PENGARUH PEMBERIAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK DALAM MEMINIMALISIR KONFLIK ANTAR PRIBADI
SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 41 MEDAN T.A 2015/2016
SKRIPSI
Oleh:
NOVITA SARI SIMAMORA
1113351021PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
MEDAN
i ABSTRAK
NOVITA SARI SIMAMORA, NIM: 1113351021. Pengaruh Pemberian Layanan Konseling Kelompok Terhadap Konflik Antar Pribadi Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A 2015-2016. Jurusan Psokologi Pendidikan dan Bimbingan. Program Studi Bimbingan dan Konseling. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Medan.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: Apakah ada pengaruh pemberian layanan konseling kelompok dalam meminimalisir konflik antar pribadi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A 2015-2016? Sedangkan Tujuan penelitian ini adalah “untuk mengetahui pengaruh pemberian layanan konseling kelompok dalam meminimalisir konflik antar pribadi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A 2015-2016”.
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII-7 SMP Negeri 41 Medan yang berjumlah 35 siswa dan diambil sampel sebanyak 10 orang. Instrumen yang digunakan adalah angket konflik antar pribadi siswa yang sebelumnya diuji cobakan untuk mengetahui validitas dan reliabilitas angket. Dari 44 item angket yang disebarkan ada 30 item yang valid dan 14 item yang tidak valid, yaitu soal no. 6, 9, 12, 20, 24, 25, 26, 28, 30, 32, 33, 36, 37 dan 44. Jadi soal yang diberikan terhadap 10 sampel berjumlah 30 item. Teknik analisis data mengunakan uji wilcoxon.
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh layanan konseling kelompok terhadap konflik antar pribadi siswa. Diperoleh data pre-test konflik antar pribadi siswa rata-rata 92,2 dan rata-rata post-test konflik antar pribadi siswa adalah sebesar 74,1 dan terdapat penurunan internal konflik antar pribadi siswa senilai 24,42%.
ii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas
kasih sayang-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
“Pengaruh Pemberian Layanan Konseling Kelompok Terhadap Konflik
Antar Pribadi Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A 2015-2016”.
Penelitian skripsi ini bertujuan untuk memenuhi sebagian syarat
memperoleh gelar sarjana pendidikan bagi mahasiswa program S1 pada program
studi Bimbingan dan Konseling jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Universitas Negeri Medan. Peneliti menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh sebab itu peneliti mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun dari semua pihak demi kesempurnaan skripsi ini.
Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, sehingga
pada kesempatan ini peneliti dengan segala kerendahan hati dan penuh rasa
hormat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak
yang telah memberikan bantuan moril maupun materil secara langsung maupun
tidak langsung kepada peneliti dalam penyusunan skripsi ini hingga selesai.
Peneliti menyadari bahwa dalam menyelesaikan skripsi ini banyak
hambatan dan kesulitan yang peneliti alami, akan tetapi berkat bimbingan ibu
Dra. Nurarjani, M.Pd selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak
membantu dalam pengarahan dan bimbingan skripsi kepada peneliti, serta waktu
iii
Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini, peneliti mengucapkan terima
kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd sebagai Rektor Universitas Negeri
Medan.
2. Bapak Dr. Nasrun, MS, selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Negeri Medan, beserta Wakil Dekan Bidang Akademik
Bapak Prof. Dr. Yusnadi, MS, Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan
Bapak Drs. Aman Simaremare, MS, dan Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan Bapak Drs. Edidon Hutasuhut, M.Pd, Fakultas Ilmu
Pendidikan Universitas Negeri Medan.
3. Ibu Dra. Zuraida Lubis, M.Pd, Kons. sebagai Ketua Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan dan Ibu Dra. Nurarjani, M.Pd selaku Sekretaris
Jurusan.
4. Ibu Dra Zulhaini, S selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen
pembimbing skripsi saya, yang telah memberikan semangat kepada saya untuk
mampu menyelesaikan studi di universitas ini.
5. Ibu Dra. Nurarjani, M.Pd selaku dosen pembimbing skripsi saya yang telah
banyak meluangkan tenaga dan waktu juga memotivasi saya selama
mengerjakan skripsi ini.
6. Ibu Dra. Rahmulyani, M.Pd, Kons, ibu Dra. Pastiria Sembiring, M.Pd, Kons,
dan bapak Dr. Nasrun, MS selaku penguji yang telah banyak memberikan
iv
7. Seluruh staff FIP Unimed yang telah banyak membantu peneliti dalam
pengurusan berkas yang dibutuhkan, selama peneliti menyelesaikan studi di
Universitas Negeri Medan.
8. Bapak Kepala Sekolah SMP Negeri 41 Medan yakni bapak Drs. Sintua
Marolop Hutagaol, M.Pd dan dibantu oleh wakilnya serta PKS I, PKS II, PKS
III, para wali kelas, guru BK, guru bidang studi, pegawai tata usaha serta
koordinator BK ibu Ilyaningsih,S.Pd, terima kasih atas izin, bantuan dan kerja
sama yang telah diberikan selama peneliti melakukan penelitian di sekolah
tersebut.
9. Teristimewa buat Ayahanda D. Simamora, S.Pd dan Ibunda L. Silaban,
terimakasih atas segala dukungan dan perhatian penuh tiada henti diberikan
setiap waktu. Mereka adalah semangat terbesar saya untuk menjadi seorang
anak yang membanggakan dengan gelar sarjana.
10.Saudara saya, Abang Joko Miarso Simamora, Abang Sutrisno Simamora,
Merdiko Simamora, yang telah banyak membantu serta memotivasi saya
selama ini. Tidak terhitung betapa banyak dukungan yang mereka berikan
untuk saya.
11.Terima kasih kepada Tulang saya, M.R.S Silaban, S.Pd yang telah membantu
dan mendukung saya dalam mengerjakan skripsi saya selama ini.
12.Sahabat-sahabat saya yang paling istimewa dan sangat membantu dalam
pencapaian gelar sarjana ini, mereka adalah Elvi Makhrina, Marilin Sibarani,
Maskhairani Harahap, Nelly Rambe, dan Meli Susanti Saragih.
13.Terimakasih kepada teman saya yang paling istimewa Renold Pranata
v
kepada Anacosta yang telah membantu dan mendukung saya dalam
mengerjakan skripsi saya selama ini.
14.Terimakasih kepada semua keluarga besar dari Ayah dan Bunda yang telah
memberikan dukungan dan semangat kepada saya.
15.Dan semua pihak-pihak yang tidak bisa peneliti sebutkan satu persatu.
Terimakasih atas semua motivasi dan bantuannya, yang tak bisa dibalas oleh
peneliti.
Medan, Maret 2016 Peneliti
vi
1.2 Identifikasi Masalah ... 5
1.3 Pembatasan Masalah ... 5
2.1.1.1 Pengertian Konflik dan Macam-Macam Konflik ... 8
2.1.1.2 Faktor-Faktor Penyebab Konflik ... 14
2.1.1.3 Akibat Terjadinya Konflik ... 15
2.1.1.4 Bentuk Pengendalian Konflik ... 17
2.1.1.5 Pengertian Konflik Antar Pribadi ... 18
2.1.1.6 Indikator Konflik Antar Pribadi ... 19
2.1.2 Konflik-Konflik di Kelas ... 20
2.1.3 Bimbingan Kelompok ... 22
2.1.3.1 Pengertian Bimbingan Kelompok ... 22
2.1.3.2 Tujuan Bimbingan Kelompok ... 23
2.1.3.3 Azas Layanan Bimbingan Kelompok ... 24
2.1.3.4 Tahap-Tahap Bimbingan Kelompok ... 25
2.1.4 Konseling Kelompok ... 26
2.1.4.1 Pengertian Konseling Kelompok ... 26
2.1.4.2 Tujuan Konseling Kelompok ... 27
2.1.4.3 Struktur Konseling Kelompok ... 29
2.1.4.4 Asas Konseling Kelompok ... 31
2.1.4.5 Tahapan dan Proses Konseling Kelompok ... 32
2.2 Kerangka Berpikir ... 33
2.3 Hipotesis Tindakan... 35
BAB III : METODE PENELITIAN ... 35
3.1 Jenis Penelitian ... 36
3.2 Desain Penelitian ... 36
3.3 Subjek Penelitian ... 36
3.4 Operasionalisasi Variabel Penelitian ... 37
3.5 Langkah-Langkah Penelitian ... 38
vii
3.7 Uji Coba Instrumen Penelitian ... 42
3.8 Teknik Analisis Data ... 43
3.9 Persiapan Penelitian ... 45
3.10 Lokasi dan Waktu Penelitian ... 45
BAB IV: TINJAUAN PUSTAKA ... 46
4.1 Deskripsi Hasil Penelitian ... 46
4.2 Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 46
4.3 Persiapan Penelitian ... 47
4.4 Pengujian Persyaratan Analisis ... 47
4.4.1 Uji Validitas Angket ... 48
4.4.2 Uji Reliabilitas ... 48
4.5 Deskripsi Data Hasil Penelitian ... 49
4.5.1 Data Pre-test Konflik antar pribadi Siswa ... 49
4.5.2 Data Post-test Konflik antar pribadi Siswa ... 50
4.6 Hipotesis ... 52
4.7 Pembahasan penelitian ... 53
BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN ... 56
5.1 Kesimpulan ... 56
5.2 Saran ... 56
DAFTAR PUSTAKA ... 58
viii
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Skor Angket Berdasarkan Skala Likert ... 39
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Konflik antar pribadi Belum Valid ... 39
Tabel 3.3 Kisi-kisi Instrumen Konflik antar pribadi Yang Sudah Valid ... 41
Tabel 4.1 Hasil Pre-Test (Sebelum diberi Layanan Konseling Kelompok) ... 50
Tabel 4.2 Hasil Post Test ( Setelah diberi Layanan Konseling kelompok) ... 51
ix
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Angket Uji Coba Konflik antar pribadi ... 59
Lampiran 2. Sebaran Data Uji Coba Angket Konflik antar pribadi ... 62
Lampiran 3. Perhitungan Uji Validitas Angket Konflik antar pribadi Siswa ... 63
Lampiran 4. Perhitungan Uji Reliabilitas Angket Konflik antar pribadi Siswa .. 66
Lampiran 5. Angket Konflik antar pribadi Yang Sudah Valid ... 69
Lampiran 6. Sebaran Data Pre-test Konflik antar pribadi ... 71
Lampiran 7. Sebaran Data Post-test Konflik antar pribadi ... 72
Lampiran 8. Tabulasi Data Penelitian ... 73
Lampiran 9. Perhitungan Kategori Konflik antar pribadi Sebelum Layanan ... 74
Lampiran 10. Perhitungan Rata-Rata Dan Standar Deviasi Untuk Data Pre-Test Konflik antar pribadi ... 76
Lampiran 11. Perhitungan Kategori Konflik antar pribadi Setelah Layanan... 78
Lampiran 12. Perhitungan Rata-Rata Dan Standar Deviasi Untuk Data Post-Test Konflik antar pribadi ... 80
Lampiran 13. Uji Hipotesis ... 82
Lampiran 14. Perhitungan Konflik antar pribadi Siswa... 85
Lampiran 15. Rencana Pelaksanaan Layanan BK (RPLBK) ... 86
Lampiran 16. Tabel daftar nilai-nilai kritis j untuk uji wilcoxon ... 130
Lampiran 17. Tabel Uji Liliofers ... 131
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Menurut Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 (1) Pendidikan adalah “Usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.”
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan
kebiasa-an sekelompok orkebiasa-ang ykebiasa-ang diturunkkebiasa-an dari satu generasi ke generasi berikutnya
melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah
bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Tujuan
pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter
sehingga memiliki pandangan yang luas kedepan untuk mencapai suatu cita- cita
yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai
lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik
dalam segala aspek kehidupan.
Manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial yaitu makhluk yang tidak
bisa hidup sendiri dan membutuhkan kehadiran orang lain. Pada dasarnya seorang
anak merupakan makhluk sosial dan memiliki potensi sosial yang dibawanya
sejak lahir. Kehidupan sosial anak dimulai dari lingkungan terkecil keluarga
2
kemudian berlanjut ke lingkungan teman sepermainan dan lingkungan pendidikan
atau sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan dapat dijadikan media untuk
memfasilitasi perkembangan sosial siswa, yang dapat dilihat secara langsung
melalui suatu proses pembelajaran serta memberi pengaruh yang cukup besar bagi
pembentukan hubungan antar pribadi siswa pada tahap tugas perkembangannya.
Setiap hubungan antar pribadi mengandung unsur-unsur konflik,
pertentangan pendapat atau perbedaan kepentingan. Soerjono Soekanto (Ahmadi,
2007:281) menyebut konflik sebagai “suatu proses sosial individu atau kelompok
yang berusaha untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan
yang disertai dengan ancaman dan/atau kekerasan.
Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini
berarti, bila kita ingin mengetahui konflik, kita harus mengetahui kemampuan dan
perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua
konflik berakar pada komunikasi yang buruk.
Konflik antarpribadi, terjadi antar siswa atau antara siswa dan guru.
Sifatnya bisa substantif atau emosional. Konflik substantif, berupa perbedaan atau
pertentangan tentang aspek-aspek akademik sekolah, seperti ketidakseimbangan
distribusi beban tugas atau kerja di antara siswa. Konflik emosional, berupa
perbedaan atau pertentangan kepentingan, kebutuhan antarsiswa yang bersifat
individual. Konflik antarpribadi ini merupakan jenis konflik yang sering dihadapi
oleh para siswa.
Pada umumnya, masyarakat memiliki sarana atau mekanisme untuk
3
katup penyelamat yaitu suatu mekanisme khusus yang dipakai untuk
mempertahankan kelompok dari kemungkinan konflik. Katup penyelamat ini
menyediakan objek-objek tertentu yang dapat mengalihkan perhatian pihak-pihak
yang bertikar agar tersalur ke arah lain.
Namun demikian, katup ini hanya sarana yang bersifat sementara. Tujuan
utamanya adalah untuk menetralisasi ketegangan-ketegangan yang timbul dari
situasi pertentangan tersebut. Ahmadi (2007:288) mengatakan contoh-contoh
katup penyelamat ini antara lain “badan perwakilan siswa atau dewan guru di
sekolah. Melalui badan atau lembaga seperti ini siswa atau guru dapat
mengungkapkan keluhan-keluhannya.”
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konflik tidak bisa hilang dengan
sendirinya melainkan diperlukan satu tindakan untuk menyalurkannya ke arah
positif agar bisa terkendalikan dengan baik. Salah satunya adalah melalui peranan
guru di sekolah. Oleh karena itu perlu ada satu upaya yang memungkinkan untuk
mengurangi konflik seseorang. Salah satu upaya tersebut adalah dengan
pendidikan di sekolah berupa pemberian layanan konseling kelompok oleh guru
bimbingan konseling.
Menurut Sherzer & Stone (Prayitno, 2004:100) konseling kelompok
adalah “suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seseorang
individu yang terganggu oleh karena masalah-masalah yang tidak dapat diatasinya
sendiri dengan seorang pekerja yang profesional, yaitu orang yang telah terlatih
dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan
4
Guna mengatasi permasalahan ini maka pelaksanaan layanan konseling
kelompok sebaiknya dilaksanakan, karena pada konseling kelompok siswa dan
guru BK berperan aktif dalam membangun dinamika kelompok guna
menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa peserta konseling kelompok. Dalam
perspektif konseling, sebagai salah satu bentuk layanan kemanusiaan, teman
sebaya dapat dimanfaatkan sebagai salah satu teknik layanan konseling kelompok.
Didalam konseling kelompok, teman sebaya dapat berperan sebagai orang yang
mendukung satu sama lain.
Pada pertengahan September 2015 peneliti pernah melalukan observasi
awal di sekolah SMP Negeri 41 Medan. Berdasarkan pengalaman dan observasi
yang telah dilakukan, peneliti menemukan beberapa masalah di sekolah ini terkait
dengan konflik atar pribadi siswa. Konflik tersebut yaitu terjadinya pertentangan
antar siswa yang satu dengan yang siswa yang lain, kemudian diikuti oleh
teman-teman yang in-grup mereka sendiri sehingga berujung kepada konflik antar
kelompok. Namun permasalahan utama adalah dua siswa yang berselisih adalah
pemimpin dalam sebuah kelompok in-grup mereka masing-masing yang
menyebabkan anggotanya juga saling bermusuhan.
Berdasarkan wawancara dengan guru BK dan guru bidang studi, peneliti
mengetahui bahwa di dalam kelas VIII seringkali terjadi pertentangan maupun
perselisihan antar kelompok siswa. Guru BK mengatakan bahwa siswa yang
bertentangan biasanya terlihat dalam hal kerjasama saat diberikan tugas
kelompok. Mereka memang tidak melakukan kekerasan fisik secara langsung,
namun perselisihan terlihat dari adanya saling adu mulut dan tidak kompaknya
5
Ada beberapa contoh pertentangan yang kerap terjadi di kelas VIII SMP
Negeri 41 Medan ini. Pertentangan tersebut yaitu ketika dibentuk kelompok
belajar siswa menjadi tidak kompak, sulit untuk bekerjasama dalam semua
kegiatan, tidak mau berbaur dengan kelompok yang berselisih, tidak ada
solidaritas antar siswa, sering terjadi saling ejek di kelas, sering terjadi perdebatan
yang tidak baik ketika diskusi kelompok.
Untuk itu sekolah perlu memberikan satu upaya agar konflik antar pribadi
ini bisa diatasi. Pemberian layanan konseling kelompok merupakan salah satu
upaya guna mengurangi konflik antar siswa dengan memanfaatkan dinamika
kelompok sehingga terjalin hubungan yang harmonis antar siswa di sekolah.
Dari uraian latar belakang di atas, maka peneliti tertarik melakukan
penelitian yang berjudul “Pengaruh Pemberian Layanan Konseling Kelompok
Dalam Meminimalisir Konflik Antar Pribadi Siswa Kelas VIII SMP Negeri
41 Medan T.A 2015-2016”.
I.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis
mengidentifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Terjadinya pertentangan antar siswa yang satu dengan siswa yang lain
2. Sulit untuk bekerjasama dalam semua kegiatan
3. Tidak mau berbaur dengan kelompok yang berselisih
4. Tidak ada solidaritas antar siswa
5. Sering terjadi saling ejek di kelas
6
1.3 Batasan Masalah
Disebabkan berbagai keterbatasan yang dimiliki, baik waktu dan
pengalaman, maka peneliti hanya membatasi permasalahan penelitian pada
konflik antar pribadi dengan menggunakan layanan bimbingan kelompok dan
konseling kelompok dan hanya pada siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A
2015-2016.
1.4 Rumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan pada latar belakang
masalah maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut “Apakah ada pengaruh
pemberian layanan konseling kelompok dalam meminimalisir konflik antar
pribadi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A 2015-2016?”
1.5 Tujuan Penelitian
Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yang
ingin dicapai adalah: “untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian
layanan konseling kelompok dalam meminimalisir konflik antar pribadi pada
siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan T.A 2015-2016.”
1.6 Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian merupakan hasil dari suatu penelitian yang
dilaksanakan, baik bagi peneliti maupun orang lain yakni dalam rangka
penambahan ilmu. Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah
7
a. Manfaat Teoritis
Secara teoritis penelitian ini dapat menguji pengaruh layanan konseling
kelompok dalam mengurangi konflik antar pribadi, serta untuk menambah teori
mengenai konflik antar pribadi dan layanan konseling kelompok.
b. Manfaat Praktis
1. Bagi peneliti, proses penelitian ini memberikan ilmu pengetahuan dan
pengalaman yang terkait dengan konflik antar pribadi dan layanan
konseling kelompok
2. Bagi siswa agar teratasinya konflik antar pribadi dengan teman
sebayanya dan dapat memaksimalkan potensi sosial yang dimilikinya.
3. Bagi guru BK, agar lebih memahami dan menerapkan pemberian
bimbingan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan siswa sehingga
konflik antar pribadi siswa bisa dikurangi
4. Bagi orangtua agar dapat memberikan dukungan dan pengarahan,
kepada siswa untuk senantiasa fokus terhadap apa yang diajarkan
sekolah demi membentuk pribadi sosial yang bermanfaat bagi siswa
56
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan pada Bab IV, maka
dapat disimpulkan:
1. Konflik antar pribadi siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan Tahun
Ajaran 2015-2016 sebelum mendapat layanan konseling kelompok
cenderung tinggi, yakni dengan rata-rata pre-test sebesar 92,2.
2. Konflik antar pribadi siswa kelas VIII SMP Negeri 41 Medan Tahun
Ajaran 2015-2016 setelah mendapat layanan konseling kelompok
cenderung rendah, yakni dengan rata-rata post-test sebesar 74,1.
3. Adanya pengaruh yang signifikan antara pemberian layanan konseling
kelompok terhadap konflik antar pribadi siswa kelas VIII SMP Negeri 41
Medan Tahun Ajaran 2015-2016
5.2Saran
Adapun saran yang dapat dikemukakan peneliti adalah:
1. Bagi pihak sekolah terutama konselor sekolah hendaknya lebih peduli dan
memperhatikan siswa yang memiliki Konflik antar pribadi dengan teman
sebayanya
2. Konselor diharapkan menindaklanjuti kegiatan layanan konseling
kelompok dengan mengadakan kegiatan konseling perorangan untuk
penyelesaian yang lebih lanjut.
57
3. Mengingat bahwa layanan konseling kelompok dapat meminimalisir
konflik antar pribadi siswa maka selayaknya layanan konseling kelompok
ini secara kontiniu tetap dilaksanakan.
4. Bagi koordinator BK, diharapkan untuk menyusun program bimbingan
konseling berdasarkan need assesment sehingga layanan konseling
konseling yang diberikan benar-benar sesuai dengan fungsi dan kebutuhan
36
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. 2007. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta
Arikunto, Suharsimi. 2010. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta
Goleman, D. 1996. Kecerdasan Emosional (terjemahan: Hermaya). Jakarta: Garmesia Pustaka Utama
Lubis, Namora Lumongga 2011. Memahami Dasar-dasar konseling Dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana
Mulyasa, E. 2003. Manajemen Berbasis Madrasah, Konsep Strategi dan
Implementasi. Bandung: Rosdakarya
Nurihsan, Achmad Juntika. 2010, Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling. Bandung: Refika Aditama.
Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (Dasar dan Profil). Jakarta: Ghalia Indonesia
Prayitno dan Erman Amti. 2004. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta
Setiadi, Elly M. 2011. Pengantar Sosiologi. Jakarta: Kencana
Susan, Novri. 2014. Pengantar Sosiologi Konflik. Jakarta: Kencana
Syah, Muhibbin. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda karya Offset
Syah, Muhibbin. 2012. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (Berbasis Integrasi). Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Wibowo, Mungin Eddy. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang:
UNNES PRESS
Winkel W.S. 1991. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: Grasindo