SEKOLAH TINGGI PEMBANGUNAN MASYARAKAT
NAMA : AM ZAINAL AFANDI
NO : 12520165
JENJENG : D3/S1
MATA KULIAH : PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN DAERAH NAMA DOSEN : Dra. Safitri Endah W. MSi.
TGL : 16 Januari 2015 TANDA TANGAN :
1. Prinsip otonomi daerah Value For Money, Efektif, Efisiesi, Ekonomis adalah
Jawab
Ekonomi : pemerolehan input dengan kualitas tertentu pada harga yang terendah
Efisiensi : pencapaian output yang maksimum dengan input tertentu atau penggunaan input yang terendah untuk mencapai output tertentu.
Efektivitas : tingkat pencapaian hasil program dengan target yang ditetapkan atau perbandingan outcome dengan ouput
2. Fungsi anggaran sebagai Fungsi kebijakan fiskal untung distribusi dan stabilitas
Jawab
Fungsi distribusi : pada fungsi ini dapat diketahui pula di samping pendistribusianuntuk kepentingan umum, distribusi juga perlu untuk dana subsidi, pensiun, danbantuan langsung dll.
dalam arti proporsial tetap menjadi perhatian dalam
rangkamendorong tercapainya pertumbuhan yang matang optimal.
Fungsi stabilisasi : Sesuai dengan nama stabilisasi maka fungsi stabilisasi inidimaksudkan untuk menciptakan stabilitas ekonomi suatu negara. Fungsi stabilisasi iniberkaitan erat dengan fungsi mengatur variabel ekonomi makro dengan
instrumenkebijakan moneter dan kebijakan fiskal.
contoh upaya pemerintah dalam menjalankan fungsi ini dengan menetapkan APBNsesuai dengan alokasi yang ditentukan akan menjaga arus uang dan barang sehinggadapat menghindari inflansi. dan bagaimana pemerintah mampu menjaga agar
distribusianggaran itu harus sesuai dengan pendapatan negara agar tidak terjadi fiscal burden (beban fiskal).
3. A. pengertian pajak daerah dan restribusi daerah Jawab
Pajak Daerah, adalah kontribusi wajib kepada Daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan
imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan Daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
(Pasal 1 angka 10 UU Nomor 28 Tahun 2009) Retribusi Daerah, adalah pungutan Daerah sebagai
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan orang pribadi atau Badan.
(Pasal 1 angka 10 UU Nomor 28 Tahun 2009)
B. perbedaan pajak parker dengan restribusi parker dan contohnya
Masyarakat tidak menerima balas jasa secara langsung
atas pungutan yang dibayarnya.
Pemungutannya dapat dipaksakan dan bagi mereka yang tidak membayar pajak dikenakan sanksi hukum yang berlaku.
Setiap warna negara sesuai ketetapan peraturan merupakan objek pajak.
Dipungut oleh pemerintah pusat.
Retribusi :
Masyarakat menerima balas jasa secara langsung atas pungutan yang dibayarnya.
Pemungutannya hanya dapat dipaksakan kepada mereka
yang menggunakan fasilitas negara.
Objek retribusi hanya mereka yang menggunakan fasilitas negara.
Dipungut oleh pemerintah daerah.
Contohnya
Keluarga Pak Tono beserta dengan kedua anaknya pergi ke tempat rekreasi. Mereka menggunakan mobil pribadi. Agar cepat sampai ke tempat tujuan, Pak Tono memilih
menggunakan jalan tol. Saat di pintu keluar tol, Pak Tono harus membayar karcis sebagai biaya retribusi pemakaian jalan tol. Hal itu mereka alami juga saat tiba di tempat
4. Upaya Intensifikasi dalam pajak dan retribusi beserta contohnya
Jawab
Intensifikasi Pajak
Intensifikasi pajak adalah peningkatan intensitas pungutan terhadap suatu subyek dan obyek pajak yang potensial namun belum tergarap atau terjaring pajak serta
memperbaiki kinerja pemungutan agar dapat mengurangi kebocoran-kebocoran yang ada. Upaya intensifikasi dapat ditempuh melalui dua cara yaitu
a. Penyempurnaan administrasi pajak
b. Peningkatan mutu pegawai atau petugas pemungut c. Penyempurnaan Undang-Undang Pajak
5. A. permaslahan yang sering terjadi dalam PBB Jawab
hal-hal yang melemahkan pemungutan pajak daerah tersebut antara lain :
Realisasi pengawasan peraturan daerah tentang pajak
daerah relatif lemah.
Sebagai contohnya, selama kurun waktu Agustus 2001 sampai dengan Januari 2003 terdapat 9 provinsi dan 83 kabupaten/kota yang telah menyampaikan peraturan daerah dengan jumlah peraturan daerah masing-masing adalah 27 peraturan daerah provinsi dan 861 peraturan daerah kabupaten/kota. Provinsi dan kabupaten/kota yang tidak mengirimkan peraturan daerahnya adalah 21 dari 30 jumlah provinsi dan 287 dari 370 jumlah kabupaten/kota seluruh Indonesia atau dengan presentase masing-masing asalah 70% dan 77,6%. Data tersebut memperlihatkan bahwa kesadaran daerah baik Provinsi maupun Kabupaten/kota untuk memenuhi amanat undang-undang berkaitan dengan kewajiban mengirim atau menyampaikan peraturan daerahnya kepada Menteri Keuangan masih relatif rendah.[3]
Kurangnya kesadaran Provinsi maupun Kabupaten/kota dalam memenuhi amanat undang-undang tersebut pastinya melemahkan pemungutan pajak daerah, dengan tidak adanya penyampaian peraturan daerah tersebut dapat terjadi kmungkinan terbitnya peraturan daerah yang di kemudian hari ternyata bermasalah karena kepentingan umum dan/atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Apabila peraturan perundang-undangan yang dijadikan dasar atau acuan dalam pemungutan pajak tidak sesuai dengan kepentingan umum, maka akan melemahkan pemungutan pajak daerah.
Sentralisasi kekuasaan pemerintah pusat dalam pengawasan
pemungutan pajak daerah.
Semua aktivitas pelaksanaan pemerintahan di daerah tetap diperlukan adanya suatu sistem pengawasan dari pemerintah pusat namun pengawasan hendaknya tidak lagi menyisakan celah bagi pemerintah pusat untuk menerapkan sentralisasi kekuasaan yang nantinya dapat menimbulkan konflik antarpusat dan daerah atau antar provinsi dan kabupaten/kota, karena jika demikian makna otonomi daerah menjadi kabur.
membatasi keleluasaan pemerintah dan masyarakat daerah sehingga pemerintah daerah tidak dapat mandiri dalam mengelola aspek kehidupannya sesuai dengan aspirasi, rasa keadilam dan budaya masing-masing.
Kurang siapnya daerah dalam menangani sengketa pajak.
Daerah kabupaten dan kota telah diberikan wewenang untuk menetapkan jenis pajak daerah dan restribusi daerah sesuai dengan criteria yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000. Permasalahan yang timbul dalam sengketa pajak pada umumnya ialah bagaimana menentukan jenis pajak daerah yang tepat dikenakan (langsung atau tidak langsung) , kepada siapa dan di tingkat pemerintahan mana (kabupaten atau kota). Sengketa pajak sebagai sengketa yang timbul dalam bidang perpajakan antara wajib pajak atau penanggung pajak dan pejabat pajak yang berwenang sebagai akibat dikeluarkannya keputusan yang dapat diajukan banding atau gugatan kepada pengadilan pajak berdasarkan peraturan perundang-undangan perpajakan, termasuk gugatan atas pelaksanaan penagihan berdasar Undang-Undang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa. Adanya sengketa pajak tersebut baik sengketa regulasi, sengketa ketetapan pajak maupun sengketa pelaksanaan penagihan pajak secara otomatis melemahkan pemungutan pajak.
Pemberian perizinan, rekomendasi dan pelaksanaan pelayanan umum yang kurang atau tidak sesuai dengan ruang lingkup tugasnya;
Kurangnya pembinaan terhadap seluruh perangkat Dinas;
Kurangnya pengkoordinasian pendapatan terhadap unit kerja penghasil pendapatan daerah.
Kurangnya kemampuan untuk mendengar, menanggapi dan
Belum dapat diterapkannya sistem self assessment system