Lampiran 2. Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Kembung (Rastrelliger spp.)
No Selang Kelas
Distribusi Frekuensi Panjang Ikan Kembung per Bulan
Gambar Frekuensi Panjang Ikan Kembung per Bulan
Lampiran 3. Hasil Pemisahan Kelompok Ukuran Ikan Kembung (Rastrelliger spp.) per Bulan Menggunakan Metode Bhattacharya dalam Program FISAT II
Maret
April
Mei
Juni
Lampiran 4. Hasil Analisis Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Kembung
150 155 160 165 170 175 180 185
Lampiran 4. Lanjutan
W = 0,00003L2,816
R² = 0,827 r = 0,886
0 20 40 60 80 100
0 50 100 150 200 250
B
o
b
o
t
(g
)
Lampiran 5. Pendugaan Parameter Pertumbuhan Ikan Kembung (Rastrelliger spp.) Menggunakan Metode ELEFAN I dalam Program FISAT II
Nilai t0 menggunakan rumus empiris Pauly (1984):
Log (-t0) = 0,3922 – 0,2752 (Log L∞) – 1,038 (Log K) = 0,3922 – 0,2752 (Log 199,50) – 1,038 (Log 0,58) = 0,3922 – 0,6329 + 0,2456
= 0,0048
-t0 = Antilog 0,0048 = 1,011
t0 = - 1,011
Lampiran 6. Pendugaan Mortalitas Total (Z) Ikan Kembung Menggunakan Metode Jones & Van Zelinge dalam Program FISAT II
Lampiran 7. Pendugaan Mortalitas Alami (M) Ikan Kembung Menggunakan Rumus Empiris Pauly dalam Program FISAT II
Lampiran 8. Pendugaan Mortalitas akibat Penangkapan (F) dan Laju Eksploitasi (E) Ikan Kembung Menggunakan Rumus Empiris Pauly (1984)
Dik : K = 199,50 L∞ = 0,58 Z = 2,683 M = 0,757
Dit : F…?? E…??
Penyelesaian : F = Z – M
= 2,683 – 0,757 = 1,926 per tahun
E = �
�
Lampiran 9. Pengukuran Sampel Ikan Kembung (Rastrelliger spp.)
Tempat Penelitian Millimeter Blok
Timbangan Digital Cool Box
Pengukuran Panjang Ikan Kembung Pengukuran Bobot Ikan Kembung
Lampiran 10. Data Suhu Permukaan Laut (Sumber: Sea Temperature, 2016)
Lampiran 11. Statistik Produksi, Unit dan Trip Penangkapan Ikan di Perairan Belawan Kecamatan Medan Belawan Sumatera Utara
Produksi Ikan Kembung Perairan Belawan Kecamatan Medan Belawan Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Unit Alat Penangkapan Ikan Kembung di Perairan Belawan Kecamatan Medan Belawan Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Trip Penangkapan Ikan Kembung di Perairan Belawan Kecamatan Medan Belawan Sumatera Utara Tahun 2006-2015
Lampiran 12. Pendugaan Potensi Ikan Kembung dengan Metode Surplus Produksi Menggunakan Model Fox
Tahun Produksi E. Standar CPUE LnCPUE
2006 3585000 25038 143,1823628 4,964119082
2007 3422000 17938,08333 190,7673153 5,251054441 2008 3721000 17618 211,20445 5,352826622 2009 6357000 15441,43902 411,6844285 6,020257106 2010 5337000 8926,666667 597,8715459 6,393375925 2011 6138000 14754,07407 416,0206848 6,030734982 2012 6471000 14375,66667 450,1356459 6,109548973 2013 4237000 10970,73016 386,2094809 5,956379919 2014 2018000 16356 123,3797995 4,815267398 2015 2899384 1092 2655,113553 7,884242702
TPc TPf TAC
57,1174735 315,3540469
5021230,503 54,5205005 225,9304726
DAFTAR PUSTAKA
Ali, S. A. 2005. Kondisi Sediaan dan Keragaman Populasi Ikan Terbang (Hirundichtys oxychepalus Bleeker, 1852) di Laut Flores dan Selat Makassar. [Disertasi]. Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin. Makassar.
Amir, F. 2006. Pendugaan Pertumbuhan, Kematian, dan Hasil Per Rekrut Ikan Nila (Oreochromis niloticus) di Waduk Bilibili. Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia 13 (1):1-5.
Astuti, E. M. 2005. Dimensi Unit Penangkapan Pukat Udang dan Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Udang di Perairan Laut Arafura. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Astuti, D. P. 2007. Analisis Tangkapan per Satuan Upaya (TPSU) Ikan Kembung di Kepulauan Seribu. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Damayanti, W. 2010. Kajian Stok Sumberdaya Ikan Selar (Caranx Leptolepis Cuvier, 1833) di Perairan Teluk Jakarta dengan Menggunakan Sidik Frekuensi Panjang. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap. 2015. Purse Seine. Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Jakarta.
Effendie, M. I. 1979. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor.
Effendie, M. I. 1997. Biologi Perikanan.Yayasan Pustaka Nusantara. Yogyakarta.
Effendie, M. I. 2002. Biologi Perikanan Bagian I. Studi Natural Histori. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Efkipano, T. D. 2012. Analisis Ikan Hasil Tangkapan Jaring Insang Milenium dan Strategi Pengelolaannya di Perairan Kabupaten Cirebon. [Tesis]. Universitas Indonesia. Jakarta.
Fandri, D. 2012. Pertumbuhan dan Reproduksi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) di Selat Sunda. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Fatih, C. 2010. Strategi Pengembangan Agroindustri Perikanan Laut di Kabupaten Tuban. Jurnal SEP 4 (3):77-87.
Pasific (Fishing Area 71). Vol II. Food and Agriculture Organization of the United Nation. Rome.
GBIF OBIS. 2010. Rastrelliger kanagurta Summary.php?ID=111&genusname=Rastrelliger&speciesname=kanagurta &AT=Rastrelliger+kanagurta&lang=English [15 Januari 2016].
Genisa, A. S. 1998. Beberapa Catatan tentang Alat Tangkap Ikan Pelagik Kecil. Jurnal Oseana 23 (3-4):19-34.
Gulland, J. A. 1991. Fish Stock Asessment (A Manual of Basic Methods). Chichester-New York-Brisbane-Toronto-Singapore :John Wiley and Sons.
Hardenberg, J. D. F. 1938. Theory on the Migration of Layang (Decapterus spp.) in the Java Sea. Med. Institut Zeevisscherij. Batavia.
Hariyanto, T., M. S. Baskoro, J. Haluan, B. H. Iskandar. 2008. Pengembangan Teknologi Penangkapan Ikan Berbasis Komoditas Potensial di Teluk Lampung. Jurnal Saintek Perikanan 4 (1):16-24.
Imron, M. 2000. Stok Bersama dan Pengelolaan Sumberdaya Ikan di Wilayah Perairan Indonesia. Jurnal Buletin PSP 9 (2):41-52.
Ismy, F., B. Utomo dan Z. A. Harahap. 2014. Kajian Unit Penangkapan Purse Seine di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan. Jurnal Aquacoastmarine 4 (3):61-68.
Jalil, A. R. 2013. Distribusi Kecepatan Arus Pasang Surut pada Muson Peralihan Barat-Timur Terkait Hasil Tangkapan Ikan Pelagis Kecil di Perairan Spermonde. Jurnal Depik 2 (1):26-32.
Kepala Pusat Penyuluhan Perikanan dan Kelautan. 2011. Penangkapan Ikan dengan Gill Net. Jakarta.
Kharat, S. S., Y. K. Khillare dan N. Dahanukar, 2008. Allometric Scalling in Growth and Reproduction of a Freshwater Loach Nemacheilus Mooreh. Journal of Ichthyology 1 (1):8-17.
King M. 1995. Fishery Biology, Assessment, and Management. Fishing News Books. London.
Laevastu, T. dan I. Hela. 1970. Fisheries Oceanography. Fishering News Book. London.
Lubis, B. 1990. Studi tentang Hasil Tangkapan Ikan Kembung dengan Alat Tangkap Purse Seine di Pelabuhan Perikanan Nusantara Belawan Kotamadya Medan, Sumatera Utara. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2008. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 8 Tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Jaring Insang (Gill Net) di Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 6 Tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 2 Tentang Larangan Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawls) dan Pukat Tarik (Seine Nets) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Jakarta.
Mulfizar, M., Z. A. Muchlisin, I. Dewiyanti. 2012. Hubungan Panjang Berat dan Faktor Kondisi Tiga Jenis Ikan yang Tertangkap di Perairan Kuala Gigieng, Aceh Besar, Provinsi Aceh. Jurnal Depik 1 (1):1-9.
Nabunome, W. 2007. Model Analisis Bioekonomi dan Pengelolaaan Sumberdaya Ikan Demersal (Studi Empiris di Kota Tegal), Jawa Tengah. [Tesis]. Universitas Diponegoro. Semarang.
Nasution, P. P. P. A. 2013. Pokok Hari Nyalah : Catatan Budaya (Lokal) dalam Membaca Perubahan Iklim (Global). Jurnal Antropologi Indonesia 34 (2):152-163.
Nikolsky, G.V. 1963. The Ecology of Fishes. Academic Press. New York.
Nugraha, E., B. Koswara, dan Yuniarti. 2012. Potensi Lestari dan Tingkat Pemanfaatan Ikan Kurisi (Nemipterus japonicus) di Perairan Teluk Banten. Jurnal Perikanan dan Kelautan 3 (1):91-98.
Nurhayati, A. 2013. Analisis Potensi Lestari Perikanan Tangkap di Kawasan Pangandaran. Jurnal Akuatika 4 (2):195-209.
Pasang Laut Asia, West Indonesia. 2016. Pasang Surut Air Laut Tahun 2016 dan Tabel Solunar Belawan. (Terhubung Berskala). http://www.Pasanglaut. com [28 Agustus 2016].
Pauly, D. 1984. Fish Population Dynamic Iin Tropical Waters : A Manual for Use with Programmable Calculators. ICLARM Manila.
Perdanamihardja, Y. M. M. 2011. Kajian Stok Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) di Perairan Teluk Jakarta Provinsi DKI Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Prahadina, V. D. 2014. Pengelolaan Perikanan Kembung (Genus: Rastrelliger) di Perairan Selat Sunda yang Didaratkan di PPP Labuan, Banten. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Purwaningsih, R., S. Widjaja, S. G. Partiwi. 2012. Pengembangan Model Simulasi Kebijakan Pengelolaan Ikan Berkelanjutan. Jurnal Teknik Industri 14 (1):25-34.
Rachman, S., Pudji, P., dan Mimit, P. 2013. Analisis Faktor Produksi dan Kelayakan Usaha Alat Tangkap Payang di Gili Ketapang Kabupaten Probolinggo Jawa Timur. Jurnal ECSOFiM 1 (1):69-81.
Rifqie, G. L. 2007. Analisis Frekuensi Panjang dan Hubungan Panjang Berat Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Teluk Jakarta. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Rosana, N. dan V. D. Prasita. 2015. Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Ikan sebagai Dasar Pengembangan Sektor Perikanan di Selatan Jawa Timur. Jurnal Kelautan 8 (2):67-71.
Saanin. H. 1984. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta.
Safarini, D. 2013. Potensi Reproduksi Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta Cuvier 1817) Dari Perairan Teluk Banten, Kabupaten Serang. [Skripsi]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sainsbury, J. C. 1996. Commercial Fishing Methods, an Introduction to Vessels and Gears. Third Edition. Fishing News Books. London.
Saputro, P., B. A. Wibowo, dan A. Rosyid. 2014. Tingkat Pemanfaatan Perikanan Demersal di Perairan Kabupaten Rembang. Jurnal of Fisheries Resources Utilization Management and Technology 3 (2):9-18.
Sea Temperature. 2016. Sea Temperature, Statistic, Analysis: Perairan Belawan, Indonesia Weather (Terhubung Berskala) [3 Agustus 2016].
Sparre, P. dan S. C. Venema. 1999. Introduksi Pengkajian Stock Ikan Tropis. Buku Manual I. Jakarta.
Sudirman., A. Mallawa. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. Rineka Cipta. Jakarta.
Supardan, A. 2006. Maximum Sustainable Yield (MSY) dan Aplikasinya pada Kebijakan Pemanfaatan Sumberdaya Ikan di Teluk Langsono Kabupaten Buton. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Suwarso dan T. Hariati. 2002. Identifikasi Kohor dan Dugaan Laju Pertumbuhan Ikan Pelagis Kecil di Laut Jawa. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Edisi Sumberdaya dan penangkapan 8 (4): 7-14.
Tambunan, S. B. S., Fauziyah dan F. Agustriani. 2010. Selektivitas Drift Gillnet pada Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Perairan Belawan Pantai Timur Sumatera Utara Provinsi Sumatera Utara. Maspari Journal 1 : 63-68.
Tangke, U. 2010. Analisis Potensi dan Tingkat Pemanfaatan Sumberdaya Ikan Kuwe (Carangidae sp.) di Perairan Laut Flores Provinsi Sulawesi Selatan. Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan (Agrikan UMMU-Ternate) 3 (2): 1-9.
Ultokseja, J. C. B., B. Gafa, S. Bahar. 1991. Potensi dan Penyebaran Sumberdaya Ikan Tuna dan Cakalang. IPTP-FAO. Bali.
Utami, M. N. F., S. Redjeki dan E. Supriyantini. 2014. Komposisi Isi Lambung Ikan Kembung Lelaki (Rastrelliger kanagurta) di Rembang. Jurnal of Marine Research 2 (3):99-106.
Walpole, R. E. 1992. Pengantar Statistika, Edisi ke-3. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret – Juli 2016. Setiap bulan
dilakukan satu kali pengukuran panjang bobot ikan pada minggu ke-4. Waktu
penelitian dibagi berdasarkan musim, bulan Maret – April termasuk musim
Peralihan I yaitu musim pancaroba antara musim kemarau dengan musim
penghujan, sedangkan bulan Mei – Juli termasuk musim Timur yaitu musim
kemarau (Nasution, 2013). Sampel ikan diperoleh dari hasil penangkapan ikan
Kembung di Selat Malaka yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera,
Medan Belawan, Sumatera Utara. Peta lokasi pengambilan sampel ikan Kembung
dapat dilihat pada Gambar 7.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam pengambilan data primer antara lain alat tulis,
millimeter blok dengan tingkat ketelitian 1 mm, kamera digital, cool box,
timbangan digital dengan tingkat ketelitian 0.1 g, dan thermometer.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ikan Kembung
(Rastrelliger spp.) dan data sekunder yang diperlukan adalah data ikan Kembung
dari Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Sumatera Utara.
Metode Penelitian
Data Primer
Sampel ikan Kembung diambil dari hasil tangkapan nelayan yang
beroperasi di perairan sekitar perairan Belawan yang akan diolah dengan Software
FISAT II. Pengambilan sampel ikan mewakili ikan-ikan yang berukuran kecil,
sedang, dan besar yang dibedakan dengan mengukur panjang total ikan Kembung.
Menurut Effendie (1979), teknik pengambilan contoh yang lazim digunakan
dalam penelitian Biologi Perikanan adalah pengambilan contoh secara acak
(random sampling), dengan metode ini diharapkan dapat mewakili populasi yang
sedang diteliti. Ikan Kembung yang diambil sebanyak 1% secara acak dari hasil
tangkapan nelayan yang kapalnya 5-10 GT (Gross Tonage) / kapal mini purse
seine pada tiap bulannya selama lima bulan, dimana untuk menentukan besarnya
sampel dari jumlah populasi yang akan diteliti maka digunakan metode Slovin
(Fatih, 2010):
n = �
Keterangan :
n = Jumlah sampel N = Jumlah populasi
e = Kesalahan pengambilan yang ditetapkan (error)
Panjang ikan Kembung yang diukur adalah panjang total. Pengukuran ini
dilakukan dengan menggunakan millimeter blok dengan ketelitian 1 mm. Berat
ikan Kembung yang ditimbang adalah berat basah total. Berat basah total adalah
berat total jaringan tubuh ikan dan air yang terdapat di dalamnya. Dalam hal ini
digunakan timbangan digital yang mempunyai skala 0.1 g.
Pengumpulan data dan informasi lainnya dilakukan dengan cara
wawancara dengan nelayan ikan Kembung di lokasi penelitian. Informasi yang
diperoleh dari hasil wawancara berupa data unit penangkapan ikan Kembung,
kegiatan operasi penangkapan dan daerah penangkapan.
Data Sekunder
Data sekunder meliputi data dari buku statistik perikanan dan kelautan
Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan Sumatera Utara yaitu data hasil
tangkapan dan upaya tangkap ikan Kembung (Rastrelliger spp.) 10 tahun terakhir
dari hasil tangkapan nelayan yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera
Belawan. Selain itu, diperlukan juga data suhu permukaan perairan Belawan yang
digunakan sebagai data tambahan untuk menghitung mortalitas dan laju
eksploitasi ikan Kembung di perairan Belawan. Data sekunder diolah dengan
Analisis Data
Sebaran Frekuensi Panjang
Dalam metode sebaran frekuensi panjang data yang digunakan adalah data
panjang total dari ikan Kembung. Dilakukan pengukuran ikan Kembung dengan
menggunakan millimeter blok yang memiliki ketelitian 1 mm. Adapun
langkah-langkah untuk membuat sebaran frekuensi panjang adalah dengan menentukan
banyaknya selang kelas diperlukan rumus (Walpole, 1992) :
n = 1+3,32 Log N
Keterangan :
n = Jumlah kelompok ukuran N = Jumlah ikan pengamatan
Menentukan wilayah data tersebut, dengan membagi wilayah dengan
banyaknya kelas untuk menduga lebar selang kelasnya. Untuk dapat menentukan
limit bawah kelas, bagi selang yang pertama dan kemudian batas bawah kelasnya,
lalu tambahkan lebar kelas pada batas bawah kelas untuk mendapatkan nilai batas
atas kelasnya. Selanjutnya, masukkan semua limit kelas dan batas kelas dengan
cara menambahkan lebar kelas pada limit dan batas kelas selang sebelumnya, lalu
untuk menentukan titik tengah kelas, bagi masing-masing selang dengan
menentukan nilai rata-rata limit kelas atau batas kelas. Kemudian untuk
menentukan frekuensi bagi masing-masing kelas, jumlahkan kolom frekuensi,
Hubungan Panjang dan Bobot
Bobot dapat dianggap sebagai suatu fungsi dari panjang. Hubungan
panjang dan bobot dapat diketahui dengan rumus (Effendie, 2002):
W = a Lb
Keterangan: W = Berat L = Panjang
a = Perpotongan kurva hubungan panjang-berat dengan sumbu y b = Penduga pola pertumbuhan panjang-berat
Jika dilinearkan melalui transformasi logaritma, maka diperoleh persamaan :
Log W = Log a + b Log L
Jika nilai b ≠ 3 (allometrik) menunjukkan pertambahan panjang tidak seimbang dengan pertambahan beratnya. Jika pertambahan berat lebih cepat
dibandingkan dengan pertambahan panjang (b > 3), maka disebut sebagai
pertumbuhan allometrik positif. Sedangkan, apabila pertambahan panjang lebih
cepat dibandingkan dengan pertambahan berat (b < 3), maka disebut sebagai
pertumbuhan allometrik negatif (Effendie, 1997).
Untuk mengkaji penentuan nilai b maka dilakukan uji t, dimana terdapat
usaha untuk melakukan penolakan atau penerimaan hipotesis yang telah
ditentukan.
T hit = ��−��
���
Keterangan :
b1 = Slope (hubungan dari panjang berat)
b0 = Intercept (3)
Sb1 = Simpangan koefisien b
Sehingga diperoleh hipotesis :
H0 : b = 3, Hubungan panjang dengan berat adalah isometrik.
Keterangan:
Allometrik positif, jika b > 3 = Pertambahan berat lebih cepat daripada pertambahan panjang
Allometrik negatif, jika b < 3 = Pertambahan panjang lebih cepat daripada pertambahan berat
Setelah itu, nilai t hitung dibandingkan dengan nilai ttabel sehingga keputusan
yang dapat diambil adalah sebagai berikut:
Thitung > Ttabel, maka tolak H0
Thitung < Ttabel, maka gagal tolak H0
Apabila pola pertumbuhan allometrik, maka dilanjutkan dengan hipotesis
sebagai berikut:
Allometrik positif H0 = b ≤ 3 (isometrik)
H1 = b > 3 (allometrik)
Allometrik negatif H0 = b ≥ 3 (isometrik)
H1 = b < 3 (allometrik)
Keeratan hubungan panjang berat ikan ditunjukkan oleh koefisien korelasi
(r) yang diperoleh dari rumus √R2 : dimana R adalah koefisien determinasi. Nilai
mendekati 1 (r > 0,7) menggambarkan hubungan yang erat antara keduanya dan
nilai menjauhi 1 (r < 0,7) menggambarkan hubungan yang tidak erat antara
keduanya (Walpole, 1992).
Parameter Pertumbuhan (L∞, K) dan t0 (Umur Teoritis)
Model petumbuhan yang berhubungan dengan panjang ikan, dimana
rumus ini digunakan untuk menunjukkan pertumbuhan panjang ikan pada umur
satu tahun lebih muda, artinya pertumbuhan ikan pada umur tertentu tidak
mengemukakan rumus yang disebut Model Von Bertalanffy seperti berikut ini
(Sparre dan Venema, 1999):
Lt = L∞ (1-e[-K(t-t0)])
Keterangan:
Lt = Panjang ikan pada saat umur t (satuan waktu)
L∞ = Panjang maksimum secara teoritis (panjang asimtotik) K = Koefisien pertumbuhan (per satuan waktu)
t0 = Umur teoritis pada saat panjang sama dengan nol
Parameter pertumbuhan dan K didapat dari pengolahan sebaran frekuensi
panjang ikan dengan program FISAT II. Metodenya adalah metoda Elefan I
(Electronic Length Frequencys Analisis). Adapun t0 didapat dari rumus persamaan
empiris Pauly (Pauly, 1984) sebagai berikut:
Log (-t0) = -0,3922 – 0,2752 (Log L∞) – 1,0380 (log K)
Keterangan:
L∞ = Panjang asimptot ikan (cm)
K = Koefisien laju pertumbuhan (tahun)
t0 = Umur teoritis ikan pada saat panjang sama dengan nol (tahun)
Faktor Kondisi
Faktor kondisi yaitu keadaan atau kemontokan ikan yang dinyatakan
dalam angka-angka. Perhitungan faktor kondisi didasarkan pada panjang dan
bobot. Perhitungan faktor kondisi ini untuk melihat pada panjang dan bobot
berapa ikan mencapai kondisi maksimum atau minimum. Faktor kondisi dapat
dihitung dengan rumus (Effendie, 1997) sebagai berikut:
Jika nilai b ≠ 3 (allometrik), maka kondisi ditentukan dengan rumus:
FK = �
Jika nilai b = 3 (isometrik), maka faktor kondisi ditentukan dengan rumus:
FK = ����
��
Keterangan:
K = Faktor kondisi W = Bobot ikan (gram) L = Panjang total ikan (mm) a, b = Konstanta
Mortalitas dan Laju Eksploitasi
Laju mortalitas total (Z) diduga dengan menggunakan metode Jones dan
Van Zalinge yang dikemas dalam program FiSAT II. Sedangkan untuk menduga
laju mortalitas alami (M) menggunakan rumus empiris Pauly (1984). Untuk
memperhitungkan jenis ikan yang memiliki kebiasaan bergerombol dikalikan
dengan nilai 0,8 sehingga untuk spesies yang bergerombol seperti ikan Kembung
nilai dugaan menjadi 20% lebih rendah. Laju mortalitas alami (M) diduga dengan
menggunakan rumus empiris dalam Sparre dan Venema (1999) sebagai berikut :
ln M = -0,0152 – 0,279 × ln L∞ + 0,6543 ln K + 0,463 ln T
M = 0,8 e (-0,0152 – 0,279 × ln L∞ + 0,6543 ln K + 0,463 ln T)
Keterangan:
M = Mortalitas alami
L∞ = Panjang simtotik pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy K = Koefisien pertumbuhan pada persamaan pertumbuhan Von Bertalanffy T = Rata-rata suhu permukaan air (oC)
Laju mortalitas penangkapan (F) dapat ditentukan dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
Laju eksploitasi ditentukan dengan membandingkan mortalitas
penangkapan (F) terhadap mortalitas total (Z) (Pauly, 1984) :
�= �
�+�= � �
laju mortalitas penangkapan (F) atau laju eksploitasi optimum menurut
Gulland dalam Sparre dan Venema (1999) adalah :
Foptimum = M dan Eoptimum = 0,5
Pauly (1984) menyatakan bahwa nilai Eksploitasi optimal adalah 0,5.
Sehingga jika nilai eksploitasi lebih dari 0,5 maka dapat dikatakan indikasi dari
kondisi lebih tangkap terutama akibat penangkapan.
Pendugaan Potensi Lestari
Menurut Tangke (2010), untuk memperoleh data produksi per alat tangkap
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Cpi = [ ∑��∑� ����%] × Ci
Keterangan:
Cpi = Produksi/alat tangkap/jenis ikan
∑Fi = Jumlah total alat tangkap yang menangkap jenis ikan tertentu pada tahun ke-i (unit)
∑F = Jumlah unit alat tangkap yang menangkap jenis ikan tertentu pada tahun ke-i (unit)
Ci = Total produksi Kabupaten pada tahun ke-i
Jumlah trip dari tiap jenis unit penangkapan perlu diketahui dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:
Jumlah trip = N × P
Keterangan :
N = Jumlah unit penangkapan
Data hasil tangkapan dan upaya penangkapan yang diperoleh dibuat dalam
bentuk tabel, lalu dihitung nilai hasil tangkapan per upaya penangkapannya
(Catch Per Unit Effort). Rumus yang digunakan untuk mengetahui nilai CPUE
adalah sebagai berikut ( Gulland, 1991) :
����= ����
Keterangan :
CPUE = Catch Per Unit Effort
Ci = Hasil tangkapan pada tahun ke-i (ton) Fi = Upaya penangkapan pada tahun ke-i (trip)
Setiap jenis alat tangkap memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk
menangkap suatu jenis ikan, oleh karena itu standarisasi upaya penangkapan perlu
dilakukan sebelum melakukan perhitungan CPUE. Persamaan yang digunakan
yaitu persamaan Gulland (1991) sebagai berikut:
CPUEr = ������
CPUEr = Total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat tangkap r yang akan distandarisasi (ton/trip)
CPUEs = Total hasil tangkapan (catch) per upaya tangkap (effort) dari alat tangkap s yang akan dijadikan standar (ton/trip)
FPIi = Fishing Power Index dari alat tangkap i (yang distandarisasi dan alat tangkap standar)
Sementara untuk menghitung total upaya standar yaitu dengan persamaan
berikut (Tangke, 2010):
Keterangan:
E = Total effort dari alat tangkap yang distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)
Ei = Effort dari alat tangkap yang distandarisasi dan alat tangkap standar (trip)
Dari data diatas maka dibuat pengelolaan potensi maksimum lestari
(MSY) yang merupakan hasil regresi dengan menggunakan model Schaefer dan
model fox terhadap data CPUE dan effort menunjukkan nilai estimasi effort
optimum yang diperbolehkan dalam usaha penangkapan ikan.
a. Model Schaefer
Hubungan antara C (hasil tangkapan) dengan f (upaya penangkapan) adalah:
C = af + b(f)2
Hubungan CPUE dengan f (upaya penangkapan) adalah:
CPUE = a + b(f)
Nilai Upaya Optimum (f optimum) adalah:
f opt = -�
��
Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah:
MSY = -��
��
b. Model Fox
Hubungan antara C (hasil tangkapan) dengan f (upaya penangkapan) adalah:
C = f exp (a + b(f))
Nilai Upaya Optimum (f optimum) adalah:
f opt =−�
�
Nilai Potensi Maksimum Lestari (MSY) adalah:
MSY = - (1/b) exp (a-1)
Keterangan:
a = Intercept b = Slope
f = Upaya penangkapan (trip) pada periode ke-i f opt = Upaya penangkapan optimal (trip)
MSY = Nilai potensi maksimum lestari (ton/tahun)
Dari hasil perhitungan MSY, maka dilakukan pendugaan tingkat
pemanfaatan dan pengupayaan ikan Kembung. Rumus dari tingkat pemanfaatan
adalah (Pauly, 1983 diacu dalam Astuti, 2005) :
TPc = ��
��� × 100%
Keterangan :
TPc = Tingkat pemanfaatan pada tahun ke-i (%) Ci = Hasil tangkapan ikan pada tahun ke-i (kg) MSY = Maximum Sustainable Yield (kg)
Menurut Wahyudi (2010), rumus dari tingkat pengupayaan adalah:
TPf = ��
����× 100%
Keterangan :
TPf = Tingkat pengupayaan pada tahun ke-i (%) fs = Effort standar pada tahun ke-i (trip) f opt = Upaya penangkapan optimum (kg/thn)
Rumus jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Imron, 2000) adalah:
TAC = 80% × MSY
Keterangan :
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil
Pertumbuhan Ikan Kembung (Rastrelliger spp)
Sebaran Frekuensi Panjang
Ikan Kembung yang diamati selama penelitian berjumlah 442 ekor
(Lampiran 1). Ikan Kembung yang diamati pada sampling pertama tanggal 29
maret berjumlah 99 ekor, sampling kedua 29 April berjumlah 100 ekor, sampling
ketiga 28 Mei berjumlah 97 ekor, sampling keempat 27 Juni berjumlah 75 ekor,
dan sampling terakhir 29 Juli berjumlah 71 ekor. Musim peralihan 1 terdiri atas
199 ekor yaitu dari bulan Maret – April 2016 dan 243 ekor pada musim timur
yaitu dari bulan Mei – Juli 2016.
Ukuran panjang ikan Kembung pada musim peralihan I minimum 120
mm dan maksimum 198 mm, sedangkan pada musim timur minimum 140 mm
dan maksimum 219 mm. Pengukuran sampel ikan Kembung dapat dilihat pada
Lampiran 9. Berdasarkan Gambar 8 dapat diketahui bahwa jumlah ikan paling
banyak terdapat pada selang kelas ukuran 160 – 169 mm pada musim
peralihan I dan musim timur sebaran frekuensi panjang tertinggi berada pada
selang 170 – 179 mm (Gambar 9). Sedangkan pada total sebaran frekuensi
panjang tertinggi berada pada selang kelas 160 – 169 mm (Gambar 10). Tabel
Sebaran Frekuensi Panjang ikan Kembung per bulan di perairan Belawan dapat
Gambar 8. Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Kembung Musim Peralihan I
Gambar 9. Sebaran Frekuensi Panjang Ikan Kembung Musim Timur
Kelompok Ukuran
Hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan Kembung pada Gambar
11 menunjukkan bahwa pada musim peralihan I terdapat 2 kohort dan pada
musim timur serta total terdapat 1 kohort ( Gambar 12 dan Gambar 13). Hasil
pemisahan kelompok ukuran ikan Kembung per bulan dapat dilihat pada
Lampiran 3.
Gambar 11. Kelompok Ukuran Panjang Total Ikan Kembung Musim Peral ih an I
Gambar 12. Kelompok Ukuran Panjang Total Ikan Kembung Musim Timur
Pada Tabel 1 disajikan hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan
Kembung pada musim peralihan I, musim timur, serta total yaitu jumlah populasi
dan indeks separasi masing-masing kelompok ukuran.
Tabel 1. Hasil Pemisahan Kelompok Ukuran Ikan Kembung Berdasarkan Musim
Musim Lt
(mm)
Jumlah Populasi (n)
St. Dev (SD) Indeks Separasi
Peralihan I 137,86 24 13,62 -
160,45 177 7,37 2,02
Timur 170,66 240 13,31 -
Total 165,21 426 10,99 -
Hubungan Panjang dan Bobot
Analisis hubungan panjang dan bobot digunakan panjang total (mm) dan
bobot (g) contoh ikan Kembung. Pada Gambar 14 dapat dilihat persamaan
regresi dan pola pertumbuhan ikan Kembung pada musim peralihan I yaitu W
= 0,000005L3,171 dengan nilai determinasi (R2) sebesar 0,743 dan nilai koefisien
korelasi (r) sebesar 0,834, pada musim timur memiliki persamaan regresi W =
0,00002 L2,859 dengan nilai R2 sebesar 0,849 (Gambar 15) dan nilai r sebesar
0,902, serta pada total memiliki persamaan regresi W = 0,000005L3,137 dengan
Gambar 14. Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Kembung Musim Peralihan I
Gambar 15. Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Kembung Musim Timur
Hasil analisis hubungan panjang bobot ikan Kembung pada musim
peralihan I, musim timur, serta total dapat dilihat pada Tabel 2 dan hasil analisis
hubungan panjang bobot ikan Kembung per bulan dapat dilihat pada Lampiran 4.
Tabel 2. Hubungan Panjang dan Bobot Ikan Kembung Musim Persamaan Hubungan
Panjang Bobot
R2 Pola Pertumbuhan Setelah
Uji T (α = 0,05)
Peralihan I 0,000005L3,171 0,743 Allometrik Positif Timur 0,00002 L2,859 0,849 Allometrik Negatif Total 0,000005L3,137 0,831 Allometrik Positif
Faktor Kondisi
Hasil perhitungan faktor kondisi (FK) ikan Kembung di perairan
Belawan berdasarkan pola pertumbuhan allometrik negatif yaitu 0,924 pada
musim peralihan I, pada musim timur yaitu 1,197 dan pada total ikan Kembung
sebesar 1,127.
Tabel 3. Nilai Faktor Kondisi Ikan Kembung Berdasarkan Musim Musim Jumlah Populasi
(n)
Berdasarkan Tabel 4, dapat dilihat nilai panjang asimtotik (L∞) ikan Kembung pada musim peralihan I sebesar 199,50 mm, pada musim timur dan
total sebesar 220,50 mm. Koefisien pertumbuhan ikan Kembung pada musim
peralihan I yaitu 0,58/tahun, pada musim timur sebesar 1,10/tahun, dan pada
menggunakan metode ELEFAN I dalam program FISAT II dapat dilihat pada
Lampiran 5.
Tabel 4. Parameter Pertumbuhan K, L∞, dan t0 Ikan Kembung
Musim Parameter Pertumbuhan
K (per bulan) L∞ (mm) t0 (tahun)
Peralihan I 0,58 199,50 -1,011
Timur 1,10 220,50 -0,506
Total 1,30 220,50 -0,426
Nilai-nilai parameter pertumbuhan tersebut digunakan sebagai dasar
untuk mendapatkan persamaan Von Bertalanffy ikan Kembung, yaitu Lt =
199,50*(1-e[-0,58(t+1,011)]) pada musim Peralihan I (Gambar 17), Lt = 220,50*(1-e
[-1,10(t+0,506)]
) pada musim timur (Gambar 18), dan Lt = 220,50*(1-e[-1,30(t+0,426)]) pada
total ikan Kembung (Gambar 19).
Gambar 17. Hubungan Panjang dan Umur Ikan Kembung Musim Peralihan I
Gambar 19. Hubungan Panjang dan Umur Ikan Kembung Total
Mortalitas dan Laju Eksploitasi
Hasil analisis dugaan laju mortalitas dan laju eksploitasi ikan Kembung
per musim dapat dilihat pada Tabel 5. Pendugaan mortalitas total, mortalitas
alami, dan mortalitas penangkapan serta laju eksploitasi ikan kembung
menggunakan program FISAT II dapat dilihat pada Lampiran 6 – Lampiran 8.
dan data suhu perairan Belawan per bulan dapat dilihat pada Lampiran 10.
Tabel 5. Laju Mortalitas dan Laju Eksploitasi Ikan Kembung
Parameter Musim
Peralihan I Timur Total
Mortalitas Total (Z) 2,683 2,138 2,564
Mortalitas Alami (M) 0,757 1,124 1,249
Mortalitas Penangkapan (F) 1,926 1,014 1,315
Laju Eksploitasi (E) 0,718 0,474 0,513
Pendugaan Potensi Lestari Ikan Kembung (Rastrelliger spp)
Produksi Ikan Kembung (Hasil Tangkapan)
waktu 10 tahun terakhir. Produksi tiap alat tangkap sumberdaya ikan Kembung
tahun 2006 – 2015 yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan
dapat dilihat pada Gambar 20 dan Lampiran 11.
Gambar 20. Produksi Sumberdaya Ikan Kembung Tahun 2006 – 2015 yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (Sumber: Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, 2006 – 2015)
Produksi pukat cincin tahun 2006 sebanyak 3.372.000 kg; tahun 2007
sebanyak 3.147.000 kg; tahun 2008 sebanyak 3.575.000 kg; tahun 2009 sebanyak
6.200.000 kg; tahun 2010 sebanyak 5.183.000 kg; tahun 2011 sebanyak 6.035.000
kg; tahun 2012 sebanyak 5.968.000 kg; tahun 2013 sebanyak 4.007.000 kg; tahun
2014 sebanyak 1.987.000 kg; dan tahun 2015 sebanyak 2.877.200 kg. Produksi
jaring insang tahun 2006 sebanyak 189.000 kg; tahun 2007 sebanyak 228.000 kg;
tahun 2008 sebanyak 107.000 kg; tahun 2009 sebanyak 112.000 kg; tahun 2010
sebanyak 113.000 kg; tahun 2011 sebanyak 66.000 kg; tahun 2012 sebanyak
479.000 kg; tahun 2013 sebanyak 208.000 kg; tahun 2014 sebanyak 2.000 kg; dan
tahun 2015 sebanyak 184 kg. Produksi lampara dasar tahun 2006 sebanyak 24.000
kg; tahun 2007 sebanyak 47.000 kg; tahun 2008 sebanyak 39.000 kg; tahun 2009
37.000 kg; tahun 2012 sebanyak 24.000 kg; tahun 2013 sebanyak 22.000 kg;
tahun 2014 sebanyak 29.000 kg; dan tahun 2015 sebanyak 22.000 kg.
Berdasarkan jumlah produksi tiap alat tangkap, pukat cincin merupakan
alat tangkap yang memiliki produksi tertinggi dari tahun 2006 – 2015. Produksi
terendah tahun 2006 – 2015 adalah lampara dasar.
Upaya Penangkapan (Effort) Ikan Kembung
Upaya penangkapan (effort) tiap alat tangkap dalam kurun waktu 10 tahun
(2006 – 2015) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dapat
dilihat pada Gambar 21.
Gambar 21. Effort Sumberdaya Ikan Kembung Tahun 2006 – 2015 yang Didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (Sumber: Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan, 2006 – 2015)
Ketiga alat tangkap mengalami peningkatan dan penurunan jumlah effort
setiap tahunnya. Effort pukat cincin tahun 2006 sebanyak 6.496 trip; tahun 2007
sebanyak 7.542 trip; tahun 2008 sebanyak 7.425 trip; tahun 2009 sebanyak 7.725
trip; tahun 2010 sebanyak 9.175 trip; tahun 2011 sebanyak 9.022 trip; tahun 2012 0
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
trip; dan tahun 2015 sebanyak 6.613 trip. Effort jaring insang tahun 2006
sebanyak 2.574 trip; tahun 2007 sebanyak 2.254 trip; tahun 2008 sebanyak 1.886
trip; tahun 2009 sebanyak 1.653 trip; tahun 2010 sebanyak 1.339 trip; tahun 2011
sebanyak 1.840 trip; tahun 2012 sebanyak 1.919 trip; tahun 2013 sebanyak 1.319
trip; tahun 2014 sebanyak 47 trip; dan tahun 2015 sebanyak 3 trip. Effort lampara
dasar tahun 2006 sebanyak 1.937 trip; tahun 2007 sebanyak 2.346 trip; tahun 2008
sebanyak 3.467 trip; tahun 2009 sebanyak 3.306 trip; tahun 2010 sebanyak 2.737
trip; tahun 2011 sebanyak 2.914 trip; tahun 2012 sebanyak 3.352 trip; tahun 2013
sebanyak 3.209 trip; tahun 2014 sebanyak 2.993 trip; dan tahun 2015 sebanyak
3.082 trip.
Berdasarkan jumlah effort tiap alat tangkap, pukat cincin merupakan alat
tangkap yang memiliki effort tertinggi dari tahun 2006 – 2015. Effort terendah
tahun 2006 adalah lampara dasar. Pada tahun 2007 – 2015 adalah jaring insang.
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum
Pendugaan potensi lestari dengan metode surplus produksi yang terdiri
dari model Schaefer dan model Fox. Berdasarkan analisis potensi sumberdaya
ikan Kembung dengan metode surplus produksi menggunakan formula model
Schaefer, regresi linear antara effort dengan CPUE ikan Kembung (model
Schaefer) pada Gambar 22 diperoleh konstanta (a) sebesar 1961,768037 dan
koefisien regresi (b) sebesar -0,098463589. Hasil dugaan potensi lestari (MSY)
sumberdaya ikan Kembung sebesar 9.771.464,392 kg/tahun dengan effort
optimum 96,58136121 trip/tahun. Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien
Gambar 22. Regresi Linear antara Effort dengan CPUE Ikan Kembung (Model Schaefer)
Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya tangkapan (f)
sumberdaya ikan Kembung ditunjukkan dengan menggunakan model Schaefer
dalam persamaan C = 1961,768037 - 0,098463589 f2. Hubungan CPUE dengan
effort dari persamaan regresi linear model Schaefer adalah y = -0,098463589x +
1961,768037 dengan R2 = 0,684 artinya setiap peningkatan effort 1 trip maka
CPUE akan berkurang sebesar 0,098463589 kg/trip.
Berdasarkan analisis potensi sumberdaya ikan Kembung dengan metode
surplus produksi menggunakan formula model Fox, regresi linear antara effort
dengan ln CPUE ikan Kembung (model Fox) pada Gambar 23, diperoleh
konstanta (a) sebesar 7,672704963 dan koefisien regresi (b) sebesar -0,00012595.
Hasil dugaan potensi lestari (MSY) sumberdaya ikan Kembung sebesar
6.276.538,129 kg/tahun dengan effort optimum 7.939,647596 trip/tahun.
Berdasarkan analisis regresi nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,811. y = -0,098463589x + 1961,768037
R² = 0,684
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
Gambar 23. Regresi Linear antara Effort dengan ln CPUE Ikan Kembung (Model Fox)
Hubungan antara hasil tangkapan (C) dengan upaya tangkapan (f)
sumberdaya ikan Kembung ditunjukkan dengan menggunakan model Fox dalam
persamaan C = = f exp 7,672704963 - 0,00012595 f. Hubungan CPUE dengan
effort dari persamaan regresi linear model Fox adalah y = -0,00012595x +
7,672704963 dengan R2 = 0,684 artinya setiap peningkatan effort 1 trip maka
CPUE akan berkurang sebesar 0,00012595 kg/trip.
Effort tahun 2006 sebesar 25.038 trip dengan nilai CPUE sebesar
143,1823628. Effort tahun 2007 sebesar 17.938,08333 trip dengan nilai CPUE
sebesar 190,7673153. Effort tahun 2008 17.618 trip dengan nilai CPUE sebesar
211,20445. Effort tahun 2009 15.441,43902 trip dengan nilai CPUE sebesar
411,6844285. Effort tahun 2010 8.926,666667 trip dengan nilai CPUE sebesar
597,8715459. Effort tahun 2011 14.754,07407 trip dengan nilai CPUE sebesar
416,0206848. Effort tahun 2012 14.375,66667 trip dengan nilai CPUE sebesar
450,1356459. Effort tahun 2013 10.970,73016 trip dengan nilai CPUE sebesar
386,2094809. Effort tahun 2014 16.356 trip dengan nilai CPUE sebesar y = -0,00012595x + 7,672704963
R² = 0,811
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
123,3797995. Effort tahun 2015 1.092 trip dengan nilai CPUE sebesar
2.655,113553. Pendugaan potensi lestari dengan metode surplus produksi dengan
model Shaefer dan model Fox dapat dilihat pada Tabel 6.
Tabel 6. Pendugaan Potensi Lestari dengan Metode Surplus Produksi
Nilai Schaefer Fox Satuan
a 1961,768037 7,672704963
b -0,098463589 -0,00012595
MSY 9.771.464,392 6.276.538,129 kg/tahun
F optimum 96,58136121 7.939,647596 trip/tahun
R2 0,684 0,811
Grafik Maximum Sustainable Yield dan effort optimum ikan Kembung
(model Fox) dapat dilihat pada Gambar 24.
Gambar 24. Maximum Sustainable Yield dan Effort Optimum Ikan Kembung (Model Fox)
Produksi ikan Kembung (model Fox) yang didaratkan di Pelabuhan
Perikanan Samudera Belawan pada tahun 2006 sebesar 3.585.000 kg dengan
effort sebesar 25.038 trip. Produksi Tahun 2007 menurun sebesar 3.422.000 kg
dengan effort 17.938,08333 trip. Produksi tahun 2008 meningkat sebesar 0; 0
0 2500 5000 7500 10000 12500 15000 17500 20000 22500 25000
3.721.000 kg dengan effort 17.618 trip. Tahun 2009 produksi meningkat
signifikan sebesar 6.357.000 kg dengan effort 15.441,43902 trip. Produksi tahun
2010 menurun sebesar 5.337.000 kg dengan effort 8.926,666667 trip. Produksi
tahun 2011 meningkat sebesar 6.138.000 kg dengan effort 14.754,07407 trip.
Produksi tahun 2012 meningkat sebesar 6.471.000 dengan effort 14.375,66667
trip. Produksi tahun 2013 menurun sebesar 4.237.000 kg dengan effort
10.970,73016 trip. Produksi tahun 2014 menurun sebesar 2.018.000 kg dengan
effort 16.356 trip. Produksi tahun 2015 meningkat sebesar 2.899.384 kg dengan
effort 1.092 trip.
Pada tahun 2006 – 2014 sumberdaya ikan Kembung mengalami overfishing
karena telah melampaui effort optimum. Sedangkan pada tahun 2015 sumberdaya
ikan Kembung mengalami underfishing karena masih di bawah nilai effort
optimum. Kondisi ikan Kembung tahun 2006 – 2015 dapat dilihat pada Tabel 7
dibawah ini :
Tabel 7. Kondisi Ikan Kembung Tahun 2006 – 2015
Tahun Produksi (kg) MSY (Fox) TAC
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan
Tingkat pemanfaatan ikan Kembung (Lampiran 12) pada tahun 2006
tingkat pemanfaatan menurun menjadi 54,52% dengan tingkat pengupayaan
sebesar 225,93%. Tahun 2008 tingkat pemanfaatan meningkat menjadi 59,28%
dengan tingkat pengupayaan sebesar 221,89%. Tahun 2009 tingkat pemanfaatan
meningkat secara signifikan menjadi 101,28% dengan tingkat pengupayaan
sebesar 194,48%. Tahun 2010 tingkat pemanfaatan menurun menjadi 85,03%
dengan tingkat pengupayaan sebesar 112,43%.
Tahun 2011 tingkat pemanfaatan meningkat menjadi 97,79% dengan tingkat
pengupayaan sebesar 185,82%. Tahun 2012 tingkat pemanfaatan meningkat
menjadi 103,09% dengan tingkat pengupayaan sebesar 181,06%. Tahun 2013
tingkat pemanfaatan menurun drastis menjadi 67,50% dengan tingkat
pengupayaan sebesar 138,17%. Tahun 2014 tingkat pemanfaatan menurun
menjadi 32,15% dengan tingkat pengupayaan sebesar 206%. Tahun 2015 tingkat
pemanfaatan meningkat 46,19% dengan tingkat pengupayaan sebesar 13,75%.
Tingkat pemanfaatan dan tingkat pengupayaan ikan Kembung (model Fox) dapat
dilihat pada Gambar 25 dan Lampiran 12.
Gambar 25. Tingkat Pemanfaatan dan Tingkat Pengupayaan Ikan Kembung (Model Fox)
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Pembahasan
Pertumbuhan Ikan Kembung (Rastrelliger spp)
Sebaran Frekuensi Panjang
Jumlah ikan Kembung yang diperoleh pada musim timur lebih banyak
daripada musim peralihan I karena pada musim timur jumlah bulan pengamatan
sebanyak 3 bulan, sedangkan pada musim peralihan I sebanyak 2 bulan. Namun
jumlah sampel ikan pada musim timur jika dibandingkan per bulan, lebih sedikit
daripada musim peralihan I. Hal ini disebabkan karena pada musim timur terjadi
pasang mati pada bulan 6 yang mempengaruhi aktivitas penangkapan dan hasil
tangkapan nelayan. Berdasarkan informasi masyarakat setempat, terjadi banjir
ROB atau banjir air laut di kawasan pelabuhan belawan selama 5 hari pada awal
bulan juni dan berdasarkan data yang didapat dari Pasang Laut Asia, West
Indonesia (2016), pasang tertinggi pada tanggal 2 – 6 yaitu 2,7 m dan surut
tertinggi yaitu 0,3 m (Tabel 8) dengan kecepatan arus tinggi.
Tabel 8. Pasang Surut Air Laut Perairan Belawan Bulan Juni 2016
Tanggal Pasang 1 (m) Surut 1 (m) Pasang 2 (m) Surut 2 (m) Koefisien
Menurut Jalil (2013), arus memberikan pengaruh terhadap dua hal, yaitu
terhadap ikan pelagis kecil dan kestabilan alat tangkap yang digunakan. Ikan
kecepatan sedang, sedangkan bila kecepatan arus rendah, maka ikan pelagis kecil
akan bereaksi secara aktif (melawan arus). Sedangkan kecepatan arus yang cepat,
maka ikan pelagis kecil cenderung untuk menghindari. Sedangkan menyangkut
peralatan yang digunakan dalam hal ini purse seine, maka kecepatan arus
memberikan pengaruh terhadap kestabilan alat tangkap, yang terkait dengan
kecepatan kapal pada saat pelingkaran. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Sudirman dan Mallawa (2004), bahwa dalam pengoperasian alat tangkap
khususnya yang menggunakan jaring seperti purse seine, trawl, cantrang, bagan
rambo dan gillnet, faktor arus sangat mempengaruhi keberhasilan operasi
penangkapan. Umumnya alat tangkap jaring hanya dapat memberikan toleransi
terhadap kecepatan arus sampai kecepatan 1,5 m/detik. Misalnya pada purse
seine, ketika kecepatan lebih dari 1,5 m/detik maka kegiatan pelingkaran akan
sangat susah untuk dilaksanakan bahkan umumnya terjadi kegagalan.
Ikan Kembung yang tidak ditemukan pada musim timur yaitu ikan
berukuran 120 – 139 mm sedangkan pada musim peralihan I yang tidak
ditemukan yaitu ikan berukuran 200 – 219 mm. Menurut pengamatan saat
penelitian, hal ini terjadi karena keadaan lingkungan pada musim timur buruk,
yaitu terjadinya pasang mati di perairan Belawan. Jadi ikan yang berukuran kecil
kemungkinan besar tidak dapat bertahan dalam kondisi lingkungan yang buruk.
Menurut Sparre dan Venema (1999), adanya perbedaan kisaran ukuran
panjang disebabkan jumlah ikan dan faktor lingkungan. Keadaan lingkungan
perairan yang buruk akan mempengaruhi kisaran ukuran ikan yang tertangkap.
Perubahan perairan yang buruk berkaitan dengan ketersediaan makanan yang
Selain itu, perbedaan ukuran panjang total dapat disebabkan oleh
beberapa kemungkinan seperti perbedaan waktu dan tempat pengambilan
sampel ikan, keterwakilan sampel ikan yang diambil dan kemungkinan tekanan
penangkapan yang tinggi terhadap ikan. Spesies ikan yang sama tetapi hidup
di lokasi perairan yang berbeda akan mengalami pertumbuhan yang berbeda pula
karena adanya faktor dalam dan faktor luar yang mempengaruhi pertumbuhan
ikan tersebut. Menurut Effendie (2002), faktor dalam adalah faktor yang
umumnya sulit dikontrol seperti keturunan, sex, umur, parasit dan penyakit.
Faktor luar yang utama mempengaruhi petumbuhan ikan yaitu suhu dan
makanan.
Kelompok Ukuran
Pengelompokan ukuran ikan Kembung menggambarkan beberapa
kelompok ukuran yang menjelaskan umur pada waktu tertentu. Berdasarkan
Tabel 1, nilai indeks separasi hasil analisis pemisahan kelompok ukuran ikan
Kembung hanya diperoleh pada musim peralihan I yaitu sebesar 2,02. Hal ini
menunjukkan bahwa hasil pemisahan kelompok ukuran ikan Kembung dapat
digunakan untuk analisis selanjutnya atau dengan kata lain data tersebut
relevan untuk data selanjutnya dan tidak terjadi tumpang tindih yang besar
antar kelompok ukuran tersebut.
Menurut Sparre dan Venema (1999), indeks separasi merupakan
kuantitas yang relevan terhadap studi bila dilakukan kemungkinan bagi suatu
pemisahan yang berhasil dari dua komponen yang berdekatan, bila indeks
antara dua kelompok ukuran, karena terjadi tumpang tindih yang besar antara
kelompok ukuran tersebut.
Kelompok ukuran ikan Kembung pada musim peralihan I juga
menunjukkan bahwa terdapat dua kohort atau generasi yang hidup bersama
dalam satu waktu di lingkungan perairan yang sama pada musim peralihan I ikan
Kembung. Hal ini sesuai dengan Suwarso dan Hariati (2002) yang menyatakan
bahwa kelompok ukuran (kohort) yaitu sekelompok individu ikan dari jenis yang
sama dan berasal dari pemijahan yang sama.
Hubungan Panjang dan Bobot
Hubungan panjang bobot ikan Kembung menghasilkan model
pertumbuhan dan kurva hubungan panjang bobot. Berdasarkan hasil analisis
hubungan panjang bobot ikan Kembung pada Gambar 14 – 16, pada musim
peralihan I diperoleh nilai b sebesar 3,17, pada musim timur diperoleh nilai b
sebesar 2,859 dan pada total ikan Kembung total diperoleh nilai b sebesar 3,137.
Hal ini menunjukkan bahwa pada musim peralihan I dan total, nilai b yang
didapat lebih besar dari 3, sehingga dapat diduga bahwa pola pertumbuhan
ikan Kembung di perairan Belawan bersifat allometrik positif. Artinya
pertumbuhan berat ikan lebih cepat dibandingkan pertambahan panjang tubuh
ikan. Sedangkan pada musim timur, didapat lebih kecil dari 3, sehingga dapat
diduga bahwa pola pertumbuhan ikan Kembung di perairan Belawan bersifat
allometrik negatif. Artinya pertumbuhan panjang ikan lebih cepat
Hasil pola pertumbuhan ikan Kembung yang bersifat allometrik positif
sesuai dengan penelitian Utami dkk. (2014), bahwa ikan Kembung lelaki di
Rembang memiliki persamaan hubungan panjang bobot W = -2,266L3,251 yang
menunjukkan bahwa nilai slope (b) pada sampling III sebesar 3,251. Hal ini
menunjukkan pola pertumbuhan ikan Kembung bersifat allometrik positif yaitu
pertambahan berat lebih cepat dari pertambahan panjangnya. Sedangkan pola
pertumbuhan ikan Kembung yang bersifat allometrik negatif sesuai dengan
penelitian Rifqie (2007), bahwa nilai b yang didapat dari hubungan panjang dan
berat ikan Kembung Lelaki di Teluk Jakarta sebesar 2,3221.
Menurut Mulfizar dkk. (2012), bahwa nilai b tergantung pada kondisi
fisiologi dan lingkungan seperti suhu, pH, salinitas, letak geografis dan teknik
sampling serta kondisi biologis seperti perkembangan gonad dan ketersediaan
makanan. Kharat dkk. (2008) juga menyatakan bahwa perbedaan nilai b dapat
disebabkan oleh perbedaan jumlah dan variasi ukuran ikan yang diamati.
Koefisien determinasi (R2) sebesar 0,743 pada musim peralihan I dengan
nilai koefisien korelasi (r) sebesar 0,834 sedangkan pada musim timur nilai R2
sebesar 0,849 dengan nilai r sebesar 0,902. Maka disimpulkan hubungan
panjang dan bobot pada ikan Kembung memiliki korelasi yang erat karena
koefisien korelasi (r) mendekati satu. Menurut Walpole (1992), jika nilai r
mendekati 1 maka terdapat hubungan yang kuat antara kedua variabel.
Faktor Kondisi
Nilai faktor kondisi tertinggi terdapat pada musim timur yaitu sebesar
sebesar 0,924. Nilai faktor kondisi tertinggi ikan Kembung terdapat pada musim
timur, hal ini disebabkan karena pada timur ikan yang diperoleh sebagai sampel
memiliki ukuran yang relatif besar (170 – 179 mm) dibandingkan dengan sampel
ikan yang digunakan pada musim peralihan I (160 – 169). Hal ini sesuai dengan
penelitian Safarini (2013), bahwa faktor kondisi Rastrelliger kanagurta di
perairan Teluk Banten berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada
masing-masing jenis kelamin dapat dikatakan berfluktuasi. Faktor kondisi keseluruhan
berkisar antara 0.8483 – 1.1788. Faktor kondisi tertinggi pada ikan betina terjadi
pada selang kelas 137–147 mm dan 170–180 mm untuk ikan jantan. Secara
keseluruhan dapat dilihat bahwa faktor kondisi ikan Kembung lelaki betina lebih
besar dibandingkan dengan ikan jantan.
Selain itu, nilai faktor kondisi yang berbeda diduga karena kondisi
perairan ikan tersebut baik untuk proses pertumbuhan ikan Kembung,
ketersediaan makanan yang cukup dan faktor predator kecil pada musim timur.
Faktor kondisi dipengaruhi makanan, umur, jenis kelamin dan kematangan
gonad. Faktor kondisi juga dipengaruhi oleh indeks relatif penting makanan
dan pada ikan dipengaruhi oleh indeks kematangan gonad. Ikan yang cenderung
menggunakan cadangan lemaknya sebagai sumber tenaga selama proses
pemijahan, sehingga akibatnya ikan akan mengalami penurunan faktor kondisi.
Faktor kondisi juga akan meningkat apabila kepadatan populasi berkurang
sehingga kompetisi dalam mencari makan juga rendah (Effendie, 1979).
Berdasarkan nilai faktor kondisi, diketahui juga bahwa Ikan Kembung di
perairan Belawan memiliki badan yang kurang pipih. Hal ini sesuai dengan
antara 2 – 4, sedangkan pada ikan yang kurang pipih antara 1 – 3, ini diduga
dipengaruhi oleh perbedaan kelompok ukuran ikan sehingga nilai panjang total
ikan di daerah tersebut memiliki kisaran yang luas.
Parameter Pertumbuhan
Berdasarkan hasil analisis parameter pertumbuhan Von Bertalanffy ikan
Kembung, diperoleh nilai panjang asimtotik (L∞) ikan Kembung berkisar antara 199,50 mm – 220,50 mm. Koefisien pertumbuhan (K) ikan Kembung pada
musim peralihan I yaitu 0,58/bulan dengan nilai t0 sebesar -1,011, pada musim
timur K sebesar 1,20/bulan dengan nilai t0 s ebes ar -0 , 5 06 dan pada total ikan
Kembung K sebesar 1,30/bulan dengan nilai t0 sebesar -0,426. Ikan Kembung di
perairan Belawan memiliki nilai K yang besar yang berarti ikan Kembung
memiliki laju pertumbuhan yang cepat dan memiliki umur pendek dalam
mendekati L∞.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Perdanamihardja (2011), ikan
Kembung Lelaki di perairan Teluk Jakarta memiliki nilai K sebesar 0,2/tahun dan
nilai L∞ sebesar 392 mm, sedangkan penelitian yang dilakukan Prahadina (2014), ikan Kembung di perairan Selat Sunda memiliki nilai K sebesar 0.224/bulan
dengan panjang asimtotik (L∞) sebesar 349.534 mm. Perbedaan nilai yang diperoleh dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal.
Faktor internal yang dapat berpengaruh adalah keturunan (faktor genetik),
parasit dan penyakit sedangkan faktor eksternal dapat berpengaruh adalah suhu
Berdasarkan Gambar 17 dan Gambar 18, disajikan kurva pertumbuhan
ikan Kembung dengan memplotkan umur (bulan) pada sumbu x dan panjang
total (mm) pada sumbu y sampai dengan ikan berumur 9,5 bulan pada musim
peralihan I dan ikan berumur 11 bulan pada musim timur. Kurva tersebut
menggambarkan laju pertumbuhan ikan Kembung yang memiliki umur muda,
memiliki laju pertumbuhan lebih cepat dibandingkan dengan ikan Kembung
yang memiliki umur tua (mendekati L∞). Dari kurva tersebut juga dapat dilihat waktu yang dibutuhkan ikan Kembung untuk mendekati L∞ sebesar 210 – 231 mm yaitu 9,5 – 11 bulan.
Menurut Sparre dan Venema (1999), pendugaan umur dan
pertumbuhan ikan di daerah tropis lebih sulit dibandingkan dengan daerah
subtropis. Metode yang digunakan untuk pendugaan umur pertumbuhan ikan di
daerah tropis adalah melalui analisis frekuensi panjang. Panjang ikan akan
semakin bertambah seiring dengan bertambahnya umur, maka bisa dikatakan
panjang merupakan fungsi umur dan secara sistematis untuk mengetahui umur
bisa dilihat dari panjangnya.
Ikan yang memiliki koefisien pertumbuhan (K) yang tinggi menyebabkan
ikan tersebut cepat mati dikarenakan cepat mencapai panjang asimtotiknya.
Ikan yang berumur panjang memiliki nilai K yang rendah sehingga memerlukan
waktu yang lama untuk mencapai panjang asimtotiknya. Maka dari itu
penelitian ikan Kembung di perairan Belawan ini memiliki nilai K tinggi namun
perbedaan koefisien pertumbuhan pada musim Peralihan I dan musim timur
tidak terlalu berbeda secara signifikan, karena daerah tropis cenderung
Mortalitas dan Laju Eksploitasi
Laju mortalitas total ikan Kembung (Z) sebesar 2,564/tahun, laju
mortalitas alami (M) 1,249/tahun yang diperoleh dengan menggunakan suhu
permukaan air laut Belawan 29,8oC (Sea Temperature, 2016), kemudian untuk
laju mortalitas penangkapan (F) sebesar 1,315. Hal ini menunjukkan bahwa
nilai mortalitas penangkapan ikan Kembung di perairan Belawan lebih besar
dari nilai mortalitas alami. Mortalitas alami dipengaruhi oleh predator, penyakit,
dan usia. Menurut Pauly (1984), faktor lingkungan yang mempengaruhi laju
mortalitas alami yaitu suhu rata-rata perairan, selain itu panjang maksimum
(L∞) dan laju pertumbuhan (K). Perbandingan nilai mortalitas penangkapan (F) dengan nilai mortalitas total (Z), menghasilkan nilai laju eksploitasi (E). Laju
eksploitasi ikan Kembung yang diperoleh yaitu sebesar 0,523 artinya 52,3%
kematian ikan Kembung diakibatkan oleh penangkapan.
Menurut Pauly (1984), nilai eksploitasi optimal adalah 0,5. Sehingga
jika nilai eksploitasi lebih dari 0,5 maka dapat dikatakan indikasi dari kondisi
lebih tangkap terutama akibat penangkapan. Hal ini menunjukkan bahwa status
eksploitasi ikan Kembung di Perairan Belawan adalah overfishing atau
kegiatan penangkapan yang berlebihan. Hal ini sesuai dengan penelitian
Perdanamihardja (2011), bahwa ikan Kembung Lelaki di Perairan Teluk Jakarta
memiliki nilai M sebesar 0,3149/ tahun, nilai F sebesar 0,6170/tahun, dan nilai E
sebesar 0,6620 dan pada penelitian yang dilakukan oleh Prahadina (2014),
bahwa ikan Kembung di perairan Selat Sunda memiliki nilai M sebesar
Nilai laju eksploitasi melalui perbandingan penelitian lain mengenai ikan
Kembung dapat disimpulkan nilainya tinggi karna lebih dari 0,5. Namun nilai
mortalitas alami dan mortalitas penangkapan ikan Kembung di perairan Belawan
lebih tinggi dibandingkan penelitian lain, hal ini diduga karena perbedaan
kualitas perairan terutama pada suhu perairan karena salah satu faktor yang
mempengaruhi laju mortalitas alami adalah suhu perairan. Ikan Kembung lebih
menyukai perairan yang hangat, tetapi semakin tinggi suhu suatu perairan
mengakibatkan ikan tidak mampu bertahan (mati). Menurut Laevastu dan Hela
(1970), pengaruh suhu terhadap ikan adalah dalam proses metabolisme, seperti
pertumbuhan dan pengambilan makanan, aktivitas tubuh, seperti kecepatan
renang, serta dalam rangsangan syaraf sehingga ikan sangat peka terhadap
perubahan suhu walau hanya sebesar 0,03oC.
Pendugaan Potensi Lestari Ikan Kembung (Rastrelliger spp)
Produksi Ikan Kembung (Hasil Tangkapan)
Berdasarkan pengolahan data sumberdaya ikan Kembung, produksi ikan
Kembung tiap alat tangkap yang paling mendominasi dalam kurun waktu 10
tahun adalah pukat cincin. Hal ini disebabkan karena banyaknya jumlah unit
penangkapan pukat cincin dibandingkan alat tangkap lainnya di Belawan yang
berjumlah sekitar 230 unit dimana tujuan penangkapan adalah ikan pelagis. Hal
ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor KEP.06/MEN/2010 tentang Alat Penangkapan Ikan di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia bahwa pengoperasiannya
kedalaman yang cukup (kedalaman jaring ≤ 0,75 kedalaman perairan), umumnya untuk menangkap ikan pelagis.
Produksi ikan Kembung terendah berdasarkan alat tangkap yaitu lampara
dasar. Menurut nelayan di Belawan alat tangkap lampara dasar umumnya
menangkap ikan demersal namun pengoperasian lampara dasar yang melingkari
gerombolan ikan berpeluang menangkap ikan pelagis saat jaring lampara dasar
ditarik dengan menggunakan kapal. Menurut Nugraha dkk. (2012), fluktuasi hasil
tangkapan ikan banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain, keberadaan
ikan, jumlah upaya penangkapan, dan tingkat keberhasilan operasi penangkapan.
Upaya Penangkapan (Effort) Ikan Kembung
Upaya penangkapan ikan Kembung di perairan Belawan cukup tinggi
sehingga dapat menyebabkan upaya tangkap lebih (overfishing). Salah satu faktor
yang dapat berpengaruh terhadap penurunan populasi ikan Kembung adalah
pertambahan jumlah upaya penangkapan (trip). Upaya penangkapan (effort)
tertinggi pada tahun 2006 – 2015 didominasi oleh pukat cincin dan yang terendah
adalah lampara dasar. Penurunan upaya pada tahun yang sama tidak selalu diikuti
dengan peningkatan produksi begitu pula sebaliknya, hal ini menunjukkan bahwa
peningkatan jumlah upaya penangkapan bukan satu-satunya faktor penyebab
penurunan hasil tangkapan, tetapi mungkin dipengaruhi oleh berbagai faktor
seperti perubahan lingkungan yang dapat berpengaruh terhadap kelimpahan ikan
Pendugaan Potensi Lestari (MSY) dan Effort Optimum
Pendugaan potensi sumberdaya ikan Kembung setelah dianalisis dengan
menggunakan model Schaefer dan model Fox, bahwa nilai koefisien determinasi
(R2) dengan menggunakan model Fox lebih besar atau mendekati angka 1,
menunjukkan bahwa hubungan keeratan antara produksi dengan effort lebih kuat
dibandingkan nilai koefisien determinasi model Schaefer. Model Fox lebih sesuai
untuk pendugaan potensi sumberdaya ikan Kembung di perairan Belawan. Hal ini
sesuai dengan Walpole (1992), bahwa model yang memiliki nilai koefisien
determinasi (R2) lebih besar menunjukkan model tersebut mempunyai hubungan
yang lebih dekat dengan model sebenarnya.
Potensi lestari (MSY) sumberdaya ikan Kembung di perairan Belawan
dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sebesar 6.276.538,129 kg/tahun yang artinya
tangkapan maksimum ikan Kembung yang dapat ditangkap sebesar 6.276.538,129
kg/tahun. Hal ini sesuai dengan pernyataan Widodo dan Suadi (2006), bahwa
MSY adalah hasil tangkapan terbesar yang dapat dihasilkan dari tahun ke tahun
oleh suatu perikanan. Konsep MSY didasarkan atas suatu model yang sangat
sederhana dari suatu populasi ikan yang dianggap sebagai unit tunggal.
Berdasarkan potensi lestari ikan Kembung maka diperoleh jumlah tangkapan ikan
Kembung yang diperbolehkan yaitu sebesar 5.021.230,503 kg/tahun. Nilai
tersebut didapat dari 80% dari potensi lestari maksimum.
Pada tahun 2006 – 2014 sumberdaya ikan Kembung mengalami overfishing
karena upaya penangkapan yang tinggi sehingga produksinya melebihi MSY.
Tahun 2015 upaya penangkapan diturunkan sehingga produksi rendah. Effort
optimum maka akan menurunkan nilai produksi. Hal ini juga dipengaruhi oleh
nilai Effort yang berbanding terbalik dengan CPUE. Hal ini sesuai dengan
Nabunome (2007), bahwa jika dihubungkan antara CPUE dan effort, maka
semakin besar effort, CPUE akan semakin berkurang sehingga produksi semakin
berkurang. Artinya bahwa CPUE berbanding terbalik dengan effort dimana
dengan setiap penambahan effort maka makin rendah CPUE.
Sumberdaya ikan Kembung pada tahun 2006 – 2014 mengalami overfishing
karena melebihi effort optimum. Sedangkan tahun 2015 termasuk underfishing
karena upaya penangkapannya yang rendah. Hal ini sesuai dengan Widodo dan
Suadi (2006), bahwa biological overfishing akan terjadi ketika tingkat upaya
penangkapan dalam suatu perikanan tertentu telah melampaui tingkat yang
diperlukan untuk menghabiskan potensi umum lestari (MSY).
Pendugaan Tingkat Pemanfaatan dan Pengupayaan
Tingkat pemanfaatan dan pengupayaan sumberdaya ikan Kembung tahun
2006 – 2015 (Gambar 25) menunjukkan bahwa pada tahun 2006 – 2014 telah
terjadi overfishing. Hal ini dapat dilihat pada tahun 2006 – 2008 yang
menunjukkan tingkat pemanfaatan ikan Kembung berada pada kisaran
berkembang, tingkat pemanfaatan tahun 2009 berada pada kisaran overfishing,
tingkat pemanfaatan tahun 2010 – 2011 berada pada kisaran padat tangkap,
tingkat pemanfaatan tahun 2012 berada pada kisaran overfishing, tingkat
pemanfaatan tahun 2013 berada pada kisaran padat tangkap tingkat pemanfaatan
tahun 2014 berada pada kisaran tahap rendah, dan tingkat pengupayaan ikan
pemanfaatan tahun 2015 berada pada kisaran berkembang dan tingkat
pengupayaan berada pada kisaran tahap rendah. Hal ini sesuai dengan
pengklasifikasian oleh Ultokseja dkk. (1991), bahwa tingkat pemanfaatan
sumberdaya ikan dibagi kedalam empat bagian yaitu : kisaran tahap rendah (0 –
33,3%), kisaran berkembang (33,4 – 66,7%), kisaran padat tangkap (66,8 –
100%), dan overfishing atau lebih tangkap (>100%).
Berdasarkan hasil perhitungan persentase tingkat pemanfaatan sumberdaya
ikan Kembung di perairan Belawan selama 10 tahun terakhir mempunyai nilai
rata-rata sebesar 70,39% dan tingkat pengupayaan sebesar 179,49%. Hal ini
menunjukkan bahwa kondisi tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan Kembung
masih berada pada kisaran padat tangkap dan belum mengalami overfishing.
Pengelolaan Alternatif Ikan Kembung (Rastrelliger spp.)
Pengelolaan sumberdaya perikanan saat ini harus diperhatikan dengan
baik karena semakin meningkatnya tekanan eksploitasi terhadap berbagai stok
ikan. Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa sudah terjadi overfishing
(tangkap lebih) terhadap populasi ikan Kembung karena laju eksploitasi ikan
Kembung yang didapat sebesar 0,513. Hal ini menunjukkan bahwa laju
eksploitasi ikan Kembung di perairan Belawan sudah melebihi laju eksploitasi
optimum yang seharusnya yaitu sebesar 0,5 dimana mortalitas yang disebabkan
penangkapan lebih besar dari mortalitas alami. Berdasarkan pendugaan potensi
lestari, ikan Kembung juga sudah mengalami overfishing yang terjadi karena