Contoh Skripsi(EFEKTIVITAS PENGGUNAAN MODEL PERENCANAAN PEMBELAJARAN KEMP DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS Xc MAN I MAKASSAR)
5:12 PM ichal pratama No comments
BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan memegang peranan penting dalam mempersiapkan
sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, pendidikan
hendaknya dikelola, baik secara kualitas maupun kuantitas. Hal tersebut
bisa tercapai bila pelajar dapat menyelesaikan pendidikan tepat pada
waktunya dengan hasil belajar yang baik. Hasil belajar seseorang
ditentukan oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Salah satu
memberi kemudahan bagi individu untuk mempelajarinya, sehingga
menghasilkan belajar yang lebih baik. Selain itu juga gaya belajar atau
learning style adalah suatu karakteristik kognitif, afektif dan perilaku
psikomotoris.
Peranan pendidikan dalam kemajuan suatu bangsa dan masyarakat
merupakan suatu keniscayaan. Karena pendidikan termasuk investasi
jangka panjang yang harus selalu ditingkatkan mutunya. Jika mutu
pendidikan rendah, akan berdampak pada ketidaktepatan investasi
pendidikan, bahkan dapat pula menimbulkan masalah sosial baru ke
depannya.
Berkembangnya Realistic Mathematics Education di Belanda
mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan terhadap penggunaan
buku teks matematika. Dengan dimunculkannya Curriculum and
Evaluation Standars for School Mathematics oleh NTCM, buku-buku
teks di Amerika ikut memuat gagasan-gagasan tentang pembelajaran
matematika sebagaimana yang disarankan dalam standar tersebut. Dalam
dua contoh pembelajaran matematika ini, matematika harus selalu
pemecahan masalah sebagai bagian dari pembelajaran untuk memberikan
kesempatan kepada siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan mereka
serta mengembangkan potensi mereka.
Di Indonesia peningkatan kualitas pembelajaran matematika juga
sangat diharapkan, hal ini mengacu pada standar proses yang ada dalam
Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 yang mengemukakan
bahwa:
Standar proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi
peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat,
minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik.
Mata pelajaran matematika yang diajarkan di sekolah merupakan
salah satu bidang studi pokok. Tinggi rendahnya derajat kemampuan
seseorang siswa dalam menguasai matematika, akan sangat berpengaruh
Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang paling tidak
disukai oleh anak-anak. Kenyataan di lapangan membuktikan cukup
banyak siswa yang tidak suka bahkan membenci mata pelajaran
matematika. Dalam benak mereka matematika merupakan mata pelajaran
yang sangat sulit untuk dimengerti bahkan membosankan.
Hal di atas menjadi dilema bagi para pendidik, karena matematika
merupakan salah satu pengetahuan untuk sains dan teknologi yang sangat
perlu bagi kelanjutan pembangunan. Apalagi dalam memasuki abad ke
-21 yang ditandai dengan kemajuan dalam perkembangan IPTEK,
pengetahuan siap dan kepiawaian berpikir logis yang dikembangkan
dalam Pelajaran Matematika sangat diperlukan. Berangkat dari
keprihatinan tersebut, penulis tertarik untuk membahas perencanaan
pengajaran Model Kemp sebagai salah satu dari sekian banyak model
perencanaan pembelajaran yang ada dalam dunia pendidikan di
Indonesia. Mengingat perencanaan pengajaran di Indonesia merupakan
suatu proses penyusunan alternatif kebijaksanaan mengatasi masalah
yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan
merupakan alat yang dapat membantu para pengelola pendidikan
khususnya guru untuk lebih menjadi berdaya guna dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya.
Perencanaan dapat menolong pencapaian suatu sasaran secara
lebih ekonomis, tepat waktu dan memberi peluang untuk lebih mudah
dikontrol dan dimonitor dalam pelaksanaannya. Perencanaan dapat
membantu, akan tetapi perencanaan itu sendiri harus dipakai dalam suatu
kombinasi yang harmonis dengan alat-alat yang lainnya seperti misalnya
pengawasan dan evaluasi dalam proses belajar mengajar. Berdasarkan
uraian di atas, maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah tersebut
sebagai bahan penelitian dengan judul: “Efektivitas Penggunaan Model
Perencanaan Pembelajaran Kemp dalam Pembelajaran Matematika Siswa
Kelas Xc MAN I Makassar”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pelaksanaan model perencanaan pembelajaran Kemp dalam
2. Bagaimana pembelajaran matematika Siswa Kelas Xc MAN I Makassar?
3. Apakah model perencanaan pembelajaran Kemp efektif diterapkan
dalam pembelajaran matematika Siswa Kelas X MAN I Makassar?
C. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka
hipotesis penelitian ini adalah : “Model perencanaan pembelajaran Kemp
efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika Siswa Kelas X MAN
I Makassar”.
D. Definisi Operasional Variabel
Definisi operasional variabel dimaksudkan untuk memberikan
gambaran yang jelas tentang variabel-variabel yang diperhatikan.
Definisi operasional variabel dalam penelitian ini diuraikan sebagai
berikut:
1. Model Perencanaan Pembelajaran Kemp
Model perencanaan pembelajaran Kemp adalah kerangka
konseptual yang digunakan sebagai pedoman atau rujukan dalam
melakukan kegiatan proses belajar mengajar, yang terdiri atas beberapa
objevtives, Subject Content, Pre Assesment, Teaching Learning Activities
Resources, Support services, dan Evaluation.
2. Pembelajaran Matematika
Belajar adalah suatu proses yang terjadi yang dilakukan dengan
sadar karena adanya usaha untuk mengadakan perubahan terhadap diri
manusia yang melakukannya dengan maksud untuk mendapatkan
perubahan dalam dirinya berupa perubahan pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai
komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen
tersebut meliputi: tujuan/kompetensi, materi, metode dan evaluasi.
Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru
dalam memilih atau menentukan pendekatan dan model pembelajaran.
Jadi, pembelajaran matematika adalah suatu proses yang dilakukan
untuk dapat meningkatkan kemampuan prestasi belajar siswa pada
pelajaran matematika dengan sistematis.
E. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
a) Untuk mengetahui pelaksanaan model perencanaan pembelajaran Kemp
dalam pembelajaran matematika Siswa Kelas Xc MAN I Makasssar.
b) Untuk mengetahui bagaimana pembelajaran matematika Siswa Kelas Xc
MAN I Makassar.
c) Untuk mengetahui efektivitas model perencanaan pembelajaran Kemp
dalam pembelajaran matematika Siswa Kelas Xc MAN I Makassar.
2. Manfaat Penelitian
a) Mengaktifkan siswa dalam proses belajar mengajar serta mengatasi
kesulitan guru dan siswa dalam proses pembelajaran.
b) Menambah wawasan guru dan siswa tentang pembelajaran matematika
yang menggunakan model perencanaan pembelajaran Kemp.
F. Garis Besar Isi
Untuk mengetahui secara umum dari pembahasan ini, maka
penulis terlebih dahulu mengemukakan sistematika umum yang termuat
dalam tiap-tiap bab dari skripsi ini sebagai berikut:
Bab pertama, Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang,
Rumusan Masalah yang terdiri dari Bagaimana pelaksanaan model
Kelas Xc MAN I Makassar?, Bagaimana pembelajaran matematika
Siswa Kelas X MAN I Makassar? Apakah model perencanaan
pembelajaran Kemp efektif dalam pembelajaran matematika Siswa Kelas
Xc MAN I Makassar?. Hipotesis, Pengertian Operasional Variabel,
Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Garis Besar Isi.
Bab kedua, Tinjauan Pustaka yang terdiri dari: Model Perencanaan
Pembelajaran Kemp, Pembelajaran Matematika, dan Efektivitas Model
Perencanaan Pembelajaran Kemp.
Bab ketiga, Metode Penelitian yang meliputi : Variabel dan Desain
Penelitian, Definisi Operasional variabel, Populasi dan Sampel,
Instrumen Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, dan Teknik Analisis
Data.
Bab keempat, Hasil Penelitian dan Pembahasan yang terdiri dari :
Deskripsi pelaksanaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp dalam
pembelajaran matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar, Deskripsi
hasil pembelajaran matematika siswa kelas XI MAN I Makassar dengan
Penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp Dalam
Pembelajaran matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Model Perencanaan Pembelajaran Kemp
a. Pengertian Perencanaan Pembelajaran
Di dalam ilmu manajemen pendidikan atau ilmu administrasi
pendidikan, perencanaan disebut dengan istilah planning yaitu "persiapan
menyusun suatu keputusan berupa langkah-langkah penyelesaian suatu
masalah atau pelaksanaan suatu pekerjaan yang terarah pada pencapaian
Perencanaan adalah proses yang sistematis dalam pengambilan
keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan
datang.[2]
Dengan demikian, desain atau perencanaan adalah suatu pemikiran
atau persiapan untuk melaksanakan suatu pekerjaan atau untuk
mengambil suatu keputusan terhadap apa yang akan dilaksanakan oleh
seseorang untuk mencapai tujuan tertentu sesuai dengan yang telah
ditetapkan dengan melalui prosedur yang sistematis dan memperhatikan
prinsip-prinsip pelaksanaan tugas atau pekerjaan tersebut.
Pembelajaran merupakan suatu sistem, yang terdiri dari berbagai
komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain. Komponen
tersebut meliputi: tujuan/kompetensi, materi, metode dan evaluasi.[3]
Keempat komponen pembelajaran tersebut harus diperhatikan oleh guru
dalam memilih atau menentukan pendekatan dan model pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran merupakan proses penyusunan materi
pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan
dilaksanakan pada masa tertentu untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan.
Sembilan elemen yang harus diperhatikan untuk sebuah rencana
pengembangan pembelajaran menyeluruh, yaitu :
1) Kenali masalah pembelajaran dan tentukan tujuan untuk merancang
sebuah prgram pembelajaran.
2) Periksa karakteristik pelajar karena akan berdampak pada keputusan
pembelajaran.
3) Kenali isi materi dan analisa komponen tugas yang terkait pada tujuan.
4) Titian tujuan pembelajaran.
5) Urutkan isi dalam setiap unit pembelajaran agar logis.
6) Rancang strategi pembelajaran sehingga tiap siswa dapat menguasai
tujuan.
7) Rencanakan pesan pembelajaran & kembangkan pengajaran.
8) Kembangkan alat/ cara evaluasi untuk menentukan tujuan, dan
9) Pilih sumber yang mendukung pengajaran dan aktifitas belajar.
Tujuan perencanaan pembelajaran juga memiliki keuntungan dan
1) Kelebihan
a. Kerangka dari beberapa tujuan program pembelajaran dibuat atas
kompetensi dasar
b. Tujuan menginformasikan siswa apa yang akan dituntut atau diminta dari
mereka.
c. Tujuan membantu perancang program pembelajaran untuk berpikir
secara jelas dan mengatur serta mengurutkan seuatu
d. Tujuan mengidentifikasi tipe dan meningkatkan aktivitas yang
diperlukan untuk menyukseskan pembelajaran.
e. Tujuan menyediakan dasar pengevaluasian dengan pembelajaran siswa.
f. Tujuan menyediakan sesuatu yang baik untuk berkomunikasi.
2) Kelemahan
a. Hampir semua tujuan berhubungan dengan tingkat kognitif yang rendah
b. Prosedur digunakan untuk menetapkan penerapan tujuan yang baik
untuk kognitif dan psikomotor namun afektif tidak demikian.
c. Pada saat tujuan boleh jadi digunakan dalam pembelajaran yang
sains, mereka dibatasi menggunakan sesuatu yang erat dengan
kemanusiaan seperti seni, ilmu sosial dan lain sebagainya.
d. Guru tidak dapat menentukan semua dampak kemajuan dari program
pembelajaran.
e. Membuat pembelajaran terlalu bersifat mekanik dan perorangan.
Dalam perkembangan selanjutnya ada tiga alternatif pembelajaran
yang memiliki kelebihan jika dibanding dengan alternatif lainnya. Tiga
alternatif itu adalah group presentation, individualized learning, dan
interaction between teacher and student. Ada beberapa alasan yang
mendasari ketiga alternatif pembelajaran di atas. Bentuk pembelajaran di
atas dinilai lebih efisien dan efektif karena dengan melakukan presentasi
proses penyampaian informasi lebih bersifat massif. Selain itu setiap
siswa memiliki kondisi poercepatan pemahaman yang berbeda dalam
memahami suatu materi.
a. Group Presentation
Pada kegiatan ini guru atau siswa melakukan sebuah presentasi
untuk menyampaikan sebuah materi. Kegiatan seperti ini harus ditunjang
pelaksanaannya penyaji dapat menggunakan alat bantu untuk
menyampaikan presentasinya, alat itu dapat berupa media audio, visual,
atau audio visual. Ada tiga karakter manusia yang akan ditunjukkan oleh
siswa dalam kegiatan ini. Karakter pertama adalah siswa yang aktif
berinteraksi. Siswa akan aktif dalam kegiatan diskusi, ia akan
berpendapat, bahkan tetap berkonsultasi dengan penyaji setelah
kegiatannya selesai. Tipe kedua adalah siswa yang hanya bekerja di
tempat duduknya. Dan karakter ketiga adalah siswa yang bersifat kritis
pada setiap materi yang disampaikan oleh penyaji dan biasanya
keikutsertaannya lebih cenderung ke arah banyak bertanya.
b. Individualized Learning
Yang melatar belakangi konsep ini adalah bahwa setiap orang
memiliki tingkat kecerdasan dan percepatan pemahaman yang berbeda.
Selain itu setiap siswa juga memiliki pola pikir dan cara belajar yang
berbeda. Untuk itu, guru harus dapat mendesain jenis pembelajaran yang
sesuai dengan keadaan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa. Istilah
independent study, individualized prescribed instruction, dan self
directed atau self-paced learning.
c. Interaction between Teacher and Students
Format pembelajaran seperti ini adalah pembentukan kelompok –
kelompok kecil. Dalam kelompok itu guru dan siswa melakukan diskusi
dan saling bertukar pikiran sehingga dapat terjadi proses mengambil
pelajaran dari peserta lainnya dengan metode ini juga setiap peserta akan
dapat saling memahami karakter satu sama lain.
Agar memperoleh hasil yang maksimal, maka anggota kelompok
ini harus dibatasi. Kelompok ini terdiri dari tujuh sampai 12 orang. Ada
beberapa kelebihan yang dapat diambil dari model ini. Dengan model ini
para peserta akan terlatih dalam kemampuan mendengar dan berbicara.
Hal ini terlatih ketika mereka tengah menyampaikan pendapat. Selain itu,
bentuk ini juga melatih kepemimpinan.
b. Model perencanaan pembelajaran Kemp
Perencanaan pembelajaran model Kemp yang biasa juga disebut
dengan model pengembangan instruksional Kemp memiliki beberapa
bisa langsung diterapkan dalam proses pembelajaran. Kedelapan langkah
itu dikemukakan dalam Instructional Design A Plan for Unit and Course
Development, sebagai berikut:
Pada kemp ini dapat digunakan pada level SD sampai dengan
Perguruan Tinggi. Dan menurut pola kemp itu pada dasarnya dibuat
untuk menjawab pertanyaan mengenai tiga keputusan berpikir yaitu: Apa
yang harus dipelajari (tujuan), prosedur dan sumber apa yang sebaiknya
ada supaya tercapai tingkat belajar yang dikehendaki (aktivitas dan
sumber), dan bagaimana mengetahui bahwa belajar telah berlangsung
(evaluasi).
Langkah-langkah pengembangan instruksional yaitu:
1) Menentukan Tujuan Umum (General Purposes)
TU merupakan tujuan yang ingin dicapai untuk masing-masing
pokok pembahasan. Dalam pembelajaran TU ditentukan agar
pembelajaran menjadi lebih terarah.
Tujuan di perlukan agar hasil perencanaan nantinya dapat
mengembangkan kompetensi yang akan menolong pelajar agar dapat
mengenal perubahan dalam kebutuhan pelajar dan keterkaitannya dengan
apa yang seharusnya diberikan pada siswa. Semua program pembelajaran
hendaknya didasarkan pada pengembangan tujuan dan tujuan-tujuan itu
dapat diambil dari tiga sumber yaitu masyarakat, pelajar itu sendiri, dan
kawasan pembelajaran. Sebenarnya, tujuan-tujuan itu terdiri atas filsafat
dan dari pertimbangan etika serta tuntutan dari masyarakat yang
menghendaki hasil (output) pembelajaran tersebut.
Sebuah perencanaan mesti menentukan topik utama. Topik tersebut
akan menjadi cakupan program pembelajaran yang dibuat. Topik
biasanya disusun secara logis, paling simpel, dan konkret sehingga orang
dapat lansung melihat gambaran dari rencana program pembelajaran
tersebut. Topik dapat disusun berdasarkan pengalaman yang didapat atau
pemikiran yang menjadi dasar sesuatu yang akan dibuat.
Ketika tim pembelajaran untuk kali pertama menentukan tujuan
umum, banyak dari mereka yang menggunakan istilah-istilah penting
sebagai penunjang atau penggambaran topik agar dapat memahami
Berikut beberapa pernyataan dari tujuan umum yang biasanya
digunakan untuk menggambarkan topik:
a. Untuk memperoleh kemampuan apa
b. Untuk menilai
c. Untuk menjadi tahu akan
d. Untuk menjadi akrab dengan
e. Untuk dikenalkan pada
f. Untuk percaya dalam
g. Untuk memahami
h. Untuk memutuskan
i. Untuk menikmati
j. Untuk mengetahui arti dari
k. Untuk memiliki perasaan pada
l. Untuk mengenali
m. Untuk belajar
n. Untuk meniru
o. Untuk menguasai
q. Untuk mengerti
r. Untuk menggunakan
Jadi perencanaan pembelajaran sering dimulai dengan pernyataan
yang berorientasikan pada tujuan umum bagi topik yang telah ada
sebelumnya.
2) Menentukan karakteristik siswa (Learner Characteristic)
Dengan menentukan karakteristik siswa kita bisa mengetahui latar
belakang pendidikan, sosial budaya peserta didik, serta bisa menjadi
pedoman dalam menentukan langkah-langkah yang perlu diambil untuk
mendukung lancarnya proses pembelajaran.
Ketika mendesain sebuah rencana pembelajaran, kita mesti cepat
memutuskan karakteristik dari siswa karena dengan mengetahui
karakteristik tersebut sangat membantu dalam membuat perencanaan
pembelajaran. Faktor-faktor yang mesti diperhatikan dalam membantu
menentukan karakteristik siswa yaitu: Faktor akademi,antara lain jumlah
siswa, latar belakang akademi/ pendidikan, rata-rata nilai, tingkat
kepintaran, tingkatan membaca, prestasi dan tes kemampuan, adat
atau topik, motivasi untuk belajar, harapan-harapan belajar, dan aspirasi
kebudayaan.
Faktor sosial, antara lain umur, tingkat kematangan, bakat spesial, emosi
dan kejiwaan, hubungan antar pelajar.
Informasi-informasi dari kandungan faktor-faktor di atas dapat
diperoleh dari kumpulan catatan siswa dan dari konsultasi dengan
guru-guru, bimbingan konseling, dan lain-lain. Hasil dari daftar informasi
tersebut, sebaiknya ditambah dengan survai perilaku dan tes awal.
Faktor lain seperti kondisi dan gaya belajar juga mesti dicatat dan
diperhatikan pada saat perencanaan agar ciri-ciri pelajar yang
diidentifikasi dapat lebih sempurna.
3) Indikator (Learning Objectives)
Indikator atau tujuan instruksional ini bagi peserta didik antara lain
berguna untuk mengetahui apa yang harus dikerjakan, bagaimana
mengerjakannya, dan kriteria keberhasilannya. Bagi guru, indikator ini
membantu dalam menentukan materi dan evaluasi pelajaran.
Semua tujuan pembelajaran mesti diwujudkan sebagai syarat yang
tujuan-tujuan yang pasti, kita dapat mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita
ajarkan dan kemudian dapat memutuskan apa-apa saja yang telah
dicapai.
Menentukan tujuan merupakan sebuah aktivitas yang bersifat
pengembangan yang meminta ketelitian, perubahan, dan penambahan.
Bagi sebagian guru, tujuan dapat menjadi jelas setelah pelajaran dibuat
garis besarnya.
Kategori dari tujuan pembelajaran dapat dikelompokkan mejadi
tiga bagian yaitu:
Kognitif, merupakan kategori yang memberikan perhatian yang
lebih dalam program pendidikan. S.Bloom.dkk, sebuah taksonomi bagi
kognitif. Dalam hal ini, dia (kognitif) dimulai dari pengetahuan
sederhana sampai tingkat tertinggi yaitu:
a. Mengetahui, merupakan kemampuan untuk mengingat, mengulang
kembali apa yang didapat dan lain sebagainya.
b. Memahami, merupakan kemampuan untuk menafsirkan informasi yang
c. Penerapan atau aplikasi, merupakan kemampuan untuk menggunakan
atau menerapkan informasi, teori-teori, prinsip-prinsip/ hukum-hukum
dari situasi baru.
d. Analisis, merupakan kemampuan untuk membagi pengetahuan yang
rumit menjadi bagian-bagian yang terurai dan mengetahui hubungan tiap
bagian
e. Sintesis, merupakan kemampuan untuk menyatukan bagian-bagian yang
terpisah menjadi bentuk baru.
f. Evaluasi, merupakan kemampuan untuk menilai berdasarkan pada
pengetahuan / pemberian kriteria.
Kriteria yang kedua adalah psikomotor. Ini adalah kemampuan
dalam menggunakan dan mengkoordinasi otot rangka dalam aktivitas
fisik dan melakukan sesuatu. Psikomotor ini meliputi:
a. Pergerakan tubuh yang kasar;
b. Pergerakan halus dikoordinasi;
c. Komunikasi non-lisan;
Kategori yang ketiga adalah afektif. Ini meliputi sikap, penilaian atau
penghargaan, nilai-nilai dan emosi seseorang. David R.Krathwohl.dkk
membagi afektif dalam lima tingkatan:
1) Penerimaan, keinginan untuk memberikan perhatian pada sebuah
aktivitas;
2) Menanggapi, keinginan untuk mereaksi sesuatu.
3) Penilaian, keinginan untuk menerima sesuatu melalui sikap yang positif
4) Pengorganisasian, ketika menemukan situasi yang memiliki lebih dari
satu penerapan, keinginan untuk mengorganisasi nilai dapat
digunakan;
5) Penggambaran sebuah nilai yang kompleks.
Sekarang kita beralih pada prosedur dalam penulisan tujuan
pembelajaran.adapun prosedur dalam menulis tujuan tersebut yaitu:
a. Dimulai dengan sebuah tindakan yang menggambarkan perilaku/
aktivitas oleh pelajar.
b. Mengikuti perilaku dengan referensi yang menggambarkan sesuatu yang
c. Jika bagian-bagian yang diperlukan tersebut memerlukan beberapa
hitungan, tambahkan standar performance yang mengidentifikasi
pencapaian minimum yang dapat diterima.
d. Sebagai kebutuhan pemahaman siswa dan agar menetapkan keperluan
evaluasi, tambahkan beberapa kriteria-kriteria;
4) Menentukan materi pelajaran (Subject Content)
Dalam menentukan materi pelajaran harus disesuaikan dengan TIK
yang telah ditentukan sebelumnya. Materi harus berdasarkan pada tujuan
pembelajaran. Karena bagian terpenting dari desain pembelajaran terletak
pada tujuan pembelajaran itu sendiri. Dalam beberapa kasus, isi dari
materi pembelajaran adalah turunan dari tujuan pembelajaran.
Tujuan pembelajaran dapat diartikan sebagai apa yang akan dituju
oleh materi pembelajaran. Atau dengan kata lain, tujuan pembelajaran
adalah hasil dari materi pembelajaran.
Dalam pembelajaran yang bersifat tradisional biasanya para guru
menjadikan materi pembelajaran sebagai titik berangkat dari sebuah
pembelajaran dan hal itu masih banyak terjadi hingga hari ini. Ada
yaitu mencakup pemilihan dan pengaturan dari pengetahuan yang
spesifik, skill, dan faktor sikap / pendirian.
Dalam menetukan level tujuan kita dapat memakai prinsip
pembelajaran behavior-nya Gagne yaitu fakta, konsep, hal – hal yang
terpenting, dan problem solving.
Jika siswa sudah mempelajari hal-hal penting dalam suatu
pembelajaran maka selanjutnya diharapkan mereka dapat
mengaplikasikannya dan dapat dikorelasikan dengan situasi masalah.
Langkah-langkah itu adalah:
a) Menerangkan kejadian.
b) Menduga alasan.
c) Memprediksi konsekuensi.
d) Mengontrol situasi.
e) Memecahkan masalah.
5) Menetapkan penjajagan awal (Pre test)
Tes awal ini perlu untuk mengetahui sejauh mana peserta didik
telah memenuhi persyaratan belajar yang yang diperlukan untuk
cukup penting dalam model desain ini. Dengan melakukan hal ini kita
dapat mengetahui tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh murid.
Mengetahui kondisi pengetahuan murid sangat membantu kita dalam
mendesain pembelajaran.
Penilaian awal juga dapat membantu untuk mengevisiensikan
pembelajaran. Dengan melakukan tahapan ini kita dapat mengetahui
tingkatan pengetahuan murid. Dengan demikian seorang murid tidak
perlu membuang – buang waktu untuk mempelajari kembali materi yang
telah mereka kuasai. Ada dua hal yang dapat kita lakukan dalam
Pre-Assessment yaitu prerequisite test dan pretest.
6) Menentukan strategi program belajar mengajar
Dalam memilih strategi belajar mengajar ini harus sesuai TIK,
selain itu juga harus memperhatikan faktor: efisiensi, efektivitas,
ekonomis, dan praktis. Tahapan ke enam dari model pembelajaran Kemp
membicarakan tentang aktifitas belajar – mengajar dan sumber – sumber
belajar. Pada tahapan ini dijelaskan tentang bentuk – bentuk dari kegiatan
belajar yang efektif dan media – media yang dapat dijadikan sebagai
Dalam melakukan proses pembelajaran hendaknya kita memilih
alternatif kegiatan yang paling efektif dan sesuai dengan keadaan siswa.
Namun demikian sebenarnya tidak ada rumus yang baku untuk
mensinkronkan alternatif jenis kegiatan pembelajaran dengan kebutuhan
dan kondisi siswa. Namun kita masih dapat menentukan jenis alternatif
pembelajaran dengan cara menganalisis setiap kelebihan dan
kekurangannya lalu disinkronkan dengan keadaan siswa.
7) Mengkoordinasi sarana penunjang, yang meliputi tenaga fasilitas, alat,
waktu dan tenaga.
Umumnya para guru dapat mendesain pembelajaran dengan
bantuan buku manual. Namun hal itu hanya terbatas pada pembelajaran
yang bersifat tradisional saja. Padahal ilmu pendidikan senantiasa
berkembang dan terus mengeluarkan produk – produk baru yang lebih
canggih lagi. Dari sinilah masalah muncul, karena para guru tidak
menguasai produk – produk baru tersebut. Di sinilah peran seorang
Selanjutnya kita memerlukan beberapa hal yang dapat menunjang
program pembelajaran. Hal itu diantaranya adalah biaya, fasilitas,
peralatan, waktu dan jadwal, serta kordinasi dengan aktifitas lainnya.
a. Biaya.
Dana merupakan hal yang amat krusial dalam pengembangan
pendidikan. Semua program baru yang akan dipakai tentunya
memerlukan dana untuk memulainya. Sekolah yang ingin
mengembangkan program pendidikannya misalnya saja dengan membuat
inovasi baru, penelitian, dan pengembangan memerlukan biaya untuk
menjalankannya. Pemanfaatan biaya dilakukan ketika masa
pengembangan dan selama pemakaian peralatan.
b. Fasilitas.
Proses pembelajaran tentunya membutuhkan fasilitas yang
memadai untuk keberlangsungannya. Berikut adalah kegiatan beserta
fasilitas yang dibutuhkannya.
Dalam kegiatan presentasi, kita membutuhkan proyektor audio
mandiri. Merupakan sebuah tempat yang diperuntukkan untuk para siswa
dalam melakukan proses pembelkajaran mandiri.
Ruangan untuk kegiatan belajar kelompok. Ruangan ini didesain
dengan furniture yang tidak formal. Kemudian dilengkapi dengan
proyektor audio visual, dan papan display misalnya papan tulis dan ruang
peralatan. Ruang ini digunakan untuk menyimpan barang – barang yang
akan digunakan dalam proses pembelajaran. Dari ruang ini pula
dikordinirnya setiap peralatan yang digunakan untuk membantu proses
pembelajaran.
c. Peralatan
Dalam menjalankan program yang telah dijalankan tentunya
memerlukan beberapa peralatan untuk menunjang kegiatan tersebut.
Dalam mendesain sebuah program kita harus memastikan bahwa kita
memiliki atau setidaknya dapat mengusahakan peralatan yang akan kita
pakai. Karena ketidak tersediaan alat bisa sangat mempengaruhi program
yang akan dijalankan.
Selain itu kita harus mencari informasi sebanyak-banyaknya
itu. Kita harus mencari tahu informasi tentang peralatan yang akan kita
gunakan dengan demikian kita dapat memilih barang yang tepat.
Peralatan yang kita pilih sebaiknya peralatan yang mudah dipergunakan
dan memiliki resiko yang kecil.
Hal penting lainnya adalah kita tetap membutuhkan orang-orang
yang kompeten dengan peralatan itu. Selain itu kita jangan terjebak
dengan barang-barang yang canggih, namun sebenarnya kita tidak
memerlukan kecanggihannya agar kita tidak terjebak pada mubazir.
d. Waktu dan Jadwal.
Dalam menentukan program hendaknya kita memperhatikan
jadwal dan waktu yang tepat. Jangan sampai waktu yang kita tentukan
bentrok dengan kegiatan lainnya. Selain itu kita juga harus
memperhatikan jangan sampai waktu yang kita pilih ternyata bentrok
dengan program lain yang ternyata belum selesai.
e. Kordinasi
Aktivitas apapu harus dikordinasikan, terutama program yang akan
dibuat dengan pihak-pihak lainnya. Misalnya saja untuk masalah
kita adalah siswa yang masih membutuhkan bimbingan orang tuanya.
Kita harus mengkomunikasikan kegiatan ini dengan orang tua. Bahkan
jika perlu kita undang orang tuanya untuk hadir dan mengawasi program
yang telah kita rencanakan.
8) Mengadakan evaluasi
Evaluasi ini digunakan untuk mengontrol dan mengkaji
keberhasilan program secara sistem.
B. Pembelajaran Matematika
a. Pengertian Matematika
Kitcher yang telah memfokuskan perhatiannya pada komponen
dalam kegiatan matematika mengklaim bahwa matematika terdiri atas
komponen-komponen:
Bahasa (language) yang dijalankan oleh para matematikawan, pernyataan
(statements) yang digunakan oleh para matematikawan, pertanyaan
(question) penting yang hingga kini belum terpecahkan, alasan (reason)
yang digunakan untuk menjelaskan pernyataan dan ide matematika itu
Russel mendefinisikan bahwa "matematika sebagai suatu studi
yang dimulai dari pengkajian bagian-bagian yang sangat dikenal. Arah
yang dikenal tersusun baik (konstruktif) secara bertahap menuju arah
yang rumit (kompleks)". [6] Misalnya dari bilangan bulat ke bilangan
pecahan, bilangan real ke bilangan kompleks, dari penjumlahan dan
perkalian ke diferensial dan integral, dan meniju matematika yang lebih
tinggi.
Dari berbagai pandangan dan pengertian di atas, dapat disimpulkan
bahwa matematika adalah sebagai suatu bidang ilmu yang merupakan
alat piker, berkomunikasi, alat untuk memecahkan berbagai persoalan
praktis, yang unsure-unsurnya logika dan instuisi, analisis dan konstruksi,
generalitas dan individualistis, serta mempunyai cabang-cabang antara
lain aritmatika, aljabar, geometri, dan analisis.
b. Pengertian Pembelajaran Matematika
Belajar merupakan tugas sehari-hari di sekolah. Belajar pada
manusia merupakan suatu proses psikologis yang berlangsung dalam
interaksi aktif, subjek dengan lingkungan dan menghasilkan
menetap. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang
pengertian belajar, dapat dilihat beberapa definisi yang dikemukakan oleh
para ahli yaitu:
1. Menurut Muhibbin Syah belajar adalah
Tahapan perubahan tingkah laku individu yang relitif menetap sebagai
hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan
proses kognitif.[7]
2. Menurut Abdul Haling dalam Belajar dan Pembelajaran Sahabuddin
menyatakan bahwa:
Belajar adalah suatu prose kegiatan yang menimbulkan kelakuan baru
atau merubah kelakuan lama sehingga seseorang lebih mampu
memecahkan masalah dan menyesuaikan diri terhadap situasi-situasi
yang dihadapi dalam hidupnya.[8]
Hakikat belajar matematika adalah suatu aktifitas mental untuk
memahami arti dan hubungan-hubungan serta simbol-simbol dan
Reigeluth menyebutkan bahwa hasil dari belajar adalah semua efek
yang dapat dijadikan sebagai indicator tentang nilai dari penggunaan
suatu metode di bawah kondisi yang berbeda.[9]
Untuk mengoptimalkan pembelajaran siswa pada mata pelajaran
matematika, sebaiknya dalam proses pembelajarannya perlu
memerhatikan teori pemrosesan informasi.[10] Sedikitnya ada empat
tahap yang dilalui dalam teori pemrosesan informasi yakni:
Pemasukan informasi akan dicatat melalui indra, simpanan jangka
pendek dimana informasi yang diterima hanya bertahan selama 0,5
sampai 2,0 detik,memori jangka pendek atau memori kerja dimana data
dalam jumlah terbatas diperthankan selama 20 detik, dan memori jangka
panjang dimana data yang telah disanduikan menjadi bagian dari system
pengetahuan.[11]
Hasil pembelajaran merupakan aspek keefektifan pengajaran.
Beberapa indicator kekefektifan pengajaran antara lain: kecermatan
penguasaan perilaku, kecermatan untuk kerja, kesesuaian unjuk kerja,
dan kuantitas unjuk kerja.[12] Kecermatan penguasaan perilaku juga
menguasai perilaku yang dipelajari, makin efektif pengajaran yang telah
diajarkan atau dengan kata lain makin kecil tingkat kesalahan, berarti
makin efektif pengajaran.
Jadi dapat disimpulkan pembelajaran matematika adalah suatu
bentuk tindakan atau kegiatan yang dilakukan secara sadar dan
tersistematis untuk mengembangka serta meningkatkan kemampuan
terhadap pengetahuan matematika.
c. Faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran Matematika
"Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya
perubahan pada diri seseorang".[13] Perubahan sebagai hasil dari proses
belajar yang dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk, seperti perubahan
pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, ketrampilan,
kecakapan, serta perubahan aspek aspek lain yang ada pada individu
yang sedang belajar.
Dalam melaksanakan proses pembelajaran matematika sangat
diakui bahwa pembelajaran tidak bisa berjalan dengan lancar tanpa ada
faktor-faktor yang mempengaruhi. Pada garis besarnya ada dua faktor
dari luar diri murid) dan faktor internal (pengaruh dari dalam diri murid
itu sendiri), kedua faktor tersebut dapat dikemukakan secara berurutan
sebagai berikut:
1) Faktor Eksternal
Yang dimaksud faktor eksternal adalah faktor yang bersumber dari
luar seperti:
a) Pengaruh Guru
Menurut Muhibbin Syah bahwa:
Pada bayangan situasi dari pengajaran sekitar 94% guru-guru cenderung
mengakui bahwa pengajaran yang baik seimbang dengan pengendalian
kelas yang baik dan keterampilan guru yang baik/tinggi mempunyai
korelasi yang signifikan terhadap meningkatnya prestasi belajar siswa
yang lebih tinggi terhadap mata pelajaran.[14]
Untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan maka
kompetensi guru sangat berperan penting dalam proses belajar mengajar.
Dengan berbagai kemampuan dasar yang dimiliki oleh guru sangat
membantu untuk memperlancar pembelajaran karena guru yang memiliki
mengajar yang efektif sehingga tujuan pembelajaran akan tercapai
dengan mudah. Selain itu, pribadi seorang guru juga berpengaruh
terhadap kegiatan pembelajaran. Seorang guru dengan pribadi yang baik
akan mudah untuk berinteraksi dengan murid-muridnya, sedangkan
pribadi guru yang standar akan sangat mempengaruhi psikologis
murid-muridnya dalam menerima pelajaran.
b) Pengaruh Materi Pelajaran
Sesuai kurikulum 1975 dalam buku IIIa tentang petunjuk model
satuan pelajaran semestinya dalam setiap melakukan pembelajaran selalu
harus dicantumkan materi pelajaran secara terinci. Jadi materi pelajaran
tidak kurang pentingnya mempengaruhi keberhasilan proses
pembelajaran. Tapi tidak terlepas dari kemampuan murid-murid, karena
materi yang disajikan membutuhkan penguasaan yang berbeda-beda
tergantung dari kesulitan materi yang diberikan oleh guru.
c) Pengaruh Metode Belajar Mengajar
Unsur metode mengajar berfungsi sebagai alat yang digunakan
oleh guru dalam mendidik atau mengajar murid. Apabila tanpa penentuan
pembelajaran maka proses pembelajaran setidaknya akan mengalami
hambatan atau proses belajar mengajar akan kurang berjalan dengan
optimal.
d) Pengaruh Situasi Kelas
Ruangan kelas adalah tempatnya berlangsungnya proses belajar
mengajar yang perlu mendapat perhatian. Ruangan kelas harus ditata
dengan baik agar menimbulkan situasi kelas yang menarik bagi siswa
sehingga siswa akan senang dalam melakukan proses pembelajaran.
e) Pengaruh Alat-alat Pelajaran dan Mengajar
Alat-alat pelajaran dan mengajar atau bias disebut dengan alat
peraga berfungsi sebagai pembantu untuk lebih memudahkan
menjelaskan, mengefektifkan, mempermudah serta memperlancar
komunikasi guru dengan murid dalam proses belajar mengajar. Hal-hal
yang sulit dipahami karena bersifat abstrak akan lebih mudah dipahami
jika divisualisasikan dengan menggunakan alat peraga.
2) Faktor Internal
Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri pelajar ini terdiri dari:
Kondisi kesehatan anak yang kurang sehat dapat menjadi
penghambat dalam proses pembelajaran. Kesehatan sangat berperan aktif
dalam kelancaran pembelajaran, anak yang sering sakit-sakitan akan sulit
menangkap materi pelajaran sedangkan anak selalu dalam kondisi stabil
akan mudah untuk berkonsentrasi dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran.
b) Faktor intelegensi
Faktor intelegensi seorang anak yang dimiliki merupakan kapasitas
yang potensial, tetapi belum pasti ia dapat melaksanakan kapasitas itu
dalam bentuk konkret, begitu pula seorang anak dapat melaksanakan
kapasitet itu dalam bentuk konkret tetapi hanya sampai pada tingkat
intelegensi yang dimilikinya. Faktor intelegensinya merupakan sebab
yang dapat mempengaruhi suksesnya anak dalam belajar. Intelegensi ini
merupakan potensi anak yang dibawa sejak lahir, maka setiap anak yang
dilahirkan tidak sama tingkat intelegensinya.
Oleh sebab itu, sebaiknya guru berusaha untuk mengetahui anak
didiknya, dan mau menelusuri tingkat intelegensinya yang dimiliki oleh
yang sesuai dalam proses pembelajaran dengan tingkat intelegensi
berbeda-beda yang dimiliki oleh siswanya.
c) Faktor Bakat dan Minat
Potensi bakat yang dibawa sejak lahir umumnya dalam
bidang-bidang tertentu sehingga orang yang memang telah mempunyai bakat
belajar sesuai dengan bakatnya dan secara tidak lansung proses
pembelajaran akan berlangsung dengan lancar.
Minat merangsang kemampuan belajar siswa, karena minat belajar
merupakan kecenderungan perasaan, maka murid cenderung untuk
menekuninya jika daya minatnya terhadap sauatau pelajaran tinggi. Ada
tidaknya minat dalam suatu pelajaran, dapat dilihat dalam cara mengikuti
pelajaran. Dengan melihat tanda-tanda yang ada pada murid maka guru
seharusnya berusaha untuk menfasilitasi minat siswa tersebut. Dengan
demikian murid akan menaruh perhatian yang penuh terhadap pelajaran.
C. Efektivitas Model Perencanaan Pembelajaran Kemp terhadap Pembelajaran Matematika
Model Perencanaan pembelajaran Kemp adalah suatu konsep atau
mempunyai delapan langkah dalam proses pelaksanaannya, diawali
dengan menentukan tujuan umum, menganalisis karakteristik siswa,
menentukan TU, menentukan materi pelajaran, menetapkan penjajagan
awal, menentukan strategi belajar mengajar, mengkoordinasi sarana
penunjang dan diakhiri dengan mengadakan evaluasi.
Mengacu pada kedelapan langkah-langkah pengembangan model
perencanaan pembelajaran Kemp, maka dapat disimpulkan bahwa model
perencanaan pembelajaran Kemp efektif untuk digunakan dalam proses
belajar mengajar matematika guna pencapaian ketuntasan dan kecakapan
belajar matematika sesuai dengan tujuan/sasaran yang ingin dicapai
dalam proses pembelajaran.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Variabel dan Desain Penelitian
1. Variabel Penelitian
Penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu sebagai berikut:
b. Variabel terikat, yaitu Pembelajaran Matematika Siswa Kwlas Xc MAN I
Makassar
2. Desain Penelitian
Desain dalam penelitian ini adalah Pre-test and Post-test
Group[1]. Didalam desain ini observasi dilakukan 2 kali yaitu sebelum
eksperimen ( ) disebut pre-test, dan perlakuan atau treatmen sesudah
eksperimen ( ) disebut post-test, dengan model sebagai berikut:
X
Keterangan:
: Pre-test X : Perlakuan
: Post-test
B. Populasi dan Sampel
a. Populasi
Populasi (universe) adalah totalitas dari semua objek atau individu
(bahan penelitian).[2] Sugiono mengatakan bahwa: “Populasi adalah
wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/ subjek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.[3]
Dari beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
populasi merupakan keseluruhan aspek, karakteristik atau fenomena
tertentu dari objek yang menjadi pusat perhatian dari peneliti kemudian
ditarik kesimpulannya.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X MAN I
Makassar Negeri I yang berjumlah 100 orang.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil melalui cara-cara
tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu, jelas, lengkap yang
dianggap mewakili populasi.[4] Setelah memilih populasi peneliti
menentukan sampel dengan menggunakan purporsive sampling[5], yaitu
teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu, karena siswa
kelas Xc MAN I Makassarmerupakan sekelompok siswa yang memiliki
dan atas pertimbangan tersebut siswa MAN I Makassar kelas Xc yang
berjumlah 30 orang terpilih sebagai sampel pada penelitian ini.
C. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk
mengukur fenomena (variabel) alam maupun sosial yang diamati. Suatu
instrumen harus teruji validitas dan realibilitasnya agar dapat
memperoleh data yang valid dan reliabel. Adapun instrumen yang
peneliti gunakan adalah:
1. Tes Hasil Belajar Matematika.
Tes hasil belajar matematika merupakan instrumen penelitian yang
digunakan untuk mengukur kemampuan pembelajaran matematika siswa
kelas Xc MAN I Makassar. Tes ini dilaksanakan dua kali berupa Pre-test
and Post-test.
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara atau interview merupakan teknik pengumpulan data
yang digunakan untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam tentang
desain pembelajaran yang dibuat oleh guru matematika kelas Xc MAN I
3. Pedoman Observasi.
Observasi merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk melihat
aktivitas belajar matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar pada saat
proses belajar mengajar berlangsung.
4. Pedoman Dokumentasi.
Dokumentasi merupakan instrumen penelitian yang digunakan untuk
memperoleh data berupa jumlah siswa kelas Xc MAN I Makassar.
D. ProsedurPengumpulan Data
1. Tahap Persiapan.
Tahap ini penulis terlebih dahulu melengkapi hal-hal yang
dibutuhkan di lapangan yaitu: menyusun program pengajaran sesuai
dengan kurikulum, menyusun instrument yang disesuaikan dengan
materi.
2. Tahap Pelaksanaan.
Peneliti mengumpulkan data dengan langkah-langkah sebagai
berikut: memberikan tes untuk mengetahui hasil pembelajaran
matematika yang terdiri dari: Pre-test dan Post-test, melakukan
E. Teknik Analisis Data
Data yang sudah terkumpul akan dianalisis dengan menggunakan
dua macam teknik statistik, yaitu statistik deskriptif dan statistik
inferensial.
1. Analisis Statistik Deskriptif
Data yang diperoleh dalam penelitian ini dianalisis deskriptif,
untuk mendeskripsikan pelaksanaan metode drill dalam belajar
matematika. Hasil analisis deskriptif tersebut ditampilkan dalam bentuk
nilai rata-rata dan persentase nilai rata-rata.
a. Rata-rata (Mean)
.………..[6]
b. Persentase (%) nilai rata-rata,
P =
Dimana : P : Angka persentase.
N : Banyaknya sample responden. [7]
Pedoman yang digunakan untuk mengubah skor mentah yang
diperoleh siswa menjadi skor standar (nilai) untuk mengetahui tingkat
daya serap siswa mengikuti prosedur yang ditetapkan oleh Depdikbud
[image:48.612.166.528.363.539.2](2003) yaitu:
Tabel 1
Tingkat Penguasaan Materi
Tingkat penguasaan (%) Kategori Hasil Belajar
0 – 34
35– 54
55 – 64
65 – 84
85 – 100
Sangat rendah
Rendah
Sedang
Tinggi
Sangat tinggi[8]
2. Uji-t
Untuk pengujian hipotesis penelitian, maka teknik analisis data
yang digunakan adalah uji-t dengan syarat kelompok data harus
berdistribusi normal. Untuk keperluan ini dipergunakan teknik statistik t
……….[9]
dengan: Md : Mean dari perbedaan pre-test dan post test
: Hasil belajar sebelum perlakuan (pre-test)
: Hasil belajar setelah perlakuan (post-test)
Xd : Deviasi masing-masing subjek
: Jumlah kuadrat deviasi
N : Subjek pada sampel
Selanjutnya menguji hipotesis dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Mencari harga “Md” dengan menggunakan rumus:
c. Menentukan harga dengan menggunakan rumus:
d. Mencari harga pada table kritik
Mencari dengan menggunakan tabel distribusi t dengan taraf
signifikan , dan
e. Menentukan kriteria pengujian hipotesis
H0 diterima jika < t <
H0 ditolak jika t0 > atau t0 <
f. Membuat kesimpulan apakah penggunaan Model Perencanaan
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp dalam Pembelajaran Matematika Siswa Kelas Xc MAN I Makassar
Untuk mengetahui pelaksanaan penggunaan Model Perencanaan
Pembelajaran Kemp dalam pembelajaran matematika siswa Kelas Xc
MAN I Makassar, peneliti mengumpulkan data melalui wawancara dan
observasi.
1. Deskripsi data hasil wawancara pelaksanaan Model Perencanaan
Pembelajaran Kemp pada kelas Xc MAN I Makassar
Hasil Wawancara dengan Burhanuddin, S.Pd., guru matematika
Kelas Xc MAN I Makassar pada tanggal 19 November 2008:
Tahap I: Menentukan General Purposes.
Pertanyaan: Apakah sebelum melakukan pembelajaran Bapak terlebih
dahulu mempersiapkan rencana pembelajaran?
Jawaban : Ya, Karena menurut saya Mempersiapkan RPP sebelum
memasuki ruangan kelas adalah suatu keharusan, RPP adalah alat dan
menentukan materi apa yang akan saya ajarkan, strategi ynag harus
diterapkan, tujuan yang harus dicapai dan lain-lain.
Pertanyaan: Bagaimana perumusan tujuan desain pembelajaran yang
bapak buat?
Jawaban: Menurut saya, perumusan tujuan umum itu sangat penting
karena bisa mengarahkan kita sebagai tenaga pengajar bahwa ada yang
harus tercapai dalam proses pembelajaran yang kita lakukan. Bukan saja
masuk mengajar setelah itu selesai, tetapai ada target yang harus kita
capai. Tapi tujuan umum saat ini telah berubah bentuk menjadi
kompetensi dasar tapi intimya tetap sama yaitu tujauan yang akan dicapai
dalam proses pembelajaran. Jadi, tujuan umum yang dulu sekarang saya
gantikan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
Tahap II: Menentukan karakteristik siswa Learner Characteristic.
pertanyaan: Apakah dalam mendesain sebuah rencana pembelajaran
bapak mempertimbangkan karakteristik siswa?
Jawaban: Ya, Karena dalam satu kelas pastinya karakteristik siswa
berbeda-beda. Sehingga dalam menghadapi mereka dibutugkan cara yang
Begitu halnya dalam melakukan pembelajaran, strategi yang digunakan
disesuaikan dengan karakteristik siswa agar terjadi interaksi yang baik
antara pendidik dengan siswa. Sehingga pembelajaran yang efektif dapat
tercapai.
Pertanyaan: Bagaimana cara mengetahui karakteristik siswa?
Jawaban: Biasanya saya bertanya langsung kepada siswa, melakukan
pengamatan baik dalam dan di luar ruangan, serta memberikan lembaran
pertanyaan kepada para siswa.
Tahap III: Menentukan inikator Learning objevtives.
Pertanyaan: Apakah bapak membuat Indikator pembelajaran?
Jawaban: Ya, dalam desaim pembelajaran selalu terdapat indicator
pembelajaran karena Imdikator pembelajaran inilah yang harus dicapai
dalam proses pembelajaran. Selain itu, dengan adanya indicator saya bias
menentukan materi apa yang harus dipelajari atau diajarkan dan bias
melakukan evaluasi untuk mengetahui apakah indikator telah tercapai
atau tidak.
Pertanyaan VI : Bagaimana cara pengaturan atau materi yang akan
diajarkan?
Jawaban : Saya memilih dan mengatur materi berdasarkan indikator yang
telah ada sebelumnya.
Tahap V: Menetapkan penjajagan awal Pre Assesment.
Pertanyaan: Apakah Bapak biasa menerapkan pretest?
Jawaban: Ya, saya biasa menerapkan pretest kepada siswa untuk menguji
tingkat pengetahuan merekas terhadap materi yang akan saya ajarkan.
Tahap VI: Menentukan strategi program belajar mengajar
Teaching Learning Activities Resources.
Pertanyaan: Bagaimana penentuan strategi belajar mengajar?
Jawaban: Saya memilih strategi belajar mengajar berdasarkan materi dan
kondisi internal dan eksternal siswa, diantaranya mempertimbangkan
karakteristik siswa dan kondisi ruangan kelas.
Tahap VII: Mengkoordinasi sarana penunjang Support services.
Pertanyaan: Apakah Bapak biasa menggunakan sarana penunjang untuk
Jawaban: Ya, tetapi saya sesuaikan dengan materinya. Jika materi ajar
membutuhkan sarana penunjang maka saya akan menggunakan tetapi
jika materinya bias dituntaskan dengan efektif tanpa adanya sarana
penunjang maka saya tidak menggunakannya.
Tahap VIII: Mengadakan evaluasi Evaluation.
Pertanyaan X : Bagaimana penentuan dan pelaksanaan evaluasi dalam
proses pembelajaran?
Jawaban : Evaluasi saya lakukan terhadap para siswa jika materi yang
telah diajarkan tuntas. Evaluasi saya lakukan untuk mengetahui
sejauhmana pengetahuan mereka terhadap materi yang telah diajarkan.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap guru
matematika kelas Xc MAN I Makassar maka dapat disimpulkan bahwa
Model perencanaan efektif digunakan dalam pembelajaran matematika.
2. Deskripsi pembelajaran matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar
dapat dilihat dari hasil observasi (pengamatan langsung) dan ditampilkan
dalam bentuk check list
Tabel 2
No Komponen Yang Diamati Pertemuan
I II III IV V
1. Siswa yang hadir pada saat pembelajaran
berlangsung
30 28 29 30 30
2. Siswa yang memperhatikan materi yang diajarkan P
R E T E S T
22 21 24 P
O S T T E S T
3. Siswa yang mencatat materi yang diajarkan 30 29 28
4. Siswa yang bertanya pada saat pembelajaran
berlangsung
10 5 6
5. Siswa yang mengerjakan contoh soal di papan tulis 3 4 3
6. Siswa yang diminta untuk dibimbing langsung
dalam menyelesaikan tugas
7 6 4
7. Siswa yang mengerjakan tugas (quiz) 4 3 3
8. Siswa yang mampu mengerjakan tugas (PR) 20 23 22
B. Deskripsi Pembelajaran Matematika Siswa Kelas Xc Madrasah Aliyah Negeri (MAN) I Makassar.
1. Deskripsi pembelajaran matematika sebelum penggunaan model
perencanaan Pembelajaran Kemp
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kelas Xc
MAN I Makassar, penulis dapat menimpulkan data melalui instrument
tes dan memperoleh data pembelajaran matematika melalui tes hasil
Deskripsi data pembelajaran matematika siswa kelas Xc MAN I
Makassar sebelum penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp
sebagai berikut:
[image:57.612.232.415.216.528.2]Tabel 3
No. Tester Nilai
17 0 18 0 19 40 20 70 21 40 22 40 23 0 24 50 25 45 26 0 27 35 28 40 29 50 30 40 Jml 975
Skor nilai sebelum penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp
No. Tester Nilai
7 100
8 50
9 40
10 40
11 40
12 40
13 0
14 45
15 35
16 45
1) Rata-rata (Mean)
Dari hasil perhitungan diatas diperoleh rata-rata nilai hasil belajar
siswa kelas Xc MAN I Makassar sebelum penggunaan model
perencanaan Pembelajaran Kemp yaitu 32,5 dari nilai ideal 100.
[image:58.612.148.307.110.286.2]2) Persentase (%) nilai hasil belajar
Table hasil belajar dibuat dalam table frekuensi sebagai berikut:
Tabel 4
Frekuensi nilai sebelum penggunaan Model Perencanaan
skor Tingkat
Penguasaan
Frekuensi Persentase Kategori Hasil
Belajar 81-100
61-80
41- 60
21 – 40
0 - 20
81%-100%
61%-80%
41% - 60%
21% - 40%
0% - 20%
1 1 6 12 10 3,33% 3,33% 20% 40% 33,34 Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 4 dapat disimpulkan
bahwa secara umum hasil belajar matematika siswa kelas Xc MAN I
Makassar sebelum penggunaan model perencanaan Pembelajaran Kemp
dikategorikan rendah. Hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai pada
kategori tinggi sebesar 40% dari 30 siswa.
2. Deskripsi pembelajaran matematika setelah penggunaan Model
Perencanaan Pembelajaran Kemp
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di kelas Xc
MAN I Makassar, penulis menyimpulkan data melalui instrument tes dan
memperoleh data pembelajaran matematika melalui hasil belajar berupa
Deskripsi data hasil belajar siswa kelas Xc MAN I Makassar
setelah penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp sebagai
[image:60.612.234.415.346.636.2]berikut:
Tabel 5
No. Tester Nilai
17 40
18 40
19 70
20 90
21 50
22 50
23 60
24 70
25 70
26 50
27 50
28 70
29 60
30 55
Jumlah 1790
Skor nilai sesudah penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran Kemp
1 60
2 70
3 40
4 40
5 45
6 40
7 100
8 60
9 80
10 50
11 50
12 60
13 50
14 60
15 100
16 60
1) Rata-rata (Mean)
Dari hasil perhitungan diatas diperoleh rata-rata nilai hasil belajar
siswa kelas Xc MAN I Makassar setelah penggunaan model perencanaan
Pembelajaran Kemp yaitu 59,67 dari nilai ideal 100.
[image:61.612.112.301.104.400.2]2) Persentase (%) nilai hasil belajar
Table hasil dibuat dalam table frekuensi sebagai berikut:
Frekuensi nilai sesudah penggunaan Model Perencanaan Pembelajaran
Kemp
skor Tingkat
Penguasaan
Frekuensi Persentase Kategori Hasil
Belajar 81-100
61-80
41- 60
21 – 40
0 - 20
81%-100%
61%-80%
41% - 60%
21% - 40%
0% - 20% 3 6 16 5 0 10% 20% 53,33% 16,67% 0% Sangat Tinggi Tinggi Sedang Rendah Sangat rendah
Berdasarkan data yang diperoleh pada Tabel 6 dapat disimpulkan
bahwa secara umum hasil belajar matematika siswa kelas Xc MAN I
Makassar setelah penggunaan model perencanaan Pembelajaran Kemp
dikategorikan sedang. Hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai pada
kategori tinggi sebesar 53,33% dari 30 siswa.
Efektivitas penggunaan model perencanaan pembelajaran Kemp
dalam pembelajaran matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar dapat
[image:63.612.129.529.268.693.2]dilihat sebagai berikut:
Tabel 7
Analisis Skor Pre-Test dan Post Test
No X X d = (X X
)
d2 = (X –Y)2
1 20 60 40 I600
2 20 70 50 2500
3 15 40 25 625
4 0 40 40 1600
5 35 45 10 100
6 0 40 40 1600
7 100 100 0 0
8 50 60 10 100
9 40 80 40 1600
10 40 50 10 100
11 40 50 10 100
12 40 60 20 400
13 0 50 50 2500
14 45 60 15 225
15 35 100 65 4225
16 45 60 15 225
17 0 40 40 1600
18 0 40 40 1600
19 40 70 30 900
20 70 90 20 400
22 40 50 10 100
23 0 60 60 3600
24 50 70 20 400
25 45 70 25 625
26 0 50 50 2500
27 35 50 15 225
28 40 70 30 900
29 50 60 10 100
30 40 55 15 225
Jml 975 1790 815 30775
Selanjutnya menguji hipotesis dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
a. Mencari harga “Md” dengan menggunakan rumus:
b. Mencari harga dengan rumus
c. Menentukan hasil.
d. Menentukan harga
Mencari dengan menggunakan tabel distribusi t dengan taraf
e. Menentukan kriteria pengujian hipotesis
H0 diterima jika -1,699< t < 1,699
H0 ditolak jika t0 >1,699 atau t0 < -1,699
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis data baik analisis deskriptif maupun
analisis inferensial yang diperoleh hasil penelitian sebagai berikut:
1. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan terhadap guru
matematika kelas Xc MAN I Makassar pelaksanaan model perencanaan
pembelajaran Kemp dalam pembelajaran matematika kelas Xc MAN I
Makassar telah dilakukan dengan melaksanakan kedelapan langkah yang
ada dalam model perencanaan pembelajaran Kemp. Kedelapan langkah
itu diawali dengan menentukan General Purposes, menentukan
karakteristik siswa (Learner Characteristic), menentukan inikator
menetapkan penjajagan awal (Pre Assesment), menentukan strategi
program belajar mengajar, mengkoordinasi sarana penunjang (Support
services), mengadakan evaluasi (Evaluation).
2. Hasil belajar matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar sebelum
penggunaan model perencanaan Pembelajaran Kemp dikategorikan
rendah. Hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai pada kategori tinggi
sebesar 40% dari 30 siswa..
3. Hasil belajar matematika siswa kelas Xc MAN I Makassar setelah
penggunaan model perencanaan Pembelajaran Kemp dikategorikan
sedang. Hal ini ditunjukkan dari perolehan nilai pada kategori tinggi
sebesar 53,33% dari 30 siswa.
4. Dari hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji-t diperoleh nilai
dan maka dapat
disimpulkan bahwa ditolak. Dengan demikian ini menunjukkan
pembelajaran matematika dengan penerapan Model perencanaan
pembelajaran Kemp sangat efektif .
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan yang diperoleh dari
penelitian ini, maka penulis mengemukakan beberapa saran sebagai
berikut:
1. Pembelajaran matematika dengan menggunakan Model Perencanaan
Pembelajaran Kemp layak untuk dipertimbangkan menjadi model
perencanaan pembelajaran alternatif, untuk diterapkan di sekolah-sekolah
dengan mempertimbangkan faktor-faktor dalam satu kelas dalam upaya
meningkatkan efektifitas pembelajaran matematika siswa, karena dengan
pembelajaran ini, siswa lebih kreatif, aktif baik di dalam kelas maupun di
luar kelas, sehingga dapat belajar lebih optimal.
2. Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai penggunaan model
perencanaan pembelajaran Kemp dalam upaya meningkatkan
pembelajaran matematika menjadi lebih efektif dan optimal.
DAFTAR PUSTAKA
Arif Tiro, Muh. Dasar-dasar statistik. Makassar: State University Of Makassar
Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2006
Chairani, Zahra. Problem Posing Dalam Pembelajaran Matematik. www.
google.com, 2008.
Depdiknas, Pedoman umum sistem pengujian hasil kegiatan belajar. www.
google.com, 2007.
Haling, Abdul. Belajar dan Pembelajaran. Makassar: Badan Penerbit UNM.
2006
Harjanto. PerncanaanPengajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 1997
Hasan, M. Iqbal. Pokok-pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensial). Jakarta:
PT. Bumi Aksara. 2003
Lithanta, Agus. Alat Peraga Perkalian Model Matrik Sebagai Media
Pembelajaran Matematika Yang Menyenangkan. www. google .com,
Murdiono, Mukhamad. Konsep Dasar Perencanaan Pembelajaran. www.
google.com, 2008
Nugroho, Widyo. Pengaruh Strategi Pembelajaran. www. google.com, 2008.
Official Website SMA Negeri 3 Blitar. Metode Problem-Based Learning. www.
google.com, 2008.
Rohani. HM, Ahamad. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2004
Rusman. Pendekatan dan Model Pembelajaran. www. google.com, 2008
Simanjuntak. Proses belajar mengajar. Bandung: tarsito. 1994
Slameto. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka
Cipta. 2003
Sudjana, Nana. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Sugiono. Metode Penelitian Administrasi. Jakarta: CV. Alfabeta. 2006
Sutrisno. Pengaruh Media Pengajaran Terhadap Prestasi Belajar Siswa, Pada
Pokok Bahasan Rumus Segitiga Dalam Trigonometri, Kelas 1 Sma
Negeri 1 Batang. www. google.com, 2008.