1 BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah
Republik Rakyat Cina (RRC) merupakan negara yang berada di Asia
Timur yang berdiri pada tahun 19491. Pada masa perang dingin, Cina bersekutu dengan Uni Soviet, dimana pada saat Perang Dingin terjadi perang ideologi antara
komunis dan liberal yang membentuk blok timur dan blok barat.2 Blok barat merupakan blok kaum liberal yang didominasi oleh Amerika Serikat dan blok
timur merupakan blok kaum komunis yang didominasi oleh Uni Soviet.
Setelah perang dingin usai, pada saat pemerintahan Deng Xiaoping yang
dimulai tahun 1979.3 Cina memulai kerja sama dengan negara lain untuk melakukan kegiatan ekonomi yaitu ekspor dan impor. Sebelum pemerintahan
Deng Xiapong ekonomi Cina besifat tertutup, tidak bekerja sama dengan negara
lain. Saat pemerintahan Deng Xiaoping pada tahun 1979, Cina memilih Amerika
Serikat sebagai salah satu rekan kerja samanya, agar dapat bekerja sama dengan
Amerika Serikat dalam kerja sama ekonomi, Cina memilih untuk berpaling dari
Uni Soviet dengan cara menyerang Vietnam yang merupakan sekutu Uni Soviet
agar untuk melakukan normaliasi dengan Amerika Serikat.
1History of China
, diakses dalam, http://www.travelchinaguide.com/intro/history/ (21/4/2014, 15:30 WIB)
2
Cvce, The Cold War (1945-1989), diakses dalam,
http://www.cvce.eu/content/publication/2011/11/21/6dfe06ed-4790-48a4-8968-855e90593185/publishable_en.pdf (5/7/2013, 17:43 WIB)
3
2 Normalisasi hubungan antara Cina dan Amerika Serikat pun terjadi pada
tahun 1991.4 Setelah itu, kegiatan ekspor impor Cina mulai berkembang dan tidak hanya dengan Amerika Serikat, tapi juga kepada dunia internasional.
Ekonomi Cina terus meningkat sejak tahun 1979 ketika dipimpin oleh
Deng Xiaoping dimana Groos Domestic Product (GDP) Cina terus meningkat dan
pada tahun 2012 mendekati 10%.5 Dimana sebelum tahun 1979 Cina dalam bidang ekonominya bersifat stagnant, tidak ada perkembangan. Cina dalam
bidang produksinya menunjukan peningkatan yang pesat dalam setiap tahunnya.
pada awal tahun 19906an GDP Cina dibawah 3 triliun dolar terus meningkat sampai dengan pada awal tahun 2000an mencapai 3 triliun dolar dan terus
meningkat lagi di pertengahan tahun 2000an. Meningkatnya ekonomi Cina
membuat Cina mulai diperhitungkan oleh dunia internasional yaitu sebagai
kekuatan ekonomi baru dari Asia.
China dengan kekuatan ekonominya turut menaikan anggaran militernya
yang semakin memperkuat militernya. Kekuatan militernya ini akan digunakan
untuk menjaga kedaulatan negaranya termasuk dengan perbatasan negaranya.
Untuk menjaga perbatasannya Cina menggunakan kekuatan militer. Sehingga
membuat Cina terus memperkuat kekuatan militernya. Ini berdasarkan pada
doktrin active defense oleh presiden pertama Cina yaitu Mao Zedong. Active
defense ini merupakan strategi militer dari Mao, untuk memodernisasi militer
4 Ibid 5
Wayne M. Morrison. China’s Economic Rise: History, Trends, Challenges, and Implications for the United States, Congressional Research Service, diakses dalam,
http://fas.org/sgp/crs/row/RL33534.pdf (19/8/2013, 19:20 WIB) 6
3 yang kemudian digunakan untuk menjaga kedaulatan dan integritas negara.7 Sebagai bentuk lanjut dari active defense Mao Zedong menjalankan program near
coast defense, yaitu patroli militer untuk menjaga perairan di perbatasan Cina
dengan jarak 300 km dari bibir pantai.8
Kemudian pada pemerintahan Deng Xiaoping, program near coast
defense dikembangkan menjadi near seas defense. Near seas deffense ini
merupakan patroli militer dengan jarak menjadi 321 km dari bibir pantai9 Kemudian Near seas defense ini dikembangkan menjadi far seas defense yaitu
patroli militer untuk menjaga perairan perabatasan Cina jarak patroli militer dari
bibir pantai ini bertambah luas lagi menjadi dengan jarak 370,4 km dari bibir
pantai. Setelah itu pada pertengahan tahun 1980an untuk menjalankan program
far seas ini dibuatlah operasi blue water. Operasi blue water ini fokus pada patroli
militer perairan yang menjadi sengketa kepemilikan di Laut Cina Selatan dan Laut
Cina Timur. Operasi ini didasari dengan, intelejen, pengawasan, pengintaian,
rudal, dan tembakan ke udara.10
Dalam menjaga perbatasannya Cina dihadapkan dengan permasalahan di
Laut Cina Selatan, dimana pada perairan ini berhadapan dengan Vietnam yang
juga mengklaim perairan ini sebagai miliknya. Dimana Vietnam terlebih dahulu
menduduki kepulauan Paracel dan Spartly yang berada di Laut Cina Selatan.
7
Alexander Chieh, Transformation and Refinement of Chinese Military Doctrine: Reflection and Critique on the PLA’s View,diakses dalam,
http://www.rand.org/content/dam/rand/pubs/conf_proceedings/CF160/CF160.ch6.pdf , (20/8/2013, 10:17 WIB)
8
Nan LI, The Evolution of China’s Naval Strategy and Capabilities:From”Near Coast”and”Near
Seas”to Far Seas” diakses dalam
http://kms2.isn.ethz.ch/serviceengine/Files/ESDP/144145/ichaptersection_singledocument/cf0bd 719-7692-443f-bfa6-56a9e7ec3a7a/en/Chapter+5.pdf , hal 111 (22/10/2013,12:00 WIB) 9
ibid 10
4 Sengketa ini bermula dari klaim kepemilikan dari kepulauan Paracel dan
Spartly yang berada di Laut Cina Selatan. Dimana kedua pulau diklaim oleh Cina
dan Vietnam sebagai miliknya berdasarkan pada bukti yang dimiliki keduanya.
Pada tahun 1947 Cina mengklaim berdasarkan pada peta yang merinci yang
berisikan bahwa Laut Cina Selatan merupakan miliknya namun, hal itu ditentang
oleh Vietnam yang menyatakan bahwa Cina tidak pernah mengklaim pulau
tersebut. Vietnam juga memiliki bukti berupa dokumen yang menyatakan bahwa
kedua pulau tersebut merupakan milik Vietnam sejak abad ke-1711. Vietnam mengklaim Laut Cina Selatan berdasarkan pada sejarah, dimana Vietnam
mengaku telah menduduki dan mengeksplor hasil alam di kepulauan Paracel dan
kepulauan Spartly.12 Pada tahun 1834 kaisar Minh May dari dinasti nguyen yang berasal dari Vietnam telah mendirikan pagoda di kepulauan Paracel.13 Kemudian pada tahun 2002 dibentuk code of conduct14 sebuah perjanjian yang memuat aturan bagi negara yang bersengketa mengenai klaim di Laut Cina Selatan.
Dalam upayanya untuk mengklaim Laut Cina Selatan, Cina melakukan
agresi militer kepada Vietnam pada tahun 1947 dan 1988 yang dimenangkan oleh
Cina untuk mengambil alih pulau Paracel dan pulau Spartly dari Vietnam yang
berada di Laut Selatan.15 Kemudian setelah agresi militer Cina terhadap Vietnam
11Sengketa kepemilikan Laut Cina Selatan
, diakses dalam,
http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/07/110719_spratlyconflict.shtml, (21/10./2013, 14:31 WIB)
12
Hong Thao Nguyen, Vietnam’s Position on the Sovereignty over the Paracels & the Spratlys:Its Maritime Claims, diakses dalam, http://southeastasiansea.files.wordpress.com/2013/08/vietnams-position-on-the-sovereignty-over-the-paracels-the-spratlys-its-maritime-claim.pdf,
(25/10/2013,21:20 WIB) 13
Paracel (Xisha) Island-1974, diakses dalam,
http://www.globalsecurity.org/military/world/war/paracel.htm, (22/10/2013,21:00 WIB) 14
Op,Cit Sengketa kepemilikan Laut Cina Selatan
5 di pulau Spartly pada tahun 199516 Cina kembali menegaskan bahwa Laut Cina Selatan adalah miliknya dengan menduduki Pulau Spartly yang berada di Laut
Cina Selatan dari Filipina. Kemudian pada tahun 1999 setelah berhasil merebut
pulau Spartly dari Filipina, Cina mendirikan pangkalan militer disana17
Operasi dan agresi militer yang dilakukan oleh Cina ini menjadi sebuah
ancaman bagi Vietnam. Sebagai negara yang berdaulat maka, Vietnam akan
memperhatikan batas-batas negaranya. Pada awal tahun 1990an18 operasi blue water ini memperlihatkan kekuatan militernya di Laut Cina Selatan dengan
kekuatan militer yang besar. Bila dibandingkan dengan Vietnam, maka kekuatan
militer Cina lebih besar daripada Vietnam. Berdasarkan pada keinginan Cina
untuk segera mengklaim Laut Cina Selatan. Maka Vietnam harus merespon
ancaman ini.
Ini merupakan sinyal bagi Vietnam untuk segera bersiap diri dari agresi
militer Cina yang menggunakan kekuatan militernya untuk mengklaim Laut Cina
Selatan. Cina yang dalam aktifitas milliternya di Laut Cina Selatan mengundang
respon bagi Vietnam. Vietnam yang berbatasan dengan Laut Cina Selatan ini
merasa adanya dengan kekuatan militer Cina yang memiliki potensi untuk
melakukan agresi militer ke Vietnam dan merusak kedaulatan Vietnam. Ancaman
ini juga berdasarkan pada bahwa Cina berusaha untuk segera mengklaim Laut
16
Daniel J. Dzurek. China Occupies Mischief Reef In Latest Spartly Gambit, diakses dalam, https://www.dur.ac.uk/ibru/publications/download/?id=58, (10/10/2013. 20.00 WIB) 17
Christopher C. Joyner. The Spratly Islands Dispute in the South China Sea: Problems, Policies, and Prospects for Diplomatic Accommodation. diakses dalam http://www.stimson.org/images/uploads/research-pdfs/cbmapspratly.pdf. (09/5/2014, 20:30 WIB)
18
Clive Schofield. An Arms Race in the South China Sea?. Diaksses dalam.
6 Cina Selatan sebagai miliknya melalui kekuatan militernya, dimana Vietnam dan
Cina terlibat dalam konflik dalam kepemilikan Laut Cina Selatan.
Penting bagi Vietnam untuk menghadapi ancaman militer Cina agar dapat
mengantisipasi ancaman Cina. Ancaman yang diperlihatkan Cina di Laut Cina
Selatan ini, memberikan tanda bagi Vietnam, bahwa kekuatan militer Cina siap
untuk segera menyerang Vietnam dengan kekuatan militer yang besar. Vietnam
yang juga mengklaim Laut Cina Selatan, tidak akan menyerahkan Laut Cina
Selatan kepada Cina.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana respon Vietnam terhadap aktifitas militer Cina di Laut Cina
Selatan?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Peneltian
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon Vietnam terhadap aktifitas
militer Cina di Laut Cina Selatan
1.3.2 Manfaat Penelitian 1.3.2.1 Manfaat Praktis
Untuk mengetahui tujuan dari respon Vietnam terhadap aktifitas militer
Cina di Laut Cina Selatan.
1.3.2.2 Manfaat Akademis
1. Untuk memenuhi tugas akhir jurusan Hubungan Internasional Universitas
7 2. Peneliti dapat menerapkan teori dan menganalisa kebijakan negara
Vietnam untuk merespon ancaman Cina di Laut Cina Selatan dengan
beraliansi dengan Amerika Serikat.
1.4 Penelitian Terdahulu
Dalam jurnal yang ditulis oleh LE HONG HIEP yang berjudul Vietnam’s
Hedging Strategy against China since Normalization menuliskan bahwa Vietnam
melakukan hedging strategi kepada Cina. Perilaku Vietnam ini dimulai sejak
normalisasi Sino-Vietnam pada tahun 1991. Vietnam dapat mengambil
keuntungan dalam perdagangan karena dekat Cina, namun di sisi lain, Vietnam
terlibat konflik dengan Cina dalam kepemilikan Laut Cina Selatan serta kerja
sama Vietnam dengan Amerika Serikat yang dapat menimbulkan konflik antara
Vietnam dan Cina. Hal ini disebabkan adanya konflik terkait dengan hegemoni
antara Cina dan Amerika Serikat sebagai negara besar. Vietnam di satu sisi
menunjukkan sikap tidak ingin diintimidasi oleh Cina, namun di sisi lain Vietnam
menunjukkan rasa menghargai Cina karena dengan menghargai Cina maka
hubungan mereka akan lebih erat sehingga Vietnam mendapatkan keuntungan
dari hubungan kerja sama ini. Sikap baik Vietnam juga ditunjukannya sebagai
tebusannya ketika perang dengan Cina.
.Hedging adalah
“...hedging is a strategy to enable states to deal with uncertainties in their partners’ future behaviour by relying on a basket of policy tools that, while helping to promote bilateral cooperation, also entails competitive elements aimed at preparing themselves against potential security threats posed by their partners...”19
19
8 Hedging merupakan cara sebuah negara untuk dapat bekerja sama dengan negara
lain yang bersifat mengancam namun dalam kerja sama tersebut ada nilai
kompetitif di dalamnya untuk dapat mempersiapkan diri dari ancaman negara
tersebut. Walaupun sebagai negara yang lebih lemah dari Cina, Vietnam tetap
berupaya agar tidak ditindas oleh Cina dalam hubungan antar keduanya.
Penelitian kedua berjudul Navigating the Security Dilemma: China,
Vietnam, and the South China Sea ditulis oleh Jason J. Blazevic. Dalam tulisan in
menjelaskan tentang konflik antara Cina dan Vietnam mengenai kepemilikan
pulau Paracel laut Cina Selatan. Kedua negara ini mempunyai bukti yang
menyatakan bahwa pulau Paracel adalah milik mereka. Memiliki pulau ini sangat
penting bagi Cina dan Vietnam karena pulau in mempunyai minyak bumi yang
melimpah begitu juga dengan perairannya yaitu laut Cina Selatan. Kebutuhan
akan minyak bagi Cina dan Vietnam sangat penting karena kebutuhan minyak
kedua negara ini meningkat setiap tahunnya untuk kegiatan produksi. Maka dari
itu kedua negara ini berusaha untuk segera mendapatkan hak kepemilikan dari
pulau Paracel.
Untuk segera memiliki pulau Paracel, Cina dengan kekuatan maritimnya
terlihat agresif di laut Cina Selatan dan membuat Vietnam merasa terancam.
Keagresifan militer Cina di laut Cina selatan terlihat dari bahwa Cina pernah
menangkap nelayan Vietnam di Laut Cina Selatan dan memiliki pangkalan militer
di pulau Paracel.Kekuatan militer Cina ini dapat menyerang Vietnam agar Cina
9 hubungan bilateral dengan Cina yang menguntungkan bagi Vietnam, Vietnam
harus dapat bertahan dari serangan militer Cina.
Penelitian yang ketiga berjudul, Deng Xiaoping and China’s Decision to
go to War with Vietnam yang ditulis oleh Xiaoming Zhang menjelaskan bahwa
Deng Xiaoping sebagai Chief General Staf merupakan orang yang memutuskan
Cina untuk perang kepada Vietnam. Hal ini disebabkan adanya permasalahan di
perbatasan terkait imigran Cina di Vietnam yang disiksa dan permasalahan
perbatasan. Kemudian setelah Deng menjadi Presiden di Cina. Deng memutuskan
untuk memerangi Vietnam untuk membantu Kamboja pada saat diinvasi oleh
Vietnam. Deng tidak hanya bermaksud untuk membantu Kamboja saja, tapi
berdasarkan juga pada rakyat Cina yang berada di Vietnam yang diusir dari
Vietnam meskipun Cina telah memberikan bantuan finansial yang besar kepada
Vietnam. Selain itu, ini juga bentuk politik Deng untuk melakukan normalisasi
dengan Amerika agar dapat bekerja sama dalam ekonomi. Dengan memerangi
Vietnam, Amerika Serikat beranggapan bahwa Cina juga memerangi Uni soviet
yang merupakan musuh dari Amerika Serikat saat Perang Dingin, karena Vietnam
merupakan rekan dari Uni Soviet.
No Nama Peneliti (Judul Penelitian)
Pendekatan (Metodologi)
Hasil Penelitian
1 LE HONG HIEP (Vietnam’s Hedging
Strategy against China
since Normalization)
Hedging Strategy
( Deskriptif )
Vietnam dalam merespon
kebangkitan Cina, berusaha
untuk tetap dapat menjalin
kerja sama yang
menguntungkan bagi
10 kekuatan militer Cina yang
besar, Vietnam tidak ingin
diintimidasi oleh Cina.
Melihat dari sejarah bahwa
Cina dan Vietnam pernah
terjadi perang keduanya
Vietnam berusaha untuk
berperilaku baik kepada
Cina. Meskipun terjadi
kerja sama di antara
keduanya Cina tetap
menjadi musuh bagi
Vietnam terkait
permasalahan kepemilikan
Pulau Paracel di Laut Cina
Selatan.
2 Jason J. Blazevic (Navigating the Security
Dilemma:China, Vietnam, and the South
China Sea )
Security Dilemma,
Defensive realism
( Eksplanatif)
Cina dengan kekuatan
militernya yang kuat di
Laut Cina Selatan membuat
Vietnam merasa terancam
terkait dengan bahwa Cina
ingin segera mengklaim
Laut Cina Selatan. Vietnam
memilih untuk bersifat
bertahan dari ancaman
militer Cina.
3 Xiaoming Zhang ( Deng Xiaoping and China’s Decision to go
to War with Vietnam )
Decision Making
Procces
( Deskriptif )
Deng Xiaoping merupakan
aktor yang mengambil
keputusan untuk berperang
11 dengan isu perbatasan
antara Cina dan Vietnam,
orang Cina yang disiksa di
Vietnam, faktor Uni Soviet,
serta sebagai langkah untuk
melakukan normalisasi
dengan Amerika Serikat
agar dapat bekerja sama
dengan Amerika Serikat
dalam bidang ekonomi.
4 Ridwan Iskandar ( Respon Vietnam
terhadap Aktifitas
Militer Cina di Laut
Cina Selatan)
Balance of Power
Alliance
( Eksplanatif )
Aktifitas militer Cina di
Laut Cina Selatan
merupakan ancaman bagi
Vietnam. Dimana dalam
aktifitasnya tersebut Cina
menggunakan kekuatan
militer yang besar. Untuk
merespon ancaman itu,
Vietnam beraliansi dengan
Amerika Serikat.
1.5 Landasan Teori 1.5.1 Balance of Power
Dalam buku Kenneth Waltz yang berjudul Theory of International Politics
menjelaskkan bahwa setiap negara berada dalam sistem internasional yang
bersifat anarki, dimana dalam sistem yang anarki bersifat tidak ada satu otoritas
yang dapat mengatur setiap setiap negara.20 Dimana setiap negara akan berupaya
20
12 untuk memenuhi politik domestik di dalam sistem internasional dengan
menggunakan power yang dimilikinya.21 Sehingga negara yang memiliki power yang besar atau great power menjadi acuan bagi negara lain yang memiliki power
lebih kecil dalam mengambil kebijakan politik domestiknya. Di dalam sistem
internasional yang anarki kapan saja bisa terjadi perang. Sehingga setiap negara
harus bersiap akan hal itu. Apalagi negara yang berdekatan dengan negara great
power.
“Because some states may at any time use force, all states must be prepared to do so-or live at the mercy of their militarily more vigorous neighbors. Among states, the state of nature is a state of war.”22
Negara yang memiliki power yang lebih lemah akan melakukan self help
yaitu upaya untuk dapat bertahan atau survive dalam sistem internasional yang
anarki. Dalam upayanya ini negara akan melakukan balancing terhadap negara
yang mengancam.23 Hal ini dapat dilakukan dengan membentuk aliansi agar mendapatkan distribution power dari negara lain. Sehingga menambah power dari
negara tersebut. Negara yang mendapatkan ancaman dari kekuatan militer dari
great power ketika tidak mampu untuk mengimbangi dengan power yang
dimilikinya sendiri, maka akan bergabung dengan aliansi dengan negara great
power.Aliansi ini sendiri berguna tidak hanya untuk distribution power. Namun
aliansi akan membantu ketika negara tersebut akan diserang, karena di dalam
21
Ibid, hal.61.hal.103 22
Ibid, hal.102 23
13 aliansi satu ancaman bagi satu ancaman merupakan ancaman bagi yang lainnya.24 Ini merupakan bentuk self help dari sebuah negara agar dapat survive.
1.5.2 Alliance
Stephen M. Walt mengutarakan dalam jurnalnya yang berjudul Alliance
Formation and the Balance of World Power, bahwa dalam menghadapi ancaman
dalam bentuk balancing maka sebuah negara yang lemah akan beraliansi dengan
negara yang memiliki power yang besar.
“According to this hypothesis, states join alliances to protect themselves from states or coalitions whose superior resources could pose a threat.”25
Sebuah negara yang melakukan aliansi beradasarkan pada dua hal yaitu pertama,
untuk menghindari potensi hegemoni negara yang kuat tersebut sebelum
kekuatannya menjadi lebih kuat. Kedua karena negara yang lebih lemah
membutuhkan bantuan dari negara yang lebih kuat. 26
Agar negara tersebut mendapatkan distribusi power dari negara yang lebih
kuat. Aliansi dapat terbentuk berdasarkan pada kedekatan bantuan militer dan
bantuan ekonomi27
1.6 Metodologi Penelitian 1.6.1 Level Analisa
Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu unit eksplanasi dan
unit analisa. Unit eksplanasi atau variabel independen adalah obyek yang
24
Ibid, hal.168 25
Stephen M. Walt. Alliance Formation and The Balance of World Power. International Security. Vol. 9. No. 4. (Spring, 1985). The MIT Press Publisher. hal . 5
26
Ibid. hal 5-6m 27
14 mempengaruhi unit analisa atau variabel dependen yang akan dijelaskan
perilakunya. Dimana dalam penelitian ini aktifitas militer Cina di Laut Cina
Selatan sebagai unit eksplanasi dan aliansi Vietnam dengan Amerika Serikat
sebagai unit analisa. Pada tulisan ini untuk melihat hubungan antara variabel
adalah induksionis. Induksionis adalah jika unit analisa lebih tinggi daripada unit
ekspalansi. Dimana unit eksplanasinya adalah negara dan unit analisisnya adalah
aliansi (sistem).
1.6.2 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksplanatif yang bertujuan
untuk menjelaskan hubungan antara dua variabel.
1.6.3 Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik library
research atau studi kepustakaan. Bahan penelitian ini diperoleh dengan
melakukan studi pustaka dari berbagai sumber, baik buku, koran, artikel, karya
ilmiah atau situs internet.
1.6.4 Teknik Analisa Data
Data akan dianalisa menggunakan teori. Sehingga hasil dari analisa
tersebut akan dieksplanasikan dan diambil kesimpulan.
1.7 Ruang Lingkup Penelitian
1.7.1 Batasan Materi
Batasan materi pada penelitian ini difokuskan pada aktifitas militer Cina di
Laut Cina Selatan yang kemudian direspon oleh Vietnam dengan melakukan
15 1.7.2 Batasan Waktu
Mulai tahun 1991 saat datangnya Amerika Serikat ke Vietnam dengan isu
MIA sampai dengan terbentuknya code of conduct pada tahun 2002.
1.8 Hipotesa
Cina dengan power yang dimilikinya merupakan ancaman bagi Vietnam.
Dimana power yang dimiliki oleh Cina lebih besar daripada Vietnam. Cina yang
ingin segera mengklaim Laut Cina Selatan bisa saja untuk menyerang Vietnam
untuk mengklaim Laut Cina Selatan. Untuk dapat mengimbangi power sebagai
bentuk defense terhadap Cina maka Vietnam beraliansi dengan Amerika Serikat.
1.9 Sistematika Penulisan
BAB I : Pendahuluan
1.1Latar Belakang
1.2Rumusan Masalah
1.3Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
1.3.2 Manfaat Penelitian
1.3.2.1Manfaat Praktis
1.3.2.2Manfaat Akademis
1.4Penelitian Terdahulu
1.5Landasan Teori
1.6Metodologi Penelitian
1.6.1 Level Analisa
16 1.6.3 Teknik Pengumpulan Data
1.6.4 Teknik Analisa Data
1.7Ruang Lingkup Penelitian
1.7.1 Batasan Materi
1.7.2 Batasan Waktu
1.8Hipotesa
1.9Sistematika Penulisan
BAB II : Kapabilitas Militer Cina dan Persepsi Ancaman Vietnam
2.1 Laut Cina Selatan sebagai perbatasan Cina dan Vietnam
2.2 Peningkatan Kekuatan Militer Cina
2.3 Aktifitas Militer Cina di Laut Cina Selatan
BAB III : Aliansi Vietnam dan Amerika Serikat sebagai bentuk balancing
terhadap Cina
3.1 Aliansi Vietnam dan Amerika Serikat
3.1.1 Ekonomi dan Kapabilitas Militer Amerika Serikat
3.1.2 Distribusi Power Baru
3.1.3 Senjata Nuklir Amerika Serikat dan CIna
3.2 Kerjasama Vietnam dan Amerika Serikat.
3.2.1 Kerjasama ekonomi Vietnam dan Amerika Serikat
3.2.2 Kerjasama militer Vietnam dan Amerika Serikat
BAB IV : Penutup
Kesimpulan
SKRIPSI
RESPON VIETNAM TERHADAP AKTIFITAS MILITER CINA DI LAUT CINA SELATAN
Disusun dan diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Strata-1
Oleh:
RIDWAN ISKANDAR 09260066
JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
LEMBAR PENGESAHAN
Nama : Ridwan Iskandar NIM : 09260066
Jurusan : Hubungan Internasional Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Judul Skripsi : RESPON VIETNAM TERHADAP AKTIFITAS MILITER CINA DI LAUT CINA SELATAN
Telah dipertahankan dihadapan Dewan Penguji Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Hubungan Internasional Dan dinyatakan LULUS Pada hari: Selasa, 28 Oktober 2014
Tempat: Ruang Dosen FISIP
Mengesahkan, Dekan FISIP- UMM
Dr. Asep Nurjaman, M.Si.
Dewan Penguji:
1. Ruli Inayah Ramadhoan, M.Si ( )
2. Havidz Ageng P., MA ( )
3. Helmia Asyathri, S.IP ( )
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahhi wa barakatuh.
Laut Cina Selatan merupakan perairan yang diklaim oleh Cina dan
Vietnam sebagai miliknya. Sehingga perairan ini menyebabkan sengketa diantara
keduanya. Cina dengan kekuatan ekonomi yang besar, mampu untuk memperkuat
kapabilitas militernya sehingga kapabilitas militer Cina jauh lebih kuat daripada
Vietnam. Cina yang ingin segera mengklaim Laut Cina Selatan ini menggunakan
kekuatan militernya, seperti melakukan patroli, latihan dan agresi militer. Dimana
aktifitas militer Cina memperlihatkan kepada Vietnam bahwa Cina memiliki
kekuatan militer yang besar. Melihat fenomena ini, penulis tertarik untuk melihat
respon Vietnam terhadap aktifitas militer Cina di Laut Cina Selatan.
Penulis menyadari bahwa dalam proses pengerjaan dan penyajian skripsi
ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, masukan dan kritikan yang
membangun sangat diharapkan oleh penulis untuk membantu menutup
kekurangan tersebut. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan
kontribusi, untuk memberikan manfaat dalam menambah dan mengembangkan
studi Hubungan Internasional.
Amienya Rabbal Alamien
Wassalamu’alaikum warahmatullahhi wa barakatuh.
Malang, 10 November 2014
DAFTAR ISI
COVER ... i
LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
BERITA ACARA BIMBINGAN SKRIPSI ... iv
PERNYATAAN ORISINALITAS ... v
KATA PENGANTAR ... vi
LEMBAR PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAKSI ... ix
ABSTRACT ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR GAMBAR, GRAFIK DAN TABEL ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang Masalah ... 1
1.2Rumusan Masalah ... 6
1.3Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 6
1.3.1 Tujuan Penelitian ... 6
1.3.2 Manfaat Penelitian ... 6
1.3.2.1 Manfaat Praktis ... 6
1.3.2.2 Manfaat Akademis ... 6
1.4Penelitian terdahulu ... 7
1.5Landasan Teori ... 11
1.5.1 Balance of Power ... 11
1.5.2 Alliance ... 13
1.6Metodologi Penelitian ... 13
1.6.1 Level Analisa ... 13
1.6.2 Metode Penelitian ... 14
1.6.3 Teknik Pengumpulan Data ... 14
1.6.4 Teknik Analisa Data ... 14
1.7Ruang Lingkup Penelitian ... 14
1.7.1 Batasan Materi ... 14
1.7.2 Batasan Waktu ... 15
1.8Hipotesa ... 15
1.9Sistematika Penulisan ... 15
BAB II Kapabilitas Militer Cina dan Persepsi Ancaman Vietnam ... 18
2.1 Laut Cina Selatan sebagai perbatasan Cina dan Vietnam ... 18
2.2 Peningkatan Kekuatan Militer Cina ... 19
2.3 Aktifitas Militer Cina di Laut Cina Selatan ... 23
2.4 Ancaman Cina kepada Vietnam ... 26
BAB III Aliansi Vietnam dan Amerika Serikat sebagai bentuk balancing terhadap Cina ... 30
3.1 Aliansi Vietnam dan Amerika Serikat ... 30
3.1.1 Ekonomi dan Kapabilitas Militer Amerika Serikat ... 32
3.1.3 Senjata Nuklir Amerika Serikat dan Cina ... 40
3.2 Kerjasama Vietnam dan Amerika Serikat ... 44
3.2.1 Kerjasama Ekonomi Vietnam dan Amerika Serikat ... 46
3.2.2 Kerjasama militer Vietnam dan Amerika Serikat ... 49
BAB IV Penutup ... 51
Kesimpulan ... 51
Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 53
DAFTAR GAMBAR, GRAFIK DAN TABEL Gambar 1. Peta Laut Cina Selatan ... 18
Grafik 1. Grafik anggaran militer Cina ... 21
Grafik 2. Anggaran militer Vietnam... 29
Grafik 3. GDP Amerika Serikat dalam triliun dolar ... 32
Grafik 4. Anggaran militer Amerika Serikat ... 33
Tabel 1. Tabel jumlah angkatan bersenjata milliter Amerika Serikat dari tahun 1991 - 2002 ... 34
Tabel 2. Perbedaan kekuatan Vietnam dan Cina tahun 2002 ... 34
DAFTAR PUSTAKA
Buku :
Janzekovic. John. 2006. The Use of Force in Humanitarian Intervention. Burlington: Ashgate Publishing Company.
Waltz. Kenneth N. 1979, Theory of International Politics, Amerika Serikat: Addison-Wesley
Mas’oed. Mohtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi. LP3ES: Jakarta.
Jurnal dan Artikel :
Active Duty Military Personnel. 1940-2011. Diakses dalam :
http://www.infoplease.com/ipa/A0004598.html#ixzz3Bhtryvpn, (9/9/2012,
10:17 WIB)
Branislav L. Slantchev. National Security Strategy: The Vietnam War, 1945-1975. diakses dalam http://slantchev.ucsd.edu/courses/nss/lectures/vietnam-war.pdf. (10/10/2013, 15.00 WIB)
Colonel William Jordan. Lewis M. Stren. Dkk. U.S.-Vietnam Defense Relations: Investing Defense relations : Investing In Strategic Alignment, diakses dalam, http://www.heritage.org/research/reports/2012/07/us-vietnam-defense-relations-investing-in-strategic-alignment (10/5/2014, 21:30 WIB)
China’s expenditure on military from 1991 to 2012 (in billion U.S dollars). diakses dalam http://www.statista.com/statistics/267035/china-military-spending/. (17/7/2014, 15:40 WIB)
Christopher C. Joyner. The Spartly Island Dispute in The South China Sea : Problems, Policies, and Prospect for Diplomatic Accommodation. diakses dalam http://www.stimson.org/images/uploads/research-pdfs/cbmapspratly.pdf. (30/7/2014, 19:05 WIB)
Christopher Layne. China.s Chalangge to US Hegemony. diakses dalam.
http://acme.highpoint.edu/~msetzler/IR/IRreadingsbank/chinauscontain.ch0 8.6.pdf (19/9/2014, 14:00 WIB)
CRS Report for Congress, The Vietnam-U.S. Bilateral Trade Agreement, diakses dalam, http://www.usvtc.org/info/crs/CRS-BTA-Dec01.pdf , (10/8/2014, 19:00 WIB)
Clive Schofield. An Arms Race in the South China Sea?. Diaksses dalam.
https://www.dur.ac.uk/ibru/publications/download/?id=39
(20/12/2013,14:31 WIB)
Colonel William Jordan. Lewis M. Stren, dkk. U.S.-Vietnam Defense Relations: Investing Defense relations : Investing In Strategic Alignment. diakses dalam. http://www.heritage.org/research/reports/2012/07/us-vietnam-defense-relations-investing-in-strategic-alignment (10/5/2014, 21:30 WIB) Potential Triggers of Conflict A Pacific Forum, diakses dalam. :
Daniel J. Dzurek. China Occupies Mischief Reef In Latest Spartly Gambit. diakses dalam, https://www.dur.ac.uk/ibru/publications/download/?id=58, (10/10/2013. 20.00 WIB)
David Bennet. China’s Offshore Active Defense and the People’s Liberation Army. Peace, War and Defense Program. Vol. 1. (Spring 2010). Chapel Hill: Global Security Studies Publisher.
David L. Wilson. HAITI 1994: THE FORGOTTEN INTERVENTION. diakses dalam http://ww4report.com/node/10053 (12/9/2014, 20;15 WIB)
Dinah Walker. Trends in U.S Military Spending. Council on Foreign Relation, diakses dalam http://www.cfr.org/defense-budget/trends-us-military-spending/p28855, (9/9/2014, 14:20 WIB)
eia. South China sea. diakses dalam. http://www.eia.gov/countries/regions-topics.cfm?fips=scs (9/6/2014, 21:15 WIB)
Emiko Fukase and Will Martin. The Effects of the United States Granting MFN
Status to Vietnam. diakses dalam,
http://unpan1.un.org/intradoc/groups/public/documents/apcity/unpan005935 .pdf (16/9/2014, 19:05 WIB)
EMBASSY OF THE UNITED STATES, HANOI.VIETNAM. diakses dalam
http://vietnam.usembassy.gov/chronology.html ( 10/10/2013. 20.00 WIB) Jason J. Blazevic. Navigating the Security Dilemma: China, Vietnam, and the
South China Sea. diakses dalam. http://journals.sub.uni-hamburg.de/giga/jsaa/article/view/583 (10/3/2014, 13.00 WIB)
LE HONG HIEP. Vietnam’s Hedging Strategy against China since
Normalization. Contemporary Southeast Asia Vol. 35. No. 3 (2013). ISEAS Publisher. diakses dalam.
http://www.viet-studies.info/kinhte/VNHedgingAgainstChina_LeHongHiep.pdf (2/3/2014, 10.00 WIB)
Le Linh Lan The. Changing Pattern of Interaction between Vietnam and the US: From Confrontation to Cooperation. diakses di :
http://emergingfromconflict.org/readings/le.pdf. ( 20/10/2014, 13:00 WIB) Lewis M.Stern. U.S.-Vietnam Defense Relation: Deepening Ties. Adding
Relevance. institute for National Strategic Studies National Defense University. Strategic Forum. Working Paper. No. 246. September 2009.
http://mercury.ethz.ch/serviceengine/Files/ISN/121075/ipublicationdocume nt_singledocument/5b304652-7017-4db7-898a-e70fa22e8fe1/en/SF246.pdf
MIA Fact Site. diakses dalam. http://www.miafacts.org/how_many_missing.htm, (15/9/2014, 13:43)
Mas’oed. Mohtar. 1990. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan Metodologi. LP3ES: Jakarta.
Mark E. Manyin, The Vietnam-U.S. Normalization Process. diakses dalam.
http://www.fas.org/sgp/crs/row/IB98033.pdf (09/12/2013, 10:20 WIB) Persian Gulf War, diakses dalam,
http://www.history.com/topics/persian-gulf-war, (13/9/2014, 10:00 WIB)
Report for Congress. The Vietnam-U.S. Bilateral Trade Agreement. diakses dalam :
Rosemary Foot. Chinese stratgies in a US-Hegemonic global order :
accommodating and hedging. diakses dalam.
http://www.cerium.ca/IMG/pdf/Chinese_strategies_in_a_US-hegemonic_global_order_-_accommodating_and_hedging.pdf, (19/9/2014, 13:00 WIB)
Sengketa kepemilikan Laut Cina Selatan. diakses dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2011/07/110719_spratlyco nflict.shtml, (21/10./2013, 14:31 WIB)
Srikanth Kondapalli. China’s Naval Training Programme. diakses dalam,
http://www.idsa-india.org/an-nov9-7.html ( 30/7/2014, 18:30 WIB)
Stein Tooneson. THE PARACEL : THE ‘OTHER’ SOUTH CHINA SEA DISPUTE.
diakses dalam
http://www.cliostein.com/documents/2001/01%20lec%20paracels.pdf
(20/7/2017, 19:20 WIB)
Stephen M. Walt. Alliance Formation and The Balance of World Power. International Security. Vol. 9. No. 4. (Spring, 1985). The MIT Press Publisher.
The World Superpower (1991–present), diakses dalam,
https://www.classle.net/book/world-superpower-1991%E2%80%93present, ( 20/10/2013, 19: 30 WIB)
United States General Accounting Office, U.S. VIETNAM RELATIONS Issues and Implication, diakses dalam, http://www.gao.gov/assets/230/221069.pdf, (6/8/2014, 11:20 WIB)
United States Department of Laboor. diakses dari
http://www.dol.gov/ilab/diplomacy/vietnam.htm, (10/8/2014, 19:20 WIB) U.S Vietnam Trade Council, MEMORANDUM OF UNDERSTANDING
BETWEEN THE DEPARTMENT OF LABOR OF THE UNITED STATES OF AMERICA THE MINISTREY OF LABOR, INVALIDS, AND SOCIAL AFFAIRS OF THE SOCIALIST REPUBLIC OF VIETNAM. diakses dari
http://www.usvtc.org/trade/bta/MoU_DoL_MOLISA.htm, (15/7/2014, 20:10 WIB)
U.S. Department of State, Defense Cooperation in Vietnam, diakses dalam,
http://photos.state.gov/libraries/vietnam/8621/pdf-forms/15anniv-DAO-Factsheet.pdf, (11/7/2014,14:30 WIB)
Wayne M. Morrison. China’s Economic Rise: History, Trends, Challenges, and Implications for the United States. Congressional Research Service. diakses dalam, http://fas.org/sgp/crs/row/RL33534.pdf, 19/8/2013, 19:20 WIB) William H. Cooper, The Jackson-Vanik Amendment and Candidate Countries for
WTO Accession: Issues for Congress, Congressional Research Service, diakses dalam, http://fas.org/sgp/crs/row/RS22398.pdf , (15/9/2014, 21:35) Yuan Dejin and Wang Jianfei. THE HISTORICAL EVOLUTION IN THE OF
MILLITARY DOCTINR SINCE THE FOUNDING OF NEW CHINA, AND
THE LESSONS FROM IT. diakses dalam
Xiaoming Zhang. Deng Xiaoping and China.s Decision to go to War with Vietnam. Journal of Cold War Studies. Vol. 12. No. 13.(Summer 2010).
diakses dalam.
http://muse.jhu.edu/journals/cws/summary/v012/12.3.zhang.html
(20/5/2013, 14:31 WIB) Internet :
Demographia, US Population From 1900, diakses dalam
http://www.demographia.com/db-uspop1900.htm, (23/9/2014, 19:15 WIB) MIA Fact Site. diakses dalam, http://www.miafacts.org/how_many_missing.htm.
(15/9/2014, 13:43 WIB)
http://www.militaryfactory.com/
http://www.globalsecurity.org/military/world/china/jianghu.htm http://www.airforce-technology.com/
http://www.military-today.com/
http://www.fighter-planes.com/info/su27.htm http://www.naval-technology.com/