BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah hukum kontrak merupakan bagian dari hukum perikatan. Bahkan sebagian ahli hukum menempatkan sebagai bagian dari hukum perjanjian, karena kontrak sendiri ditempatkan sebagai perjanjian tertulis, tetapi dalam buku hukum kontrak & perancangan kontrak, Ahmadi Miru tidak membedakan antara hukum kontrak dengan perjanjian, sehingga keduanya digunakan dalam makna yang sama. Pembagian hukum kontrak dan hukum perjanjian tidak dikenal dalam dalam BW, karena dalam BW hanya dikenal perikatan yang lahir dari perjanjian dan yang lahir dari undang-undang atau secara lengkap dapat diuraikan sebagai berikut.
Perikatan bersumber dari perjanjian dan undang-undang, perikatan yang bersumber dari undang dibagi menjadi dua, yaitu dari undang saja dan dari undang karena perbuatan manusia. Selanjutnya, perikatan yang lahir dari undang-undang karena perbuatan manusia dibagi menjadi dua, yaitu perbuatan yang sesuai hukum dan perbuatan yang melanggar hukum.
Kontrak atau perjanjian ini merupakan suatu peristiwa hukum di mana seorang berjanji kepada orang lain atau dua orang saling berjanji untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
Biasanya kalau berjanji kepada orang lain, kontrak tersebut merupakan kontrak yang biasan diistilahkan dengan kontrak sepihak di mana hanya seorang yang wajib menyerahkan sesuatu kepada orang lain, sedangkan orang yang menerima penyerahan itu tidak tidak memberikan sesuatu sebagai balasan (kontra prestasi) atas sesuatu yang diterimanya. Sementara itu, apabila dua orang saling berjanji, ini berarti masing-masing pihak berjanji untuk memberikan sesuatu/berbuat sesuatu kepada pihak lainnya yang berarti pula bahwa masing-masing pihak berhak untuk menerima apa yang dijanjikan oleh pihak lain. Hal ini berarti masing-masing pihak dibebani kewajiban dan diberi hak sebagaimana dijanjikan.
Merujuk pada silabus yang diberikan oleh bapak Dr. Abbas Arfan, LC. M.H, sebagai dosen hukum perikatan di Indonesia, pada kesempatan ini kami diberi tugas untuk memaparkan kaitannya dengan jenis-jenis perikatan yang meliputi, perikatan bersyarat, perikatan dengan ketetapan waktu, perikatan yang objeknya lebih dari satu dan perikatan generik. Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan mencoba menguraikan jenis-jenis perikatan tersebut satu persatu.
B. Rumusan Masalah
Untuk mempermudah dalam pembahasan masalah ini, maka kami membuat beberapa rumusan masalah sebagai berikut.
1. Apakah yang dimaksud dengan perikatan bersyarat, perikatan dengan ketetapan waktu, perikatan yang objeknya lebih dari satu dan perikatan generik itu?
2. Bagaimana pengaturan perikatan bersyarat, perikatan dengan ketetapan waktu, perikatan yang objeknya lebih dari satu dan perikatan generik dalam KUHPerdata maupun dalam Islam?
3. Bagamana hubungan perikatan bersyarat, perikatan dengan ketetapan waktu, perikatan yang objeknya lebih dari satu dan perikatan generik dalam KUHPerdata maupun dalam Islam?
BAB II
PEMBAHASAN
terdiri atas masing-masing satu orang dan objek kontrakna pun hanya satu macam dan lain-lain yang terkait dengan kontrak tersebut tetap bersahaja. Kontrak yang tidak bersahaja yang dimaksud adalah sebagai berikut.
A. Perikatan Bersyarat
Perikatan bersyarat (vorrwaardelijk verbintenis, contract beding) adalah perikatan yang digantungkan pada suatu peristiwa yang akan datang dan peristiwa tersebut belum tentu akan terjadi. Perikatan bersyarat ini dapat dibagi menjadi dua maacam, yaitu perikatan dengan syarat tangguh dan perikatan dengan syarat batal.
Suatu perikatan disebut dengan perikatan dengan syarat tangguh jika untuk lahirnya perikatan tersebut digantungkan pada suatu peristiwa tertentu yang akan datang dan belum tentu akan terjadi. Sedangkan suatu perikatan disebut dengan kontrak dengan syarat batal jika untuk batalnya atau berakhirnya perikatan tersebut digantungkan pada suatu peristiwa yang akan datang dan belum tentu akan terjadi.
Dalam Pasal 1253 KUH Perdata menebutkan:
“suatu perikatan adalah bersyarat manakala ia digantungkan pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang masih belum tentu akan terjadi, baik secara menangguhkan perikatan hingga terjadinya peristiwa semacam itu, maupun secara membatalkan perikatan menurut terjadinya peristiwa tersebut.”
Contoh suatu perikatan dengan syarat tangguh adalah jika seseorang menyewakan rumahnya kepada orang lain kalau ia lulus untuk seolah di luar negeri. Artinya jadi tidaknya rumah tersebut disewakan tergantung pada lulus tidaknya pemilik rumah untuk sekolah di luar negeri. Jadi kalau lulus, rumahnya jadi disewakan. Sementara itu, jika tidak lulus maka rumahnya tidak jadi disewakan.
Setiap barang yang dibeli pada umumnya dicoba dahulu, misalnya beli bohlam lampu, televisi, komputer dan lain sebagainya selalu dianggap jual beli dengan syarat tangguh, artinya kalau barang tersebut berfungsi sebagaimana dengan mestinya, jual beli tersebut terjadi, sebaliknya kalau tidak berfungsi sebagaimana dengan mestinya, maka jual beli tersbut tidak terjadi.
tidak melaksanakan sesuatu yang tidak mungkin terlaksana, perikatan tersebut tetap mengikat.
Syarat batal selalu dianggap ada dalam suatu perikatan, manakala salah satu pihak wanprestasi, namun kontrak tersebut tidak batal demi hukum. perikatan tersebut dimintakan pembatalan di pengadilan. Walaupun dinyatakan dianggap berlaku syarat batal jika terjadi wanprestasi pada salah satu pihak, apabila perikatan tersebut masih memungkinkan untuk dilaksanakan, pihak lain masih dimungkinkan untuk memilih apakah meminta tetap dilaksanakannya perikatan atau meminta pembatalan. Dalam hal ini pihak tersebut dimungkinkan untuk meminta ganti kerugian menyertai pelaksanaan atau pembatalan perikatan tersebut.1
Untuk menentukan bahwa perikatan tersebut merupakan perikatan bersyarat, harus dilihat dari isi perikatan tersebut antara lain:
1. Syarat itu secara diam-diam memang telah dicantumkan sesuai dengan keadaan dan tujuan perikatan yang dikehendaki atau harus dinyatakan sengan tegas oleh para pihak (uitdrukkelijk);
2. Syarat tersebut berlaku sebagai kebiasaan yang lazim (gebruikelijk voorwaarden). Pada prinsipnya, syarat yang dicantumkan dalam perikatan dapat beraneka ragam. Ada yang disebut dengan syarat yang memutuskan (mengakhiri) dan syarat yang menunda (menangguhkan) perjanjian.2 Dalam syarat yang menunda bahwa suatu perjanjian belum
mempunyai kekuatan mengikat bagi para pihak sampai yang dipersyaratkan itu benar-benar terjadi. Daya kerja perikatannya mulai sejak syarat itu dipenuhi. Kalau belum maka perjanjiannya masih tertunda atau perjanjian tidak pernah terlaksana. Dalam syarat yang memutuskan berarti jika syarat yang diperjanjikan terjadi dalam kenyataan, maka perjanjian dengan otomatis berakhir dan keadaan kembali seperti semula. Dalam syarat menunda atau syarat tangguh (opschortende voorwaarde) sebagai yang dikatakan dalam Pasal 1263 adalah suatu perikatan yang bergantung pada suatu peristiwa yang masih akan datang dan yang masih belum tentu akan terjadi, atau yang bergantung pada suatu hal yang sudah terjadi tetapi tidak diketahui oleh kedua belah pihak. Jadi, dalam perikatan dengan syarat tangguh terdapat dua elemen yang harus dibedakan yaitu dalam hal peristiwa itu belum terjadi, maka perikatan tidak dapat dilaksanakan atau perikatan itu dapat dilaksanakan kalau peristiwa itu terjadi, sebaliknya dalam peristiwa itu sudah terjadi tetapi
1 Ahmadi Miru, Hukum Kontrak & Perancangan Kontrak (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010), 53-54.
para ihak tidak mengetahuinya, maka perikatan mulai berlaku sejak hari perjanjian itu dilahirkan bukan sejak diketahuinya peristiwa tersebut.3
Melihat karakter perikatan dengan syarat tangguh ini, walaupun antara kreditur dengan debitur terdapat hubungan hukum namun ada catatan yaitu kreditur hanya dapat menuntut pemenuhan perikatan apabila syarat tersebut terpenuhi. Sebaliknya debitur tidak wajib atau tidak dapat dipaksa untuk memenuhi prestasi selama syarat itu belum dipenuhi. Daya kerja perikatan terletak kepada momentum suatu peristiwa yang akan terjadi. Dalam perikatan dengan syarat tangguh terdapat risiko yang ditegaskan dalam Pasal 1264 KUH Perdata yang mengatakan sebagai berikut :
“Jika perikatan bertanggung pada suatu syarat tangguh, maka barang yang menjadi pokok perikatan tetap menjadi tanggungan si berutang, yang hanya berwajib menyerahkan barang itu apabila syarat terpenuhi. Jika barang tersebut sama sekali musnah di luar kesalahan si berutang, maka baik pada pihak yang satu maupun pada pihak yang lainnya tidak ada lagi suatu perikatan. Jika barangnya merosot harganya di luar kesalahan si berutang, maka si berpiutang dapat memilih apakah ia akan memutuskan perikatan ataukah menuntut penyerahan barangnya di dalam keadaan dimana barang itu berada, dengan tidak ada pengurangan harga yang telah dijanjikan. Jika barangnya merosot harganya karena kesalahan si berutang, maka si berutang berhak memutuskan perikatan atau menuntut penyerahan barangnya di dalam keadaan dimana barang itu berada, dengan penggantian kerugian.”
B. Kontrak dengan Ketetapan Waktu
Berbeda dari kontrak bersyarat, kontrak dengan ketetapan waktu ini tidak meangguhkan terjadinya atau lahirnya kontrak, melainkan menangguhkan pelaksanaan kontrak. Sebagai contoh bahwa dalam suatu kontrak, para pihak menetapkan suatu waktu tertentu untuk melakukan pembayaran. Ini berarti kontraknya sudah lahir, hanya pembayarannya yang ditentukan pada suatu waktu yang akan datang. Dengan demikian, pihak kreditor tidak boleh managih pembayaran tersebut sebelum waktu yang telah disepakati telah sampai. Akan tetapi, jika debitur membayar sebelum jangka waktu tersebut telah sampai, maka pembayaran tersebut tidak dapat ditarik kembali.
Perikatan dengan ketetapan waktu diatur dalam Pasal 1268 BW sampai dengan Pasal 1271 BW. Contohna adalah si Ali telah membeli sebuah rumah pada si Ahmad seharga Rp. 50.000.000,00, tetapi si Ahmad menangguhkan pelaksanaan prestasinya itu
pada saat terjadi perjanjian. Ia akan membayarnya pada waktu yang telah ditentukan, misal apada tanggal 30 November 2015.
Penetapan waktu tertentu untuk melaksanakan suatu prestasi tertentu diangap selalu dibuat untuk kepentingan debitur, kecuali kalau secara nyata jangka waktu tersebut dibuat untuk kepentingan kreditor.4
Penetapan jangka waktu pembayaran suatu utang memang pada umumnya kita ketahui dibuat untuk kepentingan debitur, tetapi mungkin saja jangka waktu tersebut dibuat untuk kepentingan kreitur. Sebagai contoh kalau dalam kontrak tersebut ditentukan bahwa kreditur wajib membayar utang tersebut pada 25 November 2015, yakni tanggal yang bertepatan dengan masa pembayaran Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) bagi kreditor.5
4 Salim HS, Pengantar Hukum Perdata (BW), 176.