• Tidak ada hasil yang ditemukan

E14110115. Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap Pendapatan Daerah Kabupaten Jember

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "E14110115. Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap Pendapatan Daerah Kabupaten Jember"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

(1)

KONTRIBUSI SEKTOR KEHUTANAN TERHADAP

PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN JEMBER

MUHAMMAD KHOIRUL MUFID

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(2)
(3)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Kontribusi Sektor Kehutanan terhadap Pendapatan Daerah Kabupaten Jember adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Februari 2016

(4)

ABSTRAK

MUHAMMAD KHOIRUL MUFID. E14110115. Kontribusi Sektor Kehutanan Terhadap Pendapatan Daerah Kabupaten Jember. Dibawah bimbingan HARDJANTO

Indonesia merupakan negara yang mempunyai keanekaragaman hayati tertinggi kedua di dunia setelah Brasil. Salah satu penyumbang keanekaragaman hayati tersebut adalah hutan. Hutan di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan mampu memberikan kontribusi baik bagi individu maupun kepada pemerintahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pendapatan daerah sektor kehutanan di pemerintah daerah Kabupaten Jember dan menghitung kontribusinya terhadap pendapatan daerah. Data penelitian yang digunakan berupa data sekunder yang bersumber dari sepuluh instansi. Kontribusi sektor kehutanan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jember dalam kurun waktu 2007-2014 berasal dari tiga jenis pendapatan diantaranya retribusi ijin penebangan pohon di luar kawasan hutan, provisi sumber daya hutan (PSDH) dan sumbangan pihak ketiga dari penjualan kayu. Kontribusi sektor kehutanan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jember memiliki persentase yang sangat kecil yaitu diantara 0.05482%–0.11449% dan perkembangan setiap tahunnya fluktuatif. Kata kunci : Hutan, Kontribusi, Pendapatan

ABSTACT

MUHAMMAD KHOIRUL MUFID. E14110115. Contribution of The Forestry Sector Against Revenue District Jember. Supervised by HARDJANTO

Indonesia occupies the second highest level of biodiversity in the world after Brazil. The forest is one of the benefactors of biodiversity. The forest of Indonesia has a huge potential and to contribute both to the individual and Government. This research aims to identify the kinds of income forestry regions in the Area of Government of the Regency of Jember and calculating its contribution to regional income. The secondary data of this research were obtained from ten agencies. The forestry sector's contribution to regional revenue Jember during 2007-2014 were obtained from three kinds of income levy logging licenses including trees outside forest areas, provision of forest resources (PSDH) and third-party contributions from the sale of timber. The forestry sector's contributes to regional revenue Jember had a very small percentage in which its development fluctuated between 0.05482% -0.11449%.

(5)

KONTRIBUSI SEKTOR KEHUTANAN TERHADAP

PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN JEMBER

MUHAMMAD KHOIRUL MUFID

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan

pada

Departemen Manajemen Hutan

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR

(6)
(7)
(8)

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta kasih sayang-Nya sehingga karya ilmiah yang berjudul

“Kontribusi Sektor Kehutanan terhadap Pendapatan Daerah Kabupaten Jember” dapat diselesaikan.

Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Ayahanda Sunyoto, Ibunda Juarni, Adinda Yuni Lutfian Sari dan seluruh keluarga yang telah mendoakan dan memberi dukungan baik moral maupun material,

2. Prof. Dr. Ir. Hardjanto, MS atas kesediaan dan kesabarannya membimbing penulis menyelesaikan karya ilmiah ini,

3. Kementerian Agama RI yang telah memberikan beasiswa PBSB kepada penulis,

4. Jajaran staf di sepuluh instansi Kabupaten Jember diantaranya BPS Jember, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jember, Dinas Pendapatan Kabupaten Jember, Badan Pengelola Keuangan dan Aset (BPKA) Kabupaten Jember, KPH Jember, Sekretariat Daerah Kabupaten Jember, Kantor Pariwisata Kabupaten Jember, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Jember, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Jember dan Taman Nasional Meru Betiri atas bantuan data-data penelitian,

5. Teman-teman CSS MoRA IPB, CSS 48, Fahutan 48 dan MNH 48 yang telah memberi dukungan kepada penulis.

Penulis berharap karya ilmiah ini memberikan manfaat yang besar bagi pihak yang membutuhkan dan penulis mengucapkan banyak terima kasih atas semua saran, dukungan serta nasehat-nasehatnya.

Bogor, Februari 2016

(9)

DAFTAR GAMBAR VII

DAFTAR LAMPIRAN VII

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 2

Tujuan 2

Manfaat Penelitian 2

METODE PENELITIAN 3

Waktu dan Tempat 3

Jenis dan Sumber Data 3

Metode Pengolahan Data 4

KONDISI UMUM 5

Keadaan Geografis 5

Penggunaan Lahan 5

Topografi 6

Iklim dan Curah Hujan 6

Demografi 6

Kondisi Perekonomian 8

HASIL DAN PEMBAHASAN 8

Kawasan Hutan 8

Potensi Sumber Daya Hutan Kayu Kabupaten Jember 10

Potensi Sumber Daya Hutan Non Kayu Kabupaten Jember 12

Pendapatan Daerah Kabupaten Jember 14

Pendapatan Daerah Sektor Kehutanan Kabupaten Jember 17

Kontribusi Sektor Kehutanan Kabupaten Jember 21

SIMPULAN DAN SARAN 22

Simpulan 22

Saran 23

DAFTAR PUSTAKA 23

LAMPIRAN 26

(10)

DAFTAR TABEL

1. Sumber dan jenis data 3

2. Batas wilayah Kabupaten Jember 5

3. Penggunaan lahan Kabupaten Jember 5

4. Ketinggian wilayah 6

5. Kemiringan lereng 6

6. Jumlah penduduk Kabupaten Jember 7

7. Pekerjaan penduduk usia 15 tahun ke atas 7

8. Luas kawasan hutan 9

9. Kawasan konservasi BKSDA Kabupaten Jember 9

10. Luas kawasan hutan KPH Jember 10

11. Produksi kayu KPH Jember 11

12. Produksi kayu hutan rakyat 11

13. Produksi getah pinus KPH Jember 12

14. Produksi kopi KPH Jember 12

15. Pengunjung Taman Nasional Meru Betiri pintu Kabupaten Jember 14

16. Komposisi pendapatan daerah Kabupaten Jember 15

17. Realisasi penerimaan pendapatan daerah Kabupaten Jember 16 18. Pendapatan retribusi izin penebangan pohon di luar kawasan hutan 18 19. Pendapatan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) Kabupaten Jember 19

20. Realisasi PSDH yang dikeluarkan KPH Jember 19

21. Pendapatan sumbangan pihak ketiga dari penjualan kayu jati 20

22. Pendapatan sektor kehutanan Kabupaten Jember 21

DAFTAR GAMBAR

1. Presentase PDB Sektor Kehutanan 1

2. Jumlah pengunjung PAPUMA 13

3. Perkembangan pendapatan daerah Kabupaten Jember 17

4. Perkembangan kontribusi sektor kehutanan Kabupaten Jember 22

DAFTAR LAMPIRAN

1. Luas menurut kecamatan 27

2. Banyaknya kelurahan/desa, dusun, RW dan RT menurut kecamatan 28

(11)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara mega biodiversity tertinggi kedua di dunia setelah Brasil (Wahyono dan Shalahuddin 2010). Menurut Wahyono dan Shalahuddin (2010) yang mengacu kepada hasil penelitian dari Dr. Campbell Owen Webb dari Havard University, Indonesia menempati urutan pertama jika yang diperhitungkan tidak hanya keanekaragaman hayati daratan (terrestrial biodiversity) namun juga keanekaragaman hayati laut (marine biodiversty). Salah satu penyumbang keanekaragaman hayati daratan (terrestrial biodiversity) di Indonesia adalah hutan. Hutan di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dan mampu memberikan kontribusi atau manfaat baik bagi individu maupun memberi manfaat bagi lembaga pemerintahan.

Salah satu contoh kontibusi kehutanan terhadap lembaga pemerintahan ialah kontribusi di bidang perekonomian negara seperti contohnya dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Persentase PDB cenderung menurun setiap tahunnya. Berikut data BPS (2015) tertera pada Gambar 1 dalam bentuk grafik.

Gambar 1. Presentase PDB Sektor Kehutanan

Penurunan PDB sektor kehutanan menjadi masalah bagi dunia kehutanan di Indonesia sehingga pemerintah pusat perlu melibatkan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumberdaya hutan.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah terdapat desentralisasi berupa penyerahan urusan pemerintah pusat kepada daerah dan terdapat otonomi daerah yang memberikan hak kepada daerah untuk mengatur sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan kesejahteraan masyarakat setempat. Otonomi daerah memberikan hak kepada daerah dalam mengelola sumberdaya hutan sehingga akan terlihat kreatifitas daerah dalam mengelola sumberdaya hutan.

0,6 0,65 0,7 0,75 0,8 0,85 0,9

2010 2011 2012 2013 2014 Presentase PDB Sektor Kehutanan

(12)

Perumusan Masalah

Otonomi daerah membuat pemerintah daerah harus berkreasi dalam menyejahterakan masyarakat. Tujuan kesejahteraan masyarakat tersebut tentunya dibutuhkan dana dalam menjalankan program-program yang dicanangkan oleh pemerintah. Sumber dana pemerintah daerah ialah pendapatan daerah yang bersumber dari berbagai sektor seperti seperti sektor peternakan, sektor perikanan dan salah satu sektor penyumbang pendapatan daerah ialah sektor kehutanan. Pendapatan daerah di berbagai daerah memiliki angka yang berbeda, salah satu penyebab perbedaan pendapatan daerah ialah setiap daerah memiliki karakteristik sumberdaya alam seperti hutan yang berbeda baik dari segi letak geografis, kesuburan tanah dan ketinggian dari permukaan laut. Faktor lain yang mempengaruhi perbedaan pendapatan daerah ialah luasan kawasan hutan diberbagai daerah yang berbeda.

Perkembangan PDB sektor kehutanan menurut BPS (2015) setiap tahunnya menurun berbeda halnya dengan PDRB Kabupaten Jember yang tercantum dalam BPS Jember (2015), bahwa PDRB sektor kehutanan di Kabupaten Jember memiliki perkembangan fluktuatif dengan nilai presentase dalam kurun waktu 2010 – 2014 berturut-turut 0.90%, 0.87%, 0.85%, 0.85% dan 0.86% (BPS Jember 2015).

Perkembangan pendapatan sektor kehutanan Pemerintah Daerah Kabupaten Jember setiap tahunnya belum diketahui begitu juga dari segi kontribusi sektor kehutanan Kabupaten Jember terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jember. Berdasarkan pernyataan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian ini ialah sebagai berikut:

1. Bagaimana komposisi pendapatan daerah Kabupaten Jember yang termasuk ke dalam sektor kehutanan ?

2. Berapakah kontribusi sektor kehutanan Kabupaten Jember terhadap pendapatan daerah ?

Tujuan

Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi jenis-jenis pendapatan daerah Kabupaten Jember yang termasuk ke dalam Sektor Kehutanan.

2. Menghitung Kontribusi Sektor Kehutanan terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jember.

Manfaat Penelitian

(13)

METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus – November 2015 yang bertempat di beberapa Instansi Kabupaten Jember antara lain Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jember, Dinas Pendapatan Kabupaten Jember, Badan Pengelola Keuangan dan Aset (BPKA) Kabupaten Jember, Kantor Pariwisata Kabupaten Jember, Badan Perencanaan Pembangunan Kabupaten (BAPPEKAB) Jember, Sekretariat Daerah Kabupaten Jember, KPH Jember, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Jember dan Taman Nasional Meru Betiri.

Jenis dan Sumber Data

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini meliputi data sekunder dari lembaga terkait sektor kehutanan dan sektor pendapatan Kabupaten Jember dan tidak terdapat data primer. Sumber data dan jenis data tertera pada Tabel 1.

Tabel 1. Sumber dan jenis data

No Sumber Data Jenis Data

1 Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jember

1. Kondisi demografi Kabupaten Jember

2. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Jember

2 Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Jember

1. Produksi hasil hutan rakyat Kabupaten Jember

2. Peraturan Daerah Kabupaten Jember

3 Dinas Pendapatan 1. Realisasi pendapatan daerah

Kabupaten Jember 4 Badan Pengelola

Keuangan dan Aset (BPKA) Kabupaten Jember

1. Peraturan Daerah Provinsi tentang Sumbangan Pihak Ketiga

5 KPH Jember 1. Luas Kawasan Hutan KPH Jember

2. Perkembangan produksi hasil hutan kayu KPH Jember

3. Perkembangan produksi getah pinus KPH Jember

4. Perkembangan produksi kopi KPH Jember

5. Potensi Hutan Wisata

6. Besarnya PSDH yang dikeluarkan oleh KPH Jember

6 Sekretariat Daerah 1. Peraturan Daerah terkait Kehutanan dan Pendapatan

(14)

No Sumber Data Jenis Data 8 Badan Perencanaan

Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Jember

1. Penggunaan lahan Kabupaten Jember beserta luasnya

2. Peta tata guna lahan Kabupaten Jember

9 Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kabupaten Jember

1. Luas Kawasan Konservasi yg dikelola oleh BKSDA

10 Taman Nasional Meru Betiri

1. Luas Kawasan TNMB yang termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Jember

2. Jumlah pengunjung TNMB

Metode Pengolahan Data

Tahap awal dalam pengolahan data dengan menyeleksi komposisi pendapatan daerah yang masuk ke dalam sektor kehutanan Kabupaten Jember. Data pendapatan daerah yang berasal dari sektor kehutanan tersebut di kelompokkan berdasarkan sumber pendapatan daerah tersebut, termasuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah atau Dana Perimbangan atau lain-lain Pendapatan Daerah yang sah.

Kontribusi sektor kehutanan terhadap di setiap sumber pendapatan daerah dapat dihitung dengan cara sebagai berikut:

%KSH = PADS /DPS / PDS

PAD/DP/ PD x 100%

Kontribusi sektor kehutanan secara keseluruhan dapat dihitung dengan cara sebagai berikut :

PDSK = PADSK + DPSK + LLPDSK

%KSH = PDS . em er

PD . em er x 100%

Keterangan : PDSK = Pendapatan Daerah Sektor Kehutanan PADSK = Pendapatan Asli Daerah Sektor Kehutanan PAD = Pendapatan Asli Daerah

DPSK = Dana Perimbangan Sektor Kehutanan DP = Dana Perimbangan

LLPDSK = Lain-Lain Pendapatan Daerah Sektor Kehutanan LLPD = Lain – Lain Pendapatan Daerah

(15)

KONDISI UMUM

Keadaan Geografis

Data Bapekab. Jember (2014) menyebutkan bahwa letak geografis Kabupaten

Jember berada pada posisi 7°59’6” - 8°33’56” LS dan 113°16’28” - 114°03’42” BT. Kabupaten Jember memiliki luas 329 334 ha (3 293.34 km2), dengan luasan tersebut Kabupaten Jember secara administratif terdiri dari 31 Kecamatan, 248 Desa/Kelurahan, 972 Dusun, 4 216 RW dan 14 213 RT (BPS 2015). Luas Kabupaten Jember menurut kecamatan dan banyaknya kelurahan/desa, dusun, RW dan RT menurut kecamatan dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2. Kabupaten Jember memiliki batas wilayah administratif dengan pemerintah daerah lain, batas wilayah tertera pada Tabel 2.

Tabel 2. Batas wilayah Kabupaten Jember

Wilayah Batas Wilayah

Utara Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Probolinggo

Timur Kabupaten Banyuwangi

Selatan Samudera Indonesia

Barat Kabupaten Lumajang

Sumber: Bapekab. Jember 2014

Kabupaten Jember dikelilingi oleh empat pemerintah daerah diantaranya Kabupaten Bondowoso, Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Lumajang serta wilayah selatan terdapat Samudera Indonesia.

Penggunaan Lahan

Kawasan Hijau mendominasi penggunaan lahan di Kabupaten Jember yang terdiri dari hutan, sawah, tegal dan perkebunan dengan persentase keseluruhan 86.76%. Persentase terbesar ialah hutan dengan persentase sebesar 36.75% . Secara rinci penggunaan lahan di Kabupaten Jember tertera pada Tabel 3.

Tabel 3. Penggunaan lahan Kabupaten Jember

No Penggunaan Lahan Luas

(16)

Topografi

Ketinggian Kabupaten Jember dari permukaan laut berada pada 0–3 300 mdpl. Sebagian besar Kabupaten Jember didominasi oleh ketinggian antara 100– 500 mdpl dengan luas 124 308 ha dengan persentase 37.75% dari total luas wilayah Kabupaten Jember dan ketinggian dengan persentase terkecil ialah diatas 1 000 mdpl dengan persentase 7.80%. Secara rinci ketinggian wilayah dari permukaan laut tertera pada Tabel 4.

Tabel 4. Ketinggian wilayah

Kabupaten Jember memiliki kelas lereng yang beragam. Kemiringan lereng yang mendominasi ialah kemiringan lereng Datar yang berada pada kelerengan antara 0–2% dengan luas 120 547 Ha dengan persentase 36.60%. Kemiringan lereng Kabupaten jember dapat di lihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Kemiringan lereng

Iklim Kabupaten Jember sama dengan pemerintah daerah lain di Indonesia dengan memiliki iklim tropis. Temperatur di daerah Kabupaten Jember memiliki Temperatur diantara 23°C sampai 31°C. Curah Hujan Kabupaten Jember memiliki angka pada kisaran 1 969 mm sampai 3 394 mm dengan musim hujan yang terjadi pada bulan September sampai Januari dan musim kemarau terjadi pada bulan Mei sampai Agustus (Bapekab. Jember 2014).

Demografi

(17)

Tabel 6. Jumlah penduduk Kabupaten Jember

Keadaan jumlah penduduk yang selalu meningkat setiap tahunnya dan luas areal yang tetap menyebabkan kepadatan penduduk dalam setiap kilo meter persegi meningkat setiap tahunnya. Terlihat pada rentan waktu 2005–2010, kepadatan penduduk pada tahun 2005 ialah 687 jiwa/km2 menjadi 708 jiwa/ km2 atau bertambah menjadi 21 jiwa/ km2.

Penduduk Kabupaten Jember mayoritas memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, kehutanan dan Perikanan, hal ini diperkuat dengan data tertera pada Tabel 7.

(18)

Tabel 7 menunjukkan bahwa pekerjaan di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan merupakan mata pencaharian mayoritas penduduk Kabupaten Jember. Persentase pekerja di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan ialah 45.34% dari total penduduk umur 15 tahun ke atas yang bekerja.

Kondisi Perekonomian

Salah satu indikator perekonomian suatu daerah bisa dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan nilai tambah bersih suatu barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu daerah dan timbul akibat dari aktivitas ekonomi (BPS 2015). Menurut BPS (2015), terdapat beberapa kegunaan Produk Domestik Regional Bruto diantaranya untuk mengetahui kemampuan sumber daya ekonomi yang dihasilkan suatu wilayah, mampu menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan atau setiap kategori dan mampu mengetahui peranan setiap kategori ekonomi suatu wilayah.

Sektor pertanian secara global baik pertanian, perkebunan, peternakan, perikanan maupun kehutanan merupakan penyumbang PDRB terbesar Kabupaten Jember. Menurut data BPS (2015) pada tahun 2010 sektor pertanian secara global mampu memberikan kontribusi PDRB sebesar Rp. 10 643.31 miliar dan naik menjadi Rp 15 056.70 miliar pada tahun 2014. Dalam sektor pertanian secara global tersebut terdapat bagian-bagian sektor lain diantaranya ialah tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan, jasa pertanian, kehutanan dan perikanan. Sektor kehutanan merupakan penyumbang PDRB terkecil setelah jasa pertanian dan jika dibandingkan penyumbang PDRB secara keseluruhan, sektor kehutanan hanya unggul dengan lapangan usaha listrik dan gas, pengadaan air dan pengelolaan sampah, jasa perusahaan serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial. Nilai PDRB sektor kehutanan tersebut memiliki nilai Rp. 299.00 miliar pada tahun 2010 dan meningkat pada 2014 menjadi Rp. 445.80 miliar.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kawasan Hutan

Hutan secara hukum dipaparkan dalam Pasal 1 UU. 41 Tahun 1999 memiliki pengertian hamparan lahan di dalam suatu kesatuan ekosistem yang berisi sumber daya alam hayati yang di dominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya dan antara satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Indrayanto (2006) menambahkan bahwa hutan memiliki keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan.

Hutan berdasarkan statusnya terdiri dari hutan negara dan hutan hak (Pasal 5 UU. 41 Tahun 1999). Hutan negara merupakan hutan yang berada pada tanah yang tidak dibebani hak atas tanah dan hutan hak merupakan hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas tanah (Pasal 1 UU. 41 Tahun 1999).

(19)

Tabel 8. Luas kawasan hutan

No Kawasan Hutan Luas (ha) Persen Terhadap

Luas Wilayah (%)

1 Hutan Produksi 32 020.74 9.72

2 Hutan Lindung 39 504.40 11.99

3 Hutan Konservasi 48 079.40 14.59

Total 119 604.54 36.31

Sumber: KPH Jember 2015, BKSDA Jember 2015 dan Taman Nasional Meru Betiri 2013

Kawasan hutan di Kabupaten Jember memiliki luasan 119 604.54 ha atau 36.31% luasan wilayah Kabupaten Jember. Kawasan dengan fungsi konservasi di Kabupaten Jember memiliki luasan terbesar dengan luasan mencapai 48 079.40 ha atau 14.59% luas wilayah Kabupaten Jember, sedangkan luasan terbesar selanjutnya ialah hutan lindung dengan luasan 39 504.40 ha atau 11.99% luas total wilayah Kabupaten Jember dan luas kawasan hutan yang terendah ialah hutan produksi dengan luas 32 020.74 ha dengan persentase sebesar 9.72% luas wilayah Kabupaten Jember.

Hutan konservasi merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu dengan fungsi pokok pengawetan keanekaraman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya (UU. 41 Tahun 1999). Hutan konservasi di Kabupaten Jember dikelola oleh dua lembaga yaitu Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) dan Bidang Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jember. Taman Nasional Meru Betiri mengelola kawasan seluas 58 000 ha yang secara administratif berada di wilayah Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi, sedangkan yang masuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Jember seluas 37 585 ha (Taman Nasional Meru Betiri 2013). Hutan Konservasi di Kabupaten Jember juga dikelola oleh BKSDA Jember dengan luasan 10 494.4 ha, kawasan konservasi BKSDA tertera pada Tabel 9.

Tabel 9. Kawasan konservasi BKSDA Kabupaten Jember

No Nama Kawasan Luas (ha) Keterangan

1 Cagar Alam Curah Manis Sempolan 17.30

2 Cagar Alam Nusa Barong 6 100.00

3 Cagar Alam Watangan Puger 2.10

(20)

hutan dengan fungsi lindung dan fungsi produksi dikelola oleh Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Jember dengan luas total 71 525.14 ha. KPH Jember memiliki tiga kelas perusahaan diantaranya ialah kelas perusahaan jati, kelas perusahaan mahoni dan kelas perusahaan pinus. Luas kawasan hutan yang dikelola KPH Jember berdasarkan kelas perusahaan tertera pada Tabel 10:

Tabel 10. Luas kawasan hutan KPH Jember

No BKPH Kawasan Hutan (ha)

Hutan Produksi Hutan Lindung

1. Kelas Perusahaan Jati 13 929.70 14 564.60

1. BKPH Ambulu 5 492.70 5 493.00

2. BKPH Mayang 4 755.70 6 667.70

3. BKPH Wuluhan 3 681.30 2 403.90

2. Kelas Perusahaan Mahoni 10 889.24 13 836.30

1. BKPH Lereng Yang Barat 8 596.83 1 509.90

Kelas perusahaan jati merupakan kelas perusahaan terluas jika dibandingkan dengan kelas perusahaan lain baik berdasarkan kawasan hutan yang memiliki fungsi produksi maupun kawasan hutan dengan fungsi perlindungan terhadap pencegahan banjir, pengendalian erosi dan sebagai pengatur tata air (hidrologi). Selanjutnya kelas perusahaan yang memiliki wilayah terluas kedua ialah kelas perusahaan mahoni dan yang terakhir ialah kelas perusahaan pinus. Sedangkan berdasarkan luasan BKPH, BKPH yang memiliki kawasan hutan dengan fungsi produksi terluas ialah BKPH Lereng Yang Barat yang terletak di kelas perusahaan mahoni dengan memiliki luasan 8 596.83 ha, sedangkan BKPH terluas pada kawasan hutan dengan fungsi perlindungan ialah BKPH Lereng Yang Timur dengan luasan mencapai 12 326.40 ha.

Potensi Sumber Daya Hutan Kayu Kabupaten Jember

Kayu merupakan manfaat hutan yang yang secara langsung dapat dinikmati oleh manusia. Manfaat kayu dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan rumah dan sebagai bahan baku perkakas (Djajapertjunda dan Djamhuri 2013). Potensi kayu di Kabupaten Jember terdapat di kawasan hutan atau hutan negara dan terdapat di luar kawasan hutan atau hutan rakyat. Berikut perkembangan produksi kayu di Kabupaten Jember:

Hutan Negara

(21)

Tabel 11. Produksi kayu KPH Jember KPH Jember ialah Jati, Mahoni dan Pinus. Jenis Jati, Mahoni dan Pinus memiliki produksi yang lebih besar jika dibandingkan dengan jenis kayu lainnya. Berdasarkan tabel diatas bisa dilihat bahwa dalam kurun waktu 2010 – 2014 produksi kayu KPH Jember terus mengalami peningkatan. Peningkatan terbesar terjadi pada tahun 2011 dengan persentase sebesar 55.95%, Peningkatan tersebut dari 21 627.90 m3 pada tahun 2010 menjadi 33 729.80 m3 pada tahun 2011 atau mengalami peningkatan sebesar 12 101.90 m3. Meskipun setiap tahunnya produksi kayu mengalami peningkatan namun persentase peningkatan tersebut mengalami penurunan.

Hutan Rakyat

Hutan rakyat di Kabupaten Jember dari tahun ke tahun mengalami peningkatan produksi hal ini merupakan bentuk semangat masyarakat Kabupaten Jember untuk membangun hutan rakyat dan bentuk kepercayaan masyarakat dalam menyokong ekonomi rumah tangga. Jenis kayu yang diminati oleh masyarakat Kabupaten Jember ialah sengon. Perkembangan produksi hutan rakyat Kabupaten Jember tertera pada Tabel 12.

Tabel 12. Produksi kayu hutan rakyat

Jenis Kayu Produksi Kayu / Tahun (m3)

Sumber: Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Jember 2015

(22)

m3 terjadi pada tahun 2013 atau sebesar 51.71% dari tahun sebelumnya sedangkan peningkatan tahun 2014 mengalami penurun peningkatan yaitu hanya meningkat 16.43% atau hanya meningkat 54 771.53 m3 dari tahun 2013. Jenis kayu yang paling diminati untuk di tanam di hutan rakyat ialah jenis kayu sengon.

Potensi Sumber Daya Hutan Non Kayu Kabupaten Jember

Hasil hutan non kayu atau hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon (Djajapertjunda dan Djamhuri 2013). Terdapat beberapa potensi hasil hutan bukan kayu yang terdapat di Kabupaten Jember diantaranya ialah getah pinus, kopi, hutan wisata dan Taman Nasional Meru Betiri.

Getah Pinus

Getah pinus merupakan salah satu potensi hasil hutan bukan kayu yang dihasilkan oleh KPH Jember. Terdapat tiga BKPH yang menghasilkan getah pinus diantaranya ialah BKPH Lereng Yang Barat, BKPH Sempolan dan BKPH Sumberjambe. Perkembangan produksi getah pinus di Kabupaten Jember tertera pada Tabel 13.

Tabel 13. Produksi getah pinus KPH Jember

BKPH Produksi/Tahun (kg) produksi getah pinus, pada tahun selanjutnya terus menerus mengalami penurunan.

Kopi

Hasil hutan bukan kayu yang dihasilkan oleh KPH Jember tidak hanya berupa getah pinus akan tetapi potensi lain hasil hutan bukan kayu KPH Jember ialah kopi. Perkembangan produksi kopi di KPH Jember tertera pada Tabel 14.

Tabel 14. Produksi kopi KPH Jember

Tahun Produksi (kg) Jumlah Peningkatan (kg)

2011 6 288 -

2012 7 771 1 483

2013 8 895 1 124

2014 13 050 4 155

(23)

Berdasarkan tabel diatas, produksi kopi KPH Jember setiap tahunnya mengalami peningkatan. Peningkatan paling tajam ialah pada tahun 2014 mencapai peningkatan 4 155 kg dari tahun sebelumnya. Peningkatan produksi kopi di KPH Jember ini berbanding terbalik dengan produksi getah pinus yang fluktuatif dan mengalami penurun terus-menerus pada 2012 sampai dengan 2014.

Hutan Wisata

Masyarakat yang bekerja di kota dengan lingkungan hidupnya sudah penuh polusi sangat mendambakan menemukan tempat udara yang segar, dengan situasi seperti ini peranan hutan dibidang rekreasi sangat terasa (Djajapertjunda dan Djamhuri 2013).

Kawasan hutan lindung yang menawarkan keindahan alam mampu menarik wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri. Salah satu kawasan lindung yang memiliki potensi tersebut ialah Pantai Putih Malikan Kabupaten Jember (PAPUMA). Jumlah pengunjung Pantai Putih Malikan setiap tahunnya tertera pada Gambar 2.

Gambar 2. Jumlah pengunjung PAPUMA (KBM Wijasling Tanjung PAPUMA 2015)

Berdasarkan grafik diatas, jumlah pengunjung hutan wisata Pantai Putih Malikan dari tahun 2010 – 2014 mengalami peningkatan secara terus menerus, jumlah pengunjung tahun 2010 sebanyak 181 758 pengunjung menjadi 298 730 pengunjng pada tahun 2014. Peningkatan jumlah pengunjung setiap tahunnya menjadi indikator bahwa Pantai Putih Malikan diminati oleh wisatawan, akan tetapi promosi Pantai Putih Malikan perlu ditingkatkan agar jumlah pengunjung dari luar Kabupaten Jember terus menerus mengalami peningkatan.

Pantai Putih Malikan berkontribusi terhadap pendapatan daerah berupa pembayaran pajak hiburan dan pajak parkir kepada pemerintah daerah Kabupaten Jember. Pasal 21 dan Pasal 52 Peraturan Daerah No. 3 Tahun 2011 tentang Pajak Daerah menyebutkan besar kontribusi pajak hiburan dan pajak parkir ialah 10% dari penjualan tiket masuk pada pajak hiburan ketangkasan dan 20% dari pajak parkir kendaraan. Data sekunder besarnya pajak yang dibayarkan KBM Wijasling Pantai Putih Malikan yang berhasil dikumpulkan ialah hanya pada tahun 2014, data sekunder besarnya pajak yang dibayarkan pada tahun 2007 – 2013 sudah tercampur dengan pajak hiburan lainnya seperti pajak hiburan tontonan film, pajak hiburan pagelaran seni dan lain sebagainya sehingga data tersebut tidak bisa ditelusuri.

(24)

Wisata Alam Taman Nasional Meru Betiri

Hutan konservasi di Kabupaten Jember memiliki potensi sebagai tempat rekreasi, pendidikan dan penelitian. Jumlah pengunjung Taman Nasional Meru Betiri dari pintu masuk Ambulu Kabupaten Jember setiap tahunnya tertera pada Tabel 15.

Tabel 15. Pengunjung Taman Nasional Meru Betiri pintu Kabupaten Jember

Tahun Pengunjung (orang)

Rekreasi Pendidikan Penelitian Total

2008 606 817 0 1 423

Sumber: Taman Nasional Meru Betiri 2015

Taman Nasional Meru Betiri pintu masuk Kabupaten Jember yang dijadikan andalan oleh pihak Taman Nasional Meru Betiri ialah wisata alam Pantai Bandealit yang memiliki pesona sunrise dan sunset yang sangat indah sehingga mampu menarik wisatawan untuk mengunjungi pantai tersebut.

Berdasarkan Tabel 15 diatas terlihat bahwa pengunjung Taman Nasional Meru Betiri pintu masuk Kabupaten Jember setiap tahunnya terjadi peningkatan kecuali pada tahun 2012 mengalami penurun, Penurunan pengunjung dari 2 786 pengunjung pada tahun 2011 menjadi 1 847 pengunjung pada tahun 2012 atau berkurang sebesar 939 pengunjung. Pengunjung yang mendominasi ialah pengunjung terkait pendidikan dan rekreasi, kunjungan terkait penelitian sangat minim, hal ini menjadi indikasi bahwa informasi ilmiah dari Taman Nasional Meru Betiri sangat minim, perlu adanya penelitian-penelitian di Taman Nasional Meru Betiri agar memberi informasi ilmiah pada masyarakat dan berpeluang mendapatkan temuan baru sehingga mampu berpotensi mengundang jumlah pengunjung berdatangan.

Taman Nasional Meru Betiri secara ekonomis sudah tidak berkontribusi terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jember. Hasil penjualan tiket masuk Taman Nasional Meru Betiri pada tahun 2007 – 2014 disetorkan 100% kepada pemerintah pusat. Hasil penjualan tiket masuk Taman Nasional Meru Betiri sebelum tahun 2007 di bagi dengan persentase 40% untuk pemerintah daerah Kabupaten Jember, 30% untuk pemerintah provinsi Jawa Timur, 15% untuk Dirjen PHKA (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam) dan 15% BUN (Bendaharawan Umum Negara).

Pendapatan Daerah Kabupaten Jember

(25)

penambah nilai kekayaan bersih dalam periode tahun bersangkutan (Pasal 1 UU. 33 Tahun 2004). Pasal 5 Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan menyebutkan bahwa pendapatan daerah terdiri tiga sumber peneriman daerah diantaranya ialah:

1. Pendapatan Asli Daerah 2. Dana Perimbangan 3. Lain-lain Pendapatan

Sumber pendapatan daerah dari tiga sumber penerimaan daerah memiliki komposisi pendapatan yang berbeda-beda. Jumlah komposisi dalam kurun waktu 2007–2014 tertera pada Tabel 16.

Tabel 16. Komposisi pendapatan daerah Kabupaten Jember

No Sumber Pendapatan Komposisi Pendapatan Jumlah Jenis Pendapatan

1. Pendapatan Asli Daerah Pajak Daerah 10

Retribusi 35

Hasil Pengelolaan Kekayaan

Daerah yang Dipisahkan 5

Lain-Lain PAD yang Sah 6

Jumlah 56

2. Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak 4

Bagi Hasil Bukan Pajak 8

Dana Alokasi Umum 1

Dana Alokasi Khusus 16

Jumlah 29

3. Lain-Lain Pendapatan Pendapatan Hibah 2

Daerah yang Sah Dana Bagi Hasil Pajak Dari

Provinsi dan Pemda Lainnya 6 Dana Penyusuain Otonomi

Khusus 10

Dana Darurat 1

Bantuan Keuangan Dari

Provinsi / Pemda Lain 1

Dana Bagi Hasil Retribusi 3

Jumlah 23

Jumlah Komposisi 108

Sumber: Dinas Pendapatan Kabupaten Jember 2015

Pendapatan daerah Kabupaten Jember terdiri dari 108 komposisi atau jenis pendapatan. Sumber pendapatan daerah yang mendominasi berasal dari sumber Pendapatan Asli Daerah dengan jumlah komposisi sebanyak 56 jenis pendapatan. Jumlah komposisi pendapatan daerah terbanyak ialah Retribusi Daerah dengan jumlah sebanyak 35 komposisi pendapatan. Sumber dan komposisi pendapatan daerah Kabupaten Jember secara rinci dapat dilihat pada Lampiran 5.

(26)

Tabel 17. Realisasi penerimaan pendapatan daerah Kabupaten Jember

Tahun Pendapatan (Rp) Total Pendapatan Daerah

(Rp)

Pendapatan Asli Daerah Dana Perimbangan Lain – Lain Pendapatan

Daerah Yang Sah

2007 78 000 265 431.68 982 794 847 439.00 49 762 815 458.00 1 110 557 928 328.68

2008 136 470 706 867.88 1 071 183 738 010.00 73 120 126 807.00 1 280 774 571 684.88

2009 135 022 286 377.97 1 085 595 479 231.00 117 960 906 338.00 1 338 578 671 946.97

2010 153 802 037 792.42 1 130 522 874 074.00 258 531 190 807.00 1 542 856 102 673.42

2011 182 494 390 158.79 1 250 834 951 524.00 448 954 440 924.00 1 882 283 782 606.79

2012 255 804 775 083.72 1 484 110 400 708.00 406 175 043 069.00 2 146 090 218 860.72

2013 308 383 350 304.68 1 588 889 984 736.00 469 097 504 490.00 2 366 370 839 530.68

2014 441 605 617 222.69 1 746 847 365 217.00 610 159 181 762.00 2 798 612 164 201.69

(27)

Gambar 3. Perkembangan pendapatan daerah Kabupaten Jember

Terlihat dari tabel dan grafik diatas bahwa pendapatan daerah Kabupaten Jember dalam kurun waktu 2007–2014 terus menerus mengalami peningkatan. Sumber pendapatan yang memiliki kontribusi terbesar pada kurun waktu 2007-2014 ialah Dana Perimbangan sedangkan sumber pendapatan yang memiliki kontribusi terendah pada kurun waktu 2007–2009 ialah lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah dan pada kurun waktu 2010–2014 ialah Pendapatan Asli Daerah. Sumber Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Jember lebih kecil kontribusinya dibandingkan dengan sumber pendapatan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Jember memiliki ketergantungan kepada pemerintah pusat. Pada prinsipnya semakin besar kontribusi Pendapatan Asli Daerah menunjukkan semakin kecil ketergantungan pemerintah daerah kepada pemerintah pusat (Baihaqi 2011).

Pendapatan Daerah Sektor Kehutanan Kabupaten Jember

Sektor kehutanan berperan dalam masa awal pembangunan di Indonesia (Suhendang 2013). Kontribusi hutan sangat penting dalam modal untuk melaksanakan pembangunan bangsa Indonesia secara berkelanjtan. Modal untuk melaksanakan pembangunan tersebut berasal dari hasil ekspor sumber daya alam Indonesia seperti minyak bumi, gas, barang tambang selain bumi dan gas dan hasil hutan terutama kayu (Suhendang 2013). Kontribusi hutan tidak hanya mampu menambah pendapatan pemerintah pusat akan tetapi juga mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan pemerintah daerah seperti berkontribusi terhadap pendapatan daerah Kabupaten Jember.

Sektor kehutanan Kabupaten Jember memiliki peran dalam menambah pendapatan daerah Kabupaten Jember. Peran tersebut ada pada ketiga sumber pendapatan, baik pada Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan maupun Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah. Pendapatan yang termasuk ke dalam pendapatan sektor kehutanan dari Pendapatan Asli Daerah ialah Retribusi Izin Penebangan

0,00

2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 Pendapatan Daerah Kabupaten Jember

(28)

Pohon di Luar Kawasan Hutan (Hutan Rakyat), sedangkan pendapatan sektor kehutanan yang termasuk kedalam Dana Perimbangan ialah Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dari kawasan hutan produksi dan yang termasuk pendapatan yang termasuk kedalam Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah ialah Sumbangan Pihak Ketiga dari Penjualan Jati (Bagi Hasil Retribusi Penjualan Kayu Jati) yang berasal dari Divisi Komersial Kayu Perhutani Divisi Regional Jawa Timur.

Retribusi Izin Penebangan Pohon di Luar Kawasan Hutan

Hutan di luar kawasan hutan atau lebih dikenal dengan hutan rakyat tidak hanya memiliki manfaat secara ekologis akan tetapi juga mampu berkontribusi dalam meningkatkan pendapatan daerah seperti peningkatan pendapatan daerah Kabupaten Jember dari sumber Pendapatan Asli Daerah. Perkembangan Retribusi Izin Penebangan Pohon di Luar Kawasan Hutan tertera pada Tabel 18.

Tabel 18. Pendapatan retribusi izin penebangan pohon di luar kawasan hutan

Tahun RIPP (Rp) Kontribusi (%)

PAD PD

2007 35 130 350.00 0.04504 0.00316

2008 35 036 750.00 0.02567 0.00274

2009 2 794 950.00 0.00207 0.00021

Sumber: Dinas Pendapatan Kabupaten Jember 2015

(29)

pohon yang disebutkan mekanisme mendapatkan izin penebangan pohon atau memperoleh Surat Keterangan Sahnya Kayu Bulat - Kayu Rakyat (SKSKB-KB) atau Surat Keterangan Asal Usul Kayu (SKAU) sehingga dalam menebang pohon yang terletak di hutan rakyat tidak dikenakan retribusi lagi.

Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH)

Hutan negara memiliki peran penting dalam menambah kontribusi terhadap pendapatan daerah. Hutan rakyat atau hutan hak memberikan kontribusi dalam bentuk retribusi ke sumber Pendapatan Asli Daerah, lain halnya dengan hutan negara yang memberikan kontribusi melalui sumber Dana Perimbangan berupa Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam yang tercantum dalam UU. 33 Tahun 2004 tentang Dana Perimbangan. Presentase Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam pada Provisi Sumber Daya Hutan dibagi dengan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dengan presentase 20% untuk Pemerintah Pusat dan 80% untuk Pemerintah Daerah. Selanjutnya 80% dibagi dengan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota lain dalam satu provinsi, dengan rincian 16% untuk Pemerintah Provinsi, 32% untuk Pemerintah Daerah Kabupaten penghasil dan 32% untuk Pemerintah Daerah Kabupaten lainnya dalam satu Provinsi.

Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang diterima oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jember tertera pada Tabel 19.

Tabel 19. Pendapatan Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) Kabupaten Jember

Tahun PSDH (Rp) Kontribusi (%)

Sumber: Dinas Pendapatan Kabupaten Jember 2015

Dalam kurun waktu 2007–2014 penerimaan dari Provisi Sumber Daya Hutan fluktuatif, begitu juga dengan kontribusinya terhadap Dana Perimbangan maupun Pendapatan Daerah penyebabnya ialah PSDH yang diterima oleh Pemerintah Daerah tergantung dari PSDH yang dikeluarkan oleh KPH Jember. PSDH yang dikeluarkan oleh KPH Jember dalam kurun waktu lima tahun tertera pada Tabel 20.

Tabel 20. Realisasi PSDH yang dikeluarkan KPH Jember

Tahun PSDH yang Dikeluarkan (Rp)

(30)

Terlihat dari tabel diatas Realisasi PSDH yang dikeluarkan KPH Jember dalam kurun waktu 2010–2014 fluktuatif. Realisasi PSDH yang dikeluarkan oleh KPH Jember terjadi penurunan pada tahun 2013 hal ini sama dengan penurunan penerimaan PSDH oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jember. Penurunan ini dipengaruhi oleh produksi kayu KPH Jember, meskipun dalam kurun waktu 2010– 2014 produksi kayu KPH Jember terus menerus mengalami peningkatan akan tetapi jenis kayu Jati di KPH Jember pada tahun 2013 mengalami penurunan produksi sebesar 3 857.82 m3, kayu Jati memiliki daya jual yang sangat tinggi dibandingkan dengan jenis kayu lain yang ada di KPH Jember sehingga hal ini juga sangat berpengaruh terhadap realisasi PSDH yang dikeluarkan oleh KPH Jember dan secara tidak langsung memiliki pengaruh terhadap penerimaan PSDH oleh pemerintah daerah Kabupaten Jember.

Sumbangan Pihak Ketiga Dari Penjualan Kayu Jati / Dana Bagi Hasil Retribusi Penjualan Kayu Jati Kabupaten Jember

Terdapat penerimaan berupa sumbangan pihak ketiga yang diatur dalam Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur No. 3 Tahun 2004 tentang Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Tata cara penerimaan sumbangan pihak ketiga yang berupa uang disetorkan ke Kas Daerah dan menjadi penerimaan provinsi dan jika sumbangan tersebut berupa barang maka dimasukkan dalam inventaris milik pemerintah provinsi (Peratutran Daerah Provinsi Jawa Timur No. 3 Tahun 2004). Sumbangan pihak ketiga dari penjualan Kayu jati atau dana bagi hasil retribusi penjualan kayu jati ini diatur dalam Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 41 Tahun 2011 tentang Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Atas Pembelian Kayu Dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur yang telah direvisi dari Peraturan Gubernur Jawa Timur Nomor 1 Tahun 2005 tentang Penerimaan Subangan Pihak Ketiga atas Pembelian Kayu dari Perum Pehutani Unit II Jawa Timut.

Besaran yang diterima oleh Pemerintah Daerah Provinsi ini tergantung dari kesepakatan bersama antara Perum Perhutani Unit Jawa Timur dan Mitra Kerja Perum Perhutani Unit II Jawa Timur (Para Pembeli Kayu) dengan Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur (Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 41 Tahun 2011). Hasil penerimaan yang disetorkan pihak ketiga ke kas pemerintah daerah provinsi Jawa Timur nantinya akan diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten sebesar 30% dengan pertimbangan pembagian 15% berdasarkan potensi dan 15% selanjutnya berdasarkan pemerataan (Peraturan Gubernur Jawa Timur No. 41 Tahun 2011).

Besaran yang di terima oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jember dalam kurun waktu 2007 – 2014 tertera pada Tabel 21.

Tabel 21. Pendapatan sumbangan pihak ketiga dari penjualan kayu jati

(31)

Tahun SPK (Rp) Kontribusi (%)

LLPD PD

2012 156 292 648.00 0.03848 0.00728

2013 167 462 203.00 0.03570 0.00708

2014 343 816 978.00 0.05635 0.01229

Sumber: Dinas Pendapatan Kabupaten Jember 2015

Dalam kurun waktu 2007–2014 penerimaan dari Sumbangan Pihak Ketiga Dari Penjualan Kayu Jati ini sangat fluktuatif begitu juga dalam hal kontribusi terhadap Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah maupun Pendapatan Daerah penyebabnya ialah sumbangan pihak ketiga dari penjualan kayu jati ini bergantung dari hasil kesepakatan antara pihak Perum Perhutani Unit II Jawa Timur dengan Mitra Kerja Perum Perhutani Unit II Jawa Timur (Para Pembeli Kayu) mengenai berapa besaran yang akan disumbangkan kepada pemerintah daerah.

Kontribusi Sektor Kehutanan Kabupaten Jember

Terdapat tiga jenis pendapatan sektor kehutanan, ketiganya tersebar kedalam ketiga sumber pendapatan daerah Kabupaten Jember diantaranya Retribusi Izin Penebangan Pohon di Luar Kawasan Hutan yang masuk ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD), Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) yang masuk ke dalam Dana Perimbangan (DP) dan Sumbangan Pihak Ketiga dari Penjualan Kayu Jati (Dana Bagi Hasil Retribusi Penjualan Kayu Jati) yang masuk ke dalam Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah. Total pendapatan sektor kehutanan dan kontribusinya terhadap pendapatan daerah tertera pada Tabel 22.

Tabel 22. Pendapatan sektor kehutanan Kabupaten Jember

Tahun Sektor Kehutanan Kontribusi (%)

2007 932 813 921.00 0.08400

2008 1 466 359 019.00 0.11449

2009 743 292 498.00 0.05553

2010 845 835 320.00 0.05482

2011 1 562 333 183.00 0.08300

2012 2 002 577 812.00 0.09331

2013 1 557 912 520.00 0.06584

2014 2 782 155 950.00 0.09941

Sumber: Dinas Pendapatan Kabupaten Jember 2015

(32)

Gambar 4. Perkembangan kontribusi sektor kehutanan Kabupaten Jember

Terlihat dari grafik diatas kontribusi sektor kehutanan terhadap pendapatan daerah berkisar diantara 0.05482%–0.11449%. Persentase tergolong kecil dan fluktuatif. Presentase kontribusi yang kecil dan fluktuatif tergantung dari sumber daya hutan seperti produksi hasil kawasan hutan yang di kelola oleh KPH Jember, selain hal tersebut faktor lainnya ialah jumlah sumbangan pihak ketiga dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur beserta mitra kerjanya yang disumbangkan kepada pemerintah daerah. Faktor kebijakan daerah juga memiliki peran penting dalam penambahan pendapatan sektor kehutanan dan kontribusi sektor kehutanan. Pada tahun 2008–2009 terdapat Peraturan Daerah dan Peraturan Bupati yang menghapus Retribusi Izin Penebangan Pohon sehingga kontribusi sektor kehutanan pada tahun 2010 terhadap PAD turun drastis.

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

1. Pendapatan daerah Kabupaten Jember yang termasuk ke dalam sektor kehutanan dalam kurun waktu 2007–2014 diantaranya ialah retribusi ijin penebangan pohon di luar kawasan hutan, provisi sumber daya hutan (PSDH) dan sumbangan pihak ketiga dari penjualan kayu jati (dana bagi hasil retribusi penjualan kayu jati). Ketiga jenis pendapatan sektor kehutanan tersebut memiliki kontribusi di setiap tahunnya kecuali retribusi ijin penebangan pohon di luar kawasan hutan yang hanya berkontribusi dalam kurun waktu 2007–2009 penyebabnya ialah terdapat perubahan peraturan daerah dan peraturan pelaksanaan mekanisme ijin penebangan pohon di luar kawasan hutan.

2. Kontribusi sektor kehutanan terdapat di ketiga sumber pendapatan daerah Kabupaten Jember dan memiliki presentase yang sangat kecil yaitu diantara 0.05482%–0.11449% dan perkembangan setiap tahunnya fluktuatif. Besar nilai pendapatan sektor kehutanan ini bergantung dari produksi hasil hutan

0,00000

(33)

seperti produksi hasil hutan kayu yang ada di hutan produksi dan bergantung dari pemberian atau sumbangan pihak ketiga (Perhutani dan mitra kerjanya) dalam memberikan sumbangan kepada pemerintah daerah.

Saran

1. Pengembangan potensi hutan yang mampu meningkatkan pendapatan daerah Kabupaten Jember agar mampu meningkatkan nilai kontribusi sektor kehutanan di Kabupaten Jember

2. Penelitian lanjut mengenai potensi hutan khususnya hutan wisata alam dan nilai ekonominya di Kabupaten Jember

3. Penelitian lanjut di daerah lain agar mampu menjadi bahan evaluasi pemerintah dalam menyusun kebijakan daerah khususnya kebijakan mengenai sektor kehutanan

DAFTAR PUSTAKA

Baihaqi. 2011. Analisis Kontribusi Pendapatan Asli Daerah Terhadap Pendapatan Daerah Provinsi Bengkulu [Jurnal Akuntansi] Vol. 1 No. 3 246 – 266. Bengkulu (ID): Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu.

[Bapekab. Jember] Badan Perencanaan Kabupaten Jember. 2014. Profil Hasil Pembangunan Kabupaten Jember. Jember (ID): Bapekab Jember.

[BPS] Badan Pusat Statistik. 2015. Distribusi Produk Domestik Bruto seri 2010 Triwulanan Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha (Persen). http://bps.go.id [diakses pada 8 Desember 2015 14.13]

[BKSDA Jember] Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah III Jember. 2015. Kawasan Konservasi Wilayah Kerja Bidang KSDA Wilayah III Jember Yang Masuk Kabupaten Jember. Jember (ID): BKSDA Wilayah III Jember.

[BPS Jember] Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember. 2010. Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga Kabupaten Jember Tahun 1961 – 2010. http://jemberkab.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/55 [diakses pada 24 November 2015; 10:21].

[BPS Jember] Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember. 2015. Kabupaten Jember Dalam Angka Jember In Figures 2015. Jember (ID): BPS Jember.

[BPS Jember] Badan Pusat Statistik Kabupaten Jember. 2015. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Jember Menurut Lapangan Usaha Tahun 2010 – 2014. Jember (ID): BPS Jember.

Dinas Pendapatan Kabupaten Jember. 2015. Target dan Realisasi Penerimaan Pendapatan Daerah Kabupaten Jember Tahun Anggaran 2007 – 2014. Jember (ID): Dinas Pendapatan Kabupaten Jember.

Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Jember. 2015. Data Statistik Produksi Hutan Rakyat Jember. Jember (ID): Dinas Perkebunan dan Kehutanan.

Djajapertjunda S, Djamhuri E. 2013. Hutan dan Kehutanan Indonesia Dari Masa Ke Masa. Bogor (ID): IPB Press.

(34)

[KBM Wijasling Tanjung Papuma Jember] Kesatuan Bisnis Mandiri Wisata Jasa Lingkungan Tanjung Pantai Putih Malikan Kabupaten Jember. 2015. Jumlah Pengunjung 2010 – 2014. Jember (ID): KBM Wijasling Papuma Jember. [KPH Jember] Kesatuan Pemangkuan Hutan Kabupaten Jember. 2015. Data

Pembayaran Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) KPH Jember. Jember (ID): KPH Jember.

[KPH Jember] Kesatuan Pemangkuan Hutan Kabupaten Jember. 2015. Evaluasi Potensi Sumber Daya Hutan Tahun 2014 KPH Jember. Jember (ID): KPH Jember.

[KPH Jember] Kesatuan Pemangkuan Hutan Kabupaten Jember. 2015. Laporan Kemajuan Produksi Non Kayu Tahun 2010 – 2014. Jember (ID): KPH Jember. [KPH Jember] Kesatuan Pemangkuan Hutan Kabupaten Jember. 2015. Produksi

Kopi Tahun 2011 – 2014. Jember (ID): KPH Jember.

[KPH Jember] Kesatuan Pemangkuan Hutan Kabupaten Jember. 2015. Rekapitulasi Laporan Bidang Tebangan 2010 – 2014. Jember (ID): KPH Jember. Pemerintah Kabupaten Jember. 2008. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Pengendalian Penebangan Pohon di Luar Kawasan Hutan Kabupaten Jember. Jember (ID): Pemerintah Kabupaten Jember.

Pemerintah Kabupaten Jember. 2008. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 34 Tahun 2008 Tentang Pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 13 Tahun 2008 Tentang Pengendalian Penebangan Pohon di Luar Kawasan Hutan Kabuapaten Jember. Jember (ID): Pemerintah Kabupaten Jember.

Pemerintah Kabupaten Jember. 2009. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 32 Tahun 2009 Tentang Mekanisme Penebangan Pohon di Luar Kawasan Hutan Kabupaten Jember. Jember (ID): Pemerintah Kabupaten Jember.

Pemerintah Kabupaten Jember. 2011. Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 3 Tahun 2011 Tentang Pajak Daerah. Jember (ID): Pemerintah Kabupaten Jember.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2004. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 3 Tahun 2004 Tentang Penerimaan Sumbangan Pihak Ketiga Kepada Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Surabaya (ID): Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 2011. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 41 Tahun 2011 TentangPeneriman Sumbangan Pihak Ketiga Atas Pembelian Kayu Dari Perum Perhutani Unit II Jawa TImur. Surabaya (ID): Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Pemerintah Republik Indonesia.1999. Undang Undang Republik Indonesia Nomer 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Jakarta (ID): Pemerintah Republik Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia. 2004. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Jakarta (ID): Pemerintah Republik Indonesia.

Pemerintah Republik Indonesia. 2014. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Pemerintah Daerah. Jakarta (ID): Pemerintah Republik Indonesia.

Suhendang E. 2013. Pengantar Ilmu Kehutanan. Bogor (ID): IPB Press.

(35)

Taman Nasional Meru Betiri. 2013. Rencana Pengelolaan Taman Nasional Meru Betiri Periode 2015 – 2024 Kabupaten Jember – Banyuwangi Provinsi Jawa Timur. Jember (ID): Taman Nasional Meru Betiri.

(36)
(37)

Lampiran 1. Luas menurut kecamatan

No Kecamatan Luas Wilayah (km2) Persentase (%)

1 Kencong 65.92 2.00

2 Gumukmas 82.98 2.52

3 Puger 148.99 4.52

4 Wuluhan 137.18 4.17

5 Ambulu 104.56 3.17

6 Tempurejo 524.46 5.92

7 Silo 309.98 9.41

8 Mayang 63.78 1.94

9 Mumbulsari 95.13 2.89

10 Jenggawah 51.02 1.55

11 Ajung 56.61 1.72

12 Rambupuji 52.80 1.60

13 Balung 47.12 1.43

14 Umbulsari 70.52 2.14

15 Semboro 44.43 1.38

16 Jombang 54.30 1.65

17 Sumberbaru 166.37 5.05

18 Tanggul 199.99 6.07

19 Bangsalsari 175.28 5.32

20 Panti 160.71 4.88

21 Sukorambi 60.63 1.84

22 Arjasa 43.75 1.33

23 Pakusari 29.11 0.88

24 Kalisat 53.48 1.62

25 Ledokombo 146.92 4.46

26 Sumberjambe 138.24 4.20

27 Sukowono 44.04 1.34

28 Jelbuk 65.06 1.98

29 Kaliwates 24.94 0.76

30 Sumbersari 37.05 1.12

31 Patrang 36.99 1.12

Kabupaten Jember 3 293.34 100

(38)

Lampiran 2. Banyaknya kelurahan/desa, dusun, RW dan RT menurut kecamatan

No Kecamatan Desa /

Kelurahan

Dusun RW RT

1 Kencong 5 24 123 526

2 Gumukmas 8 24 159 453

3 Puger 12 37 288 658

4 Wuluhan 7 25 126 719

5 Ambulu 7 27 200 637

6 Tempurejo 8 29 109 441

7 Silo 9 41 213 622

8 Mayang 7 24 109 347

9 Mumbulsari 7 26 86 463

10 Jenggawah 8 36 97 536

11 Ajung 7 33 113 491

12 Rambupuji 8 42 150 517

13 Balung 8 27 110 368

14 Umbulsari 10 28 153 450

15 Semboro 6 14 114 326

16 Jombang 6 17 134 402

17 Sumberbaru 10 36 166 599

18 Tanggul 8 24 140 507

19 Bangsalsari 11 41 253 569

20 Panti 7 29 91 423

21 Sukorambi 5 16 78 258

22 Arjasa 6 25 64 249

23 Pakusari 7 26 96 293

24 Kalisat 12 53 151 473

25 Ledokombo 10 38 147 422

26 Sumberjambe 9 58 103 426

27 Sukowono 12 27 142 403

28 Jelbuk 6 42 78 236

29 Kaliwates 7 32 152 490

30 Sumbersari 7 33 152 505

31 Patrang 8 38 119 404

Jember 248 972 4 216 14 213

(39)

29

Lampiran 3. Komposisi pendapatan daerah Kabupaten Jember

No Sumber Pendapatan Daerah Komposisi Pendapatan Jenis Pendapatan

1. Pendapan Asli Daerah Pajak Daerah 1. Pajak Hotel

2. Pajak Restoran

3. Pajak Hiburan

4. Pajak Reklame

5. Pajak Penerangan Jalan (PPJ)

6. Pajak Pengambilan Bahan Galian Gol. C / Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan

7. Pajak Parkir 8. Pajak Air Tanah

9. Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan

10.Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

Retribusi Daerah 1. Retribusi Pelayanan Kesehatan

2. Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan

3. Retribusi Penggantian Biaya KTP dan Akta Catatan

Sipil

4. Retribusi Pelayanan Pemakaman dan Pengabuan

Mayat

5. Retribusi Pelayanan Parkir di Tepi Jalan Umum / Retribusi Pelayanan Parkir Berlangganan

6. Retribusi Pelayanan Pasar

7. Retribusi Pengujian Kendaraan Bermotor

8. Retribusi Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran

9. Retribusi Penyedotan dan Penyediaan Kakus

10.Retribusi Pengelolaan Limbah Cair

(40)

No Sumber Pendapatan Daerah Komposisi Pendapatan Jenis Pendapatan

12.Retribusi Sewa Rumah Dinas Guru / Karyawan Pemda

13.Retribusi Penggunaan Jalan Kabupaten

14.Retribusi Pemakaian Kekayaan Daerah

15.Retribusi Pasar Grosir/Pertokoan 16.Retribusi Tempat Pelelangan 17.Retribusi Terminal

18.Retribusi Tempat Khusus Parkir 19.Retribusi Tempat Penginapan/Villa

20.Retribusi Rumah Potong Hewan (RPH)

21.Retribusi Tempat Rekreasi

22.Retribusi Penjualan Produksi Usaha Daerah 23.Retribusi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 24.Retibusi Izin Gangguan

25.Retribusi Izin Trayek

26.Retribusi Izin Usaha Perikanan

27.Retribusi Izin Peruntukan Penggunaan Tanah

28.Retribusi Izin Penebangan Pohon di Luar Kawasan

Hutan

29.Retribusi Izin Pengelolaan Pertambangan dan Energi 30.Retribusi Izin Usaha Perdagangan (SIUP)

31.Retribusi Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 32.Retribusi Izin Usaha Industri (IUI)

33.Retribusi Surat Izin Usaha Jasa Kontruksi

34.Retribusi Tanda Daftar Gudang (TDG)

(41)

31

No Sumber Pendapatan Daerah Komposisi Pendapatan Jenis Pendapatan

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan

1. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM)

2. Perusahaan Daerah Perkebunan

3. PT. Bank Jatim

4. Perusahaan Daerah Apotik

5. Perusahaan Daerah Patra Bumi Argopuro

Lain-Lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah

1. Hasil Penjualan Aset Daerah yang Tidak Dipisahkan

2. Penerimaan Jasa Giro

3. Pendapatan Bunga Deposito

4. Fasilitas Sosial dan Umum

5. Pendapatan Badan Layanan Umum (BLUD)

6. Penerimaan Lain-Lain

2. Dana Perimbangan Bagi Hasil Pajak 1. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB)

2. Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan

(BPHTB)

3. Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 25 dan Pasal 29 29 WPOP Dalam Negeri dan PPh Pasal 21

4. Bagi Hasil Cukai Tembakau

Bagi Hasil Bukan Pajak 1. Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH)

2. Iuran Tetap / Landrent

3. Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi

4. Pungutan Pengusahaan Perikanan

5. Pungutan Hasil Perikanan

6. Pertambangan Minyak Bumi

7. Pertambangan Gas Alam

8. Pertambangan Panas Bumi

(42)

No Sumber Pendapatan Daerah Komposisi Pendapatan Jenis Pendapatan

Dana Alokasi Khusus 1. DAK Bidang Pendidikan

2. DAK Bidang Kesehatan

3. DAK Bidang Pelayanan Rujukan

4. DAK Bidang Pelayanan Dasar

5. DAK Bidang Infrastruktur Jalan 6. DAK Bidang Infrastruktur Irigasi

7. DAK Bidang Infrastruktur Air Minum dan Sanitasi

8. DAK Bidang Kelautan dan Perikanan

9. DAK Bidang Pertanian

10.DAK Bidang Lingkungan Hidup

11.DAK Bidang Keluarga Berencana

12.DAK Pelayanan Bidang Farmasi

13.DAK Bidang Perdagangan

14.DAK Bidang Keselamatan Transportasi Darat

15.DAK Bidang Kehutanan

16.DAK Perumahan dan Pemukiman

3. Lain-Lain Pendapatan Daerah

Yang Sah

Pendapatan Hibah 1. Pendapatan Hibah Dari PT. ASKES

2. Pendapatan Hibah Dari Pemerintah

Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemda Lainnya

1. Pajak Kendaraan Bermotor (PKB)

2. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)

3. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB)

4. Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan (ABT/AP)

5. Pajak Air Permukaan

6. Pajak Rokok

Dana Penyesuaian Otonomi Khusus

1. Dana Penyusuaian Tunjangan Pendidikan

2. Pendapatan DP Tambahan Penghasilan Guru PNS

(43)

33

No Sumber Pendapatan Daerah Komposisi Pendapatan Jenis Pendapatan

4. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)

5. Danan Percepatan Pemb. Infra. Prasarana Daerah

(Pelayanan Kesehatan Rujukan)

6. Dana Percepatan Pemb. Infrastruktur Pendidikan 7. Dana Penguatan Desentralisasi Fiskal dan Percepatan

Pembangunan Daerah (Jalan dan Jembatan)

8. Dana Alokasi Cukai

9. Dana Insentif Daerah

10.Dana LOAN WISMP 2

Dana Darurat 1. Dana Penanggulangan Korban Bencana

Bantuan Keuangan Dari Provinsi / Pemda Lain

1. Bantuan Keuangan Dari Provinsi Jatim

Dana Bagi Hasil Retribusi 1. Dana Bagi Hasil Retribusi IMTA (Izin

Memperkerjakan Tenaga Asing)

2. Dana Bagi Hasil dari Bea Tera Kemeterologian

3. Dana Bagi Hasil Retribusi Penjualan Kayu Jati / Sumbangan Pihak Ketiga dari Penjualan Jati

(44)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jember pada tanggal 12 Juni 1993 dari pasangan Sunyoto dan Juarni. Penulis merupakan putra pertama dari dua bersaudara. Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Nurul Islam (NURIS) Jember dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Institut Pertanian Bogor (IPB) di Departemen Manajemen Hutan melalui jalur Beasiswa Utusan Daerah (BUD) dengan sponsor Kementerian Agama RI atau lebih dikenal dengan Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB).

Aktivitas penulis selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif di organisasi komunitas beasiswa PBSB yaitu CSS MoRA IPB sebagai staf Departemen Minat dan Bakat Kabinet Berprestasi untuk masa jabatan 2012-2013. Masa jabatan selanjutnya yakni 2013-2014 penulis berada di Departemen yang samas yakni Departemen Minat dan Bakat Kabinet Inspirasi CSS MoRA IPB. Kegiatan kepanitiaan yang diikuti penulis ialah kepanitiaan di hampir semua program-program CSS MoRA IPB selama masa jabatan 2012-2014, beberapa diantaranya yakni Ketua CSS League 2013 dan Wakil Ketua CSS CUP 2014.

Gambar

Gambar 1. Presentase PDB Sektor Kehutanan
Tabel 1. Sumber dan jenis data
Tabel 3. Penggunaan lahan Kabupaten Jember
Tabel 6. Jumlah penduduk Kabupaten Jember
+7

Referensi

Dokumen terkait

dan nilai produksi subsektor perikanan terhadap Pendapatan Daerah Kabupaten Bima, serta untuk mengetahui apakah subsektor perikanan merupakan sektor utama kegiatan ekonomi

Alternatif kebijakan yang menjadi prioritas untuk meningkatkan kontribusi sub sektor kehutanan terhadap ekonomi kabupaten Sumedang adalah pengembangan ekowisata

2 kedua terbesar setelah migas, dan urutan ketiga di bawah migas dan tekstil sejak medio 1990-an (Nurrochmat 2005). Sektor kehutanan juga telah membuktikan sebagai suatu

Jenis penerimaan dalam sektor kehutanan di Kabupaten Muna dibeda- kan atas penerimaan berdasarkan dana bagi hasil antara pemerintah pusat dan daerah serta penerimaan

Salah satu sumber pendapatan asli daerah yang di kelolah oleh pemerintah daerah berasal dari sektor retribusi daerah merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah daerah

Nilai Komponen Pertumbuhan Wilayah Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan serta Sektor Perekonomian Lainnya di Kabupaten Temanggung Tahun 2013-2017.... Nilai

Penerapan Sistem Self Assessment pada Pajak Restoran untuk oleh Dinas Pendapatan Kabupaten Jember meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Sektor Restoran ; Angga Firman

Mustika dan Idayati, 2014 dalam penelitinnya yang berjudul “Kontribusi Pajak Daerah Dan Retribusi Terhadap Pendapatan Asli Daerah Di Pemerintah Kota Surabaya “