• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karoushi dalam Kehidupan Sararimandi Jepang Dewasa Ini

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Karoushi dalam Kehidupan Sararimandi Jepang Dewasa Ini"

Copied!
78
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Dudung. 1999. Metode Penelitian Sejarah. Jakarta: PT Logos Wacana Ilmu

Azwar, Saifuddin. 1998. Metode Penelitian. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Fukutake, Tadashi. 1988. Masyarakat Jepang Dewasa Ini. Jakarta: PT Gramedia

Fukutake , Tadashi.1997. Nihon Shakai no Koozo 3th edition.Tokyo: Tokyo DaigakuPress

Hamaguchi ,eishun. 1994.Nihonteki Shuudan Shugi (groupisme Jepang). Tokyo: yuuhikaku

Haryanti,pitri, M.Pd. 2013.All About Japan.Yogyakarta : CV. Andi

Hasegawa, katsuyuki. 1998. Can you Be a Cross Culturalist, Yes or No. Tokyo: Hiragana times

Mouer,Ross, dan Hiroshuke Kawanishi.2005. A Sociology of Work in Japan. New York: Cambridge University Press

Koentjaraningrat. 1976. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Madubrangti, diah. 2004. Undokai:Makna Undokai Sebagai Kegiatan Kompetitif bagi Pembentukan Kepribadian Anak Melalui Pendidikan Sekolah di

Jepang.Jakarta: Fakultas Ilmu dan Budaya, Universitas Indonesia

(2)

Moleong, Lexy J. 1994. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya.

Nakane, Chie. 1981. Masyarakat Jepang. Jakarta: Sinar Harapan

Situmorang, Hamzon. 2009. Ilmu Kejepangan I (Edisi Revisi). Medan: USU Press

Subarkah, Imam. 2013. Ilham-Ilham Dahsyat dari Kesuksesan Bangsa Jepang.

Yogyakarta: FlashBooks

Suryohadiprojo , Sayidiman. 1982. Manusia dan Masyarakat Jepang dalam Perjuangan Hidup. Jakarta: Penerbit UI Pustaka Bradjaguna

1. Uehata. 1990.Studi Kedokteran karoshi, National Defense Counse. Tokyo: Mado-sha

Wokutch, Richard. 1992.Medical and Health Annual On Occupational Safety andHealth in The Japanese Auto Industry, Worker Protection, Japanese Style. USA:ILR Press of Cornell University

September 2015)

(3)

(4)

BAB III

DAMPAK KAROUSHI DI JEPANG

Kasus karoushiyang terjadi di Jepang umumnya disebabkan oleh stres yang berkepanjangan sehingga menyebabkan serangan jantung atau stroke. Korban utamanya ialah para sarariman laki-laki yang bekerja pada perusahaan Jepang. Para karyawan ini bekerja dengan jam kerja yang panjang dengan beban kerja yang besar. Dan juga beberapa kasus, seperti adanya berbagai jenis penghinaan oleh atasan sebagai akibat dari status mereka yang rendah dalam hirarki gaji perusahaan.

Karoushi ini dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dalam kehidupan keluarga, kehidupan sosial (masyarakat), maupun dalam bidang kesehatan.Secara umum karoushi memiliki dampak positif dan negatif.Adapun dampak positif dari

karoushi terutama bagi perusahaan yang memperkerjakan sarariman ini. Karena dengan adanya sarariman ini dapat meningkatkan produktifitas perusahaan sehingga dapat memajukan dan mencapai target yang diinginkan perusahaan.

Karoushi juga berdampak negatif terutama bagi sarariman itu sendiri.Karena pekerjaan yang sangat banyak dan menumpuk membuat sarariman

ini harus bekerja lembur setiap harinya.Sarariman juga banyak kehilangan waktu istirahat bahkan untuk sekedar mengurus kepentingan diri sendiri saja tidak memiliki waktu.Hal inilah yang memicu terjadinya karoushi di Jepang dewasa ini.

(5)

tempat pekerja itu bekerja. Kondisi bekerja yang terlalu panjang justru malah bersifat buruk bagi pekerja, dan baik bagi perusahaan.Efek yang ditanggung oleh pekerja secara langsung adalah kondisi fisik yang menurun dalam jangka panjang, yang diikuti dengan penurunan produktifitas.

Penurunan produktivitas bagi perusahaan adalah kehilangan sejumlah keuntungan dalam bentuk biaya tambahan yang harus dibayar oleh perusahaan.Konsekuensi yang timbul dan bersifat tidak langsung adalah meningkatnya tingkat absensi,menurunnya tingkat produktivitas, dan secara psikologis dapat menurunkan komitmen organisasi, memicu perasaan teraliansi, hingga meninggal (Robbins, 1993:18).

3.1 Dampak Karoushi dalam Keluarga

Mempertahankan kelangsungan hidup adalah kebutuhan lahiriah atau fisik yang merupakan dasar utama, dan hal ini adalah dasar dari dilakukannya kerja atau kegiatan kerja akan tetapi dalam kenyataannya kebutuhan manusia bermacam-macam, apabila kebutuhan yang bersifat lahiriah telah terpenuhi, berturut-turut muncul keinginan-keinginan lain dalam kehidupan tersebut. Dibalik kegiatan kerja yang dilakukan oleh seseorang pasti ada motivasi yang membuat orang tersebutmelakukan kegiatan kerja.Motivasi atau penggerak yang membuat seseorang melakukan kerja ada bermacam-macam jenisnya.

(6)

pengembangan keberadaan masyarakat.Kehidupan rohani, kehidupan yang mementingkan nilai-nilai ketentraman. Agar kegiatan-kegiatan kerja dapat berjalan sesuai dengan fungsinya maka dibutuhkan aturan-aturan tertentu yang dikemukakan oleh Shimada (2008:18):

Kerja adalah kegiatan yang bersifat sosial, sebagai panggilan hidup yang merupakan selain kegiatan manusia yang berkelanjutan untuk mendapatkan imbalan demi kelangsungan hidup juga merupakan suatu yang berhubungan dengan aturan-aturan sosial yang melingkupinya yang mengatur kegiatan manusia tersebut.Aturan aturan itu adalah “etika kerja”.

Keluarga menjadi kerangka utama dalam setiap perusahaan.Dengan semangat kekeluargaan, sering kali karyawan dengan suka rela bekerja melebihi dari waktu jam kerja mereka dikarenakan loyalitas mereka yang begitu besar bagi perusahaan (Okimoto, 1988:134).

Karyawan ini pun sering merelakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dengan bekerja lembur pada perusahaan. Akibat dari pekerjaan lembur yang terus-menerus ini, mereka kehilangan komunikasi atau hanya sekedar untuk bertegur sapa dengan anggota keluarga. Karena karyawan ini banyak menghabiskan waktu di tempat bekerjanya.Kadang karyawan ini pulang pada saat malam telah larut dan bahkan mereka tidak sempat pulang ke rumah.Kondisi ini dilakukan terus-menerus sampai karyawan ini menjadi salah satu korban karoushi.

(7)

anak mereka akhirnya jatuh menjadi korban karoushi seperti yang dinyatakan NHK (2001:44). “Para ibu atau istri biasanya membuat jadwal harian kepulangan suami atau anak mereka. Salah satu penelpon layanan karoushi 110 mengatakan bahwa cuma itu yang bisa ia lakukan melihat kondisi anaknya yang sekarang. Anaknya bekerja tiap hari, termasuk hari minggu. Seminggu sekali ia tidak pulang dan menginap di hotel kapsul, ia tidak lagi membaca buku kesukaannya, tidak berbicara pada anggota keluarga lainnya, bila ada waktu luang hal yang paling ia inginkan adalah tidur. Begitu khawatirnya, ibu itu merasa setiap pagi ia harus mengantar anaknya pergi ke medan perang”.

Dalam pengertian karoushi, terdapat dua unsur utama yang dapat dikatakan sebagai syarat bahwa kematian seseorang dapat dikatagorikan ke dalam

karoushi.Dua unsur penting yang perlu diketahui agar keluarga atau orang yang mempunyai hubungan dengan korban karoushi dapat mengajukan tuntutan terhadap pihak atau perusahaan yang bersangkutan. Pemerintah dalam hal ini Departemen Tenaga Kerja Jepang menentukan kategori karoushi ini dan berusaha mempercepat jalannya proses tuntutan karena banyak perusahaan yang menolak untuk memenuhi tuntutan yang diajukan kepada mereka, yaitu:

(8)

tinggi.

2. Frekwensi jam kerja korban sebelum ia meninggal. Departemen Tenaga Kerja Jepang menyatakan, frekwensi jam kerja yang dapat dikatakan sebagai penyebab karoushi, adalah jika korban terkait dengan pekerjaannya selama 24 jam terus menerus tepat sebelum kematiannya, atau jika ia bekerja sekurang-kurangnya 16 jam sehari selama seminggu, tepat sebelum hari kematiannya. Ini berarti korban telah bekerja sekurang-kurangnya 2 kali lipat dari jam kerja yang seharusnya selama 1 minggu sebelum ia meninggal atau 3 kali lipat dari jam kerja yang seharusnya tepat pada hari sebelum ia meninggal.

Menurut Richard Wokutch dalam Sookhan Ho (2002:32) mengatakan bahwa masyarakat Jepang menganggap bahwa karoushi, tidak hanya disebabkan oleh situasi kerja, seperti tuntutan untuk menyelesaikan kerja secara cepat dan kerja dengan frekwensi jam kerja yang tinggi, tetapi juga disebabkan oleh faktor lainnya yang dapat dikatakan sebagai factor tidak langsung seperti lamanya waktu yang ditempuh dari rumah ke tempat kerja, tempat tinggal yang sempit, tidur dan olahraga yang tidak cukup, kebiasaan minum-minuman dan lain-lain.

(9)

yang berlebihan.

Di Jepang unit kekerabatan keluarga korban karoushi mengandungsistem aturan, yaitu yang menyangkut patrilineal. Unit kekerabatan juga memiliki sistem nilai yang berfungsi untuk menjaga nama baik usaha atau keluarga.

Kesetiaan seseorang pekerja akan sangat dihargai oleh perusahaan. Syamsaimun (1992:25), mengatakan bahwa demi untuk kesetiaan pula perusahaan rela mengeluarkan pengeluaran cukup besar untuk menjaga kesetiaan setiap pekerja dengan membuat macam-macam atribut seperti filsafat, lagu perusahaan, lencana dan pertemuan serta jamuan pada saat penerimaan karyawan baru.

Kehidupan masyarakat Jepang dengan standar hidup yang tinggi, penerapan teknologi maju, menuntut mereka untuk menjalani pendidikan sampai tingkat tertentu agar bisa mengimbangi standar hidup mereka itu sendiri dan mampu mengikuti arus perkembangan zaman.Disamping itu, kecendungan untuk menilai seseorang melalui latar belakang pendidikannya sudah berakar kuat pada masyarakat Jepang. Secara ekonomis dapat mengandalkan latar pendidikannya sebagai modal dan pendapatannya di masa depan (NHK Kokusai Kyouzu Keizei,1995:177).

(10)

Biaya lainnya yang dianggap lebih berat dari biaya pendidikan yaitu biaya yang dikeluarkan untuk cicilan rumah. Pada tahun 1993, keluarga yang memiliki rumah sendiri di seluruh Jepang, jumlahnya sekitar 60%, dan sangat susah untuk memiliki rumah sendiri di kota besar seperti tokyo, karena harganya sangat tinggi. hal ini sesuai dengan kehidupan orang Jepang dalam Hyou To Gurafu De MiruShakaika Shiryoushuu (1998: 214).

Karena tuntutan hidup orang Jepang yang sangat tinggi, kebutuhan hidup yang harus dicukupi oleh orang Jepang dan loyalitas yang dimiliki oleh seorang pekerja dapat dijadikan landasan tinggi dan lamanya jam kerja di Jepang.

(11)

3.2 Dampak karoushi terhadap kesehatan (Diri Sendiri)

Kesehatan adalah hal yang sangat penting,jika ketahanan tubuh menurun maka secara tidak langsung akan kehilangan semangat, sehingga pekerja lebih sering menunda-nunda pekerjaan dan bahkan menghindari pekerjaan, tidak dapat melaksanakan pekerjaan secara maksimal, kehilangan konsentrasi dan akan membuat prestasi dan produktivitas di dalam bekerja menurun. Motivasi untuk melakukan hal-hal yang bersifat positif pun berkurang, karena secara fisik tubuh akan cepat merasa lelah apabila ketahanan daya tahan tubuh menurun secara drastis.

Menurut analisis tingginya jam kerja yang dilakukan pada bidang pekerjaan di perusahaan besar menimbulkan stress yang dapat menyebabkan

karoushi. Hal ini diakibatkan karena mereka bekerja sangat antusias namun mengabaikan kebutuhan mereka untuk istirahat, makan, tidur dengan teratur, sesuai dengan yang dikatakan oleh Dr. Uehaja (karoushi:2000) di dalam penelitiannya:

(12)

Insinyur.Mereka memiliki tuntutan pekerjaan yang sangat tinggi dan biasanya mereka sangat antusias di dalam melakukan pekerjaannya, sehingga mereka tidak bisa mengontrol jam kerja dengan baik.

Hampir semua jenis pekerjaan mengalami peningkatan stress yang drastis akibat dari stress karena banyak bekerja. Karena tuntutan pekerjaan mereka yang mengharuskan setiap pekerjanya untuk bekerja dengan waktu yang singkat dan dengan pekerjaan yang banyak, sehingga menyebabkan para pekerja bekerja di bawah tekanan. Hal ini sesuai dalam Stress and Health (1999:204) yang menyatakan:

Kecemasan, ketegangan, kemarahan, dan kebencian adalah gejala yang lebih sering dilaporkan. Beberapa orang menemukan tekanan pekerjaan begitu besar sehingga menyebabkan mereka dalam jangka waktu tertentu , dan secara bertahap menjadi depresi.

Apabila pekerjaan belum selesai dikerjakan, maka pekerja akan menyelesaikan sehingga harus bekerja melebihi jam kerja normal. Peningkatan stress akibat bekerja melebihi jam kerja normal, mengalami peningkatan yang cukup tinggi dan bahwa jam kerja yang berlebihan membuat para pekerja mengalami stres. Jam kerja yang panjang pasti membawa korban. Seorang psikiater pada tahun 1992 melaporkan dalam hotline karoushi (1991), bahwa jumlah pasien yang konsultasi kepadanya untuk masalah stress telah empat kali lipat lebih dari sepuluh tahun sebelumnya.

(13)

kompleksitas pekerjaan, bekerja yang melebihi batas, kondisi fisik yang tidak nyaman, dan giliran bekerja (shift) yang tidak berjalan semestinya. Kompleksitas pekerjaan adalah bagian dari pekerjaan yang sulit untuk diselesaikan.Hal ini meliputi jumlah dan kerumitan informasi yang dibutuhkan dari fungsi suatu pekerjaan, serta perluasan atau penambahan dari metode untuk melakukan pekerjaan.

Beberapa sumber stress yang dianggap sebagai sumber stress kerja adalah stress karena kondisi pekerjaan, masalah peran, hubungan interpersonal, kesempatan pengembangan karir, dan struktur organisasi (Cooper,1989:193).

Terry Beehr dan John (1999:195) mengkaji kembali banyak pelajaran mengenai stres yang disebabkan oleh pekerjaan dan menyimpulkan bahwa terdapat tiga hal pribadi negatif yang keluar sebagai hasil dari stress bekerja, diantaranya adalah ditinjau dari gejala kesehatan mental, gejala kesehatan fisik, dan gejala perilaku.

(14)

terus-menerus. Menurut istilah psikologi, stress berkepanjangan ini disebut stress kronis. Stress kronis sifatnya menghancurkan tubuh, pikiran dan seluruh kehidupan penderitanya secara perlahan-lahan. Stress kronis umumnya terjadi di seputar masalah ketidakpuasan kerja. Akibatnya, orang akan terus-menerus merasa tertekan dan kehilangan harapan.Hal ini dapat memicu terjadinya karoushi terhadap pekerja.

3.3 Usaha-usaha mengatasi karoushi

Karoushi yang terjadi di Jepang sudah menjadi permasalahan besar. Karena setiap tahunnya jumlah korban karoushi terus bertambah. Untuk itu Pemerintah Jepang telah melakukan segala cara untuk mengatasi masalah karoushi ini. Mulai dari penanggulangan yang ringan sampai kepada hal-hal yang berat dan rumit.

(15)

terbiasa bekerja 48- 60 jam dan ini belum termasuk lembur.Berarti banyak dari perusahaan-perusahaan yang belum menerapakan sistem ini (Kunio, 2001:46).

Kasus karoushi yang dihadapi oleh masyarakat Jepang mengakibatkan kondisi ekonomi Jepang tahun 2007 menurun hampir 2,7 triliun yen atau sekitar Rp288,4 triliun. Penurunan ini merujuk pada hilangnya pendapatan masyarakat dan meningkatnya biaya perawatan atas karoushi yang dialami.Menurut studi pemerintah, masyarakat yang meninggal akibat karoushi umumnya berusia antara 20 tahun hingga 45 tahun. Mereka sebenarnya masih dalam kelompok usia produktif dan bisa mendatangkan pendapatan sekitar 1,9 triliun yen hingga mereka mencapai usia pension. Selain itu, Pemerintah Jepang mengatakan masalah karoushimembuat negara Jepang menghabiskan hampir US$32 miliar atau sekitar Rp28,8 triliun sepanjang tahun2007 hingga saat ini untuk membuat solusi-solusi guna menekan angka bunuh diri di Jepang.

Pemerintah Jepang juga melakukan tindakan pencegahankaroushi terhadap para salary manatau pekerja. Pemerintah melakukan tindakan seperti menyediakan nomor telepon darurat untuk dapat menerima keluh-kesah para

(16)

Pada tahun 2010, Pemerintah Jepang meluncurkan kampanye Anti

Karoushisebagai upaya untuk menekan tingginya jumlah kasus kematian di Jepang.Kampanye yang dilakukan pemerintah mencakup penggunaaan media internet dan papan reklame untuk menghimbau masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda perilaku yang tidak normal yang dilakukan oleh orang di sekitarnya.

Segara upaya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang guna menangani masalah karoushi ini merupakan bentuk pengelolaan secara organisasional.Pemerintah selaku pengambil keputusan melakukan wewenangnya dalam pembuatan kebijakan yang berhubungan dengan masalah ini. Saluran telpon yang disediakan pemerintah guna menangani keluh kesah sarariman

merupakan suatu bentuk pengelolaan organisasional dengan cara membangun komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Selain itu, bantuan pemerintah Jepang bentuk asuransi dan dana yang disediakan untuk mereka yang kehilangan pekerjaan dan terlilit utang merupakan bentuk dari program kesejahteraan yang dapat diketegorikan sebagai tindakan pengelolaan stres organisasional.

(17)

Pemerintah Jepang, menerbitkan undang-undang baru yang akan memaksa para karyawan untuk berlibur. Para karyawan di Jepang sangat malas untuk mengambil cuti. Sepanjang 2013, mereka hanya mengambil kurang dari separuh jatah cuti. Dengan peraturan baru ini, Pemerintah Jepang berharap bisa meningkatkan angka liburan para karyawan hingga 70 persen pada 2020.Pada masa pertumbuhan ekonomi yang tak menentu ini, banyak perusahaan Jepang yang meminta para karyawannya bekerja lebih keras. Banyak karyawan muda yang harus bekerja lembur lebih dari 100 jam selama satu bulan.Namun, hampir dua pertiga karyawan di Jepang ternyata enggan mengambil jatah cuti karena mereka merasa sungkan dengan para rekan kerjanya. Menurut hasil studi Institut Pelatihan Kebijakan Tenaga Kerja Jepang, lebih dari separuh karyawan di negeri itu mengatakan bahwa mereka tak sempat berlibur karena beban kerja yang terlalu banyak.

Para karyawan itu juga mengatakan, mereka yang mengambil cuti pada masa kesulitan ekonomi seperti saat ini berisiko dianggap sebagai seseorang yang tak memiliki komitmen. Alhasil, kasus-kasus karoshi atau meninggal dunia karena bekerja terlalu keras kini menimpa semua lapisan karyawan, mulai dari yang berusia tua hingga muda.Saat ini, para karyawan di Jepang memiliki hak 10 hari cuti setahun. Jumlah hari cuti itu bertambah sehari setiap tahun hingga mencapai angka maksimal, yaitu 20 hari setahun. Undang-undang baru itu setelah diberlakukan nanti diharap bisa membuat pihak pengelola perusahaan memastikan karyawan mereka mengambil jatah cuti tahunan.

(18)

memiliki keseimbangan dalam kehidupan serta pekerjaan.Jepang telah mempelajari Rancanga terakhir.Dorongan yang muncul kuat sejak 2012 atas konsensus yang berkembang bahwa biaya kesehatan, sosial dan produktivitas dari budaya kerja ekstrim di Jepang sangat tinggi.Sebagian penyebab dari permasalahan ini adalah banyak orang khawatir terhadap sentimen negatif yang berkembang dari rekan kerjanya apabila ia mengambil hak cutinya, dampak nyata dari budaya tradisional Jepang yang lebih mengutamakan keharmonisan.

Buruh wanita yang bekerja di kantor seperti Eriko Sekiguchi mendedikasikan hidupnya pada pekerjaan sehingga tampak sulit baginya untuk pulang meninggalkan pekerjaan. Inilah tipe umum dan kekuatan di balik perusahaan di Jepang. Hal ini memiliki dampak sosial dimana wanita seperti Eriko Sekiguchi khawatir bahwa dirinya tidak akan pernah menikah.Budaya “gila kerja” dan keterkaitannya terhadap pasangan di Jepang untuk tidak memiliki anak telah lama dituding sebagai penyebab utama menurunnya angka kelahiran secara drastis di Jepang, yang dampaknya dapat merusak kemapanan negara dengan perekonomian ketiga terbesar di dunia ini.

Bekerja hingga mati adalah tragedi yang sangat umum terjadi hingga menyebabkankaroushi. Pemerintah memperkirakan terdapat 200 kematian

(19)
(20)

BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Dari uraian-uraian yang telah dipaparkan diatas maka kita dapat mengambil beberapa kesimpulan yaitu:

1. Karoushi adalah kematian seseorang akibat kerja yang berlebihan. Fenomena karoushi yang terjadi pada masyarakat Jepang dipengaruhi oleh sosial budaya Jepang itu sendiri yaitu berlandaskan rasa pengorbanan yang tinggi terhadap pekerjaan dan tempat kerja serta adanya jiwa kerja keras yang telah membudaya juga menjadi karakteristik bangsa Jepang.

2. Beban kerja yang berlebih serta jam kerja yang sangat tinggi (lembur) adalah faktor yang memicu terjadinya fenomena karoushi. Stres yang sangat menumpuk dalam jangka waktu yang cukup lama hingga dapat mengalami penyakit fisik merupakan dampak yang ditimbulkan dari dari beban kerja yang berlebih dengan jam kerja yang tidak teratur ditambah dengan sedikitnya hari libur / waktu istirahat yang membuat seseorang berada dalam kondisi yang tidak sehat baik secara fisik maupun mental. Hal inilah yang memicu terjadinya karoushi di Jepang.

(21)

kepastian peningkatan karier walaupun telah bekerja puluhan tahun lamanya. Rata-rata sarariman ini merujuk kepada laki-laki, karena jam kerja laki-laki lebih banyak daripada jam kerja perempuan di Jepang. 4. Karoushimemberikan dampak terhadap keluarga. Berkurang

harmonisnya hubungan keluarga karena sarariman / pekerja tidak memiliki waktu untuk sekedar berkumpul dan berkomunikasi dengan keluarganya. Sarariman ini menghabiskan banyak waktu mereka hanya untuk bekerja dan mengabdi kepada perusahaan atau tempat bekerja. Bahkan pekerja ini sampai tidak pulang ke rumah dan memginap di tempat bekerja atau hotel kapsul.

5. Karoushi memberikan dampak terhadap kesehatan (diri sendiri). Menyebabkan menurunnya kesehatan si pekerja karena terlalu banyak bekerja dan lembur yang mengakibatkan stres setiap waktu. Tidak adanya waktu istirahat atau hanya sekedar untuk memanjakan diri sendiri karena selalu memikirkan pekerjaan. Penyakit yang diderita oleh korban karoushi ini umumnya penyakit pembuluh darah di otak, pendarahan di otak, gagal jantung hingga stroke karena beban kerja yang banyak.

(22)

4.2 Saran

Seiring dengan kemajuan perekonomian dan terknologi Jepang harusnya Bangsa Jepang dapat mengantisipasi masalah-masalah yang ditimbulkan oleh karoushi ini. Pemerintah harus lebih giat lagi dalam memberikan pelayanan tambahan bagi para pekerja khususnya dalam kesehatan, sehingga mereka menyadari pentingnya kesehatan untuk diri sendiri dan meluangkan waktu untuk istirahat.

Pemerintah juga harus mencari cara sebanyak-banyaknya untuk mengurangi masalah karoushi ini. Dengan banyaknya penaggulangan yang dilakukan oleh pemerintah, diharapkan masalah dan kasus karoushi dapat berkurang di Jepang. Dan sarariman atau pekerja di Jepang dapat bekerja dengan leluasa tanpa adanya tekanan dari berbagai pihak.

(23)

BAB II

GAMBARAN UMUM MENGENAI KAROUSHI DALAM KEHIDUPAN

SARARIMAN DI JEPANG DEWASA INI

2.1 Sarariman dan Perusahaan Jepang

Jepang merupakan salah satu dari negara maju yang ada di dunia, dan kemajuan jepang diakui terlebih dalam bidang teknologi. Suatu negara dapat maju karena dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Meskipun negara Jepang tidak memiliki sumber daya alam yang lebih baik dari negara-negara lain, tetapi Jepang memiliki sumber daya manusia yang lebih baik dari kebanyakan negara lain. Hal itu dikarenakan akan kesadaran dengan jiwa yang giat dan gigih oleh bangsa Jepang itu sendiri dalam melakukan suatu pekerjaan atau hal yang dianggap suatu kewajiban.

Warga Jepang sejak berabad-abad memang memiliki tradisi kerja keras dan jiwa pantang menyerah yang sudah tertanam dari dahulu hingga sekarang. Hal ini dapat dilihat dari kerja keras yang dilakukan bangsa Jepang untuk melakukan kewajibannya. Terlebih disuatu bidang pekerjaan pada perusahaan tempat bekerja. Bagi bangsa Jepang, tempat kerja adalah rumah dan saat mengerjakan pekerjaan mereka sama halnya dengan melakukan kewajiban kepada Sang Budha. Maka dari itu, bangsa Jepang selalu memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya tanpa memperdulikan diri sendiri, terlebih pada kondisi dirinya.

(24)

mereka sedang menghadapi ujian terakhir di kampus.Semakin hari semakin banyak lulusan baru yang bersaing ketat untuk mendapatkan pekerjaan. Ketika jumlah pesaing semakin banyak, maka semakin banyak pula orang yang rela digaji rendah dan bekerja larut, sehingga tingkat kesehatan mereka semakin menurun. Berdasarkan data dari pemerintah Jepang, terdapat lebih dari 10 juta oarang yang hidup dengan penghasilan kurang dari standar normal Jepang, yaitu 1.600,000 yen/tahun (sekitar Rp155

juta/tahun

Di dalam sistem perekrutan tenaga kerja perusahaan menginginkan pekerja yang baru lulus universitas, mereka akan dididik dan dilatih oleh perusahaan secara teknis maupun secara moral. Karir mereka tidak tergantung pada kemampuan personal yang dimiliki, tetapi tergantung sepenuhnya pada perusahaan. Kesempatan kerja diberikan perusahaan adalah sistem kerja seumur hidup, dimana ia akan mengutamakan kepentingan komunitas (perusahaan). Bagi keduanya ini membawa rasa aman dan bangga dan loyalitas yang kuat terhadap perusahaan.

Kesetiaan pada perusahaan ini merupakan jaminan bagi perusahaan akan adanya angkatan kerja yang produktif, yang merasa bangga dan puas dalam pekerjaanya. Baik pekerja kasar maupun pegawai kantoran gembira bekerja lembur, bahkan tidak menggunakan sepenuhnya masa libur yang diberikan. Mereka semua adalah pekerja yang tekun dan bisa dipercaya akan menjaga mutu pekerjaan mereka sendiri.

(25)

membuang-buang peluang, sehingga terciptalah sarariman. Sarariman muncul akibat adanya perkembangan masyarakat jepang, khususnya dalam lingkungan kantor atau perusahaan, mengakibatkan timbul kelompok baru yang dinamakan sarariman.Sarariman adalah karyawan atau pekerja yang hidupnya 100% tergantung dari gaji. Jadisarariman adalah karyawan yang secara teratur menerimagaji/orang yang bekerja hanya dengan mengharapkan gaji semata walaupun gaji itu kecil, bekerja setengah mati tanpa uang lembur dan tanpa kepastiaan peningkatan karier walaupun mereka telah bekerja puluhan tahun lamanya.Istilah sarariman merujuk hampir secara eksklusif kepada laki-laki.

Sarariman sering bekerja selama 12-14 jam sehari selama seminggu dan ada juga yang bekerja selama 80 hari berturut-turut dan lebih dari 100 jam selama berbulan-bulan pada suatu waktu. Pola kerja seperti ini mengakar karena adanya budaya yang menjunjung tinggi kerja keras dan pengorbanan diri.Selain itu, ledakan ekonomi pada tahun 1980 mendorong sarariman untuk semakin produktif.Sehari-hari sarariman hanya tidur selama 4 jam,maka jangan heran apabila melihat banyaksarariman jepang yang tertidur pulas di kereta saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.Aktivitas tersebut diulang terus dari senin sampai jumat, untuk hari sabtubiasanya pulang lebih awal (kalau ada lemburmereka juga akan bekerja seperti biasa).

(26)

Setelah perang dunia kedua, Jepang menjadi negara dengan tenaga kerja murah melimpah. Untuk mempertahankan eksitensinya, para sarariman harus bekerja lebih keras dan lebih panjang. Untuk menghindarkan konflik perburuhan, parasarariman di Jepang menerima sistem gaji berdasarkan senioritas. Prestasi kerja dan loyalitas diukur dari panjangnya jam kerja. Faktor-faktor inilah yang mendorong sarariman bekerja lebih keras dan panjang, yang menyebabkan terjadinyaKaroushi.

Dalam sistem bekerja sama dalam kelompok pada masyarakat Jepang, tempat kerja merupakan satu kesatuan unit keluarga. Kesatuan unit keluarga sebagai tempat kerja ini dibentuk oleh orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki suatu keterampilan atau keahlian dan mereka bekerja sesuai dengan tugas dan kewajibannya masing-masing di dalam kelompok yang mengikatnya.Tugas dan kewajiban ini dilakukan dengan sikap loyal sebagai pengetahuan dan pengalamannya.Setiap anggota dalam kelompok dengan sendirinya mempunyai keinginan yang kuat untuk mewujudkan kesejahteraan kelompoknya atau mensuksekan kelompoknya.(Hamaguchi, 1994:19).

(27)

mengatakansesuatu yang dapat memperburuk image perusahaan tempat ia bekerja. Apabila ia sakit, maka perusahaan akan berusaha untuk menutupi dan tidak

akanmembocorkannya kepada rekan bisnis dari perusahaan lainnya karena hal ini bisa

membuat perusahaan kelihatan buruk. Bila klien mencarinya, maka perusahaan akan

mengatakan bahwa pegawai yang sakit itu sedang keluar atau sedang dalam

perjalanan bisnis .

Tuntutan hidup yang tinggi membuat sararimandi Jepang harus bekerja dengan keras untuk mencukupi kebutuhannya tersebut.Tetapi bukan semata-mata hanya untuk memenuhi tuntutan hidup, maka pekerja di Jepang banyak menjadi menjadi korban karoushi. Masih banyak negara-negara lain yang tingkat kesejahteraannya jauh berada di bawah Jepang, dan mempunyai tuntutan hidup yang lebih keras, tetapi fenomena karoushi tidak terjadi di negara tersebut, bahkan rekor korban karoushi pun hingga saat ini masih dipegang oleh Jepang dan bahkan menjadi pusat perhatian dunia.

(28)

sararimanmerupakan bagian darinya bahkan dianggap sebagai miliknya. Sebagai contoh, orang Jepang selalu memperkenalkan dirinya kepada orang lain dengan terlebih dahulu menyebutkan tempat dimana ia bekerja, bukan sebagai apa dia bekerja.

Sebagai satu keluarga, perusahaan tidak hanya memperhatikansarariman

saja, tetapi juga keluarga sarariman tersebut, perusahaan menjamin kesejahteraan

sararimandan keluarganya dengan menyediakan berbagai fasilitas, dan tentu saja hal ini menguntungkan bagi perusahaan itu sendiri. Dengan adanya jaminan ini

sararimanakan mendahulukan kepentingan perusahaan, mereka rela untuk bekerja ekstra meskipun tidak sesuai dengan kontrak kerja yang telah disepakati sebelum mulai bekerja. Mereka terbiasa untuk bekerja melebihi jam kerja yang telah diatur oleh undang-undang yang sah. Lagi pula sarariman yang pulang tepat pada waktunya tanpa lembur akan merasa malu karena seolah-olah itu menunjukkan kurangnya loyalitas mereka terhadap kelompok (perusahaan) dan ia pun akan terkucilkan. Bahkan sarariman yang telah bekerja melebihi jam kerja yang telah disepakati melalui kontrak, bisa tidak memperoleh bayaran sesuai dengan lembur yang telah dilakukannya.

Merupakanhal yang biasa bagi para sararimanpada perusahaan-perusahaan di Jepang untuk bekerja minimal 12 jam sehari. Mereka bahkan lebih memilih tidur di tempat yang telah disediakan oleh perusahaan daripada memilih pulang dan tidur di rumah, karena terlalu larut dan melelahkan untuk pulang ke rumah.

(29)

Kebiasaan kerja 12 jam sehari ini terus berlangsung dan akhirnya secara tidak tertulis, kebiasaan ini dimaklumi dan diperbolehkan,sampai akhirnya mengganggu ritme kerja yang normal atau yang seharusnya.Kebiasaan kerja yang seperti ini mengakibatkan kelelahan yang akhirnya terjadi kerusakan fatal pada pekerja (sarariman menderita penyakit karena kelelahan bekerja,bahkan sampai menyebabkan kematian)

2.1.1 Sejarah Perusahaan-Perusahaan Besar

1. Mitsubishi

Tahun 1870 merupakan permulaan dari lahirnya Mitsubishi.Pada tahun ini, pendirinyaIwasaki Yataro mendirikan perusahaan perkapalan (Tsukumo Shokai) di Osaka.Perusahaan ini merupakan perusahaan setengah milik pemerintah karena adanya bantuan dari pemerintah propinsi Tosa.Tetapi dengan dihapuskannya tanah pinjaman, pendirian perfektur, dan perubahan-perubahan sosial-politik lainnya dalam beberapa tahun sesudahnya, menyebabkan pemerintah Tosa menarik diri dari perusahaan, lalu Yataro mengambil alih perusahaan menjadi swasta. Pada tahun 1873, ia menamakan kembali perusahaan tadi dengan nama Mitsubishi Shokai (Mitsubishi Trading Co.) dan mengambil alih lambang tiga berlian itu sebagai merk dagang Mitsubishi (Kunio,1987:38).

(30)

untuk pemerintah. Hal ini memungkinkan Mitsubishi untuk menjadi perusahaan perkapalan terbesar di Jepang.

Pada awal tahun 1880-an, pemerintah pro Mitsubishi jatuh dan Mitsui serta perusahaan lain yang kesal atas dominasi Mitsubishi dalam bisnis perkapalan, berhasil membujuk pemerintah yang baru untuk mendirikan perusahaan perkapalan yang baru sebagai balas keseimbangannya. Akhirnya karena persaingan antara Mitsui dan Misubishi mengancam industri perkapalan, kemudian pemerintah memutuskan untuk menggabungkan keduanya dan mendirikan suatu perusahaaan baru bernama Nippon Yusen Kaisha (NYK) sebagai suatu perusahaan dari kebijakan nasional pemerintah. Merger ini membuat Mitsubishi kehilangan monopolinya atas bisnis perkapalan, sehingga perusahaan ini membangun usaha-usaha lain yang berkaitan dengan perkapalan seperti perbankan, asuransi laut, galangan kapal, dan reparasi, usaha ini dibawah satu perusahaan baru bernama Mitsubishi Goshi Kaisha (Mitsubishi & Co).

2. Yamaha

(31)

dikenal sebagai YA1 alias Atakombo dan dikenal juga sebagai Red DragonFly, Motor ini lumayan sukses dan laris dipasaran dan diproduksi berikutnya menggunakan mesin dengan kapasitas 175cc. Produksi motor berikutnya adaah twin cylinder YDI dibuat pada tahun 1957, sanggup mengeluarkan power 20 BPH, dan memenangkan race Mount Asama di Jepang, produksinya sekitar 15.811 sepeda motor yamaha dan jumlah ini masih dibawa Suzuki.

Selanjutnya Yamaha berkembang dengan cukup pesat dan ditahun 1959 keluarla speed gearbox. tahun 1960, produksinya meningkat 6 kali lipat menjadi 138 rebu motor.Setelah berakhirnya Perang Korea,perekonomian Amerika Serikat begitu booming dan ini mendorong eksport Jepang khususnya motor ke Amerka Serikat.Tahun 1962 ekspor yamaha ke US sebanyak 12 ribu motorcyclez.Kemudian tahun 1962 sudah mencaoai 12 ribu unit.Demikian pula untuk tahun1963, kurang lebih sebanyak 36 ribu unit dan puncaknya ditahun 1964, ekspornya mencapai 87 ribu unit. Tahun 1963, Yamaha membuat motor 250cc, twin cylinder dan air cooled. Sejak saat itu, Yamaha lumayan dikenal di seantero Jepang. Tahun 1965, produksi Yamaha sudah mencapai 244 ribu unit dan peruntukkannya 50:50, dimana sebagian untuk eksport sedangkan sebagian lainnya konsumsi dalam negeri.

(32)

motor.Jumlah ini melewati saingan terdekatnya Suzuki dengan selisih sekitar 4 ribu unit. Selanjutnya Yamaha mulai mengembangkan untuk pertama kalinya yaitu Yamaha motor trail. Motor trail pertama menggunakan engine 250cc single cylinder. Disamping itu Yamaha juga mengembangkan sport car unit 2000cc, 6 cylinder dan DOHC untuk Toyota Motor, dan ini akan membantu Yamaha dalam mengembangkan high performance bikers nantinya.

3. Toyota

Toyota Motor Corporation (TMC) adalah sebuah pabrikan mobil yang berasal dari Jepang, yang berpusat di Toyota Aichi.Saat ini, Toyota merupakan pabrikan penghasil mobil terbesar di dunia.Toyota Motor Corporation didirikan pada September1933 sebagai divisi mobil Pabrik Tenun Otomatis Toyoda. Divisi mobil perusahaan tersebut kemudian dipisahkan pada 27 Agustus1937 untuk menciptakan Toyota Motor Corporation seperti saat ini.Toyota Motor Corporation didirikan pada September 1933 sebagai divisi mobil Pabrik Tenun Otomatis Toyoda.

(33)

kurang enak didengar dan tidak akrab dikenal sehingga diplesetkan menjadi Toyota.

Sakichi Toyoda lahir pada bulan Februari 1867 di Shizuoka, Jepang. Pria ini dikenal sebagai penemu sejak berusia belasan tahun. Toyoda mengabdikan hidupnya mempelajari dan mengembangkan perakitan tekstil. Dalam usia 30 tahun Toyoda menyelesaikan mesin tenun. Ini kemudian mengantarnya mendirikan cikal bakal perakitan Toyota, yakni Toyoda Automatic Loom Works, Ltd. pada November 1926.

Pada tahun 1936 Toyota meluncurkan mobil penumpang pertama mereka, Toyoda AA Model ini dikembangkan dari prototipe model A1 dan dilengkapi bodi dan mesin A. Kendaraan ini dari awal diharapkan menjadi mobil rakyat. Semangat inovasi Kiichiro Toyoda tidak pernah redup. Toyota kemudian berkembang menjadi penghasil kendaraan tangguh. Di era 1940-an, Toyota sibuk mengembangkan permodalan termasuk memasukkan perusahaan di lantai bursa di Tokyo, Osaka dan Nagoya. Pada tahun 1947, penjualan mobil Toyota di dalam negeri sudah mencapai 100.000 kendaraan.

(34)

Pada tahun 1990-an, Toyota semakin membuktikan bahwa mobil Jepang dapat bersaing dengan mobil Eropa dan Amerika. Toyota Celica berhasil menjadi juara rally dunia, dan Toyota Camry menjadi mobil paling laris di Amerika.

4. Mitsui Bussan

Pada tahun 1874, Mitsui yang dikenal sebagai agen perlengkapan pakaian dan bankir yang berpengaruh, memutuskan untuk memperluas usahanya dan mendirikan suatu perusahaan perdagangan umum partai besar. Perusahaan yang bernama Kokusan Kata (National Products Co.) ini beroperasi dari kantor pusatnya di Tokyo dan Yokohama. Kantor di Tokyo menangani sutera mentah, beras, sedangkan kantor di Yokohama menangani teh dan sutera mentah, yang diperdagangkan ke wisma-wisma dagang asing yang terletak disana. Mitsui, yang bertindak selaku bendaharawan untuk pemerintahan Meiji yang baru, mempunyai tabungan pemerintah yang bebas bunga di dua puluh tujuh tempat di seluruh Jepang, yang dapat dipergunakan dalam perdagangan beras.

(35)

dalam suatu perusahaan baru, Mitsui Bussan. Keputusan ini untuk sebagian didasarkan pada pertimbangan politik. Okuma Shigenobu, menteri keuangan pada saat itu, mendesak Mitsui agar bergerak dalam perdagangan langsung.

5. Sumitomo group

Sumitomo Group adalah perusahaan konglomerat selama 400 tahun dan salah satu bisnis terbesar di seluruh Jepang. Group ini telah berkembang dalam berbagai bidang logam, permesinan dan kimia dan sangat besar pengaruhnya serta dukungannya untuk industri modern di Jepang.

Sebagai salah satu inti dari Grup Sumitomo, Sumitomo Heavy Industries membaur menjadi bisnis tingkat tinggi di Jepang. Dengan mengembangkan teknologi yang mutakhir dan menciptakan berbagai macam variasi dalam mesin dan peralatan yang tergabung dalam infrastruktur, kapal, pabrik, elektronik dan peralatan industri lain.

Sejarah Sumitomo

1955 Mendirikan perusahaan Modern Machinery Co., Ltd. dan mulai memproduksi Blown Film di Pabrik Kawasaki

1969 Memulai produksi mesin casting film dan benang pita 1975 Memulai produksi mesin coating extrusi

1978 Memulai produksi Extruder performa tinggi Delser Series

(36)

pekerja

1997 Memulai produksi FLEX ROLL dalam pembuatan film PP transparan 1999 Menggunakan mesin Multi In One dengan kecepatan tinggi casting,

molding laminasi untuk kebutuhan tes internal

2000 Mengganti nama perusahaan menjadi SHI Modern Machinery, Ltd. 2002 Meluncurkan DMA automatic pengaturan ketebalan film dengan air ring 2003 RMengganti nama perusahaan menjadi Sumitomo Heavy Industries

Modern, Ltd.

Penggabungan dan integrasi kerja dari Film Processing Group dan Plastics Machinery Division of Sumitomo Heavy Industries, Ltd. Membuka kantor perwakilan di Shanghai

2008 Membuka pabrik di Futtsu, Chiba

2011 Membuka kantor Cina (Shanghai) and kantor Indonesia (Jakarta) 2014 Membuka kantor Thailand (Bangkok)

2.1.2 Etika Kerja di Perusahaan Jepang

(37)

kantor lebih dulu dibandingkan rekan-rekan atau para bos, meskipun pekerjaan mereka hari itu sudah selesai.

Perusahaan-perusahaan di Jepang sering menggelar pesta untuk para karyawannya. Yang paling umum antara lain adalah pesta untuk karyawan baru, pesta perpisahan saat ada pergantian karyawan, dan pesta akhir tahun sebagai bentuk terima kasih atas hasil kerja dan dukungan selama setahun terakhir. Diantara rekan sekerja juga merupakan hal biasa untuk makan malam bersama seusai kerja, sambil minum minuman beralkohol atau teh.

Suatu pekerjaan bagi pekerja di Jepang tidak hanya merupakan persetujuan dalam kontrak untuk mendapat bayaran, mereka terkadang melakukan lembur yang tidak mendapat bayaran dari perusahaan. Keadaan ini terjadi karena pekerja seringkali melaporkan jam lembur mereka lebih sedikit daripada yang sebenarnya, mereka seolah-olah menganggap jika menyebutkan jam lembur yang sebenarnya, karena dengan begitu kredibilitas kerjanya akan dipertanyakan.

(38)

2.2 Karoushi di Jepang

2.2.1 Pengertian Karoushi

Negara Jepang sejak berabad-abad yang lalu telah memiliki budaya kerja keras yang sangat tinggi.Maka dari itu, bangsa Jepang selalu memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya tanpa memperdulikan diri sendiri, terlebih pada kondisi dirinya.Budaya ini makin diperkuat setelah kekalahan dalam perang dunia kedua.Setelah perang dunia kedua, Jepang menjadi negara dengan tenaga kerja murah melimpah.Untuk mempertahankan eksitensinya, para pekerja harus bekerja lebih keras dan lebih panjang.Untuk menghindarkan konflik perburuhan, para pekerja di Jepang menerima sistem gaji berdasarkan senioritas. Prestasi kerja dan loyalitas diukur dari panjangnya jam kerja. Faktor-faktor inilah yang mendorong pekerja bekerja lebih keras dan panjang, yang menyebabkan terjadinyaKaroushi.

Karoushiditulis dengan kanji (過労死) berasal dari tiga kata yaitu Ka(過)

yang artinyalebih, Rou (労) yang artinya bekerja dan Shi (死) yangartinya mati.

Jadi dapat disimpulkanKaroushi(過労死) adalah mati akibat bekerja berlebihan.

Karoushi merupakan bekerja dengan tekananpekerjaan yang besar dengan jam kerjayang berlebih dari jam kerja yangsudah ditetapkan serta jam lembur dan shiftkerja yang panjang dansedikitnya hari libur atau istirahat sehinggamengakibatkan kematian, disertaijuga dengan beban mental dan penyakit fisik.

Secara harafiah karoushi mempunyai arti kematian yang disebabkan karena

terlalu banyak bekerja.Karoushi adalah istilah sosio-medis yang digunakan terutama

(39)

cardio-vascular disebabkan oleh beban kerja yang berlebihan dan stres kerja. Dr Tetsunojo

Uehata, yang menciptakan kata karoushi, telah mendefinisikan sebagai "sebuah cacat

tetap atau kematian yang disebabkan oleh memburuknya tekanan darah tinggi atau

arteriosklerosis menyebabkan penyakit pembuluh darah di otak, seperti

pendarahanotak, perdarahan dan otak subarachnoidal miokard, dan gagal jantung akut

dan mycardial miokard yang disebabkan oleh kondisi seperti penyakit jantung

iskemik” (Uehata, 1990:98).

Jadi Karoushi merupakan budaya dalam masyarakat Jepang yang berarti kematian seseorang karena kelelahan yang disebabkan oleh penyakit fisik maupunmental yang dipicu oleh kerja berlebihan yang ditandai dengan frekuensi jam kerja yang terlalu tinggi. Dari pengertian di atas, muculnya permasalahan

karoushi disebabkan oleh frekuensi jam kerja yang tinggi. Seperti dikatakan oleh Murphy, (2001:37), “Kematian yang dikategorikan ke dalam karoushi selalu berhubungan dengan frekuensi jam kerja yang tinggi, shift kerja, dan jadwal yang tidak teratur”.

2.2.2 Sejarah karoushi

Fenomena Karoushi di Jepang bukan sesuatu hal yang baru dan masih sering terjadi.Biasanya fenomena karoushiterjadi pada pekerja kantoran yang umumnya laki-laki yang berusia 25-45 tahun.Fenomena ini sangat jarang terjadi pada perempuan Jepang,karena jam kerja laki-laki lebih banyak daripada jam kerja perempuan. Pekerja perempuan di Jepang, untuk sebagian besarbekerja hanya paruh waktu.

(40)

pekerja laki-laki. Biasanya perempuan hanya mengambil jam kerja paruh waktu atau part time, karena mereka masih harus mengurus anak dan rumah. Sehingga korban karoushi lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Sedangkan untuk pekerja pria kebanyakan mereka bekerja full time dan memiliki lebih banyak pekerjaan dan beban di dalam perusahaan karena ketika melihat jenis kelamin dan kelompok usia, persentase bekerja berjam-jam meningkat, terutama pada pria, hal ini terjadi karena adanya peningkatan variasi dalam jam kerja dan jenis pekerjaan. Jenis pekerjaan mereka sangat berpengaruh sekali terhadap jam kerja sehingga membuat para pekerja di Jepang harus bekerja melebihi batas jamkerja normal dan menimbulkan fenomena karoushi, hubungan kekerabatan dan kebersamaan diantara satu pekerja dengan pekerja lainnya juga sangat baik sehingga membuat mereka rela berlama-lama bekerja demi kemajuan perusahaannya. Dari tahun ke tahun jumlah korban karoushi terus mengalami peningkatan. Ini dikarenakan jumlah jam kerja yang terlalu tinggi,

Perdebatan mengenai kematian akibat kerja berlebihan sudah mencuat di Jepang sejak tahun 1970-an. Kasus resmi pertama Karoushi dilaporkan tahun 1969, berupa kematian seorang pekerja laki-laki-laki berumur 29 tahun.Saat itu, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, menjadi materi penelitian ilmiah yang menarik.Penelitian selama tiga dekade menunjukkan, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, terutama disebabkan oleh serangan jantung atau stroke.Pemicunya, stress karena kerja yang berlebihan.

(41)

rata-rata jam kerja orang Jerman 1.613. Tapi angka statistik tersebut bisa salah terutama belum melibatkan jam lembur yang tidak dibayar, yang banyak dilakukan oleh oleh pekerja Jepang.

Gambar 2.1 Tabel Frekwensi Jam Kerja di Jepang dengan Negara-Negara lain

Negara 1988 1991 1992 1997 1999

Jepang 2,152 2,139 2,107 1,942 1,942

Amerika 1,898 1,847 1,957 2,005 1,991

Uk 1,938 1,835 1,911 1,934 1,942

French 1,657 1,619 1,682 1,677

Germany 1,613 1,499 1,567 1,517

Sumber: Kawanishi, 2005:72

Menurut analisis pada tahun 1988 perbedaan jam kerja antara Jepang dengan pekerja Amerika sekitar 200 jam dan 500 jam untuk Jerman dan Perancis. Perbedaan jam kerja selama beberapa jam dalam seminggu tidak terlalu terlihat perbedaannya, perbedaan antara Jepang dan Amerika Serikat sebesar 5,6 jam seminggu, berarti perbedaan tahunan 291 jam per pekerja. Ini berarti bahwa setiap tahun para pekerja Jepang bekerja empat sampai enam minggu lebih dari negara-negara lainnya.Para pekerja di Jepang secara tradisional maupun struktural memang bekerja lebih panjang, dibanding rekannya di Amerika Serikat, Perancis atau Jerman.

(42)

tetapipegawai secara sukarela melakukanya demi prestasi. Perusahaan menjadi lebih penting dari keluarga.

[image:42.595.133.491.324.523.2]

Teknologi dan industrialisasi yang pesat juga menciptakan suatu perubahan penting dalam sifat ancaman dan stres itu sendiri.Dalam laporan Buruh Dunia ILO tahun 1993 mengatakan, bahwa para pekerja Jepang menderita stres berat yang terkait dengan jam kerja yang panjang, yang menyebabkan karoushi (kematian karena terlalu banyak bekerja.

Gambar 3.2 Grafik Jumlah Korban Karoushi

Sumber :hotline karoushi, 2000

(43)

1973 sampai tahun 1977 tidak terlalu banyak mengalami peningkatan dan juga penurunan jumlah korban karoushi.Sampai pada tahun 1997 mengalami peningkatan hingga mencapai 10.000 ribu korban.Bila dibandingkan dengan pekerja laki-laki sangat jauh perbedaannya. Pada grafik pekerja laki-laki setiap tahunnya mengalami peningkatan, walaupun pada tahun 1957 sampai pada tahun 1969 mengalami penurunan yang cukup drastis. Jumlah korban karoushi yang mengalami peningkatan yang cukup drastis yaitu dari tahun1973 sampai tahun 1985 hingga mencapai 16.000 ribu jiwa. Kemudian mengalami penurunan lagi dari tahun 1989 sampai 1993 hingga 13.000 ribu jiwa, dan mengalami peningkatan hingga mencapai 23.000 ribu jiwa.

Jumlah rata-rata jam lembur di Jepang bisa mencapai 30-40 jam per bulannya. Bahkan pada perusahaan-perusahaan yang persaingannya sangat ketat seperti perusahaan-perusahaan elektronik, jam lembur per bulannya bisa mencapai 100-150 jam. (Higashii,1990:90). Lembur ini dapat mencapai hingga 100 jam per bulan untuk pejabat bank. Menurut survei resmi lain melalui wawancara pada para pekerja oleh Badan Koordinasi Pengelolaan dan Pemerintah, diketahui rata-rata jam kerja per tahun lebih dari 2.400 jam. Dari angka ini kita dapat memperkirakan bahwa jumlah jam rata-rata pekerja lembur adalah sekitar 350 jam per tahun.

(44)

pengawas pelaksanaan Undang-Undang Standar Perburuhan. Peraturan mengenai jam kerja lembur harus disepakati melalui perjanjian sarikat buruh dengan perusahaan, tetapi para pekerja hampir tidak bisa berbuat apa-apa karena adanya pemutusan hubungan kerja dan tersisihkan dari kelompok. Mereka terpaksa atau secara sukarela harus bekerja lebih lama, baik untuk menunjukan prestasi atau meraih pendapatan lebih tinggi.Ironisnya, dalam masa resesi seperti saat ini, para pekerja yang berisiko tinggi terserang Karoushi, harus bekerja lebih keras lagi.Karyawan pabrik atau perusahaan yang terancam bangkrut, seringkali kerja lembur tanpa dibayar, demi menyelamatkan tempat kerjanya.

Statistik resmi ini, belum menunjukkan tingginya frekuensi jam kerja yang berlaku di Jepang, hal-hal tersebut dikarenakan, statistik ini berasal dari rata-rata perusahaan dengan lebih dari lima karyawan, karena besar dan kecil mengenai kesenjangan antara perusahaan dan pekerja sangat signifikan. Di Jepang banyak perusahaan-perusahaan kecil dengan pekerja kurang dari tiga puluh karyawan.Bahkan orang-orang yang bekerja untuk perusahaan kecil terdiri dari 60% pekerja.Para pekerja ini sering bekerja lebih lama daripada pekerja di perusahaan besar yang memiliki banyak pekerja. Karena banyak perusahaan bisnis kecil tidak dapat beroperasi selama lima hari kerja dalam seminggu, perusahaan-perusahaan kecil harus buka bahkan pada hari libur.

(45)

mengikuti pelatihan pada akhir pekan.

Banyak perusahaan di Jepang selama dua puluh tahun terakhir telah menerapkan sebuah sistem kerja baru dengan menempatkan pekerja paruh waktu untuk menggantikan pekerja tetap.Para staf regular itu tetap dipertahankan dengan kewajiban bekerja lembur dan secara perlahan posisi mereka dibuat tidak tetap.Faktor budaya turut menguatkan kecenderungan ini.Kerja keras merupakan perilaku yang terhormat di Jepang dan pengorbanan untuk orang banyak dianggap lebih berharga daripada pengorbanan untuk pribadi Jepang (Mathari, 2007).

Para pekerja dituntut untuk bekerja keras agar mendapatkan penilaian prestasi kerja termasuk dengan bekerja di luar jam kantor. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapatkan upah lembur. Jam kerja yang berlebihan mengakibatkan peningkatan stress yang akan berdampak pada penurunan daya tahan tubuh. Sehingga pekerja yang memiliki tingkat kesehatan yang lebih rendah yang dapat mengganggu kinerjanya.

Walaupun beberapa peneliti mengatakan bahwa tingginya jumlah jam kerja di Jepang salah satunya dilatar belakangi oleh kondisi ekonomi Jepang pada saat itu, namun jam kerja Jepang dalam kondisi kapan pun cukup tinggi bahkan paling tinggi bila dibandingkan dengan Negara-negara maju lainnya di dunia.

2.2.3 Proses Terjadi dan Contoh Kasus Karoushi

(46)

mencurahkan perhatian kepada pekerjaan mereka dan pada saat mereka memperoleh pengakuan dari orang-orang lain karena pekerjaannya itu berjumlahsampai 37 %, mereka beranggapan bahwa kemampuan mereka terungkap dalam pekerjaan mereka, tanpa memandang besarnya perusahaan tempat mereka bekerja dan apakah mereka itu adalah buruh kasar atau pegawai (Fukutake, 1988:120).

Pada umumnya para pekerja di Jepang mulai bekerja sejak pukul 08:00 pagi dan pulang pada pukul 17:00 sore, namun sebagian pegawai di Jepang lebih senang melanjutkan sisa pekerjaannya (zangyo) di kantor, kadang-kadang mereka bekerja hingga larut malam dan bahkan tidur di tempat mereka bekerja. Haltersebut menyebabkan terjadinya 過 労 死 karoushi (kematian pekerja

yangdisebabkan oleh stress dan kelelahan akibat kerja yang berlebihan) dan karōshi ini membuktikan bahwa frekuensi jam kerja di Jepang masih sangat tinggi dan tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kematian yang dikategorikan dengan karōshi selalu berhubungan dengan jam kerja yang tinggi, shift kerja dan jadwal kerja yang tidak teratur yang kebanyakan mereka telah bekerja lebih dari 3000 jam per tahunnya sampai akhirnya kelelahan dan meninggal dunia.

Menurut ILO (1993:65-67) jam kerja yang panjang pasti membawa korban. Seorang psikiater pada tahun 1992 melaporkan, bahwa jumlah pasien yang konsultasi kepadanya untuk masalah stres sudah empat kali lipat lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Menurut Uehata (2001:20) (yang menciptakan istilah

(47)

perusahaan-perusahaan Jepang memotong gaji mereka dalam menanggapi oil crisis (krisis minyak) dan terjadi peningkatan beban kepada kayawan.

Karoushi adalah kematian seseorang yang disebabkan oleh penyakit fisik maupunmental yang dipicu oleh kerja berlebihan yang ditandai dengan frekuensi jam kerja yang terlalu tinggi. Kasus resmiKaroushi yang sempat menghebohkan masyarakat dilaporkan tahun 1969, berupa kematian seorang pekerja laki-laki-laki berumur 29 tahun. Saat itu, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, menjadi materi penelitian ilmiah yang menarik.Penelitian selama tiga dekade menunjukkan, kematian pekerja akibat kelebihan kerja, terutama disebabkan oleh serangan jantung atau stroke.Pemicunya, stress karena kerja yang berlebihan.

(48)

Kerja lembur yang terus menerus dilakukan mengakibatkan para pekerja

kelelahan, stres dan timbul berbagai macam penyakit hingga akhirnya berujung pada

kematian pekerja itu sendiri (karoushi).

Suatu pekerjaan bagi pekerja di Jepang tidak hanya merupakan persetujuan dalam kontrak untuk mendapat bayaran, mereka terkadang melakukan lembur yang tidak mendapat bayaran dari perusahaan (saabisu zangyo). Keadaan ini terjadi karena pekerja seringkali melaporkan jam lembur mereka lebih sedikit daripada yang sebenarnya, mereka seolah-olah menganggap tabu jika menyebutkan jam lembur yang sebenarnya, karena dengan begitu kredibilitas kerjanya akan dipertanyakan.

Bentuk loyalitas ini terwujud dalam etos kerja bangsa Jepang yang pekerja keras yang lebih mengutamakan kepentingan perusahaannya di atas kepentingan pribadinya. Frekuensi jam kerja yang sangat tinggi merupakan dampak dari rasa loyalitas terhadap perusahaan guna kemajuan perusahaannya, para pekerja bisa bekerja mencapai 16 jam dalam sehari yang terus berlangsung secara berkesinambungan, hal ini menimbulkan dampak negatif yaitu stres karena kelelahan atas kerja yang berlebihan sehingga menimbulkan penyakit yang berujung kepada kematian pekerja itu sendiri (karoushi).

Kasus karoushi banyak terjadi pada pekerja di Jepang karena frekuensi jam

kerja yang sangat tinggi sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap perusahaannya.

Berikut ini contoh-contoh kasus karoushi yangpernah terjadi di Jepang baik oleh

(49)

1. Keizo Obuchi

Keizo Obuchi merupakan perdana menteri Jepang, ia tiba-tiba masuk rumah sakit karena serangan stroke hingga akhirnya meninggal dunia, sehingga masalah karoushi menjadi fokus pembicaraaan dunia. Penyebab kematiannya diakibatkan karena Obuchi terlalu memaksakan diri untuk kerja terlalu keras. Di laporkan bahwa sebelum terkena serangan stroke, ia mengalami hari-hari yang sangat sibuk berkenaan dengan meletusnya gunung berapi di Hokkaido, Jepang bagian utara. Kematiannya mengingatkan dunia tentang dampak buruk yang terjadi karena terlalu banyak bekerja, suatu kebiasaan yang seolah-olah telah mendarah daging pada orang Jepang sebagai etos kerja.

Yoshihiro Mori, penerusnya pun diberitakan mewarisi pekerjaannya selama 18 jam sehari, yang dijadwalkan berdasarkan menit, bukan jam. Tomi Murayama, perdana menteri Jepang pada pertengahan tahun 90-an juga mengakui bahwa ia tidak pernah dibiarkan sendiri kecuali pada saat di kamar mandi dan hanya tidur 4 atau 5 jam sehari.

2. Ichiro Oshima

Ada juga fenomena yang berhubungan dengan karoushi yaitu karojisatsu

(50)

perusahaan ini, ia harus menyelesaikan jadwal promosi radio untuk 40 klien dan untuk menyelesaikannya ia terpaksa pulang jam 2 pagi. Ini terjadi 4 kali dalam sebulan.Setahun berikutnya, frekuensi jam kerja yang dilakukannya terus meningkat.Seringkali ia masih berada di kantor sampai jam 6 pagi dan hanya tidur antara 0 menit sampai 2 jam saja. Begitu lelahnya, ia juga sampai harus memasang 3 buah alarm agar bisa terbangun dan mulai bekerja lagi.

3. Kenichi Uchino

(51)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Manusia adalah mahluk sosial yang dalam kesehariannya berinteraksi dengan sesamanya dan menghasilkan apa yang disebut dengan peradaban. Semenjak terciptanya peradaban dan seiring dengan terus berkembangnya peradaban tersebut, melahirkan berbagai macam bentuk kebudayaan.

Ienaga Saburo dalam Situmorang (2009: 2-3) menjelaskan kebudayaan dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti luas kebudayaan adalah seluruh cara hidup manusia (ningen no seikatsu no itonami kata). Ienaga menjelaskan bahwa kebudayaan ialah keseluruh hal yang bukan alamiah.Sedangkan dalam arti sempit kebudayaan adalah terdiri dari ilmu pengetahuan, sistem kepercayaan dan seni, oleh karena itu Ienaga mengatakan kebudayaan dalam arti luas ialah segala sesuatu yangbersifat konkret yang diolah manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Sedangkan kebudayaan dalam arti sempit ialah sama dengan budaya yang berisikan sesuatu yang tidak kentara atau yang bersifat semiotik.

(52)

Salah satu kepribadian bangsa Jepang yang mengungguli bangsa lain adalah ketekunan bekerja dan rasa kesetiaan yang luar biasa pada perusahaan atau tempatnya bekerja. Walaupun segi lahiriah dan material tidak diabaikan, tetapi yang dianggap menentukan dalam mencapai hasil adalah aspek mental.Bekerja lembur tanpa dibayar merupakan salah satu bentuk komitmen pada perusahaan.Kesungguhan dan sikap kerja keras pekerja Jepang tidak dapat ditandingi oleh bangsa-bangsa lain sehingga mereka sanggup mengorbankan kepentingan pribadi dan juga waktu bersama keluarga.

Ketika gelombang pengangguran melanda Amerika dan Eropa, di Jepang terjadi fenomena yang sebaliknya.Tahun 2002 lalu, di Jepang terjadi rekor kematian akibat kerja yang berlebihan. Menurut statistic resmi, sedikitnya 300 pekerja kantor dan pabrik di Jepang meninggal karena overdosis kerja. Di negeri sakura ini meninggal akibat kerja berlebihan disebut Karoushi(過労死).

Dilihat dari asal katanya, Karoushi (過労死) berasal dari tiga kata yaitu Ka(過) yang artinyalebih, Rou (労) yang artinya bekerja dan Shi (死) yangartinya

(53)

Secara harfiah, karoushi diterjemahkan sebagaikematian karena terlalu banyak pekerjaan. Karoushi adalah peristiwa terkenal di Jepang dan bukan merupakan hal yang baru.Karoshi biasanya terjadi terutama pada kalangan

Sarariman. Sarariman sendiri berarti orang gajian, merupakan sebutan untuk seseorang yang pendapatannya berbasis gaji terutama mereka yang bekerja untuk perusahaan besar. Istilah sarariman ini merujuk hampir kepada laki-laki.

Sarariman juga sering disebut sebagai orang yang bekerja secara mati-matian di suatu tempat walaupun dengan gaji yang kecil bahkan juga tanpa uang lembur

Sarariman sering bekerja selama 12 jam sehari selama seminggu dan ada juga yang bekerja selama 80 hari berturut-turut dan lebih dari 100 jam selama berbulan-bulan pada suatu waktu. Pola kerja seperti ini mengakar karena adanya budaya yang menjunjung tinggi kerja keras dan pengorbanan diri. Selain itu, ledakan ekonomi pada tahun 1980 mendorong pekerja untuk semakin produktif.

Perdebatan mengenai kematian akibat kerja berlebihan sudah mencuat di Jepang sejak tahun 70an. Karoushi pertama kali terjadi pada tahun 1969. Waktu itu, seorang pria berusia 29 tahun, sudah menikah, bekerja di departemen pengiriman surat kabar terbesar di Jepang. Dia meninggal karena mendadak terserang stroke di kantornya.

(54)

berbahaya dari penyakit fisik karenadapat membunuh seseorang secara perlahan-lahan dari dalam jiwa.

Tetsunojo Uehat, seorang ahli medis mendefinisikan karoushi sebagai kondisi dimana seseorang menjalani proses kerja yang tidak sehat secara psikologis dan dilanjutkan dengan cara mengganggu ritme kehidupan normal. Kemudian lelah pada tubuh menumpuk disertai memburuknya tekanan darah dan pengerasan pembuluh darah, akhirnya terjadi kerusakan fatal pada tubuh.

Dewasa ini, karoushi merupakan masalah sosial yang amat serius di Jepang. Rupanya budaya kerja orang Jepang memang berbeda dengan budaya kerja di Eropa tengah atau di Amerika utara. Para pekerja Jepang bekerja lebih panjang dibanding rekannya di negara maju lainnya. Statistik menunjukan, setiap tahunnya pekerja Jepang bekerja lebih dari 2.000 jam. Sementara di Amerika Serikat, 1.900 jam kerja dan di Perancis, Inggris serta Jerman rata-rata 1.800 jam kerja pertahun per-pekerja. Selain itu, para pekerja Jepang lebih sering merelakan hari liburnya untuk bekerja.

(55)

Menyadari bahayakaroushi, kini semakin banyak warga Jepang yang menerapkan filsafat hidup lebih santai, atau "suro raifu" dari istilah Inggris slow life. Takuro Morinaga yang sekarang berusia 45 tahun misalnya, merencanakan pensiun dini dari pekerjaannya di insititut penelitian ekonomi terkemuka di Tokyo, dalam waktu 10 tahun mendatang. Selanjutnya ia akan hidup sebagai penulis masalah ekonomi dan petani. Sejumlah pekerja di pabrik mobil terkemuka di Jepang, juga menerima tawaran pensiun dini untuk menikmati kehidupan dengan filsafat "suro raifu". Namun dalam hiruk pikuk globalisasi, para pekerja di Jepang tetap sulit mengurangi jam kerja serta stress di tempat kerja. Artinya,

karoushi tetap mengancam dimana-mana.

Peningkatan jumlah karoushi di Jepang membawa beberapa kekhawatiran yang muncul dari pemikiran akan dampak buruk yang akan terjadi. Jika karoushi

terus terjadi, maka Jepang akan menjadi negara dengan tingkat kematian yang tinggi setiap tahunnya.

Karoushi ini dapat menimbulkan berbagai dampak, baik dalam kehidupan keluarga,dan dalam bidang kesehatan.Secara umum karoushi memiliki dampak positif dan negatif. Karoshi berdampak positif terutama bagi perusahaan atau tempat-tempat usaha yang telah mempekerjakan sarariman. Karena dengan adanya sarariman ini, dapat meningkatkan produktifitas perusahaan sehingga bisa memajukan perusahaan.

(56)

untuk sekedar mengurus kepentingan diri sendiri saja tidak memiliki waktu. Hal inilah yang memicu terjadinya karoushi di Jepang dewasa ini.

Berdasarkan uraian di atas, penulis merasa penting untuk menganalisi tentang karoushi di Jepang yang memberi pengaruh positif dan negatif dalam berbagai aspek pada kehidupan masyarakat.Maka, penulis mencoba membahas dalam bentuk skripsi yang diberi judul “Karoushi dalam Kehidupan Sarariman di Jepang Dewasa Ini.”

1.2 Perumusan Masalah

Karoushi dalam kehidupan di Jepang merupakan suatu topik yang menarik ketika sedang membicarakan tentang Jepang. Secara harfiah karoushi

diterjemahkan sebagai:kematian akibat kerja yang berlebihan. Karoushi diakui sebagai penyebab kematian di Jepang.Karoushi merupakan fenomena yang sangat terkenal di Jepang, dimana korban sering bekerja selama 12 jam sehari selama seminggu penuh. Beberapa korban karoshi bekerja selama 80 hari berturut-turut dan lebih dari 100 jam selama berbulan pada suatu waktu.

Penyebab utama di balik kematiankaroushi ini adalah stres yang akhirnya orang mengalami serangan jantung atau stroke. Para korban utama adalah

(57)

Karoushi ini menimbulkan berbagai dampak, baik dalam keluarga, maupun dalam bidang kesehatan. Dampak karoushi dalam keluarga yaitu berkurangnya waktu untuk berkumpul bersama ataupun hanya untuk sekedar makan bersama anggota keluarga. Karena sebagian besar waktu sarariman ini telah dihabiskan untuk bekerja seharian. Dan juga kurangnya pergaulan dengan sesama teman-teman ataupun rekan kerja sarariman itu sendiri, sarariman ini terlalu sibuk mementingkan pekerjaan mereka.

Dalam bidang kesehatan karoushi juga berdampak dengan menurunnya kesehatan sarariman ini, karena berkurangnya waktu untuk istirahat ataupun sekedar memanjakan diri sendiri. Akibatnya stres yang berkepanjangan karena selalu memikirkan pekerjaan yang menumpuk.

Karoushi ini juga memiliki dampak positif terutama bagi perusahaan yang telah mempekerjakan sarariman ini. Karena sarariman ini dapat meningkatkan produktifitas perusahaan sehingga bisa memajukan perusahaan. Dampak negatif karoshi terutama pada sarariman itu sendiri. Karena pekerjaan yang sangat banyak dan menumpuk membuat sarariman ini harus bekerja lembur setiap harinya. Dan juga berkurangnya waktu istirahat sarariman karena selalu memikirkan pekerjaan.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, penelitiakan merumuskan permasalahan dalam bentuk pertanyaan, sebagai berikut:

(58)

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan

Dari permasalahan yang telah dikemukakan di atas sebelumnya, maka penulis menganggap perlu adanya pembatasan ruang lingkup dalam pembahasan. Hal ini dilakukan agar masalah tidak menjadi terlalu luas sehingga penulis dapat lebih terfokus dan terarah dalam pembahasan terhadap masalah.

Bagi bangsa Jepang, tempat kerja adalah rumah dan saat mengerjakan pekerjaan merekasama halnya dengan melakukan kewajiban kepada Sang Budha. Maka dari itu, bangsa Jepangselalu memberikan yang terbaik untuk pekerjaannya tanpa memperdulikan diri sendiri, terlebihpada kondisi dirinya.Hal ini lah yang mengakibatkan munculnya fenomena di Jepang atau yang disebut dengan

karoushi, dimana kematian diakibatkan karena kerja yang berlebihan. Penulis akan mencoba membahas masalah karoushi di jepang dan dampak yang ditimbulkannya dalam keluarga, dan dalam bidang kesehatan pada masyarakat Jepang. Untuk mendukung pembahasan ini, penulis juga akan membahas tentang sejarah, proses terjadinya karoushi serta usaha-usaha untuk mengatasi karoushidi Jepang.

1.4 Tinjaun Pustaka Kerangka Teori 1.4.1 Tinjauan Pustaka

(59)

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat (1976:28), budaya ialah gagasan, tindakan, maupun hasil karya manusia yang dibuat untuk melengkapi kehidupan manusia dan dilalui dengan proses belajar. Dengan kata lain, sebagian besar tindakan atau aktifitas manusia ialah suatu budaya.Dari kebudayaan yang memadukan ilmu pengetahuan, sistem kepercayaan dan seni tumbuhlah kejadian-kejadian baru dikalangan masyarakat.

Karoushi secara harfiah berarti “death from over work” atau kematian akibat terlalu banyak bekerja. Kematian ini biasanya disebabkan oleh serangan jantung, stroke, kecelakaan di tempat kerja, dan kematian karena terlalu lelah atau terlalu stress dalam bekerja. Karoshi juga menyebabkan menurunnya kesehatan atau bahkan bisa menyebabkan bunuh diri akibat tidak tahan menghadapi tekanan di tempat kerja,dan juga berarti meninggal karena kesetiaan mengabdi pada perusahaa

Karoushi ini biasanya terjadi pada kalangan sarariman yang bekerja pada suatu perusahaan.Sarariman merupakan orang-orang yang hidup dengan gaji rendah, kerja setengah mati, tanpa uang lembur dan bahkan tanpa kepastian peningkatan karir meskipun telah bekerja puluhan tahun lamanya. Di Jepang kita bisa melihat banyaknya sarariman yang tertidur pulas di dalam kereta api ketika mereka menuju pulang ke rumah akibat terlalu lelah. Hal ini lah yang membuat fenomena di Jepang.

(60)

1.4.2 Kerangka Teori

Dalam pengerjaan penelitian ini, menggunakan teori menurut Koenjtaraningrat (1976:1) berfungsi sebagai pendorong proses berfikir deduktif yang bergerak dari bentuk abstrak ke dalam bentuk yang nyata. Dalam penelitian suatu kebudayaan masyarakat diperlukan satu atau lebih teori pendekatan yang sesuai dengan objek dan tujuan dari penelitian ini.Dalam hal ini, penulis menggunakan teori pendekatan kesejarahan, teori pendekatan sosiologi untuk meneliti tentang karoushi dan juga penelitian kebudayaan.

Teori pendekatan kesejarahan untuk melihat aspek sejarah karoushidalam kehidupan sarariman di Jepang. Menurut Nevins dalam Nazir (1988:55) sejarah adalah pengetahuan yang tetap terhadap apa yang telah terjadi. Sejarah adalah deskripsi yang terpadu dari keadaan-keadaan atau fakta-fakta masa lampau yang ditulis berdasarkan penelitian serta studi yang kritis untuk mencari kebenaran.Melalui pendekatan kesejarahan ini penulis ingin memberikan gambaran dan penjelasan latar belakang perkembangan karoushi dalam kehidupan

sarariman di Jepang dewasa ini.

(61)

murah melimpah.Untuk mempertahankan eksitensinya, para sarariman bekerja lebih keras dan lebih panjang.Untuk menghindarkan konflik perburuhan, para pekerja di Jepang menerima sistem gaji berdasarkan senioritas. Prestasi kerja dan loyalitas diukur dari panjangnya jam kerja.

Dan yang terakhir yang penulis akan gunakan adalah penelitian kebudayaan. Budaya menurut sir Edward B.Taylor dalam Ben Haryo (2005:14) adalah seluruh kompleksitas yang terbentuk dalam sejarah dan diteruskan dari generasi ke generasi melalui tradisi yang mencakup sosial, ekonomi, hukum, agama, seni, teknik, kebiasaan, dan ilmu kebudayaan selalu bersifat sosial dan historik.

Menurut kontjaraningrat(1980:192) menyatakan kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Masih menurut Kontjaraningrat, kebudayaan terdiri atas 3 wujud:

1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan dari manusia dalam masyarakat.

3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

(62)

juga stoke. Hal-hal ini lah yang memicu terjadinya karoushi (kematian karena terlalu banyak bekerja) yang banyak meninpa pekerja kantoran sampai sekarang.

1.5 Tujuan Penelitiandan Manfaat Penelitian

Sesuai dengan pokok permasalahan sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini, sebagai berikut :

1.5.1 Tujuan Penelitian

Berdasarkan pembahasan di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui sejarah dan proses terjadinya karoushi di Jepang. 2. Untuk mengetahui dampak yang ditimbulkan karoushi di Jepang.

1.5.2 Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian, hasilnya diharapkan memberi manfaat bagi pihak-pihak tertentu, antara lain :

1. Bagi peneliti sendiri diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan tentang karoushi.

(63)

3. Bagi para pembaca, penelitian ini juga dapat dijadikan sumber ide dan tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti

karoushilebih jauh.

1.6 Metode Penelitian

Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam melakukan penelitian, sangat diperlukan metode-metode untuk menunjang keberhasilan tulisan yang akan disampaikan penulis kepada para pembaca. Untuk itu, dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan metode deskriptif. Menurut Koentjaraningrat (1976:30), penelitian yang bersifat deskriptif yaitu memberikan gambaran yang secermat mungkin mengenai suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu. Oleh karena itu, data-data yang diperoleh dikumpulkan, disusun, diklasifikasikan, sekaligus dikaji dan kemudian diinterpretasikan dengan tetap mengacu pada sumber data dan informasi yang

Gambar

Gambar 3.2 Grafik Jumlah Korban Karoushi

Referensi

Dokumen terkait

 PIHAK MEDIA PARTNER mempromosikan kegiatan BURSA KERJA IPB JOBFAIR 2014 dalam bentuk media yang disediakan pihak media partner sesuai kesepakatan yang

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id.. pembelajaran tipe jigsaw ini karena guru sudah

Fitur Region of Interest (ROI) pada metode kompresi JPEG 2000 ini memungkinkan dilakukannya kompresi secara berbeda pada area tertentu dari citra dijital, sehingga area yang

[r]

Penelitian ini membahas niat konsumen di Kota Denpasar untuk membeli Mobil Toyota Agya yang ditentukan dari sikap dan juga norma subyektif calon pembeli.

Kerentanan adalah sekumpulan kondisi atau suatu akibat keadaan yang ditinjau dari segi sosial, fisik, lingkungan, dan ekonomi yang berpengaruh terhadap ketahanan

Hal tersebut menunjukkan bahwa secara statistik tidak terdapat hubungan antara tingkat obesitas terhadap skor fungsi seksual pada wanita usia subur di Kota

(1) Rencana Program Pembangunan Jangka Menengah Daerah sebagaimana dimaksud pada Pasal 3 menjadi pedoman dalam penyusunan Perubahan Rencana Strategis Satuan Kerja