• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HUMANIORA NOVEL WASRIPIN DAN SATINAH KARYA KUNTOWIJOYO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS HUMANIORA NOVEL WASRIPIN DAN SATINAH KARYA KUNTOWIJOYO"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS HUMANIORA NOVEL WASRIPIN DAN SATINAH

KARYA KUNTOWIJOYO

Skripsi

diajukan untuk memenuhi salah satu syarat meraih gelar Sarjana Sastra pada Fakultas Sastra Universitas Jember

oleh

Hendra Cahya Ditama

NIM 990110201073

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS JEMBER

(2)

88

SINOPSIS

Wasripin diasuh oleh emak angkatnya, seorang penjual tahu ketoprak sejak ibunya meninggal ketika dia masih berusia tiga tahun. Wasripin tumbuh besar di sebuah perkampungan miskin. Wasripin terbiasa diminta emak angkatnya untuk melayani hasrat birahinya beserta perempuan-perempuan lainnya. Pada mulanya Wasripin merasa biasa saja sampai akhirnya lama kelamaan dia bosan dengan kehidupannya dan memutuskan untuk pergi meninggalkan emak angkat serta kampung halamannya untuk merantau ke Jakarta.

Setelah lama di Jakarta, Wasripin memutuskan untuk kembali ke kampung halaman emaknya, sebuah perkampungan nelayan di pantai utara Jawa Tengah sebelah barat. Namun dia tidak tahu apa nama dari desa asal emak angkatnya tersebut. Wasripin hanya mengikuti apa kata hatinya saja. Ia tiba di sebuah surau dan memutuskan untuk beristirahat dan tertidur. Wasripin tertidur selama tiga hari tiga malam. Di dalam mimpinya dia bertemu dengan seorang kakek tua berambut putih yang mengajarinya banyak hal. Selama tidurnya dia tidak tahu bahwa kedatangannya ke desa tersebut mulai menjadi pembicaraan banyak orang mulai dari perangkat desa, masyarakat sekitar dan pihak berwajib.

Ketika terbangun Wasripin terkejut melihat banyaknya orang yang mengerumuninya. Wasripin menceritakan mimpinya tersebut pada orang-orang yang kemudian beranggapan bahwa Wasripin telah bertemu Nabi Hidhir. Wasripin pun menjadi pembicaraan orang. Wasripin akhirnya menetap di surau itu karena permintaan dari Pak Modin, tokoh masyarakat yang ada di perkampungan itu. Dengan berbagai kelebihannya yang entah dia sendiri tidak tahu darimana, Wasripin pun menjadi pujaan di perkampungan itu. Orang-orang menganggap bahwa Wasripin adalah seorang utusan Tuhan yang didatangkan untuk membantu menghadapi beban hidup mereka di tengah-tengah kekuasaan pemerintah yang sewenang-wenang.

(3)

89

awal kisah cinta mereka yang lugu dan polos. Wasripin merasa cocok dengan Satinah begitu juga sebaliknya dikarenakan persamaan nasib keduanya di masa lampau yang sama-sama kelam. Jika Wasripin dijadikan budak nafsu oleh emak angkatnya, Satinah diperkosa oleh pamannya sendiri. Paman Satinah merasa menyesal akhirnya nekat mencongkel kedua bola matanya. Pamannya yang telah buta tersebut lalu memutuskan untuk mengabdikankan hidupnya kepada Satinah.

Referensi

Dokumen terkait

Pasalnya kedua gejala tersebut seringkali terjadi secara bersamaan dalam sebuah peristiwa sosiolinguistik.Kachru mendefinisikan campur kode sebagai pemakaian dua

Digital Repository Universitas Jember Digital Repository Universitas Jember... Digital Repository Universitas Jember Digital Repository

Di sekolah itu, ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang dijuluki dengan sebutan Laskar Pelangi dan dengan seorang guru yang hingga kini sangat dihormatinya, yakni NA (Nyi

Peristiwa tersebut merupakan peristiwa campur kode frasa bentuk deskripsi yakni Campur kode yang dilakukan oleh penulis novel untuk menyampaikan

Aku ramal, nanti akan bertemu di kantin” dia adalah Dilan, si anggota geng motor Bandung tahun 1990 yang satu sekolah dengan Milea Sedangkan alur yang terdapat

Wujud implikatur konvensional makna sebenarnya yang bersifat umum yang ditemukan dalam novel Jodoh Akan bertemu karya Lana Azim dan Dwitasari adalah 1 wujud kalimat berita deklaratif

Pelaku yang mengemban dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh, sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku

60 Dari data di atas terdapat peristiwa campur kode dengan unusur bahasa daerah Bali ke dalam pemakaian bahasa Indonesia, yaitu pada kata bape yang memiliki arti ‘bapak/ayah’, dan