• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daur Volume Maksimum Tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari, Tbk., Sumatera Utara

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Daur Volume Maksimum Tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari, Tbk., Sumatera Utara"

Copied!
69
0
0

Teks penuh

(1)

DAUR VOLUME MAKSIMUM TEGAKAN

Eucalyptus hybrid (IND-32) di HUTAN TANAMAN INDUSTRI

PT. TOBA PULP LESTARI, Tbk., SUMATERA UTARA

SARTIKA PUTRI 091201075

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(2)

DAUR VOLUME MAKSIMUM TEGAKAN

Eucalyptus hybrid (IND-32) di HUTAN TANAMAN INDUSTRI

PT. TOBA PULP LESTARI, Tbk., SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh:

SARTIKA PUTRI 091201075

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(3)

DAUR VOLUME MAKSIMUM TEGAKAN

Eucalyptus hybrid (IND-32) di HUTAN TANAMAN INDUSTRI

PT. TOBA PULP LESTARI, Tbk., SUMATERA UTARA

SKRIPSI

Oleh:

SARTIKA PUTRI 091201075 / Manajemen Hutan

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI KEHUTANAN

FAKULTAS PERTANIAN

(4)

Judul Penelitian : Daur Volume Maksimum Tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari, Tbk., Sumatera Utara.

Nama : Sartika Putri

NIM : 091201075

Program Studi : Manajemen Hutan

Disetujui oleh : Komisi Pembimbing

Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D Dr. Kansih Sri Hartini, S.Hut., M.P

Ketua Anggota

Mengetahui,

(5)

ABSTRAK

SARTIKA PUTRI : Daur Volume Maksimum Tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sumatera Utara, dibimbing oleh SITI LATIFAH dan KANSIH SRI HARTINI.

Pengusahaan hutan yang marak dilakukan pada saat ini adalah pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI), salah satunya adalah HTI-pulp dengan tujuan untuk mendapatkan hasil hutan tanaman berupa kayu yang mampu memenuhi permintaan akan bahan baku industri. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila HTI dikelola dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan daur volume maksimum tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di HTI PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sektor Aek Nauli, Sumatera Utara yang telah dilakukan pada bulan Mei 2013. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data yang diperoleh dari perusahaan tersebut dan kemudian diolah dengan menggunakan software Microsoft excel dan Curve Expert 1.4.

Hasil penelitian mendapatkan model terbaik untuk menduga nilai diameter (D), tinggi (H), dan volume (V) tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) masing-masing adalah D = 20,06 (0,2)1/x, H = 30,7 (0,22) 1/x, dan V = 486,54 (0,02) 1/x, dengan x adalah umur. Berdasarkan nilai volume yang dihitung dengan menggunakan model terpilih, daur volume maksimum tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) dicapai pada umur 4,4 tahun.

(6)

ABSTRACT

SARTIKA PUTRI : The Maximum volume cycle for stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) at Industrial Plantations Forest PT. Toba Pulp Lestari Tbk., North Sumatra, supervised by SITI LATIFAH and KANSIH SRI HARTINI.

Forest products companies that bloom at this time is the development of Industrial Plantations Forest (HTI), one of which is the HTI-pulp in order to get results in the form of plantations forest are able to meet the demand for industrial raw materials. These objectives can be achieved if well managed plantations. This research was conducted to determine the maximum volume cycle for stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) at HTI PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sector Aek Nauli, North Sumatra, which has been conducted in May 2013. The research was conducted using data obtained from the company and then processed using Microsoft Excel software and Curve Expert 1.4.

The results of research was obtained the best model to estimate the diameter (D), high (H), and volume (V) for stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) respectively are D = 20,06 (0,2)1/x, H = 30,7 (0,22) 1/x, and V = 486,54 (0,02) 1/x, where x is the age. Based on the volume calculated using the model selected, the maximum volume cycle stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) achieved at the age of 4,4 years.

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di kota Medan, Sumatera Utara, pada tanggal 20 April 1991. Penulis merupakan anak tunggal dari bapak Sartono dan ibu Hj. Hanifah Nasution.

Tahun 2008, penulis lulus dari SMA Swasta SUTOMO 2, Medan dan pada tahun 2009 masuk ke Fakultas Pertanian USU melalui jalur SPMB. Penulis memilih minat Manajemen Hutan, Program Studi Kehutanan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Sylva USU dan BKM Baitul Asyjar. Penulis pernah menjadi asisten Praktikum Penarikan Contoh dan Permodelan Data, telah melakukan Praktik Pengenalan Ekosistem Hutan (P2EH) di Taman Hutan Raya Tongkoh, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan hasil penelitian yang berjudul “Daur Volume Maksimum Tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32)di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari, Tbk., Sumatera Utara”.

Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada orangtua penulis yang telah membimbing, mendidik, dan memberikan semangat serta mendukung penulis untuk doa dan materil dalam menyelesaikan hasil penelitian ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Siti Latifah, S.Hut., M.Si., Ph.D dan Ibu Dr. Kansih Sri Hartini S.Hut., M.P. selaku dosen pembimbing yang terus membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan hasil penelitian ini. Tak lupa penulis juga mengucapkan terima kasih kepada PT. Toba Pulp Lestari yang telah memberikan izin sehingga penulis dapat melakukan penelitian di perusahaan tersebut serta teman-teman yang telah membantu dan selalu mendukung dalam penyelesaian hasil penelitian ini.

(9)

DAFTAR ISI

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas HTI ... 17

Faktor genetik ... 17

Faktor kualitas tapak ... 19

Sifat kimia tanah ... 19

Faktor perlakuan silvikultur ... 19

Kondisi Umum Lokasi Penelitian ... 20

METODE PENELITIAN ... 22

Perhitungan volume tegakan... 23

Penyusunan model pendugaan pertumbuhan... 23

Perhitungan nilai riap volume tegakan ... 25

Riap rata-rata berjalan (CAI) ... 25

Riap rata-rata tahunan (MAI) ... 26

(10)

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 28

Deskripsi Tanaman ... 28

Deskripsi Data ... 30

Model Pendugaan Pertumbuhan Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 32

Diameter ... 32

Tinggi ... 35

Volume ... 37

Nilai Riap Volume Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 38

Daur Volume Maksimum Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 39

KESIMPULAN DAN SARAN ... 42

Kesimpulan ... 42

Saran... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

(11)

DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Kriteria Nilai Koefisien Korelasi Menurut Guilford ... 24

2. Data Kompartemen dan Umur Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 30

3. Model Pendugaan Diameter Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 32

4. Nilai Pendugaan Diameter Tegakan E.hybrid (IND-32)... 34

5. Model Pendugaan Tinggi Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 35

6. Nilai Pendugaan Tinggi Tegakan E.hybrid (IND-32)... 36

7. Model Pendugaan Volume Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 37

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Grafik CAI dan MAI ... 15 2. Bagan Alur Penelitian ... 27 3. Ciri-ciri IND-32 ... 29 4. Bentuk Sebaran Data dan Trendline Model Terpilih untuk Menduga Nilai

Diameter Tegakan E. hybrid (IND-32) ... 33 5. Grafik Laju Pertumbuhan Diameter Tegakan E.hybrid (IND-32) Hasil Nilai

Pendugaan dari Model yang Terpilih ... 35 6. Bentuk Sebaran Data dan Trendline Model Terpilih untuk Menduga Nilai

Tinggi Tegakan E. hybrid (IND-32) ... 36 7. Grafik Laju Pertumbuhan Tinggi Tegakan E.hybrid (IND-32) Hasil

Nilai Pendugaan dari Model yang Terpilih ... 37 8. Bentuk Sebaran Data dan Trendline Model Terpilih untuk Menduga Nilai

Volume Tegakan E. hybrid (IND-32) ... 38 9. Grafik CAI dan MAI Volume Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 40 10.Peta Sebaran Tegakan E.hybrid (IND-32) pada Estate A dan B ... 50 11.Tegakan E. hybrid (IND-32) umur; (a) 1 tahun, (b) 3 tahun,

(c) 4 tahun ... 51 12.Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Diameter; (a) linier,

(b) polynomial, (c) logaritma, (d) power, (e) eksponensial ... 52 13.Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Tinggi; (a) linier,

(b) polynomial, (c) logaritma, (d) power, (e) eksponensial ... 53 14.Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Volume; (a) linier,

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Data Rata-rata Diameter dan Tinggi serta Nilai Volume Tegakan E.hybrid

(IND-32) ... 47

2. Peta Sebaran Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 50

3. Foto Tegakan E.hybrid (IND-32) ... 51

4. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Diameter ... 52

5. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Tinggi ... 53

(14)

ABSTRAK

SARTIKA PUTRI : Daur Volume Maksimum Tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sumatera Utara, dibimbing oleh SITI LATIFAH dan KANSIH SRI HARTINI.

Pengusahaan hutan yang marak dilakukan pada saat ini adalah pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI), salah satunya adalah HTI-pulp dengan tujuan untuk mendapatkan hasil hutan tanaman berupa kayu yang mampu memenuhi permintaan akan bahan baku industri. Tujuan tersebut dapat tercapai apabila HTI dikelola dengan baik. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan daur volume maksimum tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) di HTI PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sektor Aek Nauli, Sumatera Utara yang telah dilakukan pada bulan Mei 2013. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data yang diperoleh dari perusahaan tersebut dan kemudian diolah dengan menggunakan software Microsoft excel dan Curve Expert 1.4.

Hasil penelitian mendapatkan model terbaik untuk menduga nilai diameter (D), tinggi (H), dan volume (V) tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) masing-masing adalah D = 20,06 (0,2)1/x, H = 30,7 (0,22) 1/x, dan V = 486,54 (0,02) 1/x, dengan x adalah umur. Berdasarkan nilai volume yang dihitung dengan menggunakan model terpilih, daur volume maksimum tegakan Eucalyptus hybrid (IND-32) dicapai pada umur 4,4 tahun.

(15)

ABSTRACT

SARTIKA PUTRI : The Maximum volume cycle for stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) at Industrial Plantations Forest PT. Toba Pulp Lestari Tbk., North Sumatra, supervised by SITI LATIFAH and KANSIH SRI HARTINI.

Forest products companies that bloom at this time is the development of Industrial Plantations Forest (HTI), one of which is the HTI-pulp in order to get results in the form of plantations forest are able to meet the demand for industrial raw materials. These objectives can be achieved if well managed plantations. This research was conducted to determine the maximum volume cycle for stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) at HTI PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sector Aek Nauli, North Sumatra, which has been conducted in May 2013. The research was conducted using data obtained from the company and then processed using Microsoft Excel software and Curve Expert 1.4.

The results of research was obtained the best model to estimate the diameter (D), high (H), and volume (V) for stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) respectively are D = 20,06 (0,2)1/x, H = 30,7 (0,22) 1/x, and V = 486,54 (0,02) 1/x, where x is the age. Based on the volume calculated using the model selected, the maximum volume cycle stands of Eucalyptus hybrid (IND-32) achieved at the age of 4,4 years.

(16)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hutan Tanaman Industri (HTI) menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. 3 tahun 2008 adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh pelaku usaha kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Salah satu bentuk HTI yang saat ini memegang peranan penting dalam menunjang pengembangan industri perkayuan di Indonesia adalah HTI-kayu serat atau HTI-pulp. Pembangunan HTI-pulp sendiri bertujuan untuk mendapatkan hasil hutan tanaman berupa kayu yang mampu memenuhi permintaan akan bahan baku pembuatan pulp.Maka dari itu, sangat penting bagi suatu perusahaan HTI-pulp untuk selektif dalam menentukan jenis tanaman yang tepat untuk ditanam pada hutan tanamannya.

Ekaliptus merupakan salah satu jenis tanaman yang banyak dikembangkan

dalam perusahaan HTI-pulp. Pertumbuhannya yang cepat serta kegunaannya

sebagai bahan baku industri pulp, kertas dan rayon membuat jenis ini menjadi tanaman yang diprioritaskan dalam program HTI (Mardin, 2009).

(17)

perkawinan silang antar jenis ekaliptus yang hasilnya secara umum sering disebut dengan nama Eucalyptus hybrid. IND-32 adalah salah satu klon E. hybrid yang dikembangkan oleh PT. TPL. Jenis ini merupakan hasil persilangan antara E. grandis dengan E. pellita.

Selain memperhatikan jenis tanaman yang tepat untuk ditanam sesuai dengan tujuannya, HTI juga harus memperhatikan prinsip kelestarian sumberdaya hutan dan prinsip kelestarian hasil. Untuk mendukung upaya ini perlu dibuat rencana pengelolaan HTI dengan seksama terkait dengan jadwal penanaman, pemeliharaan, dan pemanenan yang kemudian diikuti dengan penanaman kembali. Penyusunan rencana pengelolaan HTI tersebut diatas dapat dilakukan dengan baik apabila perusahaan memiliki data/informasi yang mendukung, salah satunya adalah data mengenai daur volume maksimum tegakan di HTI tersebut.

(18)

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk :

1. Menyusun model pendugaan pertumbuhan diameter, tinggi, dan volume tegakan E. hybrid IND-32.

2. Menghitung nilai riap tegakan E. hybrid IND-32.

3. Menentukan daur volume maksimum tegakan E. hybrid IND-32.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan referensi bagi pihak terkait yakni PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sektor Aek Nauli dalam perencanaan pemanenan hasil hutan tanaman.

(19)

TINJAUAN PUSTAKA

Hutan Tanaman Industri (HTI)

Sejarah pembangunan hutan di Indonesia, khususnya hutan tanaman telah berlangsung sejak era sebelum memasuki era kemerdekaan. Berbagai kebijakan ditetapkan sebagai landasan hukum kegiatan pembangunan hutan tanaman. Pada dekade 1990, seiring dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1990, maka dimulai pembangunan hutan tanaman yang dilakukan secara terintegrasi dengan industri kehutanan. Program Hutan Tanaman Industri ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas lahan, menjamin ketersediaan bahan baku kayu bagi kepentingan industri serta penyerapan tenaga kerja dan lapangan berusaha (Iskandar dkk., 2003).

Menurut Peraturan Menteri Kehutanan No. 3 tahun 2008, HTI adalah hutan tanaman pada hutan produksi yang dibangun oleh pelaku usaha kehutanan untuk meningkatkan potensi dan kualitas hutan produksi dengan menerapkan silvikultur intensif dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan baku industri hasil hutan. Hak Pengusahaan HTI adalah hak untuk mengusahakan hutan di dalam suatu kawasan hutan yang kegiatannya mulai dari penanaman, pemeliharaan, pemungutan, pengelolaan dan pemasaran.

Adapun tujuan pembangunan HTI menurut Direktorat Bina Pengembangan Hutan Tanaman (2009) adalah sebagai berikut :

(20)

pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitar hutan (pro-poor) dan perbaikan kualitas lingkungan hidup (pro-enviroment).

2. Mendorong daya saing produk industri perkayuan (penggergajian, kayu lapis, pulp dan paper, meubel dan lain-lain) untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

Selain itu, HTI juga dikelola dan diusahakan berdasarkan prinsip pemanfaatan yang optimal dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan sumber daya alamiah serta dengan menerapkan prinsip ekonomi dalam pengusahaannya untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya. Pengelolaan satu kesatuan HTI yang disebut unit HTI merupakan unit pengusahaan yang terdiri dari satu atau lebih kelas perusahaan. Menurut Dephut (1996), kelas perusahaan pada pengusahaan HTI ada empat, yaitu:

1. Kelas perusahaan kayu pertukangan 2. Kelas perusahaan kayu serat

3. Kelas perusahaan kayu energi

4. Kelas perusahaan kayu perusahaan hasil hutan bukan kayu

Menurut Direktorat Bina Pengembangan Hutan Tanaman (2009), setiap unit pengusahaan pada HTI telah diatur tata penggunaan lahannya/tata ruangnya sebagai berikut :

a. Areal Tanaman Pokok ± 70 % b. Areal Tanaman Unggulan ± 10 % c. Areal Tanaman Kehidupan ± 5 % d. Kawasan Lindung ± 10 %

(21)

Adapun beberapa ciri pokok HTI, di antaranya adalah:

1. Sistem silvikultur yang diterapkan adalah tebang habis dengan penanaman kembali.

2. Komposisi jenisnya murni atau campuran.

3. Potensi produksi yang tinggi, baik kuantitas maupun kualitasnya, yang dicapai dengan penerapan silvikultur intensif.

4. Pengusahaan HTI adalah pengusahaan hutan dalam suatu kawasan hutan yang meliputi kegiatan penanaman, pemeliharaan tegakan, pemungutan hasil, pengolahan sampai pemasarannya.

Tanaman Eucalyptus sp.

Eucalyptus sp. termasuk kedalam famili Myrtaceae, terdiri dari kurang lebih 700 jenis. Daerah penyebaran meliputi Australia, New Britian, Papua, Tasmania, Irian jaya, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur. Ekaliptus secara umum tumbuh pada ketinggian 600-1800 m dpl dengan curah hujan tahunan 2500-5000 mm, suhu minimum rata-rata 23°C dan maksimum 31°C di dataran rendah, serta pada suhu minimum rata-rata 13°C dan maksimum 29°C di pegunungan (Sutisna dkk.,1998).

(22)

tidak membutuhkan persyaratan yang tinggi terhadap tanah dan tempat tumbuhnya. Jenis ekaliptus dapat berupa semak atau perdu sampai mencapai ketinggian 100 meter umumnya berbatang bulat, lurus, tidak berbanir dan sedikit bercabang. Sistem perakarannya yang masih muda cepat sekali memanjang hingga menembus ke dalam tanah (Dephut, 1994).

Eucalyptus grandis

Taksonomi dari E. grandis adalah : Divisio : Spermatophyta

Sud Divisio : Angiospermae Class : Dicotyledone Ordo : Myrtiflorae Family : Myrtaceae Genus : Eucalyptus

Species : Eucalyptus grandis W. Hill ex Maiden

E. grandis adalah pohon hutan yang sangat tinggi, umumnya dapat mencapai ketinggian 45-55 m dan diameter 1,2-2 m dbhob (diameter setinggi dada di atas kulit). Jenis tanaman ini dapat tumbuh cepat pada lokasi yang sesuai, dengan pertumbuhan 20-30 m3/Ha/tahun. Bunga berwarna putih dalam kelompok 7-11, umumnya mulai dari bulan April sampai Agustus. Buah berbentuk kapsul, sedikit membulat seperti buah pir dan mengkerucut. E. grandis ini biasanya paling sering diperbanyak dari biji, namun dapat juga direproduksi secara vegetatif (Brooker dkk., 2002 dalam McMahon, 2010).

(23)

temperatur maksimum sekitar 24 sampai 30oC. Jenis ini tumbuh baik pada lahan datar atau dengan kemiringan yang tidak curam, serta tumbuh pada tanah alluvial di tempat-tempat dekat air tetapi tidak tergenang air dan mengandung lempung (Boland dkk., 1984 dalam McMahon, 2010).

Eucalyptus pellita

E. pellita merupakan jenis tanaman cepat tumbuh yang berpotensi besar dalam pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI). Tanaman ini merupakan jenis asli New South Wales, Queensland, dapat tumbuh pada tanah berpasir, menyenangi cahaya matahari serta perawatan tanaman yang mudah. E. pellita dapat tumbuh tinggi hingga 40-130 m dan diameter hingga 1 m. Batang lurus dengan mahkota yang besar dan sangat bercabang. Kulit kasar, berserat, pecah-pecah, dan berwarna coklat sampai coklat kemerahan.

Taksonomi jenis ini adalah: Divisio : Spermatophyta Sud Divisio : Angiospermae Class : Dicotyledone Ordo : Myrtales Family : Myrtaceae Genus : Eucalyptus

Species : Eucalyptus pellita F. Muell

(24)

produksi rata-rata E. pellita sebesar 40 m3/Ha/tahun. Jika kegiatan kehutanan dikelola dengan baik, maka produksi dapat meningkat hingga mencapai lebih dari 50 m3/Ha/tahun. Pertumbuhan yang cepat ini tidak saja dianggap penting oleh investor kayu, tetapi juga menunjukkan adanya penyerapan karbon yang tinggi sehingga tersirat bahwa jenis ini memiliki manfaat untuk menyerap karbon. Kegiatan pemanenannya tergantung pada penggunaan, untuk industri pulp dan kertas dipanen pada umur 8 tahun sedangkan untuk industri kayu dipanen pada umur 10 tahun (Dombro, 2010). Sedangkan hasil penelitian Bristow dkk. (2006) mendapatkan bahwa nilai maksimum diameter E. pellita adalah sebesar 30,3 cm dan nilai maksimum untuk tingginya adalah sebesar 28,8 m.

Pertumbuhan Tegakan

Pertumbuhan tegakan adalah pertambahan dimensi dari satu atau lebih individu dalam suatu tegakan hutan dalam suatu jangka waktu (Vanclay, 1994). Pertumbuhan tegakan merupakan perubahan ukuran sifat terpilih dari dimensi tegakan yang terjadi selama periode tertentu (Davis dan Johnson, 1987).

(25)

dimana pertumbuhan terjadi pada daun, batang, dan akar. Sedangkan fase generatif adalah fase pertumbuhan untuk menghasilkan bunga, buah, dan biji. Riap

Kata riap biasanya dipakai untuk menyatakan pertambahan volume pohon atau tegakan per satuan waktu tertentu. Definisi riap berbeda dengan pertumbuhan. Pertumbuhan ditetapkan sebagai terminologi yang bersifat umum, sedang riap lebih spesifik. Chapman (1950), menyatakan bahwa riap adalah rasio bersih tahunan dari suatu tegakan yang merupakan penjumlahan aljabar dari penambahan volume setiap tahun tersebut.

Menurut Simon (2007), riap dapat dibagi atas dua macam yaitu : a. Riap individu pohon

Riap individu pohon terdiri dari riap diameter, riap luas bidang dasar, riap tinggi, dan riap volume. Riap diameter biasanya diwakili oleh riap diameter setinggi dada. Sesuai dengan peranannya dalam perhitungan volume, riap diameter merupakan salah satu komponen yang penting dalam menentukan riap volume. Alat yang paling banyak dipakai untuk mengukur riap diameter ini adalah “bor riap”. Namun alat ini hanya efektif untuk mengukur riap pohon yang mempunyai lingkaran tahun yang jelas.

(26)

1. Menaksir atau mengukur panjang ruas tahunan. 2. Analisis tinggi terhadap pohon yang ditebang.

3. Mengukur pertambahan tinggi pohon selama periode waktu tertentu. 4. Menentukan riap tinggi dengan kurva tinggi.

Riap volume pohon adalah pertumbuhan volume selama jangka waktu tertentu. Dalam teori riap volume dapat ditentukan secara tepat dengan mengurangi volume pada akhir periode (B) dengan volume pohon tersebut pada awal periode (A).

b. Riap tegakan

Riap volume suatu tegakan bergantung pada kepadatan (jumlah) pohon yang menyusun tegakan tersebut, jenis, dan kesuburan tanah. Riap volume suatu pohon dapat dilihat dari kecepatan tumbuh diameter, yang setiap jenis mempunyai laju yang berbeda-beda. Untuk hutan tanaman, pertumbuhan diameter biasanya mengikuti grafik berbentuk huruf S (sigmoid) karena pada mulanya tumbuh agak lambat, kemudian cepat lalu menurun. Lambatnya pertumbuhan diameter pada waktu muda disebabkan tanaman hutan ditanam rapat untuk menghindari percabangan yang berlebihan (Karyaatmadja, 2000).

Riap volume tegakan selama satu daur menurut Loetsch (1973) dalam Yudistira (2004) dapat dibedakan menjadi :

(27)

2. Riap rata-rata tahunan (Mean Annual Increment, MAI), yaitu besarnya riap rata-rata pada umur tertentu. Fungsi ini merupakan hasil bagi antara pertumbuhan sampai umur tertentu dengan umurnya.

3. Riap rata-rata periodik (Periodical Annual Increment, PAI), yaitu besarnya riap rata-rata yang terjadi selama periode waktu tertentu di antara dua kali pengukuran. Fungsi riap ini merupakan hasil bagi antara selisih total pertumbuhan dengan lamanya periode waktu di antara dua kali pengukuran tersebut.

(28)

47 m3/Ha pada tanah ultisol berpasir dan sekitar 38 m3/Ha pada tanah oxisol berpasir (Stape dkk.,1997).

Daur

Daur adalah jangka waktu antara waktu penanaman sampai tanaman hutan dimaksud masak untuk dipanen (Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan, 1999). Terdapat 6 jenis daur menurut Dephut (1992) yakni :

1. Daur fisik

Yaitu jangka waktu yang berhimpitan dengan periode hidup suatu jenis untuk kondisi tempat tumbuh tertentu, sampai jenis tersebut mati secara alami. Daur fisik juga dapat disamakan dengan berapa umur suatu pohon sampai pohon tersebut masih mampu menghasilkan biji yang baik untuk melakukan permudaan. Jadi, daur ini tidak mempunyai hubungan yang erat dengan nilai ekonomi suatu hutan.

2. Daur silvikultur

Yaitu jangka waktu selama hutan masih menunjukkan pertumbuhan yang baik dan dapat menjamin permudaan dengan kondisi yang sesuai dengan tempat tumbuhnya. Daur silvikultur sangat dekat atau hampir mirip dengan daur fisik. Daur silvikultur pada umumnya sangat panjang dan mempunyai batas yang sangat lebar.

3. Daur teknik

(29)

untuk kayu bakar dan pulp pada umumnya pendek, sedangkan jika tujuan pengelolaan untuk kayu pertukangan, maka daurnya panjang.

4. Daur volume maksimum

Yaitu jangka waktu perkembangan suatu tegakan yang memberikan hasil kayu tahunan terbesar, baik dari hasil penjarangan maupun tebangan akhir. Daur ini merupakan perkembangan yang terpenting dan paling banyak dipakai di lapangan, baik secara langsung atau tidak langsung. Panjang daur volume maksimum ini berhimpitan dengan umur tegakan pada waktu riap rata-rata tahunan (MAI) mencapai maksimum.

5. Daur pendapatan maksimum

Daur ini juga dikenal sabagai daur “bunga hutan” maksimum (the highest forest rental), yaitu daur yang menghasilkan rata-rata pendapatan bersih maksimum. Pendapatan bersih dihitung dari hasil penjarangan dan hasil akhir, setelah dikurangi dengan seluruh biaya. Daur ini pada umumnya hampir sama dengan daur volume maksimum. Rata-rata pendapatan tahunan bersih diperoleh dari total pendapatan bersih dibagi dengan panjang daur.

6. Daur finansial

Yaitu daur yang ditujukan untuk memperoleh keuntungan maksimum dalam nilai uang. Di kehutanan, keuntungan dapat dilihat dari dua sudut pandang yang berbeda, yaitu dari nilai harapan lahan (land expectation value) dan dari hasil finansial.

(30)

kurva yang menunjukkan perpotongan antara grafik riap rata-rata tahunan (MAI) dengan grafik riap berjalan (CAI). Perpotongan grafik tersebut adalah merupakan daur volume maksimum suatu tegakan (Gambar 1).

volume (m3/Ha)

MAI

CAI

umur (tahun) Gambar 1. Grafik CAI dan MAI

Menurut Simon (2007), dalam pengelolaan hutan kedua grafik ini mempunyai arti yang penting. Manipulasi perlakuan tegakan melalui penelitian untuk memperoleh riap tegakan maksimal, baik CAI maupun MAI masih memberi peluang yang besar untuk meningkatkan nilai manfaat dari hutan. Grafik hubungan antara riap berjalan tahunan (CAI) dengan riap rata-rata tahunan (MAI) mempunyai karakteristik yaitu :

1. Kurva riap berjalan (CAI) mencapai puncak secara cepat dan menurun secara cepat, jika dibandingkan dengan kurva riap rata-rata tahunan (MAI) yang mencapai puncak secara perlahan-lahan dan menurun secara perlahan-lahan. 2. Titik potong antara CAI dan MAI merupakan saat pemanenan yang paling

(31)

titik potong tersebut kedua kurva akan menurun yang berarti riap akan terus menurun.

Penentuan panjang daur tebang tergantung pada interaksi beberapa faktor (Osmaton, 1968 dalam Nuhamara, 2008), yaitu:

1. Tingkat kecepatan pertumbuhan tegakan yang bergantung pada jenis pohon, kondisi tempat tumbuh dan intensitas pemeliharaan.

2. Karakteristik jenis tanaman dengan memperhatikan umur maksimum secara alami, umur untuk dapat menghasilkan benih, fase umur kecepatan tumbuh terbaik dan fase umur kualitas terbaik.

3. Pertimbangan ekonomi melalui perhitungan ukuran yang layak dipasarkan dan harga tertinggi yang dapat dicapai.

4. Respon tanah yang sama terhadap penggunaan yang kontiniu atau berulang-ulang, erat hubungannya dengan bahan induk tanah, pelapukan tanah dan ada tidaknya faktor alelopati tanaman.

Penentuan daur volume maksimum yang telah dilakukan oleh beberapa peneliti yaitu dengan cara membuat model pertumbuhan diameter, tinggi, dan volume pohon. Dari model tersebut, didapat hasil pendugaan pertumbuhan tegakan pada suatu hutan tanaman yang kemudian dapat ditentukan daur volume maksimumnya. Beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan dalam menentukan daur volume maksimum untuk jenis ekaliptus dan lainnya adalah sebagai berikut : 1. Harbagung (1991) menyimpulkan bahwa daur volume maksimum untuk

(32)

2. Latifah (2004) menyimpulkan bahwa daur volume maksimum untuk tegakan hutan tanaman E. grandis di HTI PT. TPL Tbk. adalah pada umur 8 tahun.

3. Arifiandy (2006) menyatakan bahwa daur volume maksimum tegakan Acacia

Mangium di PT. Sumalindo Hutani Jaya II, Kalimantan Timur, adalah pada

umur 5,25 tahun.

4. Mindawati (2010) mendapatkan hasil bahwa daur volume maksimum hutan

tanaman E. urograndis pada rotasi 1 adalah 5,5 tahun dengan nilai riap sekitar

35,83 m3/Ha. Sedangkan daur volume maksimum pada rotasi kedua adalah 5

tahun. Penelitian ini dilakukan di PT. TPL Tbk., Sektor Aek Nauli, Sumatera

Utara.

5. Darwo dkk. (2012) menyatakan bahwa riap volume maksimum tegakan

ekaliptusdi PT. TPL Tbk., Sektor Aek Nauli, Sumatera Utara adalah sebesar

31,13 m3/Ha/tahun pada umur 8,1 tahun sehingga daur volume maksimum dan

umur indeks tempat tumbuh ditetapkan 8 tahun dengan rata-rata volume

tegakan 249,34 m3/Ha dan riap tahunan rata-rata 31,17 m3/Ha/tahun.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produktivitas HTI

Soepardi (1992) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah faktor genetik dan faktor kualitas tapak, khususnya kualitas tanah yang keduanya dapat dimanipulasi atau diubah secara buatan. Faktor genetik dapat dimanipulasi melalui kegiatan pemuliaan tanaman, sedangkan faktor tanah dapat dimanipulasi melalui kegiatan silvikultur.

Faktor genetik

(33)

keragaman genetik untuk tujuan pengembangan jenis dengan sifat unggul. Seleksi dilakukan dalam rangka memilih sifat-sifat yang diinginkan dari suatu pohon, seperti kecepatan pertumbuhan, kecepatan adaptasi lingkungan, dan adaptasi atau resisten hama dan penyakit dan lain-lain. Hibrida adalah metode untuk menghasilkan tanaman baru dan merupakan suatu hasil persilangan dari dua jenis atau lebih tanaman yang memiliki susunan genetik berbeda. Biasanya persilangan dalam genus yang sama, antar ras atau bahkan antar dua genotip berlainan dalam populasi yang sama atau sejenis tetapi berbeda sedikit “gen” nya. Hibrida-hibrida hasil persilangan mendapat warisan sifat-sifat pohon parental atau tetuanya. Oleh karena itu, jika persilangan ditujukan untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik atau untuk hibrida yang tahan serangan penyakit, maka pohon induk harus mempunyai sifat yang diinginkan tersebut (Zobel dan Talbert, 1984).

Menurut Hardiyanto (2004), tidak semua hibrid menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibanding dengan kedua induknya, hibrid dapat pula tumbuh lebih buruk daripada induknya. Oleh karena itu perlu strategi pemuliaan yang disusun dengan baik. Strategi pengembangan hibrid dapat sangat sederhana atau dapat sangat kompleks. Strategi sederhana berupa seleksi hibrid alami pada pertanaman komersial, sedangkan strategi yang lebih kompleks meliputi hibridisasi alami dan hibridisasi terkendali yang dilakukan pada individu terpilih dari masing-masing jenis (Mulawarman, 2003).

(34)

penelitian menunjukkan bahwa persilangan antar jenis dari ekaliptus memiliki tingkat keseragaman yang lebih tinggi dan memungkinkan produksi tanaman dengan kombinasi karakter yang dilakukan akan menguntungkan secara ekonomi (Souvannavong, 1992 dalam Koranto, 2003).

Faktor kualitas tapak

Faktor tempat tumbuh tegakan adalah totalitas dari peubah keadaan tempat tegakan mencakup bentuk lapangan, sifat-sifat tanah, dan iklim memiliki tingkat keeratan hubungan yang cukup tinggi dengan dimensi suatu tegakan hutan tanaman (Suhendang, 1990). Kualitas tempat tumbuh merupakan jumlah total faktor-faktor lingkungan (tanah, iklim mikro, kelerengan dan lain-lain) yang merupakan fungsi geologis, fisiografi, iklim mikro dan perkembangan suksesi (Daniel dkk., 1997).

Sifat kimia tanah

Beberapa sifat kimia tanah yang penting dan berpengaruh terhadap pertumbuhan suatu tanaman adalah reaksi pH tanah, bahan organik tanah, unsur hara dan kapasitas tukar kation (KTK). Nilai pH tanah yang merupakan indikator kualitas tanah terbaik adalah antara pH6 - pH7, karena sebagian unsur hara menjadi tersedia (USDA, 1998).

Faktor perlakuan silvikultur

(35)

silvikultur intensif dapat menaikkan dan mempertahankan produktivitas. Pada umumnya pengelolaan intensif dilakukan pada fase persiapan bibit, persiapan lahan dan fase pemeliharaan tegakan berupa pemberian input hara atau pemupukan (Nambiar, 1996).

Hutagalung (2008) menyatakan bahwa ekaliptus dapat membentuk simbiosis yang saling menguntungkan dengan mikroorganisme sehingga akan memperbesar kemampuan tanaman dalam menyerap hara, mampu melarutkan P tidak tersedia menjadi tersedia dan mampu mengurai sisa tanaman.

Kondisi Umum Lokasi Penelitian

PT. Toba Pulp Lestari Tbk. yang dulunya bernama PT. Inti Indorayon Utama Tbk. (IIU) adalah suatu perusahaan yang mendapatkan hak pengusahaan hutan yang bertujuan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan akan kertas dalam negeri yang diimpor oleh beberapa negara. Perusahaan ini memiliki areal konsesi Hak Pengusahaan Hutan Tanaman Industri (HPHTI) yang terletak di beberapa kabupaten yaitu Simalungun, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Dairi, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan dengan total luas ijin HPHTI berdasarkan SK. Menhut No. 493/KPTS-II/1992 seluas 269.060 ha dengan jangka pengelolaan 43 tahun dan pemanfaatan Pinus berdasarkan SK. Menhut No. 236/KPTS-IV/1984 seluas 15.763 ha yang berada di luar areal HPHTI sehingga total areal berjumlah berjumlah 284.816 ha (TPL, 2008).

(36)

1. Sektor Tele berada pada Kabupaten Samosir yang meliputi Kecamatan H. Boho, Sumbul, Parbuluan, Kerajaan, Sidikalang dan Salak pada 2° 15’ 00” - 2° 50’ 00” LU dan 98° 20’ 00” BT - 98° 50’ 00” BT.

2. Sektor Padang Sidempuan berada pada Kabupaten Tapanuli Selatan yang meliputi Kecamatan Padang Bolak, Sosopan, Padang Sidempuan, dan Sipirok pada 1° 15’ 00” LU - 1° 50’ 00” LU dan 99° 13’ 00” BT - 99° 33’00” BT. 3. Sektor Aek Nauli berada pada Kabupaten Simalungun yang meliputi

Kecamatan Dolok Panribuan, Tanah Jawa, Sidamanik, dan Jorlang pada 2° 40’ 00” LU - 2° 50’ 00” LU dan 98° 50’ 00” BT - 99° 10’ 00” BT.

4. Sektor Habinsaran berada di Kabupaten Toba Samosir yang meliputi kecamatan Siborong-borong, Sipahutar, Habinsaran, Silaen, dan Laguboti pada 2° 7’ 00” LU - 2° 2’ 00” dan 99° 05’ 00” BT - 99° 18’ 00” BT.

5. Sektor Tarutung berada di Kabupaten Tapanuli Utara yang meliputi Kecamatan Dolok Sanggul, Sipaholon, Onan Gajang, Parmonangan, Adian Koting, Gaya Baru, Tarutung, Lintong Nihuta, dan Sorkam pada 1° 54’ 00” LU - 2° 15’ 00” LU dan 98° 42’ 00” - 98° 58’ 00” BT.

(37)

METODE PENELITIAN

Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei 2013. Lokasi penelitian berada di areal Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sektor Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara.

Alat dan Bahan Penelitian

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat PC (Personal Computer), alat tulis, kalkulator dan kamera digital.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yakni data rata-rata diameter dan tinggi tegakan dari keseluruhan kompartemen areal operasional yang merupakan hasil pengukuran berulang pada Petak Ukur Permanen (PUP) yang telah dilakukan oleh pihak PT. TPL. Bahan lain yang digunakan adalah peta kawasan khususnya di Sektor Aek Nauli serta software Microsoft Excel dan Curve Expert 1.4.

Prosedur Penelitian

Penelitian yang dilakukan terdiri dari beberapa tahapan dengan alur penelitian seperti pada Gambar 2. Tahapan-tahapan tersebut adalah :

Pengumpulan data 1. Data primer

(38)

2. Data sekunder

Data sekunder yang dimaksud adalah data yang diperoleh dari instansi terkait dalam hal ini adalah PT. TPL., Sektor Aek Nauli. Data ini berupa data rata-rata diameter dan tinggi tegakan operasional, data letak geografis, dan peta kawasan.

Perhitungan volume tegakan

Perhitungan volume tegakan yang dilakukan adalah volume tegakan untuk tiap kompartemen yang terpilih dengan rumus Simon (2007) sebagai berikut :

V = ¼ π D2 x H x f dimana : V = volume tegakan

D = diameter rata-rata H = tinggi rata-rata

f = angka bentuk = 0,42 (TPL, 2013)

Penyusunan model pendugaan pertumbuhan

Model pertumbuhan disusun berdasarkan hubungan antara diameter, tinggi, volume dengan umur tegakan. Beberapa model yang disusun untuk menduga pertumbuhan diameter, tinggi, dan volume tegakan adalah :

- Model linier : y = a + bx ... (1) - Model polynomial : y = a + bx + cx2 + dx3 ... (2) - Model logaritma : y = a + b ln(x) ... (3) - Model power : y = ab(1/x) ... (4) - Model eksponensial : y = ae(bx) ... (5)

(39)

e = bilangan euler (2,718)

Model pendugaan pertumbuhan yang telah dihasilkan kemudian diuji untuk menentukan model terbaik. Uji ini melihat nilai dari beberapa kriteria seperti :

1. Model pendugaan dapat dikatakan baik jika model tersebut memiliki nilai kesalahan baku (SE) maksimum 25% untuk model dengan satu variabel bebas dan maksimum 20% untuk model dengan variabel bebas lebih dari satu. Semakin kecil nilai SE, berarti kemungkinan perbedaan nilai hasil prediksi dari model pendugaan dengan nilai aktual di lapangan semakin kecil. Selain itu, nilai SE yang lebih kecil dari nilai standar deviasinya (Stdev) menunjukkan bahwa jumlah data yang digunakan dalam menyusun model dapat mewakili populasi (Prodan, 1965 dalam Marlia, 1999).

2. Nilai koefisien korelasi (r)

Nilai r paling kecil adalah -1 yang menunjukkan korelasi negatif sempurna. Apabila r = 0, artinya tidak ada korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat, sedangkan nilai r = 1 berarti korelasi positif sempurna (sangat tinggi).

Tabel 1. Kriteria Nilai Koefisien Korelasi Menurut Guilford

No. Nilai Koefisien

Korelasi

Kriteria Korelasi

1. < 0,2 korelasi sangat rendah, hubungan hampir tidak berarti

2. 0,2 – 0,4 korelasi rendah

3. 0,4 – 0,7 korelasi sedang, hubungan cukup penting

4. 0,7 – 0,9 korelasi tinggi, hubungan jelas

5. > 0,9 korelasi sangat tinggi, hubungan sangat meyakinkan

(40)

3. Nilai koefisien determinasi (R2)

Nilai R2 menunjukkan besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel terikat. Model pendugaan terbaik adalah model yang memiliki nilai R2 mendekati 100% (Supranto, 2008).

4. Simpangan agregatif (AgD) dan simpangan rata-rata (AvD)

Penentuan model pendugaan terbaik dapat dilihat dari nilai AgD dan AvD. Berdasarkan kriteria Spurr (1952), suatu model dikatakan akurat apabila nilai AvD kurang dari 10% dan AgD tidak lebih dari 1% dan tidak kurang dari -1%. Nilai tersebut dapat dihitung dengan rumus :

AgD = ∑nilai dugaan – ∑nilai aktual

∑nilai dugaan x 100%

AvD =

∑nilai dugaan – nilai aktualnilai dugaan

N

x 100%

Keterangan : N = jumlah data yang digunakan

5. Pemilihan model juga dilihat dari sebaran data serta bentuk trendline dari model yang diuji. Apabila penyebaran data tidak membentuk pola atau saling bebas, maka keaditifan model terpenuhi. Sedangkan untuk bentuk trendline model, apabila membentuk garis yang sangat dekat hingga bersinggungan dengan sebaran data, hal tersebut menunjukkan bahwa nilai dugaan yang dihasilkan dari model tersebut tidak akan jauh berbeda dari nilai aktual di lapangan (Basuki, 2007).

Perhitungan nilai riap volume tegakan

1. Riap rata-rata berjalan (Current Annual Increment/CAI)

(41)

CAI volume = Vn+1Vn (m3/Ha/tahun)

dimana : Vn+1 = nilai volume tegakan pada umur ke-n+1

Vn = nilai volume tegakan pada umur ke-n

2. Riap rata-rata tahunan (Mean Annual Increment/MAI)

Perhitungan riap rata-rata tahunan volume tagakan berdasarkan rumus Marsono (1987) sebagai berikut:

MAI volume = (m3/Ha/tahun)

T V

dimana : V = volume tegakan (m3/Ha)

T = umur tegakan (tahun)

Penentuan daur volume maksimum

(42)

Gambar 2. Bagan Alur Penelitian HTI PT. TPL, Tbk., Sektor Aek Nauli

Data Primer Survei Lapangan

Data Sekunder

Menghitung Nilai Volume Pohon E. hybrid pada areal operasional Pengolahan Data

Membangun model pendugaan pertumbuhan tegakan E. hybrid

Menghitung nilai prediksi volume, serta riap (MAI dan CAI) tegakan E. hybrid

Penyajian Data

(43)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi Tanaman

Hutan Tanaman Industri (HTI) ekaliptus PT. Toba Pulp Lestari Tbk. telah mengusahakan pengembangan terhadap tanaman ekaliptus yakni dengan melakukan perkawinan silang (hibridisasi) antara 2 jenis ekaliptus yang berbeda. Hasil dari perkawinan silang ini diharapkan memiliki produktivitas yang tinggi serta sifat yang lebih unggul dari induknya. Hal ini seiring dengan pernyataan Zobel dan Talbert (1984) yang menyatakan bahwa peningkatan produktivitas tegakan perlu diikuti dengan peningkatan mutu genetik. Mutu genetik dapat dicapai melalui pemuliaan dengan modal utama keragaman genetik untuk tujuan pengembangan jenis dengan sifat unggul.

Salah satu perkawinan silang pada tanaman ekaliptus yang dilakukan oleh PT. TPL adalah antara jenis E. grandis dengan E. pellita. Perkawinan silang ini menghasilkan klon-klon baru yang disebut dengan nama IND-32, IND-33, dan IND-45. Hasil diskusi yang dilakukan dengan pihak PT. TPL pada saat melakukan penelitian, diketahui bahwa saat itu pihak perusahaan lebih mengusahakan pengembangan E. hybrid untuk klon IND-32. Selama pengembangannya, IND-32 menunjukkan hasil yang baik dengan memiliki sifat unggul yakni mampu beradaptasi dan bertahan hidup pada kondisi lingkungan yang beragam.

(44)

umumnya bertajuk sedikit ramping, percabangan lebih banyak membuat sudut ke atas dengan daun yang tidak begitu lebat, sebagian atau seluruh kulitnya mengelupas dengan bentuk kulit bermacam-macam mulai dari kasar dan berserabut, halus bersisik, tebal bergaris-garis atau berlekuk-lekuk serta warna kulit batang mulai dari putih kelabu, abu-abu muda, hijau kelabu sampai cokelat, merah, sawo matang sampai cokelat. IND-32 yang terdapat di PT.TPL ini juga memiliki ciri yang sama, yakni memiliki warna batang putih kelabu dengan permukaan yang kasar, bergaris-garis, dan mengelupas. Pohon tumbuh tinggi dengan tajuk yang semakin mengkerucut keatas, dengan daun yang sedikit serta percabangan yang membentuk sudut kearah atas. Bunga berwarna putih dengan buah yang berbentuk kapsul, sedikit membulat seperti buah pir (Gambar 3).

(a) (b)

(c) (d)

(45)

Deskripsi Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari PT. TPL bagian perencanaan yang merupakan data rata-rata diameter dan tinggi dari keseluruhan kompartemen pada areal operasional. Keseluruhan data tersebut kemudian diseleksi berdasarkan jenis tanaman yang diteliti yakni E. hybrid IND-32 pada Estate A dan B yang telah dilakukan pengukuran diameter dan tinggi tahap Pre Harvest Inventory (PHI) dengan tujuan untuk menentukan jumlah kompartemen mana saja yang datanya akan digunakan.

Tabel 2. Data Kompartemen dan Umur Tegakan IND-32

Estate No. Kompartemen

Luas Area

keterangan : *merupakan umur tegakan pada saat dilakukan pengukuran tahap PHI

(46)

1. Plantation Monitoring Assesment 6 (PMA6), yakni metode menilai keberhasilan penanaman pada umur 6 bulan.

2. Plantation Monitoring Assesment 12 (PMA12), yakni metode menilai keberhasilan penanaman pada umur 12 bulan.

3. Mid Rotation Inventory (MRI), yakni metode inventarisasi tegakan tanaman pada umur 3 atau pertengahan daur (rotasi) tebang untuk mengetahui kualitas dan kuantitas tanaman.

4. Pre Harvest Inventory (PHI), yakni inventarisasi tegakan tanaman sebelum pemanenan sebagai dasar penyusunan rencana tahunan dan jangka panjang.

Penyusunan data time series ini dilakukan untuk mempermudah melakukan analisis pertumbuhan tegakan IND-32. Data yang disusun ini berisikan antara lain pada saat umur berapakah pengukuran dilakukan oleh pihak terkait, berapa nilai diameter dan tinggi tegakan, serta berapakah jumlah pohon tinggal di setiap kompartemen tersebut (Lampiran 1).

(47)

Model Pendugaan Pertumbuhan Tegakan E. hybrid (IND-32) Diameter

Penyusunan model pendugaan diameter yang dilakukan dengan menggunakan data pada Lampiran 1 mendapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 3. Model Pendugaan Diameter Tegakan E. hybrid (IND-32)

No Model SE Stdev r

Model pendugaan yang dihasilkan merupakan model dengan satu variabel bebas yakni umur tegakan. Berdasarkan Tabel 3, jika dilihat dari nilai SE, kelima model memiliki nilai SE yang lebih kecil dari nilai standar deviasinya serta nilai SE tidak lebih dari 25% yang menunjukkan kelima model dapat digunakan untuk menduga nilai diameter tegakan E. hybrid (IND-32). Sesuai dengan pernyataan Prodan (1965) dalam Marlia (1999) yang menyatakan bahwa nilai SE yang lebih kecil dari nilai Stdev menunjukkan bahwa jumlah data yang digunakan dalam penyusunan model dapat mewakili populasi.

Jika dilihat dari nilai r dan R2, model kedua, ketiga, dan keempat memiliki nilai yang sama dan merupakan nilai r dan R2 tertinggi dari dua model lainnya. Nilai r sebesar 0.97 yang menunjukkan keeratan hubungan antara umur dengan diameter serta nilai R2 sebesar 94,09% yang berarti bahwa besarnya nilai diameter tegakan E. hybrid (IND-32) 94.09% dipengaruhi oleh umur dan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain.

(48)

125,86% (lebih besar dari 10%). Sesuai dengan pernyataan Spurr (1952) yang menyatakan bahwa model akurat apabila nilai AvD kurang dari 10%. Sehingga kemungkinan model terbaik adalah antara model kedua dan keempat karena kedua model ini memiliki nilai AgD dan AvD yang sesuai dengan kriteria Spurr (1952). Namun model terbaik yang dipilih adalah model keempat, karena nilai SE model ini lebih kecil dari nilai SE model kedua yang menunjukkan bahwa kemungkinan nilai hasil pendugaan diameter tegakan E.hybrid (IND-32) dari model ini lebih akurat. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk sebaran data yang tidak berpola dan bentuk trendline dari model ini (Gambar 4).

Gambar 4. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Terpilih untuk Menduga Nilai Diameter Tegakan E. hybrid (IND-32)

Model kedua yang dianggap model terbaik merupakan model power dengan bentuk persamaan D = 20,06 (0,2)1/x. Menggunakan persamaan model tersebut, kemudian dihitung nilai pendugaan diameter tegakan dengan hasil pendugaan sebagai berikut :

(49)

Tabel 4. Nilai Pendugaan Diameter Tegakan E. hybrid (IND-32) pendugaan diameter pada umur ke-n

Hasil pendugaan menunjukkan bahwa terjadi pertumbuhan diameter yang cukup tinggi pada umur 1 sampai 3 tahun dengan nilai pertambahan dalam rentang 1 tahun masing-masing sebesar 3,93 cm, 4,95 cm, dan 2,77 cm. Kemudian pertambahan pertumbuhan semakin menurun pada tahun berikutnya yakni kurang dari 2 cm. Hal ini dikarenakan terjadinya fase vegetatif pada tahun awal pertumbuhan mengakibatkan tingginya laju pertumbuhan diameter tegakan dan kemudian tahun ketiga hingga seterusnya mulai terjadi fase generatif yakni pertumbuhan bunga dan biji yang mengakibatkan pertumbuhan vegetatif tanaman menurun. Sesuai dengan pernyataan Husch dkk. (1982) yang menyatakan bahwa pertumbuhan tanaman biasanya terbagi pada dua fase yakni fase vegetatif (fase awal) dimana pertumbuhan terjadi pada daun, batang, dan akar dan fase generatif dimana pertumbuhan menghasilkan bunga, buah, dan biji.

Gambar 5. Grafik Laju Pertumbuhan Diameter Tegakan E. hybrid (IND-32) Hasil Nilai Pendugaan Model yang Terpilih

(50)

Tinggi

Penyusunan model pendugaan tinggi yang dilakukan dengan menggunakan data pada Lampiran 1 mendapatkan hasil sebagai berikut :

Tabel 5. Model Pendugaan Tinggi Tegakan E. hybrid (IND-32)

No. Bentuk Persamaan SE Stdev r

Hasil pada Tabel 5 menunjukkan bahwa keseluruhan model penduga untuk menduga nilai tinggi tegakan E. hybrid (IND-32) merupakan bentuk model yang memenuhi kriteria. Model kedua dan keempat merupakan model pendugaan yang memiliki nilai r dan R2 yang sama dan merupakan nilai tertinggi dari kelima model yang disusun. Nilai r sebesar 0,98 mengartikan bahwa adanya hubungan yang sangat tinggi antara umur dengan tinggi tegakan, sedangkan nilai R2 sebesar 96,04% menunjukkan besarnya nilai tinggi tegakan E. hybrid (IND-32) 96,04% dipengaruhi oleh umur, selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain.

(51)

Gambar 6. Bentuk Sebaran Data dan Trendline Model Terpilih untuk Menduga Nilai Tinggi Tegakan E. hybrid (IND-32)

Berdasarkan hasil tersebut, maka bentuk model pendugaan yang dianggap terbaik untuk menduga nilai tinggi tegakan E. hybrid (IND-32) adalah model power dengan bentuk persamaan H = 30,7 (0,22)1/x. Nilai pendugaan tinggi yang dihasilkan model ini adalah :

Tabel 6. Nilai Pendugaan Tinggi Tegakan E. hybrid (IND-32)

Umur (tahun) Tinggi (m) ΔH (Hn+1 – Hn)

keterangan : ΔH = selisih nilai pendugaan tinggi pada umur ke-n+1 dengan nilai

pendugaan tinggi pada umur ke-n

Berdasarkan Tabel 6, tegakan E. hybrid (IND-32) memiliki pertambahan pertumbuhan yang tinggi pada umur 1 sampai 3 tahun, hingga mencapai pertambahan pertumbuhan tinggi sebesar 7,65 m pada umur 2 tahun. Hasil ini menunjukkan adanya persamaan hasil tanam yang ditanam oleh Amazonia Reboisasi yang dinyatakan oleh Dombro (2010) bahwa pertumbuhan telah mencapai lebih dari 6 m di 12 bulan pertama setelah melakukan transplantasi dari

(52)

pembibitan pohon tropis. Tahun keempat, pertumbuhan tinggi hanya bertambah sebesar 2,48 m dan semakin menurun pada tahun berikutnya.

Gambar 7. Grafik Laju Pertumbuhan Tinggi Tegakan E. hybrid (IND-32) Hasil Nilai Pendugaan dari Model yang Terpilih

Volume

Penyusunan model pendugaan volume dilakukan dengan menggunakan hasil perhitungan volume aktual dilapangan (Lampiran 1). Bentuk-bentuk model pendugaannya adalah :

Tabel 7. Model Pendugaan Volume Tegakan E. hybrid (IND-32)

No. Bentuk Persamaan SE Stdev r

Hasil penyusunan model pendugaan volume menunjukkan bahwa kelima model dapat digunakan untuk menghitung nilai dugaan volume tegakan E. hybrid (IND-32). Secara keseluruhan, model-model tersebut memenuhi kriteria sebagai model penduga yang baik. Namun jika dilihat dari nilai r dan R2 serta nilai SE terendah, maka model keempat merupakan model terbaik dengan bentuk persamaan V = 486,54 (0,02)1/x. Nilai r sebesar 0,942 menunjukkan adanya

(53)

mengartikan bahwa sebesar nilai tersebut pengaruh umur tegakan terhadap volume tegakan dan selebihnya dipengaruhi oleh faktor lain.

Nilai SE sebesar 21,817 dapat diartikan bahwa kemungkinan kesalahan dalam menduga nilai volume tegakan adalah sebesar nilai tersebut. Dapat dilihat pada Gambar 8 bentuk trendline dari model ini berada dekat dengan sebaran data yang menunjukkan bahwa kemungkinan nilai volume tegakan hasil dugaan yang dihitung dengan menggunakan persamaan model pendugaan tidak jauh berbeda dengan nilai volume tegakan sebenarnya.

Gambar 8. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Terpilih untuk Menduga Nilai Volume Tegakan E. hybrid (IND-32)

Nilai Riap Volume Tegakan E. hybrid (IND-32)

(54)

Tabel 8. Nilai Pendugaan Volume serta Nilai CAI dan MAI Tegakan E. hybrid

Hasil yang ditunjukkan pada Tabel 8 terlihat bahwa nilai volume tegakan E. hybrid mencapai 260,31 m3/Ha pada tahun keenam. Berdasarkan tabel diatas juga terlihat bahwa tingkat produksi rata-rata tahunan (MAI) tegakan E. hybrid (IND-32) dapat mencapai hingga 47,6 m3/Ha/thn. Sesuai dengan pernyataan Dombro (2010) yang menyatakan bahwa tingkat produksi rata-rata E. pellita sebesar 40 m3/Ha/tahun, sehingga pencapaian nilai MAI yang tinggi dari E. hybrid (IND-32) benar bisa terjadi mengingat salah satu indukan dari E. hybrid ini adalah E. pellita yang memungkinkan jenis ini mewarisi sifat unggul dari induknya.

Daur Volume Maksimum Tegakan E. hybrid (IND-32)

(55)

akan ekaliptus sebagai bahan baku industri pulp dan kertas yang semakin meningkat.

Salah satu cara untuk mengetahui kapan masa panen yang tepat dilakukan adalah dengan menentukan daur volume maksimumnya. Daur volume maksimum dapat diketahui dengan membuat sebuah grafik hubungan antara CAI dan MAI, dimana perpotongan antara grafik tersebut merupakan daur volume maksimumnya (seperti yang dinyatakan oleh Hendromono, dkk., 2003). Grafik CAI dan MAI pada Gambar 9 dibuat dengan mengacu pada hasil perhitungan nilai CAI dan MAI pada Tabel 8.

Gambar 9. Grafik CAI dan MAI Volume Tegakan E. hybrid (IND-32) Hasil grafik CAI dan MAI menunjukkan bahwa daur volume maksimum untuk tegakan E. hybrid (IND-32) dapat dicapai pada umur 4,4 tahun. Daur ini lebih cepat 4 bulan dari daur tebang yang telah ditetapkan oleh PT. TPL sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) perusahaan tersebut.

Latifah (2004) yang telah melakukan penelitian terhadap tegakan E. grandis di PT. TPL yang merupakan salah satu indukan dari E. hybrid

(IND-32) mendapatkan model pendugaan volume dengan 2 variabel bebas yakni

(56)

diameter dan tinggi dengan bentuk model V = -7,23 + 266 D2H. Kemudian dari hasil prediksi tersebut, disimpulkan bahwa daur volume maksimum tegakan E. grandis adalah pada umur 8 tahun.

Penelitian dalam menentukan daur volume maksimum terhadap jenis ekaliptus di PT.TPL juga telah dilakukan oleh Mindawati (2010), namun untuk jenis hibrid yang berbeda, yakni jenis E. urograndis yang merupakan hasil persilangan antara E. grandis dengan E. urophylla. Pembuatan model pendugaan pertumbuhan serta penentuan daur volume maksimum tegakan yang dilakukan dibedakan berdasarkan rotasi tanaman. Hasil penelitiannya mendapatkan model pendugaan volume dengan umur sebagai variabel bebas, yakni Ln V = 6,300505 – 5,63547(1/x) dan daur volume maksimum tegakan pada umur 5,5 tahun untuk rotasi 1. Model pendugaan volume yang kedua adalah Ln V = 6,205122 – 5,06804(1/x) dengan daur volume maksimum tegakan pada umur 5 tahun untuk rotasi 2.

(57)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Model pendugaan pertumbuhan diameter, tinggi, dan volume tegakan E. hybrid (IND-32) masing-masing adalah D = 20,06 (0,2)1/x, H = 30,7 (0,22)1/x, dan V = 486,54 (0,02)1/x.

2. Hasil dari prediksi nilai volume tegakan E. hybrid (IND-32) mendapatkan nilai CAI tertinggi mencapai 64,76 m3/Ha/thn pada umur 3 tahun dan nilai MAI tertinggi sebesar 47,6 m3/Ha/thn pada umur 4 tahun.

3. Daur volume maksimum tegakan E. hybrid (IND-32) adalah pada umur 4,4 tahun.

Saran

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Arifiandy, N. M. 2006. Model Pertumbuhan Rata-rata Diameter, Tinggi, dan Volume Tegakan Acacia Mangium. Skripsi. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Basuki, R. B. 2007. Pendugaan Biomassa Hutan Tanaman Eucalyptus grandis di IUPHHK PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

Bristow M., Vanclay, J.K., Brooks, L., dan Hunt M. 2006. Growth and species

interactions of Eucalyptus pellita in a mixed and monoculture plantation in

the humid tropics of north Queensland. For. Ecol. Manage. 233: 285–294.

Brooker, M. I. H., Connors, J. R., dan Slee, A. V. 2002. Eucalyptus of southern Australia. CSIRO Publishing. Victoria.(CD Rom).

Bruce, D., dan F.X. Schumacher. 1950. Forest Mensuration. 3rd Edition. McGraw Hill Book Company, Inc. New York.

Campinhos, E. N. 1993. A Brazillian Example of a Large Scale Forestry Plantation in Tropical Region. Los Banos. Filiphina.

Chapman, H. 1950. Forest Management. Mc Graw-Hill Book Company, Inc. New York.

Darwo, E. Suhendang., I. N. S. Jaya., H. Purnomo, dan Pratiwi. 2012. Kuantifikasi Kualitas Tempat Tumbuh dan Produktivitas Tegakan untuk Hutan Tanaman Eukaliptus di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol.9(2) : 83-93. Bogor.

Davis dan Johnson, J. 1987. Eucalyptus pellita Wild. Forest Scientist and Consultans. Australia.

Departemen Kehutanan. 1992. Manual Kehutanan. Departemen Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

---. 1994. Pedoman Teknis Penanaman Jenis-Jenis Kayu Komersil. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Jakarta.

---. 1996. Materi Penyuluhan Kehutanan I. Jakarta.

(59)

Direktorat Bina Pengembangan Hutan Tanaman. 2009. Kebijakan Pembangunan Hutan Tanaman Industri.

Dombro, Dexter B. 2010. Eucalyptus pellita : Amazonia Reforestration’s Red Mahagony. Planeta Verde Reforestation S.A.

Goncalves, J.M. N.L.F, Nambiar danNovais. 1997. Soil and Stand Management for Short Rotation Plantations. ACIAR. Australia.

Harbagung. 1991. Model Pertumbuhan Diameter dan Tinggi Tegakan Hutan Tanaman Eucalyptus urophylla ST. Blake di Daerah Pujon, Jawa Timur. Buletin Penelitian Hutan No. 545. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan. Bogor.

Hardiyanto, E.B. 2004. Growth and genetic improvement of Eucalyptus pellita in South Sumatra, Indonesia. In: Turnbull, J.W. (Ed.), Eucalypts in Asia: Proceedings of an international conference, held in Zhanjiang, Guangdong, People’s Republic of China, 7–11 April 2003. ACIAR Proceedings No 111, pp. 82-88.

Hendromono, Nina. M., dan Djokowahyono. 2003. Review Hasil Litbang. Status IPTEK yang Mendukung Pembangunan Hutan Tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konversi Alam. Bogor.

Husch, B., C.I. Miller., dan T.W. Beers. 1982. Forest Mensuration. 3rd Edition. John Wiley and Sons, Inc. New York.

Hutagalung IH. 2008. Produktivitas dan laju dekomposisi serasah daun Eucalyptus hibrid di HTI PT. Toba Pulp Lestari, Tbk., Sektor Aek Nauli, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Iskandar, U., Ngadiono, dan A. Nugraha. 2003. Hutan Tanaman Industri di Persimpangan Jalan. Arivco Press. Jakarta.

Karyaatmadja, B., IBP. Parthama, AP. Tampubolon dan Darwo, 2000. Prosiding Seminar Hasil-hasil Penelitian. Balai Penelitian Kehutanan, Pematang Siantar.

Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan : No. 309/Kpts-II/1999. Sistem Silvikultur dan Daur Tanaman Pokok dalam Pengelolaan Hutan Produksi. Koranto C.A.D. 2003. Nutrient dynamics in short rotation Gmelina arborea

plantations in East Kalimantan, Indonesia. Disertasi. Tokyo University of Agryculture and Technology . Tokyo.

(60)

Mardin, S. G. 2009. Ketahanan Bibit Eucalyptus sp. Terhadap Cekaman Kekeringan. Skripsi. Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara.

Marlia, R., S. Sutarahardja, dan B. Prihanto. 1999. Studi Penyusunan Volume Lokal Jenis-Jenis Komersial Ekspor di Hutan Mangrove HPH PT. Bina Lestari, Propinsi Dati I, Riau. Jurnal Manajemen Hutan Tropika. Vol. 2:23-32. Bogor.

Marsono. 1987 dalam Darwo dan Mas’ud 1993. Pendugaan Riap Tahunan Rata-Rata dan Potensi Volume Sungkai di Propinsi Riau. Buletin Penelitian Kehutanan volume 9 No 4 Desember 1993.

McMahon, Lynne. 2010. Eucalyptus grandis. Industry and Investment. NSW Government. PrimeFact 1055. Australia.

Mindawati, N., A. Indrawan., I. Mansur, dan O. Rusdiana. 2010. Kajian Pertumbuhan Tegakan Hybrid Eucalyptus urograndis di Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol. 7(1) : 39-50. Bogor.

Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1990. Hak Pengusahaan HTI.

Prodan, M. 1965. Holmesslehre. J.D. Saverlaeder's. Verlag Frankfurt am Main. ---. 1968. Forest Biometrics. Pergamon Press. Oxford. London.

Simon, H. 2007. Metode Inventore Hutan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Soepardi, G. 1992. Kesuburan Tanah. Program Studi Ilmu Tanah. Program Pascasarjana IPB. Bogor.

Spurr, S.H. 1952. Forest Inventory. The Ronald Press Company. New York. Suhendang, E. 1990. Hubungan Antara Dimensi Tegakan Hutan Tanaman dengan

Faktor Tempat Tumbuh dan Tindakan Silvikultur pada Hutan Tanaman Pinus merkusii Jungh di Pulau Jawa. [Disertasi] Pascasarjana IPB. Bogor. Supranto, J. 2008. Statistik Teori dan Aplikasi. Erlangga. Jakarta.

Sutisna, Titi, Kalimah, dan Purnadjaja. 1998. Pedoman Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia. Penerbit Prosea. Bogor.

Tim Peneliti Puslitbang Hutan Bogor. 1993. Laporan Persyaratan Tempat Tumbuh Jenis Pohon Industri (Eucalyptus urophylla, Duabanga moluccana, Acacia mangium, dan Paraserianthes falcataria). Puslitbang Hutan. Bogor.

(61)

United States Departement of Agriculture. 1998. Soil quality resources concerns. The United States Departement of Agriculture. Washington, D.C.

Vanclay, JK. 1994. Modelling Forest Growth and Yield. CAB International. United Kingdom.

Yudistira, I. 2004. Pengorganisasian Data Riap Diameter Jenis-Jenis Pohon Famili Dipterocarpaceae di Indonesia. Skripsi. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor. Zobel, B. dan J. Talbert. 1984. Applied Forest Tree Improvement. John Wiley &

(62)
(63)
(64)

121 3.88 15/11/2008 1 5.5 7.2 0 6466 1666 11.96332276

3.88 3 11.6 15.9 25 6466 1660 117.0954818

3.88 4.4 12.4 21.6 0 6466 1660 181.7708159

122 4.8 15/12/2008 0.5 0.1 2.6 642 8000 1532 0.001313261

4.8 1 5.3 7.4 625 8000 1402 9.608385512

4.8 3.1 13.5 17.1 0 8000 1402 144.0557534

4.8 4.3 16 20.4 0 8000 1402 241.3999043

123 3.01 15/3/2009 0.5 0.1 0.8 150 5016 1616 0.000426236

3.01 1 2.7 4.2 200 5016 1550 1.564686963

3.01 3 12.5 19.5 13 5016 1545 155.2036992

3.01 3.8 14 21.9 13 5016 1541 218.0829795

128 5.98 15/3/2009 0.5 0.1 2.6 575 9966 1570 0.001345835

5.98 1 5.2 6.7 500 9966 1486 8.876039915

5.98 3.3 12.4 18.5 0 9966 1486 139.3647228

(65)

Lampiran 2. Peta Sebaran Tegakan E.hybrid (IND-32)

(66)

Lampiran 3. Foto Tegakan E.hybrid (IND-32)

(a) (b)

(c)

(67)

Lampiran 4. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Diameter

Gambar 12. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Diameter; (a) linier, (b) polynomial, (c) logaritma, (d) power, (e) eksponensial

(68)

Lampiran 5. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Tinggi

Gambar 13. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Tinggi; (a) linier, (b) polynomial, (c) logaritma, (d) power, (e) eksponensial

(69)

Lampiran 6. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Volume

Gambar 14. Bentuk Trendline dan Sebaran Data Model Pendugaan Volume; (a) linier, (b) polynomial, (c) logaritma, (d) power, (e) eksponensial

Gambar

Gambar 1. Grafik CAI dan MAI
Gambar 2. Bagan Alur Penelitian
Gambar 3. Ciri-ciri IND-32; (a) daun, (b) batang, (c) bunga, (d) cabang
Tabel 2. Data Kompartemen dan Umur Tegakan IND-32
+7

Referensi

Dokumen terkait

Jenis Eucalyptus yang ada pada estate A dan B adalah 4 jenis dengan jenis tegakan Eucalyptus hybrid yang memiliki simpanan karbon yang paling tinggi dibandingkan dengan tegakan

Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa jenis tanaman ekaliptus pada hutan tanaman industri (HTI) PT Toba Pulp Lestari sektor Aek Nauli cukup memberikan

Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi biomassa dan massa karbon tegakan Eucalyptus IND 47 pada umur 5 tahun dengan menggunakan persamaan allometrik di IUPHHK PT..

Penelitian ini bertujuan untuk menduga potensi biomassa dan massa karbon tegakan Eucalyptus IND 47 pada umur 5 tahun dengan menggunakan persamaan allometrik di IUPHHK PT..

Terdapat empat bentuk hubungan model pendugaan volume pohon sampai limit diameter ujung 8 cm dan 5 cm sebagai fungsi dari diameter dan tinggi, yaitu:.. Dengan alasan

Judul Skripsi : Pendugaan Cadangan Karbon Tegakan Eukaliptus Pada Umur dan Jenis Berbeda, Studi Di Areal Hutan Tanaman Industri PT.Toba Pulp Lestari Sektor Aek Nauli.. Nama

Pertanaman dan Hasil Tegakan Eucalyptus grandis di Hutan Tanaman Industri.. A Manual of Diseases of Eucalyptus in South-

(Studi Kasus di Hutan Tanaman Industri PT. Toba Pulp Lestari Tbk., Sektor Aek Nauli) , yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Departemen..