Teks penuh

(1)

INTERAKSI DAN KONFLIK SOSIAL TOKOH UTAMA

DALAM NOVEL CERITA CALON ARANG

KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER:

KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

SKRIPSI

OLEH : NOVALIA

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

INTERAKSI DAN KONFLIK SOSIAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL CERITA CALON ARANG KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER: KAJIAN

SOSIOLOGI SASTRA

SKRIPSI

Novalia Nim: 100701057

Diajukan untuk melengkapi persyaratan memperoleh gelar sarjana ilmu budaya dan telah disetujui oleh:

Pembimbing I Pembimbing II

Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si

NIP. 196209251989031017 NIP. 196106101986012001

Dra. Keristiana, M.Hum

Ketua Program Studi,

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas segala berkat dan kasih-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Dengan selesainya skripsi ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih kepada: Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M. Sc (CTM), Sp.A(K) atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan meyelesaikan Program Sarjana. Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Syahron Lubis, M.A atas kesempatan yang diberikan kepada penulis menjadi mahasiswa program Sarjana dan program studi Sastra Indonesia. Kepada ketua program studi Sastra Indonesia Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M. Si. Kepada Sekretaris jurusan Sastra Indonesia Drs. Haris Sutan Lubis, M.S.P beserta seluruh staf pengajar pada program studi Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

Terimakasih yang tidak terhingga kepada Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M. Si Selaku dosen pembimbing I yang telah memberikan perhatian, dukungan,

bimbingan dan arahan dengan baik untuk kepentingan skripsi ini. Terimakasih kepada

Dra. Keristiana, M. Hum selaku dosen pembimbing II yang telah memberikan masukan dan bimbingan dengan baik untuk kepentingan skripsi ini.

Terimakasih yang teristimewa kepada Ayahanda yang terkasih St. B. Simanjuntak dan Ibunda R. Siagian yang telah memberikan doa, harapan, nasihat, motivasi dan dukungan dana kepada penulis. Kepada kakak Erna Afri Nengsih, M. Si dan Depi Fitri, Amd terimakasih atas bantuan dana dan kasih sayang kalian, aku bangga memiliki kakak seperti kalian. Kepada abang dan adikku Dafit Lee dan Restu Trio terimakasih atas dukungannya.

Terimakasih juga kepada teman-teman terkhusus angkatan 2010. Terimakasih juga kepada senior dan junior Sastra Indonesia. Terimakasih kepada

(4)

ABSTRAK

Skripsi ini mengungkapkan masalah interaksi dan konflik sosial tokoh utama dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini dilakukan melalui dua pendekatan yaitu, pendekatan intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik yang bersumber pada teks sastra, yakni meneliti data dan makna cerita. Pendekatan ekstrinsik yang meneliti konteks karya sastra, ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra dengan menggunakan pandangan George Simmel dan Ralf Dahrendorf dalam membicarakan interaksi dan koflik sosial.

Novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer yang menjadi sumber data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik library research dan metodologi kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan berupa interaksi dan konflik sosial yang dilakukan dan dialami tokoh utama.

(5)

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah ... 1

1.2Rumusan Masalah... 6

1.3Tujuan dan Manfaat Peneliti... 6

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 6

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 6

1.3.2.1 Manfaat Teoretis ... 6

1.3.2.2 Manfaat Praktis ... 7

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI , DAN KAJIAN PUSTAKA 2.1Konsep ... 8

2.1.1 Interaksi Sosial ... 8

2.1.2 Konflik Sosial ... 12

2.1.3 Tokoh Utama ... 16

2.2Landasan Teori ... 17

2.2.1 Teori Sosiologi Sastra ... 17

2.3 Kajian Pustaka ... 20

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian ... 22

3.2 Sumber Data ... 22

3.3 Teknik Pengumpulan Data ... 23

3.4 Teknik Analisis Data ... 23

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Interaksi Sosial Tokoh Utama ... 24

4.2 Konflik Sosial Tokoh Utama ... 41

(6)

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan ... 50 5.2 Saran ... 50

(7)

ABSTRAK

Skripsi ini mengungkapkan masalah interaksi dan konflik sosial tokoh utama dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer. Penelitian ini dilakukan melalui dua pendekatan yaitu, pendekatan intrinsik dan ekstrinsik. Pendekatan intrinsik yang bersumber pada teks sastra, yakni meneliti data dan makna cerita. Pendekatan ekstrinsik yang meneliti konteks karya sastra, ditinjau berdasarkan teori sosiologi sastra dengan menggunakan pandangan George Simmel dan Ralf Dahrendorf dalam membicarakan interaksi dan koflik sosial.

Novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer yang menjadi sumber data penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teknik library research dan metodologi kualitatif. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh temuan berupa interaksi dan konflik sosial yang dilakukan dan dialami tokoh utama.

(8)

BAB I

PENDAHULUAN 1.1Latar Belakang Masalah

Calon Arang adalah seorang janda yang sangat ditakuti oleh masyarakat di sekitarnya. Mariani (2003:1) mengatakan bahwa Calon Arang adalah nama salah seorang tokoh yang terkenal dalam cerita yang telah lama terkenal di dalam masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Cerita Calon Arang berisi suasana kontroversial antara kehidupan keraton dengan masyarakat kelas bawah, kontroversial antara individu dengan lingkungan sosial, serta berisi peristiwa mistis dan gaib.

Cerita Calon Arang inilah yang dijadikan bahan oleh Pramoedya Ananta Toer untuk diangkat menjadi sebuah novel. Sehingga, Cerita Calon Arang menjadi sebuah novel Cerita Calon Arang.

Novel Cerita Calon Arang yaitu Calon Arang sebagai tokoh utama dalam cerita. Novel Cerita Cerita Calon Arang merupakan gambaran nyata sebuah kedengkian terhadap sesama. Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Sihir yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calon Arang (nama julukan dari Dayu Datu). Calon Arang

sering disebut Rangda Nateng Girah yaitu Rangda artinya Janda, Nateng artinya Raja (Penguasa). Girah adalah nama suatu desa. Jadi ‘’Rangda Nateng Girah’’ artinya Janda Penguasa desa Girah.

Calon Arang adalah Ratu Sihir yang sangat sakti. Calon Arang pada masa itu bisa membuat wilayah Kerajaan Kediri mengalami Gerubug/Pageblug/Epidemi atau wabah yang dapat mematikan masyarakat di sekitarnya dalam waktu singkat, yaitu pada wilayah pesisir termasuk wilayah desa Girah.

(9)

masyarakat yang membencinya. Wataknya yang keras tergambar saat ia berinteraksi melawan Empu Baradah, wataknya yang pemarah tergambar saat dia berinteraksi kasar yaitu membentak putrinya. Wataknya yang pemberani saat dia berinteraksi menanyakan kepada murid-muridnya tentang ketakutan mereka melawan Empu Baradah. Namun, interaksi sosial yang dilakukan Calon Arang tidak bersifat baik. Sehingga menghadirkan masalah-masalah.

Calon Arang mempunyai seorang putri yang tidak menikah, sehingga menjadi bahan pembicaraan masyarakat sekitar. Hal itu membuat Calon Arang tersinggung dan menjadi marah, sehingga terjadilah konflik sosial antara Calon Arang dengan masyarakat sekitar.

Konflik sosial Calon Arang jika dipandang dari sosiologi konflik maka, pandangan dasar masyarakat selalu dalam kondisi bertentangan, pertikaian, dan perubahan. Semua masalah-masalah sosial termasuk konflik adalah bagian dari terlibatnya kekuatan-kekuatan masyarakat dalam mendapatkan kelayakan hidup atau memenangkan keegoisan individunya.

Konflik sosial secara sosiologi konflik positivis mempertimbangkan konflik menjadi tidak terhindarkan begitu juga dengan aspek dalam permanen kehidupan sosial. Sehingga, berdasarkan sosiologi konflik positivis bahwa konflik sosial dapat memberi perubahan-perubahan dalam arti positif.

Konflik sosial yang terjadi antara Calon Arang dengan masyarakat disekitarnya sebenarnya dapat diatasi dan tidak menjadi masalah yang besar sehingga menjatuhkan banyak korban jiwa. Seharusnya masyarakat disekitarnya tidak membicarakan tentang keadaan putrinya secara berlebihan. Sehingga hal ini tidak menjadi pemicu dalam masalah konflik sosial antara Calon Arang dengan masyarkat disekitarnya.

(10)

Basrowi dan Sukidin (2002: 194) menyatakan bahwa konstruksi sosial merupakan sebuah teori sosiologi kontemporer yang dicetuskan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman. Dalam menjelaskan paradigma konstruktivis, realitas sosial merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Individu adalah manusia yang bebas melakukan hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Individu menjadi penentu dalam dunia sosial yang dikonstruksikan berdasarkan kehendaknya. Individu bukanlah korban fakta sosial, namun sebagai media produksi sekaligus reproduksi yang kreatif dalam mengkonstruksi dunia sosialnya.

Argyo Demartoto

menerangkan bahwa dalam

sosiologi pengetahuan atau konstruksi sosial Berger dan Luckman, manusia dipandang sebagai pencipta kenyataan sosial yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana kenyataan objektif mempengaruhi kembali manusia melalui proses internalisasi (yang mencerminkan kenyataan subjektif). Dalam konsep berpikir dialektis (tesis-antitesis-sintesis), Berger memandang masyarakat sebagai produk manusia dan manusia sebagai produk masyarakat.

Argyo Demartoto

memaparkan bahwa salah satu

inti dari sosiologi pengetahuan atau konstruksi sosial adalah menjelaskan adanya dialektika antara diri dengan dunia sosiokultural. Proses dialektis itu mencakup tiga momen simultan, yaitu eksternalisasi (penyesuaian diri dengan dunia sosiokultural sebagai produk yang dilembagakan atau mengalami institusionalisasi), dan internalisasi (individu mengidentifikasi dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya).

Argyo Demartoto

menyampaikan bahwa didalam

(11)

Argyo Demartoto relitas sosial itu bersifat ganda dan bukan tunggal, yaitu kenyataan subjektif dan objektif. Kenyataan atau realitas objektif adalah kenyataan yang berada di luar diri manusia, sedangkan kenyataan subjektif adalah kenyataan yang berada di dalam diri manusia.

Waters (1994: 35)

dalam hubungan antara individu dengan institusinya adalah sebuah dialektika (intersubjektif) yang diekspresikan dengan tiga momen: masyarakat adalah produk manusia, masyarakat adalah suatu kenyataan sasaran, dan manusia adalah produk sosial.

Realitas sosial yang terdapat dalam novel Cerita Calon Arang merupakan karya sastra yang menunjukkan bahwa kehidupan sosial selalu dipenuhi dengan masalah-masalah sosial. Namun, disamping adanya masalah-masalah yang dihadirkan, karya sastra tetap memberi nilai seni, hiburan, pesan dan kesan kepada penikmatnya.

Saxby (dalam Nurgiyantoro, 2010:4) mengatakan bahwa sastra adalah citra dan metafora kehidupan. Sastra pada hakikatnya adalah citra kehidupan, gambaran kehidupan. Citra kehidupan (image of life) dapat dipahami sebagai penggambaran secara konkret tentang model-model kehidupan sebagaimana yang dijumpai dalam kehidupan faktual sehingga mudah diimajinasikan sewaktu dibaca. Sastra tidak lain adalah gambaran kehidupan yang bersifat universal, tetapi dalam bentuk yang relatif singkat karena memang dipadatkan. Dalam sastra tergambar peristiwa kehidupan lewat karakter tokoh dalam menjalani kehidupan yang dikisahkan dalam alur cerita.

(12)

Junita (2013:1) menuliskan bahwa adanya masalah kehidupan dalam karya sastra tersebut menunjukkan adanya pengaruh timbal-balik antara sastra dengan masyarakat.

Sebastian (2013:1) mengatakan bahwa karya sastra diciptakan sebagai tiruan

masyarakat karena menceritakan kembali realita yang terjadi dalam masyarakat. Apa

yang tertuang dalam karya sastra merupakan cerminan semangat zaman pada saat

karya tersebut diciptakan. Pengarang memanifestasikan apa yang terjadi di masyarakat

lewat media bahasa.

Mandasari (2010:8) menyatakan bahwa karya sastra adalah wujud dari perkembangan peradaban manusia sesuai dengan lingkungannya karena pada dasarnya karya sastra itu merupakan unsur kebudayaan manusia itu sendiri yang mampu menggambarkan kenyataan.

Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2010: 3) mengatakan bahwa sastra menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman. Sastra hadir kepada pembaca pertama-tama adalah memberikan hiburan, hiburan yang menyenangkan. Sastra menampilkan cerita yang menarik, mengajak pembaca untuk memanjakan fantasi, membawa pembaca ke suatu alur kehidupan yang penuh daya suspense, daya yang menarik hati pembaca untuk ingin tahu dan merasa terikat karenanya, “mempermainkan” emosi pembaca sehingga ikut larut ke dalam arus cerita, dan kesemuanya itu dikemas dalam bahasa yang juga tidak kalah menarik.

Ratna (2003: 134) mengatakan bahwa karya sastra pada dasarnya bukanlah

aktivitas personal, tetapi lebih banyak mengungkapkan masalah-masalah impersonal, mengatasi batas-batas sosiologis dan periode-periode historis.

Dalam Novel Cerita Calon Arang jelas sekali terjadi masalah-masalah sosial yang

tidak hanya personal, tetapi juga masalah-masalah impersonal yang dialami tokoh utama. Selain itu, batas-batas tingkatan sosial terlihat jelas dalam novel.

(13)

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, maka pokok permasalahan yang akan dikaji adalah:

1. Bagaimanakah interaksi sosial tokoh utama dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer?

2. Bagaimanakah konflik sosial tokoh utama dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer?

3. Bagaimanakah cara tokoh utama dalam mengatasi dan mengakhiri konflik sosial yang terjadi?

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan gambaran tentang:

1. Interaksi sosial tokoh utama dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer.

2. Konflik sosial tokoh utama dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya

Ananta Toer.

3. Cara tokoh utama dalam mengatasi dan mengakhiri konflik sosial yang terjadi.

1.3.2 Manfaat Penelitian

1.3.2.1Manfaat Teoretis

(14)

1.3.2.2 Manfaat Praktis

1. Hasil penelitian ini dapat memperluas cakrawala apresiasi pembaca umum terhadap studi sosiologi sastra.

2. Hasil penelitian ini dapat menambah perkembangan penelitian karya sastra dengan pengkajian secara sosiologi sastra.

(15)

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN KAJIAN PUSTAKA

2.1 Konsep

2.1.1 Interaksi Sosial

Priyatna (2013: 70) menyatakan bahwa interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sehingga ada lawan dari hubungan satu arah yang terjadi pada sebab akibat.

Priyatna (2013: 70) menjelaskan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik dalam bentuk kerjasama, persaingan atau pertikaian. Interaksi sosial melibatkan proses-proses sosial yang bermacam-macam yang menyusun unsur-unsur dari masyarakat, yaitu proses tingkah laku yang dikaitkan dengan struktur sosial.

Soekanto (2006: 64) mendefinisikan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara

orang-perorangan, bukan manusia dengan benda mati. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai. Saling menyapa, menegur, berjabat tangan, saling berbicara, berbahasa isyarat bahkan hingga berkelahi juga termasuk didalam interaksi sosial. Selama ada aksi dan reaksi antara kedua belah pihak maka, hal tersebut sudah dikatakan interaksi sosial. Saat seseorang memukul benda mati, itu tidak termasuk dalam interaksi sosial karena, tidak adanya reaksi balasan dari benda mati tersebut. Interaksi sosial terjadi apabila adanya komunikasi, tukar-menukar tanda atau formasi lisan.

(16)

sosial tidak pernah berhenti. Proses interaksi adalah proses pemberian makna, baik secara positif maupun negatif, baik dengan tujuan konstruktif maupun dekstruktif.

Interaksi sosial menghasilkan tindakan sosial. Weber (2006: 67) mengatakan bahwa tindakan- tindakan yang kurang “rasional” oleh Weber digolongkan kaitannya dengan pencarian “tujuan-tujuan absolut”, sebagai “tradisional”. Karena tujuan absolut dipandang oleh sosiolog sebagai data yang “terberi” (given), maka sebuah tindakan bisa menjadi rasional dengan mengacu pada sarana yang digunakan tetapi, “irasional” dikaitkan dengan tujuan yang hendak dicapai.

Setiadi (2011: 61-62) memaparkan bahwa proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat jika individu dan kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara pelbagai segi kehidupan bersama atau didalam kehidupan sosial.

Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial, karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Interaksi sosial sebagai

faktor utama dalam kehidupan sosial.

Menurut Gillin dan Gillin (dalam Soekanto 2006: 64-65) ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial yaitu:

1. Proses yang asosiatif (akomodasi, asimilasi dan akulturasi). 2. Proses yang disosiatif (persaingan, pertentangan).

Bentuk-bentuk interaksi sosial adalah kerja sama, persaingan, akomodasi dan dapat juga berbentuk konflik.

(17)

Narwoko (2010: 57) menjelaskan bahwa proses sosial itu dapat disebut asosiatif apabila proses itu mengindikasikan adanya “gerak pendekatan atau penyatuan”.

Menurut Gillin, ada dua macam proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu proses asosiatif dan disoiatif. Proses asosiatif merupakan proses menuju terbentuknya persatuan sosial. Proses disoiatif merupakan proses mengarah pada perpecahan atau disintegrasi sosial.

1. Bentuk-bentuk interaksi sosial yang asosiatif: Proses Asosiatif (Soekanto 2012: 64).

a. Kooperasi/ Kerja sama (Cooperation)

Soekanto (2012: 64) mengatakan bahwa kerja sama atau kooperasi merupakan perwujudan minat dan perhatian orang untuk bekerja bersama-sama dalam suatu kesepahaman, sekalipun motifnya sering dan bisa tertuju kepada kepentingan diri sendiri.

Beberapa sosiolog menganggap bahwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang pokok. Sosiolog lain menganggap bahwa kerja sama merupakan proses utama. Golongan terakhir tersebut memahamkan kerja sama untuk menggambarkan sebagian besar bentuk-bentuk interaksi sosial atas dasar bahwa segala macam bentuk interaksi tersebut dapat dikembalikan kepada kerja sama. Kerja sama di sini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.

b. Akomodasi (Accomodation)

(18)

Narwoko (2010:59) mendefinisikan bahwa akomodasi adalah suatu proses ke arah tercapainya persepakatan sementara yang dapat diterima kedua belah pihak yang tengah bersengketa. Akomodasi ini terjadi pada orang-orang atau kelompok-kelompok yang mau tak mau harus bekerja sama, sekalipun dalam kenyataannya mereka masing-masing selalu memiliki paham yang berbeda dan bertentangan.

Narwoko (2010: 60) menegaskan bahwa akomodasi jelas akan meredakan konflik dan menggantikan proses sosial yang disosiatif ini dengan suatu interaksi yang sedikit banyak bersifat damai. Akomodasi akan meredakan pertentangan, dan sikap yang lebih bersahabat mungkin saja timbul dari interaksi yang bersifat damai ini. Proses akomodasi memang berpengaruh besar pada sikap dan perilaku orang.

Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.

C. Asimilasi (Assimilation)

Soekanto (2006: 80) menjelaskan bahwa asimilasi adalah proses sosial yang

ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tindakan, sikap, dan proses mental dengan memperhatikan tujuan dan kepentingan bersama.

D. Amalgamasi/Akulturasi

(19)

2. Bentuk-bentuk interaksi sosial yang bersifat disosiatif:

Soekanto (2006: 81-91) menjelaskan bahwa interaksi sosial yang bersifat disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat yang bersangkutan.

Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses-proses yang disosiatif dibedakan dalam tiga bentuk, yaitu :

a. Persaingan (competition) b. Kontravensi (contravention)

c. Pertentangan atau pertikaian (conflict)

a. Persaingan (competition) adalah suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik

perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada, tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

b. Kontravensi (contravention) pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian.

c. Pertentangan atau pertikaian (conflict)

Pertentangan atau pertikaian adalah suatu proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan dengan ancaman atau kekerasan.

2.1. 2 Konflik Sosial

(20)

benturan kepentingan, keinginan, pendapat dan lain-lain paling tidak melibatkan dua pihak atau lebih. Willian Chang mempertanyakan “benarkah konflik sosial hanya berakar pada ketidakpuasan batin, kecemburuan, iri hati, kebencian, masalah perut, masalah tanah tempat tinggal, pekerjaan, uang dan kekuasasan?”, ternyata jawabnya “tidak”; dan dinyatakan oleh Chang bahwa emosi manusia sesaat pun dapat memicu terjadinya konflik sosial.

Setyaning (2011: 5) mendefinisikan bahwa konflik merupakan proses sosial antar dua orang atau lebih dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya.

Konflik sosial adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan ancaman dan kekerasan. (Leopod Von

Wiese, .

Sunarto (2000: 218-219) menjelaskan bahwa Ralf Dahrendorf adalah seorang tokoh sosiologi modern. Dalam tulisannya mengenai kelas dan konflik kelas dalam masyarakat industri, ia menolak pandangan Marx. Ia mengamati bahwa, perubahan sosial tidak hanya datang dari dalam tetapi dapat juga dari luar masyarakat. Perubahan dari dalam masyarakat tidak selalu disebabkan konflik sosial tetapi, terdapat pula konflik sosial yang berbentuk lain. Ia pun mengamati bahwa konflik tidak selalu menghasilkan revolusi, dan bahwa perubahan sosial dapat terjadi tanpa revolusi. Dengan demikian, konflik menurut Dahrendorf, merupakan sumber terjadinya

perubahan sosial.

(21)

Ismail (2011: 4-5) mengatakan bahwa setiap komunitas memiliki struktur sosial yaitu jalinan hubungan antar individu atau kelompok sosial dalam masyarakat sesuai status dan peranan yang dimilikinya. Bentuk struktur sosial tersebut dapat berupa proses konflik dan integrasi (pembauran hingga menjadi kesatuan yang utuh atau bulat) dalam masyarakat. Konflik dan integrasi merupakan sebuah pasangan yang melekat dalam kehidupan masyarkat. Jadi, walaupun konflik merupakan bentuk kontradiktif (berlawanan, bertentangan) dari integrasi, namun tidak selamanya kedua hal tersebut harus dipertentangkan. Dalam kehidupan nyata integrasi bisa saja hidup bersebelahan dengan konflik, bahkan melalui konflik keseimbangan hubungan sebenarnya dapat ditata kembali.

Dalam materialisme dialektikalnya bahwa konflik mendorong timbulnya konflik lebih lanjut. Dari hasil-hasil pemikiran para pemikir abad kesembilan belas, bahwa konflik selalu bersifat merusak.

Setiadi (2011: 348) menguraikan bahwa dalam International Encyclopedia of the Social Sciences VOL. 3 (hal. 236-241) diuraikan mengenai pengertian konflik dari aspek antropologi, yakni ditimbulkan sebagai akibat dari persaingan antara dua pihak; di mana tiap-tiap pihak dapat berupa perorangan, keluarga, kelompok kekerabatan,

satu komunitas, atau mungkin satu lapisan kelas sosial pendukung ideologi tertentu, satu organisasi politik, satu suku bangsa, atau satu pemeluk agama tertentu. dengan demikian, pihak-pihak dapat terlibat dalam konflik meliputi banyak macam bentuk dan ukurannya. Selain itu, dapat pula dipahami bahwa pengertian konflik secara antropologis tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan secara bersama-sama dengan pengertian konflik menurut aspek-aspek lain yang semuanya itu turut ambil bagian dalam memunculkan konflik sosial dalam kehidupan kolektif manusia william Chang (2001).

(22)

George Simmel dan Ralf Dahrendorf fokus dalam membicarakan interaksi sosial dan konflik sosial. Setiadi (2011: 94) Ralf dahrendorf dalam pandangannya, bahwa dalam setiap masyarakat cenderung menyimpan potensi konflik. Beberapa angapan dasar berkenaan dengan konflik menurut Ralf Dahrendorf yaitu:

1. Setiap elemen dalam kehidupan sosial memberikan andil bagi perubahan dan konflik sosial, sehingga antara konflik dan perubahan merupakan dua variabel yang saling berpengaruh. Elemen-elemen tersebut akan selalu dihadapkan pada persamaan dan perbedaan, sehingga persamaan akan mengantarkan pada akomodasi, sedangkan perbedaan akan mengantarkan pada timbulnya situasi konflik.

2. Setiap kehidupan sosial, masyarakat akan terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi sejumlah kekuatan-kekuatan lain. Dominasi kekuatan secara sepihak akan menimbulkan konsiliasi, akan tetapi mengandung benih-benih konflik yang bersifat laten, yang sewaktu-waktu akan meledak menjadi konflik manifes (terbuka).

Secara struktural, konflik dapat mengubah keseimbangan kekuasaan antara kelompok dominan dan kelompok minoritas.

Setiadi (2011: 382) secara identitas, konflik akan menumbuhkan kesadaran mengenai siapa mereka dan mempertegas batas-batas kelompok.

George Simmel (dalam Setiadi, 2011: 381) menyatakan bahwa masyarakat yang sehat tidak hanya membutuhkan hubungan sosisal yang sifatnya integratif dan harmonis, tetapi juga membutuhkan adanya konflik.

(23)

Konflik mempunyai potensi untuk memberi pengaruh positif maupun negatif dalam berbagai taraf interaksi manusia. Dalam kehidupan manusia terutama dalam bermasyarakat, manusia tidak akan terlepas dari konflik dan pertikaian yang ada. Hal ini dikarenakan pada kecenderungan lain dari manusia, selain bekerja sama manusia juga mempunyai keinginan untuk lebih baik dari manusia yang lain, maka timbullah apa yang disebut persaingan dalam kehidupannya.

Setiadi (2011: 369) menerangkan bahwa setiap kehidupan sosial selalu berada dalam proses perubahan, sehingga perubahan merupakan gejala yang bersifat permanaen yang mengisi setiap perubahan kehidupan sosial. Gejala perubahan kebanyakan sering diikuti oleh konflik, baik secara personal maupun secara interpersonal. Setiap kehidupan sosial terdapat konflik didalam dirinya sendiri, oleh sebab itu konflik merupakan gejala yang permanen yeng mengisi setiap kehidupan sosial. Gejala konflik akan berjalan seiring dengan kehidupan sosial itu sendiri sehingga, lenyapnya konflik juga akan bersamaan dengan lenyapnya kehidupan sosial. Setiap elemen dalam kehidupan sosial memberikan andil bagi perubahan dan konflik

sosial, sehingga antara konflik dan perubahan merupakan dua variabel yang saling berpengaruh. Elemen-elemen tersebut akan selalu dihadapkan pada persamaan dan perbedaan, sehingga persamaan akan mengantarkan pada akomodasi sedangkan perbedaan akan mengantarkan timbulnya situasi konflik.

2.1.3 Tokoh Utama

(24)

2.2 Landasan Teori 2.2.1 Teori Sosiologi Sastra

Soekanto (2006: 64) mengatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan-hubungan antara orang-perorangan, bukan manusia dengan benda mati. Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai.

Konflik sosial adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan ancaman dan kekerasan. (Leopod Von Wiese,

.

Ratna (2004: 331) mengatakan bahwa sosiologi sastra atau sosiokritik dianggap sebagai disiplin yang baru. Sebagai disiplin yang berdiri sendiri, sosiologi sastra dianggap baru lahir abad ke-18, ditandai dengan tulisan Madame de Stael.

Soekanto (2006: 356) menjelaskan bahwa menurut George Simmel, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan khusus, yaitu satu-satunya ilmu pengetahuan analitis yang abstrak diantara semua ilmu kemasyarakatan. Menurutnya, masyarakat merupakan suatu proses yang berjalan dan berkembang terus. Masyarakat ada dimana individu mengadakan interaksi dengan individu-individu lainnya. Interaksi timbul karena kepentingan-kepentingan dan dorongan tertentu. George Simmel mengatakan bahwa sosiologi merupakan bentuk-bentuk hubungan antarmanusia.

Sosiologi merupakan cabang ilmu sosial yang mempelajari masyarakat dan pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat masyarakat, perilaku masyarakat, dan perkembangan masyarakat. Sebagai cabang ilmu, Sosiologi dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, August Comte (Bapak Sosiologi). Selanjutnya, Emile Durkheim mengembangkan

sosiologi sebagai disiplin akademis. Sebagai sebuah ilmu, Sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.

(25)

Sosiologi sastra adalah ilmu mengenai asal-usul pertumbuhan (evolusi) masyarakat, ilmu pengetahuan yang mempelajari keseluruhan jaringan hubungan antarmanusia dalam masyarakat, sifatnya umum, rasional, dan empiris.

(http://liestiadanbahasa.blogspot.com/2011/01/kajian-cerita-pendek-dengan-pendekatan.html).

Analisis sosiologi sastra tidak bermaksud untuk mereduksikan hakikat rekaan ke dalam fakta, sebaliknya, sosiologi sastra juga tidak bermaksud untuk melegitimasikan hakikat fakta ke dalam dunia imajinasi.

Tujuan sosiologi sastra adalah meningkatkan pemahaman terhadap sastra dalam kaitannya dengan masyarakat, menjelaskan bahwa rekaan tidak berlawanan dengan kenyataan. Karya sastra jelas dikonstruksikan secara imajinatif, tetapi kerangka imajinatifnya tidak bisa dipahami di luar kerangka empirisnya. Karya sastra bukan semata-mata gejala individual, tetapi juga gejala sosial.

(http://smpn3malangbong.wordpress.com/2012/01/18/analisis-cerpen-kawin-lah-karya-dorothea-rosa-herliany-berdasarkan-pendekatan-sosiologis/).

Makna karya seni terdiri atas hubungan-hubungan seimbang antara medium dengan pesan, bentuk dengan isi, sebagai keseimbangan totalitas artistik. Totalitas artistik, menurut visi sosiologi sastra, tidak semata-mata terkandung dalam unsur intrinsik melainkan juga memiliki ciri-ciri transformasinya dalam struktur yang jauh lebih luas, yaitu struktur sosial. Seluruh kehidupan manusia berada dan terarah pada ruang-ruang estetis. Hubungan sosial menjelaskan genesis karya sebagai salah satu akibat interaksi berbagai interaksi yang terjadi.

(26)

Adapun pengertian lain dari sosiologi sastra yang merepresentasikan hubungan interdisiplin ini, yang masuk dalam ranah sastra, yaitu mencakup:

1. Pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya.

2. Pemahaman terhadap totalitas karya sastra yang disertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung didalamnya.

3. Pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakanginya.

4. Hubungan dialek antara sastra dengan masyarakat.

Sebagai disiplin ilmu sosiologi memiliki ciri-ciri utama sebagai berikut: (http://materikuliahevi.blogspot.com/2013/04/pengertian-ilmu-dan-sosiologi.html). 1. Bersifat empiris, artinya ilmu yang didasarkan pada observasi terhadap kenyataan dan

akal sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.

2. Bersifat teoretis, artinya ilmu yang disusun dari hasil-hasil observasi, yang bertujuan untuk mengabstraksikan dan menjelaskan hubungan sebab-akibat, sehingga menjadi

teori.

3. Bersifat kumulatif, artinya dibentuk berdasarkan teori-teori yang telah ada dalam arti memperbaiki, memperluas dan memperhalus teori-teori yang lama.

4. Bersifat Non-Ethis, artinya ilmu tidak bertujuan untuk mempersoalkan buruk dan baiknya fakta tertentu, tetapi untuk menjelaskan fakta tertentu.

Ratna (2004: 339) memberikan sejumlah definisi mengenai definisi sosiologi sastra, diantaranya adalah:

1. Sosiologi sastra menganalisis masalah-masalah sosial yang terkandung di dalam karya sastra itu sendiri, kemudian menghubungkannya dengan kenyataan yang pernah terjadi. Pada umumnya disebut aspek ekstrinsik, model hubungan yang terjadi disebut refleksi.

(27)

3. Sosiologi sastra menganalisis karya dengan tujuan untuk memperoleh informasi tertentu.

Sosiologi sering disebut kajian tentang masyakat atau kajian tentang kehidupan sosial, yang menelaah keteraturan tingkah laku yang ditampilkan keadaan sosial tempat mereka berada. Kondisi sosial masyarakat selalu memiliki ciri umum, yakni interaksi sosial, dimana individu dengan individu saling berhubungan dan berkerjasama untuk mencapai tujuan bersama masyarakat.

(http://materikuliahevi.blogspot.com/2013/04/pengertian-ilmu-dan-sosiologi.html).

Faruk (1999: 3) mengatakan bahwa pokok persoalan sosiologi adalah perilaku manusia sebagai subjek yang nyata; individual. Teladan dari paradigma ini adalah Skinner. Teori-teori yang termasuk didalamnya antara lain adalah teori sosiologi perilaku dan teori pertukaran.

Dalam sosiologi sastra terdapat interaksi sosial, stratifikasi sosial/tingkatan sosial dalam masyarakat, dan konflik sosial. Oleh sebab itu, dalam setiap karya sastra

selalu terdapat interaksi sosial dan stratifikasi sosial/tingkatan sosial dalam masyarakat yang terkadang dapat menimbulkan konflik yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan dalam berinteraksi dan sifat masyarakat dalam membagi-bagi kelas-kelas sosial/ stratifikasi sosial.

2.3 Kajian Pustaka

Elva Yusanti (2011) dalam tesisnya yang berjudul Interaksi Sosial Dalam Trilogi Darah Emas Karya Meiliana K. Tansri: Pendekatan Sosiologis, membahas

(28)

Rohma Junita (2013) dalam tesisnya yang berjudul Stratifikasi dan Interaksi Tokoh-Tokoh Novel Langit Taman Hati Karya Cucuk Hariyanto: pendekatan sosiologis, membahas tentang stratifikasi dan interaksi sosial tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Kajiaan yang dilakukan Rohma Junita sangat membantu penulis dalam menganalisis interaksi sosial tokoh, karena persamaan unsur yang diteliti, bedanya Rohma Junita menganalisis semua tokoh sedangkan, penulis hanya tokoh utama saja.

Nova Mandasari (2010) dalam skripsinya yang berjudul Cerita Calon Arang Karya Pramoedya Ananta Toer: Analisis Sosiosastra, membahas tentang gambaran intrinsik dan nilai sosial yang terdapat dalam novel Cerita Calon Arang karya Pramoedya Ananta Toer. Kajian yang dilakukan Nova Mandasari sangat membantu penulis dalam melihat gambaran novel Cerita Calon Arang dari aspek nilai sosialnya.

Iwan Sebastian (2013) dalam skripsinya yang berjudul Moralitas Tokoh Utama Roman 813 Karya Maurice Leblanc: Analisis Sosiologi Sastra, membahas

tentang moralitas tokoh utama berdasarkan tinjauan sosiologis Emile Durkheim.

(29)

BAB III

METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Ratna (2004: 46-48) mengatakan bahwa metode kualitatif memberikan perhatian terhadap data alamiah, data dalam hubungannya dengan konteks keberadaannya. Cara-cara inilah yang mendorong metode kualitatif dianggap sebagai multimetode sebab penelitian pada gilirannya melibatkan sejumlah besar gejala sosial yang relevan.

Ratna (2004: 47-48) mengatakan bahwa ciri-ciri terpenting metode kualitatif, yaitu:

1. Memberikan perhatian utama pada makna dan pesan, sesuai dengan hakikat objek, yaitu sebagai studi kultural.

2. Lebih mengutamakan proses dibandingkan dengan hasil penelitian sehingga makna selalu berubah.

3. Tidak ada jarak antara subjek peneliti dengan objek penelitian.

4. Desain dan kerangka penelitian bersifat sementara sebab penelitian bersifat

terbuka.

5. Penelitian bersifat alamiah, terjadi dalam konteks sosial budayanya masing-masing.

3.2 Sumber Data

Judul : Novel Cerita Calon Arang

Pengarang : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

Tahun terbit : Juli 2003

(30)

Tebal : 96 halaman, 13 x 20 cm

Percetakan : Grafika Mardi Yuana, Bogor

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah library research, yaitu dengan mengumpulkan informasi melalui studi kepustakaan. Untuk menambah korpus data, penelitian ini mengupayakan pencarian korpus data melalui internet research (pencarian data dengan menelusuri artikel ilmiah di internet).

3.4 Teknik Analisis Data

Kuntjara (2006: 99) menjelaskan bahwa data merupakan konstruksi makna yang diperoleh dari sumber data. Menganalisis data sama dengan mengonstruksi dari konstruksi makna yang diperoleh.

Moleong (2007: 157) menyatakan bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan. Sedangkan data tertulis, foto dan statistik adalah data tambahan. Data adalah konteks + objek kajian, yang berkaitan langsung dengan permasalahan penelitian. Objek kajian berada dalam konteks, oleh karena itu konteks perlu dipertimbangkan.

Moleong (2007:3) mengatakan bahwa metodologi kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.

(31)

IV

INTERAKSI DAN KONFLIK SOSIAL TOKOH UTAMA DALAM NOVEL CERITA CALON ARANG KARYA: PRAMOEDYA ANANTA TOER

4.1Interaksi Sosial Tokoh Utama dalam novel Cerita Calon Arang

Priyatna (2013: 70) menyatakan bahwa interaksi adalah suatu jenis tindakan atau aksi yang terjadi sewaktu dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain. Ide efek dua arah ini penting dalam konsep interaksi, sehingga ada lawan dari hubungan satu arah yang terjadi pada sebab akibat.

Priyatna (2013: 70) menjelaskan bahwa interaksi sosial adalah hubungan timbal balik yang dinamis antara individu dan individu, antara individu dan kelompok, atau antara kelompok dengan kelompok, baik dalam bentuk kerjasama, persaingan atau pertikaian. Interaksi sosial melibatkan proses-proses sosial yang bermacam-macam yang menyusun unsur-unsur dari masyarakat, yaitu proses tingkah laku yang dikaitkan dengan struktur sosial.

Setiadi (2011: 95) mengatakan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan timbal

balik antarindividu dalam kehidupan sosial. Adapun manusia sebagai insan individu yang masing-masing memiliki karakter dan kepribadian yang berbeda-beda.

Interaksi sosial secara umum ada tiga, yaitu:

1. Kerja sama 2. Persaingan

3. Pertentangan/pertikaian

(32)

Bentuk-bentuk interaksi sosial yang terdapat didalam novel Cerita Calon Arang yaitu:

4.1.1. Kerja sama

Soekanto (2006: 65) mengatakan bahwa kooperasi atau kerja sama merupakan perwujudan minat dan perhatian orang untuk bekerja bersama-sama dalam suatu kesepahaman, sekalipun motifnya sering dan bisa tertuju kepada kepentingan diri sendiri.

4.1.1.1Kerja sama Calon Arang dengan murid-muridnya untuk memuja kedatangan Dewi Durga

Kerja sama Calon Arang dengan murid-murid terkemukanya yaitu, Weksirsa, Mahisa, Wadana, Lendesi, Larung, Guyung dan Gandi secara bersama-sama di dalam Candi Durga memuja Dewi Durga dengan mengucapkan segala mantra supaya Dewi Durga datang.

Setelah niatnya pasti, dipanggillah semua muridnya. Diantaranya murid-muridnya

yang terkemuka ialah Weksirsa, Mahisa, Wadana, Lendesi, Larung, Guyung, dan Gandi. Semua murid-muridnya menyetujui maksudnya.

Tanpa banyak pertimbangan berangkatlah mereka ke Candi Durga. Durga yang juga disebut Bagawati adalah dewi yang menghendaki kerusakan.

Di dalam candi inilah Calon Arang memuja dewinya. Diucapkan segala mantra dan maksudnya hendak membunuh orang banyak-banyak.

Api pedupaan pun mengepul-ngepulkan asap. Bau ratus dan pandanwangi semerbak memenuhi ruangan candi.

(33)

Tidak lama kemudian datanglah dewi yang mereka puja itu. Dewi Durga!

Semua yang ada di candi berjongkok. Kemudian kepala mereka ditundukkan hingga ke tanah. Melalui asap pedupaan itulah Dewi Durga datang. Kian lama kian nyata rupanya. Ia adalah dewi yang luar biasa cantik dan bagusnya. Tidak sedikit pun ada cacat pada tubuhnya.

Tenang kembali keadaan candi itu. (halaman 15).

4.1.1.2Kerja sama Calon Arang dengan Dewi Durga untuk membuat penyakit

Kerja sama Calon Arang dengan Dewi Durga untuk membuat penyakit besar-besaran. Calon Arang dengan Dewi Durga mendatangkan penyakit kepada warga Kediri. Dewi Durga adalah dewi yang menghendaki kerusakan.

“Calon Arang anakku, “ kata Sang Dewi,” apakah maksudmu memanggil daku?”

Sekali lagi Calon Arang menyembah. Kemudian menjawab:

“Izinkanlah hambamu memohon kasih dari paduka Dewi.”

“Katakan maksudmu, anakku.”

“Ya, paduka Dewi, berilah hamba izin untuk membangkitkan penyakit buat

menumpas orang banyak-banyak.”

“Itulah maksudmu, anakku?” kata Dewi Durga.

“Demikianlah, paduka Dewi,” ujar Calon Arang.

“Jangan kau kuatirkan sesuatu apapun. Aku izinkan engkau membangkitkan penyakit

dan banyak sekali orang akan mati karenanya.”

Bukan main girangnya hati Calon Arang. Serentak murid-muridnya bangkit berlutut dan kembali melompat-lompat, menari dan menandak-nandak.

“Tetapi, anakku,” kata Sang Dewi lagi. “Tidak kuijinkan engkau meratakan penyakit hingga ke dalam ibukota. Engkau boleh membunuh orang di luar ibukota

(34)

“Terimakasih, paduka Dewi,” sambung Calon Arang. Turut menyembah lagi.

Waktu mereka mengangkat kepala masing-masing dan memandangi pedupaan, Dewi Durga sudah tidak ada. Dewi yang mereka puja telah menghilang.

Bukan main girangnya hati perempuan itu bersama murid-muridnya. Mereka pulanglah ke desa Girah.

(halaman 15-16).

4.1.1.3 Kerja sama Calon Arang dengan murid-muridnya untuk menyakiti warga Kediri

Kerja sama Calon Arang dengan murid-muridnya untuk menyakiti warga kediri yaitu mereka mencelakakan seorang anak, namun bukan malah berniat mengobati malahan mereka tertawa-tawa senang melihat anak celaka itu.

Pada suatu hari anak kepala dusun bermain-main di depan rumah. Tidak dilihatnya bahwa seorang murid Calon Arang lewat. Karena asyik bermain tidak tahulah ia bahwa ia sudah menumbuk murid Calon Arang itu. Dalam hari itu juga hilanglah mata

anak itu. Kakinya lumpuh dan rambut tidak mau tumbuh di kepalanya. Segera kepala kampung itu datang ke rumah Calon Arang untuk minta maaf atas kesalahan anaknya. Ia pun minta agar anaknya disembuhkan.

Calon Arang dan beberapa orang muridnya datang ke rumah kepala dusun itu. Di sana mereka tidak mengobati anak yang celaka itu. Tidak. Mereka malah tertawa-tawa senang melihat anak celaka itu. Melihat hal itu menangislah kepala dusun itu laki-bini. Tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa, karena mereka pun takut pada Calon Arang dan murid-muridnya.

“Enak, ya? Enak, ya? Kata Calon Arang.

“Tentu saja enaklah ia sekarang, Nyai!” kata murid-muridnya.

Laki-bini itu berdiam diri saja mendengar sindiran itu. Keduanya takut mendapat bencana lebih besar lagi.

(35)

Tiba-tiba, timbullah kemarahan kepala dusun itu. Dengan pikiran membuncah ia pun masuk ke dalam kamar. Dari sana diambilnya tombak yang bertuah. Kemudian, ia keluar dan berseru:

“Hinakanlah kami, Calon Arang! Hinakanlah kami!” teriaknya. Tombaknya ditujukan pada perempuan tukang sihir itu. Calon Arang tertawa melihat kepala dusun itu. Tiba-tiba perempuan itu berteriak:

“Bah!”

Kena hawa teriakan itu jadi kaku-kejanglah kepala dusun itu dan ia pun roboh ke tanah. Bininya terlompat dan merangkul suaminya. Tetapi, kepala dusun itu telah meninggal. Menangislah isteri yang malang itu tersedan-sedan.

Calon Arang dan murid-muridnya tertawa kegirangan.

“Tahu engkau siapa Calon Arang?” ejeknya pada bini kepala dusun itu. Perempuan itu tidak menjawab.

“Bilangkan pada orang banyak, Calon Arang yang membuat segala ini.” Kemudian ia pun pulanglah ke rumahnya diiringkan murid-muridnya.

Sejak terjadi penganiayaan itu tukang sihir itu semakin ditakuti. Orang tua dan anak-anak tidak ada yang berani menyebut-nyebutkan namanya, dan murid-muridnya kian merajalela. (Halaman 26-27).

4.1.1.4kerja sama Calon Arang dengan murid-muridnya untuk menghadapi pasukan balatentara Raja Erlangga

Calon Arang dengan murid-muridnya pergi ke kuburan untuk merundingkan rencana apa yang harus mereka lakukan untuk menghadapi pasukan balatentara Raja Erlangga.

Langsung janda itu menuju ke serambi. Murid-muridnya diperintahkannya supaya ikut. Karena takut, mereka semua ikut. Di depan sekali berjalan Weksirsa, kemudian Calon Arang dengan membawa kitab. Di belakang berjalanlah muridnya-muridnya yang terkemuka.

(36)

tengah-tengah bersandar pada pohon kayu yang besar lagi tua. Tumbuh-tumbuhan rambatan berjuluran dari cabang-cabang sampai ke tanah.

Jarang benar orang datang ke kuburan itu. Selain gelap, juga menakutkan kelihatannya. Kuburan itu tidak terpelihara. Banyak ditumbuhi semak-semak dan ular berjalaran ke sana-kemari.

Mereka duduk tenang-tenang dan masing-masing membuat rencana apa yang harus dikerjakan. Sekarang kejahatan mereka telah diketahui Baginda Raja, dan mereka tinggal di daerah yang diperintahkan Sri Baginda. Tentu Baginda Erlangga akan mendatangkan balatentaranya yang kuat untuk membinasakan mereka. Itulah yang dipikirkan, dan mereka merancang-rancang bagaimana harus menyelamatkan diri. (halaman 40).

“Apakah yang kanjeng Nyai pikirkan?” tanya Lendi.

Calon Arang mengeluh lagi. Kemudian memandang muridnya seorang demi seorang.

“Siapa punya rencana baik?” tanya tukang sihir itu.

Lendi bertanya dengan hormatnya:

“Bagaimanakah pikiran kanjeng Nyai?”

“Itulah yang sedang kucari-cari.”

“Sekarang peneluhan kita sudah diketahui oleh Raja,” kata si Lendi pula.

“Dan balatentara Baginda besar, kuat, dan banyak. Semua kita tahu juga Sri Erlangga adalah seorang panglima yang telah menundukkan banyak negeri.”

“Dan Sri Baginda Erlangga sangat dicintai rakyat,” karena ia selalu memikirkan

kemakmuran dan keselamatan rakyatnya,” sambung Weksirsa. (halaman 41).

“Jadi, bagaimanakah putusan kanjeng Nyai?” tanya salah satu muridnya. Calon Arang tidak menjawab. Ia memikir sungguh-sungguh sekarang.

“Kanjeng Nyai! Ijinkanlah hamba mengemukakan pendapat.” “Katakan! Katakan!” kata Calon Arang.

Semua yang hadir memandangi Lendi dan Lendi berkata lagi:

“Lebih baik kita semua melarikan diri ke gunung yang masih diliputi hutan lebat.

Semua orang tahu siapa kanjeng Nyai dan kami murid-muridnya. Semua orang akan

(37)

“Atau apa?” tanya Calon Arang mendesak.

“Atau kita pergi kepada seorang pendeta yang agung yang bisa mengembalikan kita semua ke jalan yang benar agar bisa idup baik dan tenang, tidak dibuat permainanan

segala macam kejahatan seperti sekarang.”

(halaman 42).

Namun Calon Arang dengan murid-muridnya tidak setuju dengan pendapat si Lendi, karena mereka bukanlah pengecut. Mereka semua terpaksa maju melawan serangan balatentara Raja Erlangga.

“Lebih baik kita hadapi Raja itu dengan semua balatentaranya.” Ucap Larung

“Bagaimana caranya kita melawan mereka?” tanya Lendi takut-takut

“Bagaimana?” seru Larung dengan suara menghinakan. “Kita teluh semua penduduk ibukota, biar mati semua mereka. Biar raja dan semua rakyatnya kita tumpas pula. Apa salahnya? Kita teruskan saja pekerjaan ini.”

“Bagaimana pikiran kalian?” tanya Calon Arang.

“Setuju, kanjeng Nyai.” Semua menyeru setuju.

“Karena semua muridnya setuju, bukan main girang Calon Arang. Ia pun ingin sekali meneluhi orang-orang di ibukota. Girang benarlah hatinya bila juga Raja bisa kena teluhnya (halaman 43).

4.1.1.5 Kerja sama Calon Arang dengan Dewi Durga untuk membuat penyakit besar-besaran

Kerja sama Calon Arang dengan Dewi Durga untuk membuat penyakit besar-besaran yaitu Calon Arang meminta bantuan kepada Dewi Durga untuk mendatangkan penyakit kepada warga Kediri. Dewi Durga adalah dewi yang menghendaki kerusakan.

Asap pedupaan mengepul-ngepul di kaki arca itu sambil menucapkan berbagai mantra.

(38)

“hai, Calon Arang, anakku!” kata Sang Dewi. “Engkau menyediakan sesaji.

Apakah kehendakmu?”

“Ampun, Dewi pujaan hamba. Izinkanlah hamba membuat penyakit besar-besaran. Biarlah penyakit itu sampai merambat ke dalam ibukota, bahkan ke dalam

istana sekalipun. Paduka Sang Dewi telah tahu juga, bahwa Sang Baginda Erlangga

sangat marah karena teluhan hamba. Sang Baginda pun telah menjatuhkan perintah

untuk membunuh hamba. Karena itu sangat benar permohonan hamba ini dikabulkan

hendaknya.”

“Baiklah, anakku. Aku kabulkan permintaanmu itu. Tetap ingat, engkau harus

hati-hati bertindak.”

Sehabis bicara itu lenyaplah Dewi Durga, dan pulanglah Calon Arang bersama murid-muridnya ke desa Girah. (halaman 46-47).

4.1.2 Persaingan

Soekanto (2006: 81) mengatakan bahwa persaingan (competition) adalah suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing, mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan.

Hal-hal yang termasuk ke dalam bentuk persaingan yaitu:

4.1.2.1Penolakan

KBBI (2007:1204) penolakan adalah proses/cara perbuatan menolak suatu hal yang tidak diinginkan.

Penolakan Calon Arang terhadap Empu Baradah karena telah menghidupkan dia kembali. Sebelumnya Calon Arang kalah bertarung dengan Empu Baradah.

Lama api itu membakar Sang Empu dan Calon Arang terus meniup sambil meraung-raung seperti singa. Api tambah besar, tetapi Empu Baradah tidak terbakar olehnya.

(39)

“Keluarkan seluruh kepandaianmu,” kata Baradah.

Api dari tubuh janda itu kian jadi besar, keluar-masuk bersama napasnya. Bunyi api keluar-masuk itu mengerikan seperti rumah kebakaran.

Akhirnya Sang Maha Pendeta berkata dengan kepastian:

“Hei...kau, Calon Arang mesti mati!”

Waktu itu juga matilah Calon Arang. Lenyap api yang keluar-masuk dari tubuhnya. Lenyap api yang besar seperti rumah terbakar itu. Sekarang Calon Arang telah tergolek di tanah. Tidak bergerak-gerak ia.

Sang Maha Pendeta masih berdiri di tempatnya. Dipandanginya mayat itu diam-diam. Kemudian, ia berkata pada dirinya:

“Ini tidak baik. Tidak ada gunanya kalau ia mati begitu saja sebelum jiwanya

dibersihkan. Ini artinya pembunuhan.”

Setelah berkata begitu, ditiupkannyalah mayat Calon Arang itu pelan-pelan. Segera Calon Arang bangun kembali.

“Hai, Pendeta Lemah Tulis”! teriak perempuan itu. “Untuk apa kau hidupkan

aku lagi? Bukankah lebih baik aku mati?”

“Mati adalah gampang Calon Arang, tetapi mati itu tidak berguna kalau tidak membawa kesucian. Baiklah kusucikan dulu jiwamu,” kata Empu Baradah.

(halaman 85-86).

4.1.2.2Perlawanan

KBBI (2007: 645) perlawanan adalah proses/cara perbuatan melawan, mencega, menangkis, bertahan terhadap suatu hal yang tidak diinginkan.

(40)

Calon Arang merendah-rendahkan diri supaya pendeta itu mau mensucikan dirinya. Tetapi, Empu Barada tetap menolak. Ia hanya mengeleng-gelengkan kepala. Tidak sudi ia meluluskan permintaan tukang sihir yang banyak dosa itu.

Karena tetap ditolak, lupalah Calon Arang pada ketakutannya. Kemarahan timbul. Matanya melotot galak. Seluru tubuhnya menggetar. Bibirnya menjadi pucat karena kemarahan itu. Kedua tangannya menggigil. Mata merah. Kening berkerut menakutkan, sehingga alisnya yang kiri dan kanan bersambung menjadi satu. Napasnya sesak oleh kemarahannya itu. Dadanya turun-naik seperti pompa. Akhirnya kemarahannya memuncak. Dari mulut, kuping, dan matanya menyembur api keluar.

“Apakah yang kau perbuat itu?” tanya Empu Baradah sambil tertawa.

Calon Arang mendekat pada Empu Baradah, tetapi Sang Empu tidak mundur.

“Hei...Baradah!” teriak Calon Arang dengan suara ganas.

“Engkau menolak permintaanku. Engkau tidak mau membuat diriku kembali

jadi baik. Engkau tidak sudi melenyapkan semua dosaku. Mau apa tidak?”

Empu Baradah menggelengkan kepala.

“Kerjakan!” perintah Calon Arang. “Jangan sampai kena teluhku. Engkau

mau tahu siapa Calon Arang yang tidak tertandingi di seluruh alam ini? Inilah dia

orangnya. Kerjakan perintahku, atau kubuat kau jadi barang tontonan yang paling

hina.”

Melihat Empu Baradah tidak mau melakukan perintah Calon Arang semakin marahlah ia.

“Tidak mau? Kalau engkau kena angin tubuhku, hancur luluhlah engkau.

”Calon Arang berteriak-teriak keras. Sambungnya: “Calon Arang belum punya

tandingan di seluruh dunia. Jangankan engkau, hai pendeta kurus. Kalau engkau

kena tiupanku, barulah engkau tahu siapa aku. Pasti engkau terbakar jadi abu. Kalau

engkau mau lihat buktinya, pandanglah pohon beringin itu. Kalau kena tiupanku,

(41)

Setelah mengatakan begitu, Calon Arang segera meniup pohon beringin yang jauh dari tempatnya. Api besar tersembur dari mulutnya. Pohon beringin yang kena tiupannya itu terbang ke angkasa dan terbakar jadi api. Dalam sekejap mata saja lenyaplah pohon itu dari pemandangan.

“Hei...Baradah! kenal engkau sekarang siapa aku?” teriak perempuan itu

“Perlihatkan seluruh kepandaianmu,” Empu Baradah berkata tenang. “Kurang ajar kau, pendeta kurus!”

“Ayo, perlihatkan segala kebiasannmu. Baradah ingin tahu,” ujar Empu itu dengan

sangat tenangnya.

Bertambah marah Calon Arang mendapat tantangan seperti itu. Dadanya kembang-kempis. Keringat bermanik-manik di kening dan menetes-netes di dadanya. Setelah dilihatnya Maha pendeta itu tidak gentar melihat kepandaiannya, segera ia meniup. Api besar menyembur dari mulut dan menggulung Sang Empu. Tetapi, Baradah tidak termakan api yang keluar dari mulutnya itu. Beliau tetap berdiri tenang

ditempatnya.

(halaman 83-85).

4.1.2.3Kekerasan

KBBI (2007: 550) kekerasan adalah perbuatan seseorang atau kelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain.

Setiadi (2011: 384) mengartikan kekerasan sebagai sarana yang digunakan oleh pihak-pihak yang terlibat konflik (kontestan konflik) dalam memperjuangkan kepentingannya.

4.1.2.3.1 Kekerasan Calon Arang terhadap Empu Baradah.

(42)

Baradah tidak termakan api yang keluar dari mulutnya itu. Beliau tetap berdiri tenang ditempatnya.

Lama api itu membakar Sang Empu dan Calon Arang terus meniup sambil meraung seperti singa. Api tambah besar. Tambah besar. Tetapi Empu Baradah tidak terbakar olehnya.

(halaman 85).

4.1.2.4Mencerca/Mencela

KBBI (2007:201) mencerca/Mencela adalah mengatakan sesuatu hal atau tindakan kritik atau tuduhan terhadap suatu pandangan, sikap, dan perilaku yang tidak sejalan menurut pandangan orang tertentu.

4.1.2.4.1 Calon Arang mencerca keluarga kepala dusun.

Pada suatu hari anak kepala dusun bermain-main di depan rumah. Tidak dilihatnya bahwa seorang murid Calon Arang lewat. Karena asyik bermain tidak tahulah ia bahwa ia sudah menumbuk murid Calon Arang itu. Dalam hari itu juga hilanglah mata anak itu. Kakinya lumpuh dan rambut tidak mau tumbuh di kepalanya. Segera kepala kampung itu datang ke rumah Calon Arang untuk minta maaf atas

kesalahan anaknya. Ia pun minta agar anaknya disembuhkan.

Calon Arang dan beberapa orang muridnya datang ke rumah kepala dusun itu. Di sana mereka tidak mengobati anak yang celaka itu. Tidak. Mereka malah tertawa-tawa senang melihat anak itu celaka. Melihat hal itu menangislah kepala dusun itu laki-bini, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka takut pada Calon Arang dan murid-muridnya.

“Enak, ya? Enak, ya?” kata Calon Arang.

“Tentu saja enaklah ia sekarang, Nyai!” kata murid-muridnya.

Laki-bini itu berdiam diri saja mendengar sindiran itu. Keduanya takut mendapat bencana lebih besar lagi.

(43)

“Bininya juga menangis, Nyai!” sambung muridnya.

Calon Arang dan murid-muridnya tertawa kegirangan.

“Tahu engkau siapa Calon Arang?” ejeknya pada bini kepala dusun itu

(halaman 26-28).

4.1.2.4.2 Calon Arang mencerca muridnya yang ketakutan akan serangan pasukan Sri Baginda Erlangga.

“Lebih baik kita semua melarikan diri ke gunung yang masih diliputi hutan

lebat. Semua orang tahu siapa kanjeng Nyai dan kami murid-muridnya. Semua orang

akan tahu kemana saja kita pergi, kita terkenal. Atau...?”

“Atau apa?” tanya Calon Arang mendesak.

“Atau kita pergi saja kepada pendeta agung yang bisa mengembalikan kita

semua ke jalan yang benar agar bisa hidup baik dan tenang, tidak dibuat permainan

segala macam kejahatan seperti sekarang.”

“Calon Arang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan si Lendi itu.

“Penakut! Penakut!” serunya menghinakan si Lendi (halaman 42).

4.1.2.4.3 Calon Arang mencerca Empu Baradah, karena Empu Baradah tidak mau

melenyapkan dosa-dosa Calon Arang.

“Hei...Baradah!” teriak Calon Arang dengan suara ganas.

“Engkau menolak permintaanku. Engkau tidak mau membuat diriku kembali

jadi baik. Engkau tidak sudi melenyapkan semua dosaku. Mau apa tidak?”

Empu Baradah menggelengkan kepala.

“Kerjakan!” perintah Calon Arang. “Jangan sampai kena teluhku. Engkau mau tahu siapa Calon Arang yang tidak tertandingi di seluruh alam ini? Inilah dia

orangnya. Kerjakan perintahku, atau kubuat kau jadi barang tontonan yang paling

(44)

Melihat Empu Baradah tidak mau melakukan perintah Calon Arang semakin marahlah ia.

“Tidak mau? Kalau engkau kena angin tubuhku, hancur luluhlah engkau.

”Calon Arang berteriak-teriak keras. Sambungnya: “Calon Arang belum punya

tandingan di seluruh dunia. Jangankan engkau, hai pendeta kurus. Kalau engkau

kena tiupanku, barulah engkau tahu siapa aku. Pasti engkau terbakar jadi abu. Kalau

engkau mau lihat buktinya, pandanglah pohon beringin itu. Kalau kena tiupanku,

pasti dia hancur tersebar-sebar jadi abu. “

Setelah mengatakan begitu, Calon Arang segera meniup pohon beringin yang jauh dari tempatnya. Api besar tersembur dari mulutnya. Pohon beringin yang kena tiupannya itu terbang ke angkasa dan terbakar jadi api. Dalam sekejap mata saja lenyaplah pohon itu dari pemandangan.

“Hei...Baradah! kenal engkau sekarang siapa aku?” teriak perempuan itu

“Perlihatkan seluruh kepandaianmu,” Empu Baradah berkata tenang. “Kurang ajar kau, pendeta kurus!” (halaman 84).

4.1.3 Pertentangan/Pertikaian

KBBI (2007: 1190) pertikaian adalah hal yang menyangkut perselisihan atau pertentangan, pertengkaran, percekcokan antara satu orang dengan orang yang lain.

Priyatna (2013: 85) mengatakan bahwa pertentangan adalah keadaan yang membuat salah satu pihak merintangi atau menjadi penghalang bagi individu atau kelompok dalam melakukan kegiatan-kegiatan tertentu.

4.1.3.1Persaingan antara Calon Arang dengan Sri Baginda Erlangga. Calon Arang ingin menghancurkan rakyat Sri Baginda Erlangga, namun Sri Baginda Erlangga ingin tetap melindungi rakyatnya.

(45)

dan rambut tidak mau tumbuh di kepalanya. Segera kepala kampung itu datang ke rumah Calon Arang untuk minta maaf atas kesalahan anaknya. Ia pun minta agar anaknya disembuhkan.

Calon Arang dan beberapa orang muridnya datang ke rumah kepala dusun itu. Di sana mereka tidak mengobati anak yang celaka itu. Tidak. Mereka malah tertawa-tawa senang melihat anak itu celaka. Melihat hal itu menangislah kepala dusun itu laki-bini, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa karena mereka takut pada Calon Arang dan murid-muridnya.

“Enak, ya? Enak, ya?” kata Calon Arang.

“Tentu saja enaklah ia sekarang, Nyai!” kata murid-muridnya.

Laki-bini itu berdiam diri saja mendengar sindiran itu. Keduanya takut mendapat bencana lebih besar lagi.

“Lihat, lihat, lakinya menangis,” kata Calon Arang.

“Bininya juga menangis, Nyai!” sambung muridnya.

Calon Arang dan murid-muridnya tertawa kegirangan.

“Tahu engkau siapa Calon Arang?” ejeknya pada bini kepala dusun itu.

Perempuan itu tidak menjawab.

“Bilangkan pada orang banyak, Calon Arang yang membuat segala ini.”

Kemudian, pulanglah Calon Arang ke rumahnya diiringkan murid-muridnya setelah menyakiti satu keluargu kepala dusun itu.

(Halaman 26-28).

(46)

Berita tentang meluasnya teluh Calon Arang telah dilaporkan pada Sri Baginda Erlangga. Bukan main sedih Sri Baginda mendengar penderitaan yang harus ditanggung rakyatnya itu. Pada suatu hari dipanggilnya semua menteri menghadap. Selain para menteri menghadap juga pendeta-pendeta dan para johan pahlawan yang mengepalai pasukan-pasukan tentara Daha.

“Ampun Baginda,” sembahnya. “Patik menghaturkan periksa, bahwa janda

dari Girahlah yang menerbitkan segala keonaran dan bencana ini. Ia memohon tuah dari Dewi Durga untuk menumpas orang banyak-banyak karena hendak membalas dendam.”

“Siapa nama janda itu?” tanya Sri Baginda.

“Calon Arang tuanku,” jawab perdana menteri.

“Apa yang didendamkan?”

“semua orang, karena tidak ada yang mau memperistri anak tunggalnya

Ratna Manggali.”

“Itu bukan alasan untuk membunuh begitu banyak orang. Sedangkan,

membunuh seorang saja ada hukumannya, apalagi ribuan, bahkan puluhan ribu.”

“Penyakit ini harus dilenyapkan. Kalau tidak bisa, setidak-tidaknya harus

dibatasi. Kirimkan balatentara ke dusun Girah. Tangkap Calon Arang. Kalau

melawan, bunuh dia bersama murid-muridnya.”

(halaman 31-32).

4.1.3.3 Pertikaian balatentara Sri Baginda Erlangga dalam menangkap Calon Arang. Prajurit Sri Baginda Erlangga menjambak rambut Calon Arang dan dua prajurit lainnya mengacungkan pedang terhunus di atas tubuh Calon Arang.

“Kita tangkap dia sekarang?” tanya kepala pasukan.

“Sebaiknya sekarang saja. Murid-muridnya tidak ada yang mengetahui.

Mereka tidak dapat menolong sedikitpun jua.”

(47)

Apakah yang terjadi kemudian? Tangan ketiga prajurit itu sekaligus menjadi kaku kejang kena teluh Calon Arang.

Tukang sihir itu pun bangunlah dari tidurnya. Melihat ketiga prajurit itu meluaplah amarahnya. Matanya merah. Sebentar kemudian menyemburkan api dari matanya itu. Juga hidung, kuping dan mulutnya merah padam mengeluarkan api yang menjilat-jilat. Terbakarlah ketiga prajurit itu. Terbakar sampai hangus dan mati di situ juga.

(halaman 34).

4.1.3.2.1 Ancaman

KBBI (2007:45) ancaman adalah suatu hal atau tindakan menyatakan maksud dengan tujuan melakukan sesuatu yang merugikan, menyulitkan, menyusahkan, atau mencelakakan pihak lain.

4.1.3.2.1.1 Ancaman Calon Arang terhadap Empu Baradah karena Empu Baradah

tidak mau melenyapkan semua dosa Calon Arang.

“Kerjakan!” perintah Calon Arang. “Jangan sampai terkena teluhku. Engkau

mau tahu siapa Calon Arang yang tidak tertandingi di seluruh alam ini?

Inilah dia orangnya. Kerjakan perintahku, atau kubuat kau jadi barang

tontonan yang paling hina.” (halaman 84).

4.1.3.2.1.2 Ancaman Calon Arang karena Empu Baradah tetap tidak mau menghapuskan dosa Calon Arang.

“Tidak mau? Kalau engkau kena angin tubuhku, hancur luluhlah engkau.

”Calon Arang berteriak-teriak keras. Sambungnya: “Calon Arang belum punya

tandingan di seluruh dunia. Jangankan engkau, hai pendeta kurus. Kalau engkau

kena tiupanku, barulah engkau tahu siapa aku. Pasti engkau terbakar jadi abu. Kalau

engkau mau lihat buktinya, pandanglah pohon beringin itu. Kalau kena tiupanku,

(48)

4.2. Konflik Sosial Tokoh Utama dalam novel Cerita Calon Arang

Konflik sosial adalah suatu proses sosial dimana orang perorangan atau kelompok manusia berusaha untuk memenuhi apa yang menjadi tujuannya dengan jalan menentang pihak lain disertai dengan ancaman dan kekerasan. (Leopod Von Wiese,

.

Setiadi (2011: 364) menjelaskan bahwa pada hakikatnya teori konflik muncul sebagai bentuk reaksi atas tumbuh suburnya teori fungsionalisme struktural yang dianggap kurang memperhatikan fenomena konflik sebagai salah satu gejala di masyarakat yang perlu mendapat perhatian. Teori konflik adalah salah satu perspektif di dalam sosiologi yang memandang masyarakat sebagai satu sistem yang terdiri dari bagian atau komponen yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda dimana komponen yang satu berusaha menaklukkan kepentingan yang lain guna memenuhi kepentingannya atau memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya.

Setiadi (2011: 369) menyatakan bahwa dalam teori konflik sosial terdapat dua bagian besar yang penting, yaitu:

1. Setiap kehidupan sosial selalu berada dalam proses perubahan, sehingga perubahan merupakan gejala yang bersifat permanen yang mengisi setiap perubahan kehidupan sosial. Gejala perubahan kebanyakan sering diikuti oleh konflik baik secara personal maupun secara interpersonal.

2. Setiap kehidupan sosial selalu terdapat konflik didalam dirinya sendiri, oleh sebab itu konflik merupakan gejala yang permanen yang mengisi setiap kehidupan sosial.

Setiadi (2011: 94) menegaskan bahwa Ralf dahrendorf dalam pandangannya, yaitu dalam setiap masyarakat cenderung menyimpan potensi konflik. Beberapa

angapan dasar berkenaan dengan konflik menurut Ralf Dahrendorf yaitu:

(49)

pada persamaan dan perbedaan, sehingga persamaan akan mengantarkan pada akomodasi, sedangkan perbedaan akan mengantarkan pada timbulnya situasi konflik.

2. Setiap kehidupan sosial, masyarakat akan terintegrasi diatas penguasaan atau dominasi sejumlah kekuatan-kekuatan lain. Dominasi kekuatan secara sepihak akan menimbulkan konsiliasi, akan tetapi mengandung benih-benih konflik yang bersifat laten, yang sewaktu-waktu akan meledak menjadi konflik manifes (terbuka).

Setiadi (2011: 385-386) membagi pengaturan konflik berdasarkan pandangan Ralf Dahrendorf dalam dua segi, yaitu:

1. Dari segi identitas

konflik tidak dapat dimusnahkan, tetapi dapat diatur, sehingga setiap konflik tidak berlangsung dalam bentuk kekerasan. Dalam mekanisme ini, Dahrendorf melihat proses konflik dari tingkat intensitas dan sarana yang digunakan dalam konflik itu sendiri. Intensitas diartikan sebagai tingkat keterlibatan kontestan konflik yang didalamnya terdapat waktu, tenaga, dana,

dan pikiran.

2. Dari segi “hukum kekekalan konflik”

Antara kehidupan sosial dan konflik merupakan gejala yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, sehingga dalam setiap kehidupan sosial akan tercipta pola-pola konflik. Artinya “konflik tidak dapat diciptakan dalam kehidupan sosial dan juga tidak dapat dimusnahkan”. Asumsi ini dilandasi oleh kenyataan bahwa konflik merupakan gejala yang serba hadir dan melekat dalam setiap kehidupan sosial, sehingga melenyapkan konflik berarti melenyapkan kehidupan sosial itu sendiri.

(50)

Susan (103-104) menjelaskan bahwa pada dasarnya, analisis konflik terbagi menjadi tiga tradisi, yaitu:

1. Bahwa setiap orang mempunyai angka dasar kepentingan, mereka ingin dan mencoba mendapatkannya, masyarakat selalu terlibat dalam situasi yang diciptakan oleh keinginan-keinginan dari setiap orang dalam meraih kepentingannya.

2. Pusat pada perspektif teori konflik secara keseluruhan, adalah satu pemusatan perhatian pada kekuasaan sebagai inti hubungan sosial. Teori konflik selalu melihat kekuasaan tidak hanya sebagai kelangkaan dan pembagian yang tidak merata, dan oleh sebab itu salah satu sumber konflik juga sebagai paksaan penting.

3. Aspek khusus teori konflik adalah bahwa nilai dan ide-ide dilihat sebagai instrumen yang digunakan oleh kelompok-kelompok sosial dalam mempermudah pencapaian tujuan mereka. Sekaligus merupakan cara-cara pendefinisian satu identitas masyarakat keseluruhan dan tujuannya.

Konflik sosial tokoh utama yaitu ada tiga, pertama dengan masyarakat disekitarnya, kedua dengan Sri Baginda Erlangga dan yang ketiga yang terjadi dengan Empu Baradah.

4.2.1 Konflik sosial tokoh utama

konflik intrapersonal adalah konflik yang terjadi dalam diri individu itu sendiri.

4.2.1.1Konflik intrapersonal yang dialami Calon Arang adalah saat dia tersinggung dengan orang-orang sekitarnya yang mengatakan bahwa putri sematawayangnya tidak juga diperistri orang atau tidak ada yang mau mendekati.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...