ANALISIS EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN
USAHATANI
BABY
BUNCIS (
Phaseolus vulgaris
L)
PADA PETANI MITRA
INTERNATIONAL
COOPERATION AND DEVELOPMENT
FUND
(ICDF) BOGOR
SKRIPSI
DIKI MORE SARI H34080016
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
i
RINGKASAN
Diki More Sari. Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usahatani Baby Buncis (Phaseolus vulgaris L) pada Petani Mitra International Cooperation andDevelopment Fund (ICDF) Bogor. Skripsi. Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor (Di bawah bimbingan YANTI NURAENI MUFLIKH).
Buncis merupakan salah satu jenis komoditi hortikultura yang turut menyumbang dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Buncis merupakan jenis sayuran yang banyak memiliki manfaat kesehatan. Tingkat pengeluaran ratta-rata rumah tangga yang meningkat pada sayuran memberikan gambaran yang cerah dalam potensi sayuran termasuk buncis. Produksi buncis nasional meningkat setiap tahunnya. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi buncis nasional dimana Kabupaten Bogor menempati urutan kelima memberikan kontribusi produksi buncis Jawa Barat. Produksi buncis di Kabupaten Bogor sendiri mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan adanya permasalahan dalam produksi buncis di Kabupaten Bogor. Baby buncis merupakan jenis buncis yang dipanen diusia muda yaitu 45-50 hari setelah tanam.
International Cooperation and Development Fund (ICDF) merupakan sebuah lembaga yang bermitra dengan petani untuk mengusahakan berbagai jenis tanaman hortikultura, salah satunya baby buncis. ICDF memiliki target penjualan pada pasar retail modern. Permintaan tertinggi pada produksi sayuran di ICDF adalah baby buncis. Permintaan yang tinggi ini belum dapat terpenuhi oleh ICDF. Kendala ini diakibatkan oleh pasokan produksi dari petani yang belum sesuai dengan apa yang ditargetkan oleh ICDF karena seluruh produksi baby buncis adalah petani mitra. Hal ini diakibatkan produktivitas yang masih rendah sebagai imbas dari belum efisiennya secara teknis pengusahaan baby buncis oleh petani.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani baby buncis. Kemudian uuntuk menganalisis tingkat efisiensi teknis petani baby buncis dan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhinnya. Selain itu juga untuk menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh petani mitra ICDF dalm usahatani baby buncis.
ii produksi. Bentuk fungsi produksi yang digunakan adalah fungsi produksi stochastic frontierCobb Douglas, dan hasilnya disajikan dalam bentuk kuantitatif dan dijelaskan melalui interpretasi dari masing-masing nilai parameter yang didapatkan.
Berdasarkan penggunaan model fungsi produksi melalui metode OLS (Ordinary Least Square) didapatkan model tidak mengandung autokorelasi, multikolinieritas, dan heterokesdatisitas dengan nilai R-square 0,935. Menggunakan metode MLE (Maximum Likelihood Estimated) didapatkan beberapa faktor yang berpengaruh signifikan terhadap produksi baby buncis yaitu jumlah benih (α=10%), pupuk kimia (α=1%), pestisida (α=10%), dan tenaga kerja
(α=1%). Sementara variabel lahan dan pupuk kandang tidak berpengaruh nyata ppada produksi. Kemudian didapatkan nilai γ sebesar 0,9999 yang nyata pada taraf kepercayaan 99 persen. Secara statistik, 0,9999 mendekati 1 yang menunjukkan bahwa sebesar 99,99 persen dari error yang ada dalam fungsi produksi disebabkan oleh adanya inefisiensi teknis, sedangkan sisanya (0,01 persen) oleh variabel kesalahan acak (risiko). Kemudian juga model ini memiliki LR galat satu sisi sebesar 22,17 yang lebih besar dari pada Tabel Kodde dan Palm (1985) pada α = 5% yaitu 17,791. Ini berarti model fungsi produksi stochastic frontier yang diperoleh dapat menunjukkan adanya keberadaan inefisiensi teknis pada model.
Efisiensi teknis rata-rata petani mitra yang didapatkan adalah 0,714 yang terkategori efisien. Walupun begitu petani masih memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi sebesar 0,286. Faktor sosial ekonomi yang mempengaruhi inefisiensi teknis secara signifikan pada α=1% adalah umur, pengalaman bertani baby buncis, pendidikan formal, lama bermitra dengan ICDF, dan dummy bertani sebagai pekerjaan utama atau tidak. Umur, pengalam bertani baby buncis, dan bertani sebagai pekerjaan utama berpengaruh positif pada inefisiensi teknis. Kemudian pendidikan formal dan lama bermitra dengan ICDF berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Berpengaruh positif berarti akan dapat mengurangi efisiensi teknis dan berpengaruh negatif berarti akan dapat meningkatkan efisiensi teknis.
iii
ANALISIS EFISIENSI TEKNIS DAN PENDAPATAN
USAHATANI
BABY
BUNCIS (Phaseolus vulgaris L)
PADA PETANI MITRA
INTERNATIONAL
COOPERTAION AND DEVELOPMENT
FUND
(ICDF) BOGOR
DIKI MORE SARI H34080016
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada
Departemen Agribisnis
DEPARTEMEN AGRIBISNIS
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITIUT PERTANIAN BOGOR
iv Judul Penelitian : Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usahatani Baby
Buncis (Phaseolus vulgaris L) pada Petani Mitra
International Cooperation and Development Fund ( ICDF) Bogor
Nama : Diki More Sari
NIM : H34080016
Disetujui, Dosen Pembimbing
Yanti Nuraeni Muflikh, SP, M.Agribuss
NIP. 19800626 200501 2 004
Diketahui,
Ketua Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen
Institut Pertanian Bogor
Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS
NIP. 19580908 198403 1 002
v
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul “Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usahatani Baby Buncis (Phaseolus vulgaris L)pada Petani Mitra ICDF Bogor” adalah karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam bentuk daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Bogor, Maret 2013
vi
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Sijunjung Provinsi Sumatera Barat pada tanggal 17 Maret 1990. Penulis merupakan anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Syamsurizal M. dan Ibunda Asmarani. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SD Negeri 46 Muaro Sijunjung pada tahun 2002. Kemudian pendidikan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2005 di SMP Negeri 7 Sijunjung. Selanjutnya pendidikan menengah atas diselesaikan di SMA Negeri 1 Sijunjung pada tahun 2008. Penulis melanjutkan ke perguruan tinggi di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur Undangan Seleksi Masuk (USMI) IPB. Penulis diterima di Departemen Agribisnis, Fakultas Ekonomi dan Manajemen.
Selama mengikuti pendidikan di bangku kuliah, penulis aktif dalam berbagai kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus diantaranya yakni BEM KM IPB Kabinet Gemilang (2009) dan BEM KM IPB Kabinet Generasi Inspirasi (2010) sebagai staf Kementerian Pendidikan; UKM Century (Center of Enterpreneurship Development for Youth) selama tiga tahun berturut-turut 2009-2011 sebagai staf Divisi Promosi dan Marketing, Ketua Divisi Promosi dan Marketing, terakhir sebagai Dewan Komisaris; HIPMA (Himpunan Profesi Mahasiswa Peminat Agribisnis) pada tahun 2011 sebagai Badan Pengawas; Himaswiss (Himpunan Mahasiswa Sawahlunto, Sijunjung, dan Dharmasraya) sebagai anggota; AIESEC Expansion IPB pada tahun 2010-2012 sebagai tim founder dengan jabatan Manajer Non Corporate External Relation dan terakhir Vice President of Out Going Exchange. Penulis tergabung dalam tim asisten responsi Mata Kuliah Ekonomi Umum. Penulis juga aktif berwirausaha dan mengajar sebagai pengajar di Primagama QuantumKids Yasmin Bogor.
vii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Allah SWT atas segala berkah dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Analisis Efisiensi Teknis dan Pendapatan Usahatani Baby Buncis pada Petani Mitra International Cooperation and Development Fund (ICDF) Bogor”. Shalawat serta salam senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah dan pemimpin terbaik bagi umat manusia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani baby buncis. Kemudian uuntuk menganalisis tingkat efisiensi teknis petani baby buncis dan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhinnya. Selain itu juga untuk menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh petani mitra ICDF dalm usahatani baby buncis.
Skripsi ini diharapkan dapat berguna dan memberikan manfaat kepada semua pihak, baik peneliti, pihak ICDF, petani mitra, maupun pembaca. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini. Namun penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi seluruh pihak yang terkait.
Bogor, Maret 2013
viii
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang atas rahmat dan hidayah-Nya yang senantiasa mengiringi perjalanan hidup penulis, terutama dalam penyelasaian skripsi ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyelesaian skripsi tidak terlepas dari bantuan, motivasi, doa dan kerjasama dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Yanti Nuraeni Muflikh, SP., M.Agribuss. selaku dosen pembimbing skripsi atas segala bimbingan, kesabaran masukan, koreksi, dan bantuan selama pra, pelaksanaan, hingga setelah pelaksanaan skripsi ini.
2. Dr. Ir. Ratna Winandi, MS. dan Suprehatin, SP, MAB. sebagai dosen penguji skripsi atas semua masukan, koreksi, dan wejangannya.
3. Orang tua tercinta Ayahanda Syamsurizal M dan Ibunda Asmarani, kedua kakak terbaik Andrise Sari dan Avid Leonardo Sari yang telah memberikan dukungan moral dan mendidik penulis agar selalu menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat, dan Adik tersayang Ananda Rivaldo Sari.
4. Pihak ICDF (Para Ahli, asisten, counter part, dan packaging) dan para petani mitra baby buncis yang telah memberikan informasi dan menjadi responden dalam penelitian ini, serta dukungan moral dan bantuannya dalam penyelesaiaan skripsi ini.
5. Teman-teman seperjuangan di IPB terutama mahasiswa Departemen Agribisnis FEM IPB yang telah banyak memberikan dukungan dan kontribusinya selama ini.
6. Teman-teman BEM KM 2009 & 2010, UKM Century, HIPMA, Primagama QuantumKids dan Himaswiss yang telah memberikan inspirasi, motivasi, dukungan, dan kontribusinya selama penulis menyelesaikan skripsi.
7. Seluruh dosen dan staf Departemen Agribisnis yang telah banyak membantu penulis selama ini
ix 9. Ito Hadi Sista, Rian Triana, Iqbal S, dan Ali Vikri atas kebersamaan,
kesabaran, dan kegembiraan selama beberapa tahun tinggal bersama
10.Teman-teman satu daerah Gebry Ayu Diwandani, Nezi Hidayani, Annisa R, Dhiska, Layra, Meizi, dan Ria yang telah banyak memberikan dukungan dan membantu penulis selama ini.
11.Haris Fatori Aldila, Syifa M, Syajaroh Duri, Farisah Firas, Herawati, Arini P, Andi F, Akbar Zainal M, dan Nuniek S yang telah berbagi keceriaan, suka dan duka, dan memberikan bantuan kepada penulis selama ini.
12.Teman-teman satu pembimbing Linda Rosalina dan Ivo Rosita atas berbagai saran dan kersamaannya.
13.Semua pihak yang telah bersedia membantu penulis selama penulis menyelesaikan penulisan skripsi ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu, Terima kasih banyak.
Bogor, Maret 2013
x
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL……… xii
DAFATAR GAMBAR……… xiv
I. PENDAHULUAN………... 1
1.1. Latar Belakang……….. 1
1.2. Perumusan εasalah………. 4
1.3. Tujuan Penelitian……… 6
1.4. Manfaat Penelitian... 6
1.5. Ruang Lingkup Penelitian... 7
II. TINJAUANPUSTAKA……… 8
2.1. Usahatani Buncis...……… 8
2.2. Tinjauan Empiris Pandapatan Usahatani……….. 12
2.3. Tinajauan Empiris Fungsi Produksi Stochastic Frontier……. 13
2.4. Tinjauan Empiris Efisiensi Usahatani dan Inefisiensi Teknis... 15
III. Kerangka Pemikiran……… 20
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis………...……… 20
3.1.1. Konsep Usahatani...……… 20
3.1.2.Konsep Pendapatan Usahatani.. ……… 23
3.1.3.Konsep Fungsi Produksi...……… 24
3.1.4. Konsep Fungsi Produksi Stochastic Frontier………… 27
3.1.5. Konsep Analisis Efisiensi Teknis...……… 30
3.1.6. Konsep Kemitraan... 33
3.2. Kerangka Pemikiran Operasional... 34
IV. METODOLE PENELITIAN……….. 38
4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian..………... 38
4.2. Jenis dan Sumber Data………. 38
4.3. Metode Analisis Data...………. 39
4.4. Analisis Pendapatan Usahatani...……….... 39
4.5. Analisis Efisiensi Menggunakan Fungsi Produksi Stochastic Frontier... 40 4.6. Uji Hipotesis... 44
4.7. Konsep Pengukuran Variabel... 45
V. GAMBARAN UMUM... 47
5.1. Gambaran Umum Lokasi Petani Mitra... 47
5.2. Gambaran Umum ICDF... 49
5.3. Gambaran Kemitraan Baby Buncis di Lapang... 51
5.4. Karakteristik Petani Baby Buncis... 55
xi
5.4.2. Tingkat Pendidikan Formal... 56
5.4.3. Pengalaman Usahatani Baby Buncis... 56
5.4.4. Status Pekerjaan Usahatani... 57
5.4.5. Luas Lahan Baby Buncis... 57
5.4.6. Status Kepemilikan Lahan... 58
5.4.7. Alasan Petani Responden Bermitra dengan ICDF... 59
VI. ANALISIS KERAGAAN USAHATANI BABY BUNCIS PETANI MITRA ICDF... 60
6.1. Analisis Budidaya Baby Buncis... 60
6.2. Analisis Penggunaan Sarana Produksi... 67
VII.ANALISIS EFISIENSI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP PRODUKSI USAHATANI BABY BUNCIS... 73 7.1. Analisis Produksi Stochastic Frontier Usahatani Baby Buncis 73 7.2. Analisis Efisiensi Teknis... 79
VIII. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI BABY BUNCIS PETANI MITRA ICDF... 87
8.1. Penerimaan Usahatani Baby Buncis... 87
8.2. Biaya Usahatani Baby Buncis... 87
8.3. Pendapatan Usahatani Baby Buncis... 90
IX. KESIMPULAN DAN SARAN... 93
9.1.Kesimpulan ... 93
9.2. Saran... 93
xii
DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1 Nilai PDB Hortikultura Indonesia Berdasarkan Harga Berlaku
Tahun 2005-2010... 1
2 Penelitian Terdahulu yang Terkait dengan Efisiensi Teknis
Usahatani... 17
3 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Usia... 55
4 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Pendidikan Formal Terakhir... 56
5 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Pengalaman Usahatani Baby Buncis... 57
6 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Status Pekerjaan... 57
7 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Luas Lahan Baby Buncis... 58
8 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Status Lahan... 58
9 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF Tahun 2012 Berdasarkan
Alasan Bermitra dengan ICDF... 59
10 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF berdasarkan Penggunaan
Benih per Hektar Pada Musim Tanam Terakhir Tahun 2011-2012 68
11 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF berdasarkan Penggunaan Pupuk Kandang dan Pupuk Kimia per Hektar pada Musim Tanam
Terakhir Tahun 2011-2012... 69
12 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF berdasarkan Penggunaan Insektisida dan Fungisida per Hektar pada Musim Tanam Terakhir
xiii 13 Rata-rata Penggunaan Tenaga Kerja per Hektar Usahatani baby
Buncis Petani Mitra ICDF pada Musim Tanam Terakhir Tahun
2011-2012... 71
14 Sebaran Petani Baby Buncis Mitra ICDF berdasarkan Penggunaan
Luas Lahan pada Musim Tanam Terakhir Tahun 2011-2012... 72
15 Pendugaan Model Fungsi Produksi Cobb-douglas Stochastic
Frontier dengan Menggunakan Metode OLS... 74
16 Pendugaan Model Fungsi Produksi Cobb-douglas Stochastic
Frontier dengan Menggunakan Metode MLE... 79
17 Sebaran Efisiensi Teknis Usahatani Baby Buncis Petani Mitra
ICDF Tahun 2011-2012... 80
18 Biaya Usahatani Per Hektar Baby Buncis Petani Mitra ICDF
Bogor Musim Tanam Tahun 2011-201... 88
19 Pendapatan Usahatani Baby Buncis Per Hektar Petani Mitra ICDF
xiv
DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1 Presentase Permintaan Pasar Ritel Modern terhadap Sayuran Non Organik ICDF Bogor Selama Satu Tahun (Oktober 2011 sampai
dengan September 2012)... 5
2 Fungsi Produksi Stochastic Frontier...... 29
3 Konsep Efisiensi Teknis, Alokatif, dan Eonomis... 31
4 Kerangka Pemikiran Operasional... 37
5 Grafik Hubungan Antara Umur dan Efisiensi Teknis Petani Mitra ICDF Bogor... 81
6 Grafik Hubungan antara Pengalaman Bertani Baby Buncis dan Tingkat Efisiensi Teknis Petani Mitra ICDF Bogor... 83
7 Grafik Hubungan antara Lama Pendidikan Formal dan Tingkat Efisiensi Teknis Pada Petani Mitra ICDF Bogor... 84
8 Grafik Hubungan antara Lama bermitra dengan ICDF dan Tingkat Efisiensi Teknis Petani Mitra ICDF Bogor... 85
1
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sub sektor hortikultura merupakan salah satu sub sektor yang memberikan kontribusi pada Produk Domestik Bruto (PDB) pertanian. Berdasarkan data BPS (2011a) sub sektor ini menyumbang rata-rata 11,23 persen setiap tahunnya pada periode 2006 hingga 2010 pada PDB pertanian. Sumbangan sub sektor ini lebih rendah dibandingkan tanaman pangan yaitu 36,7 persen. Akan tetapi jika dibandingkan dengan sub sektor lainnya yaitu perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan maka sumbangan PDB dari sub sektor hortikultura merupakan yang tertinggi. Hal ini menunjukkan sub sektor hortikultura merupakan sub sektor yang memiliki peran penting dalam penyumbang PDB sektor pertanian maupun PDB nasional.
Komoditi hortikultura meliputi sayuran, buah-buahan, tanaman hias, dan biofarmaka. Diantara komoditi tersebut sayuran dan buah-buahan merupakan komoditi yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Hal tersebut terlihat dari nilai PDB hortikultura, dimana nilai PDB buah-buahan dan sayuran menempati urutan pertama dan kedua.
Tabel 1. Nilai PDB Hortikultura Indonesia Berdasarkan Harga Berlaku Tahun 2005-2010
Kelompok Komoditas
Nilai PDB (Milyar Rp)
2005 2006 2007 2008 2009 2010 Buah-buahan 31.694 35.448 42.362 47.060 48.437 45.482 Sayuran 22.630 24.694 25.587 28.205 30.506 31.244 Tanaman Hias 4.662 4.734 4.741 4.960 5.494 6.174 Biofarmaka 2.806 3.762 4.105 3.853 3.897 3.665 Total Hortikultura 61.792 68.638 76.795 84.078 88.334 85.958 Sumber: Pusdatin Kementerian Pertanian 2011
2 dari komoditas sayuran akan te/rus meningkat dan menunjukkan bahwa sayuran merupakan komoditi yang prospektif.
Kegiatan usaha budidaya sayuran di Indonesia sangat potensial. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai PDB komoditi sayuran yang terus meningkat dan tingkat konsumsi sayuran penduduk Indonesia. Tingkat konsumsi ini ditunjukkan oleh pengeluaran rata-rata per kapita per bulan untuk sayuran yang terus meningkat setiap tahunnya. Peningkatan yang signifikan terjadi pada tahun 2010 ke 2011 yaitu sebesar 34,58 persen, dimana pengeluaran untuk sayuran pada tahun 2010 adalah Rp 18.995,00 dan pada tahun 2011 adalah Rp 25.563,00 (BPS 2011b). Tingkat konsumsi sayuran masyarakat Indonesia ini masih dapat terus meningkat, dikarenakan standar konsumsi sayuran yang direkomendasikan Food and Agricultural Organization (FAO) adalah sebesar 73 kg/kapita/tahun dan standar kecukupan untuk sehat adalah 91,25 kg/kapita/tahun sementara tingkat konsums sayuran masyarakat Indonesia masih 40,6 kg/kapita/tahun.1
Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa kegiatan budidaya sayuran sangat prospektif. Hal ini membuat para petani meningkatkan usaha budidaya sayuran. Peningkatan ini terlihat dari produksi sayuran pada tahun 2011 yang meningkat sebesar 3,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Kementerian Pertanian 2012). Produksi sayuran ini diharapkan terus meningkat agar kebutuhan sayuran dapat terus terpenuhi dan tidak terjadi kelangkaan yang dapat meningkatkan harga komoditi ini.
Komoditi sayuran yang memiliki prospek yang baik dan perlu dikembangkan adalah baby buncis. Baby buncis merupakan jenis sayuran buncis yang umur panennya lebih muda dibandingkan dengan jenis buncis biasanya. Baby buncis memiliki ukuran yang lebih kecil dengan bentuk polong yang lurus dan belum memiliki tonjolan biji pada polongnya. Prospek komoditi ini dapat dilihat dari tingkat konsumsi buncis per kapita Indonesia per tahunnya adalah 0,88 kg pada tahun 2002 dan terjadi peningkatan 6,82 persen pada tahun 2008 menjadi 0,94 kg. Tingkat konsumsi ini diperkirakan akan terus meningkat karena masyarakat Indonesia yang cenderung untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi
1
Prabowo HE. 2010. Tingkat Konsumsi Sayuran Masih Rendah.
3 secara baik dan memilih makanan yang menyehatkan terutama masyarakat perkotaan. Selain dipasarkan di dalam negeri komoditas ini juga diekspor keluar negeri bahkan ekspor untuk ke Singapura mencapai 1 sampai 2 ton per hari2. Selain itu permintaan ekspor dari Singapura tersebut baru dapat dipenuhi 20 persen dari total permintaannya3.
Sayuran baby buncis ini dipasarkan di dalam negeri dan luar negeri. Di dalam negeri sayuran ini hanya dipasarkan pada pasar modern. Karena dipasarkan di pasar modern dan diekspor ke luar negeri maka sangat dibutuhkan kualitas yang baik, kuantitas yang mencukupi, kontinuitas pasokan, dan harga yang kompetitif. Sangat dibutuhkan pengelolaan yang baik dalam budidaya sayuran ini salah satunya adalah harus efisien dalam segi teknis. Hal ini dibutuhkan agar dapat memenuhi kuantitas dan kualitas.
Para petani Indonesia cenderung belum dapat berproduksi secara efisien. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kemampuan dalam hal majerial budidaya petani. Selain itu masih kurangnya informasi akan teknologi baru dalam berproduksi. Kemudian juga umumnya petani Indonesia mengusahakan lahan yang belum terlalu besar sehingga pengelolaannya menjadi tidak efisien (Saptana et al. 2010)
Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menjalin hubungan kemitraan. Kemitraan merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan membesarkan (Hafsah 2000). Melalui kegiatan kemitraan memungkinkan adanya dukungan yang lebih luas terhadap petani dari perusahaan mitranya serta dapat mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan minimnya informasi (Jiaravanon 2007).
Kegiatan kemitraan yang biasa dijalin adalah kemitraan antara perusahaan dengan petani. Bantuan modal dan penyuluhan yang diberikan perusahaan dapat
2
Jaringan Pengusaha Muslim Indonesia. 2013. Permintaan ekspor Baby Buncis Capai 1-2 Ton per
Hari. http://jpmi.or.id/2013/01/01/permintaan-ekspor-baby-buncis-mencapai-2-ton-per-hari/ . [diakses 25 Februari 2013]
3
Trubus-online. 2011. Kupas Tuntas Sayuran Kelas Premium.
4 meningkatkan efisiensi teknis petani dan dapat meningkatkan produksi baby buncis oleh petani. Kegiatan keitraan baby buncis yang ada di Provinsi jawa barat diantaranya adalah PT Ramaputra dan PT Alamanda di daerah Bandung serta PT Saung Mirwan di Kabupaten Bogor4. PT Ramaputra dan PT Saung Mirwan memasok untuk kebutuhan pasar domestik di daerah Jawa Barat. Sedangkan PT Alamanda merupakan eksportir yang melakukan ekspor ke beberapa negara diantaranya Singapura, Thailand, Brunei Darusslam, Malaysia, dan Hongkong5.
PT Saung Mirwan bukanlah satu-satunya perusahaan yang bermitra dengan petani dalam memproduksi baby buncis di Kabupaten Bogor. Terdapat International Coopertaion and Development Fund (ICDF) merupakan sebuah lembaga kerjasama internasional antar Indonesia dan pemerintah Taiwan yang bermitra dengan para petani untuk mengembangkan beberapa komoditi sayuran agar dapat memasuki pasar modern dan dapat meningkatkan kesejahteraan petani. ICDF berlokasi di Desa Cikarawang Kecamatan Dramaga
1.2. Perumusan Masalah
International Cooperation and Development Fund (ICDF) Bogor bermitra dengan para petani untuk memproduksi sayuran yang mereka hasilkan. Bentuk kemitraan ini berupa penyediaan bibit dari pihak ICDF serta keterjaminan harga yang stabil dan lebih tinggi dari pada pasar tradisional serta pelatihan yang diberikan oleh pihak ICDF kepada petani. Harga buncis yang diterima petani pada pasar tradisional adalah Rp 2.500,00 sedangkan yang diterima petani dari ICDF adalah Rp 9.000,00. Karena memang kualitas yang dihasilkan baik dan dipasarkan di pasar modern.
ICDF memproduksi sayuran organik, sayuran non organik, pepaya, dan jambu kristal. Semua komoditi ini dihasilkan dari hasil kemitraan dengan petani serta dari kebun milik ICDF. Namun secara keseluruhan sekitar 90 persen dari total produksi dipasok oleh petani mitra. Karena hampir seluruhnya diproduksi oleh petani mitra maka ICDF benar-benar harus dapat mengawasi dan membantu
4
Dinas Pertanian Jawa Barat. 2012. Daftar Kemitraan Sayuran 2012.
http://diperta.jabarprov.go.id/assets/data/menu/Daftar_Kemitraan_Sayuran_2012.pdf.[diakses 3 Maret 2013]
5
5 Asparagus
3%
Baby Buncis 32%
Kacang Panjang Merah
2%
Kucai 21% Labu
4% Lobak Merah
6% Okra
2% Oyong
3% Pare putih
10%
Terong Bulat 5%
Terong Panjang 3%
Tomat Cherry 9%
para petani agar menghasilkan produk yang sesuai dengan standar yang diterapkan. Selain itu, pasar yang dimasuki oleh ICDF merupakan pasar retail modern, seperti: Hypermart, Hero, Giant, dan supermarket besar lainnya dikawasan Jakarta, Bogor, dan Tanggerang.
Baby Buncis merupakan komoditas dengan permintaan tertinggi pada kelompok sayuran non organik di ICDF Bogor. Hal ini dapat dilihat dari Gambar 1. Total permintaan baby buncis pada periode Oktober 2011 – September 2012 adalah 32.997,6 kg atau setara dengan 32 ton dengan permintaan rata-rata per bulannya adalah 2.749,8 kg atau setara dengan 2,7 ton. Hal ini menunjukkan bahwa baby buncis memiliki potensi permintaan yang cukup besar.
Gambar 1. Presentase Permintaan Pasar Ritel Modern terhadap Sayuran Non Organik ICDF Bogor Selama Satu Tahun (Oktober 2011 sampai dengan September 2012)
6 memenuhi permintaan ini mengindikasikan ketidakmampuan petani mitra-binaan dalam meproduksi baby buncis sesuai hasil yang ditargetkan. Meskipun pihak ICDF telah membuat sistem kuota tanam dan waktu tanam bagi para petani mitranya agar dapat memenuhi permintaan pasar yang ada setiap harinya.
Jumlah produksi di tingkat petani yang tidak mencapai target ini dapat diakibatkan oleh berbagai kendala. Kendala tersebut dimulai dari penggunaan input−seperti: pupuk, lahan, benih, obat-obatan, dan tenaga kerja−yang belum optimal. Kemudian kendala juga dapat terjadi dari faktor lingkungan. Budidaya yang dilakukan pada kondisi terbuka sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, seperti: cuaca, iklim, suhu, kontur lahan, ketinggian, dan kelembaban. Selain itu, kendala juga dapat ditimbulkan dari kurangnya pengetahuan dalam penanganan berbagai masalah dalam budidaya (Saptana et al.2010).
Dalam pengelolaan usahatani juga diperlukan efisiensi agar hasil yang dicapai dapat optimum. Efisiensi dalam pengelolaan usahatani berkaitan dengan kapabilitas manajerial petani. Jangkauan petani terhadap informasi yang dibutuhkan dalam memperbaiki kinerja pengelolaan usahatani beragam, baik antar individu, antar kelompok, maupun antar daerah. Oleh karena itu, kapabilitas petani dalam mengakumulasi, memilah, dan mengolah informasi yang dibutuhkan dalam pengambilan keputusan dalam mengelola usahataninya tentu bervariasi.
Berdasarkan uraian di ataas maka dapat dirumuskan permasalahan yang lebih spesifik sebagai berikut.
1. Faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani baby buncis yang dilakukan petani mitra ICDF?
2. Apakah proses produksi usahatani baby buncis petani mitra ICDF telah dilakukan secara efisien dilihat dari aspek teknis produksinya?
3. Bagaimana tingkat pendapatan usahatani baby buncis petani mitra ICDF?
1.3. Tujuan Penelitian
7 1. Menganalisis faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani
baby buncis.
2. Menganalisis tingkat efisiensi teknis petani baby buncis dan faktor sosial ekonomi yang mempengaruhinya.
3. Menganalisis tingkat pendapatan yang diperoleh petani mitra ICDF dalam usahatani baby buncis.
1.4. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan pertimbangan bagi para petani sebagai unit pengambilan keputusan tentang pengembangan usahatani baby buncis yang efisien yang dapat memberikan produksi maksimal.
2. Sebagai, bahan pertimbangan bagi pihak ICDF agar dapat membuat keputusan dan kebijakan yang dapat mendorong petani berproduksi secara lebih efisien secara teknis.
3. Memberikan sumbangan saran kepada pemerintah, lembaga-lembaga atau instansi terkait, dan pengambil keputusan lainnya, dalam upaya penyusunan strategi dan kebijakan untuk pengembangan komoditas ini selanjutnya agar dapat menjadi komoditas unggulan dan bersaing dengan komoditas baby buncis di daerah lainnya.
4. Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya baik tentang efisiensi teknis maupun yang berhubungan dengan baby buncis.
1.5. Ruang Lingkup
8
II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Usahatani Buncis
Buncis ditanam dengan menggunakan biji, pada tanah yang gembur dan cukup air (tidak tergenang air) sehingga pengolahan tanah harus baik dan benar. Buncis membutuhkan pH optimum berkisar antara 6,0 dan 6,5 (Rubatzky & Yamagachi 1998). Tanamn ini dapat tumbuh dengan baik bila ditanam di dataran tinggi, yaitu pada ketinggian 1.000-1.500 m di atas permukaan laut. Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk ditanam pada daerah dengan ketinggian 500-600 m di atas permukaan laut (Setianingsih & Khoerudin 2002). Menurut Smartt (1992) sebagian besar buncis tumbuh pada area dengan temperatur berkisar (17,5-)20-22,5(-25) 0C. Temperatur di bawah atau di atas suhu tersebut akan mengurangi hasil karena kematian (pada suhu tinggi), mengurangi fotosintesis, dan gagalnya bunga menjadi polong dewasa (50%-70% dari bunga mekar). Kondisi lain yang mendukung perkembangan tanaman adalah curah hujan 1.500-2.500 mm/tahun dan penyinaran matahari yang cukup sekitar 400-800 footcandles (Setianingsih & Khoerudin 2002). Dengan karta lain secara moderat dan merata dibutuhkan 300-400 mm per musim tanam namun dibutuhkan kondisi kering pada saat pemanenan (Smartt 1992).
9 Berdasarkan modul pelatihan yang dikeluarkan oleh pihak ICDF baby buncis sebaiknya ditanam pada ketinggian 700-900 meter dari permukaan laut dengan suhu berkisar 150C sampai 250C. Kemudian bunncis cenderung lebih mudah ditanam pada saat musim hujan dibandingkan musim kemarau karena musim kemarau biasanya lebih rawan dibandingkan musim hujan (Chiu et al. 2012).
Penanaman yang dianjurkan oleh pihak ICDF adalah dilakukan dengan cara monokultur dengan jarak tanam ideal 50 cm x 50 cm. Dalam satu bedengan terdiri atas dua bari dan jarak dalam barisnya adalah 50 cm dengan bedengan yang memiliki lebar 90 cm dan jarak antar bedengan 40 cm. Penanaman dilakukan dengan biji ataupun disemai terlebih dahulu. Penanaman dengan biji atau benih dilakukan dengan menugal tanah untuk membuat lubang tanam kemudian diisi satu sampai dua biji dalam satu lubangnya. Sehingga diperkirakan satu kilogram benih memerlukan luasan lahan 500 meter persegi (Chiu et al. 2012).
Pembersihan lahan merupakan langkah yang pertama dilakukan ketika akan memulai proses persiapan lahan. Pembersihan lahan dimaksudkan untuk membersihkan gulma. Pembersihan gulma ini perlu dilakukan agar nantinya benih yang ditanam tidak akan bersaing dengan gulma untuk penyerapan unsur hara atau makanan (Setianingsih & Khaerodin 2002). Persiapan lahan dimulai dengan pengolahan tanah. Pengolahan lahan merupakan upaya memperbaiki kondisi tanah untuk mendapatkan struktur tanah yang baik. Pengolahan tanah yang dilakukan oleh petani mitra dilakukan dengn cara mencangkulnya. Menurut Setianingsih & Khaerodin (2002) dalam pengolahan lahan tanah dibajak dan dicangkul satu sampai dua kali sedalam 20-30 cm. Petani melakukan pengolahan lahan dengan cara dua tahap yaitu pencangkulan pertama untuk membalik tanah. Hal ini dimaksudkan agar aerasi tanah dapat menjadi baik. Kemudian baru dilakukan pencangkulan sekali lagi agar struktur tanah menjadi lebih kecil yaitu berupa bongkahan kecil.
10 yang harus diperhatikan adalah sanitasi atau kebersihan lahan terhadap gulma maupun aliran air supaya tidak tergenang. Kemudian juga perlu diperhatikan masalah penyiraman dimana penyiraman yang dianjurkan oleh ICDF adalah dilakukan pada saat pagi dan sore hari. Karena jika tanaman ini kekurangan air maka akan pertumbuhan tanaman akan terganggu dan gampang terserang penyakit (Chiu et al. 2012).
Pengaplikasian pupuk lanjutan setelah pupuk dasar adalah pada saat tanamn berumur dua minggu atau tanaman memiliki empat sampai lima helai daun yaitu pupuk urea dengan dosis 2 gram/liter setara dengan 20 kg/ha. Pupuk ini diberikan seminggu sekali sampai tanamn berbunga. Setelah bunga mulai keluar atau kira-kira tanaman berumur empat minggu maka diberikan pupuk NPK Phonska 40 gram/m2 untuk merangsang pertumbuhan buah. Pupuk ini diberikan dengan cara ditugal kira-kira 10 cm dari pangkal batang lalu ditutup tanah. Pengaplikasian yang sama dilakukan setiap empat minggu sekali. Metode lain yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pupuk NPK Mutiara yang diaplikasikan dengan dosis 5-10 gram/liter atau setara dengan 500-1.000 kg/ha, lalu disiram pada tanah di sekitar pangkal tanaman. Pupuk tambahan lainnya yang dapat diberikan adalah pupuk Gandasil yang diberikan bersamaan dengan penyemprotan hama penyakit.(Chiu et al. 2012)
11 Penyakit yang sering menyerang tanaman buncis adalah sebagai berikut. 1. Rebah Batang
Penyakit ini menyerang tanaman muda yang berumur 12-25 HST. Penyebabnya adalah Phytum sp dan Rhozoctania sp. Gejala yang terjadi ketika tanaman terserang penyakit ini adalah pangkal daun berubah menjadi cokelat kehitaman, daun menjadi kuning, dan akhirnya mati. Kalaupun dapat bertahan hidup pertumbuhan akan lambat dan akan muncul akar di permukaan tanah.
Penyakit ini bersifat soil borne, artinya ditularkan melalui tanah dan dari tanah. Penyakit ini dipacu oleh kelembaban yang tinggi, drainase yang jelek, dan olah tanah yang tidak baik (rumput tidak dibuang/dibenam dalam tanah).
Pencegahan dilakukan ketika pengolahan tanah, rumput harus dibuang, atau dibenamkan dalam tanah dengan kedalaman 40-50 cm. Drainase lahan harus baik, sehingga lahan tidak basah, dan sebaiknya penanaman dilakukan pada saat curah hujan kurang dari 3500 mm.
Dalam menanggulangi penyakit ini dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan fungisida. Tanaman yang terserang segera dicabut dan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan dibuang yang jauh atau dibakar atau dapat pula dibenamkan ke dalam tanah.
2. Bercak Daun atau Bercak Bersudut
Serangan dimulai pada umur 20-30 HST. Penyakit ini disebabkan oleh Cercospora sp. Tanda-tanda yang dapat dilihat ketika tanaman terkena pennyakit ini adalah daun yang lebih tua terdapat bercak bersudut bewarna merah kecoklatan. Bila serangan sudah parah daun-daun sebagian besar bewarna coklat dan sebagian kuning dan akhirnya berguguran. Serangan ini didukung oleh kelembaban yang tinggi dan suhu yang rendah.
Pencegahan dapat dilakukan yauti dengan menciptakan aerasi tanaman yang baik dengan mengatur jarak tanam agar tidak terlalu rapat. Penyemprotan dengan fungisida−misalnya Score− dapat menjadi pilihan pengobatan ketika telah terserang.
3. Karat Daun
12 terdapat bercak-bercak cokelat, berbentuk bulat, bila diraba terasa menonjol ke arah permukaan atas. Bila serangan parah maka daun akan mati dan berguguran. Penyakit ini deisebabkan oleh angin. Salah satu cara pencegahannya yaitu dengan menanam tanaman yang resisten atau jika telah terkena serangan maka dilakukan penyemprotan dengan fungisisda.
4. White Molds atau Kapas
Serangan penyakit ini tampak pada bunga, tangkai daun, cabang muda, dan buah yang seperti tersiram air panas. Penyebabnya adalah Scolorotina sclerotiorum. Bila serangan parah dan keadaan lembab maka akan tampak benang-benang cendawan warna putih seperti kapas. Serangan penyakit ini didukung oleh kelembaban udara yang tinggi dan suhu yang rendah pada malam hari.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara pengaturan jarak tanam agar aerasi per tanaman baik, tidak menanam pada curah hujan yang tingg, dan semprot dengan fungisida.
2.2. Tinjauan Empiris Pendapatan Usahatani
Pendapatan dalam usahatani yang dilakukan oleh petani sangat dipengaruhi oleh seberapa besar biaya produksi yang dikeluarkan dan tingkat harga saat komoditas tersebut dihasilkan sehingga pendapatan untuk tiap petani dan tiap komoditas berbeda-beda.
13 mendapatkan sumbangan biaya tenaga kerja mencapai 58,28 persen. Dari ketiga penelitian yang berbeda komoditas, tempat, dan peneliti ini menunjukkan bahwa umumnya sumber terbesar dalam biaya usahatani berasal dari tenaga kerja. Karena umumnya petani Indonesia belum menggunakan tenaga mesin sebagai pengganti tenaga manusia dalam melakukan tahapan budidaya tanaman.
Dilihat dari sisi pendapatan maupun R/C rasio dari penelitian ketiga peneliti ini menunjukkan hasil akhir yang tidak jauh berbeda yaitu ketiga usahatani ini menguntungkan untuk dijalankan. Penelitian Siregar (2012), Irsyadi (2011), dan Sujana (2011) mendapatkan hasil pendapatan atas biaya total per musim tanam untuk satu hektar lahan masing-masing secara berurutan sebesar Rp 86.863.853,00, Rp 9.619.652,43, dan Rp20.765.060,00. Dari pendapatan atas biaya total ditunjukkan bahwa petani mendapatkan pemasukkan nyata dari sekali musim tanam untuk satu hektar luas lahan masing-masing komoditi tersebut cukup besar. Selanjutnya, dilihat dari R/C rasio atas biaya total yang dihasilkan dari penelitian Siregar (2012), Irsyadi (2011), dan Sujana (2011) dengan nilai masing-masing secara berurutan sebesar 2,46, 1,59, dan 1,30 menunjukkan bahwa usahatani ini masih cukup menguntungkan karena setiap satu rupiah biaya yang dikeluarkan akan memberikan imbalan sebesar angka rasio tersebut (dalam rupiah).
Ketiga penelitian di atas merupakan penelitian tentang usahatani komoditas sayuran. Ketiga penelitian tersebut menghasilkan R/c rasio atas biaya total yang bervariasi. Perbedaan R/C rasio ini dapat berbeda-beda karena perbedaan komoditi, perbedaan input yang digunakan, maupun harga dari masing-masing komoditi tersebut. Hal ini dapat memberikan gambaran pada penelitian ini bahwa hasil yang didapatkan kemungkinan dapat sama dengan penelitian sebelumnya atau bahkan berbeda sama sekali. Karena yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah komoditi, tempat, dan pelaku usahataninya (petani).
2.3. Tinjauan Empiris Fungsi Produksi Stochastic Frontier
14 Hubungan antara input dan output digambarkan dalam suatu fungsi produksi. Fungsi produksi stochastic frontier merupakan salah satu bentuk fungsi produksi yang menggambarkan hubungan antara input yang tersedia dan output maksimum yang dapat dicapai dengan memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh dalam usahatani.
Pendekatan Stochastic Producton Frontier ini telah digunakan oleh Saptana et al. (2010) untuk mengkaji usatani cabai merah di Jawa Tengah; Sukiyono (2005) pada usahatani cabai merah di Kecamatan Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong; Maryono (2008) pada usahatani padi program benih bersertifikat di Karawang; Astuti (2003) pada usahatani buncis perancis di Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
Pendekatan ini dipilih karena sederhana dan dapat dibuat dalam bentuk linier (Maryono 2008; Saptana et al. 2010). Fungsi produksi stochastic frontier dapat digunakan untuk mengidentifikasi efisiensi faktor produksi yang mempengaruhi efisiensi teknis usahatani dari sisi input dan efek inefesiensi yang berkaitan (Maryono 2008; Astuti 2003; Sukiyono 2005). Selain itu fungsi ini dapat menjadi alat perkiraan yang baik untuk proses produksi yang faktor-faktor produksinya tidak bersubstitusi secara sempurna (Saptana et al. 2010).
15 kriteria OLS. Tidak jauh berbeda dengan peneliti sebelumnya Saptana et al. (2010) memasukkan variabel dependennya adalah produksi kemudian variabel faktor produksi (independen) yang lebih banyak, yaitu: luas garapan, jumlah benih, jumlah pupuk nitrogen, jumlah pupuk P2O5, jumlah pupuk K2O, jumlah PPC (Pupuk Pelengkap Cair), jumlah ZPT (Zat Pengatur Tumbuh), pupuk kandang/organik, pupuk kapur, pestisida, fungisida, tenaga kerja dalam kelurga dan luar keluarga, dummy musim, dummy irigasi, dummy benih, dummy penggunaan mulsa, dan dummy agroekosistem.
Pada usahatani cabai merah oleh Sukiyono (2005), menunjukkan hasil hampir semua peubah faktor produksi tersebut mempunyai tanda sesuai harapan (positif) kecuali variabel tenaga kerja yang mempunyai tanda negatif. Sebagian besar variabel nyata secara statistik pada tingkat kepercayaan 99 persen, kecuali untuk variabel pupuk urea, KCL, dan pestisida yang digunakan, meskipun mereka memiliki tanda positif.
Dari beberapa penelitian terdahulu yang diuraikan di atas para peneliti menggunakan jumlah variabel yang bervariasi antar enam sampai tujuh belas variabel. Jumlah variabel ini tergantung pada jenis komoditas maupun jenis faktor produksi dan teknik budidaya yang digunakan. Namun ada beberapa variabel yang dipakai oleh hampir semua peneliti, yaitu: luas lahan, benih, tenaga kerja, pestisida, dan pupuk urea. Kemudian beberapa variabel yang signifikan pada semua penelitian tersebut adalah benih.
2.4. Tinjauan Empiris Efisiensi dan Inefisiensi Teknis
16 (2010) mendapatkan tingkat efisiensi petani dalam produksi cabai merah sebesar 0,89 atau 89 persen. Angka ini lebih besar dari pada yang didapatkan dari hasil penelitian Saptana. Hal ini dapatdapat terjadi karena tempat dan waktu penelitian yang berbeda dan juga variabel yang dikaji oleh Saptana et al (2010) juga lebih banyak dan mendetail. Faktor yang signifikan mempengaruhi inefisiensi teknis secara positif dan signifikan yang didapat oleh Sukiyono (2005) adalah pendidikan. Sedangkan Saptana et al. (2010) adalah umur kepala keluarga rumah tangga petani, pendapatan total rumah tangga, dan dummy ketergantungan modal terhadap berbagai sumber kredit.
Penelitian tentang efisiensi teknis juga dilakukan oleh Aisah (2003) dan Astuti (2003). Hasil penelitian Aisah (2003) tentang efisiensi teknis tomat mendapatkan variabel umur petani berpengaruh nyata dan bernilai positif. Hal yang serupa juga didapatkan Astuti (2003) tentang efisiesi teknis buncis perancis. Akan tetapi variabel umur memiliki nilai yang negatif dalam penelitian Astuti (2003). Nilai negatif ini menunjukkan bahwa umur dapat mengurangi dampak inefisiensi teknis. Hal ini karena dikarenakan semakin bertambahnya umur petani maka akan membuat petani tersebut cenderung tidak mau menerima teknologi baru karena sudah terbiasa dengan teknologi yang telah ia gunakan ataupun dapat dikarenakan kondisi fisik yang semakin melemah seiiring pertambahan usia sehingga menjadikan kinerja penati dalam pengelolaan usahatani menjadi terhambat dan tidak optimal.
17 Penelitian lainnya mengenai efisiensi teknis juga dilakukan oleh Irsyadi (2010) tentang efisiensi teknis usahatani kedelai edamame petani mitra PT Saung Mirwan. Dalam penelitiannya ini ia memilih variabel umur, pengalaman, pendidikan, dan dummy status kepemilikan lahan sebagai faktor-faktor yang diduga mempengaruhi inefisiensi teknis petani. Dalam penelitian ini walaupun ia meneliti tentang petani mitra PT Saung Mirwan, ia tidak memasukkan variabel yang berhubungan dengan kemitraan dalam faktor yang akan mempengaruhi inefisiensi teknis petani. Hal ini menjadi pertimbangan bagi peneliti yang akan mencoba memasukkan variabel yang berhubungan dengan kemitraan ke dalam pendugaan faktor-faktor yang mempengaruhi inefisiensi teknis petani.
[image:32.595.108.500.321.776.2]Hasil dari beberapa penelitian sebelumnya mengenai faktor yang diperkirakan mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis beberapa komoditi dalam usahatani antara lain ditunjukan pada Tabel 2.
Tabel 2. Penelitian Terdahulu yang Terkait dengan Efisiensi Teknis Usahatani
Peneliti
(Tahun) Komoditas TE
Faktor yang Mempengaruhi Inefisiensi
Sukiyono (2003)
Cabai merah 0,65 Umur (-)
Pendidikan formal (+)*
Pengalaman bertanam cabai (-)
Luas lahan usahatani cabai (+)
Saptana et al (2010)
Cabai merah besar
0,83 Luas lahan usahatani cabai merah besar terhadap total lahan (+)
Pendapatan total rumah tangga
Pengsa pendapatan rumah tangga dari usahatani cabai merah besar terhadap total pendapatan rumah tangga (-)
Umur kepala keluarga (+) **
18
Pengalaman kepala keluarga
(-)
Rasio jumlah anggota keluarga
usia kerja terhadap total anggota keluarga (-)
Dummy pengetahuan teknologi budiday anjuran (+)
Dummy rotasi tanaman (-)
Dummy akses ke pedagang langganan (+)
Dummy ketergantungan modal
ke berbagai sumber kredit (+)**
Dummy keanggotaan mitra
usaha (+) Aisah
(2003)
Tomat 0,71 Umur (+)***
Pekerjaan di luar usahatani (-)*
Penyuluhan (-)**
Astuti (2003)
Buncis perancis
0,89 Petani bekerja di luar (-)
Istri bekerja di luar (+)
Pendapatan dari luar usahatani
(+)**
Umur (-)**
Pendidikan (-)
Informasi (-)**
Pengalaman (+)
Irsyadi Kedelai
Edamame
0,72 Umur (+)
Pengalaman (-)***
Pendidikan (+)
Dummy status kepemilikan
19 Keterangan: * = nyata pada 1%
** = nyata pada 5%
*** = nyata pada 10%
Suatu variabel dikatakan berpengaruh nyata terhadap inefisiensi diartikan setiap perubahan yang terjadi pada variabel tersebut baik peningkatan maupun penurunan akan berpengaruh terhadap peningkatan ataupun penurunan ketidakefisienan teknis suatu usahatani. Sebaliknya jika suatu variabel dinyatakan tidak berpengaruh nyata terhadap inefisiensi diartikan setiap perubahan pada variabel tersebut tidak akan mempengaruhi ketidakefisienan teknis suatu usahatani. Hal tersebut dapat terjadi karena penggunaan variable tersebut dalam usahatani sudah berlebihan sehingga peningkatan atau penurunan jumlahnya tidak akan mempengaruhi inefisiensi teknis usahatani.
Dari keempat penelitian di atas ada berbagai macam variabel yang berpengaruh nyata mempengaruhi inefisiensi teknis. Variabel tersebut berbeda-beda pada masing penelitian. Hal ini karena inefisiensi teknis sangat dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi dari para petani tersebut. kemudian kondisi sosial ekonomi masing-masing petani pun berbeda-beda. Akan tetapi faktor sosial ekonomi yang menjadi faktor inefisiensi teknis yang ada pada hampir keseluruhan penelitian tersebut adalah umur. Hal ini menunjukkan bahwa variabel umur memang benar-benar dapat mempengaruhi inefisiensi teknis petani.
20
III
KERANGKA PEMIKIRAN
3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1. Konsep Usahatani
Usahatani merupakan salah satu ilmu yang mempelajari bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Suatu usahatani dikatakan efektif jika petani dapat mengalokasikan sumberdaya yang mereka miliki secara baik, sedangkan usahatani dikatakan efisien jika pemanfaatan sumberdaya yang mereka miliki dapat menghasilkan keluaran yang melebihi masukan (Soekartawi et al. 1986). Menurut Hernanto (1989) ilmu usahatani adalah ilmu yang mempelajari dengan lebih terperinci tentang masalah-masalah yang relatif sempit. Sedangkan menurut Daniel (2001), usahatani merupakan kegiatan mengorganisasikan (mengelola) aset dan cara dalam pertanian. Diartikan pula sebagai suatu kegiatan yang mengorganisasi sarana produksi pertanian dan teknologi dalam suatu usaha yang menyangkut bidang pertanian. Pernyataan tentang usahatani dari beberapa pakar di atas kita dapat melihat usahatani sebagai sebuah bentuk kegiatan dalam pengelolaan sumberdaya yang terdiri atas tanah, tenaga kerja, dan modal (termasuk teknologi) untuk menghasilkan komoditi pertanian. Kegiatan usahatani yang membutuhkan input dan menghasilkan output harus dikelola secara efektif dan efisien agar dapat memperoleh keuntungan yang maksimal bagi para petani.
21 usahatani koperatif tidak semua unsur-unsur produksi dikuasai bersama, misalkan lahan yang masih milik perorangan.
Kedua, menurut coraknya yaitu berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dari hasil kegiatan usahannya. Usahatani ini seperti usahatani subsisten yang bertujuan untuk pemenuhan keebutuhan rumah tangga tani (tidak dijual). Kemudian usahatani komersil yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya.
Ketiga, menurut polanya yaitu pola usahatani ditentukan menurut banyaknya cabang usahatani yang diusahakan. Berdasarakan hal tersebut maka dapat dibedakan menjadi usahatani khusus yaitu apabila usahatani tersebut hanya mengusahakan satu cabang usaha, usahatani tidak khusus saat petani mengusahakan beragam usahatani, dan usahatani campuran yaitu ketika usahatani yang diusahakan merupakan campuran antara sesama tanaman maupun dengan ternak.
Keempat, menurut tipennya yaitu usahatani yang digolongkan ke dalam beberapa jenis tanaman atau hewan yang diusahakan. Klasifikasi ini dilkelompokan berdasarkan nama tanaman atau hewan yang diusahakan, seperti usahatani padi, buncis, paprika, sapi potong, dan lain lain.
Hernanto (1996) menyatakan bahwa keberhasilan usahatani dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu faktor pada usahatani itu (internal) dan faktor-faktor di luar usahatani (eksternal). Adapun faktor-faktor internal tersebut antaralain petani pengelola, tanah usahatani, tenaga kerja, modal, tingkat teknologi, jumlah keluarga, dan kemampuan petani dalam mengaplikasikan penerimaan keluarga. Sedangkan faktor eksternal terdiri atas sarana transportasi dan komunikasi, aspek-aspek pemasaran hasil, fasilitas kredit, dan adanya penyuluhan bagi petani.
Menurut Hernanto (1996) ada empat unsur pokok yang harus ada dalam usahatani.
1. Lahan
22 alam yang mempengaruhinya seperti air, udara, temperatur udara, sinar matahari, dan lainnya. Keberadaan unsur ini tidak hanya dilihat dari segi luas atau sempitnya namun juga dari segi jenis tanah, jenis penggunaan lahan, topografi, kepemilikan atau penguasaan lahan, fragmentasi lahan, dan konsolidasi lahan.
2. Tenaga Kerja
Ada tiga jenis tenaga kerja yang dikenal dalam usahatani, yaitu manusia, ternak, dan mesin. Tenaga kerja yang digunakan dalam usahatani harus diukur efisiensinya. Tenaga kerja dapat diperoleh dari dalam rumah tangga tani mupun dari luar. Mempekerjakan tenaga kerja di luar rumah tangga tani harus memberikan imbalan jasa berupa upah. Upah tersebut dapat berupa uang tunai maupun bawon.
3. Modal
Modal adalah barang atau uang yang digunakan bersama faktor produksi yang lainnya untuk menghasilkan barang-barang baru yaitu produk pertanian. Modal dapat dibagi dua, yaitu modal tetap dan modal bergerak. Modal tetap adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi yang dapat digunakan beberapa kali, seperti mesin, pabrik, dan gedung. Modal bergerak adalah barang-barang yang dapat digunakan hanya satu kali saja atau barang-barang yang habis digunakan dalam proses produksi, seperti pupuk, obat-obatan, dan bahan bakar. Sumber modal dapat diperoleh dari milik , pinjaman atau kredit, hibah, warisan, usaha lain atau kontrak sewa. Keberadaan modal sangat menentukan tingkat atau jenis teknologi yang akan digunakan serta dapat berakibat positif maupun negatif terhadap usahatani. Penggunaan modal berfungsi membantu meningkatkan produktivitas dan pendapatan usahatani.
4. Pengelolaan
23
3.1.2. Konsep Pendapatan Usahatani
Pendapatan usahatani adalah balas jasa dari kerjasama faktor-faktor produksi seperti lahan, tenaga kerja, modal, dan jasa pengolahan (manajemen). Fungsi dari pendapatan adalah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga petani, untuk kebutuhan kegiatan usaha tani selanjutnya, dan kebutuhan lainnya. Besarnya pendapatan usahatani tergantung pada besarnya penerimaan dan pengeluaran selama jangka waktu yang ditetapkan.
Soekartawi (1994) menyatakan bahwa pendapatan usaha tani merupakan selisih antar panerimaan usahatani dengan semua biaya atau pengeluaran. Penerimaan usahatani merupakan perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Hernanto (1996) menyatakan bahwa penerimaan usahatani merupakan penerimaan dari segala sumber usahatani meliputi jumlah penambahan invetaris, nilai penjualan hasil, dan nilai penggunaan tanah yang dikonsumsi.
Istilah lain dalam penerimaan usahatani adalah pendapatan kotor usahatani. Pendapatan kotor usahatani merupakan nilai produk total usahatani dalam jangka waktu tertentu, baik yang dijual maupun yang tidak dijual, mencakup semua produk yang dijual, dikonsumsi rumah tangga petani, digunakan dalam usahatani untuk bibit ataupun pakan ternak, digunakan untuk pembayaran, dan disimpan atau ada di gudang akhir tahun (Soekartawi et al 1986).
Menurut Hernanto (1996) biaya dalam usahatani dibedakan atas beberapa hal.
1. Berdasarkan jumlah output yang dihasilkan, yang terdiri atas:
a. Biaya tetap adalah biaya yang besar dan kecilnya tidak tergantung pada besar dan kecilnya produksi, misalnya: pajak tanah, sewa lahan, penyusutan alat-alat bangunan pertanian, dan bunga pinjaman.
b. Biaya variabel adalah biaya yang berhubungan langsung dengan jumlah produksi, misalnya: pengeluaran-pengeluaran untuk bibit, pupuk, obat-obatan, dan biaya tenaga kerja.
24 a. Biaya tunai adalah biaya tetap dan biaya variabel yang dibayarkan secara tunai. Biaya tunai ini berguna untuk melihat pengalokasian modal yang dikeluarkan oleh petani.
b. Biaya tidak tunai (diperhitungkan) adalah biaya yang pengeluarannya bukanlah langsung dalam bentuk uang tunai, misalkan: biaya penyusutan alat-alat pertanian, sewa lahan milik (biaya tetap), dan tenaga kerja dalam keluarga (biaya variabel).
Tujuan analisis pendapatan adalah menggambarkan keadaan sekarang suatu kegiatan usaha dan untuk menggambarkan keadaan yang akan datang dari suatu perencanaan. Analisis pendapatan usahatani juga memberikan gambaran untuk mengukur barhasil tidaknya suatu kegiatan usahatani.
Pendapatan yang besar dari suatu kegiatan usahatani tidak selalu menunjukan efisiensi yang tinggi dari pendapatan. Karena ada kemungkinan pendapatan yang besar itu diperoleh dari investasi yang berlebihan. Oleh karena itu, analisis pendapatan usahatani selalu diikuti dengan pengukuran efisiensi. Ukuran efisiensi pendapatan dapat dihitung melalui perbandingan penerimaan dengan biaya yang dikeluarkan (R/C rasio) yang menunjukan berapa penerimaan yang diterima petani untuk setiap biaya yang dikeluarkan petani dalam proses produksi.
3.1.3. Konsep Fungsi Produksi
25 Ada beberapa bentuk fungsi produksi yang sering digunakan para ekonom di dalam penelitian mereka. Dua diantara bentuk fungsi produksi tersebut adalah fungsi produksi Cobb-douglas dan fungsi produksi translog. Kedua bentuk fungsi tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Bentuk umum fungsi produksi Cobb-douglas adalah; Yi = 0 ∑
dimana Y adalah variabel terikat yang merupakan output tunggal dati individu petani, X adalah variabel bebas yang merupakan penggunaan faktor-faktor produksi, 0 adalah intersep fungsi produksi, dan j adalah parameter dari setiap faktor produksi ke-j yang digunakan. Notasi i dan j masing-masing menunjukkan individu petani dan faktor produksi yang digunakan.
Fungsi Cobb-douglas adalah fungsi logaritmik yang sering digunakan dalam analisis produksi bidang pertanian. Fungsi produksi Cobb-douglas dibangun atas dasar asumsi, antara lain: pasar adalah persaingan sempurna, masing-masing parameter menunjukkan elastisitas produksi yang bersifat tetap, teknologi yang digunakan dalam proses produksi adalah sama, adanya interaksi antar faktor produksi yang digunakan, dan tidak ada pengaruh faktor waktu serta berlaku untuk kelompok usahatani yang sama serta dapat dianggap sebagai suatu industri (Tanjung 2003).
Keuntungan menggunakan fungsi produksi Cobb-douglas menurut Heady dan Dillon (1961) dalam Tanjung (2003) adalah;
1. Memiliki parameter yang dapat diduga dengan metode kuadrat terkecil. Parameternya langsung menunjukkan elastisitas faktor produksi dari setiap faktor produksi.
2. Perhitungannya sederhana karena dapat dibuat menjadi bentuk linier dan dapat dilakukan dengan perangkat lunak komputer.
26 produksi berlangsung pada skala usaha yang meningkat (increasing return to scale)
Meskipun bentuk fungsi ini relatif lebih mudah diubah ke bentuk linier sederhana, namun berkenaan dengan asumsi yang melekat padanya, bentuk Cobb-douglas mempunyai banyak keterbatasan diantaranya; (1) elastisitas produksi adalah konstan, (2) elastisitas substitusi input bersifat elastis sempurna atau (3) elastisitas harga silang untuk semua faktor dalam kaitannya dengan harga input lain mempunyai besaran dan arah yang sama, dan (4) elastisitas harga permintaan input terhadap harga output adalah elastis.
Bentuk lain yang biasa digunakan adalah fungsi produksi translog. Fungsi produksi translog tidak menetapkan batasan terhadap elastisitas input dan substitusi serta nilai pengembalian (return to scale) seperti yang dikenankan pada fungsi produksi Cobb-douglas. Akan tetapi bentuk fungsi ini memiliki kelemahan dalam hhal sulit untuk dimodifikasi secara matematis dan dapat mengalami masalah multikolinearitas serta masalah derajat bebas (Coelli et al. 1998).
Terlepas dari bentuk fungsi produksi yang biasa digunakan, sasaran dari proses produksi adalah mencapai efisiensi yang tinggi dalam berproduksi. Terdapat dua konsep fungsi produksi yang perlu diperhatikan perbedaannya untuk mengukur efisiensi, yaitu fungsi produksi batas (production frontier) dan fungsi produksi rata-rata (konvensional).
27
3.1.4. Konsep Fungsi Produksi Stochastic Frontier
Fungsi produksi yang menggambarkan output maksimum yang dapata dicapai dalam suatu proses produksi disebut sebagai fungsi produksi frontier. Fungsi produksi frontier merupakan fungsi produksi yang paling praktis atau menggambarkan atau menggambarkan produksi maksimum yang dapat diperoleh dari variasi kombinasi faktor produksi pada tingkat pengetahuan dan teknologi tertentu (Doll dan Orazem 1984). Fungsi produksi frontier diturunkan dengan menghubungkan titik output maksimum untuk setiap tingkat penggunaan input. Jadi fungsi tersebut mewakili kombinasi input-input secara teknis yang paling efisien.
Model fungsi produksi stochastic frontier diperkenalkan oleh Aigner, lovell, dan Schmidt (1977) serta Meeusen dan Van den Broeck (1977) yang merupakan perluasan dari model asli deterrministik untuk mengukur efek-efek yang tak terduga (stochastic effect) di dalam batas produksi (Coelli et al. 1998). Di dalam fungsi produksi ini, variabel acak (random error) Vit ditambahkan pada variabel random non negative (Uit), sebagaimana dinyatakan dalam persamaan berikut.
Yit = Xit + (Vit– Uit) untuk i= 1,2,3,...,n dimana:
Yit = produksi yang dihasilkan petani-i pada waktu-t
Xit = vektor masukan yang digunakan petani-i pada waktu-t = vektor parameter yang akan diestimasi
Vit = variabel acak yang berkaitan dengan faktor-faktor eksternal sebarannya simetris dan menyebar normal (Vit ~ N (0, )
Uit = variabel acak non negatif, diasumsikan mempengaruhi tingkat inefisiensi teknis, berkaitan dengan faktor-faktor internal, dan sebaran uit bersifat setengah normal ( Uit ~ | N(0, | ).
28 Sedangkan variabel Uit one-side disturbance yang berfungsi untuk menangkap efek inefisiensi.
Komponen error yang bersifat internal (dapat dikendalikan petani) dan lazimnya berkaitan dengan kapabilitas manajerial petani dalam mengelola usahataninya direfleksikan oleh Uit. Komponen ini sebarannya asimetris (one sided) yakni Uit ≥ 0. Jika proses produksi berlangsung efisien (sempurna) maka keluaran yang dihasilkan berimpit dengan potensi maksimumnya berarti Uit = 0. Sebaliknya jika Uit > 0 berarti berada dibawah potensi maksimumnya. Distribusi menyebar setengah normal (Uit ~ | N(0, |) dan menggunakan metode pendugaan maximum likelihood (Greene 1982 dalam Adhiana 2005). Struktur dasar dari model stochastic production frontier dijabarkan pada Gambar 3.
29
Gambar 2. Fungsi Produksi Stochastic Frontier Sumber : (Coelli et al 1998)
Kelamahan model batas stokastik yaitu secara umum pada model ini tidak ada sebuah pengakuan terhadap bentuk penyebaran yang pasti dari variabel-variabel Ui. Bentuk distribusi yang selama ini dipilih adalah bentuk distribusi setengah normal dan eksponensial yang menurut Coelli et al. (1998) kedua bentuk distribusi ini cenderung bernilai nol sehingga kemungkinan besar efek efisiensi yang dicari juga mendekati nol.
Sejumlah peneliti untuk menanggapi kritik ini membuat bentuk penyebaran yang lebih umum dan memiliki bentuk distribusi yang lebih luas seperti terpotong normal (truncated normal) (Stevenson 1980 dalam Coelli et al. 1998) dan dua parameter gama untuk menangkap efek inefisiensi teknis (Greene 1990 dalam Coelli et al. 1998).
Model pemotongan terhadap penyebaran normal lebih mudah diperhitungkan dibanding model gama. Penyebaran terpotong normal adalah generalisasi dari penyebaran setengah normal. Penyebaran ini diperoleh melalui pemotongan pada nilai nol dari penyebaran normal dengan nilai harapan variannya masing-masing adalah μ dan 2. Jika μ bernilai nol maka penyebaran tersebut adalah setengah normal.
input output
Xj Xi
Yj
Yi
X
X
Production function Y=exp f(X )
Frontier output (Yj*), exp(Xj +Vj), if Vj<0 Frontier output (Yi*),
30 Menggunakan stochastic frontier memiliki keunggulan yang lebih dibandingkan alat analisis lain seperti Data Envelopment Analysis (DEA). Data Envelopment Analysis tidak dapat mengakomodasi kesalahan dari model sedangkan stochastic frontier mampu mengestimasi ketidakefisienan suatu proses produksi tanpa mengabaikan kesalahan dari modelnya. Hal ini dimungkinkan karena kesalahan baku dalam model terdiri atas dua kesalahan baku yang terdristibusi secara bebas (normal) dan sama untuk setiap observasi (Baek dan Pagan 2003 dalam Sukiyono 2004).
Metode pendugaan Maximum Likelihooh Estimated (MLE) pada model stochastic frontier dilakukan melalui proses dua tahap. Tahap pertama menggunakan metode Ordinary Least Square (OLS) untuk menduga parameter teknologi dan input-input produksi ( m) dan tahap kedua menggunakan metode MLE untuk menduga keseluruhan parameter yaitu parameter produksi ( m),
intersep ( 0), dan varians dari kedua komponen kesalahan Vi dan Ui ( dan )
(Kumbhakar dan Lovell 2000).
Metode OLS ditujukan untuk menggambarkan kinerja rata-rata (best-fit) dari proses produksi petani pada tingkat teknologi yang ada. Asumsi OLS yang harus dipenuhi adalah idak terdapat heteroskedastisitas, tidak terdapat autokorelasi, dan tidak terdapat multikolinearitas. Kemudian digunakan metode MLE (Maximum Likelihood Estimated) untuk menggambarkan kinerja terbaik (best practice) dari petani dalam melakukan proses produksi baby buncis.
3.1.5. Konsep Efisiensi Teknis dan Inefisiensi
31 Coelli et al. (1998), menyatakan bahwa konsep efisiensi dibedakan menjadi tiga, yaitu ; 1) efisiensi teknis (technical efficiency), 2) efisiensi harga (price efficiency), 3) efisiensi ekonomis (economic efficiency). Konsep efisiensi disajikan pada Gambar 4. Efisiensi teknis mengukur tingkat produksi yang dicapai pada tingkat penggunaan input tertentu. Seorang petani secara teknis dikatakan lebih efisien dibandingkan petani lain, apabila dengan penggunaan jenis dan jumlah input yang sama dan memperoleh output secara fisik yang lebih tinggi, namun tidak melibatkan faktor harga (titik A). Efisiensi harga atau alokatif mengukur tingkat keberhasilan petani dalam usahanya untuk mencapai keuntungan maksimum yang dicapai pada saat nilai produk marjinal setiap faktor produksi yang diberikan sama dengan biaya marjinalnya (titik B). Efisiensi ekonomis adalah kombinasi antara efisiensi teknis dan efisiensi harga yang ditunjukkan oleh titik C.
Gambar 3. Konsep Efisiensi Teknis, Alokatif, dan Eonomis
Efisiensi teknis menurut Kumbhakar dan Lovell (2000) dalam Adhiana (β005) adalah “Produsen dikatakan efisien secara teknis jika dan hanya jika tidak mungkin lagi memproduksi lebih banyak output dari yang telah ada tanpa mengurangi sejumlah output lainnya atau dengan menambah sejumlah input
tertentu”. εenurut Bakhsoodeh dan Thomson (β001) dalam Adhiana (2005),
x y
X X
B C
X
A Fungsi produksi frontier Yi=f(Xi ) exp (Vi-Ui)
Fungsi produksi rata-rata Yi=f(Xi )
32 petani yang efisien secara teknis adalah petani yang menggunakan lebih sedikit input untuk memproduksi sejumlah output pada tingkat tertentu atau petani yang dapat menghasilkan output yang lebih besar dari petani lainnya dengan menggunakan sejumlah input tertentu.
Berdasarkan definisi diatas, efisiensi teknis dapat diukur dengan pendekatan dari sisi output dan sisi input. Pengukuran efisiensi teknis dari sisi output merupakan rasio dari output observasi terhadap ou