• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peranana Gizi Pada Pencegahan Flu Burung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Peranana Gizi Pada Pencegahan Flu Burung"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

62

H

HHAAASSSIIILLLPPPEEENNNEEELLLIIITTTIIIAAANNN

KEBIASAAN MEROKOK HUBUNGANNYA DENGAN SARANA

SANITASI RUMAH DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

PROPINSI SUMATERA UTARA TAHUN 2006

Nerseri Barus

Pengajar pada Departemen Epidemiologi FKM USU

ABSTRACT

Direct impact of smoking habit to health problem has been known widely. In order to know the direct impact to health, district health survey data (Surkesda) of district Serdang Bedagai 2006 was analyzed further most. The survey was Cross Sectional Study with two stage clusters sampling strategy. Sample size determination by estimating a population proportion with specified absolute precision, a sample of 2500 households would be needed. Data analyzed by descriptive epidemiology and Chi–Square test. The result shows that prevalence rate of smoking habit among house hold head was 72.92% and among population > 10 years old age was 28.65%; more than half of them (71.05%) started smoking at the age of 15-19 years old; 57.74% daily average of cigarettes smoked was 11-20. Environmental sanitation facilities among smoker significantly less than among non smoker; Own drinking water facility (57.7% vs. 66.6% χ2=18.834; p=0.005); Own bathroom facility (73.2% vs. 77.9%; χ2 = 8.259; p=0.04); Own toilet facility (70.1% vs. 76.9%; χ2 =19.971; p=0.001). Based on the result, it is suggested to give more attention to prevent smoking and stop smoking program.

Keywords: Smoking habit, Prevalence rate, Environmental sanitation

LATAR BELAKANG

Merokok merupakan masalah serius karena menyangkut bukan saja aspek kesehatan tetapi juga aspek ekonomi dan sosial. Para ahli Bank Dunia memperkirakan kerugian bersih akibat konsumsi rokok di dunia mencapai US$ 200 trilyun per tahun. Separuh dari kerugian tersebut terjadi di negara-negara berkembang.

Menurut Bank Dunia yang dikutip DepKes RI (2002) konsumsi rokok di Indonesia sekitar 6,6% dari konsumsi rokok seluruh dunia. Dalam upaya-upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang juga termasuk mencapai tujuan pembangunan milenium pada beberapa tahun terakhir ini di Indonesia, perhatian pemerintah dan masyarakat terutama ditujukan pada pemulihan keadaan ekonomi khususnya upaya menanggulangi kemiskinan.

Konsep kemiskinan dan pembangunan tidak hanya mencakup secara eksklusif

rendahnya pendapatan akan tetapi mencakup spektrum yang luas. Termasuk didalamnya ketidakmampuan masyarakat untuk hidup sehat, ketidakmampuan akses terhadap pelayanan kesehatan, serta kemampuan masyarakat memeilih secara bebas bertindak dalam bentuk perilaku kesehatan yang positif.

Kebiasaan merokok merupakan salah satu perilaku yang berdampak negatif kepada kesehatan. Dampak langsung kebiasaan merokok terhadap gangguan kesehatan telah banyak diketahui. Di dalam sebatang rokok terdapat lebih 4000 zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Bagaimana hubungan kebiasaan merokok secara tidak langsung berdampak bagi kesehatan? Untuk itu telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui besarnya masalah merokok pada kepala rumah tangga (KRT), hubungannya dengan sarana sanitasi rumah di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, 2006.

(2)

Kebiasaan Merokok Hubungannya dengan Sarana Sanitasi (62–65) Nerseri Barus

63 METODE PENELITIAN

Dilakukan analisa lanjutan dari hasil Survei Kesehatan Daerah (Surkesda) Kabupaten Serdang Bedagai, 2006. Survei dilakukan dengan disain cross sectional

study. Besar sampel dihitung dengan

pendekatan Estimating a Population Proportion with Specified Absolute Precision. Jumlah sampel yang dibutuhkan 2500 rumah tangga (RT).

Pengambilan sampel dengan pendekatan Two Stage Cluster Sampling Strategy. Setiap desa di sebelas kecamatan merupakan primary sampling unit (PSU)

yang terdiri dari 10 RT. Analisa data dilakukan dengan cara deskriptif epidemiologi dan Chi Square Test pada program SPSS Versi 12.

Definisi Operasional Variabel Penelitian a. Kepemilikan fasilitas sumber air minum

terdiri dari: 1. Sendiri 2. Bersama 3. Umum 4. Tidak ada

b. Kepemilikan fasilitas mandi terdiri dari: 1. Sendiri

2. Bersama 3. Umum 4. Tidak ada

c. Kepemilikan fasilitas untuk buang air besar terdiri dari:

1. Sendiri 2. Bersama 3. Umum 4. Tidak ada

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berturut-turut akan diuraikan besarnya masalah merokok, karakteristik perokok, dan merokok dengan sarana sanitasi rumah tangga.

Besarnya Masalah Merokok

Masalah merokok di Kabupaten Serdang Bedagai sangat besar. Pada umumnya KRT adalah perokok dengan prevalens rate 72.92%. Penduduk yang berusia di atas 10 tahun 28.65% sudah merokok. Angka ini melebihi angka nasional yang hanya 27.7%. Hal ini tidak mengherankan karena merokok sudah masuk dalam budaya. Setiap ada pertemuan/acara

adat biasanya dimulai dengan merokok (tukar menukar rokok). Orang yang tidak memberikan rokoknya dianggap tidak sopan/ tidak hormat.

Karakteristik Perokok

Berturut-turut akan diuraikan b1) usia mulai merokok, b2) jenis kelamin b3) konsumsi rokok perhari dan b4) tempat merokok.

Usia Mulai Merokok

Lebih separuh dari perokok yang berjumlah 2141 orang (71.04%) mulai merokok pada usia 15 – 19 tahun dan hanya 1.07% setelah berusia ≥ 30 tahun, seperti terlihat pada Gambar 1 di bawah ini.

Usia M ulai M e rokok (Tahun)

71,05 19,48

6,58 1,82

1,07

15-19 20-24 10-14 25-29 ≥ 30

Gambar 1. Proporsi Perokok Berdasarkan Usia Mulai Merokok, Kab. Serdang Bedagai, 2006

Kebiasaan merokok terbesar berawal pada masa remaja. Kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka, bahkan usia 10-14 tahun, sudah 6.58% yang merokok.

Jenis Kelamin

Prevalens rate merokok pada usia >10 tahun, jenis kelamin laki-laki 51.2% jauh lebih tinggi dari jenis kelamin perempuan yang hanya 3.6% dengan rasio prevalens 8.13.

Konsumsi Rokok per Hari

Sebagian besar perokok dikategorikan sebagai perokok sedang (>10 batang sehari), yaitu 57.74% yang mengkonsumsi 11-20 batang sehari. Perokok berat (>20 batang sehari) sebanyak 7.39%, seperti terlihat pada Gambar 2 di bawah ini:

(3)

Kebiasaan Merokok Hubungannya dengan Sarana Sanitasi (62–65) Nerseri Barus 64

Jumlah Batang Rokok

57,74 32,04

7,39 2,83

11-20 1-10 21-30 > 30

Gambar 2. Proporsi Perokok Berdasarkan Jumlah Batang Rokok yang Dikonsumsi per hari, Serdang Bedagai, 2006

Tempat Merokok

Pada umumnya (87.17%), perokok merokok di ruangan rumah. Merokok di ruangan/rumah perlu mendapat perhatian karena merokok didalam ruangan tentu juga bersama-sama dengan anggota keluarga lainnya. ART lainnya dapat menjadi perokok pasif. Asap samping rokok (side stream smoke) diketahui lebih banyak mengandung bahan karsinogenik. Hal ini berarti seseorang yang tidak perokok akan terkena bahaya dampak asap rokok lebih besar dari yang merokok. Angka proporsi merokok di ruangan/rumah di Kabupaten Serdang Bedagai lebih rendah dari angka nasional (Surkesnas 2001 yang merokok dalam ruangan/rumah 92%). Hal ini tidak mengherankan karena laki-laki di Serdang Bedagai lebih lama berada di luar rumah, bukan saja karena bekerja di luar rumah, namun di luar waktu kerja mereka lebih sering berada di kedai kopi. Mereka pulang kerumah hanya karena sudah mengantuk dan mau tidur sehingga proporsi merokok di rumah menjadi lebih rendah.

Kebiasaan Merokok dengan Sarana Sanitasi Rumah

Berturut-turut akan diuraikan c1 fasilitas air minum, c2 fasilitas untuk mandi dan c3 fasilitas buang air besar.

Fasilitas Air Minum

Rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum sendiri tentu lebih baik dari fasilitas bersama dengan tetangga maupun fasilitas umum. Di Kabupaten Serdang Bedagai hanya 60.33% rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum sendiri. Pada rumah tangga yang KRT nya mempunyai kebiasaan merokok, proporsi rumah tangga yang memiliki fasilitas air minum sendiri, secara signifikan lebih rendah dari rumah tangga yang KRT nya tidak mempunyai kebiasaan merokok (57.65% vs 66.57%; χ2 = 18.834; p = 0.00). Kebiasaan merokok KRT berhubungan bermakna dengan kepemilikan sumber air minum sendiri yang rendah (Tabel 1).

Fasilitas untuk Mandi

Rumah tangga yang memiliki fasilitas mandi sendiri tentu lebih baik daripada fasilitas mandi bersama dengan tetangga maupun fasilitas umum. Di Kabupaten Serdang Bedagai hanya 74.72% rumah tangga yang memiliki fasilitas mandi sendiri. Rumah tangga yang KRT nya mempunyai kebiasaan merokok, proporsi rumah tangga yang memiliki fasilitas mandi sendiri secara signifikan lebih rendah dari yang KRT nya tidak mempunyai kebiasaan merokok (73.18% vs 77.85%; χ2 = 8.259; p = 0.041). Kebiasaan KRT yang merokok berhubungan bermakna dengan kepemilikan fasilitas mandi sendiri yang rendah (Tabel 1).

Fasilitas Buang Air Besar (BAB)

Rumah tangga yang memiliki fasilitas BAB sendiri tentu lebih baik daripada fasilitas yang bersama dengan tetangga maupun umum. Di Kabupaten Serdang Bedagai hanya 72.36% rumah tangga yang memiliki fasilitas BAB sendiri.

Pada rumah tangga yang KRT nya mempunyai kebiasaan merokok, proporsi rumah tangga yang memiliki fasilitas BAB sendiri lebih rendah secara signifikan dari rumah tangga yang KRT nya tidak merokok (70.14% vs 76.97% χ2 = 19.971; p = 0.001). Kebiasaan KRT yang merokok berhubungan bermakna dengan kepemilikan fasilitas BAB sendiri yang rendah (Tabel 1).

(4)

Kebiasaan Merokok Hubungannya dengan Sarana Sanitasi (62–65) Nerseri Barus

65 Tabel 1. Kebiasaan Merokok dan Sarana Sanitasi Rumah Tangga, Nilai χ 2 dan p, Serdang

Bedagai, 2006

Merokok

Ya Tidak Kategori

F % F %

Pearson

Chi Square P Keterangan

Fasilitas Air Minum

Fasilitas Mandi 1. Sendiri

KESIMPULAN DAN SARAN

Merokok merupakan masalah kesehatan yang besar di Kabupaten Serdang Bedagai, Prevalens Rate merokok KRT mencapai 72.92%. Kebiasaan Merokok bukan saja secara langsung berdampak terhadap gangguan kesehatan mereka yang terpapar asap rokok, tetapi secara tidak langsung berhubungan dengan kesehatan masyarakat yang lebih buruk.

Sarana sanitasi rumah yang sangat mendasar berupa kepemilikan fasilitas air minum, fasilitas mandi dan fasilitas BAB signifikan lebih rendah pada rumah tangga yang KRTnya merokok dibandingkan dengan rumah tangga yang KRT nya tidak merokok.

Disarankan agar upaya pencegahan merokok lebih dioptimalkan sejak dari usia remaja melalui berbagai cara seperti jalur pendidikan di sekolah, lintas sektoral maupun pendekatan sosio kultural.

KEPUSTAKAAN

1. Ginsel, K.H. What’s is in a cigarette. American Council on Science and Health, 1990. Http:www.acsh.org/ publications/priorities/0102/nicotine.html 2. Gale Allen, E., Wilde Wolfgang.

Adverse Effects of Passive Smoking on Sufferers of Respiratory Diseases Australia. September, 1000. http://people.enternet.com.au/∼agale/pass ivesmoking.htm

3. Anwar J, Saad A. Merokok Pasif. Majalah Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Vol 11, Nomor 2, April, 1991. 4. Lwanga, S.K., Lameshow., 1997. Sample Size Determination In Health Studies. A Practical Manual, USA: WHO.

5. Departemen Kesehatan RI: Rancangan Sampling Surkesda Seri 3; Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Seketariat Surkesnas Pusat.

6. Departemen Kesehatan RI. Peyusunan Kuesioner Surkesda Balitbangkes Seketariat Surkesnas Pusat.

7. Depkes RI. Laporan Data Susenas 2001: Status Kesehatan, Pelayanan Kesehatan Lingkungan. Tim Surkesnas, Badan Litbang Kesehatan, 2002. Kesehatan; Pelayanan Kesehatan, Perilaku Hidup Sehat dan Kesehatan Lingkungan, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

8. Depkes RI. Laporan SKRT, 2001. Faktor Risioko Penyakit Tidak Menular Studi Morbiditas dan Disabilitas: Tim Surkesnas, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

9. Barus. N, Syarifah. 2006. Surkesda Serdang Bedagai; 2006. Dinkes Serdang Bedagai dan FKM USU.

10. Departemen Kesehatan RI 2005: Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT 2004). Vol 2; Status Kesehatan Masyarakat Indonesia, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Masyarakat.

Gambar

Gambar 1.  Proporsi
Gambar 2.  Proporsi
Tabel 1.  Kebiasaan Merokok dan Sarana Sanitasi Rumah Tangga, Nilai χ 2 dan p, Serdang Bedagai, 2006

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan penting yang berkenaan dengan tingkat pendidikan kepala rumah tangga adalah elastisitas harga sendiri bagi KRT berpendidikan SD ke bawah dan SMP ke atas terhadap

Isolasi dan identifikasi virus Avian Influenza (AI) subtipe H5N1 dari unggas air (itik lokal, itik Pitalah, itik Bayang) pada peternakan skala rumah tangga ( backyard farming system

Variabel dependen dalam penelitian ini adalah status merokok individu dalam rumah tangga yang berasal dari topik kuesioner kebiasaan merokok yang termasuk dalam seksi KM

Karakteristik penciri kecenderungan rumah tangga menjadi miskin di Provinsi Jawa Barat diantaranya adalah status pekerjaan KRT yang bekerja sendiri/dibantu pekerja tidak dibayar

Rumah tangga dengan KRT perempuan berstatus janda yang bekerja di sektor pertanian, memiliki kecenderungan lebih besar untuk mendapat status tingkat kekayaan rendah atau

Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara BBLR, sanitasi kurang baik, kebiasaan bapak merokok dalam rumah, pendidikan ibu dan bapak yang rendah, pendapatan

Proporsi penduduk atau rumah tangga dengan akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak adalah perbandingan antara penduduk atau rumah tangga yang memiliki akses terhadap

Menurut Setiyanto, faktor- faktor yang mempengaruhi kebiasaan merokok adalah tekanan teman sebaya, berteman dengan perokok usia muda, status sosial ekonomi rendah, mempunyai orang tua