• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi UAS PPKN ke 9 10

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Materi UAS PPKN ke 9 10"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

1

Politeknik Keuangan Negara - STAN

PENGANTAR

PENGELOLAAN

KEUANGAN NEGARA

(PPKN)

(2)

2

(3)

Pokok Bahasan

Kewenangan dan tanggung

jawab

Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna

Anggaran

Pejabat Pembuat Komitmen

Pejabat Penandatangan SPM

Bendahara Umum Negara

Bendahara Penerimaan

(4)

4

(5)

Pengguna Anggaran

adalah pejabat yang menurut undang-undang merupakan

pemegang kewenangan penggunaan anggaran Kementerian

Negara / Lembaga (K/L). Wujud dokumen anggaran K/L tersebut

adalah DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran).

Dalam pelaksanaannya, anggaran K/L dilaksanakan oleh satuan

kerja-satuan kerja pada K/L yang bersangkutan.

Oleh karena itu Pengguna Anggaran (PA) menetapkan Kuasa

Pengguna Anggaran (KPA) yang berasal dari satuan kerja yang

bersangkutan dengan surat keputusan.

KPA diutamakan Pegawai Negeri dengan mempertimbangkan

efektivitas dalam pelaksanaan dan pertanggungjawaban

anggaran, pelaksanaan kegiatan, dan pencapaian

output

/kinerja

yang ditetapkan dalam DIPA. PA dapat menunjuk KPA yang

(6)

Kuasa Pengguna Anggaran

adalah pejabat yang memperoleh kuasa dari PA untuk

melaksanakan sebagian kewenangan dan tanggung jawab

penggunaan anggaran pada Kementerian Negara/Lembaga

yang bersangkutan.

melaksanakan penggunaan anggaran berdasarkan DIPA

Satker.

Kepala Satuan Kerja (Satker) secara

ex-officio

yang ditunjuk

sebagai KPA tidak terikat periode tahun anggaran, dan setiap

terjadi pergantian jabatan kepala Satker, setelah serah terima

jabatan pejabat kepala Satker yang baru langsung menjabat

sebagai KPA. Dalam hal terdapat kekosongan jabatan kepala

Satker atau pejabat lain yang ditunjuk sebagai KPA, PA segera

menunjuk seorang pejabat baru sebagai pelaksana tugas KPA.

Perangkapan jabatan dapat dilaksanakan melalui

perangkapan jabatan KPA sebagai PPK atau PPSPM. Artinya

KPA

hanya

dapat merangkap

salah satu

dari PPK dan

(7)

Kuasa Pengguna Anggaran

PA dapat mendelegasikan kepada kuasa PA untuk

menunjuk :

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), yaitu pejabat yang

melaksanakan kewenangan PA/KPA untuk mengambil

keputusan dan/atau tindakan yg dapat mengakibatkan

pengeluaran atas beban APBN. Kewenangan ini dikenal

dgn

Otorisator

.

Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar

(PPSPM) yaitu pejabat yang diberi kewenangan oleh

PA/KPA untuk melakukan pengujian atas permintaan

pembayaran dan menerbitkan Surat Perintah Membayar

(SPM).

Bendahara pengeluaran adalah orang yang ditunjuk

untuk menerima, menyimpan, membayarkan,

menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang

untuk keperluan Belanja Negara dalam pelaksanaan

(8)

Tugas dan Wewenang KPA

Dalam pengelolaan anggaran belanja negara pada satuan kerja, fungsi

KPA lebih berperan dalam segi manajerial untuk mencapai kinerja

yang telah ditetapkan dalam DIPA.

Fungsi manajerial tersebut meliputi antara lain fungsi perencanaan,

pelaksanaan, dan pertanggungjawaban anggaran. Dalam prakteknya fungsi-fungsi tersebut dilaksanakan oleh KPA dalam bentuk tugas dan wewenang, sebagai berikut:

1. Menyusun DIPA

2. Menetapkan PPK untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran anggaran

belanja negara dan menjalankan program dan kegiatan.

3. Menetapkan PPSPM untuk melakukan pengujian tagihan dan menerbitkan SPM atas

beban anggaran belanja negara

4. Menetapkan panitia/pejabat yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan dan pengelola

anggaran/keuangan

5. Menetapkan rencana pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana

6. Memberikan supervisi dan konsultasi dalam pelaksanaan kegiatan dan penarikan dana

7. Mengawasi penatausahaan dokumen dan transaksi yang berkaitan dengan pelaksanaan

kegiatan dan anggaran

8. Menyusun laporan keuangan dan kinerja atas pelaksanaan anggaran sesuai dengan

(9)

Tugas dan Wewenang KPA

1. Menyusun DIPA

(Dokumen Pokok Pejabat

Perbendaharaan)

KPA menyusun DIPA berdasarkan

Keppres tentang rincian APBN.

Setelah DIPA disahkan oleh Menteri

Keuangan, KPA memiliki keharusan

untuk melakukan penelitian kembali

terhadap DIPA tersebut, dan segera

melakukan perbaikan atau revisi

seperlunya jika terdapat

kesalahan-kesalahan sehingga diharapkan dapat

lebih mempercepat penyerapan

(10)

Dokumen Pokok Pejabat

Perbendaharaan

DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran)

DIPA

adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang disusun

oleh Kementerian Negara / Lembaga dan disahkan Menteri

Keuangan selaku Bendaharawan Umum Negara (BUN).

Jenis2 DIPA :

1. DIPA Kementerian Negara/Lembaga :

Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran

Pejabat Pembuat Komitmen

Pejabat Penandatangan SPM

Bendahara Penerimaan

Bendahara Pengeluaran

2. DIPA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (APP):

(11)

Dokumen Pokok Pejabat

Perbendaharaan

Jenis2 DIPA dikelompokkan menjadi DIPA Kementerian Negara /

Lembaga dan DIPA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan

(APP):

1

.

DIPA Kementerian Negara/Lembaga

a. DIPA Satker Pusat/Kantor Pusat, terdiri dari

DIPA satuan kerja pusat atau satuan kerja Kantor Pusat K/L, termasuk di dalam

nya untuk DIPA Badan Layanan Umum (BLU), dan Satuan Kerja Non Vertikal

Tertentu (SNVT).

Satuan Kerja Pusat dapat terdiri dari satuan kerja–satuan kerja yang dibentuk

oleh kementerian negara/ lembaga secara fungsional dan bukan merupakan

instansi vertikal. Sedangkan Satuan Kerja Kantor Pusat adalah satuan kerja

dalam lingkup Kantor Pusat suatu kementerian negara /lembaga b. DIPA Satker Vertikal/Kantor Daerah, terdiri dari

DIPA Satker Vertikal/Kantor Daerah Kementerian Negara/Lembaga di daerah.

Konsep DIPA Satker Vertikal/Kantor Daerah disusun dan ditetapkan oleh

(12)

Dokumen Pokok Pejabat

Perbendaharaan

c.

DIPA Dana Dekonsentrasi

DIPA Dana dekonsentrasi adalah DIPA yang memuat rincian

penggunaan

anggaran kementerian negara/lembaga dalam rangka

pelaksanaan dana

dekonsentrasi, serta pelaksanaannya dilakukan oleh Satuan

Kerja

Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi yang ditunjuk oleh

Gubernur.

Konsep DIPA Dana Dekonsentrasi disusun dan ditetapkan

oleh Kepala

SKPD yang ditunjuk oleh Gubernur berdasarkan

pendelegasian wewenang

dari Menteri/Ketua Lembaga.

d.

DIPA Tugas Pembantuan

DIPA Tugas Pembantuan adalah DIPA yang memuat rincian

penggunaan

anggaran kementerian negara/lembaga dalam rangka

pelaksanaan Tugas

Pembantuan, serta pelaksanaannya dilakukan oleh Satuan

Kerja

Perangkat Daerah (SKPD) Provinsi/Kabupaten/Kota yang

ditunjuk oleh

Gubernur/ Bupati/Walikota.

Konsep DIPA Tugas Pembantuan disusun dan ditetapkan

oleh Kepala

(13)

Dokumen Pokok Pejabat

Perbendaharaan

2.

DIPA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (DIPA APP)

DIPA yang memuat rincian penggunaan anggaran dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (BAPP). BAPP merupakan Bagian Anggaran yang dikelola oleh menteri Keuangan dan

penggunaan anggaran tersebut bersifat khusus serta tidak termasuk dalam anggaran kementerian negara / lembaga / pemerintah daerah. Dalam Pelaksanaannya Menteri Keuangan menunjuk Kuasa Pengguna Anggaran untuk menyusun dan menetapkan konsep DIPA.

BAPP meliputi :

a. Cicilan Bunga Utang (BA 061) b. Subsidi dan Transfer (BA 062) c. Belanja Lain-Lain (BA 069) d. Dana Perimbangan (BA 070)

e. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (BA 071)

f. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negari (BA 096) g. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Dalam Negeri (BA 097) h. Penerusan Pinjaman sebagai Pinjaman (BA 098)

i. Penyertaan Modal Negara (BA 099)

j. Penerusan Pinjaman sebagai Hibah (BA 101) k. Penerusan Hibah sebagai Hibah (BA 102)

(14)

Dokumen Pokok Pejabat

Perbendaharaan

2.

DIPA Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (DIPA APP),

terdiri dari :

1) DIPA Belanja Pemerintah Pusat a. Cicilan Bunga Utang (BA 061) b. Subsidi dan Transfer (BA 062) c. Belanja Lain-Lain (BA 069)

d. Penerusan Pinjaman sebagai Hibah (BA 101) 2) DIPA Belanja Daerah

e. Dana Perimbangan (BA 070)

f. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian (BA 071) 3) DIPA Pembiayaan

g. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Luar Negari (BA 096) h. Pembayaran Cicilan Pokok Utang Dalam Negeri (BA 097) i. Penerusan Pinjaman sebagai Pinjaman (BA 098)

j. Penyertaan Modal Negara (BA 099)

k. Penerusan Hibah sebagai Hibah (BA 102)

4) DIPA Khusus

ditetapkan oleh Menteri Keuangan dengan kriteria penanganan kejadian luar biasa yang mempunyai tingkat urgensi sangat tinggi dan bersifat mendesak, seperti : a) penanganan yang bersifat darurat, b) kegiatan yang bersifat politis dalam rangka menjaga kredibilitas Pemerintah

(15)

Perencanaan dan

Penganggaran

APBN

Pemeriksaan dan

Pertanggungjawaban

APBN

Laporan dan

Pencatatan

APBN

Pelaksanaan

APBN

(dokumen : DIPA)

Pembahasan

Dan Penetapan

APBN

(dokumen :

….. Perpres ttg

Rincian APBN)

(16)

Tahap akhir pembicaraan pendahuluan adalah kesepakatan

Pemerintah dgn DPR tentang KF, KEM dan rincian anggaran

untuk unit organisasi, fungsi, program dan kegiatan

masing-masing K/L yg akan digunakan sebagai bahan

penyusunan RUU APBN dan Nota Keuangannya.

Berdasarkan kesepakatan Pemerintah dgn DPR tersebut

Pemerintah menyampaikan

Pagu Anggaran

hasil

kesepakatan dgn DPR kepada K/L untuk menyusun RKA-K/L.

ALUR PENYUSUNAN NOTA KEUANGAN DAN

RAPBN

ALUR PENETAPAN APBN DAN RINCIAN APBN (1)

Pembahasan RKA-K/L dilakukan oleh Komisi2 terkait dgn

Sekjen K/L.

Setelah UU APBN dan RKA-K/L ditetapkan, sesuai

(17)

Selanjutnya dilakukan forum penelahaan RKA-K/L (khusus yg

mengalami perubahan) untuk memastikan kesesuaian antara

RKA-K/L dgn alokasi anggaran hasil kesepakatan dgn DPR.

Forum penelahaan RKA-K/L antara K/L dengan Kementerian

Keuangan untuk menyesuaikan dgn hasil kesepakatan dgn DPR.

Hasil penelahaan RKA-K/L tersebut menjadi bahan penyusunan

Peraturan Presiden tentang Rincian APBN.

Batas tahap

Perencanaan …..

Kebijakan yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan tanggal

19 Oktober 2012 No. 160 / PMK.02/2012

tentang Petunjuk Penyusunan

dan Pengesahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran DIPA:

Penyederhanaan proses pengurusan RKA-K/L dan DIPA termasuk

penyelesaian revisi anggaran

Penyederhanaan dimaksud, dilakukan melalui pengintegrasian

proses penyusunan RKA KL dan DIPA karena penyusunan DIPA

dilakukan dengan menggunakan data yang berasal dari RKA-K/L

yang sudah ditelaah antara K/L dengan Ditjen Anggaran dan sudah

mendapat persetujuan DPR serta ditetapkan dalam Keppres Rincian

Anggaran Belanja Pemerintah Pusat.

ALUR PENETAPAN APBN DAN RINCIAN APBN (2)

(18)

Data yang digunakan dalam penyusunan anggaran K/L

yang terintegrasi dengan DIPA dimulai pada dokumen

RKA-K/L dengan

pagu anggaran

K/L hasil pembahasan

Pemerintah Pusat dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Penyusunan RKA-K/L yang terintegrasi dengan DIPA mulai

dilakukan pada penyusunan RKA-K/L tahun anggaran 2014

menggunakan aplikasi SAKTI yang terintegrasi dengan

Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN).

Melalui pengintegrasian tersebut, diharapkan dapat

memberikan nilai tambah berupa penyederhanaan proses

dan mempercepat waktu penyelesaian DIPA,

meningkatkan validitas dan integritas data anggaran; dan

meningkatkan efisiensi biaya pengesahan DIPA.

Pencetakan / penerbitan DIPA dapat dilakukan dari RKA-K/L

yang sudah ditelaah antara K/L dengan Ditjen Anggaran

yang sudah mendapat persetujuan DPR serta ditetapkan

dalam Keppres Rincian Anggaran Belanja Pemerintah

Pusat.

(19)

19

JANUARI – APRIL

Renstra KL

SEPT - DES

PERPRES TENTANG RINCIAN APBN

MEI – AGUSTUS

(20)

Tugas dan Wewenang KPA

2. Menetapkan PPK untuk melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran

anggaran belanja negara dan menjalankan program dan kegiatan.

PPK adalah pejabat yang melaksanakan kewenangan KPA untuk mengambil keputusan dan/atau tindakan yang dapat

mengakibatkan pengeluaran atas beban APBN. Kewenangan ini dikenal sebagai kewenangan otorisator.

Sesuai yang dimanatkan dalam Perpres Nomor 70 tahun 2012 tentang Perubahan kedua Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, PPK yang ditetapkan oleh KPA harus memenuhi persyaratan sebagai

berikut:

a. memiliki integritas;

b. memiliki disiplin tinggi;

c. memiliki tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan tugas;

d. mampu mengambil keputusan, bertindak tegas dan memiliki keteladanan dalam sikap perilaku serta tidak pernah terlibat KKN;

e. menandatangani Pakta Integritas;

f. tidak menjabat sebagai Pejabat Penandatangan Surat Perintah Membayar (PPSPM) atau Bendahara; dan

(21)

Tugas dan Wewenang KPA

3. M

enetapkan PPSPM untuk melakukan pengujian

tagihan dan

menerbitkan SPM atas beban anggaran belanja

negara

PPSPM mempunyai tugas dan tanggung jawab

untuk melakukan pengujian tagihan kepada

negara dan menandatangani SPM. Dalam hal ini

PPSPM bertindak sebagai

ordonator

berwenang

untuk melakukan pengujian atas tindakan yang

dilakukan oleh

otorisator

(PPK) dan selanjutnya

memerintahkan pembayaran melalui penerbitan

SPM.

Oleh karena itu dalam rangka melaksanakan

prinsip

check and balance

, PPSPM tidak boleh

merangkap sebagai PPK dan sebaliknya.

Seorang PPSPM (

ordonator)

harus memastikan

bahwa suatu tagihan yang diajukan kepadanya

sudah memenuhi ketentuan peraturan

perundang-undangan sebelum diterbitkan perintah

(22)

Tugas dan Wewenang KPA

4. Menetapkan panitia/pejabat yang terlibat dalam

pelaksanaan kegiatan

dan pengelola anggaran/keuangan

Proses pengadaan barang/jasa pemerintah dilaksanakan oleh pejabat/unit layanan pengadaan barang/jasa.

Unit Layanan Pengadaan barang/jasa ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga.

Sedangkan yang ditetapkan oleh KPA adalah:

a. Pejabat pengadaan ditunjuk oleh KPA untuk melaksanakan pengadaan langsung;

b. Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan yang merupakan panitia / pejabat yang bertugas memeriksa dan menerima hasil pekerjaan; dan

c. Staf pengelola keuangan satuan kerja.

Dalam menetapkan panitia/pejabat dan staf pengelola keuangan, KPA harus memperhatikan ketentuan yang mengatur mengenai standar biaya.

(23)

Tugas dan Wewenang KPA

Sebagai contoh :

Untuk tahun 2013, KPA dapat dibantu oleh 1 atau beberapa

PPK, jumlah staf pengelola keuangan paling banyak 3 (tiga)

orang termasuk Petugas Pengelola Administrasi Belanja

Pegawai (PPABP), dan jumlah staf untuk setiap PPK paling

banyak 2 (dua) orang.

Sedangkan, KPA yang merangkap sebagai PPK dapat dibantu

oleh staf pengelola keuangan paling banyak 6 (enam) orang,

termasuk PPABP. Kewenangan pembagian staf pengelola

keuangan tentunya adalah otoritas dari seorang KPA. Staf

pengelola keuangan yang ditunjuk dapat distribusikan sesuai

rentang kendali tugas masing-masing pejabat

perbendaharaan. Hal ini dimungkinkan PPSPM memiliki staf

pengelola keuangan yang melaksanakan tugas membantu

proses pengujian terhadap tagihan yang diajukan oleh

seorang otorisator (KPA/PPK).

Seorang PPK dapat juga dibantu oleh staf pengelola

(24)

Tugas dan Wewenang KPA

5. Menetapkan rencana pelaksanaan kegiatan

dan

rencana penarikan dana

Untuk mendorong percepatan penyerapan

anggaran dan meningkatkan efektivitas belanja

pemerintah, KPA perlu menetapkan rencana

pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan

dana.

Rencana pelaksanaan kegiatan dan rencana

penarikan dana tersebut disusun oleh PPK.

Atas usulan rencana pelaksanaan kegiatan dan

rencana penarikan dana dari PPK tersebut, KPA

berkewajiban menelaah dan menganalisa rencana

pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan

dana yang disampaikan oleh PPK.

Jika KPA setuju dengan rencana pelaksanaan

(25)

Tugas dan Wewenang KPA

6. Memberikan supervisi dan konsultasi dalam

pelaksanaan kegiatan dan penarikan dana

KPA diwajibkan memberikan supervisi

dan konsultasi dalam proses pelaksanaan

kegiatan dan rencana penarikan dana,

sehingga kegiatan yang telah dituangkan

dalam DIPA dapat dilaksanakan sesuai

rencana dan target yang telah

ditetapkan.

Pelaksanaan supervisi dan konsultasi

tersebut dapat dilakukan dalam bentuk

bimbingan dan arahan terkait proses

pelaksanaan kegiatan, baik untuk

kegiatan yang bersifat swakelola maupun

terkait pengadaan barang/jasa yang

(26)

Tugas dan Wewenang KPA

7. Mengawasi penatausahaan dokumen dan

transaksi

yang berkaitan dengan pelaksanaan

kegiatan dan

anggaran

Dokumen dan transaksi yang berkaitan dengan

pelaksanaan kegiatan dan anggaran yang

disimpan oleh PPK dan semua bukti-bukti

pendukung telah diuji dan dinyatakan memenuhi

persyaratan untuk dilakukan pembayaran yang

disimpan dan ditatausahakan oleh PPSPM.

KPA mengawasi penatausahaan dokumen tersebut

apakah telah disimpan dan ditatausahakan

(27)

Tugas dan Wewenang KPA

8. Menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja Pengguna

Anggaran

Penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan

pemerintah disusun dengan mengikuti standar akuntansi

pemerintahan. Penyampaian laporan keuangan tersebut dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas

pengelolaan keuangan negara.

Laporan keuangan tersebut setidak-tidaknya meliputi Laporan

Realisasi APBN, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas Laporan Keuangan, yang dilampiri dengan laporan keuangan perusahaan negara dan badan lainnya.

Pada Peraturan Pemerintah Nomor 24 tahun 2005 (PP 24/2005)

tentang Standar Akuntansi Pemerintahan, selain empat jenis laporan keuangan tersebut (yang disebut dengan laporan

keuangan pokok), entitas pelaporan dapat menyajikan Laporan Kinerja Keuangan dan Laporan Perubahan Ekuitas.

Laporan keuangan tersebut dimulai dari keuangan satuan kerja

(28)

Tanggungjawab atas Tugas dan Wewenang

KPA

1. Mengesahkan rencana pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana

2. Merumuskan standar operasional agar pelaksanaan pengadaan barang/jasa sesuai dengan ketentuan tentang pengadaan

barang/jasa pemerintah

3. Menyusun sistem pengawasan dan pengendalian agar proses penyelesaian

tagihan atas beban APBN dilaksanakan sesuai dengan peraturan

undangan;

4. Melakukan pengawasan agar pelaksanaan kegiatan dan

pengadaan barang /

jasa sesuai dengan keluaran (output) yang ditetapkan dalam DIPA

5. Melakukan monitoring dan evaluasi agar pembuatan

perjanjian/kontrak

pengadaan barang/jasa dan pembayaran atas beban APBN sesuai dengan

keluaran (output) yang ditetapkan dalam DIPA serta rencana yang telah

ditetapkan

6. Merumuskan kebijakan agar pembayaran atas beban APBN

sesuai dengan

keluaran (output) yang ditetapkan dalam DIPA

7. Melakukan pengawasan, monitoring, dan evaluasi atas

pertanggungjawaban

(29)

Pejabat Pembuat Komitmen

PPK melaksanakan kewenangan KPA dgn

mempedomani rencana pelaksanaan kegiatan dan

rencana penarikan dana, standar operasional, sistem

pengawasan dan pengendalian, dan monitoring dan

evaluasi yang telah ditetapkan oleh KPA.

Dalam rangka

check and balance

PPK tidak dapat

merangkap sebagai PPSPM dan Bendahara, dan

jabatan PPSPM sebaiknya minimal setingkat dengan

PPK.

PPK dapat ditetapkan lebih dari 1 (satu).

Penetapan PPK tidak terikat periode tahun

anggaran.

Dalam hal tidak terdapat perubahan pejabat yang

ditetapkan sebagai PPK pada saat penggantian

periode tahun anggaran, penetapan PPK tahun

anggaran yang lalu masih tetap berlaku.

Dalam hal penunjukan KPA berakhir, penunjukan PPK

(30)

Pejabat Pembuat Komitmen

Dalam melakukan tindakan yang dapat mengakibatkan pengeluaran anggaran belanja Negara, PPK memiliki tugas dan wewenang:

1. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan dan rencana penarikan dana berdasarkan DIPA;

2. Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia Barang/Jasa;

3. Membuat, menandatangani dan melaksanakan perjanjian/kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa;

4. Melaksanakan kegiatan swakelola;

5. Memberitahukan kepada Kuasa BUN atas perjanjian/ kontrak yang dilakukannya;

6. Mengendalikan pelaksanaan perjanjian/kontrak;

7. Menguji dan menandatangani surat bukti mengenai hak tagih kepada Negara;

8. Membuat dan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP);

9. Melaporkan pelaksanaan/penyelesaian kegiatan kepada KPA; 10.Menyerahkan hasil pekerjaan pelaksanaan kegiatan kepada KPA

dengan Berita Acara Penyerahan;

11.Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen pelaksanaan kegiatan; dan

(31)

Pejabat Pembuat Komitmen

1. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan dan

rencana penarikan dana berdasarkan DIPA sbb :

Membuat

time-scedule pelaksanaan kegiatan perbulan

yang dilengkapi rencana penarikan dananya. Artinya

dalam melaksanakan suatu kegiatan harus ditentukan

kapan kegiatan tersebut dilaksanakan dan kapan

penarikan dana atas kegiatan tersebut dilakukan dgn

mempedomani norma waktu penyelesaian tagihan pada

satuan kerja yang ada.

Menyusun kebutuhan Uang Persediaan/Tambahan Uang

Persediaan yang diperlukan untuk kegiatan-kegiatan

yang bersifat swakelola yang dilaksanakan langsung

oleh PPK. Dalam hal diperlukan

penyesuaian-penyesuaian kegiatan yang mengikuti perkembangan

kondisi di lapangan, PPK dapat mengusulkan dilakukan

revisi / perubahan terhadap Petunjuk Operasional

(32)

Pejabat Pembuat Komitmen

2. Menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia

Barang/Jasa;

Dalam menerbitkan Surat Penunjukan Penyedia

Barang/Jasa (SPPBJ) harus mengacu pada

kententuan mengenai pengadaan barang/jasa

pemerintah. Sesuai ketentuan tersebut SPPBJ

diterbitkan paling lambat 6 (enam) hari kerja

setelah pengumuman penetapan pemenang

lelang/seleksi apabila tidak ada sanggahan, atau

setelah sanggahan dijawab dalam hal tidak ada

sanggahan banding.

Jika terjadi sanggahan banding, SPPBJ diterbitkan

paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah adanya

jawaban sanggahan banding dari

Menteri/Pimpinan Lembaga dimana sanggahan

banding tersebut tidak diterima. Dalam hal proses

pengadaan barang/jasa dilaksanakan

(33)

Pejabat Pembuat Komitmen

3.

Membuat, menandatangani dan melaksanakan perjanjian /

kontrak dengan Penyedia Barang/Jasa;

Dalam proses pengadaan barang/jasa, terlebih dahulu PPK

menyusun rancangan perjanjian/kontrak. Rancangan

perjanjian/kontrak pengadaan barang/jasa tersebut disusun dengan berpedoman pada standar kontrak pengadaan

barang/jasa. Standar perjanjian/kontrak pengadaan barang atau jasa ini diatur lebih lanjut dalam ketentuan mengenai pengadaan barang/jasa pemerintah.

Pelaksanaan penandatangan perjanjian/kontrak dilaksanakan

paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah diterbitkannya SPPBJ.

Setelah perjanjian/kontrak ditandatangani, PPK mengawasi

pelaksanaan perjanjian/kontrak. Dalam hal terdapat perbedaan antara kondisi lapangan pada saat pelaksanaan, dengan

gambar dan/atau spesifikasi teknis yang ditentukan dalam dokumen perjanjian/kontrak, PPK bersama Penyedia

Barang/Jasa dapat melakukan perubahan perjanjian/kontrak yang meliputi:

a.Menambah atau mengurangi volume pekerjaan yang tercantum dalam Kontrak;

b.Menambah dan/atau mengurangi jenis pekerjaan;

c. Mengubah spesifikasi teknis pekerjaan sesuai dengan kebutuhan lapangan; atau

[image:33.720.45.684.64.505.2]
(34)

Pejabat Pembuat Komitmen

4. Melaksanakan Kegiatan Swakelola

Kegiatan swakelola adalah pengadaan barang/jasa dimana

pekerjaannya direncanakan, dikerjakan dan/atau diawasi

sendiri oleh satuan kerja sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain, dan/atau kelompok masyarakat.

Pekerjaan yang dapat dilaksanakan secara swakelola adalah:

a. pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan

kemampuan dan/atau memanfaatkan kemampuan teknis sumber daya manusia serta sesuai dengan tugas pokok kementerian negara/lembaga/satuan kerja yang

bersangkutan;

b. pekerjaan yang operasi dan pemeliharaannya memerlukan partisipasi langsung masyarakat setempat;

c. pekerjaan yang dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi atau pembiayaannya tidak diminati oleh Penyedia Barang/Jasa;

d. pekerjaan yang secara rinci/detail tidak dapat

dihitung/ditentukan terlebih dahulu, sehingga apabila dilaksanakan oleh Penyedia Barang/Jasa akan

menimbulkan ketidakpastian dan risiko yang besar; e. penyelenggaraan diklat, kursus, penataran, seminar,

(35)

Pejabat Pembuat Komitmen

4. Melaksanakan Kegiatan Swakelola

f. pekerjaan untuk proyek percontohan (

pilot

project

) dan

survei yang bersifat khusus untuk

pengembangan teknologi/metode kerja yang

belum dapat dilaksanakan oleh Penyedia

Barang/Jasa;

g. pekerjaan survei, pemrosesan data, perumusan

kebijakan

pemerintah, pengujian di laboratorium dan

pengembangan

sistem tertentu;

h. pekerjaan yang bersifat rahasia bagi

kementerian

negara/lembaga/satuan kerja yang

bersangkutan;

i.

pekerjaan industri kreatif, inovatif, dan budaya

dalam

negeri;

j. penelitian dan pengembangan dalam negeri;

dan/atau

k. pekerjaan pengembangan industri pertahanan,

industry

(36)

Pejabat Pembuat Komitmen

5. Memberitahukan kepada Kuasa BUN atas

Perjanjian/Kontrak

Yang dilakukannya

Terdapat 2 (dua) mekanisme pembayaran kepada penyedia

barang/jasa yang dapat dilakukan oleh PPK, yaitu dengan

mekanisme pembayaran langsung dengan menerbitkan

SPP-LS dan melalui Uang Persediaan (UP).

Pembayaran dengan UP hanya dapat dilakukan untuk

pengadaan barang/jasa dengan nilai tidak lebih dari

Rp.50.000.000,-. Terhadap perjanjian/kontrak yang

pembayarannya akan dilakukan secara langsung kepada

penyedia barang/jasa, PPK mencatatkan perjanjian/kontrak

tersebut ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh

(37)

Pejabat Pembuat Komitmen

Data-data perjanjian/kontrak tersebut meliputi :

Nama dan kode Satker serta uraian fungsi/subfungsi,

program, kegiatan, output, dan akun yang digunakan;

Nomor Surat Pengesahan dan tanggal DIPA;

Nomor, tanggal, dan nilai perjanjian/kontrak yang telah

dibuat oleh Satker;

Uraian pekerjaan yang diperjanjikan;

Data penyedia barang/jasa yang tercantum dalam

perjanjian/kontrak antara lain nama rekanan, alamat

rekanan, NPWP, nama bank, nama, dan nomor rekening

penerima pembayaran;

Jangka waktu dan tanggal penyelesaian pekerjaan serta

masa pemeliharaan apabila dipersyaratkan;

Ketentuan sanksi apabila terjadi wanprestasi;

Addendum perjanjian/kontrak apabila terdapat perubahan

data pada perjanjian/kontrak tersebut; dan

Cara pembayaran dan rencana pelaksanaan pembayaran:

sekaligus (nilai ... rencana bulan ...); atau

(38)

Pejabat Pembuat Komitmen

Setelah dicatat pada sistem tersebut, selanjutnya data perjanjian/kontrak beserta

ADK-nya disampaikan ke KPPN secara langsung atau melalui e-mail paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah ditandatanganinya perjanjian/kontrak. KPPN akan mencatatkan data tersebut ke dalam Kartu Pengawasan Kontrak KPPN. Aplikasi pada KPPN akan

memblokir dana tersebut dan hanya dapat dicairkan untuk pembayaran atas perjanjian/kontrak tersebut.

Untuk keperluan belanja pegawai pada Satker, dalam hal terdapat perubahan data

pegawai berupa penetapan keputusan yang mengakibatkan pengeluaran negara untuk pelaksanaan belanja pegawai, PPABP mencatat perubahan data pegawai tersebut ke dalam suatu sistem yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Perbendaharaan.

Perubahan data pegawai dimaksud terkait dengan:

a. Pengangkatan/pemberhentian sebagai calon pegawai negeri; b. Pengangkatan/pemberhentian sebagai pegawai negeri;

c. Kenaikan/penurunan pangkat; d. Kenaikan/penurunan gaji berkala;

e. Pengangkatan/pemberhentian dalam jabatan; f. Mutasi Pindah ke Satker lain;

g. Pegawai baru karena mutasi pindah; h. Perubahan data keluarga;

i. Data utang kepada negara; dan/atau j. Pengenaan sanksi kepegawaian.

(39)

Pejabat Pembuat Komitmen

6

. Menguji Dan Menandatangani Surat Bukti Mengenai Hak

Tagih Kepada

Negara

Setelah kegiatan atas dasar komitmen selesai dilaksanakan, penerima hak (pihak ketiga atau Bendahara Pengeluaran/pihak lainnya) mengajukan tagihan kepada negara berdasarkan bukti-bukti yang sah untuk memperoleh pembayaran. Bukti-bukti-bukti yang sah tersebut berupa:

a. Bukti perjanjian/kontrak;

b. Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan;

c. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan/Barang;

d. Bukti penyelesaian pekerjaan lainnya sesuai ketentuan; e. Berita Acara Pembayaran;

f. Kuitansi yang telah ditandatangani oleh penyedia barang/jasa; g. Faktur pajak beserta Surat Setoran Pajak (SSP);

h. Jaminan yang dikeluarkan oleh bank atau lembaga keuangan lainnya sebagaimana dipersyaratkan dalam peraturan

perundangan tentang pengadaan barang/jasa pemerintah; dan/atau

i. Dokumen lain yang dipersyaratkan khususnya untuk

perjanjian/kontrak yang dananya sebagian atau seluruhnya bersumber dari pinjaman atau hibah dalam/luar negeri

(40)

Pejabat Pembuat Komitmen

Sedangkan bukti-bukti yang sah lainnya untuk keperluan belanja

pegawai non gaji induk, pembayaran honorarium, dan perjalanan dinas berupa:

a. Surat Keputusan;

b. Surat Tugas/Surat Perjalanan Dinas; c. Daftar penerima pembayaran; dan/atau

d. Dokumen pendukung lainnya sesuai ketentuan.

Selanjutnya PPK melakukan pengujian atas bukti-bukti tersebut.

Pengujian tersebut yaitu:

a. menguji kebenaran materiil dan keabsahan surat-surat bukti mengenai hak tagih kepada negara; dan/atau

b. menguji kebenaran dan keabsahan dokumen/surat keputusan yang menjadi persyaratan/kelengkapan pembayaran belanja pegawai.

Sedangkan untuk pengujian surat jaminan uang muka, dilakukan

dengan:

a. menguji syarat-syarat kebenaran dan keabsahan jaminan uang muka; dan

b. menguji tagihan uang muka berupa besaran uang muka yang dapat dibayarkan sesuai ketentuan mengenai pengadaan

barang/jasa pemerintah.

Uang muka dapat diberikan kepada penyedia barang/jasa untuk:

a. mobilisasi alat dan tenaga kerja;

b. pembayaran uang tanda jadi kepada pemasok barang/material; dan/atau

(41)

Pejabat Pembuat Komitmen

7

. Membuat dan Menandatangani SPP

Untuk melaksanakan tugas dan wewenang dalam membuat dan menandatangani Surat Permintaan Pembayaran (SPP), terlebih dahulu PPK melakukan pengujian atas tagihan yang disampaikan penyedia barang dan jasa. Pengujian tersebut meliputi:

a. kelengkapan dokumen tagihan; b. kebenaran perhitungan tagihan;

c. kebenaran data pihak yang berhak menerima pembayaran atas beban APBN;

d. kesesuaian spesifikasi teknis dan volume barang/jasa sebagaimana yang tercantum dalam perjanjian/kontrak dengan barang/jasa yang diserahkan oleh penyedia barang/jasa;

e. kesesuaian spesifikasi teknis dan volume barang/jasa sebagaimana yang tercantum pada dokumen serah terima barang/jasa dengan dokumen perjanjian/kontrak;

f. kebenaran, keabsahan serta akibat yang timbul dari penggunaan surat bukti mengenai hak tagih kepada negara; dan

g. ketepatan jangka waktu penyelesaian pekerjaan sebagaimana yang tercantum pada dokumen serah terima barang/jasa dengan

dokumen perjanjian/kontrak

(42)

Pejabat Pembuat Komitmen

8. Melaporkan Pelaksanaan/Penyelesaian

Kegiatan

kepada KPA

PPK harus menyampaikan laporan berkala terkait

pelaksanaan tugas dan wewenang kepada KPA.

Penyampaian laporan berkala tersebut berdasarkan

kebijakan dan pertimbangan kebutuhan KPA pada

masing-masing satker.

Laporan yang akan disampaikan kepada KPA tersebut

berupa laporan atas pelaksanaan kegiatan, laporan atas

penyelesaian kegiatan, dan laporan atas penyelesaian

tagihan kepada Negara.

Laporan tersebut paling kurang memuat:

a. perjanjian/kontrak dengan penyedia barang/jasa

yang telah ditandatangani;

b. tagihan yang belum dan telah disampaikan

penyedia barang/jasa;

c. tagihan yang belum dan telah diterbitkan SPPnya;

dan

(43)

Pejabat Pembuat Komitmen

9. Menyerahkan Hasil Pekerjaan Pelaksanaan Kegiatan kepada KPA dengan Berita Acara

Penyerahan

Setelah proses pengadaan barang/jasa selesai dilaksanakan, dan

barang/jasa tersebut siap digunakan sesuai peruntukannya, maka PPK menyerahkan hasil pengadaan barang/jasa tersebut kepada KPA.

Penyerahan pengadaan barang/jasa tersebut dilakukan melalui Berita Acara Penyerahan antara PPK dan KPA.

10. Menyimpan dan Menjaga Keutuhan Seluruh Dokumen Pelaksanaan Kegiatan

Setelah proses pengadaan barang/jasa selesai dilaksanakan dan

barang/jasa telah diserahterimakan kepada KPA, maka PPK berkewajiban menjaga seluruh dokumen pengadaan barang/jasa tersebut. Dokumen

pengadaan barang/jasa menjadi dokumen satuan kerja yang nantinya juga menjadi dasar bagi aparat pemeriksa internal pemerintah dalam

melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas pengadaan barang/jasa yang telah dilaksanakan.

11. Melaksanakan Tugas Dan Wewenang Lainnya yang Berkaitan Dengan Tindakan yang

Mengakibatkan Pengeluaran Anggaran Belanja Negara.

Dalam proses pelaksanaan kegiatan dan pengadaan barang/jasa pemerintah, PPK juga mempunyai tugas-tugas lainnya yaitu:

1) menetapkan rencana pelaksanaan pengadaan barang/jasa;

2) memastikan telah terpenuhinya kewajiban pembayaran kepada negara oleh pihak yang mempunyai hak tagih kepada negara;

3) mengajukan permintaan pembayaran atas tagihan berdasarkan prestasi kegiatan; dan

(44)

Pejabat Pembuat Komitmen

Untuk melaksanakan kewenangan di bidang belanja pegawai, KPA mengangkat Petugas Pengelola Administrasi Belanja Pegawai (PPABP) untuk membantu PPK dalam mengelola administrasi belanja pegawai. Dalam pengelolaan

administrasi belanja pegawai tersebut, PPABP bertanggung jawab kepada KPA. Adapun tugas PPABP meliputi:

1. Melakukan pencatatan data kepegawaian secara elektronik dan/atau

manual yang berhubungan dengan belanja pegawai secara tertib, teratur, dan berkesinambungan;

2. Melakukan penatausahaan dokumen terkait keputusan kepegawaian dan dokumen pendukung lainnya dalam dosir setiap pegawai pada Satker yang bersangkutan secara tertib dan teratur;

3. Memproses pembuatan Daftar Gaji induk, Gaji Susulan, Kekurangan Gaji, Uang Duka Wafat/Tewas, Terusan Penghasilan/Gaji, Uang Muka Gaji, Uang Lembur, Uang Makan, Honorarium, Vakasi, dan pembuatan Daftar

Permintaan Perhitungan Belanja Pegawai lainnya;

4. Memproses pembuatan Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP); 5. Memproses perubahan data yang tercantum pada Surat Keterangan Untuk

Mendapatkan Tunjangan Keluarga setiap awal tahun anggaran atau setiap terjadi perubahan susunan keluarga;

6. Menyampaikan Daftar Permintaan Belanja Pegawai, ADK Perubahan Data Pegawai, ADK Belanja Pegawai, Daftar Perubahan Data Pegawai, dan dokumen pendukungnya kepada PPK;

7. Mencetak Kartu Pengawasan Belanja Pegawai Perorangan setiap awal tahun dan/atau apabila diperlukan; dan

(45)

Pejabat Penandatangan Surat Perintah

Membayar

Dalam melakukan pengujian tagihan dan menerbitkan

SPM, PPSPM

memiliki tugas dan wewenang sebagai berikut

1. Menguji kebenaran SPP beserta dokumen pendukung

2. Menolak dan mengembalikan SPP, apabila SPP tidak

memenuhi persyaratan untuk dibayarkan

3. Membebankan tagihan pada akun yang telah

disediakan.

4. Menerbitkan SPM

5. Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen

hak tagih

6. Melaporkan pelaksanaan pengujian dan perintah

pembayaran

kepada KPA

7. Melaksanakan tugas dan wewenang lainnya yang

(46)

Pejabat Penandatangan Surat Perintah

Membayar

a. Kelengkapan dokumen pendukung SPP berupa lampiran yang dipersyaratkan sesuai ketentuan (PMK 190/PMK.05/2012);

b. Kesesuaian penanda tangan SPP dengan spesimen tanda tangan PPK; c. Kebenaran pengisian format SPP;

d. Kesesuaian kode BAS pada SPP dengan DIPA/POK/Rencana Kerja Anggaran Satker termasuk menguji kesesuaian antara pembebanan kode mata anggaran pengeluaran (akun 6 digit) dengan uraiannya; e. Ketersediaan pagu sesuai BAS pada SPP dengan DIPA/POK/Rencana

Kerja Anggaran Satker;

f. Kebenaran formal dokumen/surat keputusan yang menjadi persyaratan/kelengkapan pembayaran belanja pegawai; g. Kebenaran formal dokumen/surat bukti yang menjadi

persyaratan/kelengkapan sehubungan dengan pengadaan barang/jasa; h. Kebenaran pihak yang berhak menerima pembayaran pada SPP

sehubungan dengan perjanjian/kontrak/surat keputusan;

i. Kebenaran perhitungan tagihan serta kewajiban di bidang perpajakan dari pihak yang mempunyai hak tagih.

j. Kepastian telah terpenuhinya kewajiban pembayaran kepada negara oleh pihak yang mempunyai hak tagih kepada negara; dan

k. Kesesuaian prestasi pekerjaan dengan ketentuan pembayaran dalam perjanjian / kontrak.

(47)

Pejabat Penandatangan Surat Perintah

Membayar

2. Menolak dan mengembalikan SPP, apabila SPP tidak

memenuhi persyaratan untuk dibayarkan

PPSPM harus menolak SPP yang diajukan PPK apabila

belum

memenuhi persyaratan sesuai pengujian yang telah

dilakukan.

Dalam hal PPSPM menolak/mengembalikan SPP, maka

PPSPM harus

menyatakan secara tertulis alasan

penolakan/pengembalian

tersebut paling lambat 2 (dua) hari kerja setelah

diterimanya SPP.

3. Membebankan tagihan pada Mata Anggaran (Akun)

yang telah disediakan.

Kebenaran penggunaan kode mata anggaran yang

dituangkan dalam

tagihan menjadi tanggung jawab PPSPM. Sehingga

PPSPM harus

memperhatikan kesesuaian kode-kode mata anggaran

pada tagihan

dengan mata anggaran yang telah ditetapkan dalam

DIPA / POK /

(48)

Pejabat Penandatangan Surat Perintah

Membayar

Dalam menerbitkan SPM, PPSPM memiliki tugas sebagai

berikut:

a. Mencatat pagu, realisasi belanja, sisa pagu, dana

UP/TUP, dan sisa dana UP/TUP pada kartu pengawasan

DIPA;

b. Menandatangani SPM; dan

c. Memasukkan Personal Identification Number (PIN)

PPSPM sebagai tanda tangan elektronik pada ADK SPM.

Tata cara pelaksanaan tanda tangan elektronik dalam

bentuk PIN PPSPM pada ADK SPM diatur dengan

Peraturan Direktur Jenderal Perbendaharaaan.

Setelah SPM diterbitkan dan ditandatangani PPSPM,

PPSPM bertanggung jawab atas:

d. Kebenaran, kelengkapan, dan keabsahan administrasi

terhadap dokumen hak tagih pembayaran yang menjadi

dasar penerbitan SPM dan akibat yang timbul dari

pengujian yang dilakukannya; dan

e. Ketepatan jangka waktu penerbitan dan penyampaian

SPM kepada KPPN.

(49)

Pejabat Penandatangan Surat Perintah

Membayar

5. Menyimpan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen

hak tagih

SPM yang menjadi pertinggal pada PPSPM berserta dokumen

yang berkaitan

dengan pelaksanaan kegiatan dan anggaran yang merupakan bukti-bukti

pendukung SPP yang disampaikan PPK disimpan dan ditatausahakan oleh

PPSPM.

PPSPM harus menatausahakan dan menjaga keutuhan seluruh dokumen tersebut sehingga memudahkan dalam hal

dibutuhkan

waktu oleh aparat pemeriksa internal pemerintah maupun aparat pengawas

eksternal pemerintah.

6. Melaporkan pelaksanaan pengujian dan perintah

pembayaran

kepada KPA

PPSPM harus menyampaikan laporan bulanan kepada KPA terkait

pelaksanaan tugasnya terkait pengujian terhadap SPP dan penerbitan SPM.

Laporan bulanan dimaksud paling sedikit memuat hal-hal sebagai berikut:

jumlah SPP yang diterima;

jumlah SPM yang diterbitkan; dan

(50)

Pejabat Penandatangan Surat Perintah

Membayar

7.Melaksanakan tugas dan wewenang

lainnya yang berkaitan dengan

pelaksanaan pengujian dan

perintah pembayaran

Tugas dan kewenangan lainnya dari

PPSPM terkait

pelaksanaan pengujian dan perintah

pembayaran

sesuai dengan yang ditetapkan oleh KPA

sepanjang tidak bertentangan dengan

ketentuan

(51)

Bendahara Umum Negara (BUN)

Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara

(BUN) mengangkat Kepala KPPN menjadi Kuasa BUN

untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam

rangka pelaksanaan anggaran belanja negara dalam

wilayah kerja yang telah ditetapkan.

Tugas kebendaharaan dari Kuasa BUN tersebut

meliputi kegiatan menerima, menyimpan, membayar

atau menyerahkan, menatausahakan, dan

mempertanggung jawabkan uang dan surat berharga

yang berada dalam pengelolaannya.

KPPN dalam melaksanakan tugas kebendaharaan

paling sedikit:

1. Melaksanakan penerimaan dan pengeluaran Kas

Negara dalam rangka pengendalian pelaksanaan

anggaran negara

2. Melakukan pembayaran tagihan kepada

(52)

Kuasa Bendahara Umum Negara

(KPPN)

Dalam pelaksanaan pencairan dana, KPPN memiliki tugas dan wewenang untuk menguji dan meneliti SPM yang disampaikan oleh PPSPM. SPM yang diajukan ke KPPN digunakan sebagai dasar penerbitan SP2D.

KPPN melakukan penelitian SPM meliputi:

1. Meneliti kelengkapan dokumen pendukung SPM yang dipersyaratkan. 2. Meneliti kebenaran SPM, meliputi:

a. Meneliti kesesuaian tanda tangan PPSPM pada SPM dengan spesimen tanda tangan

PPSPM pada KPPN;

b. Memeriksa cara penulisan/pengisian jumlah angka dan huruf pada SPM; dan

c. Memeriksa kebenaran penulisan dalam SPM, termasuk tidak boleh terdapat cacat

dalam penulisan.

KPPN melakukan pengujian SPM yang meliputi:

3. Menguji kebenaran perhitungan angka atas beban APBN yang tercantum dalam SPM berupa pengujian kebenaran jumlah

belanja/pengeluaran dikurangi dengan jumlah potongan/penerimaan dengan jumlah bersih dalam SPM.

4. Menguji ketersediaan dana pada kegiatan/output/jenis belanja dalam DIPA dengan yang dicantumkan pada SPM;

(53)

Kuasa Bendahara Umum Negara

(KPPN)

Menguji persyaratan pencairan dana.

a. Menguji SPM UP berupa besaran UP yang dapat diberikan.

Dalam pengujian SPM UP, jika terdapat UP tahun anggaran

sebelumnya belum dipertanggungjawabkan, juga

dilakukan pengujian yang meliputi:

1. kesesuaian jumlah uang dan keabsahan bukti setor

pengembalian sisa UP tahun anggaran yang

sebelumnya; atau

2. kesesuaian jumlah potongan UP pada SPM UP dengan

sisa UP tahun anggaran yang sebelumnya;

b. Menguji SPM TUP meliputi kesesuaian jumlah uang yang

diajukan pada

SPM TUP dengan jumlah uang yang disetujui Kepala

KPPN :

Dalam pengujian SPM-TUP, jika jumlah uang yang harus

dipertanggungjawabkan dari jumlah TUP yang diberikan,

harus disertai dengan bukti setor pengembalian TUP yang

telah dilakukan konfirmasi KPPN. Ketentuan ini tidak

diperlukan dalam hal penyampaian SPM-TUP yang

dilakukan secara bertahap sebelum batas akhir

pertanggungjawaban

.
(54)

Kuasa Bendahara Umum Negara

(KPPN)

c. Menguji SPM TUP meliputi jumlah TUP yang

diberikan dengan

jumlah uang yang dipertanggungjawabkan dan

kepatuhan jangka

waktu pertanggungjawaban;

d. Menguji SPM GUP meliputi batas minimal revolving

dari UP yang

dikelola dan ketentuan terkait penggunaan dan

pertanggung

jawaban UP.

e. Menguji SPM LS Non Belanja Pegawai berupa

kesesuaian data

perjanjian/kontrak pada SPM LS dengan data

perjanjian/kontrak

yang tercantum dalam Kartu Pengawasan Kontrak

KPPN.

f. Menguji SPM LS Belanja Pegawai sesuai dengan

prosedur standar

operasional yang ditetapkan oleh Direktur Jenderal

Perbendaharaan.

g. Menguji kesesuaian nilai potongan pajak yang

tercantum dalam

SPM dengan nilai pada SSP.

(55)

Bendahara Penerimaan

Adalah orang yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan,

menyetorkan, menatausahakan, dan mempertanggungjawabkan uang Pendapatan Negara dalam rangka pelaksanaan APBN pada kantor/Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah Non-kementerian.

Pengangkatan Bendahara Penerimaan :

Dalam melaksanakan anggaran pendapatan pada kantor/Satuan

Kerja di lingkungan Kementerian Negara/Lembaga,

Menteri/Pimpinan Lembaga dapat mengangkat Bendahara Penerimaan.

Kewenangan mengangkat Bendahara Penerimaan sebagaimana

dimaksud pada ayat (1) dapat didelegasikan kepada kepala Satuan Kerja.

Pengangkatan Bendahara Penerimaan sebagaimana dimaksud

pada ayat (1) dan ayat (2) dilakukan setelah memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan selaku BUN.

Pengangkatan Bendahara Penerimaan tidak terikat periode tahun

anggaran.

Dalam hal tidak terdapat perubahan pejabat yang diangkat

sebagai Bendahara Penerimaan pada saat pergantian periode tahun anggaran, pengangkatan Bendahara Penerimaan tahun anggaran yang lalu masih tetap berlaku.

Jabatan Bendahara Penerimaan tidak boleh dirangkap oleh KPA

atau Kuasa BUN.

Pejabat/pegawai yang akan diangkat sebagai Bendahara

(56)

Bendahara Penerimaan

Tugas Bendahara Penerimaan :

1. Menerima dan menyimpan uang Pendapatan Negara;

2. Menyetorkan uang Pendapatan Negara ke rekening Kas Negara secara periodik sesuai ketentuan Peraturan Perundang-undangan; 3. Menatausahakan transaksi uang Pendapatan Negara di

lingkungan Kementerian/Lembaga/ Satuan Kerja;

4. Menyelenggarakan pembukuan transaksi uang Pendapatan Negara;

5. Mengelola rekening tempat penyimpanan uang Pendapatan Negara; dan

6. Menyampaikan laporan pertanggungjawaban bendahara kepada Badan Pemeriksa Keuangan dan Kuasa BUN.

Tanggung Jawab Bendahara Penerimaan :

7. Bendahara Penerimaan bertanggung jawab secara pribadi atas uang Pendapatan Negara yang berada dalam pengelolaannya.

8. Bendahara Penerimaan bertanggung jawab secara fungsional atas pengelolaan uang Pendapatan Negara yang menjadi tanggung

jawabnya kepada Kuasa BUN.

Kedudukan Bendahara Penerimaan :

(57)

Bendahara Pengeluaran

Menteri/Pimpinan Lembaga mengangkat Bendahara Pengeluaran

di setiap Satker untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja.

Kewenangan pengangkatan Bendahara Pengeluaran dapat

didelegasikan kepada kepala Satker. Pengangkatan Bendahara Pengeluaran dan pendelegasian kewenangan pengangkatan Bendahara Pengeluaran ditetapkan dengan surat keputusan.

Pengangkatan Bendahara Pengeluaran tidak terikat periode tahun

anggaran.

Bendahara Pengeluaran tidak dapat dirangkap oleh KPA, PPK atau

PPSPM.

Dalam hal tidak terdapat pergantian Bendahara Pengeluaran,

penetapan Bendahara Pengeluaran tahun anggaran yang lalu masih tetap berlaku.

Apabila Bendahara Pengeluaran

dipindahtugaskan/pensiun/diberhentikan dari

jabatannya/berhalangan sementara, Menteri/Pimpinan Lembaga atau kepala Satker menetapkan pejabat pengganti sebagai

Bendahara Pengeluaran.

Bendahara Pengeluaran yang dipindahtugaskan/pensiun/

diberhentikan dari jabatannya/berhalangan sementara tersebut, harus menyelesaikan seluruh administrasi keuangan yang menjadi tanggung jawabnya pada saat menjadi Bendahara Pengeluaran.

Satu Bendahara Pengeluaran untuk satu DIPA satu Satker & dpt

mengelola lebih dari satu DIPA satu Satker. Jika dalam pengelolaan DIPA / Satker tidak memerlukan Bendahara Pengeluaran, maka

tidak perlu ditetapkan Bendahara Pengeluaran.

(58)

Bendahara Pengeluaran

Kedudukan Bendahara Pengeluaran :

Bendahara Pengeluaran merupakan

pejabat

fungsional

.

Persyaratan Bendahara Pengeluaran :

Pejabat/pegawai yang akan diangkat

sebagai Bendahara Pengeluaran harus

memiliki sertifikat bendahara

yang

(59)

Bendahara Pengeluaran

Bendahara Pengeluaran

melaksanakan tugas kebendaharaan

atas

uang / surat berharga

yang

berada dalam pengelolaannya, yang

meliputi:

1.Uang/surat berharga yang berasal dari

UP dan Pembayaran LS melalui

Bendahara Pengeluaran

2.Uang/surat berharga yang bukan berasal

dari UP, dan bukan berasal dari

Pembayaran LS yang bersumber dari

APBN, misalnya simpanan koperasi atau

cicilan hutang pegawai kepada pihak

(60)

Bendahara Pengeluaran

Pelaksanaan tugas kebendaharaan

Bendahara

Pengeluaran atas uang/surat berharga

meliputi:

1. Menerima, menyimpan, menatausahakan, dan

membukukan uang/surat berharga dalam

pengelolaannya;

2. Melakukan pengujian dan pembayaran berdasarkan

perintah PPK;

3. Menolak perintah pembayaran apabila tidak

memenuhi persyaratan untuk dibayarkan;

4. Melakukan pemotongan/pemungutan penerimaan

negara dari pembayaran yang dilakukannya ;

5. Menyetorkan pemotongan/pemungutan kewajiban

kepada negara ke kas negara;

6. Mengelola rekening tempat penyimpanan UP ;

(61)

Bendahara Pengeluaran

Bendahara Pengeluaran melakukan pembayaran setelah

terlebih dahulu

dilakukan pengujian

atas perintah

pembayaran yang disampaikan PPK yang meliputi:

1. Meneliti kelengkapan perintah pembayaran yang

diterbitkan oleh PPK;

2. Memeriksa kebenaran atas hak tagih, meliputi:

a. Pihak yang ditunjuk untuk menerima pembayaran;

b. Nilai tagihan yang harus dibayar;

c. Jadwal waktu pembayaran; dan

d. Ketersediaan dana yang bersangkutan.

3. Memeriksa kesesuaian pencapaian keluaran antara

spesifikasi teknis yang disebutkan dalam penerimaan

barang / jasa dan spesifikasi teknis yang disebutkan

dalam dokumen perjanjian/kontrak; dan

4. Meriksa dan menguji ketepatan penggunaan kode mata

anggaran pengeluaran (akun 6 digit).

Dalam melaksanakan tugas kebendaharaan, Bendahara

Pengeluaran

bertanggung jawab secara pribadi

atas

(62)

Bendahara Pengeluaran Pembantu

(BPP)

Guna meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan

anggaran, kepala Satker dapat menunjuk 1 (satu) atau beberapa BPP untuk membantu Bendahara Pengeluaran dalam

melaksanakan tugas kebendaharaan.

BPP harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada

Bendahara Pengeluaran. Pelaksanaan tugas kebendaharaan atas uang yang dikelola oleh BPP meliputi:

Dalam melaksanakan tugas kebendaharaan, BPP bertanggung

jawab secara pribadi atas uang yang berada dalam

pengelolaannya.

1. Menerima dan menyimpan UP

2. Melakukan pengujian dan pembayaran atas tagihan yang dananya bersumber dari UP

3. Melakukan pembayaran yang dananya bersumber dari UP berdasarkan perintah PPK

4. Menolak perintah pembayaran apabila tidak memenuhi persyaratan untuk dibayarkan

5. Melakukan pemotongan/pemungutan dari pembayaran yang dilakukannya atas

kewajiban kepada negara

6. Menyetorkan pemotongan/pemungutan kewajiban kepada negara ke kas negara;

menatausahakan transaksi UP

(63)

63

(64)

64

Sebuah satker merencanakan untuk mengadakan peralatan

pertanian yang ditujukan untuk diserahkan / dihibahkan kepada

para petani. Rencana pengadaan peralatan tsb dianggarkan

dalam:

a. Belanja Modal

b. Belanja Barang

c. Belanja Hibah

d. Belanja Bantuan Sosial

 

Karena baru rencana. Kalaupun sudah dibeli dan masih

belum diserahkan kepaada petani, masih dalam katagori

Belanja Barang. Apabila diserahkan, maka dirubah belanja

menjadi Hibah dengan jurnal.

Belanja honorarium pegawai dalam rangka perolehan aset

tetap akan dianggarkan di dalam:

e. Belanja Pegawai

f. Belanja Barang

g. Belanja Modal

(65)

BELANJA PEGAWAI

1. Gaji dan tunjangan pegawai

2. Honorarium :

Honorarium mengajar guru tidak tetap

Honorarium kelebihan mengajar

Honorarium ujian dinas

Honorarium mengajar tenaga pengajar luar biasa

3. Uang lembur

4. Lain-lain : tunjangan ikatan dinas

5. Uang lauk pauk TNI/POLRI

6. Uang makan PNS

7. Uang duka wafat / tewas

(66)

Tahap akhir pembicaraan pendahuluan adalah kesepakatan

Pemerintah dgn DPR tentang KF, KEM dan rincian

anggaran untuk unit organisasi, fungsi, program dan

kegiatan masing-masing K/L yg akan digunakan sebagai

bahan penyusunan RUU APBN dan Nota Keuangannya.

Berdasarkan kesepakatan Pemerintah dgn DPR tersebut

Pemerintah menyampaikan Pagu Anggaran hasil

kesepakatan dgn DPR kepada K/L untuk menyusun

RKA-K/L.

ALUR PENYUSUNAN NOTA KEUANGAN DAN

RAPBN (2)

Hasil kesepakatan Pemerintah dengan DPR pada pembicaraan

pendahuluan tentang Kebijakan Fiskal, Kerangka Ekonomi

Makro dan rincian anggaran untuk organisasi, fungsi, program

dan kegiatan masing-masing K/L akan digunakan :

a. Menteri Keuangan menyusun RUU APBN serta Nota

Keuangan dan K/L menyusun RKA-KL;

b. Menteri Keuangan menyusun konsep Peraturan Presiden

tentang Rincian APBN dan K/L menyusun konsep DIPA ;

c. Menteri Keuangan menetapkan APBN dan menyusun

Rincian APBN dan K/L dengan Menteri Keuangan menelaah

RKA-K/L ;

Gambar

gambar dan/atau spesifikasi teknis yang ditentukan   dalam

Referensi

Dokumen terkait

Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa sebagaimana dimaksud pada pasal 2 ditetapkan setiap tahun oleh Kepala Desa bersama BPD dengan Peraturan Desa selambat-lambatnya 1(satu)

bahwa dalam rangka tertib administrasi pelaksanaan pengelolaan keuangan Desa yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa bagi Kepala Desa, Perangkat Desa

(4) Dalam rangka memenuhi belanja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), agar pelaksanaan tugas SKPD dapat berjalan dengan lancar, maka kepada Pengguna Anggaran/Kuasa

Kepala Daerah atas usul PPKD menetapkan Bendahara Pengeluaran untuk melaksanakan tugas kebendaharaan dalam rangka pelaksanaan anggaran belanja pada SKPD.. Bendahara

Dalam rangka pelaksanaan kegiatan tugas pokok dan fungsi Satuan Kerja, telah ditetapkan beberapa pos anggaran yang terbagi atas Program, Jenis Belanja, dan Mata

Alokasi anggaran adalah jumlah belanja langsung dan tidak langsung yang ditetapkan dalam APBD dalam rangka penerapan dan pencapaian SPM oleh pemerintahan daerah, yang

Perpindahan dan/kepindahan penduduk dari suatu daerah untuk menetap ke daerah lain yang ditetapkan di dalam wilayah R epublik Indonesia guna kepentingan pembangunan

Pertemuan dalam rangka pengawasan terhadap bidang keagamaan pada kegiatan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau Tahun Anggaran 2020, persiapan dan kesiapan