepung daun katuk, karena mengandung vitamin A tertinggi, kolesterol dan lemak abdomen terendah (Nasution, 2005). Hal tersebut sejalan dengan penelitian Saragih (2005) pada ayam petelur, bahwa penambahan 15% daun katuk dalam ransum memperlihatkan efek positif bagi kualitas karkas, peningkatan bobot kuning telur, vitamin A, dan penurunan kolesterol kuning telur hingga 16,82%, serta meningkatnya hormon estradiol.
Pemberian tepung daun katuk pada unggas dengan taraf yang sama (5%, 10%, dan 15%) dalam berbagai penelitian tidak selalu memberikan hasil yang sama. Pemberian 5% tepung daun katuk pada itik lebih efisien meningkatkan kualitas telur dan performa itik (Septyana dan Suryaningsih, 2008). Penelitian Wiradimadja (2007) menunjukan bahwa pada taraf 15% tepung daun katuk dalam ransum puyuh menyebabkan penurunan kadar estradiol sehingga menghambat umur dewasa kelamin puyuh. Pemberian daun katuk dengan taraf 0%, 1,5%, 3%, 4,5%, dan 6% dalam ransum ayam broiler memberikan pengaruh yang sama terhadap konsumsi dan konversi ransum, serta menurunkan pertambahan bobot badan ayam broiler umur 1 – 6 minggu (Saleh et al., 2005).
6 meningkatkan produksi telur, konversi, dan efisiensi pakan serta menurunkan kolesterol telur pada ayam petelur.
Anti Nutrisi pada Tanaman Katuk
Kelemahan tanaman katuk adalah adanya zat anti nutrisi tanin dan saponin yang cukup besar. Kehadiran anti nutrisi pada tanaman umumnya terjadi karena faktor dalam (intrinsic factor) yaitu suatu keadaan ketika tanaman tersebut mempunyai atau mampu memproduksi anti nutrisi tersebut dalam organ tubuhnya. Faktor lain adalah faktor luar (enviroment factor), yaitu keadaan dimana secara genetik tidak mengandung unsur anti nutrisi tersebut, tetapi karena pengaruh luar yang berlebihan, zat yang tidak diinginkan masuk ke dalam organ tubuhnya. Contohnya adalah unsur radioaktif yang masuk dalam rantai metabolik unsur yang kemudian terdeposit sebagai unsur yang berbahaya (Wardiny, 2006).
Tanin adalah senyawa phenolic yang larut dalam air dan dapat mengendapkan protein dari larutan. Secara kimia tanin sangat komplek dan biasanya dibagi kedalam dua grup, yaitu hydrolizable tannin dan condensed tannin. Hydrolizable tannin mudah dihidrolisa secara kimia atau oleh enzim. Peranan tannin pada tanaman yaitu untuk melindungi biji dari predator burung, melindungi perkecambahan setelah panen, dan melindungi dari jamur dan cuaca. Pemberian pakan yang mengandung tannin dalam jumlah besar pada unggas khususnya ayam dapat menekan pertumbuhan, karena tannin menekan retensi nitrogen dan menurunkan daya cerna asam-asam amino yang seharusnya dapat diserap oleh villi-villi usus dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan-jaringan tubuh. Gejala yang diperlihatkan akibat adanya tannin adalah pertumbuhan yang lambat, nafsu makan berkurang karena rasa pahit pada tannin, kaki yang tidak normal dan kemampuan memproduksi telur berkurang (Widodo, 2002).
7 pembuatan shampo, pembentukan busa pada alat pemadam kebakaran, soft drink dan sabun. Sisi negatifnya dapat menghambat penampilan produksi dari ternak unggas (Wardiny, 2006).
Peranan Daun Katuk dalam Menurunkan Kolesterol dan Lemak
Kolesterol dalam tubuh berupa kolesterol eksogen dan endogen dimana kolesterol eksogen berasal dari makanan (25%) dan sebaliknya kolesterol endogen dibentuk oleh sel-sel tubuh (75%), terutama di dalam hati (Piliang dan Djojosoebagio, 2006). Sebagian kolesterol akan diubah menjadi asam empedu, masuk ke dalam usus dan berubah menjadi ekskreta. Hal inilah yang menyebabkan penurunan kadar kolesterol di dalam darah. Salah satu cara menurunkan kadar kolesterol dengan serat pangan.
Peranan serat pangan adalah meningkatkan produksi asam empedu dan mengeliminasi ke dalam usus untuk diekskresikan sebagai ekskreta. Menurut Wolever et al. (1997) ada mekanisme penurunan kolesterol oleh serat, yaitu pengikatan asam empedu di dalam usus halus yang menyebabkan meningkatnya ekskresi asam empedu fekal, penurunan absorpsi lemak dan kolesterol, penurunan laju absorspsi karbohidrat yang menyebakan penurunan kadar insulin serum sehingga menurunkan ransangan sintesis kolesterol dan lipropotein, dan penghambatan sintesis kolesterol oleh asam lemak rantai pendek yang dihasilkan dari fermentasi serat larut di dalam kolon. Linder (1992) menyatakan bahwa peningkatan ekskresi asam empedu dalam ekskreta dapat menyebabkan penurunan kadar kolesterol plasma sekitar 10% - 25%.
8 mekanisme tersebut, maka kolesterol yang terserap oleh usus juga sedikit sehingga pembentukan kilomikron dan VLDL juga terhambat sehingga kadar LDL turun dan peningkatan pada kadar HDL, bila dihitung rasio kolesterol LDL/ HDL akan turun.
Piliang et al. (2001) telah membuktikan bahwa pemberian tepung daun katuk dalam ransum ayam petelur lokal sebanyak 9% mampu menurunkan kandungan kolesterol dalam kuning telur sebesar 62,34% dibandingkan dengan kandungan kolesterol dalam kuning telur ayam yang diberi ransum tanpa tepung daun katuk. Kandungan fitosterol dalam daun katuk juga berpengaruh pada penurunan kolesterol serum, kuning telur, karkas, dan hati puyuh. Dinyatakan oleh Piliang et al. (2001) bahwa penurunan kadar kolesterol sangat erat hubunganya dengan kandungan serat kasar dalam ransum dan sekresi cairan empedu. Pada Tabel 1 disajikan kadar serat kasar daun katuk dan beberapa tanaman hijauan yang dapat dijadikan sebagai bahan pencampur ransum unggas.
Tabel 1. Perbandingan Kandungan Serat Kasar pada Beberapa Tanaman Hijauan Bahan Pakan
Nama tanaman Kandungan serat kasar (%)
Tepung daun katuk1) 23,65
Tepung daun antanan2) 18,67
Tepung daun mengkudu3) 11,75
Tepung daun lamtoro4) 18,00
Daun singkong (segar) 22,90
Daun pisang 23,10
Tepung daun turi
17,80
Keterangan:
9 Data pada Tabel 1 menunjukan bahwa tepung daun katuk mempunyai kandungan serat kasar yang tinggi dibandingkan dengan beberapa tanaman hijau lainnya. Keadaan ini membuktikan besar kemungkinan bahwa serat kasar tepung daun katuk besar peranannya dalam menghambat sintesis kolesterol.
Ekstraksi Daun Katuk
Ekstraksi adalah suatu cara untuk memisahkan campuran beberapa zat menjadi komponen-komponen yang terpisah. Pengertian lain ekstrak atau ekstraksi adalah suatu proses untuk mengubah bentuk dari suatu bahan padat menjadi pasta atau dalam bentuk tepung (Yuliani dan Marwati, 1997). Menurut Sidauruk (2008), ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan kelarutanya terhadap dua cairan berbeda yang tidak saling larut, biasanya air dan yang lainya pelarut organik. ASIMAS (2007) menyatakan beberapa tujuan ekstraksi pada umumnya adalah untuk mengambil sebagian atau seluruh zat tertentu yang ada dalam bahan tanaman untuk memudahkan dalam pengaturan bentuk sediaan, dosis, atau takaran yang tepat, mudah penyimpanan, praktis dalam penyajian dan menjaga keawetan bahan tersebut untuk jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan disimpan dalam bentuk bahan mentah.
Proses ekstraksi daun katuk dilakukan dengan mencampur daun katuk dalam larutan ethanol 70% dengan perbandingan 1 : 4. Campuran ini dipanaskan selama enam jam pada suhu 60°C, kemudian disaring dengan kertas saring sebanyak dua kali. Filtrat yang dihasilkan diuapkan dengan menggunakan hot plate selama sembilan jam pada suhu 50°C. Ekstrak yang didapat berupa pasta sebesar 31% dari bobot total campuran (Yuliani dan Marwati, 1997). Suprayogi (2000) menemukan bahwa ekstrak tanaman katuk dengan etanol mengandung cumarin, tannin, gula, alkaloid, antrasenoid, steroid glikosida/ triterpenoid, flavonoid, anthocyanin, dan isoquinoline alkaloid.
Puyuh
Penyebaran dan Klasifikasi
10 penyebaran puyuh teramasuk paling luas. Unggas kecil ini bisa dijumpai dari daratan Nusantara, Jepang, sampai ke Amerika. Puyuh adalah burung yang tidak dapat terbang jauh, ukuran tubuh relatif kecil, dan berkaki pendek (Gambar 2). Puyuh dalam bahasa Jawa disebut gemak dan dalam bahasa asing quail.
Puyuh termasuk ternak dengan produktivitas relatif tinggi. Singkatnya siklus hidup puyuh menyebabkan unggas ini cepat berproduksi, yaitu saat berumur 35 - 42 hari sudah mulai bertelur. Puyuh termasuk petelur yang andal. Dalam setahun mampu bertelur sampai 300 butir (Agromedia, 2002). Secara ilmiah puyuh dikelompokan dalam kelas dan susunan taksonomi berikut ini:
Kelas : Aves (bangsa burung) Ordo : Galiformes
Sub Ordo : Phasionaidae Family : Phasianidae Sub Family : Phasianidae Genus : Coturnix
Spesies : Coturnix-coturnix japonica
Konversi Ransum
Konversi ransum adalah jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan telur dalam ukuran yang sama. Konversi ransum tergantung pada jumlah pakan yang dikonsumsi, jumlah dan bobot telur yang dihasilkan. Konversi ransum merupakan cara untuk mengukur efisiensi penggunaan ransum yaitu perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi pada waktu tertentu dengan produksi yang dihasilkan (pertambahan bobot badan atau jumlah bobot telur) dalam kurun waktu yang sama. Konversi ransum dapat digunakan sebagai gambaran untuk mengetahui tingkat efisiensi produksi. Angka konversi ransum menunjukan tingkat efisiensi pakan, artinya jika angka konversi ransum semakin tinggi maka penggunan ransum kurang ekonomis dan sebaliknya. Angka konversi ransum akan membaik bila hubungan antara energi dan protein dalam ransum telah disesuaikan. Faktor-faktor yang berpengaruh pada konversi pakan adalah produksi telur, kandungan energi dalam ransum, bobot badan, kandungan nutrisi dalam pakan dan temperatur udara (Septyana, 2008).
Gambar 2. Japanese quail
11
Konsumsi Ransum
Pertumbuhan ternak tergantung dari jumlah konsumsi ransum yang dimakan. Tingkat energi di dalam ransum menentukan banyaknya pakan yang dikonsumsi. Banyaknya pakan yang dikonsumsi tergantung pada jenis hewan yang bersangkutan, besarnya, keaktifanya, temperatur lingkungan dan pakan untuk pertumbuhan atau untuk mempertahankan produksis telur. Menurut NRC (1994) faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi ransum adalah besarnya tubuh ternak, aktivitas ternak, suhu lingkungan, kualitas dan kuantitas ransum. Amrullah (2004) menyatakan bahwa terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap konsumsi harian ransum yaitu kandungan kalori ransum dan suhu lingkungan.
Konsumsi erat hubungnya dengan pertumbuhan ternak, menurut Daghir (1998) diperkirakan 63% dari penurunan pertumbuhan disebabkan menurunnya konsumsi ransum dari ayam. Pertumbuhan juga menurun karena konsumsi ransusmnya menurun, hal ini karena temperatur tinggi dan ayam dalam keadaan stres (Leeson dan Summer, 1997).
Warna Kuning Telur
Bahan pewarna kuning telur adalah xanthophyll, suatu pigmen karotenoid yang terdapat dalam jagung kuning, tanaman alfalfa dan corn gluten meal. Zat warna xanthophyll dalam pakan merupakan senyawa yang paling berpengaruh terhadap warna kuning telur. Warna kuning telur menurut Scanes et al. (2004) tergantung dari pigmen dalam pakan yang dikonsumsi. Tanaman merupakan sumber pigmen karotenoid yang dapat memberikan warna pada kuning telur dari warna kuning sampai dengan merah. Karotenoid merupakan suatu pigmen yang terdapat di dunia tumbuh-tumbuhan (Anggorodi, 1995).
12
Kolesterol
Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol yang ditemukan pada membran sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. Merupakan sejenis lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolesterol ialah jenis khusus lipid yang disebut steroid. Steroids ialah lipid yang memiliki struktur kimia khusus (Wikipedia, 2011). Struktur ini terdiri atas 4 cincin atom karbon. Struktur kolesterol dapat dilihat pada Gambar 3.
Kolesterol banyak ditemukan di dalam struktur tubuh manusia dan hewan yang merupakan substansi lemak hasil metabolisme. Pada produk hewani kolesterol banyak terdapat pada daging, hati, otak, dan kuning telur (Wiradimadja, 2007). Kolesterol adalah bagian terpenting di dalam struktur membran sel yang berfungsi sebagai perkursor hormon steroid dalam kelenjar adrenal, dan sebagai perkursor asam empedu di hati (Marinetti, 1990). Menurut Muchtadi (1993) jika jumlah kolesterol yang berasal dari makanan sedikit maka sintesis kolesterol dalam hati dan usus meningkat untuk memenuhi kebutuhan jaringan dan organ lain, sebaliknya jika jumlah kolesterol dalam makanan meningkat maka sintesis kolesterol di hati dan usus menurun.
Kolesterol memiliki sejumlah fungsi penting untuk kelangsungan hidup sel dan biologis steroid, dan sebagai komponen lemak kuning telur, mewakili sumber nutrien utama untuk embrio anak ayam (Speake et al., 1998). Kuning telur juga kaya akan sumber kolesterol pada pangan manusia. Namun, tingginya konsumsi kuning telur dapat meningkatkan resiko penyakit jantung koroner (Weggmass et al., 2001). Daging dan produk daging merupakan sumber kolesterol yang sesungguhnya pada pangan manusia (Valsta et al., 2005).
Sumber: Hames dan Hooper (2000)
13 Kolesterol diklasifikasikan ke dalam golongan lipid (lemak), berkomponen alkohol steroid, sebagian besar berfungsi sebagai sumber kalori serta memberikan nilai tambah terhadap citra makanan (Sitepoe, 1993). Kolesterol diperlukan oleh tubuh antara lain untuk sistesis asam/garam empedu yang diperlukan untuk proses pencernaan lemak atau minyak, sintesis vitamin D dan sebagai komponen membran sel (Muchtadi, 1992). Selanjutnya disampaikan bahwa kolesterol juga sebagai perkursor dari pengeluaran asam empedu yang disintesa di hati dan berfungsi untuk menyerap trigliserida dan vitamin larut lemak dari makanan, serta sebagai perkursor dari hormon steroid, estrogen, dan testosteron.
Kolesterol yang bersumber dari makanan berasal dari bahan pangan hewani. Pada kondisi normal, kolesterol disintesa dalam tubuh sejumlah dua kali dari kadar kolesterol di dalam makanan yang dimakan. Kolesterol yang disintesa diubah menjadi jaringan, hormon dan vitamin yang kemudian beredar ke dalam tubuh melalui darah. Namun, kolesterol ada yang kembali ke hati untuk diubah menjadi asam empedu dan garam. Pada keadaan normal bila terjadi ganguan konsumsi kolesterol, maka akan terjadi mekanisme untuk mempertahankan keseimbangan kolesterol dengan semua faktor sebagai mekanisme pertahanan.
Lemak
Lemak adalah sebuah grup zat yang ditemukan pada jaringan tanaman dan hewan. Lemak tidak dapat larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik seperti benzena, eter, dan klorofom. Lemak bereaksi sebagai pembawa elektron, pembawa substrat dalam reaksi enzim, sebagai komponen dari membran biologi, sumber dan tempat penyimpanan energi (McDonald et al., 2002).
14 Pada unggas lemak merupakan bahan penting yang harus terkandung dalam bahan pakan, selain menyumbangkan energi, lemak dapat berfungsi dalam memperbaiki konsistensi fisik dari pakan dan dispersi dari campuran bahan-bahan mikro seperti vitamin dalam pakan. Pentingnya karakterisasi kualitas lemak dapat mempengaruhi nilai dan keamanan nutrisi pakan. Karakteristik atau sifat dari lemak digunakan untuk menaksir nilai nutrisi mencakup kelembapan, ketidakmurnian, asam lemak terbang, total asam lemak, dan komposisi asam lemak. Lemak dalam pakan unggas harus stabil dalam melawan oksidasi (NRP, 1984)
Vitamin A
Vitamin A merupakan zat yang sangat larut dalam pelarut organik, namun tidak larut dalam cairan-cairan yang mengandung molekul air. Provitamin utama ialah karotenoid dan beta-karoten yang mempunyai daya larut yang sama seperti vitamin A (Piliang, 2008). Pada tanaman karotenoid mempunyai warna kuning, orange, atau merah tetapi umumnya tertutup oleh warna hijau dari klorofil. Karotenoid tebagi dalam 2 macam yaitu karoten dan xantofil (MCDonald et al., 2002). Karoten yang paling banyak diketahui adalah alpha-, betha-, dan gamma- karoten. Karoten yang paling penting untuk hewan dan manusia adalah betha karoten, mempunyai aktivitas provitamin terbesar (Yuliani dan Marwati, 1997).
Beberapa bahan makanan yang umumnya dipakai sebagai sumber vitamin A antara lain produk sapi perah seperti keju, dan susu sapi, organ bagian dalam seperti ginjal dan jantung, juga beberapa jenis ikan seperti ikan tuna. Sumber yang paling kaya dengan vitamin A yang berasal dari hewan yaitu minyak hati ikan laut sedangkan dari tumbuhan yaitu minyak kelapa sawit, yang mengandung sekitar 0,5 mg/ml campuran alpha dan beta-karoten. Biji-bijian serealia umumnya mengandung sedikit vitamin A, terutama jika digiling.
15 yang berfungsi sebagai alat untuk mentransport vitamin A dan karotenoid ke dalam usus halus, juga sebagai zat yang merangsang aliran empedu.
Absorspsi vitamin A dalam ransum secara keseluruhan berkisar antara 80-90%. Kebutuhan vitamin A dalam ransum hewan tergantung pada umur, jenis kelamin, kecepatan pertumbuhan, adanya komponen lain dalam ransum , aktivitas fisik, konsumsi kalori dan stress. Unggas sangat cepat terpengaruh akibat defisiensi vitamin A, tanda-tandanya timbul pada anak ayam yang sedang tumbuh dalam waktu 3 - 4 minggu berupa hilangnya nafsu makan dan menurunya pertumbuhan. Pada unggas fase produksi dapat menurunkan produksi telur dan daya tetas telur.
Kandungan lemak dalam makanan sangat merangsang absorpsi karotenoid dan vitamin A, yakni melalui peningkatan kontraksi kantung empedu dan melalui penyediaan lemak yang membantu transpor serta absorpsi vitamin A. Piliang (2008) melaporkan bahwa usus halus merupakan organ pertama yang berperan dalam mengkonversi provitamin A menjadi vitamin A. Kandungan vitamin A dalam serum darah tidak mencerminkan jumlah simpanan vitamin A dalam hati, kecuali pada kondisi dimana simpanan vitamin A di dalam hati sudah tidak ada sama sekali. Dalam kondisi ini kadar vitamin A di serum akan turun secara cepat. Rendahnya kandungan vitamin A dalam serum menunjukan defisiensi vitamin A. Struktur kimia vitamin A dapat dilihat pada Gambar 4.
Vitamin E
Vitamin E fungsi yang paling utama adalah sebagai antioksidan dan anti radikal bebas. Bila defisiensi vitamin E terjadi pada hewan dan manusia, maka akan terjadi proses oksidasi lemak terutama peroksidasi antara lain asam-asam lemak tidak jenuh dan kolesterol dalam membran sel dan di tempat lain dimana ada akumulasi lemak (Linder, 1992). Groff dan Sareen (2005) menambahkan bahwa fungsi vitamin
Sumber: (MCDonald et al., 2002)
16 Gambar 5. Struktur Kimia Vitamin E
E memelihara integritas sel tubuh, mencegah peroksidasi asam-asam lemak tak jenuh yang berada pada phospolipid membran seluler, membran mitokondria dan endoplasmik retikulum.
Sumber – sumber vitamin E tidak disimpan di dalam tubuh hewan dalam jumlah yang banyak dan dalam jangka waktu yang panjang, tatapi vitamin E terdistribusi secara luas dalam makanan. Makanan ternak yang berwarna hijau
merupakan sumber α tochoperol yang baik, rumput muda menjadi sumber vitamin E
yang lebih baik dibandingkan dengan rumput yang sudah dewasa. Daun mengandung vitamin E 20-30 kali sama besarnya dengan kandungan vitamin E yang ada di batang. Secara umum produk hewan sedikit mengandung vitamin E, dan persentase
kandungan tergantung dari level vitamin E yang terdapat di dalam pakan. Sintesis α
tochoperol dan asetat tersedia sebagai persediaan komersial (MCDonald et al., 2002) Metabolisme absorbsi vitamin E berhubungan dengan pencernaan lemak, dipermudah dengan adanya empedu dan lipase pankreas. Usus halus merupakan tempat utama absorbsi vitamin E dalam bentuk alkohol bebas maupun ester, sebagian besar vitamin E diabsorpsi sebagai alkohol kemudian memasuki usus dan ditranspor ke seluruh sirkulasi darah melalui kelenjar getah bening. Aktivitas terbesar vitamin E
pada plasma dan jaringan hewan dalam bentuk α-tochoperol. Tocopherol termasuk
ke dalam sistem sirkulasi, menyebar ke seluruh jaringan tubuh, terutama disimpan ke dalam jaringan adiposa, hati dan otot, penyimpanan terbesar berada pada hati. Sejumlah kecil vitamin E akan tersimpan di dalam tubuh dalam waktu yang lama. Jalur ekskresi utama dari absorbsi vitamin E adalah empedu. Biasaya kurang dari 1% konsumsi vitamin E akan diekskresikan melalui urine (Piliang, 2008). Struktur kimia vitamin E dapat dilihat pada Gambar 5.
17
MATERI DAN METODE
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni sampai September 2009. Pemeliharaan puyuh dilaksanakan di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Unggas. Puyuh dan ransum selama penelitian diperoleh dari peternakan puyuh di daerah Cemplang, Cibatok, Bogor, Jawa Barat.
Analisis ransum konntrol serta tepung daun katuk dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Analisis kolesterol, lemak, vitamin A dan E serta uji fitokimia tepung daun katuk dilakukan di Laboratorium Biokimia, Fakultas MIPA. Pembuatan ekstrak tepung daun katuk dilakukan di Laboratorium Balitro (Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik) serta uji fitokimia ekstrak tepung daun katuk dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ikan Fakultas Perikanan Institut Pertanian Bogor.
Materi
Ternak dan Bahan
Penelitian ini menggunakan ternak puyuh (Coturnix coturnix japonica) betina berumur 8 minggu sebanyak 208 ekor, ditempatkan dalam kandang baterei dan dibagi menjadi 4 perlakuan dengan 4 ulangan yang masing-masing ulangan terdiri dari 13 ekor puyuh, dan bahan perlakuan yaitu ekstrak tepung daun katuk (ETDK ) dan tepung daun katuk (TDK).
Peralatan dan Perlengkapan
18
Metode
Pembuatan Tepung Daun Katuk (TDK)
Pembuatan tepung daun katuk menurut Suprayogi (1995) yaitu dengan cara melayukan daun katuk segar di udara terbuka selama 1-2 hari kemudian dioven pada suhu 60oC selama 2 jam. Selanjutnya katuk dikeluarkan dari oven dan digiling sampai berbentuk tepung halus. Pembuatan tepung daun katuk dapat dilihat pada Gambar 6.
Gambar 6. Skema Pembuatan Tepung Daun Katuk (TDK)
Pembuatan Ekstrak Tepung Daun Katuk (ETDK)
Pembuatan ekstrak tepung daun katuk dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Simplisia merupakan bahan alamiah yaitu tepung daun katuk yang belum mengalami pengolahan apapun kecuali telah dikeringkan. Pembuatan ekstrak tepung daun katuk dapat dilihat pada Gambar 7.
Digiling
19
Pencampuran Ransum
Ransum basal yang diperoleh dari peternakan puyuh dicampurkan dengan 0,15% ETDK, 0,30% ETDK, dan 10% TDK. Pencampuran ransum basal dengan ETDK diawali dengan penimbangan ekstrak sesuai dengan kebutuhan perlakuan R1 dan R2, kemudian ekstrak dicampurkan sedikit demi sedikit dengan ransum secara manual menggunakan tangan.
Pencampuran ransum basal dengan TDK diawali dengan penimbangan tepung daun katuk sebanyak 10% dari berat ransum, kemudian berat ransum dikurangi sebanyak berat tepung daun katuk. Setelah diperoleh berat masing-masing (tepung daun katuk dan ransum) dicampurkan sedikit demi sedikit secara manual hingga homogen. Pembuatan ransum dilakukan setiap 1 minggu sekali. Kandungan nutrien ransum kontrol, tepung daun katuk dan ekstrak tepung daun katuk disajikan pada Tabel 2, kandungan nutrien ransum perlakuan berdasarkan perhitungan dapat dilihat pada Tabel 3, serta kandungan fitokimia ekstrak tepung daun katuk dan tepung daun katuk berdasarkan uji kualitatif ditunjukan pada Tabel 4.
Tabel 2. Kandungan Nutrien dari Ransum Kontrol, TDK dan ETDK (As fed)
Keterangan: * Berdasarkan hasil analisis Laboratorium INTP, FAPET, IPB 2010 ** Berdasarkan hasil analisis Laboratorium INTP, FAPET, IPB 2010 *** Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Nutrisi Ikan, FPIK, IPB 2011
Nutrien (%) Bahan Penelitian
Ransum kontrol* TDK** ETDK***
Bahan Kering (%) 87,59 83,96 70,35
Abu (%) 10,45 8,36 5.65
Protein Kasar (%) 18,21 30,68 19
Serat Kasar (%) 9.58 15,89 0,21
Lemak Kasar (%) 5,61 4,58 2,40
Beta-N (%) 43,74 24,45 43,21
Ca (%) 3,58 1,03 0,05
P (%) 1,25 0,8 0,03
20 Tabel 3. Kandungan Nutrien Setiap Ransum Berdasarkan Perhitungan
Nutrien Ransum
Ransum kontrol 0,15% ETDK 0,30% ETDK 10% TDK
Bahan Kering (%) 87,59 87,56 87,54 87,23
Abu (%) 10,45 10,44 10,44 10,24
Protein Kasar (%) 18,21 18,21 18,21 19,46
Serat Kasar (%) 9,58 9,57 9,55 10,21
Lemak Kasar (%) 5,61 5,61 5,60 5,51
Beta-N (%) 43,74 43,74 43,74 41,81
Ca (%) 3,58 3,57 3,57 3,33
P (%) 1,25 1,25 1,25 1,21
Energi Bruto (Kal/g) 3980 3978 3977 3963,2
Perlakuan
Penelitian ini menggunakan 4 ransum perlakuan yang dibedakan berdasarkan level dan bentuk pemberian daun katuk, yakni:
R0 : Ransum kontrol tanpa pemberian ekstrak dan tepung daun katuk R1 : Ransum mengandung ekstrak tepung daun katuk 0,15%
R2 : Ransum mengandung ekstrak tepung daun katuk 0,30% R3 : Ransum mengandung tepung daun katuk 10%
Pemberian ransum R3 (10% TDK) setara kandungan fitosterol dengan R1 (0,15% ETDK) dalam ransum.
Jenis Fitokimia Hasil
ETDK* TDK**
Alkaloid (+) (-)
Flavonoid (++) (+)
Fenol (-) (+)
Glikosida Steroid (+++) (+++)
Sterol Triterpenoid (+++) (+)
Tanin (+) (+++)
Saponin (-) (+++)
Tabel 4. Kandungan Fitokimia ETDK dan TDK Hasil Uji Kualitatif
21
Pemeliharaan
Penelitian dilakukan selama 6 minggu. Kegiatan selama pemeliharaan yaitu setiap hari dilakukan pembersihan kandang, tempat pakan, tempat air minum, serta lingkungan sekitar kandang pemeliharaan. Penimbangan bobot badan puyuh dilakukan sebelum diberikan perlakuan dan di akhir penelitian. Untuk mengurangi cekaman stress dan panas diberi larutan Vita Stres sebelum dan sesudah penimbangan. Pakan diberikan sesuai kebutuhan puyuh yaitu 25 g/ekor/hari, diberikan dua kali pada jam 06.00 dan 15.00. Bentuk fisik pakan yang diberikan yaitu mash sesuai dengan perlakuan masing-masing serta air minum diberikan ad libitum.
Prosedur Analisis Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh
Kadar kolesterol daging, hati dan telur diukur pada akhir penelitian dan dianalisis di Laboratorium Biokimia, Fakultas MIPA, IPB. Pengukuran kadar kolesterol dilakukan berdasarkan Metode Liebermann-Burchad (Kleiner dan Dotti, 1962). Sampel yang dianalisis merupakan sampel yang dari 4 ulangan dalam 1 perlakuan. Adapun caranya adalah sebagai berikut: sampel ditimbang sebanyak ± 0,2 g dimasukan ke dalam tabung sentrifuse berskala 15 ml, kemudian ditambahkan campuran alkohol eter 3:1 sebanyak 12 ml dan diaduk hingga bercampur dengan baik. Larutan didiamkan sambil dikocok sekali dua kali salama 30 menit. Pengaduk dibilas dengan alkohol eter 3:1 dan volume disetarakan menjadi 15 ml, lalu di sentrifuse dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit.
Supernatan yang terbentuk dimasukan ke dalam gelas piala 50 ml dan dipanaskan pada penangas air sampai kering. Ekstrak residu dilarutkan dengan 2,5 khloroform sedikit demi sedikit atau dicuci sebanyak 2 kali atau dimasukan ke dalam tabung reaksi 10 ml untuk disetarakan volumenya menjadi 5 ml. Lima ml kolesterol standar (0,4 mg kolesterol dan 5 ml khoroform) dimasukan ke dalam tabung reaksi yang lain. Keduanya ditambahkan 2 ml asetat anhidrida dan 100 µl H2SO4 pekat, kemudian dikocok sampai timbul warna hijau dan disimpan selama 15 menit di ruang gelap, selanjutnya pembacaan dengan menggunakan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm. Nilai kolesterol diperoleh dari perhitungan dengan rumus sebagai berikut :
22
Prosedur Analisis Kandungan Lemak Daging, Hati dan Telur Puyuh
Kadar lemak daging, hati dan telur diukur pada akhir penelitian dan dianalisis di Laboratorium Biokimia, Fakultas MIPA, IPB. Pengukuran kadar kolesterol dilakukan berdasarkan Metode Sochlet. Metoda analisis ini adalah sebuah labu lemak dengan beberapa butir batu didih di dalamnya, dalam oven dikeringkan dengan suhu 105-110 oC selama 1 jam, dalam eksikator didinginkan selama selama 1 jam dan ditimbang dengan berat a g. Contoh ditimbang kira-kira 1 g dengan catatan jumlah contoh juga tergantung dengan kadar lemak bahan. Contoh tersebut dimasukan ke dalam selongsong yang terbuat dari kertas saring dan ditutup dengan kapas yang bebas lemak. Selongsong dimasukan ke dalam alat fatex-s dan ditambahkan larutan petroleum ether sebagai larutan pengekstrak. Suhu diatur pada alat fatex-s pada suhu 60oC dan waktu selama 25 menit. Proses ekstraksi dilakukan sampai alat berbunyi, kemudian diturunkan larutan petroleum ether bersama lemak yang telah larut. Proses evaporasi dilakukan dengan merubah suhu pada 105oC sampai alat fatex-s berbunyi. Proses ini dilakukan sebanyak 2 kali proses ekstraksi dan evaporasi. Selanjutnya labu lemak dikeringkan dalam alat pengering oven dengan suhu 10oC selama kira-kira 1 jam, setelah itu didinginkan di dalam eksikator selama 1 jam dan ditimbang kembali dengan berat b g.
Perhitungan lemak kasar adalah sebagai berikut:
Kadar lemak kasar = x 100% Keterangan:
b : berat labu lemak kosong
a : berat labu lemak setelah dari oven x : berat sampel
Prosedur Analisis Kandungan Vitamin A Daging, Hati dan Telur Puyuh
23 KOH, divortex selama 10 detik. Selanjutnya dilanjutkan saponifikasi dengan
menyimpan pada “waterbath” dengan suhu 80o
C selama 30 menit, lalu disimpan
pada” ice bath” selama 2 menit. Selanjutnya ke dalam campuran dimasukan 3 ml
“heksan” dan dikocok selama 10 detik, kemudian ditambahkan 3 ml aquades dan
dikocok selama 10 detik.
Campuran tersebut disimpan dalam lemari es sampai lapisan organik dan air
terpisah. Selanjutnya diambil 2,6 ml lapisan “heksan” (supernatan) dan dipisah
dalam tabung lain (A). Kemudian sisanya ditambahkan lagi sebanyak 2 ml heksan dan dikocok selama 10 detik dan disimpan dalam lemari es sampai lapisan organik dan air terpisah dan dimasukan dalam tabung (A) tadi. Selanjutnya supernatan (tabung A) dicuci dengan 4,6 ml asam asetat 5%, dan lapisan organik dipindahkan sebanyak yang bisa diambil, lalu dikeringkan dengan aliran nitrogen, lalu terakhir dilarutkan dalam 3 ml fase mobil sebelum diinjeksikan 50 µl dalam instrument HPLC.
Pembuatan standar eksternal retinyl palmitat adalah sebagai berikut:
1. Stock Standar Solution: 10 mg/ml retinyl palmitat dalam heksan. 1 g retinyl palmitat (USP Reference Standar) dilarutkan dalam 100 ml heksan, dikocok sampai terlarut sempurna.
2. Intermediate Standar Solution: 2 ml stock standar solution dipipet dan dimasukan dalam 250 ml volumetric flask lalu diencerkan dengan 250 ml heksan.
3. Working Standar Solution: sekitar 1,6 µl/ml retinyl palmitat. 2 ml Intermediate Standar Solution, dipipet dan dimasukan dalam 100 ml volumetric flask dan diencerkan dengan heksan.
Untuk mengukur konsentrasi dari Working Standar Solution diambil 2 ml Intermediate Standar Solution dan diencerkan dengan heksan dalam 50 ml volumetric flask. Kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometri.
Cst = {A325/(2x∑xb)} x 104 Cstd : Konsentrasi standar
A325 : Absorbansi Working Standar Solution pada 325 nm
24 Perhitungan kadungan vitamin A dan beta karoten yang menggunakan standar eksternal adalah seebagai berikut:
[Retinol] : L1 x S x V L2 B Keterangan
[Retinol] : Konsentrasi Retinol (µg/g)
L1 : Luas peak sampel yang memiliki waktu retensi yang sama dengan waktu retensi standar eksternal retinol dilihat dari kromatogram HPLC
L2 : Luas peak standar terinol
S : Konsentrasi standar retinol (µg/µl atau µg/ml) V : Volume akhir yang siap disuntikan pada HPLC B : Berat sampel yang diekstrak
Prosedur Analisis Kandungan Vitamin E Daging, Hati dan Telur Puyuh
Sampel disiapkan dengan menimbang 0,5 g sampel dan dimasukan ke dalam labu ukur 20 ml dan ditambahkan enzim makatase 40 mg dan 2 ml amonia 0,02%. Campuran tersebut dimasukan ke dalam ultrasonik selama 20 menit pada suhu 65oC. Lalu campuran tersebut didinginkan pada suhu ruang dan ditambahkan etanol 10 ml dan dimasukan kembali dalam ultrasonik selama 10 menit. Kemudian larutan ditambahkan etanol hingga volumenya mejadi 20 ml, dan dikocok kembali. Selanjutnya larutan disentrifus dan 5 ml supernatan diambil dan dimasukan ke dalam labu ukur 5 ml. Larutan siap diinjeksikan ke HPLC. Kondisi alat HPLC adalah kolom C-18, fase gerak metanol 98%, laju fase gerak 1,2 ml/menit, dan detektor UV dengan panjang gelombang 254 nm.
Perhitungan:
Kadar vitamin E: Luas area sampel x 25 ppm x 10 Luas area standar 0,5 Keterangan
25 ppm : Konsentrasi standar 10 : Volume akhir (ml)
25
Peubah yang Diamati
1. Kandungan kolesterol dalam daging, hati dan telur 2. Kandungan lemak dalam daging, hati dan telur
3. Kandungan vitamin A dan E dalam daging, hati dan telur
4. Konsumsi ransum (g/ekor/hari). Konsumsi ransum dihitung dari selisih ransum yang diberikan dengan sisa ransum yang dikumpulkan setiap minggu.
5. Produksi Telur Hen day (%). Produksi Telur Hen Day dihitung dari jumlah telur yang diproduksi selama satu minggu dibagi dengan jumlah puyuh yang ada pada minggu tersebut.
6. Massa telur (g). Produksi massa telur puyuh dihitung dengan cara mengalikan produksi telur selama penelitian dengan rataan bobot telur harian.
7. Bobot telur (g/butir). Bobot telur dihitung dari produksi telur puyuh/ hari.
Konversi ransum. Konversi ransum dihitung dari jumlah ransum yang dikonsumsi dibagi dengan massa telur.
8. Warna kuning telur. Warna kuning telur diukur dengan menggunakan alat Yolk colour fan.
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Model matematik dari rancangan yang digunakan adalah :
Yij= µ + τi+ εij
Keterangan:
Yij = Nilai pengamatan pada ulangan ke-j dan perlakuan ke-i µ = Nilai rataan umum
τi = Pengaruh perlakuan ke-i (suplementasi)
εij = Error perlakuan ke-i dan ulangan ke-j
26
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh
Analisis terhadap kandungan kolesterol daging, hati dan telur dilakukan saat puyuh berumur 14 minggu, diperlihatkan pada Tabel 5 dan Gambar 8 kandungan kolesterol daging, hati dan telur puyuh setelah 6 minggu diberi ETDK dan TDK dalam ransum.
Tabel 5. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh
Keterangan : R0 = Ransum kontrol
R1 = Ransum kontrol+0,15% ETDK R2 = Ransum kontrol+0,30% ETDK R3 = Ransum kontrol+10% TDK
Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Biokimia, Fakultas MIPA, IPB 2010
Kandungan kolesterol daging, hati dan telur terendah pada Tabel 5 diperlihatkan pada kelompok puyuh yang diberi ransum mengandung 10% TDK. Kandungan kolesterol pada hati dan telur menurun dengan meningkatnya level pemberian ETDK. Pada hati pemberian 0,15% ETDK dalam ransum dapat menurunkan 2,92% kolesterol terhadap kontrol, sedangkan peningkatan taraf 0,30% ETDK dalam ransum dapat menurukan kolesterol lebih rendah sebesar 22,81% terhadap kontrol.
Penurunan kandungan kolesterol pada telur dengan pemberian ETDK 0,15% dalam ransum sebesar 13,86% terhadap kontrol, dengan peningkatan taraf pemberian ETDK 0,30% kandungan kolesterol menurun dibawah R1 (0,15% ETDK) sebesar 19,86% terhadap kontrol. Kelompok puyuh yang diberikan ransum 10% TDK dalam ransum menyebabkan penurunan kandugan kolesterol lebih besar dibandingkan dengan kelompok puyuh yang diberikan ETDK dalam ransum yaitu sebesar 35,8% terhadap kontrol.
Grafik kandungan kolesterol pada daging, hati dan telur (Gambar 8) menunjukan penurunan maksimal dicapai dengan pemberian 10% TDK dalam
Kolesterol (mg/%)
Perlakuan
R0 R1 R2 R3
Daging 1,2 1,16 1,35 1,1
Hati 3,77 3,66 2,91 2,92
27 ransum. Persentase nilai penurunan kandungan kolesterol pada daging, hati dan telur masing 8,3%, 22,55%, 35,58% terhadap puyuh yang tidak diberi perlakuan ETDK dan TDK (R0). Penurunan kandungan kolesterol dengan pemberian ETDK dipengaruhi adanya senyawa aktif (fitosterol) yang terkandung di dalam daun katuk. Faktor senyawa aktif dalam menurunkan kolesterol juga didukung peran serat pada kelompok puyuh yang diberi 10% TDK.
Gambar 8. Grafik Kandungan Kolesterol pada Daging, Hati dan Telur Puyuh Penurunan kandungan kolesterol karena peran serat sudah dibuktikan oleh beberapa penelitian. Nasution (2005) melaporkan bahwa pemberian 15% TDK lebih besar menurunkan kandungan kolesterol dibandingkan dengan 5% dan 10% TDK pada daging dan hati ayam broiler. Hal yang sama juga ditemukan pada pemberian 15% TDK dalam ransum dapat menurunkan kolesterol kuning telur, karkas dan hati ayam petelur (Saragih, 2005). Serat mempunyai kemampuan untuk mengikat asam empedu. Asam empedu merupakan hasil akhir dari metabolisme kolesterol. Semakin banyak serat yang berikatan dengan kolesterol, maka semakin banyak kolesterol yang dimetabolis, sehingga akhirnya menurun. Sedangkan peran fitosterol terutama stigmasterol dapat menurunkan kolesterol dalam kuning telur, hati, dan karkas puyuh perlakuan (Subekti, 2007). Kadar kolesterol hati terlihat jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daging dan telur, hal ini karena hati merupakan tempat sintesis kolesterol utama selain usus, kulit, testis, dan aorta. Selain itu merupakan organ yang paling tinggi perananya dalam sistesis kolesterol.
28
Kandungan Lemak Daging, Hati dan Telur Puyuh
Pada penelitian ini lemak yang dianalisis adalah lemak dada dan lemak paha. Tabel 6 memperlihatkan kadar lemak daging, hati dan telur setelah puyuh berumur 14 minggu.
Tabel 6. Kandungan Lemak Daging, Hati dan Telur Puyuh
Keterangan : R0 = Ransum kontrol
R1 = Ransum kontrol+0,15% ETDK R2 = Ransum kontrol+0,30% ETDK R3 = Ransum kontrol+10% TDK
Berdasarkan hasil analisis Laboratorium Biokimia, Fakultas MIPA, IPB 2010
Trend yang sama penurunan kolesterol di hati dan telur juga terjadi pada lemak. Kandungan lemak di hati dengan pemberian 0,15% ETDK dalam ransum mengalami penurunan 3,21% terhadap kontrol, dan dengan pemberian 0,30% ETDK dapat menurunkan 9,62% lemak terhadap kontrol. Pemberian 10% TDK dalam ransum menurunkan lemak cenderung lebih tinggi 11,06% dibandingkan ETDK. Hal ini juga terjadi pada telur yang mengalami penurunan 3,21% dan 9,62% terhadap kontrol dengan pemberian ETDK masing-masing 0,15% dan 0,30% dalam ransum.
Penurunan kandungan lemak di hati, daging, dan telur seiring dengan penurunan kolesterol, karena kolesterol merupakan sejenis lipid yang memiliki bentuk molekul lemak atau yang menyerupainya, atau kolesterol termasuk jenis khusus lipid yang disebut steroid. Pemberian daun katuk dalam bentuk ekstrak dan tepung dapat meberikan efek penghambatan terhadap sintesis cairan empedu, sehingga sekresi cairan empedu menururun.
Lipid (%) Perlakuan
R0 R1 R2 R3
Daging 3,85 3,25 3,93 2,96
Hati 6,24 6,04 5,64 5,55
29
Gambar 9. Grafik Kandungan Lemak pada Daging, Hati dan Telur Puyuh Faktor yang mempengaruhi penurunan lemak kemungkinan besar didominasi peran serat, pendugaan ini berdasarkan dari hasil persentase penurunan lemak dengan pemberian 10% TDK mampu menurunkan lemak lebih besar 23,12%, 11,06%, 11,06%, masing-masing di hati, daging dan telur terhadap ransum kontrol (R0). Mekanisme penurunan lemak dengan menggunakan bahan pakan beserat kasar diduga terjadi karena sifat makanan berserat adalah amba (bulky), sehingga ada kecenderungan transit time sangat singkat dan berdampak pada penurunan penyerapan nutrien (Wiradimadja, 2007).
Kandungan Vitamin A dan E pada Daging, Hati dan Telur Puyuh
Hasil analisis kandungan vitamin A dan E pada ransum menunjukan bahwa penambahan 10% TDK dalam ransum meningkatkan kandungan vitamin A dan E pada daging, hati dan telur. Sedangkan dengan penambahan 0,15% dan 0,30% ETDK dalam ransum pada hati dan telur cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok puyuh tanpa pemberian ETDK dan TDK (R0), hal tersebut diduga karena senyawa aktif yang terdapat di dalam ekstrak tepung daun katuk tidak terekstrak secara sempurna. Kandungan vitamin A dan E di dalam daging pada puyuh yang diberi TDK 10% dalam ransum, lebih tinggi dibandingkan puyuh tanpa perlakuan (R0) dan puyuh yang diberi ETDK (R1 dan R2), hal ini kemungkinan disebabkan komponen zat aktif dan nutrien yang terdapat di dalam tepung daun katuk termanfaatkan secara baik dalam tubuh puyuh.
30
Tabel 7. Kandungan Vitamin A dan E pada Hati, Daging, dan Telur Puyuh
Keterangan : R0 = Ransum kontrol
R1 = Ransum kontrol+0,15% ETDK R2 = Ransum kontrol+0,30% ETDK R3 = Ransum kontrol+10% TDK
Persentase peningkatan kandungan vitamin A pada daging (Gambar 10) dengan pemberian 0,15% dan 0,30% ETDK dalam ransum sebesar 2,44% dan 16,81%, terjadinya peningkatan dengan pemberian ETDK 2 kali lebih besar disebabkan karena kandungan ETDK pada ransum R2 lebih besar dibandingkan R1 sehingga kandungan vitamin A yang terdeposisi pada daging lebih besar. Gambar 10 memperlihatkan bahwa kandungan vitamin A yang terdeposisi tertinggi di telur, hal tersebut dimungkinkan karena pada hewan-hewan yang menghasilkan produk ternak, jika diberikan perlakuan maka pengaruh terbesar diperlihatkan pada produk yang dihasilkan.
Gambar 10. Grafik Kandungan Vitamin A pada Hati, Daging, dan Telur Puyuh
31
Gambar 11. Grafik Kandungan Vitamin E pada Hati, Daging, dan Telur Puyuh Trend yang sama diperlihatkan pada peningkatan kandungan vitamin E tertinggi terjadi di telur dan pengaruh pemberian 10% TDK dalam ransum cenderung lebih mampu meningkatkan kandungan vitamin E terhadap kelompok puyuh yang tidak diberi perlakuan ETDK dan TDK (R0). Kandungan vitamin E di hati dengan pemberian 0,15% dan 0,30% ETDK cenderung lebih rendah dibandingkan kelompok puyuh yang tidak mendapat perlakuan ransum (R0) terjadi juga pada penelitian Subekti (2003). Pada penelitian tersebut kandungan vitamin A dalam kuning telur cenderung turun dengan penambahan 3% dan 6% TDK dalam ransum.
Performa Puyuh
Performa puyuh yang diteliti meliputi konsumsi ransum, Hen day, bobot telur, massa telur, konversi ransum, dan warna kuning telur. Pengaruh perlakuan berbeda sangat nyata diperoleh pada skor warna kuning telur, sedangkan peubah lainya tidak berbeda nyata. Performa puyuh secara keseluruhan pada penelitian ini disajikan pada Tabel 8.
Nilai performa puyuh yang diperoleh menunjukan hasil yang beragam, hal ini dikarenakan beberapa faktor salah satunya adalah perbedaan kandungan nutrien tepung daun katuk dengan ekstrak tepung daun katuk (Tabel 2) dan kandungan fitokimia yang ada di dalamnya (Tabel 4). Kandungan fitokimia pada daun katuk dengan metode pembuatan tepung dan ekstrak memberikan nilai yang cukup signifikan berbeda. Contoh, pada daun katuk mengandung anti nutrisi yaitu saponin
32 dan tannin, bentuk ekstrak memiliki nilai saponin (-) dan tannin (+) sedangkan pada bentuk tepung saponin yang terkandung bernilai (+++) begitu juga tannin (+++).
Secara umum saponin dan tannin dalam pakan unggas dapat menekan pertumbuhan, karena dapat menekan retensi nitrogen dan menurunkan daya cerna asam-asam amino yang seharusnya dapat diserap oleh villi-villi usus dan dimanfaatkan untuk pertumbuhan dan perkembangan jaringan-jaringan tubuh sehingga mampu menghambat penampilan produksi dari ternak unggas (Wardiny, 2006). Pembahasan setiap bagian dari performa puyuh disajikan pada lembaran berikutnya.
Tabel 8. Konsumsi Ransum, Produksi Telur Hen Day, Bobot Telur, Massa Telur, Konversi Ransum, Skor Warna Kuning Telur Puyuh
Keterangan : R0 = Ransum kontrol
R1 = Ransum kontrol+0,15% ETDK R2 = Ransum kontrol+0,30% ETDK R3 = Ransum kontrol+10% TDK
Huruf superskrip yang berbeda pada baris menunjukan hasil yang berbeda sangat nyata (P<0,01)
Konsumsi Puyuh
33 mengandung zat anti nutrisi seperti tanin, saponin, alkaloid, dan flavonoid. Rataan konsumsi puyuh diperlihatkan pada Gambar 3.
Keterangan :
R0 = Ransum kontrol
R1 = Ransum kontrol+0,15% ETDK R2 = Ransum kontrol+0,30% ETDK R3 = Ransum kontrol+10% TDK
Gambar 12. Rataan Konsumsi Ransum Puyuh Selama Penelitian
Pemberian ETDK dan TDK tidak memberikan pengaruh nyata terhadap konsumsi ransum. Rataan konsumsi terendah (17,53 g/e/h) diperoleh pada puyuh yang mendapatkan perlakuan tepung daun katuk (R3). Tingginya pemberian tepung daun katuk 10% dalam ransum menyebabkan rendahnya konsumsi. Hal ini sejalan dengan penelitian Wiradimadja (2007) bahwa dengan pemberian 15% tepung daun katuk dalam ransum dapat menurunkan kosumsi dibandingkan puyuh yang tidak diberi tepung daun katuk, karena ransum yang mengandung serat kasar tinggi bersifat bulky sehingga puyuh akan cepat kenyang dan menyebabkan unggas mengkonsumsi sedikit ransum.
Produksi Telur Hen Day
Rataan produksi telur Hen day (Gambar 13) pada perlakuan ransum yang mengandung 10% TDK (R3) paling rendah dibandingkan dengan puyuh yang diberi ETDK dan puyuh yang tidak diberi perlakuan TDK dan ETDK (R0). Pemberian ETDK 0,15% dan 0,30% dalam ransum memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan pemberian TDK 10% dalam ransum. Kandungan serat kasar
34 yang terdapat dalam ETDK lebih rendah (9,57% dan 9,55%) dibandingkan dengan ransum yang mengandung 10% TDK (10,21%). Hal ini erat kaitanya dengan konsumsi ransum yang lebih rendah (R3) sehingga memberikan indikasi TDK mempunyai aktivitas yang dapat menggangu laju produksi telur, kemudian dihubungkan juga dengan kemampuan TDK dalam menghambat sistesis kolesterol. Kolesterol berfungsi dalam pembentukan hormon estrogen, dengan rendahnya kolesterol akan menghambat sistesis estrogen oleh ovarium sehingga pembentukan folike-folikel sel telur akan terhambat, dan akhirnya berpengaruh terhadap produksi telur (Wiradimadja, 2007).
Gambar 13. Produksi Telur Hen Day Selama Penelitian
Bobot Telur
Grafik bobot telur yang tidak berbeda nyata ditunjukan pada Gambar 14. Perlakuan kontrol dengan perlakuan pemberian ETDK dan TDK memberikan selisih yang sangat kecil. Bobot telur yang tidak berbeda nyata ini disebabkan karena kandungan nutrien ransum hampir sama pada semua perlakuan. Ini berarti pemberian ETDK dan TDK dalam ransum tidak mempengaruhi bobot telur. Perolehan bobot telur saat penelitian, dengan pemberian 10% TDK (Gambar 14) sama dengan bobot telur dalam penelitian Subekti (2007) yang diberi perlakuan 9% TDK dalam ransum sebesar 9,9 g. Pengaruh ransum terhadap bobot telur dipengaruhi oleh protein yang terkandung di dalam pakan, Tabel 3 memperlihatkan kandungan protein R0, R1, dan
35
Gambar 15. Rataan Massa Telur Puyuh Selama Penelitian
R2 sama besar 18,21% dan R3 19,46% sehingga menyebabkan selisih bobot telur
Gambar 14. Rataan Bobot Telur Puyuh Selama Penelitian
Massa Telur
36
Perhitungan massa telur diperoleh dari bobot telur dikalikan dengan jumlah telur selama penelitian. Jika perolehan massa telur kecil pada R3 (10% TDK) disebabkan karena jumlah telur yang dihasilkan pada kelompok puyuh yang diberi 10% TDK dalam ransum sedikit. Bobot telur tidak berperan dalam kecilnya nilai massa telur, karena rataan dari setiap bobot telur puyuh yang diberi perlakuan hampir sama.
Konversi Ransum
Konversi ransum merupakan ukuran efisiensi dalam penggunaan ransum. Semakin rendah nilai konversi ransum semakin efisien penggunaan dari ransum tersebut, karena semakin sedikit jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menghasilkan telur dalam jangka waktu tertentu (Subekti, 2003).
Penggunaan ETDK dan TDK tidak mempengaruhi konversi ransum, hal ini karena tidak terlalu besarnya selisih perbedaan kandungan nutrien ransum (makronutrien) sehingga tidak mempengaruhi konsumsi ransum dan produksi telur. Konversi ransum pada kelompok puyuh yang diberi ETDK 0,15% dalam ransum lebih rendah dibandingkan dengan kontrol ETDK 0,30% dalam ransum, dan TDK (10% dalam ransum). Dengan kata lain puyuh yang diberi ETDK 0,15% dalam ransum lebih efisien. Rataan konversi ransum penelitian adalah 5,6 yang artinya untuk membentuk satu gram telur puyuh diperlukan ransum sebanyak 5,6 gram
37 Penggunaan TDK membuat warna kuning lebih tua (7,17) dibandingkan dengan pengunaan ETDK dan kontrol, dan penggunaan ETDK juga membuat warna kuning telur lebih tua (3,54 dan 3,52) untuk ransum R1 dan R2, dibandingkan dengan