Determinan Volume Ekspor Udang Indonesia di Pasar Internasional

114  11 

Teks penuh

(1)

DETERMINAN VOLUME EKSPOR UDANG INDONESIA

DI PASAR INTERNASIONAL

TESIS

Oleh

YULIANA ROTUA S

087018065/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

2011

S

E K

O L A H

P A

S C

A S A R JA N

(2)

DETERMINAN VOLUME EKSPOR UDANG INDONESIA

DI PASAR INTERNASIONAL

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Ekonomi Pembangunan pada Sekolah Pascasarjana

Universitas Sumatera Utara

Oleh

YULIANA ROTUA S

087018065/EP

SEKOLAH PASCASARJANA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

Judul Tesis : DETERMINAN VOLUME EKSPOR UDANG INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

Nama Mahasiswa : Yuliana Rotua S

Nomor Pokok : 087018065

Program Studi : Ekonomi Pembangunan

Menyetujui, Komisi Pembimbing

(Dr. Dede Ruslan, M.Si) Ketua

(Drs. Rujiman, M.A) Anggota

Ketua Program Studi

(Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, SE, M.Ec)

Direktur

(Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE)

(4)

Telah diuji pada

Tanggal: 13 April 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Dr. Dede Ruslan, M.Si

Anggota : 1. Drs. Rujiman, M.A

2. Prof. Dr. Sya’ad Afifuddin, SE, M.Ec

3. Dr. Rahmanta, M.Si

(5)

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul:

“DETERMINAN VOLUME EKSPOR UDANG INDONESIA DI PASAR

INTERNASIONAL”.

Adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum pernah dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya. Sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.

Medan, April 2011

Yang membuat pernyataan

(6)

DETERMINAN VOLUME EKSPOR UDANG INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan simultanitas dalam persamaan produksi udang Indonesia, konsumsi udang domestik, volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional dan harga udang Indonesia. Penelitian ini juga ingin menganalisis pengaruh konsumsi udang domestik dan volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional terhadap produksi udang Indonesia. Pengaruh harga udang Indonesia dan pendapatan per kapita terhadap konsumsi udang domestik, pengaruh harga udang dunia, nilai tukar rupiah, produksi udang Indonesia dan harga udang Thailand terhadap total volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional serta pengaruh harga udang dunia, tingkat bunga dan volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional terhadap harga udang Indonesia selama kurun waktu periode penelitian 1980-2008.

Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan simultanitas adalah 2 SLS (Two Stage Least Square). Dan kaidah identifikasinya menunjukkan bahwa kondisi pada persamaan simultan mengalami overidentified sehingga memungkinkan untuk menggunakan metode 2 SLS.

Berdasarkan hasil estimasi metode 2 SLS (Two Stage Least Square) pada persamaan produksi udang Indonesia menunjukan bahwa konsumsi udang domestik dan volume ekspor udang Indonesia berpengaruh positif dan signifikan dengan tingkat kepercayaan  5%terhadap produksi udang Indonesia. Harga udang Indonesia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap konsumsi udang domestik sementara pendapatan perkapita Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi udang domestik. Harga udang dunia, nilai tukar rupiah, produksi udang Indonesia dan harga udang Thailand berpengaruh positif dan signifikan terhadap total volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional, sedangkan persamaan harga udang Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga udang dunia, volume ekspor udang Indonesia dan tingkat bunga Indonesia.

(7)

DETERMINANT OF EXPORT VOLUME OF INDONESIAN SHRIMPS IN THE INTERNATIONAL MARKET

ABSTRACT

This study aims to determine whether there is a relationship in the equation multanitas the Indonesian shrimp production, domestic shrimp consumption, export volume of Indonesian shrimps in the international market and the price of Indonesian shrimp. This study also wanted to analyze the influence of domestic shrimp consumption and export volume of Indonesian shrimps in the international market against Indonesian shrimp production. The influence of Indonesian shrimp prices and income per capita of domestic shrimp consumption, the influence of world shrimp prices, the rupiah, Indonesian shrimp production and the price of shrimp production thailand to total shrimp export volume of Indonesia in the international market as well as the influence of world shrimp prices, interest rates and export volume of Indonesian shrimps in the international market of Indonesian shrimp prices during the study period 1980-2008.

Method of analysis used to determine the relationship multanitas is 2 sls (two stage least square), and rules of identification showing that the conditions on the equation of multan suffered overidentified so allow me to use method 2 sls.

Based on the estimation method 2 sls (two stage least square) on Indonesian shrimp production equation shows that the domestic shrimp consumption and export volume of Indonesian shrimps have positive and significant with confidence levels in

á = 5% of Indonesian shrimp production. Indonesian shrimp prices significantly and

negatively related to the domestic shrimp consumption while income per capita of Indonesia has positive and significant impact on domestic shrimp consumption. World shrimp prices, the rupiah, Indonesian shrimp production and shrimp prices thailand has positive and significant impact on total export volume of Indonesian shrimps in the international market, while the Indonesian shrimp price equation has positive and significantly to the prices of world shrimp, shrimp export volume of Indonesia and Indonesian interest rates.

(8)

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah memberikan berkat kepada penulis sehingga penulis dapat mengerjakan dan menyelesaikan tesis ini yang berjudul “Determinan Volume Ekspor Udang Indonesia di Pasar Internasional” sebagai tugas akhir pada Program Magister

Ekonomi Pembangunan, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan sebanyak-banyaknya kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan, dukungan, dan bantuan selama proses penyelesaian tesis ini. Secara khusus, penulis haturkan terima kasih kepada:

1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc., (CTM). Sp.A(K) selaku Rektor Universitas Sumatera Utara atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan sehingga bisa mengikuti dan menyelesaikan program pendidikan magister.

(9)

3. Bapak Prof. Sya’ad Afifuddin, M.Ec, selaku Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dan selaku Dosen Pembanding yang telah memberi masukan dalam menyelesaikan tesis ini serta dengan arif dan bijaksana dapat mengarahkan kami sehingga mampu menyelesaikan pendidikan pada Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak Dr. Dede Ruslan, M.Si selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak membimbing dan memberi masukan serta bantuan kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

5. Bapak Drs. Rujiman, M.A selaku Dosen Pembimbing II yang telah membantu membimbing serta mengarahkan dan memberi masukan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan sebaik-baiknya.

6. Bapak Dr. Rahmanta, M.Si dan Drs. Rahmad Sumanjaya, M.A selaku Dosen Pembanding yang telah membantu penulis, memberikan kritik, saran, motivasi dan dukungan moril sehingga penulis dapat semangat menyelesaikan tesis ini dengan baik.

7. Bapak Dr. Jonni Manurung, MS selaku Dosen Pengajar Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah banyak memberikan masukan dan pelajaran yang berharga kepada penulis dalam penyelesaian tesis ini.

(10)

meteril sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik serta buat saudara-saudaraku Reinhard Rizaldy, Meylan dan Julyanto Benhur atas dukungan dan doa yang telah mereka berikan kepada penulis.

9. Rekan-rekan mahasiswa Program Magister Ekonomi Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara angkatan 16 yang telah sama-sama berjuang dengan penulis, dalam menyelesaikan studi dan telah memberikan banyak bantuan, motivasi dan dukungan yang luar biasa.

Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun agar nantinya dapat menjadi lebih baik dan sempurna. Akhirnya penulis memohon agar Tuhan Yang Maha Esa memberikan limpahan kasih dan berkat-Nya kepada penulis dan semua pihak yang telah memberikan bantuannya selama ini.

Medan, April 2011 Penulis,

(11)

RIWAYAT HIDUP

Nama : Yuliana Rotua Siringoringo

Tempat dan Tanggal Lahir : Bengkulu, 18 Juli 1983 Jenis Kelamin : Perempuan

Agama : Kristen Protestan

Status : Belum Menikah

Nama Orang Tua

Ayah : Ir. M.H. Siringoringo

Ibu : H. Limbong

Alamat Rumah : Jln. Gaperta No. 203 Medan 20115

Pendidikan

1. Tahun 1989-1995 : SD St. Carolus Bengkulu 2. Tahun 1997-2000 : SLTP St. Carolus Bengkulu 3. Tahun 2000-2003 : SMU Negeri 02 Bengkulu 4. Tahun 2003-2007 : Universitas Riau

Jurusan Manajemen Sumberdaya Perairan

(12)

DAFTAR ISI

2.1. Perdagangan Internasional ... 12

(13)

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN ... 53

4.1. Produksi Udang Indonesia ... 53

4.2. Konsumsi dan Harga Udang di Indonesia ... 57

4.3. Harga Udang di Pasar Domestik ... 59

4.4. Ekspor Udang Indonesia ... 61

4.5. Harga Udang Dunia... 63

4.6. Nilai Tukar Rupiah ... 64

4.7. Tingkat Bunga Indonesia ... 67

4.8. Uji Asumsi ... 69

4.8.1. Uji Stasioneritas... 69

4.8.2. Uji Kointegrasi ... 71

4.9. Analisis Data Penelitian Two Stage Least Squares (2 SLS)... 72

4.9.1. Hasil Estimasi Produksi Udang Domestik ... 73

4.9.2. Hasil Estimasi Konsumsi Udang Domestik ... 74

4.9.3. Hasil Estimasi Volume Ekspor Udang Indonesia di Pasar Internasional ... 75

4.9.4. Hasil Estimasi Harga Udang Indonesia ... 77

4.10. Hasil Simulasi Kebijakan ... 78

4.10.1. Depresiasi Nilai Tukar Rupiah 5%... 79

4.10.2. Tingkat Bunga Turun 5% ... 79

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

5.1. Kesimpulan ... 81

5.2. Saran ... 83

(14)

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

1.1 Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia ... 5

1.2 Volume dan Nilai Ekspor Udang Indonesia di Pasar Produktif, 2005- 2007 ... 7

4.1 Perkembangan Produksi Udang di Indonesia ... 56

4.2 Laju Pertumbuhan Konsumsi Udang di Pasar Domestik ... 58

4.3 Perkembangan Harga Udang di Pasar Domestik ... 60

4.4 Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia ... 62

4.5 Perkembangan Harga Udang Dunia (US$/Ton) ... 63

4.6 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah/USD... ... 66

4.7 Perkembangan Tingkat Bunga di Indonesia ... 68

4.8 Uji Akar-akar Unit (Uji Stasioneritas) pada Tingkat Level/1st D ... 70

4.9 Hasil Estimasi Uji Kointegrasi ... 72

4.10 Ringkasan Hasil Dugaan Model Penawaran Udang Indonesia di Pasar Internasional ... 73

(15)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

1.1 Volume Ekspor Udang Indonesia ... 5

2.1 Kurva Perdagangan Internasional ... 13

2.2 Deflationary & Inflationar Gap ... 24

2.3 Kurva Penawaran ... 34

2.4 Kerangka Konsep Penelitian... ... 40

4.1 Perkembangan Produksi Udang di Indonesia ... 57

4.2 Laju Pertumbuhan Konsumsi Udang di Pasar Domestik ... 59

4.3 Perkembangan Harga Udang Domestik ... 61

4.4 Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia... 62

4.5 Perkembangan Harga Udang Dunia ... 64

4.6 Perkembangan Nilai Tukar Rp terhadap Dolar Amerika ... 67

(16)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

1 Data Analisis Volume Ekspor Udang Indonesia di Pasar Internasional 87 2 Hasil Estimasi Persamaan Simultan dengan Metode Two Stage Least

Square ... 88

3 Hasil Uji Stasioner ... 90

4 Hasil Uji Kointegration ... 96

(17)

DETERMINAN VOLUME EKSPOR UDANG INDONESIA DI PASAR INTERNASIONAL

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan simultanitas dalam persamaan produksi udang Indonesia, konsumsi udang domestik, volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional dan harga udang Indonesia. Penelitian ini juga ingin menganalisis pengaruh konsumsi udang domestik dan volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional terhadap produksi udang Indonesia. Pengaruh harga udang Indonesia dan pendapatan per kapita terhadap konsumsi udang domestik, pengaruh harga udang dunia, nilai tukar rupiah, produksi udang Indonesia dan harga udang Thailand terhadap total volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional serta pengaruh harga udang dunia, tingkat bunga dan volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional terhadap harga udang Indonesia selama kurun waktu periode penelitian 1980-2008.

Metode analisis yang digunakan untuk mengetahui hubungan simultanitas adalah 2 SLS (Two Stage Least Square). Dan kaidah identifikasinya menunjukkan bahwa kondisi pada persamaan simultan mengalami overidentified sehingga memungkinkan untuk menggunakan metode 2 SLS.

Berdasarkan hasil estimasi metode 2 SLS (Two Stage Least Square) pada persamaan produksi udang Indonesia menunjukan bahwa konsumsi udang domestik dan volume ekspor udang Indonesia berpengaruh positif dan signifikan dengan tingkat kepercayaan  5%terhadap produksi udang Indonesia. Harga udang Indonesia berpengaruh negatif dan signifikan terhadap konsumsi udang domestik sementara pendapatan perkapita Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap konsumsi udang domestik. Harga udang dunia, nilai tukar rupiah, produksi udang Indonesia dan harga udang Thailand berpengaruh positif dan signifikan terhadap total volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional, sedangkan persamaan harga udang Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga udang dunia, volume ekspor udang Indonesia dan tingkat bunga Indonesia.

(18)

DETERMINANT OF EXPORT VOLUME OF INDONESIAN SHRIMPS IN THE INTERNATIONAL MARKET

ABSTRACT

This study aims to determine whether there is a relationship in the equation multanitas the Indonesian shrimp production, domestic shrimp consumption, export volume of Indonesian shrimps in the international market and the price of Indonesian shrimp. This study also wanted to analyze the influence of domestic shrimp consumption and export volume of Indonesian shrimps in the international market against Indonesian shrimp production. The influence of Indonesian shrimp prices and income per capita of domestic shrimp consumption, the influence of world shrimp prices, the rupiah, Indonesian shrimp production and the price of shrimp production thailand to total shrimp export volume of Indonesia in the international market as well as the influence of world shrimp prices, interest rates and export volume of Indonesian shrimps in the international market of Indonesian shrimp prices during the study period 1980-2008.

Method of analysis used to determine the relationship multanitas is 2 sls (two stage least square), and rules of identification showing that the conditions on the equation of multan suffered overidentified so allow me to use method 2 sls.

Based on the estimation method 2 sls (two stage least square) on Indonesian shrimp production equation shows that the domestic shrimp consumption and export volume of Indonesian shrimps have positive and significant with confidence levels in

á = 5% of Indonesian shrimp production. Indonesian shrimp prices significantly and

negatively related to the domestic shrimp consumption while income per capita of Indonesia has positive and significant impact on domestic shrimp consumption. World shrimp prices, the rupiah, Indonesian shrimp production and shrimp prices thailand has positive and significant impact on total export volume of Indonesian shrimps in the international market, while the Indonesian shrimp price equation has positive and significantly to the prices of world shrimp, shrimp export volume of Indonesia and Indonesian interest rates.

(19)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

(20)

Adapun faktor-faktor yang mendorong terjadinya perdagangan internasional, yaitu:

a. Perbedaan sumber daya alam. b. Perbedaan sumber daya modal.

c. Perbedaan sumber daya manusia atau tenaga kerja. d. Perbedaan teknologi.

e. Perbedaan selera masyarakat. f. Perbedaan biaya produksi.

g. Keinginan memenuhi kebutuhan barang dan jasa dalam negeri.

h. Terjadinya era globalisasi sehingga tidak satu negara pun di dunia dapat hidup sendiri.

(21)

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki potensi yang cukup besar di bidang perikanan, terutama karena memiliki wilayah laut yang cukup luas yaitu 7,9 juta km2 dan memiliki garis pantai sepanjang 80.791 km2 dengan luas pertambakan dan kolam ikan yang tersebar di beberapa wilayah Indonesia. Dibanding dengan luas daratannya yang hanya 1,9 juta km2 ternyata Indonesia memiliki luas perairan sebesar 81 persen dari seluruh luas wilayah Indonesia, sehingga Indonesia dapat menjadi salah satu negara yang dapat merajai bisnis perikanan dunia. Sektor perikanan Indonesia dalam era perdagangan bebas mempunyai peluang yang cukup besar. Salah satu komoditas ekspor Indonesia yang diharapkan dapat menyumbangkan devisa negara dari sektor non migas adalah udang. Konsumsi udang dunia terus meningkat, sementara itu sumber daya pantai Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan demikian, dilihat dari sisi produksi, prospek industri udang Indonesia adalah sangat cerah. Sejak tahun 1987 Indonesia telah menjadi salah satu pemasok terpenting udang dunia. Udang yang terdiri dari udang segar dan beku merupakan komoditas ekspor utama hasil sektor kelautan dan perikanan. Kontribusi ekspor udang dalam perolehan devisa Indonesia tergolong cukup besar, khususnya dari kelompok sektor non migas.

(22)
(23)

Tabel 1.1. Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia

Gambar 1.1. Volume Ekspor Udang Indonesia

(24)

dengan nilai mencapai US $ 1.168.940 ribu dan merupakan jumlah tertinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diduga karena adanya depresiasi nilai tukar rupiah, di mana pada saat itu nilai tukar rupiah terhadap dolar sebesar Rp. 10.950. Kondisi ini menyebabkan petani ikan dan nelayan selaku produsen memperoleh keuntungan yang cukup besar dari hasil penjualan ekspor udang sehingga pada akhirnya mendorong naiknya volume ekspor udang Indonesia di pasar Internasional. Jepang pada tahun 1995 merupakan negara importir udang terbesar di dunia dengan jumlah import udangnya sebesar 292.909 ton. Negara tujuan ekspor udang Indonesia adalah Jepang, di mana pada tahun 1995 volume ekspor udang Indonesia ke Jepang mencapai 64.305 ton. Faktor-faktor yang menyebabkan Jepang menjadi pasar utama udang Indonesia adalah:

1. Jepang merupakan pasar ekspor yang terbesar di dunia.

2. Biaya transportasi relatif lebih murah dibandingkan misalnya ke Amerika Serikat atau Eropa.

3. Jepang mempunyai batasan persyaratan mutu impor yang tidak terlalu ketat dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

(25)

Amerika Serikat dan Uni Eropa merupakan negara importir udang terbesar 2006 mencapai 35.232 ton dengan nilai sebesar US $ 196.430. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.2 di bawah ini:

Tabel 1.2. Volume dan Nilai Ekspor Udang Indonesia di Pasar Produktif, 2005 – 2007

(26)

beberapa tahun terakhir daya saing ekspor Indonesia menunjukkan kecenderungan yang makin melemah dibanding Thailand. Hal ini diduga disebabkan karena mutu produk udang Indonesia dan juga harga udang yang bersaing dengan negara-negara lainnya. Sedangkan harga udang dunia dan harga udang di pasar domestik juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional. Semakin tinggi harga udang dunia maka para produsen cenderung untuk mengekspor udangnya ke luar negeri, secara teoritis adanya kenaikan harga akan meningkatkan pasokan ekspor udang, dan sebaliknya jika harga turun maka terjadi penurunan pasokan ekspor udang. Pada sisi lain, jika terjadi kenaikan harga udang maka permintaan impor udang akan cenderung turun dan sebaliknya jika harga udang turun maka akan menaikkan permintaan impor (Irwan, 1997).

(27)

dampak paling besar pada produksi dan ekspor udang Indonesia ke Amerika Serikat, Jepang dan Singapura, namun kurang berdampak pada harga udang domestik.

Ekspor memiliki pengaruh yang positif terhadap pendapatan nasional bagi Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang dan merupakan penghasil devisa negara yang dapat memperkokoh pertumbuhan ekonomi nasional. Menyadari akan pentingnya peranan ekspor bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia, maka udang yang merupakan salah satu komoditi yang memiliki potensi kuat untuk peningkatan pendapatan negara yang masih menjadi primadona dalam ekspor perikanan di pasar internasional. Oleh karena itu penelitian ini diarahkan untuk menganalisis determinan volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional dengan menggunakan data-data aktual di Indonesia.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang pemilihan judul di atas, maka permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah konsumsi udang domestik dan volume ekspor udang Indonesia berpengaruh terhadap total produksi udang di Indonesia?

2. Apakah harga udang domestik dan pendapatan per kapita Indonesia berpengaruh terhadap konsumsi udang di Indonesia?

(28)

4. Apakah harga udang dunia, tingkat bunga dan volume ekspor udang Indonesia berpengaruh terhadap harga udang di Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis pengaruh konsumsi udang domestik dan volume ekspor

udang Indonesia terhadap total produksi udang di Indonesia.

2. Untuk menganalisis pengaruh harga udang domestik dan pendapatan per kapita Indonesia terhadap konsumsi udang di Indonesia.

3. Untuk menganalisis pengaruh harga udang dunia, nilai tukar, total produksi udang di Indonesia dan harga udang Thailand terhadap volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional.

4. Untuk menganalisis pengaruh harga udang dunia, tingkat bunga Indonesia dan volume ekspor udang Indonesia terhadap harga udang di Indonesia.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

(29)

2. Bagi masyarakat ilmiah, penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi kemajuan dan pengembangan ilmu ekonomi pembangunan khususnya mengenai determinan volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional. 3. Bagi pemerintah, diharapkan dapat menjadi masukan dalam hal referensi

untuk pengambilan kebijakan khususnya bidang perekonomian sektor perikanan.

(30)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional diawali dengan pertukaran atau perdagangan tenaga kerja dengan barang dan jasa lainnya. Dasar dalam perdagangan internasional adalah adanya perdagangan barang dan jasa antara dua negara atau lebih yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Perdagangan ini terjadi apabila terdapat permintaan dan penawaran pada pasar internasional. Selain itu perdagangan internasional mampu menggerakkan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Terdapat beberapa hal yang mendorong terjadinya perdagangan internasional diantaranya dikarenakan perbedaan permintaan dan penawaran antar negara juga turut menyebabkan terjadinya perdagangan internasional. Perbedaan ini terjadi karena: (a) tidak semua negara memiliki dan mampu menghasilkan komoditi yang diperdagangkan, karena faktor-faktor alam negara tersebut tidak mendukung, seperti letak geografis dan kandungan buminya dan (b) perbedaan pada kemampuan suatu negara dalam menyerap komoditi tertentu pada tingkat yang lebih efisien.

(31)

yang dihasilkan lebih mahal dalam penggunaan sumber daya (Lindert dan Kindleberger, 1995). Perdagangan internasional semacam itu akan mendorong peningkatan konsumsi dan keuntungan. Sebaliknya kebijakan pembatasan perdagangan oleh pemerintah justru memberikan kerugian yang lebih besar bagi masyarakat dalam negeri dibandingkan manfaat yang diperoleh (Nopirin, 1997).

Volume ekspor suatu komoditi dari negara tertentu ke negara lain merupakan selisih antara penawaran domestik dan permintaan domestik yang disebut sebagai kelebihan penawaran (excess supply). Pada pihak lain, kelebihan penawaran dari negara tersebut merupakan permintaan impor bagi negara lain atau merupakan kelebihan permintaan (excess demand). Selain dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran domestik, ekspor juga dipengaruhi oleh faktor-faktor pasar dunia seperti harga komoditas itu sendiri, jumlah komoditas itu sendiri dan komoditas substitusinya di pasar internasional serta hal-hal yang dapat mempengaruhi harga baik secara langsung maupun tidak langsung (Salvatore, 1997).

Negara A (Eksportir) Perdagangan Internasional Negara B (Importir)

Sumber: Salvatore, 1997

(32)

Pada Gambar 2.1 di atas menjelaskan terdapat perdagangan internasional antara negara A dan negara B. Sehingga pada perdagangan internasional antara negara A sebagai negara pengekspor dan negara B sebagai negara pengimpor terjadi keseimbangan harga komoditi relatif. Selain itu perdagangan internasional terjadi akibat kelebihan penawaran pada negara A dan kelebihan permintaan pada negara B. Pada negara A harga suatu komoditas sebesar Pa, dan di negara B harga komoditas tersebut sebesar Pb, cateris paribus. Pada pasar internasional harga yang dimiliki oleh negara A akan lebih kecil yaitu berada pada harga P* sehingga negara A akan mengalami kelebihan penawaran (excess supply) di pasar internasional.

(33)

menyebabkan ekspor dan impor pada suatu negara. Teori Perdagangan Internasional terdiri atas:

A. Pra-klasik (Merkantilisme); merupakan suatu kelompok aturan yang

(34)

dapat memperoleh keuntungan dengan mengorbankan negara lain (Rosyadi, 2001).

B. Keunggulan Absolut; Ekonomi klasik resmi berdiri ketika Adam Smith

mengeluarkan bukunya yang berjudul An Inquiry into Nature and Causes of the Wealth of Nations, yang biasa disingkat dengan Wealth of Nations. Dalam

bukunya, Adam Smith ingin menjelaskan bagaimana meningkatkan kekayaan/ kemakmuran suatu negara dan bagaimana kekayaan tersebut didistribusikan. Dalam hal ini, kekayaan suatu negara akan bertambah searah dengan peningkatan keterampilan dan efisiensi para tenaga kerja, dan sejalan dengan persentase penduduk yang terlibat dalam proses produksi. Kesejahteraan ekonomi setiap individu tergantung pada perbandingan antara produksi total dengan jumlah penduduk. Adam Smith juga menganjurkan adanya spesialisasi kerja dan penggunaan mesin-mesin sebagai sarana utama untuk peningkatan produksi. Ia juga memperkenalkan konsep invisible hand-nya di mana setiap orang yang melakukan kegiatan di dalam perekonomian dituntun oleh sebuah “tangan yang tidak kelihatan” sehingga dengan mengejar kepentingannya

(35)
(36)

C. Keunggulan Komparatif; Teori perdagangan internasional ini dikenal dengan

(37)

memiliki keunggulan komparatif dalam satu komoditi, maka negara satunya harus dianggap memiliki keunggulan komparatif dalam komoditi lainnya.

D. Teori Heckscher-Ohlin; Gagasan yang menyatakan bahwa sumber utama

perdagangan internasional adalah adanya perbedaan karunia sumber-sumber daya antarnegara merupakan salah satu landasan teori yang paling berpengaruh dalam ilmu ekonomi internasional. Teorinya sendiri dikembangkan oleh Eli Heckscher dan Bertil Ohlin yang disebut dengan teori proporsi faktor. Teori ini sangat menekankan saling keterkaitan antara perbedaan proporsi faktor-faktor produksi antarnegara dan perbedaan proporsi penggunaannya dalam memproduksi berbagai macam barang. Pada dasarnya, teori perdagangan Heckscher-Ohlin dilandaskan pada asumsi-asumsi pokok sebagai berikut (Salvatore, 1997):

a. Di dunia hanya terapat dua negara saja (negara 1 dan negara 2), dua komoditi (komoditi X dan komoditi Y), dan dua faktor produksi (tenaga kerja dan modal).

b. Kedua negara tersebut memiliki dan menggunakan metode atau tingkat teknologi produksi yang persis sama.

c. Komoditi X secara umum bersifat padat karya atau padat tenaga kerja, sedangkan komoditi Y secara umum bersifat padat modal. Hal ini berlaku untuk kedua negara.

(38)

e. Spesialisasi produksi yang berlangsung di kedua negara sama-sama tidak lengkap atau tidak menyeluruh; artinya, masing-masing negara tetap memproduksi kedua jenis komoditi itu secara sekaligus, meskipun dalam komposisi yang berbeda.

f. Selera atau preferensi-preferensi permintaan para konsumen yang ada di kedua negara itu persis sama.

g. Terdapat kompetisi sempurna dalam pasar produk (tempat perdagangan kedua komoditi) dan juga dalam pasar faktor (yakni tempat bertemunya kekuatan penawaran dan permintaan atas berbagai faktor produksi, yang dalam teori ini dibatasi pada modal dan pasar tenaga kerja). Maksudnya, pemasok komoditi maupun faktor produksi begitu banyak, sehingga tidak ada yang bisa mendikte harga secara sepihak. Harga semata-mata terbentuk oleh kekuatan pasar.

h. Terdapat mobilitas faktor yang sempurna dalam ruang lingkup masing-masing negara namun tidak ada mobilitas faktor antarnegara/internasional. Maksudnya, seorang pekerja atau sejumlah modal bisa dengan mudah berpindah-pindah dari satu sektor ekonomi/industri ke sektor lainnya dalam negara yang sama, namun mereka tidak bisa berpindah ke negara lain. i. Sama sekali tidak ada biaya-biaya transportasi, tarif atau berbagai bentuk

(39)

j. Semua sumber daya produktif atau faktor produksi yang ada di masing-masing negara dapat dikerahkan secara penuh dalam kegiatan-kegiatan produksi.

k. Perdagangan internasional yang terjadi di antara negara 1 dan negara 2 sepenuhnya seimbang (jumlah ekspor dan impor dari kedua negara ini persis sama).

2.2. Ekspor

Ekspor dalam arti sederhana adalah barang dan jasa yang telah dihasilkan di suatu negara kemudian dijual ke negara lain. Ekspor adalah proses transportasi barang (komoditas) dan jasa dari suatu negara ke negara lain secara legal, umumnya dalam proses perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk mengeluarkan barang (komoditas) dan jasa dari dalam negeri untuk memasukannya ke negara lain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur tangan dari bea cukai di negara pengirim maupun penerima. Ekspor merupakan bagian penting dari perdagangan internasional. Ekspor dapat diartikan sebagai total penjualan barang yang dapat dihasilkan oleh suatu negara, kemudian diperdagangkan kepada negara lain dengan tujuan mendapatkan devisa. Suatu negara dapat mengekspor barang-barang yang dihasilkannya ke negara lain yang tidak dapat menghasilkan barang-barang yang dihasilkan negara pengekspor (Lipsey, 1995).

(40)

ekspor bertambah, pengeluaran agregat bertambah tinggi dan selanjutnya akan menaikkan pendapatan nasional. Akan tetapi sebaliknya pendapatan nasional tidak dapat mempengaruhi ekspor. Ekspor belum tentu bertambah apabila pendapatan nasional bertambah atau ekspor dapat mengalami perubahan walaupun pendapatan nasional tetap. Bagi negara produsen atau pengekspor bahwa tinggi rendahnya pendapatan nasional dalam negeri tidak dapat mempengaruhi ekspor akan tetapi suatu ekspor dapat dipengaruhi oleh pendapatan nasional negara yang melakukan permintaan ekspor terhadap suatu barang dari negara lain.

Salah satu faktor yang mempengaruhi Ekspor atau Impor adalah Pendapatan Nasional (GDP). Pendapatan nasional memegang peranan yang sangat penting sebagai suatu konsep yang menjawab upaya memacu pertumbuhan ekonomi dan keberadaannya dalam suatu perekonomian. Pendapatan nasional digunakan sebagai tolak ukur kinerja perekonomian suatu negara, apakah mengalami kemajuan atau kemunduran. Pendapatan nasional diartikan sebagai pendapatan yang diperoleh suatu negara dari aktivitas ekonomi yang dilakukan keseluruhan masyarakat dalam berbagai sektor perekonomian yang biasanya dihitung setiap tahun. GDP dengan memasukkan perdagangan luar negri dapat dirumuskan sebagai berikut:

GDP = C + I + G + NX

Di mana: C + I + G disebut permintaan domestik (domestic demand), sehingga NX = GDP – Permintaan domestik.

(41)

terjadi pada naik turunnya siklus bisnis, namun dalam jangka panjang perekonomian tumbuh mantap dalam jangka panjang baik peningkatan GDP riil maupun standar hidup. GDP potensial menunjukkan tingkat output maksimum yang berkesinambungan (maximum sustainable level of output) yang mampu diproduksi perekonomian suatu negara. Output potensial ditentukan oleh kapasitas produksi dalam suatu perekonomian yang bergantung pada input yang tersedia (capital, labour, land, ect) dan efisiensi teknologi dalam suatu perekonomian (Sinaga, 2009).

Pendapatan nasional bruto (Gross National Product/GNP) adalah pendapatan nasional yang diberikan sebagai total nilai nominal barang-barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara di dalam negeri selama satu tahun tertentu. GDP nominal berupa banyaknya barang yang diproduksi pada tahun tertentu dikalikan dengan harga barang yang bersangkutan pada tahun tersebut. Sedangkan GDP riil adalah banyak barang yang diproduksi pada tahun tertentu dikalikan dengan harga tahun dasar (Bakti, dkk, 2010). Menurut Sinaga (2009) Deflationary Gap terjadi jika output aktual berada di bawah output potensialnya yang akan berdampak pada meningkatnya pengangguran (kesempatan kerja berkurang), Sedangkan Inflationary Gap terjadi jika output aktual meningkat melebihi output potensialnya yang akan berdampak pada

(42)

Gambar 2.2. Deflationary & Inflationar Gap

GDP aktual menggambarkan tingkat output yang bisa dihasilkan dalam suatu perekonomian dengan kendala adanya perubahan siklus bisnis yang mungkin berubah secara cepat mengikuti perubahan bisnis dalam jangka pendek baik internal maupun eksternalnya. GDP Potensial cenderung tumbuh secara mantap (steady growth) karena input seperti labor, capital dan tingkat teknologi berubah sangat lambat sepanjang waktu, sementara GDP aktual tidak mengikuti pola siklus bisnisnya. Menurut Salvatore dalam Jamal (1999), bahwa ekspor bagi suatu negara sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya Tingkat Pendapatan (GDP) di negara-negara lain yang menjadi mitra dagangnya. Impor dan tabungan merupakan suatu fungsi yang positif dan searah dengan pendapatan. Semakin tinggi pendapatan makin tinggi pula impor dan tabungannya, Jika pendapatan naik maka daya beli meningkat dan dengan sendirinya konsumsi yang diinginkan juga meningkat.

Deflationary Gap

GDP Potensial Inflationary Gap GDP Aktual

waktu GDP aktual

(43)
(44)

Kurs riil (real exchange rate) adalah harga relatif dari barang-barang diantara dua negara. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah harga relatif dari mata uang dua negara (Mankiw, 2003). Nilai tukar riil adalah nilai tukar nominal yang sudah dikoreksi dengan harga relatif yaitu harga-harga di dalam negeri dibandingkan dengan harga-harga di luar negeri. Nilai tukar dapat dihitung dengan menggunakan rumus di bawah ini:

*

P

P

S

Q

di mana;

Q = Nilai Tukar riil S = Nilai Tukar Nominal

P = Tingkat Harga Domestik P* = Tingkat Harga di Luar Negeri

Sistem nilai tukar secara sederhana dapat diartikan sebagai seperangkat kebijakan institusi, praktek, peraturan, dan mekanisme yang menentukan tingkat di mana suatu mata uang ditukarkan dengan mata uang lainnya. Sebagai dasar pertukaran mata uang suatu negara, maka setiap negara harus menetapkan kerangka atau sistem nilai tukar mata uangnya terhadap mata uang negara lainnya. Secara umum sistem nilai tukar yang diterapkan saat ini dapat dibagi atas 2 sistem yaitu, fixed exchange rate dan floating exchange rate.

1. Sistem Nilai Tukar Tetap (Fixed Exchange Rate)

(45)

sentral melakukan jual beli valuta asing. Nilai tukar biasanya tetap atau diperbolehkan berfluktuasi dalam batas yang sempit. Pada sistem ini, otoritas moneter tidak memiliki keleluasaan dalam mengendalikan kondisi moneter domestik. Kebaikan dari sistem nilai tukar tetap ini adalah adanya kepastian akan nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang negara lain. Sehingga para eksportir dan importir dapat memperhitungkan transaksi perdagangan dengan pihak luar negeri. 2. Sistem Nilai Tukar Mengambang Bebas (Free Floating Exchange Rate)

Dalam sistem nilai tukar mengambang bebas, nilai tukar ditentukan oleh mekanisme pasar dengan atau tanpa upaya stabilitas oleh otoritas moneter. Dalam arti, pemerintah atau otoritas moneter tidak berhak melakukan intervensi pasar, kecuali pada keadaan tertentu.

3. Sistem Nilai Tukar Mengambang Terkendali (Manage Floating Exchange Rate)

(46)

Dalam sistem nilai tukar internasional mengambang, depresiasi atau apresiasi nilai mata uang akan mengakibatkan perubahan ke atas ekspor maupun impor. Apabila mata uang domestik terapresiasi terhadap mata uang asing maka harga impor bagi penduduk domestik menjadi lebih murah, tetapi apabila nilai mata uang domestik terdepresiasi di mana nilai mata uang dalam negeri menurun dan nilai mata uang asing bertambah tinggi harganya sehingga menyebabkan ekspor meningkat dan impor cenderung menurun. Jadi nilai tukar mempunyai hubungan yang searah dengan volume ekspor, apabila nilai mata uang asing meningkat maka volume ekspor juga akan meningkat. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Irwan (1997) yang menyatakan bahwa depresiasi nilai tukar rupiah akan berdampak positif terhadap total ekspor udang Indonesia dan penerimaan devisa, sebaliknya akan berdampak negatif terhadap konsumen domestik.

(47)

Dalam hukum penawaran dijelaskan sifat hubungan antara penawaran suatu barang dengan tingkat harganya. Hukum penawaran pada hakikatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan: makin rendah harga suatu barang maka makin sedikit penawaran terhadap barang tersebut, sebaliknya makin tinggi harga suatu barang maka makin tinggi penawaran akan barang tersebut dengan asumsi ceteris paribus (Sukirno, 2002). Oleh karena itu, penawaran akan barang-barang ekspor juga

ditentukan oleh besarnya harga dari barang ekspor tersebut. Di mana, semakin tinggi harga dari barang-barang ekspor maka penawaran akan barang-barang ekspor tersebut akan bertambah. Sebaliknya, semakin rendah harga barang impor maka makin rendah penawaran akan barang ekspor tersebut dengan asumsi ceteris paribus (faktor lain dianggap tetap atau tidak mengalami perubahan). Jadi, dari sisi penawaran antara harga ekspor suatu barang dengan volume ekspor barang tersebut mempunyai hubungan positif. Menurut Irwan (1997) bahwa harga riil udang di pasar domestik berhubungan positif dengan harga ekspor udang Indonesia, sebaliknya harga udang di pasar domestik berhubungan negatif dengan penawaran domestik dan volume ekspor. Mekanismenya adalah Jika harga pasar internasional lebih tinggi daripada harga pasar domestik, maka produsen akan lebih memilih untuk memasarkan komoditi yang ia produksi ke pasar internasional sehingga akan meningkatkan pertumbuhan ekspor di negara tersebut.

(48)

bunga yang investor bayar untuk meminjam uang. Suku bunga riil (real interest rate) adalah tingkat bunga nominal yang dikoreksi karena pengaruh inflasi (Mankiw, 2008). Bank Indonesia selalu menetapkan tingkat suku bunga tertentu dari waktu ke waktu, suku bunga tersebut dinamakan suku bunga SBI. Suku bunga SBI dihitung dengan menggunakan rata-rata tertimbang dan memperhitungkan bobot volume transaksi yang terjadi pada periode yang bersangkutan (Bank Indonesia, 2005).

Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktivitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadinya penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan di luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau di luar negeri (Natalia, 2009). Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri. Chetty (2004) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa perubahan pada tingkat bunga memberikan pengaruh ganda yakni meningkatkan biaya modal dan biaya penundaan investasi yang selanjutnya akan berpengaruh negatif terhadap investasi itu sendiri, padahal investasi adalah salah satu penopang bagi peningkatan kegiatan perdagangan luar negeri terutama ekspor nonmigas.

(49)

Produksi adalah sebuah deskripsi matematis atau kuantitatif dari berbagai macam kemungkinan-kemungkinan produksi teknis yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Fungsi produksi memberikan output maksimum dalam pengertian fisik tiap-tiap tingkat input dalam pengertian fisik. Dalam spesifikasi multiproduksi sangat penting membedakan antara faktor-faktor variabel dan tetap. Fungsi Cobb-Douglass adalah suatu fungsi atau persamaan yang melibatkan dua atau lebih variabel, di mana variabel yang satu disebut variabel independen, yang menjelaskan atau dengan simbol x sedangkan variabel dependen atau variabel yang dijelaskan dengan simbol y. Oleh karena produksi udang Indonesia lebih diorentasikan untuk dipasarkan ke internasional, maka untuk fungsi permintaan udang Indonesia dalam penelitian ini merupakan residu antara penawaran dengan ekspornya, secara matematis dapat diturunkan sebagai berikut:

CUDt = QUDt – Ext

Sedangkan fungsi penawaran ekspor udang Indonesia di pasar internasional adalah sebagai berikut:

EX = f( PW, e, QUD)

Di mana:

CUDt = Permintaan Udang Domestik di Indonesia QUDt = Penawaran Udang dalam Negeri pada tahun t Ext = Jumlah Ekspor Udang Indonesia

EX = Ekspor Udang

(50)

e = Nilai Tukar QUD = Produksi Udang

Nilai berbagai variabel fungsi produksi dikehendaki dalam bentuk indikator fisik. Hubungan yang melibatkan nilai uang dinyatakan dalam fungsi lain yang dapat dirumuskan berdasarkan fungsi produksi. Sebagian karakteristik fungsi produksi bergantung kepada nilai sumber yang diumpankan, dan sebagian lagi bergantung kepada sumber tersebut (teknologi produksi). Turunnya produksi udang Indonesia akan berdampak negatif terhadap ekspor udang Indonesia, konsumen domestik dan penerimaan devisa.

2.3. Penawaran Udang

(51)

sedangkan faktor lain dianggap tetap (ceteris paribus). Sementara model penawaran dinamis adalah merupakan respon penawaran akibat adanya perubahan faktor-faktor di luar harga yang menyebabkan terjadinya pergeseran kurva penawaran (supply shifter).

(52)

0 Jumlah

Gambar 2.3. Kurva Penawaran

(53)

menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran ekspor suatu negara. Penawaran udang di Indonesia berasal dari produksi hasil tangkapan di laut dan hasil produksi tambak udang. Dalam rangka penyederhanaan maka penawaran udang Indonesia digabungkan (didesagregasi). Secara sistematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

QS = f(P, Px, Qt-1)

Di mana:

Qs = Penawaran P = Harga output Px = Harga input

QUDt-1 = Produksi Udang Indonesia pada tahun t

Dengan mengasumsikan bahwa harga output udang hasil tangkapan laut dan hasil tambak adalah sama atau bersubstitusi sempurna, maka harga udang yang dipakai adalah harga udang rata-rata yakni harga udang domestik (PUD). Sedangkan harga input untuk memproduksi sangat bervariasi baik untuk udang hasil tambak maupun tangkapan di laut, maka untuk penyederhanaannya digunakan harga agregat yang berupa harga input modal yakni tingkat bunga, dengan harga i. Dengan mengasumsikan bahwa fungsi penawaran udang berbentuk linier dan berdimensi waktu, maka fungsi penawaran udang Indonesia adalah sebagai berikut:

(54)

Dalam bentuk dinamis bahwa penawaran dalam jangka panjang dapat dinyatakan sebagai suatu penawaran yang diharapkan. Dalam bentuk lain fungsi di atas dapat dijadikan:

QUDt = a’0 + a’1PUDt + a’2it + a’3QUDt-1+ u’t

2.4. Penelitian Terdahulu

Adapun penelitian sebelumnya yang dijadikan bahan rujukan yang relevan dengan penelitian ini dan dapat dijadikan referensi yaitu:

(55)

tukar rupiah. Harga udang domestik berpengaruh positif oleh harga udang domestik tahun sebelumnya dan harga udang dunia tetapi kurang dipengaruhi oleh nilai tukar rupiah.

2. Sundari (1999), tentang Model Permintaan Udang Indonesia di Pasar Jepang dan Pasar Amerika Serikat. Disimpulkan bahwa faktor-faktor yang menentukan permintaan udang Indonesia di Pasar jepang adalah harga tuna, konsumsi ikan per kapita, hasil tangkapan udang local, dan pendapatan penduduk Jepang. Sedangkan harga udang Indonesia, nilai tukar yen terhadap dolar Amerika, volume impor udang India dan jumlah penduduk tidak mempengaruhi permintaan udang Indonesia di pasar Jepang. Sedangkan permintaan udang Indonesia di pasar Amerika Serikat dapat dijelaskan oleh faktor-faktor yang digunakan yaitu: harga udang Indonesia, harga tuna, konsumsi udang per kapita Amerika, hasil tangkapan udang lokal, pendapatan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, volume impor udang Thailand dan jumlah penduduk Amerika. 3. Irwan (1997), tentang Perdagangan Udang Indonesia di Pasar Domestik dan

(56)

penerimaan devisa dan konsumen domestik. Depresiasi nilai tukar rupiah akan berdampak positif terhadap total ekspor udang Indonesia dan penerimaan devisa sebaliknya akan berdampak negatif terhadap konsumen domestik.

4. Emmi S (1996), menganalisis Permintaan Ekspor Udang di Indonesia. Estimasi permintaan udang ekspor Indonesia menggunakan analisa regresi berganda dalam bentuk logaritma dengan metode OLS dan Auto Regresive 1. Formulasi persamaan matematiknya adalah sebagai berikut:

Yi = f (X1, X2,………….X11)

Ln Y = ao + a1 ln X1 + a2 ln X2 + a3 ln X3 + a4 ln X4 + a5 ln X5 a6 ln X6 + a7 ln X7 + a8 ln X8 + a9 ln X9 + a10 ln X10 + a11 ln X11

Di mana:

(57)

fungsi dari harga, ekspor, trend waktu, kapasitas produksi dalam negeri, jumlah yang ditawarkan satu tahun sebelumnya, nilai tukar, pendapatan real negara importir, tarif ekspor dan kebijakan pemerintah lainnya.

5. Penelitian Goenarsyah (1990), yaitu Studi Permintaan dan Penawaran Komoditi Ekspor Pertanian (Udang). Hasil penelitian menunjukkan jumlah udang yang di ekspor ke Jepang dipengaruhi oleh harga udang di pasaran Jepang dan nilai tukar dolar AS terhadap rupiah. Pangsa ekspor udang Indonesia di pasar Jepang dalam jangka pendek tidak banyak dipengaruhi oleh ratio harga udang Indonesia terhadap harga udang negara lain, akan tetapi dalam jangka panjang pangsa pasar udang Indonesia relatif peka terhadap perubahan ratio harga ekspor. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan udang Indonesia dengan negara-negara lain di pasar internasional cukup tajam.

2.5. Kerangka Konsep

(58)

Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian

2.6. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu proporsi, kondisi atau prinsip untuk sementara waktu dianggap benar dan barangkali tanpa keyakinan supaya bisa ditarik suatu konsekuensi logis dan dengan cara ini kemudian diadakan pengujian tentang kebenarannya dengan menggunakan data empiris dari hasil penelitian. Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka penulis membuat suatu hipotesis dalam penelitian ini adalah:

1. Konsumsi udang domestik dan volume ekspor udang Indonesia berpengaruh positif terhadap total produksi udang di Indonesia.

Pendapatan per kapita Indonesia

Tingkat Bunga

Harga Udang Dunia

Harga Udang Indonesia Konsumsi Udang

Indonesia

Harga Udang Thailand

Volume

Ekspor Udang

Indonesia

Produksi Udang Indonesia

(59)

2. Harga udang di pasar domestik berpengaruh negartif terhadap konsumsi udang di Indonesia, sedangkan pendapatan per kapita Indonesia berpengaruh positif terhadap konsumsi udang di Indonesia.

3. Harga udang dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar, total produksi udang Indonesia dan harga udang Thailand berpengaruh positif terhadap volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional.

(60)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini difokuskan untuk mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi volume ekspor udang Indonesia di pasar internasional. Adapun variabel independen dalam penelitian ini adalah harga udang dunia, nilai tukar, tingkat bunga, pendapatan per kapita Indonesia dan harga udang Thailand. Sedangkan konsumsi udang domestik, ekspor udang Indonesia, harga udang domestik dan produksi udang domestik merupakan variabel dependen.

3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yaitu data dalam bentuk urut waktu (times series) dari tahun 1980 – 2008. Sedangkan sumber data diperoleh dari berbagai sumber seperti publikasi-publikasi resmi, Jurnal Internasional, Badan Pusat Statistik, Bank Indonesia, Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, FAO, Globalfish, Eurofish, situs website, dan penelitian sebelumnya.

(61)

Metode yang dugunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah metode studi kepustakaan (Library Research). Library research adalah penelitian yang dilakukan menggunakan bahan-bahan kepustakaan berupa tulisan-tulisan ilmiah seperti artikel atau jurnal-jurnal ilmiah serta laporan penelitian ilmiah yang berkaitan dengan topik yang sedang diteliti. Sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan pencatatan langsung berupa data urut waktu (time series) selama kurun waktu 28 tahun (1980-2008).

3.4. Pengolahan Data

Dalam penelitian ini penulis menggunakan E-views 4.1 dan Microsoft Excell 2010 untuk mengolah data yang diteliti.

3.5. Model Persamaan Simultan

Penelitian ini menggunakan pendekatan deterministik ekonometrika yaitu model regresi persamaan simultan (simultaneous equation regression model) untuk mengetahui hubungan interdependensi di mana salah satu persamaan dimungkinkan muncul pada persamaan lain dalam sistem. Model simultan terdiri lebih dari satu variabel tidak bebas (endogenous variable) dan lebih dari satu persamaan. Hubungan interdependensi menyebabkan variabel endogen yang menjelaskan (dependent explanatory variable) menjadi stokastik dan terkorelasi dengan gangguan

(62)

Model persamaan simultan dalam penelitian ini yaitu:

LOG(QUD) = C(10) + C(11)LOG(CUD) + C(12)LOG(XUD) + µ1 ...(3.1) LOG(CUD) = C(20) + C(21)LOG(PUD) + C(22)LOG(PDB) + µ2 ...(3.2) LOG(XUD) = C(30) + C(31)LOG(PUW) + C(32)LOG(EXR) + C(33)LOG(QUD) + C(34)LOG(PUT) + µ3 ...(3.3) LOG(PUD) = C(40) + C(41)LOG(PUW) + C(42)LOG(SBI) + C(42)LOG(QUD) +

µ4...(3.4)

Di mana:

XUD = Volume Ekspor Udang Indonesia (Ton) PDB = Pendapatan per kapita Indonesia (Miliar Rp) PUD = Harga udang dalam Negeri (US $/Ton) PUW = Harga udang dunia ((US $/Ton)

PUT = Harga ekspor udang Thailand (US $/Ton)

EXR = Nilai tukar mata udang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (Rp/US $) SBI = Tingkat suku bunga di Indonesia (%)

QUD = Total produksi udang Indonesia (Ton) CUD = Konsumsi udang Indonesia (Ton)

µ1 = residual dari produksi udang Indonesia

µ2 = residual dari konsumsi udang dalam negeri

µ3 = residual dari volume ekspor udang Indonesia

(63)

Persamaan reduce-form dari persamaan struktural QUD, CUD, XUD dan PUD adalah sebagai berikut:

LOG(QUD) = á(10) + á(11)LOG(PUW) + á(12)LOG(EXR) + á(13)LOG(PDB) + á(14)LOG(SBI) + á(15)LOG(PUT) + V1

LOG(CUD) = á(20) + á(21)LOG(PUW) + á(22)LOG(EXR) + á(23)LOG(PDB) + á(24)LOG(SBI) + á(25)LOG(PUT) + V2

LOG(XUD) = á(30) + á(31)LOG(PUW) + á(32)LOG(EXR) + á(33)LOG(PDB) + á(34)LOG(SBI) + á(35)LOG(PDB) + V3

LOG(PUD) = á(40) + á(41)LOG(PUW) + á(42)LOG(EXR) + á(43)LOG(PDB) + á(44)LOG(SBI) + á(45)LOG(PUT) + V4

Di mana v1, v2, v3 dan v4 masing-masing residual dari persamaan reduce-form QUD, CUD, XUD dan PUD.

Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model regresi persamaan simultan (simultaneous equation regression model). Dalam model persamaan simultan ada dua jenis variabel, yaitu: Pertama, Variabel Endogen (endogenous variable) yaitu varibel yang sudah ditetapkan dalam model tersebut. Kedua, Variabel Eksogen (Exogenous Variable), yaitu variabel yang berasal dari luar variabel yang bersifat Non-stochastic (bebas dari faktor gangguan) atau disebut dengan Predetermined Variable.

(64)

mencerminkan perilaku dalam kegiatan ekonomi. Kemudian Persamaan Reduced Form yaitu suatu bentuk persamaan di mana semua variabel endogen merupakan

fungsi dari semua variabel predetermined dan disturbance error term.

3.6. Model Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Two-Stage Least Square. Cara penaksiran ini digunakan untuk model regresi persamaan simultan yang

mengandung persamaan-persamaan yang Over Identified. Penaksiran terdiri dari dua tahap penghitungan, yaitu:

1) Pada tahap pertama, kita mengaplikasikan metode Ordinary Least Square (OLS) terhadap persamaan-persamaan reduced form. Berdasarkan nilai-nilai koefisien regresi variabel-variabel bebas dalam persamaan-persamaan reduced form ini, maka kita peroleh taksiran mengenai nilai variabel-variabel

bebas dalam persamaan-persamaan reduced form, maka kita peroleh taksiran mengenai nilai variabel-variabel Endogeous dalam persamaan ini

2) Pada tahap kedua, kita subtitusikan taksiran nilai variabel-variabel Endogenous yang diperoleh dari perhitungan tahap pertama ke dalam sistem

(65)

3.6.1. Kaidah Identifikasi

Sistem persamaan simultan dianggap mengandung persoalan identifikasi apabila penaksiran nilai-nilai parameter tidak dapat sepenuhnya dilakukan dari persamaan reduced form sistem persamaan simultan ini. Adapun kaidah-kaidah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

1) Unidentified/Underidentified, yaitu di mana koefisien atau penaksir yang dihasilkan dari persamaan reduced form “tidak cukup” untuk menaksir

koefisien persamaan struktural (jumlah koefisien persamaan reduced form < jumlah koefisien persamaan struktural).

2) Exactly Identified, yaitu di mana koefisien atau penaksir yang dihasilkan dari persamaan reduced form “tepat/sama” untuk menaksir koefisien persamaan

struktural (jumlah koefisien persamaan reduced form = jumlah koefisien persamaan struktural).

3) Overidentified, yaitu di mana koefisien atau penaksir yang dihasilkan dari persamaan reduced form “melebihi” untuk menaksir koefisien persamaan struktural (jumlah koefisien persamaan reduced form > jumlah koefisien persamaan struktural).

(66)

persamaan tertentu. Kondisi ini dapat dijelaskan sebagai berikut: suatu persamaan dapat diidentifikasi apabila jumlah variabel (Endogenous dan Exogenous) yang dikeluarkan dari persamaan tertentu dan jika dimasukkan ke dalam persamaan lain minimal sama dengan jumlah persamaan dalam sistem persamaan simultan yang sedang diteliti dikurangi satu. Kondisi Order ini dapat dinyatakan sebagai berikut:

(K – k) ≥ (m - 1)

Jika; (K – k) = (m - 1), disebut exactly identified (K – k) > (m - 1), disebut over identified (K – k) < (m - 1), disebut under identified di mana;

K = Jumlah variabel eksogenous dalam model k = Jumlah variabel eksogenous di setiap persamaan m = Jumlah variabel endogenous di setiap persamaan

Persamaan K-k m-1 Hasil Identifikasi

QUD 5 – 1 3 – 1 4 > 2 over identified CUD 5 – 2 2 – 1 3 > 1 over identified XUD 5 – 4 2 – 1 1 = 1 exactly identified PUD 5 – 3 2 – 1 2 > 1 over identified

(67)

endogen masing-masing persamaan dapat dilihat dari nilai R2.

3.7. Uji Estimasi

3.7.1. Uji Stasioneritas

Model penelitian ini merupakan model yang menganalisis data deret waktu (time series). Data deret waktu umumnya bersifat non-stasioner dan diperoleh melalui proses random walk. Persamaan regresi yang menggunakan peubah-peubah yang non-stasioner akan mengarah kepada hasil yang palsu (spurious). Dalam mengembangkan model deret waktu perlu dibuktikan, apakah proses stokastik yang menghasilkan data tersebut dapat diasumsikan tidak bervariasi karena waktu. Jika proses stokastik tetap dari waktu ke waktu, yang berarti prosesnya stationary, maka dapat disusun suatu model dengan persamaan yang menghasilkan koefisien tetap yang dapat diduga dari data waktu yang lalu. Untuk membuktikan hal tersebut, diperlukan uji unit root terhadap Yt yang tumbuh dari waktu ke waktu, dengan menggunakan uji Augmented Dickey-Fuller (ADF). Uji stasioneritas dilakukan dengan menggunakan uji Dickey-Fuller, dimulai dari proses autoregresi orde pertama, yaitu:

t t

t Y

Y  1 1 1………(4.1) Di mana: åt adalah white noise error term.

(68)

dimodifikasi dengan mengurangi pada kedua sisi persamaan, sehingga persamaan (4.1) dapat diubah menjadi persamaan (4.2):

)

Ä = first difference (perbedaan pertama)

Oleh karena itu hipotesis pada persamaan (4.2), Ho: ä = 0, ini menunjukkan bahwa persamaan tersebut tidak stasioner, sedangkan hipotesis alternatifnya H1: ä<0

menunjukkan persamaan tersebut mengikuti proses stasioner. Jadi apabila Ho ditolak maka artinya data deret waktu tersebut stasioner dan sebaliknya. Pada persamaan (4.2) diasumsikan bahwa error term (åt) tidak berkorelasi, jika terdapat error term yang berkorelasi maka persamaan yang diuji menggunakan uji Augmented Dickey Fuller (ADF) sebagai berikut:

(69)

nol ditolak maka Yt adalah stasioner sekitar trend deterministik. Uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah sebuah data time series bersifat stasioner atau tidak adalah dengan melakukan uji Ordinary Least Squares (OLS). Jika nilai ADF statistiknya lebih besar dari MacKinnon Critical Value (dalam nilai kritis 1 persen, 5 persen atau 10 persen) maka data tersebut tidak stasioner namun jika nilai ADF statistiknya lebih kecil dari MacKinnon Critical Value maka data tersebut stasioner (Manurung, 2005).

3.7.2. Uji Kointegrasi

Suatu kombinasi peubah yang bersifat non-stasioner dan diperoleh melalui proses random walk dapat membentuk kombinasi linear, di mana bentuk hubungan dari peubah-peubah itu selalu beriringan secara tetap (tidak saling menjauh atau mendekat). Untuk kasus dua peubah xt dan yt yang non-stasioner, maka persamaan:

Zt = xt –ëyt ………. (4.4) adalah stationary, di mana ë merupakan parameter ko-integrasi. Dalam kasus ini, xt dan yt terintegrasi pada ordo pertama (first-order cointegrated), sehingga deret-deret Äxt dan Äyt yang dideferensiasi pertama adalah stasionary.

Untuk menguji adanya kointegrasi antara xt dan yt, maka dari persamaan:

xt = á + âyt + å……… (4.5)

perlu diuji apakah residual dugaan (et) adalah stationary. Pengujian dilakukan dengan menggunakan statistik Durbin-Watson (D-W), yaitu:

Ó (et – et-1)2

D-W = ……….. (4.6)

Ó (et)2

(70)

D-W = 0. Nilai kritis untuk uji D-W = 0 pada tingkat signifikansi satu persen (1%) adalah 0.511 (Pindyck dan Rubinfeld, 1991; Malian; dkk, 2003).

3.8. Definisi Operasional

1. Volume ekspor udang adalah banyaknya ekspor udang Indonesia yang dihitung dalam ton.

2. Produksi adalah jumlah udang yang dihasilkan di Indonesia yang dihitung dalam ton.

3. Konsumsi domestik merupakan total permintaan udang di Indonesia yang dihitung dalam ton.

4. KURS merupakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berarti nilai tengah harga mata uang dolar AS terhadap rupiah Rp/$.

5. Harga adalah nilai nominal dari barang/jasa dalam satuan uang. Data harga yang digunakan adalah harga udang dunia, harga udang domestik, harga udang Thailand dengan satuan Milyar US $/ ton.

6. Produk Domestik Bruto adalah nilai barang dan jasa yang diproduksi oleh warga negara di Indonesia dalam satu tahun (PDB menurut harga konstan tahun 2000 diukur dengan satuan miliar rupiah).

(71)

BAB IV

ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1. Produksi Udang Indonesia

Produksi udang Indonesia berasal dari tiga sumber yaitu: udang tangkapan laut, udang tangkapan dari perairan umum dan udang yang berasal dari budidaya tambak. Jenis-jenis udang yang berasal dari laut sebagian besar adalah udang putih (banana prawns), udang dogol (metapenaeus prawns), udang windu (giant tiger prawns) dan udang-udang lainnya. Udang yang berasal dari perairan umum (rawa,

waduk, sungai dan danau) adalah udang galah (freshwater giant shrimp), udang tawar (freshwater shrimp), udang grago (Athyds) dan udang-udang jenis lainnya. Sedangkan jenis udang yang berasal dari budidaya tambak sebagian besar adalah udang windu, udang putih dan udang api (berapenaeus shrimp).

(72)

(misalnya: bantuan usaha melalui penyaluran kredit, penyuluhan-penyuluhan perikanan, dll), serta masuknya investasi asing yang sudah tertarik dalam bidang perikanan cukup membantu meningkatnya produksi udang dalam negeri. Indonesia sebagai negara yang memiliki garis pantai yang panjang sangat potensial dalam mengembangkan usaha aquaculture. Produksi tambak udang dari tahun ke tahun terus meningkat, di mana setelah tahun 1984 produksi udang tambak ini terlihat meningkat tajam. Hal ini disebabkan adanya program intensifikasi tambak yang dimulai pada tahun tersebut. Perkembangan produksi udang tambak sebelum ada program intensifikasi rata-rata sebesar 13% per tahun, tetapi setelah adanya program tersebut produksinya rata-rata meningkat 23% per tahun. Dengan tingginya perkembangan produksi tambak, maka peranan udang tambak dalam produksi nasional akan menjadi tinggi. Pada tahun 1991-1995 kontribusi udang tambak terhadap produksi udang nasional sebesar 43.28%, sedangkan kontribusi udnag dari perairan umum rata-rata sebesar 5.8%. Hal ini dapat dimengerti karena sampai saat ini belum ada perhatian yang serius untuk mengembangkan produksi air tawar, demikian pula untuk udang yang diperoleh dari hasil tangkapan laut yang kontribusinya terhadap produksi udang nasional rata-rata 51.28%.

(73)

dengan komoditi pengganti lainnya. Konsumsi udang dalam negeri pada tahun 1980 – 1987 masih sangat rendah sekitar 97.420 ton hingga 124.910 ton dikonsumsi di dalam negeri. Tetapi pada tahun berikutnya konsumsi udang dalam negeri mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Jenis udang yang dikonsumsi adalah udang-udang kecil yang tidak diekspor, sedangkan penggunaan produknya selain dikonsumsi dalam keadaan segar dikonsumsi pula dalam bentuk olahan seperti kerupuk udang, diasinkan (ebi) dan terasi udang.

(74)

Indonesia kembali meningkat sebesar 0.12% atau sekitar 6.900 ton dari tahun sebelumnya. Fluktuasi produksi ini berhubungan erat dengan fluktuasi produksi udang laut Indonesia, namun peningkatan pada tahun 2006 dan 2008 disebabkan karena meningkatnya usaha intensifikasi dalam pertambakan udang sehingga mendorong kenaikan produksi udang nasional.

Tabel 4.1. Perkembangan Produksi Udang di Indonesia

Figur

Tabel 1.1. Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia
Tabel 1 1 Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia . View in document p.23
Gambar 1.1. Volume Ekspor Udang Indonesia
Gambar 1 1 Volume Ekspor Udang Indonesia . View in document p.23
Tabel 1.2. Volume dan Nilai Ekspor Udang Indonesia di Pasar Produktif, 2005 – 2007
Tabel 1 2 Volume dan Nilai Ekspor Udang Indonesia di Pasar Produktif 2005 2007 . View in document p.25
Gambar 2.1. Kurva Perdagangan Internasional
Gambar 2 1 Kurva Perdagangan Internasional . View in document p.31
Gambar 2.2.  Deflationary & Inflationar Gap
Gambar 2 2 Deflationary Inflationar Gap . View in document p.42
Gambar 2.3. Kurva Penawaran
Gambar 2 3 Kurva Penawaran . View in document p.52
Gambar 2.4. Kerangka Konsep Penelitian
Gambar 2 4 Kerangka Konsep Penelitian . View in document p.58
Tabel 4.1. Perkembangan Produksi Udang di Indonesia
Tabel 4 1 Perkembangan Produksi Udang di Indonesia . View in document p.74
Tabel 4.2. Laju Pertumbuhan Konsumsi Udang di Pasar Domestik
Tabel 4 2 Laju Pertumbuhan Konsumsi Udang di Pasar Domestik . View in document p.76
Tabel 4.3. Perkembangan Harga Udang di Pasar Domestik
Tabel 4 3 Perkembangan Harga Udang di Pasar Domestik . View in document p.78
Gambar 4.3. Perkembangan Harga Udang Domestik
Gambar 4 3 Perkembangan Harga Udang Domestik . View in document p.79
Tabel 4.4. Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia
Tabel 4 4 Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia . View in document p.80
Gambar 4.4. Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia
Gambar 4 4 Perkembangan Volume Ekspor Udang Indonesia . View in document p.80
Tabel 4.5. Perkembangan Harga Udang Dunia
Tabel 4 5 Perkembangan Harga Udang Dunia . View in document p.81
Gambar 4.5. Perkembangan Harga Udang Dunia
Gambar 4 5 Perkembangan Harga Udang Dunia . View in document p.82
Tabel 4.6. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah/USD
Tabel 4 6 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah USD . View in document p.84
Gambar 4.6. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika
Gambar 4 6 Perkembangan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika . View in document p.85
Tabel 4.7. Perkembangan Tingkat Bunga di Indonesia
Tabel 4 7 Perkembangan Tingkat Bunga di Indonesia . View in document p.86
Gambar 4.7. Perkembangan Tingkat Bunga di Indonesia
Gambar 4 7 Perkembangan Tingkat Bunga di Indonesia . View in document p.87
Tabel 4.8. Uji Akar-akar Unit (Uji Stasioneritas) pada Tingkat Level/1stD
Tabel 4 8 Uji Akar akar Unit Uji Stasioneritas pada Tingkat Level 1stD . View in document p.88
Tabel 4.9. Hasil Estimasi Uji Kointegrasi
Tabel 4 9 Hasil Estimasi Uji Kointegrasi . View in document p.90
Tabel 4.10. Ringkasan Hasil Dugaan Model Penawaran Udang Indonesia  di Pasar Internasional
Tabel 4 10 Ringkasan Hasil Dugaan Model Penawaran Udang Indonesia di Pasar Internasional . View in document p.91
Tabel 4.11. Hasil Simulasi (Rata-rata) Alternatif Kebijakan Tahun 1980 – 2008
Tabel 4 11 Hasil Simulasi Rata rata Alternatif Kebijakan Tahun 1980 2008 . View in document p.97

Referensi

Memperbarui...