PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRUINING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI POKOK
GETARAN, GELOMBANG DAN BUNYI KELAS VIII SEMESTER II SMP NEGERI 29 MEDAN T.P. 2015/2016
Oleh : Sulis Tyaingsih NIM 4122121030
Program Studi Pendidikan Fisika
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
ii
RIWAYAT HIDUP
iii
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INQUIRY TRUINING TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA PADA MATERI POKOK
GETARAN, GELOMBANG DAN BUNYI KELAS VIII SEMESTER II SMP NEGERI 29 MEDAN T.P. 2015/2016
Sulis Tyaningsih ( NIM : 4122121030)
ABSTRAK
Pengaruh model pembelajaran Inquiry Training (IT) terhadap keterampilan proses sains siswa pada materi pokok Getaran, Gelombang dan Bunyi di SMP Negeri 29 Medan dijelaskan dalam skripsi ini. Penelitian dilakukan terhadap siswa kelas VIII semester II dengan melakukan pengajaran menggunakan model pembelajaran Inquiry Training dikelas eksperimen dan pengajaran konvensional di kelas kontrol.
Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen dengan desain two group Pre-test dan Pos-Pre-test, Pengambilan sampel dilakukan dengan cara cluster random sampling dengan mengambil dua kelas dari delapan kelas yaitu kelas VIII-3 sebagai kelas eksperimen yang berjumlah 35 orang dan kelas VIII-2 sebagai kelas kontrol yang berjumlah 35 orang. Data penelitian diperoleh dengan menggunakan Instrumen berupa Essay test sebanyak 10 soal. Tes hasil belajar di validkan oleh validator. Lembar penilaian observasi untuk mengukur keterampilan siswa berdasarkan hasil uji hipotesis menggunakan uji beda (uji-t) dengan taraf nyata sebesar α= 0,05 .
iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan karunia-Nya penulisan skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik, skripsi berjudul “Pengaruh Model Inquiry Training (IT) Terhadap Keterampilan Proses Sains Siswa Pada Materi Getaran, Gelombang Dan Bunyi Di Kelas VIII Semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016”, disusun untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan di jurusan fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Medan.
Pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada Ibu Dr. Betty M Turnip M.Pd, sebagai dosen pembimbing skripsi yang telah banyak memberikan bimbingan dan saran-saran kepada penulis sejak awal sampai dengan selesainya penulisan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga di sampaikan kepada bapak Alkhafi Maas Siregar, S.Si, M.Si, bapak Dr. Wawan Bunawan, M.Pd, M.Si, dan bapak Drs. Henok Siagian, M.Si, selaku dosen pembanding yang telah memberikan masukan dan saran-saran kepada penulis dalam penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Dr. Derlina, M.Si selaku dosen pembimbing Akademik dan, bapak Alkhafi Maas Siregar, M.Si selaku ketua jurusan Fisika dan bapak Drs. J.B. Sinuraya, M.Pd selaku ketua prodi pendidikan Fisika, juga kepada seluruh bapak dan ibu dosen beserta staf dan pegawai jurusan fisika FMIPA UNIMED yang telah banyak membantu penulis. Ucapan terima kasih di sampaikan juga kepada Bapak Dr.Asrin Lubis,M.Pd selaku dekan FMIPA Unimed. Terima kasih juga kepada ibu Erisda H Malau, S.Pd selaku guru bidang studi IPA yang telah banyak membantu dan membimbing penulis selama penelitian dan bapak Drs. Bowonaso Lahagu, MM selaku kepala sekolah SMP Negeri 29 Medan atas ijin penelitian yang diberikan.
v
saya ucapkan terima kasih kepada sahabat saya Syariva Maris Kuruta hasan dan Juwairiah Annisa Bsl dan Miss Aticah Putri Lubis yang selalu memberi semangat serta masukan kepada saya mulai dari penyusunan sampai dengan selesainya skripsi ini. Ucapan terima kasih kepada Eka Murti Ningsih yang selalu membantu dalam penyusunan skripsi ini. Ucapan terima kasih juga kepada semua teman saya di pendidikan fisika kelas Dik C 2012. Yang teristimewa untuk Desy Kusuma yang telah memberikan semangat dan dorongan kepada saya sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih juga untuk teman seperjuangan Taufan S S Zebua, Libry Sinaga, Dulas Sinaga, Anju Situmorang, Juli L. Gaol yang telah memberikan semangat bersama untuk menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih juga untuk teman-teman yang tidak sempat disebutkan namanya.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya isi skripsi ini memperkaya khasanah ilmu pendidikan kita.
Penulis telah berupaya semaksimal mungkin dalam penyelesaian skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak kelemahan baik dari isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik dari pembaca demi sempurnanya skripsi ini. Kiranya isi skripsi ini memperkaya khasanah ilmu pendidikan kita.
Medan, 2016 Penulis
vi
DAFTAR ISI
RITAYAT HIDUP ii
ABSTRAK iii
KATA PENGANTAR iv
DAFTAR ISI vi
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR TABEL ix
DAFTAR LAMPIRAN x
BAB I : PENDAHULUAN 1
1.1 Latar Belakang Masalah 1
1.2. Identifikasi Masalah 4
1.3. Batasan Masalah 4
1.4. Rumusan Masalah 5
1.5. Tujuan Penelitian 5
1.6. Manfaat Penelitian 5
1.7. Defenisi Operasional 6
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 7
2.1 Landasan Teori 7
2.1.4 Model Pembelajaran Inqury Training 10
2.1.2 Keterampilan Proses Sains 17
2.18 Pembelajaran Konvensional 19
2.2 Materi Pelajaran 20
2.3 Kerangka Konseptual 29
2.4 Hipotesis 30
BAB III METODE PENELITIAN 31
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian 31
3.2. Populasi dan Sampel Penelitian 31
3.3. Variabel Penelitian 31
3.4. Jenis dan Desain Penelitian 32
3.5. Prosedur Penelitian 32
3.6. Instrumen Penelitian 35
3.7 Teknik Analisis Data 37
3.7.1 Menentukan Mean dan Simpangan Baku 37
3.7.2 Uji Normalitas 37
3.7.3 Uji Homogenitas 38
3.7.4 Uji t 39
BAB IV PEMBAHASAN 41
4.1 Hasil Penelitian 41
4.1.1 PelaksanaanPretes 41
vii
4.1.2.1 Uji Normalitas Data Pretes 42
4.1.2.2 Uji Homogenitas Data Pretes 43
4.1.2.3 Uji Kesamaan Rata-Rata Pretes (Uji t Dua Pihak) 43
4.1.3 Perlakuan 44
4.1.4 PelaksanaanPostes 48
4.1.4.1 UjiNormalitas Data Postes 49
4.1.4.2 Uji Homogenitas Data Postes 50
4.1.4.3 Uji Kesamaan Rata-Rata Postes (Uji t Satu Pihak) 50
4.1.5 Pembahasan Hasil Penelitian 52
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 57
5.2 Saran 57
viii
DAFTAR GAMBAR
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Sintaks Model Pembelajaran Inquiry Training 13
Tabel 2.3 Deret Nada dan Interval Nada 28
Tabel 3.1 Two Group Pre-Test and Post Test 32
Tabel 3.2 Kisi-kisi KPS 35
Tabel 4.1 Data Nilai Pretes Kelas Eksperimen Dan Kontrol 41
Tabel 4.2 Uji Normalitas Data Pretes Kelas Ekperimen Dan Kontrol 42
Tabel 4.3 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Data Pretes 43
Tabel 4.4 Ringkasan Perhitungan Uji t Pretes 44
Tabel 4.5 Data Nilai Postes Kelas Eksperimen Dan Kontrol 48
Tabel 4.6 Uji Normalitas Data Postes Kelas Ekperimen Dan Kontrol 49
Tabel 4.7 Ringkasan Hasil Uji Homogenitas Data Postes 50
x
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Silabus 61
Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran 65
Lampiran 3 Lembar Kerja Siswa 114
Lampiran 4 Kisi-kisi Tes Pengetahuan Keterampilan Proses Sains 127
Lampiran 5 Tes Pengetahuan Keterampilan Proses Sains 138
Lampiran 6 Rubrik Penilaian AktivitasSiswa 142
Lampiran 7 Nama-Nama Siswa Kelas Eksperimen Dan Kontrol 145
Lampiran 8 Data Pretes Dan Postes Kelas Eksperimen 147
Lampiran 9 Data Pretes Dan Postes Kelas Kontrol 149
Lampiran 10 Perhitungan Rata-Rata Varians Dan Standar Deviasi 151
Lampiran 11 Uji Normalitas 154
Lampiran 12 Uji Homogenitas 159
Lampiran 13 Uji Hipotesis 162
Lampiran 14 RekapNilaiPostesKelasEksperimen 168
Lampiran 15 RekapNilaiPostesKelas Control 169
Lampiran 16 TabelObservasiAktivitasSiswa 170
Lampiran 17 DaftarNilaiKritisUntukUjiLiliefors 186
Lampiran 18 TabelWilayah LuasDibawahKurva Normal 0 Ke Z 187
Lampiran 19 NilaiPersentilUntukDistribusiF 188
Lampiran 20 NilaiPersentilUntukDistribusi t 190
Lampiran 21 Dokumentasi 191
Lampiran 22 SuratIzinPenelitian 196
Lampiran 23 SuratBalasanPenelitian 197
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang Masalah
Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya, ketika anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi (Sanjaya, 2006:1)
Berkembangnya pendidikan sudah pasti berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini tidak dapat terlepas dari kemajuan sains. Sains didefinisikan sebagai sekumpulan teori yang sistematis, penerapannya secara umum terbatas pada gejala-gejala alam, lahir dan berkembang melalui metode ilmiah dan eksperimen serta menuntut sikap ilmiah (Trianto, 2013:136)
Proses pembelajaran sains lebih ditekankan pada pendekatan keterampilan proses sains, sehingga siswa dapat menemukan fakta-fakta, membangun konsep-konsep, teori-teori, dan sikap ilmiah siswa itu sendiri yang akhirnya dapat berpengaruh positif terhadap kualitas proses pendidikan maupun produk pendidikan. Keterampilan proses sains merupakan keseluruhan keterampilan ilmiah yang terarah (baik kognitif maupun psikomotor) yang dapat digunakan untuk menemukan suatu konsep, prinsip atau teori untuk mengembangkan konsep yang telah ada sebelumnya, ataupun untuk melakukan penyangkalan terhadap suatu penemuan (Trianto, 2013:143-144)
2
punya dengan keterampilan dasar. Keterampilan proses sains membawa kemampuan-kemampuan yang mana setiap individu dapat menggunakan setiap langkah kehidupannya dengan kesadaran ilmiah dan meningkatkan kualitas dan standar kehidupan dengan memahami ilmu pengetahuan alam. Namun kenyataannya, banyak siswa yang kurang menyukai pelajaran IPA dengan menganggap belajar IPA itu menjenuhkan dan membosankan. Guru selalu menyajikan materi IPA dalam bentuk rumus-rumus dan perhitungan yang sulit, sehingga siswa mengalami kesulitan dalam belajar IPA dan menyebabkan hasil belajar siswa rendah (Aktamis, 2008:2).
Hal ini terbukti dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada tanggal 20 Januari 2016, yaitu wawancara dengan salah seorang guru IPA, Ibu Erisda Hendawati Malau, diperoleh bahwa rendahnya keterampilan proses sains siswa dikarenakan rendahnya kemampuan awal siswa mengenai konsep-konsep IPA, alat dan bahan praktikum yang belum lengkap, dan jarangnya guru membawa siswa ke laboratorium. Hal ini terjadi karena adanya kendala yang dihadapi dalam penerapannya, yaitu waktu yang terbatas, alat dan bahan praktikum yang belum memadai, dan banyaknya materi yang harus dipelajari. Pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran konvensional, dengan metode ceramah, mencatat, dan mengerjakan soal saja. Kegiatan pembelajaran IPA di kelas masih berpusat pada guru (teacher-centered). Ketuntasan kompetensi minimal (KKM) di sekolah tersebut untuk mata pelajaran IPA adalah 70. Namun dikatakan bahwa nilai rata-rata siswa masih belum optimal. Rata-rata siswa hanya mampu mencapai nilai 60.
Selanjutnya dengan menyebarkan angket kepada 35 orang siswa di kelas VIII SMP Negeri 29 Medan, diperoleh bahwa terdapat sebanyak 28% ( 10 orang siswa) menyatakan bahwa pelajaran IPA sangat membosankan. 21,8% (7 orang siswa) berpendapat bahwa pelajaran IPA cukup membosankan. 16% (6 orang siswa) menyatakan bahwa IPA mengasyikkan. Kemudian 34% (12 orang siswa) berpendapat bahwa IPA itu biasa saja.
3
dapat digunakan adalah model pembelajaran Inquiry training. Menurut Joyce, (2011:201), model pembelajaran Inquiry training dirancang untuk membawa siswa secara langsung ke dalam proses ilmiah melalui latihan-latihan yang dapat memadatkan proses ilmiah tersebut ke dalam waktu yang singkat. Tujuan model
Inquiry training adalah membantu siswa mengembangkan displin intelektual dan
keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan pertanyaan-pertanyaan dan pencarian jawaban yang terpendam dari rasa keingintahuan mereka.
Hasil pembelajaran utama dari model Inquiry training adalah keterampilan proses sains yang melibatkan aktivitas observasi, mengumpulkan dan mengolah data, mengidentifikasi dan mengontrol variabel, membuat dan menguji hipotesis, merumuskan penjelasan, dan menggambarkan kesimpulan. Format dari model
Inquiry training menawarkan pembelajaran yang aktif dan otonom. Siswa juga
akan menjadi lebih terampil dalam ekspresi verbal seperti dalam mendengarkan pendapat orang lain dan mengingat apa yang telah diutarakan. Sistem sosial model pembelajaran Inquiry training bersifat kooperatif dan ketat dan dapat dirancang dengan baik dimana guru mengontrol interaksi dan meresapkan prosedur-prosedur penelitian. Meski demikian, standar penilaian adalah kerja sama, kebebasan intelektual, dan keseimbangan. Interaksi antara siswa seharusnya juga didorong. Lingkungan intelektual terbuka untuk semua gagasan yang relevan (Joyce,dkk,2011:209)
Hasil penelitian yang dilakukan beberapa peneliti di antaranya oleh Abdah
(2014) menyimpulkan bahwa ada pengaruh signifikan model pembelajaran Inqury
training terhadap hasil belajar siswa. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh
4
Penelitian ini penting untuk dilakukan agar terjadi perubahan yang baik dan bermanfaat bagi guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti akan melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap Keterampilan Proses Sains Pada Materi Pokok Getaran, Gelombang dan Bunyi Kelas VIII Semester II SMP Negeri 29 Medan T.P. 2015/2016”.
1.2Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka dapat diidentifikasi masalah yang relevan dengan penelitian antara lain:
1. Penerapan model pembelajaran yang belum bervariasi dan masih bersifat konvensional yaitu mencatat dan mengerjakan soal.
2. Alat dan bahan praktikum yang belum lengkap.
3. Kurangnya pengalaman siswa dalam pelaksanaan praktikum.
4. Guru jarang membuat alat peraga/demonstrasi di kelas.
5. Keterampilan proses sains pada siswa masih tergolong rendah.
1.3Batasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti membatasi masalah sebagai berikut:
1. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran Inquiry
training pada kelas eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas
kontrol.
2. Subjek yang diteliti adalah siswa kelas VIII semester genap T.P. 2015/2016 di SMP Negeri 29 Medan.
3. Materi yang diajarkan dalam penelitian ini adalah materi kelas VIII semester genap, yaitu materi Getaran, Gelombang dan Bunyi.
5
1.4Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1. Bagaimana keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan model pembelajaran Inquiry training pada materi Getaran, Gelombang dan Bunyi di kelas VIII semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016?
2. Bagaimana keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan
pembelajaran konvensional pada materi Getaran, Gelombang dan Bunyi di kelas VIII semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016?
3. Adakah pengaruh model pembelajaran Inquiry Training terhadap
keterampilan proses sains siswa di kelas eksperimen pada materi Getaran, Gelombang dan Bunyi kelas VIII semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016 ?
1.5Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk megetahui keterampilan proses sains siswa dengan model
pembelajaran Inquiry training pada materi Getaran, Gelombang dan Bunyi di kelas VIII semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016.
2. Untuk mengetahui keterampilan proses sains siswa dengan menggunakan
pembelajaran konvensional pada materi Getaran, Gelombang dan Bunyi di kelas VIII semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016.
3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh model pembelajaran Inquiry
Training terhadap keterampilan proses sains siswa dikelas eksperimen pada
materi pokok Getaran, Gelombang dan Bunyi kelas VIII semester II SMP Negeri 29 Medan T.P 2015/2016.
1.6Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut :
1. Sebagai pemberi informasi bagi pihak sekolah dan sebagai rujukan yang
6
2. Sebagai bekal peneliti dalam melaksanakan pengajaran dengan
menggunakan model Inquiry training dalam mempersiapkan diri menjadi
guru yang mampu meningkatkan kualitas pembelajaran.
1.7Defenisi Operasional
Untuk menghindari persepsi yang berbeda dalam penelitian ini, perlu adanya Defenisi Operasional yang memberikan pengertian terhadap istilah-istilah yang ada. Defenisi Operasional dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Model pembelajaran Inquiry training adalah upaya pengembangan para pembelajar yang mandiri, metodenya mensyaratkan partisipasi aktif siswa dalam penelitian ilmiah. Siswa sebenarnya memiliki rasa ingin tahu dan hasrat yang besar untuk tumbuh dan berkembang. Model pembelajaran
Inquiry training memanfaatkan eksplorasi kegairahan alami siswa,
memberikan siswa arahan-arahan khusus sehingga siswa dapat mengeksplorasi bidang-bidang baru secara efektif (Joyce, dkk, 2011:202).
2. Pembelajaran konvensional merupakan suatu pembelajaran yang mana
dalam proses belajar mengajar dilakukan dengan cara yang lama, yaitu dalam penyampaian pelajaran pengajar masih mengandalkan ceramah (Jainuri, 2012 : 1).
3. Keterampilan proses sains yaitu melibatkan aktivitas observasi,
57
BABBVB
KESIMPULANBDANBSARANB
5.1BKesimpulanB
Berdeserken hesil penelitien yeng diperoleh deri hesil enelise dete den pengujien hipotesis meke depet disimpulken sebegei berikut :
1. Keterempilen Proses Seins siswe dengen mengguneken model Inquiry Training pede meteri pokok Geteren, Gelombeng den Bunyi di keles VIII semester II SMP Negeri 29 Meden T.P 2015/2016 termesuk ketegori beik kerene dietes nilei KKM yeitu sebeser 81,0.
2. Keterempilen Proses Seins siswe dengen mengguneken pembelejeren
konvensionel (model pembelejeren lengsung) pede meteri Geteren, Gelombeng den Bunyi di keles VIII semester II SMP Negeri 29 Meden T.P 2015/2016 termesuk ketegori cukup yeitu sebeser 72,0.
3. Ade pengeruh model pembelejeren Inquiry Treining terhedep
Keterempilen Proses Seins siswe pede meteri pokok Geteren, Gelombeng den Bunyi keles VIII semster II SMP Negeri 29 Meden T.P 2015/2016 dengen thitung > ttebel yeitu 3,290 > 1,667 pede teref siginifiken α = 0,05. B
5.2BSaranB
Berdeserken hesil den kesimpulen delem penelitien ini, meke peneliti mempunyei beberepe seren, yeitu:
58
2. Pede proses pembelejeren berlengsung di serenken kepede peneliti selenjutnye yeng ingin meneliti dengen model den meteri yeng seme eger lebih depet memberiken meseleh yeng lebih menerik sehingge siswe depet lebih ektif delem proses belejer.B
59
DAFTAR PUSTAKA
Abdi,A., (2014), The Effect of Inquiry Based Learning Method on Students’ Academic Achievement in Science Course, Universal Journal of Educational Research, 2(1), 37-41, Iran.
Aktamis., (2008). The effect of scientific process skill education on student’s scientific creativity, science attitudes, and academic achievements, Asia-Pacific Forum on Science Learning and Teaching, Vol.9(1), Turki.
Arikunto, S., (2006). Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.
Arikunto, S,. (2013). Dasar – Dasar Evalusi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Derlina., (2014). Pengaruh Model Pembelajaran Inquiry Training Terhadap
Hasil Belajar Siswa Di Kelas X Semester II Sma Negeri 1 Percut Sei Tuan T.P. 2013/204. Jurnal Inpafi, Vol. 2, No. 3, Agustus 2014. Medan.
Dimyati, Mudjiono., (2009). Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta.
Jainuri., (2012), Pembelajaran Konvensional :
https://www.academia.edu/6942550/Pembelajaran_Konvensional [online] (Diakses pada : 09 Januari 2016)
Joyce, dkk., (2011). Models Of Teaching. Yogyakarta: Percetakan Pustaka Belajar.
Kanginan, M., (2013). IPA untuk SMP/ MTs Kelas VIII. Jakarta: Erlangga. Krisno, A., (2008). IPA untuk SMP/MTs kelas VIII. Jakarta : Erlangga.
Rohimah, A., 2014. Pengaruh Model Pembelajaran Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Materi Pokok Listrik Dinamis Di Kelas X Sma Swasta Al Ulum Medan T.P. 2013/2014. Jurnal inpafi, Vol. 2, No. 3, Agustus 2014. Medan.
Sani, R.A., (2014). Pembelajaran Saintifik untuk Implementasi Kurikulum 2013. Jakarta: Bumi Aksara.
Sanjaya, W., (2006). Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kencana.
60
The Challenges to Realize Science Instruction Leading To Global Excellence in Education. Vol 2 No.4. April 2013.
Sudjana., (2005). Metode Statistika. Bandung: Tarsito.
Sudjana, N., (2009), Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar, Penerbit Remaja Rosdakarya, Bandung.
Trianto., (2013). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. Jakarta: Kencana.