• Tidak ada hasil yang ditemukan

Validasi kuesioner Littlears berbahasa Indonesia untuk menilai tumbuh kembang pendengaran pada anak usia 7-12 bulan di Jakarta Tahun 2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Validasi kuesioner Littlears berbahasa Indonesia untuk menilai tumbuh kembang pendengaran pada anak usia 7-12 bulan di Jakarta Tahun 2013"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

PENDENGARAN PADA ANAK USIA 7-12 BULAN DI

JAKARTA TAHUN 2013

Laporan penelitian diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar SARJANA KEDOKTERAN

Disusun Oleh :

Manda Pisilia

NIM : 1110103000073

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)
(5)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Gangguan dengar pada anak merupakan suatu rintangan untuk mencapai

perkembangan dan edukasi yang optimal. Menurut survei di berbagai negara,

sekitar 0,5-5 dari 1000 bayi baru lahir memiliki gangguan dengar sejak kecil. Hal

ini perlu mendapat perhatian yang serius karena kemampuan untuk mendengar

adalah dasar untuk perkembangan bahasa seseorang.1-4

Akan tetapi, pada kenyataannya gangguan dengar yang dialami oleh

seorang anak terlambat untuk dideteksi. Rata-rata gangguan dengar disadari saat

bayi berusia 2-3 tahun. Jika gangguan dengar tidak juga disadari akan menganggu

kemampuan belajar anak tersebut. Anak tersebut akan mengalami keterlambatan

baik bahasa mapun kognitif jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Masalah

interaksi sosial pun akan terganggu karena anak tersebut akan dianggap bodoh

oleh teman sebayanya.3,4,5

Hal ini sebenarnya bisa kita tangani dengan melakukan deteksi dan

tatalaksana dini gangguan pendengaran pada bayi dan anak. Menurut National Institutes of Health, the American Academy of Otalaryngology/Head and Neck Surgery, dan American Academy of Pediatrics (AAP), deteksi dini idealnya dilakukan sebelum bayi meninggalkan rumah sakit atau paling lambat enam bulan

pertama masa kehidupan. Hal ini ditujukan untuk mendapatkan kemampuan

komunikasi yang sejajar dengan anak sebayanya saat anak tersebut memasuki usia

sekolah.3,4,6

AAP merekomendasikan auditory brainstem respons (ABR) atau

otoacoustic emission (OAE) maupun kombinasi keduanya sebagai deteksi dini pendengaran neonatus.7 Akan tetapi, tidak di semua pelayanan kesehatan terdapat OAE ataupun ABR. Keterbatasan alat deteksi dini serta kurangnya pengetahuan

dan kesadaran orang tua mengenai tumbuh kembang pendengaran anak, diduga

(6)

merupakan penyebab terlambatnya orang tua membawa anak dengan gangguan

dengar dan bicara ke pusat rujukan terdekat.3

Bentuk lain deteksi dini tumbuh kembang pendengaran pada anak adalah

dengan mengamati perilaku terkait respons pendengaran. Berbagai bentuk model

evaluasi telah dikembangkan sehubungan dengan hal tersebut. Kuesioner LittlEars

pertama kali dikembangkan di Jerman dan dimaksudkan untuk menilai perilaku

terkait respons pendengaran pra verbal pada anak kurang dari 24 bulan. Kuesioner

terdiri dari 35 pertanyaan, berisi jawaban ya atau tidak. Kuesioner

menggambarkan tiga respons pendengaran: reseptif, semantik dan produktif.

LittEars adalah jenis kuesioner yang diisi oleh orang tua dan memiliki banyak

keuntungan sebagai alat pendukung dalam evaluasi pendengaran. Pengamatan dari

orang tua penting saat anak tidak bisa bekerja sama di lingkungan yang tidak biasa

atau terlalu muda untuk tes standar pendengaran. Sampai saat tulisan ini dibuat,

kuesioner ini telah diterjemahkan kedalam 15 bahasa, namun belum diadaptasi ke

dalam bahasa Indonesia. Pada penelitian ini, peneliti ingin mengetahui peran

kuesioner LittlEars sebagai sarana deteksi dini gangguan dengar anak usia 0-24

bulan.8,9,10

1.2. Rumusan Masalah

- Mengingat keterbatasan ketersediaan alat deteksi dini pendengaran pada

bayi dan anak, perlu adanya suatu alternatif alat bantu dalam mendeteksi

tumbuh kembang pendengaran bayi dan anak.

- Pada penelitian ini akan dilakukan validasi kuesioner LittlEars untuk

mengevaluasi pendengaran pada anak usia 7-12 bulan.

1.3. Pertanyaan Penelitian

Apakah metode skrining dengan kuesioner LittlEars cukup efektif untuk

mendeteksi tumbuh kembang pendengaran anak usia 7-12 bulan di Indonesia ?

1.4. Hipotesis

Metode skrining dengan kuesioner LittlEars dapat menjadi alat untuk

mendeteksi tumbuh kembang pendengaran pada anak usia 7-12 bulan di

(7)

1.5. Tujuan Penelitian

1.5.1. Tujuan Umum

Memvalidasi kuesioner LittlEars sebagai metode deteksi tumbuh

kembang pendengaran pada anak di Indonesia.

1.5.2. Tujuan Khusus

- Memvalidasi kuesioner LittlEars sebagai metode deteksi tumbuh

kembang pendengaran pada anak usia 7-12 bulan tanpa faktor

risiko gangguan dengar di Jakarta.

- Melihat korelasi antara usia dan total skor kuesioner Littlears pada

anak usia 7-12 bulan tanpa faktor risiko gangguan dengar di

Jakarta.

1.6. Manfaat penelitian

Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah:

1.6.1. Bagi Kalangan Medis

- Kuesioner LittlEars dapat digunakan dalam deteksi dini gangguan

dengar di Indonesia bagi anak usia dibawah 24 bulan.

- Sebagai acuan penelitian selanjutnya.

1.6.2. Bagi Peneliti

- Menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama pendidikan.

- Menambah pengetahuan tentang proses dan pembuatan laporan

penelitian.

- Menambah pengetahuan peneliti tentang gangguan pendengaran,

dampak, serta pencegahannya pada anak usia dibawah 24 bulan.

1.6.3. Bagi Perguruan Tinggi

- Melaksanakan kegiatan tridarma perguruan tinggi sebagai lembaga

penyelenggara pendidikan, penelitian, dan pengabdian bagi

masyarakat.

- Meningkatkan hubungan kerjasama antara pendidik dan

(8)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Embriologi Telinga11

Saat mudigah berusia sekitar 22 hari terdapat penebalan ektoderm

permukaan di kedua sisi rombensefalon, ini merupakan petunjuk awal

terbentuknya telinga. Penebalan lempeng telinga cepat mengalami invaginasi dan

membentuk vesikel telinga. Selama perkembangan selanjutnya masing-masing

vesikel terbagi menjadi komponen ventral yang menghasilkan sakulus dan duktus

koklearis, dan komponen dorsal yang membentuk utrikulus, kanalis

semisirkularis, dan duktus endolimfatikus.

Tulang pendengaran muncul selama paruh pertama kehidupan janin,

tulang-tulang ini tetap terbenam dalam mesenkim sampai bulan kedelapan.

Maleus dan inkus berasal dari tulang rawan arkus faring pertama, dan stapes

berasal dari tulang rawan arkus kedua.

Pada awal bulan ketiga, sel-sel epitel dibawah meatus berploriferasi,

membentuk suatu lempeng epitel yang solid disebut sumbat meatus. Pada bulan

ketujuh, sumbat ini luruh dan lapisan epitel di lantai meatus ikut serta membentuk

gendang telinga definitif.

2.2. Anatomi Telinga

Mendengar adalah salah satu indera utama dan seperti melihat penting

untuk peringatan jarak jauh dan komunikasi. Hal ini dapat digunakan untuk

memori, membantu dalam berkomunikasi dan sebagai peringatan terhadap bahaya

tertentu. Mendengar adalah sadar akan getaran yang dirasakan sebagai suara.

Untuk melakukan hal ini, sinyal yang sesuai harus mencapai bagian otak yang

lebih tinggi. Fungsi telinga adalah untuk mengubah getaran fisik ke impuls saraf

untuk diterjemahkan. Seperti mikrofon telinga dirangsang oleh getaran: di

mikrofon getaran ditransduksi ke sinyal listrik, telinga menjadi suatu dorongan

saraf yang pada gilirannya kemudian diproses oleh jalur pendengaran pusat otak.12 Telinga terdiri dari tiga bagian yakni telinga luar, tengah, dan dalam.

Bagian luar dan tengah telinga meyalurkan gelombang suara dari udara ke telinga

(9)

dalam yang berisi cairan, untuk memperkuat energi suara. Telinga dalam berisi

dua sistem sensorik yang berbeda yaitu koklea, yang mengandung

reseptor-reseptor untuk mengubah gelombang suara menjadi impuls-impuls saraf, sehingga

kita dapat mendengar; dan aparatus vestibularis, yang penting untuk sensasi

keseimbangan.13

Gambar 2.1: Anatomi telinga

Sumber: Martini, 2012

2.2.1. Telinga Luar

Telinga luar bertugas menyalurkan gelombang suara di udara dan

dipindahkan ke telinga dalam. Struktur telinga luar berupa gabungan dari tulang

rawan yang ditutupi oleh kulit yang memiliki bentuk cukup unik. Liang telinga

memiliki tulang rawan pada bagian lateral namun bertulang disebelah medial.

Telinga luar terdiri dari pinna/daun telinga, meatus auditorius eksternus/saluran

telinga, dan membran timpani/gendang telinga.13,14

Daun telinga atau disebut juga pinna adalah suatu lipatan menonjol tulang

rawan berlapis kulit yang menangkap gelombang suara dan menyalurkan ke

saluran telinga luar. Pinna melindungi bagian awal dari kanal dan berperan dalam

menentukan arah suara. Karena bentuknya, pinna secara parsial menghambat

gelombang suara yang mendekati telinga dari belakang sehingga dapat membantu

(10)

Meatus auditorius eksternus atau saluran telinga memiliki pintu masuk

yang dijaga oleh rambut-rambut halus. Kulit yang melapisi saluran mengandung

kelenjar keringat modifikasi yang menghasilkan serumen, suatu sekresi lengket

untuk menjebak partikel kecil asing. Hal ini bertujuan untuk mencegah partikel di

udara mencapai bagian dalam saluran telinga tempat partikel dapat mencederai

membran timpani dan mengganggu proses mendengar.13

Membran timpani atau gendang telinga adalah suatu bangunan berbentuk

kerucut dengan puncaknya, umbo, mengarah ke medial. Membran timpani

berbentuk semitransparant dan tipis sehingga perlu perlakuan yang hati-hati jika

dilakukan intervensi. Jika membran timpani bergetar saat terkena gelombang

suara maka ia akan melekuk kedalam dan keluar seiring dengan frekuensi

gelombang suara.13,14,15

2.2.2.Telinga Tengah

Telinga tengah berukuran kecil, merupakan suatu rongga yang berisi udara

di bagian petrous dari tulang temporal. Membran timpani memisahkannya dari

telinga bagian luar, sedangkan dengan telinga bagian dalam dipisahkan oleh

bagian tulang tipis yang terdiri dari dua membran kecil yakni jendela oval dan

jendela bundar. Dinding posteriornya lebih luas dibanding dinding anterior

sehingga berbentuk seperti baji. Dibagian tengah terdapat bagian yang lebih

sempit karena promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo

dari membran timpani.14,17

Telinga tengah berhubungan dengan nasofaring yang merupakan bagian

superior dari laring melalui tuba auditorius atau tuba fariotimpanik atau tuba

eustachius. Bagian lateral tuba eustachius merupakan bagian bertulang sementara

duapertiga bagian medial bersifat kartilaginosa. Tuba eustachius berfungsi untuk

menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.14,15

Terdapat tiga tulang yang tipis pada telinga tengah. Maleus, melekat pada

permukaan dalam membran timpani. Bagian kepala dari maleus berhubungan

dengan badan dari inkus. Tulang tengah, inkus, melekat pada maleus melalui

ligament minute, dengan demikian jika maleus bergerak inkus juga ikut bergerak.

Stapes, bagian kepalanya berhubungan dengan inkus. Bagian dasar dari stapes

(11)

2.2.3. Telinga Dalam

Telinga dalam merupakan sistem tubulus bergelung yang sangat kompleks

sehingga disebut sebagai labirin yang terletak dalam tulang temporal. Bagian ini

merupakan lokasi terpenting untuk menentukan apakah telinga seseorang sensitif

terhadap frekuensi dan level suara tertentu. Labirin tulang dan membran memiliki

bagian vestibular dan bagian koklear. Bagian vestibularis (pars superior) berhubungan dengan keseimbangan, sementara bagian koklearis (pars inferior) merupakan organ pendengaran kita. Telinga tengah dibagi menjadi tiga

kompartemen longitudinal berisi cairan.13-18

Kompartemen pertama adalah duktus koklearis atau skala media,

membentuk terowongan di sepanjang bagian tengah koklea, hampir mencapai

ujung. Terdapat cairan yang disebut endolimfe. Endolimfe adalah cairan dengan

konsentrasi elektrolit yang berbeda dengan cairan tubuh pada umumnya karena

satu-satunya cairan ekstraselular dalam tubuh yang tinggi kalium dan rendah

natrium. Diujungnya terdapat helikotrema, tempat bertemunya skala vestibuli dan

skala timpani.13,14,15

Skala vestibuli adalah kompartemen kedua yang merupakan kompartemen

atas. Skala vestibuli mengikuti kontur dalam spiral. Terdapat cairan perilimfe

yang mirip seperi cairan serebrospinal yang mengandung tinggi natrium dan

rendah kalium. Dipisahkan dari telinga tengah oleh jendela oval. Skala timpani

adalah kompartemen terakhir yang merupakan kompartemen bawah. Skala

timpani mengikuti kontur luar dan jenis cairannya seperti pada skala vestibuli,

yakni cairan perilimfe.13,14,15

Membran vestibularis membentuk atap duktus koklearis dan memisahkan

skala vestibuli dengan skala media. Membran basilaris, membentuk lantai duktus

koklearis yang memisahkan skala media dengan skala timpani. Organ korti yang

merupakan reseptor suara mengandung sel rambut berada diatas membran

basilaris. Sel rambut menghasilkan sinyal saraf jika mengalami perubahan bentuk

secara mekanis akibat gerakan cairan di telinga dalam. Terdapat dua jenis sel

rambut, sel rambut dalam dan sel rambut luar.13

Sel rambut dalam merupakan sel yang mengubah gaya mekanis suara

(12)

menyampaikan pesan pendengaran ke korteks serebri). Sel rambut dalam

berhubungan melalui suatu sinaps kimiawi dengan ujung serat-serat saraf aferen

yang membentuk nervus auditorius koklearis. Depolarisasi sel-sel rambut ini (saat

terangkatnya membran basilaris) akan meningkatkan laju pelepasan

neurotransmitter, yang meningkatkan frekuensi lepas muatan di serat aferen.

Karena itu telinga mengubah gelombang suara di udara menjadi gerakan bergetar

membran basilaris yang menekuk rambut-rambut sel reseptor maju mundur.13 Sel rambut luar, memendek pada depolarisasi dan memanjang saat

hiperpolarisasi. Perilaku ini disebut sebagai elektromotilitas yang timbul sebagai

respons terhadap perubahan potensial membran.13

Bagian vestibulum telinga dalam dibentuk oleh sakulus, utrikulus, dan

kanalis semisirkularis. Utrikulus dan sakulus mengandung makula yang diliputi

oleh sel-sel rambut. Suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia menutupi

sel-sel rambut ini. Pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium

dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh

gravitasi, maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan

menimbulkan rangsangan pada reseptor.14

2.3. Fisiologi Pendengaran

Pendengaran adalah persepsi saraf mengenai energi suara. Gelombang

suara adalah getaran udara yang merambat dan terdiri dari daerah-daerah

bertekanan tinggi karena kompresi (pemampatan) molekul udara yang

berselang-seling dengan daerah-daerah bertekanan rendah karena penjarangan (rarefaction) molekul tersebut. Setiap alat yang dapat menghasilkan pola molekul udara tertentu

disebut sebagai sumber suara.13

Suara ditandai oleh nada (tone, tinggi rendahnya suara), intensitas

(kekuatan, kepekaan, loudness), dan timbre (kualitas, warna nada). Nada suatu suara ditentukan oleh frekuensi getaran, telinga manusia dapat mendeteksi

gelombang suara dengan frekuensi dari 20 sampai 20.000 Hz. Intensitas suatu

bergantung pada amplitudo gelombang suara, atau perbedaan tekanan antara

daerah bertekanan tinggi dan daerah bertekanan rendah. Kualitas suara atau warna

nada bergantung pada frekuensi tambahan yang menimpa nada dasar disebut

(13)

warna nada yang berlainan hal inilah yang menyebabkan kita dapat membedakan

sumber gelombang suara.13

Gelombang suara harus disalurkan ke telinga dalam karena di telinga

dalam terletak reseptor-reseptor khusus untuk suara berupa cairan. Proses

mendengar bisa dibagi setidaknya menjadi enam langkah dasar. Pertama,

gelombang suara masuk ke meatus eksternal dan berjalan menuju membran

timpani. Kedua, pergerakkan dari membran timpani menyebabkan getaran pada

tulang-tulang telinga tengah. Permukaan membran timpani dapat mengumpulkan

gelombang suara dengan frekuensi antara 20-20000 Hz. Ketika membran timpani

bergetar; maleus, inkus, dan stapes juga ikut bergetar. Dengan cara ini suara

dikuatkan. Ketiga, pergerakkan dari stapes di jendela oval membuat gelombang

tekanan di perilymph pada skala vestibuli. Keempat, tekanan dari gelombang mendistorsi membran basilaris ke jendela bundar dari skala timpani. Stapes

menciptakan gelombang tekanan yang berjalan sepanjang perilymph dari skala

vestibuli dan skala timpani untuk mencapai jendela bundar. Kelima, getaran pada

membran basilaris menyebabkan sel rambut bergetar melawan membran tektorial.

Pergerakkan dari sel rambut menyebabkan perubahan lokasi/displacement dari stereosilia yang membuka kanal ion di membran plasma dari sel rambut,

kemudian terjadi pengeluaran neurotransmitter dan stimulasi saraf sensori.

Keenam, informasi mengenai daerah dan intensitas stimulus dihantarkan ke sistem

saraf pusat ke cabang koklearis saraf kranial ke VIII.13,15

2.4. Gangguan Dengar di Indonesia

Gangguan perkembangan paling umum pada anak berupa gangguan

pendengaran. Di Indonesia berdasarkan survei yang dilakukan oleh Departemen

Kesehatan di 7 provinsi pada tahun 1994-1996 yaitu kejadian gangguan dengar

sebesar 0,1%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di 6 RS tahun 2009

menunjukkan bahwa insiden gangguan dengar di Indonesia sekitar 1-2 bayi per

1000 kelahiran.3

Oleh karena itu, direkomendasikan untuk melakukan deteksi dini pada

setiap bayi baru lahir sebelum bayi tersebut keluar dari rumah sakit. Beberapa

(14)

telah merekomendasikan bahwa gangguan dengar pada bayi baru lahir

diidentifikasikan, dan kemungkinan untuk diberi perlakuan secara maksimal pada

usia enam bulan pertama. Hal ini karena enam bulan pertama kelahiran

mempunyai kesempatan yang besar untuk mengembangkan kemampuan

dengarnya agar sejajar dengan teman sebaya. Jika bayi terlambat dideteksi dalam

gangguan pendengaran (misalkan baru diketahui saat anak berusia 2 atau 3 tahun)

akan mengalami kesulitan berbicara, berbahasa dan kemampuan kognitif yang

terlambat dibandingkan teman sebayanya.3,5

Gangguan dengar pada anak bisa disebabkan oleh beberapa faktor.

Diantaranya adalah kadar bilirubin yang tinggi, penggunaan obat yang berbahaya

bagi pendengaran, penggunaan ventilasi yang lama, nilai apgar yang rendah,

meningitis, lahir prematur, dan atau lahir dengan berat badan rendah. Infeksi virus

selama masa kehamilan seperti rubella dan cytomegalovirus (CMV), bisa

mengenai bayi yang baru lahir dan berakibat pada gangguan dengar.3,19

Di hampir semua negara di daerah Asia Tenggara, tidak ada usaha yang

serius untuk membentuk program deteksi pendengaran pada bayi baru lahir.

Sebagai contoh di Indonesia, tidak ada program nasional untuk deteksi

pendengaran dan juga tidak ada dukungan dari pemerintah. Namun,beberapa

institusi melaksanakan deteksi pendengaran pada bayi baru lahir.1

Gangguan dengar pada bayi dapat dideteksi dengan dua metode : evaluasi auditory brainstem response (ABR), atau otoacoustic emission (OAE). Kedua tes tersebut akurat dan non-invasive. Kemampuan bayi untuk mengkompensasi gangguan dengar tergantung pada tipe dan tingkat gangguan dengar yang

mengenainya.3

ABR dan OAE adalah uji terhadap integritas struktur jalur pendengaran

tetapi bukan pemeriksaan pendengaran yang sebenarnya. Walaupun ABR dan

OAE normal, pendengaran tidak dapat dipertimbangkan normal sampai anak

cukup matang untuk menjalani behavioral audiometry, sebagai baku emas evaluasi pendengaran.7

2.5. Skrining Pendengaran

Karena gangguan pendengaran dapat mempunyai dampak yang besar pada

(15)

adalah semakin baik, identifikasi awal melalui program skrining sangat

dianjurkan. Banyak pusat kedokteran mempunyai program demikian. Beberapa

menggunakan daftar kriteria risiko tinggi untuk memutuskan bayi yang mana yang

di skrining, beberapa pakar menskrinimg semua bayi yang memerlukan perawatan

intensif.19

Tabel 2.1: Faktor risiko yang mengenai neonatus berisiko pada gangguan pendengaran sensorineural

Gangguan sensorineural riwayat keluarga kongenital atau mulai masa anak lambat

Infeksi kongenital diketahui atau dicurigai terkait dengan gangguan pendengaran sensorineural, seperti toksoplasmosis, sifilis, rubella, sitomegalovirus, dan herpes

Anomali kraniofasial meliputi kelainan morfologis pinna dan saluran telinga, tidak ada filtrum, batas rambut rendah

Berat badan kurang dari 1.500 g

Hiperbilirubinemia pada kadar yang melebihi indikasi untuk transfusi tukar

Obat-obatan ototoksik termasuk tetapi tidak terbatas pada aminoglikosida yang digunakan selama lebih dari 5 hari (misal, gentamisin, tobramisin, kanamisin, streptomisin) dan diuretik lengkung yang digunakan bersama dengan aminoglikosida

Meningitis bakteria

Depresi berat pada saat lahir, yang dapat meliputi bayi dengan skor Apgar 0-3 pada 5 menit atau mereka yang gagal memulai pernapasan spontan pada 10 menit atau mereka yang dengan hipotonia menetap pada umur 2 jam

Ventilasi mekanik yang lama untuk selama 10 hari atau lebih (misal, hipertensi pulmonal persisten)

Stigmata atau temuan-temuan lain yang terkait dengan sindrom yang diketahui mencakup kehilangan pendengaran sensorineural (misal, sindrom Waardenburg dan sindrom Usher)

Sumber: Nelson, 2000

Tabel 2.2: Kriteria rujukan untuk penilaian audiologi

Umur (bulan) Pedoman rujukan untuk anak dengan keterlambatan berbicara

12 Ocehan atau imitasi suara tidak berbeda 18 Tidak menggunakan satu kata

24 Perbendaharaan satu-kata ≤ 10 kata

(16)

Tabel 2.3: Pedoman rujukan untuk anak-anak yang dicurigai kehilangan pendengaran

Umur (bulan) Perkembangan normal

0-4 Harus terkejut terhadap suara yang keras, diam terhadap suara ibu, aktivitas berhenti sebentar bila suara tersaji pada kadar percakapan

5-6 Harus menempatkan dengan benar suara tersaji pada bidang horizontal, mulai meniru suara dalam lagu kemampuan berbicara sendiri atau minimal menyuarakan secara timbal balik dengan orang dewasa

7-12 Harus menempatkan dengan benar suara tersaji pada semua bidang Harus respon terhadap nama, bahkan ketika diucapkan dengan benar

13-15 Harus menunjuk ke arah suara yang tidak diharapkan atau terhadap obyek yang dikenal atau orang ketika ditanya

16-18 Harus mengikuti arah yang sederhana tanpa gerak isyarat atau isyarat visual lainnya; dapat dilatih untuk mencapai ke arah mainan yang menarik pada garis tengah ketika suara disajikan

19-24 Harus menunjuk ke bagian tubuh ketika ditanya; dari 21-24 bulan, dapat dilatih untuk melakukan permainan audiometri

Sumber: Nelson, 2000

2.6. Evaluasi Pendengaran

Proses mendengar merupakan suatu mekanisme saraf yang bertanggung

jawab terhadap fenomena-fenomena berikut: menentukan lokalisasi suara,

diskriminasi pendengaran, serta pengenalan terhadap pola suara tertentu. Jika

terjadi gangguan dalam proses mendengar maka harus dilakukan evaluasi dan

diagnosis sedini mungkin. Kepentingan identifikasi dan diagnosis kehilangan

pendengaran telah dipahami secara luas. Bahkan bayi baru lahir dapat dievaluasi

untuk fungsi pendengaran. Setidaknya terdapat dua alasan penting untuk

melakukan evaluasi yaitu untuk mendiagnosis lokasi dan jenis penyakit dan untuk

menilai dampak gangguan pendengaran terhadap proses belajar, interaksi

sosial,dan pekerjaan.14,16,19

Sejak awal 1990, Universal Newborn Hearing Screening (UNHS) telah mengembangkan secara eksponensial proyek percontohan dibeberapa rumah sakit

untuk menjadi standar perawatan bayi baru lahir di pusat-pusat bersalin.

Persentase deteksi gangguan dengar bayi baru lahir di Amerika Serikat meningkat

(17)

Pada tahun 1993, The National Institutes of Health (NIH) dan The Joint Committee on Infant Hearing, 2007, merekomendasikan bahwa semua bayi baru lahir dilakukan skrining pendengaran selama enam bulan pertama kehidupan.

Lebih jauh lagi, NIH merekomendasikan untuk lebih memilih model skrining

yang dimulai dengan uji bangkitan emissi otoakustik (evoked otoacoustic emissions test) dan harus diikuti oleh tes respon batang otak auditori untuk semua bayi yang gagal uji emisi bangkitan otoakustik.21,22

The Joint Committee on Infant Hearing menyarankan dua instrumen untuk deteksi dini pendengaran bayi baru lahir yaitu : otoacouatic emissions (OAEs) atau emissi otoakustik (EOA) dan the automated auditory brainstem response (ABR) dikenal juga sebagai brainstem auditory evoked potentials (BAEPs) atau respons batang otak auditoria (ROA). Tujuan dari EHDI adalah untuk memaksimalkan kemampuan linguistik dan mengembangkan kemampuan

untuk membaca dan menulis anak yang mengalami kesulitan untuk

mendengar.16,19,23,24,25

EOA memiliki sensitivitas sebesar 100% dan spesifisitas 82-87%

sedangkan sensitivitas AABR 99,96% dan spesifisitasnya 98,7%. Bila OAE

dilanjutkan dengan AABR dalam dua tahapan skrining akan memberikan

spesifisitas sebesar 99% dan sensitivitas sebesar 100%. Pemeriksaan EOA pada

kedua telinga menghabiskan waktu (rata-rata) 7 menit, AABR 14 menit sedangkan

ABR konvensional 20 menit.7

2.6.1.Respons Batang Otak Auditoria (ROA)

Uji ROA direkomendasikan sebagai alat deteksi utama pada bayi baru

lahir yang berada di NICU karena bisa menggambarkan fungsi batang otak dan

mendeteksi bayi baru lahir dengan risiko auditory neuropathy spectrum disorder

(ANSD). ROA adalah respon listrik sebagian batang otak dan saraf kedelapan

yang timbul dalam 10 hingga 12 milidetik setelah suatu rangsang pendengaran

ditangkap oleh telinga dalam. Namun, pada ROA terjadi penurunan respon

spesifisitas-frekuensi akibat energi yang disebarkan pada daerah frekuensi untuk

menciptakan ROA yang dapat didengar.9,14,23,24

ROA memakai tiga elektroda yang diletakan di masing-masing mastoid

(18)

gelombang. Bentuk gelombang ini diberi label I sampai VII ditemukan tahun 1971

oleh Jewett. Daerah saraf kranial kedelapan ditunjukkan oleh gelombang I dan II

dan gelombang III sampai VII berasal dari daerah lebih tinggi di batang otak.

Gelombang yang dapat diperoleh secara konsisten pada semua kelompok umur

adalah gelombang I, III, dan V. Waktu terjadinya puncak gelombang setelah

mulainya rangsangan (masa laten) bertambah dan amplitudonya menurun pada

penurunan intensitas atau kekerasan stimulus.9,14,23

Manfaat klinis dari ROA antara lain : membantu dalam mendiagnosis

tumor sudut serebelopontin, membantu pada penyakit Meniere atau pusing

non-Meniere, menetapkan ambang pendengaran pada bayi dan pasien-pasien yang

sukar diperiksa, dan membantu dalam diagnosis sklerosis multiple. Secara spesifik

uji ini lebih baik daripada uji lainnya karena memiliki validitas perkiraan yang

sangat tinggi atau hampir 95%. Pemeriksaan ROA dianjurkan pada pasien dengan

riwayat ketulian dalam keluarga, rubela maternal, anak dengan anomali kepala

dan leher, kadar bilirubin 20 mg/dl atau lebih, berat lahir 1500 gram atau kurang.1 Beberapa keuntungan dari ROA antara lain adalah digunakan sebagai

instrumen pilihan utama pada evaluasi sistem pendengaran, dapat mendeteksi

lebih baik bayi baru lahir dengan neuropati pendengaran, tidak dipengaruhi oleh

sedasi atau anastesi umum, dapat dilakukan dalam kamar operasi bila anak

dianastesi karena suatu hal tertentu.19,25

Beberapa kerugian penggunaan ROA antara lain lebih mahal dari EOA,

membutuhkan waktu yang lebih lama jika dibandingkan dengan EOA, dan

pemeriksaan harus dilakukan di lingkungan yang tenang. Teknik pemeriksaan

dengan ROA cukup kompleks untuk dilakukan dan sulit untuk

menginiterpretasikan hasil pemeriksaan oleh sebab itu diperlukan pengetahuan

lebih bagi operator yang menjalankan pemeriksaan ini dan membutuhkan pasien

atau bayi baru lahir dalam keadaan tidur atau tenang selama pemeriksaan

berlangsung.19,25

Bagi kelompok pediatri ROA umumnya memliki dua penggunaan utama.

Pertama, sebagai uji audiometri yang memberi informasi mengenai kemampuan

(19)

sesudahnya. Kedua, sebagai diagnosis banding atau pemantau patologi sistem

saraf pusat.19

Uji ROA tidak menilai “pendengaran”. Ia menggambarkan respon listrik saraf pendengaran yang dapat dikorelasikan pada nilai ambang pendengaran

perilaku, tetapi ROA normal hanya menunjukkan bahwa sistem pendengaran,

sampai pada tingkat otak tengah, adalah responsif terhadap stimulus yang

digunakan. Sebaliknya kegagalan memperoleh ROA menunjukkan gangguan

respon sinkron sistem, tetapi tidak perlu berarti bahwa tidak ada “pendengaran”.

Kadang-kadang respons perilaku terhadap suara adalah normal tetapi ROA tidak

dapat diperoleh (misalnya, penyakit demielinasi neurologis). ROA dapat

digunakan untuk mendengar apakah dan pada tingkat berapakah ada gangguan

sistem pendengaran. Kehilangan pendengaran yang mendadak, progresif, atau

unilateral merupakan petunjuk untuk uji ROA.19

2.6.2. Emissi Otoakustik (EOA)

Emisi otoakustik adalah suatu sinyal akustik rendah yang diproduksi oleh

koklea sebagai respon terhadap stimulasi pendengaran. Emisi berjalan dari koklea

menuju saluran telinga luar melalui saluran telinga tengah. Nantinya emisi akan

dideteksi oleh mikrofon imatur. Dasar dari EOA adalah energi mekanik yang

diproduksi oleh gerakan sel rambut koklea yang sangat kecil, yang diubah menjadi

energi akustik sebagai respon terhadap getaran dari organ di telinga tengah. Sel

rambut koklea sangat rentan terhadap faktor eksternal dan internal. Faktor

eksternal dapat berupa suara berlebihan dan faktor internal dapat berupa bakteri,

virus, serta defek genetik. Untuk memeriksa kekuatan koklea dapat digunakan

emissi otoakustik yang ditimbulkan sementara (transient evoked otoacoustic emission-(TEOAE)).7,16,19

Keuntungan menggunakan EOA antara lain teknik pemeriksaan yang

sederhana, lebih murah dari ROA dan juga lebih cepat. Sedangkan kekurangan

dari EOA yakni memiliki keterbatasan perhitungan atau penilaian pada sistem

pendengaran, mempunya efek terhadap cairan di telinga tengah, harus dilakukan

di lingkungan yang tenang, secara potensial berefek pada verniks di kanal

(20)

Gambar 2.2: Alur skrining pendengaran bayi baru lahir di Indonesia (Depkes 2010)

Sumber: Buku panduan tatalaksana bayi baru lahir di rumah sakit, 2010

Tabel 2.4: Modifikasi tes daya dengar (Depkes 2010)

Umur lebih dari 6 bulan sampai 12 bulan

No. Daftar Pertanyaan Ya Tidak

1. Kemampuan ekspresif

 Apakah bayi dapat membuat suara berulang seperti mamamama, babababa ?

 Apakah bayi dapat memanggil mama atau papa, walaupun tidak untuk memanggil orang tuanya ?

2. Kemampuan reseptif

 Pemeriksa duduk menghadap bayi yang dipangku orang tuanya, bunyikan bel di samping bawah tanpa terlihat bayi, apakah bayi langsung menoleh ke samping bawah ?

 Apakah bayi mengikuti perintah tanpa dibantu gerakan badan, seperti stop, berikan mainanmu ?

3. Kemampuan visual

 Apakah bayi-bayi mengikuti perintah dengan dibantu gerakan badan, seperti stop, berikan makananmu ?

 Apakah bayi secara spontan memulai permainan dengan gerakan tubuh, seperti pok ame-ame atau cilukba ?

(21)

2.7. Tatalaksana Bayi Baru Lahir di Rumah Sakit, Depkes 201026

Terdapat 217 kasus kematian perinatal di 33 propinsi di Indonesia. Sebesar

142 kasus (78,5%) kematian neonatal dini. Penyebab terbesar kamatian pada

neonatal usia dini adalah gangguan pernapasan (respiratory disorders), prematuritas, dan sepsis. Tercatat 39 kasus kematian bayi neonatal lanjut (7-28

hari) dengan penyebab tersering sepsis neonatorum (20%). Untuk menurunkan

jumlah kematian neonatal, Health Technology Assessment telah menyusun beberapa kajian dengan fokus pananganan ibu hamil dan bayi baru lahir serta

memberikan rekomendasi kepada praktisi klinis, manajemen rumah sakit dan

pengambil kebijakan.

Perawatan bayi baru lahir dimulai dengan penilain bayi baru lahir.

Penilaian dilakukan secepatnya setelah bayi baru lahir, bayi diletakkan di atas kain

bersih dan kering yang telah disiapkan pada perut bawah ibu. Segera lakukan

penilaian dengan menjawab 4 pertanyaan:

1. Apakah bayi cukup bulan ?

2. Apakah air ketuban jernih, tidak bercampur mekoneum ?

3. Apakah bayi menangis ?

4. Apakah tonus otot baik ?

Setelah penilaian lakukan perawatan tali pusat. Pada umumnya tali pusat

diklem dengan forsep bedah segera setelah lahir. Tali pusat diklem dengan jarak

3-4 cm dari perut bayi.

Perawatan bayi baru lahir berikutnya adalah inisiasi menyusui dini.

Refleks hisap yang efektif baru timbul pada bayi dengan usia kehamilan 34

minggu. Oleh sebab itu setelah dikeringkan letakkan bayi baru lahir pada

payudara ibu. Rooming-in dalam 24 jam memperbesar kesempatan untuk terjadi bonding dan optimalisasi inisiasi menyusui dini.

Setelah IMD lakukan pemberian profilaksis konjungtivitis neonatorum.

Konjungtiva bayi baru lahir steril, namun segera terkolonisasi oleh berbagai

mikroorganisme baik patogen atau nonpatogen. Rendahnya kadar agen

nonbakterial dan protein (lisozim dan imunoglobulin A dan G) dan lapisan film air

(22)

Perawatan berikutnya adalah pemberian profilakss vitamin K1 pada bayi

baru lahir. Permasalahan pada perdarahan akibat defisiensi vitamin K (PDVK)

adalah terjadinya perdarahan otak dengan angka kematian 10-50% yang umumnya

terjadi pada bayi dalam rentang umur 2 minggu sampai 6 bulan, dengan akibat

angka kecacatan 30-50%. Faktor yang mempengaruhi timbulnya PDVK antara

lain ibu yang selama kehamilan mengkonsumsi obat-obatan yang mengganggu

metabolisme vitamin K seperti, obat antikoagulan oral, obat antikonvulsan, obat

antituberkulosis, sintesis vitamin K yang kurang oleh bakteri usus, gangguan

fungsi hati, kurangnya asupan vitamin K. HTA merekomendasikan semua bayi

baru lahir harus mendapatkan profilaksis vitam K1 dengan 1mg dosis tunggal

intramuskular.

2.8. Kuesioner LittlEars8,9,10

Cara yang baik untuk mengidentifikasi gangguan pendengaran anak pada

tahap pre-verbal adalah meminta orang tua atau pengasuh lainnya menilai perilaku

anak dengan menggunakan suatu kuesioner yang terstruktur. Kuesioner LittlEars

berisikan 35 pertanyaan tertutup dengan desain ya / tidak untuk menilai

pendengaran anak berusia 0-24 bulan. Sebagian besar item dilengkapi dengan

contoh-contoh untuk membuat pertanyaan yang lebih tepat. Sebagai contoh,

„apakah anak anda mengikuti perintah sederhana?seperti: kemari !, Lepas sepatumu !‟. Setiap responden diinstruksikan menjawab “ya” untuk pertanyaan

jika ia telah mengamati respon atau tingkah laku anak mereka minimal satu kali.

Setiap responden juga diinstruksikan menjawab tidak bila ia tidak pernah

mengamati perilaku anaknya satu kalipun.

Kuesioner LittlEars dikembangkan oleh Coninx et al. Nilai dan validitas kuesioner LittlEars pertama kali didemonstrasikan dalam bahasa Jerman.

Demonstrasi ini memotivasi adaptasi kuesioner ke bahasa lainnya. Setidaknya

kuesioner telah diadaptasi ke 15 bahasa di dunia.

Kuesioner menggambarkan 3 dimensi respon pendengaran : reseptif,

semantik, dan produktif. LittEars adalah jenis kuesioner yang diisi oleh orang tua

dan memiliki banyak keuntungan sebagai alat pendukung dalam evaluasi

pendengaran. Pengamatan dari orang tua penting saat anak tidak bisa bekerja sama

(23)

Selain itu juga karena respons pendengaran pada tahap pre-verbal tidak selalu bisa

diamati saat anak datang ke klinik, sedangkan orang tua bisa mengamati dalam

perilaku anak sehari-hari.

2.9. Kajian Dokter Muslim27

Ketika Allah menjelaskan tentang penciptaan manusia maka kata

”as-sam‟u” selalu disebutkan lebih dulu dibanding indera yang lainnya. Hal ini bermakna bahwa indera pendengaran memiliki nilai dan peran lebih besar

dibanding indera lainnya. Salah satu mukjizat Al-Qur‟an adalah disampaikan oleh

seorang nabi yang „ummi‟ (buta huruf), tidak dapat membaca dan menulis, namun

mampu menghapal dengan mendengar. Tentu saja ini menunjukkan berkat indera

pendengaran Al-Qur‟an dapat disampaikan ke umat manusia. Diantara ayat-ayat

Al-Qur‟an yang menjelaskan tentang pendengaran adalah:

1. Surat Al Baqarah 2: 07 & 20

تخ ع ق ع ع س ع أ شغ ع ظع

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka

ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.

ء ش ع س أ إ ع كء ش دق

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan

mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.

2. Surat Al An' Aam 6: 46

ق ت أ أ إ خأ ع س ك أ تخ ع ق Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan

penglihatan serta menutup hatimu.

3. Surat Yunus 10: 31

ق ق ء س أ أك ع س أ

Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau

siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan.

4. Surat Al-Nahl 16: 108

ك أ ع ط ع ق ع س أ ك أ ف غ

Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah

(24)

5. Surat Maryam 19: 38

ع سأ أ تأ ظ ف ض

Alangkah terangnya pendengaran mereka dan alangkah tajamnya penglihatan

mereka pada hari mereka datang kepada Kami. Tetapi orang-orang yang lalai pada

hari ini (di dunia) berada dalam kesesatan yang nyata.

Dari Al-Qur‟an dan Al-Hadits dijelaskan bahwa pendengaran adalah organ

tubuh manusia yang pertama kali berfungsi ketika seorang manusia itu lahir.

Dalam salah satu hadits, mengajarkan bahwa jika seorang bayi lahir maka

diadzankan dan diiqamatkan di telinganya. Diriwayatkan dari Abi Rafi‟ Maula

Rasulillah SAW. ra.,

ق : ت أ س ه صه ع س ّ ف ّ سح ع ح تد ط ف ا ض ه ع . د د ت غ Bahwa dia melihat Rasulullah SAW mengadzankan dengan adzan shalat di

telinganya Husein bin Ali, ketika telah dilahirkan oleh Fathimah.

Riwayat Abu Dawud, al-Turmudzy, dan rawi lainnya.

Menurut jamaah : Dianjurkan diadzankan ditelinga kanannya dan diiqamatkan

ditelinga kirinya, dan telah diriwayatkan dalam Kitab Ibnu Sinniy dari Husein bin

„Ali, bahwa nabi SAW bersabda :

د د ّأف ف ّ ق ف ّ س ضت Barang siapa yang anaknya lahir dan diazdankan di telingan kanannya dan

diiqamatkan di telinga kirinya, maka tidak akan dapat diganggu oleh

Ummushshibyaan (syaitan yang diberi tugas menggoda anak yang baru lahir).

Pendengaran juga indera terakhir yang dimatikan oleh Allah SWT.

Sehingga ketika seseorang dalam keadaan sekarat, maka dianjurkan untuk

ditalqinkan, yang artinya dituntun, diingatkan mengucapkan kalimat thayyibah.

Rasulullah SAW dalam salah satu sabdanya:

(25)

2.10. Kerangka Teori

Gangguan dengar anak 7-12 bulan terjadi karena adanya faktor risiko yang

berasal dari anak (sering pilek, riwayat kuning) dan juga dari orang tua

(pendidikan terakhir orang tua, pekerjaan, dan tingkat kepedulian). Gangguan

dengar merupakan masalah tumbuh kembang yang memiliki beberapa dampak

negatif/kerugian bila terlambat dideteksi dan ditangani secara dini. Kerugian

tersebut diantaranya adalah mengganggu perkembangan bahasa, bicara dan

kognitif anak. Pada kenyataannya orang tua terlambat mengetahui jika anak

Gangguan dengar anak 7-12 bulan

Masalah tumbuh kembang

Deteksi dini OAE/ABR Faktor Risiko

Anak

Pendidikan, pekerjaan, tingkat kepedulian Sering pilek, riwayat kuning, dll

Orang tua

Mengganggu perkembangan bahasa, bicara,

dan kognitif Memiliki banyak kendala

Keterlambatan deteksi

- Tidak tersedia di semua pelayanan kesehatan - Kurangnya tenaga profesional

- Belum adanya kebijakan dari pemerintah Indonesia untuk skrining pendengaran usia dini - Harga yang tidak terjangkau oleh semua lapisan

masyarakat

Peningkatan angka gangguan pendengaran dan keterlambatan anak dalam mengikuti pelajaran di sekolah

(26)

mereka mengalami gangguan pendengaran. Hal ini dapat dikarenakan bayi tidak

melakukan skrining pendengaran saat lahir atau sebelum meninggalkan rumah

sakit. Dua instrumen yang digunakan untuk deteksi dini pendengaran bayi baru

lahir yaitu OAE dan/ ABR, tetapi instrumen ini tidak tersedia di semua pusat

pelayanan kesehatan, selain itu harga yang tidak terjangkau oleh semua lapisan

masyarakat serta belum adanya kebijakan dari pemerintah Indonesia

mengakibatkan keterlambatan deteksi gangguan tumbuh kembang pendengaran

bayi. Jika dibiarkan maka akan mengakibatkan peningkatan angka gangguan

dengar di Indonesia dan tentunya keterlambatan anak dalam mengikuti pelajaran

di sekolah. Solusi untuk masalah deteksi dini pendengaran adalah dengan

digunakannya kuesioner LittlEars sebagai instrumen untuk menilai respon tumbuh

kembang pendengaran anak dibawah 24 bulan.

2.11. Kerangka Konsep

Usia anak Perkembangan

pendengaran anak

(27)

2.12. Definisi Operasional

Variabel yang Diukur

Definisi Pengukur Alat Ukur Skala

Pengukuran Usia anak Rentang waktu antara

kelahiran anak sampai kuesioner diisi. Output dihentikan. Skor didapat dengan menghitung

Jenis kelamin anak Peneliti Kuesioner karakteristik

Pendidikan terakhir yang pernah di tempuh oleh Lama interaksi Durasi rata-rata

(28)

BAB 3

RANCANGAN PENELITIAN

3.1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian analitis korelatif

untuk melihat efektivitas instrument kuesioner LittlEars, yang merupakan

jenis kuesioner tertutup. Sedangkan desain yang digunakan adalah desain

penelitian cross sectional.

3.2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai Maret-Juni 2013.

3.3. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RS Budi Kemuliaan Jakarta.

3.4. Populasi

3.4.1. Populasi Terjangkau

Populasi terjangkau penelitian ini adalah anak dengan usia 7-12

bulan yang tidak memiliki gangguan pendengaran di RS Budi

Kemuliaan Jakarta.

3.4.2. Populasi Target

Populasi target penelitian ini adalah anak dengan usia 7-12 bulan di

Indonesia.

3.5. Sampel Penelitian dan Cara Pemilihan Sampel

Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah anak usia 7-12 bulan

dengan metode pemilihan sampel yaitu convenience sampling.

3.6. Besar Sampel

3.6.1. Perhitungan Besar Sampel28

N =

{

[ ]

}

(29)

Keterangan :

Zα : derivat baku alfa Zβ : derivat baku beta

r : korelasi

N =

{

[ ]

}

= 7

Untuk kepentingan validasi kuesioner dibutuhkan minimal 30 sampel.

3.6.2. Sampel yang Diambil

Besar sampel minimal yang diambil adalah 30 orang.

3.7. Variabel Penelitian

3.7.1. Variabel Terikat

- Total skor dari kuesioner LittlEars

3.7.2 Variabel Bebas

- Usia anak 7-12 bulan

3.8. Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.8.1. Faktor Inklusi

- Semua anak yang datang ke poli anak RS Budi Kemuliaan Jakarta

dengan usia 7-12 bulan

3.8.2. Faktor Eksklusi

- Anak dengan gangguan dengar sejak lahir yang dikonfirmasi

dengan pemeriksaan OAE/ABR

- Anak sering pilek

- Anak dengan riwayat kejang

- Anak dengan riwayat kuning

- Infeksi saat hamil

- Berat lahir kurang dari 2 kg

- Lahir kurang bulan (<36 minggu)

(30)

- Anak dengan gangguan kesehatan sejak lahir yang dikonfirmasi

oleh dokter spesialis

- Orang tua atau pengasuh yang tidak bisa diminta untuk mengisi

kuesioner kedua kalinya

- Waktu interaksi antara pengasuh utama dan anak kurang dari 7 jam

3.9. Cara Kerja

3.9.1. Alur Penelitian

3.9.2. Alat dan Bahan

Kuesioner LittlEars yang diterjemahkan oleh penterjemah

tersumpah dan dievaluasi terjemahan/isi oleh dokter spesialis anak dan

dokter spesialis THT.

Penerjemahan kuesioner oleh penterjemah tersumpah dan dilakukan penafsiran kembali kedalam bahasa asli untuk cek silang ketepatan terjemahan

Perizinan penelitian

Pengumpulan data

Orang tua anak 7-12 bulan tidak bersedia mengisi kuesioner

Orang tua anak 7-12 bulan bersedia mengisi kuesioner (wawancara I)

Input data

Analisis statistik Wawancara II Klarifikasi ke dokter anak dan dokter THT

(31)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Karakteristik Responden

Pengambilan data sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang sudah

ditetapkan. Data diperoleh berdasarkan hasil jawaban kuesioner. Kemudian diolah

sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk memvalidasi kuesioner LittlEars

berbahasa Indonesia. Penelitian dilakukan terhadap 30 ayah/ibu yang memiliki

anak berusia antara 7-12 bulan pada Maret–Juni 2013. Data penelitian ini

diperoleh dari Sub Bagian Poli Anak di RS Budi Kemuliaan Jakarta, dengan

karakteristik seperti tabel 4.1 dibawah ini.

Tabel 4.1Statistik deskriptif responden

Variabel Jumlah (N)

Jenis Kelamin

Laki-laki 21

Perempuan 9

Pendidikan responden

SD 0

SMP 4

SMA 10

D3 / S1 16

Dari total 30 responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini

responden terbanyak adalah laki-laki dengan persentase 70%. Pendidikan orang

tua terbanyak adalah D3/S1 dengan persentase 53,3%. Rata-rata orang tua

berinteraksi dengan anak per hari adalah 10 jam.

4.2. Sebaran Skor Pendengaran

Untuk menguji normalitas data dilakukan tes normalitas. Jumlah

responden dalam penelitian ini kurang dari 50 buah, oleh karena itu metode uji

yang digunakan adalah Shapiro wilk.29

(32)

Tabel 4.2 Tes Normalitas

Kolmogorov Smirnov

Shapiro Wilk

Statistic Df Sig. Statistic Df Sig

Total skor 0,104 30 0,200 0,947 30 0,136

Berdasarkan tabel diatas normalitas data baik. Didapatkan nilai p dalam

penelitian ini 0,200, karena p > 0,05 dapat disimpulkan data normal.

Untuk melihat sebaran skor pendengaran dan skor rerata dapat diketahui

dari gambar boxplot.

Gambar 4.1 Boxplot sebaran skor pendengaran pada anak usia 7-12 bulan

Pada penelitian ini didapatkan rentang total skor antara 16–29 dengan nilai

rerata 22,63. Berdasarkan teori boxplot bahwa suatu data dikatakan terdistribusi

normal apabila nilai median ada di tengah-tengah kotak, dan tidak ada nilai

ekstrem atau outlier.29 Dari gambar 4.1 dapat disimpulkan maka sebaran skor pada penelitian ini normal.

Untuk menilai hubungan antara total skor dengan jenis kelamin dilakukan

(33)

Tabel 4.3 Korelasi Parsial

Control Variables Jenis kalamin Usia

Total_skor Jenis_kelamin Correlation

tidak ada korelasi antara total skor-usia dengan jenis kelamin.29

4.3. Validitas dan Reliabilitas

Penelitian ini bertujuan memvalidasi kuesioner LittlEars untuk menilai

kemampuan pendengaran anak. Peneliti ingin mengetahui tingkat kepercayaan/

reliabilitas alat ukur yang digunakan. Cara menilai reliabilitas yang umum

digunakan adalah dengan mencari nilai cronbach’s alpha. Jika nilai cronbach’s

alpha >0,5 maka suatu construct dapat kita katakan reliabel.30 Tabel 4.4Statistik reliabilitas cronbach‟s alpha

Cronbach‟s

menunjukkan bahwa penelitian ini bersifat reliabel.

Untuk mengetahui kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya

kita dapat melakukan uji validitas. Ada beberapa metode yang digunakan dalam

(34)
(35)

Nilai validitas tiap item kuesioner didasarkan bila r hitung lebih besar dari

r tabel yaitu 0,3610. Berdasarkan tabel diatas, pertanyaan yang valid adalah

pertanyaan nomer 8, 14, 22, 24, 25, 26, 27, 28, dan 29

4.4. Korelasi dan Regresi

Dengan metode regresi didapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 4.6Anova

Berdasarkan tabel diatas nilai Significancy test homogenity of variences

menunjukkan angka 0,000 (p<0,05). Karena p<0,05, maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa terdapat korelasi yang bermakna antara dua variabel yang

diuji.28 Variabel dependent : total skor

Tabel 4.8Model Summary

Berdasarkan tabel diatas didapatkan nilai R 0,786, nilai ini menunjukkan

besarnya korelasi variabel. Jadi, terdapat korelasi positif antara umur anak dengan

total skor kuesioner dengan kekuatan hubungan sebesar 0,786. Untuk nilai R

Square didapatkan hasil 0,618. Nilai R Square mengukur seberapa besar

(36)

dependent (total skor). Jadi, usia memiliki kontribusi sebesar 0,618 dalam

menjelaskan total skor.31

Berdasarkan tabel diatas, dapat dibuat persamaan regresi yang dinyatakan

sebagai sebuah fungsi Y=f(x). Dari hasil penelitian didapatkan grafik dan

persamaan regresi sebagai berikut dengan y sebagai total skor dan x sebagai usia:

Grafik 4.1 Kurva regresi linear

Tabel dibawah ini adalah tabel perbandingan total skor kuesioner LittlEars

dalam beberapa bahasa dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Tabel 4.9Perbandingan total skor kuesioner LittlEars dalam beberapa bahasa

Jerman Hebrew Arabic Spanish Bahasa

Indonesia

Usia anak

7 bulan 18,5 17,7 17,7 17,3 17,1

8 bulan 20,7 19,9 19,6 23,3 19,2

9 bulan 22,8 22,1 21,4 25,0 21,3

10 bulan 25,2 24,3 23,4 26,8 23,4

11 bulan 27,2 26,4 25,2 28,6 25,5

12 bulan 29,3 28,6 27,0 30,3 27,6

y = 2,108x + 2,323

0 5 10 15 20 25 30 35

0 2 4 6 8 10 12 14

To

tal sko

r

Umur (bulan)

(37)

BAB 5

DISKUSI

5.1. Karakteristik Responden

Subjek pada penelitian ini terdiri dari 30 anak, 70% anak laki-laki dan

30% anak perempuan dengan karakteristik yang akan dibahas adalah umur,

pendidikan orang tua, lama orang tua berinteraksi dengan anak per hari dan jenis

kelamin.

Umur subjek yang terlibat dalam penelitian ini antara 7-12 bulan dengan

rerata 9,6 bulan. Rentangan umur ini merupakan rentangan umur yang sesuai

untuk penelitian ini. Total skor dan item pertanyaan yang valid dalam penelitian

ini sesuai dengan perkembangan respon pendengaran anak terhadap usia

berdasarkan teori yang ada.

Saat bayi lahir mereka bersiap untuk menanggapi dan memproses suara.

Namun, saat lahir pendengaran mereka belum sempurna dalam beberapa aspek.

Beberapa aspek seperti frekuensi dan resolusi temporal matang pada bulan

keenam postnatal. Aspek lain dalam pendengaran seperti sensitivitas, intensitas,

dan proses suara yang kompleks berkembang dari bayi sampai masa

anak-anak.32,33,34

Kemampuan respon pendengaran seorang anak berbanding lurus dengan

tingkat usia anak tersebut. Pendengaran adalah salah satu dari 4 aspek kemampuan

fungsional yang kita amati pada penilaian perkembangan anak seperti yang telah

dijelaskan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Keempat aspek

kemampuan fungsional tersebut adalah motorik kasar, motorik halus dan

penglihatan, berbicara, bahasa dan pendengaran serta sosial emosi dan perilaku.

Adanya kekurangan pada salah satu aspek kemampuan tersebut dapat

mempengaruhi aspek yang lain.4 Sebagai contoh, bila seorang anak mengalami gangguan pendengaran maka ia akan mengalami gangguan pada aspek lain, salah

satunya adalah kemampuan bicara. Proporsi bicara yang tersedia untuk pendengar

adalah prediktor kuat dari pengenalan kata-kata pada gangguan perkembangan

bicara (delay speech).35

(38)

Perkembangan motorik secara umum dibagi menjadi motorik kasar dan

motorik halus. Perkembangan motorik kasar, yang meliputi kemampuan gerak

tubuh secara keseluruhan, telah ditunjukkan untuk mempengaruhi kemandirian

bayi dan perawatan diri. Misalnya, berjalan tanpa bantuan diikuti dengan

perubahan emosional yang mencerminkan otonomi dan ketegasan, meningkatkan

keterampilan sosial, dan interaksi.36

Kemajuan dalam perkembangan motorik memungkinkan bayi untuk

mengeksplorasi lingkungan mereka, mengembangkan fungsi kognitif, sosial, dan

pengembangan persepsi. Perkembangan motorik yang memadai diperlukan untuk

pengembangan visual-perseptual dan kognitif pada masa bayi. Dengan

peningkatan kemampuan, bayi mampu menjangkau benda-benda baru dan

tempat-tempat baru, meningkatkan kesempatan untuk eksplorasi. Bulan ke-9 merupakan

masa penting bagi perkembangan motorik, karena menandai awal berdiri dan

ketarampilan menggapai sesuatu. Kebanyakan bayi pada usia ini berada pada fase

transisi kemapuan motorik ke tahap yang lebih lanjut.36

Motorik halus dapat diartikan sebagai kemampuan untuk

mengkoordinasikan penggunaan mata dan tangan bersama-sama dalam pola

gerakan yang tepat dan adaptif. Kebanyakan bayi pada usia 9 bulan mampu

memegang sesuatu lebih baik dan dapat menjepit suatu benda dengan jari

mereka.36

Sosial dan budaya memiliki pengaruh terhadap perkembangan seorang bayi.

Faktor sosial budaya, seperti asal negara, dapat mempengaruhi perkembangan

motorik karena keyakinan dan sikap dapat mendorong atau menghambat beberapa

bentuk perilaku motorik. Misalnya, pada salah satu suku di Afrika, untuk

mendorong keterampilan duduk tegak, bayi diletakkan dalam lubang khusus di

dalam tanah yang telah dibuat untuk membantu mendukung punggung mereka

atau selimut yang terletak di sekitar mereka. Bayi dalam budaya Kipsigis belajar

untuk duduk lebih awal dari bayi berkulit putih di Amerika Serikat, di mana ritual

atau kebudayaan seperti itu tidak dilakukan.36

Erikson mengusulkan teori mengenai perkembangan psikososial. Ia

meyakini bahwa perkembangan psikososial terjadi selama masa hidup manusia

(39)

kepribadian yang sehat. Teori ini menekankan aspek sosial dan emosional

pertumbuhan. Kepribadian anak-anak berkembang menanggapi perubahan

lingkungan sosialnya. Hal yang sama berlaku pula pada keterampilan mereka

untuk melakukan interaksi sosial. Teori Erikson mencakup delapan tahap. Pada

setiap tahap, sebuah konflik sosial atau krisis terjadi. Konflik sosial ini

membutuhkan solusi yang memuaskan baik secara pribadi maupun sosial. Erikson

percaya bahwa setiap tahap harus diselesaikan sebelum seorang anak bisa naik ke

tahap berikutnya.37

Selama 18 bulan pertama kehidupan, anak-anak belajar pada tahap trust or mistrust terhadap lingkungan mereka. Untuk mengembangkan kepercayaan, mereka harus merasakan kasih sayang, kehangatan, perhatian penuh dari orang

sekitar. Mereka membutuhkan seseorang yang dapat memahami sinyal yang

mereka berikan. Ketika bayi tertekan atau bersedih, mereka perlu dihibur. Jika

mereka mendapat hal tersebut maka mereka akan mengembangkan rasa percaya

diri dan percaya bahwa dunia atau lingkungan sekitarnya aman dan dapat

diandalkan.37

Perkembangan kognitif mengacu pada pertumbuhan progresif dan

berkelanjutan dari segi persepsi, memori, imajinasi, dan akal, ini merupakan

hubungan intelektual dari satu adaptasi biologi terhadap lingkungan. Menurut

Piaget, perkembangan kognitif didasarkan terutama pada empat faktor:

kematangan, pengalaman fisik, interaksi sosial, dan perkembangan umum

terhadap keseimbangan. Ada empat tahap kognitif perkembangan yang

dikategorikan oleh Piaget, sensorimotor (lahir sampai 2 tahun), praoperasional

(2-7 tahun), konkrit (7-11 tahun), formal (11-15 tahun). Pada tahap sensorimotor

anak benar-benar refleksif dan bereaksi terhadap rangsangan yang berasal dari

lingkungan. Hasil masukan sensorik misalnya, anak mengisap dalam menanggapi

rangsangan pada wajah atau pipi karena mereka sebelumnya terbiasa dengan

refleks asi. Melalui paparan berulang, anak belajar bahwa botol menyediakan

nutrisi dan mulai menghisap bila melihat botol. Anak itu kemudian mulai untuk

mengambil peran lebih aktif saat makan dan upaya untuk memegang botol dan

kemudian menyuapi diri sendiri. Piaget membagi tahap sensorimotor, menjadi 6

(40)

input-output (skema) menjadi lebih kompleks. Seorang anak dapat menempatkan

mainan di mulutnya berulang kali untuk memicu respons di lingkungan.

Koordinasi reaksi (8-12 bulan): perilaku yang disengaja jelas terlihat dalam tahap

ini. Seorang anak juga akan menggabungkan skema untuk mencapai efek yang

diinginkan. Seorang anak akan meniru perilaku orang lain. Seorang anak akan

menyadari bahwa benda memiliki sifat-sifat tertentu (misalnya, mainan

digerakkan, bola dilemparkan).37

Pendidikan orang tua terbanyak adalah D3/S1 dengan persentase 53,3% dan

terendah adalah SMP dengan persentase 13,3%. Hal ini menjelaskan kuesioner

LittlEars pada penelitian ini dapat digunakan pada orang tua dengan tamatan SMP

sampai D3/S1. Tidak ada kesulitan bagi orang tua dalam mengisi kuesioner karena

kalimat yang ada pada kuesioner mudah dimengerti oleh orang tua dan adanya

contoh untuk memperjelas maksud dari setiap pertanyaan yang diajukan.

Jumlah orangtua yang berpendidikan menengah dan tinggi lebih banyak

daripada yang berpendidikan rendah. Hal ini menunjukkan tingkat kesadaran yang

lebih tinggi dalam memantau perkembangan anak. Kesadaran orangtua akan

pentingnya deteksi dini gangguan pendengaran dan intervensi segera sangat

mempengaruhi keberhasilan program skrining.38,39,40

Skrining pendengaran bayi secara bertahap menjadi isu global di negara

yang memiliki dampak yang cukup merugikan dari bidang kesehatan dan

sosioekonomi.41 Lebih dari dua dekade belakangan ini dua pertiga penderita gangguan pendengaran tinggal di negara berkembang dan 25% diantaranya

memiliki onset sejak kecil. Secara global, gangguan pendengaran menduduki

urutan disabilitas ketiga. Estimasi insiden 2-4 bayi dari 1.000 kelahiran. Sebagai

rangsangan pendengaran yang memadai pada anak, usia dini merupakan dasar

untuk perkembangan bicara secara optimal dan perkembangan bahasa. Semua

cacat sensori di usia dini seperti gangguan pendengaran yang berasal dari

kelahiran atau pada periode neonatal memerlukan perhatian khusus.42,43

Namun karena skrining pendengaran bayi baru lahir tidak universal

diterapkan di banyak daerah, gangguan pendengaran pada anak-anak dideteksi

(41)

terjadi di negara berkembang memiliki konsekuensi yang dapat merugikan

terhadap kemampuan anak, seperti kemampuan berbicara, bahasa, perkembangan

kognitif dan psikososial dan selanjutnya berdampak pada pendidikan dan

perkembangan pengetahuan lanjutan.42,43,45 Individu dengan gangguan pendengaran akan merasakan menjadi seorang pengangguran, memiliki tingkat

edukasi yang lebih rendah, dan akan mempengaruhi pendapatan keluarga.46

Lama orang tua berinteraksi dengan anak sangat penting karena berpengaruh

dengan hasil pengamatan orang tua terhadap kemampuan respon pendengaran

anak tersebut. Selain itu, berdasarkan penelitian terdahulu orang tua yang

mempunyai pola hubungan dengan anak yang cukup baik dalam berinteraksi

dengan anak menyebabkan perkembangan anak mempunyai pencapaian yang

baik. Pola hubungan orangtua-anak yang positif dengan memberikan perhatian

dan kasih sayang, merupakan stimuli yang penting bagi perkembangan awal si

anak. Bahkan bermain dan kasih sayang merupakan “makanan” yang penting untuk perkembangan anak.47 Lama orang tua berinteraksi dengan anak akan mempengaruhi tingkat kemampuan pendengaran anak. Variasi suara yang didapat

pada usia dini akan menjadi stimuli dan memori bagi perkembangan pendengaran

anak.

Variasi alami dalam tinggi rendahnya suara (pitch) saat berbicara

mengungkapkan pentingnya informasi linguistik dan emosional yang disampaikan

bagi pendengar. Bayi berusia 7 bulan sebaiknya lebih disajikan dengan kata-kata

yang diucapkan dengan emosi yang berisi senang, marah, atau netral prosodi.

Pada usia ini wilayah pemrosesan suara diaktifkan lebih dalam untuk menanggapi

perubahan emosi daripada menanggapi prosodi netral (perubahan nilai pitch

selama pengucapan kalimat dilakukan atau pitch sebagai fungsi waktu), serta

korteks frontal inferior kanan, yang berhubungan dengan persepsi emosi. Jadi

variasi dalam nada suara, terkadang harus lebih dipertajam ketika

mengekspresikan emosi, hal ini dapat membantu bayi untuk memahami aspek

penting pembicaraan.48

Dalam penelitian ini, rerata orang tua berinteraksi dengan anak adalah 10

jam per hari dengan minimum waktu orang tua berinteraksi 7 jam per hari.

(42)

untuk menemani anak lebih lama. Dengan begitu orang tua dapat lebih

memperhatikan kemampuan perkembangan anak diantaranya adalah

perkembangan respon pendengaran.

Perbedaan gender dalam hasil keluaran kesehatan dan perkembangan

mungkin berhubungan dengan perbedaan gender dalam mengembangkan sistem

saraf dan imunologi. Tingkat testosteron yang tinggi saat prenatal mengurangi

perkembangan ukuran kelenjar timus, dan hasilnya berpengaruh terhadap sistem

kekebalan tubuh pada janin laki-laki dan neonatus. Selain itu, tingkat testosteron

yang tinggi saat perinatal berhubungan dengan lateralisasi yang lebih besar pada

otak, korpus kallosum yang lebih kecil, dan penurunan konektivitas

interhemispher pada anak laki-laki. Kemampuan otak laki-laki melebihi otak

perempuan dalam hal visuospatial, sedangkan otak perempuan lebih baik dalam

kemampuan verbal dan linguistik. Fungsi bahasa lebih asimetris pada otak

laki-laki, dan hasilnya adalah kemampuan motorik halus dan bahasa yang lebih rendah

pada laki-laki.49

Perbedaan jenis kelamin juga berpengaruh terhadap kecepatan dalam

merespon sebuah suara. Estrogen mempengaruhi bagian otak tertentu, sehingga

anak perempuan lebih cepat merespon terhadap suara yang diberikan daripada

anak laki-laki.50 Hal ini berhubungan dengan suatu kepercayaan yang berkembang di masyarakat bahwa anak perempuan dianggap memiliki kemampuan mendengar

yang lebih baik daripada anak laki-laki.

Pengenalan suara yang baik tergantung pada kemampuan pendengar untuk

mengumpulkan suara sasaran dari fragmen yang terjadi di daerah spektral dan

temporal yang memiliki karakteristik dimana sinyal untuk rasio kebisingan/suara

relatif tinggi.51

Stimulasi akustik dikenal untuk menginduksi aktivitas saraf di jalur

pendengaran. Jalur ini terdiri dari saraf pendengaran, berbagai inti di batang otak,

otak tengah, dan thalamus, dan beberapa daerah kortikal di permukaan superior

dari lobus temporal. Namun suara juga dapat mengaktifkan neuron di daerah

otak lainnya, seperti korteks frontal, striatum, hippocampus, dan amygdala. Dalam

beberapa kasus, rangsangan suara terbukti terlibat di wilayah nonauditory yang

(43)

biasanya ditempatkan ke lokasi perekaman (memori, proses emosional,

perencanaan motorik).52

5.2. Sebaran Skor Pendengaran

Dari hasil output terlihat bahwa median terletak agak ke atas kotak,

whisker relatif simetris, dan tidak terdapat data outlier atau ekstrim. Menurut data

yang ditampilkan boxplot, distribusi total skor normal. Dengan metode statistik

deskriptif didapatkan hasil rata-rata skor pendengaran yaitu 22,63. Total skor

maksimal adalah 29 dan total skor minimal adalah 16. Tidak ada sebaran skor

pendengaran yang abnormal jika dilihat dari perbedaan tingkat pendidikan orang

tua. Faktor psikologis responden seperti kecemasan akan adanya gangguan

pendengaran pada bayi yang diasuh akan sangat mempengaruhi hasil kuesioner

karena pemeriksaan ini bersifat subjektif.53,38

Menilai kenormalan distribusi total skor terhadap usia dapat kita lihat dari

skewness dan kurtosis. Ukuran skewness adalah -0,123. Rasio skewness adalah

-0,123/0,427 = -0,288 ini menunjukkan bahwa data berdistribusi normal karena

berada diantara -2 sampai dengan 2. Ukuran kurtosis -1,045. Rasio kurtosis adalah

-1,045/0,833 = -1,254, karena rasio kurtosis berada diantara -2 sampai dengan 2,

data berdistribusi normal. Pada kelompok penelitian ini nilai rerata (22,63) bisa

untuk menggambarkan populasi kemampuan untuk mengurutkan informasi.

5.3. Validitas dan Reliabilitas

Untuk mengetahui apakah kuesioner yang dipakai sebagai instrumen pada

penelitian ini dapat digunakan di Indonesia kita harus memeriksa tingkat validitas

dan reliabilitasnya. Pertanyaan pada kuesioner harus mampu untuk

mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut dengan kata

lain kita harus mengetahaui ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan

fungsi ukurnya, untuk mengetahuinya kita dapat melakukan uji validitas. Ada

beberapa metode yang digunakan dalam uji validitas salah satunya dengan

korelasi Pearson Product Moment. Nilai validitas juga dapat dilihat dari

Corrected Item Total Correlation pada pengujian reliabilitas.30,31

Gambar

Gambar 2.1: Anatomi telinga
Tabel 2.2: Kriteria rujukan untuk penilaian audiologi
Tabel 2.3: Pedoman rujukan untuk anak-anak yang dicurigai kehilangan pendengaran
Gambar 2.2: Alur skrining pendengaran bayi baru lahir di Indonesia
+7

Referensi

Dokumen terkait

After identifying the data, the writer classified the answers and responses from Joko Widodo from the interview based on the flouted cooperative principle’s maxims and

Hasil penelitian menunjukkan, bahwa: (1) Pendekatan saintifik pada mata pelajaran fisika kelas XI IPA diimplementasikan di SMA X Yogyakarta; (2) Terjadi

Citing the 2003 issue of the central statistics agency’s Statistik Perikanan Indonesia (Indonesian Fisheries Statistics), Brown, Bengen and Knight (2005) state that total

Dibuat Untuk Memenuhi Syarat Dalam Penyusunan Laporan Akhir Pada Jurusan Administrasi Bisnis Program Studi Administrasi Bisnis.. Politeknik

Jumlah keseluruhan kuesioner yang dibagikan sebanyak 80 kuesioner yang pada masing-masing zona dibagikan sebanyak 40 kuesioner yang terdiri dari 10 kuesioner untuk

Adobe Flash CS5 yang digunakan untuk membuat aplikasi interaktif pembelajaran mulai dari desain tatap muka atau interface, serta menjalankan animasi yang digunakan pada

1) Pengetahuan tentang contoh perilaku di sekolah yang sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam sila ketiga Pancasila dalam lambang negara Garuda Pancasila. 2)

Proses perhitungan dan rekapitulasi nilai volume lalulintas pada peak hour (jam puncak) dilakukan pada kedua arah pada kedua lokasi survey yang menjadi objek