PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN APLIKASI MULSA BAGAS TERHADAP INFILTRASI TANAH PADA PERTANAMAN TEBU (Saccharum officinarum L.) DI PT GUNUNG MADU PLATATIONS (GMP) LAMPUNG TENGAH

32  11  Download (0)

Teks penuh

(1)

PLATATIONS (GMP) LAMPUNG TENGAH

(Skripsi)

Oleh ADHI SAPUTRA

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG

(2)

ABSTRAK

PENGARUH SISTEM OLAH TANAH DAN APLIKASI MULSA BAGAS TERHADAP INFILTRASI TANAH PADA PERTANAMAN TEBU

(Saccharum officinarumL.) DI PT GUNUNG MADU PLATATIONS (GMP) LAMPUNG TENGAH

Oleh

ADHISAPUTRA

Sistem olah tanah aplikasi mulsa bagas adalah salah satu alternatif yang dikembangkan dalam metode konservasi tanah, dimana sistem ini merupakan suatu cara meningkatkan produktivitas tanah dengan bahan hijauan yang diperoleh dari limbah padat pabrik gula bagas, blotong, dan abu (BBA). Sistem ini dapat memberikan tambahan bahan organik kedalam tanah. Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap infiltrasi dan sifat fisik tanah pada sistem OTI dan OTM.

Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Juli 2011 sampai pada bulan September 2011 dan pengamatan infiltrasi dilakukan pada bulan Juli 2011 (selesai panen tebu). Penelitian ini dilakukan di lahan pertanaman tebu (Saccharum officinarum L) di PT GMP, Lampung Tengah. Pengukuran infiltrasi langsung dilakukan di lahan PT GMP dan analisis contoh tanah dilakukan di Laboratorium Fisika Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar lampung. Jenis tanah Ultisol.

Penelitian ini dilakukan secara split plot dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 kali ulangan. Petak utama yaitu sistem olah tanah, yang terdiri dari OTI (T1) dan OTM (T0). Anak petak adalah aplikasi mulsa bagas, yang terdiri dari mulsa bagas 80 t ha-1 (M1) dan tanpa mulsa bagas 80 t ha-1 (M0) dengan demikian terbentuk 4 kombinasi perlakuan dengan 5 kelompok sehingga diperoleh 20 satuan petak percobaan. Adapun kombinasi perlakuan yang diterapkan adalah sebagai berikut: T1M1, T1M0, T0M1,T0M0.

(3)

rata nilai tengah diuji dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) pada taraf 1% dan 5%. Dibuat kurva laju infiltrasi serta, untuk mengetahui hubungan antara laju infiltrasi tanah pada sistem OTI dan OTM pada tanpa mulsa bagas dan pakai mulsa bagas dengan penetapan kadar air dan ruang pori tanah total, kerapatan isi dilakukan uji korelasi, Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem OTI dengan aplikasi mulsa bagas 80 t ha-1 akan memberikan infiltrasi yang terbaik pada lahan petanaman tebu. Kapasitas dan kecepatan laju infiltrasi pada sistem OTI lebih tinggi dibandingkan dengan sistem OTM. Kapasitas dan kecepatan laju infiltrasi lebih tinggi terdapat pada perlakuan sistem OTI dengan aplikasi mulsa bagas sehingga aplikasi mulsa bagas berpengaruh meningkatkan laju infiltrasi tanah pada sistem OTI, terdapat interaksi antara sistem olah tanah dan aplikasi mulsa bagas terhadap laju infiltrasi tanah. Kadar air, ruang pori tanah total, kerapatan isi dan suhu tanah tidak berkorelasi dengan infiltrasi.

(4)

Judul Skripsi : PENGARUH SISTEM PENGOLAHAN TANAH DAN PEMBERIAN MULSA BAGAS TERHADAP INFITRASI PADA PERTANAMAN TEBU

(saccharum officinarumL) DI PT. GUNUNG MADU PLANTATIONS (GMP), LAMPUNG TENGAH.

Nama Mahasiswa : Adhisaputa Nomor Pokok Mahasiswa : 0614031014 Program Studi : Ilmu Tanah Fakultas : Pertanian

MENYETUJUI

1. Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si. Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M.S., M.Agr. Sc.

NIP 19610201986031002 NIP 1963050919870320001

2. Ketua Bidang Ilmu Tanah

(5)

1. Tim Penguji

Ketua : Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M.Si.

Sekretaris : Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M.S., M.Agr.Sc.

Penguji : Dr. Ir. Afandi, M.P.

2. Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M. S. NIP 196108261987021001

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL……… …..………... iii

DAFTAR GAMBAR………..………. vii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang dan Masalah ... 1

B. Tujuan Penelitian ... 4

C. Kerangka Pemikiran... 4

D. Hipotesis... 7

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Tanah dan Pengolahannya di PT GMP ... 8

B. Sistem Olah Tanah ... 12

C. Infiltrasi ... 14

1. Pendugaan Infiltrasi ... 16

2. Model Persamaan Philip ... 17

3. Sorpsivitas ... 19

4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Infiltrasi Tanah 19 a. Tekstur Tanah... 19

b. Bulk Density Tanah... 20

c. Total Ruang Pori Tanah ... 21

d. Bahan Organik Tanah ... 21

e. Kadar Air Tanah... 22

f. Struktur Tanah... 23

5. Infiltrometer ... 23

D. Tanaman Tebu... 24

E. Bahan Organik Berbasis Tebu... 25

III. BAHAN DAN METODE ... 28

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 28

B. Alat dan Bahan Penelitian... 28

(7)

3. Analisis Tanah... 32

4. Pengamatan Infiltrasi tanah... 32

E. Analisis Data ... 34

F. Pengamatan ... 34

1. Variabel Utama ... 34

2. Variabel Pendukung ... 35

IV. Hasil dan Pembahasan ... 36

A. Hasil Pengamatan... 36

1. Laju Infiltrasi Tanah ... 40

2. Kumulatif Infiltrasi ... 40

3. Hubungan Antara Infiltrasi Tanah Dengan Beberapa Sifat Fisika Tanah Yang Diberi Perlakuan Sistem Olah Tanah dan Aplikasi Mulsa Bagas ... 42

B. Pembahasan... 42

V. Kesimpulan dan Saran... 46

A. Kesimpulan ... 46

B. Saran ... 46

DAFTAR PUSTAKA ... 47

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Diagram Alir Pengolahan Tanah di PT GMP ... 10

2. Laju Infiltrasi Untuk Tanah yang Pada Mulanya Basah dan Kering... 16

3. Cara Kerja Alat Doubel Ring Infiltrometer ... 32

4. Kurva Infiltrasi Tanah Pada Sistem OTI Tanpa Mulsa Bagas dan Sistem OTM Tanpa Mulsa Bagas Serta Kurva Infiltrasi Pada Sistem OTI Aplikasi Mulsa Bagas dan Sistem OTM Aplikasi Mulsa Bagas ... 38

5. Kurva kumulatif Infiltrasi Tanah Pada Sistem OTI Tanpa Mulsa Bagas dan Sistem OTM Tanpa Mulsa Bagas Serta Kurva Kumulatif Infiltrasi Pada Sistem OTI Aplikasi Mulsa Bagas dan Sistem OTM Aplikasi Mulsa Bagas ... 41

6. Double Ring Infiltrometer ... 53

7. Alat-alat Pengukuran Infiltrasi Dilapangan ... 53

(9)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) merupakan tanaman perkebunan yang penting sebagai penghasil gula. Lebih dari setengah produksi gula berasal dari tanaman tebu. Indonesia merupakan salah satu negara importir gula, tebu merupakan salah satu komoditas penting karena di dalamnya terkandung 20% cairan gula. Batang tanaman tebu merupakan sumber gula dengan rendemen gula yang dihasilkan berkisar 6-7% (PT GMP, 2010). Oleh karena itu peningkatan produksi tebu masih perlu ditingkatkan.

(10)

2

Tanah di PT GMP merupakan tanah Ultisol yang didominasi fraksi pasir, yang telah mengalami pelapukan lanjut. Pada umumnya tanah ini mempunyai potensi keracunan Al dan miskin kandungan bahan organik. Tanah ini juga miskin kandungan hara terutama P dan kation-kation dapat ditukar seperti Ca, Mg, Na, dan K, kadar Al tinggi, kapasitas tukar kation rendah, dan peka terhadap erosi (Prasetyo dan Suriadikarta, 2006). Oleh karena itu, berbagai usaha dilakukan untuk memperbaiki tanah ini.

Penerapan kaidah-kaidah konservasi tanah diperlukan untuk mengembalikan fungsi tanah-tanah yang rusak kemudian merehabilitasi tanah-tanah yang rusak secara lestari sehingga apabila ditanami kembali, diharapkan mendapatkan produksi yang baik (Hardjowigeno, 1995). Hal ini sesuai dengan pasal 7 UU RI No.12 Tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman, yaitu pengelolaan lahan wajib mengikuti tata cara yang dapat mencegah timbulnya kerusakan lingkungan hidup dan pencemaran lingkungan berdasarkan azas manfaat, lestari dan berkelanjutan.

(11)

Meskipun pekerjaan mengolah tanah secara teratur dianggap penting, tetapi pengolahan tanah secara intensif dapat menyebabkan terjadinya degradasi tanah yang diikuti dengan kerusakan struktur tanah, peningkatan terjadinya erosi tanah, dan penurunan kadar bahan organik tanah yang berpengaruh juga terhadap infiltrasi tanah. Oleh karena itu, usaha untuk merehabilitasi tanah perkebunan gula PT GMP perlu diusahakan antara lain dengan memanfaatkan mulsa berbasis limbah tebu dan sistem pengolahan tanah konservasi. Dalam usaha rehabilitasi tanah tersebut, perubahan tanah seperti sifat fisik, kimia, dan biologi tanah akan terjadi. Salah satu indikator yang dapat digunakan adalah infiltrasi tanah.

Infiltrasi tanah adalah peristiwa masuknya air ke dalam tanah, yang umumnya melalui permukaan tanah dan masuk secara vertikal (Arsyad, 2010). Jika cukup air, maka infiltrasi akan bergerak terus ke bawah yaitu ke dalam profil tanah. Gerakan air yang masuk secara vertikal ke bawah di dalam profil tanah disebut perkolasi, penggunaan istilah perkolasi ialah menjelaskan pergerakan air dari permukaan tanah yang jenuh kemudian masuk ke bawah daerah perakaran tanaman normal (Arsyad, 2010).

(12)

4

Perbaikan itu dapat dilakukan dengan merubah sistem pengolahan tanahnya dan juga memberikan bahan organik ke dalam tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan sistem OTI dan sistem OTM dengan pemberian bagas sebagai mulsa yang dihasilkan dari sisa produksi gula dari PT GMP, oleh karena itu perlunya penelitian ini agar pemanfaatan lahan dapat dilakukan secara optimal serta tidak mengabaikan segi konservasi tanah.

B. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sistem pengolahan tanah dan pemberian mulsa bagas terhadap laju infiltrasi pada lahan pertanaman tebu (Saccharum officinarumL.) di Lahan PT GMP, Kabupaten Lampung Tengah.

C. Kerangka Pemikiran

Lahan pertanian tebu (Saccharum officinarum L) di PT GMP Gunung Batin Lampung Tengah, telah lebih dari 25 tahun diterapkan sistem OTI. Tujuan pengolahan tanah tersebut adalah untuk mencampur dan menggemburkan tanah, mengontrol tanaman pengganggu, mencampur sisa tanaman dengan tanah, dan menciptakan kondisi kegemburan tanah yang baik untuk pertumbuhan akar tanaman (Gill dan Berg, 1967).

(13)

terhadap dispersi agregat, erosi, dan proses iluviasi yang selanjutnya dapat memadatkan tanah (Pankhurst dan Lynch, 1993).

Penerapan sistem olah tanah yang dilakukan meliputi sistem OTK dan OTI. Sistem OTK terdiri dari sistem TOT dan sistem olah tanah minimum (OTM). Pada sistem TOT, pengendalian gulma dilakukan menggunakan herbisida, gulma yang mati dibiarkan sebagai mulsa. Sedangkan pada sistem OTM, gulma dibabat dengan menggunakan alat mekanis, setelah itu gulma dikembalikan ke lahan pertanaman (Utomo, 2006). Sedangkan sistem OTI yaitu dibajak minimal dua kali, tetapi pada permukaan tanahnya ditutupi mulsa (Utomo, 2006).

Menurut Arsyad (2010), pengolahan tanah dapat menyebabkan kekurangan air (retensi) lebih besar tanpa mengubah kerapatan isi tanah yang berkaitan dengan kelas pori lebih kecil dan menurunnya pori makro. Sedangkan TOT memiliki kandungan bahan organik yang lebih tinggi, akibatnya dapat memperbaiki agregat dan stabilan air.

(14)

6

Hasil penelitian Manik, dkk., (1996) menunjukkan bahwa OTI untuk jangka panjang dengan menggunakan alat berat (bajak) dapat menyebabkan kepadatan tanah yang tinggi, terutama pada lapisan bawah bajak (kedalaman 30 cm), dan dapat menurunkan jumlah pori makro sehingga ruang pori pada lapisan atas/permukaan tanah sangat peka terhadap erosi, terutama erosi percik. OTI cenderung meningkatkan erosi yang dapat menyebabkan kehilangan bahan organik dan unsur hara yang ada didalam dalam tanah. Pengolahan tanah intensif dilakukan dengan alat-alat berat seperti traktor dalam jangka yang lama akan terjadi pemadatan tanah yang menyebabkan kurangnya jumlah pori yang terisi udara.

Penurunan laju dan kapasitas infiltrasi disebabkan oleh rusaknya struktur tanah, diawali penurunan kesetabilan agregat tanah akibat pukulan air hujan dan kekuatan limpasan permukaan. Penurunan kestabilan agregat tanah berkaitan dengan penurunan kandungan bahan organik tanah, aktivitas perakaran tanaman dan mikroorganisme tanah. Hal ini menyebabkan agregat tanah relatif mudah pecah, sehingga menjadi agregat atau partikel kecil. Agregat atau partikel-partikel yang halus akan terbawa aliran air ke dalam tanah sehingga menyebabkan penyumbatan pori tanah, hal ini mengakibatkan kemampuan tanah untuk mengalirkan air mengalami penurunan dan limpasan permukaan akan meningkat (run off) (Baver, dkk., 1972).

(15)

perbandingan 5:3:1 berpotensi digunakan sebagai bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki kualitas tanah di PT GMP.

Perbedaan penerapan sistem olah tanah dapat mempengaruhi sifat fisik tanah terutama laju infiltrasi. Oleh karena itu, pengkajian terhadap perbedaan penerapan sistem olah tanah dan pemberian mulsa bagas terhadap infiltrasi di lahan pertanaman tebu (SaccharumofficinarumL.) penting dilakukan.

D. Hipotesis

Hipotesis yang diajukan pada penelitian ini adalah:

1. Kapasitas dan kecepatan/laju infiltrasi pada pertanaman tebu (Saccharum officinarum L) pada sistem OTI lebih tinggi dibandingkan dengan sistem OTM.

2. Kapasitas dan kecepatan/laju infiltrasi pada tanah yang diberi mulsa bagas lebih tinggi daripada tanpa mulsa bagas.

(16)

28

III. BAHAN DAN METODE

A. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan pada Juli 2011 sampai pada bulan September 2011 dan pengamatan infiltrasi dilakukan pada bulan Juli 2011 (selesai panen tebu). Penelitian ini dilakukan di lahan pertanaman tebu (Saccharum officinarium L) di PT GMP, Lampung Tengah. Pengukuran infiltrasi langsung dilakukan di lahan PT GMP dan analisis contoh tanah dilakukan di Laboratorium Ilmu Tanah, Jurusan AGT, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar lampung.

B. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya adalah sekop, cangkul, gayung, kayu/ papan, palu karet/ kayu, ember, drum, penggaris, plastik, meteran, stop watch, ring sampel (untuk mengambil contoh tanah dalam menentukanbulk density), oven, timbangan elektrik,soil moisture tester(alat pengukur kelembaban tanah), thermometer tanah, dandouble ring infiltrometer (untuk pengukuran laju infiltrasi tanah).

(17)

MOP sampel tanah untuk menentukan penetapan kadar air dan ruang pori tanah, kerapatan isi, dan air untuk mengukur laju infiltrasi.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan secara split plot dalam rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 kali ulangan. Petak utama yaitu sistem olah tanah, yang terdiri dari OTI (T1) dan OTM (T0). Anak petak adalah aplikasi mulsa bagas, yang terdiri dari mulsa bagas 80 t ha-1 (M1) dan tanpa mulsa bagas 80 t ha-1 (M0). Dengan demikian terbentuk 4 kombinasi perlakuan dengan 5 kelompok sehingga diperoleh 20 satuan petak percobaan. Adapun kombinasi perlakuan yang diterapkan adalah sebagai berikut:

T1M1= olah tanah intensif + mulsa bagas 80 t ha-1 T1M0= olah tanah intensif tanpa mulsa bagas T0M1= olah tanah minimum + mulsa bagas 80 t ha-1 T0M0= olah tanah minimum tanpa mulsa bagas

(18)

30

D. Pelaksanaan Penelitian

1. Pengelolaan Lahan

Penelitian ini merupakan penelitian jangka panjang yang berlangsung selama 10 tahun, dimulai pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian pada musim tanam pertama. Jenis tanaman tebu yang digunakan adalah varietas RGM 00-838. Lahan pada percobaan ini dibagi menjadi 20 petak percobaan sesuai dengan perlakuan dan ukuran tiap petak 25 m x 40 m. Pemberian pupuk sesuai dengan dosis yang biasa diaplikasikan di PT GMP yaitu Urea 300 kg ha-1, TSP (Tiple Super Phoshate) 200 kg ha-1 dan MOP (Muriate of Potast) 300 kg ha-1 diaplikasikan pada semua plot. Pada petak OTI, tanah diolah sesuai dengan sistem pengolahan tanah yang diterapkan di PT GMP yaitu sebanyak 3 kali pengolahan, yaitu :

a. Olah tanah I

Pada olah tanah I ini bertujuan untuk memecah tunggul tebu dan membolak-balik tanah. Implemen yang digunakan adalah bajak piringan atau menggunakan bajak garu dengan kedalaman piringan 20-30 cm yang ditarik dengan menggunakan traktor.

b. Olah tanah II

(19)

c. Olah tanah III

Pada olahn tanah III bertujuan untuk membalikan tanah bawahan ke atas dan sekaligus memecahkan lapisan kedap air untuk mendapatkan tanah yang mampu mendukung perkembangan akar tanaman. Alat yang digunakan yaitu bajak Ripperl.

Aplikasi BBA 80 t ha-1dilakukan pada saat pengolahan tanah II, di campur atau di aduk dengan tanah. Mulsa bagas diaplikasikan setelah penanaman tebu dengan dosis 80 t ha-1 untuk petak yang menggunakan mulsa bagas. Pada petak OTI, gulma dikendalikan secara manual dan sisa tumbuhan gulma dikembalikan ke lahan sebagai mulsa untuk petak yang menggunakan mulsa bagas. Sedangkan untuk petak yang tanpa menggunakan mulsa bagas, sisa tumbuhan gulma dikeluarkan dari petak percobaan.

(20)

32

2. Pengambilan Contoh Tanah

Penentuan lokasi pengambilan contoh tanah yang diamati dilakukan sebelum melakukan pemasangan alat double ring infiltrometer. Pengambilan contoh tanah di sekitar tabung infiltrometer diambil pada kedalaman 0-20 cm dengan menggunakan ring sample dan kemudian contoh tanah dimasukan ke dalam plastik.

3. Analisis Tanah

Analisis tanah pendukung dianalisis di Laboratorium Ilmu Tanah, Jurusan AGT, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung, Bandar lampung, yang meliputi kadar air tanah, ruang pori tanah total, kerapatan isi. Kelembaban tanah dan suhu tanah langsung dilakukan di lokasi percobaan PT GMP pada saat sebelum melakukan pemasangan alatdouble ring infiltrimeter,dengan menggunakan alatsoil moisture testerdanthermometertanah.

4. Pengamatan Infiltrasi Tanah

(21)

Menghitung laju infiltrasi menggunakan double ring infiltrometer :

a. Ring pengukur dibenamkan secara vertikal ke dalam tanah sedalam 10 cm dan ring penyangga sedalam 5 cm menggunakan balok kayu. Setelah dibenamkan maka kedalaman ring cukup untuk membuat ring kuat berdiri, diameter ring yang digunakan 30 cm. Pada double ring infiltrometer yang digunakan, maka ring pengukur dibenamkan terlebih dahulu sebelum ring penyangga. Perekatan dengan menggunakan liat dilakukan untuk menghindari kebocoran disekitar dinding ring.

b. Ring pengukur digenangi dengan tingkat kedalaman yang konstan, dan diukur kecepatan masuknya air ke dalam tanah pada ring pengukur (Gambar 3) .

c. Tinggi genangan bekisar antara 10 cm. Cara yang paling sederhana adalah dengan menambahkan air secara manual. Untuk mengetahui kapan air harus ditambahkan, diperlukan penunjuk/pointer (yang paling sederhana adalah penggaris). Ketika permukaan air dalam ring pengukur turun dan sampai pada titik penunjuk (pointer), maka dilakukan penambahan air sampai permukaan air dalam ring kembali ke titik awal. Rata-rata laju infiltrasi dihitung dari volume penambahan air dan interval waktu penambahan.

(22)

34

E. Analisis Data

Analisis data yang digunakan setelah data hasil pengukuran dengan menggunakan double ring infiltrometer (infiltrometer dua cincin) dalam penentuan laju infiltrasi yaitu menggunakan Model Persamaan Philip, yaitu

= =1 2

/ +

yakni:

i : Laju Infiltrasi

S : Sorpsivitas (mm jam-1/2) t : Akumulasi waktu (menit)

A : Transmisivitas (mm jam-1) Philip (1957 dalam Mbagwu, 1997).

di introduksi ke program CurveExpert 1.3 untuk mempermudah perhitungan nilai Sorpsivitas dan Transmisivitas. Sedangkan borang pengisian laju infiltrasi mengikuti tata cara FAO (1987).

F. Pengamatan

1. Variabel utama

Variabel utama yang diamati yaitu:

(23)

2. Variabel pendukung

Variabel pendukung yang diamati yaitu:

a. Bulk density(kerapatan isi) (g/Cm3). b. Kadar air (%).

(24)

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Dari hasil dan penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Kapasitas dan kecepatan laju infiltrasi pada sistem OTI lebih tinggi dibandingkan dengan sistem OTM.

2. Kapasitas dan kecepatan laju infiltrasi lebih tinggi terdapat pada perlakuan sistem OTI dengan aplikasi mulsa bagas sehingga aplikasi mulsa bagas berpengaruh meningkatkan laju infiltrasi tanah pada sistem OTI.

3. Terdapat interaksi antara sistem olah tanah dan aplikasi mulsa bagas terhadap laju infiltrasi tanah.

B. Saran

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Afandi. 2004. Metode Analisis Fisika Tanah. Jurusan Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Bandar lampung. 51 hlm.

Agrika, D.P. 2006. Kajian Terhadap Kandungan Bahan Organik Tanah dan Indeks Kemantapan Agregat pada Beberapa Aplikasi Limbah Padat Pabrik Gula di Lahan Perkebunan Tebu PT Gunung Madu Plantations Lampung Tengah. Skripsi. Universitas lampung. Bandar lampung. 58 hlm

Agustina. 2008. Isolasi dan Uji Aktivitas Selulose Mikroba Termofilik Dari Pengomposan Ampas Tebu (Bagasse). Skripsi. Universitas lampung. Bandar Lampung. 64 hlm.

Angelaki, A. M. Sakellariou, Makrantonaki, C. Tzimopoulos and S. Yannopoulos. 2004. Estimation Of Sorptivity at a Sandy Soil Sample. Protection And Restoration of The Environment VII–Mykono.

Aribisala, J.O. 2007. Oil-Water Sorpsivity Estimation for Some Nigerian Soils. Journal of Engineering and Applied Sciences 2 (1) : 219-221.

Arsyad, S. 2010.Konservasi Tanah dan Air. IPB Press. Eds 2. Bogor. 472 hlm. Asdak, C. 2002. Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta. 34 hlm.

(26)

48

FAO - Food And Agriculture Organization of The United Nations. 1987. Irrigation Water Management Training Manual No 5: Irigation Methods. Via Delle Terme Di Caracalla, 00100 Rome, Italy.

Damayani, P. 2009. Pengaruh Aplikasi Kompos Terhadap Kerapatan Isi, Ruang Pori Total, dan Kekuatan Tanah Pada Pertanaman tebu di PT Gunung madu Plantation, Lampung tengah. Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 55 hlm.

Gill, W. R., and G. E. Vanden Berg. 1967. Soil Dynamics in Tillage and Traction. USDA Agric. Hand. U.S. Government Printing Office, Washington, DC.

Hairiah, K., Purnomosidhi, N. Khasanah, N. Nasution, B. Lusiana, dan M. V. Noordwijk. 2003. Pemanfaatan Bagas dan Daduk Tebu untuk Perbaikan Status Bahan Organik Tanah dan Produksi Tebu di Lampung Utara: Pengukuran dan Estimasi Simulasi WANULCAS.Agrivita.25: 30-40. Hakim, N., M.Y. Nyakpa, A.M. Lubis, S.G. Nugroho, M.A.Diha, G.B.Hong, dan

H.H. Bailey.1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 487 hlm.

Hamilton, L. S., and P. N., King. 1992. Daerah Aliran Sungai Hutan tropika, Terjemahan daritropical Forested Watersheds, Gajah Mada University Press, Yogyakarta Indonesia.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Penerbit PT Raja Grafindo Persada: Jakarta. 36 hlm.

Hanolo, W., T. Syam, Sugiatno, dan M. Utomo. 1996. Pengaruh Pola Tanaman dan Olah Tanah terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Kentang di Lampung Barat.J. Tanah Trop.3 : 41-45.

Harahap, F. S. 2010. Pengujian Pengolahan tanah Konservasi dan Inokulasi Mikoriza Terhadap Sifat Fisika dan Kimia Tanah serta Produksi Beberapa Varietas Kacang Tanah (Arachis hypogeae, L). Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. 52 hlm.

Hardjowigeno, S. 1995. Klasifikasi Tanah dan Pedogenesis. Edisi pertama. Penerbit Akademika Pressindo: Jakarta. 56 hlm.

(27)

Manik, K. E. S., Afandi, dan S. B. Yuwono. 1996. Studi Pemadatan Tanah Pada Beberapa Penggunaan Lahan di Lereng Tengah Gunung Betung. J. TanahTrop. 2(2): 1-6.

Marshall, T. J., and J. W. Holmes. 1988. Soil Physics. Cambridge University Press. New York.

Mbagwu, J.S.C. 1997.Soil Physical Properties Influencing the Fitting Parameters in Philip and Kostiakov Models. International Atomic Energy Agency and International Centre For Theoretical Physics.

Negara, L. P. 2007. Pengaruh Sistem Olah Tanah Pada Pertanaman Jagung Terhadap Pemadatan Tanah Inceptisol di Metro Kibang Lampung Timur.Skripsi. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 40 hlm. Pankhurst, C.E., and J.M. Lynch. 1993. The Role of Soil Biota in Sustainable

Agriculture. p 3-9. In C.E. Pankhurst, B.M. Doube, V.V.S.R. Gupta, and P.R. Grace (Eds.) Soil Biota: Management in Sustainable Farming Systems. CSIRO Press, Melbourne, Australia.

Prasetyo, B.H. dan D.A. Suriadikarta. 2006.Karakteristik, Potensi, dan Teknologi Pengelolaan Tanah Ultisol Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia. Balai Penelitian Tanah. Bogor.

PT GMP. 2010. Pengolahan Tanah. www. Gunungmadu.co.id. Diakses tanggal 20 Agustus 2011.

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 2004. Petunjuk Teknis Pengamatan Tanah. Departemen Pertanian Republik Indonesia.

Saidi, A., dan Adrinal 2009. Perbaikan Sifat Fisik-Kimia Tanah Melalui Pemulsaan Organik dan Penerapan Teknik Olah Tanah Konservasi Pada Budidaya Jagung.J. TanahTrop. 7 : 1-6.

Sanjaya, I. 2000. Aktivitas Enzim Selama Proses Pengomposan Beberapa Jenis Limbah Organik.Skripsi.Unila. Bandar Lampung. 58 hlm.

Sartono. 1995. Pengaruh Sistem Olah Tanah dan Mulsa terhadap Produksi Tebu (Sacharum officinarum L.) Lahan Kering Pada Ultisol Gunung Madu. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. 54 hlm.

(28)

50

Slamet. 2007. Tebu (Saccharum officinarum,L).

http ://warintek.progressio.or.id/perkebunan/tebu.htm. Diakses tanggal 20 Oktober 2011. 6 hlm.

Subagyo, H., N. Suharta dan A. B. Siswanto. 2004. Tanah-tanah Pertanian di Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah dan Agroklimat, Bogor. 21-66 hlm.

Subowo, G., E. Sumantri, A. Kentjanasari, dan I. Anas. 2003. Pengaruh Pengolahan Tanah, Ameliorasi, dan Inokulasi Pheretima hupiensis Terhadap Pertumbuhan Gulma dan Kedelai di Ultisol. Prosiding Simposium Nasional Pendayagunaan Tanah Masam. Puslittanak. Bogor. 310–319 hlm.

Sugiarto, Y. 2000. Dasar-Dasar Cara Kerja di Processing PT Gunung Madu Plantations. Lampung. 86 hlm.

Suryatmojo, H. 2006. Konsep Dasar Hidrologi Hutan. Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta. 58 hlm.

Tim Penulis Penebar Swadaya. 1992. Pembudidayaan Tebu di Lahan Sawah dan Tegalan. Penebar Swadaya. Jakarta. 112 hlm.

Tim Penyusun Praktikum DDIT, 2010. Dasar-Dasar Ilmu Tanah .Universitas Lampung. 1-25 hlm.

Troeh, F.R.J. Hobbs, and R.L. Donahue. 1980. Soil and water conservation for productivity and environmental protection. Prentice Hall Inc. Englewood Cliffs. New Jersey.

Utomo, W. H. 1994. Kekerasan Tanah dan Serapan Fisik Tanah Syarat Mutlak Untuk Sistem Pertanian Terlanjutkan. Sains dan Teknologi. Gula IndonesiaXIX (1) : 9-13 hlm.

Utomo, M. 1995. Reorientasi Kebijakan Sistem Olah Tanah. Prosid. Sem. Nas-V BDP-OTK.Bandar Lampung. 1-7 hlm.

Utomo, M. 2006. Bahan Buku Pengelolaan Lahan Kering Berkelanjutan. Universitas Lampung. Bandar Lampung. 25 hlm.

(29)

Yogasara, Y. 2011. Pengaruh Sistem Olah Tana Terhadap Laju Infiltrasi Pada Pertanaman Jagung (Zea mays L) Di Segala Mider Tanjung Karang Barat Bandar Lampung. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Lampung. 36 hlm.

(30)

SANWACANA

Rasa syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan segala rahmat, hidayah, dan inayahNya serta segala nikmat yang tak terhingga. Pada kesempatan ini, dengan segenap kerendahan hati dan rasa hormat, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Irwan Sukri Banuwa, M. Si., selaku pembimbing pertama, yang telah memberikan motivasi, ide-ide cemerlang, bimbingan yang tiada tara, dan pengorbanan baik moril yang tak terhingga selama penulis menjalankan, merencanakan dan melaksanakan penelitian hingga penulisan skripsi ini hingga penulisan skripsi ini berakhir.

2. Ibu Prof. Dr. Ir. Ainin Niswati, M. Agr. Sc., selaku Ketua Bidang Ilmu Tanah dan sekaligus pembimbing Kedua yang telah memberikan motivasi, ide-ide cemerlang, bimbingan, dan pengorbanan baik moril maupun materil yang tak terhingga selama penulis menjalankan, merencanakan, dan melaksanakan penelitian hingga penulisan skripsi ini hingga penulisan skripsi ini berakhir . 3. Bapak Dr. Ir. Afandi, M.P., selaku Pembahas yang telah memberikan segala

petunjuk, saran, serta pengarahan dalam penulisan skripsi ini.

(31)

6. Seluruh dosen-dosen Jurusan Ilmu Tanah khususnya dan Fakultas Pertanian pada umumnya yang telah memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menempuh pendidikan di Universitas Lampung.

7. Tim GMP; Ibu Sri Haryani Cici, S.P, Bapak Ir. Heru Gunarto, Bapak Ir.Koko Wijayanto, M.P, serta seluruh karyawan dan karyawati PT GMP atas kerja sama, bimbingan, dan bantuan selama penelitian di Lapangan.

8. Tim Kelompok Penelitian GMP Syafri Yudin SP atas suka duka selama ini. 9. Papa dan Mama yang telah sabar untuk mencurahkan segala kasih sayang,

perhatian, do’a yang tulus, dan dorongan moril maupun materil di sepanjang

hidupku ini.

10. Kakak dan adik ku tercinta; Ayuk Dessy Milistiawaty,. A.Md, Adek Arif Thobary, dan Adek Devi Kurniawaty yang telah memberikan cinta dan kasih sayang serta motivasi yang penuh perhatian.

11. Teman-teman angkatan Ilmu Tanah 2006; Syafriyudin, S.P., Sucipto, S.P., Asri Nurmalasari, S.P., Yogi Yogasara, S.P., dan Teman-teman Ilmu Tanah yang tidak dapat disebutkan satu per satu serta semua pihak yang telah banyak membantu selama pelaksanaan dan pembuatan skripsi ini.

(32)

Banda Lampung, Desember 2012 Penulis,

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...