STUDI TENTANG SYARAT PERLU DAN SYARAT CUKUP
DALAM OPTIMISASI BERPEMBATAS PERSAMAAN
SKRIPSI
Oleh
AGNES MAYASARI MANURUNG
030803004
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
STUDI TENTANG SYARAT PERLU DAN SYARAT CUKUP
DALAM OPTIMISASI BERPEMBATAS PERSAMAAN
SKRIPSI
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat gelar Sarjana Sains
AGNES MAYASARI MANURUNG
030803004
DEPARTEMEN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Judul : Studi Tentang Syarat Perlu Dan Syarat Cukup Dalam
Optimisasi Berpembatas Persamaan
Kategori : SKRIPSI
Nama : AGNES MAYASARI MANURUNG
NIM : 030803004
Program Studi : MATEMATIKA
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM (FMIPA)
Disetujui di
Medan, April 2010
Komisi Pembimbing
Pembimbing II, Pembimbing I,
Drs. Henry Rani Sitepu, M.Si Drs. Pangeran Sianipar, M.Si NIP. 195303031983031002 NIP. 194702081974031001
Diketahui,
Departemen Matematika FMIPA USU
Ketua,
Dr. Saib Suwilo, M.Sc
PERNYATAAN
STUDI TENTANG SYARAT PERLU DAN SYARAT CUKUP DALAM OPTIMISASI BERPEMBATAS PERSAMAAN
SKRIPSI
Saya mengakui bahwa Tugas Akhir II ini adalah hasil kerja sendiri, kecuali beberapa kutipan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, April 2010
AGNES MAYASARI MANURUNG
PENGHARGAAN
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan limpah karunia-Nya skripsi ini berhasil diselesaikan dalam waktu yang telah ditetapkan.
Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada bapak Drs. Pangeran Sianipar, M.Si dan Drs. Henry Rani Sitepu, M.Si selaku pembimbing dan Prof. DR. Herman Mawengkang rsitas Sumateradan Drs. H. Haluddin Panjaitan selaku penguji pada penyelesaian skripsi ini yang telah memberikan panduan dan kepercayaan kepada saya untuk menyempurnakan skripsi ini. Panduan ringkas, padat dan profesional telah diberikan kepada saya agar dapat menyelesaikan tudapat menyelesaikan tugas ini. Ucapan terimakasih juga saya ditujukan kepada Ketua dan Sekretaris Departemen Matematika Dr. Saib Suwilo, M.Sc dan Drs. Henry Rani Sitepu, M.Si, Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, semua dosen pada departemen Matemetika FMIPA USU, serta seluruh pegawai di FMIPA USU.
Ucapan terimakasih yang tak ternilai penulis ucapkan kepada orangtua tercinta S. Manurung dan N br. Tarigan buat tiap doa, tetes keringat, airmata, harapan dan dukungan sehingga penulis bisa menyelesaikan penulisan skripsi ini. Kepada kakak dan adik-adikku tersayang: k’ika, Fitri ‘oko’, Meilisa, Tetty, Edo serta bow tercinta yang selalu setia mendukung dan berdoa buat penulis selama ini. Penulis juga berterima kasih kepada Samuel Nainggolan, Rosita Lingga, Beni Aquino, Sandra, Dewi, Yanti, DJ-DJ’03, Aulia n mom, Mami uda, teman-teman di NHKBP Gd. JOHOR, Sonya n Tari serta semua pihak yang telah membantu dan memberi dukungan serta doa untuk penulis.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini. Terima kasih.
Medan, April 2010
ABSTRAK
Masalah optimisasi adalah suatu masalah untuk membuat nilai fungsi tujuan menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada. Dalam hal ini masalah optimisasi yang diteliti adalah masalah minimisasi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengubah masalah optimisasi berpembatas menjadi masalah optimisasi tanpa pembatas adalah metode lagrange.
DAFTAR ISI
Halaman
Persetujuan ii
Pernyataan iii
Penghargaan iv
Abstrak v
Daftar Isi vi
BAB 1. PENDAHULUAN 1 1.1 Rumusan Masalah 2 1.2 Tujuan Penelitian 3
1.3 Manfaat Penelitian 3 1.4 Tinjauan Pustaka 3
1.5 Metode Penelitian 4 BAB 2. URAIAN TEORITIS 6
2.1 Titik Ekstrim dari Suatu Fungsi 6
2.2 Masalah Optimisasi Berpembatas Persamaan 8 2.3 Bidang Singgung 9
2.4 Syarat Orde Satu dan Dua 11
2.5 Metode Pengali Lagrange 17
BAB 3. PEMBAHASAN 18
3.1 Syarat Perlu 19
3.2 Syarat Cukup 25
3.3 Contoh 27
BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN 35
4.1 Kesimpulan 35
4.2 Saran 35
ABSTRAK
Masalah optimisasi adalah suatu masalah untuk membuat nilai fungsi tujuan menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan pembatasan-pembatasan yang ada. Dalam hal ini masalah optimisasi yang diteliti adalah masalah minimisasi. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengubah masalah optimisasi berpembatas menjadi masalah optimisasi tanpa pembatas adalah metode lagrange.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Pada dasarnya masalah optimisasi adalah suatu masalah untuk membuat nilai
fungsi tujuan menjadi maksimum atau minimum dengan memperhatikan pembatas
– pembatas yang ada. Dalam aplikasi sering dijumpai masalah minimisasi dengan
pembatas persamaan yang secara umum ditulis dalam bentuk:
Minimumkan f(x)
Terhadap pembatas h(x) = 0………..(1.1)
n m R R h R R f R
x∈ n, : n → , : n → m, <
dimana f(x) adalah fungsi tujuan dan h(x) adalah fungsi pembatas.
Pada masalah ini dapat diasumsikan bahwa fungsi f dan h adalah fungsi yang
mempunyai turunan kedua yang kontinu. Salah satu metode yang dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah optimisasi berpembatas persamaan adalah metode
pengali Lagrange. Prinsip metode pengali Lagrange adalah mengubah masalah
optimisasi berpembatas persamaan menjadi masalah optimisasi tanpa pembatas
dengan menggunakan fungsi Lagrange, yaitu:
( ) ( )
x f x h( )
xL ,λ = +λ ………(1.2)
Dimana λT
(
λ λ λm)
,..., , 2 1= dan vektor riil tak nol λ disebut pengali Lagrange.
Solusi optimum dari masalah (1.1) ditentukan dengan mencari titik optimum dari
Dalam teori optimisasi klasik (Luenberger,1984) telah dikemukakan bahwa:
1. Syarat perlu
Misalkan *
x adalah titik ekstrim dari f(x) terhadap h(x)=0. Syarat perlu agar
minimum lokal adalah:
( )
x y y M LyT * ≥0,∀ ∈ ………...(1.3)
dimana : L
( )
x* =∇2f( )
x* +λT∇2h( )
x*M =
{
y:∇h( )
x* y=0}
L
( )
x* = matriks dari turunan parsial kedua f dan h terhadap x *M = bidang singgung
2. Syarat cukup
Misalkan *
x adalah titik ekstrim dari f(x) terhadap h(x)=0. Syarat cukup agar
minimum lokal adalah:
( )
x y y M LyT * >0,∀ ∈ ………(1.4)
Berdasarkan syarat cukup dan syarat perlu tersebut di atas, penulis tertarik untuk
mengkaji yarat cukupdan syarat perlu orde dua yang ekivalen dengan syarat (1.3)
dan (1.4). Atas dasar itulah penelitian ini diberi judul: “Studi Tentang Syarat Perlu
dan Syarat Cukup Dalam Optimisasi Berpembatas Persamaan”.
1.2Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dari latar belakang tersebut, maka yang menjadi rumusan
masalah dari penelitian ini adalah bagaimana syarat orde dua ekivalen dengan
1.3Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan di atas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk menunjukkan syarat perlu dan syatrat cukup yang ekivalen dengan
syarat yTL
( )
x* y≥0,∀y∈M dan yTL( )
x* y>0,∀y∈M dalam menyelesaikan masalah optimisasi berpembatas persamaan.1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memperoleh gambaran mengenai ide dasar dan
langkah-langkah teoritis dalam optimisasi berpembatas persamaan dengan syarat
perlu dan syarat cukup.
1.5Tinjauan Pustaka
Titik ekstrim dari suatu fungsi adalah titik maksimum atau titik minimum
peranan penting dalam optimisasi.
Misalkan f adalah fungsi riil dengan domain D⊂Rn.
a. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai maksimum lokal, jika ada selang buka
(
x1, x2)
yang memuat*
x sehingga memenuhi f(x)≤ f(x*),∀x pada selang
buka tersebut.
b. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai maksimum global pada titik x jika *
D x x f x
f( )≤ ( *),∀ ∈ .
c. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai minimum lokal, jika ada selang buka
(
x1, x2)
yang memuat*
x sehingga memenuhi f(x)≥ f(x*),∀x pada selang
buka tersebut.
d. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai minimum global pada titik x jika *
D x x f x
Selanjutnya, misalkan f terdiferensial di x∈D⊂Rn. Jika turunan parsial
dari f kontinu di x maka f disebut diferensial secara kontinu di x, dan jika turunan
parsial kedua dari f kontinu maka x maka f disebut mempunyai turunan parsial
kedua yang kontinu di x.
Gradien dari f pada x dinotasikan dengan ∇f(x)dan didefenisikan dengan:
= ∇ n x x f x x f x x f x f δ δ δ δ δ δ ( ) ,..., ) ( , ) ( ) ( 2 1
dan matriks Hessian (H) dari f pada x adalah matriks yang diperoleh dari turunan
parsial kedua yang dinotasikan dengan ∇2f(x).
Pada masalah optimisasi berpembatas persamaan diasumsikan bahwa m ≤ n
dan fungsi-fungsi f dan hI, (i=1,2,…,m) adalah kontinu dan mempunyai turunan
parsial kedua yang kontinu.
Dengan mengambil h = (h1,h2,…,hm) maka masalah optimisasi yang terdapat
pada persamaan (2.3) tersebut dapat ditulis menjadi:
Minimumkan f
( )
xDengan pembatas:
( )
⊂ ∈ = n R D x x h 0
Suatu titik x∈D yang memenuhi seluruh pembatas fungsi f
( )
x disebut titik fisibel.1.5 Metoda Penelitian
Metoda penelitian yang digunakan adalah penelitian literature atau studi
kepustakaan, yaitu:
Pertama, memperkenalkan beberapa pengertian dasar tentang masalah optimisasi
Kedua, mengkaji teorema mengenai syarat perlu dan syarat cukup yang ekivalen
dengan syarat yang sudah diketahui sebelumnya dan pembuktiannya.
Ketiga, membuat suatu contoh kasus dengan menggunakan syarat perlu dan syarat
BAB 2
URAIAN TEORITIS
Pada bab ini akan dibahas tentang masalah optimisasi berpembatas
persamaan. Sebelum membahas masalah optimisasi berpembatas persamaan maka
terlebih dahulu diberikan pengertian dan sifat-sifat ekstrim dari suatu fungsi.
2.1Titik Ekstrim dari Suatu Fungsi
Titik ekstrim dari suatu fungsi adalah titik maksimum atau titik minimum
dari fungsi tersebut. Masalah penentuan titik ekstrim dari suatu fungsi mempunyai
peranan penting dalam optimisasi. Berikut ini diberikan defenisi titik maksimum
dan titik minimum dari suatu fungsi.
Defenisi 2.1.1
Misalkan f adalah fungsi riil dengan domain D⊂Rn .
a. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai maksimum lokal, jika ada selang
buka
(
x1, x2)
yang memuat x sehingga memenuhi * f(x)≤ f(x*),∀xpada selang buka tersebut.
b. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai maksimum global pada titik x jika *
D x x f x
f( )≤ ( *),∀ ∈ .
c. Fungsi f dikatakan mempunyai nilai minimum lokal, jika ada selang
buka
(
x1, x2)
yang memuat x sehingga memenuhi * f(x)≥ f(x*),∀xpada selang buka tersebut.
Fungsi f dikatakan mempunyai nilai minimum global pada titik * x jika
D x x f x
Selanjutnya, misalkan f terdiferensial di x∈D⊂ Rn. Jika turunan parsial dari f
kontinu di x maka f disebut diferensial secara kontinu di x, dan jika turunan parsial
kedua dari f kontinu di x maka f disebut mempunyai turunan parsial kedua yang
kontinu di x.
Gradien dari f pada x dinotasikan dengan ∇f(x)dan didefenisikan dengan:
= ∇ n x x f x x f x x f x f δ δ δ δ δ δ ( ) ,..., ) ( , ) ( ) ( 2 1 ………...(2.1)
dan matriks Hessian(H) dari f pada x adalah matriks yang diperoleh dari turunan
parsial kedua yang dinotasikan dengan ∇2f(x).
Teorema 2.1.2 (Rao, 1984)
Jika f terdefenisi pada selang buka yang memuat x dan mempunyai minimum *
lokal di x dan jika f terdiferensial di * x , maka: *
0 ) ( * =
∇f x ………(2.2)
Bukti:
Andaikan *
x adalah titik minimum lokal maka f' x
( )
* ada, ini berarti bahwa limitkiri dan limit kanan ada dan sama dengan f' x
( )
* .(
)
h x f h x f h ) ( lim * * 0 − + − → =(
)
h x f h x f h ) ( lim * * 0 − + + → =( )
* ' x fJika h>0maka
(
( ))
0 * * ≥ − + h x f h x fkarena f
( )
x* ≤ f(x* +h)untuk semuabilangan-bilangan kecil positif dari h.
Untuk h→0, maka diperoleh:
( )
lim(
( ))
lim0 0Dan jika h>0 maka
(
( ))
0 * * ≤ − + h x f h x fUntuk h→0, maka diperoleh:
( )
lim(
( ))
lim0 00 * * 0 * ' = + − ≤ = − − → → h h h x f h x f x f
Limit kiri = limit kanan = 0, maka f '
( )
x* ada. Karena f '( )
x* ≥0dan f '( )
x* ≤0,maka dapt disimpulkan bahwa f'
( )
x* =0 atau ∇f( )
x* =0. ■2.2Masalah Optimisasi Berpembatas Persamaan
Pada masalah optimisasi berikut:
Minimumkan f
( )
xTerhadap pembatas:
( )
( )
( )
= = = 0 0 0 2 1 x h x h x h m ………(2.3)dimana x∈D⊂Rn
Pada masalah (2.3) diasumsikan bahwa m ≤ n dan fungsi-fungsi f dan hi,
(i=1,2,…,m) adalah kontinu dan mempunyai turunan parsial kedua yang kontinu.
Dengan mengambil h = (h1,h2,…,hm) maka masalah optimisasi yang terdapat
pada persamaan (2.3) tersebut dapat ditulis menjadi:
Minimumkan f
( )
xDengan pembatas:
( )
( )
x =0h pada persamaan (2.4) tersebut adalah pembatas fungsi f
( )
x danD
x∈ disebut pembatas himpunan. Suatu titik x∈D yang memenuhi seluruh
pembatas fungsi f
( )
x disebut titik fisibel.2.3Bidang Singgung
Untuk menyelidiki apa syarat agar M menjadi bidang singgung di x , maka *
diperlukan konsep titik tetap. Berikut ini diberikan defenisi bidang singgung pada
suatu permukaan S.
Defenisi 2.3.1 (Leithold, 1991)
Jika persamaan suatu permukaan S adalah h
(
x*,y*,z*)
= 0, maka bidang singgungdari S pada titik h
(
x*,y*,z*)
adalah sebuah bidang melalui titik h dan mempunyaivektor normal ∇h
(
x*,y*,z*)
.Defenisi 2.3.2 (Luenberger, 1984)
Suatu kurva pada permukaan S adalah keluarga titik-titik x
( )
t ∈Sdengan parameterisasi kontinu t untuk a ≤ t ≤ b. Suatu kurva terdiferensial jika( )
dt t dx
x'= ada dan terdiferensial dua kali jika
( )
2( )
2 "dt t x d t
x = ada. Suatu kurva x(t)
disebut melalui titik x
( )
t disebut melalui titik *x jika x* =
( )
t untuk suatu.
, *
*
b t a t ≤ ≤
Defenisi 2.3.3 (Leon, 1999)
Jika X =
{
x1,x2,...,xn}
adalah himpunan vektor, maka X disebut bebas linear jika k1Defenisi 2.3.4 (Luenberger, 1984)
Suatu titik x yang memenuhi pembatas * h
( )
x* =0 disebut titik regular daripembatas jika vektor gradien
( ) ( )
2 *( )
* *1 x , h x ,..., h x
h ∇ ∇ m
∇ adalah bebas linier.
Defenisi 2.3.5 (Anton, 1997)
Misalkan matriks A = Anxn maka A dikatakan non singular jika ada matriks A-1
disebut invers matriks sedemikian sehingga AA-1 = A-1 A = I.
Defenisi 2.3.6 (Luenberger, 1984)
Misalkan A adalah suatu matriks nxn, maka Rank matriks A didefenisikan sebagai
banyaknya baris-baris atau kolom-kolom yang bebas linier pada matriks A.
misalkan A adalah suatu matriks mxn, jika rank A adalah minimum dari (m,n),
maka A dikatakan mempunyai rank penuh.
Teorema 2.3.7 (Luenberger, 1984)
Misalkan S adalah permukaan yang didefenisikan oleh h(x) = 0. Persamaan bidang
singgung pada titik regular x dari permukaan S tersebut adalah: *
( )
{
:∇ * =0}
= y h x y
M I ………..(2.5)
Bukti:
Misalkan T adalah bidang singgung x maka * T ⊂M , apakah x titik reguler atau *
tidak. Untuk suatu kurva x
( )
t yang melalui x pada * t =t* yang mempunyai turunan( )
* ' tx sehingga ∇h
( ) ( )
x* xt* ≠0tidak akan terletak pada S. Untuk membuktikanT
yang melalui x dengan turunan y. Untuk membangun kurva yang demikian *
ditinjau persamaan berikut:
( )
( )
(
x* +ty+∇h x* u t)
=0h T ………...(2.6)
Pada persamaan (2.6) untuk t tetap, dianggap u
( )
t ∈Rmtidak diketahui dengan parameterisasi kontinu dari t. Pada t = 0 terdapat solusi u(0) = 0. Matriks Jacobiandari sistem tersebut terhadap u pada t = 0 adalah matriks m x m, yaitu:
( ) ( )
T x h xh * ∇ *
∇ ……….(2.7)
Matriks pada (2.7) adalah non singuler karena ∇h
( )
x* adalah rank penuh jika *x adalah suatu titik tetap, maka untuk suatu solusi terdiferensial secara kontinu
u(t) di daerah −a≤t≤akurva x
( )
t =x* +ty+∇h( )
x* Tu( )
t ada pada S. Dengan pendiferensialan (2.12) pada t = 0 diperoleh:)) ( ) ( ( )) ( (
0 * *
0 t u x h ty x h dt d t x h dt d t ∇ + + = = = ) 0 ( ' ) ( ) ( ) (
0=∇h x* y+∇h x* ∇h x* Tu
Karena y terdefenisi maka diperoleh ∇h(x*)y=0dan karena ∇h(x*)∇h(x*)T
adalah non singular maka dapat disimpulkan bahwa u'(0)=0, sehingga diperoleh:
y u
x h y
x'(0)= +∇ ( *)T '(0)=
Hal ini menunjukkan bahwa kurva yang dibangun mempunyai turunan x pada *
yaitu y. ■
2.4 Syarat Orde Satu dan Dua
Penurunan syarat perlu agar suatu titik menjadi titik minimum terhadap
pembatas persamaan dapat dinyatakan dalam bidang singgung. Untuk itu akan
Lemma 2.4.1 (Luenberger,1984)
Misalkan *
x adalah titik regular dari pembatas h
( )
x =0 dan titik ekstrim lokalterhadap pembatas tersebut, maka ∀y∈Rn memenuhi:
( )
* =0∇h x y ……….(2.8)
( )
* =0∇f x y ………..…..……….(2.9)
Bukti:
Misalkan y adalah suatu vektor dalam bidang singgung di x dan * x
( )
t adalahkurva pada permukaan terbatas yang melalui x dengan turunan y pada * x yaitu *
( )
*0 x
x = , x
( )
0 = ydan h( )
x( )
t =0 untuk ˗ ɑ ≤ t ≤ɑ untuk suatu ɑ > 0.Karena x adalah titik regular, bidang singgung identik dengan himpunan y *
yang memenuhi ∇h
( )
x* y =0 dan karena x adalah titik ekstrim lokal berpembatas *dari ƒ maka diperoleh:
dt d
f
( )
x( )
t]
t=0= 0dx
df
]
dt dx
0 = t = 0
atau ekivalen dengan ∇f
( )
x* y=0.■Lemma di atas mengatakan bahwa ∇f
( )
x* adalah ortogonal terhadap bidang singgung.Defenisi 2.4.2 (Anton, 1997)
Bentuk kuadrat x Ax disebut definit positif jika T x Ax > 0 untuk semua x T ≠ 0 dan
Teorema berikut menjelaskan syarat perlu orde dua. Untuk selanjutnya
diasumsi ƒ dan h adalah fungsi yang kontinu hingga turunannya yang kedua jelas.
Teorema 2.4.3 (Luenberger, 1984)
Misalkan bahwa x’adalah titik minimum lokal dari ƒ terhadap pembatas
( )
x =0h dan x adalah titik reguler dari pembatas tersebut, maka terdapat * λ∈Rm
sehingga:
( )
T x f +λ∇ *
( )
0 *
=
∇h x ……….………(2.10)
Jika M =
{
y:∇h( )
x* y=0}
maka matriks:( )
x h( )
x fx
L( *)=∇2 * +λT∇2 ……….………...(2.11)
adalah semidefinit positif pada M, yaitu : y LT
( )
x* y≥0,∀y∈MBukti :
Karena
( )
*0 x
x = adalah minimum lokal dari ƒ, maka berlaku:
]
0 22
)) ( (x t t= f
dt d
≥ 0………(2.12)
dt d
f
( )
( )
( )
( )
dt dx t x f dx d tx = =∇f
( ) ( )
x( )
t x' t( )
( )
[
f( ) ( )
x( )
t x t]
dt d t x f dt d ' 2 2 ∇ ==
[
( )
( )
]
( )
( )
( )
x( )
t dt d t x f t x t x f dt d ' ' +∇ ∇=
[
∇2f( ) ( )
x( )
t x' t]
x'( )
t +∇f( ) ( )
x( )
t x" t=x'
( )
t T∇2f( ) ( )
x( )
t x t +∇f( ) ( )
x( )
t x" tsehingga:
( )
( )
0 2 2 = t t x f dt d≥ x'
( )
0 T∇2f( ) ( )
x( )
0 x' 0 +∇f( ) ( )
x( )
0 x" 0≥ x'
( )
0 T∇2f( )
x* x'( )
0 +∇f( ) ( )
x( )
0 x" 0 ………(2.13)
[
( )
( )
]
0 0 2 2 ≥ = t T t x h dt dλ ,akan diperoleh dengan cara di atas, yaitu:
[
( )
( )
]
≥ =0 2 2 t T t x h dt dλ x'
( )
t TλT∇2h( ) ( )
x( )
t x' t +λT∇h( ) ( )
x( )
t x tmaka diperoleh:
[
( )
( )
]
≥ =0 2 2 t T t x h dt dλ x'
( )
0 TλT∇2h( ) ( )
x( )
0 x' 0 +λT∇h( ) ( )
x( )
0 x 0≥ x'
( )
0TλT∇2h( )
x* x'( )
0 +λT∇h( )
x* x( )
0 ………..(2.14)'
( )
0 2( )
* '( )
0( )
* '( )
0 x x h x x hx T T T
∇ +
∇ λ
λ ≥ 0
Dengan menambahkan persamaan (2.14) ke persamaan (2.13) maka diperoleh:
( )
0[
( )
'( )
0( )
]
'( )
0' 2 * *
x x h x x h
x T T
∇ +
∇ λ +
[
∇f( )
x* +λT∇h( )
x*]
x'( )
0 ≥ 0( )
0 ( ) '( )
0 0 0' L x* x + ≥
x T
atau
0 ) (x* y≥ L
Teorema berikut menjelaskan syarat cukup. Untuk selanjutnya diasumsi f
dan h adalah fungsi yang kontinu hingga turunannya yang kedua.
Teorema 2.4.3 (Luenberger, 1984)
Misalkan terdapat suatu titik *
x yang memenuhi h
( )
x =0dan m R∈
λ sehingga:
( )
* + ∇( )
* =0∇f x λT h x ………..(2.15)
Misalkan juga bahwa matriks L
( )
x* =∇2f( )
x* +λT∇2h( )
x* adalah definit positifpada M =
{
y:∇h( )
x* y=0}
∀y∈M;y ≠0sehingga memenuhi yTL( )
x* y>0, dan *x adalah minimum lokal dari y terhadap pembatas h
( )
x =0.Bukti:
Karena
( )
*0 x
x = adalah minimum lokal dari f dan x’
( )
0 = ydengan y ≠ 0 maka berlaku:( )
( )
]
0 0 2 2 > = t t x f dt d ………..(2.16)( )
( )
( )
( )
f( ) ( )
x( )
t x t dt dx t x f dx d t x f dt d ' 2 2 ∇ = =( )
( )
[
f( ) ( )
x( )
t x t]
dt d t x f dt d ' 2 2 ∇ ==
[
( )
( )
]
( )
( )
( )
x( )
t dt d t x f t x t x f dt d ' ∇ + ∇=
( ) ( ) ( )
( )
x t x t f( ) ( )
x( )
t x t dt d t x f dx d " ' +∇ ∇=
[
∇2 f( ) ( )
x( )
t x' t]
x'( )
t +∇f( ) ( )
x( )
t x" tsehingga diperoleh:
( )
( )
'( )
0 2( ) ( )
( )
0 ' 0( ) ( )
( )
0 " 0 0 2 2 x x f x x f x t x f dt d T t ∇ + ∇ > ='
( )
0 2( ) ( )
" ' 0( ) ( )
( )
0 " 0 x x f x x fx T∇ +∇
>
Untuk 2
[
( )
( )
]
0 0 2 > = t T t x h dt dλ , akan diperoleh dengan cara di atas, yaitu:
( )
( )
[
h xt]
x( )
t h( ) ( )
x( )
t x t h( ) ( )
x( )
t x t dtd T T T
t T ' ' ' 2 0 2 2 ∇ + ∇ > = λ λ λ Maka diperoleh:
> x'
( )
0 TλT∇2h( )
x* x'( )
0 +λT∇h( )
x* x'( )
0( )
0( )
'( )
0( )
'( )
0 0' ∇2h x* x + ∇h x* x >
x TλT λT
Dengan menambahkan persamaan (2.18) ke persamaan (2.17) maka diperoleh:
( )
0[
( )
"( )
]
'( )
0[
( )
( )
]
( )
0 0' ∇2f x + ∇2h x* x + ∇f x* + ∇h x* x ≥
x T λT λT
Karena L
( )
x* =∇2f( )
x* +λT∇2h( )
x* dan dari (2.15) yaitu ∇f( )
x* +λT∇h( )
x* =0Maka diperoleh:
( )
0( )
'( )
0 0 0' L x* x + >
x T
Atau
( )
x* y>0L
2.5 Metode Pengali Lagrange
Salah satu metode yang sering digunakan untuk menyelesaikan masalah
optimisasi berpembatas persamaan adalah metode pengali Lagrange. Untuk
menyelesaikan masalah optimisasi pada persamaan (2.4) didefenisikan suatu
fungsi Lagrange sebagai berikut:
...(2.19)
dan vektor riil tak nol pada persamaan (2.19) disebut pengali
Lagrange.
Jika adalah titik ekstrim dari , maka menurut teorema 2.1.2
diperoleh:
...(2.20)
dan
...(2.21)
Dengan memperhatikan persamaan (2.10) dan (2.21) maka dapat disimpulkan
bahwa masalah optimisasi pada persamaan (2.4) dapat diselesaikan melalui titik
ekstrim dari fungsi Lagrange pada persamaan (2.19).
Dari persamaan (2.3) dimana , , dan karena
adalah suatu vektor maka i = 1 maka persamaan (2.19) dapat
BAB 3
PEMBAHASAN
Pada bab ini akan dikaji tentang syarat perlu dan syarat cukup dalam
masalah optimisasi berpembatas persamaan sebagai berikut:
Minimumkan : f(x)
Terhadap pembatas : h(x)=0...(3.1)
dimana: x∈Rn, f :Rn →R,h:Rn →Rm,m<n
dan f,
{ }
h(x) im=1merupakan fungsi yang mempunyai turunan kedua yang kontinu.Untuk kemudahan penulisan akan digunakan notasi-notasi berikut:
( ) ( )
x f x h( )
x L ,λ = +λ( )
x,λ λL( )
x,λLx =∇x
( )
λ λ( )
λλ x, L x,
L =∇x
( )
x f( )
x fx =∇( )
x h( )
x hx =∇( )
x,λ 2 λL( )
x.λLxx =∇ x
( )
(
∇ * =0)
= y x y
M Tx
3.1 Syarat Perlu
Untuk menurunkan syarat perlu diperlukan beberapa lemma berikut ini,
sebelumnya diberikan beberapa defenisi dalam memahami lemma tersebut.
Defenisi 3.1.1 (Leon, 1999)
Misalkan A adalah suatu matriks nxn, skalar µ disebut sebagai suatu nilai eigen
dari A jika terdapat suatu vektor tak nol x sehingga Ax=µx. Untuk menghitung
nilai eigen dirumuskan dengan
(
A−µI)
=0.Defenisi 3.1.2 (Anton, 1997)
Suatu vektor w disebut kombinasi linier dari vektor X =
(
x1,x2,,xn)
jika wdapatdinyatakan dalam bentuk w=k1x1 +k2x2 ++knxn dimana k1,k2,,kn adalah
skalar.
Defenisi 3.1.3 (Anton, 1997)
Jika x1,x2,,xnadalah vektor-vektor pada vektor X dan jika masing-masing
vektor pada X dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier x1,x2,,xn maka
dikatakan bahwa vektor-vektor tersebut membangun X.
Defenisi 3.1.4 (Anton, 1997)
Jika baris dan kolom suatu matriks saling tukar sehingga baris pertama menjadi
kolom pertama dan sebaliknya, maka diperoleh transpos A yang dinyatakan oleh
T
A . Jika A adalah matriks nxn maka A dikatakan simetris jika AT = A, idempoten
jika A2 = A. A dikatakan matriks proyeksi Ortogonal jika A simetris dan
Lemma 3.1.5 (Arifin, 2001)
Misalkan y∈Rn, dengan y ≠ 0 sehingga memenuhi hxT(x*)y=0disebut ruang nol dari hxT(x*). Ruang nol yang dibangun oleh himpunan bebas linier disebut ruang
nol.
Lemma 3.1.6 (Rao, 1984)
Misalkan adalah minimum lokal dari f yang memenuhi h( ) = 0, ruang nol dari
dibangun oleh kolom-kolom bebas linier dari S yang didefenisikan dengan:
S = ...(3.2)
Bukti:
Akan ditunjukkan bahwa S adalah matriks proyeksi ortogonal. S adalah matriks proyeksi ortogonal jika = S (simetris) dan = S (idempoten).
=
=
=
=
=
=
= S
Maka
selanjutnya akan ditunjukkan bahwa
=
( )
= )
=
= S
Maka = S
Sehingga terbukti bahwa S adalah matriks proyeksi ortogonal.
Ruang nol dari
( )
* xhxT adalah
{
( )
0}
*=
= yh x
M xT untuk sembarang untuk y∈M ,
maka:
( ) ( )
{
}
( )
[
I h x h x h x h x]
ySy = n− x( *) xT * x * −1 xT *
= y−hx(x*)
{
hxT( ) ( )
x* hx x*}
−1hxT( )
x* y= y−h (x*)
{
h( ) ( )
x* hx x*}
−1.0 Tx x
=y−0
=y
Karena diperoleh Sy = y,∀y∈M maka S adalah matriks proyeksi terhadap M.
Karena S adalah matriks nxn maka S memproyeksikan n R
x∈ terhadap M sehingga
n x x R S
y= ,∀ ∈ . Karena y=Sx,∀y∈M sehingga dapat disimpulkan bahwa
M y∈
∀ dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari kolom-kolom bebas linnier dari S.
Jika X adalah sebarang ruang vektor dan merupakan himpunan vektor di S maka
{
x1,x2,,xn}
disebut basis untuk X jika:a)
{
x1,x2,,xn}
bebas linier.b)
{
x1,x2,,xn}
membangun X.Himpunan vektor tak nol
{
x1,x2,,xn}
di R adalah ortogonal jika hasil kali n0 . j = i x
x dengan xi ≠xj. Vektor-vektor ini dikatakan orthonormal jika
panjangnyya satu satuan.
Defenisi 3.1.8 (Arifin, 2001)
Misalkan A adalah matriks nxn dan misalkan juga B adalah matriks nxn orogonal
dengan BTB=I. Sehingga AB=BA, dan A=BABT, untuk menentukan matriks B
dinamakan dekomposisi spektral. Jika A adalah suatu matriks mxn sehingga
T BB
A= dinamakan fakorisasi spektral.
Lemma 3.1.9 (Rao, 1984)
(n-m) vektor eigen dari S berkorespondensi dengan (n-m) nilai eigen satuan yang
membentuk basis untuk ruang nol dari hxT(x*).
T YY
S= ...(3.3)
m n T
I Y
Y = − ...(3.4)
(n-m) kolom-kolom dari Y adalah (n-m) vektor-vektor eigen yang berkorespondensi
dengan (n-m) nilai eigen satuan dari S.
T
=YInm
=Y
Karena hTx
( )
x* =0 maka Y dapat digunakan sebagai basis untuk M.Lemma 3.1.10 (Rao,1984)
Matriks SLxxS mempunyai nilai eigen yang identik dengan 0.
Bukti:
Matriks A∈Rmxn dan B∈Rnxmdengan m≤n, maka BA mempunyai nilai eigen
yang sama dengan AB dengan menghitung multiplisitas bersama-sama dengan
(n-m) nilai eigen 0. Berdasarkan hal-hal di atas maka nilai eigen-eigen yang tidak
identik dengan 0 dari matriks SLxxSdapat ditentukan sebagai berikut:
xx T xxS SS L SL =
=SLxxS
=S2Lxx
=SLxx
=YYTLxx
=YTLxxY
Karena dimensi matriks YTLxxYadalah (n-m)x(n-m) maka matriks SLxxS
Misalkan x adalah titik minimum lokal dari f(x) yang memenuhi h(* x )=0. *
Teorema berikut menjelaskan syarat perlu orde dua agar x merupakan titik *
minimum lokal.
Teorema 3.1.11 (Rao,1984)
Syarat perlu berikut adalah ekivalen satu dengan yang lainnya.
a. untuk ...(3.5)
Syarat ini dapat juga dirumuskan dengan:
...(3.6)
dimana kolom-kolom dari N membentuk basis untuk ruang nol dari .
b. dan rank ...(3.7)
dimana : S = ...(3.8)
c. ...(3.9)
dimana kolom-kolom dari Y adalah vektor eigen ortogonal dari
S yang berkaitan dengan nilai-nilai eigen satuan.
Bukti:
( )
⇒ Pada syarat , y∈M dimana M adalah ruang nol dari )(x*
hTx . Karena kolom-kolom dai N membentuk basis untuk M maka y dapat
diganti dengan N yang menghasilkan syarat NTLxx(x*,λ)N ≥0. Menurut Lemma 3.1.6, setiap y∈M dapat ditulis sebagai kombinasi linier dari kolom-kolom bebas linier dari S. Oleh karena N dapat diganti dengan S. Dari Lemma 3.1.10 diperoleh
bahwa SLxxS mempunyai m nilai eigen bernilai nol. KarenaSLxx
( )
x ,λ S *adalah
kolom bebas linier sehingga rank SLxx
( )
x*,λ S≤n−m.( )
⇐ pada syarat 3.7 dan rank karenaS
merupakan anggota ruang nol dari hTx(x*) maka y dapat menggantikan S pada
syarat untuk
{
yhxT(x*)y=0}
.Maka terbukti (a)⇔(b)
Selanjutnya akan ditunjukkan (b)⇔(c)
( )
⇒ Dari Lemma 3.1.9 diperoleh bahwa matriks Y adalah basis untuk M dan karena matriks N juga adalah basis untuk M maka Y dapat menggantikan Nsehingga menghasilkan .
( )
⇐ Syarat dapat juga ditulis dalam bentuk dan rank( )
YTLxx x*,λY
≤n−m. Dari Lemma 3.1.10 diperoleh bahwa dimensi matriks( )
x Y LYT xx *,λ sama dengan dimensi matriks SLxx
( )
x*,λ S yaitu (n-m) x (n-m) dan matriks SLxx( )
x*,λ Smempunyai m nilai eigen yang identik dengan 0 sehingga S dapat menggantikan Y maka SLxx( )
x*,λ S ≥0 dan rank
S Lxx( )
x S
n mT λ ≤ −
, *
dan
karena ST =S(simetris) sehingga menghasilkan
( )
*, 0≥
S x
SLxx λ dan rank
( )
STLxx x*,λ S
≤n−m. Maka terbukti (a)⇔(b)Dengan demikian terbukti bahwa (b)⇔(c) Karena (a)⇔(b)
(b)⇔(c)
∴(a)⇔(c)
3.2 Syarat Cukup
Pada teorema 3.1.11 telah dijelaskan syarat perlu orde dua. Teorema berikut
ini menjelaskan syarat cukup orde dua. Misalkan adalah titik ekstrim dari f yang
Teorema 3.2 (Rao, 1984)
Syarat cukup untuk minimum lokal berikut ini ekivalen satu dengan yang lainnya.
a. untuk ...(3.10)
atau ...(3.11)
dimana kolom-kolom dari N membentuk basis untuk ruang nol dari
b. dan rank ...(3.12)
dimana
S =
c. ...(3.13)
dimana kolom-kolom dari Y adalah vektor eigen ortonormal
dari S yang berkaitan dengan nilai-nilai eigen satuan.
Bukti:
Akan ditunjukkan (a)⇔(b)
( )
⇒ Pada syarat (3.10) dimana M adalah ruang nol dari . Karena kolom-kolom dari N membentuk basis untuk M maka y pada syarat (3.10) dapatdiganti dengan N sehingga menghasilkan syarat (4.11) yaitu .
Menurut Lemma 3.1.6, setiap dapat ditulis sebagai kombinasi linier dari
kolom-kolom bebas linier dari S. Oleh karena itu N pada (3.11) dapat diganti
dengan S sehingga menghasilkan dan , maka
. Dari lemma 3.1.10 diperoleh bahwa mempunyai m
nilai eigen bernilai 0, maka rank sehingga menghasilkan
syarat (3.12).
( )
⇐ Pada syarat (3.12) yaitu dan rank .Karena , syarat ini dapat juga ditulis dan rank
. S adalah matriks proyeksi pada M dan sehingga y
syarat (3.12) sehingga dan rank atau
.
Maka terbukti (a)⇔(b)
Selanjutnya akan ditunjukkan (b)⇔(c)
( )
⇒ Karena ST =S maka syarat 3.12 yaitu dan rank . Dari Lemma 3.19 diperoleh bahwa matriks Y adalahbasis untuk M dan karena N juga adalah matriks basis untuk M maka Y dapat
menggantikan S pada (3.12) sehingga menghasilkan dan rank
. Syarat ini dapat juga dituliskan dengan
.
( )
⇐ Syarat (3.13) dapat juga ditulis dalam bentuk dan rank . Dari Lemma 3.1.10 diperoleh bahwa dimensi matrikssama dengan dimensi matriks mempunyai m nilai
eigen yang identik dengan 0 sehingga S dapat menggantikan Y yaitu
dan rank , dan karena
(simetris) sehingga menghasilkan dan rank
.
Dengan demikian terbukti (b)⇔(c)
Karena (a)⇔(b)
(b)⇔(c)
(a)⇔(c)
Untuk lebih memahami teorema mengenai syarat perlu dan syarat cukup orde dua
tersebut, berikut ini diberikan suatu contoh.
3.3 Contoh
Selesaikanlah masalah optimisasi berikut:
Minimumkan
Terhadap pembatas
Penyelesaian
Minimumkan :
Terhadap pembatas
pembatas dapat juga ditulis dengan
Misalkan x =
=
maka fungsi lagrange menjadi:
=
Selanjutnya akan dicari titik minimum lokal dari
dengan mengambil pada persamaan (3.17) maka diperoleh
maka diperoleh dan
Pada persamaan (3.14) untuk maka dan untuk maka
misalkan = adalah titik minimum lokal dari yang memenuhi
yaitu dan
maka
=
maka
Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa dapat merupakan titik minimum
lokal sehingga memenuhi syarat berikut.
1. Syarat (a)
=
=
= , untuk dan
maka
basis ruang nol dari adalah
=
-Det Det
Maka
2. Syarat (b)
Selanjutnya akan ditunjukkan solusi minimum lokal memenuhi syarat (b) yaitu
dan rank
dimana S = .
= =
S=
Selanjutnya akan dicari:
Nilai-nilai eigen
Det
(
Maka diperoleh =2+
=2-Karena ada nilai eigen yang bernilai nol dan nilai eigen yang lainnya positif maka
dapat disimpulkan bahwa dan rank (S)= 3 – 1 = 2
Sehingga minimum lokal memenuhi syarat (b) yaitu: dan rank
3. Syarat (c)
Selanjutnya akan ditunjukkan solusi minimum lokal memenuhi syarat (c) yaitu:
. Matriks dekomosisi spektral dari matriks proyeksi
adalah
dengan dan
maka
=
=
Nilai-nilai eigen dari adalah:
det
Maka
Sehingga minimum lokal memenuhi syarat (c) yaitu .
Akan ditunjukkan bahwa hasil yang diperoleh dengan menggunakan ketiga syarat
alternatif tersebut sama dengan menggunakan syarat sebelumnya, yaitu:
dimana dan
. Karena adalah matriks yang diperoleh dari turunan
parsial kedua f dan h di titik , maka dari diperoleh:
Untuk , maka diperoleh:
=
Dengan mengambil submatriks L terhadap M, yaitu:
, maka det
Dari masalah optimisasi berpembatas pada contoh tersebut diperoleh
, maka nilai minimum terhadap
BAB 4
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Telah dikaji syarat perlu dan syarat cukup untuk masalah optimisasi
berpembatas persamaan, yang mana semua syarat berkaitan dengan fungsi
Lagrange dan menggunakan basis yang diturunkan dari matriks proyeksi pada
ruang nol dari . Diperoleh tiga syarat agar adalah minimum lokal dari
terhadap pembatas h , yaitu:
Syarat (a) diperlukan ruang nol dan nilai eigen mariks
Syarat (b) diperlukan invers matriks dan nilai eigen matriks
Syarat (c) diperlukan invers matriks, dekomposisi spektral dan nilai eigen matriks
Maka dapat disimpulkan dari ketiga syarat tersebut, syarat (b) ternyata lebih mudah
digunakan dalam menentukan syarat minimum untuk masalah optimisasi dengan
pembatas persamaan, dan hasil yang diperoleh dengan menggunakan syarat
tersebut , ekivalen dengan menggunakan syarat yang sudah ada sebelumnya.
4.2 Saran
Pada penelitian ini masalah optimisasi yang dikaji dibatasi pada masalah
berpembatas persamaan. Teori yang dikaji dalam penelitian ini masih dapat
dikembangkan untuk masalah optimisasi berpembatas pertidaksamaan dalam
dengan cara menambahkan variabel slack atau variabel surplus sehingga diperoleh
DAFTAR PUSTAKA
Anton, Howard, Terjemahan Pantur Silaban.,(1997), Aljabar Linier Elementer,
Edisi kelima, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Arifin, Achmad, (2001), Aljabar Linier, Edisi Kedua, Penerbit ITB, Bandung.
Hilier, F.S. dan Lieberman, G.J. Terjemahan Ellen Gunawan.,(1990),
Pengantar Riset Operasi, Penerbit Erlangga.
Leithold, Louis, Terjemahan Nababan, S.M.,(1991), Kalkulus dan Ilmu Ukur
Analitik, Jilid 3, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Leon, Steven J.,(1999), Aljabar Linier dan Aplikasinya, edisi Kelima, Penerbit
Erlangga, Jakarta.
Luenberger, D.G., (1984), “Linear and Nonlinear Programming”,
Addison-Wesley Publishing Co., 2nded., Stanford University, California.
Rao, S.S.,(1984), Optimization Theory and Application, Second Edition, Wiley