• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA"

Copied!
198
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

i

PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA

( Studi Persepsi Terhadap Realitas Simbolik Tentang Kekerasan Poligami Terhadap

Perempuan Dalam Sinetron Inayah di Indosiar Periode Oktober 2009)

Disusun Oleh :

Rafiska Primas Sekar NIM : D 0205111

SKRIPSI

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat Guna

Memperoleh Gelar Sarjana Sosial pada Fakultas Ilmu Sosial dan

Ilmu Politik Jurusan Ilmu Komunikasi

JURUSAN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(2)

commit to user

ii

PERSETUJUAN

PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA

( Studi Persepsi Terhadap Realitas Simbolik Tentang Kekerasan Poligami Terhadap

Perempuan Dalam Sinetron Inayah di Indosiar Periode Oktober 2009)

Oleh:

Nama : Rafiska Primas Sekar

NIM : D 0205111

Telah disetujui untuk dipertahankan dihadapan Panitia Ujian Skripsi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret

Surakarta, 15 November 2010

Pembimbing Utama,

(3)

commit to user

iii

PENGESAHAN

Skripsi dengan judul:

PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA

( Studi Persepsi Terhadap Realitas Simbolik Tentang Kekerasan Poligami Terhadap

Perempuan Dalam Sinetron Inayah di Indosiar Periode Oktober 2009)

Oleh:

Rafiska Primas Sekar D 0205111

Telah diuji dan disyahkan Panitia Ujian Skripsi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret

Surakarta

Hari:

Tanggal: 21 November 2010

Panitia Ujian Skripsi:

1 Ketua Panitia Prof. Drs. H. Totok Sarsito, SU, MA, Ph.D

NIP. 19490428 197903 1 001

2 Sekretaris Dra. Christina Tri Hendriyani, M.Si

NIP. 19620117 198601 2 001

3 Penguji Dra. Prahastiwi Utari, M. Si, Ph. D

NIP. 131 658 541

Dekan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret

Surakarta

(4)

commit to user

iv

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi saya yang berjudul:

PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA

( Studi Persepsi Terhadap Realitas Simbolik Tentang Kekerasan Poligami Terhadap

Perempuan Dalam Sinetron Inayah di Indosiar Periode Oktober 2009)

Adalah karya asli saya dan bukan plagiat baik secara utuh atau sebagian serta

belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar akademik di institusi lain. Saya

bersedia menerima akibat dari dicabutnya gelar sarjana apabila ternyata di

kemudian hari terdapat bukti-bukti yang kuat, bahwa karya saya tersebut ternyata

bukan karya saya yang asli atau sebenarnya.

Surakarta, 15 November 2010

(5)

commit to user

v

MOTTO

“Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama dengan kesabaran, keleluasaan

itu bersama dengan adanya

kegelisahan dan sesungguhnya bersama dengan kesulitan itu ada kemudahan.”

(6)

commit to user

vi

PERSEMBAHAN

Karya ini penulis persembahkan untuk:

Allah SWT yang telah memberikan kehidupan, rejeki, dan pengetahuan

Mama Papa tersayang yang selalu memberi doa di sela-sela sholat malamnya

(7)

commit to user

vii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan nikmat, rahmat dan

hidayah-Nya, sehingga atas kehendak-Nya, skripsi dengan judul REALITAS

MEDIA TENTANG KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DALAM

POLIGAMI ( Studi Persepsi Khalayak Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan

dalam Poligami yang Direpresentasikan dalam Sinetron Inayah di Indosiar ) dapat

diselesaikan dengan baik dan lancar.

Penyelesaian skripsi ini tentunya tidak lepas dari bantuan berbagai pihak,

oleh sebab itu pada kesempatan kali ini penulis hendak menyampaikan ucapan

terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Drs. Supriyadi, SN, SU selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Sebelas Maret (FISIP UNS) Surakarta.

2. Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi yang sekaligus Dosen Pembimbing skripsi,

Dra. Prahastiwi Utari, Ph.D yang telah bersedia memberikan banyak ilmu,

arahan, dan masukan. Tidak kalah penting beliau telah mengajarkan tentang

arti sebuah kesabaran.

3. Drs. Kandyawan selaku Pembimbing Akademis yang tidak henti-hentinya

memberikan semangat pada penulis.

4. Semua staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UNS, atas ilmu yang

telah diberikan selama perkuliahan. Semoga semua ilmu yang telah bapak/ibu

(8)

commit to user

viii

5. Semua pihak narasumber yang telah banyak membantu penulis dalam

penelitian ini, baik itu dari SPEKHam, ATMa, LEHHAMAS, MUI, Muslimat

NU, Aisyiah dan pihak-pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu

persatu.

6. Papa dan Mama, yang telah memberikan kasih sayang, motivasi serta

pengorbanan yang tiada akhir.

7. Adik-adik tersayang Ranggi, Faza, Dipta atas segala keceriaannya.

8. Mas Maharsi Sindu Darmoyo, terimakasih telah menjadi bagian terindah

dalam hidup.

9. Teman-teman Himatin, terimakasih atas segala kenangan manis, air mata dan

canda tawa selama ini.

10. Sahabat-sahabatku, Dian, Astri, Ponda, Nuraini, Hana, Pandu, Nova, Novrida

yang sudah menemani dikala senang ataupun sedih.

11. Serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Terimakasih atas

semua bantuannya.

Penulis menyadari akan kurang sempurnanya skripsi ini, namun penulis

berharap bahwa skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi berbagai pihak.

Surakarta, 15 November 2010

(9)

commit to user

ix

DAFTAR ISI

HALAMAN

JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

HALAMAN PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR BAGAN... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

ABSTRAK ... xvi

ABSTRACT ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Kajian Teori 1. Komunikasi ... 12

(10)

commit to user

x

3. Media Massa ... 18

4. Persepsi ... 21

5. Kekerasan ... 23

6. Poligami ... 26

7. Persepsi Kekerasan terhadap Poligami ... 30

F. Definisi Konseptual ... 32

G. Kerangka Berpikir ... 33

H. Metodologi Penelitian 1. Jenis Penelitian ... 33

2. Metode Penelitian ... 35

3. Lokasi Penelitian ... 36

4. Populasi ... 36

5. Sampel ... 37

6. Teknik Pengambilan Data ... 38

7. Validitas Data ... 39

8. Teknik Analisis Data ... 40

BAB II. GAMBARAN INDOSIAR DAN SUBJEK PENELITIAN A. Gambaran Indosiar 1. Deskripsi Singkat Indosiar ... 44

2. Isi Siaran Indosiar ... 47

B. Tayangan Sinetron di Televisi 1. Pengertian Tayangan Sinetron di Televisi ... 49

(11)

commit to user

xi

C. Subjek Penelitian ... 55

BAB III. PENYAJIAN DATA A. Masyarakat umum terhadap Sinetron Inayah di Indosiar 1. Tanggapan Masyarakat umum terhadap Sinetron Inayah di Indosiar 67 2. Persepsi Masyarakat tentang Poligami Sinetron Inayah ... 70

3. Faktor-faktor penyebab timbulnya kekerasan dalam poligami Sinetron Inayah ... 75

4. Bentuk-bentuk kekerasan poligami ... 80

5. Tanggapan Masyarakat tentang kekerasan dalam poligami Sinetron Inayah ... 85

B. Tanggapan LSM terhadap Sinetron Inayah di Indosiar 1. Tanggapan LSM terhadap Sinetron Inayah di Indosiar ... 87

2. Tanggapan LSM tentang Poligami ... 90

3. Tanggapan LSM tentang Faktor yang mempengaruhi poligami .... 93

4. Tanggapan LSM tentang Kekerasan ... 96

5. Tanggapan LSM tentang Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan ... 99

6. Tanggapan LSM tentang kekerasan terhadap perempuan ... 102

7. Tanggapan LSM tentang kekerasan dalam poligami ... 104

8. Cara LSM dalam Tindak Kekerasan Poligami ... 107

C. Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam 1. Tanggapan Ormas islam terhadap Sinetron Inayah di Indosiar ... 110

(12)

commit to user

xii

3. Tanggapan Ormas Islam tentang Faktor yang mempengaruhi

poligami ... 118

4. Tanggapan Ormas tentang Kekerasan ... 121

5. Tanggapan Ormas tentang faktor yang mempengaruhi kekerasan . 123

6. Tanggapan Ormas tentang Kekerasan Perempuan ... 126

7. Tanggapan Ormas tentang Kekerasan dalam Poligami ... 129

8. Peran Ormas terhadap kekerasan dalam poligami ... 131

9. Tanggapan tentang Kehidupan Keluarga dalam Islam ... 133

BAB IV. ANALISIS DATA A. Sinetron Inayah Menarik 1. Konsep ... 140

2. Tema Absorbed ... 146

3. Tokoh yang banyak dikenal oleh masyarakat ... 149

4. Alur cerita dianggap mewakili audience ... 153

B. Persepsi Masyarakat tentang Poligami Sinetron Inayah 1. Persepsi Terhadap kekerasan ... 155

2. Persepsi kekerasan Terhadap Perempuan ... 158

3. Persepsi tentang Poligami ... 161

4. Persepsi tentang Kekerasan Poligami ... 163

5. Faktor-faktor yang mempengaruhi poligami ... 166

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi kekerasan poligami ... 171

(13)

commit to user

xiii BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan ... 176

B. Saran ... 178

(14)

commit to user

xiv

DAFTAR GAMBAR

BAGAN HALAMAN

Gambar 1. Bagan Proses Komunikasi ... 14

Gambar 2. Bagan Kerangka Berpikir ... 33

Gambar 3. Bagan Siklus Model Analisis ... 41

Gambar 4. Karakteristik Responden ... 56

Gambar 5. Karakteristik Responden Berdasarkan Usia ... 56

Gambar 6. Karakteristik Responden berdasarkan Pendidikan ... 56

(15)

commit to user

xv

DAFTAR TABEL

TABEL HALAMAN

Tabel 1: Frekuensi Bentuk Kekerasan Sinetron 2007-2008 ... 4

Tabel 2: Identitas Narasumber dari Masyarakat Umum ... 59

Tabel 3: Identitas Narasumber dari LSM ... 62

Tabel 4: Identitas Narasumber dari Ormas Islam ... 65

(16)

commit to user

xvi ABSTRAK

Rafiska Primas Sekar, D 0205111, Realitas Media Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan Dalam Poligami (Studi Persepsi Khalayak Tentang Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Poligami yang Direpresentasikan dalam Sinetron Inayah di Indosiar Periode oktober 2009), 185 halaman.

Di negeri ini posisi perempuan dalam keluarga secara kultural cukup rentan terhadap kekerasan. Kerentanan ini semakin terlihat saat suami memutuskan untuk berpoligami. Banyak perempuan dan anak yang lantas menjadi korban dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam hal pemenuhan kebutuhan fisiologis maupun psikologis. Tindakan kekerasan dalam poligami dalam kenyataan tersebut digambarkan dalam tayangan sinetron. Akibatnya, tindak kekerasan dalam poligami dipersepsikan secara positif dan negatif oleh pemirsa televisi.

Tujuan penelitian ini untuk melihat persepsi masyarakat secara umum terhadap Sinetron Inayah dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut dan secara khusus dari sudut kelompok masyarakat umum, Lembaga Sosial Masyarakat, dan Ormas Agama Islam.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif kualitatif dengan teknik mengumpulkan data melalui wawancara pada responden masyarakat secara umum, LSM, dan Ormas Islam di Surakartaa. Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisa interaktif, yaitu tiga komponen analisis data

reduction (reduksi data), data display (sajian data) dan data conclusion drawing

(penarikan kesimpulan)berbentuk interaksi dengan proses pengumpulan data berbagai proses siklus.

(17)

commit to user

xvii ABSTRACT

Rafiska Primas Sekar, D 0205111, The Media Reality on the Violence to Women in Polygamy (A Study on the Audience’s Perception on the Violence to Women in Polygamy Represented in Inayah Sinetron in Indonesia Periode 2009 of October ), 185 pages.

In this country the position of women in the family culturally is sufficiently susceptible to the violence. This susceptibility is increasingly visible when the husband decides to make polygamy. Many women and children then become the victim in domestic life, in the term of both physiological and physiological needs fulfillment. Violent action in polygamy in such reality is represented in the sinetron (electronic cinema) show. As a result, the violent action in polygamy is perceived positively and negatively by the television audiences.

The objective of research is to see the society’s perception generally on the Inayah Sinetron and the factors affecting such perception and particularly from the public society group’s perspective, Society Social Institution, and Islamic Society Organization.

The study belongs to an exploratory qualitative research using interview with the society respondent generally, LSM and Islamic Society Organization in Surakarta as the technique of collecting data. Technique of analyzing data used was an interactive one, consisting of three data analysis components: data reduction, display and conclusion drawing in the form of interaction with the several cycle processes of data collection process.

(18)

commit to user

(19)

commit to user

PERSEPSI KHALAYAK TERHADAP REALITAS SIMBOLIK TENTANG KEKERASAN DI MEDIA

( Studi Persepsi Terhadap Realitas Simbolik Tentang Kekerasan Poligami Terhadap

Perempuan Dalam Sinetron Inayah di Indosiar Periode Oktober 2009)

Disusun Oleh :

Rafiska Primas Sekar NIM : D 0205111

JURUSAN KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET

(20)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Televisi merupakan salah satu sarana hiburan yang dekat dengan

masyarakat. Sekarang, hampir setiap rumah memiliki media komunikasi

audiovisual ini. Selain harganya yang murah, siarannya pun kini dapat

menjangkau ke seluruh pelosok tanah air. Semua program acara dapat

dinikmati oleh masyarakat tanpa pandang lokasi geogafis, budaya dan sosial

ekonomi.

Kemudahan-kemudahan tersebut menjadikan televisi sebagai ‘teman

dekat’ masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian Nielsen tahun 1993

menunjukkan rata-rata remaja menonton televisi 3-5 jam per hari. Penelitian

tersebut juga menemukan fakta anak-anak menghabiskan waktu 28 jam per

minggu di depan layar televisi. Jika dihitung dari 6 hari waktu di sekolah yaitu

42 jam per minggu, waktu untuk menonton televisi hampir dua kali dari

jumlah waktu di sekolah. Maka tidak heran, apabila acara televisi sangat

melekat dibenak pemirsa yang berpengaruh perilaku

(http://www.agbnielsen.net/whereweare/dynPage.asp?lang=local&id=321&co

untry=Indonesia, 13 Desember 2009).

Tingginya kebutuhan akan hiburan, menginspirasi pengusaha untuk

menjadikan media audio visual ini sebagai lahan bisnis. Saat ini, di Indonesia

telah berdiri 11 stasiun televisi baik pemerintah atau swasta, yaitu TVRI,

RCTI, SCTV, Indosiar, TPI, ANTV, Trans TV, Trans 7, Global TV, Metro

(21)

commit to user

TV dan TV One. Dari ke-11 stasiun televisi tersebut, hanya TVRI saja yang

merupakan stasiun televisi milik pemerintah. Sedangkan yang lainnya

merupakan stasiun televisi milik swasta.

Program-program dipasang pada jam-jam yang sesuai dengan segmen

pemirsa. Seperti yang diungkapkan oleh Hargrave dalam Patricia Holland

(1997: 20), Television Handbook:

Like architecture of a house, the viewer can watch This Morning in the kitchen, Corronation Street with the family in the living room; later the kids go off to bed and Mum and Dad settle down to strong narrative drama at nine; News at Ten is there for the late working professional and the set’s still on in the bedroom after 10.30 for the teenage kids. Program acara yang ringan ditempatkan pada jam-jam pagi, acara

drama utamanya disajikan untuk orang tua sehingga mengambil jam malam.

Acara berita ditempatkan pada jam 10 malam dengan segmen para pekerja

profesional yang mempunyai waktu kerja hingga malam.

Realitas simbolik pada media merupakan proses pengumpamaan suatu

obyek dan subyek dalam masyarakat sehingga muncul persepsi umum yang

mengibaratkan pelaku dan fenomena tersebut ke dalam fenomena yang telah

dan pernah terjadi sebelumnya. Realitas simbolik ini terjadi karena adanya

eksploitasi oleh media massa.(Kuntowijoyo:1987)

Ernest Cassirer dalam Kuntowijoyo (1987) menyebutkan tuturan

simbolik televisi merupakan konversasi dari dunia material, dunia sosial, dan

dunia simbolik yang menjadi lingkungan manusia. Televisi mengubah dan

mentransformasikan “dunia manusia” ini menjadi realitas media (televisi).

(22)

commit to user

dengan trik-trik kamera, editing, yang membuat suatu “materi” tampil

menarik, membentuk cerita baru tentang realitas: realitas simbolik di media.

Salah satu program utama yang ditayangkan di televisi adalah sinetron.

Pada penelitian ini mengambil Sinetron Inayah yang ditayangkan di Indosiar,

pada jam primetime yaitu pukul 19.30-21.00 WIB. Realitas simbolik di media

yang digambarkan adalah, cerita tentang seorang gadis bernama Inayah, yang

berasal dari keluarga miskin, mempunyai banyak anggota keluarga dan dililit

banyak hutang. Dan diceritakan juga seorang saudagar kaya yang bernama

Romo Doso, yang tertarik memperisteri Inayah dengan iming-iming semua

hutang keluarga Inayah dilunasi oleh Romo Doso, padahal Romo Doso sendiri

sudah mempunyai tiga isteri. Akhirnya keluarga Inayah memaksa Inayah

menerima lamaran Romo Doso,hingga terpaksa Inayah tinggal dengan ketiga

isteri Romo Doso dirumahnya. Kehadiran Inayah sebagai anggota keluarga

baru di rumah Romo Doso menimbulkan kecemburuan bagi ketiga isteri

Romo Doso yang lain. Mereka berupaya dengan segala cara untuk

menyingkirkan Inayah, baik secara langsung ataupun dengan menghasut

suami mereka agar membenci Inayah. Karena keinginan untuk menyingkirkan

Inayah inilah yang kemudian memancing kekerasan yang tidak hanya

dilakukan oleh perempuan tetapi juga laki-laki dalam sinetron Inayah.

Studi Alan Landsburg salah seorang produser acara televisi paling

sukses di Amerika menyatakan hanya ada tiga tema dalam setiap program

drama yang disukai audiens yaitu: seks, uang dan kekuasaan. Tiga tema

(23)

commit to user

program drama. (Erica Panjaitan : 2006 ). Tema-tema sinetron yang sukses

ditayangkan di televisi Indonesia juga memiliki ketiga tema tersebut. Lebih

lanjut, Alan Landsburg mengatakan bahwa suatu program drama atau komedi

yang memiliki salah satu atau gabungan tiga tema tersebut akan mendapatkan

pondasi yang kuat untuk mendapatkan audiens. Pada sinetron bersambung

lebih banyak muncul kekerasan psikologis sebanyak 48%, sinetron lepas atau

serial sebanyak 43,38 % dan sinetron gabungan sebanyak 41,05% (Cakram,

2008:14).

Tabel 1

Frekuensi Bentuk Kekerasan Sinetron 2007-2008

Serial Lepas Gabungan

% % %

Kekerasan Fisik 23.53 19.79 25.14 Kekerasan Psikologis 43.85 48.66 41.05 Kekerasan Financial 2.71 1.97 2.87 Kekerasan Relasional 12.00 6.66 10.97 Kekerasan Seksual 2.95 1.70 2.80 Kekerasan Spiritual 0.99 0.08 0.79 Kekerasan Fungsional 7.43 10.29 9.13

Bentuk Kekerasan

Sumber: Cakram, Edisi 289-03/2008

Data tersebut merupakan contoh yang terjadi pada sinetron saat ini

yang dapat digunakan sebagai perbandingan untuk masalah kekerasan yang

terjadi pada sinetron bersambung. Kekerasan telah menjadi porsi utama dalam

plot dan adegan sinetron, bukan lagi semata bumbu untuk memunculkan

(24)

commit to user

Bagi semua stasiun televisi, antara pukul 19.30 sampai pukul 21.00

WIB dianggap sebagai waktu utama (prime time), yakni waktu yang dianggap paling baik untuk menayangkan acara pilihan, karena pada waktu itulah

seluruh anggota keluarga berkumpul dan punya waktu untuk menonton

televisi. Karenanya tidak heran pada acara tersebut selalu dipenuhi oleh iklan.

Tidak semua program primetime layak untuk dinikmati. Penelitian Gerbner

pada 1972 memperlihatkan, program prime time TV mengandung sedikitnya 8 adegan kekerasan. Penelitian Gerbner yang lebih mutakhir (1986)

memperlihatkan, adegan kekerasan muncul setiap 4 menit sekali.

Kemungkinan, frekuensi dan selang pemunculannya kini lebih sering (Effendy

: 17)

Sinetron Inayah sendiri menjadi penting diteliti karena banyak

menampilkan adegan-adegan kekerasan didalamnya. Sinetron Inayah yang

telah ditayangkan oleh Indosiar banyak menampilkan kehidupan kekerasan

dalam poligami secara bersambung terdapat 229 episode, padahal Indosiar

juga merupakan media elektronik yang mempunyai tugas untuk membentuk

masyarakat. Sinetron itu bahkan ditayangkan dalam waktu utama, waktu yang

dianggap paling baik untuk menayangkan acara pilihan.

Di negeri ini posisi perempuan dan anak dalam keluarga secara

kultural cukup rentan terhadap kekerasan. Kerentanan ini semakin terlihat saat

suami memutuskan untuk berpoligami. Banyak perempuan dan anak yang

lantas menjadi korban dalam kehidupan rumah tangga, baik dalam hal

(25)

commit to user

bahwa pada tahun 2008 terdapat 102 kasus kekerasan yang diakibatkan oleh

poligami. Kekerasan suami terhadap isteri-isteri yang dipoligami (http://

www.jurnalperempuan.com/index.php/angka_kekerasan_akibat_poligami_tin

ggi/ : 14 Desember 2009). Meskipun terbukti mengakibatkan banyak

penderitaan bagi perempuan dan anak, masyarakat masih menganggap

poligami sebagai sebuah kelaziman. Sri Natin, peneliti di PSW UGM, melihat

bahwa para orang tua yang mempunyai anak pempuan yang dinikahi secara

poligami umumnya tidak keberatan, bahkan terkadang justru berharap

mendapatkan “tuah” dari pelaku poligami yang berasal dari kelas sosial dan

ekonomi yang lebih tinggi. “Di masyarakat adat sepertinya ada pandangan

sah-sah saja orang yang melakukan poligami karena ada ukuran kepantasan

atau kelayakan jika seseorang itu melakukannya, yaitu jika mereka merupakan

orang terpandang dan mempunyai banyak kelebihan.”

Penelitian yang dilakukan oleh Ibrahim dan Hasan (2009: 402)

menyimpulkan bahwa perkawinan di Malaysia adalah:

This study demonstrates Malay Muslim women’s understanding of single hood is very much related to Islamic religious teachings and Malay cultural norms. Both promote marriage and family as the fundamental unit that makes up a society. Thus, the life of a woman as a member of that society is predetermined by their roles within marriage and family institution. This leaves single women at a marginal position as they do not fulfil the role of wives and mothers. However, single women manage to still define themselves within familial role by being responsible daughters. At the same time they develop their self-concept as respectable individuals by being successful career women.

(26)

commit to user

Artinya kurang lebih yaitu di Malaysia, ada diskriminasi bagi wanita

dalam perkawinan Antara laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga

mempunyai perbedaan tangggung jawab dan hak. Kewajiban wanita dalam

perkawinan sudah ditentukan oleh masyarakat berdasarkan norma-norma

budaya dan agama. yaitu mengatur rumah tangga.

Diskriminasi dalam perkawinan tetap terjadi meskipun sudah ada

undang-undang, laki-laki lebih menguasai perempuan dan karena diskriminasi

tersebut membuat laki-laki bertindak semena-mena terhadap isteri, termasuk

melakukan pernikahan lebih dari satu perempuan.

Sinetron ini banyak menampilkan adegan kekerasan yang bisa

dipersepsi secara salah, sehingga bisa berakibat kurang baik terhadap

masyarakat. Persepsi yang salah bisa mendorong masyarakat untuk meniru

realitas simbolik pada media, seperti kekerasan atau poligami dianggap

tindakan yang wajar. Padahal dalam realitas sosialnya tidak seperti itu.

Siaran berisi kekerasan yang ditayangkan di televisi menimbulkan

persepsi bagi penonton. Robbins (2002: 460) berpendapat bahwa persepsi

merupakan proses yang terjadi di dalam diri individu yang dimulai dengan

diterimanya rangsang, sampai rangsang itu disadari dan dimengerti oleh

individu sehingga individu dapat mengenali dirinya sendiri dan keadaan di

sekitarnya.

Pengertian tersebut searah dengan pendapat Sjoberg dan Engelberg

(2009: 333), dengan kutipannya sebagai berikut:

(27)

commit to user

be psychological. Some authors have criticized psychological work on risk perception for being too much concerned with individuals. It is claimed that the really important risk perception to study is the one held by managers or administrators and politicians, make the important decisions about risks, see eg. While it is learly true that it is important to study such influential groups we believe that a study of public opinion is also essential. Risk research has one of its early origins in a wish to understand public risk perception. In turn, this goal was seen as important because people did not perceive some socially important technologies as safe, in spite of experts’ assurances that they were. It has even been claimed that the present society is extremely safe, and that public concern about risk.

Pengertian tersebut dapat diartikan bahwa persepsi didefinisikan

sebagai suatu proses yang ditempuh individu-individu untuk

mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera individu agar memberi

makna kepada lingkungan. Akan tetapi perlu dicatat bahwa apa yang

dipersepsikan seseorang dapat juga berbeda dari kenyataan yang objektif.

Persepsi individu terhadap kenyataan mengandung risiko apabila persepsi

tersebut bersifat positif dan ditindaklanjuti dengan perilaku yang mengandung

risiko.

Sebagai tontonan pada waktu primetime, maka pengaruh realitas

simbolik di media pada Sinetron Inayah itu pasti ada. Menurut Walgito (2000)

efek yang ditimbulkan dari persepsi ada 3 macam:

1. Menambah ilmu pengetahuan. Dengan adanya tayangan Sinetron Inayah di

Indosiar, mampu menambah pengetahuan masyarakat tentang kehidupan

rumah tangga, khususnya poligami.

2. Meniru. Audience cenderung meniru realitas simbolik di media, dalam hal

(28)

commit to user

cerita tentang poligami yang dibesar-besarkan, memancing audience untuk

ingin meniru apa yang ada dalam tayangan tersebut.

3. Mengubah sikap dan perilaku. Setelah ingin meniru apa yang ada dalam

tayangan itu, tidak menutup audience untuk merubah sikap dan perilaku

mereka, sehingga menganggap kekerasan itu wajar dalam kehidupan

berumah tangga, dan poligami menjadi hal yang mudah dilakukan.

Maka audience mempersepsikan secara positif dan negatif. Persepsi

penonton yang positif yaitu audience meminta agar tayangan Sinetron Inayah

diteruskan penayangannya karena jalan ceritanya yang mudah dipahami dan

banyak menampilkan artis idola masyarakat, sedangkan bagi yang merespon

negatif akan protes dan meminta agar tayangan sinetron itu dihentikan karena

terlalu banyak menampilkan adegan kekerasan yang tidak layak ditayangkan.

Diharapkan dengan adanya penelitian ini, pemirsa lebih selektif dalam

menonton program acara televisi terutama sinetron. Dan memiliki pedoman

yang kuat dan ilmu pengetahuan yang memadai agar mereka dapat

membedakan mana yang layak untuk ditonton dan mana yang harus diabaikan.

Demikian juga untuk para pengelola stasiun televisi, agar lebih teliti dan

cermat dalam menentukan acara yang layak untuk ditonton. Sehingga acara

yang disiarkan bukan saja menghibur tapi juga menambah wawasan.

Penelitian ini akan difokuskan pada tahap persepsi khalayak,

mengambil dari tiga sisi responden yaitu dari sisi Masyarakat umum, Lembaga

(29)

commit to user

mengolah stimuli dari Sinetron Inayah melalui proses komunikasi

intrapersonal.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan pada latar belakang

masalah di atas, maka penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui

bagaimana persepsi masyarakat khususnya Lembaga Sosial Masyarakat dan

Ormas Agama Islam tentang kekerasan dalam Poligami dalam Sinetron

Inayah.

Alasan dipilihnya Lembaga Sosial Masyarakat (LSM) karena LSM

merupakan salah satu lembaga masyarakat beranggotakan orang-orang yang

mempunyai kepedulian sosial, termasuk tentang masalah Kekerasan Dalam

Rumah Tangga (KDRT) dan Poligami sehingga data yang diperoleh

diharapkan dapat mendukung permasalahan penelitian tentang persepsi

kekerasan, Sedangkan alasan dipilih Ormas Agama Islam karena sinetron

Inayah mengandung nilai moral agama Islam dan poligami dalam ajaran

agama Islam diperbolehkan. Adanya data dari Ormas Islam diharapkan dapat

mendukung perolehan data tentang poligami yang benar sesuai ajaran ajaran

agama Islam.

C. Tujuan Penelitian

Sebagaimana diungkapkan dalam latar belakang dan rumusan

(30)

commit to user

1. Peneliti ingin melihat persepsi masyarakat secara umum terhadap Sinetron

Inayah dan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut.

2. Peneliti ingin melihat persepsi terhadap kekerasan dalam poligami pada

Sinetron Inayah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dari sudut

pandang kelompok:

a. Masyarakat umum

b. Lembaga Sosial Masyarakat

c. Ormas Agama Islam

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, bagi:

1. Penonton Sinetron Secara umum

Dengan adanya penelitian ini diharapkan akan dapat diketahui dan

didapatkan pembelajaran mengenai teknik pada sinetron Inayah yang

berpengaruh bagi masyarakat khususnya ibu rumah tangga sebagai suatu

strategi media dalam menarik perhatian khalayak.

2. Perempuan

Bagi perempuan, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai

bahan informasi dan tambahan wawasan pengetahuan kehidupan poligami

yang ditayangkan di sinetron televisi sehingga perempuan dapat

mengambil hikmah dari sinetron dan dapat bersikap hati-hati dalam rumah

tangga agar kekerasan tidak terjadi dalam rumah tangga dan memberikan

(31)

commit to user 3. Industri Perfilman

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan bagi industri

perfilman di Indonesia tentang menyajikan tayangan sinetron semaksimal

mungkin dibuat sesuai dengan kenyataan sehingga industri perfilman tidak

menyajikan adegan-adegan yang berlebihan dan membuat tayangan

sinetron yang lebih bermanfaat bagi penonton.

4. LSM

Penelitian ini juga diharapkan dapat berfungsi sebagai pendidikan

untuk mengetahui sudut pandang dan cara penanganan dari Lembaga

Sosial Masyarakat tentang kekerasan dalam berpoligami pada wanita.

5. Ormas Islam

Dari sisi Lembaga keagamaan, penelitian ini diharapkan akan

menjadi masukan mengenai etika berumah tangga secara islam.

E. Kajian Teori

1. Komunikasi

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication

berasal dari kata Latin communicatio dan berasal dari kata communis yang berarti sama yang maksudnya adalah sama makna (Effendy, 2005: 9).

Carl I. Hovland mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses

yang memungkinkan seseorang (komunikator) menyampaikan rangsangan

(biasanya lambang-lambang verbal) untuk mengubah perilaku orang lain

(32)

commit to user

informasi antara pengirim dan penerima pesan sehingga diharapkan

penerima pesan ini mengerti isi pesan yang disampaikan kepadanya dan

memberikan respon, maka proses komunikasi dapat dikatakan berlangsung

(Siti Amanah, 2005: 45).

Harold D. Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society, menambahkan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah menjawab pertanyaan sebagai berikut:

who says what in which channel to whom with what effect? Pandangan

Lasswell tersebut menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur

sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan itu, yakni: komunikator

(communicator, source, sender), pesan (message), media (channel), komunikan (communicant, comunicatee, receiver, recipient), efek (effect, impact, influence) (Effendy, 2005: 10).

Purwanto (2003: 2) menyatakan bahwa komunikasi mempunyai

hubungan yang erat dengan emosi, sebab dalam emosi sebagai

penggerak energi, emosi memuat informasi, dan emosi membangun

interpersonal. Maksudnya, seseorang yang dapat mengontrol emosi saat

melakukan komunikasi dapat menyampaikan inti informasi dengan tepat

sesuai tujuan. Hal ini dapat terjadi sebab emosi sendiri merupakan salah

satu faktor yang mempengaruhi seseorang dapat memberi tanggapan atas

persepsi dalam dirinya saat terjadi proses komunikasi.

Proses komunikasi dimulai dari berjalannya komunikator dalam

(33)

commit to user

ditangkap oleh penerima dan bila memungkinkan terjadi umpan balik

(Wiryanto, 2000). Proses komunikasi dimulai dari berjalannya

komunikator dalam menyampaikan pesan (message) melalui jalur tertentu

kemudian pesan tersebut ditangkap oleh penerima (receiver

=

audience)

dan bila memungkinkan terjadi umpan balik (feed back) (Panuju, 2001: 26). Lebih jelasnya proses komunikasi tersebut dapat digambarkan sebagai

berikut:

Gambar: 1

Bagan Proses Komunikasi

Sumber: Panuju (2001)

Komunikator adalah individu (seseorang) atau sekelompok orang

yang mempunyai inisiatif atau prakarsa untuk mengadakan komunikasi

dengan individu (seseorang) atau sekelompok orang. Pesan atau informasi

adalah hal yang ingin disampaikan oleh komunikator. Media adalah sarana

atau alat untuk menyampaikan pesan. Sedangkan penerima yang disebut

juga dengan komunikan adalah objek dari kegiatan komunikasi bahwa

hasil dari kegiatan yang berupa ide, anjuran, pesan yang ingin disampaikan

komunikator juga diterima oleh komunikan.

Komunikator Pesan Media Penerima

(34)

commit to user

Informasi atau pesan yang disampaikan harus sesuai dengan

tingkat kemampuan, pemahaman, kepentingan, dan kebutuhan penerima

informasi agar komunikasi dapat berlangsung efektif. Ketidakmengertian

merupakan sumber disintegrasi dan konflik, karena ketidakmengertian

merupakan rangsangan (stimulus) yang membangkitkan prasangka

(prejudice) yang akhirnya akan mengakibatkan berbagai aksi (Panuju, 2001: 27).

Media merupakan alat yang digunakan untuk melangsungkan

proses komunikasi. Media adalah suatu alat penyampaian berita yang

aktif, media dapat mempengaruhi efektivitas beritanya (Panuju, 2001).

Jadi, media adalah suatu alat yang ada dalam proses komunikasi dan

dipergunakan oleh komunikator untuk dapat berhubungan dengan

komunikan. Berkembangnya suatu teknologi mempengaruhi

perkembangan bidang-bidang lain, demikian juga dalam media. Ada

berbagai macam media yang digunakan dalam proses komunikasi, yaitu:

a. Media auditif yang disalurkan melalui pendengaran yang berbentuk

komunikasi lisan.

b. Media visual yakni informasi yang disalurkan melalui penglihatan

yang salah satunya berbentuk komunikasi tertulis.

c. Media audio visual yakni penyampaian informasi melalui saluran

pendengaran dan penglihatan sehingga berbentuk komunikasi tertulis

(35)

commit to user

John R. Wenburg dan William W. Wilmot juga Kenneth K. Sereno

dan Edward M. Bodagen dalam Mulyana (2004: 61) mengemukakan

setidaknya ada tiga kerangka pemahaman mengenai komunikasi, yakni

komunikasi sebagai tindakan satu arah, komunikasi sebagai interaksi, dan

komunikasi sebagai transaksi.

Littlejohn dalam Mulyana (2004: 57) menyebutkan setidaknya

terdapat tiga pandangan yang dapat dipertahankan mengenai komunikasi.

Pertama, komunikasi harus terbatas pada pesan yang secara sengaja

diarahkan kepada orang lain dan diterima oleh mereka. Kedua, komunikasi

harus mencakup semua perilaku yang bermakna bagi penerima, apakah

sengaja ataupun tidak. Ketiga, komunikasi harus mencakup pesan-pesan

yang dikirim secara sengaja, namun sengaja ini sulit ditentukan.

2. Komunikasi Massa

Komunikasi adalah ilmu, dan ilmu komunikasi ini termasuk ke

dalam ilmu sosial yang meliputi intrapersonal communication, interpersonal communication, group communication, mass communication, intercultural communication, dan sebagainya (Effendy, 2005: 6). Oleh karena itu, mass communication merupakan satu bidang saja dari sekian banyak bidang yang dipelajari ilmu komunikasi.

(36)

commit to user

large and anonymous. Sebagaimana definisi tersebut, para ahli komunikasi membatasi pengertian komunikasi massa pada komunikasi dengan

menggunakan media massa, misalnya surat kabar, majalah, radio, televisi,

atau film (Effendy, 2005: 20).

Adapun komunikasi massa juga didefinisikan Bittner dengan

“Mass Communication is message communicated through a mass medium to a large number of people” (komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang).

Komunikasi massa juga diartikan sebagai jenis komunikasi yang diajukan

kepada khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui medai

cetak atau elektronik, sehingga pesan yang sama dapat diterima secara

serentak dan sesaat.” (Rakhmat, 2002: 188-189).

Menurut Wright (dalam Severin dan Tankard, 2005: 4),

komunikasi massa dapat didefinisikan dalam tiga ciri:

1. Komunikasi massa diarahkan kepada audiens yang relatif besar,

heterogen dan anonim.

2. Pesan-pesan yang disebarkan secara umum, sering dijadwalkan untuk

bisa mencapai sebanyak mungkin anggota audiens secara serempak

dan sifatnya sementara.

3. Komunikator cenderung berada atau beroperasi dalam sebuah

organisasi yang kompleks yang mungkin membutuhkan biaya yang

(37)

commit to user

Berbagai definisi mengenai komunikasi massa tersebut

memunculkan suatu karakteristik dari komunikasi massa yang menurut

Ardianto dan Erdinaya (2007: 7) terdiri dari:

a. Komunikator terlembagakan

Ciri komunikasi massa yang pertama adalah komunikatornya

yang melibatkan lembaga dan bergerak dalam organisasi yang kompleks.

b. Pesan bersifat umum

Komunikasi massa bersifat terbuka, artinya komunikasi massa itu

ditujukan untuk semua orang dan tidak ditujukan untuk sekelompok

orang tertentu. Pesan komunikasi massa yang dikemas dalam bentuk

apapun harus memenuhi kriteria penting atau menarik bagi sebagian

besar komunikannya.

c. Komunikannya anonim dan heterogen

Dalam komunikasi massa, komunikator tidak mengenal

komunikasn (anonim), karena komunikasi berlangsung dengan media

dan tidak tatap muka. Selain itu, komunikan komunikasi massa adalah

heterogen karena terdiri dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda.

3. Media Massa

Media adalah suatu alat penyampaian berita yang aktif, media dapat

mempengaruhi efektivitas beritanya (Kertopati, 1988: 385), sedangkan

massa (mas) pengertian mas media adalah alat atau sarana untuk

menghubungkan dengan masyarakat (Wiryanto, 2000, 86). Jadi, media

(38)

commit to user

dipergunakan untuk menghubungkan masyarakat dengan suatu hal (dapat

barang atau jasa, dan lain-lan).

Setiap media yang ada memiliki kesan dan kepribadian sendiri-sendiri.

Ada yang lebih menonjol sebagai “prestise” seperti majalah Tempo dan

Eksklusif. Ada pula yang lebih menonjol dalam “keahlian” seperti majalah

Management dan Bisnis (Panuju, 2001: 153).

Sebagai salah satu media televisi dalam menyampaikan informasi

kepada masyarakat mempunyai ciri-ciri, yaitu:

1) Komunikator: orang yang menyampaikan informasi.

2) Pesan: pesan yang akan disampaikan kepada pemirsa.

3) Kornunikan: sasaran masyarakat sebagai penerima pesan.

4) Efek: merupakan perubahan yang terjadi pada audience atai pemirsa

setelah menerima informasi (Panuju, 2001: 158).

Secara ringkas Gerbner memberikan proposisi-proposisi tentang

teori kultivasi sebagai berikut (Kriyantono, 2007: 283-284):

1. Televisi merupakan suatu media yang unik yang memerlukan

pendekatan khusus untuk diteliti.

2. Pesan-pesan televisi membentuk sebuah sistem yang koheren,

mainstream dari budaya.

3. Sistem-sistem isi pesan tersebut memberikan tanda-tanda untuk

kultivasi.

4. Analisis kultivasi memfokuskan pada sumbangan televisi terhadap

(39)

commit to user besar dan heterogen.

5. Teknologi baru (seperti VCR) memperluas daripada mengelakkan

jangkauan pesan televisi.

6. Analisis kultivasi memfokuskan pada penstabilan yang meluas dan

penyamaan akibat-akibat.

Dijelaskan oleh Suyanto (2005: 4) bahwa guna mencapai proposisi-

kultivasi diperlukan strategi merancang tayangan televisi, yaitu mencakup:

1. Strategi menetapkan audien sasaran.

2. Strategi menetapkan sasaran dan anggaran program televisi.

3. Strategi mencari keunggulan program yang ditayangkan.

4. Merancang tema program televisi.

5. Strategi merancang daya tarik program televisi.

Menurut teori ini, televisi mampu menciptakan ”sindrom dunia

makna”, artinya bagaimana seseorang memaknai dunia dipengaruhi oleh

pemaknaan televisi. Sindrom tersebut dapat dilihat dari hasil riset kultivasi

yang dilakukan Gerbner. (Severin dan Tankard, 2005: 321).

Pesan melalui media massa mungkin akan menghasilkan efek-efek.

Rakhmat (2001: 219) menyebutkan efek-efek yang mungkin ditimbulkan

oleh pesan media massa yaitu efek kognitif, afektif dan behavioral. Efek

kognitif berupa perubahan pada apa yang diketahui, dipahami atau

dipersepsi khalayak. Efek afektif adalah efek yang timbul bila ada

perubahan pada apa yang dirasakan, disenangi atau dibenci khalayak.

(40)

commit to user

meliputi pola-pola tindakan, kegiatan atau kebiasaan berperilaku. Khusus

mengenai tayangan televisi, McQuail (1996: 264) mengemukakan bahwa

efeknya tergantung pada tingkat kekerapan dan keunggulan nisbi dari

penyajian pesan, serta perhatian yang kadang kala merupakan prasyarat

dasar atau suatu kebutuhan efek.

4. Persepsi

Persepsi adalah inti dari komunikasi, sedangkan penafsiran

(interpretasi) adalah inti dari persepsi, yang identik dengan penyandian-balik

(decoding) dalam proses komunikasi. Persepsi terdiri dari tiga aktivitas yaitu: seleksi, organisasi dan interpretasi (Mulyana, 2007: 180-181).

Selanjutnya Deddy Mulyana (2007: 179) mendefinisikan persepsi

sebagai proses internal yang memungkinkan kita memilih,

mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan

proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.

Kartono (2003: 47) menyatakan bahwa persepsi merupakan

pengamatan secara global dan belum disertai kesadaran sehingga subjek dan

objeknya belum terbedakan dari satu ke yang lainnya atau masih dalam

proses memiliki tanggapan.

Persepsi dapat juga didefinisikan sebagai suatu proses yang ditempuh

individu-individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan indera

mereka agar memberi makna kepada lingkungan mereka. Akan tetapi perlu

dicatat bahwa apa yang dipersepsikan seseorang dapat juga berbeda dari

(41)

commit to user

Walgito (2000) mengemukakan ada beberapa tahapan proses

terjadinya persepsi, yaitu sebagai berikut:

a. Proses kealaman atau proses fisik, yaitu proses ditangkapnya stimulus

untuk alat indera manusia.

b. Proses fisiologis, yaitu proses yang diteruskan stimulus yang diterima

oleh alat indera ke otak oleh saraf sensoris.

c. Proses psikologis, yaitu proses timbulnya kesadaran individu tentang

stimulus yang diterima oleh reseptornya.

d. Hasil dan proses persepsi, yaitu berupa tanggapan atau perilaku.

Jalaludin Rakhmat (2001: 51) juga menyebutkan beberapa faktor yang

mempengaruhi persepsi, yaitu perhatian, faktor fungsional dan struktural.

Kenneth A. Andersen dalam Rakhmat (2001: 52) menyebut perhatian

sebagai proses mental ketika stimuli atau rangkaian stimuli menjadi

menonjol dalam kesadaran pada saat stimuli yang lainnya melemah.

Perhatian ditentukan oleh dua faktor: faktor eksternal dan internal. Faktor

eksternal meliputi gerak, intensitas stimuli, kebaruan dan perulangan.

Sedangkan faktor internal meliputi faktor biologis dan sosiopsikologis.

Faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi misalnya: kebutuhan,

pengalaman masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk faktor personal.

Faktor struktural berasal dari sifat-sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang

ditimbulkannya pada sistem saraf individu.

Stephen P. Robbins (2002: 160-163) menyebut faktor lain yang

(42)

commit to user

1. Pelaku persepsi: bila seorang individu memandang objek dan mencoba

menafsirkan apa yang dilihatnya, penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh

karakteristik pribadi dari pelaku persepsi individu itu.

2. Target: karakteristik-karateristik dari target yang akan diamati dapat

mempengaruhi apa yang dipersepsikan.

3. Situasi: penting untuk melihat konteks objek atau peristiwa, unsur-unsur

lingkungan sekitar mempengaruhi persepsi individu.

Davidoff yang dikutip dalam Walgito (1994 :54) menyebut bahwa

meskipun stimulus yang diberikan sama, namun ada kemungkinan hasil

persepsi antara individu yang satu berbeda dengan individu lainnya. Hal ini

dikarenakan pengalaman, kemampuan berpikir dan kerangka acuan yang

berbeda. Dengan demikian persepsi bersifat individual.

5. Kekerasan

Istilah kekerasan atau kekerasan pada saat ini telah menjadi bahan

pembicaraan yang hangat di kalangan masyarakat. Ada banyak definisi

mengenai kekerasan, terutama yang terjadi dalam konteks lain (tempat kerja, masyarakat, komunitas virtual). Riauskina, dkk (2005) mendefinisikan

kekerasan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh

seorang/sekelompok yang memiliki kekuasaan, terhadap orang lain yang

lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

(43)

commit to user

a. Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak,

menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit,

mencakar, juga termasuk memeras dan merusak barang-barang yang

dimiliki orang lain).

b. Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan,

mengganggu, memberi panggilan nama (name-calling), sarkasme, merendahkan (put-downs), mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, menyebarkan gosip).

c. Perilaku non-verbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah,

menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau

mengancam; biasanya diertai oleh kekerasan fisik atau verbal).

d. Perilaku non-verbal tidak langsung (mendiamkan seseorang,

memanipulasi persahabatan sehingga menjadi retak, sengaja

mengucilkan atau mengabaikan, mengirimkan surat kaleng).

e. Pelecehan seksual,kadang dikategorikan perilaku agresi fisik atau verbal.

Ada beberapa bentuk kekerasan yang dilakukan dalam Sinetron

Inayah:

a. Kekerasan fisik : kekerasan fisik merupakan suatu bentuk kekerasan

yang dapat mengakibatkan luka atau cedera seperti memukul,

menganiaya, menyekap, menjambak, dll.

b. Kekerasan psikis : kekerasan secara emosional dilakukan dengan cara

(44)

commit to user

menyakiti perasaan, melukai harga diri, menurunkan rasa percaya diri,

membuat orang merasa hina, jelek, tidak berguna dan tidak berdaya.

c. Kekerasan ekonomi: kekerasan dengan cara penelantaran ekonomi,

seperti tidak adil dalam memberikan materi, hanya memberikan materi

kepada isteri yang dapat menarik perhatian Romo Doso.

d. Kekerasan seksual: kekerasan dengan cara memaksa berhubungan intim

padahal Inayah tidak siap melakukan, dan mengancam akan disetrum

jika Inayah tidak mau berhubungan intim dengan Romo Doso.

Menurut Riauskina, dkk (2005) salah satu dampak dari kekerasan

yang paling jelas terlihat adalah kesehatan fisik. Beberapa dampak fisik

yang biasanya ditimbulkan kekerasan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, flu, batuk, bibir pecah-pecah, dan sakit dada. Bahkan dampak fisik ini bisa

mengakibatkan kematian. Dampak lain yang kurang terlihat, namun berefek

jangka panjang adalah menurunnya kesejahteraan psikologis (psychological well-being) dan penyesuaian sosial yang buruk. Dari penelitian yang dilakukan Riauskina dkk., ketika mengalami kekerasan, korban merasakan banyak emosi negatif (marah, dendam, kesal, tertekan, takut, malu, sedih,

tidak nyaman, terancam) namun tidak berdaya menghadapinya. Dalam

jangka panjang emosi-emosi ini dapat berujung pada munculnya perasaan

rendah diri bahwa dirinya tidak berharga.

Syarif (2009) berpendapat bahwa dampak-dampak kekerasan

(45)

commit to user

a. Kekerasan fisik, yaitu perbuatan yang menghabiskan (mengakibatkan)

rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat;

b. Ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk

bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada

seseorang;

c. Dampak fisik : kekerasan secara fisik mengakibatkan organ-organ tubuh

mengalami kerusakan seperti memar, luka-luka, dll.

d. Dampak psikologis : trauma psikologis, rasa takut, rasa tidak aman,

dendam.

menurunnya daya konsentrasi, kreativitas, hilangnya inisiatif, serta daya

tahan (mental), menurunnya rasa percaya diri, inferior, stress, depresi

dsb. Dalam jangka panjang, dampak ini bisa terlihat dari penurunan

prestasi, perubahan perilaku yang menetap.

e. Dampak sosial : korban yang mengalami tindakan kekerasan tanpa ada

penanggulangan, bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan,

Mereka juga jadi pendiam dan sulit berkomunikasi. Bisa jadi mereka jadi

sulit mempercayai orang lain, dan semakin menutup diri.

6. Poligami

Collins (dalam Munandar, 2001) menyatakan Poligami yang berasal

dari kata poly-gamos berarti banyak perkawinan. Mengenai kata poligami menurut Black (dalam Munandar, 2001) Perkawinan dengan banyak suami

(46)

commit to user

Menurut Atthar (1976) Poligami adalah salah satu usaha untuk

membimbing wanita, untuk meningkat dari suasana kehidupan yang diliputi

oleh kegelisahan, kehinaan dan terlantar menuju kehidupan berkeluarga

yang mulia dan keibuan yang mulai dimana wanita merasakan kebahagiaan,

kesucian dan kemuliaan di bawah naungannya. Poligami juga merupakan

salah satu penerapan dari kebebasan wanita dan terlaksananya apa yang

dikehendakinya karena sebenarnya laki-laki itu tidak berpoligami tanpa

kemauan wanita.

Hassouneh-Phillip (2008) berpendapat bahwa poligami dan

batasan-batasannya sebagai berikut: Poligami ialah perkawinan antara seorang

laki-laki dengan lebih dari seorang wanita dalam kurun waktu yang sama.

Mengawini wanita lebih dari seorang ini menurut hukum Islam

diperbolehkan dengan dibatasi paling banyak empat orang. Pembolehan

kawin lebih dari satu orang ini diberikan dengan pembatasan-pembatasan

yang berat, berupa syarat-syarat dan tujuan yang mendesak.

Pembatasan-pembatasan itu ialah:

a. Jumlah wanita yang boleh dikawini tidak boleh lebih dari empat orang,

seperti tersebut dalam Al quran Surat An Nisa’ ayat 3 : “…..maka

kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga atau

empat….”

b. Akan sanggup berlaku adil terhadap semua istri-istrinya. Kalau

sekiranya sudah merasa tidak dapat berlaku adil terhadap semua istrinya,

(47)

commit to user

c. Wanita yang akan dikawini seyogyanya adalah wanita yang mempunyai

anak yatim, dengan maksud supaya anak yatim itu berada di bawah

pengawasan laki-laki yang akan berpoligami tersebut dan supaya ia

dapat berlaku adil terhadap anak yatim dan harta anak yatim tersebut.

d. Wanita-wanita yang hendak dikawini ini tidak boleh ada hubungan

saudara, baik sedarah maupun sesusuan.

Menurut Atthar (1976) pengaruh yang terpenting dari poligami,

antara lain:

a. Kelemahan istri

Kadang-kadang wanita tidak sanggup memenuhi kebutuhan

hidup suami istri, karena dia mandul, jadi tidak berketurunan, padahal

keturunan itulah tujuan yang utama dari perkawinan. Selain itu karena

wanita mempunyai cacat jasmaniyah dan dalam keadaan ini bencananya

lebih berat. Kadang-kadang kelemahannya timbul sebagai akibat dari

suatu penyakit kronis yang menimpa wanita itu, sehingga menyebabkan

ia tidak dapat memikul bebannya sebagai istri.

b. Suami jatuh cinta kepada wanita lain

Pergaulan pada zaman modern ini memberi kesempatan yang

banyak untuk timbulnya perasaan cinta antara pria dan wanita, walaupun

pria itu sudah berkeluarga, karena pergaulan seorang pria dengan wanita

lain justru lebih dekat dan lebih akrab daripada pergaulannya dengan

istri sendiri. Hal itu terjadi karena kadang-kadang pria bersama-sama

(48)

terus-commit to user

menerus padahal kalau bersama istri hanya pada waktu-waktu tertentu

bersama. Dari semua itu seorang pria bisa terpesona karena kecantikan

wanita itu atau karena kebaikan hati wanita tersebut.

c. Suami benci kepada istrinya

Kehidupan suami istri tidak pernah sepi dari masalah perasaan,

kadang rumah tangganya diselubungi oleh cinta kasih tetapi

kadang-kadang juga diliputi oleh suasana mengandung kebencian. Kebencian

laki-laki kepada istrinya mungkin timbul karena tindak tanduk yang

tidak baik dari istrinya dan justru tindak-tanduknya itulah yang

menyebabkan suaminya menikah lagi, bukan karena semata-mata benci.

d. Istri yang telah diceraikan ingin kembali

Kadang-kadang suami istri berpisah karena thalaq atau karena

dipisahkan oleh hakim. Kemudian suami menikah lagi dengan wanita

lain. Tetapi setelah pernikahannya berlangsung beberapa lama maka

suami ingin mengembalikan istrinya yang dulu, dan istrinya itupun

menyetujuinya. Mungkin semua itu karena faktor anak-anak mereka

yang perlu dipelihara, atau karena sebab-sebab lain yang mengakibatkan

lenyapnya perselisihan mereka itu dengan berlalunya waktu. Maka

dalam hal ini poligami adalah satu-satunya penyelesaian sosial yang

dapat menetapkan istri yang baru tanpa perceraian dapat mengembalikan

istri yang lama serta menjamin kesejahteraan anak-anak untuk kembali

(49)

commit to user

hal ini poligami wajib dilaksanakan, tanpa adanya ikatan-ikatan dan

syarat-syarat.

e. Hubungan kekeluargaan

Kadang-kadang wilayah poligami itu lebih luas lagi, suami ingin

menikah lagi dengan istri yang baru, dengan maksud untuk memperkuat

hubungan kekeluargaan. Suami menikah dengan seorang wanita yang

masih familinya, dalam suasana yang menampakkan kebutuhan

familinya itu untuk menikah dengan laki-laki yang masih famili.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa poligami adalah

perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih dari seorang wanita dalam

kurun waktu yang sama sebagai satu usaha untuk membimbing wanita,

meningkatkan dari suasana kehidupan yang terlantar menuju kehidupan

yang mulia dimana wanita mengalami kebahagiaan di bawah naungan-Nya.

7. Persepsi Kekerasan terhadap Poligami

Kartono (2003: 47) menyatakan bahwa persepsi merupakan

pengamatan secara global dan belum disertai kesadaran sehingga subjek dan

objeknya belum terbedakan dari satu ke yang lainnya atau masih dalam

proses memiliki tanggapan. Riauskina, dkk (2005) mendefinisikan

kekerasan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok yang memiliki kekuasaan, terhadap orang lain yang

lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

Selanjutnya Soemiyati (1986) mengemukakan definisi poligami dan

(50)

commit to user

seorang laki-laki dengan lebih dari seorang wanita dalam kurun waktu yang

sama. Mengawini wanita lebih dari seorang ini menurut hukum Islam

diperbolehkan dengan dibatasi paling banyak empat orang. Pembolehan

kawin lebih dari satu orang ini diberikan dengan pembatasan-pembatasan

yang berat, berupa syarat-syarat dan tujuan yang mendesak.

Setiap wanita dewasa pasti menginginkan suatu saat dapat melalui

pernikahan yang sah dengan seorang pria. Pernikahan yang sah secara

materiil dan imateriil akan melindungi hak-hak wanita sebagai isteri. Secara

materiil sebagai seorang isteri dapat diterima di lingkungan masyarakat,

kedudukan diakui oleh keluarga sebagai seorang wanita yang bersuami, dan

juga terpenuhi kebutuhan hidup.

Antara laki-laki dan perempuan yang tinggal serumah diikat dalam

pertalian pernikahan merupakan kehidupan rumah tangga sesuai dengan

peraturan Negara.

Tujuan dari perkawinan menurut Amini (1997) adalah :

a. Menyatukan dua pribadi yang berbeda untuk mencapai satu tujuan

sebagai keluarga yang bahagia.

b. Melanjutkan keturunan yang merupakan sambungan hidup dan

menyambung cita-cita.

c. Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.

d. Menimbulkan rasa cinta antara suami dan isteri. Maksudnya keduanya

(51)

commit to user

telah melanggar undang-undang tetapi dalam ajaran agama Islam

diperbolehkan

F. Definisi Konseptual

Dari uraian diatas, peneliti mengambil asumsi dasar sebagai berikut:

1. Persepsi

Persepsi merupakan sebagai proses internal yang memungkinkan

individu memilih, mengorganisasikan, dan menafsirkan rangsangan dari

lingkungan individu, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku individu.

2. Kekerasan

Kekerasan sebagai perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang

oleh seorang/sekelompok yang memiliki kekuasaan, terhadap orang lain

yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut.

3. Poligami

Poligami adalah perkawinan antara seorang laki-laki dengan lebih

dari seorang wanita dalam kurun waktu yang sama sebagai satu usaha

untuk membimbing wanita, meningkatkan dari suasana kehidupan yang

terlantar menuju kehidupan yang mulia dimana wanita mengalami

kebahagiaan di bawah naungan-Nya.

4. Persepsi terhadap Kekerasan dalam Poligami

Persepsi terhadap Kekerasan dalam Poligami merupakan

pengamatan secara global dan belum disertai kesadaran sehingga subjek

(52)

commit to user

dalam proses memiliki tanggapan terhadap kekerasan yang dilakukan oleh

seseorang atau kelompok dalam satu keluarga yang isterinya lebih dari

satu.

G. Kerangka Berpikir

Adapun konsepsi kerangka berpikir penulis rangkum dalam skema

berikut ini:

Gambar 2

Bagan Kerangka Berpikir

H. Metodologi Penelitian

1. Jenis penelitian

Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian eksploratif

kualitatif. Penelitian kualitatif memiliki beberapa karakteristik (Moleong,

2000: 3-8). Berdasarkan karakteristik penelitian kualitatif tersebut, maka

penelitian ini dilakukan dengan melihat konteks permasalahan secara utuh,

dengan fokus penelitian pada ’proses’ dan bukan pada ’hasil’. Penelitian

ini juga merupakan bentuk penelitian yang bertitik tolak dari paradigma Isi Media

Sinetron Inayah

Khalayak:

· Masyarakat

· LSM.

· Ormas Islam.

(53)

commit to user

fenomenologis yang objektivitasnya dibangun atas rumusan tentang situasi

tertentu sebagaimana yang dihayati oleh individu atau kelompok sosial

tertentu dan relevan dengan tujuan penelitian itu karena tujuan penelitian

kualitatif ini adalah bukan untuk selalu mencari sebab akibat sesuatu,

tetapi lebih berupaya memahami situasi tertentu.. Menurut Pawito (2007:

35), penelitian komunikasi kualitatif biasanya tidak dimaksudkan untuk

memberikan penjelasan-penjelasan (explanations), mengontrol gejala-gejala komunikasi atau mengemukakan prediksi-prediksi tetapi lebih

dimaksudkan untuk mengemukakan gambaran dan/atau pemahaman

(understanding) mengenai bagaimana dan mengapa suatu gejala atau realitas komunikasi terjadi.

Selain itu, penelitian ini juga bersifat eksploratif sehingga

bertujuan untuk menjajaki suatu permasalahan secara mendalam (Nawawi,

1995: 21). Penelitian ini masih bersifat terbuka sehingga memungkinkan

peneliti untuk mengalami perubahan orientasi di lapangan. Seperti halnya

penelitian eksploratif maka penelitian ini mempunyai tiga tujuan yang

khas, yaitu:

1. Untuk memuaskan keingintahuan peneliti dalam memperoleh

pemahaman dan pengertian yang lebih mendetail mengenai suatu

permasalahan, yang dalam hal ini adalah pengaruh latar belakang dan

(54)

commit to user

2. Untuk menguji kelayakan suatu teori dalam memperoleh hasil

penelitian yang lebih cermat, dalam hal ini mengacu pada teori media

televisi.

3. Menyempurnakan metode-metode penelitian.

2. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksploratif kualitatif. Metode

yang diambil peneliti adalah dengan menggunakan metode “indepth interview”. Yaitu wawancara secara mendalam dengan sumber atau responden.

Sebagai suatu metode ilmiah, metode wawancara mendalam atau

yang disebut juga dengan wawancara tak terstruktur mirip dengan

percakapan informal (Mulyana, 2006:181). Wawancara dalam panelitian

ini bersifat luwes, susunan pertanyaannya dan susunan kata-kata dalam

pertanyaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan saat

wawancara termasuk karakteristik responden. Oleh karena itu, peneliti

hanya membuat interview guide dengan pertanyaan secara garis besar dan selebihnya menjajaki sesuai jawaban responden. Wawancara dengan cara

mendalam ini dimaksudkan untuk lebih memfokuskan persoalan yang

menjadi pokok dari minat penelitian (Pawito, 2007: 133).

Berdasar HB Sutopo dalam Metodologi Penelitian Kualitatif

(2002: 78) penelitian ini cenderung bersifat kontekstual, yang hasilnya

(55)

commit to user

sesuatu yang bersifat khusus. Dengan kata lain Sutopo mengatakan bahwa

penelitian kualitatif ini menggunakan cara berpikir induktif .

Hasil yang diperoleh dalam penelitian deskriptif selanjutnya lebih

ditekankan pada memberikan gambaran secara objektif tentang keadaan

sebenarnya dari obyek yang diteliti (Nawawi, 1995:31). Penelitian ini

adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data kualitatif.

3. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih adalah lingkup Kotamadya

Surakarta. Terdapat beraneka ragam suku, ras, dan agama yang hidup

berdampingan dikota ini. Masyarakat Surakarta yang dimaksud dibagi

menjadi tiga kategori masyarakat berdasarkan data yang akan diteliti

dalam penelitian ini, yaitu masyarakat secara umum, LSM, dan Ormas

Islam di Surakartaa.

4. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/

subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2001: 72). Populasi dari penelitian ini adalah masyarakat

Surakarta yang terbagi menjadi tiga kategori masyarakat, yaitu masyarakat

secara umum LSM, dan Ormas Islam Kota Surakarta. Dipilihnya populasi

tersebut dengan alasan sebagai berikut:

a. Alasan memilih masyarakat sebagai populasi penelitian karena

Gambar

Gambar 1. Bagan Proses Komunikasi ...........................................................
Tabel 1: Frekuensi Bentuk Kekerasan Sinetron 2007-2008  ..........................      4
Tabel 1  Frekuensi Bentuk Kekerasan Sinetron 2007-2008
Gambar: 1 Bagan Proses Komunikasi
+7

Referensi

Dokumen terkait

14 di atas memperlihatkan frekuensi responden dalam menanggapi manfaat berita poligami di tabloid Nova, dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa 23 orang (23,8%) responden

kekerasaan terhadap perempuan selalu dianggap suatu hal yang wajar terjadi dan merupakan masalah intern suatu rumah tangga, khususnya dalam hubungan suami istri

Di sisi lain, tidak adanya peraturan khusus yang mendukung guru dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi dalam upaya pencegahan kekerasan seksual terhadap

Tidak hanya itu bahkan undang-undang yang mengatur secara khusus tentang kekerasan seksual atau yang dalam hal ini adalah RUU PKS tidak hanya dapat mengisi kekosongan

Bentuk-Bentuk Kekerasan Seksual Suami Terhadap Istri Menurut Undang- Undang Nomor 23 Tahun 2004 Tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga antara lain ialah

Kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terus-menerus terjadi di masyarakat khususnya yang terjadi dalam lingkup rumah tangga tidak membuat hukum menjadi

Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan (istri), yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara

Dalam hal ini, permasalahan tingginya angka poligami yang telah terjadi di beberapa generasi membuat tim memutuskan untuk memberikan sosialisasi mengenai bentuk-bentuk kekerasan