• Tidak ada hasil yang ditemukan

ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

ICU DELIRIUM PADA PASIEN YANG DIRAWAT

di INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RUMAH SAKIT UMUM

PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN

SKRIPSI Oleh Iwan Matsum NIM : 051101025

FAKULTAS KEPERAWATAN

(2)

Departemen Pendidikan Nasional – Universitas Sumatera Utara

FAKULTAS KEPERAWATAN

Jl. Prof. Ma’as No. 3 Medan – 20155 Tlp. (061) 8213318

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SIDANG SKRIPSI

Nama : Iwan Matsum

Nim : 051101025

Judul Penelitian : ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive

Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam

Malik Medan

Telah memenuhi persyaratan penulisan skripsi sesuai Pedoman Penulisan

Proposal Skripsi Mahasiswa S 1 Keperawatan USU tahun 2009 dan dapat

melaksanakan ujian sidang skripsi.

Medan, 30 Juni 2010 Pembimbing Penelitian,

(3)

Judul : ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Nama : Iwan Matsum

Nim : 051101025

Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2010

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ICU delirium pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Desain penelitian adalah deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Sampel sebanyak 32 orang terdiri dari 19 orang pasien berjenis kelamin laki-laki dan 13 orang pasien berjenis kelamin perempuan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode penilaian untuk ICU delirium yang meliputi data demografi, gangguan perhatian/ konsentrasi dan gangguan pikiran. Kemudian data yang diperoleh diolah dengan menggunakan teknik komputerisasi dan dideskripsikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.

Hasil penelitian menunjukan dari 32 subjek penelitian terdapat 9 Orang pasien yang tidak mengalami ICU delirium (28,13%) dan 23 orang pasien mengalami ICU delirium (71,87%) yang terdiri dari 9 orang pasien (28,13%) mengalami ICU delirium ringan, 11 orang pasien (34,37%) mengalami ICU delirium sedang dan hanya 3 orang pasien (9,37%) yang mengalami ICU delirium berat.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa ICU delirium di Intensive Care Unit (ICU) terjadi sampai dengan 71,87%. yang terdiri ICU delirium ringan, sedang dan berat.

(4)

PRAKATA

Puji syukur kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayahNyalah penulis

dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ICU Delirium Pada Pasien Yang

Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam

Malik Medan.”

Dalam penyusunan skripsi ini penulis mendapakan bantuan, bimbingan, dan

dukungan dari berbagai pihak dengan memberikan butir-butir pemikiran yang

sangat berharga bagi penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh

karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Dr. Dedi Ardinata, M.Kes sebagai Dekan Fakultas Keperawatan Universitas

Sumatera Utara.

2. Erniyati, S.Kp, MNS sebagai Pembantu Dekan I Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara.

3. Ikhsannuddin A. Harahap,S.Kp, MNS sebagai Pembantu Dekan III sekaligus

sebagai dosen pembimbing skripsi penulis yang telah meluangkan waktunya

untuk memberikan arahan, bimbingan, dan ilmu yang bermanfaat dalam

penyusunan skripsi ini.

4. Bapak Dudut Tanjung, SKp, MKep, SpKMB selaku dosen penguji II, Bapak

Mula Tarigan, SKp, M.Kes selaku dosen penguji III, Ibu Fatwa Imelda, S.Kep

selaku penasehat Akademik yang senantiasa meluangkan waktu, masukan dan

saran yang berharga bagi penulis dalam penulisan skripsi ini dan seluruh staf

pengajar beserta staf administrasi di Fakultas Keperawatan Universitas

(5)

5. Rekan-rekan mahasiswa S1 Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera

Utara, khususnya stambuk 2005 yang telah memberikan semangat dan

masukan dalam penyusunan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak

terdapat kekurangan baik dalam penulisan, pengetikan maupun percetakan.

Karena itu penulis sangat mengharakan kritik dan saran yang sifatnya

membangun. Akhirnya, penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak

yang turut membantu dalam penyelesaian skripsi ini.

Medan, Juni 2010

Penulis

(Iwan Matsum)

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Judul

Lembar Persetujuan

Abstrak ... i

1.4. Faktor-Faktor Resiko ICU Delirium ………... 10

1.4.1. Faktor Presipitasi ……… 10

1.4.2. Faktor Predisposisi ……….…………... 12

1.5. Manifestasi Klinis ………... 13

1.6. Pencegahan dan Penanganan ICU Delirium ……... 14

(7)

3. Definisi Operasional ………... 21

6. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ………... 26

7. Pengumpulan Data ………... 27

8. Analisa Data ………... 27

BAB 5. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ……... 28

1. Hasil Penelitian ………... 28

1.1. Karakteristik Subjek Penelitian ………... 29

1.2. Distribusi ICU Delirium pada Pasien di Intensive Care Unit (ICU) ………... 31

1.3. Distribusi frekuensi ICU Delirium dilihat dari Komponen ICU Delirium ………... ……….... 32

1.3.1. Distribusi frekuensi ICU delirium dilihat dari gangguan perhatian/ berkonsentrasi ……… 32

1.3.2. Distribusi Frekuensi ICU delirium dilihat dari gangguan pikiran ……… 33

2. Jadwal Tentatif Penelitian 3. Taksasi Dana

(8)

DAFTAR SKEMA

(9)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Karakteristik subjek penelitian ………. 30 Tabel 2 Distribusi ICU delirium pada pasien di Intensive Care

Unit (ICU)……….. 31

(10)

Judul : ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Nama : Iwan Matsum

Nim : 051101025

Jurusan : Sarjana Keperawatan (S.Kep) Tahun : 2010

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ICU delirium pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Desain penelitian adalah deskriptif. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Sampel sebanyak 32 orang terdiri dari 19 orang pasien berjenis kelamin laki-laki dan 13 orang pasien berjenis kelamin perempuan. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 16 Januari 2010. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode penilaian untuk ICU delirium yang meliputi data demografi, gangguan perhatian/ konsentrasi dan gangguan pikiran. Kemudian data yang diperoleh diolah dengan menggunakan teknik komputerisasi dan dideskripsikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase.

Hasil penelitian menunjukan dari 32 subjek penelitian terdapat 9 Orang pasien yang tidak mengalami ICU delirium (28,13%) dan 23 orang pasien mengalami ICU delirium (71,87%) yang terdiri dari 9 orang pasien (28,13%) mengalami ICU delirium ringan, 11 orang pasien (34,37%) mengalami ICU delirium sedang dan hanya 3 orang pasien (9,37%) yang mengalami ICU delirium berat.

Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa ICU delirium di Intensive Care Unit (ICU) terjadi sampai dengan 71,87%. yang terdiri ICU delirium ringan, sedang dan berat.

(11)

BAB 1 PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

ICU delirium merupakan salah satu permasalahan yang paling sering

dihadapi oleh perawat didalam ruangan ICU (intensive care unit). Pasien yang

masuk keruang ICU sangat rentan untuk mengalami ICU delirium. Insidensi ICU

Delirium terjadi sekitar 50% dari seluruh jumlah pasien yang menjalani

perawatan di ruang ICU dan jumlah ini dapat semakin meningkat hingga

mencapai 80% atau lebih pada pasien perawatan intensif dan

pasien-pasien usia lanjut (Inouye, 2006; Esper & Heidrich, 2005; Wesley et al, 2003).

Di negara maju seperti Amerika Serikat, setiap hari pasien-pasien ICU

sedang mengalami ICU delirium sekitar 30.000 sampai 40.000 pasien (Wesley,

2002). Ini merupakan masalah sedang menjadi lebih besar setiap tahunnya.

Selanjutnya Wesley mengatakan bahwa kondisi pasien paling tinggi yang

mengalami delirium sering mencapai 50% sampai dengan 75% dari pasien-pasien

yang secara umum adalah pasien-pasien sakit dengan kritis yang dilihat di dalam

unit gawat darurat atau ICU.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya ICU delirium antara lain faktor

predisposisi gangguan otak organik: seperti demensia, strok, penyakit parkinson,

usia lanjut, gangguan sensorik, dan gangguan multipel. Faktor presipitasi

(12)

malnutrisi, dan pemakaian kateter buli-buli. Penggunaan anestesia juga

meningkatkan resiko ICU delirium, terutama pada pembedahan yang lama.

Bagaimanapun, penyebab ICU delirium merupakan banyak faktor, dua sampai

enam faktor bisa muncul pada kasus-kasus ICU delirium.

Data dari sejumlah penelitian dan berbagai disiplin ilmu telah menguraikan

realitas disfungsi kognitif penyakit kritis terkait dengan kerusakan dalam

kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari secara normal, penurunan

kualitas hidup, dan ketidakmampuan untuk kembali bekerja, dan mungkin bersifat

permanen. Banyak orang dalam kondisi fisik yang baik mengalami penyakit akut,

penurunan kognitif adalah ancaman utama bagi kemampuan mereka untuk pulih

dan melakukan aktivitas mereka, bagi mereka yang kegiatan fisiknya sudah

terbatas, penurunan kognitif merupakan tambahan besar sebagai ancaman

terhadap kualitas hidup (Wesley et al, 2000).

Di ICU, ICU delirium terjadi sampai 80% dari pasien yang dirawat, tetapi

ring kesulitan dalam menilai keadaan mental pasien sehingga diperlukan penilaian

tingkat ICU delirium pasien untuk membantu dalam diagnosis ICU delirium

(McGuire et al, 2000).

Pentingnya pemantauan ICU delirium sudah direkomendasikan sebagai

praktik standar dalam ICU seluruh dunia (Wesley, 2007). Data dari sejumlah studi

telah menjelaskan beberapa kenyataan menakutkan bahwa disfungsi kognitif

berikut penyakit kritis sangat berkaitan dengan gangguan dalam kemampuan

(13)

dan ketidakmampuan untuk kembali bekerja, dan akibatnya mungkin menjadi

permanen. ICU merupakan tempat yang strategis untuk mendeteksi gangguan ICU

delirium dan memulai penanganan klinis. Perawat di ICU memainkan peran

penting khususnya dalam mengidentifikasi ICU delirium pada pasien sakit kritis

(Wesley, 2008). Selain mengidentifikasi ICU delirium, perawat juga membantu

untuk mengatasi gangguan kognitif dan masalah-masalah psikologis yang bersifat

sementara di ICU.

Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai sumber yang berharga bagi

pengetahuan tentang kesehatan/ medis, bagi pembaca maupun peneliti yang

tertarik untuk belajar tentang ICU delirium pada pasien sakit kritis.. Selain itu,

penelitian ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan meningkatkan

pemantauan untuk disfungsi otak akut pada pasien yang mengalami penyakit

kronis khususnya pasien yang mengalami ICU delirium.

Berdasarkan paparan diatas, maka penulis berkeinginan untuk melakukan

suatu penelitiang tentang “ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive

Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan”.

2. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah untuk

mengidentifikasi ICU delirium pada pasien yang dirawat di Intensive Care Unit

(14)

3. Pertanyaan Penelitian

Pertanyaan dalam penelitian ini adalah bagaimana ICU delirium pada pasien

yang dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam

Malik Medan.

4. Manfaat Penelitian

4.1. Praktek Keperawatan

Hasil penelitian ini akan dapat dijadikan sumber informasi kondisi pasien

ICU yang mengalami ICU delirium dan bermanfaat untuk praktek keperawatan ke

arah pengkajian keperawatan.

4.2. Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini akan dapat dijadikan sebagai bahan bacaan bagi

pendidikan keperawatan dalam mengajarkan asuhan keperawatan dalam bentuk

pengkajian, diagnosa, perencanaan, pelaksanaan dan intervensi keperawatan pada

pasien ICU yang mengalami ICU delirium.

4.3. Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi berharga untuk

penelitian lebih lanjut berkaitan dengan ICU delirium yang dialami oleh

(15)

BAB 2

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

1. ICU Delirium

1.1. Definisi ICU Delirium

Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA)

Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders (DSM)-IV sebagai

gangguan kesadaran dan kognisi yang berkembang selama periode waktu yang

singkat (jam sampai hari) dan berfluktuasi dari waktu ke waktu (Margaret et al,

2008).

ICU delirium adalah jenis sindrom otak organik yang dimanifestasikan oleh

berbagai reaksi psikologis, termasuk ketakutan, kecemasan, depresi, halusinasi,

dan delirium (Weber et al, 2006).

Altman, Milbrandt, Arnold (2000) ICU delirium adalah delirium yang

terjadi di ruang ICU yang berhubungan dengan peningkatan lama rawat di rumah

sakit yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kematian.

ICU delirium merupakan suatu bentuk disfungsi otak akut, mengancam

fungsi kognitif secara menyeluruh yang lazim pada pasien yang mengalami sakit

kritis, terutama orang tua dan pasien yang memerlukan ventilasi mekanis (Smith

(16)

Secara umum ICU delirium didefinisikan sebagai sindrom klinis akut dan

sejenak dengan ciri penurunan taraf kesadaran, gangguan kognitif, disorientasi,

gangguan persepsi, termasuk halusinasi dan ilusi serta gangguan perilaku, seperti

agitasi, gangguan ini berlangsung pendek dan berjam-jam hingga berhari-hari,

tingkat keparahannya berfluktuasi di malam hari, kegelapan bisa mengakibatkan

halusinasi visual dan gangguan perilaku meningkat biasanya reversibel (Wesley et

al, 2005).

1.2. Etiologi ICU Delirium

Mekanisme kejadian ICU delirium tidak sepenuhnya dipahami, tetapi

mungkin melibatkan gangguan reversible metabolisme oksidatif serebral,

beberapa kelainan neurotransmiter, dan generasi dari sitokin (Damping, 2007).

Menurut McGuire et al (2000) ICU delirium disebabkan oleh banyak faktor

antara lain:

1) Penyebab fisiologis

Faktor pengaruh kausal dasar untuk delirium adalah faktor medis dan telah

ditinjau secara komprehensif di tempat lain. tinjauan telah menunjukkan bahwa

faktor yang paling umum termasuk berikut: gangguan metabolisme,

ketidakseimbangan elektrolit, infeksi akut (intrakranial dan sistemik), kejang,

(17)

obat-obatan dan zat-zat penyebab delirium melalui penggunaan atau keracunan dan

penarikan.

Usia pasien menentukan untuk mengalami ICU delirium melalui perubahan

farmakokinetik dan farmakodinamik, mengurangi kapasitas untuk homeostatik

dan struktural penyakit otak dan proses-proses fisiologis terkait dengan penuaan.

Beberapa penelitian telah menunjukkan korelasi yang tinggi antara kognisi dan

pasca-operasi premorbid kebingungan, disorientasi, penurunan kesadaran, dan

bahkan kematian.

2) Kurang Tidur

Penelitian terdahulu telah menunjuk adanya pengaruh kurang tidur dengan

kejadian ICU delirium. Studi eksperimen pada sukarelawan dewasa yang sehat

menegaskan bahwa gerakan mata cepat (REM) dan tidur total kekurangan dapat

menyebabkan beberapa perubahan kognitif dan persepsi, seperti gangguan

konsentrasi, disorientasi, dan gangguan visual. Efek kurang tidur pada kognisi dan

persepsi pada manusia berfluktuasi pada kerusakan kognitif yang dilihat pada

pasien ICU delirium.

3) Lingkungan ICU

Pada pasien ICU, pasien yang tanpa pengawasan dapat menyebabkan isolasi

sosial, imobilisasi, lingku ngan yang tidak dikenalnya, kebisingan yang berlebihan,

dan sensorik monoton atau tidak adanya pencahayaan yang cukup dapat

(18)

4) Faktor Psikologis

Tekanan psikologis yang dapat menyebabkan bingung dan ICU delirium

karena jenis dan tingkat stres pada pasien di ICU sangat tinggi. Pasien secara

simultan terkena ancaman bagi kehidupan, prosedur medis, ketidakmampuan

untuk mengkomunikasikan dan hilangnya kontrol personal.

1.3. Demografi ICU Delirium

Beberapa penulis telah menggambarkan ciri-ciri ICU delirium, tanda-tanda

tanda yang disarankan adalah tingkat kesadaran yang berfluktuasi, disorientasi,

delusi dan halusinasi, perilaku anomali seperti agresi atau kepasifan

(medscape.com, 2001).

Kejadian rata-rata ICU delirium pascaoperasi telah ditemukan menjadi

sekitar 40% (Wesley et al, 2002). Dalam praktiknya, diagnosais formal pada

pasien dengan sakit yang parah sangat sulit.

Di kalangan medis atau bedah umum pasien, frekuensi ICU delirium

bervariasi 15-60% dan merupakan komplikasi paling sering di rawat inap pasien

yang lebih tua (medscape, 2001). Dalam sebuah penyelidikan, perkembangan ICU

delirium terpilih sebagai salah satu dari tiga wilayah sasaran paling penting bagi

(19)

1.4. Faktor-Faktor Resiko ICU Delirium

Banyak penyelidikan selama sepuluh tahun terakhir, dengan menggunakan

berbagai populasi pasien, telah mengidentifikasi sejumlah faktor risiko untuk

perkembangan ICU delirium. Pasien yang sangat rentan terhadap ICU delirium

dapat mengembangkan gangguan fisiologis yang diikuti dengan sedikit stres,

sedangkan mereka yang memiliki kerentanan yang rendah memiliki resiko lebih

berbahaya untuk mengalami ICU delirium (medscape, 2001). Lebih jauh lagi,

prediksi klinis telah berulang kali menunjukkan bahwa sangat mungkin untuk

mengelompokkan pasien ICU ke dalam kelompok berisiko untuk mengalami ICU

delirium, tergantung dari jumlah faktor risiko yang muncul. Bahkan, dengan tiga

atau lebih faktor risiko, kemungkinan berkembang ICU delirium adalah sekitar

60% atau lebih tinggi.

1.4.1. Faktor Presipitasi

Delirium bisa disebabkan oleh penyakit psikis maupun proses yang

bertentangan dengan fungsi atau metabolisme normal otak. Contoh : demam,

sakit, racun-racun (termasuk reaksi obat atau racun), luka otak, perawatan,

goncangan, traumatis, infeksi/ peradangan kandung kemih pada orang-orang lebih

tua (Sims,1995). Selanjutnya Sims mengatakan bahwa berbagai keadaan atau

penyakit mulai dari dehidrasi ringan sampai dengan keracunan obat atau infeksi

yang bisa berakibat fatal bisa menyebabkan delirium. Lebih lanjut lagi Sims

mengemukakan bahwa faktor penyebab ICU delirium Selain pertambahan usia,

(20)

sering didapatkan selain itu juga lama rawat pasien juga dapat menyebabkan

delirium.

Inouye dkk (2004) mengatakan bahwa ada lima faktor presipitasi yang

menurunkan ambang ICU delirium pada usia lanjut yaitu: 1) Pria pada pria

kejadian delirium sangat berhubungan dengan rokok, 2) Tekanan darah tinggi, 3)

Penggunaan banyak obat terutama obat-obatan antikolinergik, anestesi umum, dan

penggunaan alkohol atau benzodiazepine, 4) Adanya peningkatan konsentrasi

sodium di serum, penurunan fungsi fisik, 5) Penurunan fungsi menghadapi stress

juga diidentifikasi sebagai faktor risiko independen pada pasien delirium.

Menurut Truman (2001) penyebab ICU delirium antara lain: 1) Alkohol,

obat-obatan dan bahan beracun, 2) Efek toksik dari pengobatan, 3) Kadar

elektrolit, garam dan mineral (misalnya kalsium, natrium atau magnesium) yang

tidak normal akibat pengobatan, dehidrasi atau penyakit tertentu, 4) Infeksi akut

disertai demam, 5) Hidrosefalus bertekanan normal, yaitu suatu keadaan dimana

cairan yang membantali otak tidak diserap sebagai mana mestinya dan menekan

otak, 6) Hematoma subdural, yaitu pengumpulan darah dibawah tengkorak yang

dapat menekan otak, 7) Meningitis, ensefalitis, sifilis (penyakit infeksi yang

menyerang otak), 8) Kekurangan tiamin dan vitamin B12, 9) Hipotiroidisme

maupun hipertiroidisme, 10) Tumor otak (beberapa diantaranya kadang

menyebabkan linglung dan gangguan ingatan), 11) Patah tulang panggul dan

tulang-tulang panjang, 12) Fungsi jantung atau paru-paru yang buruk dan

menyebabkan rendahnya kadar oksigen atau tingginya kadar karbon dioksida di

(21)

1.4.2. Faktor Predisposisi

Faktor predisposisi membuat seseorang lebih rentan mengalami ICU

delirium, sedangkan faktor presipitasi merupakan faktor penyebab somatik ICU

delirium. Saat ini beberapa penelitian prospektif telah menemukan beberapa

faktor predisposisi ICU delirium pada geriatri yang potensial. Pasien-pasien resiko

paling tinggi adalah pasien yang mempunyai macam-macam penyakit sistemik

seperti gagal jantung kongestif atau sepsis yang mempengaruhi aliran darah otak

dan oksigen (Damping, 2007).

Faktor predisposisi ICU delirium pada gangguan otak organik: seperti

demensia, stroke, penyakit parkinson, usia lanjut, gangguan sensorik, dan

gangguan multiple (Richard dkk, 2002). Penggunaan anestesia juga meningkatkan

resiko ICU delirium, terutama pada pembedahan yang lama, demikian pula pasien

lanjut usia yang dirawat di bagian ICU beresiko lebih tinggi untuk mengalami

ICU delirium (Roan, 2007). Selanjutnya Roan mengatakan bahwa banyak kondisi

sistemik dan obat bisa menyebabkan ICU delirium, contohnya Antikolinergika,

psikotropika, dan opioida. Mekanismenya tidak jelas, tetapi mungkin terkait

dengan gangguan reversibilitas dan metabolisme oxidatif otak, abnormalitas

neurotransmiter multipel, dan pembentukan sitokines (cytokines). Stress dari

penyebab apapun bisa meningkatkan kerja saraf simpatik sehingga mengganggu

fungsi kolinergik dan menyebabkan ICU delirium (Nashville, 2004). Usia lanjut

rentan terhadap penurunan transmisi kolinergik sehingga lebih mudah terjadi

(22)

1.5. Manifestasi klinis

Menurut Margaret et al. (2008) ICU delirium ditandai oleh kesulitan dalam:

1) Konsentrasi dan memfokus, 2) Mempertahankan dan mengalihkan daya

perhatian, 3) Kesadaran naik-turun, 4) Disorientasi terhadap waktu, tempat dan

orang, 5) Halusinasi biasanya visual, 6) Bingung menghadapi tugas sehari-hari, 7)

Perubahan kepribadian dan afek , 8) Pikiran menjadi kacau, 9) Bicara ngawur, 10)

Disartria dan bicara cepat, 11) Neologisma, 12) Inkoheren.

Menurut Wesley et al. (2004) ciri umum penderita ICU delirium adalah

tidak mampu memusatkan perhatian. Ciri-ciri lainya penderita delirium antara

lain: 1) Penderita tidak dapat berkonsentrasi, sehingga mereka memiliki kesulitan

dalam mengolah informasi yang baru dan tidak dapat mengingat peristiwa yang

baru saja terjadi, 2) Hampir semua penderita mengalami disorientasi waktu dan

bingung dengan tempat dimana mereka berada, 3) Fikiran mereka kacau,

menggigau dan terjadi inkoherensia, 4) Pada kasus yang berat, penderita tidak

mengetahui diri mereka sendiri, beberapa penderita mengalami paranoid dan

delusi (percaya bahwa sedang terjadi hal-hal yang aneh), 5) Respon penderita

terhadap kesulitan yang dihadapinya berbeda-beda, ada yang sangat tenang dan

menarik diri, sedangkan yang lainnya menjadi hiperaktif dan mencoba melawan

halusinasi maupun delusi yang dialaminya, 6) Jika penyebabnya adalah

obat-obatan, maka sering terjadi perubahan perilaku. Keracunan obat tidur

menyebabkan penderita sangat pendiam dan menarik diri, sedangkan keracunan

amfetamin menyebabkan penderita menjadi agresif dan hiperaktif, 7) ICU

(23)

lagi tergantung kepada beratnya gejala dan lingkungan medis penderita, 8) ICU

delirium sering bertambah parah pada malam hari (suatu fenomena yang dikenal

sebagai matahari terbenam), 9) Pada akhirnya, penderita akan tidur gelisah dan

bisa berkembang menjadi koma (tergantung kepada penyebabnya).

1.6. Pencegahan dan Penanganan ICU Delirium

Strategi pencegahan ICU delirium sebagian besar terdiri dari meminimalkan

faktor resiko (King & Gratrix, 2009).

Perawatan delirium memerlukan perawatan yang mendasari penyebab

penyebab delirium. Dalam beberapa hal temporer (pereda) atau

perawatan-perawatan yang merupakan gejala digunakan untuk manajemen perawatan-perawatan pasien

delirium (Sims,1995).

McGuire et al. (2000) mengemukakan bahwa pengobatan ICU delirium

meliputi: (1) koreksi atau penghapusan faktor-faktor penyebab; (2) pilihan yang

sesuai, dosis, dan rute anxiolytic administrasi dan agen antipsikotik; (3)

pengurangan atau penghapusan sumber stres lingkungan; dan (4) pasien dan

keluarga sering komunikasi Akhirnya, pencegahan sindrom ICU melalui

keterlibatan dokter, perawat, dan apoteker ditekankan.

Langkah yang paling penting dalam manajemen awal penanganan ICU

delirium adalah mengidentifikasi ICU delirium serta melakukan upaya-upaya

(24)

Seringkali hal ini dapat dilakukan dengan menilai keberadaan faktor risiko yang

diketahui. Selanjutnya, pencegahan dan pengobatan harus fokus pada

minimalisasi faktor resiko ICU delirium.

Tujuan penanganan ICU delirium adalah untuk meningkatkan status kognitif

pasien dan mengurangi risiko yang merugikan seperti aspirasi, imobilitas

berkepanjangan, meningkatnya waktu perawatan akut, institusionalisasi, dan

kematian.

Menurut Pandharipande et al. (2006) Pencegahan dan pengobatan ICU

delirium dapat dilakukan dengan 2 cara nonfarmakologi dan farmakologi.

1.5.1. Nonfarmakologi

Pencegahan primer lebih disukai, namun, beberapa derajat igauan yang tak

terelakkan di ICU. Walaupun tidak ada data tentang pencegahan primer

(nonfarmakologi) di ruang ICU. Pencegahan nonfarmakologi ICU delirium

berfokus pada meminimalkan faktor-faktor risiko. Strategi intervensi yang

dilakukan meliputi: 1) Reorientasi ulang pasien, 2) Tentukan kegiatan untuk

merangsang kognitif pasien, 3) Tidur/ istirahat sebagai bagian dari prosedur

nonfarmakologi, 4) Melakukan kegiatan mobilisasi dini, dengan mengajarkan

pasien melakukan latihan dengan berbagai gerakan, 5) Mencabut kateter tepat

pada waktunya untuk mengatasi hambatan fisik pasien, 6) Penggunaan kacamata

(25)

tidaknya dehidrasi. Strategi untuk pencegahan dan manajemen ICU delirium di

ICU merupakan hal penting bagi penyelidikan masa depan.

1.5.2. Farmakologi

Langkah pertama dalam pengobatan farmakologi ICU delirium adalah

menilai penggunaan obat-obatan yang dapat menyebabkan atau memperburuk

ICU delirium (Jacobi et al, 2002). Lebih lanjut Jakobi et al mengemukakan bahwa

penggunaan obat penenang yang tidak tepat atau analgesik dapat memperburuk

gejala ICU delirium. Sebagai contoh penggunaan benzodiazepine dan narkotika

yang sering digunakan diruangan ICU untuk mengobati ICU delirium dapat

memperburuk kognisi dan memperparah ICU delirium.

Lebih jauh lagi Jacobi et al mengatakan bahwa American Psychiatric

Association dan Society of Critical Care Medicine merekomendasikan haloperidol

untuk pengobatan ICU delirium, Haloperidol adalah antagonis reseptor dopamin

yang bekerja dengan menghambat dopamin neurotransmisi, dengan dihasilkannya

perbaikan yang positif dalam simtomatologi (halusinasi, gelisah dan perilaku

agresif) seringkali menghasilkan efek obat penenang. Haloperidol dan obat yang

sama misalnya droperidol belum diteliti secara ekstensif di ICU, meskipun kedua

obat digunakan secara luas. Disamping haloperidol, obat lain antipsikotik/

neuroleptic agen (misalnya, risperidol, ziprasidone, quetiapine, dan olanzapine)

terutama dengan afinitas reseptor yang lebih luas digunakan untuk pengobatan

(26)

2. Pasien ICU

Pasien yang dirawat di ICU adalah pasien yang sakit gawat bahkan dalam

keadaan terminal yang sepenuhnya tergantung pada orang yang merawatnya dan

memerlukan perawatan secara intensif. Pasien ICU yaitu pasien yang kondisinya

kritis sehingga memerlukan pengelolaan fungsi sistem organ tubuh secara

terkoordinasi, berkelanjutan, dan memerlukan pemantauan secara terus menerus

(Hanafie, 2007; Rabb, 1998).

Pasien ICU tidak hanya memerlukan perawatan dari segi fisik tetapi

memerlukan perawatan secara holistik. Kondisi pasien yang dirawat di ICU

(Hanafie, 2007; Rabb, 1998) yaitu: 1 ) Pasien sakit berat, pasien tidak stabil yang

memerlukan terapi intensif seperti bantuan ventilator, pemberian obat vasoaktif

melalui infus secara terus menerus, seperti pasien dengan gagal napas berat,

pasien pasca bedah jantung terbuka, dan syok septic, 2) Pasien yang memerlukan

bantuan pemantauan intensif sehingga komplikasi berat dapat dihindari atau

dikurangi seperti pasien pasca bedah besar dan luas, pasien dengan penyakit

jantung, paru, dan ginjal, 3) Pasien yang memerlukan terapi intensif untuk

mengatasi komplikasi-komplikasi dari penyakitnya seperti pasien dengan tumor

ganas dengan komplikasi infeksi dan penyakit jantung.

Dari pemaparan di atas bahwa pasien yang dirawat di ruang ICU sangat

rentan untuk mengalami ICU delirium selain karena gangguan kesadaran dan

kognisi penggunaan obat-obatan dapat memicu untuk terjadinya ICU delirium

(27)

sakit terjadi 15% sampai dengan 25%, di bangsal medis umum dapat mencapai

(28)

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

1. Kerangka Konsep

Delirium didefinisikan dalam American Psychiatric Association's (APA)

Diagnostik dan Statistik Manual of Mental Disorders (DSM)-IV sebagai

gangguan kesadaran dan kognisi yang berkembang selama periode waktu yang

singkat (jam sampai hari) dan berfluktuasi dari waktu ke waktu (Margaret et al,

2008).

ICU delirium adalah jenis sindrom otak organik dimanifestasikan oleh

berbagai reaksi psikologis, termasuk ketakutan, kecemasan, depresi, halusinasi,

dan delirium (Weber et al, 2006).

Mekanisme kejadian delirium tidak sepenuhnya dipahami, tetapi mungkin

melibatkan gangguan reversible metabolisme oksidatif serebral, beberapa kelainan

neurotransmiter, dan generasi dari sitokin (Damping, 2007).

Menurut Margaret et al. (2008) ICU delirium ditandai oleh kesulitan dalam:

1) Konsentrasi dan memfokus, 2) Mempertahankan dan mengalihkan daya

perhatian, 3) Kesadaran naik-turun, 4) Disorientasi terhadap waktu, tempat dan

orang, 5) Halusinasi biasanya visual, 6) Bingung menghadapi tugas sehari-hari, 7)

Perubahan kepribadian dan afek , 8) Pikiran menjadi kacau, 9) Bicara ngawur, 10)

(29)

Tujuan penanganan ICU delirium adalah untuk meningkatkan status kognitif

pasien dan mengurangi risiko yang merugikan seperti aspirasi, imobilitas

berkepanjangan, meningkatnya waktu perawatan akut, institusionalisasi, dan

kematian.

Menurut Pandharipande et al. (2006) Pencegahan dan pengobatan ICU

delirium dapat dilakukan dengan 2 cara nonfarmakologi dan farmakologi.

2. Kerangka Penelitian

Kerangka penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ICU delirium pada

pasien yang dirawat di ICU Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.

Pada penelitian ini fokus yang akan diteliti mencakup ICU delirium.

Skema 1 Kerangka Penelitian

Pasien ICU

Metode Penilaian

Untuk ICU Delirium ICU Delirium Sedang

ICU Delirium Berat ICU Delirium

(30)

3. Definisi Operasional

ICU delirium adalah gangguan fungsi kognisi yang terjadi secara mendalam

yang dialami oleh pasien-pasien yang dirawat di ruang ICU yang diindentifikasi

berdasarkan komponen ICU delirium yang dibagi menjadi gangguan perhatian/

berkonsentrasi dan gangguan pikiran yang diobservasi selama 10 menit dengan

(31)

BAB 4

METODE PENELITIAN

1. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif yang bertujuan

untuk mengidentifikasi tingkat delirium pada pasien yang dirawat di ICU.

2. Populasi dan Sampel

2.1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah 100 orang pasien ICU yang dirawat di

ruang Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik

Medan.

2.2. Sampel

Dalam penelitian ini penentuan besar sampel berjumlah 32 responden yang

didapatkan dengan menggunakan tabel power analisis (Polit & Hungler, 1999)

yang memperkirakan jumlah sampel berdasarkan derajat ketepatan (α) yang

besarnya 0,05, analisis kekuatan (β) dan efek size (γ)sehingga didapatkan sampel

sebanyak 32. Tehnik pengambilan sampel yang dilakukan dalam penelitian ini

purposive sampling yaitu suatu teknik penetapan sampel sesuai dengan yang

dikehendaki peneliti sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik

populasi yang telah dikenal sebelumnya (Nursalam, 2003). Sehingga sample

(32)

Kriteria sampel yang dikehendaki yaitu: 1) Pasien yang dirawat diruang ICU,

bersedia untuk diwawancarai dan dijadikan responden serta pasien telah

mendapatkan perawatan di ICU, 2) pasien dalam keadaan sadar, 3) Pasien tidak

mengalami gangguan penglihatan (buta), 4) pasien tidak mengalami gangguan

pendengaran.

3. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan,

dengan pertimbangan bahwa di rumah sakit tersebut banyak terdapat pasien yang

dirawat diruang ICU yang memiliki kriteria yang sama. Serta belum pernah

dilakukan penelitian tentang Kejadian ICU delirium serta hubungannya dengan

lama rawat pasien di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji

Adam Malik Medan. Selain itu, Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik

Medan tersebut juga merupakan salah satu rumah sakit rujukan nasional dan

merupakan rumah sakit pendidikan sehingga memudahkan peneliti mengurus

perizinan penelitian. Waktu penelitian berlangsung Januari 2010 - Februari 2010.

4. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin dari Fakultas Keperawatan

Universitas Sumatera Utara dan direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam

Malik Medan. Penelitian ini mempertimbangkan etik penelitian yaitu dengan

terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari responden kemudian memberi

(33)

prosedur pelaksanaan penelitian yaitu pelaksanaan metode penilaian untuk ICU

delirium. Responden yang bersedia dipersilahkan untuk menandatangani informed

consent, bila tidak mampu maka dapat diwakilkan oleh keluarga responden.

Responden yang tidak bersedia berhak untuk menolak. Penelitian ini tidak

menimbulkan resiko bagi individu baik secara fisisk maupun psikologis. Penilaian

ICU delirium dilakukan selama 10 menit untuk masing-masing responden.

Penilaian ICU delirium dihentikan pada responden yang mengalami kekambuhan

gangguan fisik, dimana responden tiba-tiba menjadi sesak nafas atau kondisi

tubuh menjadi jelek. Kerahasiaan catatan mengenai data responden dijaga peneliti

dan data-data yang diperoleh dari responden hanya digunakan untuk kepentingan

penelitian.

5. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dengan cara Interview/

wawancara dengan menggunakan metode penilaian untuk ICU delirium sebagai

acuan. Instrumen penelitian yang akan digunakan dibagi menjadi 2 bagian Bagian

pertama yaitu kuisioner data demografi responden yang meliputi usia, jenis

kelamin, diagnosa medis, riwayat kesehatan yang lalu, riwayat pengobatan saat

ini. Bagian kedua metode penilaian kebingungan untuk ICU delirium yang di

modifikasi dari instrumen The Confusion Assassment Method for the ICU

(CAM-ICU) oleh peneliti dengan menghilangkan beberapa poin karena tidak berkaitan

(34)

Metode penilaian ini dibagi dalam 2 komponen untuk mengukur ICU delirium

dengan skor maksimal 25. Komponen 1 menilai Gangguan perhatian/

berkonsentrasi pasien yang terbagi menjadi 1A dan 1B. 1A merupakan ujian

perhatian huruf yang terdiri dari 10 huruf dengan ketentuan pasien memberikan

reaksi terhadap huruf A, 1B merupakan ujian perhatian gambar yang diawali

dengan menunjukan 5 buah gambar yang kemudian menunjukan 10 buah gambar

yang 5 diantaranya merupakan gambar yang sebelumnya, dengan ketentuan

pasien bereaksi terhadap gambar yang berulang. Pasien mengalami gangguan

perhatian jika skor untuk 1A + 1B = <16 dengan ketentuan mengalami gangguan

perhatian ringan dengan skor 11-16, gangguan perhatian sedang dengan skor 6-10

dan gangguan perhatian berat jika skor <6. Pada Komponen 1 skor maksimal

(1A+1B) adalah 20.

Komponen 2 menilai gangguan pikiran yang dibagi menjadi 2A dan 2B. 2A

merupakan pertanyaan ya/ tidak yang terdiri dari 4 pertanyaan dengan ketentuan

SBSB (salah, benar, salah, benar). 2B merupakan perintah untuk mengikuti

instruksi yang diberikan peneliti dengan ketentuan dapat mengikuti perintah bila

instruksi yang diberikan dapat diikuti oleh pasien. Pasien mengalami gangguan

pikiran jika skor kurang dari 5 dengan ketentuan: gangguan pikiran ringan sedang

jika skor 3-4, gangguan pikiran berat jika skor <3. Pada komponen 2 skor

(35)

6 Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan

atau kesahihan sesuatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau mampu

mengukur apa yang diinginkan dan memiliki validitas tinggi. Tinggi rendahnya

validitas instrumen menunjukkan sejauh mana data yang terkumpul tidak

menyimpang dari gambaran validitas tersebut (Arikunto, 2006). Dalam penelitian

ini tidak dilakukan uji validitas pada instrumen penelitian.

Untuk mengetahui kepercayaan (reliabilitas) instrumen dilakukan uji

reliabilitas instrumen sehingga dapat digunakan untuk penelitian berikutnya dalam

ruang lingkup yang sama. Instrumen yang reliable akan dapat menghasilkan data

yang dapat dipercaya atau benar sesuai kenyataannya sehingga walaupun data

diambil berulang-ulang, hasilnya akan tetap sama. Uji reliabilitas ini dilakukan

sebelum pengumpulan data terhadap 10 orang yang memiliki kriteria yang sama

dengan sampel penelitian.

Uji reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 16 untuk

analisis cronbach alpha dengan hasil koefisien reliabilitas untuk instrumen metode

penilaian untuk ICU delirium yaitu 0,735. Hal ini dapat diterima untuk instrumen

yang baru, sesuai dengan pendapat Arikunto (2006), bahwa suatu instrumen

dikatakan reliabel jika memiliki nilai reliabilitas lebih dari 0,600.

7. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian eksperimen ini akan dilaksanakan dengan

(36)

Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara, 2) Permohonan izin kepada

Dinas Kesehatan Kota Medan, 3) Permohonan izin kepada Pimpinan RSU Haji

Adam Malik Medan agar penelitian dapat dilaksanakan, 4) Menjelaskan pada

calon responden tentang prosedur, manfaat penelitian, 5) Peneliti meminta

kesediaan responden untuk mengikuti penelitian, 6) Setelah mendapatkan

persetujuan responden, pengumpulan data mulai dilakukan sesuai dengan metode

penilaian untuk ICU delirium, 7) peneliti menganalisa data.

8. Analisa Data

Analisa data yang dilakukan dalam penelitian meliputi: 1) Persiapan, yaitu

mengecek kelengkapan identitas, kelengkapan data macam isian data, 2) Tabulasi

data dengan memberikan skor (scoring) terhadap item-item yang perlu diberi skor,

memberi kode terhadap item-item yang tidak di beri skor, 3) Memodifikasi data

dan disesuaikan dengan teknik analisa data yaitu statistik deskriptif, 4)

Memberikan kode (coding) dalam hubungan dengan pengolahan data dengan

komputerisasi.

Metode statistik untuk analisa data yang digunakan dalam penelitian ini

adalah: analisis deskriptif yaitu suatu prosedur pengolahan data dengan

menggambarkan dan meringkas data dalam bentuk tabel (Setiadi, 2007).

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SPSS versi 16.0. Data

(37)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian

Penelitian ini telah dilaksanakan mulai dari tanggal 16 Januari 2010 sampai

22 Februari 2010. Penelitian ini melibatkan sejumlah 32 orang responden yang

merupakan pasien ICU pasca bedah dan ICU dewasa.

Hasil penelitian ini memaparkan karakteristik demografi responden,

distribusi frekuensi ICU delirium, distribusi frekuensi ICU delirium menurut

komponen ICU delirium yang meliputi distribusi frekuensi dan persentase ICU

delirium menurut gangguan perhatian/ berkonsentrasi dan gangguan pikiran.

1.1. Karakteristik Subjek Penelitian

Responden penelitian ini adalah pasien yang dirawat di Intensive Care Unit

(ICU). Usia responden dalam penelitian ini berada pada rentang 15-67 tahun yang

merupakan usia remaja sampai dengan dewasa akhir (M=40.12, SD=15.999,

Min-Max=15-67), yang didominasi oleh responden dengan usia 41-60 tahun/ dewasa

madia (40,63%).

Berdasarkan jenis kelamin, responden laki-laki hampir mendominasi

(59,4%, n=19). Kebanyakan diagnosa medis responden dalam penelitian ini

berada pada diagnosa medis pasca bedah dan diagnosa medis (34,38%), dengan

mayoritas riwayat kesehatan penyakit tidak menular (50%) dan riwayat

pengobatan saat ini seluruh responden dengan riwayat penggunaan obat lebih dari

(38)

Tabel 1 Karakteristik subjek penelitian

Karakteristik Data Demografi

Pasien di Intensive Care Unit (ICU) Frekuensi (f) Persentase (%)

1. Usia (Tahun)

15 - 20 (Usia Remaja) 21 - 40 (Dewasa Awal) 41 - 60 (Dewasa Madia) > 60 (Dewasa Akhir)

5

Penyakit Pasca Bedah 11 34,38

Penyakit Sistemik 11 34,38

Penyakit Psikis 6 18,75

Tumor 3 9,37

Gangguan Otak Organik 1 3,12

4. Riwayat Kesehatan

Riwayat Penyakit Tidak Menular 16 50,0

Riwayat Dengan Faktor Resiko 11 34,37

Riwayat Penyakit Menular 1 2,13

Riwayat Penyakit Kronis 4 12,5

5. Riwayat Pengobatan Saat Ini

Penggunaan obat 0-1 jenis 0 0

Tabel 1 (Lanjutan)

Karakteristik Data Demografi

Pasien di Intensive Care Unit (ICU) Frekuensi (f) Persentase (%)

Penggunaan obat 2-3 jenis 0 0

Penggunaan obat >3 Jenis 32 100

1.2. Distribusi Frekuensi ICU Delirium pada Pasien di Intensive Care Unit (ICU)

Penelitian ini menunjukan bahwa hampir tiga perempat (3/4) responden

(39)

ICU delirium ringan. Distribusi frekuensi dan persentase kejadian ICU delirium di

Intensive Care Unit (ICU) dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2 Distribusi frekuensi ICU delirium pada pasien di ICU

Tingkatan ICU Delirium Frekuensi Persentase (%)

ICU delirium ringan 15 46,87

ICU delirium sedang 5 15,63

ICU delirium berat 3 9,37

Tidak Mengalami ICU delirium 9 28,13

Total 32 100

1.3. Distribusi Frekuensi ICU Delirium Dilihat dari Komponen ICU Delirium

Pada penelitian ini ICU delirium dibagi menjadi 2 komponen yaitu

gangguan perhatian/ berkonsentrasi dan gangguan pikiran.

1.3.1. Distribusi Frekuensi ICU Delirium Dilihat dari Gangguan Perhatian/ Berkonsentrasi

Penelitian ini menunjukan bahwa dari 23 orang responden yang mengalami

ICU delirium, hampir dua pertiga (2/3) responden mengalami gangguan

perhatian/ berkonsentrasi ringan (65,22%). Distribusi frekuensi dan persentase

ICU delirium dilihat dari gangguan perhatian/ berkonsentrasi dapat dilihat pada

(40)

Tabel 3 Distribusi frekuensi ICU delirium dilihat dari gangguan perhatian/

berkonsentrasi.

Tingkat Gangguan Perhatian Frekuensi Persentase (%)

Gangguan Perhatian Ringan 15 65,22

Gangguan Perhatian Sedang 5 21,74

Gangguan Perhatian Berat 1 4,34

Tidak Mengalami Gangguan Perhatian 2 8,70

Total 23 100

1.3.2. Distribusi Frekuensi ICU Delirium Dilihat dari Gangguan Pikiran

Penelitian ini menunjukan bahwa dari 23 orang responden yang mengalami

ICU delirium, hampir enam pertujuh (6/7) responden mengalami gangguan

pikiran ringan sedang (82,6%). Distribusi frekuensi dan persentase ICU delirium

dilihat dari gangguan pikiran dapat dilihat pada tabel 4.

Tabel 4 Distribusi frekuensi ICU delirium dilihat dari gangguan pikiran

Tingkat Gangguan Pikiran Frekuensi Persentase (%)

Gangguan Pikiran Ringan Sedang 19 82,6

Gangguan Pikiran Berat 2 8,7

Tidak Mengalami Gangguan Pikiran 2 8,7

(41)

2. Pembahasan 2.1.ICU Delirium

ICU delirium merupakan suatu bentuk disfungsi otak akut, mengancam

fungsi kognitif secara menyeluruh yang lazim pada pasien yang mengalami sakit

kritis, terutama orang tua dan pasien yang memerlukan ventilasi mekanis (Smith

et al, 2008).

ICU Delirium di Intensive Care Unit (ICU) memiliki kejadian 15-80%

Radtke et al (2008). Pada penelitian ini, dari 32 subjek penelitian terdapat 23

orang pasien mengalami ICU delirium (71,87%) di ruang ICU Rumah Sakit

Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. Hal ini disebabkan karena pasien yang

dirawat di ICU merupakan pasien dengan sakit kritis yang memerlukan perawatan

intensif. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wesley et al (2008) ICU delirium

terjadi sampai 85% dari pasien yang sakit kritis

Pasien ICU dengan faktor resiko lebih memungkinkan untuk mengalami

ICU delirium. Pada penelitian ini hampir seluruh pasien memiliki faktor resiko

untuk mengalami ICU delirium. Para pasien risiko tertinggi adalah mereka yang

memiliki penyakit sistemik seperti sepsis berat atau gagal jantung kongestif yang

mempengaruhi aliran darah dan eksposur otak untuk oksigen dan nutrisi (Bond,

2008). Selain itu, ada faktor-faktor demografi dasar, seperti penurunan kognitif

ringan, lanjut usia, dan penggunaan obat psikoaktif sebelumnya, tembakau, atau

alkohol yang dapat mengakibatkan gejala penarikan. Lebih lanjut Bond

(42)

beresiko tinggi untuk mengembangkan ICU Delirium. Ventilator itu sendiri

memperkenalkan sejumlah masalah terapi, seperti dosis tinggi obat penenang dan

narkotika yang mungkin bersifat deliriogenik.

2.2. ICU Delirium Berdasarkan Komponen ICU Delirium

Tingkat keparahan ICU delirium pada penelitian ini dipengaruhi oleh dua

komponen ICU delirium yaitu gangguan perhatian/ berkonsentrasi dan gangguan

pikiran. Pada pasien yang mengalami ICU delirium sangat rentan untuk

mengalami gangguan perhatian/ berkonsentrasi atau gangguan pikiran atau

bahkan kedua-duanya. Hal ini tergantung dari tingkat keparahan ICU delirium

yang dialami. Tidak semua pasien yang mengalami gangguan perhatian/

berkonsentrasi atau gangguan pikiran mengalami ICU delium. Namun, pasien

yang mengalami ICU delirium sudah pasti mengalami gangguan perhatian/

berkonsentrasi atau gangguan pikiran dan bahkan kedua-duanya.

Penurunan kognitif merupakan ancaman utama bagi kemampuan pasien

untuk pulih kekondisi semula untuk melakukan berbagai aktivitas kegiatan

mereka dan merupakan ancaman tambahan terhadap kualitas hidup (Wesley,

2001). Lebih lanjut Wesley mengatakan bahwa ada dua perkembangan utama

yang sering dikaitkan pada pasien ICU yaitu kebutuhan untuk ventilasi mekanik

dan pengembangan kerusakan kognitif yang mendalam dan mungkin

(43)

Perhatian adalah interaksi kompleks limbik, neokorteks, dan naik

mengaktifkan fungsi, dan rentan untuk meredakan cedera selama masa penyakit

kritis (Wesley, 2001). Lebih lanjut Wesley menyatakan bahwa pentingnya menilai

perhatian pasien ICU yang mengalami ICU delirium yang mengacu pada fungsi

mental yang lebih tinggi yang memungkinkan pasien untuk menghadiri dan

menyaring stimulus yang tidak relevan.

Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 23 orang responden yang

mengalami ICU delirium, hampir dua pertiga (2/3) responden mengalami

gangguan perhatian/ berkonsentrasi ringan (65,22%).

Berpikir merupakan aliran gagasan, simbol, dan asosiasi yang diarahkan

oleh tujuan yang dimulai oleh suatu masalah atau suatu tugas dan mengarah pada

kesimpulan yang berorientasi kenyataan (Freud, 1896).

Penelitian ini menunjukan bahwa dari 23 orang responden yang mengalami

ICU delirium, hampir enam pertujuh (6/7) responden mengalami gangguan

(44)

BAB 6

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. Kesimpulan

Penelitian ini menunjukan bahwa hampir tiga perempat (3/4) responden

mengalami ICU delirium (71,87%), dimana lebih dari sepertiganya (34,37%)

mengalami ICU delirium sedang.

Dilihat dari komponen ICU delirium, Penelitian ini menunjukan bahwa dari

23 orang responden yang mengalami ICU delirium, hampir dua pertiga (2/3)

responden mengalami gangguan perhatian/ berkonsentrasi ringan (65,22%).

Penelitian ini menunjukan bahwa dari 23 orang responden yang mengalami ICU

delirium, hampir enam pertujuh (6/7) responden mengalami gangguan pikiran

ringan sedang (82,6%).

Tingkat keparahan ICU delirium pada penelitian ini dipengaruhi oleh dua

komponen ICU delirium yaitu gangguan perhatian/ berkonsentrasi dan gangguan

pikiran. Pada pasien yang mengalami ICU delirium sangat rentan untuk

mengalami gangguan perhatian/ berkonsentrasi atau gangguan pikiran atau

bahkan kedua-duanya. Hal ini tergantung dari tingkat keparahan ICU delirium

yang dialami. Tidak semua pasien yang mengalami gangguan perhatian/

berkonsentrasi atau gangguan pikiran mengalami ICU delium. Namun, pasien

yang mengalami ICU delirium sudah pasti mengalami gangguan perhatian/

(45)

2. Rekomendasi

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat pada pendidikan

keperawatan, praktek keperawatan dan penelitian keperawatan.

2.1. Pendidikan Keperawatan

Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa ICU delirium di intensive care unit

(ICU) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan terjadi sampai dengan

71,87%. Oleh karena itu, ICU delirium ini dapat juga dijadikan sebagai bahan

pengajaran tambahan di matakuliah medikal bedah untuk menambah pengetahuan

peserta didik keperawatan dalam merawat pasien di ICU khususnya yang

mengalami ICU delirium.

2.2. Praktek Keperawatan

Hasil penelitian ini memperoleh bukti bahwa pasien yang dirawat di ICU

sangat rentan untuk mengalami ICU delirium sehingga perlu dilakukan

perawatan-perawatn yang berkaitan dengan masalah ICU delirium. sehingga dapat

menanbah variasi dan intervensi keperawatan yang dilakukan oleh perawat

sebagai upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien, khususnya pasien

yang dirawat di ICU. Selain itu, perawatan ICU delirium juga dapat dijadikan

dasar kegiatan prosedur perawatan pasien yang dirawat di Intensive Care Unit

(46)

2.3. Penelitian Keperawatan

Peneliti menyadari bahwa penelitian ini masih memiliki keterbatasan-

keterbatasan, sehingga untuk peneliti yang akan datang peneliti mengharapkan: 1)

Jumlah subjek penelitian yang kecil dan terbatas, sehingga kurang mewakili

gambaran populasi yang sebenarnya, 2) Data kuisioner yang tidak lengkap,

sehingga kurang memberikan gambaran sebenarnya pada keadaan populasi, 3)

Tidak dilakukan uji validitas pada instrument penelitian sehingga data yang

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Al-Sanouri, Ibrahim, et al (2005). Critical Care Aspects of Alcohol Abuse.

Diambil tanggal 10 April 2010 dari

Arikunto, S. (2006). Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik. Cetakan 13. Edisi Revisi VI. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Azwar, S. (2003). Reliabilitas & validitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Barclay, Laurie. (2004). Delirium Predicts Mortality for ICU Patients on Ventilators. Diambil tanggal 27 September 2009 dari: http://www.medscape.com/viewarticle/473406 .

Bergeron, Nicolas et all. (2002). Delirium in criticalli ill Patients. Diambil tanggal 12 April 2010 dari:

Bond, Stewart & Neelon, Virginia J. (2009). Delirium Resolution in Hospitalized Older Patients With Cancer. Diambil tanggal 10 April 2010 dari http://www.medscape.com/viewarticle/586167

Brauser, Deborah. (2010). Nicotine Replecement Therapy Does Not Increase Mortality in Critically III Smokers in the ICU. Diambil tanggal 10 April 2010 dar

Busko, Marlene. (2007). Study Identifies ICU Admission Traits That Put Older Patients at Risk for Delirium. Diambil tanggal 27 September 2009 dari:

Cambell A.J et al. (2008). Predicting Death and Readmission After Intensive Care

Diambil tanggal 12 April 2010 dari

Dalling, J.W. (2008) Delirium is one of the unresolved challenges to healthcare. Diambil tanggal 27 September 2009 dari:

Devlin, et al. (2008). Assessment of Delirium in the Intensive Care Unit: Nursing Practices and Perceptions. Diambil tanggal 27 September 2009 dari:

(48)

Hitt, Emma. (2008) Dexmedetomidine Reduces Delirium Compared With Midazolam in ICU Patients Sedated for More Than 24 Hours. Diambil tanggal 27 September 2009 dari:

Iqbal, kiki. (2008). Hubungan Skore Cognitive Test For Delirium (CTD) Dengan Lamanya Masa Rawat Inap Penderita Trauma Kapitis Sedang-Berat Di Rumah Sakit . Diambil tanggal 27 September 2009 dari: http://www.USU library.com/index.php2.htm

Kalisvaart, et al. (2006). Risk Factors and Prediction of Postoperative Delirium in Elderly Hip-Surgery Patients: Implementation and Validation of a Medical Risk Factor Model. Diambil tanggal 27 September 2009 dari:

King, Jennifer & Gratrix, Andrew. (2009). Delirium in Intensive Care. Diambil tanggal 12 April 2010 dari

Kleinpell, Ruth M. (2008). How Can We Prevent Functional Deterioration in the Hospitalized Elderly?. Diambil tanggal 10 April 2010 dari

Lisi, Donna M. (2000) Definition of Drung-Induced Cognitive Impairment in the Elderly. Diambil tanggal 12 April 2010 dari

Nursalam. (2003). Konsep penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan: Pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Marshall, John. (2008) Impact of a Clinical Pharmacist-enforced Intensive Care Unit Sedation Protocol on Duration of Mechanical Ventilation and Hospital Stay. Diambil tanggal 8 April 2010 dari

Martin, Gregory. (2004). Is There a Role for Risperidone in the Intensive Care Unit?. Diambil tanggal 2 Oktober 2009 dari:

McCusker, Cole et al. (2003). Does Delirium Increase Hospital Stay?. Diambil tanggal 2 Oktober 2009 dari:

Michael, C. (2009). Dexmedetomidine Helps Curb ICU Delirium. Diambil tanggal 2 Oktober 2009 dari: http://www.medscape.com/viewarticle/703688

(49)

Radtke, F.M et al. (2008). Comparison of Three Scores to Screen foe Delirium in the Recovery Room. Diambil tanggal 8 April 2010 dari http://bja.oxfordjournals.org/cgi/content/abstract/101/3/338

Roan, Witjaksana. (2007). Delirium dan Demensia. Diambil tanggal 27 Oktober 2009 dari:

Waknine, Yael. (2004). Haloperidol Improves Survival in Mechanically

Ventilated, Critically III Patients. Diambil

Wenham, Tim & Pittard, Alison. (2009). Intensive Care Unit Environment.

Diambil tanggal 8 April 2010 dari

Wesley, Ely. (2002) ICU Delirium and Cognitive Impairment. Diambil tanggal 20 Oktober 2009 dari:

Wesley, Ely. (2001). Delirium in the Intensive Care Unit: An Under-Recognized Syndrome of Organ Dysfunction. Diambil tanggal 2 Oktober 2009 dari:

Wesley, Ely & Strength, Cayce L. (2008). Better Assessment and Better Management of Intensive Care Unit Delirium Leads to Better Outcomes for Intensive Care Unit Survivors: An Expert Interview With E. Wesley Ely, MD, MPH. Diambil tanggal 8 April 2010 dari

(50)

Lampiran 1

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini merasa tidak keberatan untuk

menjadi responden dalam peneliian yang dilakukan oleh mahasiswa Fakultas

Keperawatan Universitas Sumatera Utara atas nama Iwan Matsum dengan judul

“ICU Delirium Pada Pasien Yang Dirawat di Intensive Care Unit (ICU) Rumah

Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.”

Dimana sebelumnya saya telah mendapatkan penjelasan akan peroses

penelitian, manfaat dan tujuan penelitian serta jaminan tidak akan ada pengaruh

negatif bagi diri saya selama peroses penelitian. Peneliti juga menjamin

kerahasiaan identitas saya dan data-data yang didapat dari saya hanya digunakan

untuk perkembangan ilmu pengetahuan dan kesehatan, dan saya telah mengerti

dan mengizinkan peneliti menjadikan saya sebagai responden dalam

penelitiannya.

Demikianlah persetujuan ini saya buat dengan sejujurnya dan tanpa

paksaan dari pihak manapun.

Medan,……….200…

Responden

(51)

Lampiran 2

JADWAL TENTATIF PENELITIAN

No Kegiatan Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 Mengajukan judul 2 Menetapkan judul penelitian 3 Menyiapkan proposal penelitian 4 Mengajukan sidang proposal 5 Sidang proposal penelitian 6 Revisi proposal penelitian 7 Mengajukan izin penelitian 8 Pengumpulan data 9 Analisa data 10 Penyusunan laporan/skripsi 11 Pengajuan sidang skripsi 12 Ujian sidang 13 Revisi 14 Mengumpulkan skripsi

Diketahui oleh, Dosen Pembimbing

(52)

Lampiran 3

TAKSASI DANA PROPOSAL

− Biaya rental dan print proposal Rp. 70.000

− Biaya internet Rp. 45.000

− Fotocopy sumber-sumber tinjauan pustaka Rp. 60.000

− Fotocopy perbanyak proposal Rp. 36.000

− CD Rp. 5.000

PENGUMPULAN DATA

− Izin penelitian Rp. 50.000

− Transportasi Rp. 150.000

− Fotocopy kuisioner dan persetujuan penelitian Rp. 30.000

ANALISA DATA DAN PENYUSUNAN LAPORAN

− Biaya rental dan print Rp. 100.000

− CD Rp. 5.000

− Penjilidan Rp. 160.000

− Fotocopy laporan penelitian Rp. 30.000

BIAYA TAK TERDUGA Rp. 100.000

(53)

Lampiran 4

Instrumen Penelitian

Metode Penilaian

Untuk ICU Delirium

Lampiran 4

A. Data Demografi

• Usia : Tahun

• Jenis Kelamin : ( ) Laki-laki ( ) Perempuan

• Diagnosa Medis :

• Riwayat kesehatan yang lalu : ( ) Penyakit tidak menular ( ) Penyakit menular ( ) Penyakit Kronis

( ) Riwayat dengan faktor resiko • Riwayat pengobatan saat ini : ( ) Penggunaan obat 0-1 jenis

(54)

Komponen 1: Gangguan Perhatian/ Berkonsentrasi

Positif jika nilai 1A atau 1B kurang dari 8 atau 1A + 1B =

<16. Lakukan ujian perhatian huruf terlebih dahulu. Jika

pasien mampu melakukan tes ini dan nilainya sempurna,

simpan nilai tersebut dan melangkah ke Componen 2A.

Jika pasien tidak mampu melakukan tes ini atau nilainya

tidak sempurna, maka lakukan ujian perhatian visual

gambar.

Positif Negatif

B. Bagan Penilaian Untuk ICU Delirium

1A: Ujian perhatian Huruf:

Petunjuk:Katakan kepada pasien, “Saya akan menyebutkan kepada anda 10 huruf. Jika anda mendengar huruf ‘A’ beri tanda dengan mengenggam tangan saya.” Huruf-huruf dari daftar huruf berikut ini dalam nada normal.

S A V E A H A A R T

Penilaian: Error dihitung ketika pasien gagal untuk

mengenggam pada huruf “A” dan ketika pasien

mengenggam dari setiap huruf selain “A.”

Skor (dari 10):

______________

1B: Ujian Perhatian Visual Gambar

Petunjuk nya ada pada paket gambar.

(55)

UJIAN PERHATIAN VISUAL

Ujian Perhatian Visual

Ujian perhatianadalah kemampuan pasien untuk berkonsentrasi dan menunjukkan memori jangka pendek.

Intruksi Umum:

 jika pasien memakai kaca mata pastikan bahwa dia telah berusaha untuk mengingat gambar tersebut

Penilaian:

(56)

Langkah 1 ( 5 Gambar)

• Katakan pada pasien: “Bapak atau Ibu/ Tuan atau Nyonya/ Abang atau Adik, saya akan menunjukkan kepada anda beberapa objek gambar. Perhatikan dengan hati-hati dan cobalah untuk mengingat gambar tersebut karena saya akan bertanya apakah gambar

tersebut telah anda lihat sebelumnya.”

(57)
(58)
(59)

Langkah 2 (10 Gambar)

• Katakan pada pasien: “sekarang saya akan menunjukan kepada anda beberapa gambar lainnya, beberapa diantaranya telah anda lihat sebelumnya .” Beri tahu saya apakah anda telah melihat gambar tersebut sebelumnya dengan menganggukkan kepala anda untuk menunjukan “ya” dan menggelengkan kepala untuk

menunjukan “tidak”.

(60)
(61)
(62)
(63)
(64)

Penilaian :

 Tes ini dinilai oleh jumlah yang benar “Ya” atau “tidak” untuk masing masing gambar yang benar bernilai 1 dari 10 gambar.

Catatan:

 jika pasien memakai kaca mata pastikan bahwa dia telah berusaha untuk mengingat gambar tersebut.

(65)

Komponen 2: Gangguan pikiran

Positif jika nilai gabungan 2A + 2B kurang dari 5.

2A: Pertanyaan Ya/ Tidak

Set pertanyaan yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Dapatkah batu mengapung diatas air?

2. Apakah ada ikan dilaut? 3. Apakah 1 kilo kurang dari 1 ons?

4. Dapatkah anda menggunakan palu untuk memukul paku?

2B: Perintah

Katakan kepada pasien, “Coba mengikuti seperti yang saya lakukan” (penguji mengacungkan dua jari di depan pasien) “Sekarang lakukan dengan tangan yang lain”(tidak mengulangi jumlah jari).

*Jika pasien tidak dapat menggerakkan kedua tangannya, untuk bagian kedua perintah tersebut minta pasien untuk “Menambahkan satu jari lagi”

Nilai ______ (pasien mendapatkan 1 poin untuk setiap jawaban yang benar dari 4)

Nilai _____ (pasien mendapatkan 1 poin bila mampu mengikuti perintah dan 0 (nol) bila tidak dapat mengikuti perintah)

(66)

Untuk menilai ICU Delirium, Intrumen penelitian ini dibagi

menjadi 2 bagian:

1. Bagian pertama yaitu kuisioner data demografi responden yang

meliput i usia, jenis kelamin, diagnosa medis, riwayat kesehatan

yang lalu dan riwayat pengobatan saat ini.

2. Bagian kedua Metode Penilaian Untuk ICU Delirium

Metode penilaian ICU delirium pada instrumen ini dibagi

menjadi 2 Komponen yaitu:

1. Menilai gangguan perhatian/ berkonsentrasi pasien yang dibagi menjadi 1A dan

1B dengan ketentuan positif mengalami gangguan perhatian jika skor untuk 1A

atau 1B kurang dari 8 atau 1A + 1B = < 16. dan negatif (tidak mengalami gangguan perhatian/ kesulitan berkonsentrasi) jika skor untuk 1A + 1B = ≥ 16. Jumlah skor maksimal 1A + 1B = 20

2. Menilai gangguan pikiran yang dibagi menjadi 2A dan 2B dengan ketentuan

positif mengalami gangguan pikiran jika skor untuk 2A dan 2B kurang dari 4

atau 2A + 2B = < 4, dan negatif (tidak mengalami gangguan pikiran) jika skor

(67)

Intstrumen ini membagi tingkatan ICU Delirium

menjadi:

1. Tidak mengalami ICU Delirium bila skor penilaian untuk ICU

Delirium menunjukan skor antara 21 - 25

2. ICU Delirium Ringan bila skor penilaian untuk ICU Delirium

menunjukan skor antara 15 - 20

3. ICU Delirium Sedang bila skor penilaian untuk ICU Delirium

menunjukan skor antara 10 - 14

4. ICU Delirium Berat bila skor penilaian untuk ICU Delirium

menunjukan skor < 10

Referensi :

• Ely, E.W., Inouye, S., Bernard G., Gordon, S., Francis, J., May, L.,

Truman, B., Speroff, T., Gautam, S., Margolin, R, Dittus, R. Delirium

in mechanically ventilated patients: validity and reliability of the

confusion assessment method for the intensive care unit (CAM-ICU).

JAMA; 286, 2703-2710, 2001.

• Ely, E.W., Margolin, R., Francis, J., May, L., Truman, B., Dittus, B.,

Speroff, T., Gautam, S., Bernard, G., Inouye, S. Evaluation of

delirium in critically ill patients: Valida tion of the Confusion

Assessment Method for the Intensive Care Unit (CAM-ICU). Critical

(68)

Lampiran 5

HASIL ANALISA DATA

1. Analisa Data Demografi

Descriptives

Descriptive Statistics

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation Variance

Usia 32 1 4 2.44 .878 .770

Observasi 32 6 25 17.84 4.873 23.749

Usia2 32 15 67 40.12 15.999 255.984

Valid N (listwise) 32

Frequencies

Statistics

Usia Jeniskelamin Diagnosamedis Riwayatkesehatan Riwayatpengobatan Observasi Usia2

N Valid 32 50 50 50 50 32 32

Missing 18 0 0 0 0 18 18

Mean 2.44 17.84 40.12

Std. Deviation .878 4.873 15.999

Variance .770 23.749 255.984

Minimum 1 6 15

(69)

Usia

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Frequency Percent Valid Percent

(70)

Riwayatkesehatan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid 18 36.0 36.0 36.0

Penyakit tidak menular 16 32.0 32.0 68.0

Penyakit menular 1 2.0 2.0 70.0

Penyakit kronis 4 8.0 8.0 78.0

Penyakit dengan faktor

resiko 11 22.0 22.0 100.0

Total 50 100.0 100.0

Riwayatpengobatan

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid 18 36.0 36.0 36.0

3 32 64.0 64.0 100.0

(71)

Observasi

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative

Percent

Valid 6 1 2.0 3.1 3.1

7 1 2.0 3.1 6.2

8 1 2.0 3.1 9.4

11 1 2.0 3.1 12.5

14 3 6.0 9.4 21.9

15 2 4.0 6.2 28.1

16 1 2.0 3.1 31.2

17 1 2.0 3.1 34.4

18 3 6.0 9.4 43.8

19 5 10.0 15.6 59.4

20 4 8.0 12.5 71.9

21 4 8.0 12.5 84.4

23 1 2.0 3.1 87.5

24 2 4.0 6.2 93.8

25 2 4.0 6.2 100.0

Total 32 64.0 100.0

Missing System 18 36.0

(72)

Usia2

Frequency Percent Valid Percent

Gambar

Tabel 1 Karakteristik subjek penelitian  Karakteristik
Tabel 2 Distribusi frekuensi ICU delirium pada pasien di ICU
Tabel 3 Distribusi frekuensi ICU delirium dilihat dari gangguan perhatian/
gambar.
+3

Referensi

Dokumen terkait

Subjek penelitian adalah 32 bayi baru lahir prematur yang mengalami hiperbilirubinemia di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan pada tahun 2014.Penelitian ini menggunakan

Berdasarkan hasil dari hubungan antara jenis kelamin dan kesembuhan pasien di ICU,pasien laki-laki menunjukkan tingkat kesembuhan yang tertinggi berbanding perempuan

Pada karakteristik umum subjek didapatkan jumlah laki-laki yang positif delirium lebih banyak dibanding dengan perempuan, angka kejadian pada pasien pascaoperasi didapatkan

Subjek penelitian adalah 32 bayi baru lahir prematur yang mengalami hiperbilirubinemia di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan pada tahun 2014.Penelitian ini menggunakan

Subjek penelitian adalah 32 bayi baru lahir prematur yang mengalami hiperbilirubinemia di Rumah Sakit Umum Haji Adam Malik Medan pada tahun 2014.Penelitian ini menggunakan

Penelitian ini adalah penelitian analitik yang bersifat cross-sectional yang bertujuan untuk melihat penyembuhan pada pasien di ICU di RSUP Haji Adam Malik

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara perbedaan jenis kelamin dan usia dengan tingkat keparahan kesembuhan pasien di ICU Rumah Sakit Umum Pusat

v HUBUNGAN SPIRITUAL WELL-BEING DENGAN RESILIENSI KELUARGA PASIEN YANG DIRAWAT DI RUANG INTENSIVE CARE UNIT ICU Tasya Putri Herisyhalina Abstrak Resiliensi adalah suatu proses