EFEKTIFITAS TERAPI MUSIK TERHADAP PENURUNAN NYERI
POST OPERASI PADA ANAK USIA SEKOLAH DI RSUP HAJI
ADAM MALIK MEDAN
SKRIPSI
Oleh
Ani Farida 061101010
FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Departemen Pendidikan Nasional Universitas Sumatera Utara
Fakultas Keperawatan
Jl. Prof. Ma’as No. 3 Medan – 20155 Tlpn. (061) 8213318
Nama : Ani Farida
LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SIDANG SKRIPSI
Nim : 061101010
Judul Penelitian : Efektifitas terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi pada Anak Usia Sekolah di RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
Telah memenuhi persyaratan penulisan skripsi sesuai Pedoman Penulisan Proposal Skripsi Mahasiswa S1 Keperawatan Universitas Sumatera Utara tahun 2010 dan dapat melakukan ujian sidang skripsi.
Medan, 29 Juni 2010 Pembimbing Penelitian
PRAKATA
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsiini dengan judul “Efektifitas Terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi pada Anak Usia Sekolah di RSUP H. Adam Malik Medan”.
Skripsi ini dibuat untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan Sarjana keperawatan dan penerapan ilmu dalam mata kuliah riset keperawatan. Pada kesempatan ini izinkanlah penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Ibu Farida linda Sari Siregar, M.Kep selaku dosen pembimbing dalam penyelesaian skripsi ini
2. Ibu Reni Asmara Ariga, S.Kp, MARS selaku dosen penguji I 3. Bapak M. Sukri Tanjung, S.Kep, Ns selaku dosen penguji II
4. Seluruh dosen dan staf pengajar serta civitas akademik Fakultas Keperawatan USU yang telah memberi bimbingan selama perkuliahan
6. Teman-teman sejawat di FAKULTAS KEPERAWATAN USU jalur-A 2006 (Husna, Upit, Ito, Ina, Zuli, Desi, dan lain-lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu) dan semua pihak yang telah banyak membantu dan memberi dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini
Semoga segenap bantuan, bimbingan dan arahan yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan yang setimpal dari ALLAH SWT. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dibidang keperawatan dan untuk meningkatkan pelayanan keperawatan.
Medan, Juni 2010 Penulis
Ani Farida
DAFTAR ISI
1.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nyeri ... 8
1.3. Klasifikasi Nyeri ... 14
1.4. Fisiologi Nyeri ... 15
1.5. Nyeri Post Operasi ... 16
1.6. Manajemen Nyeri non-Farmakologi: Distraksi ... 12
3.2. Manfaat Musik ... 26
3.3. Karakteristik Terapi Musik... 27
3.4. Terapi Musik Klasik Mozart ... 28
3.5. Proses Penurunan Nyeri dengan Terapi Musik Klasik Mozart ... 28
BAB 3 KERANGKA PENELITIAN 1. Kerangka Konseptual ... 30
2. Defenisi Operasional ... 31
3. Hipotesa ... 31
BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 1. Desain Penelitian ... 32 BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Hasil Penelitian ... 37
2. Pembahasan ... 42
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan ... 47
2. Saran ... 48
DAFTAR PUSTAKA ... 49
LAMPIRAN ... 51
Lampiran 1. Lembar Persetujuan Menjadi Responden ... 52
Lampiran 2. Kuesioner Data Demografi ... 53
Lampiran 3. Instrumen Penelitian ... 54
Lampiran 4. Panduan Pelaksanaan Terapi Musik ... 55
Lampiran 5. Lembar Surat Pengambilan Data dari Fakultas Keperawatan ... 56
Lampiran 6. Lembar Izin Pengambilan Data... 57
Lampiran 7. Jadwal Tentatif Penelitian... 58
Lampiran 8. Taksasi Dana ... 59
DAFTAR SKEMA
Skema Halaman
1. Kerangka konseptual penelitian efektifitas terapi musik
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
1. Distribusi responden berdasarkan karaktersistik demografi ... 38 2. Distribusi responden berdasarkan penurunan intensitas nyeri post
operasi ... 39 3. Perbedaan penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi dan
kelompok kontrol sebelum dan sesudah terapi musik... 41 4. Pengaruh terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri pada kelompok
Judul : Efektifitas Terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi pada Anak Usia Sekolah di RSUP H. Adam Malik Medan
Setiap tindakan operasi akan menimbulkan berbagai keluhan dan yang paling sering adalah nyeri. Anak sering tidak mengatakan kalau ia merasakan nyeri. Dan bila nyeri yang dialami anak tidak diatasi, dapat mempengaruhi tumbuh dan kembang anak. Distraksi adalah teknik yang efektif untuk menurunkan nyeri. Terapi musik merupakan salah satu teknik distraksi yang dapat menurunkan nyeri pada anak post operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap intensitas nyeri post operasi pada anak usia sekolah. Desain yang digunakan adalah quasi eksperimen. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 6 januari-7 februari 2010 dengan jumlah sampel 14 orang yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dapat dikumpulkan dengan menggunakan Face Pain Rating Scale. Data yang sudah dikumpulkan di analisa dengan uji t (t-test) dengan tingkat kemaknaan 5% (α= 0,05). Pada kelompok kontrol, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh terapi musik terhadap intensitas nyeri post operasi tidak bermakna yaitu 0,200 (p>0,05). Sedangkan pada kelompok intervensi terapi musik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap intensitas nyeri yaitu 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian ini merekomendasikan agar perawat ruangan dapat mengintegrasikan terapi musik dalam asuhan keperawatan langsung pada perawatan anak post operasi khususnya ditujukan untuk menurunkan nyeri.
Judul : Efektifitas Terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi pada Anak Usia Sekolah di RSUP H. Adam Malik Medan
Setiap tindakan operasi akan menimbulkan berbagai keluhan dan yang paling sering adalah nyeri. Anak sering tidak mengatakan kalau ia merasakan nyeri. Dan bila nyeri yang dialami anak tidak diatasi, dapat mempengaruhi tumbuh dan kembang anak. Distraksi adalah teknik yang efektif untuk menurunkan nyeri. Terapi musik merupakan salah satu teknik distraksi yang dapat menurunkan nyeri pada anak post operasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi musik terhadap intensitas nyeri post operasi pada anak usia sekolah. Desain yang digunakan adalah quasi eksperimen. Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 6 januari-7 februari 2010 dengan jumlah sampel 14 orang yang dibagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok intervensi dan kelompok kontrol, dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data dapat dikumpulkan dengan menggunakan Face Pain Rating Scale. Data yang sudah dikumpulkan di analisa dengan uji t (t-test) dengan tingkat kemaknaan 5% (α= 0,05). Pada kelompok kontrol, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh terapi musik terhadap intensitas nyeri post operasi tidak bermakna yaitu 0,200 (p>0,05). Sedangkan pada kelompok intervensi terapi musik mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap intensitas nyeri yaitu 0,000 (p<0,05). Hasil penelitian ini merekomendasikan agar perawat ruangan dapat mengintegrasikan terapi musik dalam asuhan keperawatan langsung pada perawatan anak post operasi khususnya ditujukan untuk menurunkan nyeri.
BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Operasi atau pembedahan merupakan semua tindak pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan, dilakukan tindak perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka. Perawatan selanjutnya akan termasuk dalam perawatan pasca bedah. Tindakan pembedahan atau operasi dapat menimbulkan berbagai keluhan dan gejala. Keluhan dan gejala yang sering adalah nyeri (Sjamsuhidajat, 1998).
Nyeri menurut The International Association for the Study of Pain nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional yang tidak menyenangkan yang disertai oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual. Nyeri merupakan suatu kondisi yang lebih dari sekedar sensasi tunggal yang disebabkan oleh stimulus tertentu (Mahon,1994; dalam Potter & Perry,2005). Rasa nyeri yang timbul akibat pembedahan bila tidak diatasi dapat menimbulkan efek yang membahayakan yang mengganggu proses penyembuhan dan akan mempengaruhi proses tumbuh kembang anak (Soetjiningsih, 1995). Seorang anak tidak mudah untuk mengatakan tentang nyeri yang dirasakannya. Jika seorang anak dalam keadaan nyeri, maka sering tidak mengatakan apa-apa (Haley, 2003).
Nyeri post operasi sering menjadi masalah bagi pasien dan merupakan hal yang paling mengganggu, sehingga perlu dilakukan intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri. Salah satu bentuk intervensi tersebut adalah terapi musik. Perawat menghabiskan lebih banyak waktu bersama pasien dibandingkan dengan tenaga perawatan profesional lainnya, maka perawat mempunyai kesempatan untuk menghilangkan nyeri dan efek yang membahayakan (Smeltzer & Bare, 2002).
anak post operasi secara non-farmakologis adalah distraksi. Penatalaksanaan nyeri pada anak dengan teknik disraksi merupakan salah satu cara yang cocok pada anak post operasi. Pada anak, teknik distraksi sangat efektif digunakan untuk mengalihkan nyeri, hal ini disebabkan karena distraksi merupakan metode dalam upaya untuk mengurangi nyeri anak dan sering membuat pasien lebih menahan nyerinya. Hal ini ditegaskan kembali oleh Taylor (1997) yang mengatakan bahwa teknik distraksi ini terbukti efektif digunakan pada anak. Supaya distraksi lebih efektif perawat harus peka terhadap situasi yang menarik dan menyenangkan bagi anak. Distraksi ini bisa dilakukan secara visual, auditori, taktil kinestik dan projek. Salah satu teknik distraksi adalah dengan terapi musik yang bertujuan untuk menurunkan nyeri pada anak.
Menurut Mc Caffrey musik dapat menciptakan suasana nyaman pada situasi yang tidak nyaman seperti nyeri post operasi. Mc Caffrey telah melakukan penelitian tentang terapi musik untuk penurunan nyeri pada osteoartritis, dia mendapatkan hasil bahwa pasien yang diberi terapi musik selama 20 menit merasakan nyerinya berkurang sebanyak 33% (Jerrad, 2004). Nilson, dkk (2003) menemukan bahwa terapi musik pada intra operasi dan post operasi dapat menurunkan nyeri. Mereka menyimpulkan bahwa musik mempunyai efek langsung jangka pendek dalam menurunkan nyeri.
Musik merupakan satu sarana yang sangat bermanfaat dan mudah di peroleh. Musik dapat menenangkan, mengangkat spirit , membuat sedih, dll. Dengan mempelajari jenis-jenis musik yang berbeda dan merasakan efek-efek musik tertentu terhadap tubuh, seseorang dapat secara efektif memilih musik pada saat membutuhkannya (Manz, 2003).
Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti, intervensi yang dilakukan untuk menurunkan nyeri post-operasi pada anak yaitu dengan tindakan farmakologi yakni dengan pemberian analgesik.
2. Pertanyaan penelitian
Apakah terapi musik efektif terhadap penurunan nyeri post-operasi pada anak usia sekolah?
3. Tujuan penelitian
3.1. Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi efektifitas terapi musik terhadap penurunan nyeri post-operasi pada anak usia sekolah.
3.2. Tujuan Khusus
3.2.1. Mengidentifikasi nyeri post operasi pada kelompok intervensi
3.2.2. Mengidentifikasi nyeri post operasi pada kelompok kontrol
3.2.3. Mengidentifikasi pengaruh terapi musik terhadap nyeri post operasi pada anak usia sekolah
4. Manfaat penelitian
4.1.Bagi Pelayanan Keperawatan
4.2.Bagi Pendidikan Keperawatan
Hasil penelitian ini dapat menjadi sumber informasi serta sumber pengetahuan dipendidikan keperawatan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
1. Konsep Nyeri
1.1. Definisi nyeri
Secara umum nyeri adalah suatu rasa yang tidak nyaman, baik ringan maupun berat. Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi seseorang dan eksistensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya (Tamsuri, 2007). Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri adalah pengalaman perasaan emosional yang tidak menyenangkan akibat terjadinya kerusakan aktual maupun potensial, atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
1.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi nyeri
Nyeri merupakan hal yang kompleks, banyak faktor yang mempengaruhi pengalaman seseorang terhadap nyeri. Seorang perawat harus mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam menghadapi klien yang mengalami nyeri. Hal ini sangat penting dalam pengkajian nyeri yang akurat dan memilih terapi nyeri yang baik.
a. Usia
Menurut Potter & Perry (1993) usia adalah variabel penting yang mempengaruhi nyeri terutama pada anak dan orang dewasa. Perbedaan perkembangan yang ditemukan antara kedua kelompok umur ini dapat mempengaruhi bagaimana anak dan orang dewasa bereaksi terhadap nyeri. Anak-anak kesulitan untuk memahami nyeri dan beranggapan kalau apa yang dilakukan perawat dapat menyebabkan nyeri. Anak-anak yang belum mempunyai kosakata yang banyak, mempunyai kesulitan mendeskripsikan secara verbal dan mengekspresikan nyeri kepada orang tua atau perawat.
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan fungsi (Tamsuri, 2007).
dimana sakitnya?” atau “apa yang dapat saya lakukan untuk menghilangkan sakit kamu?”. Hal-hal diatas dapat membantu mengkaji nyeri dengan tepat.
Perawat dapat menunjukkan serangkaian gambar yang melukiskan deskripsi wajah yang berbeda, seperti tersenyum, mengerutkan dahi atau menangis. Anak-anak dapat menunjukkan gambar yang paling tepat untuk menggambarkan perasaan mereka.
b. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wanita tidak mempunyai perbedaan secara signifikan mengenai respon mereka terhadap nyeri. Masih diragukan bahwa jenis kelamin merupakan faktor yang berdiri sendiri dalam ekspresi nyeri. Misalnya anak laki-laki harus berani dan tidak boleh menangis dimana seorang wanita dapat menangis dalam waktu yang sama. Penelitian yang dilakukan Burn, dkk. (1989) dikutip dari Potter & Perry, 1993 mempelajari kebutuhan narkotik post operative pada wanita lebih banyak dibandingkan dengan pria.
c. Budaya
Nyeri memiliki makna tersendiri pada individu dipengaruhi oleh latar belakang budayanya (Davidhizar et all, 1997, Marrie, 2002) nyeri biasanya menghasilkan respon efektif yang diekspresikan berdasarkan latar belakang budaya yang berbeda. Ekspresi nyeri dapat dibagi kedalam dua kategori yaitu tenang dan emosi (Davidhizar et all, 1997, Marrie, 2002) pasien tenang umumnya akan diam berkenaan dengan nyeri, mereka memiliki sikap dapat menahan nyeri. Sedangkan pasien yang emosional akan berekspresi secara verbal dan akan menunjukkan tingkah laku nyeri dengan merintih dan menangis (Marrie, 2002).
Nilai-nilai budaya perawat dapat berbeda dengan nilai-nilai budaya pasien dari budaya lain. Harapan dan nilai-nilai budaya perawat dapat mencakup menghindari ekspresi nyeri yang berlebihan, seperti menangis atau meringis yang berlebihan. Pasien dengan latar belakang budaya yang lain bisa berekspresi secara berbeda, seperti diam seribu bahasa ketimbang mengekspresikan nyeri klien dan bukan perilaku nyeri karena perilaku berbeda dari satu pasien ke pasien lain.
d. Ansietas
Meskipun pada umumnya diyakini bahwa ansietas akan meningkatkan nyeri, mungkin tidak seluruhnya benar dalam semua keadaaan. Riset tidak memperlihatkan suatu hubungan yang konsisten antara ansietas dan nyeri juga tidak memperlihatkan bahwa pelatihan pengurangan stres praoperatif menurunkan nyeri saat pascaoperatif. Namun, ansietas yang relevan atau berhubungan dengan nyeri dapat meningkatkan persepsi pasien terhadap nyeri. Ansietas yang tidak berhubungan dengan nyeri dapat mendistraksi pasien dan secara aktual dapat menurunkan persepsi nyeri. Secara umum, cara yang efektif untuk menghilangkan nyeri adalah dengan mengarahkan pengobatan nyeri ketimbang ansietas (Smeltzer & Bare, 2002).
e. Pengalaman masa lalu dengan nyeri
Seringkali individu yang lebih berpengalaman dengan nyeri yang dialaminya, makin takut individu tersebut terhadap peristiwa menyakitkan yang akan diakibatkan. Individu ini mungkin akan lebih sedikit mentoleransi nyeri, akibatnya ia ingin nyerinya segera reda sebelum nyeri tersebut menjadi lebih parah. Reaksi ini hampir pasti terjadi jika individu tersebut mengetahui ketakutan dapat meningkatkan nyeri dan pengobatan yang tidak adekuat.
saja menetap dan tidak terselesaikan, seperti padda nyeri berkepanjangan atau kronis dan persisten.
Efek yang tidak diinginkan yang diakibatkan dari pengalaman sebelumnya menunjukkan pentingnya perawat untuk waspada terhadap pengalaman masa lalu pasien dengan nyeri. Jika nyerinya teratasi dengan tepat dan adekuat, individu mungkin lebih sedikit ketakutan terhadap nyeri dimasa mendatang dan mampu mentoleransi nyeri dengan baik (Smeltzer & Bare, 2002).
f. Efek plasebo
Efek plasebo terjadi ketika seseorang berespon terhadap pengobatan atau tindakan lain karena sesuatu harapan bahwa pengobatan tersebut benar benar bekerja. Menerima pengobatan atau tindakan saja sudah merupakan efek positif.
g. Keluarga dan Support Sosial
Faktor lain yang juga mempengaruhi respon terhadap nyeri adalah kehadiran dari orang terdekat. Orang-orang yang sedang dalam keadaan nyeri sering bergantung pada keluarga untuk mensupport, membantu atau melindungi. Ketidakhadiran keluarga atau teman terdekat mungkin akan membuat nyeri semakin bertambah. Kehadiran orangtua merupakan hal khusus yang penting untuk anak-anak dalam menghadapi nyeri (Potter & Perry, 1993).
h. Pola koping
Ketika seseorang mengalami nyeri dan menjalani perawatan di rumah sakit adalah hal yang sangat tak tertahankan. Secara terus-menerus klien kehilangan kontrol dan tidak mampu untuk mengontrol lingkungan termasuk nyeri. Klien sering menemukan jalan untuk mengatasi efek nyeri baik fisik maupun psikologis. Penting untuk mengerti sumber koping individu selama nyeri. Sumber-sumber koping ini seperti berkomunikasi dengan keluarga, latihan dan bernyanyi dapat digunakan sebagai rencana untuk mensupport klien dan menurunkan nyeri klien.
1.3. Klasifikasi Nyeri
Nyeri dikelompokkan sebagai nyeri akut dan nyeri kronis. Nyeri akut biasanya datang tiba-tiba, umumnya berkaitan dengan cidera spesifik, jika kerusakan tidak lama terjadi dan tidak ada penyakit sistemik, nyeri akut biasanya menurun sejalan dengan penyembuhan. Nyeri akut didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung beberapa detik hingga enam bulan (Brunner & Suddarth, 1996).
Berger (1992) menyatakan bahwa nyeri akut merupakan mekanisme pertahanan yang berlangsung kurang dari enam bulan. Secara fisiologis terjadi perubahan denyut jantung, frekuensi nafas, tekanan darah, aliran darah perifer, tegangan otot, keringat pada telapak tangan, dan perubahan ukuran pupil.
Nyeri kronik adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang satu periode waktu. Nyeri kronis dapat tidak mempunyai awitan yang ditetapkan dan sering sulit untuk diobati karena biasanya nyeri ini tidak memberikan respon terhadap pengobatan yang diarahkan pada penyebabnya. Nyeri kronis sering didefenisikan sebagai nyeri yang berlangsung selama enam bulan atau lebih (Brunner & Suddarth, 1996 dikutip dari Smeltzer 2001).
1.4. Fisiologi Nyeri
Menurut Torrance & Serginson (1997), ada tiga jenis sel saraf dalam proses penghantaran nyeri yaitu sel syaraf aferen atau neuron sensori, serabut konektor atau interneuron dan sel saraf eferen atau neuron motorik. Sel-sel syaraf ini mempunyai reseptor pada ujungnya yang menyebabkan impuls nyeri dihantarkan ke sum-sum tulang belakang dan otak. Reseptor-reseptor ini sangat khusus dan memulai impuls yang merespon perubahan fisik dan kimia tubuh. Reseptor-reseptor yang berespon terhadap stimulus nyeri disebut nosiseptor.
Stimulus pada jaringan akan merangsang nosiseptor melepaskan zat-zat kimia, yang terdiri dari prostaglandin, histamin, bradikinin, leukotrien, substansi p, dan enzim proteolitik. Zat-zat kimia ini akan mensensitasi ujung syaraf dan menyampaikan impuls ke otak (Torrance & Serginson, 1997).
Menurut Smeltzer & Bare (2002) kornu dorsalis dari medula spinalis dapat dianggap sebagai tempat memproses sensori. Serabut perifer berakhir disini dan serabut traktus sensori asenden berawal disini. Juga terdapat interkoneksi antara sistem neural desenden dan traktus sensori asenden. Traktus asenden berakhir pada otak bagian bawah dan bagian tengah dan impuls-impuls dipancarkan ke korteks serebri.
yang ketika diaktifkan, menghambat atau memutuskan taransmisi informasi yang menyakitkan atau yang menstimulasi nyeri dalam jaras asenden. Seringkali area ini disebut “gerbang”. Kecendrungan alamiah gerbang adalah membiarkan semua input yang menyakitkan dari perifer untuk mengaktifkan jaras asenden dan mengaktifkan nyeri. Namun demikian, jika kecendrungan ini berlalu tanpa perlawanan, akibatnya sistem yang ada akan menutup gerbang. Stimulasi dari neuron inhibitor sistem asenden menutup gerbang untuk input nyeri dan mencegah transmisi sensasi nyeri (Smeltzer & Bare, 2002).
Teori gerbang kendali nyeri merupakan proses dimana terjadi interaksi antara stimulus nyeri dan sensasi lain dan stimulasi serabut yang mengirim sensasi tidak nyeri memblok transmisi impuls nyeri melalui sirkuit gerbang penghambat. Sel-sel inhibitor dalam kornu dorsalis medula spinalis mengandung eukafalin yang menghambat transmisi nyeri (Wall, 1978 dikutip dari Smeltzer & Bare, 2002).
1.5. Nyeri post-operasi
Toxonomi Comitte of The International Assocation mendefinisikan nyeri post operasi sebagai sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosi yang berhubungan dengan kerusakan jaringan potensial atau nyata atau menggambarkan terminologi suatu kerusakan (Alexander, 1987).
pembedahan, nyeri yang dibebaskan dapat mengurangi kecemasan, bernafas lebih mudah dan dalam, dapat mentoleransi mobilisasi yang cepat. Pengkajian nyeri dan kesesuaian analgesik harus digunakan untuk memastikan bahwa nyeri pasien post operasi dapat dibebaskan (Weist et all, 1983; Torrance & Serginson, 1997).
Menurut Potter dan Perry (1993); Torrance dan Sergison (1997) secara umum respon pasien terhadap nyeri terbagi atas: (1) respon perilaku, dan (2) respon yang dimanifestasikan oleh otot dan kelenjar otonom.
Respon perilaku terdiri dari (1) secara vokal: merintih, menangis, menjerit, bicara terengah-engah dan menggerutu, (2) ekspresi wajah: meringis, merapatkan gigi, mengerutkan dahi, menutup rapat atau membuka lebar mata atau mulut, menggigit bibir dan rahang tertutup rapat, (3) geraakan tubuh: kegelisahan, immobilisasi, ketegangan otot, peningkatan pergerakan tangan dan jari, melindungi bagian tubuh, (4) interaksi sosial: menghindari percakapan, hanya berfokus pada untuk aktivitas penurunan nyeri, menghindari kontak sosial, berkurangnya perhatian.
1.6. Manajenen nyeri non-farmakologi: teknis distraksi
Distraksi adalah teknis memfokuskan perhatian pasien pada sesuatu selain
pada nyeri (Brunner & Suddarth, 1996). Distraksi diduga dapat menurunkan nyeri, menurunkan persepsi nyeri dengan menstimulasi sistem kontrol desendens, yang mengakibatkan lebih sedikit stimulasi nyeri yang ditransmisikan ke otak. Keefektifan distraksi tergantung pada kemampuan pasien untuk menerima dan membangkitkan input sensori selain nyeri (Brunner & Suddarth, 1996).
Distraksi dapat berkisar dari hanya pencegahan menoton sampai
menggunakan aktivitas fisik dan mental yang sangat kompleks. Kunjungan dari keluarga dan teman-teman sangat efektif dalam meredakan nyeri. Orang lain mungkin akan mendapatkan peredaan nyeri melalui permainan dan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi. Tidak semua pasien mencapai peredaan nyeri melalui distraksi, terutama mereka yang mengalami nyeri hebat. Dengan nyeri hebat klien mungkin tidak dapat berkonsentrasi cukup baik untuk ikut serta dalam aktivitas mental atau fisik yang kompleks (Smeltzer & Bare, 2002).
2. Anak
2.1. Anak usia sekolah
Anak usia sekolah adalah dimana anak telah memasuki usia sekolah. Anak usia sekolah adalah akhir masa kanak-kanak yang berlangsung dari 6 tahun sampai anak mencapai kematangan seksual. Yaitu sekitar 13 tahun bagi anak perempuan dan 14 tahun bagi anak laki-laki (Hurlock, 1999).
Menurut Wong & Whaley’s (1996) konsep anak tentang sakit dan nyeri dibedakan berdasarkan usianya. Berikut ini akan disajikan konsep anak tentang sakit dan nyeri.
Tahap Kognitif
(usia)
Konsep Sakit Konsep Nyeri
Pikiran
atau tindakan eksternal
2.2. Nyeri pada anak
Bayi tidak dapat berkomunikasi melalui verbal secara menyeluruh, walaupun tingkah laku mereka menampilkan ekspresi wajah nyeri seperti: menangis, wajah meringis, mata menyipit, dagu bergetar. Bayi secara sempurna bergantung kepada tenaga medis untuk mengkaji nyeri dan menginterpretasikan nyeri mereka (Marie, 2002).
Todler dan pra sekolah kurang dalam kemampuan kognitif untuk menggunakan alat skore nyeri standard orang dewasa. Anak todler biasanya dapat mengatakan hanya pada adanya nyeri atau tidak walaupun beberapa diantaranya mampu melokalisasikan nyeri tersebut (Marie, 2002).
Anak usia sekolah mampu mendeskripsikan nyeri mereka (Marie, 2002). Metode pelaporan sendiri dengan menggunakan skala tingkatan intensitas nyeri secara numerik telah terbukti bermanfaat untuk anak usia sekolah (Nelson, 1999).
2.3. Pengkajian nyeri pada anak
Gambaran skala dari berat nyeri merupakan makna yang lebih objektif yang dapat diukur. Gambaran skala nyeri tidak hanya berguna dalam mengkaji beratnya nyeri, tetapi juga dalam mengevaluasi perubahan kondisi klien (Potter & Perry, 1993).
Menurut Wong & Whaley’s (1996) banyak metode yang dapat kita gunakan untuk menilai nyeri pada anak, salah satu yang umum yaitu: QUESTT
(1) Question the children (bertanya pada anak)
(2) Use pain rating scale (menggunakan skala nyeri)
(3) Evaluate behaviour (evaluasi tingkah laku)
(4) Secure parent’s involvement (mengikut sertakan orangtua)
(5) Take cause of pain into account (mencari penyebab nyeri)
(6) Take action (mengambil tindakan)
1. Bertanya pada anak : minta anak untuk menunjukkan lokasi nyeri dengan menandai atau menunjuk pada dirinya atau boneka. Waspada kalau anak menolak atau tidak memberi tahu tentang nyerinya.
hal hal ini adalah cara bagi anak dan orangtua untuk memberitahukan perawat kalau anak sedang dalam keadaan sakit.
3. Evaluasi perilaku dan perubahan fisiologik: (1) ekspresi wajah adalah indikator nyeri yang paling tampak, (2) perubahan fisiologik seperti peningkatan denyut jantung, peningkatan tekanan darah ,penurunan saturasi oksigen, dilatasi pupil, wajah memerah, mual, (3) perubahan psikologis dan perilaku mungkin mengindikasikan emosi lain dari pada nyeri, (4) observasi perilaku spesifik seperti menarik telinga, berbaring dengan satu kaki fleksi, (5) waspadalah bila anak yang sedang tidur mengalami nyeri, (6) observasi koping anak selama nyeri.
4. Mengikutsertakan orangtua: (1) tanya pada orang tentang perilaku anak saat nyeri, (2) libatkan orangtua untuk mengkaji nyeri, karena orangtualah yang selalu merawat anak, (3) lengkapi informasi tentang nyeri.
5. Mencari penyebab nyeri, karena prosedur mungkin akan memberikan petunjuk untuk menduga intensitas dan tipe nyeri.
6. Mengambil tindakan, alasan perawat dalam mengkaji nyeri adalah agar dapat mengurangi nyeri baik dengan obat-obatan atau cara non-farmakologik.
2.4. Pengukuran skala nyeri pada anak
1. Face Pain Rating Scale
Menurut Wong dan Baker (1998) pengukuran skala nyeri untuk anak usia pra sekolah dan sekolah, pengukuran skala nyeri menggunakan Face Pain Rating
Scale yaitu terdiri dari 6 wajah kartun mulai dari wajah yang tersenyum untuk
“tidak ada nyeri” hingga wajah yang menangis untuk “nyeri berat”.
2. Word Grapic Rating Scale
Menggunakan deskripsi kata untuk menggambarkan intensitas nyeri, biasanya dipakai untuk anak 4-17 tahun (Testler & Other, 1993; Van Cleve & Savendra, 1993 dikutip dari Wong & Whaleys, 1996).
0 1 2 3 4 5
Tidak nyeri ringan sedang cukup sangat nyeri nyeri hebat
3. Skala intensitas nyeri numerik
4. Skala nyeri menurut bourbanis
Perawat dapat menanyakan kepada klien tentang nilai nyerinya dengan menggunakan skala 0 sampai 10 atau skala yang serupa lainnya yang membantu menerangkan bagaimana intensitas nyerinya. Nyeri yang ditanyakan pada skala tersebut adalah sebelum dan sesudah dilakukan intervensi nyeri untuk mengevaluasi keefektifannya (Mc Kinney et al, 2000). Jika klien mengerti dalam penggunaan skala dan dapat menjawabnya serta gambaran-gambaran yang diungkapkan atau ditunjukkan tersebut diseleksi dengan hati-hati, setiap instrumen tersebut dapat menjadi valid dan dapat dipercaya (Gracely & Wolskee,1983; Houdede, 1982; Sriwatanakul, Kelvie & Lasagna, 1982 dikutip oleh Jacox, et al, 1994).
3. Terapi Musik
3.1. Pengertian
Terapi musik terdiri dari 2 kata, yaitu kata “terapi” dan “musik”. Terapi (therapi) adalah penanganan penyakit (Brooker, 2001). Terapi juga diartikan
Terapi musik adalah keahlian menggunakan musik atau elemen musik oleh seseorang terapis untuk meeningkatkan, mempertahankan dan mengembalikan kesehatan mental, fisik, emosional dan spiritual. Dalam kedokteran, terapi musik disebut sebagai terapi pelengkap (Complementary Medicine), Potter juga mendefinisikan terapi musik sebagai teknik yang digunakan untuk penyembuhan suatu penyakit dengan menggunakan bunyi atau irama tertentu. Jenis musik yang digunakan dalam terapi musik dapat disesuaikan dengan keinginan, seperti musik klasik, instrumentalia, dan slow musik (Potter, 2005 dikutip dari Erfandi, 2009).
Menurut Willougnby (1996), musik adalah bunyi atau nada yang menyenangkan untuk didengar. Musik dapat keras, ribut, dan lembut yang membuat orang senang mendengarnya. Orang cenderung untuk mengatakan indah terhadap musik yang disukainya. Musik ialah bunyi yang diterima oleh individu dan berbeda bergantung kepada sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang.
3.2. Manfaat Musik
kesehatan fisik maupun mental, beberapa penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain: kanker, stroke, dimensia, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi prematur.
3.3. Karakteristik terapeutik musik
Menurut Robbert (2002) dan Greer (2003), musik mempengaruhi persepsi dengan cara: (1) distraksi, yaitu pengalihan pikiran dari nyeri, musik dapat mengalihkan konsentrasi klien pada hal-hal yang menyenangkan, (2) relaksasi, musik menyebabkan pernafasan menjadi lebih rileks dan menurunkan denyut jantung, karena orang yang mengalami nyeri denyut jantung meningkat, (3) menciptakan rasa nyaman, pasien yang berada pada ruang perawatan dapat merasa cemas dengan lingkungan yang asing baginya dan akan merasa lebih nyaman jika mereka mendengar musik yang mempunyai arti bagi mereka.
Terapi musik adalah penggunaan musik untuk relaksasi, mempercepat penyembuhan, meningkatkan fungsi mental dan menciptakan rasa sejahtera. Musik dapat mempengaruhi fungsi-fungsi fisiologis, seperti respirasi, denyut jantung dan tekanan darah (Greer, 2003). Musik juga dapat menurunkan kadar hormon kortisol yang meningkat pada saat stres. Musik juga merangsang pelepasan hormon endorfin, hormon tubuh yang memberikan perasaan senang yang berperan dalam penurunan nyeri (Berger, 1992).
efek samping, (4) penerapannya luas, bisa diterapkan pada pasien yang tidak bisa diterapkan terapi secara fisik untuk menurunkan nyeri.
Menurut Potter (2005 dikutip dari Erfandi, 2009), musik dapat digunakan untuk penyembuhan, musik yang dipilih pada umumnya musik lembut dan teratur seperti instrumentalia/ musik klasik mozart.
3.4. Terapi Musik Klasik Mozart
Musik klasik mozart adalah musik klasik yang muncul 250 tahun yang lalu. Diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Selain kemampuannya untuk menyembuhkan berbagai penyakit, memberikan efek positif pada ibu hamil dan janin, disamping itu beberapa penelitian oleh Alfred dan Campbell sudah membuktikan bahwa musik klasik mozart bisa mengurangi nyeri pasien. Dibanding musik klasik lainnya, melodi dan frekuensi yang tinggi pada musik klasik mozart mampu merangsang dan memberdayakan kreatifitas dan motivatif diotak. Namun, tidak berarti karya komposer klasik lainnya tidak dapat digunakan (Andreana, 2006).
3.5. Proses Penurunan Nyeri Dengan Terapi Musik Klasik Mozart
Terapi musik klasik mozart dapat mengatasi nyeri berdasarkan teori Gate Control, bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
1. Kerangka konseptual
Kerangka konseptual penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi efektifitas terapi musik terhadap penurunan nyeri post operasi pada anak usia sekolah. penelitian ini adalah penelitian quasi eksperimental dengan desain pre-post test pada kelompok intervensi dengan intervensi terapi musik dan kelompok kontrol tanpa intervensi terapi musik. Kelompok kontrol hanya sebagai pembanding untuk menilai efektifitas terapi musik. Hasil yang diharapkan terjadi penurunan nyeri pada anak yang diberikan terapi musik.
3. Definisi Operasional
BAB 4
METODELOGI PENELITIAN
1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen, yang bertujuan untuk mengetahui apakah terapi musik efektif untuk
menurunkan nyeri post operasi pada anak usia sekolah. rancangan penelitian yang digunakan yaitu nonequivalent pretest-posttest control group design, yang melibatkan dua kelompok subjek, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Sebelum dilakukan terapi musik, kelompok subjek diberi pretest. Kelompok eksperimen diberikan perlakuan sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan. Kemudian setelah terapi musik dilakukan pengukuran kembali (pascates), untuk mengetahui akibat dari perlakuan. kemudian hasil yang didapat pretes dan pascates dibandingkan.
2. Populasi dan Sampel
2.1. Populasi
2.2. Sampel
Sampel adalah bagian populasi yang dipilih untuk diteliti. Kriteria subjek yang ditentukan dalam penelitian ini adalah (1) dapat diajak berkomunikasi, (2) orangtua klien bersedia anaknya menjadi sampel dalam penelitian, (3) usia 6-12 tahun, (4) klien post operasi yang mengalami nyeri akibat tindakan operasi (2-4 hari post operasi).
Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah purposive sampling, yaitu pemilihan sampel sesuai dengan tujuan peneliti dari populasi
yang memenuhi kriteria yang dipilih menjadi sampel penelitian.
Besarnya sampel adalah berapa banyak subjek penelitian yang dibutuhkan. Jumlah populasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini, tidak dapat diprediksikan secara pasti. Oleh karena itu, jumlah sampel yang dianggap bisa mewakili jumlah populasi ditetapkan dengan menggunakan tabel Power Analysis dengan α sebesar 0,05, “power” (1-β)=60 dan “efek size” (γ)=0,80 sehingga didapatkan jumlah sampel untuk kelompok eksperiment sebanyak 7 orang dan untuk kelompok kontrol sebanyak 7 orang dan jumlahnya 14 orang (Polit & Hungler, 1999).
3. Lokasi dan Waktu penelitian
4. Pertimbangan Etik
Penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin dari F.KEP USU dan izin dari RSUP H. Adam Malik Medan. Dalam pelaksanaan penelitian ini, ada beberapa pertimbangan etik yang harus diperhatikan, yaitu hak kebebasan dan kerahasiaan menjadi responden, serta bebas dari rasa sakit baik secara fisik dan tekanan psikologis. Sebelum penelitian dilaksanakan, responden dan orangtua responden akan diberi penjelasan mengenai manfaat dan tujuan dari penelitian.
Lembar persetujuan diberikan pada responden dan orangtua pasien. Tujuannya adalah Responden dan orangtuanya mengetahui maksud dan tujuan penelitian. Bila responden dan orangtuanya bersedia diteliti maka harus menandatangani lembar persetujuan. Jika responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.
Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak mencantumkan nama responden pada lembar pengumpulan data hanya inisial saja. Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti hanya data tertentu saja yang akan dilaporkan sebagai hasil penelitian.
5. Instrumen penelitian
Face Pain Rating Scale terdiri dari 6 wajah kartun mulai dari wajah yang
tersenyum untuk “tidak nyeri” hingga wajah yang menangis untuk nyeri yang “tak tertahankan”. Terapi musik dilakukan dengan menggunakan walkman dan kaset.
6. Pengumpulan data
7. Analisa Data
Data yang diperoleh terdiri dari data demografi data skala nyeri. Data demografi dianalisa dengan uji statistik deskriptif.
Data skala nyeri dianalisa dengan analisa statistik. Analisa statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah dengan menggunakan uji t (t-test) dengan tingkat kemaknaan 5% (α = 0.05). Uji t yang dipakai dalam penelitian ini adalah Paired Sample t Test yang digunakan untuk membandingkan penurunan intensitas nyeri pre dan post pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Uji independent Sample t Test digunakan untuk membandingkan ada atau tidaknya
BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Hasil Penelitian
Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian tentang efektifitas terapi musik terhadap penurunan nyeri post operasi pada anak usia sekolah di ruang rawat inap Rindu B2 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan. Dengan jumlah responden yang memenuhi kriteria dalam penelitian ini 7 orang pada kelompok intervensi, dan 7 orang pada kelompok kontrol. Semua kelompok intervensi mendapat perlakuan terapi musik, sedangkan pada kelompok kontrol tidak mendapat perlakuan apapun. Terapi musik pada kelompok intervensi dilakukan selama 20 menit kemudian nyeri diukur kembali.
1.1. Analisis Univariat
Analisa univariat pada penelitian ini akan menggambarkan karakteristik demografi (umur, jenis kelamin, agama, suku, dan jenis pembedahan).
a. Karakteristik Demografi
Berdasarkan jenis pembedahan, sebagian besar responden dengan jenis pembedahan mayor sebanyak 6 orang (85,7%).
Pada kelompok kontrol, sebagian besar responden berusia antara 9-12 tahun sebanyak 5 orang (71,4%). Berdasarkan jenis kelamin, sebagian responden berjenis kelamin laki-laki sebanyak 4 orang (57,1%). Berdasarkan agama, sebagian besar responden beragama islam sebanyak 6 orang (85,7%). Berdasarkan suku, sebagian besa rresponden bersuku melayu sebanyak 5 orang (71,4%). Berdasarkan jenis pembedahan, sebagian besar responden dengan jenis pembedahan mayor sebanyak 6 orang (85,7%). Hasil penelitian tentang karakteristik responden lebih jelas dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Distribusi responden berdasarkan karakteristik demografi
Jenis pembedahan
• Mayor • Minor
6 (85,7) 1 (14,3)
6 (85,7) 1 (14,3)
b. Intensitas Nyeri
Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas nyeri pada kelompok intervensi yaitu rata-rata intensitas nyeri sebelum diberikan terapi musik 6,00, median 4,00 dengan standar deviasi 1,63. Sedangkan rata-rata intensitas nyeri sesudah diberikan terapi musik adalah 2,29, median 2,00 dengan standar deviasi 1,38. Sedangkan pada kelompok kontrol yaitu rata-rata intensitas nyeri sebelum 20 menit 4,29, median 6,00 dengan standar deviasi 1,38. Sedangkan rata-rata intensitas nyeri setelah 20 menit adalah 5,14, median 8,00 dengan standar deviasi 1,95. Dapat dilihat dalam tabel dibawah ini:
Tabel 2. Distribusi responden berdasarkan penurunan intensitas nyeri post
operasi
Mean SD Median
1.2. Analisa Bivariat
Analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji t-dependen dengan tujuan membandingkan penurunan intensitas nyeri post operasi pada kelompok intervensi dengan kelompok kontrol terhadap sebelum dan sesudah dilakukan terapi musik.
a. Perbandingan penurunan intensitas nyeri sebelum dan sesudah
dilakukannya terapi musik pada kelompok intervensi pada kelompok
kontrol
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata intensitas nyeri post operasi pada kelompok intervensi sebelum dilakukan terapi musik adalah 6,00 dengan standar deviasi 1,63. Setelah dilakukan terapi musik diperoleh rata-rata intensitas nyeri adalah 2,29 dengan standar deviasi 1,38. Nilai rata-rata perbedaan antara pengukuran pertama dan pengukuran kedua adalah 3,714 dengan standar deviasi 0.75. Hasil uji statistik diperoleh nilai p= 0,000 maka dapat disimpulkan ada perbedaan rata-rata intensitas nyeri post operasi sebelum dan sesudah dilakukan terapi musik.
intensitas nyeri sebelum dan sesudah pada kelompok kontrol. Dapat dilihat dalam tabel dibawah ini :
Tabel 3. Perbedaan penurunan intensitas nyeri pada kelompok intervensi
dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah terapi musik
Kelompok Sebelum
b. Pengaruh terapi musik terhadap penurunan nyeri post operasi
sesudah dilakukannya terapi musik pada kelompok intervensi dan
pada kelompok kontrol
Tabel 4. Pengaruh terapi musik terhadap penurunan intensitas nyeri pada
kelompok intervensi dan kelompok kontrol
Intensitas nyeri Mean SD SE Perbedaan
2.1. Nyeri Post Operasi pada Anak
Berikut akan dibahas tentang intensitas nyeri yang dialami anak post operasi yang dirawat diruang Rindu B2 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan sebelum dilakukan terapi musik. Pada kelompok eksperimen rata-rata intensitas nyeri yang dirasakan sebelum dilakukan terapi musik adalah 6,00 dan sedangkan pada kelompok kontrol rata-rata intensitas nyeri yang dirasakan adalah 4,29.
Selama proses pelaksanaan terapi musik anak umumnya mau diajak untuk dilakukan terapi musik dan berperan aktif. Hanya sebagian kecil yang pada awalnya sulit. Atas bantuan dari orangtua pasien yang selalu ada disamping klien, semua hambatan dapat teratasi dengan baik. Orangtua juga merasa senang bila anaknya dilakukan terapi musik. Hal ini sejalan dengan pendapat Perry & Potter (1993) mengatakan bahwa kehadiran orangtua akan mengatasi keengganan beraktivitas pada anak karena nyeri yang dialaminya.
2.2. Perbedaan Intensitas Nyeri Pasien Post Operasi Sebelum dan Sesudah
Terapi Musik
Tindakan operasi dapat menimbulkan berbagai keluhan dan yang paling sering adalah nyeri (Sjamsuhidajat, 1998). Terapi musik merupakan salah satu teknik distraksi yang terbukti efektif dalam menurunkan nyeri anak (Taylor, 1997).
Intensitas Nyeri Kelompok Kontrol
Intensitas Nyeri Kelompok Intervensi
Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas nyeri setelah diterapkan terapi musik menurun secara signifikan. Kelompok intervensi lebih signifikan perubahan intensitas nyerinya yaitu 0,000 (p<0.05). Sedangkan kelompok kontrol 0,35 (p>0,05). Setelah diterapkan terapi musik sekitar 15-20 menit, pasien merasakan nyerinya berkurang. Namun dalam hal ini musik berfungsi sebagai terapi langsung penurunan nyeri yang berefek jangka pendek (Nilson, dkk, 2003).
Intensitas nyeri pada kelompok intervensi menurun sebanyak 3,71. Dari intensitas awal rata-rata 6,00 dan menjadi 2,29. McCaffrey menemukan bahwa intensitas nyeri menurun sebanyak 33% setelah terapi musik terhadap pasien osteoarthritis selama 20 menit (Jerrad, 2004). Hal ini menunjukkan bahwa musik memang efektif diterapkan sebagai salah satu bentuk intervensi keperawatan untuk penurunan nyeri (Biley, 2000).
2.3. Pengaruh Terapi Musik Terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Post
Operasi
distraksi yang dapat digunakan untuk menurunkan nyeri pada anak. Penelitian ini dilakukan pada anak yang mengalami pengangkatan tonsil. Mereka diberikan sebuah tape audio sehingga dapat berimajinasi pergi ketempat yang mereka sukai. Hasilnya menunjukkan terjadi penurunan nyeri yang signifikan pada anak yang diberi tape audio (Feuer, 2004).
Musik telah lama digunakan untuk membantu memberikan perasaan senang dan mengalihkan pikiran. Pasien yang diberikan terapi musik dan relaksasi setelah operasi melaporkan bahwa nyeri yang dirasakan ketika berjalan dan istrirahat lebih menurun dibandingkan pasien yang tidak dilakukan terapi yang sama (Good, dkk, 2001).
Beberapa fakta membuktikan bahwa terapi musik dapat mengurangi tekanan darah yang meningkat, denyut jantung yang cepat, depresi dan gangguan tidur (ACS Music Therapy, 2004).
ACS Music Therapy (2004), tidak ada yang tahu pasti bagaimana musik mempengaruhi tubuh, namun ada satu teori yang menyatakan bahwa otot-otot manusia, termasuk otot jantung berusaha mengikuti “beat: atau ritme musik. Teori lain mengatakan bahwa musik dan bunyi dapat mengalihkan pikiran dari fokus terhadap nyeri dan kecemasan.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan hasil penelitian
2. Saran
2.1.Untuk Praktek Keperawatan
Diharapkan perawat yang ada di ruangan untuk melakukan terapi musik sebagai bentuk intervensi asuhan keperawatan dalam menurunkan nyeri post operasi pada anak. Sehingga pasien dapat memenuhi kebutuhan istrirahat, tidur dan mengurangi kecemasan.
2.2.Untuk Penelitian Selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
ACS Music Theraphy. (2004). Music theraphy. Dibuka tanggal 10 September
2009. Dikutip dari website
Bassano, Mary. (2009). Terapi musik dan warna. Yogyakarta: Rumpun
Bachsin, Fuad. (2008). Terapi musik pada nyeri pasca sectio caesarea. Dibuka pada tanggal 28 September 2009. Dikutip dari website: http://fuadbachsin.wordpress,com/2008/10/17/musik_nyeri_sectio_caes erea
Berger, K..J. (1992). Fundamental of Nursing: collaborating for optimal health/ Karen J. Berger, Marlyn Brinkman Williams. Neurosensory Integration. Connecticut: Appleton & Lange
Betz, L. C. & Sowden, A.L. (2002). Keperawatan Pediaric: alih bahasa, Yan Tambayong; editor edisi bahasa Indonesia, Sari Kurnia Ningsih, Monica Este, Jakarta: EGC
Children’s Hospital of Pittsburg. (2002). Play therapi. Dibuka pada tanggal 14
September 2009. Dikutip dari website: http//www.chp.edu/greystone/surgery/postpain.php
Engram, B, 1998. Rencana asuhan keperawatan medikal bedah: alih bahasa, Suharyanti Samba; editor edisi bahasa indonesia, Monica Ester, Jakarta: EGC
Erfandi. (2009). Konsep terapi musik. Dibuka pada tanggal 28 September 2009. Dikutip dari website:
Fields, H. L. (1987). Pain New York: Mc Graw Hill.31-37
Greer, S. (2003). The effect of music on pain perception. Dibuka pada tanggal 8
September 2009. Dikutip dari website:
Haley, L.2003. pain games armed at understanding kids. Dibuka pada tanggal 24
September 2009. Dikutip dari website: http//www.proquest.umi.com/pqdauto
Jerrad, J. (February 2004). The sound of music; The uses & benefits of music theraphy in LTC. Dibuka pada tanggal 28 September 2009. Dikutip dari website: Polit, D.F. & Hungler, B.P. (1995). Nursing research; principles and methods. (5th
ed). Philadelphia: J.B. lippincott Company. 453,455
Potter, P. A & Perry, A.G. (1997). Fundamental of nursing: concepts, process & practise. St. Louis Missouri: Mosby Company
Robbert, S.S. (2002). Music therapi for chronic pain-the diabetes advisor-brief article diabetes foreast. Dibuka pada tanggal 20 September 2009. Dari website: http://www.findarticles.com/p/articles/mi_m0817/is
Sanif, Edial. (2008). Terapi musik. Dibuka pada tanggal 30 September 2009. Dikut ip dari website
Setiawan, Beri. (2008). Konsep dasar nyeri. Dibuka pada tanggal 30
September2009. Dikutip dari website:
Sjamsuhidjat, R. (1998). Ilmu bedah. (edisi Revisi). Jakarta: EGC
Smeltzer, S. C, & Bare, B.G. (2001). Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner and Suddarth. (8 th edition): editor, Suzanne C. Smeltzer, Brenda G. Bare; alih bahasa, Agung Waluyo, dkk; editor edisi bahasa indonesia, Monica Ester, Ellen panggabean. Jakarta: EGC
Soetjiningsih. (1995). Tumbuh kembang anak: editor, IG. N. Gde Ranuh. Jakarta: EGC
Taylor, C. (1997). Fundamental of nursing: the art sciences of nursing care. Philladepia: lippincott Raven Publishers
Tamsuri. (2007). Manajemen nyeri. Dibuka pada tanggal 28 September 2009. Dikut ip dari website:
Torrance, C. & Serginson. E. (1997). Surgical nursing. Bridgend, midglamorgan: WBC Bokk Manufacturers Ltd
Wall, P. D & Jones. M. (1991). Defeating pain: the war againts a silent epidemic patric the wall and Mervin Jones. New York: Plenum Press
Wong, D.L. Waley, L.F. (1999). Nursing care of infant and children. St. Louis Missouri: Mosby Company
LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI PESERTA PENELITIAN
Efektifitas Terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi pada
Anak di RSUP H. Adam Malik
Nama saya Ani Farida, mahasiswa Program studi Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan sebagai salah satu kegiatan dalam menyelesaikan tugas akhir Program S1 Ilmu Keperawatan Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara medan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terapi musik efektif terhadap penurunan nyeri post operasi pada anak di ruang Rindu B2 RSUP H. Adam Malik.
Saya sangat mengharapkan partisipasi saudara dalam penelitian ini. Penelitian ini aman dan tidak memberikan dampak yang membahayakan.
Saya mengharapkan jawaban yang saudara berikan sesuai dengan pendapat saudara sendiri tanpa dipengaruhi orang lain. Saya menjamin kerahasiaan pendapat dan identitas saudara. Informasi yang saudara berikan murni digunakan untuk pengembangan ilmu pengetahuan keperawatan dan tidak akan dipergunakan untuk maksud lain.
Partisipasi dalam penelitian ini bersifat sukarela. Saudara berhak untuk ikut atau tidak ikut dalam penelitian ini tanpa berpengaruh kepada pelayanan yang akan diberikan nantinya.
Jika saudara bersedia menjadi peserta penelitian ini, silahkan saudara menandatangani kolom dibawah ini:
Tanda tangan Tanggal
INSTRUMEN PENELITIAN
Judu l Penelitian : Efektifitas Terapi Musik Terhadap Penurunan Nyeri Post Operasi pada Anak Usia Sekolah
Petunjuk pengisian : berilah tanda (√) pada kolom yang tersedia
A. Data Demografi
1. Inisial :
2. Umur :
3. Jenis Kelamin : Wanita
Laki-laki 4. Suku : Batak
Melayu Jawa Aceh
Karo 5. Agama : Islam
Katolik Protestan 6. Jenis pembedahan Minor
B. Skala Pengukuran Nyeri
Berilah tanda (√) pada skala nyeri
1. Intensitas nyeri yang dirasakan sebelum terapi musik adalah...
PANDUAN PELAKSANAAN TERAPI MUSIK
1. Memberitahukan kepada orangtua dan responden tentang manfaat, tujuan dan prosedur penelitian. Setelah orangtua setuju maka responden diminta memberitahukan intensitas nyerinya pada instrumen penelitian.
2. Mempersilahkan kepada orangtua untuk mendampingi klien selama proses terapi.
3. Memperdengarkan musik klasik mozart pada klien.
4. Minta klien berkonsentrasi pada musik dan mengikuti irama dengan mengetuk-ngetuk jari atau menepuk-menepuk paha.
5. Proses terapi berlangsung 15-20 menit, kemudian meminta kembali pada anak untuk menunjuk nyeri yang dirasakan pada instrumen.