• Tidak ada hasil yang ditemukan

EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA TERHADAP PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM DI KOSPIN JASA PEKALONGAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA TERHADAP PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM DI KOSPIN JASA PEKALONGAN"

Copied!
99
0
0

Teks penuh

(1)

MEMINJAM DI KOSPIN JASA PEKALONGAN

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Strata I Dalam Ilmu Hukum Pada Fakultas Hukum

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Disusun Oleh :

ARINI AISYIATAL HANIAH

20120610127

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

(2)
(3)

iv

HALAMAN MOTTO

Jadilah diri sendiri jangan pernah menjadi bayangan dari orang lain disekitarmu

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik

Ilmu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjaga kamu dan semakin

berkembang jika dimanfaatkan, sedangkan harta kamulah yang menjaganya

(4)

v

HALAMAN PERSEMBAHAN

Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT , sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan dengan baik, dengan rasa bangga saya persembahkan kepada:

1. Ibu Hj. Nur Chassanah dan Bapak H. Moch Syaichu,Terima kasih yang tidak

hentinnya selalu mendoakanku, mendukungku , dan memberikan rasa kasih sayang

yang teramat besar yang tidak dapat ku balas dengan apapun.

2. Masku (Drg. Muh.Yusuf) Mbak-mbakku (Dina Atina S.KM, Faradisa A.Md.Keb),

Adekku (Moh.Izzuddin), Mas Iparku (Miftahuddin Rahardjo S.Pd), Mbak Iparku (

Winda Hilma S.E) Keponakan-keponakan Ante (Khansa Nabila Azzahra, Subhan,

Elshanum Jasmien Jennamira) terimakasih atas pertanyaan kapan skripsi selesai?

Kapan wisuda? Sudah sampai mana? Itulah yang menjadi motivasi saya untuk segera

menyelesaikan skripsi ini.

3. Simakku Hj. Aliyah, terimakasih sudah selalu menasehati cucunya ini

4. Kepada yang selalu memberikan Semangat dan dukungan sehingga skripsi ini dapat

diselesaikan

(5)

vi

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan

rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini yang

berjudul "EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA TERHADAP PERJANJIAN

PINJAM-MEMINJAM DI KOSPIN JASA PEKALONGAN" Penulisan skripsi ini dimaksudkan

sebagai salah satu persyaratan guna menyelesaikan studi pada Fakultas Hukum

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Meskipun telah berusahasemaksimal

mungkin,penulis yakin skripsiini masih jauh dari sempurna dan harapan, oleh karena

keterbatasan ilmu pengetahuan, waktu, tenaga serta literatur bacaan. Namun dengan

ketekunan, tekad dan rasa ingin tahu dalam pengembangan ilmu pengetahuan, akhirnya

penulis dapat menyelesaikannya. Penulis menyadari, bahwa tesis ini dapat terselesaikan

berkat bantuan dari berbagai pihak. Segala bantuan, budi baik dan uluran tangan berbagai

pihak yang telah penulis terima baik dalam studi maupun dari tahap persiapan penulisan

sampai skripsi ini terwujud tidak mungkin disebutkan seluruhnya.

Dari lubuk hati yang paling dalam penulis sampaikan rasa hormat dan bangga kepada

kedua orang tuaku yang telah membesarkan, mendidik, menasehati serta mendo'akan

yang tiada henti-hentinya untuk keselamatan dan kesuksesan penulis. Rasa hormat dan

terima kasih juga penulis sampaikan kepada pihak pihak yang telah mendorong dan

membantu, sehingga penulis dapat menyelesaikan studi di Fakultas Hukum Universitas

Muhammadiyah Yogyakarta antara lain kepada :

1. Kepada kedua Orang tua tercinta penulis,Bapak H. Moch. Syaichu dan Ibu Hj.

Nur Chasannah yang tidak hentinya selalu memberikan do’a, dukungan baik moril

(6)

vii

2. Bapak Dr. Trisno Rahardjo, SH.,M. Hum selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

3. Bapak Dr. Leli Joko Suryono, SH.,M. Hum,selaku kepala Program Studi Ilmu

Hukum Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dan Selaku

Dosen Pembimbing I(satu)dalam penulisan skripsi ini yang telah tulus ikhlas

menuangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan pengarahan,

masukan-masukan serta kritik yang membangun selama proses penulisan skripsi ini.

4. Ibu Ahdiana Yuni Lestari, SH.,M.HumSelaku dosen Pembimbing II(dua) yang

jugatelah tulus ikhlas menuangkan waktu, tenaga dan pikiran dalam memberikan

pengarahan, masukan-masukan serta kritik yang membangun selama proses

penulisan skripsi ini.

5. Bapak/lbu Dosen pada ProgramStudi Ilmu Hukum Fakultas Hukum UMY yang

telah dengan tutus menularkan ilmunya, sehingga penulis dapat menyelesaikan,

Program Studi Strata 1(S1).

6. Kepada Responden Kepala Bagian Pinjam-Meminjam di Kospin Jasa Pekalongan

Bapak Yayan Abdul Wahid S.H dan para pihak yang telah membantu

memberikan masukan guna melengkapi data-data yang diperlukan dalam

pembuatan skripsi ini.

7. Staf administrasi Program Studi Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah

Yogyakarta yang telah memberi bantuan selama penulis mengikuti perkuliahan.

8. Sahabat-sahabat terbaikku Fefriani Puspasari, Risky Komariyah, yang selalu

memberikan dukungan, semangat, kebersamaan dan bantuan kalian.

9. Teman-teman seperjuanga Nur lita Rahmawati, Rewita Harlan Dwitami, Indriyani

Simamora, Dhita Dwinanda Putri, EmaharaniYogitasari, Fenty Oksa Putri,

(7)

viii

cerita, semangat, dukungan, motivasi dan kebersamaannya selama empat tahun ini

yang berkesan.

10.Teman-teman Fakultas Hukum UMY 2012 yang tidak bisa saya sebutkan satu

persatu.

11.Semua pihak yang telah membantu penyelesain skripsi ini, baik secara langsung

maupun tidak langsung yang tidak dapat disebutkan satu persatu, Terimakasih atas

bantuan yang diberikan

Yogyakarta, 28 April 2016 Hormat Penulis,

(8)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL………. i

HALAMAN PERSETUJUAN……….. ii

HALAMAN PENGESAHAN……….. iii

PERNYATAAN……….... iv

MOTTO……….. v

PERSEMBAHAN………... vi

KATA PENGANTAR………... viii

DAFTAR ISI………. xi

BAB I PENDAHULUAN………... 1

BAB II TINJAUAN TENTANG PERJANJIAN, PERJANJIAN PINJAM- MEMINJAM, JAMINAN FIDUSIA DAN KOPERASI A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian………. 5

1. Pengertian Perjanjian...……….. 5

2. Pihak-Pihak Dalam Perjanjian……… 6

3. Unsur-Unsur Perjanjian……….. 7

4. Asas-Asas Perjanjian……….. 8

5. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian……… 10

6. Jenis-Jenis Perjanjian...……….... 14

7. Wanprestasi……… 17

8. Berakhirnya Perjanjian………... 19

B. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Pinjam-Meminjam………….. 20

C. Tinjauan Umum Tentang Jaminan Fidusia……….. 31

(9)

x

2. Subyek dan Obyek Jaminan Fidusia……… 34

3. Sifat-Sifat Jaminan Fidusia……….. 36

4. Fungsi Pendaftaran Jaminan Fidusia………... 38

5. Eksekusi Jaminan Fidusia……… 41

D. Tinjauan Umum Tentang Koperasi……… 43

1. Pengertian Koperasi………. 43

BAB IV EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA TERHADAP PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM DI KOSPIN JASA PEKALONGAN A. Pelaksanaan Perjanjian Pinjam-Meminjam dan Eksekusi Jaminan Fidusia pada Kospin Jasa Pekalongan……… 53

(10)
(11)
(12)

xi

Lahirnya lembaga jaminan fidusia adalah adanya kebutuhan dalam praktik, yaitu yang menyangkut penjaminan barang bergerak tetapi tanpa penyerahan benda secara fisik, mengingat hal ini tidak dapat dipenuhi oleh lembaga gadai. Kesulitan yang terjadi dalam lembaga jaminan fidusia adalah pelaksanaan eksekusi obyek jaminan bila terjadi kredit macet. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas eksekusi obyek jaminan fidusia dan faktor penghambat dalam melakukan eksekusi jaminan fidusia. Penelitian ini mempergunakan metode penelitian kepustakaan yang bersifat yuridis normatif, dengan mengkaji bahan-bahan kepustakaan dan penelitian lapangan. Berdasarkan hasil penelitian, perjanjian jaminan fidusia yang telat dalam pendaftaran ke KPF tidak mempunyai hak kebendaan sehingga tidak memberikan hak preferensi kepada kreditur Penerima Fidusia dalam pelunasan piutangnya,dan kedudukannya menjadi kreditur konkuren. Penyelesaian eksekusinya adalah dengan penjualan di bawah tangan bila kedua belah pihak sepakat, dan bila tidak ada kesepakatan maka kreditur Penerima Fidusia dapat mengajukan gugatan perdata ke pengadilan atas dasar wanprestasi. Pemberi Fidusia dilarang mengalihkan atau memindah tangankan obyek jaminan fidusia tanpa seijin Penerima Fidusia, dan bila hal ini dilakukan maka Pemberi Fidusia dianggap telah melakukan Penggelapan. Untuk kepastian hukum dan perlindungan hukum bagi penerima fidusia atau kreditur, maka setiap jaminan fidusia perlu didaftarkan.

Tujuan penelitian ini adalah Pertama,Untuk mengetahui pelaksanaan perjanjian pinjam-meminjam dengan jaminan fidusia pada Kospin Jasa Pekalongan. Kedua,Untuk mengetahui penyelesaian wanprestasi atas perjanjian pinjam-meminjam dengan jaminan fidusia pada Kospin Jasa Pekalongan.Ketiga,Untuk mengetahui hambatan-hambatan yang dialami Kospin Jasa Pekalongan dalam penyelesaian wanprestasi atas perjanjian pinjam-meminjam dengan jaminan fidusia.Hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa Pertama, Pelaksanaan dari perjanjian kredit dengan jaminan fidusia pada Kospin Jasa Pekalongan dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu a)Tahap Permohonan Pinjaman; b) Tahap pengajuan Persyaratan Pinjaman; c) Tahap Persetujuan. Dalam tahap ini apabila persyaratan terpenuhi, maka pihak koperasi memberikan persetujuan terhadap permohonan Pinjaman yang diajukan oleh nasabah. Kedua,Penyelesaian wanprestasi atas perjanjian Pinjaman dengan jaminan fidusia dilakukan dengan mengedepankan azas kekeluargaan dan secara administrasi perkreditan. Ketiga,Hambatan-hambatan yang dialami Kospin Jasa Pekalongan dalam penyelesaian wanprestasi.

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

Dalam ketentuan Pasal 1 butir 1 Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang Jaminan

Fidusia, disebutkan bahwa: ”Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan suatu benda atas dasar

kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut tetap

dalam pengusaan pemilik benda.”

Bentuk jaminan fidusia digunakan secara luas dalam transaksi pinjam-meminjam

karena proses pembebanannya dianggap sederhana, mudah, dan cepat, tetapi tidak menjamin

adanya kepastian hukum. Lembaga jaminan fidusia memungkinkan kepada para Pemberi Fidusia

untuk menguasai benda yang dijaminkan, untuk melakukan kegiatan usaha yang dibiayai

dari pinjaman dengan menggunakan Jaminan Fidusia.

Pasal 1 Angka 7 Peraturan pemerintah Nomor 9 Tahun 1995, menentukan: “Pinjaman adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan

persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antar koperasi dengan pihak lain yang

mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi hutangnya setelaha jangka waktu tertentu

disertai pembayaran sejumlah imbalan”.

Pada awalnya, benda yang menjadi objek fidusia terbatas pada kekayaan benda

bergerak yang berwujud dalam bentuk peralatan. Akan tetapi dalam perkembangan

selanjutnya, benda yang menjadi objek fidusia termasuk juga kekayaan benda bergerak yang tak

(14)

merupakan hak jaminan yang lahir berdasarkan undang-undang, melainkan lahir karena harus

diperjanjikan terlebih dahulu antara Kreditor dengan Debitor.

Oleh karena itu, secara yuridis pengikatan jaminan fidusia lebih bersifat khusus, jika

dibandingkan dengan jaminan yang lahir berdasarkan undang-undang sebagaimana diatur dalam

Pasal 1131 KUHPerdata. Fungsi yuridis pengikatan benda jaminan fidusia dalam akta jaminan

fidusia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perjanjian kredit.

Pemberian kredit dapat diberikan oleh lembaga keuangan perbankan maupun lembaga

keuangan non-perbankan termasuk juga koperasi, namun demikian untuk lembaga perbankan

pemberian kredit dilakukan berdasarkan syarat-syarat yang cukup sulit. Hal ini berbeda dengan

kredit yang diberikan oleh lembaga non-perbankan khususnya koperasi melalui prosedur simpan

pinjam.

Pemberian kredit oleh koperasi simpan pinjam ini dapat meringankan beban masyarakat,

karena kredit yang diberikan koperasi simpan pinjam tanpa melalui prosedur yang sulit dan tidak

dipersyaratkan adanya jaminan terutama jaminan kebendaan, yang selama ini menjadi kendala

bagi masyarakat golongan ekonomi lemah.

Utang piutang merupakan suatu perbuatan yang tidak asing lagi bagi masyarakat kita pada

masa sekarang ini. Utang piutang tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang ekonominya

lemah, tetapi juga dilakukan oleh orang-orang yang ekonominya relatif mampu.

Suatu utang diberikan terutama atas integritas atau kepribadian debitor, kepribadian yang

menimbulkan rasa kepercayaan dalam diri kreditor, bahwa debitor akan memenuhi kewajiban

(15)

baik, belum menjadi jaminan bahwa nanti pada saat jatuh tempo untuk mengembalikan pinjaman,

keadaan keuangannya masih tetap sebaik keadaan semula.1

Dalam memberikan kredit kepada para nasabah, Koperasi Simpan Pinjam Jasa di

Pekalongan,hanya mensyaratkan adanya jaminan, baik berupa benda bergerak maupuntidak

bergerak, jaminan tersebut sangat penting sebagai pengaman kredit yang telah diberikan olehpihak

koperasi. Menurut Mariam Darus Badrulzaman arti jaminan itu sendiri berarti kekayaan yang

dapat diikat sebagai jaminan, guna kepastian pelunasan dibelakang hari, kalau penerima kredit

tidak melunasi hutangnya.2

Fokus perhatian dalam masalah jaminan fidusia adalah apabila debitor wanprestasi. Dalam

hukum perjanjian apabila debitor tidak memenuhi isi perjanjian atau tidak melakukan hal-hal yang

telah diperjanjikan, maka debitor tersebut telah wanprestasi dengan segala akibat hukumnya.

Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia tidak mengenal istilah

wanprestasi, melainkan menggunakan istilah Cidera Janji3. Istilah Cidera Janjidalam perjanjian

kredit dapat dikatakan sebagai penyebab kredit macet atau kredit bermasalah.

Para nasabah dalam hal ini peminjam dari Koperasi Simpan Pinjam Jasa Pekalongan

melakukan usahanya, tidak selamanya menguntungkan sering juga terjadi kerugian, sehingga dari

faktor tersebut mereka tidak dapat mengembalikan pinjamannya kepada koperasi, sampai dengan

jatuh tempo jangka waktu yang telah ditentukan. Ada juga dari sekian banyak peminjam yang

melakukan pinjaman, hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang diinginkan, dengan

1 J. Satrio,1991, Hukum Jaminan danHak-hak Kebendaan,Bandung, Citra Aditya Bakti,

hlm 97.

2Mariam Darus Badrulzaman, 1991,Perjanjian Kredit, Bandung, Citra Aditya Bakti, hlm. 28.

3

(16)

harapan pada saat jatuh tempo peminjam tersebut dapat melunasinya, akan tetapi karena sesuatu

hal, peminjam tersebut tidak dapat menyelesaikan pembayaran seperti yang telah diperjanjikan

pada awal peminjaman, sehingga perlu dilakukan eksekusi atas objek jaminan fidusianya.

Eksekusi jaminan fidusia merupakan langkah terakhir yang dilakukan kreditor selaku penerima

fidusia, apabila debitor selaku pemberi fidusia cidera janji.

Berdasarkan hasil prapenelitian penulis, eksekusi jaminan fidusia pada Koperasi Simpan

Pinjam Jasa di Pekalongan sering terjadi kesulitan dalam hal barang jaminan berupa benda

bergerak, seperti kendaraan bermotor roda dua yang oleh debitur tidak mau diserahkan, sudah di

pindah tangankan, identitas barang jaminan diubah, debitur pindah alamat dan bahkan ada

perlawanan dari debitur maupun sekelompok orang yang tidak menerima kenyataan bahwa barang

jaminan tersebut akan diambil kembali oleh kreditor guna penyelesaiaan utang-utang debitor,

sehingga menarik untuk dikaji dan diteliti lebih lanjut dalam bentuk skripsi dengan judul:

“EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA TERHADAP PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM DI

KOSPIN JASA PEKALONGAN”

Bedasarkan uraian latar belakang diatas, dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut

:Apa faktor yang menghambat dalam pelaksanaan eksekusi jaminan fidusia terhadap perjanjian

pinjam-meminjam di Kospin Jasa Pekalongan?

Penelitian yang dilakukan oleh penulis bertujuan untuk :

1. Tujuan Obyektif

Untuk mengetahui faktor-faktor yang menghambat dalam pelaksanaan eksekusi

jaminan fidusia terhadap perjanjian pinjam-meminjam di Koperasi Simpan Pinjam Jasa

(17)

2. Tujuan Subjektif

Penelitian ini ditujukan untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan

hukum dalam melengkapi persyaratan akademis dalam rangka meraih gelar sarjana

(18)

BAB II

TINJAUAN TENTANG PERJANJIAN, PERJANJIAN PINJAM-MEMINJAM, JAMINAN FIDUSIA DAN KOPERASI

A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian

Pengertian perjanjian secara umum dapat dilihat dalam pasal 1313 KUHPerdata,

yaitu suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap

satu orang lain atau lebih.

Menurut R. Setiawan pengertian perjanjian sebagai mana tersebut dalam pasal 1313

KUHPerdata terlalu luas, karena istilah perbuatan yang dipakai dapat mencakup juga

perbuatan melawan hukum dan perwakilan sukarela, padahal yang dimaksud adalah

bukan perbuatan melawan hukum1

Perjanjian adalah suatu hubungan atas dasar hukum kekayaan

(vermogenscrechtlijke bettrecking) antara dua pihak, dimana pihak yang satu

berkewajiban memberikan suatu prestasi atas nama pihak yang lain mempunyai hak

terhadap prestasi itu.2

Wirjono Prodjodikoro memberikan definisi bahwa perjanjian itu merupakan

suatu perbuatan hukum mengenai harta benda kekayaan antara dua pihak, dimana satu

(19)

pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan suatu hal atau tidak melakukan

suatu hal, sedang pihak yang lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.3

Perjanjian menurut Abdulkadir Muhammad adalah hal yang mengikat antara

orang yang satu dengan orang yang lain. Hal yang mengikat tersebut yaituperistiwa hukum

yang dapat berupa perbuatan misalnya jual beli, berupa kejadian misalnya kelahiran, dan

dapat juga berupa suatu keadaan misalnya pekarangan yang berdampingan, hal mana

semua peristiwa hukum tersebut akan menciptakan suatu hubungan hukum.4

Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan tersebut di atas, maka dapat

disebutkan bahwa perjanjian adalah hubungan hukum antara dua pihak atau lebih dimana

pihak yang satu berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal dan pihak yang lain berhak

menuntut hal (prestasi) tersebut.

2. Pihak-Pihak dalam Perjanjian

Pihak dalam perjanjian disebut sebagai subjek hukum. Subjek hukum

tersebut ada dua, yaitu :

a. Orang

b. Badan Hukum (Legal entity).

Perjanjian hanya mengikat pihak-pihak yang mengadakan perjanjian itu

sendiri atau tidak mengikat pihak lain. Suatu perjanjian hanya meletakkan

hak-hak dan kewajiban-kewajiban antara para pihak yang membuatnya.

Pihak yang berkewajiban untuk melaksanakan prestasi disebut debitur

sedangkan pihak yang berhak atas pelaksanaan prestasi disebut kreditur.

3Wirjono Prodjodikoro, 1985, Hukum Perdata Tentang Persetujuan Tertentu, Cet VIII, Bandung,

Sumur, hlm. 11.

4

(20)

Sebagai pihak yang aktif, kreditur dapat melakukan tindakan-tindakan

debitur yang pasif yang tidak mau memenuhi kewajibannya atau

wanprestasi. Tindakan kreditur tersebut dapat berupa memberi

peringatan-peringatan atau menuntut di muka pengadilan dan lain sebagainya.5

3. Unsur-unsur Perjanjian

Unsur-unsur dalam perjanjian ada tiga yaitu6:

a) Essentalia

b) Naturalia

c) Accidentalia

a. Essentalia

Yaitu unsur utama, tanpa adanya unsur ini persetujuan tidak mungkin ada.

Unsur essentalia (merupakan unsur/bagian into dari suatu perjanjian) yaitu

merupakan yang harus ada dalam perjanjian. Syarat-syarat adanya atau sahnya

perjanjian adalah adanya kata sepakat atau persesuaian kehendak, kecakapan

para pihak, obyek tertentu dan kausa atau dasar yang halal.

b. Naturalia

Yaitu unsur yang oleh Undang-undang ditentukan sebagai peraturan yang

bersifat mengatur. Unsur Naturalia (merupakan unsur / bagian non inti dari

suatu perjanjian) yaitu unsur yang lazim melekat dalam perjanjian. Unsur ini

merupakan unsur bawaan(natuur) perjanjian sehingga secara diam-diam

melekat pada perjanjian, unsur yang tanpa diperjanjikan secara khusus dalam

perjanjian secara diam-diam dengan sendirinya dianggap ada dalam perjanjian.

(21)

c. Accidentalia

Yaitu unsur yang oleh para pihak ditambahkan dalam persetujuan dimana

Undang-undang tidak mengatur. Unsur ini merupakan sifat yang melekat pada

perjanjian dalam hal secara tegas diperjanjikan oleh para pihak, seperti

ketentuan mengenai tempat tinggal atau domisili yang dipilih oleh para pihak,

termik (jangka waktu pembayaran), pilihan hukum, dan cara penyerahan

barang.

4. Asas-asas Perjanjian

Dalam hukum perjanjian, dikenal adanya beberapa azas penting yang

merupakan dasar kehendak masing-masing pihak di dalam mencapai tujuannya.

Asas-asas tersebut antara lain :

a. Asas Kebebasan berkontrak (freedom of contract/ laissez faire)

Setiap orang bebas membuat perjanjian apa saja baik yang sudah

diatur atau belum oleh undang-undang, tetapi kebebasan itu dibatasi oleh tiga hal

yaitu tidak dilarang oleh undang-undang, tidak bertentangan dengan ketertiban

umum Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa

semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi

mereka yang membuatnya.

Ketentuan Undang-Undang boleh tidak diikuti apabila pihak-pihak

mengkhendaki cara-cara tersendiri, tetapi apabila tidak ditentukan lain maka

(22)

b. Asas Konsensualitas

Suatu perjanjian dianggap telah terjadi pada saat diperoleh kata sepakat

antara para pihak mengenai perjanjian. Sejak saat itu, perjanjian dianggap

telah mengikat dan mempunyai akibat hukum. Azas konsensualisme suatu

perjanjian walaupun dibuat secara lisan antara dua orang atau lebih telah mengikat,

dan telah melahirkan kewajiban bagi salah satu atau lebih pihak dalam perjanjian

tersebut, segera setelah orang-orang tersebut mencapai kesepakatan (consensus),

maka perjanjian yang mengikat dan berlaku diantara para pihak tidak lagi

membutuhkan formalitas. Untuk menjaga kepentingan pihak debitur dibuat dalam

bentuk-bentuk formal atau dipersyaratkan adanya suatu tindakan nyata tertentu.

c. Asas Personalia

Pasal 1315 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata mengatur mengenai

azas Personalia yang menyatakan “pada umumnya tak seorang pun dapat

mengikatkan diri atas nama sendiri atau meminta ditetapkannya suatu janji selain

untuk dirinya sendiri”. Pada dasarnya suatu perjanjian yang dibuat oleh

seseorangdalam kapasitasya sebagai individu (subjek hukum pribadi), hanya akan

berlaku dan mengikat untuk dirinya sendiri.7

Meskipun secara sederhana dikatakan bahwa ketentuan pasal 1315 Kitab

Undang-Undang Hukum Perdata menunjuk pada azas personalia, namun lebih

jauh dari itu, ketentuan Pasal 1315 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

juga menunjuk kewenangan bertindak dari seseorang yang membuat dan atau

mengadakan suatu perjanjian. Dengan kapasitas kewenangan tersebut setiap

7Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja II, Seri Hukum Bisnis Jaminan Fidusia, Rajawali,

(23)

tindakan, perbuatan yang dilakukan oleh orang perorangan sebagai subjek hukum

pribadi yang mandiri, akan mengikat diri pribadi tersebut, dan dalam lapangan

perikatan, mengikat seluruh harta kekayaan yang dimliki olehnya secara pribadi.

d. Asas Obligator

Perjanjian yang dibuat para pihak baru dalam tahap menimbulkan hak dan

kewajiban saja dan belum memindahkan hak milik. Hak milik akan berpindah

apabila dilakukan dengan perjanjian kebendaan (zakelijke overeenkomst), yaitu

melalui upaya levering.8

5. Syarat-Syarat Sahnya Perjanjian

Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menyatakan bahwa untuk

sahnya suatu perjanjian diperlukan syarat - syarat, yaitu :

a) Kesepakatan (agreement atau consensus)

b) Kecakapan (capacity)

c) Hal yang tertentu (certainty of term)

d) Sebab yang halal (legality)

a. Kesepakatan mereka yang mengikatkan diri (agreement atau consensus).

Maksudnya adalah terjadinya persesuaian kehendak. Timbulnya kehendak

atau keinginan itu tidak didasarkan atas paksaan, kekhilafan, ataupenipuan

dari salah satu pihak.

b. Kecakapan (Capacity).

Setiap orang adalah cakap untuk membuat perjanjian apabila ia oleh

UndangUndang tidak dinyatakan tidak cakap, hal ini sesuai dengan ketentuan

(24)

Pasal 1329 KUHPerdata. Orang yang tidak cakap untuk membuat perjanjian

sesuai dengan amanat Pasal 1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

adalah :

1. Orang-orang yang belum dewasa

2. Mereka yang ditaruh dibawah Pengampuan

3. Orang perempuan yang sudah kawin.

Mengenai orang perempuan yang sudah kawin sebagaimana surat edaran

Mahkamah Agung (SEMA) Nomor 3 Tahun 1963 telah dicabut dan sesuai dengan

pasal 31 ayat 2 Undang-Undang No.1 Tahun 1974, perempuan yang sudah

kawinberhak untuk melakukan perbuatan hukum. Jadi yang tidak cakap menurut Pasal

1330 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata sekarang hanyalah :

1. Orang yang belum dewasa dan ;

2. Yang ditaruh dibawah pengampuan

Orang belum dewasa dan yang ditaruh dibawah pengampuan apabila

melakukan perbuatan hukum harus diwakili oleh wali mereka. Menurut

Pasal 1330 juncto Pasal 330 KUH Perdata bahwa usia dewasa adalah 21

tahun. Sebaliknya terdapat juga pandangan bahwa usia dewasa adalah usia 18

tahun hal ini berdasarkan rumusan pasal 47 juncto Pasal 50

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menegaskan bahwa :

1. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah

melangsungkan perkawinan ada dibawah kekuasaan

(25)

2. Orangtua mewakili anak tersebut mengenai segala perbuatan hukum

didalam dan diluar pengadilan

Dalam Pasal 50 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan

Menyebutkan bahwa :

1. Anak yang belum mencapai umur 18 tahun atau belum pernah

melangsungkan perkawinan, yang tidak berada dibawah kekuasaan

orangtua, berada dibawah kekuasaan wali.

2. Perwalian itu mengenai pribadi anak yang bersangkutan maupun harta

bendanya.

c. Hal yang tertentu (certainty of term )

Hal yang menjadi objek perjanjian harus jelas atau paling tidak dapat

ditentukan jenisnya, sedangkan mengenai jumlahnya dapat tidak ditentukan

padawaktu dibuat perjanjian dengan ketentuan bahwa nanti dapat dihitung

atau ditentukan jumlahnya (Pasal 1333 KUHPerdata). Kejelasan mengenai

pokok perjanjian atau objek perjanjian ialah untuk memungkinkan pelaksanaan

hak dan kewajiban pihak-pihak.

d. Sebab yang halal ( legality )

Dalam membuat suatu perjanjian, isi daripada perjanjian tersebut yang

menggambarkan suatu tujuan yang hendak dicapai oleh parapihak itu,

harus dibenarkan atau tidak bertentangan dengan Undang-Undang,

ketertiban umum dan kesusilaan.9

9Zul Afdi Ardian dan An An Chandrawulan,1998,Hukum Perdata dan Dagang, Bandung,CV.

(26)

Keempat syarat tersebut diatas merupakan syarat pokok bagi setiap

perjanjian. Selain itu terdapat juga syarat tambahan bagi perjanjian tertentu

saja, misalnya perjanjian perdamaian yang diharuskan dibuat secara

tertulis.10Keempat syarat tersebut selanjutnya dalam doktrin ilmu hukum yang

berkembang digolongkan kedalam :

a. Unsur subjektif, menyangkut subjek (pihak) yang mengadakan

perjanjian.

b. Unsur objektif, menyangkut objek daripada perjanjian.

Unsur subjektif mencakup adanya kesepakatan dari para pihak dan

kecakapan dari pihak-pihak yang melaksanakan perjanjian. Sedangkan

unsur objektif meliputi keberadaan dari objek yang diperjanjikan dan causa

dari objekberupa prestasi yang disepakati untuk dilaksanakan tersebut haruslah

sesuatu yang tidak dilarang oleh undang-undang.11Perbedaan unsur-unsur

atas syarat-syarat sahnya perjanjian tersebut digunakan untuk mengetahui

apakah perjanjian itu batal demi hukum (voib ab initio) atau merupakan

perjanjian yang dapat dimintakan pembatalannya (voidable).12

Dalam hal unsur subjektif tidak dipenuhi, maka perjanjian tersebut dapat

dimintakan pembatalanya (voidable). Perjanjian itu sah atau mengikat

selama tidak dibatalakan (oleh hakim) oleh karena adanya permintaan

pembatalan oleh para pihak yang berkepentingan. Dalam hal syarat objektif

10Hardijan Rusli, 1993, Hukum Perjanjian Indonesia dan Common Law, Cetakan I, Jakarta,

Pustaka Sinar Harapan, (Selanjutnya disebut Hardijan Rusli I), hlm. 132.

11Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja, 2003, Seri Hukum Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Cetakan I, P.T. RajaGrafindo Persada, Jakarta, hlm. 91.

(27)

tidak dipenuhi, maka perjanjian tersebut batal demi hukum. Perjanjian yang

batal demi hukum merupakan perjanjian yang dari awal sudah batal, hal ini

berarti tidak pernah ada perjanjian tersebut. Sedangkan perjanjian yang

dimintakan pembatalannya (voidable) yaitu perjanjian yang dari awal

berlaku tetapi perjanjian itu dapat dimintakan pembatalannya dan apabila

tidak dimintakan pembatalnnya maka perjanjian itu tetap berlaku.

Dari syarat sahnya perjanjian kredit yang telah dikemukakan diatas maka

dapat disimpulkan unsur-unsur dari perjanjian kredit yakni unsur

essensialia,unsur naturalia dan unsur accidentalia. Unsur essensialia adalah

unsur perjanjian yang harus terdapat dalam perjanjian, tanpa adanya unsur

ini maka suatu perjanjian tidak mungkin lahir atau ada. Seperti kecakapan

para pihak yangmengikatkan diri dalam suatu perjanjian. Unsur naturalia

adalah unsur didalam perjanjian yang oleh undang-undang diatur tetapi

oleh para pihak dapat digantikan. Misalnya pembuatan perjanjian kredit

dengan akta notariil tetapi menggunakan akta dibawah tangan. Sedangkan

unsur accidentalia adalah unsurperjanjian yang ditambahkan oleh para

pihak, hal ini tidak diatur oleh UndangUndang tetapi para pihak dapat

menambahkan dalam perjanjiannya contohnyadalam penyelesaian

permasalahan akibat perjanjian untuk diselesaikan dipengadilan negeri

tertentu.13

6. Jenis-Jenis Perjanjian

13J.Satrio, 2000, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir Dari Perjanjian, Citra Aditya

(28)

Beberapa jenis perjanjian yaitu :14

a. Perjanjian Timbal Balik

Perjanjian timbal balik adalah perjanjian yang menimbulkan kewajiban

pokok bagi kedua belah pihak.

b. Perjanjian Cuma-Cuma

Menurut Ketentuan Pasal 1314 KUHPerdata, suatu persetujuan yang dibuat

dengan cuma-cuma adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu

memberikan suatu keuntungan kepada pihak yang lain tanpa menerima

suatu manfaat bagi dirinya sendiri.

c. Perjanjian Atas Beban

Perjanjian atas beban adalah perjanjian dimana terhadap prestasi dari pihak

yang satu selalu terdapat kontra prestasi dari pihak lain, dan antara kedua

prestasi itu ada hubungannya menurut hukum

d. Perjanjian Bernama

Perjanjian bernama adalah perjanjian yang sudah mempunyai nama sendiri,

maksudnya adalah bahwa perjanjian-perjanjian tersebut diatur dan diberi

nama oleh pembentuk undang-undang, berdasarkan tipe yang paling banyak

terjadi sehari -hari. Perjanjian khusus terdapat dalam Bab V sampai dengan

Bab XVIII KUHPerdata.

e. Perjanjian tidak bernama

Perjanjian tak bernama adalah perjanjian-perjanjian yang tidak diatur didalam

KUHPerdata, tetapi terdapat di dalam masyarakat. Jumlah perjanjian ini

14Mariam Darus Badrulzaman, 2001,Kompilasi Hukum Perikatan. PT. Citra Aditya

(29)

tidak terbatas dengan nama yang disesuaikan dengan kebutuhan pihak- pihak

yang mengadakannya.

f. Perjanjian Obligator

Perjanjian obligatoir adalah perjanjian yang menimbulkan hak dan

kewajiban diantara para pihak

g. Perjanjian kebendaan

Perjanjian kebendaan adalah perjanjian dengan mana seorang menyerahkan

haknya atas sesuatu benda kepada pihak lain, yang membebankan kewajiban

(oblilige) pihak itu untuk menyerahkan benda tersebut kepada pihak lain

(levering, transfer).

h. Perjanjian konsensual

Perjanjian konsensual adalah perjanjian dimana antara kedua belah pihak telah

tercapai persesuaian kehendak untuk mengadakan perjanjian. Menurut

KUHPerdata perjanjian ini sudah mempunyai kekuatan mengikat (Pasal

1338).

i. Perjanjian real

Suatu perjanjian yang terjadinya itu sekaligus dengan realisasi tujuan

perjanjian, yaitu pemindahan hak.

j. Perjanjian Liberatoir

Perjanjian dimana para pihak membebaskan diri dari kewajiban yang

ada(Pasal 1438 KUHPerdata).

(30)

Suatu perjanjian dimana para pihak menentukan pembuktian apakah yang

berlaku di antara mereka.

l. Perjanjian Untung – untungan

Menurut Pasal 1774 KUHPerdata, yang dimaksud dengan perjanjian

untung-untungan adalah suatu perbuatan yang hasilnya, mengenai untung

ruginya, baik bagi semua pihak, maupun bagi sementara pihak, bergantung

pada suatu kejadian yang belum tentu.

m. Perjanjian Publik

Perjanjian publik yaitu suatu perjanjian yang sebagian atau seluruhnya

dikuasai oleh hukum publik, karena salah satu pihak yang bertindak adalah

pemerintah, dan pihak lainnya swasta. Diantara keduanya terdapat hubungan

atasan dengan bawahan (subordinated), jadi tidak dalam kedudukan yang

sama (co-ordinated).

n. Perjanjian Campuran

Perjanjian campuran adalah suatu perjanjian yang mengandung berbagai unsur

perjanjian di dalamnya.

7. Wanprestasi

Prestasi adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh debitur dalm setiap

perjanjian. Prestasi adalah obyek perikatan. Dalam hukum perdata kewajiban

memenuhi prestasi adalah selalu disertai jaminan harta kekayaan debitur. Dalam

Pasal 1131 dan 1132 KUH Perdata dinyatakan bahwa harta kekayaan debitur baik

bergerak maupun tidak bergerak, baik yang sudahada maupun yang akan ada,

(31)

ini dapat dibatasi dengan jaminan khusus berupa benda tertentu yang

ditetapkan dalam perjanjian antara pihak-pihak.15

Menurut ketentuan Pasal 1234 KUH Perdata ada 3 (tiga) kemungkinan

wujud prestasi, yaitu :

1) Memberikan sesuatu

Dalam Pasal 1235 KUH Perdata, pengertian

memberikan sesuatu adalah menyerahkan kekuasaan

nyata atas suatu benda dari debitur kepada kreditur.

2) Berbuat sesuatu

Dalam perjanjian yang obyeknya ”berbuat sesuatu”, debitur wajib melakukan perbuatan tertentu yang telah

ditetapkan dalam perjanjian. Dalam melakukan perbuatan

itu debitur wajibmemenuhi semua ketentuan dalam

perjanjian. Debitur bertanggungjawab atas perbuatannya

yang tidak sesuai dengan ketentuan perjanjian.

3) Tidak berbuat sesuatu

Dalam perjanjian yang obyeknya ”tidak berbuat sesuatu”, debitur tidak melakukan perbuatan yang telah

ditetapkan dalam perjanjian. Apabila debitur berbuat

sesuatu yang berlawanan dengan perjanjian ini, ia harus

bertanggungjawab karena telah melanggar perjanjian

15

(32)

Sedangkan Wanprestasi adalah apabila debitur tidak melakukan apa yang

dijanjikannya, maka dikatakan ia melakukan wanprestasi16

Wanprestasi seorang debitur dapat berupa empat macam, yaitu :

1. tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilaksanakannya;

2. melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana yang

dijanjikan;

3. melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat;

4. melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh

dilakukannya.

Akibat wanprestasi ada empat macam akibat wanprestasi :

1. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur (ganti-rugi);

2. Pembatalan perjanjian;

3. Peralihan resiko;

4. Membayar biaya perkara, kalau sampai diperkarakan di depan

hakim.17

8. Berakhirnya Perjanjian

R. Setiawan menyebutkan bahwa perjanjian dapat berakhir karena hal – hal sebagai berikut:

1. Ditentukan oleh para pihak, perjanjian akan berlaku sampai

waktu tertentu.

16 R. Subekti, Op. cit. hlm. 45

17

(33)

2. Undang-undang telah memutuskan batas waktu berlakunya

perjanjian. Misalnya dalam Pasal 1066 ayat (3) KUHPerdata tentang

warisan, yang dikatakan bahwa para ahli waris boleh mengadakan

perjanjian untuk selama waktu tertentu tidak melakukan

pemecahan harta warisan. Dalam ayat (4) pasal tersebut

ditegaskan bahwa ketentuan waktu tersebut dibatasi hanya berlaku

untuk waktu 5 (lima) tahun.

3. Para pihak atau undang – undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya suatu peristiwa tertentu maka perjajian akan

hapus.

4. Pernyataan penghentian perjanjian (opzegging), dapat

dilaksanakan oleh kedua belah pihak atau salah satu pihak dan

hanya dalam perjanjian yang bersifat sementara. Misalnya dalam

perjanjian kerja

5. Perjanjian hapus karena putusan hakim.

6. Tujuan perjanjian telah tercapai.

7. Persetujuan para pihak untuk mengakhiri perjanjian yang telah

disepakati (herrorping).(R. Setiawan,1978: 68).

Suatu perjanjian dapat hapus selain atas persetujuan dari kedua

belah pihak, juga dapat hapus karena alasan-alasan yang oleh

Undang-Undang dinyatakan cukup untuk itu. Dalam prakteknya,

perjanjian hapus karena:

(34)

2) Adanya pembatalan oleh salah satu pihak terhadap perjanjian

3) Adanya salah satu pihak yang tidak memenuhi kewajiban

Adakalanya pihak yang melakukan perjanjian tidak melaksanakan

suatu perbuatan sesuai dengan isi perjanjian yang dibuatnya. Pihak

yang melaksanakan tersebut dinamakan wanprestasi.

Suatu perjanjian akan hapus apabila salah satu pihak melakukan

wanprestasi. Wanprestasi artinya tidak memenuhi kewajiban yang

telah ditetapkan dalam suatu perjanjian, yaitu kesengajaan atau

kelalaian, dan karena keadaan memaksa.

2 Tinjauan Umum Tentang Perjanjian Pinjam-meminjam

Perjanjian pinjam-meminjam uang menurut KUHPerdata pasal 1754 yang berbunyi

: Pinjam meminjam ialah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada

pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang habis karena pemakaian,

dengan syarat bahwa pihak yang terakhir ini akan mengembalikan sejumlah yang sama

dari macam dan keadaan yang sama pula.

Pasal 1 Angka 7 Peraturan pemerintah Nomor 9 Tahun 1995, menentukan:

“Pinjaman adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antar koperasi dengan

pihak lain yang mewajibkan pihak meminjam untuk melunasi hutangnya setelaha

jangka waktu tertentu disertai pembayaran sejumlah imbalan”.

(35)

kaitannya dengan kegiatan usaha kredit. Dalam pengertian yang luas kredit sebagai

suatu kepercayaan. Dalam bahasa Latin kredit berarti credere artinya percaya. Maksud

dari kepercayaan dari si pemberi kredit (koperasi) yaitu bahwa si penerima kredit yang

menerima kredit yang disalurkannya pasti akan mengembalikan sesuai dengan

perjanjian. Sedangkan bagi debitur merupakan penerimaan kepercayaan maka

mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai dengan jangka waktu.

Pengertian kredit menurut Undang-Undang Perbankan Nomor 10 tahun 1998 Pasal

1 ayat (1) adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu,

berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak

lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu

dengan pemberian bunga.

Berdasarkan pengertian kredit di atas, kredit adalah pemberian pinjaman dalam

jangka waktu tertentu yang telah ditetapkan oleh kreditur. Debitur melunasi pinjamannya

kepada kreditur, dengan cara mengembalikan uang pinjaman berdasarkan ketentuan

yang berlaku. Pihak-pihak dalam perjanjian pinjam meminjam, yaitu:

a. Pihak yang memberi pinjaman uang yang disebut pemberi kredit (kreditur)

b. Pihak yang menerima uang yang disebut penerima kredit (debitur).

Seperti yang dijelaskan diatas bahwa pemberian kredit merupakan

suatukepercayaan. Tanpa adanya keyakinan suatu lembaga kredit tidak akan ada

pemberian kredit, debitur akan mengembalikan pinjaman yang diterima sesuai dengan

jangka waktu sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Perjanjian kredit pada

umumnya dituangkan dalam bentuk dua jenis antara lain :

(36)

2) Perjanjian Kredit dengan Akta Notariil

1. Perjanjian kredit dibawah tangan

Perjanjian di bawah tangan adalah perjanjian yang sengaja dibuat oleh para pihak

untuk pembuktian tanpa bantuan dari seorang pejabat pembuat akta dengan kata lain

perjanjian di bawah tangan adalah perjanjian yang dimasukkan oleh para pihak sebagai

alat bukti, tetapi tidak dibuat oleh atau di hadapan pejabat umum pembuat akta.18

2. Perjanjian kredit dengan Akta notariil

Menurut S. J. Fockema Andreae, dalam bukunya “Rechts geleerdHandwoorddenboek”, kata akta itu berasal dari bahasa Latin “acta” memiliki

arti geschriftyaitu surat sedangkan menurut R. Subekti dan Tjitrosudibio dalam

bukunya Kamus Hukum, bahwa kata “acta” merupakan bentuk jamak dari kata

“actum” yang berasal dari bahasa Latin yang memiliki arti perbuatan-perbuatan.19

Akta autentik diatur dalam Pasal 165 HIR, yang bersamaan bunyinya dengan

Pasal 285 Rbg, yang berbunyi: “Akta autentik adalah suatu akta yang dibuat oleh atau di hadapan pejabat yang diberi wewenang untuk itu, merupakan bukti yang lengkap

antara para pihak dari para ahli warisnya dan mereka yang mendapat hak daripadanya

tentang yang tercantum di dalamnya dan bahkan sebagaipemberitahuan belaka,

akan tetapi yang terakhir ini hanya diberitahukan itu berhubungan langsung dengan

perihal pada akta itu.20

Pengertian Pasal 165 HIR jo Pasal 285 Rbg memiliki pengertian dan kekuatan

pembuktian akta autentik sekaligus. Pasal 1868 KUH Perdata mengatur tentang

18Viktor M. Situmorang dan Cormentyna Sitanggang, 2004, Grosse Akta Dalam Pembuktian dan Eksekusi, Jakarta ,Rineka Cipta, hlm. 36.

(37)

pengertian akta otentik, yang berbunyi: “suatu akta autentik adalah suatu akta yang dalam bentuk yang ditentukan oleh undang-undang, dibuat oleh atau di hadapan

pejabat umum yang berkuasa untuk itu di tempat akta itu dibuat. Pengertian dalam

Pasal 1868KUHPerdata akta otentik ialah suatu akta yang dibuat dalam bentuk

yang ditentukan undang-undang, dibuat oleh atau dihadapan pejabat umum yang

berkuasa untuk itu ditempat dimana akta dibuat”. Kekuatan pembuktian dari akta itu dapat dibedakan menjadi tiga, antara lain :

1. Kekuatan pembuktian lahir (Uitendige Bewijskracth)

Yang dimaksud dengan kekuatan pembuktian lahir ialah suatu surat

yang kelihatannya seperti akta, harus diperlakukan sebagai akta, hingga

dibuktikan sebaliknya. Akta otentik mempunyai kekuatan pembuktian lahir,

sesuai dengan asas “acta publica probant seseipsa”, yaitu satu akta yang

lahirnya tampak sebagai akta otentik, serta memenuhi syarat-syarat yang

ditentukan, maka akta tersebut harus dianggap sebagai akta otentik, kecuali

dapat dibuktikan sebaliknya.

Berbeda dengan akta otentik yang dibuat oleh pejabat yang berwenang,

tanda tangan pejabat itu merupakan jaminan otentisitas dari akta itu, oleh

karena itu memiliki kekuatan pembuktian lahir, sedangkan perjanjian di

bawah tangan tidak mempunyai kekuatan pembuktian lahir. Perjanjian di

bawah tangan baru berlaku sah, apabila yang menandantanganinya

mengakui kebenaran dari tanda tangannya tersebut, apabila tanda tangan

(38)

berlaku sebagai alat bukti sempurna bagipara pihak yang bersangkutan sesuai

ketentuan Pasal 1875 KUH Perdata.

2. Kekuatan pembuktian formil (Formil Bewijskracth)

Kekuatan pembuktian formal didasarkan pada pejabat pembuat akta

menyatakan dalam tulisan itu bahwa ada yang dinyatakan dalam akta itu

sebagaimana telah dicantumkan di dalamnya.21

Pada ambtelijke akten, pejabat yang berwenang membuat akta yang

menerangkan apa yang dikonstatir dan dituliskan dalam suatu akta, oleh

pejabat tersebut merupakan suatu kepastian bagi siapapun seperti mengenai

tanggal pembuatan, tempat pembuatan akta dan keterangan dalam akta itu.

Sedangkan partij akten menyatakan apapun yang tertulis diatas tanda tangan

para pihak bagi siapapun telah pasti sesuai denganyang tertulis di atas tanda

tangan para pihak tersebut.22

Kebenaran dari apa yang diterangkan oleh para pihak itu pada hakikatnya

hanya pasti antara mereka sendiri. Akta di bawah tangan baru mempunyai

kekuatan pembuktian formal, jika tanda tangan di bawah akta itu diakui atau

tidak disangkal kebenarannya. Dengan diakuinya keaslian tanda tangan pada

akta di bawah tangan, maka kekuatanpembuktian formal dari akta di

bawah tangan itu sama dengan kekuatan pembuktian formal dari akta otentik.

3. Kekuatan pembuktian materil (Materiele Bewijskracth).

Kekuatan pembuktian materil mengenai pemberian kepastian tentang

peristiwa bahwa pejabat dan para pihak melakukan seperti apa yang

(39)

diterangkan dalam akta, pembuktian materiil lebih menyangkut kepada

pembuktian materi suatu akta.23

Akta pejabat hanya membuktikan apa yang disaksikan, yakni yang

didengar, dilihat dan juga dilakukan sendiri oleh pejabat itu dalam menjalankan

jabatannya. Menurut undang-undang, Akta yang dibuat oleh para pihak

sebagai bukti yang sempurna bagi para pihak yang membuatnya dan pihak

ketiga yang mendapat hak darinya. Akta di bawah tangan, jika tanda tangan

di dalam akta itu tidak dimungkiri keasliannya sesuai dengan partij akten,

yaitu akta tersebut sebagai akta otentik yang memiliki kekuatan pembuktian

materil bagi para pihak yang menandatanganinya, ahli warisnya serta pihak

ketiga sesuai dengan yang ditentukan dalam Pasal 1875 KUH Perdata (Pasal

288 Rbg).

Perjanjian akad kredit yang dilakukan oleh koperasi adalah perjanjian

baku karena ditentukan oleh pihak koperasi sendiri.Sedangkan yang dimaksud

Kontrak baku adalah kontrak yang dibuat oleh salah satu pihak saja dan

dalam bentuk formulir yang berisikan klausula-klausula yang telah

ditentukan oleh salah satu pihak, pada umumnya para pihak hanya mengisi

data-data informatif saja.Pihak yang diberikan kontrak baku hanya dalam

posisi take it or leave it tidak adakesempatan untuk bernegosiasi.

Ciri perjanjian baku menurut Mariam Darus Badrulzaman ialah:24

23

Ibid, hlm. 119.

24H. Salim, 2004, Perkembangan Hukum Kontrak Di Luar KUH Perdata, Raja Grafindo Persada,

(40)

1. Terdorong oleh kebutuhannya debitur terpaksa menerima perjanjian

itu.

2. Bentuk tertentu (tertulis).

3. Masyarakat (debitur) sama sekali tidak ikut bersama-sama

menentukan isi perjanjian.

4. Dipersiapkan secara massal dan kolektif.

5. Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisi

(ekonominya) kuat.

Pada asas Kebebasan berkontrak, para pihak dapat mengatur isi

perjanjian selama tidak dilarang oleh undang-undang, kepatutan dan

yurisprudensi, dalam kontrak tersebut harus memenuhi syarat-syarat

sebagai berikut :

1. Memenuhi syarat sebagai kontrak

Suatu kontrak untuk mengikat kedua belah pihak, syarat-syarat

yang harus dipenuhi antara lain :25

a. Syarat sah umum terdiri dari:

1. Pasal 1320 KUHPerdata mengenai Syarat sah umum/

2. Syarat sah umum diluar Pasal 1338 dan 1339

KUHPerdata.

b. Syarat sah yang khusus terdiri dari:

25Munir Fuady, 2007, Hukum Kontrak (Buku Kedua), Citra Aditya Bakti, Bandung,hlm

(41)

1. Untuk kontrak tertentu diperlukan Syarat akta pejabat

tertentu (yang bukan notaris) ;

2. Syarat tertulis untuk kontrak-kontrak tertentu;

3. Syarat izin dari yang berwenang.

4. Syarat akta notaris untuk kontrak-kontrak tertentu;

2. Tidak dilarang oleh Undang-undang yaitu Tidak bertentangan

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

3. Sesuai dengan kebiasaan yang berlaku

Ketentuan Pasal 1339 KUHPerdata menentukan pula bahwa

suatu kontrak tidak hanya mengikat terhadap isi dari kontrak

tersebut, melainkan mengikatdengan hal-hal yang merupakan

kebiasaan.

4. Sepanjang kontrak tersebut dilaksanakan dengan itikad baik.

Menurut Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata suatu kontrak

haruslahdilaksanakan dengan itikad baik. Unsur itikad baik

dalam Pasal 1338 KUHPerdata bukan merupakan syarat

sahnya suatu kontrak tetapi disyaratkan dalam pelaksanaan

suatu kontrak, dengan adanya unsur itikad baik dalam suatu

kontrak sudah dapat dikatakan bahwa unsur dalam Pasal

1320 KUHPerdata tentang klausa yang legal telah terpenuhi.

Dapat dikatakan bahwa suatu kontrak telah dibuat secara sah

yaitu memenuhi syarat sahnya kontrak sesuai dengan Pasal 1320

(42)

dengan iktikad baik oleh para pihak tetapi dalam pelaksanaan

isi kontrak tersebut malah merugikan pihak yang

berkepentingan maka dapat dikatakan bahwa kontrak tersebut

telah dilaksanakan secara bertentangan dengan itikad baik.

Seperti halnya perjanjian pinjaman yang bersifat konsensuil, karena

perjanjian itu lahir sejak adanya kata sepakat antara kedua belah pihak

yaitu pihak peminjam (koperasi) dan pihak anggota koperasi. Dengan

adanya kata sepakat tersebut maka perjanjian pinjaman mengikat kedua

belah pihak, yaitu para pihak tidak dapat membatalkan perjanjian

pinjaman tanpa persetujuan pihak lainnya. Apabila perjanjian pinjaman

dibatalkan atau diputuskan secara sepihak maka pihak yang lain dapat

menuntut. Setelah uang yang menjadi objek yang diperjanjikan tersebut

telah diserahkan peminjaman dengan nyata kepada pihak anggota

koperasi. Pihak anggota koperasi harus atau mempunyai kewajiban untuk

mengembalikan pinjaman tepat waktu kepada pihak peminjaman

sesuai dengan kesepakatan yang ada dalam perjanjian. Selain bersifat

konsensual perjanjian pinjaman juga bersifat riil sebab harus diadakan

penyerahan atau dengan kata lain perjanjian tersebut baru dikatakan

mengikat apabila telah dilakukan kesepakatan kehendak dan telah

dilakukan penyerahan sekaligus antara kedua belah pihak yang

membuat perjanjian itu.

Mariam Darus Badrulzaman mengatakan, “Asas konsensualisme

(43)

untuk saling mengikatkan diri. Kemauan ini membangkitkan kepercayaan

(vertrouwen) bahwa perjanjian itu dipenuhi”. Asas konsensualisme mempunyai hubungan yang erat dengan asas kebebasan berkontrak

dan asas kekuatan mengikat yang terdapat dalam Pasal 1338 ayat (1)

KUH Perdata, yang menyatakan bahwa “Semua persetujuan yang

dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang

membuatnya”. Selanjutnya menurut Mariam Darus Badrulzaman, “Asaskebebasan berkontrak berhubungan kebebasan menentukan apa dan

dengan siapaperjanjian itu diadakan. Perjanjian yang dibuat oleh para

pihak harus sesuai dengan pasal 1320 KUHPerdata agar memiliki

kekuatan mengikat bagi para pihak.

Kredit merupakan salah satu jenis fasilitas yang diberikan koperasi simpan

pinjam kepada anggotanya untuk mengembangkan atau meningkatkan taraf

hidup anggota koperasi menjadi lebih baik. Menurut Arifin Sitio Jenis-jenis

kredit pada koperasi simpan pinjam antara lain :26

1. Kredit (Pinjaman) di Bawah Simpanan

Suatu fasilitas pinjaman atau kredit yang diberikan oleh koperasi

simpan pinjam dimana jumlah kredit yang diberikan adalah sebesar

90% nya dari simpanan wajib calon nasabah tersebut. Penggunaan

kredit (Pinjaman) dibawah simpanan biasanya digunakan untuk

biaya sekolah, biaya hidup, pembelian rumah, renovasi, biaya

pengobatan dan lain-lain.

(44)

2. Kredit (Pinjaman di Atas Simpanan)

Fasilitas pinjaman atau kredit koperasi simpan pinjam, jumlah

kredit yang diberikan sebesar lima kali dari jumlah simpanan wajib

calon nasabah tersebut dengan harus menggunakan jaminan.

Penggunaan kredit digunakan untuk permodalan, pembelian, dan hal

lain yang pengendaliannya cukup besar. Koperasi dalam

menjalankan usahanya memberikan Anggota koperasi yang

kekurangan modal pinjaman dari koperasi.

Koperasi pada umumnya memberikan kredit lunak kepada

anggotanya. Kredit lunak artinya pinjaman dengan bunga yang ringan.

Uang pinjaman tersebut dapat dipergunakan oleh anggota koperasi

untuk mendukung usahanya.Koperasi dalam menjalankan usahanya

berbeda dengan badan usaha lainnya. Tidak seperti badan usaha

lain, koperasi memiliki karakteristik antara lain:

1) Dalam koperasi yang lebih utama adalah anggota. Oleh sebab itu,

setiap anggota dianggap penting dalam koperasi Koperasi merupakan

kumpulan orang-orang, dan bukan kumpulan modal. Ini berbeda dengan

badan usaha yang lainnya. Bentuk usaha lainnya yang lebih

dipentingkan adalah modal.

2) Tidak ada anggota koperasi yang lebih tinggi. Sebaliknya, tidak

ada anggota koperasi yang lebih rendah. Kedudukan anggota dalam

koperasi sederajat atau setara (sama tinggi). Dengan kesetaraan

(45)

sama. Mereka bekerja bersama-sama dan melakukan tugas

masing-masing dengan hak yang sama.

3) Kegiatan koperasi Indonesia dilaksanakan atas kesadaran para

anggotanya, bukan karena paksaan. Kesadaran akan timbul dengan

sendirinya setalah merasakan keuntungan dari koperasi.

4) Tujuan Koperasi Indonesia adalah untuk meningkatkan kemakmuran

para anggotanya tujuan koperasi Indonesia merupakan kepentingan

bersama anggotanya.

Koperasi dalam menyalurkan dananya kepada masyarakat memiliki

tujuan yang berbeda dengan lembaga perbankan lainnya, dimana

koperasi lebih mengutamakan kesejahteraan anggotanya dan lebih

mengedepankan pada penyelesaian secara musyawarah mufakat.

3 Tinjauan Umum Tentang Jaminan Fidusia 1. Pengertian Jaminan Fidusia

Dalam ketentuan Pasal 1 butir1 Undang-undang No. 42 Tahun 1999 tentang

Jaminan Fidusia, disebutkan bahwa: ”Fidusia adalah pengalihan hak kepemilikan

suatu benda atas dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak

kepemilikannya dialihkan tersebut tetap dalam pengusaan pemilik benda.”

Jaminan fidusia dituangkan dalam bentuk perjanjian. Biasanya dalam

(46)

debitor harus menyerahkan barang-barang tertentu sebagai jaminan pelunasan

utangnya.27

Dalam ketentuan Pasal 1 butir 2 Undang-undang Nomor 42 Tahun 1999

tentang Jaminan Fidusia disebutkan bahwa : ”Jaminan Fidusia adalah hak jaminan

atas benda brgerakbaik yang berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda

tidak bergerak khususnya bangunan yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.

Dari pengertian di atas, dapat diketahui unsur-unsur jaminan fidusia

meliputi adanya hak jaminan; adanya obyek, yaitu benda bergerak baik yang

berwujud maupun yang tidak berwujud dan benda tidak bergerak, khususnya

bangunan yang tidak dapatdibebani hak tanggungan; benda yang menjadi obyek

jaminan tetap berada dalam penguasaan pemberi fidusia; dan memberikan

kedudukan yang diutamakan kepada penerima fidusia.

Pengertian fidusia Menurut A. Hamzah dan Senjun Manulang, yaitu Suatu

cara pengoperan hak milik dari pemiliknya (Debitur) berdasarkan adanya

perjanjian pokok (perjanjian utang piutang) kepada kreditur, akan tetapi yang

diserahkan hanya haknya saja secara juridische levering dan hanya dimiliki oleh

kreditor secara kepercayaan saja (sebagai jaminan utang Debitur), sedangkan

barangnya tetap dikuasai oleh Debitur, tetapi bukan lagi sebagai eigenaar

(penguasa benda untuk diri sendiri yang diperoleh secara sah) maupun bezitter

(penguasa benda untuk diri sendiri yang diperoleh secara cacat), melainkan hanya

sebagai detentor (penguasa benda untuk orang lain) atau hauder dan atas

nama kreditor eigenaar (definisi ini didasarkan konstruksi hukum adat, karena

27Oey Hoey Tiong, Fidusia sebagai Jaminan Unsur-unsur Perikatan, Jakarta : Ghalia Indonesia,

(47)

istilahyang digunakan adalah pengoperan,pengoperan diartikan sebagai suatu

proses atau cara mengalihkan hak milik kepada orang lain).28

Menurut Tan Kamelo terdapat 13 asas hukum jaminan fidusia antara lain :

1. kreditur penerima fidusia berkedudukan sebagai kreditur yang

diutamakan dari kreditur lainnya (Asas Preferensi).

2. Asas jaminan fidusia mengikuti benda menjadi objek jaminan

fidusia dalam tangan siapapun benda tersebut berada.

3. Asas jaminan fidusia ialah perjanjian ikutan dari perjanjian pokoknya

yang disebut perjanjian accesoir

4. Asas jaminan fidusia dapat dilekatkan utang yang baru akan

ada(kontinjen)

5. Asas jaminan fidusia dapat dibebankan atas bangunan atau rumah

yang terdapat diatas tanah milik orang lain (asas pemisahan horizontal).

6. Asas bahwa jaminan fidusia harus didaftarkan ke kantor pendaftaran

fidusia(asas publicitas)

7. Asas jaminan fidusia dibebankan terhadap benda yang akan ada.

8. Asas jaminan fidusia berisikan uraian detail terhadap subjek dan

objek jaminan fidusia

9. Asas benda yang dijadikan jaminan fidusia tidak dapat dimiliki

oleh penerima jaminan fidusia, walaupun hal tersebut telah

diperjanjikan sebelumnya.

(48)

10.Asas pemberi jaminan fidusia (debitur) memiliki kewenangan atas

objek jaminan fidusia. Kewenangan hukum tersebut wajib ada saat

jaminan fidusia didaftarkan.

11.Asas ektikad baik dari pemberi jaminan fidusia yang tetap

menguasai benda jaminan.

12.Asas hak prioritas terhadap kreditur penerima fidusia yang

mendaftarkanterlebih dahulu jaminan fidusia ke kantor pendaftaran

fidusia.

13.Asas jaminan fidusia mudah dieksekusi dikarenakan sertifikat

jaminan fidusia mencantumkan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa” yang mempunyai kekuatan hukum yang

sama dengan putusan pengadilan yang memiliki kekuatan hukum yang

tetap.29

Perjanjian Jaminan Fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu

perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk memenuhi

prestasi.30

2. Subyek dan Obyek Jaminan Fidusia

Ruang Lingkup berlakunya undang-undang jaminan fidusia menurut Pasal

2 UUJF yang menyatakan bahwa “Undang-Undang ini berlaku terhadap setiap

perjanjian fidusia yang bertujuan untuk membebani jaminan fidusia”. Sedangkan

29Tan Kamelo, 2006, Hukum Jaminan Fidusia Suatu Kebutuhan Yang Didambakan,

Bandung, Alumni, hlm 161-170.

(49)

Yang dapat menjadi subyek atau para pihak dari jaminan fidusia adalah orang

perorangan atau korporasi.31

Menurut Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 Tentang Jaminan fidusia

objek jaminan fidusia diberikan pengertian yang lebih luas antara lain :

1. Benda bergerak yang berwujud;

2. Benda tidak bergerak yang tidak dapat dibebani hak tanggungan.

3. Benda bergerak yang tidak berwujud;

Dalam Pasal 1 Angka (4) UUJF diberikan batasan yang menjadi objek

Jaminan Fidusia antara lain:

a. Benda tersebut harus dapat dialihkan dan dimiliki secara hukum;

b. Benda berwujud dan benda tidak berwujud

c. Benda tidak bergerak yang tidak dijaminkan dengan Hak

Tanggungan (HT).

d. Benda yang sudah ada dan Benda yang akan ada

e. Hasil benda yang menjadi Obyek Fidusia

f. Klaim Asuransi dari Obyek Fidusia

g. Benda Persediaan (Inventory/Stock Perdagangan).32

Dalam ketentuan Pasal 3 UUJF menegaskan mengenai Undang-Undang

ini tidak berlaku terhadap :

31Djaja S. Meliala, 2007, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Benda Dan Hukum Perikatan,Bandung CV. Nuansa Aulia, hlm 67.

32Arikanti Natakusumah, Pemahaman Terhadap Akta Perjanjian Kredit,

(50)

1. Hak Tanggungan yang berkaitan dengan tanah dan bangunan,

sepanjang peraturan perundang-undangan yang berlaku menentukan

jaminan atas benda-benda tersebut wajib didaftar.

2. Hipotek atas kapal yang terdaftar dengan isi kotor berukuran 20M

atau lebih;

3. Hipotek atas pesawat terbang dan;

4. Gadai.

3. Sifat-sifat Jaminan Fidusia:

Undang-Undang Jaminan Fidusia menentukan sifat-sifat jaminan fidusia

antara lain:

a. Jaminan Fidusia memiliki sifat accessoir (ada tidaknya fidusia

bergantung dari ada tidaknya perjanjian pokok, misalnya perjanjian

kredit)Sebagaimana tertuang dalam Pasal 4 UUJF yang menegaskan

bahwa “jaminan fidusia merupakan perjanjian ikutan dari suatu

perjanjian pokok yang menimbulkan kewajiban bagi para pihak untuk

memenuhi suatu prestasi”. Prestasi sebagaimana dalam Pasal 1234 KUHPerdata berupa berbuat sesuatu, memberikan sesuatu atau tidak

berbuat sesuatu. Sifat accesoir dari jaminan fidusia memberikan

akibat hukum antara lain :

1. Jaminan fidusia menjadi hapus dengan sendirinya karena

hukum, apabila perjanjian pokoknya itu berakhir atau karena

sebab lainnya yang menyebabkan perjanjian pokoknya menjadi

(51)

2. Fidusia yang menjaminnya karena hukum beralih pula kepada

penerima fidusia yang baru dengan dialihkannya perjanjian

pokoknya kepada pihak lain;

3. Fidusia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari atau

selalu melekat pada perjanjian pokoknya, karena itu hapusnya

fidusia tidak menyebabkan hapusnya perjanjian pokok.33

Sebagai suatu perjanjian yang bersifat accesoir, jaminan fidusia memiliki

sifat antara lain :

1. Sifat perjanjian ikutan terhadap perjanjian pokok;

2. Keabsahannya ditentukan oleh sah tidaknya perjanjian pokok;

3. Sebagai perjanjian yang memiliki syarat, maka dapat dilaksanakan

apabila ketentuan yang disyaratkan dalam perjanjian pokok telah

dipenuhi.34

b. Perjanjian fidusia merupakan perjanjian obligatoir

Sebagaimana ketentuan dalam Pasal 1 angka (2) Undang-Undang

Nomor 42 Tahun 1999 tentang jaminan fidusia jaminan fidusia

merupakan agunan yang bersifat kebendaan yang memberikan

kedudukan yang diutamakan atau didahulukan dari penerima fidusia

(kreditur) lainnya. Sebagai hak kebendaan,dengan sendirinya sifat

dan ciri-ciri hak kebendaan melekat pada jaminan fidusia.Oleh karena

33Rachmandi Usman, 2001, Aspek-AspekHukum Perbankan Indonesia, Jakarta, PT. Gramedia

Pustaka Utama, hlm.165

34Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani, 2007, Jaminan Fidusia, Jakarta, PT Raja Grafindo

Referensi

Dokumen terkait

Bahwa Kepemimpinan Paternalistik berupa menganggap bawahan sebagai manusia yang tidak atau belum dewasa atau anak sendiri yang perlu dikembangkan, bersikap terlalu melindungi

Kemudian kesimpulan secara keseluruhan berkaitan dengan indikator ini dapat dipahami bahwa ketaatan pada aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini panitia

Gambar 5.14Adegan Rawbertemu dengan dua orang pemuda (Sumber: Screenshot film RAW).. Adegan ini bertujuan untuk menimbulkan rasa “duga” kepada penonton bahwa pelaku bom

Pengendalian kualitas penting untuk dilakukan oleh perusahaan agar produk yang dihasilkan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan, memperbaiki serta meningkatkan kualitas

Dari hasil output komputer dengan paket SPSS, memberikan deskriptif data total faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi penurunan pergerakan indeks harga saham gabungan di Bursa

Vprašali so se, kaj se zgodi, če peti postulat zanikamo: Skozi

Dari Gambar 7 dapat dilihat bahwa penurunan konsentrasi Al pada minggu kelima hingga kedelapan pola penurunanya sudah tidak beraturan lagi dikarenakan Eh tanah

Pada umumnya saluran pipa terletak dibawah permukaan tanah, bisa mengalir dengan berat sendiri dan bisa juga dengan tekanan.. Saluran pipa digunakan untuk