ABSTRAK
ANALISIS PENERAPAN PASAL 3 UUPTPK TERHADAP SWASTA (Studi Perkara Nomor : 27/Pid/TPK/2012/PN.TK)
Oleh
Muchamad Habi Hendarso
Tindak pidana korupsi tidak hanya dilakukan oleh orang perorangan atau pejabat instansi tertentu atau oleh penyelenggara negara melainkan meluas hingga mencapai pada masyarakat di luar fungsi pemerintahan. Contohnya dalam perkara korupsi yang merupakan subjek tindak pidananya dari golongan pihak swasta, yaitu dalam perkara Evi meita pimpinan UD. Mitra Soya yang ditunjuk oleh Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan Kabupaten Tanggamus sebagai distributor penyalur kedelai bersubsidi di kabupaten Tanggamus tahun 2008 Permasalahan dalam penelitian ini antara lain bagaimanakah Analisis Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap Swasta dan mengapa terjadi hambatan dalam Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap Swasta.
Metode penelitian yang digunakan dalam membahas permasalahan penelitian ini, penulis menggunakan dua jenis pendekatan yaitu pendekatan yuridis normatif dan yuridis empiris sedangkan sumber dan jenis data berupa data primer dan data sekunder. Selanjutnya, Penentuan Narasumber dan Sample dalam penelitian ini dipilih secara Purposive Sample. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis penerapan pasal 3 uuptpk terhadap swasta harus didasarkan pada Unsur-Unsur tindak pidana korupsi yang telah diatur dalam pasal 3, Selain itu Bahwa Perbuatan Terdakwa harus memenuhi Unsur-Unsur Pasal 55 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Hasil Penelitian yang telah dilakukan mengungkapkan bahwa Penyalahgunaan Kewenangan yang dilakukan Evi Meita, Karena Evi Meita dalam Membagikan Kupon subsidi kedelai tidak sesuai dengan Petunjuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis yaitu bertentangan dengan Peraturan Dirjen IKM Nomor : 31/IKM/PER/5/2008. Adapun mengapa terjadi hambatan dalam penerapan pasal 3 uuptpk terhadap swasta adalah terdakwa dalam hal ini Evi Meita tidak merasa bersalah dan tidak mengakui perbuatannya pada saat di persidangan dan vonis hakim yang menurut JPU sangat ringan sehingga tidak menimbulkan efek jera. Selain itu yang menjadi hambatan diantaranya, substansi hukum, struktur hukum dan budaya hukum.
Sedangkan saran yang bisa penulis berikan adalah diperlukan persamaan tanggapan dan penafsiran antara institusi baik Kehakiman, Kejaksaan dan Lembaga Bantuan Hukum, sehingga dapat dilakukan secara maksimal dan efektif atas kasus-kasus korupsi dalam proses penegakan hukum. Kemudian Hendaknya ada penyempurnaan secara substansi Dan terakhir Mengharapkan seluruh komponen masyarakat untuk bersatu padu dalam Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
EKSISTENSI PERADILAN MILITER DALAM PERSPEKTIF SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA
(Tesis)
OLEH : Sutarto Wilson
PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
EKSISTENSI PERADILAN MILITER DALAM PERSPEKTIF SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA
(Tesis)
OLEH : Sutarto Wilson
PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
EKSISTENSI PERADILAN MILITER DALAM PERSPEKTIF SISTEM PERADILAN PIDANA INDONESIA
(Tesis)
OLEH : Sutarto Wilson
PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
DAFTAR ISI
Halaman I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup ... 13
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ... 14
D. Kerangka Pemiikiran dan Konseptual ... 15
E. Sistematika Penulisan ... 23
II. TINJAUAN PUSTAKA A.Pengertian Tindak Pidana Korupsi ... 25
B. Pengaturan Tindak Pidana Korupsi ... 39
C. Penyidikan Tindak Pidana Korupsi ... 40
D. Pengaturan dan Tugas Kewenangan Kejaksaan...42
E. Pengertian Pegawai Negeri Sipil...51
F. Kebijakan Formulasi Tindak Pidana Korupsi... 65
III. METODE PENELITAN A. Pendekatan Masalah ... 68
B. Sumber dan Jenis Data ... 69
C. Penentuan Narasumber dan Sampel ... 71
D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ... 72
B. Hambatan Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap Swasta ... 90
V. PENUTUP
A. Simpulan ... 95
B. Saran ... 96
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Korupsi merupakan perbuatan tercela dan bentuk dari penyakit sosial masyarakat,
sehingga korupsi dikategorikan sebagai suatu tindak pidana (Straafbaarfeit).
Perkara tindak pidana korupsi merupakan perkara yang dapat digolongkan ke
dalam suatu kejahatan yang disebut dengan “white collor crime” yaitu kejahatan
yang dilakukan oleh orang yang mempunyai kedudukan yang tinggi dalam
masyarakat dan dilakukan sehubungan dengan tugas atau pekerjaannya1.
Korupsi merupakan kejahatan yang kontemporer yang berbeda dengan
kejahatan-kejahatan konvensional. Perbedaannya adalah terletak pada tingkat dan status
sosial, ekonomi, atau pendidikan pelakunya. Causa delict korupsi tidak semata
ditentukan oleh pelaku tindak pidana korupsi tetapi juga didukung oleh
kesempatan yang diberikan oleh masyarakat atau sistem yang berlaku. Tindak
pidana korupsi yang selama ini terjadi secara meluas tidak hanya merugikan
keuangan negara tetapi juga merupakan pelanggaran terhadap hak sosial dan
ekonomi masyarakat secara luas sehingga tindak pidana korupsi perlu
digolongkan sebagai kejahatan yang pemberantasannya harus dilakukan secara
luar biasa. Oleh karena itu dalam penyelesaian perkara tindak pidana korupsi
perlu ditekankan adanya suatu kepastian hukum, perlakuan secara adil, dan
1
perlindungan terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara
berkesinambungan.
Perkembangannya tindak pidana korupsi tidak hanya dilakukan oleh orang
perorangan atau pejabat instansi tertentu atau oleh penyelenggara negara
melainkan meluas hingga mencapai pada masyarakat di luar fungsi pemerintahan
serta keberadaan badan hukum sebagai subyek hukum, sehingga merusak
sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara serta membahayakan
eksistensi negara.
Selain itu, pelaku tindak pidana korupsi juga ditujukan kepada pejabat atau profesi
di luar struktur pemerintahan seperti advokat (Pasal 6 Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 20 tahun 2001) dan pemborong (Pasal 7 Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001). Meluas dan berkembangnya tindak
pidana korupsi tidak hanya terjadi pada modus operandi atau kualitas dan
kuantitasnya saja, melainkan sudah mencapai suatu akibat pada kemunduran suatu
negara baik secara politik, ekonomi, sosial, budaya dan pertahanan keamanan
seperti yang terjadi di Indonesia sekarang ini dimana pemberantasan atau
penanggulangan tindak pidana korupsi kerap kali mengalami kegagalan baik pada
upaya preventif maupun upaya represif dan hukum hanya berdiri tegak dalam
batas mencari kewibawaan.
Perbuatan korupsi pada umumnya dapat digolongkan dalam dua bentuk / ruang
1. Administratif corruption (penyalahgunaan kewenangan)
2. Against the rule of coruption (Penyimpangan terhadap peraturan
perundang-undangan)
Pembagian ruang lingkup tersebut berarti korupsi terjadi pada suatu tatanan
administrasi tertentu yang berhubungan dengan jabatan, kedudukan atau suatu
departemen yang lebih akrab dikenal dengan penyalahgunaan wewenang yang
diikatkan dalam suatu proses administrasi. Di samping itu korupsi dapat juga
merupakan penyimpangan atau penentangan terhadap peraturan
perundang-undangan yang berlaku, dalam hal ini sepenuhnya korupsi merupakan
pelanggaran terhadap undang-undang yang berlaku2.
Berdasarkan hasil penelitian Transparansy International (TI) selama enam tahun
berturut-turut dari tahun 2007-2010, Indonesia selalu menduduki peringkat
sepuluh besar sebagai negara paling korup di dunia. Selanjutnya berdasarkan
penelitian Political and Economic Risk Consultancy (PERC) tahun 1997,
Indonesia menempati negara terkorup di Asia. Pada tahun 2001, posisi Indonesia
menjadi negara terkorup nomor dua setelah Vietnam. Tingkat korupsi pada lima
tahun berikutnya di Indonesia yaitu antara tahun 2001-2005 tidak menunjukkan
penurunan yang berarti. Pada tahun 2005 atau setahun setelah pemerintahan
Presiden Susilo Bambang Yudoyono peringkat indonesia membaik tetapi relatif
sangat kecil, yaitu menjadi negara paling korup nomor enam di dunia dan di asia
tenggara tidak lagi menjadi negara terkorup tapi posisinya beralih kenegara
Myanmar. Pengaturan mengenai kategorisasi perbuatan korupsi sebagaimana
2
yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 ini bersifat lebih rinci
dibandingkan pengaturan yang ada dalam undang-undang sebelumnya.
Berdasarkan penafsiran terhadap ketentuan-ketentuan yang ada dalam
Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo. Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 maka
tindak pidana korupsi dikategorisasikan menjadi dua, yaitu tindak pidana
korupsi dan tindak pidana yang berkaitan dengan tindak pidana korupsi.
Kategorisasi pertama tersebut dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 5 hingga Pasal
12 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 jo. Pasal 13 hingga 16 Undang-Undang
Nomor 20 tahun 2001. Kategorisasi kedua dapat dilihat dalam 21 hingga 24
Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999.
Kesejahteraan masyarakat negara-negara berkembang pada umumnya tertinggal
dibandingkan dengan negara-negara maju. Pencapaian kesejahteraan masyarakat
negara-negara industri maju diperoleh dari pelaksanaan pembangunan ekonomi
selama ratusan tahun bersama-sama dengan pembangunan bidang hukum, politik,
sosial budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya-upaya pembangunan
ekonomi pada negara-negara industri maju juga mengalami “pasang surut” karena
adanya perang dunia, resesi, booming minyak, dan globalisasi, dengan segala
akibatnya baik yang bersifat positif maupun negatif. Banyak negara merasakan
adanya berbagai kerugian karena terjadinya kejahatan-kejahatan tersebut, tetapi
aparat penegak hukum kurang dapat mengantisipasinya, karena perkembangan
kejahatan white-collar berjalan begitu pesat seiring dengan pembangunan itu
Langkah awal yang dilakukan pemerintah dalam upaya pemberantasan tindak
pidana korupsi adalah dengan mengeluarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada pemerintahan Presiden
B.J. Habibie, Undang Nomor 31 Tahun 1999 menggantikan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971 Tentang Pemberantasan Tindak pidana Korupsi
yang diharapkan mampu memenuhi dan mengantisipasi perkembangan kebutuhan
hukum masyarakat dalam rangka mencegah dan memberantas secara lebih efektif
setiap bentuk tindak pidana korupsi yang sangat merugikan negara kemudian pada
Tahun 2001 dikeluarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 Tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi perubahan yang dilakukan tersebut merupakan perubahan
beberapa pasal yang dianggap banyak menimbulkan banyak interprestasi dalam
penerapannya.
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi dalam tatanan hukum pidana nasional merupakan undang-undang pidana
khusus yang menyimpang dari ketentuan umum sebagaimana telah diatur baik
dalam KUHP maupun KUHAP. Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 memiliki
karakteristik yang membedakan dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1971
yaitu :
1. Pengaturan korporasi sebagai subjek hukum disamping perorangan.
2. Pengaturan pembuktian terbalik yang terbatas dan berimbang.
3. Mengatur tentang ancaman pidana minimum khusus dan maksimum
4. Adanya ancaman pidana mati bagi unsur pemberat.
5. Dimungkinkan penyidikan gabungan dalam perkara yang sulit
pembuktiannya dibawah koordinasi Jaksa Agung.
6. Adanya kerja sama dengan pihak perbankan dalam hal penerobosan
rahasia perbankan untuk kepentingan penuntasan kasus korupsi.
7. Diaturnya peran serta masyarakat dalam pemberantasan tindak pidana
korupsi.
8. Mengamanatkan pembentukan komisi pemberantasan korupsi yang
independen.
Berdasarkan uraian di atas yaitu bahwa korupsi merupakan suatu tindak pidana
yang terjadi secara sistematis dan juga dapat bersifat kolektif yang dilakukan oleh
orang-orang tertentu dalam rangka memperkaya diri, dan dampaknya tidak hanya
sebatas kerugian pada keuangan negara melainkan juga merupakan pelanggaran
terhadap hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat secara luas, sehingga untuk
pemberantasan tindak pidana korupsi perlu suatu pendekatan lebih komprehensif,
integral, dan simultan serta selaras dengan fungsi dan tujuan hukum sebagai
instrumen perlindungan masyarakat.
Upaya-upaya yang dilakukan harus bersifat preventif yang meliputi
mengusahakan perbaikan ekonomi, perbaikan aparatur pemerintah baik organisasi
maupun prosedur atau tata kerja dan persoalannya. Upaya yang refresif
pemberantasan tindak pidana korupsi yaitu dengan penegakan hukum pidana
sebagai “Ultimum Remedium” yakni keyakinan pada penggunaan pada sistem
pidana yang bertumpu pada kebenaran materil, azas, kaidah serta hakikat yang
mengilhami eksistensi hukum sebagai suatu kontrak sosial atau dengan ungkapan
yang sederhana dikatakan sistem haruslah selaras dengan fungsi dan tujuan dari
hukum.
Kenyataannya, banyak terdapat para pelaku Tindak Pidana Korupsi yang Subjek
Hukumnya ialah Pihak Swasta atau Bukan Berprofesi sebagai Pegawai Negeri
Sipil yang mempunyai jabatan maupun kedudukan seperti pada kasus Evi Meita,
adalah contoh perkara korupsi yang merupakan subjek tindak pidananya dari
golongan pihak swasta, yang dimana dalam hal ini Evi meita mempunyai
kewenangan dan jabatan sebagai pimpinan Usaha Dagang Mitra Soya yang
ditunjuk oleh Dinas Koperasi Industri dan Perdagangan Kabupaten Tanggamus
sebagai distributor penyalur kedelai bersubsidi di kabupaten Tanggamus tahun
2008. Namun kewenangan yang diberikan pada Evi meita disalahgunakan dan
akibat perbuatannya negara mengalami kerugian. Kemudian Evi Meita di Dakwa
oleh Jaksa Penuntut Umum dengan Dakwaan Primer Pasal 2 Ayat 1 jo. Pasal 18
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi yang diubah dan ditambah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun
2001 jo. Pasal 55 Ayat 1 KUHP dan Subsider Pasal 3 jo. Pasal 18
Undang Nomor 31 Tahun 1999 yang diubah dan ditambah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Namun dalam hal ini hakim lebih memilih untuk menerapkan pasal 3 yang
dijatuhi terhadap evi meita, padahal seharusnya Pasal 3 lebih di khususkan untuk
Pasal 3 tersebut lebih mengarah kepada subjek tindak pidana yang berprofesi
sebagai Pegawai Negeri Sipil.
Berdasarkan ketentuan Pasal 1 Ayat 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana yang telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001, yang dapat dikatakan sebagai
Pegawai Negeri adalah meliputi :
a. Pegawai negeri sebagaimana Undang-Undang tentang Kepegawaian;
b. Pegawai negeri sebagaimana yang dimaksud dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana;
c. Orang yang menerima gaji atau upah dari keuangan negara atau daerah;
d. Orang yang menerima gaji atau upah dari suatu korporasi yang menerima
bantuan dari keuangan negara atau daerah;
e. Orang yang menerima gaji atau upah dari korporasi lain yang
mempergunakan modal atau fasilitas dari negara atau masyarakat.
Terdapat pula contoh-contoh Kasus-Kasus Korupsi yang terdapat di Lampung
khususnya, dimana dalam hal ini para terdakwanya divonis Pasal 3 UUPTPK oleh
Majelis Hakim, yaitu kasus korupsi dana alokasi khusus (DAK) 2010 RSUD
Sukadana, Lampung Timur dengan terdakwa Agung Romilian, Zaenul Arifin dan
Judiono, kemudian kasus korupsi (DAK) bidang pendidikan Lampung Utara
(Lampura) 2010, dengan terdakwa Umar Mukhtar dimana selaku ketua panitia
pemeriksa dan penerima barang pada proyek itu Umar Mukhtar tidak melibatkan
anggota PPTK lainnya dalam monitoring dan pelaporan seluruh administrasi,
kemudian kasus korupsi proyek tender Customer Information System (CIS)
berbasis IT senilai Rp. 4,5 Milyar dengan terdakwa General Manager PLN
Analisis Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap Swasta, dibutuhkan hukum pidana
formil yang Pada dasarnya tujuan dari hukum pidana formil adalah untuk mencari
dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil yakni
kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan
menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat. Dalam sistem
hukum pidana formil terdapat istilah pembuktian sebagai suatu kesatuan
formalitas acara persidangan. Ada empat teori sistem pembuktian yang
merupakan metode pendekatan yang secara umum digunakan dalam mencari
kebenaran materiil dari suatu tindak pidana yaitu :
1. Teori pembuktian berdasarkan keyakinan (conviction-rasionee)
2. Teori pembuktian positif (positif-wettelijk)
3. Teori pembuktian negatif (negative-wettelijk stelsel)
4. Teori pembuktian bebas (Vrij-bewijst)3
Berdasarkan klasifikasi teori di atas, Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana
sebagai acuan acara dalam penyelesaian perkara pidana mengadopsi teori yang
lebih menekankan pada keseimbangan antara keyakinan hakim serta alat bukti
yang sah dalam mencari kebenaran materil, dan meletakkan beban pembuktian
kepada penuntut umum.
Pembuktian dalam perkara korupsi berbeda dengan pembuktian dalam perkara
biasa, terutama berkaitan dengan peranan terdakwa dalam pembuktian. Prinsip
pembuktian dalam perkara pidana biasa didasarkan pada asas presumption of
innocence di aman setiap orang tidak boleh dianggap bersalah sebelum ada
keputusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap. Berdasarkan azas
3
tersebut maka dalam pemeriksaan sidang pengadilan yang harus membuktikan
setiap orang yang dituduh melakukan tindak pidana adalah penuntut umum
sedangkan terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian sebagaimana yang
dinyatakan dalam Pasal 66 KUHAP. Hal ini sedikit berbeda dalam perkara
korupsi dimana terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan. Ketentuan ini
diatur dalam Pasal 37 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Pasal
37 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang berbunyi sebagai
berikut :
“Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan
tindak pidana korupsi”.
Namun demikian dalam perkara korupsi, meskipun terdakwa mempunyai hak
untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindakan pidana korupsi akan
tetapi di pihak penuntut umum tetap berkewajiban untuk membuktikan
dakwaannya. Dengan kata lain meskipun terdakwa dapat membuktikan bahwa
dirinya tidak melakukan tindak pidana korupsi, tidak berarti ia tidak melakukan
korupsi dan terbebas dari segala tuduhan tetapi itu semua masih tergantung pada
pembuktian yang dilakukan oleh penuntut umum. Pembuktian ini disebut
pembuktian terbalik yang terbatas. Hal ini dijelaskan dalam penjelasan Pasal 37
UUPTPK yang disebutkan :
“Ketentuan ini merupakan suatu penyimpangan dari ketentuan Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang menentukan bahwa jaksa yang
wajib membuktikan dilakukannya tindak pidana, bukan terdakwa. Menurut
ketentuan ini terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan
masih tidak berarti ia tidak terbukti melakukan korupsi. Sebab penuntut
umum masih tetap berkewajiban untuk membuktikan dakwaannya.
Ketentuan pasal ini merupakan pembuktian terbalik yang terbatas. Karena
jaksa masih tetap wajib membuktikan dakwaannya”.
Pembuktian yang dilakukan terdakwa hanya bersifat sebagai sesuatu yang
menguntungkan atau merugikannya. Apabila terdakwa dapat membuktikan bahwa
ia tidak melakukan korupsi, maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh
pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti (Pasal
37 Ayat (2) UUPTPK). Sedangkan apabila terdakwa tidak dapat membuktikan
tentang kekayaan yang tidak seimbang dengan penghasilannya atau sumber
penambahan kekayaannya, maka keterangan yang diberikan digunakan untuk
memperkuat alat bukti yang sudah ada bahwa terdakwa telah melakukan tindak
pidana korupsi (Pasal 37 Ayat (2) UUPTPK).
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 Jo. Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2001 merupakan ketentuan khusus yang menganut sistem
pembuktian dengan memberikan hak kepada terdakwa tindak pidana korupsi
untuk melakukan pembuktian terhadap kebenaran materil atau dakwaan. Ini
berarti bahwa terdakwa harus membuktikan bahwa ia melakukan atau tidak
melakukan korupsi sebagaimana dakwaan terhadapnya. Pembuktian tersebut
melibatkan pula penguasaan terdakwa atas alat bukti dan saksi yang mendukung
dakwaan terhadapnya.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 menganut sistem pembuktian yang
meletakkan beban pembuktian kepada terdakwa dan penuntut umum. Pada
kewajibannya. Dalam kaitannya dengan sistem pembuktian prespektif
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 yang berbeda dengan sistem ini dalam kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana, maka dalam hal ini nampak berlaku asas
“Lex specialis derogad legi generali” tersebut mempunyai dampak dalam
pemberantasan korupsi di Indonesia.
Berdasarkan Undang–Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terdapat 2 macam pasal yang dapat
diterapkan baik terhadap Pegawai Negeri Sipil maupun Swasta Non Pegawai
Negeri Sipil. Yaitu seperti yang terdapat dalam Pasal 2 UUPTPK, disebutkan :
(1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya
diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara
seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling
lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua
ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah)
(2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
dilakukan dalam keadaan tetentu pidana mati dapat dijatuhkan.
Kemudian dalam Pasal 3 UUPTPK, disebutkan :
“Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara
paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
1.000.000.000,00 (Satu miliyar rupiah)”.
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka penulis tertarik menulis tesis
dengan judul “Analisis Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap Swasta”.
B. Permasalahan dan Ruang Lingkup 1. Permasalahan
Berdasarkan uraian yang telah digambarkan dalam latar belakang di atas, maka
yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian tesis ini adalah :
a. Bagaimanakah Analisis Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap Swasta?
b. Mengapa Terjadi Hambatan dalam Penerapan Pasal 3 UUPTPK Terhadap
Swasta?
2. Ruang lingkup
Adapun batasan ruang lingkup dalam penelitian ini meliputi lingkup materi/studi,
lokasi dan waktu, dengan pengkhususuan dan pokok pembahasan sebagai berikut :
Lingkup studi/materi, merupakan studi bidang ilmu hukum pidana yaitu analisis
penerapan Pasal 3 uuptpk terhadap swasta serta mengapa terjadi hambatan dalam
penerapan Pasal 3 terhadap swasta. Kemudian Objek penelitian, yaitu kajian
analisis penerapan Pasal 3 uuptpk terhadap swasta serta mengapa terjadi
hambatan. Adapun Lingkup waktu penelitian adalah kajian analisis penerapan
Pasal 3 terhadap Swasta yakni dalam kurun waktu 2008-2013 dan Lingkup lokasi,
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang telah dikemukakan diatas, maka penulisan tesis
ini bertujuan untuk menganalisis :
a. Untuk Mengetahui dan Memahami Analisis penerapan Pasal 3 uuptpk
terhadap swasta dikaji secara yuridis.
b. Untuk Mengetahui dan Memahami Hambatan dalam penerapan Pasal 3
terhadap swasta.
Tujuan akhir dari penelitian tesis ini adalah untuk menghasilkan kajian-kajian
akademik tentang apakah yang menjadi analisis penerapan Pasal 3 UUPTPK
terhadap swasta serta mengapa terjadi hambatan.
2. Kegunaan Penulisan
a. Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan
kompetensi, pengetahuan dan pengalaman penulis dalam melakukan
penelitian ilmiah ini dan dapat menjadi kajian akademik di bidang
pengembangan hukum pidana untuk merumuskan kebijakan hukum pidana
mengenai bagaimanakah analisis penerapan Pasal 3 uuptpk terhadap swasta
serta mengapa terjadi hambatan dalam penerapannya .
b. Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai referensi
bagi pihak-pihak yang membutuhkan informasi maupun kepada petugas
hukum seperti polisi, jaksa, hakim dan advokat dalam hal analisis penerapan
D. Kerangka Pemikiran dan Konseptual 1. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran merupakan suatu kerangka yang memuat teori-teori atau
dasar pemikiran yang sifatnya mendukung dan sekaligus dipakai sebagai acuan
dalam melakukan penelitian4. Teori-teori yang dipergunakan dalam penelitian ini
adalah teori-teori yang berkaitan dengan Analisis Penerapan Pasal 3 UUPTPK
Terhadap Swasta.
Pada penulisan tesis ini penulis menggunakan teori Lawrence M Friedman5,
tentang sistem hukum yang oleh beliau dapat dibagi menjadi tiga komponen yaitu:
1. Peraturan perundang-undangan atau substansi hukum, yaitu hasil yang
sebenarnya yang dikeluarkan oleh sistem hukum berupa keputusan yang
merupakan produk substansif dari sistem hukum yaitu
perundang-undangan yang berlaku.
2. Faktor penegak hukum atau struktur hukum, yaitu bagian-bagian yang
bergerak dalam suatu mekanisme yang berupa lembaga penelitian,
hakim yang bersidang, badan pembuat Undang-Undang dan juga
konstitusi tertulis.
3. Faktor kesadaran hukum masyarakat atau budaya hukum yaitu berupa
sikap dan nilai-nilai yang menjadi pegangan masyarakat yang
menentukan apakah lembaga peradilan akan dimanfaatkan atau tidak
apabila menghadapi suatu masalah hukum.
4
Soejono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta. VI Press. 1986. hlm 24.
5
Ketiga komponen hukum tersebut merupakan usaha-usaha yang rasional dalam
mengendalikan dan menanggulangi kejahatan. Substansi hukum dalam kaitannya
dalam tindak pidana korupsi telah merealisasikan dengan adanya peraturan
perundang-undangan mengenai tindak pidana tersebut dalam konteks ini adalah
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2001 Tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Demikian juga dengan struktur hukum
yang bergerak dalam suatu mekanisme polisi, badan penegak hukum (pengadilan),
hakim, dan jaksa yang masing-masing tergabung adalah istilah sistem peradilan
pidana (Criminal Justice Sistem). Kultur hukum atau budaya hukum dalam
masyarakat merupakan komponen yang mendukung substansi hukum, struktur
hukum, budaya hukum yang merupakan sikap atau nilai menjadi pegangan
masyarakat. Oleh karena itu, dalam menentukan penerapan pasal, hukum haruslah
cukup hati-hati dan adil dalam penerapannya. Selain itu hakim juga harus cukup
arif.
Sistem adalah kesatuan yang terdiri dari bagian-bagian yang satu dengan yang lain
saling tergantung untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, system
hukum merupakan kesatuan yang terdiri dari subsistem hukum yang saling
bergantung atau saling memengaruhi satu dengan yang lain untuk mencapai
tujuan tertentu. Oleh karena itu, maka system hukum pidana adalah merupakan
kesatuan yang terdiri dari subsistem hukum pidana.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. terdapat
unsur-unsur di dalam Pasal 3 yang dapat dikenakan terhadap Swasta, sebagaimana
Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau
suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara
atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan denda paling sedikit Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak 1.000.000.000,00 (Satu
miliyar rupiah)”.
Unsur-Unsur tindak pidana korupsi dari pasal 3 yang dapat diterapkan terhadap
Swasta di atas adalah sebagai berikut :
(1) Menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena jabatan atau kedudukannya.
(2) Tujuan dari perbuatan tersebut menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi.
Sebagaimana disebutkan dalam Pasal 55 Ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana :
(1) Dipidana sebagai Pembuat Delik :
1. Mereka yang melakukan, yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta
melakukan perbuatan;
2. Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan
menyalahgunakan kekuasaan dan martabat, dengan kekerasan, ancaman atau
penyesatan, atau dengan memberi kesempatan, sarana atau keterangan,
sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan. Hukum suatu
dari suatu sistem, menurut IGM Nurdjana, paling tidak ada tiga ciri hukum
suatu sistem yakni6:
1. Sifatnya menyeluruh (whole);
2. Memiliki beberapa elemen (element);
3. Semua elemen saling terkait (relation) dan baru kemudian membentuk
struktur (structure).
Sistem hukum memiliki cara kerja sendiri untuk mengukur tingkat validitas dalam
suatu sistem hukum tersebut7.
Menurut Mochtar Kusumaatmaja yang menyatakan bahwa sistem hukum tersusun
atas sejumlah subsistem sebagai komponen yang saling terkait dan berinteraksi.
Komponen sistem hukum itu terdiri atas8:
a. Asas-asas dan kaidah-kaidah;
b. Kelembagaan hukum
c. Proses-proses perwujudan kaidah-kaidah dalam kenyataan
Menurut pendapat dari sosiologi hukum, bahwa sistem hukum itu dipandang
tersusun atas tiga komponen (subsistem) yang dengan bahasa sosiologi (Hukum)
dapat dipaparkan sebagai berikut :
a. Unsur ideal, yang meliputi keseluruhan aturan, kaidah, pranata dan asas
hukum, yang dalam peristilahan teori sistem dapat dicakup dengan istilah
sistem makna atau sistem lembaga atau sistem reverensi;
b. Unsur operasional yang mencakup keseluruhan organisasi, lembaga dan
pejabat;
6 Ibid, hlm 45.
7 Mudzakir, Polisi Hukum Korban Kejahatan dalam Sistem Peradilan Pidana, Disertasi Program Pasca Sarjana FH-UI, Jakarta, hlm 27.
8
c. Unsur aktual yang mencakup keseluruhan keputusan dan tindakan
(perilaku), baik para pejabat maupun para warga masyarakat, sejauh
keputusan dan tindakan itu berkaitan dan atau dapat ditempatkan dalam
kerangka sistem makna yuridis yang dimaksud dalam substansi hukum9.
Kebijakan Kriminal Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi merupakan bagian
dari kegiatan penegakan hukum pidana, yaitu suatu kegiatan mengoperasionalkan
peraturan perundang-undangan pidana oleh aparat penegak hukum. Dalam
konteks Politik Kriminal, penegakan hukum pidana merupakan bagian dari
kebijakan perlindungan masyarakat (social defence policy), yang bersama-sama
dengan kebijakan masyarakat (social welfare policy) mempunyai tujuan
mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, aman, tenteram dan sejahtera.
Menurut G.P. Hoefnagels10, penegakan hukum pidana dapat dilakukan dengan
cara :
a. Penerapan hukum pidana ( criminal law application),
b. Pencegahan tanpa pidana (Prevention without punishment),
c. Mempengaruhi pandangan masyarakat mengenai kejahatan dan
pemidanaan lewat media massa (influencing views society on crime and
punishment by mass media).
Upaya penanggulangan kejahatan secara garis besar dapat dibagi dua yaitu lewat
jalur “penal” (hukum pidana) dan lewat jalur “non-penal” (bukan/diluar hukum
pidana).
9
CJm.Schuit, Recht En Samenleving, Assen, 1983. hlm 11-18.
10
Menurut Muladi tahap-tahap dalam penegakan hukum secara umum harus melalui
beberapa tahap :
a. Tahap formulasi, yaitu tahap perumusan atau penetapan pidana oleh
pembuat undang-undang (Kebijakan Legislatif),
b. Tahap Aplikasi, yaitu tahap pemberian pidana oleh penegak hukum
(Kebijakan Yudikatif),
c. Tahap Eksekusi, yaitu tahap pelaksanaan pidana oleh instansi yang
berwenang (Kebijakan Eksekutif).11
Sistem hukum pidana khususnya dalam rangka penegakan hukum terhadap tindak
pidana Korupsi di Indonesia diatur pertama kali di dalam KUHP. Kedudukan
hukum pidana yang diatur oleh KUHP dan KUHAP adalah sebagai sistem hukum
Pidana, terutama jika dilihat dari pengertian sistem hukum menurut Sudikno
Metrokusumo, bahwa kesatuan utuh dari tatanan-tatanan yang terdiri dari
bagian-bagian atau unsur-unsur yang satu sama lainnya saling berhubungan dan kait
mengait secara erat. Untuk mencapai tujuan kesatuan itu diperlukan kerjasama
antara unsur-unsur tersebut12.
Sejak diberlakukanya KUHAP, sesungguhnya telah terjadi suatu perubahan yang
fundamental dalam sistem peradilan pidana yang secara khusus dapat dipastikan
akan mempengaruhi sistem penyidikan. Perubahan dari HIR (Herziene Inland
Reglement) menjadi KUHAP adalah hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh
masyarakat. Perubahan ini dipertegas dengan Pedoman Pelaksanaan KUHAP/Kep
11 Muladi, Arief Bardanawawi. Teori-Teori Kebijakan Hukum Pidana, Alumni. Bandung, 1986. hlm 72.
12
Menkeh RI Nomor : M01.PW.07.03 tahun 1982 yang diantaranya menyebutkan
bahwa pembidangan tugas, wewenang dan tanggung jawab para petugas penegak
hukum sesuai dengan wewenang dan tugas fungsi masing-masing pembidangan
tersebut tidak berarti mengkotak-kotakkan tugas dan wewenang dan tanggung
jawab, tetapi mengandung koordinasi dan sinkronisasi13.
Menurut Jeane Neltjhe Saly, sistem hukum nasional tidak hanya terdiri dari
kaidah kaidah atau norma-norma hukum belaka, tetapi juga mencakup seluruh
lembaga aparatur dan organisasi, mekanisme dan prosedur hukum, falsafah dan
budaya hukum, termasuk perilaku hukum pemerintah dan masyarakat14.
Menurut Romli Atmasasmita15, yang menyatakan bahwa saat ini ada 4 (empat)
masalah mendasar yang mendesak dan segera harus diselesaikan berkaitan dengan
pembangunan sistem hukum nasional yakni :
1. Masalah reaktualisasi sistem hukum yang bersifat netral dan berasal dari
hukum lokal ke dalam sistem hukum nasional di satu sisi dan disisi lain juga
terhadap hukum yang bersifat netral yang berasal/bersumber dari perjanjian
internasional;
2. Masalah penataan kelembagaan aparatur hukum yang masih belum dibentuk
secara komprehensif sehingga melahirkan berbagai ekses, antara lain egoisme
sektoral dan menurunnya kerjasama antar aparatur penegak hukum secara
signifikan;
13
Bambang Wijojanto, Harmonisasi Peran Penegak Hukum dalam Pemberantasan Korupsi, Jurnal Legislasi Indoensia, Departemen Hukum dan HAM. Jakarta, 2007, hlm 5.
14
Jeane Neltje Saly, Harmonisasi Kelembagaan dalam Penegak Hukum Tindak Pidana Korupsi, Jurnal Legislasi Indonesia, Departemen Hukum dan HAM. Jakarta, 2007, hlm. 15.
15
3. Masalah pemberdayaan masyarakat, baik dalam bentuk menigkatkan akses
masyarakat ke dalam kinerja pemerintahan, dan peningkatan kesadaran hukum
masyarakat;
4. Masalah pemberdayaan birokrasi dalam konteks peranan hukum dalam
pembangunan.
2. Konseptual
Konseptual adalah merupakan kerangka yang menggambarkan hubungan antara
konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan arti-arti yang berkaitan dengan
istilah yang akan diteliti agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam penulisan ini16,
maka penulis akan memberikan konsep yang bertujuan untuk menjelaskan
beberapa istilah yang digunakan oleh penulis, adapun istilah-istilah yang
dimaksud adalah :
a. Analisis adalah Suatu uraian mengenai suatu persoalan yang
memperbandingkan antara fakta-fakta dengan teori, dengan menggunakan
metode argumentatif sehingga menghasilkan suatu kejelasan mengenai
persoalan yang dibahas tersebut17.
b. Penerapan adalah Pelaksanaan suatu peraturan perundang-undangan sesuai
dengan ketentuan normatif baik dalam bentuk proses tahap awal maupu
dalam tahap pelaksanaan atau realisasi18.
c. Pasal 3 UUPTPK adalah sebagaimana disebutkan “Setiap orang yang dengan
tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi,
menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya
16
Soerjono Soekanto, Op Cit, hlm. 119.
17
Ibid.
18
karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau
pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan denda paling sedikit Rp.
50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak 1.000.000.000,00
(Satu miliyar rupiah)”19.
d. Swasta adalah Pihak yang berdiri sendiri atau non pemerintah20.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini memuat uraian–uraian keseluruhan yang akan
disajikan dengan tujuan agar pembaca dapat dengan mudah memahami dan
memperoleh gambaran menyeluruh dalam tesis ini. Sistematika yang
dipergunakan dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :
I. PENDAHULUAN
Merupakan bab pendahuluan yang memuat latar belakang masalah, pokok
permasalahan serta ruang lingkup penelitian, selain itu juga dalam bab ini
memuat tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka pemikiran dan
konseptual serta sistematika penulisan menyangkut analisis penerapan
pasal 3 UUPTPK terhadap swasta.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menjelaskan tentang pengantar pemahaman pada
pengertian-pengertian umum tentang pokok–pokok bahasan tentang Analisis
19
Pasal 3 Undang-Undang 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
20
Penerapan Pasal 3 UUPTPK terhadap Swasta, kemudian dasar peraturan
yang digunakan. Dalam uraian bab ini lebih bersifat teoritis yang nantinya
digunakan sebagai bahan studi perbandingan antara teori yang berlaku
dengan kenyataannya yang berlaku dalam praktek.
III. METODE PENELITIAN
Dalam bab ini dibahas mengenai langkah–langkah atau cara–cara yang
dapat dipakai dalam penelitian yang dimulai dengan pendekatan masalah
untuk kemudian dapat ditentukan sumber datanya baik itu yang berupa
data primer maupun data sekunder, yang diambil dari penentuan
narasumber dan sample, kemudian dalam bab ini diuraikan juga tentang
prosedur pengumpulan data dan pengolahan data, dan analisis apa yang
dipakai dalam mengolah data yang ada.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini merupakan hasil analisis mengenai analisis penerapan pasal 3
uuptpk terhadap swasta, serta untuk mengetahui hambatan penerapan
pasal 3 uuptpk terhadap swasta.
V. PENUTUP
Bab ini memuat kesimpulan dari hasil penelitian dan pembahasan sesuai
dengan teori dan praktek di lapangan serta memberikan sumbangan pikiran
berupa saran yang berkaitan dengan penelitian yang merupakan tindak
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Tindak Pidana Korupsi
Perkembangan tindak pidana korupsi kini berkembang sangat cepat semula
korupsi digolongkan dalam kejahatan biasa (ordinary crime), namun kini sudah
menjadi kejahatan yang sangat luar biasa (extra ordinary crime). Korupsi
berdampak negative terhadap tatanan kehidupan bangsa dan bahkan korupsi
merupakan perampasan hak ekonomi dan sosial masyarakat Indonesia. Korupsi di
Indonesia kini telah bersifat sistemik dan endemik, bukan saja merugikan
keuangan negara tetapi juga telah mengancam perekonomian bangsa.
Korupsi sudah berada pada tingkat yang sangat membahayakan bagi
keberlangsungan bangsa. Tingkat Bahayanya korupsi digambarkan dengan tegas
oleh Athol Noffitt, seorang kriminolog dari Australia sebagai mana dikutif oleh
Baharuddin Lopa (2001) menyebutkan19:
“Sekali korupsi dilakukan apalagi kalau dilakukan oleh pejabat-pejabat
yang lebih tinggi, maka korupsi itu akan tumbuh lebih subur. Tiada
kelemahan yang lebih besar pada suatu bangsa dari pada korupsi yang
merembes ke semua tingkat pelayanan umum. Korupsi melemahkan garis
belakang, baik dalam damai maupun dalam perang”.
19
Korupsi adalah istilah yang sudah sangat lama dikenal oleh manusia termasuk di
Indonesia, dan gejala ini baru mendapat istilah resmi dalam hukum pidana pada
tahun 1957. Korupsi berasap dari bahasa latin corruption atau corruptus, kata
corruption berasal dari bahasa latin corrumpere. Dari bahasa latin ini kemudian
turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris : Coruption, Corrupt, Prancis:
Corrupton, Belanda: corruptie (korruptie), dan dalam bahasa Indonesia menjadi
korupsi.
Secara harfiah korupsi dapat diartikan sebagai kebusukan, keburukan, ketidak
jujuran, dapat disuap, tidak bermoral, penyimpangan dari kesucian, kata-kata atau
ucapan yang menghina atau memfitnah. Secara etimologis korupsi berarti
“sesuatu yang busuk” (corumpe), secara sosial ia jauh lebih busuk, bahkan makan
begitu banyak korban.
Korupsi dapat didefinisikan sebagai perilaku yang menyimpang dari aturan etis
formal yang menyangkut tindakan seseorang dalam posisi otoritas publik yang
disebabkan oleh adanya motf pertimbangan pribadi, seperti kekayaan, kekuasaan
dan status. Korupsi bukan hanya dimengerti sebagai suatu bentuk penyalahgunaan
kekuasaan dan kepercayaan dengan tujuan keuntungan pribadi. Namun, korupsi
juga dapat dimengerti sebagai sebuah perilaku tidak mematuhi prinsip
“mempertahankan jarak”. Artinya, dalam pengambilan kebijakan di bidang
ekonomi, apakah itu dilakukan oleh perorangan disektor swasta atau oleh pejabat
publik, hubungan pribadi atau keluarga tidak memainkan peranan. Sekali prinsip
pribadi atau keluarga maka korupsi akan timbul. Contohnya, konflik kepentingan
dan nepotisme.
Prinsip mempertahankan jarak ini adalah landasan untuk organisasi apa pun untuk
mencapai efisiensi20. Dalam rangka melakukan pembacaan atas fenomena korupsi
di Indonesia sangat terbantu dengan menggunakan tipologi korupsi versi
Aditjondro. Dengan menggabungkan kerangka teoritis yang disampaikan oleh
Said Husein Alatas (1999) Wiliam J. Chambliss (1973) dan Milovan Djilas
(1973), ia menyusun kerangka analisis korupsi menjadi tiga lapis21.
Berikut ini dapat dilihat tiga lapis korupsi yang berdasarkan kerangka teoritis yang
disampaikan oleh Alatas, Chambaliss dan Djilas;
Tabel 1: Tiga Lapis Korupsi
Lapis Korupsi Jenis Korupsi
Lapis Pertama
Persentuhan langsung antara warga dan birokrasi. Bentuk korupsi : suap (bribery), ketika inisiatif datang dari warga;
Pemerasan (extortion), ketika prakarsa untuk mendapatkan dana datang dari aparatur Negara
Lapis Kedua
Nepotisme diantara mereka yang punya hubungan daerah
dengan pejabat publik; Kronisme (diantara mereka yang
tidak punya hubungan darah dengan pejabat publik); “Keias
Baru” (terdiri dari semua partai pemerintah dan keluarga
mereka yang menguasai semua pos basah, pos ideologis dan pos yuridis penting)
Lapis Ketiga Jejaring (cobal), baik regional, nasiona ataupun internasional,
yang meliputi unsur pemerintah, politisi, penguasaha dan aparat penegak hokum
Sumber : Goerge Junus Aditjandro, 2002, Korupsi Kepresidenan
20
M. Arsyad Sanusi. Jurnal Konstitusi: Relasi Antara Korupsi Dan Kekuasaan, Volume 6. Nomor 2, Juli 2009.
21
lebih lanjut Goerge J. Aditjondro menjelaskan bahwa selain tiga lapis korupsi
diatas dari aspek motivasi, korupsi dapat dikelompokkan menjadi dua terminologi
sederhana yang membedakan antara “Korupsi yang didorong karena faktor
kemiskinan (corruption driven by proverty) dengan korupsi yang didorong karena
kerakusan (corruption driven by greed)”. Sehingga dari terminologi inilah,
kemudian dikenal istilah corruption by need dan corruption by greed.
Korupsi sebagaimana dinyatakan oleh Yves Meny22, ada empat macam yakni
Pertama. Korupsi jalan pintas. Kasus ini banyak dipraktekkan dalam kasus
penggelapan uang negara, perantra ekonomi dan politik, dimana sektor ekonomi
membayar untuk keuntungan politik. Contoh dari kategori ini adalah kasus para
pengusaha yang menginginkan agar UU Perubahan tertentu diberlakukan; atau
peraturan-peraturan yang menguntungkan usaha tertentu untuk tidak direvisi. Lalu
partai-partai mayoritas memperoleh uang sebagai balas jasa.
Kedua, korupsi-upeti. Bentuk korupsi yang dimungkinkan karena jabatan
strategis. Berkat jabatan tersebut seseorang mendapatkan persentase dari berbagai
kegiatan, baik dalam bidang ekonomi, politik, budaya, bahkan upeti dari bawahan,
kegiatan lain atau jasa dalam suatu perkara, termasuk di dalamnya adalah upaya
mark up. Jenis korupsi yang pertama dibedakan dari yang kedua karena sifat
institusiona politiknya lebih menonjol.
Ketiga, korupsi-kontrak. Korupsi ini tidak bisa dilepaskan dari upaya
mendapatkan proyek atau pasar; masuk dalam kategori ini adalah usaha untuk
mendapatkan fasilitas pemerintah.
22
Keempat, korupsi-pemerasan. Korupsi ini sangat terkait dengan jaminan
keamanan dan urusan-urusan gejolak intern maupun dari luar; perekrutan perwira
menengah Tentara Nasional Indonesia (TNI) atau polisi menjadi manajer human
recourses deparement atau pencatuman nama perwira tinggi dalam dewan
komisaris perusahaan. Penggunaan jasa keamanan seperti di Exxon Mobil di Aceh
atau Freeport di Papua adalah contoh yang mencolok. Termasuk dalam kategori
ini juga adalah membuka kesempatan pemilikan saham kepada “orang kuat”
tertentu.
Senada dengan pernyataan Yves Meny, (Amien Rais)23, membagi jenis korupsi
yang harus diwaspadai dan dinilainya telah merajalela di Indonesia ke dalam
empat tipe. Pertama, korupsi ekstortif (extortive corruption). Korupsi ini merujuk
pada situasi di mana seseorang terpaksa menyogok agar dapat memperoleh
sesuatu atau mendapatkan proteksi atas hak dan kebutuhannya. Sebagai misal,
seorang pengusaha terpaksa memberikan sogokan (bribery) pada pejabat tertentu
agar bisa mendapat ijin usaha, perlindungan terhadap usaha sang penyogok, yan
bisa bergerak dari ribuan sampai miliaran rupiah.
Kedua, korupsi manipulatif (manipulative corruption). Jenis korupsi ini merujuk
pada usaha kotor seseorang untuk mempengaruhi pembuatan kebijakan atau
keputusan pemerintah dalam rangka memperoleh keuntungan setinggi-tinggiyna.
Sebagai misal, seseorang atau sekelompok konglomerat memberi uang pada
bupati, gubernur, menteri dan sebagainya agar peraturan yang dibuat dapat
menguntungkan mereka.
23
Ketiga, korupsi nepotistik (nepotistic corruption). Korupsi jenis ini merujuk pada
perlakuan istimewa yang diberikan pada anak-anak, keponakan atau saudara dekat
para pejabat dalam setiap eselon. Dengan preferential treatment itu para anak,
menantu, keponakan dan istri sang pejabat dapat menagguk untung yang
sebanyak-banyaknya. Korupsi nopotistik pada umumnya berjalan dengan
melanggar aturan main yang sudah ada. Namun pelanggaran-pelanggaran itu tidak
dapat dihentikan karena di belakang korupsi nepotistik itu berdiri seorang pejabat
yang biasanya merasa kebal hukum.
Keempat, korupsi subversif. Korupsi ini berbentuk pencurian terhadap kekayaan
negara yang dilakukan oleh para pejabat negara. Dengan menyalahgunakan
wewenang dan kekuasaannya, mereka dapat membobol kekayaan negara yang
seharusnya diselamatkan. Korupsi ini bersifat subversif atau destruktif terhadap
negara karena negara telah dirugikan secara besar-besaran dan dalam jangka
panjang dapat membahayakan eksistensi negara.
Uraian jenis korupsi diatas, Robert Klitgaard berhasil mengembangkan seluruh
formula dengan mengidentifikasi 3 (tiga) faktor penyebab terjadinya korupsi,
yaitu24:
1. Kekuasaan eksklusif pada pembuat keputusan
2. Diskresi pada pembuat keputusan
3. Kurang/tidak adanya akuntabilitas atas penyalahgunaan
4. Kekuasaan dan diskresi tersebut.
24
Apabila disusun dalam bentuk rumus, maka formula klitgaard di atas akan
menjadi sebagai berikut :
Apabila dicermati, teori Robert Klitgaard di atas hanya memfokuskan perhatian
pada faktor kekuasaan dan dalam kondisi-kondis apakah kekuasaan tersebut
cenderung untuk diselewengkan, baik dalam konteks umum maupun dalam
konteks proses peradilan. Klitgaard sama sekali tidak menyinggung faktor
motivasi dan dorongan yang membuat seseorang melakukan tindakan koruptif.
Berbeda halnya dengan Susan Rose - Ackerman25, yang menyatakan bahwa
penyebab korupsi terdapat keuntungan, tingkat resiko dan penyuapan. Dalam
analisisnya perilaku koruptif itu terutama ditentukan oleh:
1. Besarnya keuntungan yang teredia;
2. tingkat resiko dari suatu perbuatan koruptif;
3. kekuatan tawar-menawar relatif antara penyuap dan yang disuap
Faktor-faktor dasar yang dikemukakan oleh Rose – Ackerman tersebut dapat
diterapkan untuk konteks hakim dan pengadilan. Gaji yang rendah, kondisi kerja
yang buruk dan minimnya sumber daya semuanya dapat menjadi kekuatan
pendorong bagi hakim maupun staf pengadilan lainnya untuk menerima suap.
Mereka mungkin akan menyalahgunakan kekuasaan yang mereka miliki apabila
resiko untuk ketahuan rendah, atau sekalipun ketahuan tidak tetapi mengarah pada
dijatuhkannya saksi. Dalam hal ini, independensi atau kemerdekaan hakim dapat
menjadi faktor resiko tambahan yang mungkin dapat mendorong perlaku koruptif
25
Wacana Hukum dan Konstitusi. Jurnal Konstitusi. Volume 6, Nomor 2, Juli 2009, hlm 93-94.
oleh para hakim. Misalnya, apabila mekanisme penegakan disiplin yang tersedia
hanya meaknisme internal dimana hakim-hakim sendiri lah yang memeriksa dan
menghakimi pelanggaran kode etik dan penyalahgunaan kekuasaanya yang
dilakukan sang hakim, maka resiko penuntutan dan penjatuhan sanksi menjadi
relatif rendah. Faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat resiko adalah
efektifitas organisasi.
Praktik korupsi, tampaknya sudah menjadi budaya dan bukan hanya semata milik
strata atas dalam jajaran Pemerintahan, namun korupsi dianggap sudah menjadi
fenomena yang lekat di masyarakat secara hierarki mulai dari level instansi
tingkat bawah hingga tingkat yang paling tinggi (kelurahan, kabupaten/kotamadya
hingga tingkat provinsi, termasuk Institusi Pendidikan, Kesehatan dan bahkan
lembaga keagamaan pun di duga melakukan praktik korupsi. Menurut Bung
Hatta, Korupsi telah menjadi bagian dari ‘budaya’26, yang sudah mendarah daging
dan bahkan telah melekat dan tumbuh subur serta berkembang di tengah
masyarakat. Hal ini di dukung Mochtar Lubis27, seorang pejuang Indonesia yang
memiliki rekam jejak istimewa setara Bung Hatta menyatakan :
“Jika kita meneliti fakta korupsi dalam penghidupan kita, mungkin orang
akan cenderung membenarkan pendapat bahwa kini korupsi sudah menjadi
bagian kebudayaan bangsa kita”.
Pada saat korupsi telah menjadi bagian dari budaya, maka diperlukan suatu
upaya sistem dan cara kerja yang efektif serta tersedianya aparatur yang
26
Saldi Isra, Kekuasaan dan Perilaku Korupsi, Jakarta, Kompas, Maret 2009, hlm. vii.
27
professional. Hal ini senada dengan pendapat Baharudin Lopa (2001)28,
menyatakan :
“suatu institusi yang dimaksudkan dalam menyelenggarakan kehidupan berbangsa dan bernegara, supaya dapat berfungsi efektif, diperlukan dua syarat. Pertama, institusi itu harus memiliki system yang efektif, jelas peratuarn perundang-undangan lainnya yang menetapkan fungsi mekanisme kerja yang diperlukan agar konstitusi tersebut berjalan.
Kedua, diperlukan tersedianya aparatur yang profesional dan bermental tangguh agar dapat memfungsikan institusi itu. Aparatur atau pejabat penyelenggara ini tersendiri atas dua kelompok.
Kelompok pertama ialah kelompok pada tingkat atas (pada tingkat supra system) yang diperankan oleh kabinet (dewan menteri) yang dipimpin oleh presiden atau perdana menteri. Pejabat pada supra system ini memerankan perbuatan kebijakan pemerintah, sedangkan kelompok kedua pada tingkat pelaksanaan (subsistem) ialah mereka yang mengemban dan melaksanakan kebijakan-kebijakan yang di gariskan pejabat-pejabat tingkat atas”.
Korupsi sangat komplek dan terkait dengan berbagai permasalahan, tidak hanya
permasalahan hukum dan lemahnya penegakan hukum tetapi juga menyangkut
masalah moral/sikap mental, masalah pola hidup, budaya dan lingkungan social,
masalah kebutuhan ekonomi dan kesenjangan ekonomi masalah sistem
budaya/politik serta mekanisme pembangunan dan lemanhnya birokrasi/prosedur
termasuk pengawasan di bidang keuangan dan pelayanan publik.
Barda Nawawi Arief29, menyatakan bahwa kuasa dan kondisi yang bersifat
kriminogen untuk timbulnya korupsi sangatlah luas (multidimensi) yaitu bisa di
bidang moral, social, ekonom, politik, budaya, birokrasi/administrasi, dan
sebagainya. Beberapa penelitian menunjukkan betapa terpuruknya citra bangsa ini
sebagai akibat dari korupsi. Bukan hanya terpuruk citranya namun terpuruk pula
perekonomian bangsa sebagai dampak negative dari perilaku ini. Peringkat citra
“negara terkorup” nyaris selalu melekat sepanjang tahun. seperti yang dijelaskan
dalam Jurnal Konstitusi oleh H.M. Arsyad Sanusi30, beliau menjelaskan :
“Hasil pengkajian Political and Economic Risk Consultancy Ltd (PERC)
tahun 2006, misalnya, Menempatkan negeri ini pada urutan ketiga terkorup di antara negara-negara Asia lainnya, setelah China dan Vietnam. Pada
tahun yang sama, Transparancy international– sebuah koalisi global
antikorupsi – mengeluarkan indeks tahunan mengenai persepsi masyarakat bisnis dan akademisi tentang korupsi pada lebih dari 50 negara. Dari indeks tersebut. Indonesia termasuk ke dalam 10 besar negara dengan derajat korupsi tertinggi. Malah, kondisi yang lebih buruk kembali ditunjukkan oleh lembaga Transparancy Internasional (TI) pada tahun 2007. Indoensia ditempatkan sebagai negara ketiga terkorup di dunia, dan posisi itu belum berubah ketika pada tahun berikutnya lembaga ini mengumumkan
Corruption Perceptions Idex (CPI) terhadap 99 negara. Baru pada tahun 2009, peringkat berubah meskipun tidak banyak berarti mengingat cap sebagai negara paling korup keempat di dunia dinyatakan oleh TI. Padahal, Cina dan Vietnam yang beberapa tahun terakhir bersaing dalam soal korupsi dengan Indonesia, kini sudah jauh meninggalkan Indonesia menuju ke arah yang lebih baik setelah mengampanyekan gerakan antikorupsi dengan menghukum mati para pejabat teras mereka yang terlibat korupsi.
Pada dasarnya pemberantasan tindak korupsi harus dilakukan secara
komprehensif karena kejahatan ini dilakukan oleh orang-orang terdidik dan
memiliki ilmu yang cukup dalam mengatur keuangan Negara untuk dijadikan
pendapatan pribadi maupun kelompok dan biasanya korupsi mayoritas dilakukan
oleh aparat pemerintah baik dijajaran legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Di Indonesia tindak pidana Korupsi sudah sangat luar biasa dan menunjukkan
angka peningkatan yang cukup drastis, ini artinya menunjukkan bahwa
Pemerintah yang dibangun menuju Pemerintah yang bersih, bebas dari Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme (KKN) masih jauh dari harapan dan hal ini menunjukkan
pula peranan aparat hukum yang memiliki kewenangan terhadap pemberantasan
30
tindak pidana korupsi tidak dapat melakukan kinerja dengan baik sehingga
peranan hukum pidana khususnya pengenaan sanksi terhadap perilaku korupsi
memberikan efek jera kepada pelaku.
Menurut Sudarto31, Pemerintahan yang bersih setidaknya tidak dapat atau tidak
banyak terjadi korupsi. Beliau menjelaskan :
“Suatu clean government dimana tidak terdapat atau setidak-tidaknya tidak bayak terjadi perbuatan-perbuatan korupsi, tidak bisa diwujudkan hanya dengan peraturan-peraturan hukum meskipun itu hukum pidana dengan sanksinya yang tajam. Jangkauan hukum pidana adalah terbetas. Usaha pemberantasan secara tidak langsung dapat dilakukan dengan tindakan-tindakan memberikan efek jera kepada pelakunya”.
Krisis yang dialami oleh bangsa Indonesia justru memunculkan memaraknya
Tindak Pidana Korupsi di semua segi kehidupan. Hal ini sebagaimana yang
disampaikan Satjipto Rahardjo32, pada pertengahan Desember 2003, beliau
menyatakan bahwa :
“Korupsi seolah menemukan habitatnya, karena didukung politik, kekuasaan
dan sistem hukum yang gagal di tegakkan. Memberantas korupsi harus
dilawan secara ekstrem dengan melibatkan berbagai kalangan masyarakat”.
Kuatnya sistem kekuasaan yang melingkupi praktik korupsi sehingga upaya
pemberantasannya tidak hanya mengedepankan ego masing-masing, namun lebih
menitik beratkan bahwa dalam memberantas korupsi harus dilawan secara kolektif
dan ekstrem. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah upaya menciptakan platform
untuk penyamaan prersepsi nyata dalam memberantas korupsi.
31
Nyoman Serikat Putra Jaya, op. cit, hlm 75.
32
Selain itu Menurut Konvensi Perserikatan Bangsa- Bangsa Anti Korupsi 2003
(disingkat KAK 2003) ada 4 macam tipe tindak pidana korupsi sebagai berikut :
1. Tindak Pidana Korupsi Penyuapan Pejabat-Pejabat Publik Nasional
(Bribery of National Public Officials). Ketentuan tipe tindak pidana
korupsi ini diatur dalam ketentuan Bab III tentang kriminalisasi dan
penegakan hukum (Criminalization and Law Enforcement) dalam Pasal
15, 16, dan 17 KAK 2003. Pada ketentuan Pasal 15 diatur mengenai
penyuapan pejabat-pejabat publik nasional (Bribery of National Public
Officials) yaitu dengan sengaja melakukan tindakan janji, menawarkan
atau memberikan kepada seorang pejabat publik secara langsung atau tidak
langsung suatu keuntungan yang tidak pantas (layak), untuk pejabat
tersebut atau orang lain atau badan hukum agar pejabat yang bersangkutan
bertindak atau menahan diri dari melakukan suatu tindakan dalam
melaksanakan tugas resminya. Kemudian, terhadap penyuapan
pejabat-pejabat publik asing dan pajabat-pejabat-pejabat dari organisasi internasional
publik (bribery og foreign public officials and officials of public
international organization) diatur dalam ketentuan Pasal 16 dan
pengelapan, penyelewengan atau pengalihan kekayaan dengan cara lain
oleh seorang pejabat publik diatur dalam ketentuan Pasa 17 KAK 2003.
2. Tindak Pidana Korupsi Penyuapan di Sektor Swasta (Bribery in the
private Sector). Tipe tindak pidana korupsi jenis ini diatur dalam
ketentuan Pasal 21, 22 KAK 2003. Ketentuan tersebut menentukan setiap
negara peserta konvensi mempertimbangkan kejahatan yang dilakukan
keuangan dan perdagangan menjanjikan, menawarkan atau memberikan,
secara langsung atau tidak langsung, suatu keuntungan yang tidak
semestinya kepeda seseorang yang memimpin atau berkerja pada suatu
badan disektor swasta untuk diri sendiri atau orang lain melanggar
tugasnya atau secara melawan hukum. Apabila dibandingkan, ada korelasi
erat antara tipe tindak pidana korupsi penyuapan disektor publik maupun
swasta.
3. Tindak Pidana Korupsi Terhadap Perbuatan Memperkaya Secara Tidak
Sah (Ilicit Enrichment).
Pada asasnya, tindak pidana korupsi perbuatan memperkaya secara tidak
sah (Ilicit Enrichment) diatur dalam ketentuan Pasal 20 KAK 2003.
Ketentuan Pasal 20 KAK 2003 mewejibkan kepada setiap negara peserta
konvensi mempertimbangkan dalam prinsip-prinsip dasar sistem
hukumnya untuk menetapkan suatu tindak pidana bila dilakukan dengan
sengaja, memperkaya secara tidak sah yaitu suatu kenaikan yang berarti
dari aset-aset seorang pejabat publik yang tidak dapat dijelaskan secara
masuk akal berkaitan dengan pendapatannya yang sah. Apabila dijabarkan,
kriminalisasi perbuatan memperkaya diri sendiri sebagai tindak pidana
yang berdiri sendiri mempunyai implikasi terhadap ketentuan Pasal 2 UU
No 31 tahun 1999 khususnya unsur kerugian negara yang bukan sebagai
anasir esensial dalam Pasal 3 butir 2 KAK 2003.
4. Tindak Pidana Korupsi Terhadap Memperdagangkan Pengaruh (Trading
inInfluence).
Tipe tindak pidana korupsi baru dengan memperdagankan pengaruh
(Trading in Influence) sebagai perbuatan yang dilakukan dengan sengaja
menjanjikan, menawarkan atau memberikan kepeda seseorang pejabat
publik atau orang lain, secara langsung atau tidak langsung, suatu
keuntungan yang tidak semestinya, agar pejabat publik itu
menyalahgunakan pengaruhnya yang nyata, atau yang diperkirakan, suatu
keuntungan yang tidak semestinya bagi si penghasut asli tindakan tersebut
atau untuk orang lain33.
Lebih lanjut Syed Husen Alatas menyatakan bahwa korupsi itu dapat
dikelompokkan ke dalam beberapa bentuk, sebagai berikut :
1. Korupsi Transaktif. Korupsi ini adalah suatu bentuk korupsi yang
dilakukan atas dasar kesepakatan timbal balik antara pihak pemberi dan
pihak penerima dari keuntungan peribadi masing-masing pihak dan kedua
pihak sama-sama aktif melakukan usaha untuk mencapai keuntungan
tersebut.
2. Korupsi Ekstortif (Memeras). Korupsi ini adalah suatu bentuk korupsi
dimana terdapat unsur paksaan, yaitu pihak pemberi dipaksa untuk
melakukan penyuapan guna mencegah terjadinya kerugian bagi dirinya,
kepentingannya, orang-orang, atau hal-hal yang penting baginya.
3. Korupsi Nepotistik (Perkerabatan). Korupsi ini adalah suatu bentuk
korupsi dengan melakukan penunjukan secara tidak sah terhadap kawan
atau kerabat untuk memegang suatu jabatan publik, atau tindakan yang
33
memberikan perlakuan istimewa dalam bentuk uang atau bentuk lain
kepada mereka secara bertentangan dengan norma atau ketentuan yang
berlaku.
4. Korupsi Investif. Korupsi ini adalah suatu bentuk korupsi yang berwujud
pemberian barang atau jasa tanpa ada keterkaitan langsung dengan
keuntungan tertentu, melainkan mengharapkan suatu keuntungan yang
akan diperoleh di masa depan.
5. Korupsi Suportif (Dukungan). Korupsi ini adalah suatu bentuk korupsi
yang berbetuk upaya penciptaan suasana yang dapat melanggengkan,
melindungi dan memperkuat korupsi yang sedang dijalankan.
6. Korupsi Autogenik. Korupsi ini adalah suatu bentuk korupsi yang
dilakukan secara individual untuk mendapatkan keuntungan karena
memahami dan mengetahui serta mempunyai peluang terhadap obyek
korupsi yang tidak diketahui oleh orang lain.
7. Korupsi Defensif. Korupsi ini adalah suatu bentuk korupsi yang dilakukan
oleh korban korupsi dalam rangka mempertahankan diri terhadap upaya
pemerasan terhadap dirinya34.
B. Pengaturan Tindak Pidana Korupsi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada dasarnya telah dilakukan sejak negeri
ini berdiri, seperti kita ketahui bahwa pada masa penjajahan bangsa ini disibukkan
bagaimana strategi menghalau penjajah agar tidak menetap di Indonesia dan
menghabiskan sumber daya berupa kekayaan alam dan sumber daya manusia.
34