LAMPIRAN
1. Draft Wawancara
Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Kuliah di Universitas :
Pekerjaan Orang Tua :
1. Dari mana anda mengenal kegiatan dugem?
2. Dari tahun berapa dan umur berapa anda mengenal kegiatan dugem?
3. Jelaskan alasan pertama kali anda melakukan kegiatan dugem?
4. Bagaimana pengalaman anda saat pertama kali dugem?
5. Berapa kali dalam seminggu anda pergi dugem?
6. Apa yang menjadi motivasi anda untuk sering dugem?
7. Siapa yang anda ajak untuk menemani anda pergi dugem?
8. Apa yang anda rasakan saat anda sering dugem?
9. Berapa biaya yang anda bawa untuk dugem?
10.Usaha apa yang anda lakukan jika anda tidak memiliki uang untuk pergi
dugem?
11.Berapa biaya yang anda habiskan untuk dugem?
12.Apa yang menjadi tujuan anda dugem?
13.Perilaku apa saja yang anda lakukan saat dugem?
14.Apa anda menggunakan obat- obatan seperti narkoba dan minuman
beralkohol saat dugem?
15.Dari mana anda mengenal obat- obatan seperti narkoba dan minuman
16.Bagaimana tanggapan teman anda apabila anda menolak saat teman
menyarankan untuk menggunakan obatan terlarang dan minuman beralkohol?
17.Bagaimana tanggapan teman anda jika anda menolak pergi dugem bersama
mereka?
18.Mengapa anda memilih kelab malam Entrance/ Elegant/ New Zone?
19.Jam berapa anda pergi dan pulang dari aktivitas dugem?
20.Anda pergi kemana selesai dugem?
21.Apa anda merasa puas saat anda dugem?
22.Bagaimana fashion anda saat pergi dugem?
23.Apakah anda melakukan sexafter dugem?
24.Dengan siapa anda melakukan dugem?
25.dugemtidak menganggu aktivitas perkuliahan anda?
26.Apakah dugem mempengaruhi nilai akademik anda diperkuliahan?
27.Apakah keluarga anda mengetahui kegiatan dugem yang anda lakukan?
28.Bagaimana reaksi keluarga anda terhadap aktivitas dugem anda?
29.Perilaku dugem merupakan perilaku yang negatif bagi masyarakat, menurut
anda apakah perilaku dugem yang anda lakukan bersifat negatif atau positif?
30.Menurut Anda dugem itu apa?
2. Profil Informan
1. Nama : Aji (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : PNS
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
3. Nama : Pratam (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : PNS
4. Nama : Luis (Nama Samaran)
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
5. Nama : Dita (Nama Samaran)
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : PNS
6. Nama : Dino (Nama Samaran)
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Negeri
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
8. Nama : Galih (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
9. Nama : Jack (Nama Samaran)
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : Laki- laki
Universitas : Negeri
Pekerjaan Orang Tua : PNS
10.Nama : Dera (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Universitas : Swasta
Pekerjaan Orang Tua : Wiraswasta
11.Nama : Bapak Bagindo Uno Harahap
Jenis Kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : PNS di Disbudpar Medan
12.Nama : Ibu Dewi
Umur : 48 tahun
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
13.Nama : Ibu Santi
Umur : 42 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : PNS
3. Dokumentasi Foto
Gambar 1.1 Lobby Entrance Gambar 1.2 Table di Entrance
Gambar 1.6 Pratama yang lagi dugem di Elegant KTV
Gambar 1.4 Elegant KTV Gambar 1.5 Salah satu room KTV yang terdapat di Elegant
Gambar 1.8 Screen shot dari aplikasi BBM yang dimiliki oleh Dera. Dera di ajak
temannya untuk dugem di Elegant
Gambar 1.9 Screen shot BBM milik Dera yang melakukan negosiasi dengan salah
DAFTAR PUSTAKA
Ali, M, & Asrori, M. 2005. Psikologi Remaja (Perkembangan Peserta Didik).
Jakarta: Bumi Aksara.
Bungin, Burhan. 2007. Penelitian Kualitatif. Jakarta: Kencana Prenada Media
Group.
Dirdjosisworo, Soedjono. 1996. Esensi Moralitas Dalam Sosiologisme: Studi
Tentang Korelasi Sosiologi, Psikologi dan Filsafat Dari Emile Durkheim,
Talcott Parsons, dan Pakar-Pakar Sosiologi Terkemuka Lainnya. Bandung:
Mandar Maju.
Furchan, Arief. 1992. Pengantar Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya: Usaha
Nasional.
Hurlock, E. B. 1994. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang
Rentang Kehidupan (5 th ed). Jakarta: Erlangga.
Moleong, Lexy J. 2006. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosdakarya.
Monk, F. J, dkk. 1996. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai
Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
P. Johnson, Doyle. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Diterjemahkan oleh
Robert M. Z. Lawang. 1994. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Perdana, G. A. Divana. 2004. Ekpresi, Cinta, Sex, dan Jati Diri. Yogyakarta: Divana
Peter Beilharz. 2002. Teori-Teori Sosial Observasi Kritis Terhadap Para Filosof
Terkemuka. Jakarta: Salemba Humanika.
Ritzer, George dan Douglas J. Goodman. 2013. Sosiologi Ilmu Pengetahuan
Berparadigma Ganda. Jakarta: Rajawali Pers.
Sarwono, Sarlito W. 2003. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Press.
Soekanto, Soerjono. 2006. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Press.
Undang-Undang No. 4 Tahun 1979 Mengenai Kesejahteraan Anak.
Veeger, K. J. 1993. Realitas Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Wirawan, I. B. 2012. Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma: Fakta Sosial, Definisi
Sosial, & Perilaku Sosial. Jakarta: Kencana.
Sumber Skripsi
Budi Utami, Mila. 2007. Gaya Hidup Dugem di Kalangan Mahasiswa di
Yogyakarta: Studi Kasus Tentang Ekspresi Gaya Hidup dan Keberagaman
Mahasiswa Pelaku Dugem di Yogyakarta. Yogyakarta: Skripsi Universitas
Islam Negeri Sunan Kalijaga.
Liyansyah, Muhammad. 2009. Dugem Gaya Hidup Para Clubbers: Studi Deskriptif
Tentang Kegiatan Dugem di Retro Spective. Medan: Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara.
Yuliancella, Dessy. 2015. Perilaku Seks Bebas Sebagai Implikasi Dari Gaya Hidup
Dugem (Dunia Gemerlap) Pada Mahasiswa di Semarang. Semarang:
Sumber Internet
Kamus Besar Bahasa Indonesi
Maret 2016, pada pukul 13.08 WIB.
Kamus Besar Bahasa Indonesi
Maret 2016, pada pukul 14.00 WIB.
Kamus Besar Bahasa Indonesia.http://kbbi.we.id/mahasiswa diakses pada tanggal 28
Maret 2016, pada pukul 14.10 WIB.
pada tanggal 01 Februari 2016, pukul 18.23 WIB.
Jumibe. 2012. Dunia Malam Sebagai Gaya Hidup dan Pengaruhnya Terhadap Anak
Muda di Yogyakarta.
Kamus Besar Bahasa Indonesai
April 2016, pada pukul 12.25 WIB.
diakses pada tanggal 19 April 2016, pada pukul 20.50 WIB.
Parahita, Gilang Desti. 2008. 70 Persen Mahasiswa Penikmat Dugem.
pada tanggal 03 Mei 2016, pada pukul 13.00 WIB
pada tanggal 05 Mei 2016, pada pukul 20.00 WIB.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan
melakukan pendekatan deskriptif dan menggunakan paradigma sosiologi yaitu
paradigma definisi sosial. Metode kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan
data, ucapan, tulisan dan tingkah laku yang dapat diamati dari orang-orang (subjek)
itu sendiri (Arief Furchan, 1992). Penelitian deskriptif merupakan metode penelitian
yang berusaha menggambarkan, memahami, dan menafsirkan makna suatu peristiwa
tingkah laku manusia dalam situasi tertentu serta menginterpretasikan objek sesuai
dengan apa adanya (Moleong, 2006: 46).
Menurut Veeger (1993) dalam I. B Wirawan (2012), paradigma definisi sosial
adalah paradigma dimana dalam merancang atau mendefinisikan makna dari
interaksi sosial, individu dilihat sebagai pelaku tindakan yang bebas tetapi
bertanggung jawab. Menurut paradigma ini, hakikat dari realitas sosial lebih bersifat
subjektif dibandingkan objektif yang menyangkut keinginan dan tindakan individual.
Dengan kata lain, realitas sosial itu lebih didasarkan kepada definisi subjektif dari
pelaku-pelaku individual.
Data deskriptif dapat dilihat sebagai indikator bagi norma-norma dan
nilai-nilai kelompok serta kekuatan sosial lainnya yang menyebabkan atau menentukan
perilaku manusia. Dengan demikian peneliti akan memperoleh data atau informasi
lebih mendalam mengenai analisis perilaku dugem mahasiswa/i di Kota Medan
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Kota Medan tepatnya di Kelab Malam Entrance
Music Temple, Elegant KTV, dan New Zone. Alasan peneliti memilih lokasi ini
karena:
1. Entrance Music Temple di Jalan Balai Kota No.1, Grand Aston City Hall
Medan.
Tempat hiburan ini merupakan tempat yang cukup elit dan banyak didatangi
sebagian mahasiswa kalangan ekonomi ke atas dan kelab malam ini sering
mengundang DJ kalangan artis. Untuk harga makanan dan minuman yang
ada di Entrance juga termasuk kategori mahal.
2. Elegant KTV di Jalan Gatot Subroto Medan.
Nama Elegant KTV di Jalan Gatot Subroto Medan tidak asing lagi bagi para
pecinta dunia gemerlap. Elegant KTV adalah kelab malam yang menjadi
favorit bagi sebagian mahasiswa dari kalangan lapisan ekonomi menengah.
Di lokasi ini, pengunjung cukup ramai mulai dari siang hari hingga malam
hari.
3. New Zone di Jalan Wajir Medan.
New Zone di Jalan Mangkubumi atau nama jalan barunya di Jalan Wajir,
Medan Maimun memang termasuk salah satu kelab malam terfavorit yang
banyak dikunjungi oleh mahasiswa/i yang berasal dari kalangan lapisan
3.3 Unit Analisis dan Informan 3.3.1 Unit Analisis
Unit analisis adalah hal-hal yang diperhitungkan menjadi subjek penelitian
atau keseluruhan unsur yang menjadi fokus penelitian (Bungin, 2007). Dalam
penelitian ini yang menjadi unit analisis atau objek kajiannya adalah mahasiswa/i
yang melakukan perilaku dugem di Kota Medan yaitu di Kelab Malam Entrance
Music Temple, Elegant KTV, dan New Zone.
3.3.2 Informan
Peneliti memilih informan dengan teknik purposive sampling. Teknik purposive sampling adalah salah satu teknik menentukan informan yang paling
umum di dalam penelitian kualitatif, yaitu menentukan kelompok peserta yang
menjadi informan sesuai dengan kriteria terpilih yang relevan dengan masalah
penelitian tertentu. Ukuran sampel purposif sering kali ditentukan atas dasar teori
kejenuhan (titik dalam pengumpulan data saat data baru tidak lagi membawa
wawasan tambahan untuk pertanyaan penelitian). Namun informan berikutnya akan
ditentukan bersamaan dengan perkembangan review dan analisis hasil penelitian saat
pengumpulan data berlangsung (Bungin, 2007).
Pemilihan informan tidak selalu wakil dari seluruh objek penelitian, tetapi
yang penting informan memiliki pengetahuan yang cukup serta mampu menjelaskan
masalah penelitian. Informan penelitian diperoleh melalui key person karena peneliti
sudah memahami informasi awal tentang objek penelitian maupun informan
penelitian, sehingga hanya membutuhkan key person untuk melakukan wawancara
Adapun kriteria informan dalam penelitian ini adalah:
1. Pengunjung yang berstatus mahasiswa/i,
2. Pengunjung yang berstatus mahasiswa/i yang berumur 18-24 tahun,
3. Pengunjung yang berstatus mahasiswa/i dengan frekuensi kunjungan ke kelab
malam tersebut minimal satu kali dalam seminggu.
Dalam penelitian ini ditentukan dua jenis informan, yaitu:
1. Informan Kunci
Informan kunci dalam penelitian ini adalah para mahasiswa/i yang melakukan
perilaku dugem yang berumur 20-23 tahun dan melakukan aktivitas dugem minimal
satu kali dalam seminggu. Dalam penelitian ini, mahasiswa/i yang menjadi informan
kunci sebanyak 10 orang yaitu Aji, Andri, Pratama, Luis, Dita, Dino, Andi, Galih,
Jack, Dera.
2. Informan Biasa
Informan biasa dalam penelitian ini bisa siapa saja yang dianggap sesuai dan
bisa dijadikan sebagai informan. Dalam penelitian ini yang menjadi informan biasa
adalah para personil manajemen dari tiga kelab malam yaitu Entrance, Elegant, dan
New Zone sebanyak 3 orang meliputi 1 karyawan kelab malam Entrance, 1 karyawan
Elegant, dan 1 karyawan New Zone, Kasi Hiburan Bidang ODTW Disbudpar Medan
yaitu Bapak Bagindo Uno Harahap, Ibu Dewi, dan Ibu Santi.
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik
peneliti dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh nantinya. Adapun teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer
Teknik pengumpulan data primer adalah peneliti melakukan kegiatan
langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan
dengan masalah yang akan diteliti.
1. Observasi
Observasi merupakan pengamatan yang menyeluruh terhadap gejala-gejala
sosial yang dilihat dilapangan. Metode observasi adalah metode pengumpulan data
yang digunakan untuk menghimpun data peneliti melalui pengamataan dan
penginderaan (Bungin, 2007). Metode observasi yang dilakukan penulis yaitu
semi-partisipasi yaitu penulis terlibat langsung dengan sebagian kegiatan dugem yang
dilakukan oleh mahasiswa/i. Penggunaan metode ini dimaksudkan untuk mengamati
situasi sosial yang berhubungan dengan mahasiswa/i yang melakukan perilaku
dugem, seperti karakteristik fisik dan perilaku-perilaku yang dilakukan mahasiswa/I
saat dugem.
2. Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan
penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap secara langsung antara
pewawancara dengan informan terlibat dalam kehidupan sosial yang relatif lama.
Dengan demikian, kekhasan wawancara mendalam adalah keterlibatannya dalam
kehidupan informan (Bungin, 2007). Para informan yang dijadikan sumber data yaitu
informasi, penulis melakukan wawancara secara mendalam terhadap para informan
dengan menggunakan pedoman wawancara (interview guide). Dari wawancara
secara mendalam tersebut penulis mendapatkan data berupa faktor yang menjadi
motivasi mahasiswa/i melakukan dugem, usaha-usaha yang dilakukan mahasiswa/i
untuk pergi dugem, dan tujuan mahasiswa/i melakukan perilaku dugem.
3.4.2 Teknik Pengumpulan Data Sekunder
Teknik pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data yang dilakukan
melalui penelitian studi kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data yang
diperoleh dari buku-buku ilmiah, jurnal ilmiah, dan situs-situs internet yang dianggap
relevan dengan masalah yang diteliti.
3.5 Interpretasi Data
Interpretasi data merupakan suatu tahap pengolahan data, baik itu data primer
dan data sekunder yang telah didapatkan dari catatan lapangan. Analisa data
merupakan proses menganalisis suatu fenomena sosial dan memperoleh gambaran
yang tuntas terhadap fenomena yang diteliti dan kemudian menganalisis makna yang
ada di balik informasi dan proses suatu fenomena sosial.
Analisis data ditandai dengan pengolahan dan penafsiran data yang diperoleh
dari setiap informasi baik secara pengamatan, wawancara ataupun catatan-catatan
lapangan,dipelajari dan ditelaah kemudian tahap selanjutnya adalah mereduksi data
yaitu melalui pembuatan abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman inti.
Langkah selanjutnya adalah menyusun data-data dalam satuan-satuan. Satuan-satuan
ini diseleksi dan dikategorikan. Berbagai kategori tersebut dikaitkan satu dengan
dimulai dari tahap mengedit data sesuai dengan pokok permasalahan yang diteliti,
kemudian diolah secara deskriptif berdasarkan penelitian yang ada dilapangan.
3.6 Jadwal Kegiatan
No. Kegiatan Bulan Ke -
1 2 3 4 5 6 7 8 9
1 Pra Observasi
2 ACC Judul Penelitian
3 Penyusunan Proposal
4 Seminar Desain Penelitian
5 Revisi Proposal Penelitian
6 Penelitian Ke Lapangan
7 Pengumpulan dan Interpretasi Data
8 Bimbingan Skripsi
9 Penulisan Laporan Akhir
10 Sidang Meja Hijau
3.7 Keterbatasan Penelitian
Keterbatasan dalam penelitian adalah adanya kesulitan untuk mendapatkan
hasil w awancara yang benar-benar jujur dari informan. Mengingat penelitian ini
menyangkut dengan perilaku dugem mahasiswa, ada beberapa keterbatasan yang
ditemukan dalam penelitian ini antara lain:
1. Penelitian tentang perilaku dugem mahasiswa/i khususnya wawancara yang
terkait dengan penggunaan obat-obatan terlarang dan perilaku sex setelah
dugem sangat sulit diperoleh.
2. Pada saat observasi, banyak mahasiswa/i yang dugem di kelab malam
informan dan tidak bersedia untuk memberikan identitas sehingga
menyulitkan penulis untuk menambah jumlah informan yang diperlukan
dalam penelitian.
3. Keterbatasan dalam penelitian ini mencakup kemampuan dan pengalaman
yang dimiliki oleh penulis untuk melakukan penelitian ilmiah. Penulis
menyadari bahwa pengalaman dan pengetahuan penulis terkait kehidupan
dunia malam masih sedikit. Walaupun demikian, penulis berusaha melakukan
semaksimal mungkin agar data tentang perilaku dugem mahasiswa/i di Kota
Medan diperoleh dan dianalisis dengan menggunakan teori tindakan sosial
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Deskripsi Umum Lokasi Penelitian 4.1.1 Kota Medan
Kota Medan merupakan salah satu daerah otonom berstatus kota di Provinsi
Sumatera Utara. Kedudukan, fungsi, dan peranan Kota Medan cukup penting dan
strategis secara regional. Bahkan sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Utara. Kota
Medan digunakan sebagai barometer dalam pembangunan dan penyelenggaraan
pemerintah daerah. Kota Medan merupakan kota yang termasuk dalam kategori kota
metropolitan. Kota Medan terdiri dari Wilayah Kota Medan dibagi menjadi 21
kecamatan dan 151 kelurahan. Kecamatan yang terdapat di Kota Medan yait
4.1.1.1Keadaan Geografis Kota Medan
Kota Medan terletak antara 3º.27’-3º.47’ Lintang Utara dan 98º.35’-98º.44’
Bujur Timur dengan ketinggian 2,5-37,5 meter di atas permukaan laut. Kota Medan
berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang di sebelah, Selatan, Barat dan Timur,
sementara di sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka. Kota Medan merupakan
salah satu dari 33 Daerah Tingkat II di Sumatera Utara dengan luas daerah sekitar
265,10 km². Kota ini merupakan pusat pemerintahan Daerah Tingkat I Sumatera
Utara.Sebagian besar wilayah Kota Medan merupakan dataran rendah yang
merupakan tempat pertemuan dua sungai penting, yaitu Sungai Babura dan Sungai
Deli.
4.1.1.2Keadaan Demografi Kota Medan
Penduduk Kota Medan memiliki ciri penting yaitu yang meliputi unsur
agama, suku etnis, budaya dan keragaman (plural) adat istiadat. Hal ini
memunculkan karakter sebagian besar penduduk Kota Medan bersifat terbuka.
Penduduk Kota Medan terdiri dari berbagai macam suku atau etnis. Sebelum
kedatangan bangsa asing ke wilayah Medan yang merupakan bagian dari wilayah
Sumatera Timur pada saat itu, penduduk Kota Medan masih dihuni oleh suku- suku
asli, seperti Melayu, Simalungun, dan Karo. Namun, seiring dengan hadir dan
berkembangnya perkebunan tembakau di Sumatera Timur maka demografi penduduk
Medan berubah dengan hadirnya suku-suku pendatang seperti Jawa, Batak Toba,
Cina, dan India. Suku-suku pendatang itu tinggal dan menetap dan telah bercampur
baur dengan penduduk asli sehingga Kota Medan saat ini dihuni oleh berbagai
Karo, Tamil, Benggali, Jawa, dan lain sebagainya. Suku-suku yang ada di Kota
Medan ini hidup secara harmonis dan toleran antara satu suku dengan yang lain.
Pembangunan kependudukan dilaksanakan dengan mengindahkan kelestarian
sumber daya alam dan fungsi lingkungan hidup sehingga mobilitas dan persebaran
penduduk tercapai optimal. Mobilitas dan persebaran penduduk yang optimal,
berdasarkan pada adanya keseimbangan antara jumlah penduduk dengan daya
dukung dan daya tampung lingkungan. Persebaran penduduk yang tidak didukung
oleh lingkungan dan pembangunan akan menimbulkan masalah sosial yang
kompleks, dimana penduduk menjadi beban bagi lingkungan maupun sebaliknya.
Adapun Tabel Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk di Kota Medan
Tahun 2009- 2013 dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel 4.1 Jumlah Penduduk dan Kepadatan Penduduk Di Kota Medan Tahun 2009- 2013
Tahun Luas Wilayah (Km2)
Jumlah Penduduk Kepadatan Penduduk
2009 265, 1 2.121.053 8.001,00
2010 265, 1 2.097.610 7.913,00
2011 265, 1 2.117.224 7.987,00
2012 265, 1 2.122.804 8.007,56
2013 265, 1 2.135.516 8.055,51
Sumber data: BPS Kota Medan.
Dari data tabel 4.1 di atas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2010 jumlah
penduduk menurun sebanyak 23.443 jiwa dari tahun 2009. Pada tahun 2011 jumlah
penduduk meningkat sebanyak 19.614 jiwa dari tahun 2010. Pada tahun 2012 jumlah
penduduk meningkat sebanyak 12.712 jiwa. Meski jumlah penduduk mengalami
penurunan dari tahun 2009 sampai 2010, namun dari tahun 2010 sampai tahun 2013,
jumlah penduduk mengalami peningkatan.
4.1.2 Tempat Hiburan Malam Yang Menjadi Lokasi Penelitian
Di Kota Medan, keberadaan hiburan malam berawal dari keinginan warga
kota yang haus akan hiburan akibat aktivitas dan rutinitas kehidupan yang sangat
padat sekaligus simbol pergaulan ala metropolitan. Saat itu beberapa kawasan yang
menjadi simbol hiburan di Kota Medan adalah meliputi Jalan Pemuda, Jalan Padang
Bulan, Jalan Ahmad Yani, Jalan di sekitar Bundaran Majestyk menuju arah Jalan
Nibung Raya yang dikenal dengan daerah ekspresi kebebasan bagi warga Kota
Medan khususnya Jalan Nibung Raya yang berkonotasi sebagai gambaran kehidupan
malam dengan berbagai hiburan didalamnya. Hal ini ditandai dengan berdirinya
Diskotik Super pada tahun 1980. Kawasan ini berada di tengah Kota Medan,
persisnya di Kecamatan Medan Petisah. Selain itu, sekitar tahun 1980-an sampai
1990-an tempat hiburan malam di Kota Medan di kenal sebagai tempat yang sarat
akan kejahatan, perempuan binal, mafia-mafia dan bos-bos besar yang ingin mencari
kesenangan
Lokasi tempat hiburan malam yang telah penulis teliti sebagai fokus
penelitian ini, mengambil tiga lokasi tempat yaitu Entrance yang beralamat di Jalan
Balai Kota No.1, Grand Aston City Hall Medan, Elegant KTV yang beralamat di
Jalan Gatot Subroto Medan, dan New Zone di Jalan Wajir Medan. Berdasarkan hasil
observasi ketiga tempat ini merupakan tempat dimana memiliki pengunjung yang
pengunjung atau dugemers lebih didominasi oleh pengunjung yang berumur 20 tahun
ke atas baik yang berstatus sebagi mahasiswa maupun orang-orang yang sudah
bekerja. Sedangkan di New Zone didominasi dari kalangan ABG (Anak Baru Gede)
sampai mahasiswa S1 tingkat semester pertengahan.
4.1.2.1Kelab Malam Entrance
Entrance Music Temple merupakan salah satu kelab malam yang berada di
Kota Medan tepatnya di dalam bagian Hotel Grand Aston City Hall Medan di Jalan
Balai Kota No. 1, Medan. Entrance sebagai usaha pariwisata memiliki
Nomor/Tanggal Izin Usaha Pariwisata 503/873/SK/LUP.DU/BIS/MBRT/2013/14
Nov 2013. Pada tahun 2010 Kelab Malam Entrance Kota Medan mendapat
penghargaan yaituThe Sumatera Best Club of The Year Redma 2010dan #3 Best Club
of The Year Redma 2011. Kelab malam Entrance Medan yang sudah menjadi The
Sumatera Best Club of The Year Redma 2010 ini merupakan salah satu kelab malam
elite di Kota Medan. Kelab malam ini menjadi pintu masuk yang paling eksklusif
bagi penikmat hiburan dunia malam. Entrance memiliki karyawan sebanyak 50 orang
yang terdiri dari bartender, juru masak, cleaning service, DJ, resepsionis, dancer,
satpam, karyawan yang bekerja di bagian manajemen Entrance.
Entrance buka setiap hari Senin sampai hari Minggu mulai pukul 22.00 WIB
sampai dengan pukul 03.00 WIB. Namun untuk hari libur atau akhir pekan, kelab
malam Entrance dapat tutup sampai pukul empat pagi atau bahkan melebihi jam
tersebut. Harga tiket untuk masuk ke dalam kelab malam Entrance pada hari weekend
yaitu hari Jumat sampai Minggu dikenakan biaya sebesar Rp. 150.000 sampai
dengan Rp. 200.000 per orang, sedangkan untuk hari biasa yaitu hari Senin sampai
termasuk dengan biaya sewa meja (table) dan sofa VIP. Harga tiket dapat berubah
sesuai dengan event-event yang disediakan oleh Entrance di hari-hari tertentu. Syarat
untuk masuk kelab malam Entrance yaitu pengunjung yang berumur 18+, tidak boleh
memakai sandal, tidak boleh memakai celana pendek, tidak boleh membawa senjata
tajam, dan tidak boleh menggunakan obat terlarang.
Entrance juga menyediakan ruangan KTV bagi para penikmat dunia malam
yang ingin melakukan party atau acara lainnya. Adapaun jenis KTV dan harga biaya
yang dikenakan untuk setiap room di KTV Entrance yaitu:
1. Small room untuk kapasitas 6 orang dikenakan dengan biaya Rp. 1.500.000,
2. Medium room untuk kapasitas 8 orang dikenakan dengan biaya Rp.
2.000.000,
3. VIP room untuk kapasitas 15 orang dikenakan biaya sebesar Rp. 3.500.000,
4. President room untuk kapasitas 20 orang dikenakan biaya sebesar Rp.
4.000.000 (Hasil wawancara dengan seorang karyawan Kelab Malam
Entrance pada Mei 2016).
Kelab malam Entrance juga menampilkan aksi-aksi sensual dari para penari
perempuan. Para penikmat hiburan dunia malam biasanya mengenal penari-penari
tersebut dengan sebutan sexy dancer yaitu penari perempuan yang mengenakan
pakaian ketat dan seksi yang meliuk-liukkan badannya di depan para penikmat
hiburan dunia malam. Selain itu Entrance juga mengadakan event-event tertentu
yang sering mendatangkan artis dan DJ baik dari lokal maupun nasional, bahkan
internasional. Live DJ yang memiliki keahlian dalam memainkan musik membuat
para dugemers menari mengikuti musik yang dimainkan. Penampilan bartender yang
Entrance. Minuman yang diracik oleh bartender memiliki citra rasa tersendiri bagi
para dugemers. Banyak minuman beralkohol yang diimpor dengan merk-merk
ternama di dunia, seperti Red Wine, Jack Daniel Double Black Label, Chivas, dan
lain sebagainya yang disediakan di Entrance. Hal tersebut membuat harga makanan
dan minuman di Entrance menjadi mahal.
Kelab malam Entrance juga memiliki hari khusus yang dinamakan Ladies
Night. Namun hari khusus untuk event ladies night tidak menetap ditentukan. Ladies
Night merupakan suatu strategi yang dilakukan pengelola kelab malam Entrance
untuk menarik pengunjung agar banyak datang ke Entrance. Ladies Night adalah hari
khusus dimana setiap wanita yang mengunjungi Entrance tidak dikenakan biaya
masuk dan wanita tersebut diberikan segelas minuman beralkohol secara gratis.
Kehadiran wanita di kelab malam dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para
pengunjung pria. Semakin banyak pengunjung wanita maka semakin banyak
pengunjung pria. Volume musik yang kuat dan lampu yang berkelap-kelip membuat
suasana di dalam Entrance begitu meriah sehingga membuat para dugemers berteriak
dan berjoget secara bebas.
4.1.2.2Elegant KTV
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Medan pada tahun 2014, Elegant KTV merupakan salah satu jenis usaha yang berupa
kelab malam dengan Nomor/Tanggal Izin Usaha Pariwisata
503/399/SK/LUP.DU/KLN/MPT/2012/31 Mei 2013. Selain menyediakan KTV,
Elegant juga menyediakan hotel dan spa. Hotel yang berlokasi di bundaran Majestyk
di Jalan Gatot Subroto Medan ini dikenal sebagai salah satu tempat hiburan malam di
karyawan yang bekerja di hotel, spa, lounge, dan KTV. Karyawan yang bekerja di
KTV sebanyak 50 orang yang terdiri dari dua pembagian waktu yaitu 25 orang pada
shift pagi dan 25 orang pada shift malam. Karyawan yang bekerja di Elegant KTV
terdiri dari karyawan yang bekerja sebagai waitress, DJ, cleaning service, dan lain
sebagainya.
Kelab malam ini berupa sebuah karaoke, namun juga menyediakan
musik-musik disko sehingga dugemers tidak hanya untuk berkaraoke saja, tetapi juga bisa
joget dengan memutar musik disko. Bagi para penikmat hiburan malam di Kota
Medan, tentu tidak asing lagi dengan lokasi hiburan malam Elegant di Jalan
Waringin No. 2/16 D-H (Jalan Gatot Subroto Medan). Di lokasi ini, pengunjung
cukup ramai, mulai dari siang hingga malam hari. Dulunya sebelum berganti nama
Elegant, lokasi ini menggunakan nama Majestyk Entertainment atau M City. Namun
kebakaran hebat menghanguskan M City pada 4 Desember 2009 silam. Meski kini M
City sudah berganti nama menjadi Elegant, namun fungsinya tetap sama yaitu
karaoke, spa, dan hotel.
Elegant buka setiap hari yaitu mulai pukul 13.00 WIB sampai pukul
20.00WIB dan pukul 20.00 WIB sampai pukul 04.00 WIB. Syarat masuk Elegant
yaitu pengunjung umur 18+, tidak boleh membawa senjata tajam, dan tidak
menggunakan obat terlarang. Adapun tipe-tipe room yang terdapat di Elegant KTV,
yaitu:
1. Standart room dengan kapasitas 10 orang dengan tarif Rp. 1.000.000,
2. Medium room dengan kapasitas 15 orang dengan tarif Rp. 1.500.000,
3. Recident room dengan kapasitas 40 orang dengan tarif RP. 6.000.000,
5. VVIP room dengan kapasitas 30 orang dengan tarif Rp. 3.500.000.
Dari kelima tipe room di atas, room yang paling diminati oleh pengunjung
yaitu medium room. Yang menjadi pembeda dari setiap room yaitu pengaturan suhu
pendingin ruangan (Air Conditioner/ AC) dan perangkat sound system-nya. Semakin
mahal harga room, maka suhu pendingin ruangan akan semakin dingin. Begitu juga
dengan perangkat sound system, semakin mahal harga room, maka perangkat sound
system yang disediakan semakin bagus (Hasil wawancara dengan seorang karyawan
Kelab Malam Elegant pada 03 Juni 2016). Suara dentuman musik dari luar pintu
KTV di lantai dua itu terdengar cukup keras hingga terdengar di luar ruangan,
tepatnya di lorong jalan itu. Elegant memang tempat favorit buat para pecinta dugem,
khususnya para mahasiswa yang berasal dari kalangan lapisan ekonomi menengah.
4.1.2.3Kelab Malam New Zone
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota
Medan, New Zone merupakan salah satu jenis usaha hiburan malam yang masuk
dalam kategori kelab malam.New Zone sebagai usaha pariwisata dengan
Nomor/Tanggal Izin Usaha Pariwisata 503/398/SK/LUP.DU/KR/MM/2013/31 Mei
2013. Kelab malam New Zone terletak di Jalan Mangkubumi atau nama jalan
barunya di Jalan Wajir (Jalan Kolonel Sugiono No.16 CDEF), Medan Maimun.
Karyawan yang bekerja di New Zone yaitu sebanyak 60 orang. New Zone termasuk
salah satu kelab malam terfavorit di Kota Medan. New Zone menyediakan fasilitas
berupa hotel, KTV, dan bar.New Zone di isi oleh DJ senior di Kota Medan.
Lokasinya berada di antara Jalan Pemuda dan Jalan Jendral Suprapto. Orang-orang
New Zone buka setiap hari yaitu dari hari Senin sampai dengan hari Minggu.
New Zone buka pada pukul 13.00 WIB sampai 04.00 WIB. Harga tiket hari biasa
untuk masuk ke kelab malam New Zone yaitu dikenakan sebesar Rp. 30.000 per
orang. Untuk akhir pekan harga tiket New Zone yaitu Rp.50.000 per orang. Harga
tiket masuk tersebut belum termasuk dengan biaya sewa table dan minuman
beralkohol. Untuk biaya sewa table dikenakan sekitar Rp. 150.000 (Hasil
wawancara terhadap karyawan New Zone). Harga KTV yang ada di New Zone
bervariasi.Untuk siang hari pukul 13.00 WIB sampai 20.00 WIB biasanya harga
KTV sekitar Rp. 750.000-Rp 1.000.000. Sementara untuk malam hari pukul 20.00
WIB sampai pukul 04.00 WIB biasanya harga KTV mulai dari Rp. 850.000-Rp.
1.300.000.
New Zone banyak dikunjungi oleh remaja-remaja yang duduk di bangku
sekolah atau biasa disebut dengan ABG (Anak Baru Gede). New Zone termasuk
kelab malam yang banyak diminati oleh ABG dan mahasiswa/i yang berasal dari
kalangan lapisan ekonomi bawah. Hal ini karena harga tiket masuk sangat murah dan
mudah dijangkau oleh ABG maupun mahasiswa.
4.2 Karakteristik Informan
Informan merupakan sesuatu yang sangat penting dalam penelitian ini, yang
merupakan salah satu kunci bagi peneliti untuk memperoleh informasi yang
diperlukan dalam penelitian. Untuk lebih jelasnya, maka peneliti akan
4.2.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur
Tabel 4.2
Karakteristik Informan Berdasarkan Umur
No. Kategori Umur Jumlah (n) Persentase (%)
1. 20-21 tahun 6 60.0
2. 22-23 tahun 4 40.0
Total 10 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2016 (data diolah)
Berdasarkan Tabel 4.2 memperlihatkan bahwa dari 10 informan penelitian, 6
orang (60.0%) berumur antara 20-21 tahun dan 4 orang (40.0%) berumur 22-23
tahun, sehingga mayoritas informan berumur antara 20-21 tahun.
4.2.2 Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 4.3
Karakteristik Informan Berdasarkan Jenis Kelamin
No. Kategori Jenis Kelamin Jumlah (n) Persentase (%)
1. Laki-laki 8 80.0
2. Perempuan 2 20.0
Total 10 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2016 (data diolah)
Tabel 4.3 memperlihatkan bahwa dari 10 informan penelitian, 8 orang
(80.0%) berjenis kelamin laki-laki dan 2 orang (20.0%) berjenis kelamin perempuan,
4.2.3 Karakteristik Informan Berdasarkan Universitas
Tabel 4. 4
Karakteristik Informan Berdasarkan Universitas
No. Kategori Universitas Jumlah (n) Persentase (%)
1. Negeri 2 20.0
2. Swasta 8 80.0
Total 10 100.0
Sumber: Hasil Penelitian 2016 (data diolah)
Tabel 4.4 memperlihatkan bahwa dari 10 informan penelitian, 2 orang
(20.0%) yang berkuliah di universitas negeri dan 8 orang (80.0%) yang berkuliah di
universitas swasta, sehingga mayoritas informan adalah yang berkuliah di universitas
swasta.
4.2.4 Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua
Tabel 4.5
Karakteristik Informan Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua
No. Kategori pekerjaan Orang Tua Jumlah (n) Persentase (%)
1 PNS 4 40.0
2 Wiraswasta 6 60.0
Total 10 100.0
Sumber: Hasil Penenlitian 2016 (data diolah)
Dari Tabel 4.5 memperlihatkan bahwa dari 10 informan, 4 orang (40.0%)
memiliki orang tua yang bekerja sebagai PNS dan 6 orang (60.0%) memiliki orang
tua yang bekerja sebagai wiraswasta. Dengan demikian mayoritas informan memiliki
4.3 Profil Informan
• Informan Kunci
1. Nama : Aji (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Universitas : swasta
Aji adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas
swasta di Kota Medan dan mengambil jurusan Akuntansi. Aji tinggal bersama kedua
orang tuanya.Orang tua Aji bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Aji adalah
anak bungsu dari dua bersaudara. Aji memiliki seorang kakak yang sudah bekerja
dan Aji merupakan tanggungan orang tuanya.
“…aku kenal dugem itu dari teman, waktu itu aku masih SMA. Teman-teman
yang dekat rumah mengajakku untuk dugem. Mereka memaksaku untuk dugem.
Kalo aku gak ikut mereka gak mau berteman denganku. Ya udah akhirnya aku ikut
aja daripada gak punya teman dan lagian aku juga penasaran dengan dugem. Awal
aku dugem rasanya malu. Kalo dugem biasanya aku joget, ngobrol, minum alkohol.
Aku juga pake obat (inex). Aku kenal obat ya dari mereka juga. Mereka paksa dan
cekokin aku untuk pake obat. Awalnya aku takut tapi setelah obat bereaksi rasanya
enak aja gitu. Sebenarnya aku mau nolak, tapi kan gak mungkin. Jadi aku make
karna aku menghargai mereka. Aku juga pernah berhubungan intim dengan pacarku
selesai dugem. Ya tau lah waktu SMA itu jaman-jaman anak muda lagi bandal-
bandalnya. Aku kan udah pake obat jadi rasanya cepat on. Dan waktu aku on aku
ajak pacarku untuk check-in hotel. Pacarku awalnya gak mau, tapi aku paksa
akhirnya dia mau…” (Hasil wawancara pada 16 Mei 2016)
Aji mulai mengenal dugem sejak berumur 18 tahun pada saat kelas 3 SMA.
Alasan pertama kali (motivasi) dia melakukan aktivitas dugem yaitu karena adanya
kegiatan dugem. Teman-temannya memaksa Aji untuk dugem. Jika Aji tidak mau
pergi, maka teman-temannya akan men-cap dia sebagai teman yang tidak setia dan
bukan anak gaul. Namun karena teman-temannya sering mengajak dia untuk dugem,
maka lama-kelamaan Aji mulai sering melakukan aktivitas dugem.
Saat pertama kali melakukan aktivitas dugem, Aji merasa malu-malu dan
tidak percaya diri (PD). Namun setelah beberapa kali pergi dugem, Aji semakin
terbiasa untuk pergi dugem. Alasan Aji sering pergi dugem yaitu karena
perempuan-perempuanyang ada di kelab malam menggunakan pakaian minim, sehingga
kelihatan sexy. Setiap dua minggu sekali yaitu weekend dan hari biasa Aji selalu
pergi dugem bersama teman-temannya. Aji merasakan kepuasan dan kesenangan
pada saat dia melakukan aktivitas dugem bersama teman-temannya.
Aji selalu membawa uang cash sebesar lima ratus ribu rupiah untuk pergi
dugem dan membawa credit card .Uang yang diperoleh untuk dugem yaitu berasal
dari penyisihan uang saku. Dia diberi uang saku oleh orang tuanya sebesar Rp.
700.000 per minggu. Uang tersebut digunakan untuk biaya masuk ke kelab malam,
beli minuman, dan buka table. Uang cash yang dibawa oleh Aji selalu habis
digunakan untuk dugem. Kendaraan yang digunakan Aji saat pergi dugem yaitu
sepeda motor. Pakaian yang digunakan Aji saat pergi dugem yaitu kemeja, celana
jeans, dan sepatu. Bagi Aji jika memakai kemeja kelihatan lebih elegant. Aji pergi
dugem pada pukul 22.00 WIB dan biasanya pulang ke rumah pukul 04.00 WIB. Aji
mengakui bahwa selesai dugem, terkadang dia tidak langsung pulang ke rumah tetapi
nongkrong bersama teman-temannya untuk cari makan.
Aji mengakui bahwa dia suka dugem di Entrance karena Entrance merupakan
Entrance tidak membuat telinga sakit. Di dalam kelab malam tersebut, perilaku yang
sering Aji lakukan yaitu joget, mengobrol, minum-minuman beralkohol, dan
terkadang memakai obat/ vitamin (dalam hal ini obat-obatan terlarang yang berupa
inex). Aji mengakui bahwa dia memakai obat-obatan terlarang karena ajakan
teman-temannya dan mengkonsumsi obat-obatan tersebut hanya terkadang saja. Aji
mengakui bahwa jika tidak minum-minuman beralkohol maka rasanya tidak enak
untuk joget. Obat-obatan dikonsumsi jika ingin cepat on atau tinggi sehingga bisa
menari dengan bebas tanpa ada rasa malu. Aji juga mengakui bahwa dia pernah
melakukan hubungan intim (perilaku sex) bersama pacarnya selesai dugem sebanyak
dua kali. Dia mengakui bahwa dia check-in di salah satu hotel di Kota Medan.
Orang tua Aji tidak mengetahui kalau Aji melakukan aktivitas dugem setiap
minggu. Aji tidak memberi tahu kepada orang tuanya karena dia takut dimarahi oleh
orang tuanya. Untuk pembagian waktu antara kuliah dan aktivitas dugem tidak
pernah bermasalah. Dia masuk kuliah sore pada pukul 16.00 WIB dan pulang sekitar
pukul 19.00 WIB. Jadi kegiatan perkuliahan tidak terganggu. Indeks Prestasi (IP)
yang dia peroleh yaitu rata-rata 2,5 dan orang tua tidak pernah menanyakan hal
tersebut. Dia mengakui bahwa dampak dia melakukan dugem yaitu membuat jam
tidur jadi tidak menentu sehingga membuat badan lelah. Menurutnya dugem adalah
suatu yang positif karena dengan dugem bisa memberikan kesenangan bagi dirinya.
2. Nama : Andri (Nama Samaran)
Umur : 20 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Andri merupakan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu
universitas swasta di Medan. Orang tua Andri bekerja sebagai wiraswasta. Andri
merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Andri tinggal bersama kedua orang
tuanya. Andri memiliki pekerjaan sampingan yaitu menjual aksesoris handphone di
salah satu aplikasi penjualan barang secara online. Pendapatan yang Andi tidak
menentu karena berdasarkan dari hasil jual aksesoris, namun pendapatan yang
diperoleh dapat member tambahan untuk biaya dugem.
Andri mengenal aktivitas dugem sejak dia memasuki bangku perkuliahan
yaitu pada umur 19 tahun. Dia mengakui bahwa dia diajak oleh teman-temannya.
Yang memotivasi Andri untuk pergi dugem yaitu karena dia merasa ingin tahu
bagaimana kegiatan dugem. Keingintahuan akan dugem juga disebabkan karena dia
melihat ada acara di televisi yang menayangkan pergaulan remaja masa kini yang
kelihatan lebih modern. Dia mengakui bahwa awalnya dia hanya coba-coba atau
minimal pernah coba agar terlihat lebih keren. Dia mengakui bahwa dugem adalah
suatu perilaku yang wajar dilakukan oleh anak muda. Namun karena dia sudah
memasuki kelab malam, maka dia semakin sering pergi dugem bersama
teman-temannya. Dia mengakui bahwa dia sangat tertarik untuk dugem karena melihat
perempuan-perempuan yang sexy. Dia mengakui bahwa pengalaman pertama kali
dugem yaitu heran melihat orang-orang yang ada di kelab malam yang lebih bebas
dalam berekspresi dan dia merasa malu untuk joget. Namun hal tersebut tidak
membuat dia jera untuk dugem.
Andri mengakui bahwa setiap pergi dugem dia selalu membawa uang sekitar
tiga ratus ribu rupiah. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan
uang saku yang diberikan orang tua dan dari pendapatan yang diperoleh dari menjual
sebesar Rp. 350.000. Dia sering dugem di kelab malam New Zone karena biaya
masuk New Zone murah jadi tidak terlalu menguras isi dompet. Uang yang dibawa
untuk dugem juga digunakan untuk membeli minuman beralkohol. Dia mengakui
bahwa terkadang uang yang dibawa untuk dugem bersisa lima puluh ribu rupiah. Dia
mengakui bahwa dia pergi dugem minimal dua kali seminggu.
Dia pergi dugem biasanya pukul 23.00 WIB dan pulangnya pukul 03.00 WIB.
Selesai dugem biasanya dia menginap di kost temannya. Andri selalu pergi dugem
bersama temannya dan perilaku yang dia lakukan saat dugem yaitu joget dan
minum-minuman beralkohol. Pakaian yang dia gunakan saat dugem yaitu kaos, celana jeans,
dan sepatu kets. Dia mengakui bahwa dugem itu sangat mengasyikkan dan ada
kesenangan tersendiri jika dia dugem.
Andri mengakui bahwa orang tuanya tidak mengetahui kalau dia melakukan
aktivitas dugem. Dia mengakui bahwa dia hanya minta ijin untuk berkumpul bersama
teman-temannya di warnet. Dia juga mengakui bahwa saat ini dia tidak terlalu fokus
dengan kuliah karena dia sering begadang bersama temannya dan akibatnya dia
sering terlambat bangun dan terkadang bolos kuliah. Dia mengakui dia sering bolos
kuliah dan orang tua tidak mengetahui. Dia juga mengakui bahwa tidak ada masalah
jika dia mendapatkan IP rendah karena dia menyadari bahwa dia kurang fokus
kuliah. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena bisa
menambah teman.
3. Nama : Pratama (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Universitas : swasta
Pratama merupakan seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu
universitas swasta di Kota Medan. Dia anak pertama dari tiga bersaudara. Orang tua
Pratama bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dia tinggal bersama ibunya,
meski begitu ayahnya tetap memberi uang saku setiap minggu kepadanya.
Pratama mengenal aktivitas dugem sejak dia duduk di bangku SMA pada
umur delapan belas tahun. Dia mengatakan bahwa pada saat itu ada masalah keluarga
dan dia diajak teman-temannya untuk pergi dugem. Awalnya dia hanya coba-coba,
tapi karena di rumah sering terjadi pertengkaran antara kedua orang tuanya maka dia
semakin sering dugem. Dari sejak itu setiap dia sedang ada masalah atau dia sedang
jenuh, dia semakin sering pergi dugem bersama temannya. Dia mengakui bahwa
dengan pergi dugem, semua masalah hilang.
Dia selalu diberi uang saku selama seminggu oleh orang tuanya sebanyak
delapan ratus ribu rupiah. Setiap dugem dia selalu membawa uang sebanyak tiga
ratus ribu rupiah. Dan uang itu digunakan untuk menyewa room dengan sistem
patungan bersama teman-temannya. Uang yang dia bawa untuk dugem selalu habis
terpakai. Dia dan teman-temannya memilih mem-booking room agar lebih leluasa
untuk joget. Dia pergi dugem bersama teman-temannya menggunakan mobil milik
temannya. Dia pergi pukul 22.00WIB dan pulang sekitar pukul 05.00 WIB. Dia pergi
dugem setiap dua minggu sekali. Dia memakai kemeja, topi, aksesoris gelang, dan
celana jeans. Dia dan teman-temannya pergi ke minimarket untuk pergi membeli
rokok, minuman kaleng yaitu susu beruang, dan pergi cari makan, terus langsung ke
Pratama sangat suka dugem di Elegant. Hal ini disebabkan karena tempatnya
cukup elite, bersih dan volume musiknya cukup keras sehingga membuat kepala dan
tubuh bergoyang mengikuti irama musik. Perilaku yang dilakukan Pratama saat
dugem yaitu minum-minuman beralkohol, merokok, joget, dan mengkonsumsi inex.
Dia mengenal minum-minuman beralkohol dan inex sejak kelas tiga SMP. Dia
mengakui bahwa dugem tanpa minuman beralkohol dan inex rasanya hambar bagai
sayur tanpa garam. Dia mengakui kalau tanpa inex dia tidak bisa enjoy untuk joget.
Orang tuanya mengetahui bahwa dia suka dugem, namun orang tuanya hanya
memberi nasehat. Dia mengakui bahwa dia sering begadang bersama temannya
sehingga menyebabkan kurang tidur. Dia mengakui bahwa aktivitas perkuliahan
tidak terganggu dan dia mengakui bahwa meski dia sering dugem, tapi nilai-nilai
akademiknya selalu bagus. Dia mengakui bahwa dugem itu adalah hidupnya. Dia
mengakui bahwa dugem adalah suatu kebutuhan yang dapat membuatnya merasakan
arti hidup yang sesungguhnya. Menurutnya perliaku dugem adalah perilaku yang
positif karena dengan dugem semua beban pikiran hilang.
4. Nama : Luis (Nama Samaran)
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Universitas : swasta
Luis adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas
swasta di Kota Medan. Luis berumur dua puluh tiga tahun. Dia merupakan anak
pertama dari dua bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta. Luis tinggal
Luis mengenal dugem saat memasuki bangku perkuliahan pada umur dua
puluh tahun. Luis mengenal dugem karena ajakan teman-temannya dan dari media
eletronik berupa televisi dan internet. Awalnya Luis merasa kurang percaya diri
untuk dugem. Namun karena musik yang membuat anggota tubuh ikut joget dan
karena ajakan temannya, maka Luis sering pergi dugem.
Luis pergi dugem ke Elegant pada pukul 22.00 WIB dan pulang pukul 03.00
WIB. Luis memilih Elegant termasuk kelab malam bagi kelas menengah. Pada awal
memasuki bangku perkuliahan Luis sering dugem dengan frekuensi kunjungan
sebanyak empat kali seminggu. Namun saat ini dia sudah semester akhir dan lagi
menyusun skripsi, maka intensitas pergi ke Elegant hanya seminggu sekali. Luis
pergi bersama teman-temannya. Uang yang dibawa saat dugem yaitu sekitar tiga
ratus ribu rupiah. Uang tersebut diperoleh dari uang saku yang diberikan oleh orang
tuanya sebesar Rp. 500.000 per minggu. Pakaian yang digunakan saat dugem yaitu
kaos dan celana jeans. Selesai pulang dugem biasanya Luis menginap di kost
temannya. Perilaku yang dilakukan Luis saat dugem yaitu merokok, minum alkohol,
menggunakan obor, dan sex after dugem. Orang tuanya tidak mengetahui bahwa dia
pergi dugem bersama teman-temannya. Dia mengakui bahwa nilai akademik yang
dia peroleh hasilnya selalu rendah bahkan sering mengulang mata kuliah. Dia juga
mengakui bahwa dia sering terlambat bangun karena pulang dugem selalu pagi hari.
Menurutnya dugem adalah suatu aktivitas yang positif sebagai hiburan.
5. Nama : Dita (Nama Samaran)
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Status : mahasiswi
Dita adalah seorang mahasiswi yang sedang kuliah di salah satu universitas
swasta di Medan. Dita berumur dua puluh dua tahun. Dita anak kedua dari dua
bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai PNS. Dita tinggal bersama kedua orang
tuanya.
Dita mengenal dugem sejak dia berumur tujuh belas tahun saat kelas dua
SMA. Saat itu dia diajak oleh seorang laki-laki yang merupakan teman dekatnya.
Awalnya dia tidak mau, tapi karena dipaksa akhirnya dia ikut dugem. Dita juga ingin
tahu dan ingin merasakan dugem secara langsung. Pengalaman pertama kali dugem,
dia merasa gugup. Namun karena dia bersama temannya yang laki-laki jadi dia tidak
gugup dan takut. Dita mulai terbiasa dugem karena teman laki-lakinya selalu
mengajak dia weekend ke New Zone.
Dita pergi ke New Zone seminggu sekali pada pukul 22.00 WIB dan pulang
sekitar pukul 14.00WIB. Dana yang dibawa oleh Dita hanya dua ratus ribu. Dana
tersebut berasal dari uang saku yang diberikan oleh orang tuanya yaitu sebesar Rp.
300.000 per minggu. Hal ini karena dia masuk secara free yaitu karena dibayarin
sama temannya yang cowok. Perilaku yang dilakukan Dita saat dugem yaitu minum,
juice, mendengarkan musik, dan joget. Dita mengatakan bahwa dugem tidak harus
selalu identik dengan minum-minuman beralkohol dan penggunaan obat-obatan
terlarang. Dita menggunakan pakaian mini dress dan sepatu high-hills yang nyaman
dipakai. Selesai dugem biasanya Dita menginap di kost temannya yang perempuan.
Orang tua Dita tidak mengetahui Dita pergi dugem karena Dita meminta ijin
bahwa dia ingin kumpul bersama teman-temannya setiap weekend. Dita mengatakan
bahwa kegiatan dugem yang dia lakukan tidak mengganggu aktivitas perkuliahannya.
dai mengakui mudah ngantuk karena kurang tidur dan kepala pusing saat dia kurang
istirahat. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang positif karena
menghilangkan kejenuhan dari aktivitas perkuliahan.
6. Nama : Dino (Nama Samaran)
Umur : 22 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Universitas : negeri
Dino adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu Akademi
Pariwisata Negeri Medan dan mengambil jurusan di bagian makanan. Dino berumur
dua puluh dua tahun. Dino anak pertama dari dua bersaudara. Orang tua Dino bekerja
sebagai wiraswasta yaitu pengusaha eletronik dan peralatan rumah tangga. Dino
memiliki suatu pekerjaan sampingan yaitu sebagai bartender di salah satu tempat
hiburan malam di Kota Medan. Penghasilan yang dia peroleh sebagai bartender yaitu
sekitar dua juta rupiah beda dengan uang tip. Dan dia juga membantu biaya sekolah
adiknya.
Dino mengenal dugem sejak kelas tiga SMA pada umur delapan belas tahun.
Dia mengenal dugem karena ajakan oleh temannya, rasa ingin tahu, dan oleh media
elektronik yaitu televisi. Yang Dino rasakan saat pertama kali dugem yaitu dia
merasa malu, merasa belum dewasa karena pengunjung kelab malam terdiri dari
orang-orang yang sudah dewasa. Kedua kali dia pergi dugem juga masih merasa
malu dan kurang percaya diri. Mau joget juga masih malu-malu. Namun yang
membuat dia tertarik untuk sering dugem yaitu karena dia sangat menikmati musik di
Dino pergi dugem di Entrance pukul 22.00WIB dan pulang dugem pukul
03.00WIB. Alasan Dino suka dugem di Entrance karena kelab malam Entrance
sangat berkelas, pelayanannya bagus, dan musiknya juga bagus. Frekuensi pergi ke
kelab malam untuk dugem yaitu enam kali seminggu, dan setiap hari Rabu dia libur
dari pekerjaannya sebagai bartender. Dino pergi ke kelab malam Entrance seminggu
sekali yaitu setiap hari Rabu bersama teman-temannya. Uang yang dibawa Dino saat
pergi dugem yaitu sebesar delapan ratus ribu rupiah. Uang tersebut digunakan untuk
membeli minuman beralkohol yaitu long island dan dia tidak membayar uang masuk
ke Entrance atau ke tempat hiburan malam lainnya karena dia memiliki sebuah kartu
anggota bartender.
Dino pergi dugem dengan menggunakan kemeja, celana jeans, dan sepatu
sehingga kelihatan lebih elegan. Dino biasanya sudah membuat janji dengan
temannya untuk berjumpa di Entrance dan dia dugem bersama teman-temannya.
Perilaku yang dilakukan saat dugem yaitu minum-minuman beralkohol, menikmati
musik, dan joget. Selesai pulang dugem biasanya Dino pergi bersama
teman-temannya untuk mencari makanan dan setelah itu mereka pulang ke rumahnya
masing-masing.
Orang tua Dino mengetahui bahwa Dino memiliki pekerjaan sebagai
bartender dan mendukung Dino untuk lebih semangat dalam pekerjaannya. Dino
meyakinkan kepada orang tuanya bahwa dunia malam itu tidak selalu identik dengan
perilaku yang negatif. Dino selalu bisa membagi waktu antara kuliah dan pergi
dugem. Dia mengatakan bahwa pekerjaannya sebagai bartender membuatnya merasa
lelah, namun dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Dia mengatakan bahwa
pekerjaannya sebagai bartender memberi hal yang positif terhadap perkuliahannya.
7. Nama : Andi (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Universitas : swasta
Andi adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu perguruan
swasta di Kota Medan. Andi berumur dua puluh satu tahun. Andi anak pertama dari
lima bersaudara. Orang tua Andi bekerja sebagai wiraswasta. Andi tinggal bersama
kedua orang tuanya.
Andi mengenal dugem sejak memasuki perkuliahan saat umur sembilan belas
tahun. Andi mengenal dugem karena ajakan temannya dan rasa ingin tahu terhadap
dugem. Saat pertama kali dugem, dia merasa malu-malu. Namun akhirnya karena
teman-temannya mengajaknya untuk dugem setiap weekend, maka setiap akhir
minggu Andi selalu pergi dugem.
Andi pergi dugem bersama-sama dengan temannya ke kelab malam New
Zone pada hari Sabtu pukul 23.00WIB dan pulang pukul 02.00WIB. Dia dan
teman-temannya memilih kelab malam New Zone karena biaya masuk murah yaitu lima
puluh ribu rupiah. Andi membawa uang untuk pergi dugem sekitar seratus lima puluh
ribu rupiah dan uang tersebut selalu habis. Uang yang digunakan Andi untuk dugem
yaitu berasal dari pemberiang uang saku dari orang tuanya sebanyak Rp. 300.000
dan disisihkan untuk dugem. Perilaku yang dilakukan Andi saat dugem yaitu
merokok dan joget. Andi pergi dugem dengan menggunakan pakaian kaos dan celana
Orang tua Andi tidak pernah tahu bahwa Andi pergi dugem sekali seminggu.
Andi mengakui bahwa nilai-nilai akademiknya biasa-biasa saja di kampus. Andi
mengakui bahwa dugem membuatnya kurang tidur sehingga menyebabkan tubuh
lemas untuk melakukan aktivitas. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang
positif karena bisa berkumpul bersama teman-teman untuk mencari kesenangan.
8. Nama : Galih (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Universitas : swasta
Galih adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas
swasta di Kota Medan. Galih berumur dua puluh satu tahun. Galih merupakan anak
ketiga dari empat bersaudara. Orang tua Galih bekerja sebagai wiraswasta. Galih
tinggal bersama kedua orang tuanya.
Galih mengenal dugem saat berumur dua puluh tahun. Galih mengenal dugem
karena ajakan teman-temannya. Galih merasa malu-malu saat pertama kali dugem.
Namun karena musik dan suasana di dalam kelab malam yang kelap-kelip, maka
Galih sering dugem.
Galih pergi ke kelab malam Entrance pada pukul 22.00 WIB dan pulang
pukul 04.00WIB. Selesai dugem biasanya Galih dan teman-temannya pergi untuk
nongkrong. Galih membawa uang sekitar lima ratus ribu rupiah saat pergi dugem.
Uang tersebut habis digunakan untuk dugem. Uang yang digunakan untuk dugem
berasal dari penyisihan uang saku yang diberikan oleh orang tua yaitu sebesar Rp
Perilaku yang dilakukan Galih saat dugem yaitu merokok, menggunakan obor (istilah
yang digunakan untuk obat-obat terlarang yaitu inex), minum-minuman beralkohol,
dan joget.
Orang tua Galih tidak mengetahui bahwa Galih pergi dugem sekali seminggu.
Galih mengatakan bahwa aktivitas dugem tidak mempengaruhi nilai-nilai
akademiknya. Nilai-nilai akademik yang dia peroleh hanya biasa-biasa saja. Galih
mengatakan bahwa dia sering begadang bersama temannya sehingga menyebabkan
tubuhnya mudah lelah karena kurang istirahat. Menurutnya dugem adalah perilaku
positif yang dapat menambah teman dan membuat dirinya merasa bebas.
9. Nama : Jack (Nama Samaran)
Umur : 23 tahun
Jenis Kelamin : laki-laki
Status : mahasiswa
Universitas : negeri
Jack adalah seorang mahasiswa yang sedang kuliah di salah satu universitas
negeri di Kota Medan. Jack berumur dua puluh tiga tahun. Jack merupakan anak
kedua dari tiga bersaudara. Orang tua Jack bekerja sebagai PNS. Orang tua jack
tinggal di Tarutung dan Jack tinggal di kost-kost-an di Kota Medan.
Jack mengenal dugem pada saat kelas dua SMA pada umur sembilan belas
tahun. Dia mengenal dugem karena merasa penasaran dengan dugem dan karena
ajakan teman-temannya. Awal pertama kali dugem dia merasa malu-malu. Saat SMA
dan memasuki perkuliahan dia sering dugem dengan frekuensi kunjungan ke New
dan menyusun skripsi, maka intensitas kunjungan ke New Zone hanya sekali
seminggu pada akhir pekan.
Jack pergi dugem ke New Zone pada pukul 23.00WIB dan pulang pukul
03.00 WIB bersama teman-temannya. Selesai dugem biasanya Jack langsung pulang
ke rumah untuk beristirahat. Jack pergi dugem dengan memakai kemeja dan celana
jeans. Jack membawa uang sebanyak dua ratus ribu rupiah dan uang tersebut habis
digunakan untuk dugem. Uang yang digunakan untuk dugem berasal dari penyisihan
uang saku yang dikirim oleh orang tuanya. Uang saku yang dikirim orang tuanya
sebesar Rp. 500.000 per minggu. Perilaku yang dilakukan Jack lakukan saat dugem
yaitu joget, minum soft drink, dan menikmati musik. Orang tua Jack tidak
mengetahui bahwa Jack pergi dugem. Jack mengakui bahwa nilai akademik tidak
terganggu meski dia melakukan aktivitas dugem. Nilai akademik yang diperoleh
selalu pas-pasan. Dia mengatakan bahwa dugem membuatnya terlambat makan
sehingga dia menderita sakit maag. Menurutnya perilaku dugem adalah perilaku yang
positif untuk menghilangkan kejenuhan dari kegiatan perkuliahan.
10.Nama : Dera (Nama Samaran)
Umur : 21 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Status : mahasiswi
Universitas : swasta
Dera adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas swasta di Kota
Medan. Dera anak kedua dari lima bersaudara. Dera berumur dua puluh satu tahun.
Dera berasal dari kota Pekan Baru dan saat ini dia tinggal di sebuah kost. Orang tua
Dera mengenal dugem sejak dia duduk dibangku perkuliahan pada umur dua
puluh tahun. Dera mengatakan bahwa dia mengenal dugem karena diajak oleh
temannya yang satu kost dengan dia. Awalnya Dera tidak ingin ikut dugem, tetapi
karena temannya memaksa untuk ditemani dan mengatakan bahwa Dera kuper,
akhirnya Dera ikut pergi dugem. Dera juga mengatakan bahwa dia sangat penasaran
dan ingin tahu bagaimana dugem. Dera mengatakan bahwa dia merasa canggung saat
pertama kali dugem. Dera mengatakan bahwa dia mulai tertarik dan sering dugem itu
karena dia melihat kehidupan temannya yang glamour. Teman Dera bekerja sebagai
wanita penghibur dan penghasilan yang didapatkan temannya tersebut cukup untuk
memenuhi gaya hidup yang glamour. Santunan biaya yang dikirim orang tuanya buat
Dera tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya selama merantau dan
berkuliah di Medan. Karena santunan biaya yang dikirim orang tuanya tidak cukup
maka Dera ikut menjadi wanita penghibur seperti temannya. Dera mengatakan
bahwa penghasilan yang diperoleh lumayan dan dia bisa membeli pakaian-pakaian
yang bagus, dia juga bisa pergi dugem secara gratis, dan dia dapat mengirim uang
kepada orang tuanya.
Dera pergi dugem ke Elegant terkadang 4 kali seminggu tergantung job,
namun yang pasti dia pergi dugem minimal seminggu sekali. Dera pergi ke Elegant
dengan menggunakan pakaian mini dress dan sepatu high-hills, sehingga kelihatan
elegan dan modis. Dana yang dibawa Dera untuk pergi dugem sekitar lima ratus ribu
rupiah. Namun dana yang dia keluarkan hanya untuk naik taksi ke Elegant. Dera
masuk Elegant dengan undangan dari seorang pria yang ingin memakai jasanya.
Dera pergi dugem pukul 22.00 WIB dan pulang ke kost tidak menentu jamnya. Dera
Elegant tersebut. Selesai dugem biasanya Dera pergi ke sebuah hotel bersama lelaki
yang menginginkan jasanya.
Dera mengatakan bahwa kegiatan yang dia lakukan saat dugem yaitu joget,
minum-minuman beralkohol, dan dia juga menggunakan inex. Dia mengakui bahwa
dia mendapatkan inex dengan menukar jasanya sebagai wanita penghibur.
Menurutnya dugem tanpa inex itu kurang asyik.
Orang tua Dera tidak mengetahui kegiatan Dera di Kota Medan. Dera
mengakui bahwa sebenarnya dia sedih menjadi wanita penghibur, namun karena
biaya hidup di Medan sangat kurang maka dia menjadi wanita penghibur. Untuk
kegiatan perkuliahan tidak terganggu karena Dera masuk kuliah sore dan dia
mengatakan bahwa nilai akademiknya rendah. Dera mengatakan dugem membuatnya
kurang istirahat dan pola makan terganggu. Menurutnya perilaku dugem adalah
perilaku yang positif karena menambah relasi dan menambah pendapatannya.
• Informan Biasa
1. Bapak Bagindo Uno Harahap
Bapak Bagindo Uno Harahap bekerja di Disbudpar Kota Medan sebagai Kasi
Kasi Hiburan ODTW Disbudpar Kota Medan. Beliau mengatakan bahwa
pembangunan tempat hiburan malam bertujuan untuk menambah pendapatan daerah.
Beliau mengatakan bahwa tempat hiburan malam dijadikan sebagi salah satu jenis
usaha yang dapat menjadi tempat hiburan bagi para wisatawan yang ingin menikmati
hiburan malam. Beliau juga mengatakan bahwa pembangunan tempat hiburan malam
memiliki tujuan yang positif yaitu agar masyarakat yang lelah dan jenuh melakukan
aktivitas seharian dapat menikmati hiburan malam. Beliau mengatakan bahwa
negatif. Hanya saja ada beberapa orang yang menggunakan obat-obatan terlarang dan
melakukan seks di tempat hiburan malam maka masyarakat memandang bahwa
dugem adalah perilaku yang tidak baik. Beliau mengatakan bahwa pelajar dilarang
masuk ke dalam sebuah tempat hiburan malam. Pengunjung yang masuk ke dalam
tempat hiburan malam adalah pengunjung yang berumur 18 tahun ke atas dan
memiliki kartu identitas yaitu KTP.
Beliau mengatakan bahwa apabila ada seorang pengusaha yang ingin
membuka tempat hiburan malam maka ada beberapa proses yang harus dilakukan.
Proses pembukaan tempat hiburan malam tersebut meliputi adanya surat tidak
keberatan dari ziran tetangga. Maksudnya adalah adanya surat dari lurah yang
menyatakan bahwa tetangga yang bertempat tinggal di sekitar tempat tempat hiburan
malam tersebut tidak merasa terganggu apabila tempat hiburan malam tersebut
dibuka. Proses selanjutnya yaitu adanya surat domisili usaha dari lurah, adanya surat
rekomendasi dari Kesbang Polinmas, surat ijin gangguan ke BPPT. Selanjutnya
surat-surat tersebut diserahkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Medan.
Selanjutnya surat-surat tersebut diproses oleh pihak Disbudpar dan apabila sudah
memenuhi dengan persyaratan maka tempat hiburan malam tersebut dapat dibuka
dan setiap pengelola harus mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh Disbudpar
sesuai undang-undang yang berlaku.
Beliau juga mengatakan bahwa pihak Disbudpar selalu melakukan
monitoring terhadap tempat hiburan malam di Kota Medan. Monitoring yang
dilakukan oleh Disbudpar sesuai dengan ketentuan Perda. Disbudpar dapat menutup
usaha tempat hburan malam yang tidak memiliki surat ijin dan usaha tempat hiburan
malam yang beroperasi melebihi jam operasional yang telah ditetapkan oleh