Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran Dan Standar Program Siaran (Studi Analisis Isi Pada Kasus Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran Dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website Kpi.Go.Id)

156 

Teks penuh

(1)

KECENDERUNGAN PELANGGARAN PEDOMAN

PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM

SIARAN

(STUDI ANALISIS ISI PADA KASUS PELANGGARAN

PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR

PROGRAM SIARAN MEDIA TELEVISI YANG DIMUAT DI

WEBSITE KPI.GO.ID)

SKRIPSI

RISA RISKAYANTI

110904006

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

KECENDERUNGAN PELANGGARAN PEDOMAN

PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM

SIARAN

(STUDI ANALISIS ISI PADA KASUS PELANGGARAN

PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR

PROGRAM SIARAN MEDIA TELEVISI YANG DIMUAT DI

WEBSITE KPI.GO.ID)

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Program Strata I (S1) pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

RISA RISKAYANTI

110904006

DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

(3)

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh:

Nama : Risa Riskayanti NIM : 110904006

Departemen : Ilmu Komunikasi (Jurnalistik)

Judul : KECENDERUNGAN PELANGGARAN PEDOMAN

PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM SIARAN

(STUDI ANALISIS ISI PADA KASUS PELANGGARAN PEDOMAN PERILAKU PENYIARAN DAN STANDAR PROGRAM SIARAN MEDIA TELEVISI YANG DIMUAT DI WEBSITE KPI.GO.ID)

Medan, 24Maret 2015

Dosen Pembimbing Ketua Departemen

SyafruddinPohan, M.Si, Ph.D.

NIP. 195812051989031002 NIP. 196208281987012001 Dra. Fatma Wardy Lubis, M.A

Dekan

(4)

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh:

Nama : Risa Riskayanti

NIM : 110904006

Departemen : Ilmu Komunikasi

Judul Skripsi : Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Prgram Siaran

(Studi Analisis Isi Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website kpi.go.id

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Ilmu Komunikasi pada Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

MajelisPenguji

KetuaPenguji : (………..)

Penguji : (………..)

PengujiUtama : (………..)

Ditetapkandi :

(5)
(6)

ABSTRAK

Penelitianiniberjudul “Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website kpi.go.id” Sebuah stud ianalisisisi kasus pelanggaran yang dimuat dalam website KPI, terhitung dari bulan juli sampai dengan desember tahun 2014.Kasus pelanggaran ini dianalisis berdasarkan penggolongan data yang akan dikelompokkan menjadi penggolongan berdasarkan program acara faktua dan non-faktua, stasiun televisi, pasal dan sanksi pelanggaran., dan kemudian digunakan untuk melihat adanya kecenderungan media televisidalam melakukan pelanggarn pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran.Dalam website kpi.go.id telah dimuat kasus-kasus pelanggaran televisi dan telah di deskripsikan pelanggaran dan pasal yang dilanggar.. Metodepenelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan paradigm positivis dan pisau analisis Eriyanto. Melalui analisis tersebut, dapat dilihat kecenderungan pelanggaran P3SPS yang dilakukan media televisi berdasarkan program acara, sanksi dan pasal. Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan pelanggaran P3SPS oleh media televisi melalui program acara dan adanya kecenderungan pelanggaran terhadap pasal tertentu yang dilakukan oleh media televisi.

(7)

ABSTRACT

This study, entitled "Code of Conduct violation Trends Broadcasting and Media Television Program Standard The Loaded In Website kpi.go.id" A content analysis study of offenses contained in the IEC website, starting from the month of July through December 2014. The infringement case analyzed based on the classification of the data to be grouped into programs factual and non-factual, television, art and sanctions for violations, and then used to see the tendency of television media in breach of broadcasting code of conduct and standards of broadcast program. In kpi.go.id website has published a case - television rights cases and has been described violations and violated article. The method used is descriptive quantitative and positivist paradigm knife isi.Melalui analysis of the analysis, it can be seen tendency P3SPS violations committed by the television media program, sanctions and articles. The conclusion from this study is the tendency of violation P3SPS by television media through programs and the tendency of certain violations of the article carried by the television media.

(8)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri, semua sumbe rbaik yang dikutip maupun dirujuk telah saya cantumkan sumbernya dengan benar. Jika dikemudian

hari saya terbukti melakukan pelanggaran (plagiat) maka saya bersedia diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Nama: Risa Riskayanti NIM: 110904006 TandaTangan: …………..

(9)

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai civitas akademik Universitas Sumatera Utara, saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : Risa Riskayanti NIM : 110904006 Departemen : IlmuKomunikasi

Fakultas : IlmuSosialdanIlmuPolitik Universitas : Universitas Sumatera Utara JenisKarya : Skripsi

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Sumatera Utara Hak BebasRoyalti Non Ekslusif (Non-ekslusive Royalty-Free Right) ataskarya ilmiah saya yang berjudul:

Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (Studi AnalisisIsi Pada Kasus Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website kpi.go.id) Beserta perangkat yang ada. Dengan Hak BebasRoyalti Non ekslusif ini Universitas Sumatera Utara berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkalan data (database), merawat dan mempublikasikan tugas akhir saya tanpa meminta izin dari saya selama tetap menyantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik HakCipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

(10)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat rahmat dan hidayah-Nyalah saya dapat menyelesaikan skripsi ini hingga akhir.Shalawat beriring salam juga takhenti-hentinya saya haturkan kepada Junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa pengetahuan di dunia yang fana ini sehingga sedikitnya saya bias merasakan dan mengamalkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan guna menggapai kesempurnaan baik di dunia maupun akhirat kelak. Amin.

Skripsi ini merupakan karya ilmiah yang disusun sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul “Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi (Studi Analisis Isi Pada Kasus Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Yang Dimuat Di Website kpi.go.id

Penulis mengucapkan terimakasih yang luar biasa dan paling istimewa untuk kedua orang tua. Skripsi ini saya persembahkan untuk ayahanda tercinta (Alm) Azhari Marzuki dan Ibunda tercinta (Almh) Yuniar Ahmad, yang sudah mendidik, membesarkan, dan memberikan yang terbaik dalam hidup saya serta telah membangun kepercayaan diri saya dengan membentuk karakter saya menjadi anak yang kuat dalam menghadapi apapun.

)

Terimakasih juga saya sampaikan kepada kedua Ibu Angkat saya Dr. Murniawati Lubis dan Fauziah Ahmad yang selalu mendukung penulis dan memberikan masukan serta arahan untuk penulis. Skripsi ini juga saya persembahkan untuk keluarga besarsaya yang sudah memberikan segenap cinta dan kasih sayangnya sehingga saya bias meyelesaikan skripsi ini dengan baik.

Pada kesempatan ini, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang membantu dalam penyelesaian skripsi ini, dan secara khusus saya mengucapkan terimakasih kepada:

1. Bapak Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D selaku dosen pembimbing yang telah bersedia menyediakan waktu dan tenaga yang secara ikhlas untuk membimbing dan memberidukungan kepada saya dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Ibu Dra. Fatma Wardi Lubis, MA selaku Ketua Departemen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.

3. Seluruh Dosen Departemen Ilmu Komunikasi yang telah memberikan ilmu yang sangat berharga bagi penulis selama masa perkuliahan.

(11)

5. Terimakasih untuk para senior saya di FISIP USU, kak Dewi Lestar, S.Sos, kak Sri Fusanti S.Sos, kak Mita Novianty, S.Sos, kak Ayu Pratiwi. 6. Terimakasih pula untuk keluarga besar Gian Production, bang Herman

Delta, Aldo, bang Anggi, Pudan, Kris yang sudah menjadi partner saya dan membantu saya untuk belajar.

7. Terimakasih untuk seluruh keluarga besar Lingkar Club Diskusi, yang telah memberikan dukungan, dan kepercayaan kepada saya untuk menjadi anggota, sahabat diskusi, kordinator sekaligus keluarga bagian dari teman – teman semuanya.

8. Kepada seluruh pengurus imajinasi periode 2012 sd 2013 dan pengurus imajinasi periode 2013 sd 2014, saya ucapkan terimakasih untuk kerjasamanya dalam kepengurusan imajinasi dan terimakasih untuk teman – teman yang sudah mempercayakan saya untuk menjadi pengurus imajinasi selama dua periode.

9. Terimakasih juga saya ucapkan kepada rekan – rekan saya di devisi fotografi jurnalistik imajinasi FISIP USU, Nurhasanah, Angel, Yustri, Ray dan Kevin yang sudah bekerja keras untuk melaksanakan progja devisifotjur. Saya selaku ketua devisi merasa sangat bangga dan bersyuku rmemiliki tim seperti kalian di fotjur, karena kalian benar – benar dapat diandalkan dan tidak perlu penggarahan atau harus disuruh terlebih dahulu untuk menggerjakan sesuatu.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kesempurnaan, maka dari itu diperlukan saran dan kritik yang membangun. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi rekan-rekan mahasiswa dan semua pihak yang membutuhkannya.

Medan,24 Maret 2015

Hormat Saya

(12)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN

HALAMAN PENGESAHAN

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS KATA PENGANTAR ... iii

PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ... iv

KATA PENGANTAR ... v

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR TABEL ... ix

BAB I PENDAHULUAN 1.1.LatarBelakangMasalah ... 1

1.2.Perumusan Masalah... 5

1.3.Pembatasan Masalah... 6

1.4.TujuanPenelitian ... 6

1.5.ManfaatPenelitian ... 6

1.5.1 Manfaat Teoritis... 6

1.5.2 Manfaat Praktis... 7

BAB II PARADIGMA DAN TEORI KOMUNIKASI 2.1. Kajian Terdahulu ... 8

2.2. Paradigma Penelitian... ... 12

2.3. Kerangka Teori... ... 13

2.3.1.Teori Struktural Fungsional ... 13

2.3.2. Teori Normatif... ... 15

2.3.3. Analisis Isi ... 16

2.3.4. Komunikasi Massa ... 18

2.3.5. Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa... .. 20

2.3.6. Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran... 22

2.4. Kerangka Konsep ... 25

(13)

2.3. Model Teoritis... ... 33

2.4. Operasionalisasi Konsep ... 34

2.5. Definisi Operasionalisasi Konsep ... 35

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. MetodePenelitian ... 38

3.2. Populasi dan Sampel ... 39

3.3. Teknik Penarikan Sampel ... 39

3.4. Teknik Pengumpulan Data ... 40

3.5. Pengolahan dan Analisi Data ... 41

3.5.1. Pengolahan ... 41

3.5.2. Analisis Data ... 41

3.6. Jadwal Kegiatan... ... 42

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Program Acara... ... 44

4.2. Stasiun Televisi ... 62

4.3. Jenis Pelanggaran ... 71

4.4. Pasal dan Sanksi ... 84

4.4.1. Penggolongan Berdasarkan Sanksi ... 84

4.4.2. Penggolongan Berdasarkan Pasal ... 89

4.5. Analisis Data ... 92

4.5.1. Analisis Data Acara Faktual dan Non Faktul ... 92

4.5.2. Analisis Data Yang Terjadi Di Bulan Juli ... 94

4.5.3. Analisis Data Yang Terjadi Di Bulan Agustus ... 104

4.5.4. Analisis Data Yang Terjadi Di Bulan September ... 107

4.5.5. Analisis Data Yang Terjadi Di Bulan Oktober ... 119

4.5.6 Analisis Data Yang Terjadi Di Bulan November... 123

4.5.7. Analisis Data Yang Terjadi Di Bulan Desember ... 128

(14)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ... 132

5.2. Saran ... 134

DAFTAR PUSTAKA ...

(15)

DAFTAR TABEL

2.1. TabelOperasionalisasi Konsep ... 34

3.1. Populasi Kasus Pelanggaran P3SPS Tahun 2014 ... 39

4.1. Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Progran Acara ... 44

4.2. Jumlah Kasus Pelanggaran Program Acara Faktual Pada

Bulan Juli-Desember Tahun 2014 ... 45

4.3. Jumlah Kasus Pelanggaran Program Acara Non-Faktual Pada

Bulan Juli-Desember Tahun 2014 ... 47

4.4. Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi... ... 49

4.5. Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

RCTI Berdasarkan Acara ... 51

4.6. Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

RCTI Berdasarkan Acara ... 53

4.7. Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

ANTV Berdasarkan Acara ... 54

4.8 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

TRANS TV Berdasarkan Acara ... 55

4.9 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

TRANS 7 Berdasarkan Acara ... 56

4.10 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

TVRI Berdasarkan Acara ... 57

4.11 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

METRO TV Berdasarkan Acara ... 58

4.12 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi TV

ONE Berdasarkan Acara ... 58

4.13 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

GLOBAL TV Berdasarkan Acara ... 59

4.14 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

MNC Berdasarkan Acara... 60

4.15 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi

INDOSIAR Berdasarkan Acara ... 61

4.16 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi NET

(16)

4.17 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi RCTI Pada Bulan

Juli-Desember 2014 ... 62

4.18 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi SCTV Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 63

4.19 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi ANTV Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 64

4.20 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi TRANS TV Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 65

4.21 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi TRANS 7 Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 66

4.22 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi TVRI Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 66

4.23 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi METRO TVPada Bulan Juli-Desember 2014 ... 67

4.24 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi TV ONE Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 67

4.25 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi GLOBAL TV Pada Bulan Juli-Desember 20146 ... 68

4.26 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi MNC Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 69

4.27 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi INDOSIAR Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 69

428 Jumlah Pelanggaran Stasiun Televisi NET TV Pada Bulan Juli-Desember 2014 ... 70

4.29 Jenis Pelanggaran Stasiun Televisi Bulan Juli 2014 ... 71

4.30 Jenis Pelanggaran Stasiun Televisi Bulan Agustus 2014 ... 74

4.31 Jenis Pelanggaran Stasiun Televisi Bulan September 2014 ... 76

4.32 Jenis Pelanggaran Stasiun Televisi Bulan Oktober 2014 ... 79

4.33 Jenis Pelanggaran Stasiun Televisi Bulan November 2014 ... 81

4.34 Jenis Pelanggaran Stasiun Televisi Bulan Desember 2014 ... 83

4.35 Jumlah Pemberian Sanksi Administratif Bulan Juli-Desember 2014 ... 85

4.36 Jumlah Pemberian Sanksi Administratif Stasiun Televisi Bulan Juli-Desember 2014 ... 86

(17)

ABSTRAK

Penelitianiniberjudul “Kecenderungan Pelanggaran Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Media Televisi Yang Dimuat Di Website kpi.go.id” Sebuah stud ianalisisisi kasus pelanggaran yang dimuat dalam website KPI, terhitung dari bulan juli sampai dengan desember tahun 2014.Kasus pelanggaran ini dianalisis berdasarkan penggolongan data yang akan dikelompokkan menjadi penggolongan berdasarkan program acara faktua dan non-faktua, stasiun televisi, pasal dan sanksi pelanggaran., dan kemudian digunakan untuk melihat adanya kecenderungan media televisidalam melakukan pelanggarn pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran.Dalam website kpi.go.id telah dimuat kasus-kasus pelanggaran televisi dan telah di deskripsikan pelanggaran dan pasal yang dilanggar.. Metodepenelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan paradigm positivis dan pisau analisis Eriyanto. Melalui analisis tersebut, dapat dilihat kecenderungan pelanggaran P3SPS yang dilakukan media televisi berdasarkan program acara, sanksi dan pasal. Kesimpulan yang di dapat dari penelitian ini adalah adanya kecenderungan pelanggaran P3SPS oleh media televisi melalui program acara dan adanya kecenderungan pelanggaran terhadap pasal tertentu yang dilakukan oleh media televisi.

(18)

ABSTRACT

This study, entitled "Code of Conduct violation Trends Broadcasting and Media Television Program Standard The Loaded In Website kpi.go.id" A content analysis study of offenses contained in the IEC website, starting from the month of July through December 2014. The infringement case analyzed based on the classification of the data to be grouped into programs factual and non-factual, television, art and sanctions for violations, and then used to see the tendency of television media in breach of broadcasting code of conduct and standards of broadcast program. In kpi.go.id website has published a case - television rights cases and has been described violations and violated article. The method used is descriptive quantitative and positivist paradigm knife isi.Melalui analysis of the analysis, it can be seen tendency P3SPS violations committed by the television media program, sanctions and articles. The conclusion from this study is the tendency of violation P3SPS by television media through programs and the tendency of certain violations of the article carried by the television media.

(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perubahan dan perkembangan yang terjadi pada bidang teknologi komunikasi dan informasi saat ini, telah membawa dampak terhadap dunia penyiaran, termasuk dunia penyiaran di indonesia. Dimana perkembangan media komunikasi modren dewasa ini telah memungkinkan orang diseluruh dunia untuk saling berkomunikasi. Hal ini dimungkinkan karena adanya berbagai media (channel) yang dapat digunakan sebagai sarana penyaimpaian pesan.

Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa yakni surat kabar, majalah, radio, televisi dan film. Menurut Elizabeth Noello-Neuman (1973) dalam Rakhmat (2011 : 90), ada empat tanda pokok komunikasi massa yaitu :

1. Bersifat tidak langsung, artinya harus melalui media teknis

2. Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi antara peserta-peserta komunikasi (para komunikan)

3. Bersifat terbuka, artinya diajukan kepada publik yang tidak terbatas dan anonim

4. Mempunyai publik yang secara geografis tersebar.

Media penyiaran, yaitu radio dan televisi merupakan salah satu bentuk media massa yang dianggap sebagai sarana penyampaian pesan yang efisien untuk mencapai audiens dalam jumlah yang sangat banyak. Sehingga media massa memegang peranan yang sangat penting dalam ilmu komunikasi, khusunya dalam komunikasi massa (Morissan, 2008 : 13).

Penyiaran sebagai penyalur informasi dan pembentukan opini publik memiliki peran yang sangat strategis terutama dalam mengembangkan kehidupan demokrasi. Dimana rakyat memiliki hak untuk mengontrol kekuasaan agar tidak terjadi penyalah gunaan kekuasaan. Pengontrolan tersebut bersangkutan dengan hajat hidup orang banyak sehingga harus diinformasikan dan diketahui secara terbuka dan bebas oleh publik.

(20)

bernama Paul Nipkov. Saat ini bisa dikatakan bahwa televisilah yang menjadi media komunikasi massa paling populer. Secara teknis televisi dapat diartikan sebagai sebuah alat penangkap siaran bergambar.

Istilah televisi (television) merupakan suatu kata yang berasal dari gabungan kata tele (bahasa Yunani) yang artinya jauh dan vision (bahasa latin Videra) yang artinya melihat/memandang. Jadi secara harfiah televisi berarti memandang peristiwa dari jauh dalam waktu yang bersamaan (Sofiah, 1993 : 47)

Merujuk kepada undang-undang Penyiaran nomor 32 tahun 2002, dimana kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggung jawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaraan menggunakan hak berdasarkan Pancasila dan Undang- undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dalam dunia penyiaran tidak hanya sebatas pada penyiaran, tetapi juga berkaitan erat dengan siaran, lembaga penyiaran dan program siaran. Dimana masing-masing elemen dalam penyiaran tersebut dapat di definisikan berlandaskan Undang -Undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002, yaitu:

a. Penyiaran merupakan pemancarluasan siaran melalui sarana pemancara dan atau sarana trasmisi di darat, di laut atau di antariksa dengan menggunakan spektrum frekuensi radio melalui udara, kabel, dan atau media lainnya untuk dapat diterima secara serentak dan bersamaan oleh masyarakat dengan perangkat penerima siaran.

b. Siaran adalah pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, atau suara dan gambar atau yang berbentuk grafis, karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang dapat diterima melalui perangkat penerima siaran. Semua di produksi oleh lembaga penyiaran swasta maupun negeri.

(21)

menghasilkan program-program siaran yang bermanfaat kepada sasaran konsumen.

d. Program siaran adalah program yang berisi pesan atau rangkaian pesan dalam bentuk suara, gambar, suara dan gambar, atau yang berbentuk grafis, atau karakter, baik yang bersifat interaktif maupun tidak, yang disiarkan oleh lembaga penyiaran.

Negara Indonesia merupakan negara yang berlandakan hukum dimana semua telah diatur pada perundang-undangan dengan bertujuan sebuah institusi lembaga penyiaran mengikuti kaidah yang ada untuk menciptakan keteraturan dan menjauhkan hal yang tidak mengikuti kaidah yang ada untuk menciptakan keteraturan dan menjauhkan hal yang tidak diinginkan.

Dalam penyelenggaraan penyiaran tentunya tidak terlepas dari kaidah-kaidah umum penyelenggaraan telekomunikasi yang berlaku secara universal. Penyiaran mempunyai kaitan erat dengan spektum frekuensi radio dan orbit satelit

geostasioner yang merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga pemanfaatan perlu diatur secara efektif dan efisien.

Siaran yang dipancarkan dan diterima secara bersamaan, serentak dan bebas, memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan pendapat, sikap, dan perilaku khalayak, maka penyelenggara penyiaran wajib bertanggung jawab dalam menjaga nilai moral, tata susila, budaya, kepribadian dan kesatuan bangsa yang berlandaskan kepada ketuhanan Yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Maraknya perindustrian penyiaran di tanah air, sehingga diperlukan adanya sebuah peraturan untuk menyelenggarakan penyiaran dan menghasilkan kualitas siaran serta mengawasi penyelenggaraan penyiaran yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, Maka dibuatlah sebuah peraturan perundang-undangan yang dimuat dalam buku Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) Standar Pedoman Siaran (SPS) yang disah kan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) oleh lembaga negara independen pada tahun 2002.

(22)

integrasi nasional, terbinanya watak dan jati diri bangsa yang beriman dan bertakwa, mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dalam rangka membangun masyarakat yang mandiri, demokrasi, adil dan sejahtera.

P3SPS ditetapkan agar lembaga penyiaran dapat menjalankan fungsinya sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, control, perangkat sosial dan pemersatu bangsa. Standar program siaran ini sendiri diarahkan agar program siaran dapat menjunjung tinggi dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan negara kesatuan republik indonesia, meningkatkan kesadaran dan ketaatan terhadap hukum dan segenap peraturan perundang-undangan yang berlaku di indonesia, menjunjung tinggi norma dan nilai agama dan budaya bangsa yang muktitural, menghormati dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan hak-hak kepentingan publik, hak-hak-hak-hak kelompok masyarakat minoritas.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai lembanga independen negara yang mengawasi, menetapkan dan mengatur penyiaran melalui P3SPS memiliki eksistensi sebagai bagian dari wujud peran serta masyarakat dalam hal penyiaran, baik sebagai wadah aspirasi maupun mewakili kepentingan masyarakat ( UU no. 32,Pasal 8, Ayat 1). KPI memiliki kewenangan menyusun dan mengawasi berbagai peraturan penyiaran yang menghubungkan antara lembaga penyiaran, pemerintah dan masyarakat.

Kecenderungan adanya pelanggaran yang dibuat media massa, khusunya media televisi soalah tidak mengindahkan kaidah-kaidah yang telah di berlakukan oleh KPI melalui P3SPS sebagaimana yang telah dimuat dan di sahkan sebagai pedoman dalam penyelenggaran penyiaran. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir telah terjadi pelanggaran lebih dari 200 kasus pelanggaran yang di muat dalam situs Komisi Penyiaran Indonesia melalui website kpi.go.id

Peranan KPI dalam mengawasi berbagai peraturan penyiaran yang mencakup semua proses kegiatan penyiaran, mulai dari tahap pendirian, operasionalisasi, pertanggungjawaban dan evaluasi. Selain itu KPI memiliki kewenangan terkait dengan kewenangan yudisial dan yustisial karena terjadinya pelanggaran yang oleh undang-undang penyiaran dikategorikan sebagai tindak

(23)

pidana. KPI juga berhubungan dengan masyarakat dalam menampung dan menindaklanjuti segenap bentuk apresiasi masyarakat terhadap lembaga penyiaran maupun terhadap dunia penyiaran pada umumnya.

Adanya pelanggaran terhadap P3SPS menjadi tanggung jawab KPI untuk menegur maupun memberikan sanksi terhadap media massa yang melakukan pelanggaran. KPI berkewajiban untuk menampung aspirasi masyarakat dalam menyampaikan pendapat terhadap siaran yang ditampilkan di media massa, dan masyarakat berhak untuk menyampaikan pendapatnya terhadap siaran ataupun pemberitaan di media massa, khusunya televisi yang dianggap mengandung unsur-unsur tertentu seperti siaran yang tidak mendidik, adanya unsur kekerasan, SARA, dan lainya.

KPI menampung aspirasi dan pengaduan dari masyarakat dan menindak lanjuti dengan melihat keriteria pelanggaran yang dilakukan dan memberikan sanksi atau teguran sesuai dengan kasus pelanggaran yang dilakukan dengan parameter P3SPS sebagai bahan pertimbangan untuk mengukur pelanggran yang telah terjadi. Kasus-kasus pelanggaran yang telah terjadi tersebut akan dimuat di website resmi KPI dan telah di deskripsikan secara jelas sangsi yang diberikan dan pelanggaran yang dilakukan. Banyaknya kasus pelanggaran yang dimuat pada website kpi.go.id seolah menjadi sebuah fenomena tersendiri sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian pada website kpi.go.id.

Banyaknya nama stasiun televisi di indonesia yang tercantuh dalam website kpi.go.id sebagai media yang melakukan pelanggaran, peneliti tertarik untuk mengangkat judul skripsi “kecenderungan pelanggaran pedoman perilaku penyiaran dan stadar program siaran di media televisi”. Karakteristik televisi yang memiliki jangkauan siar luas dan dapat memberikan efek yang besar pula menjadi daya tarik untuk diteleti. Dimana peneliti ingin melihat bentuk dari pelanggaran yang terjadi pada media televisi dan pasal yang paling sering dilanggar.

1.2 Perumusan Masalah

(24)

1.3 Pembatasan Masalah

Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas, maka peneliti membatasi masalah yang akan diteliti. Adapun pembatasan masalahnya yaitu :

1. Penelitan ini bersifat deskriptif, yaitu hanya memaparkan bentuk-bentuk pelanggaran yang dilakukan oleh media televisi berdasarkan jenis program, dan sanksi yang diberikan. Tidak menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi.

2. Penelitian dilakukan dengan menganalisis sampel kasus pelanggaran siaran televisi berdasarkan waktu pelanggaran yang dimuat pada website kpi.go.id terhitung pada bulan Juli-Desember 2014.

1.4 Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan dan agar penelitian ini memiliki arah yang lebih jelas maka perlu ditetapkan beberapa tujuan sebagai berikut :

1. Mengetahui kecenderungan pelanggaran penyiaran program faktual dan non faktual yang terjadi di media televisi.

2. Mengetahui stasiun televisi yang paling sering melakukan pelanggaran. 3. Mengetahui kecenderungan pasal dalam P3SPS yang sering dilanggar

oleh media televisi.

4. Mengetahui sangsi yang di berikan oleh KPI terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh media televisi.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun yang menjadi manfaat penelitian ini adalah :

1.5.1 Manfaat Teoritis

(25)

1.5.2 Manfaat Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan pemikiran bagi masyarakat tentang pemahaman terhadap kecenderungan pelanggaran P3SPS dalam tayangan media televisi agar dapat tercipta lingkungan yang memiliki kesadaran melek media (media literacy).

b. Hasil penelitian ini di harapkan dapat memberikan kesadaran dan pemahaman agar masyarakat dapat menilai secara kritis tayangan yang dimuat ditelevisi.

(26)

BAB II

PARADIGMA DAN TEORI KOMUNIKASI

2.1.Kajian Terdahulu

Penulis Yanita Petriella (090903774) / Ilmu Komunikasi / Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Pembimbing Drs. Mario Antonius Birowo, MA., Ph.D

Judul Pedoman Perilaku Peyiaran dan Standar Program Siaran Dalam Pemberitaan Bencana Banjir Di Televisi (Studi Analisi Isi Evaluasi Pemberitaan Bencana Banjir DKI Jakarta dan Sekitarnya Periode 10 Januari hingga 6 Februari 2013 di Metro Tv)

Metode Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisi isi evaluatif yang bertujuan untuk melihat bagaimana P3SPS diterapkan pada peristiwa bencana

(27)

Penulis Tiro Ramadhani (L100080102) / Ilmu Komunikasi / Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing Fajar Junaedi, S.Sos., M. Si dan Rinasari Kusuma, S.Sos., M.I.Kom

Judul Kekerasan dan Pornomedia Dalam Komedi Pesbukers (Analisis Isi Kekerasan dan Pornomedia dalam Tayangan Televisi pada Program Acara Komedi Pesbukers di ANTV periode Bulan Juni 2012)

Metode Penelitian ini adalah penelitian deskripif kuantitatif yang menggunakan pendekatan studi analisis isi

Hasil Terdapat dua jenis kekerasan yakni fisik dan psikologis, serta tiga jenis pornomedia yakni pornografi, pornosuara dan pornoaksi.

Kemunculan variabel kekerasan sebanyak 602 adegan (27,6%) dan pornomedia sebanyak 320 adegan (14,7%). Frekuensi kekerasan terdiri dari 262 adegan (43,5%), kekerasan fisik dan psikologi 340 adegan (56,5%), frekuensi porno media yang terdiri dari pornografi sebanyak 226 adegan (70.6%), pornosuara 65 adegan (20,3%), pornoaksi 29 adegan (9,1%). Jumlah durasi adegan kekerasan sebanyak 3.331 detik dari keseluruhan durasi 19 jam 19 menit 37 detik. Serta sebanyak 72 baba dari 104 detik.

Kecenderungan dalam melakukan adegan kekerasan dilakukan pemeran pria sebanyak 363 kemunculan (76,9%), dan pemeran wanita 139 kemunculan (23,1%) dari keseluruhan variabel pornomedia.

(28)

Penulis Fakhril Fattah (44107010188) / Ilmu Komunikasi (Broadcasting) / Universitas Mercu Buana

Pembimbing Dadan Anugrah, M.Si

Judul Penerapan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) pada Tayangan Primitive Runaway di Trans Tv (Analisis Isi Tayangan Primitive Runaway Periode Desember 2010)

Metode Analisis isi dengan pendekatan deskriptif kuantitatif

Hasil Tayangan Primitive Runaway pada periode Desember 2010 tidak seluruhnya menerapkan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Hal ini menunjukan bahwa tayangan Primitive Runaway cenderung mengantung tindakan-tindakan (baik secara visual maupun narasi) yang mengarah pada merendahkan dan melecehkan suku tertentu dalam tayangannya.

Penulis Irma Agita (44108010076) / Ilmu Komunikasi / Universitas Mercu

Buana

Pembimbing Afdal Makkuraga Putra, S.Sos, M.Si

Judul Penerapan Pasal-Pasal Jurnalistik Pada P3SPS Terhadap program

Intens di RCTI (Analisis Isi Periode Desember 2011)

Metode Penelitian ini adalah penelitian deskripif kuantitatif yang

menggunakan pendekatan studi analisis isi

Hasil Ditemukan banyak pelanggaran pasal-pasal jurnalistik pada P3SPS.

(29)

Penulis Wasis Triantoro (44109120025) / Jurnalistik / Universitas Mercu Buana

Pembimbing Dicky Andika, M.Si

Judul Strategi Editor Dalam Memenuhi P3SPS dan Kode Etik Jurnalistik pada Program Jurnal Siang di Berita Satu Tv Periode Bulan Juni 2012

Metode Analisi isi dengan pendekatan deskriptif kuantitatif

Hasil Penelitian ini menemukan bahwa Program Jurnal Siang di BeritaSatu Tv telah sesuai dengan ketentuan pasal 23, 24, dan 25 P3SPS yang mengatur mengenai batasan dan larangan penayangan adegan-adegan kekerasan, adegan yang ada gambar berdarah, tidak menampilkan secara detail peristiwa kekerasan, seperti : tauran, pengeroyokan, penyiksaan, perang, penusukan, penyembelihan, mutilasi, terorisme, pengerusakan barang-barang secara kasar atau ganas, pembacokan, penembakan, dan/atau bunuh diri , serta mengatur tentang pelanggaran menampilkan adegan yang mengandung kata-kata atau ungkapan-ungkapan kasar atau makian-makian.

(30)

2.2. Paradigma Penelitian

Positivisme sebagai salah satu aliran filsafat yang bebas nilai dikembangkan mulai abad ke 19

1. Positivisme Sosial

Dikemukakan oleh Hendry Sain Simon dan Aguste Comte. Paham ini menyakini bahwa kehidupan sosial hanya dapat di capai melalui penerapan ilmu-ilmu positif.

2. Positivisme Evolusioner

Dikemukakan oleh Charles Lyell, Charles Darwin, Herbert Spencer, Wilhem Wundt, Ernst Hackel. Positivisme evolusioner meyakini interaksi manusia-semesta sebagai penentu kemajuan.

3. Positivisme Logis

Dikemukakan oleh Rudolph Carnapp, Alfred Ayer, Wittgnestein. Paham ini lebih memfokuskan diri pada logika dan bahasa ilmiah. Prinsip yang diyakini paham ini adalah ISOMORFI yaitu adanya hubungan mutlak antara bahasa dan dunia nyata.

Positivis berarti apa yang berdasarkan pada faktor objektif. Asumsi dasar positivisme tentang realitas adalah tunggal, dalam artian bahwa fenomena alam dan tingkah laku manusia itu terkait oleh tertib hukum. Fokus kajian positivisme adalah peristiwa sebab-akibat (kausalitas).

Dalam hal ini, positivisme menyebutkan ada dua jalan untuk mengetahui : 1. Verifikasi langsung melalui data pengindera (empirikal).

2. Penemuan lewat logika (rasional)

Positivisme mempunyai selogan yang terkenal yaitu “savoir pour prevoir, prevoir pour pouvoir” yang artinya dari ilmu muncul prediksi, dan dari prediksi muncul aksi.

Ide pokok positivisme menurut Kincaid :

(31)

2. Ada satu jenis metode ilmiah yang berlaku secara umum, untuk segala bidang atau disiplin ilmu, yakni metode penelitian ilmiah yang lazim digunakan dalam ilmu alam.

3. Pandangan-pandangan metafisika tidak dapat diterima sebagai ilmu, tetapi sekedar merupakan pseudoscientific.

Kebenaran yang dianut positivisme dalam mencari kebenaran adalah teori korespondensi. Teori korespondensi menyebutkan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika terdapat fakta-fakta empiris yang mendukung pernyataan tersebut. atau dengan kata lain suatu pernyataan dianggap benar apabila materi yang terkandung dalam pernyataan tersebut bersesuaian (korespondensi) dengan obyek faktual yang ditunjuk oleh pernyataan tersebut.

Komponen-komponen pokok teori dan metodologi positivis adalah : 1. Metode penelitian : kuantitatif

2. Sifat metode positivisme adalah objektif 3. Penalaran : deduktif

4. Hipotetik.

2.3. Kerangka Teori

Kerangka teori adalah suatu kumpulan teori dan model dari literatur yang menjelaskan hubungan dalam masalahtertentu. Dalam kerangka teori, teori secara logis dikembangkan, digambarkan, dan dielaborasi jaringan-jaringan dari asosiasi antara variabel-variable yang diidentifikasi melalui survei atau telaah literatur (Silalahi, 2009:92).

Fungsi teori dalam sebuah riset atau penelitian adalah untuk membantu peneliti menjelaskan fenomena sosial atau fenomena yang dialami menjadi pusat perhatian. Teori adalah himpunan konstruk (konsep), definisi, dan persepsi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala tersebut (Kriyantono, 2006:43).

Adapun teori-teori yang dianggap relevan dengan penelitian ini adalah :

(32)

Arti Struktur mengacu pada pengulangan aktivitas atau prilaku anggota masyarakat yang telah diorganisasikan dan Arti Fungsi mengacu pada sumbangan dari sebagian bentuk perulangan aktivitas prilaku anggota suatu masyarakat dalam menangani (mempertahankan) stabilitas atau keseimbangan masyarakat. Struktural fungsional adalah sebuah teori yang menjelaskan berbagai kegiatan yang melembaga (institutionalized) dalam kaitannya dengan kebutuhan masyarakat.

Masyarakat dilihat sebagai sebuah sistem yang terdiri dari beberapa bagian yang saling berkaitan atau sub sistem. Setiap sub sistem tersebut memiliki peran yang berarti. Salah satu sub sistem tersebut adalah media. Media diharapkan dapat menjamin integrasi ke dalam ketertiban dan memiliki kemampuan memberikan respon terhadap kemungkinan baru yang didasarkan pada realitas yang sebenarnya.

Pokok-pokok perspektif fungsionalisme struktural adalah:

- Masyarakat dapat diartikan sebagai suatu sistem yang didalamnya memiliki subsistem-subsistem sebagai unsur yang saling berhubungan. - Masyarakat secara alamiah cenderung mengarah pada suatu keseimbangan

yang dinamis.

- Seluruh perulangan aktivitas atau perilaku dalam suatu masyarakat memberikan konstribusi kearah terbentuknya suatu keadaan yang seimbang.

- Hanya ada nenerapa bagian kecil dari perulangan aktivitas maupun pola perilaku dalam suatu masyarakat yang nampaknya tidak dapat dihindari, karena itu maka dalam suatu masyarakat ada fungsi yang harus menjadi syarat mutlak sebagai penunjang seluruh sistem kalau dalam keadaan yang keritis karena tanpa itu sistem akan terganggu (Robert K. Merton).

(33)

- Menyajikan kerangka berfikir untuk membalas hubungan antara media massa dengan masyarakat dan seperangkat konsep yang sulit untuk diganti.

- Membantu memahami kegiatan utama media dalam kaitannya dengan beberapa aspek struktur dan proses sosial.

- Menciptakan jembatan antara pengamatan empiris tentang institusi media dengan teori normatif yang membahas peran yang seharusnya dibawakan oleh media.

Fungsi media dalam masyarakat:

- Informasi : menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dan dunia, menunjukan hubungan kekuasaan, memudahkan inovasi, adaptasi dan kemajuan.

- Korelasi : menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa dan informasi. Menunjang otoritas dan norma-norma yang mapan. Melakukan sosialisasi. Mengkoordinasikan beberapa kegiatan. Membentuk kesepakatan.

- Kesinambungan : mengekspresikan budaya dominan dan mengakui keberadaan kebudayaan yang khusus serta perkembangan budaya baru. Meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai.

- Hiburan : menyediakan hiburan, pengalihan perhatian dan sarana relaksasi. Meredakan ketegangan sosial.

- Mobilisasi : mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, pembangunan ekonomi, pekerjaan dan kadang kala juga dalam bidang agama

2.3.2. Teori Normatif

(34)

adalah bahwa media biasa digunakan untuk menghasilkan dampak yang direncanakan (intended effect) yang dianggap positif.

Berbicara tentang teori normatif, maka rujukannya adalah gagasan mengenai hak dan kewajiban yang mendasari harapan akan munculnya hal-hal baik yang dilakukan oleh media bagi masyarakat. Teori normatif media memiliki dua sumber, yaitu :

1. Sumber Internal

Sumber internal berasal dari konteks historis bahwa media dalam masyarakat modren memiliki peran dan relasi yang kuat dengan lembaga politik, dan juga memiliki kemampuan untuk menciptakan opini publik.

2. Sumber Eksternal

Sumber eksternal adalah harapan dari khalayak, bahwa media dan khalayak (termasuk pengiklan) diikat oleh sebuah relasi ekonomi. Sehingga ada tuntutan eksternal agar media bertindak normatif sesuai dengan perjanjian tertentu.

2.3.3. Analisis Isi

Analisis isi (content analysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi. Analisis isi adalah teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang dapat ditiru (replicable), dan salih data dengan memperhatikan konteksnya. Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi. Logika dasar komunikasi bahwa setiap komunikasi selalu berisi pesan dalam sinyal komunikasinya itu, baik berupa verba maupun nonverba.

(35)

dari keseluruhan studi empirik, yaitu penelitian sosioantropologis (27,7 persen), komunikasi umum (25,9%), dan ilmu politik (21,5%).

Ada beberapa bentuk klasifikasi dalam analisis isi. Janis menjelaskan klasifikasi sebagai berikut :

1. Analisis Isi Pragmatis, dimana klasifikasi dilakukan terhadap tanda menurut sebab akibatnya yang mungkin.

2. Analisis Isi Semantik, dilakukan untuk mengklasifikasikan : tanda menurut maknanya. Analisis ini terbagi menjadi tiga :

a. Analisis Penunjuk (designation), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu (benda, orang, kelompok atau konsep) dirujuk

b. Analisis Penyifatan (attributions), menggambarkan frekuensi seberapa sering karakteristik dirujuk (misalnya referensi kepada ketidak jujuran).

c. Analisis Pernyataan (assertions), menggambarkan frekuensi seberapa sering objek tertentu dikarakteristikan secara khusu. Analisis ini secara kasar disubut anlisis tematik.

3. Analisis Sarana Tanda (sign-vechile), dilakukan untuk mengklasifikasi isi pesan melalui sifat psikofisik dari tanda, misalnya berapa kali suatu kata muncul.

Analisis isi sering digunakan dalam analisis-analisis verifikasi. Cara kerja atau logika analisis data ini sesungguhnya sama dengan kebanyakan analisis data kuantitatif. Peneliti memulai analisisnya dengan menggunakan lambang-lambang tertentu, mengklasifikasikan data tersebut dengan kriteria-kriteria tertentu dengan teknik analisis yang tertentu pula.

Analisis isi tidak dapat diberlakukan pada semua penelitian sosial. Analisis isi dapat dipergunakan jika memiliki syarat berikut.

1. Data yang tersedia sebagian besar terdiri dari bahan-bahan yang terdokumentasi (buku, surat kabar, pita rekaman, naskah/manuscript). 2. Ada keterangan pelengkap atau kerangka teori tertentu yang menerangkan

(36)

3. Peneliti memiliki kemampuan teknis untuk mengolah bahan-bahan/data-data yang dikumpulkannya karena sebagian dokumentasi tersebut bersifat sangat khas/spesifik.

2.3.4. Komunikasi Massa

Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan oleh para ahli komunikasi. Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa yakni media cetak dan elektronik (Nurudin, 2011:3-4). Menurut Rakhmat (2011 : 90) definisi yang paling sederhana dari komunikasi massa adalah yang dirumuskan Bitner (1980), yaitu “Mass Communication is messages communicated through a mass medium to a large number of peopel” (komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa kepada sejumlah besar orang).

Berdasarkan definisi tersebut, dapat diartikan bahwa komunikasi massa merujuk pada “pesan”, namun menurut Wiriyanto (2000:10) “komunikasi massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi”. Komunikasi massa dapat diartikan sebagai proses komunikasi yang berlangsung dimana pesannya dikirim dari sumber yang melembaga kepada khalayak yang sifatnya massal melalui alat-alat yang bersifat mekanis seperti radio, televisi dan film (Cangara, 2002 : 36).

Sastropoetra (1990 : 12 ) mendefinisikan ciri komunikasi massa sebagai berikut : 1. Komunikasi ditujukan kepada massa atau orang banyak sebagai

komunikasi.

2. Komunikasi dilakukan serentak.

3. Komunikasi merupakan suatu original lembaga atau orang yang dilembagakan.

4. Pesannya bersifat umum.

5. Media yang digunakan adalah media massa artinya bisa menjagkau sekaligus banyak orang.

(37)

Elizabeth Noelle-Neuman (1973) dalam Rakhmat (20011 : 92) menyebutkan empat tanda pokok dari komunikasi massa, yaitu :

- Bersifat tidak langsung, artinya harus melewati media teknis (teknologi media). Komunikasi massa mengharuskan adanya media massa dalam prosesnya, hal ini dikaranakan teknologi yang membuat komunikasi massa dapat terjadi. Dapat dibayangkan bahwa tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi massa tanpa bantuan media massa (teknologi), bahkan bila ia berteriak sekencang-kencangnya.

- Bersifat satu arah, artinya tidak ada interaksi anatara peserta-peserta komunikasi. Dalam istilah komunikasi, reaksi khalayak yang dijadikan masukan untuk proses komunikasi berikutnya disebut umpan balik (feedback). Namun dalam sistem komunikasi massa, komunikator sukar menyesuaikan pesannya dengan reaksi komunikan (khalayak luas dalam hal ini). komunikasi bersifat irreversible, yang artinya ketika sudah terjadi tidak dapat diputar balik (diulang). Begitu juga halnya dengan komunikasi massa. Sebuah informasi yang telah disebarkan, tidak dapat diputar ulang seperti membuat air menjadi es, kemudian membuat es menjadi air kembali. Dalam komunikasi massa, publik atau khalayak hanya menjadi penerima informasi. Pada saat komunikasi massa dilakukan, khalayak tidak dapat langsung memberikan feedback untuk mempengaruhi pemberi informasi, dalam hal ini untuk aliran komunikasi sepenuhnya diatur oleh komunikator. Namun demikian, dalam komunikasi massa masih terdapat kemungkinan adanya siaran ulang, yaitu memutar ulang tayangan yang sama dalam televisi atau radio.

- Bersifat terbuka, artinya ditujukan pada publik yang tidak terbatas dan anonim. Komunikasi dengan media massa memungkinkan komunikator untuk menyampaikan pesan kepada publik yang tidak terbatas jumlahnya, siapapun dan berapapun orangnya selama mereka memiliki alat penerima (media) siaran tersebut.

(38)

mereka berada. Oleh karena itu, lewat media massa seseorang atau sekelompok orang dapat melakukan persuasi kepada banyak orang diberbagai tempat dengan efisien.

Komunikasi massa menyiarkan informasi, gagasan dan sikap kepada komunikan yang beragam dalam jumlah yang banyak dengan menggunakan media. Komunikasi massa diharapkan dapat memberikan efek kepada penerimanya. Wilbur Schramm dalam bukunya “How Communication Works” dalam Wiryanto (2000 : 15) menggolongkan efek komunikasi massa ke dalam efek yang bersifat khusus dan efek yang bersifat umum :

1. Efek Umum

Efek umum menyangkut efek yang paling mendasar yang diharapkan dapat terjadi akibat pesan-pesan yang disiarkan melalui media massa. 2. Efek Khusus

Efek khusus menyangkut suatu ramalan tentang efek yang diperkirakan akan timbul pada individu-individu dalam suatu mass audience pada perilaku mereka dalam menerima pesan-pesan di media massa.

2.3.5. Televisi Sebagai Media Komunikasi Massa

Media massa merupakan saluran atau media yang dipergunakan untuk mengadakan komunikasi dengan massa. Yang termasuk media massa disini adalah televisi, surat kabar, majalah, radio dan film. Media massa dapat digolongkan sebagai media elektronik dan media cetak yang keseluruhan sering juga disebut pers.

Istilah televisi terdiri dari “tele” yang berarti jauh dan “visi” (vision) yang berarti penglihatan. Televisi adalah salah satu bentuk media komunikasi massa yang selain mempunyai daya tarik yang kuat, disebabkan unsur – unsur kata, musik dan sound effect, juga memiliki keunggulan yaitu visual berupa gambar hidup yang dapat menimbulkan pesan mendalam bagi pemirsanya (Effendy, 2003 : 192).

(39)

Sedangkan kekurangan dari media massa elektronik ini adalah berbagai macam informasi yang disajikan hanya bersifat sekilas saja. Dalam arti bahwa yang muncul pada pesawat televisi tidak dapat dikaji ulang, berbeda dengan pesan-pesan media cetak.

Menurut sosiolog Marshall McLuhan, kehadiran televisi membuat dunia menjadi “Desa Global” yaitu suatu masyarakat dunia yang batasnya diterobos oleh media televisi (Kuswandi, 1996 : 20).

Adapun ciri-ciri televisi antara lain adalah (Effendy, 2003 : 21 ) 1. Berlangsung satu arah.

2. Komunikasi melembaga. 3. Pesan bersifat umum.

4. Sasarannya menimbulkan keserempakan. 5. Komunikanyan bersifat heterogen.

Televisi merupakan media komunikasi massa karena memenuhi unsur-unsur yang terdiri dari sumber (sorce), pesan (message), saluran (channel), penerima (receiver) serta efek (effect) (Wiriyanto, 2000: 67). Komunikasi massa televisi ialah proses komunikasi antar komunikator dengan komunikan (massa) melalui sebuah sarana, yaitu televisi.

Televisi adalah salah satu media dalam komunikasi. Dalam semua media komunikasi yang ada, televisilah yang paling berpengaruh pada kehidupan manusia (Ardianto dkk, 2004 : 125). Televisi merupakan media yang paling banyak menarik perhatian komunikan karena kelebihannya yang mempu menyatukan unsur audio visual sekaligus. Televisi memiliki keuntungan atas pesanya yang bisa dilihat serta didengar dalam waktu yang bersamaan (Suhandang, 2005 : 89).

(40)

tujuan khalayak, sasaran, serta akan mengakibatkan umpan balik, baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.3.6. Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran

Penyiaran sebagai penyalur informasi dan pembentuk pendapat umum, perannya sangat sentris terutama dalam mengembangkan alam demokrasi di negara Indonesia. Oleh karena itu ditetapkanlah undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran dengan total XII BAB pokok pembahasan dan 64 pasal, untuk menjadi dasar dalam menyelenggarakan penyiaran dan menghasilkan kualitas siaran di Indonesia.

Pembentukan undang-undang nomor 32 tahun 2002 tidak terlepas dari undang-undang dasar tahun 1945, undang-undang nomor 8 tahun 1992 tentang perfilman, undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat, undang-undang nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen, undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, undang-undang nomor 36 tahun 1999 tentang telekomunikasi, undang-undang nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers, dan undang-undang nomor 19 tahun 2002 tentang hak cipta.

Undang-undang nomor 32 tahun 2002, disusun berdasarkan pokok-pokok pemikiran sebagai berikut :

a. Penyiaran harus mampu menjamin dan melindungi kebebasan berekspresi atau mengeluarkan pikiran secara lisan dan tulisan, termasuk menjamin kebebasan berkreasi dengan bertumpu pada asas keadilan, demokrasi, dan supermasi hukum.

b. Penyiaran harus mencerminkan keadilan dan demokrasi dengan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban masyarakat ataupun pemerintah, termasuk hak asasi setiap individu/orang dengan menghormati dan tidak mengganggu hak individu/orang lain.

(41)

d. Mengantisipasi perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, khususnya di bidang penyiaran, seperti teknologi digital, kompresi, komputerisasi, televisi kabel, satelit, internet, dan bentuk – bentuk khusus lain dalam penyelenggaraan siaran.

e. Lebih memberdayakan masyarakat untuk melakukan kontrol sosial dan berpartisipasi dalam memajukan penyiaran nasional, untuk itu dibentuk komisi penyiaran indonesia yang menampung aspirasi masyarakat dan mewakili kepentingan publik akan penyiaran.

f. Penyiaran berkaitan erat dengan spektum frekuensi radio dan orbit satelit

geostasioner yang merupakan sumber daya alam yang terbatas sehingga pemanfaatannya perlu diatur secara efektif dan efisien.

g. Pengembangan penyiaran diarahkan pada terciptanya siaran yang berkualitas, bermartabat, mampu menyerap, dan merefleksikan aspirasi masyarakat yang beraneka ragam, untuk meningkatkan daya tangkal masyarakat terhadap pengaruh buruk nilai budaya asing.

Sebagaimana yang ditetapkan dalam undang-undang penyiaran, pada BAB II mengenai Asas, Tujuan, Fungsi dan Arah, telah diatur dalam pasal-pasal berikut:

Pasal 2

Penyiaran diselenggarakan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, keberagaman, kemitraan, etika, kemandirian, kebebasan, dan tanggung jawab.

Pasal 3

(42)

Pasal 4

(1) Penyiaran sebagai kegiatan komunikasi massa mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekatan sosial.

(2) Dalam menjalankan fungsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), penyiaran juga mempunyai fungsi ekonomi dan kebudayaan.

Pasal 5

Penyiaran diarahkan untuk :

(1)Menjunjung tinggi pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

(2)Menjaga dan meningkatkan moralitas dan nilai-nilai agama serta jati diri bangsa;

(3)Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia;

(4)Menjaga dan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa; (5)Meningkatkan kesadaran ketaatan hukum dan disiplin nasional;

(6)Menyalurkan pendapat umum serta mendorong peran aktif masyarakat dalam pembangunan nasional dan daerah serta melestarikan lingkungan hidup;

(7)Mencegah monopoli kepemilikan dan mendukung persaingan yang sehat di bidang penyiaran;

(8)Mendorong peningkatan kemampuan perekonomian rakyat, mewujudkan pemerataan, dan memperkuat daya saing bangsa dalam era globalisai;

(9)Memberikan informasi yang benar, seimbang, dan bertanggung jawab; (10) Memajukan kebudayaan nasional.

(43)

2.4. Kerangka Konsep

Konsep adalah generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang sama yang dapat dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama (Bungin, 2011:148). Konsep menggambarkan suatu fenomena secara abstrak yang dibentuk dengan jalan membuat generalisasi terhadap sesuatu yang khas (Nazir, 2008:17).

Kerangka adalah hasil pemikiran yang rasional merupakan uraian yang bersifat kritis dan memperkirakan kemungkinan hasil penelitian yang dicapai (Nawawi, 2001:40). Kerangka pemikiran menggambarkan bagaimana suatu permasalahkan penelitian dijabarkan.

Adapun yang menjadi kerangka konsep dalam penelitian ini yaitu :

2.4.1. Komisi Penyiaran Indonesia

Dalam undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran disebutkan Komisi Penyiaran Indonesia adalah lembaga negara yang bersifat independen yang ada di psat dan di daerah yang tugas dan wewenangnya diatur dalam undang-undang ini sebagai wujud peran serta masyarakat di bidang penyiaran.

BAB III Penyelenggaraan Penyiaran dalam undang-undang penyiaran nomor 32 tahun 2002, bagian kedua, menjelaskan tentang Komisi Penyiaran Indonesia.

Pasal 7

1. Komisi penyiaran sebagaimana dimaksud dalam pasal 6 ayat (4) disebut Komisi Penyiaran Indonesia, disingkat KPI.

2. KPI sebagai lembaga negara yang bersifat independen mengatur hal-hal mengenai penyiaran.

3. KPI terdiri atas KPI pusat dibentuk di tingkat pusat dan KPI daerah dibentuk ditingkat provinsi.

(44)

Pasal 8

1. KPI sebagai wujud peran serta masyarakat berfungsi mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran. 2. Dalam menjalankan fungsinya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1),

KPI mempunyai wewenang:

(1)menetapkan standar program siaran

(2)menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran.

(3) mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran.

(4) memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran (5) melakukan koordinasi dan / atau kerjasama dengan

pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat. 3. KPI mempunyai tugas dan kewajiban :

(1) menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia

(2) ikut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaran (3) ikut membangun iklim persaingan yang sehat antar

lembaga penyiaran dan industri terkait

(4) memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang

(5) menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sang-gahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penye-lenggaraan penyiaran dan

(6) menyusun perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang menjamin profesionalitas dibidang penyiaran.

(45)

2.4.2. Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran Tahun 2012

Pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran ini pada dasarnya dirancang berdasarkan amanat yang diberikan undang-undang Republik Indonesia No. 32/2002 tentang penyiaran kepada Komisi Penyiaran Indonesia. Dalam pasal 8 UU tersebut dinyatakan bahwa Komisi Penyiaran Indonesia memiliki wewenang menetapkan Standar Program Siaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran, serta memberikan sanksi terhadap pelanggaranStandar dan Pedoman tersebut

Pedoman perilaku penyiaran merupakan panduan tentang batasan-batasan mengenai apa yang dipebolehkan dan atau tidak diperbolehkan berlangsung dalam proses pembuatan program siaran, sedangkan standar program siaran merupakan panduan tentang batasan apa yang diperbolehkan dan atau yang tidak diperbolehkan ditayangkan dalam program siaran.

Penetapan P3SPS berdasarkan pada nilai-nilai agama, moral, norma-norma lain yang berlaku dan diterima oleh masyarakat umum, berbagai kode etik, standar profesional dan pedoman perilaku yang dikembangkan masyarakat penyiaran, serta peraturan perundangan yang berlaku, misalnya undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran, undang-undang nomor 8 tahun 1992 tentang perfilman, undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang pers, dan kitab undang-undang hukum pidana.

P3SPS ini pada dasarnya dirancang dengan merujuk pada sarangkaian prinsip dasar yang harus diikuti setiap lembaga penyiaran di Indonesia, Yakni :

1. Lembaga penyiaran wajib taat dan patuh hukum terhadap segenap peraturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

2. Lembaga penyiaran wajib menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan Negara Republik Indonesia.

3. Lembaga penyiaran wajib menjunjung tinggi norma dan nilai agama dan budaya bangsa yang multikultural.

4. Lembaga penyiaran wajib menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia dan hak privasi

(46)

6. Lembaga penyiaran wajib melindungi kehidupan anak-anak, remaja, dan kaum perempuan.

7. Lembaga penyiaran wajib melindungi kaum yang tidak diuntungkan. 8. Lembaga penyiaran wajib melindungi publikdari kebodohan dan

kejahatan.

9. Lembaga penyiaran wajib menumbuhkan demokratisasi.

Sebagaimana diamanatkan dalam pasal 48 (4) UU penyiaran, dinyatakan pula bahwa P3SPS yang sekurang-kurangnya berkaitan dengan :

1. Rasa hormat terhadap pandangan kagamaan. 2. Rasa hormat terhadap hal pribadi.

3. Kesopanan, dan kesusilaan.

4. Pelarangan dan pembatasan adegan seks, kekerasan, dan sadisme,. 5. Perlindungan terhadap anak-anak, remaja, dan perempuan.

6. Penggolongan program menurut usia khalayak. 7. Penyiaran program dalam bahasa asing

8. Ketepatan dan kenetralan program berita. 9. Siaran langsu, dan

10. Siaran Iklan

Pelanggaran atas pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran dikenakan sanksi administratif, yang tercantum pada pasal 78 Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran, yaitu:

1. Teguran tertulis.

2. Penghentian sementara mata acara yang bermasalah. 3. Pembatasan durasi dan waktu siaran.

4. Denda administratif.

5. Pembekuan kegiatan siaran lembaga penyiaran untuk waktu tertentu. 6. Penolakan untuk perpanjangan izin.

(47)

Penetapan sanksi bagi lembaga penyiaran yang terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran diberikan sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran tahun 2012, BAB XXXI Sanksi Administratif, dimana setiap yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam :

Pasal 79

a. Program siaran yang melanggar sebagaimana diatur paada ketentuan Pasal 6; Pasal 7 huruf c, dan d; Pasal 8; Pasal 9; Pasal 10 ayat (1); Pasal 11; Pasal 13 ayat (1), dan ayat (2); pasal 14; Pasal 15; Pasal 16; Pasal 17; Pasal 18 huruf e, g, h, i, j, dan k; Pasal 19; Pasal 20 ayat (3); Pasal 21; Pasal 22; Pasal 23 huruf d; Pasal 25; Pasal 26; Pasal 27 ayat (2); Pasal 28 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3); Pasal 29 ayat (2); Pasal 30 ayat (1) huruf a, b, c, d, e, dan g dan ayat (2); Pasal 31; Pasal 32; pasal 33 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4); Pasal 34 ayat (1) dan ayat (2); Pasal 35 ayat (4); Pasal 36 ayat (4); Pasal 37 ayat (4); Pasal 38 ayat (2); Pasal 39; Pasal 40; Pasal 41; Pasal 42; Pasal 43; Pasal 44; Pasal 45; Pasal 46; Pasal 47; Pasal 49; Pasal 50 huruf a dan c; Pasal 51; Pasal 52; Pasal 53; Pasal 54; Pasal 55 ayat (1) dan ayat (2); Pasal 56; Pasal 58 ayat (1), ayat (2), ayat (3), ayat (4) huruf d, f, g, h, dan ayat (5); Pasal 59; Pasal 60; Pasal 61; Pasal 62; Pasal 65; Pasal 66 ayat (2); Pasal 67; Pasal 68; Pasal 69; Pasal 70; Pasal 71, dikenai sanksi administratif berupa teguran tertulis oleh KPI.

b. Jangka waktu pengenaan sanki administratif berupa teguran tertulis pertama dan kedua atas pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga penyiaran paling sedikit selama 7 (tujuh) hari kalender.

c. Dalam hal lembaga penyiaran tidak memperhatikan teguran pertama dan kedua, KPI akan memberikan sanksi administratif lain sebagaimana diatur pada ketentuan pasal 75 ayat (1).

Pasal 80

(48)

ayat (2); Pasal 23 huruf a, b, c, dan e; Pasal 24; Pasal 28 ayat (4); Pasal 30 ayat (1) huruf f; Pasal 48; Pasal 50 huruf b, d, dan e; Pasal 57; Pasal 58 ayat (4) huruf a, b, c, d, dan e; dan Pasal 70 ayat (2), dikenai sanksi administratif berupa penghentian sementara mata acara yang bermasalah setelah melalui tahap tertentu.

2. Selama waktu pelaksaan sanksi administratif penghentian sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas berlangsung, lembaga penyiaran dilarang menyajikan program siaran dengan format sejenis pada waktu siar yang sama atau waktu yang lain.

3. Dalam hal lembaga penyiaran tidak melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), setelah diberikan peringatan tertulis, maka program siaran yang mendapat sanksi administratif penghentian sementara tersebut dikenakan sanksi administratif lain sebagaimana diatur dalam ketentuan pasal 75 ayat (2).

Pasal 81

Program siaran iklan niaga yang melebihi 20% (dua puluh perseratus) dari seluruh waktu siaran per hari sebagaimana dimaksud pada pasal 58 ayat (2), setelah mendapat teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali, dikenai sanksi administratif berpa denda administratif untuk jasa penyiaran radio paling banyak Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan untuk jasa penyiaran televisi paling banyak Rp. 1.000.000.000.- (satu miliar rupiah).

Pasal 82

Program siaran iklan rokok yang disiarkan di luar pukul 21.30 – 05.00 waktu setempat sebagaimana dimaksud pada pasal 59 ayah (1), setelah mendapat teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali, dikenai sanksi administratif berupa denda administratif untuk jasa penyiaran televisi paling banyak Rp. 1.000.000.000.- (satu limiar rupiah).

(49)

Lembaga penyiaran swasta yang tidak menyediakan waktu siaran untuk program siaran iklan layanan masyarakat paling sedikit 10% (sepuluh pers eratus) dari seluruh waktu siaran iklan niaga per hari sebagaimana dimaksud pada pasal 60 ayat (1), setelah mendapat teguran tertulis sebanyak 2 (dua) kali, dikenai sanksi administratif berupa denda administratif untuk jasa penyiaran televisi peling banyak RP. 1.000.000.000.- (satu miliar rupiah).

Pasal 84

Dalam hal lembaga penyiaran swasta tidak melaksanakan denda administratif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 83 dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kalender setelah denda administratif dijatuhkan, maka sanksi ditingkatkan menjadi pembekuan kegiatan siaran sampai dipenuhinya kewajiban membayar denda administratif.

Adapun Tata Cara Penjatuahan Sanksi terhadap pelanggaran pedoman perilaku penyiaran dan standar program siar telah diatur dalam :

Pasal 85

(1) Penjatuhan sanksi administratif berupa teguran tertulis pertama dan kedua dapat dilakukan oleh KPI tanpa melalui tahapan klarifikasi dari lembaga penyiaran.

(2) Penjatuhan sanksi administratif di luar ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) di atas, dilakukan melalui tahapan klarifikasi dengan ketentuan sebagai berikuat:

(1)KPI menyampaikan surat undangan pemeriksaan pelanggaran kepada lembaga penyiaran yang diduga melakukan pelanggaran setelah ditetapkan dalam rapat pleno KPI;

(50)

(3)Dalam hal lembaga penyiaran tidak memenuhi undangan dari KPI dan/atau hanya memberikan klarifikasi secara tertulis, maka lembaga penyiaran yang bersangkutan dianggap telah menggunakan haknya untuk menyampaikan klarifikasi terhadap pelanggaran yang dilakukan;

(4)Sidang pemeriksaan pelanggaran dimpin oleh Ketua, wakil Ketua atau Anggota KPI yang ditunjuk untuk memimpin sidang pemeriksaan pelanggaran;

(5)Sidang pemeriksaan pelanggaran dihadiri sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Anggota KPI dan dituangkan dalam berita acara Pemeriksaan yang ditandatangani oleh perwakilan lembaga penyiaran dan Anggota KPI yang hadir;

(6)Sidang pemeriksaan pelanggaran dilakukan secara tertutup, didokumentasikan secara administratif, dan tidak diumumkan kepada publik;

(7)Dokumen pemeriksaan, bukti rekaman pelanggaran, dokumen temuan pemantauan, dan berita acara pemeriksaan menjadi bahan bukti pendukung dalam penjatuhan sanksi; dan

(8)Hasil pemeriksaan pelanggaran selanjutnya dilaporkan ke rapat pleno KPI yang akan memutuskan dan/atau menetapkan jenis sanksi administratif yang dijatuhkan atas pelanggaran yang dilakukan oleh lembaga penyiaran.

Pasal 86

(1) Penjatuhan setiap jenis sanksi administratif wajib dilakukan oleh KPI dalam rapat pleno.

(2) Rapat pleno penjatuhan sanksi administratif dilakukan oleh KPI selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah proses pemeriksaan pelanggaran.

(51)

(4) Keputusan rapat pleno penjatuhan sanksi administratif sebagaimana yang dimaksud pada pasal 85 ayat (2) dituangkan dalam berita acara yang ditanda tangani oleh Anggota KPI yang menghadiri rapat pleno. Pasal 87

a. Sanksi denda administratif di luar ketentuan sebagaimana diatur pada Pasal 81, Pasal 82, dan Pasal 83 dapat dijatuhkan berdasarkan sanksi denda administratif yang diatur dalam Undang-Undang Penyiaran, Peraturan Pemerintah, serta Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran.

b. Pembayaran denda administratif dilakukan oleh lembaga penyiaran paling lambat 14 (empat belas) hari kalender sejak surat keputusan penjatuhan sanksi denda administratif diterima.

c. Pembayaran denda administratif oleh lembaga penyiaran dilakukan pada kantor kas negara sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

d. Dalam pelaksanaan sanksi administratif yang dibayarkan kepada kas negara, KPI melakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan RI untuk memperoleh laporan pembayaran pelaksanaan sanksi denda administratif.

e. Lembaga penyiaran wajib menyanpaikan salinan tanda bukti pembayaran denda administratif kepada KPI dan KPI wajib mencatat serta membuat laporan keuangan tentang pembayaran denda administratif secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2.5.Model Teoritis

(52)

Bagan 1

Model Teoritis

2.6. Operasionalisasi Konsep

Operasional konsep digunakan untuk melihat komponen-komponen yang menjadi kajian dari penelitian. Berdasarkan kerangka toeri dan konsep diatas, maka dibuat menjadi operasional konsep untuk mempermudah proses penelitian, yaitu sebagai berikut :

Tabel 2.6.

Operasionalisasi konsep

Komponen Teoritis Komponen Operasional

1. Waktu pelanggaran yang dimuat di website kpi.go.id

a. Waktu pelanggaran - Juli s/d desember 2014 1. Pelanggaran P3SPS tahun

2012

a. Program 1. Faktual 2. Non Faktual b. Stasiun televisi

c. Jenis pelanggaran berdasarkan ruang lingkup pedoman perilaku penyiaran dan standar program siaran sesuai dengan Pasal 5 P3SPS tahun 2012

d. Sanksi administratif berdasarkan Pasal 75 ayat (2) P3SPS tahun 2012

Pelanggaran yang dimuat diWebsite kpi.go.id

Jenis Program Faktual & Non Faktual Nama Stasiun Televisi

Figur

Tabel 2.6.
Tabel 2 6 . View in document p.52
Tabel 3.2.
Tabel 3 2 . View in document p.57
Tabel 4.1.
Tabel 4 1 . View in document p.62
Tabel 4.2.
Tabel 4 2 . View in document p.63
Tabel 4.3.
Tabel 4 3 . View in document p.65
Tabel 4.4. Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi
Tabel 4 4 Jumlah Kasus Pelanggaran Berdasarkan Stasiun Televisi . View in document p.67
Tabel 4.5.
Tabel 4 5 . View in document p.69
Tabel 4.6.
Tabel 4 6 . View in document p.71
Tabel 4.7.
Tabel 4 7 . View in document p.72
Tabel 4.8.
Tabel 4 8 . View in document p.73
Tabel 4.9.
Tabel 4 9 . View in document p.74
Tabel 4.14.
Tabel 4 14 . View in document p.78
Tabel 4.15.
Tabel 4 15 . View in document p.79
Tabel 4.16.
Tabel 4 16 . View in document p.80
Tabel 4.18.
Tabel 4 18 . View in document p.81
Tabel 4.20.
Tabel 4 20 . View in document p.83
Tabel 4.22.
Tabel 4 22 . View in document p.84
Tabel 4.24.
Tabel 4 24 . View in document p.85
Tabel 4.23.
Tabel 4 23 . View in document p.85
Tabel 4.25.
Tabel 4 25 . View in document p.86
Tabel 4.27.
Tabel 4 27 . View in document p.87
Tabel 4.26.
Tabel 4 26 . View in document p.87
Tabel 4.28.
Tabel 4 28 . View in document p.88
Tabel 4.29.
Tabel 4 29 . View in document p.89
Tabel 4.30.
Tabel 4 30 . View in document p.92
Tabel 4.32.
Tabel 4 32 . View in document p.97
Tabel 4.33.
Tabel 4 33 . View in document p.99
Tabel 4.35.
Tabel 4 35 . View in document p.103
Tabel 4.36.
Tabel 4 36 . View in document p.104
Tabel 4.37.
Tabel 4 37 . View in document p.107

Referensi

Memperbarui...