• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perbedaan Jumlah Streptococcus mutans pada Saliva Perempuan Menopause dengan Perempuan Usia Produktif

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Perbedaan Jumlah Streptococcus mutans pada Saliva Perempuan Menopause dengan Perempuan Usia Produktif"

Copied!
76
0
0

Teks penuh

(1)

PERBEDAAN JUMLAH STREPTOCOCCUS MUTANSPADA

SALIVA PEREMPUAN MENOPAUSE DENGAN

PEREMPUAN USIA PRODUKTIF

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi tugas dan melengkapi syarat memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi

Oleh:

YULISHA CINDY T. SINAGA NIM : 090600082

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

Fakultas Kedokteran Gigi Departemen Biologi Oral

Tahun 2015

Yulisha Cindy T Sinaga

Perbedaan Jumlah Streptococcus mutans pada Saliva Perempuan

Menopause dengan Perempuan Usia Produktif

x+39 halaman

Menopause adalah perubahan fisiologis yang akan dialami setiap perempuan sebagai masa berakhirnya menstruasi dan kemampuan bereproduksi. Pada rongga mulut, menopause menyebabkan perubahan kuantitas dan kualitas saliva.Saliva

merupakan faktor pertahanan dalam menjaga kesehatan rongga mulut, dimana salah satu perannya adalah menghambat pertumbuhan bakteri Streptococcus

mutans.Streptococcus mutans adalah salah satu bakteri yang paling dominan berperan

dalam terbentuknya karies. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva perempuan menopause dengan perempuan

usia produktif.

Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian

cross sectional. Subjek penelitian sebanyak 60 orang yang terdiri dari 30 orang

perempuan menopause dengan 30 orang perempuan usia produktif. Subjek penelitian diinstruksikan untuk mengunyah paraffin wax selama 1 menit kemudian saliva

(3)

mutans.Penanaman Streptococcus mutans pada media TYC diinkubasi pada suhu

37oC selama 24 jam kemudian dihitung dalam satuan CFU/ml.

Hasil penelitian menunjukkan jumlah Streptococcus mutans pada saliva

kelompok perempuan menopause adalah 143,35×104 CFU/ml sedangkan kelompok

perempuan usia produktif adalah 80,50×104 CFU/ml. Hasil analisis T-test

independent menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara jumlah Streptococcus

mutans pada saliva perempuan menopause dibandingkan perempuan usia produktif

dengan nilai p=0,000 (p<0,05).

Berdasarkan penelitian ini dapat ditarik kesimpulan bahwa jumlah Streptococcus mutans pada saliva perempuan menopause lebih tinggi dari perempuan

usia produktif.

(4)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini telah di setujui untuk dipertahankan Dihadapan tim penguji skripsi

Medan, 23 September 2015

Pembimbing: Tandatangan

(5)

PERNYATAAN PERSETUJUAN

Skripsi ini dipertahankan di hadapan tim penguji Pada tanggal 23 September 2015

TIM PENGUJI

Ketua : Minasari drg., MM

Anggota : 1. Lisna Unita, drg., M.Kes

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang memberikan rahmatnya kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai disusun untuk memenuhi kewajiban penulis sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Gigi.

Dalam penulisan skripsi ini penulis telah banyak mendapat bantuan, bimbingan, dukungan, arahan serta saran dan masukan dari berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Minasari, drg., MM selaku dosen pembimbing skripsi yang telah sabar dan banyak meluangkan waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing penulis sehingga skripsi ini sapat diselesaikan dengan baik.

2. Prof. Nazrudin, drg., Sp.Ort., Ph.D selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3. Rehulina Ginting, drg., M.Si., selaku Ketua Departemen Biologi Oral yang telah memberikan masukan dan saran yang sangat membantu penulis.

4. Seluruh staf pengajar Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Utara, Yendriwati,drg.,M.Kes., Lisna Unita, drg.,M.Kes., Dr.Ameta

Primasari,drg.,MDSc.,M.Kes., Yumi Lindawati, drg.,MDSc beserta tenaga

administrasi Departemen Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Utara ibu Ngaisah dan kak Dani yang telah memberikan saran dan motivasi terhadap penulis.

(7)

6. Ibu Dra. Erly Sitompul, Msi. selaku kepala Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi USU, dan para asisten laboratorium mikrobiologi Nulika, Roma, Sarah, Lita, dan Bryan yang telah banyak membantu selama penelitian berlangsung.

7. Terimakasih kepada orangtua tercinta K.W Sinaga, SE dan R.A Saragih (alm), dan juga kedua kakak tercinta Yossie W O Sinaga dan Yopie P A Sinaga yang telah memberikan perhatian, doa, semangat, kesabaran, dan dukungan serta rasa cinta dan kasih sayangnya terhadap penulis.

8. Keluarga besar angkatan 2009 FKG USU dan khususnya teman-teman seperjuangan di Biologi Oral Sri, Novelya, Anita, Wanda, Sherly, Tellia, May, Yosua, Ariyani, dll yang telah memberikan motivasi terhadap penulis

9. Sahabat terbaik penulis yang telah banyjak membantu penulis selama penelitian, Juli Perangin-angin, Bora, Yohana, Bekka, Roma, Juliana, Talent dan Meyke.

Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan ini dan mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk menghasilkan karya yang lebih baik lagi di kemudian hari.Akhir kata penulis mengharapkan semoga skripsi ini dapat memberikan sumbangan pikiran yang berguna bagi fakultas, pengembangan ilmu pengetahuan, dan masyarakat.

Medan, September 2015

Penulis

(………..………..)

Yulisha Cindy T Sinaga

(8)

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL ...

HALAMAN PERSETUJUAN ... HALAMAN TIM PENGUJI SKRIPSI...

KATA PENGANTAR………... iv

DAFTAR ISI ... vi

2.1.4 Manifestasi menopause pada rongga mulut ... 8

2.2 Saliva ... 10

2.2.1 Fungsi saliva ... 10

2.2.2 Pengaruh hormon estrogen terhadap saliva ... 11

2.3 Streptococcus mutans………... 13

(9)

2.3.2 PerananStreptococcus mutans pada proses terjadinya

karies ... 14

2.3.3 Metode isolasi bakteri Streptococcus mutans……… .. 16

2.4 Landasan teori………... 17

3.4 Kriteria Pemilihan Sampel ... 22

3.4.1 Kriteria Inklusi………. 22

3.8.3 Penghitungan Streptococcus mutans ... 28

3.9 Pengolahan dan analisis data ... 28

BAB 4 HASIL PENELITIAN……… 29

4.1 Data Demografis Sampel……… .. 30

4.2 Anallisis Hasil Penelitian……….. 30

BAB 5 PEMBAHASAN……….. 32

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN………... 35

DAFTAR PUSTAKA ... 36

(10)

DAFTAR TABEL

Gambar Halaman

1. Data responden penelitian berdasarkan kelompok dan usia ... 30 2. Nilai DMFT dan jumlah Streptococcus mutans berdasarkan usia ... 30 3. Nilai rata-rata jumlah koloni Streptococcus mutans pada saliva

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Hubungan antara periode transisi menopause menurut WHO tahun 1996 ... 6

2. Immunostaining untuk ERα dan ERβ pada kelenjar saliva... 12

3. Streptococcus mutans ... 13

4. Alat-alat penelitian ... 25

5. Posisi subjek penelitian saat pengumpulan saliva (spitting method) ... 26

6. Prosedur pengenceran saliva dan penanaman Streptococcus mutans ... 27

(12)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Alur penelitian 2. Skema alur pikir

3. Lembaran informasi dan surat permohonan kesediaan partisipasi dalam penelitian 4. Kuesioner penelitian

(13)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Menopause adalah perubahan fisiologis yang akan dialami setiap perempuan sebagai masa berakhirnya menstruasi dan kemampuan bereproduksi.Ovarium menjadi tidak responsif terhadap gonadotropin seiring dengan pertambahan usia dan fungsinya menurunsehingga siklus seksual menghilang.1 Penelitian WHO pada tahun 1990 menunjukkan angka menopause sebanyak 467 juta jiwa dan akan meningkat pada tahun 2030 sebanyak 1200 juta jiwa.Hal ini lebih banyak dijumpai pada negara berkembang dibandingkan negara industri.2 Menurut data hasil Sensus Penduduk tahun 2010 oleh Badan Pusat Statistik, jumlah penduduk perempuan di Indonesia sebanyak 118 juta jiwa dengan usia harapan hidup rata-rata 66 tahun.Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan usia harapan hidup tersebut, diperkirakan jumlah

perempuan yang mengalami menopause akan meningkat.3

Menopause menyebabkan perubahan fisik dan gangguan psikologis bagi yang mengalaminya.Osteoporosis dan penyakit kardiovaskular adalah dampak menopause yang paling sering ditemukan, dan kondisi ini mendukung datangnya penyakit-penyakit lain.4,5 Manifestasi menopause pada rongga mulut seperti xerostomia, mulut kering (dry mouth), rasa terbakar (burning mouth syndrom), perubahan pengecapan, serta terdapat perubahan mukosa yakni mukosa menjadi atrofi, permukaan mukosa menjadi licin, dan gingiva mudah berdarah.6

Saliva merupakan cairan rongga mulut yang bersifat kompleks dan berperan penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut.Fungsi saliva adalah membasahi lingkungan rongga mulut, membersihkan debris yang melekat pada gigi, melindungi keutuhan hidroksiapatit enamel gigi, serta memiliki aktivitas antimikroba.Fungsi saliva ini berhubungan dengan komposisi saliva yang dihasilkan dari kelenjar saliva.Komposisi saliva seperti ion-ion buffer, sekretori Imunoglobulin A (sIgA), enzim peroksidase serta antimikroba lainnya berperan pada fungsi pertahanan dalam

(14)

menjaga kesehatan rongga mulut dari mikroorganisme.Aliran saliva yang baik akan meningkatkan ion buffer dalam fungsinya menstabilkan pH rongga mulut.7

Komposisi saliva pada perempuan bervariasi selama tahap perubahan hormonal seperti masa menstruasi dan kehamilan.Pada saat menopause terjadi perubahan komposisi saliva dan penurunan laju alir saliva karena pengaruh hormon estrogen.7Hormon estrogen berperan pada fisiologi rongga mulut yang dimediasi oleh adanya estrogen receptors (ERs).ERs terdiri dari ERα (pada kelenjar mamae dan endometrium) dan ERβ (paling banyak ditemukan pada jaringan mulut seperti keratinosit, kelenjar saliva asinar, dan sel duktus).8 Penelitian Dural dkk (2006) menunjukkan adanya penurunan laju alir saliva dan pH saliva pada perempuan

menopause dibandingkan dengan perempuan yang belum menopause.9 Demikian

juga dengan penelitian Bhat (2010), terdapat penurunan pH dan aliran saliva serta meningkatnya skor DMFT dam OHI pada perempuan menopause dibandingkan kelompok kontrol.10 Penelitian Thomas (2014) menunjukkan isolasi jenis bakteri pada perempuan menopause lebih banyak dari perempuan yang belum menopause.11

Pada rongga mulut terdapat beberapa spesies flora normal seperti Streptococcus sanguis, Streptococcus salivarius, Lactobasillus, Candida albicans,

dan termasuk salah satu diantaranya yaitu Streptococcus mutans.12,13 Streptococcus mutans bersifat asidogenik (menghasilkan asam) dan asidurik (hidup/bertahan pada

pH rongga mulut yang asam) serta menghasilkan suatu polisakarida yang lengket (dextran) sehingga mendukung pertumbuhan bakteri lainnya. Pada proses terjadinya karies, terdapat jutaan spesies bakteri dan salah satunya adalah Streptococcus mutans. Walaupun banyak bakteri lain yang juga melekat, Streptoccocus mutans dapat menyebabkan gigi berlubang karena kemampuan bertahan dalam pH rongga mulut yang kritis. Dengan demikian, Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling dominan pada proses terjadinya karies gigi.14

Streptococcus mutans selain menyebabkan karies dapat menyebabkan

Dentures Stomatitisdan penyakit periodontal.Pada Denture Stomatitis diitemukan

Streptococcus mutans 67,6%, Candida Albicans 51.4%, dan Staphylococcus aureus

(15)

tingginya level Streptococcus mutans dalam saliva berhubungan secara langsung dengan tingkat keparahan penyakit periodontal pada pasien lanjut usia yang tidak dirawat.16 Selain itu, Streptococcus mutans menjadi penyebab utama endokarditis pada katup jantung karena dapat masuk ke peredaran darah jika terjadi trauma.13

Jumlah populasi Streptococcus mutans dari pengambilan plak bervariasi pada berbagai aspek permukaan gigi di rongga mulut. Oleh karena itu, perhitungan pada saliva dianggap dapat merepresentasikan kesehatan rongga mulut pada seseorang secara keseluruhan.Penelitian Baca (2008)menunjukkan pengambilan sampel melalui saliva memiliki keefektifan yang sama dengan pengambilan sampel dari plak permukaan bukal dan oklusal dari gigi.17 Penelitian Dharsono (2012) menunjukkan jumlah koloni Streptococcus mutans pada perempuan (17,94 × 102 CFU/ml) lebih tinggi dari laki-laki (12,22 ×102 CFU/ml).18 Hasil tersebut dipengaruhi oleh perubahan hormonal yang terjadi pada perempuan. Perubahan hormonal yang terjadi pada perempuan, juga mempengaruhi kondisi rongga mulut perempuan hamil. Penelitian Preethi pada tahun 2014, menunjukkan infeksi Streptococcus mutansmeningkat selama periode kehamilan terutama pada trimester ketiga.19

Berdasarkan peningkatan jumlah perempuan menopause setiap tahunnya di Indonesia serta adanya penelitian tentang pengaruh perubahan hormonal terhadap perubahan saliva dan kesehatan rongga mulut perempuan pada umumnya, maka penulis tertarik melakukan penelitian mengenai perbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva perempuan menopause dengan perempuan usia produktif.

1.2Perumusan Masalah

Dari uraian diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah terdapat perbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva

perempuan menopause dengan perempuan usia produktif ?

1.3Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui perbedaan jumlahStreptococcus mutans pada saliva

(16)

1.4Hipotesis Penelitian

1. Hα : ada perbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva

perempuan menopause dengan perempuan usia produktif

1.5Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Teoritis

1. Bagi peneliti merupakan pengetahuan yang berharga dalam rangka menambah wawasan keilmuan melalui penelitian lapangan

2. Sebagai bahan referensi dalam bidang kedokteran gigi untuk disempurnakan pada penelitian selanjutnya

3. Memberikan informasi bahwa peningkatan jumlah koloni Streptococcus mutans dalam saliva dapat mengubah pH rongga mulut menjadi asam

sehingga mudah terjadinya akumulasi plak dan insiden karies

4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah perkembangan ilmu kesehatan gigi masyarakat

1.5.2 Manfaat praktis

(17)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.1 Fisiologi menopause

Ovarium memiliki lebih kurang 700.000 sel telur saat lahir yang belum berkembang.Pada masa pubertas, usia 8-12 tahun, mulai timbul aktivitas ringan dari fungsi endokrin. Selanjutnya, pada usia 12-13 tahun seorang perempuan akan mendapatkan menarche (menstruasi untuk pertama kalinya).Sepanjang siklus menstruasi ada 400-500 sel telur yang dihasilkan setiap bulannya dan menurun setiap tahun.Masa pubertas adalah masa dimana organ reproduksi perempuan mulai berfungsi secara optimal.Pada masa ini hipotalamus menghasilkan gonadotropin releasing hormone (gnRH) yang mengakibatkan kelenjar pituitary yang berada pada

basis otak mensekresikan LH (luteinizing hormone) dan follicle stimulating hormone (FSH). LH dan FSH berperan dalam maturasi folikel pada ovarium dan menghasilkan sel telur setiap bulannya.Masa ini juga disebut masa subur (fertil) yang dapat berlangsung sampai usia sekitar 45 tahun.Pada masa ini perempuan dapat mengalami kehamilan dan melahirkan. Setelah itu seorang perempuan memasuki fase klimakterium, yaitu masa peralihan memasuki periode non-produktif.4

Ovarium memproduksi tiga hormon yang sangat penting yaitu estrogen, progesteron, dan androgen.Estrogen secara endogen memproduksi estrone (E1), estradiol (E2), estriol (E3).Estradiol (E2) diproduksi oleh folikel ovarium dominan selama siklus menstruasi bulanan dan merupakan estrogen alami yang paling ampuh. Estrone (E1) adalah bentuk dominan estrogen selama menopause.7

Pada masa premenopause, hormon progesteron dan estrogen masih tinggi,

namun semakin berkurang ketika memasuki masa perimenopause dan

paskamenopause.Pada perimenopause, ovarium mulai menyusut dan folikel menghilang dalam waktu yang cepat.Level hormon mengalami fluktuasi seiring dengan upaya ovarium dalam mengatur produksinya.Selanjutnya ovarium menjadi

(18)

resisten terhadap FSH, dan kelenjar pituitary berusaha menjaga produksi hormon estrogen.Hal ini menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur dan tidak dapat diprediksi.Ketika menstruasi tidak datang selama satu tahun dan terjadi peningkatan level FSH (lebih dari 30-40 IU), seorang perempuan telah mencapai periode menopause. Pada saat menopause, estrogen masih tetap diproduksi oleh ovarium dan tidak langsung berhenti, namun ovarium berhenti menghasilkan sel telur.4 Rata-rata usia mulainya menopause adalah sekitar 52 tahun dan biasanya menstruasi mulai tidak teratur dan berhenti antara usia 45 sampai dengan 55 tahun (Ganong 2002).1

Gambar 1. Hubungan antara periode transisi menopause menurut WHO tahun 19962

2.1.2Tanda-tanda menopause

Tanda-tanda perempuan menopause adalah :

a. Gejala vasomotor = hot flushes (gejolak panas)

Hot flushes dan berkeringat pada malam hari adalah karakteristik dari gejala

menopause.Berkeringat pada malam hari karenahot flushes dirasakan pada waktu menjelang bangun tidur.2 Hal ini disebabkan karena penurunan konsentrasi E2 yang besar pada serum dan pusat regulasi dan temperatur di hipotalamus.7

b. Gangguan urogenital

Setelah menopause mukosa pada vagina akan menjadi lebih tipis. Hal ini menimbulkan berbagai jenis keluhan seperti kemunduran seksual yang juga disebabkan oleh kekeringan sehingga perdarahan mudah terjadi.2

Menopause/Periode menstruasi terakhir

---Transisi menopause Postmenopause ---

Perimenopause

(19)

c. Menstruasi tidak teratur

Sebuah studi memperkirakan sebanyak 10% menopause mengalami penghentian menstruasi secara tiba-tiba, tetapi mayoritas mengalami perdarahan tidak teratur sebelum berhentinya menstruasi.2

d. Gejala dan simtom lainnya

Beberapa gejala lain dilaporkan sebagai gejala menopause seperti depresi, palpitasi, insomnia, sakit kepala, retensi cairan, nyeri punggung, sulitnya berkonsentrasi dan pusing kepala.2

2.1.3 Perubahan pada menopause

a. Perubahan fisik

Banyak jaringan pada tubuh manusia yang sensitif terhadap pengaruh hormon estrogen seperti payudara, tulang, jantung, arteri serta sistem gastrointestinal. Penurunan level estrogen pada menopause menyebabkan masalah pada jaringan tersebut.4

1. Osteoporosis

Osteoporosis dapat meningkat 5-10 tahun setelah menopause.5Studi

menunjukkan adanya hubungan antara rendahnya level hormon estrogen dengan kehilangan tulang.Osteoblas dan osteoklas memperlihatkan keterlibatan reseptor estrogen yaitu ERα dan ERβ. Hormon estrogen mengurangi aktivitas osteoklas dan meningkatkan apoptosis sel osteoklas.7 Osteoporosis mendukung lebih dari 1,5 juta fraktur setiap tahunnya yang kebanyakan ditemukan pada perempuan.20

2. Penyakit kardiovaskular

Estrogen berperan penting dalam proteksi melawan penyakit kardiovaskular.Setelah menopause, terjadi perubahan kolesterol dalam darah. Level kolesterol, LDL (low-density lipoproteins) meningkat, dan HDL (high-density lipoproteins) yang dikenal sebagai “kolesterol baik” menurun. HDL berperan dalam

(20)

dapat menyebabkan kematian 11 kali lebih besar dari kanker payudara.Gangguan kardiovaskular diantaranya adalah arterosklerosis, tekanan darah tinggi, angina, chest pain, serangan jantung dan stroke.4

b. Perubahan psikologis

Perubahan psikologis pada perempuan menopause terjadi karena produksi hormon estrogen di ovarium yang tiba-tiba berhenti.Biasanya pertistiwa ini ditandai dengan terjadinya rasa panas dalam tubuh (hot flushes), perasaan mudah cemas dan mudah berkeringat.Dalam masa ini, perempuan menopause sering mengalami depresi yang ditandai dengan the emptiness syndrome (rasa kesendirian). Sindrom ini muncul dalam bentuk perilaku yang seringkali berada di luar kontrol dan susah dimengerti oleh lawan interaksinya. Secara psikis sindrom ini terjadi karena perempuan kehilangan peran reproduksinya, disamping itu dipengaruhi oleh terjadinya berbagai perubahan yang menimbulkan keluhan-keluhan fisik dan psikologis, seperti terjadi sakit pada punggung dan kepala, badan panas, keringat pada malam hari, pikiran kacau.21

2.1.4 Manifestasi menopause pada rongga mulut

1. Rasa terbakar/Burning mouth syndrome (BMS)

Gejala umum BMS berupa rasa sensasi terbakar yang spontan dan rasa sakit yang dalam mempengaruhi beberapa area di rongga mulut tanpa disertai penyebab yang jelas.Kondisi ini terjadi secara bilateral terutama pada lidah, bibir, palatum, gingival dan pada area pendukung gigi tiruan. Penelitian Wardropa menunjukkan sebanyak 33% perempuan menopause mengalami ketidaknyamanan ini pada rongga mulut, sedangkan prevalensi pada perempuan perimenopause/postmenopause lebih tinggi (43%) dibandingkan perempuan premenopause (6%).6,7

2. Xerostomia

(21)

akan adanya kekeringan dalam rongga mulut.Beberapa studi menunjukkan bahwa penurunan aliran saliva adalah penyebab meningkatnya insiden karies akar, rasa tidak nyaman, perubahan pengecapan, kandidiasis, dan penyakit periodontal pada perempuan menopause.6,7

3. Perubahan mukosa

Perubahan mukosa berupa atrofi dan tampilan yang pucat.Gingiva pucat dan atrofi, mudah berdarah, dengan permukaan licin, bengkak dan jaringan eritematous. Pada penggunaan gigi tiruan dalam jangka waktu yang lama, perubahan mukosa ini menyebabkan mudah terjadinya kelainan mukosa seperti kandidiasis, pemphigus vulgaris, lichen planus dan ulkus traumatik. Terapi hormonal dengan menggunakan estradiol bermanfaat dan mengidentifikasi reseptor estrogen di epitel mukosa rongga mulut.6,20

4. Gangguan neurologis

Trigeminal neuralgia diketahui dapat terjadi pada perempuan menopause karena penekanan arteri cerebelar superior pada salah satu cabang dari nervus trigeminal.Gejala ini ditandai dengan nyeri pedih unilateral, adanya sok elektrik dan biasanya nyeri terjadi di bagian tengah dan bagian dua pertiga bawah wajah. Gangguan neurologis lainnya seperti penyakit Alzheimer dan atypical facial pain.6

5. Osteoporosis dan periodontitis

(22)

2.2 Saliva

Saliva adalah cairan rongga mulut yang bersifat kompleks serta berperan penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut.Secara fisiologis, salivadiproduksi0,5-1 liter per hari. Pada orang sehat, laju alir saliva yang tidak distimulasi biasanyadalamkisaran 0,3-0,5 ml/menit dan untuk yang terstimulasidalam kisaran1,0-1,5ml/menit. Aliran saliva akan meningkat sepanjang hari (pagi hingga petang) dan mencapai puncaknya sekitar pada waktu pertengahan hari dan menurun selama tidur (Pedersen).22

2.2.1 Fungsi saliva

Saliva terdiri dari hampir 99% air dan sisanya 1% adalah protein dangaram

yang terdiri dari natrium, kalium, klorida, bikarbonat, kalsium,

fosfatdanmagnesium.Komposisisaliva tersebutbergantungpada aliransaliva

yangdisekresikandarisel-selasinarke sistemsaluran, oleh karenaitu konsentrasi garamyang meningkat berbanding lurus dengan meningkatnya laju alir saliva.22

Berikut merupakan fungsi dari saliva, antara lain:

1. Menjaga kebersihan rongga mulut

Saliva menyediakan aksi pembersihan mekanis terhadap sisa residu makanan,debris, maupun bakteri. Saliva mengeliminasikarbohidratdan asamyangdihasilkan oleh mikroorganisme dimana proses inibergantung padaaliran saliva danfrekuensimenelan. Dengan demikian jika aliransalivaberkurang, maka aksi pembersihan juga berkurang.22

2. Kapasitas buffer

(23)

sehingga dapat menstabilkan pH rongga mulut.Bikarbonatmengambil peranan penting dalam fungsinya sebagai buffer sekitar 90% dari ion buffer lainnya. Derajat keasaman (pH) saliva dan konsentrasi ion kalsium dan posfat adalah faktor yang signifikan untuk menjaga keutuhan hidroksiapatit enamel gigi.22

3. Antimikroba

Komposisi saliva sebagian besar merupakan zat organik dengan efek antimikroba seperti lisozim, laktoferin,peroksidase, histatins, dan immunoglobulin khususnya sekretori immunoglobulin A (sIgA). Lisozim adalah enzimyang dapat memecahpeptidoglikanyang merupakan komponen penting dalam dinding sel bakteri gram positif dan menghambataglutinasi bakteri yang memiliki muatanpositif yang kuat.Laktoferin memiliki efek bakterisida, fungisida, dan sebagai antivirus. Laktoferin mengikat ion bebas pada saliva sehingga menyebabkan efek bakterisid dan bakteriostatik terhadap mikroorganisme, salah satu diantaranya adalah Streptococcus mutans.Peroksidase adalahenzim yang mengkatalisisoksigenasi tiosianat menjadi

hipothiosianat.Selain itu saliva mengandung protein yang kaya yaitu histidin, sama halnya seperti histatins memiliki fungsi bakterisida danfungisida (terutama terhadapCandida albicans ), juga mencegah pengendapangaram kalsium fosfat padagigi dari saliva. Sekretori immunoglobulin A (sIgA) adalah komponen immunoglobulin terbesar dalam saliva.yang dapat menetralisir virus,bakteri, dan enzim toksin. Sekretori ini berperan sebagai antibodi terhadap antigen bakteri dapat menghambat bakteri melekat di permukaan mukosa. Komponen imnuglobulin lain yang juga berperan adalah IgG dan IgM yang berada pada cairan gingival.22,23

2.2.2 Pengaruh hormon estrogen terhadap saliva

Sekresi saliva dikontrol oleh saraf simpatis dan parasimpatis.Saraf simpatis menginervasi kelenjar saliva mayor (parotid, submandibular dan sublingual). Saraf parasimpatis menginervasi kelenjar saliva mayor dan kelenjar saliva minor yang berada di palatum.22,24

(24)

endometrium sedangkan ERβ ditemukan paling banyak di keratinosit, sel asinar pada kelenjar saliva dan sel duktus. Hormon dialirkan dari darah menuju saliva melalui kapiler endothelia dan melalui epitel glandular. Valimaa et al (2004) mengidentifikasi ERβ terdapat di serus dan mukous sel asinar dan sel duktus pada kelenjar saliva minor serta kelenjar parotid dan submandibular (Gambar 2).8

(25)

Hormon estrogen berpengaruh pada peningkatan kadar kortisol dalam saliva. Kortisol mempengaruhi beberapa sistem neurotransmitter catecholaminergic seperti adrenergic, domaninergic, serotonergic. Peningkatan kadar kortisol dalam saliva

mempengaruhi aktivitas saraf simpatis melalui reseptor α dan β adrenergik untuk menghasilkan sekresi saliva yang kaya protein. Dengan demikian, perubahan hormonal mempengaruhi aliran saliva dan komposisi saliva terutama sekresi protein (laktoperoksidase, lisozim, dan laktoferin).8,24

2.3 Streptococcus mutans

Streptococcus mutans ditemukan pertama kali oleh J.K. Clarke tahun 1924,

setelah mengisolasi bakteri dari lubang luka. Pada akhir 1950-an, Fitzgerald menemukan bahwa Streptococcus mutans merupakan bakteri penyebab karies.12,14 Taksonomi Streptococcus mutansmenurut Bergey dalam Capucino (1998):

Kingdom : Monera

Divisio : Firmicutes

Class : Bacilli

Orde : Lactobacilalles

Family : Streptococcaeae

Genus : Streptococcus

Species : Streptococcus

mutans14

Gambar 3.Streptococcus mutans dilihat dari mikroskop elektron 14

(26)

Streptococcus mutans adalah golongan dari Streptococcus viridians selain

Streptococcus mitis, Streptococcus sanguis, dan Streptococcus salivarius.Grup dari

Streptococcus pada rongga mulut yang teridri dari Streptococcus mutans,

Streptococcus sanguis, Streptococcus gordonii, Streptococus sobrinus, Streptococcus

salivarius, dan Streptococcus anginosusmerupakan bakteri yang menyebabkan karies

gigi.Ciri khas organisme ini adalah sifat α-hemolitik, tetapi dapat juga non hemolitik. Selain dapat menyebabkan karies gigi, bakteri ini dapat masuk ke peredaran darah karena trauma dan menjadi penyebab utama endokarditis pada katup jantung yang abnormal.12,14

2.3.1 Morfologi

Streptococcus mutans merupakan bakteri gram positif, bersifat nonmotil

(tidak bergerak), fakultatif anaerob, berbentuk kokussusunannya seperti rantai.Kokus membelah pada bidang yang tegak lurus sumbu panjang rantai.Anggota rantai tersebut sering membentuk gambaran diplokokus dan kadang-kadang terlihat bentuk seperti batang.Bakteri ini tumbuh secara optimal pada suhu sekitar 18o-40oC.Energi yang diperoleh untuk pertumbuhan diperoleh dari bahan glukosa dan sukrosa.Pertumbuhan streptokokus cenderung kurang subur pada medium padat atau kaldu kecuali diperkaya dengan darah atau cairan jaringan. Pertumbuhan dan hemolisis dibantu dengan inkubasi dalam 10% CO2 dan paling baik inkubasi pada

suhu 37oC.12,13

2.3.2 PerananStreptococcus mutans pada proses terjadinya karies

Seperti yang diketahui etiologi karies terdiri dari host(gigi), agen(bakteri), substrat (sukrosa), dan durasi waktu.Setelah memakan sesuatu yang mengandung gula misalnya sukrosa, glikoprotein yang lengket (kombinasi molekul protein dan karbohidrat) bertahan pada gigi untuk memulai pembentukan plak.Pada waktu yang bersamaan berjuta-juta jenis bakteri dan salah satunya yang dikenal sebagai Streptococcus mutans juga bertahan pada glycoprotein itu.Pada langkah selanjutnya,

(27)

energi.Hasil akhir dari glikolisis dibawah kondisi anaerob adalah asam laktat yang menciptakan kadar keasaman ekstra untuk menurunkan pH sampai batas tertentu sehingga dapatmenghancurkan zat kapur fosfat di dalam enamel gigi mendorong kearah pembentukan suatu lubang.14

Streptococcus mutans menghasilkan empat enzim ekstraseluler, yakni tiga

enzim glocosyltransferase (Gtf) dan satu enzim fructosyltransferase (Ftf) yang berfungsi memecah glukosa (Gtf) atau fruktosa (Ftf). Enzim Gtf diatas permukaannya dapat memecah polimerisasi sukrosa menjadi fruktosa dan glukosa, dan pada aksi yang sama membentuk polimer glukosa oleh Gtf (glukan) atau polimer fruktosa oleh Ftf (fruktan).12 Enzim ini dapat mensintesa molekul glukosa yang memiliki berat molekul tinggi, terdiri dari ikatan glukosa alfa (1-6) dan alfa (1-3). Pembentukan alfa (1-3) ini sangat lengket dan tidak larut dalam air sehingga dimanfaatkan oleh bakteriStreptococcus mutans untuk berkembang dan membentuk dextran dengan melekat erat pada enamel gigi dan menuju pembentukan plak gigi.Hal ini merupakan tahap dari pembentukan lubang pada gigi yang disebut dengan karies gigi.Enzim yang sama melanjutkan untuk penambahan molekul glukosa ke satu sama lain untuk membentuk dextran yang memiliki struktur sangat mirip dengan amylase dalam tajin.14

(28)

Lactobasillus yang tinggi (>105 CFU/ml saliva) merupakan risiko tinggi terjadinya karies.26

2.3.4 Metode isolasi bakteri Streptococcus mutans

Metode yang sering digunakan untuk memperoleh biakan murni adalah metode cawan ulas (spread plate) dan metode cawan tuang (pour plate).27

a. Metode cawan ulas (spread plate)

Spread plate adalah metode menanam dengan menyebarkan suspensi bakteri

pada permukaan media agar untuk mendapatkan kultur murni. Cara kerjanya adalah suspensi cairan diambil sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet kemudian diteteskan diatas permukaan agar yang telah memadat. Selanjutnya dibakar diatas bunsen dan didinginkan selama beberapa detik. Kemudian suspensi tersebut diratakan dengan menggosoknya pada permukaan media agar, penyebaran akan lebih efektif bila cawan ikut diputar. Kelebihan metode ini adalah diperoleh koloni bakteri yang terpisah, lebih mudah dilakukan dan membutuhkan media agar yang sedikit . Kekurangannya adalah waktu yang digunakan lebih lama dan mudah terkontaminasi.27

b. Metode cawan tuang (pour plate)

Metode ini memerlukan media agar yang belum padat dan dituang bersama suspensi bakteri ke dalam cawan petri dan dihomogenkan lalu dibiarkan memadat. Hal ini akan menyebabkan sel-sel bakteri tidak hanya terdapat pada permukaan adar saja tetapi juga di dalam atau dasar agar sehingga dapat diketahui sel yang dapat tumbuh dipermukaan agar yang kaya O2 dan di dalam agar yang tidak begitu banyak

mengandung O2. Cara kerjanya adalah cawan petri, tabung pengenceran akan ditanam

dan media padat yang masih cair disiapkan. Kemudian 1 ml suspensi bakteri diteteskan secara asepsis bakteri diteteskan secara asepsis ke dalam cawan kosong.Lalu media yang masih cair dituangkan kedalam cawan petri lalu diputar membentuk angkan 8 untuk menghomogenkan suspense, kemudiandi inkubasi.Kelebihan metode ini adalah mudah diamati, tidak ada persaingan antara

(29)

terpisah.Kekurangan metode ini adalah boros waktu dan bahan serta mudah terkontaminasi.27

2.4 Landasan Teori

Menopause adalah suatu perubahan fisiologis pada perempuan yang ditandai dengan berhentinya masa menstruasi secara permanen.1,2 Pada menopause terjadi penurunan hormon yang dihasilkan oleh ovarium (estrogen, progesteron, dan

androgen).1,2,4 Penurunan produksi hormon khususnya estrogen mempengaruhi

rongga mulut. Beberapa kondisi yang terjadi di rongga mulut pada menopause adalah

xerostomia, perubahan pengecapan, perubahan mukosa, dan sebagainya.6 Pada

saliva, hormon estrogen teridentifikasi melalui ER (estrogen receptor) yang terdapat di serus dan mukous sel asinar dan sel duktus pada kelenjar saliva minor, kelenjar parotid, dan submandibular.8 Hormon estrogen berperan dalam peningkatan kadar kortisol dalam saliva. Kortisol dapat mempengaruhi beberapa sistem neurotransmitter catecholaminergic seperti adrenergik, domaninergik, serotonergik melalui mekanisme rapid non-genomik.Kelenjar saliva diinervasi oleh saraf simpatis dan para simpatis.Saraf para simpatis dimetiatori oleh agen kolinergik dan sistem saraf simpatis dimediatori oleh agen adrenergik yaitu α dan β adrenergik. Pada menopause, penurunan hormon estrogen akan menurunkan kadar kortisol dalam saliva. Penurunan kortisol akan mempengaruhi aktivitas saraf simpatis melalui reseptor α dan β adrenergik sehingga sekresi saliva dan protein menurun.24

Saliva merupakan cairan rongga mulut yang bersifat kompleks dan berperan penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut. Dalam peranannya untuk menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, saliva memiliki beberapa komponen antibakteri penting yaitu sIgA dan enzim (lisozim, laktoferin, histatin, peroksidase,dll). Sekretori immunoglobulin A (sIgA) adalah komponen imun terbesar pada saliva yang dapat menetralisir bakteri Streptococcus mutans. SIgA berperan sebagai antibodi yang berikatan spesifik dengan antigen dari Streptococcus mutans.Lisozim dapat memecah peptidoglikan yang merupakan komponen dinding

(30)

menghambat aglutinasi bakteri sehingga terjadi autolisis.Laktoferin mengikat ion besi bebas pada saliva dan memiliki efek bakterisid dan bakteriostatik terutama pada grup Streptococcus mutans.Peroksidase adalahenzim yang mengkatalisisoksigenasi

tiosianat menjadi hipothiosianat.Histatin juga memiliki efek bakterisid terhadap Streptococcus mutans. Selain komposisi saliva diatas yang berperan sebagai antibodi

maupun antibakteri, aliran saliva yang baik akan memberikan self cleansing terhadap rongga mulut untuk membersihkan debris ataupun plak bakteri. Saliva juga memiliki aksi buffer pada saliva terutama ion bikarbonat dan posfat yang akan menjaga kestabilan pH diatas pH kritis untuk mencegah kolonisasi bakteri Streptococcus mutans.22,23

Pada menopause, fungsi saliva dalam menghambat pertumbuhan Streptococcus mutansakan berkurang karena adanya perubahan aliran dan komposisi

(31)
(32)

2.6Kerangkakonsep

Kelompokperempu an menopause ≥ 45

tahun

Kelompok perempuan usia

produktif(kontrol)18-25 tahun

Pengambilan saliva sebanyak 2ml terstimulasi (kunyah paraffin wax) dengan metode spitting

Dilakukan pengenceran saliva sebanyak 4 tahap dan penanaman Streptococcus mutanspada media TYC pada suhu 37oC 1x24 jam

Penghitungan koloni Streptococcus mutans pada larutan pengenceran terakhir ( CFU/ml)

(33)

BAB 3

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain penelitian cross sectional.

3.2 Tempatdan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat penelitian

Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara

3.2.2 Waktu penelitian

Penelitian ini dilakukan pada bulan September 2014 s/d Juni 2015

3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1Populasi

Ibu-ibu usia menopause yang terdapat di kota Medan dan mahasiswi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara.

3.3.2 Sampel

Sampel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari dua kelompok. Kelompok

pertama adalah perempuan usia menopause (≥45 tahun), sedangkan kelompok kedua dalam

penelitian ini adalah mahasiswi FKG USU dalam usia produktif (18-25 tahun) yang masih mengalami menstruasi secara teratur.

Besar sampel pada penelitian ini menggunakan rumus :28 (Zα + Zβ)S2

n1= n2 = 2

X1 – X2

(34)

n1 = n2 = besar sampel yang diperlukan pada masing-masing kelompok

S = Standar deviasi gabungan pada penelitian sebelumnya (6,4)

X1 – X2 = Selisih rerata minimal yang dianggap bermakna (5)

Zα = kesalahan tipe 1 sebesar 10% (1,64)

Zβ = kesalahan tipe 2 sebesar 10% (1,28)

(1,64 + 1,28) 6,4 2 n1= n2 = 2

5 = 27,93

Besar sampel minimal yang diperlukan untuk masing-masing kelompok adalah 30 orang (30 orang kelompok perempuan menopause dan 30 orang kelompok perempuan usia produktif). Pemilihan sampel dilakukan dengan carapurposive sampling.

3.4Kriteria pemilihan sampel 3.4.1 Kriteria Inklusi

Kelompok perempuan menopause :

1. Subjek penelitian tidak lagi mengalami menstruasi minimal setahun terakhir ( usia ≥45 tahun)

2. Kondisi kesehatan umum dalam keadaan baik (tidak demam dan diare pada saat penelitian)

Kelompok perempuan usia produktif sebagai kontrol:

1. Subjek penelitian masih mengalami menstruasi secara teratur setiap bulannya ( usia 18-25 tahun)

2. Skor DMFT ≤ 3 untuk mendapatkan jumlah koloni Streptococcus mutans yang rendah

(35)

3.4.2 Kriteria Ekslusi

Kelompok pertama (perempuan menopause) : 1. Menggunakan gigi tiruan penuh

2. Penyakit sistemik (diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal, dll)

3. Konsumsi obat-obatan (antihipertensi, antikonvulsan, antidiuretik, sedatif, dll) 4. Terapi hormonal

5. Kebiasaan buruk (merokok, menyirih, dan minum alkohol)

6. Memiliki kelainan patologis rongga mulut yang mengganggu pengunyahan

Kelompok kedua (perempuan usia produktif) 1. Skor DMFT > 3

2. Menggunakan gigi tiruan atau piranti ortodonti

3.5 Variabelpenelitian

3.5 Definisi Operasional. Variabel bebas

• Perempuan menopause

( ≥45 tahun)

• Perempuan usia produktif (18-25 tahun)

• Teknik penampungan saliva

• Waktu pengumpulan saliva

(09.00-12.00 WIB) • Suhu inkubasi (37oC)

• Waktu inkubasi (24 jam)

• Keterampilan operator

Variabel tak terkendali

• Diet

• Jumlah gigi tiap individu berbeda

(36)

3.6 Definisi operasional

a. Perempuan menopause adalahseseorang perempuan yang tidak mengalami menstruasi selama ≥12 bulan tanpa disertai penyebab biologis atau fisiologis yang disengaja (≥45 tahun ke atas).

b. Perempuan usia produktif adalah perempuan yang masih mengalami menstruasi secara teratur dan dalam usia produktif (18-25 tahun).

c.Teknik pengambilan saliva dengan metode spitting yaitu pengambilan saliva dimana subjek penelitian membiarkan saliva tergenang dalam mulutnya tanpa ditelan dan setiap satu menit subjekharus meludahkan saliva yangterkumpul di dalam mulut ke dalam pot penampung.

d. Media TYC (Trypticase, Yeast Extract, Cystine)adalah media spesifik yang digunakan untuk pengkulturan bakteri Streptococcus mutans.

e. Jumlah koloni Streptococcus mutans dalam saliva adalah angka yang menunjukkan jumlah Streptococcus mutans yang ada dalam saliva subjek penelitian (perempuan menopause dan perempuan usia produktif) dengan cara menghitung koloni bakteri yang tumbuh pada cawan petri. Jumlah Streptococcus mutansdihitung dari hasil perkalian jumlah koloni pada yang tumbuh pada cawan petri dengan faktor pengenceran.Hasil penghitungan dinyatakan dalam Colony Forming Units (CFU/ml).

f. CFU adalah unit koloni bakteri yang terbentuk dan tumbuh dalam media.

g. Suhu inkubasi adalah temperatur yang digunakan untuk pertumbuhan bakteri Streptococcus mutans yaitu 37oC.13

h. Waktu inkubasi adalah lamanya inkubasi untuk pertumbuhan bakteri yaitu selama 24 jam.8

i. DMFT (Decay Missing Filled Teeth) adalah indeks yang digunakan untuk menilai status kesehatan gigi dan mulut dalam hal karies gigi permanen. Nilai DMFT adalah angka yang menunjukkan jumlah gigi dengan karies pada seseorang.Angka D (decay) adalah gigi yang berlubang karena karies gigi, angka M (missing) adalah gigi yang

(37)

3.7Alat dan bahan Penelitian 3.7.1 Alat penelitian :

1. Pot penampung saliva 6. Rak dan tabung reaksi

2. Gelas ukur 7. Lampu spiritus

3. Beaker glass 8. Cawan petri

4. Erlenmeyer 9. Inkubator

5. Pipet mikrometer 10. Masker dan sarung tangan

3.7.2 Bahan penelitian :

1. Parafin wax 3. Larutan NaCl 0,9%

2. Media TYC ((Trypticase, Yeast Extract, Cystine) 4. Air mineral

(38)

3.8 Cara kerja

3.8.1 Pengumpulan saliva

Subjek penelitian diinstruksikan untuk tidak makan minimal satu jam sebelum penelitian dilakukan. Penelitian ini dilakukan pada pagi hari sekitar pukul 09.00 sampai dengan pukul 12.00 WIB.Sebelum pengumpulan saliva dilakukan, subjek penelitian berkumur-kumur dengan air mineral selama 1 menit, kemudian subjek penelitian diinstruksikan untuk duduk dengan tenang.Sampel penelitian diinstruksikan untuk mengunyah paraffin wax kemudian kepalaharus sedikit ditundukkan.Subjek diinstruksikan untuk meludahkansaliva kedalam pot penampung saliva sebanyak 2 ml. Pengumpulan saliva terstimulasi dilakukan dengan metodespitting.8,19,25

(39)

3.8.2 PenanamanStreptococcus mutans

Penanaman bakteri Streptococcus mutans pada penelitian ini memakai metode tuang (pour plate) dengan prosedur kerja sebagai berikut :

1. Dilakukanpengenceran saliva sebanyak empat tahap dengan menggunakan larutan saline sebagai pelarut.

2. Pada pengeceran pertama, sebanyak 1 ml saliva diambil kemudian dimasukkan pada tabung reaksi yang pertama dan ditambahkan 9 ml larutan saline.

3. Kemudian untuk pengenceran berikutnya yakni pada pengenceran kedua sampai keempat juga masing-masing diambil 1 ml sedimen pada tabung reaksi sebelumnya dan ditambahkan larutan saline sebanyak 9 ml.

4. Sedimen sebanyak 1 ml pada tabung reaksi terakhir diambil dituangkan pada media TYC dan cawan petri digoyang-goyangkan sampai tercampur rata.

5. Media agar yang sudah ditanami bakteri ini disimpan di dalam inkubator pada suhu 37oC selama 24 jam.

6. Setelah diinkubasi selama 24 jam, cawan petri dikeluarkan untuk melihat koloni. Koloni berwarna putih keabuan, tampak seperti frosted glass, cembung, berdiameter ± 1 mm. 8,24

(40)

A) sampel saliva sebanyak 2 ml yang sudah diambil B) pengambilan 1 ml saliva untuk dilakukan pengenceran sebanyak 4 tahap C) D) E) dan F) pengenceran saliva sebanyak empat tahap G) Media TYC cair dan 1 ml saliva H) Cawan petri digoyang-goyangkan sampai media TYC memadat (dokumentasi).

3.8.3 Penghitungan koloni Streptococcus mutans

. 1. Penghitungan koloni bakteri Streptococcus mutans dilakukan dengan membagi

cawan petri menjadi empat kuadran.

2. Koloni yang timbul ditandai dengan spidol berwarna 3. Koloni masing-masing kuadran dihitung

4. Koloni keempat kuadran dijumlahkan

5. Jumlah Streptococcus mutans dalam sampel awal dihitung dengan cara mengalikan total jumlah koloni dengan faktor pengenceran (×104 CFU/ml).

3.9Pengolahan dan Analisis Data

(41)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan untuk membandingkan jumlah koloni bakteri Streptococcus mutanspada saliva perempuan menopause dengan perempuan usia produktif. Adapun jenis

penelitian ini adalah observasi analitik tanpa memberikan perlakuan pada kelompok subjek penelitian. Populasi pada penelitian ini adalah perempuan berusia 47-65 tahun yang berada di kota Medan dan mahasiswi FKG USU berusia 19-25 tahun. Sampel penelitian disesuaikan dengan kriteria inklusi dan ekslusi yang telah ditetapkan.

Sampel yang telah memenuhi kriteria inklusi dilakukan pengambilan saliva sebanyak 2 ml untuk mengetahui jumlah koloni Streptococcus mutans. Penanaman Streptococcus mutansdilakukan pada media TYC dan diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam.

Gambar 7. Koloni Streptococcus mutans yang tumbuh setelah inkubasi selama 24 jam A)kelompok perempuan menopause B)kelompok perempuan usia produktif (dokumentasi).

Koloni bakteri Streptococcus mutans yang telah tumbuh dalam media TYC dihitung

(42)

tumbuh berwarna putih keabuan, permukaannya cembung berdiameter ±1 mm ditandai dengan spidol berwarna.Hasil jumlah keempat kuadran dikalikan faktor pengenceran (104 CFU/ml).

4.1 Data DemografisSampel

Sampel pada penelitian ini berjumlah 60 orang yang terbagi dalam dua kelompok yakni 30 orang perempuan menopause (47-65 tahun) dan 30 orang perempuan usia produktif (19-25 tahun). Pada penelitian ini responden kelompok perempuan menopause terbanyak pada usia 55-59 tahun sebesar 11 orang (36,66%), sedangkan responden terbanyak kelompok usia produktif pada usia 22-25 tahun sebesar 23 orang (76,67%) (Tabel 1).

Tabel 1. Data responden penelitian berdasarkan kelompok dan usia

Kelompok perempuan menopause Kelompok perempuan usia produktif

45-49 2 (6,66 %)

Tabel 2 menunjukkan nilai DMFT dan jumlah koloni Streptococcus mutans pada kedua kelompok berdasarkan usia.

Tabel 2. Nilai DMFT dan jumlah Streptococcus mutans berdasarkan usia

Kelompok perempuan menopause Kelompok perempuan usia produktif

Usia N DMFT Jumlah Usia N DMFT Jumlah

45-49 2 6,5 163,5 18-21 7 1,57 85,16

50-54 10 5,3 134,6

(43)

60-65 7 7,85 147,43

Rata-rata 6,56 143,53 Rata-rata 1,2 80,50

Untuk membandingkan jumlah koloni Streptococcus mutansantara perempuan menopause dengan perempuan usia produktif dilakukan uji t test independent (Tabel 3).

Tabel 3. Nilai rata-rata jumlah koloni Streptococcus mutanspada saliva perempuan menopause dan perempuan usia produktif.

Kelompok N Jumlah koloni (×10

4

CFU/ml ) Sig

Menopause 30 143.53 ± 29.09

0.000*

Produktif 30 80.50 ± 11.60

Ket : *secara statistik bermakna (signifikan p<0.05)

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata jumlah Streptococcus mutanspada saliva

kelompok perempuan menopause lebih tinggi (143,53×104 CFU/ml) dari kelompok

(44)

BAB 5

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan jumlah Streptococcus mutans antara perempuan menopause dengan perempuan usia produktif. Hasil penelitian

rata-rata koloni Streptococcus mutans pada perempuan menopause adalah143,53×104

CFU/ml, sedangkan perempuan usia produktif rata-rata koloni Streptococcus mutans adalah 80,50×104CFU/ml. Hasil ujiT test independent menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara jumlah koloni Streptococcus mutans pada saliva perempuan menopause dibandingkan perempuan usia produktif dengan nilai p=0,000 (p<0,05).

Berdasarkan data diatas jumlah Streptococcus mutans pada kelompok perempuan menopause >100 CFU/ml, sedangkan perempuan usia produktif <100 CFU/ml. Hasil ini sependapat dengan penelitian Apostolska (2011), dimana penelitian tersebut dilakukan untuk menghitung jumlah koloni Streptococcus mutans pada beberapa kelompok usia. Pada kelompok usia diatas 50 tahun jumlah koloni Streptococcus mutans lebih tinggi yaitu >100 CFU/ml sedangkan pada kelompok usia 20-50 tahun jumlah koloni dalam kisaran 0-100 CFU/ml.30

Hasil penelitian perempuan menopause pada usia 45-49 tahun jumlah koloni Streptococcus mutans yaitu 163,5 × 104 CFU/ml, sedangkan jumlah koloni pada kelompok usia 50-54, 55-59, dan 60-65 secara berturut-turut adalah 134,6; 141,91; dan 147,43 (×104 CFU/ml). Pada penelitian ini usia 45-49 tahun memiliki jumlah koloni Streptococcus mutans paling tinggi, namun hal ini tidak dapat menggambarkan hubungan antara usia

dengan jumlah Streptococcus mutans. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui rata-rata jumlah koloni Streptococcus mutans pada kedua kelompok. Sampel dipilih secara acak berdasarkan criteria inklusi sehingga penelitian ini tidak memiliki jumlah responden penelitian dalam rentang usia yang homogen.

Hormon estrogen adalah suatu hormon steroid yang terdiri dari estradiol, estrone,

dan estriol yang memiliki peran pada perkembangan karakteristik seksual

(45)

keratinosit dan kelejar saliva asinar. Keberadaan ERβ tersebut menunjukkan bahwa hormon estrogen sangat berperan terhadap saliva khususnya sekresi protein dalam saliva.8

Saliva merupakan cairan rongga mulut yang bersifat kompleks dan berperan penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut. Dalam peranannya menghambat pertumbuhan Streptococcus mutans, saliva menyediakan aksi antibakteri (sIgA, lisozime, laktoferin,

peroksidase, histatin, dll).22,23 Perubahan hormonal saat menopause mempengaruhi saliva sehingga peranannya dalam menghambat perumbuhan Streptococcus mutans menjadi berkurang. Penelitian lain menunjukkan bahwa horrmon estrogen dapat meningkatkan aktivitas peroksidase. Enzim ini berfungsi sebagai antibakteri. Penurunan peroksidase saliva yang sejalan dengan penurunan aliran saliva, menyebabkan pH saliva menjadi rendah karena ion thiosianat meningkat.31

Pada penelitian ini rata-rata nilai DMFT pada kelompok perempuan menopause lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok perempuan usia produktif (6,56 dan 1,2). Beberapa penelitian sebelumnya juga ditemukan nilai DMFT perempuan menopause lebih tinggi daripada perempuan belum menopause.9,10 Hal ini juga dapat dihubungkan bahwa perubahan rongga mulut pada menopause disebabkan pengaruh hormon yang sudah berkurang. DMFT yang tinggi pada menopause memiliki hubungan dengan tingginya jumlah Streptococcus mutans dan sIgA. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Ito (2004) untuk melihat hubungan antara IgA terhadap jumlah Streptococcus mutansdalam saliva. Hasilmenunjukkan level IgA pada orang

bebaskarieslebihtinggidibandingkan orang dengan karies.32 Penelitian Gomez et al pada tahun 1993 menyatakan perubahan keseimbangan hormonal, khususnya level estradiol pada perempuan selama siklus menstruasi atau kehamilan dapat mempengaruhi sekresi IgA pada kelenjar parotis.33 Pada perempuan menopause, estradiol (E2) adalah bentuk dari hormon

estrogen yang paling banyak berkurang.7 Hal ini dapat menyebabkan sIgA menurun

sehingga DMFT dan jumlah Streptococcus mutans tinggi pada penelitian ini. Hasil

penelitian ini menunjukkan daya protektif saliva pada perempuan menopause lebih rendah dibandingkan dengan perempuan usia produktif.

(46)
(47)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

1. Ada perbedaan jumlah Streptococcus mutanspada saliva perempuan menopause dengan saliva perempuan usia produktif secara bermakna (p=0,000).

6.2 Saran

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap perempuan menopause yang menggunakan terapi hormonal.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap perempuan menopause yang menggunakan gigi tiruan atau piranti ortodonti.

3. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk melihat hubungan perubahan hormonal terhadap kualitas saliva.

(48)

DAFTAR PUSTAKA

1. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. 20th Ed.Jakarta: EGC; 2002:406.

2. World Health Organization. Research on the menopause in 1990s.

Geneva:Publishing Scientific Group,Geneva,1996:10-24.

3. Badan Pusat Statistik. Hasil sensus penduduk 2010.http://sp2010.bps.go.id/ (26 September 2015)

4. National Institute on Aging. Menopause one woman’s story,every woman’s story.A resource for making healthy choices Baltimore,2003:4-10.

5. Alder B et al. Women’s health and menopause: a comprehensive approach. National Heart, Lung, and Blood Institute Office of Research on Women’s Health National Institutes of Health and Giovanni Lorenzini Medical Science Foundation USA,2002:8-14.

6. Mutnejaa P, Dhawan P, Raina A, Sharma G. Menopause and oral cavity. Indian J Endocrinol Metab 2012;16(4):548–51.

7. Tarkkila L. Oral health and menopause. Disertasi. Helsinki: Institute of Dentistry University of Helsinki, 2011:8-30.

8. Valimaa et al. Estrogen receptor-β is the predominant estrogen receptor subtype in human oral epithelium and salivary glands. Journal of Endocrinology 2004;180:55-62.

9. Dural DDS, Hatipoglu DDS, Cagirankaya DDS. Evaluation of the effect of

menopause on saliva and dental health. Arastima(Research) 2006:15-8.

10. Bhat S. A study on evaluation of the effect of menopause on saliva and dental health. J. Adv Dental Research 2010:33-6.

11. Thomas KE. Isolation of culvitable periodontal bacteria from pre menopausal and post menopausal women in chennai, india. Int Res J Biological Sci. 2014;3(5):53-6. 12. Richard J, Lamont, Robert A, Burne MA, Donald J, Leblanc. Oral microbiology and

(49)

13. Jawetz, Melnick, Adelberg. Mikrobiologi kedokteran. 23th Ed. Jakarta : EGC; 2008:233-8

14. Nugraha AW. Streptococcus mutans. Fakultas Farmasi USD Yogyakarta 2008:1-4. 15. Monroy TB, Maldonado VM, Martinez FF, Brrios BA, Quindos G, and Varges

LOS. Candida albicans, Staphylococcus aureus and Streptococcus mutans colonization in patients wearing dental prosthesis. Med Oral and Oral Patol Oral Cir Bucal. 2005;10: 27-39.

16. Contardo MS, Diaz N, Lobos O, Padilla C, Giacaman RA. Oral colonization by Streptococcus mutans and its association with the severity of periodontal dissease in adults. Clin. Periodontal Implantol. Rehabil.Oral 2011;4(1):9-12.

17. Baca P,Castillo AM, Baca AP, Liebana MJ, Junco P, Liebana J. Genotypes of Streptococcus mutans in saliva verus dental plaque. Arch Oral Biology 2008;53(8):751-4.

18. Dharsono VA, Mooduto L, Prasetyo EP. Perbedaan jumlah koloni Streptococcus mutans pada saliva penderita pria dan wanita dengan karies tinggi. Research Report Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga; Surabaya;2012:1-5.

19. Preethi P. Estimation of Streptococcus mutans count in saliva of pregnant women-a case-control study. Indian Journal of Public Health Ressearch & Development. 2014;5(4):263-7.

20. American Dental Association. Woman’s oral health issues. American Dental Association Council on Access, Prevention and Interprofessional Relations, 2006:14-7.

21. Palupi. Persoalan psikologis wanita menopause. Al-Risalah 2012;12(1):103-8. 22. Pederson AML. Saliva. Insitut of Odontology,University of Copenhagen. Zendium

2007: 2-14.

(50)

24. Amalia R. Gambaran status ph dan volume saliva pada pengguna kontrasepsi hormonal di kecamatan Mappakasunggu Kabupaten Takalar. Skripsi. Makassar : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanudin, 2013 :33-4

25. Ota F et al. Genetic studies on reference strains of mutans streptococci. Microbial Research 2002;157(4):305-10.

26. Edgar M, Dawes C, Mullane D. Saliva and oral health. 4rd Ed. London: Stephen Hancoks Limited; 2012:13-4

27. Anitamuina. Isolasi bakter

28. Dahlan MS. Besar sampel dan cara pengambilan sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan. Jakarta: Salemba medika; 2009:65-70.

29. Fejerskov O, Kidd E. Dental caries: the disease and its clinical management. Singapore: Blackwell Munksgaard; 2008:205.

30. Apostolska S, Rendzova V, Ivanovski K, Peeva M, Elencevski S. Presence of caries with different levels of oral hygiene. Sec Biol Med Sci 2011;32(1) :269-81.

31. Joenoes, Fatma, Djamal. Aktivitas peroksidase saliva pada wanita sebelum dan sesudah menopause . Dentika Dental Journal 2007;12(1):10-13.

32. Ito CYK, Martins CP, Balducci I, Jorge AOC. Correlation among mutans streptococci counts, dental caries, and IgA to Streptococcus mutans in saliva. Braz Oral Res 2004;18(4):1-6.

33. Gomez E, Ortiz V, Saint-Martin B, Boeck L, Diaz-Sanches V, Bourges H. Hormonal regulation of the secretory IgA (sIgA) system: estradiol- and progesterone-induced changes in sIgA in parotid saliva along menstrual cycle. Am J Reprod Immunol 1993;34:219-23.

34. Anonymous. Night sweats and dry mout 2015)

(51)
(52)

Lampiran 1 :

Skema alur penelitian

Sampel

Perempuan menopause Perempuan usia produktif

Mengunyah paraffin wax selama 1 menit

Pengambilan saliva sebanyak 2 ml (spitting)

Dilakukan 4x pengenceran (tabung I-IV) dengan masing-masing 1 ml saliva ditambahkan 9 ml larutan saline

Setelah diinkubasi selama 24 jam, koloni berwarna putih keabuan, tampak seperti frosted glass, cembung, berdiameter ± 1 mm

Penghitungan koloni bakteri Streptococcus mutans dengan membagi cawan petri menjadi empat kuadran, koloni yang terbentuk ditandai dengan spidol dan hasil keempat kuadran

dijumlahkan dengan satuan CFU/ml

Hasil perhitungan kedua kelompok dibandingkan dan diuji statistik

Kesimpulan

(53)

Lampiran 2 : Skema alur pikir

1. Menopause merupakan perubahan fisiologis yang akan dialami setiap

perempuan sebagai masa berakhirnya menstruasi dan kemampuan bereproduksi. Rata-rata usia seorang perempuan memasuki menopause adalah 52 tahun.(Ganong (2002))

2. Manifestasi pada rongga mulut seperti xerostomia, mulut kering (dry

mouth), rasa terbakar (burning mouth syndrom), perubahan pengecapan,

serta perubahan mukosa seperti mukosa menjadi atrofi, permukaan mukosa licin, dan gingiva mudah berdarah.(Mutneja P (2012))

3. Saliva berperan penting dalam menjaga kesehatan rongga mulut secara

menyeluruh. Fungsi utama saliva adalah membasahi, membersihkan dan melindungi gigi (hidroksiapatit) serta memiliki aktivitas antibakteri. Komposisi saliva antara lain sIgA, peroksidase, ion buffer, dan berperan penting dalam fungsi pertahanan dalam kesehatan rongga mulut. (Almeida(2008)

4. Aliran saliva yang baik akan meningkatkan produksi ion buffer dalam

menstabilkan pH rongga mulut.Penurunan sekresi saliva akan menyebabkan ion buffer rendah sehingga menyebabkan pH rongga mulut menjadi asam dan akhirnya meningkatkan pertumbuhan bakteri asidogenik. (Almeida(2008)

5. Penelitian Dural pada tahun 2006 menunjukkan terdapat penurunan aliran saliva dan pH pada perempuan menopause dibandingkan perempuan usia subur serta skor DMFT lebih tinggi pada perempuan menopause.

6. Hormon estrogen berperan pada fisiologi rongga mulut yang dimediasi

(54)

Perumusan Masalah

1. Apakah terdapat perbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva

perempuan menopause dengan perempuan usia produktif ?

7. Komposisi dari kelenjar saliva pada perempuan bervariasi selama tahap

perubahan hormonal seperti masa menstruasi dan kehamilan. Pada saat menopause terjadi perubahan komposisi saliva dan penurunan laju alir saliva karena pengaruh hormon estrogen. (Tarkkila (2011))

8. Streptococcus mutans adalah salah satu flora normal pada rongga mulut yang bersifat asidogenik dan asidurik serta menghasilkan suatu polisakarida (dextran) sehingga mendukung pertumbuhan bakteri lainnya. Kemampuan Streptococcus mutansbertahan dalam pH rongga mulut yang kritis,

menyebabkan bakteri ini paling dominan dalam proses terjadinya karies dibandingkan bakteri lain.(Nugraha(2008))

9. Perhitungan Streptococcus mutans melalui saliva dianggap dapat

memrepresentasikan keadaan rongga mulut secara keseluruhan dan memiliki keefektifan yang sama dengan sampling dari plak permukaan bukal dan oklusal. (Baca(2008))

(55)

Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui perbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva

perempuan menopause dengan perempuan usia produktif.

Manfaat Penelitian : a. Manfaat teoritis

1. Bagi peneliti merupakan pengetahuan yang berharga dalam rangka menambah wawasan keilmuan melalui penelitian lapangan.

2. Sebagai bahan referensi dalam bidang kedokteran gigi untuk disempurnakan pada penelitian selanjutnya

3. Memberikan informasi bahwa peningkatan jumlah koloni Streptococcus mutansdalam saliva dapat mengubah pH rongga mulut menjadi asam sehingga

mudah terjadinya akumulasi plak dan insiden karies.

4. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah perkembangan ilmu kesehatan gigi masyarakat

b. Manfaat praktis

(56)

Lampiran 3

LEMBARAN INFORMASI DAN SURAT PERMOHONAN KESEDIAAN PARTISIPASI DALAM PENELITIAN

Kepada Yth :

Saudara/i ……… di tempat

Perkenalkan saya adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi USU. Bersama ini kami mohon kesediaan saudara/i untuk berpartisipasi sebagai subjek penelitian saya yang berjudul :

“PERBEDAAN JUMLAH STREPTOCOCCUS MUTANS PADA SALIVA

PEREMPUAN MENOPAUSE DENGAN PEREMPUAN USIA PRODUKTIF”

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh menopause terhadap peningkatan koloni Streptococcus mutanspada saliva subjek penelitian.

Menopause merupakan suatu perubahan fisiologis yang akan dialami setiap perempuan sebagai masa berakhirnya menstruasi dan kemampuan bereproduksi. Kondisi ini menyebabkan perubahan fisik dan gangguan psikologis bagi yang mengalaminya.Salah satu perubahan yang ditemukan pada rongga mulut adalah menurunnya kualitas saliva sebagai salah satu faktor pertahanan dalam mencegah karies gigi.

Perlu untuk saudara ketahui bahwa terdapat banyak spesies bakteri di rongga mulut yang dapat menyebabkan karies gigi, salah satunya adalah bakteri Streptococcus mutans. Streptococcus mutans merupakan bakteri patogen dan paling dominan dalam keterlibatan

menyebabkan karies gigi.Jumlah koloni Streptococcus mutans yang terdapat pada saliva menunjukkan risiko terjadinya karies gigi pada seseorang.

Dalam penelitian ini, saudara/i akan diminta untuk melakukan : 1. Mengisi kuesioner

(57)

3. Saliva saudara/i akan ditampung ke dalam wadah penampung untuk selanjutnya diperiksa.

Adapun ketidaknyamanan yang akan dialami selama prosedur penelitian ini adalah pemeriksaan rongga mulut dan pengambilan sampel saliva. Namun, selama penelitian dilakukan tidak akan terjadi masalah atau komplikasi serius.

Manfaat yang diperoleh apabila Saudara/i menjadi subjek penelitian ini, yaitu dapat menjadi masukan untuk melakukan pencegahan terhadap karies sedini mungkin.Apabila saudara/i berkenan menjadi subjek penelitian, harap menandatangani lembar persetujuan menjadi subjek penelitian terlampir dan dikembalikan.Demikian penjelasan di atas dapat dimengerti dan atas kesediaan saudara/i dalam berpartisipasi dalam penelitian ini, saya ucapkan terima kasih.

Medan. September 2014 Yulisha Cindy T Sinaga

(58)

LEMBAR PERSETUJUAN SETELAH PENJELASAN

(INFORMED CONSENT)

Saya yang bertanda tangan di bawah ini

Nama :

Umur / jenis kelamin :

Alamat :

No. Telp/HP :

Menyatakan kesediaan untuk menjadi sampel dalam penelitian mengenaiPerbedaan jumlah Streptococcus mutans pada saliva perempuan menopause dengan perempuan usia produktifserta tidak akan menyatakan keberatan maupun

tuntutan di belakang hari.

Demikian pernyataan ini saya berikan dalam keadaan pikiran yang sehat dan tanpa paksaan apapun dari pihak manapun juga.

Medan,……….2015 Pembuat pernyataan

(59)

Lampiran 4 : Kuesioner penelitian

B. Isilah dengan jawaban yang tepat

1. Apakah anda masih mengalami menstruasi (haid) secara teratur?

a. Ya b. Tidak

2. Jika tidak, kapan anda terakhir kali mengalami menstruasi? a. 1 bulan - 6 bulan yang lalu

b. 6 bulan - satu tahun yang lalu c. ≥ 1 tahun yang lalu

3. Apakah anda sedang menderita penyakit sistemik?

a. Ya b. Tidak

(60)

c. Lainnya, sebutkan………..

5. Apakah anda mengonsumsi obat-obatan (antihipertensi, antibiotik,dll) ?

a. Ya b. Tidak

6. Apakah anda pernah menjalani terapi hormonal (estrogen, progesteron, kontrasepsi/ pil KB) ?

a. Ya b. Tidak

7. Apakah anda mengalami kesulitan mengunyah?

a. Ya b. Tidak

8. Apakah anda memiliki kebiasaan ini (merokok, menyirih, atau minum alkohol?

a. Ya b. Tidak

C. Diisi oleh operator

18 17 16 15 14 13 12 11 21 22 23 24 25 26 27 28

48 47 46 45 44 43 42 41 31 32 33 34 35 36 37 38

D =

M =

F =

+

(61)
(62)

Lampiran :Hasil penelitian jumlah koloni Streptococcus mutansdan DMFT padakedua kelompok

Kelompok perempuan menopause (A) Kelompok perempuan usia produktif (B)

(63)

A14 58 - 16 203 B14 20 2 80

A15 58 - 6 124 B15 20 2 92

A16 64 - 6 133 B16 24 2 87

A17 55 - 5 107 B17 21 3 94

A18 50 - 6 108 B18 21 1 83

A19 57 - 6 125 B19 22 0 82

A20 53 - 4 114 B20 24 0 86

A21 65 - 7 131 B21 22 0 87

A22 59 - 7 153 B22 25 0 74

A23 52 - 5 128 B23 22 3 91

A24 60 - 8 153 B24 21 1 81

A25 63 - 3 122 B25 22 1 79

A26 54 - 6 141 B26 22 2 93

A27 51 - 5 135 B27 23 0 62

A28 56 - 5 129 B28 23 0 53

A29 61 - 9 166 B29 23 0 64

A30 57 - 5 113 B30 22 0 73

Rata-rata 6,56 143,5

(64)

Lampiran :Foto Hasil penelitian jumlah Streptococcus mutans pada kelompok

perempuan menopause (A) dan kelompok perempuan usia produktif (B)

A1

A2

B1

(65)

A3

A4

A5

B4

(66)

A6

A7

A8

B6

B7

(67)

A9

A11 A10

B9

B10

(68)

A12

A14

B12

B13

(69)

A15

B17 A17

A16 B16

(70)

A20 B20 B18

B19 A19

(71)

B21

B23 B22 A22

A21

(72)

B24

B25

B26 A24

(73)

A29

B28 B27

B29 A28

(74)
(75)

GET FILE='C:\Users\ACER\Documents\spss\data skripsi.sav'. NPAR TESTS /K-S(NORMAL)=Jumlah /MISSING ANALYSIS.

NPar Tests

[DataSet1] C:\Users\ACER\Documents\spss\data skripsi.sav

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Jumlah

N 60

Normal Parametersa,,b Mean 112.0167

Std. Deviation 38.62970

Most Extreme Differences Absolute .154

Positive .154

Negative -.086

Kolmogorov-Smirnov Z 1.189

Asymp. Sig. (2-tailed) .118

a. Test distribution is Normal.

(76)

Gambar

Gambar 1. Hubungan antara periode  transisi menopause menurut WHO tahun 19962
Gambar  2.  Immunostaining untuk ERα dan  ERβ pada kelenjar saliva.  Sel   asinar   dan  sel  duktus   imunoreaktif
Gambar 3.Streptococcus mutans dilihat dari  mikroskop elektron 14
Gambar 6. Prosedur   pengenceran   saliva   dan    penanaman   Streptococcus mutans
+3

Referensi

Dokumen terkait

Yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah wanita dalam rentang usia 40-60 tahun yang telah memasuki usia menopause dan. bertempat tinggal di Kelurahan Tanjung

Severe Early Childhood Caries (S-ECC) merupakan karies pada permukaan halus gigi yang terjadi pada anak berusia di bawah 3 atau pada anak 3,4,5 tahun menunjukkan adanya lesi

Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk diwilayah kecamatan karanganyar dengan karakteristik laki-laki dan perempuan, dewasa madya (berusia 40

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA Islam Hidayatullah Semarang dengan karakteristik subjek penelitian yaitu remaja berusia 15 sampai 18 tahun dan

Subjek penelitian dibagi menjadi tiga kelompok yaitu, kelompok pre- pubertal, subjek yang dikategorikan dalam kelompok ini adalah permpuan pada usia tumbuh kembang

Jenis penelitian ini adalah penelitian Survey analitik dan menggunakan pendekatan retrospektif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan

Berbeda dengan penelitian Kristanto 2008, hasil dari penelitian ini adalah yang memiliki kecenderungan perilaku konsumtif terdapat pada subjek perempuan tidak berkerja dengan analisis

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif analitik, dengan metode cross sectional Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak pra sekolah berusia 3-5 tahun di Tk