Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province)

234  Download (1)

Teks penuh

(1)

STRATEGI PENGEMBANGAN WILAYAH BERBASIS

PETERNAKAN ITIK

(Studi Kasus di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Provinsi Kalimantan Selatan)

ERVA NOORRAHMAH

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Peternakan Itik (Studi Kasus di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan) adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, April 2011

Erva Noorrahmah

(3)

ABSTRACT

ERVA NOORRAHMAH. Regional Development Strategy Based on Duck Farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province). Under direction of DWI PUTRO TEJO BASKORO and SETIA HADI

Hulu Sungai Utara District is one of the development area of duck farming in South Kalimantan Province. Duck farming play an important role in increasing revenue, job opportunities and regional development. Regional development planning should consider various aspects such as physical and socio-economic aspects. This study aims to identify land suitability for duck feed and its availability, determine the financial feasibility of duck farming, identify the center of duck farming production and priority directions of development policy. Analytical methods used are spatial analysis using ArcGIS 9.3, carrying capacity analysis, financial feasibility analysis, location quotient (LQ) analysis and strengths-weaknesses-opportunities-threats (SWOT) analysis. The results showed that the duck farming is suitable in this area, but local feed availability is insufficient. Duck farming is considered feasible and profitable by revenue and financial feasibility analysis. Regional development for duck farming in Hulu Sungai Utara District have been planned by considering environmental capacity and zoning of duck farming basis sector. Policy priorities of regional development based on duck farming is the provision and expansion of areas for livestock feed.

(4)

ERVA NOORRAHMAH. Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Peternakan Itik (Studi Kasus di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan). Dibimbing oleh DWI PUTRO TEJO BASKORO dan SETIA HADI.

Peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat penting dalam menunjang perekonomian masyarakat. Usaha peternakan itik merupakan salah satu usaha peternakan yang mempunyai nilai ekonomis dan potensi yang cukup tinggi untuk dikembangkan. Populasi ternak itik di Indonesia meningkat setiap tahunnya dengan tingkat pertumbuhan 0,23%. Sekitar 10,39% populasi ternak itik nasional terdapat di Provinsi Kalimantan Selatan. Pada tahun 2009 populasi ternak itik di Kalimantan Selatan berada pada urutan keempat dari populasi itik di Indonesia setelah Provinsi Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ditjennak, 2009).

Ternak itik di Kalimantan Selatan sebagian besar dikembangkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang merupakan sentra pengembangan itik Alabio. Populasi itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara sekitar 30,16% dari populasi itik di Provinsi Kalimantan Selatan. Ternak itik sangat cocok dikembangkan di Kabupaten Hulu Sungai Utara dengan kondisi lingkungan yang sebagian besar berupa hamparan rawa. Kondisi rawa lebak memudahkan pemeliharaan ternak itik karena ditunjang oleh ketersediaan air dan pakan. Beternak itik merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jumlah peternak itik terbanyak dibandingkan peternak lainnya, yaitu sebanyak 4.902 peternak. Kontribusi subsektor peternakan dalam perekonomian Kabupaten Hulu Sungai Utara cukup besar. Sektor pertanian menyumbang 46,26% dari total PDRB Kabupaten dengan peranan subsektor peternakan menempati urutan ketiga setelah tanaman pangan dan perikanan yaitu sebesar 19,15%. Sumbangan dari peternakan itik sekitar 75,97% terhadap subsektor peternakan dan hasilnya. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa Kabupaten Hulu Sungai Utara mempunyai potensi untuk pengembangan peternakan itik, namun dalam pengembangannya harus mempertimbangkan berbagai aspek, terutama aspek fisik wilayah dan sosial ekonomi.

Penelitian ini bertujuan: 1) mengetahui kesesuaian lingkungan ekologis ternak itik dan kesesuaian lahan untuk pakan ternak; 2) menganalisis ketersediaan dan daya dukung pakan lokal ternak itik; 3) mengetahui kelayakan finansial usaha peternakan itik; 4) mengetahui sentra peternakan itik berdasarkan keunggulan komparatif; 5) menentukan arahan pengembangan ternak itik berdasarkan potensi sumberdaya lahan; dan 6) menyusun strategi pengembangan wilayah berbasis peternakan itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara.

(5)

itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara, kesesuaian lahan tanaman sagu dan padi dianalisis. Hasil penilaian kesesuaian lahan untuk tanaman sagu menunjukkan luas wilayah yang sesuai sagu sekitar 46.452 ha (51,70%), sedangkan lahan yang tidak sesuai seluas 43.400 ha (48,30%). Berdasarkan syarat tumbuh tanaman sagu faktor pembatas kesesuaian lahan yang menyebabkan lahan tidak sesuai (N) adalah drainase, jenis tanah dan lama genangan. Pada kesesuaian lahan aktual padi, luas wilayah yang terluas pada kelas N (tidak sesuai) yaitu sekitar 53,83%. Dengan perbaikan kondisi kejenuhan basa, perbaikan keasaman tanah (dengan menaikkan pH), dan kondisi genangan (pembuatan saluran air), maka kesesuaian lahan dapat dinaikkan dari N menjadi S3. Dengan demikian, terjadi pengurangan persentase lahan yang tidak sesuai. Pada hasil kesesuaian lahan padi potensial, luas lahan yang tidak sesuai berkurang menjadi 35,77%.

Hasil perhitungan ketersediaan dedak dengan populasi ternak tahun 2008 berdasarkan penggunaan lahan eksisting sawah pada masing-masing kesesuaian lahan, diperoleh indeks ketersediaan pakan dedak pada semua kecamatan kurang dari 1. Maka berdasarkan ketersediaan pakan dedak, semua wilayah tidak mencukupi kebutuhan untuk ternak itik. Hasil perhitungan daya dukung dedak berdasarkan potensi pengembangan padi diperoleh indeks daya dukung di Kecamatan Paminggir yang mempunyai status aman kecamatan lainnya nilai indeks daya dukungnya sangat kritis (kurang dari 1).

Hasil perhitungan ketersediaan pakan sagu menunjukkan bahwa hanya di Kecamatan Paminggir dan Haur Gading yang memiliki indeks ketersediaan lebih dari 1. Sedangkan perhitungan daya dukung sagu berdasarkan potensi pengembangan sagu menghasilkan status daya dukung sagu aman, pada sebagian besar kecamatan dengan nilai indeks lebih dari 2, kecuali Kecamatan Sungai Pandan dan Amuntai Utara.

Daya dukung pakan dedak pada lahan potensial pengembangan padi dan sagu menunjukkan bahwa Kecamatan Paminggir yang mempunyai status daya dukung aman, sedangkan kecamatan lainnya, status daya dukungnya sangat kritis. Daya dukung sagu berdasarkan lahan potensial pengembangan padi dan sagu menunjukkan kecamatan Paminggir, Danau Panggang dan Amuntai Selatan yang mempunyai status daya dukung aman. Selain pakan dedak dan sagu, peternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara memanfaatkan pakan lokal lainnya, yaitu keong rawa (biasa disebut kalambuai) sebagai sumber protein. Berdasarkan perhitungan daya dukung keong, semua wilayah kecamatan mempunyai indeks daya dukung >1. Hal ini berarti Kabupaten Hulu Sungai Utara masih mampu memenuhi kebutuhan keong untuk pakan ternak itik.

Usaha peternakan itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara sudah memiliki spesialisasi usaha yang meliputi antara lain penetasan ternak, pembesaran, penghasil telur tetas, dan penghasil telur konsumsi. Hasil analisis pendapatan dan kelayakan finansial pada faktor diskonto 12 % menunjukkan keempat spesialisasi layak dan menguntungkan. Pada spesialisasi usaha penetasan skala 1000 butir telur tetas yang ditetaskan dengan 12 kali periode penetasan dalam satu tahun yaitu Rp. 7.460.000,-, nilai NPV Rp. 36.971.946,-, nilai BCR 1,38 dan IRR 16,50%. Pendapatan rata-rata dari usaha pembesaran itik pada skala 500 ekor yaitu sebesar Rp 19.050.000,- per tahun, nilai NPV Rp. 63.406.243,-, nilai BCR 1,58, nilai IRR 65,25%. Pendapatan yang diperoleh dari usaha penghasil telur konsumsi dan penghasil telur tetas selama satu tahun berturut-turut yaitu Rp 25.311.000,- dan Rp 26.358.000,-. Dengan nilai NPV masing-masing sebesar Rp. 41.739.329,- dan Rp. 22.949.982,-, nilai BCR 1,05 dan 1,02, nilai IRR sebesar 19,66% dan 17,88%.

(6)

Penentuan arahan pengembangan wilayah peternakan itik yaitu skenario pertama berdasarkan potensi pengembangan padi dengan wilayah basis, skenario kedua berdasarkan potensi pengembangan sagu dengan wilayah basis dan skenario ketiga berdasarkan potensi pengembangan padi dan sagu dengan wilayah basis. Dari potensi tersebut pada wilayah yang memiliki status daya dukung aman dan non basis diarahkan sebagai wilayah penyangga penyediaan pakan, kecamatan yang menjadi basis itik diarahkan sebagai wilayah budidaya, pada kecamatan non basis yang status daya dukungnya sangat kritis dan kritis, diarahkan untuk wilayah perdagangan dan pengolahan hasil.

Berdasarkan analisis SWOT (Strengths Weaknesses Opportunities Threats) didapatkan kekuatan utama yaitu terdapat pusat pemasaran, kelemahan utama yaitu sarana prasarana, peluang yang direspon baik yaitu meningkatnya permintaan telur dan daging itik, sedangkan ancaman yang pengaruhnya sangat kuat yaitu ketersediaan pakan lokal. Strategi prioritas untuk pengembangan ternak berdasarkan ancaman utama yaitu kurangnya ketersediaan pakan lokal. Strategi prioritas pengembangan wilayah berbasis peternakan itik yaitu penyediaan dan perluasan areal tanaman budidaya pakan lokal ternak itik untuk menunjang ketersediaan dan keberlanjutan pakan ternak lokal.

(7)

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2011

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB.

(8)

(Studi Kasus di Kabupaten Hulu Sungai Utara

Provinsi Kalimantan Selatan)

ERVA NOORRAHMAH

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(9)
(10)

Nama : Erva Noorrahmah

NRP : A156090154

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, M.Sc Ketua

Dr. Ir. Setia Hadi, M.Si Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah

Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr

Dekan Sekolah Pasca Sarjana IPB

Dr. Ir. Dahrul Syah, M.Sc.Agr

(11)

PRAKATA

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang yang telah memberikan limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan. Sholawat dan salam kepada Rasulullah Muhammad SAW, sebagai pembelajar sejati tauladan umat. Judul penelitian yang dilaksanakan sejak bulan September 2010 ini yaitu Strategi Pengembangan Wilayah Berbasis Peternakan Itik (Studi Kasus di Kabupaten Hulu Sungai Utara Provinsi Kalimantan Selatan).

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus, rasa hormat dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Dr. Ir. Dwi Putro Tejo Baskoro, M.Sc (Ketua Komisi Pembimbing) dan Dr.Ir. Setia Hadi, M.Si (Anggota Komisi Pembimbing) atas bimbingan, saran perbaikan dan dukungan moril sehingga tesis ini selesai dengan baik, serta kepada Dr. Ir. Muhammad Ardiansyah selaku penguji luar komisi atas segala sarannya guna penyempurnaan tesis ini. Ucapan terima kasih pula kepada Dr. Ir. Ernan Rustiadi, M.Agr selaku Ketua Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah beserta segenap pengajar dan sekretariat. Disamping itu terima kasih pula kepada Pusbindiklatren Bappenas atas beasiswa pascasarjana yang diberikan kepada penulis juga kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Hulu Sungai Utara atas ijin yang telah diberikan untuk mengikuti pendidikan.

Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Drh. H. Suyadi, Ir. Rusnaidy, Drh. I Gusti Putu Susila atas saran dan masukannya, juga kepada M. Taufik Rizani dan Drh. Sagita Rini atas bantuannya ke lapangan, serta rekan-rekan di Dinas Peternakan Kab. HSU dan masyarakat yang telah banyak membantu dan memberi informasi yang berhubungan dengan penelitian ini. Tak lupa kepada sahabat terbaik penulis Sri Jamiatul Khairah atas persahabatan dan bantuannya selama ini juga kepada Eva Agustina. Akhirnya untuk teman-teman PWL kelas khusus angkatan 2009 atas keakraban dan persaudaraan yang indah kita selama ini, takkan terlupakan dan semua pihak yang telah banyak membantu yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, terima kasih banyak.

Rasa hormat, terima kasih dan doa penulis teruntuk keluarga tersayang abah (H. Arbain Lukman) dan mama (Hj. Sakdah) atas segala doa, kasih sayang, nasehat, pengorbanan yang diberikan kepada penulis juga kepada kakak (H. Taufiqurrahman, S.TP, M.Si) atas segala doa dan dukungan yang kuat buat penulis serta untuk ading Zulfadilah Fauzi (alm) yang sangat pengertian selama masa hidupnya.

Tidak ada karya manusia yang sempurna, namun harus diusahakan agar sebaik-baiknya. Semoga karya ini bermanfaat.

Bogor, April 2011

(12)

Penulis dilahirkan di Banua Kupang, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, Provinsi Kalimantan Selatan pada tanggal 17 Juni 1979 dari ayah H. Arbain Lukman dan ibu Hj. Sakdah. Penulis merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakak H. Taufiqurrahman, S.TP, M.Si dan adik Zulfadilah Fauzi (Alm).

Penulis menempuh pendidikan dari sekolah dasar sampai sekolah menengah di Kabupaten Hulu Sungai Tengah Provinsi Kalimantan Selatan. Lulus dari SMUN 1 Barabai pada tahun 1998. Selanjutnya penulis melanjutkan kuliah di jurusan Sosial Ekonomi Industri Peternakan Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor dan selesai tahun 2003. Kesempatan melanjutkan kuliah di Sekolah Pascasarjana Insitut Pertanian Bogor Program Studi Ilmu Perencanaan Wilayah diperoleh pada tahun 2009 melalui program beasiswa dari Bappenas.

(13)

Sebuah karya yang kupersembahkan untuk orang-orang yang kusayangi dan

menyayangiku

Abah (H. Arbain Lukman), Mama (Hj. Sakdah)

(14)

Halaman

DAFTAR TABEL………. iii

DAFTAR GAMBAR………. iv

DAFTAR LAMPIRAN………. v

I PENDAHULUAN………... 1

1.1 Latar Belakang……… 1

1.2 Perumusan Masalah ………. 3

1.3 Tujuan Penelitian ……….. 4

1.4 Manfaat Penelitian………. 4

1.5 Kerangka Pemikiran……….. 5

II TINJAUAN PUSTAKA………. 7

2.1 Pengembangan Wilayah……….. 7

2.2 Pengembangan Peternakan………. 8

2.3 Ternak Itik……… 9

2.4 Pakan Ternak………. 11

2.5 Daya Dukung Pakan Ternak……… 12

2.6 Evaluasi Kesesuaian Lahan………. 13

2.7 Sektor Basis……… 14

2.8 SWOT……….... 15

III METODE PENELITIAN……… 17

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian……… 17

3.2 Pengumpulan Data……… 17

3.3 Analisis Data………... 19

3.3.1. Analisis Kesesuaian Lahan……… 21

3.3.2. Analisis Ketersediaan dan Daya Dukung Pakan…… 21

3.3.3. Analisis Finansial………. 22

3.3.4. Analisis Ekonomi Basis……….. 25

3.3.5. Arahan Pengembangan Peternakan Itik………. 26

(15)

IV KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN………. 29

4.1 Geografi………... 29

4.2 Fisik Wilayah………... 30

4.2.1. Topografi……….. 30

4.2.2. Tanah……… 30

4.2.3. Hidrologis dan Drainase……… 31

4.2.4. Penggunaan Lahan………. 33

4.3 Penduduk………. 33

4.4 Ekonomi Wilayah……… 34

4.5 Peternakan………. 37

V HASIL DAN PEMBAHASAN……… 43

5.1 Kesesuaian Lingkungan Ekologis Ternak Itik……… 43

5.2 Kesesuaian Lahan Pakan Ternak Itik………. 45

5.2.1. Kesesuaian Lahan untuk Sagu………. 45

5.2.2. Kesesuaian Lahan untuk Padi……….. 47

5.3 Penggunaan Lahan Eksisting……….. 52

5.4 Potensi Pengembangan Sagu……… 52

5.5 Potensi Pengembangan Padi………... 55

5.6 Potensi Pengembangan Padi dan Sagu………. 57

5.7 Ketersediaan dan Daya Dukung Pakan Ternak……… 59

5.8 Pendapatan………. 67

5.9 Kelayakan Finansial……….. 69

5.10 Ekonomi Basis……….. 71

5.11 Arahan Pengembangan……… 73

5.12 Strategi Pengembangan……… 79

5.13 Strategi Prioritas………. 92

VI SIMPULAN DAN SARAN……… 93

6.1 Simpulan……….. 93

6.2 Saran……….. 94

DAFTAR PUSTAKA………. 95

(16)

Halaman

1 Tujuan, analisis, data dan keluaran……….. 19

2 Kriteria status daya dukung berdasarkan indeks daya dukung…. 22 3 Matriks SWOT……….………... 27

4 Kecamatan dalam wilayah administrasi Kab. HSU……….. 29

5 Persebaran jenis tanah………. 31

6 Luas kondisi drainase lahan…..……….. 32

7 Luas penggunaan lahan pada setiap kecamatan……… 33

8 Jumlah rumah tangga dan penduduk di Kab. HSU………. 34

9 Pertumbuhan PDRB Kab. HSU tahun 2006-2008………... 35

10 PDRB Kab. HSU tahun 2008 atas dasar harga konstan………… 36

11 Perkembangan populasi ternak di Kab. HSU………... 38

12 Luas kesesuaian lahan padi aktual……… 48

13 Luas kesesuaian lahan padi potensial………... 51

14 Klasifikasi Penggunaan Lahan di Kab. HSU………. 52

15 Potensi Pengembangan Sagu………. 53

16 Potensi Pengembangan Padi……….. 55

17 Potensi Pengembangan Padi dan Sagu……… 57

18 Ketersediaan pakan dedak ………..……….. 60

19 Daya daya dukung pakan dedak berdasarkan potensi pengembangan padi……… 61

20 Rataan komposisis pohon sagu………. 62

21 Ketersediaan sagu……… 62

22 Daya dukung sagu berdasarkan potensi pengembangan sagu… 63 23 Daya dukung pakan dedak dan sagu berdasarkan potensi pengembangan padi dan sagu……… 64 24 Proyeksi daya dukung pakan dedak dan sagu pada populasi itik tahun 2020 berdasarkan potensi pengembangan padi dan sagu. 65 25 Daya dukung keong……….. 66

26 Pendapatan usaha penetasan itik skala 1000 butir telur………… 68

27 Pendapatan usaha pembesaran itik skala 500 ekor……… 68

28 Pendapatan usaha penghasil telur konsumsi dan tetas skala 500 ekor……… 69

(17)

30 Potensi pengembangan ternak itik berdasarkan potensi

pengembangan dedak dan wilayah basis……….

73

31 Potensi pengembangan ternak itik berdasarkan potensi pengembangan sagu dan wilayah basis………..

74

32 Potensi pengembangan ternak itik berdasarkan potensi

pengembangan padi dan sagu dengan wilayah

basis………

75

33 Matrik IFE……….. 86

34 Matrik EFE……… 88

35 Alternatif strategi pengembangan wilayah berbasis peternakan itik………. 91

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Kerangka pikir penelitian……….……… 5

2 Peta lokasi penelitian Kab. HSU………. 18

3 Diagram alir penelitian……….. 20

4 Lahan rawa di Kab. HSU………. 30

5 Grafik nilai PDRB Kab. HSU….………. 35

6 Grafik peranan masing-masing subsektor pada sektor pertanian tahun 2008 atas dasar harga konsta………. 37

7 Komoditas unggulan peternakan Kab. HSU……… 38

8 Pola pemeliharaan secara ekstensif dan intensif 40 9 Peta kesesuaian lahan sagu………... 46

10 Peta kesesuaian lahan aktual padi………. 49

11 Peta kesesuaian lahan potensial padi………... 50

12 Persentase kelas kesesuaian lahan aktual dan potensial padi…. 51 13 Tanaman Sagu di Kec. Sungai Pandan dan Amuntai Utara…….. 53

14 Peta Potensi Pengembangan Sagu di Kab. HSU……… 54

15 Peta Potensi Pengembangan Padi di Kab. HSU………. 56

16 Peta Potensi Pengembangan Padi dan Sagu di Kab. HSU……... 58

17 Pohon sagu yang tumbuh di rawa-rawa……… 61

18 Keong rawa………... 67

(18)

pengembangan sagu dan wilayah basis………..…..

22 Peta arahan pengembangan berdasarkan potensi

pengembangan padi dan sagu dengan wilayah

basis………..……….

78

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1 Analisa kelayakan finansial usaha penetasan itik skala 1000 butir telur…………...

99

2 Analisa kelayakan finansial usaha pembesaran itik skala 500

ekor………. 105

3 Analisa kelayakan finansial usaha penghasil telur konsumsi

skala 500 ekor ………. 106

4 Analisa kelayakan finansial usaha penghasil telur tetas skala

500 ekor……….. 107

(19)

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peternakan merupakan bagian dari sektor pertanian yang sangat penting dalam menunjang perekonomian masyarakat. Pembangunan peternakan memiliki fungsi dan peran yang sangat strategis selain untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup peternak juga bertujuan untuk pemenuhan dan peningkatan gizi masyarakat khususnya dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, penyedia lapangan kerja dan pengembangan potensi wilayah. Oleh karena itu, peranan subsektor peternakan harus dapat dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Daryanto (2009) beberapa peluang bisnis dalam mengembangkan agribisnis peternakan diantaranya: 1) jumlah penduduk Indonesia yang mencapai ±220 juta jiwa dan masih tetap bertumbuh sekitar 1,4% pertahun merupakan konsumen yang sangat besar, 2) kondisi geografis dan sumberdaya alam yang mendukung usaha dan industri peternakan. 3) meningkatnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang gizi, dan 4) jika pemulihan ekonomi berjalan baik maka akan meningkatkan pendapatan perkapita yang kemudian akan meningkatkan daya beli masyarakat. Selanjutnya Sudrajat (2001) mengatakan misi dari pembangunan peternakan mencakup penyediaan pangan asal ternak, pemberdayaan SDM, penciptaan peluang ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pelestarian serta pemanfaatan sumberdaya alam pendukung peternakan.

Usaha peternakan itik merupakan salah satu usaha peternakan yang mempunyai nilai ekonomis dan potensi yang cukup tinggi, baik sebagai sumber protein hewani maupun sebagai sumber pendapatan tambahan dalam menunjang kebutuhan keluarga. Itik mempunyai beberapa kelebihan dibanding unggas lainnya, antara lain: itik mampu mempertahankan produksi lebih lama dibandingkan ayam sehingga dapat mengurangi biaya penggantian itik setiap tahunnya, angka kematian itik umumnya kecil karena itik merupakan unggas yang tahan terhadap penyakit (Wasito dan Rohaeni, 1994).

(20)

di Provinsi Kalimantan Selatan. Populasi ternak Itik di Kalimantan Selatan pada tahun 2009 termasuk urutan ke empat dari populasi itik di Indonesia setelah Provinsi Jawab Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ditjennak, 2009). Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) adalah salah satu kabupaten di Propinsi Kalimantan Selatan yang merupakan daerah sentra peternakan Itik Alabio. Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan (2009) populasi itik di Kalimantan Selatan tahun 2009 sebanyak 4.158.452 ekor, populasi terbesar ada di Kabupaten Hulu Sungai Utara sebanyak 1.254.252 ekor atau sekitar 30,16% dari populasi itik seluruhnya.

Itik adalah salah satu unggas air yang sangat cocok dikembangkan di Kabupaten HSU dengan kondisi lingkungan berupa hamparan rawa. Berdasarkan pemanfaatan lahan, sebagian besar wilayah di Kabupaten HSU berupa hutan rawa yaitu seluas 29.711 ha (32,52%), sawah 25.492 ha (27,91%), kebun campuran 5.051 ha (5,53%) sedangkan yang dimanfaatkan sebagai pemukiman seluas 4.285 ha (4,69%), selebihnya 26.811 ha (29,35 %) berupa hamparan rumput rawa dan danau (BPS HSU, 2009). Ketersediaan air yang melimpah di rawa merupakan habitat yang paling disukai ternak itik. Jenis itik yang berkembang di lahan rawa lebak adalah jenis itik petelur seperti Itik Alabio (Anas Platyrynchos Borneo) yang merupakan plasma nutfah Kalimantan Selatan. Kondisi rawa lebak memudahkan pemeliharaan ternak ini dibandingkan pada lahan irigasi atau lahan kering karena ditunjang oleh ketersediaan air dan pakan yang banyak tersedia secara alami di lahan rawa lebak seperti sagu (Metroxylon spp) dan berbagai sumber pakan berupa gulma air seperti kangkung, enceng gondok, rumput rawa; dan hewan air misalnya siput, gondang/keong mas, ikan-ikan kecil (Noor, 2007).

Beternak itik merupakan salah satu mata pencaharian utama masyarakat di Kabupaten HSU. Jumlah peternak itik terbanyak dibandingkan dengan peternak komoditas ternak lain yaitu sebanyak 4.902 orang, peternak ayam sebanyak 465 orang, peternak sapi 150 orang, peternak kerbau 542 orang, peternak kambing 88 orang dan peternak domba 7 orang (Disnak Kab. HSU, 2009).

(21)

3

Sumbangan dari peternakan itik sebesar 75,97% terhadap subsektor peternakan dan hasilnya.

Dengan demikian komoditas itik merupakan salah satu komoditas unggulan yang mempunyai potensi untuk terus dikembangkan dalam menunjang pengembangan wilayah di Kabupaten HSU. Melihat potensi tersebut didukung dengan program Pemerintah Kabupaten HSU yaitu program rawa makmur 2020, potensi lahan rawa yang prospektif sebagai sumber kemakmuran bagi masyarakat telah dimanfaatkan dan akan terus dioptimalkan dalam pengembangan peternakan. Untuk pengembangan usaha peternakan itik tersebut harus mempertimbangkan aspek fisik dan sosial ekonomi.

1.2 Perumusan Masalah

Sejalan dengan otonomi daerah Kabupaten HSU yang berpisah dengan Kabupaten Balangan sejak tahun 2003, maka peran pemerintah daerah sangat penting dalam menggali potensi lokal untuk pengembangan wilayah. Usaha peternakan itik yang sudah secara turun temurun menjadi mata pencaharian masyarakat di Kabupaten HSU diharapkan menjadi usaha yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, meningkatkan taraf hidup peternak dan penyerapan tenaga kerja dalam rangka pengembangan wilayah.

Kabupaten HSU yang menjadi sentra usaha peternakan itik memiliki potensi yang cukup besar untuk pengembangan peternakan. Populasi ternak itik di Kabupaten HSU secara signifikan mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2006 populasi ternak itik sebanyak 1.162.262 ekor, tahun 2007 sebanyak 1.203.114 ekor dan tahun 2008 meningkat lagi sebanyak 1.216.917 ekor. Untuk tahun 2009 populasi itik mencapai 1.254.252 ekor.

(22)

Pengembangan peternakan di Kabupaten HSU diarahkan pada pendekatan komoditas unggulan ternak itik yang menjadi plasma nutfah daerah dengan mempertimbangkan kesesuaian agroklimat, ketersediaan bahan baku, dukungan sosial budaya masyarakat dan pendapatan peternak. Dengan demikian aspek fisik wilayah dan sosial ekonomi menjadi perhatian penting dalam pengembangan peternakan.

Berdasarkan uraian di atas, beberapa permasalahan dapat dirumuskan pada penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagaimana kesesuaian lingkungan ekologis dan kesesuaian lahan untuk pakan ternak itik?

2. Bagaimana ketersediaan dan daya dukung pakan lokal ternak itik? 3. Bagaimana kelayakan finansial usaha peternakan itik?

4. Bagaimana arahan dan strategi pengembangan wilayah berbasis peternakan itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini yaitu:

1. Mengetahui kesesuaian lingkungan ekologis ternak itik dan kesesuaian lahan untuk pakan ternak Itik di Kab. HSU.

2. Menganalisis ketersediaan dan daya dukung pakan lokal ternak itik

3. Menganalisis kelayakan finansial usaha peternakan itik di Kabupaten HSU.

4. Mengetahui sentra peternakan itik berdasarkan keunggulan komparatif 5. Menentukan arahan pengembangan ternak itik berdasarkan potensi

sumberdaya lahan.

6. Menyusun strategi pengembangan wilayah berbasis peternakan itik di Kabupaten HSU

1.4 Manfaat Penelitian

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini diantaranya adalah :

1. Sebagai bahan pertimbangan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten HSU dalam pengembangan peternakan itik untuk pengembangan wilayah 2. Sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat dan swasta yang bergerak

(23)

5

1.5 Kerangka Pemikiran

Secara skematik kerangka pemikiran dalam penelitian ini digambarkan pada Gambar 1.

Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian Lahan-Lahan yang Berpotensi untuk

Pengembangan Ternak Itik Usaha Peternakan Itik

Evaluasi Kesesuaian Lahan

Kelayakan Usaha - Ketersediaan Pakan - Daya Dukung Pakan

Strategi Pengembanganan Wilayah Berbasis Peternakan Itik di Kabupaten HSU Pemanfaatan Potensi Daerah untuk

Pengembangan Wilayah

Potensi Lahan untuk Peningkatan Usaha Peternakan Itik

Arahan Pengembangan Usaha Peternakan Itik Wilayah

(24)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengembangan Wilayah

Alkadri et al., (1999) mengatakan pengembangan wilayah merupakan usaha memberdayakan suatu masyarakat yang berada di suatu daerah untuk memanfaatkan sumberdaya alam yang terdapat di sekeliling mereka dengan menggunakan teknologi yang relevan dengan kebutuhan, dan bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat yang bersangkutan. Pengembangan wilayah mempunyai dua makna, yaitu: 1) makna sosial ekonomi, yaitu kegiatan pengembangan wilayah dengan jalan meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat dengan menciptakan sentra-sentra produksi sekaligus membangun prasarana dan adanya layanan logistik; 2) makna ekologis, yaitu pengembangan wilayah bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan akibat terlalu banyaknya campur tangan manusia terhadap lingkungan.

Menurut Mangiri dalam Daryanto (2010) konsep pengembangan wilayah secara garis besar terbagi atas empat yaitu:

1. Pengembangan Wilayah Berbasis Sumberdaya

Sumber daya merupakan semua potensi yang dimiliki oleh alam dan manusia. Bentuk sumber daya tersebut yaitu tanah, bahan mentah, modal, tenaga kerja, keahlian, keindahan alam maupun aspek sosial budaya. 2. Pengembangan Wilayah Berbasis Komoditas Unggulan

Motor penggerak pembangunan wilayah pada komoditas yang dinilai dapat menjadi unggulan atau andalan, baik di tingkat domestik dan internasional 3. Pengembangan Wilayah Berbasis Efisiensi

Pembangunan wilayah melalui pembangunan bidang ekonomi yang mempunyai porsi lebih besar dibandingkan bidang-bidang lainnya. Pembangunan ekonomi tersebut dijalankan dalam kerangka pasar bebas atau pasar persaingan sempurna (free market mechanism).

4. Pengembangan Wilayah Menurut Pelaku Pembangunan

Strategi pengembangan wilayah ini mengutamakan peranan setiap pelaku pembangunan ekonomi (rumah tangga, lembaga sosial, lembaga keuangan dan bukan keuangan, pemerintah maupun koperasi).

(25)

8

terhadap keunikan karakteristik wilayah (ruang). Pemahaman terhadap sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya buatan/infrastruktur dan kondisi kegiatan usaha dari masing-masing daerah di Indonesia serta interaksi antar daerah (termasuk diantara faktor-faktor produksi yang dimiliki) merupakan acuan dasar bagi perumusan upaya pembangunan ekonomi nasional ke depan.

2.2 Pengembangan Peternakan

Faktor-faktor kritikal yang menentukan kinerja pembangunan pertanian adalah jumlah dan kualitas: (a) modal manusia (terkait dengan pendidikan dan pelatihan); (b) modal sosial (terkait dengan organisasi/kelompok/petani/peternak dan koperasi); (c) infrastruktur fisik (terkait dengan jalan, fasilitas komunikasi, pasokan energi dan air); (d) infrastruktur kelembagaan (terkait dengan penelitian dan penyuluhan, sistem keuangan perdesaan, peraturan dan kelembagaan termasuk hak-hak kepemilikan/property right) dan (e) modal fisik (terkait dengan ketersediaan lahan, infrastruktur peternakan dan investasi). Oleh karena itu, pembangunan peternakan harus dilakukan dengan cara yang holistik, komprehensif, tidak sektoral dan tidak parsial (Daryanto, 2009)

Kawasan peternakan terdiri atas: 1) kawasan khusus peternakan, merupakan daerah prioritas dengan komoditas unggulan dengan memperhatikan kesesuaian agroekosistem dan agroklimat serta tata ruang wilayah; 2) kawasan terpadu, merupakan sistem integrasi antara ternak dengan tanaman pangan, holtikultura, perkebunan dan perikanan (program lintas subsektor); 3) kawasan agropolitan, merupakan kota pertanian yang dihela oleh desa-desa hinterland

(Putri, 2003).

Pengembangan peternakan di suatu wilayah perlu diperhatikan dan diukur potensi wilayah tersebut bagi jenis ternak yang akan dikembangkan. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan peternakan di suatu wilayah, yaitu 1) persediaan bahan baku; 2) teknologi tepat guna; 3) keahlian yang dibutuhkan atau tenaga terampil; 4) potensi pengembangan peternakan; 5) prioritas pengembangan peternakan di lokasi yang bersangkutan; dan 6) kemungkinan bantuan kredit (Pulungan, 1985).

(26)

merupakan rangkaian yang juga tidak akan lepas dari subsistem agribisnis hilir, yaitu perdagangan, pengolahan dan jasa agribisnis. Pembangunan peternakan bertujuan untuk meningkatkan kualitas kebijakan dan program yang mengarah pada pemanfaatan sumberdaya lokal untuk membangun peternakan yang berdaya saing dan berkelanjutan serta membangun sistem peternakan nasional yang mampu memenuhi kebutuhan terhadap produk peternakan dan mensejahterakan masyarakat (Bahri, 2008).

2.3 Ternak Itik

Itik merupakan unggas yang senang berkelompok, makan bersama-sama terutama ketika mencari invertebrata bawah permukaan air (Cherry and Morris, 2008). Itik dapat menyebar ke kawasan yang luas karena bersifat aquatik. Selain itu makanan itik bersifat omnivorus (pemakan segala), mulai dari biji-bijian, rumput-rumputan, umbi-umbian dan makanan yang berasal dari hewan atau binatang-binantang kecil. Sifat spesifik lain dari itik adalah kakinya relatif pendek dibanding tubuhnya, antara jari yang satu dengan yang lain dihubungkan oleh selaput renang, serta bulu-bulunya yang tebal dan berminyak sehingga dapat menghalangi air masuk ke dalam tubuhnya ketika berada dalam air. Dengan demikian meskipun sudah dijinakkan, itik cenderung menyukai hidup di air (Suharno dan Amri, 2010).

(27)

10

muda yaitu: a) postur tubuh tegak membentuk sudut 70 derajat; b) terdapat bulu putih membentuk garis mulai dari pangkal paruh sampai ke bagian belakang kepala dan bulu kepala bagian atas berwarna coklat bercak putih; c) paruh berwarna kuning sampai kuning jingga dengan bercak hitam pada bagian ujung; d) kaki berwarna kuning jingga; e) bulu leher bagian belakang berwarna coklat sedangkan bagian depan berwarna putih; f) bulu dada berwarna coklat; g) bulu perut dan punggung berwarna coklat bercak abu-abu; h) bulu sayap sekunder berwarna biru kehijauan dan mengkilap; i) bulu ekor berwarna coklat bercak hitam.

Produktivitas Itik Alabio yaitu mulai bertelur pada umur lebih kurang 6 bulan, produksi telur mencapai 260 butir/ekor/tahun dan berat telur 63,5 gram/butir dengan warna kulit telur hijau kebiruan (Dinas Peternakan Kabupaten Hulu Sungai Utara, 2009). Sedangkan menurut Wasito dan Rohaeni (1994) masa dewasa Itik Alabio betina pada umur 6 bulan dengan masa bertelur 8-10 bulan per tahun sampai mencapai umur 3,5 tahun, setelah itu diafkir. Itik Alabio termasuk itik petelur yang baik produksi telurnya, bisa mencapai 275 butir/ekor/tahun, tetapi berat telurnya rata-rata lebih ringan dari Itik Jawa atau Itik Bali yaitu 50 – 70 gram. Berdasarkan Badan Standarisasi Nasional bibit induk muda harus berasal dari induk yang mempunyai rataan produksi telur minimal 60% selama masa produksi, daya tetas yang dicapai minimal 60% dari telur yang fertil, bobot telur tetas minimal 58 gram dan telur dengan kerabang berwarna hijau kebiruan. Menurut Clayton dalam Cherry dan Morris (2008) tingginya produktivitas Itik Alabio disebabkan pengalaman beternak dan tidak tergantung pada teknologi genetik dari barat.

Itik Alabio termasuk jenis itik petelur yang sejenis dengan Itik Tegal (Jawa Tengah), Itik Mojokerto (Jawa Tengah), Itik Karawang (Jawa Barat), Itik Bali atau Itik Pegagan yang terdapat di Kabupaten Ogan Komiring Ilir Sumatera Selatan. Perbedaan secara fisik antara masing-masing jenis itik petelur tersebut tidak terlalu jauh. Hanya saja, Itik Alabio dikenal cocok dibudidayakan di lahan rawa lebak (Noor, 2007). Cara pemeliharaan Itik Alabio di lahan lebak dibedakan menjadi tiga yaitu ekstensif, intensif dan campuran (semi intensif) (Wasito dan Rohaeni, 1994).

(28)

Provinsi Kalimantan Selatan sekitar 190 km. Alabio dikenal karena sejak lama menjadi tempat perdagangan unggas itik ini. Kota Alabio ini terletak di tengah-tengah aliran DAS Sungai Nagara, anak Sungai Barito yang merupakan salah satu kawasan rawa lebak yang terluas di Kalimantan Selatan (Noor, 2007).

“Itik Banar” adalah sebutan masyarakat peternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk itik lokal yang kemudian diberi nama Itik Alabio. Pemberian nama Itik Alabio ini juga berlatar belakang karena peternak itik membeli itik yang baik di Pasar Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara (Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Selatan, 1992).

Menurut Cherry dan Morris (2008) cara pemeliharaan dan kandang itik sangat bervariasi di dunia, menggambarkan perbedaan iklim, kelerengan, pembangunan ekonomi dan permintaan pasar. Di beberapa daerah tropis dimana daerahnya banyak perairan, kandang itik dibangun panggung di atas sungai atau danau atau mengembang di atas air sehingga kotorannya ke dalam air.

2.4 Pakan Ternak

Menurut Sukria dan Krisnan (2009) biaya pakan bisa mencapai sekitar 70% dari biaya produksi. Oleh karena itu, perlu menerapkan teknologi yang tepat guna yang disertai dengan pemanfaatan lahan dan sumber bahan baku pakan yang efisien, salah satunya melalui optimasi pemanfaatan potensi sumber bahan baku pakan lokal. Pakan lokal adalah setiap bahan baku yang merupakan sumberdaya lokal Indonesia yang berpotensi dimanfaatkan sebagai pakan secara efisien oleh ternak, baik sebagai suplemen, komponen konsentrat atau pakan dasar.

Makanan itik Alabio biasanya terdiri dari ati (galih) pohon rumbia atau sagu yang dicincang, ikan air tawar yang direbus, keong rawa (kalambuai) atau bekicot baik isinya maupun kulitnya yang ditumbuk halus. Bahan makanan lainnya yaitu dedak atau gabah. Sagu cincang mengandung energi metabolisme sekitar 2650 kkal/kg dan protein 1,5%-2,2%, dan dapat digunakan dalam ransum itik sedang bertumbuh hingga 25% (Wasito dan Rohaeni, 1994).

(29)

12

9,5-16,9%, selolusa 5,9-9,0%, asam poliuronat 1,2%, gula bebas 5,5 – 6,9% dan lignin 2,8-3,0%. Dari kandungan ini maka dedak telah banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan seperti sumber minyak, pakan ternak dan bahan makanan.

Keong mas merupakan hama karena menjadi pemakan tanaman padi di areal persawahan. Pemanfaatan keong untuk pakan itik akan mengurangi hama padi. Itik terbukti efektif dalam pengendalian biologis keong. Kepadatan 5-10 ekor penggembalaan itik per ha di areal persawahan, direkomendasikan dalam pengendalian biologis keong (Teo, 2001). Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (2000) keong mas baik digunakan untuk campuran pakan itik, karena hewan air ini banyak mengandung protein dan kalsium. Pemberian dalam bentuk segar dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap ternak karena di dalam lendir keong tersebut terdapat zat anti nutrisi yang dapat menghambat pertumbuhan ternak oleh sebab itu dianjurkan menggunakan keong emas yang sudah direbus, karena zat anti nutrisi yang ada akan berkurang bahkan hilang setelah perebusan selama 15-20 menit.

2.5 Daya Dukung Pakan Ternak

Daya dukung didefinisikan sebagai kemampuan ekosistem untuk menjaga produktivitas, kemampuan adaptasi dan kemampuan memperbaharui (IUCN/UNEP/WWF dalam Thapa et al., 2000). Menurut Rustiadi et al., (2009) daya dukung (carrying capacity) adalah kemampuan dari suatu sistem untuk mendukung (support) suatu aktivitas sampai pada level tertentu. Pada dasarnya terdapat banyak komponen yang akan menentukan daya dukung suatu wilayah, antara lain daya lenting ekosistem (ecosystem resilience), tingkat teknologi, preferensi konsumen, permintaan sumberdaya serta isu-isu distribusi dan pemerataan. Dalam perspektif lingkungan, daya dukung meliputi dua komponen yaitu kapasitas penyediaan (supportive capacity) dan kapasitas tampung (assimilative capacity).

(30)

kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya

.

Evaluasi daya dukung wilayah diperlukan untuk mengelompokkan daya dukung kawasan, sehingga dalam suatu wilayah dapat ditentukan kawasan yang mampu mendukung kegiatan budidaya atau kawasan yang seharusnya berfungsi lindung (Rustiadi, et al., 2009). Penilaian daya dukung sangat penting untuk mengukur batas produktif pada area tertentu. Daya dukung merupakan metode untuk menentukan batas-batas yang berkelanjutan dalam perencanaan penggunaan lahan yang akan datang (Lane, 2010).

Menurut Sukria dan Krisnan (2009) ketersediaan bahan baku pakan yang terjamin dengan harga yang kompetetitif merupakan salah satu pilar usaha produksi ternak. Pemanfaatan sumberdaya lokal secara maksimal merupakan langkah strategis dalam upaya mencapai efisiensi usaha, terlebih apabila sumberdaya tersebut bukan merupakan kebutuhan langsung bagi kompetitor lain, yang dalam hal ini adalah manusia dan jenis ternak lain. Ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan efisiensi dan kompetisi bahan pakan tersebut, yaitu tersedia secara kontinu, murah dan mudah didapat, mempunyai nilai gizi yang cukup, mudah dicerna serta tidak mengganggu kesehatan ternak.

2.6 Evaluasi Kesesuaian Lahan

Evaluasi lahan merupakan proses penilaian potensi suatu lahan untuk penggunaan-penggunaan tertentu dan bagian dari proses perencanaan tataguna lahan. Inti evaluasi lahan adalah membandingkan persyaratan yang diminta oleh tipe penggunaan lahan yang akan diterapkan, dengan sifat-sifat atau kualitas lahan yang dimiliki oleh lahan yang akan digunakan. Hasil evaluasi lahan digambarkan dalam bentuk peta sebagai dasar untuk perencanaan tata guna lahan yang rasional, sehingga tanah dapat digunakan secara optimal dan lestari.

(31)

14

dan komoditas lainnya yang berbasis lahan (peternakan, perikanan dan kehutanan) (Djaenudin et al., 2003).

Menurut Sitorus (1998) evaluasi sumberdaya lahan merupakan proses untuk menduga potensi sumberdaya lahan untuk berbagai penggunaannya. Evaluasi sumberdaya lahan membutuhkan keterangan-keterangan yang menyangkut tiga aspek utama, yaitu lahan, penggunaan lahan dan aspek ekonomis. Manfaat mendasar dari evaluasi sumberdaya lahan adalah menilai kesesuaian lahan bagi penggunaan tertentu serta memprediksi konsekuensi-konsekuensi dari perubahan penggunaan lahan yang akan dilakukan.

Kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk penggunaan tertentu. Kesesuaian lahan tersebut ditinjau dari sifat-sifat fisik lingkungannya yang terdiri dari iklim, tanah, topografi, hidrologi dan atau drainase sesuai untuk usaha tani atau komoditas tertentu yang produktif. Penilaian kesesuaian lahan dilaksanakan dengan cara mencocokkan (matching) data tanah dan fisik lingkungan dengan tabel rating kesesuaian lahan yang telah disusun berdasarkan persyaratan penggunaan lahan mencakup persyaratan tumbuh/hidup komoditas pertanian yang bersangkutan, pengelolaan dan konservasi (Djaenudin et al., 2003).

Hasil penilaian kesesuaian lahan berupa kelas kesesuaian lahan aktual dan kesesuaian lahan potensial. Kesesuaian lahan aktual menyatakan kesesuaian lahan berdasarkan data dari hasil survey tanah atau sumberdaya lahan, belum mempertimbangkan masukan-masukan yang diperlukan untuk mengatasi kendala atau faktor pembatas yang berupa sifat lingkungan fisik termasuk sifat-sifat tanah dalam hubungannya dengan persyaratan tumbuh tanaman yang dievaluasi. Sedangkan kesesuaian lahan potensial menyatakan keadaan lahan yang akan dicapai apabila dilakukan usaha-usaha perbaikan. Usaha perbaikan yang dilakukan harus memperhitungkan aspek ekonomisnya. Kesesuaian lahan potensial merupakan kondisi lahan yang diharapkan dalam rangka pengembangan wilayah pertanian

(

Hardjowigeno dan Widiatmaka, 2007).

2.7 Sektor Basis

(32)

dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah. Kegiatan basis pada dasarnya adalah kegiatan ekspor yaitu semua kegiatan baik penghasil produk maupun penyedia jasa yang mendatangkan uang dari luar wilayah. Lapangan kerja dan pendapatan di sektor basis adalah fungsi dari permintaan yang bersifat

exogenous (tidak tergantung pada kekuatan intern/permintaan lokal). Sedangkan sektor nonbasis adalah untuk memenuhi kebutuhan konsumsi lokal. Karena sifatnya memenuhi kebutuhan lokal, permintaan sektor ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan masyarakat setempat. Dengan demikian, sektor ini terkait terhadap kondisi setempat dan tidak bisa berkembang melebihi pertumbuhan ekonomi wilayah (Tarigan, 2005).

Menurut Rustiadi et al., (2009) sektor ekonomi suatu wilayah dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu sektor basis dimana kelebihan dan kekurangan yang terjadi dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut menyebabkan terjadinya mekanisme ekspor dan impor antar wilayah. Sedangkan sektor nonbasis adalah sektor dengan kegiatan ekonomi yang hanya melayani pasar di daerahnya sendiri dan kapasitas ekspor belum berkembang. Untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan indikasi sektor basis dan nonbasis dapat digunakan metode Location Quotient (LQ), yang merupakan perbandingan relative antara kemampuan sektor yang sama pada daerah yang lebih luas dalam suatu wilayah.

Teknik LQ banyak digunakan untuk membahas kondisi perekonomian, mengarah pada identifikasi spesialisasi kegiatan perekonomian atau mengukur konstentrasi relatif kegiatan ekonomi untuk mendapatkan gambaran dalam penetapan sektor unggulan sebagai leading sector suatu kegiatan ekonomi (industri). Setiap metode analisis memiliki kelebihan dan keterbatasan demikian halnya dengan metode LQ. Kelebihan metode LQ dalam mengindentifikasi komoditas unggulan antara lain penerapannya sederhana, mudah dan tidak memerlukan program pengolahan yang rumit, sedangkan keterbatasannya adalah karena demikian sederhananya pendekatan LQ ini maka yang dituntut adalah akurasi data (Hendayana, 2003).

2.8 SWOT (Strengths Weaknesess Opportunities Threats)

(33)

16

(opportunities) namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats) (Rangkuti, 1997).

Analisis SWOT mempertimbangkan faktor lingkungan internal strength

dan weaknesses serta lingkungan eksternal opportunities dan threats. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang dan ancaman dengan faktor internal kekuatan dan kelemahan sehingga dari analisis tersebut dapat diambil suatu keputusan strategi (Marimin, 2004).

(34)

III. METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten HSU Provinsi Kalimantan Selatan pada bulan September sampai dengan Desember 2010. Lokasi penelitian disajikan pada Gambar 2. Secara geografis Kabupaten HSU terletak pada posisi 2017’-2033’ Lintang Selatan dan 1140 52’- 115024’ Bujur Timur dengan batas-batas sebagai berikut :

- Sebelah Utara : Kabupaten Tabalong dan Provinsi Kalimantan Tengah - Sebelah Timur : Kabupaten Balangan

- Sebelah Selatan : Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan Hulu Sungai Selatan - Sebelah Barat : Kabupaten Barito Selatan (Provinsi Kalimantan Tengah)

3.2 Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan cara :

a. Data sekunder terdiri dari data tabulasi yang diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti Dinas Peternakan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Perikanan, Bappeda, Dinas Kehutanan, Perkebunan dan Pertambangan, Badan Pusat Statistik dan instansi lain yang berkompeten. Sementara peta administrasi dan peta tanah diperoleh dari Bappeda HSU. b. Data primer diperoleh melalui kuesioner dan wawancara dengan

(35)

18

Lokasi Penelitian

(36)

3.3 Analisis Data

(37)

20

Gambar 3 Diagram Alir Penelitian Data karakteristik

kesesuaian lahan

Peta Tanah Peta Administrasi

Peta Kesesuaian lahan

Produksi Pakan Populasi Ternak Itik

Kebutuhan Pakan

- Ketersediaan Pakan - Daya dukung Pakan

Peta Potensi Pengembangan

Arahan Pengembangan

Analisis SWOT Survei Responden

Kelayakan Finansial

Strategi Pengembangan Wilayah

Wilayah Basis Itik (Analisis LQ) Kelas Kesesuaian

Lahan Sagu

Kelas Kesesuaian Lahan Padi Aktual

Kelas Kesesuaian Lahan Padi Potensial Peta Penggunaan

(38)

3.3.1 Analisis Kesesuaian Lahan

Analisis kesesuaian lingkungan ekologis untuk ternak itik dilakukan dengan cara mencari kriteria lingkungan yang cocok untuk pemeliharaan ternak itik. Kriteria lingkungan ekologis ternak itik menggunakan parameter dari studi pustaka dan survey di lapangan.

Penilaian kesesuaian lahan untuk pakan ternak yaitu untuk beberapa jenis pakan yang dominan digunakan pada usaha peternakan itik di Kabupaten HSU dan berpotensi dikembangkan di lokasi penelitian. Pada penelitian ini penilaian kesesuaian lahan dilakukan terhadap tanaman sagu dan padi. Penilaian kesesuaian lahan dengan cara matching antara kualitas/ karakteristik lahan dengan persyaratan tumbuh tanaman. Untuk kriteria syarat tumbuh tanaman sagu diperoleh dari studi pustaka karena belum ada yang membuat kriteria kesesuaian untuk tanaman sagu. Hasil penilaian kesesuaian lahan untuk sagu pada ditetapkan pada tingkat ordo. Ordo merupakan tingkat keadaan kesesuaian secara global. Pada tingkat ordo, kesesuaian lahan dibedakan antara lahan yang tergolong sesuai (S) dan lahan yang tergolong tidak sesuai (N). Adapun kesesuaian lahan untuk padi berdasarkan kriteria kesesuaian lahan untuk tanaman padi sawah lebak mengacu pada kriteria dari Petunjuk Teknis Evaluasi Lahan untuk Komoditas Pertanian Balai Besar Penelitian Tanah Departemen Pertanian. Peta yang digunakan yaitu peta jenis tanah tingkat sub group dengan skala 1 : 50.000 dan peta administrasi skala 1 : 50.000.

3.3.2 Analisis Ketersediaan dan Daya Dukung Pakan

Analisis tingkat ketersediaan pakan ternak dilakukan dengan menghitung ketersediaan pakan ternak aktual dan daya dukung pakan ternak. Daya dukung didefinisikan sebagai kemampuan ekosistem yang dapat menjaga produktivitas, kemampuan adaptasi dan kemampuan memperbaharui (IUCN/UNEF/WWF

(39)

22

Jumlah ternak dengan sumberdaya lahan yang dapat didukung dianggap sebagai daya dukung, yang ditentukan dengan rumus sebagai berikut (Sumanto dan Juarini, 2006).

Indeks ketersediaan dan daya dukung dihitung dengan cara sebagai berikut :

Berdasarkan nilai indeks daya dukung diperoleh kriteria status daya dukung seperti pada tabel 2.

Tabel 2 Kriteria Status Daya Dukung Berdasarkan Indeks Daya Dukung No Indeks daya

dukung Kriteria Keterangan

1 ≤ 1 Sangat kritis - Ternak tidak mempunyai pilihan dalam memanfaatkan sumberdaya yang tersedia - Terjadi pengurasan dalam agroekosistemnya

2 1-1,5 Kritis - Ternak telah mempunyai pilihan untuk memanfaatkan sumberdaya tetapi belum terpenuhi aspek konservasi

3 1,5-2 Rawan - Pengembalian bahan organik ke alam pas-pasan

4 2 Aman - Ketersediaan sumberdaya pakan secara fungsional mencukupi kebutuhan lingkungan secara efisien

Sumber : kriteria Sumanto dan Juarini (2006)

Proyeksi ketersediaan dedak dihitung dari konversi produksi padi dengan asumsi produksi dedak sebesar 10% dari produksi padi (Rahayu, 2008).

3.3.3 Analisis Finansial

(40)

usaha ternak itik. Pendapatan usaha ternak itik merupakan selisih antara total penerimaan dengan total biaya (Soekartawi,1995).

Pdi = TRi - TCi

Yaitu : Pdi = pendapatan usaha ternak itik TRi = penerimaan usaha ternak itik TCi = biaya total usaha ternak itik Dimana i = 1,2,3,4

1 = usaha ternak penetasan itik 2 = usaha ternak pembesaran itik

3 = usaha ternak penghasil telur konsumsi 4 = usaha ternak penghasil telur tetas

Kelayakan usaha ternak itik ditentukan dengan analisis finansial yaitu dengan menghitung NPV (Net Present Value), Net BCR (Net Benefit Cost Ratio), dan IRR (Internal Rate of Return) (Rustiadi, et al., 2009).

a. Net Present Value (NPV)

NPV merupakan nilai sekarang dari suatu usaha dikurangi dengan biaya sekarang dari suatu usaha pada tahun tertentu. NPV menghitung nilai sekarang dari aliran kas yaitu merupakan selisih antara Present Value (PV) manfaat dan Present Value (Biaya).

dimana:

Bt : manfaat yang diperoleh sehubungan dengan suatu usaha atau proyek pada time series (tahun, bulan, dan sebagainya).

Ct : biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan proyek pada time series ke t tidak dilihat apakah biaya tersebut dianggap bersifat modal (pembelian, peralatan, tanah, konstruksi dan sebagainya)

(41)

24

dengan kriteria yaitu:

1). Apabila nilai NPV > 0, maka pengembangan usaha ternak itik layak untuk dikembangkan

2). Apabila NPV = 0, maka pengembangan usaha tersebut tidak untung dan tidak rugi

3). Apabila NPV < 0, maka pengembangan usaha ternak itik tidak layak dikembangkan

b. Net Benefit Cost Ratio (Net BCR)

Net BCR adalah perbandingan antara Present Value manfaat bersih positif dengan Present Value biaya bersih negatif. Dengan demikian Benefit Cost Ratio merupakan tingkat besarnya tambahan manfaat setiap penambahan satu satuan rupiah biaya yang digunakan.

Net BCR dirumuskan sebagai berikut:

atau

Dengan kriteria yaitu:

1) Apabila nilai B/C > 1, maka pengembangan usaha ternak itik layak untuk dikembangkan.

2) Apabila nilai B/C = 1, maka pengembangan usaha ternak Itik Alabio tidak untung dan tidak rugi

3) Apabila nilai B/C < 1, maka pengembangan usaha ternak Itik Alabio tidak layak untuk dikembangkan

c. Internal Rate of Return (IRR)

(42)

yang telah ditetapkan dan pada kondisi sebaliknya maka usaha akan ditolak. (Rustiadi et al., 2009).

Perhitungan IRR

Dimana:

i : tingkat discount rate pada saat NPV positif ii : tingkat discount rate pada saat NPV negatif

NPV’ : nilai NPV positif

NPV” : nilai NPV negatif

3.3.4 Analisis Ekonomi Basis

Untuk mengetahui potensi aktivitas ekonomi yang merupakan indikasi sektor basis dan non basis dapat digunakan metode location quotient (LQ). (Rustiadi, et al., 2009). Pada penelitian ini analisis LQ digunakan untuk menentukan komoditas unggulan berdasarkan jumlah populasi ternak menurut wilayah kecamatan yang ada dalam satu kabupaten.

Nilai LQ diketahui dengan rumus:

Xij = derajat pada wilayah ke-i untuk aktivitas ke-j

Xi. = derajat aktivitas total pada wilayah ke-i

X.j = derajat aktivitas ke-j pada total wilayah

X.. = derajat aktivitas total wilayah

i = wilayah yang diteliti (kecamatan atau kabupaten)

j = aktivitas ekonomi yang dilakukan (komoditas pertanian atau sektor ekonomi)

Hasil perhitungan LQ menghasilkan 3 (tiga) kriteria yaitu:

Apabila LQij > 1; artinya komoditas itu menjadi basis atau menjadi sumber

(43)

26

dapat memenuhi kebutuhan di wilayah bersangkutan akan tetapi juga dapat diekspor ke luar wilayah

Apabila LQij = 1; artinya komoditas itu tergolong non basis, tidak memiliki

keunggulan komparatif. Produksinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan wilayah sendiri dan tidak mampu untuk diekspor,

Apabila LQij < 1; artinya komoditas ini termasuk non basis. Produksi komoditas di

suatu wilayah tidak dapat memenuhi kebutuhan sendiri sehingga perlu pasokan atau impor dari luar.

3.3.5 Arahan Pengembangan Peternakan Itik

Arahan pengembangan ternak itik dilakukan berdasarkan wilayah potensi pengembangan yang ditentukan dari luas lahan potensial padi dan lahan potensial sagu, indeks daya dukung pakan dedak padi, sagu dan wilayah basis.

Berdasarkan wilayah potensial tersebut diperoleh wilayah yang memiliki status daya dukung aman/rawan/kritis/sangat kritis dan wilayah basis atau non basis. Arahan pengembangan peternakan itik berdasarkan status daya dukung dan wilayah basis.

3.3.6 Analisis SWOT

Analisis SWOT dilakukan untuk menyusun strategi pengembangan wilayah berbasis peternakan itik. Analisis Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan dan peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman. Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal (peluang dan ancaman) dengan faktor internal (kekuatan dan kelemahan) (Rangkuti, 1997).

Menurut Marimin (2004) proses yang dilakukan dalam pembuatan analisis SWOT agar keputusan yang diperoleh lebih tepat melalui berbagai tahapan sebagai berikut:

1. Tahap pengambilan data yaitu evaluasi faktor internal dan eksternal 2. Tahap analisis yaitu pembuatan matriks SWOT

(44)

Tahapan pengambilan data yaitu evaluasi faktor eksternal dan internal a. Faktor Strategi Internal

Faktor strategi internal ditentukan dengan cara membuat daftar kekuatan dan kelemahan, kemudian diberi bobot masing-masing faktor mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting). Selanjutnya menghitung rating masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 1 sampai dengan 4. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik), sedangkan variabel yang bersifat negatif kebalikannya. Selanjutnya untuk menentukan skor pembobotan dengan mengalikan bobot dengan rating. b. Faktor Strategi Eksternal

Faktor strategi eksternal ditentukan dengan cara membuat daftar peluang dan ancaman, kemudian diberi bobot masing-masing faktor mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting). Selanjutnya menghitung rating masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 1 sampai dengan 4 (1 = jawaban jelek, 2 = jawaban rata, 3 = jawaban di atas rata-rata, 4 = jawaban superior), selanjutnya untuk menentukan skor pembobotan dengan mengalikan bobot dengan rating.

(45)

IV. KEADAAN UMUM DAERAH PENELITIAN

4.1 Geografi

Kabupaten HSU memiliki luas wilayah seluruhnya 913,5 km persegi atau hanya 2,38 % dari luas Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten HSU terletak pada koordinat 2 17’-2 33’ Lintang Selatan dan 114 52’-115 24’ Bujur Timur (BPS HSU, 2009). Adapun batas-batas wilayahnya adalah sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kabupaten Tabalong; sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Hulu Sungai Selatan dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah; sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Balangan; dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Barito Selatan Provinsi Kalimantan Tengah.

Kabupaten HSU dengan ibukota Amuntai terbagi dalam 10 kecamatan, 219 desa dan 5 kelurahan. Berikut adalah kecamatan yang berada dalam wilayah administrasi Kabupaten HSU (Tabel 4).

Tabel 4 Kecamatan dalam Wilayah Administrasi Kabupaten HSU

No Kecamatan Ibukota Kecamatan Jumlah Desa/

(46)

4.2 Fisik Wilayah

4.2.1 Topografi

Kabupaten HSU merupakan wilayah yang terdiri dari dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 – 25 m dari permukaan laut. Sejak pemekaran dengan Kabupaten Balangan pada tahun 2003, daerah yang tersisa dari pemekaran wilayah adalah daerah yang didominasi oleh lahan rawa baik yang tergenang secara permanen maupun tergenang secara periodik.

Dari kisaran ketinggian dari permukaan laut tersebut, luasan yang terbesar adalah yang berkisar antara 0-7 m di atas permukaan laut dengan luasan sekitar 91.050 ha. Sekitar 300 ha berada di ketinggian 7-25 m yaitu di Kecamatan Banjang dan Amuntai Utara.

Seluruh wilayah Kabupaten HSU mempunyai kelerengan antara 0 – 2 %. Dengan demikian Kabupaten HSU mempunyai lahan yang landai pada seluruh wilayahnya.

Gambar 4 Lahan Rawa di Kabupaten HSU.

4.2.2 Tanah

(47)

31

Secara keseluruhan jenis tanah yang dominan ditemukan di kabupaten HSU adalah alluvial yakni seluas 55.940 ha (61,24%). Jenis tanah alluvial ini terdapat pada seluruh kecamatan yang ada dan yang terluas di kecamatan Danau Panggang seluas 19.182 ha. Pada kecamatan lainnya juga umumnya didominasi oleh jenis tanah ini dibandingkan dengan jenis tanah lainnya.

Jenis tanah lainnya yang agak dominan selain alluvial adalah organosol gleihumus yang terdapat di kecamatan Amuntai Utara seluas 595 ha, Amuntai Selatan seluas 10.920 ha dan Danau Panggang dengan luas persebaran 18.880 ha. Untuk jenis tanah kompleks podsolik merah kuning dan latosol hanya terdapat di kecamatan Amuntai Utara seluas 605 ha, dan jenis tanah podsolik merah kuning terdapat hanya di Amuntai Tengah dengan luas 2.330 ha.

4.2.3 Hidrologi dan Drainase

(48)

digunakan sebagai sumber air bersih untuk keperluan pertanian dan peternakan. Sungai-sungai besar yang mempunyai potensi dan peranan yang cukup besar bagi masyarakat yaitu Sungai Tabalong (mengalir dari arah Kabupaten Tabalong), Sungai Balangan (mengalir dari arah Kabupaten Balangan) dan Sungai Nagara serta sungai-sungai kecil lainnya.

Drainase tanah di Kabupaten HSU terdiri dari tiga kelas, yaitu tidak pernah tergenang (A), tergenang periodik (B), dan tergenang terus-menerus (C). Kondisi daerah yang dominan adalah tergenang secara periodik, yang mencapai luas 89.696 ha atau mencapai 98 % dari total luas wilayah. Kondisi drainase lahan pada setiap kecamatan di Kabupaten HSU disajikan pada Tabel 6.

(49)

33

4.2.4 Penggunaan Lahan

Berdasarkan data dari BPS Kabupaten HSU Tahun 2009 luas penggunaan lahan di wilayah Kabupaten HSU untuk kampung/pemukiman seluas 4.285 ha, sawah seluas 25.492 ha, kebun campuran seluas 5.051 ha, hutan rawa seluas 29.711 ha, rumput rawa seluas 23.095 ha. Secara jelasnya pemanfaatan lahan pada masing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten HSU dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7 Luas Penggunaan Lahan pada Setiap Kecamatan

Kecamatan

Berdasarkan data dari BPS Kabupaten HSU tahun 2009, jumlah penduduk di Kabupaten HSU berjumlah 216.181 jiwa yang tersebar pada 10 kecamatan, 219 desa/kelurahan dan terdiri dari 53.679 rumah tangga. Komposisi penduduk menurut jenis kelamin pada tahun 2009 terbanyak adalah penduduk perempuan yaitu 108.631 jiwa, sisanya laki-laki sebanyak 107.324 jiwa.

(50)

banyaknya penduduk yang bermukim di daerah ini. Kecamatan Sungai Pandan merupakan kecamatan berpenduduk padat kedua dengan jumlah penduduk sebesar 26.822 jiwa dan diikuti Kecamatan Amuntai Selatan sebanyak 26.545 jiwa. Kecamatan yang jumlah penduduknya paling sedikit yaitu Kecamatan Paminggir berjumlah 7.165 jiwa. Dari total luas wilayah di Kabupaten HSU, maka terdapat kepadatan penduduk rata-rata per km2 adalah sebesar 236 jiwa. Komposisi umur penduduk didominasi oleh penduduk usia dewasa yaitu sekitar 60% yang berumur 15-55 tahun. Dengan demikian menunjukkan besarnya angkatan kerja yang memerlukan lapangan pekerjaan.

Tabel 8 Jumlah Rumah Tangga dan Penduduk Kabupaten HSU

Kecamatan Rumah

(51)

35

nominal PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 maka pada tahun 2006, mencapai 700,96 milyar rupiah, meningkat pada tahun 2007 menjadi 735,48 milyar rupiah dan pada akhirnya tahun tahun 2008 meningkat menjadi 768,87 milyar rupiah.

Gambar 5 Grafik Nilai PDRB Kabupaten HSU Tahun 2006-2008.

Pada gambar di atas dapat dilihat nilai nominal PDRB selalu mengalami kenaikan baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan. Ini menunjukkan bahwa kinerja ekonomi di Kabupaten HSU terus menunjukkan situasi yang membaik.

Tabel 9 Pertumbuhan PDRB Kabupaten HSU Tahun 2006-2008

Tahun Harga Berlaku Harga Konstan

(ribuan rupiah) Pertumbuhan (ribuan rupiah) Pertumbuhan

2006 951.218.420 8,06% 700.956.621 4,06%

2007 1.026.829.221 7,95% 735.480.562 4,93%

2008 1.116.771.462 8,76% 768.866.102 4,54%

Sumber data : BPS Kab. HSU, (2009)

Pertumbuhan perekonomian Kabupaten HSU selama kurun waktu tahun 2006-2008 mengalami peningkatan besarannya pada kisaran lebih dari 4 %. Kinerja perekonomian ini dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi atas dasar harga konstan.

(52)

berkurangnya potensi perekonomian sejak sebagian wilayah kabupaten ini dipecah menjadi Kabupaten Balangan. Sebagian besar wilayah yang memiliki potensi pertambangan dan pertanian di Kabupaten HSU menjadi bagian wilayah Kabupaten Balangan.

Tabel 10 PDRB Kabupaten HSU Tahun 2008 Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Ribuan Rupiah)

SEKTOR 2008 %

I PERTANIAN 257.180.204 33,45

a. Tanaman Bahan Makanan 121.904.043 47,40

b. Tanaman Perkebunan 12.266.579 4,77

c. Peternakan dan Hasilnya 52.290.401 20,33

d. Kehutanan 1.795.089 0,70

e. Perikanan 68.924.092 26,80

II PERTAMBANGAN DAN

PENGGALIAN 115.102 0,02

III INDUSTRI PENGOLAHAN 80.055.090 10,41

IV LISTRIK DAN AIR MINUM 4.175.393 0,54

V BANGUNAN 48.081.208 6,25

VI PERDAGANGAN, RESTORAN DAN

PERHOTELAN 151.288.577 19,68

VII PENGANGKUTAN DAN

KOMUNIKASI 55.202.391 7,18

VIII BANK DAN LEMBAGA KEUANGAN

LAINNYA 31.733.174 4,13

IX JASA-JASA 140.994.963 18,34

JUMLAH 768.866.102 100,00

Sumber data : BPS Kab. HSU, (2009)

(53)

37

Peranan sektor pertanian di Kabupaten HSU sangat tergantung pada alam, karena sebagian besar lahan pertaniannya adalah lahan rawa. Kontribusi sektor pertanian ini terutama berasal dari sub sektor tanaman bahan makanan, perikanan, peternakan, perkebunan dan kehutan. Peranan masing-masing subsektor dapat digambarkan pada grafik di bawah ini.

Gambar 6. Grafik Peranan masing-masing subsektor pada sektor pertanian PDRB Tahun 2008 Atas Dasar Harga Konstan 2000.

Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa subsektor peternakan mempunyai peranan cukup penting setelah subsektor tanaman bahan makanan dan perikanan dengan kontribusi 20,33%.

Sektor perdagangan yang utama adalah kerajinan dan industri kecil yaitu kerajinan anyaman purun, meubel rotan, dan kerajinan lampit rotan. Berdagang merupakan salah satu karakteristik masyarakat HSU yang diwariskan secara turun temurun.

4.5 Peternakan

Figur

Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian Kabupaten HSU

Gambar 2

Peta Lokasi Penelitian Kabupaten HSU p.35
Tabel 1 Tujuan, Analisis, Data, dan Keluaran

Tabel 1

Tujuan, Analisis, Data, dan Keluaran p.36
Gambar 3 Diagram Alir Penelitian

Gambar 3

Diagram Alir Penelitian p.37
Tabel 4 Kecamatan dalam Wilayah Administrasi Kabupaten HSU

Tabel 4

Kecamatan dalam Wilayah Administrasi Kabupaten HSU p.45
Tabel 7  Luas Penggunaan Lahan pada Setiap Kecamatan

Tabel 7

Luas Penggunaan Lahan pada Setiap Kecamatan p.49
Tabel 10 PDRB Kabupaten HSU Tahun 2008 Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Ribuan Rupiah)

Tabel 10

PDRB Kabupaten HSU Tahun 2008 Atas Dasar Harga Konstan 2000 (Ribuan Rupiah) p.52
Tabel 12 Luas Kesesuaian Lahan Padi Aktual di Kabupaten HSU

Tabel 12

Luas Kesesuaian Lahan Padi Aktual di Kabupaten HSU p.63
Gambar 10  Peta Kesesuaian Lahan Aktual Padi Kab. HSU

Gambar 10

Peta Kesesuaian Lahan Aktual Padi Kab. HSU p.64
Gambar 11  Peta Kesesuaian Lahan Potensial Padi Kab. HSU

Gambar 11

Peta Kesesuaian Lahan Potensial Padi Kab. HSU p.65
Tabel 13  Luas Kesesuaian Lahan Padi Potensial di Kabupaten HSU

Tabel 13

Luas Kesesuaian Lahan Padi Potensial di Kabupaten HSU p.66
Tabel 15 Potensi Pengembangan Sagu

Tabel 15

Potensi Pengembangan Sagu p.68
Gambar 14  Peta Potensi Pengembangan Sagu di Kab. HSU

Gambar 14

Peta Potensi Pengembangan Sagu di Kab. HSU p.69
Gambar 15  Peta Potensi Pengembangan Padi di Kab. HSU

Gambar 15

Peta Potensi Pengembangan Padi di Kab. HSU p.71
Gambar 16  Peta Potensi Pengembangan Padi dan Sagu di Kab. HSU

Gambar 16

Peta Potensi Pengembangan Padi dan Sagu di Kab. HSU p.73
Tabel 18 Ketersediaan Pakan Dedak

Tabel 18

Ketersediaan Pakan Dedak p.75
Gambar 17 Pohon Sagu yang Tumbuh di Rawa-Rawa

Gambar 17

Pohon Sagu yang Tumbuh di Rawa-Rawa p.76
Tabel 23  Daya Dukung Pakan Dedak dan Sagu berdasarkan Potensi Pengembangan Padi dan Sagu

Tabel 23

Daya Dukung Pakan Dedak dan Sagu berdasarkan Potensi Pengembangan Padi dan Sagu p.79
Tabel 24 Proyeksi Daya Dukung Pakan Dedak dan Sagu pada Populasi Itik Tahun 2020 berdasarkan Potensi Pengembangan Padi dan Sagu

Tabel 24

Proyeksi Daya Dukung Pakan Dedak dan Sagu pada Populasi Itik Tahun 2020 berdasarkan Potensi Pengembangan Padi dan Sagu p.80
Gambar  19    Peta Pewilayahan Basis Komoditas Ternak Itik di. Kab. HSU

Gambar 19

Peta Pewilayahan Basis Komoditas Ternak Itik di. Kab. HSU p.87
Tabel 31 Potensi Pengembangan Ternak Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan

Tabel 31

Potensi Pengembangan Ternak Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan p.89
Tabel 32  Potensi Pengembangan Ternak Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan

Tabel 32

Potensi Pengembangan Ternak Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan p.90
Gambar  20 Peta Arahan Pengembangan Peternakan Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan Padi

Gambar 20

Peta Arahan Pengembangan Peternakan Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan Padi p.91
Gambar  21 Peta Arahan Pengembangan Peternakan Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan                     Sagu dan Wilayah Basis

Gambar 21

Peta Arahan Pengembangan Peternakan Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan Sagu dan Wilayah Basis p.92
Gambar  22 Peta Arahan Pengembangan Peternakan Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan Padi

Gambar 22

Peta Arahan Pengembangan Peternakan Itik Berdasarkan Potensi Pengembangan Padi p.93
Tabel 33 Matriks IFE Pengembangan Peternakan Itik di Kabupaten HSU

Tabel 33

Matriks IFE Pengembangan Peternakan Itik di Kabupaten HSU p.101
Tabel 34 Matrik EFE Pengembangan Peternakan Itik di Kabupaten HSU

Tabel 34

Matrik EFE Pengembangan Peternakan Itik di Kabupaten HSU p.103
Gambar 1. Kerangka Pemikiran Penelitian

Gambar 1.

Kerangka Pemikiran Penelitian p.130
Gambar 2 Peta Lokasi Penelitian Kabupaten HSU

Gambar 2

Peta Lokasi Penelitian Kabupaten HSU p.142
Tabel 1 Tujuan, Analisis, Data, dan Keluaran

Tabel 1

Tujuan, Analisis, Data, dan Keluaran p.143
Gambar 3 Diagram Alir Penelitian

Gambar 3

Diagram Alir Penelitian p.144

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Latar Belakang Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Perumusan Masalah Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Kerangka Pemikiran Pengembangan Wilayah Pengembangan Peternakan Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Ternak Itik Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Pakan Ternak Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Daya Dukung Pakan Ternak Evaluasi Kesesuaian Lahan Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Sektor Basis Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Lokasi dan Waktu Penelitian Pengumpulan Data Analisis Data Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Geografi Fisik Wilayah .1 Topografi Penduduk Ekonomi Wilayah Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Peternakan Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Kesesuaian Lingkungan Ekologis Ternak Itik Kesesuaian Lahan Pakan Ternak Itik .1 Kesesuaian Lahan untuk Sagu Penggunaan Lahan Eksisting Potensi Pengembangan Sagu Potensi Pengembangan Padi Potensi Pengembangan Padi dan Sagu Ketersediaan dan Daya Dukung Pakan Ternak Pendapatan a. Usaha Penetasan Ternak Itik Usaha Pembesaran Ternak Itik Usaha Penghasil Telur Konsumsi Usaha Penghasil Telur Tetas Kelayakan Finansial a. Usaha Ternak Penetasan Itik Usaha Pembesaran Ternak Itik Usaha Penghasil Telur Konsumsi Usaha Penghasil Telur Tetas Ekonomi Basis Arahan Pengembangan Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Strategi Pengembangan Faktor Kekuatan Faktor Kelemahan Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Peluang Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Ancaman Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province) Prioritas Strategi Pengembangan Regional development strategy based on duck farming (Case Study in Hulu Sungai Utara District Kalimantan Selatan Province)