PENGARUH ETIKA, PROFESIONALISME DAN
PENGALAMAN AUDIT TERHADAP KETEPATAN
PEMBERIAN OPINI AKUNTAN PUBLIK
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Untuk Memenuhi Syarat-syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi
Oleh:
Yulfa Zailia
NIM: 108082000009
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
v
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
I. IDENTITAS PRIBADI
1. Nama : Yulfa Zailia
2. Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 20 Januari 1991
3. Alamat : Jl. Akasia Gg. Musholla Rt/Rw. 002/012 No. 23 Pamulang Timur
4. Telpon : 08568346875
5. E-mail : [email protected]
II. PENDIDIKAN
1. SD (1996-2002) : MIS Asy-Syifa Pamulang Timur 2. SMP (2002-2005) : SMP Muhammadiyah 22 Pamulang 3. SMA (2005-2008) : SMA Muhammadiyah 25 Pamulang 4. S1 (2008-2013) : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
III.PENGALAMAN ORGANISASI
1. PRAMUKA MI Asy-Syifa Pamulang Timur sebagai Anggota (2000-2001)
2. Keputrian SMP Muhammadiyah 22 Pamulang (2002-2004) 3. Ekskul Majalah Sekolah “La’tahzan” sebagai Sekertaris (2006
-2007)
vi
IV.LATAR BELAKANG KELUARGA
1. Ayah : Drs. M. Zaini Muhdi 2. Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 5 Maret 1963
3. Pekerjaan : PNS
4. Ibu : Aliyah Achfas
5. Tempat & Tanggal Lahir : Jakarta, 15 Oktober 1965 6. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
7. Adik : Syiva Fahlefi
8. Tempat & Tanggal Lahir : Tangerang, 5 Agustus 1996 9. Alamat : Jl. Akasia Gg. Musholla Rt/Rw.
vii
INFLUENCE OF ETHICS, PROFESSOINALISM AND AUDIT
EXPERIENCE TO THE ACCURACY OF PUBLIC ACCOUNTANT OPINION
ABSTRACT
This study examines the influence of ethic, professionalism, audit experience to the accuracy of public accountant opinion. Respondents in this study are auditors who worked for the Public Accounting Firm in Jakarta. The number of auditor in this study were 72 auditors from 14 Public Accounting Firm in Jakarta. The method of determining the sample is by using convenience sampling method, while the data processing methods used by researcher are the multiple regression analysis.
The result shows that ethics did not have significantly influence to the accuracy of audit opinion, whereas professionalism and audit experience had significantly influence to the accuracy of audit opinion.
viii
PENGARUH ETIKA, PROFESIONALISME DAN PENGALAMAN AUDIT TERHADAP KETEPATAN PEMBERIAN OPINI AKUNTAN PUBLIK
ABSTRAK
Penelitian ini menguji pengaruh etika, profesionalisme, dan pengalaman audit terhadap ketepatan pemberian opini audit. Responden dalam penelitian ini adalah para auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Jumlah auditor yang menjadi sampel penelitian ini adalah 72 responden dari 14 Kantor Akuntan Publik (KAP) di Jakarta. Metode penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian adalah convenience sampling, sedangkan metode pengolahan data yang digunakan adalah analisis regresi berganda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa etika tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit, sedangkan profesionalisme dan pengalaman audit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap ketepatan pemberian opini audit.
ix
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahiim. Assalammualaikum Wr.Wb.
Segala puji bagi Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul “Pengaruh Etika, Profesionalisme dan Pengalaman Audit Terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik”. Penyususnan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna mencapai gelar Sarjana Ekonomi di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini terutama kepada:
1. Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Ibu dan bapak, tercinta yang telah menjadi penyemangat dan selalu memberikan dukungan, baik doa maupun finansial serta kasih sayang yang berlimpah kepada penulis untuk tetap semangat serta adikku yang telah memberikan doa, motivasi dan perhatian kepada penulis.
3. Bapak Prof. Dr. Abdul Hamid, MS selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta..
4. Ibu Dr. Rini, SE., Ak., M.Si, selaku Ketua jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
5. Bapak Hepi Prayudiawan, SE., Ak., MM selaku Sekertaris Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif hidayatullah Jakarta.
x
7. Ibu Putriesti Mandasari, SE., MSi selaku Dosen Pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberikan masukan dan ilmu serta semangatnya yang sangat berharga untuk penulis selama proses menyusun skripsi.
8. Seluruh staf pengajar yang telah memberikan ilmunya yang tidak bisa disebutkan satu persatu, semoga Allah SWT membalas kebaikan Bapak/Ibu. 9. Seluruh jajaran karyawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, terimakasih atas
bantuan, perhatian dan pelayanan yang diberikan.
10.Sahabat-sahabatku tercinta Mardiana Febiyeansyah dan Afrianty Arini, terima kasih untuk semangat dan do’anya.
11.Sahabat-sahabatku, “The U” Siti Zakiah, Tania Kautsarrahmelia, Tisha Kartika Fitriyani, Tri Suryanti dan Yuni Ersa Syaiful. Terima kasih untuk canda tawa dan suka duka yang kalian bagi bersama selama ini. Sukses mulia buat kita semua yaa!
12.Teman-teman seperjuanganku Akuntansi A, B, C, D, dan E angkatan 2008, khususnya Amelia Yulfa dan Latifah Alfi Hidayati. Terima kasih atas kebersamaannya yang menyenangkan, ilmu dan pengalaman, serta semangat yang banyak kalian bagi kepada penulis.
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki penulis. Oleh karena itu penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.
Jakarta, 21 Agustus 2013
xii DAFTAR ISI
Keterangan Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI ... ii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN KOMPREHENSIF ... iii
LEMBAR PENGESAHAN UJIAN SKRIPSI ... iv
SURAT PERNYATAAN ... v
A. Teori yang BerkenaandenganVariabel yang Diambil ... 10
xiii
3. PemberianOpini Audit ... 19
4. Etika ... 23
5. Profesionalisme ... 28
6. Pengalaman ... 34
B. TinjauanPenelitianTerdahulu ... 35
C. KerangkaBerfikir ... 40
D. Hipotesis ... 42
1. Etika terhadap Ketepaan Pemberian Opini Akuntan Publik ... 42
2. Profesionalisme terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik ... 42
3. Pengalaman Audit terhadapKetepatanPemberian OpiniAkuntanPublik ... 43
4. Etika, Profesionalisme dan Pengalaman Audit Terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik ... 44
BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 46
A. Ruang Lingkup Penelitian ... 46
B. SampelPenelitian... 46
C. Metode Pengumpulan Data ... 47
E. Definisi Operasional danPengukuranVariabel ... 53
1. Variabel Independen ... 53
a. Etika ... 53
b. Profesionalisme ... 53
c. Pengalaman Audit ... 54
xiv
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 59
A. Sekilas Umum Gambaran Objek Penelitian ... 59
1. Tempat dan Waktu Penelitian ... 59
2. Karakteristik Profil Responden ... 61
B. Hasil Uji Instrumen Pengukuran Variabel Penelitian ... 65
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 65
2. Hasil Uji Kualitas Data ... 66
a. Hasil Uji Validitas ... 66
b. Hasil Uji Reliabilitas ... 68
3. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 69
a. Hasil Uji Multikolinearitas ... 69
b. Hasil Uji Normalitas ... 70
c. Hasil Uji Heteroskedastisitas ... 71
4. Hasil Uji Hipotesis ... 74
a. Uji Koefisien Determinasi ... 74
b. Hasil Uji Statistik t ... 75
c. Hasil Uji Statistik F ... 79
BAB V PENUTUP ... 82
A. Kesimpulan ... 82
B. Implikasi ... 83
C. Saran ... 85
DAFTAR PUSTAKA ... 87
xv
DAFTAR TABEL
No. Keterangan Halaman
2.1 PenelitianTerdahulu ... 35
3.1 Operasional Variabel Penelitian ... 55
4.1 Daftar Sampel Penelitian ... 60
4.2 Daftar Distribusi Sampel Penelitian ... 60
4.3 Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasar Jenis Kelamin ... 61
4.4 Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasar Usia ... 62
4.5 Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasar Jabatan Kerja ... 63
4.6 Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasar Pendidikan Terakhir ... 63
4.7 Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasar Pengalaman Kerja ... 64
4.8 Hasil Uji Statistik Deskriptif ... 65
4.9 Hasil Uji Validitas VariabelEtika ... 66
4.10 Hasil Uji Validitas Variabel Profesionalisme ... 67
4.11 Hasil Uji Validitas Variabel Pengalaman Audit ... 67
4.12 Hasil Uji Validitas Variabel KetepatanPemberianOpini ... 68
4.13 Hasil Uji Reliabilitas ... 68
4.14 Hasil Uji Multikolinearitas ... 69
4.15 Hasil Uji Normalitas Menggunakan Kolmogorov Smirnov ... 71
4.16 Hasil Uji Glejser Heteroskedastisitas ... 73
4.17 Hasil Uji Koefisien Determinasi (R2) ... 74
4.18 Hasil Uji Statistik t ... 75
xvi
DAFTAR GAMBAR
No. Keterangan Halaman
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
No. Keterangan Halaman
1. Surat Penelitian Skripsi ... 90
2. Surat Keterangan Dari KAP ... 93
3. Kuesioner Penelitian ... 97
4. Daftar Jawaban Responden ... 105
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Perkembangan dunia usaha yang semakin pesat saat sekarang ini dapat memicu persaingan yang semakin meningkat diantara pelaku bisnis. Berbagai macam usaha untuk meningkatkan pendapatan dan agar tetap bertahan dalam menghadapi persaingan tersebut terus dilakukan oleh para pengelola perusahaan. Salah satu kebijakan yang sering ditempuh oleh pihak perusahaan adalah dengan melakukan pemeriksaan laporan keuangan perusahaan oleh pihak ketiga yaitu akuntan publik.
2 Terkait dengan keperluan banyak pihak maka untuk menjalankan proses pemeriksaan terhadap laporan keuangan suatu entitas diperlukan para akuntan publik yang handal untuk menghasilkan opini yang tepat dan dapat dipertanggungjawabkan. Agar tujuan tersebut tercapai maka pemberian opini audit seorang akuntan publik dalam menjalankan profesinya harus mengacu pada standar yang telah ditetapkan yaitu Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dari Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Pemenuhan standar audit oleh auditor dapat berdampak pada peningkatan hasil auditnya, yaitu dengan memberikan opini audit yang semakin akurat. Dengan adanya opini audit ini semua pihak yang berkepentingan diantaranya bagi pelaku pasar modal, laporan keuangan adalah pintu untuk melihat isi perusahaan publik. Hitam putih perusahaan publik dapat dilihat dengan detail melalui laporan keuangan yang disajikannya (Gusti dan Ali, 2008).
Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) pada seksi 341 menyebutkan bahwa pertimbangan auditor atas kemampuan kesatuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya harus berdasarkan pada ada tidaknya kesangsian dalam diri auditor itu sendiri terhadap kemampuan suatu kesatuan usaha dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam periode satu tahun sejak tanggal keuangan auditan.
3 massa, integritas dan tanggung jawab auditor Indonesia dipertanyakan, khususnya pada pengauditan bank. Bank yang memperoleh opini wajar tanpa pengecualian dalam laporan keuangannya justru mengalami kebangkrutan (Bisnis Indonesia, 1999 dalam Justiana, 2010). Bertolak dari kasus-kasus diatas dan kemudian dihubungkan dengan terjadinya krisis ekonomi di Indonesia, akuntan seolah menjadi profesi yang harus mempunyai tanggung jawab yang paling besar. Karena peran pentingnya dalam masyarakat bisnis, akuntan publik bahkan dituduh sebagai pihak yang paling besar tanggung jawabnya atas kemerosotan perekonomian Indonesia. Bagaimanapun situasi kontekstual ini memerlukan perhatian dalam berbagai aspek pengembangan profesionalisme akuntan, termasuk di dalamnya melalui suatu penelitian terhadap etika seorang akuntan.
Penelitian etika (akuntan) di Indonesia telah banyak dilakukan. Namun, penelitian ini masih terbatas pada aspek kognitif akuntan (khususnya berkaitan dengan pengambilan keputusan etis). The American Heritage Directory manyatakan etika sebagai suatu aturan atau standar yang menentukan tingkah laku para anggota dari suatu profesi. Pengembangan kesadaran etis/moral memainkan peranan kunci dalam semua area profesi akuntan (Louwers, 1997 dalam Gusti dan Ali, 2008).
4 tentang bagaimana harus hidup, bagaimana harus bertindak dalam hidup ini sebagai manusia yang baik dan bagaimana menghindari perilaku-perilaku yang tidak baik. Sedangkan etika berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan perilaku manusia dalam hidupnya.
Faktor lain yang mempengaruhi opini audit adalah profesionalisme. Surya dan Alwani (2007), ada dua tanggung jawab yang harus dipikul oleh akuntan publik dalam menjalankan pekerjaan profesionalnya, yaitu pertama, menjaga kerahasiaan informasi yang diperolah dalam melaksanakan tugasnya. Informasi yang diperoleh akuntan publik selama ia menjalankan pekerjaannya tidak boleh diungkapkan oleh pihak ketiga, kecuali atas ijin kliennya. Namun jika hukum atau negara menghendaki akuntan publik mengungkapkan informasi yang diperolehnya selama penugasannya, akuntan publik berkewajiban untuk mengungkapkan informasi tersebut tanpa harus mendapatkan persetujuan dari kliennya. Tanggung jawab yang kedua yaitu menjaga mutu profesionalnya. Setiap akuntan publik harus bisa mempertanggungjawabkan mutu pekerjaan atau pekerjaan lain pada saat yang bersamaan, yang bisa menyebabkan penyimpangan obyektivitas atau ketidakkonsistenan dalam pekerjaannya.
Profesionalisme juga menjadi syarat utama bagi seseorang yang ingin menjadi seorang auditor eksternal. Sebab dengan profesionalisme yang tinggi kebebasan auditor akan semakin terjamin. Untuk menjalankan perannya yang menuntut tanggung jawab yang semakin luas, auditor eksternal harus memiliki
5 Hall (1968) dalam Wahyudi dan Mardiyah (2006) gambaran tentang profesionalisme tercermin dalam lima hal yaitu: pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, kepercayaan terhadap peraturan profesi, dan hubungan dengan rekan seprofesi.
Faktor lain yang mempengaruhi opini audit dijelaskan oleh Sabrina dan Januarti (2012) pengalaman audit ditunjukkan dengan jam terbang auditor dalam melakukan prosedur audit terkait dengan pemberian opini atas laporan auditnya. Pengalaman seorang auditor juga menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi skeptisisme profesional auditor karena auditor yang lebih berpengalaman dapat mendeteksi adanya kecurangan-kecurangan pada laporan keuangan seperti siklus persediaan dan pergudangan, hal ini disebabkan karena auditor berpengalaman lebih skeptis dibandingkan dengan auditor yang tidak berpengalaman.
6 Salah satu pengaruh keputusan yang dibuat auditor dapat berasal dari pengalaman-pengalaman dalam bidang audit dan akuntansi. Berdasarkan penjelasan diatas dapat diambil simpulan bahwa proses pengambilan keputusan dalam bidang audit dipengaruhi oleh faktor pengalaman yang dalam penerapannya akan terkait dengan etika. Profesionalisme merupakan hal yang melekat pada diri auditor, sehingga profesionalisme merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki. Variabel penelitian ini meliputi etika, profesionalisme, dan pengalaman auditor. Penelitian ini mengevaluasi hubungan antara etika, profesionalisme, dan pengalaman auditor.
Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bermaksud untuk meneliti kembali faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja auditor. Dengan menggunakan beberapa variabel yang berbeda dengan penelitian terdahulu diharapkan dapat memberikan pengetahuan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi opini auditor. Untuk itu penulis melakukan penelitian yang berjudul : Pengaruh Etika, Profesionalisme dan Pengalaman Audit terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka perumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
7 2. Apakah profesionalisme berpengaruh positif signifikan terhadap ketepatan
pemberian opini akuntan publik?
3. Apakah pengalaman audit berpengaruh positif signifikan terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik?
4. Apakah secara bersama-sama etika, profesionalisme, dan pengalaman audit berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah penelitian yang telah penulis jabarkan di atas, penelitian ini bertujuan untuk:
a. Untuk memperoleh bukti empiris pengaruh signifikan etika terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik.
b. Untuk memperoleh bukti empiris pengaruh signifikan profesinalisme terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik.
c. Untuk memperoleh bukti empiris pengaruh signifikan pengalaman audit terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik.
8 2. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan menfaat bagi semua pihak, diantaranya:
a. Auditor
Auditor diharapkan melakukan pengambilan keputusan secara profesional dengan pengalaman yang dimiliki bardasarkan Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) sehingga auditor dapat menghasilkan kinerja yang baik.
b. Bagi Pemakai Jasa Akuntansi
Agar klien auditor dapat mengerti hal-hal yang berhubungan dengan etika, profesionalisme, dan pengalaman audit terhadap opini auditor. Selain itu, diharapkan kepada klien auditor dapat terus mempertahankan keberlangsungan usahanya sesuai dengan aturan bisnis yang legal dan tidak melakukan manipulasi bisnis yang dapat merugikan pihak-pihak lain seperti stakeholder, investor, pemegang saham, dan lainnya.
c. Pembaca
Pembaca memperoleh tambahan informasi yang menambah wacana pengetahuan khususnya dibidang auditing serta untuk menambah informasi sumbangan pemikiran dan bahan kajian dalam penelitian. d. Penulis
10 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Teori yang Berkenaan dengan Variabel yang Diambil 1. Basis Teori
Konsep yang mendasari teori tentang ketepatan pemberian opini merujuk kepada teori akuntansi keprilakuan khususnya teori atribusi. Teori atribusi merupakan teori yang dikembangkan oleh Fritz Heider yang berargumentasi bahwa perilaku seseorang ditentukan oleh kombinasi antara kekuatan internal (internal forces), yaitu faktor-faktor yang berasal dari dalam diri seseorang, seperti kemampuan atau usaha, dan kekuatan eksternal (eksternal forces), yaitu faktor-faktor yang berasal dari luar seperti kesulitan dalam pekerjaan atau keberuntungan (Ikhsan, et al., 2005). Sedangkan dalam kompasiana.com disebutkan bahwa atribusi adalah sebuah teori yang membahas tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk memahami penyebab-penyebab perilaku kita dan orang lain. Definisi formalnya, atribusi berarti upaya untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus juga penyebab di balik perilaku kita sendiri.
11 merupakan interaksi antara peran sosial (social role), norma (norms), dan identitas (identity) atas orang-orang yang ada di dalam suatu organisasi.
Peran sosial adalah kaitan dari hak, tugas dan tanggungjawab, dan perilaku yang tepat dari orang-orang yang memiliki posisi tertentu dalam konteks sosial. Norma adalah perilaku yang dianggap tepat dan diharapkan dalam suatu peran tertentu. Sedangkan identitas adalah berkaitan dengan bagaimana seseorang menetapkan siapa dirinya dan bagaimana ia akan bertindak pada suatu situasi tertentu (Praptapa, 2009).
2. Teori Audit a. Definisi Audit
Hakekat mengenai auditing menurut Arens et. al. (2010) adalah sebagai berikut:
“The accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between information and established criteria. Auditing should be done by a competent and independent person”.
“Auditing adalah proses pengumpulan dan penilaian bukti atau pengevaluasian bukti mengenai informasi untuk menentukan dan melaporkan tingkat kesesuaian antara informasi tersebut dan kriteria yang ditetapkan. Auditing harus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen”.
Menurut Mulyadi (2010) auditing dijelaskan sebagai berikut:
12 Menurut Sukrisno Agoes (2009), pengertian auditingadalah:
“Suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut.”
Menurut Rahayu dan Suhayati (2010), pengertian auditing adalah:
“Suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai informasi tingkat kesesuaian antara tindakan atau peristiwa ekonomi dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta melaporkan hasilnya kepada pihak yang membutuhkan, dimana auditingharus dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen.
Secara umum pengertian di atas dapat diartikan bahwa audit adalah proses sistematis yang dilakukan oleh orang yang kompeten dan independen dengan mengumpulkan dan mengevaluasi bahan bukti dan bertujuan memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut (Singgih dan Bawono, 2010).
13 b. Standar Auditing
Standar auditing merupakan panduan umum bagi auditor dalam memenuhi tanggung jawab profesinya untuk melakukan audit atas laporan keuangan historis. Standar ini mencakup pula pertimbangan atas kualitas profesional seperti kompetensi dan independensi, persyaratan pelaporan serta bukti audit.
Standar auditing menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam
SA Seksi 150 berbeda dengan prosedur auditing, yaitu “prosedur”
berkaitan dengan tindakan yang harus dilaksanakan, sedangkan
“standar” berkaitan dengan kriteria atau tujuan yang hendak dicapai
melalui penggunaan prosedur tersebut. Standar auditing yang berbeda dengan prosedur auditing, berkaitan dengan tidak hanya kualitas professional auditor namun juga berkaitan dengan pertimbangan yang digunakan dalam pelaksanaan auditnya dan dalam laporannya.
Berikut standar auditing yang telah ditetapkan dan disahkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah Standar Umum, Standar Pekerja Lapangan dan Standar Pelaporan (Arens, et. al., 2008) sebagai berikut:
1) Standar Umum
14 b) Dalam semua hal yang berhubungan dengan perikatan, independensi dalam sikap mental harus dipertahankan oleh auditor.
c) Dalam pelaksanaan audit dan penyusunan laporannya, auditor wajib menggunakan kemahiran profesionalnya dengan cermat dan seksama.
2) Standar Pekerjaan Lapangan
a) Pekerjaan harus direncanakan sebaik-baiknya dan jika digunakan asisten harus disupervisi dengan semestinya.
b) Pemahaman memadai atas pengendalian intern harus diperoleh untuk merencanakan audit dan menentukan sifat, saat, dan lingkup pengujian yang akan dilakukan.
c) Bukti audit kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, pengamatan, permintaan keterangan, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
3) Standar Pelaporan
a) Laporan auditor harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.
15 dengan penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
c) Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali dinyatakan lain dalam laporan auditor.
d) Laporan keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan, maka alasannya harus dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, maka laporan keuangan auditor harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan, jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul oleh auditor.
c. Jenis-Jenis Audit
Menurut Arens, et.al. (2008) akuntan publik melakukan tiga jenis utama audit, Audit Operasional, Audit Ketaatan dan Audit Laporan Keuangan.
1) Audit Operasional ( Operational audit)
16 terbatas pada akuntansi, tetapi dapat mencakup evaluasi atas struktur organisasi, operasi komputer, metode produksi, pemasaran, dan semua bidang lain dimana auditor menguasainya. 2) Audit Ketaatan (Compliance audit)
Audit ketaatan (compliance audit) dilaksanakan untuk menentukan apakah pihak yang diaudit mengikuti prosedur, aturan, atau ketentuan tertentu yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi. Hasil dari audit ketaatan biasanya dilaporkan kepada manajemen, bukan kepada pemakai luar, karena menajemen adalah kelompok utama yang berkepentingan dengan tingkat ketaatan terhadap prosedur dan peraturan yang digariskan. Oleh karena itu, sebagian besar pekerjaan jenis ini seringkali dilakukan oleh auditor yang telah bekerja pada unit organisasi itu.
3) Audit Laporan Keuangan ( Financial statement audit)
17 d. Jenis-Jenis Auditor
Menurut Arens et. al (2008) dalam profesi auditor digolongkan menjadi empat jenis, jenis-jenis tersebut adalah Kantor Akuntan Publik, Auditor Kantor Pemerintahan, Auditor Pajak, dan Auditor Internal. Adapun pengertian dari setiap jenis auditor akan dijelaskan berikut ini.
1) Kantor Akuntan Publik (auditor eksternal)
Kantor akuntan publik seringkali disebut auditor eksternal atau auditor independen untuk membedakan dirinya dengan auditor internal. Kantor akuntan publik bertanggung jawab pada audit atas laporan keuangan historis yang dipublikasikan dari semua perusahaan yang semua sahamnya diperdagangkan dengan maksud untuk mengeluarkan pendapat atas kewajaran atas laporan keuangan. Disini akuntan berfungsi sebagai pihak yang independen dan bertindak sebagai penyaksi terhadap penyajian manajemen itu. 2) Audit Kantor Pemerintahan
18 pengawasan terhadap penggunaan uang negara oleh seluruh aparatur pemerintah.
3) Auditor Pajak
Auditor pajak adalah auditor yang bertanggung jawab untuk menegakkan undang-undang perpajakkan, tanggung jawab yang diemban adalah mengaudit pajak penghasilan dari para wajib pajak untuk menentukan apakah mereka telah memetuhi undang-undang perpajakkan yang berlaku.
4) Auditor Internal
Auditor internal adalah mereka yang bekerja dibidang akuntan disuatu perusahaan untuk melakukan audit bagi kepentingan manajemen perusahaan. Auditor internal wajib memberikan informasi yang berharga bagi manajemen untuk pengambilan-pengambilan keputusan yang berkaitan dengan operasi perusahaan. Auditor bertanggung jawab langsung kepada presiden direktur, pimpinan tertinggi perusahaan, atau bahkan komite audit dari dewan direksi.
e. Tujuan Audit
19 menyusun sejumlah tujuan audit spesifik untuk setiap akun laporan keuangan (Boynton, et. al., 2006).
Tujuan spesifik audit ditentukan berdasarkan asersi yang dibuat oleh manajemen yang tercantum dalam laporan keuangan. Laporan keuangan meliputi asersi manajemen yang bersifat eskplisit maupun implisit. Auditing Standards Board (ASB) dalam SAS 31, Evidential Matter (AU 326.03) telah mengakui lima kategori asersi laporan keuangan sebagai berikut:
1) Keberadaan dan keterjadian (existence and ocurance) 2) Kelengkapan (completeness)
3) Hak dan kewajiban (right and obligation)
4) Penilaian dan pengalokasian (valuation and allocation) 5) Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
3. Pemberian Opini Audit
20 1) Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Pendapat wajar tanpa pengecualian dapt diberikan auditor apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar auditing, penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, dan tidak terdapat kondisi atau keadaan tertentu yang memerlukan bahasa penjelas. Laporan keuangan yang wajar dihasilkan setelah melalui (SA 411 paragraf 04), apakah :
a) Prinsip akuntansi yang dipilih dan dilaksanakan telah berlaku umum
b) Prinsip akuntansi yang dipilih tepat untuk keadaan yang bersangkutan
c) Laporan keuangan beserta catatannya memberikan informasi cukup yang dapat mempengaruhi penggunaannya, pemahamannya, dan penafsirannya.
d) Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan diklasifikasikan dan diikhtisarkan dengan semestinya, yang tidak terlalu rinci ataupun terlalu ringkas.
21 2) Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelas
(Unqualified Opinion with Explanatory Language)
Pendapat ini diberikan apabila audit telah dilaksanakan atau diselesaikan sesuai dengan standar auditing. Penyajian laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum, tetapi terdapat keadaan atau kondisi tertentu yang memerlukan bahsa penjelas. Kondisi atau keadaan yang memerlukan bahasa penjelas tambahan antara lain dapat diuraikan sebagai berikut :
a) Pendapat auditor sebagian didasarkan atas laporan auditor indepanden lain. Auditor harus menjelaskan hal ini dalam paragraph untuk menegaskan pemisahan tanggung jawab dalam pelaksanaan audit.
b) Adanya penyimpangan dari prinsip akuntansi yang ditetapkan oleh IAI. Penyimpangan tersebut adalah penyimpangan yang terpaksa dilakukan agar tidak menyesatkan pemakai laporan keuangan. 3) Pendapat Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Sesuai dengan SA 508 paragraf 38 dikatakan bahwa jenis pendapat ini diberikan apabila :
a) Tidak adanya bukti kompeten yang cukup atau adanya pembatasan lingkup audit yang material tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan
22 tetapi tidak mempengaruhi laporan keuangan secara keseluruhan. Penyimpangan tersebut dapar berupa pengungkapan yang tidak memadai, maupun perubahan dalam prinsip akuntansi.
Bentuk dari penyimpangan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum yaitu menyangkut resiko atau ketidakpastian dan pertimbangan materialitas. Penyimpangan dari prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia yang menyangkut resiko atau ketidakpastian umumnya dikelompokkan kedalam satu diantara tiga golongan :
a) Pengungkapan yang tidak memadai, jika auditor berkesimpulan bahwa hal yang berkaitan dengan resiko atau ketidakpastian tidak diungkapkan secara memadai dalam laporan keuangan sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, auditor harus menyatakan pendapat wajar dengan pengecualian atau pendapat tidak wajar.
23 4) Pendapat tidak Wajar (Adverse Opinion)
Pendapat ini menyatakan bahwa laporan keuangan tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas sesuai denga prinsip akuntansi yang berlaku umum. Auditor harus menjelaskan alas an pendukung pendapat tidak wajar, dan dampak utama dari hal yang menyebabkan pendapat diberikan terhadap laporan keuangan. Penjelasan tersebut harus dinyatakan dalam paragraph terpisah sebelum paragrap pendapat.
5) Pernyataan tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion or No Opinion)
Pernyataan auditor tidak memberiakan pendapat ini layak diberikan apabila :
a) Ada pembatasan lingkup audit yang sangat material baik oleh klien maupun karena kondisi tertentu.
b) Auditor tidak independen terhadap klien. 4. Etika
a) Pengertian Etika
Etika dalam bahasa Yunani (Suraida, 2005) terdiri dari dua kata yaitu: etos berarti kebiasaan atau adat, dan ethiokos bararti perasaan batin atau kecenderungan batin mendorong manusia dalam bertingkah
laku. “Etika sebenarnya meliputi suatu proses penentuan yang
24
tertentu”. Etika (ethics) menurut Arens, et. al. (2008) secara garis besar dapat didefinisikan sebagai serangkaian prinsip atau nilai moral.
Sebagai seorang auditor, tuntutan kepercayaan masyarakat atas mutu audit yang diberikan sangat tinggi, oleh karena itu etika merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh auditor dalam melakukan tugasnya sebagai pemberi opini atas laporan keuangan. Etika yang tinggi akan tercermin pada sikap, tindakan dan perilaku oleh auditor itu sendiri. Auditor dengan etika yang baik dalam memperoleh informasi mengenai laporan keuangan klien pasti sesuai dengan standar-standar yang telah ditetapkan. Pengembangan kesadaran etis atau moral memainkan peranan kunci dalam semua area profesi akuntan (Louwers, 1997 dalam Sabrina dan Juniarti, 2012)
Secara umum bagi kehidupan profesi, kode etik profesi adalah serangkaian norma temlis yang mengatur perilaku anggota profesi dm menetapkan prinsip-prinsip yang mendasar yang harus dipatuhi agar pelaksanaan kinerja profesionalnya dapat mencapai tujuan penugasannya. Bagi profesi akuntan, kode etik diperlukan sebagai panduan dan aturan terhadap seluruh anggota baik yang berpraktik sebagai akuntan publik, bekerja di dunia usaha, di instansi pemerintah, maupun di dunia pendidikan dalam memenuhi tanggungjawab profesionalnya.
25 asosiasi profesi merumuskan suatu kode etik. Kode etik profesi dan sebagai dasar terbentuknya kepercayaan masyarakat karena dengan mematuhi kode etik, akuntan diharapkan dapat menghasilkan kualitas kinerja yang paling baik bagi masyarakat. Dalam kerangka inilah IAI merumuskan suatu kode etik yang meliputi mukadimah dan enam prinsip etika yang harus dipodomani oleh semua anggota, serta aturan etika dan interpretasi aturan etika yang wajib dipatuhi oleh masing-masing anggota kompartemen.
b) Prinsip Etika
Prinsip-prinsip etika menurut Joseph Institute For Advancement of Ethics (Arens, et. al. 2008) yang merupakan sebuah organisasi nirlaba bagi pengembangan kualitas etika masyarakat, yaitu Dapat dipercaya, penghargaan, pertanggungjawaban, kelayakan, perhatian, dan kewarganegaraan.
1) Dapat dipercaya (trustworthiness)
26 2) Penghargaan (respect)
Mencakup gagasan seperti kepantasan (civility), kesopansantunan (courtesy), ehormatan, toleransi, dan penerimaan. Seseorang yang terhormat akan memperlakukan pihak lainnya dengan penuh pertimbangan dan menerima perbedaan keyakinan pribadi tanpa berprasangka buruk.
3) Pertanggungjawaban (responsibility)
Berarti beranggung jawab atas tindakan seseorang serta dapat menahan diri. Pertanggungjawaban juga berarti berusaha sebaik mungkin dan member teladan dengan contoh, mencakup juga ketekunan serta upaya untuk melakukan perbaikan.
4) Kelayakan (fairness)
Kelayakan dan keadilan mencakup isu-isu tentang kesamaan penilaian, sikap tidak memihak, proporsionalitas, keterbukaan, dan keseksamaan. Perlakuan yang layak berarti bahwa situasi yang serupa akan ditangani dengan cara yang seksama pula.
5) Perhatian (caring)
Berarti sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan pihak lain dan mecakup tindakan yang mempehatikan kepentingan sesama serta memperlihatkan perbuatan baik.
6) Kewarganegaraan (citizenship)
27 proses dalam masyarakat berjalan dengan baik, antara lain pemungutan suara, bertindak sebagai juri pengadilan di Amerika Serikat, dan melindungi sumber daya alam yang ada.
c) Dilema Etika
Arens, et. al. (2008) mendefinisikan dilema etika sebagai:
“Situasi yang dihadapi oleh seseorang dimana ia harus mengambil
keputusan tentang perilaku yang tepat. Para auditor, akuntan, serta pelaku bisnis lainnya menghadapi banyak dilemma etika dalam karier bisnis mereka. Auditor yang menghadapi klien yang mengancam akan mencari auditor baru kecuali bersedia menerbitkan suatu pendapat wajar tanpa pengecualian, akan mengalami dilemma etika bila pendapat wajar tanpa pengecualian itu tidak tepat."
Seorang auditor biasanya menghadapi dilema ketika menajemen menginginkan opini audit yang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya. Karena auditor juga terikat oleh etika serta profesionalismenya yang melarang auditor untuk melakukan hal tersebut. Dengan menegakkan etika profesionalismenya, seorang auditor akan tetap pada jalur yang benar sehingga proses audit yang dilakukan dapat memberikan opini audit yang sesuai dengan keadaan perusahaan yang sebenarnya (Singleton, 2009).
28 suatu pendekatan yang relative sederhana untuk menyelesaikan dilema etika (Arens, et. al., 2008), yaitu :
1) Memperoleh fakta yang relevan.
2) Mengidentifikasi isu-isu etis berdasarkan fakta tersebut.
3) Mementukan siapa yang akan terpengaruh oleh akibat dari dilemma atika tersebut dan bagimana setiap orang atau kelompok itu terpengaruhi.
4) Mengidentifikasi berbagai alternative yang tersedia bagi orang yang harus menyelesaikan dilemma tersebut.
5) Mengidentifikasi konsekuensi yang mungkin terjadi dari setiap alternatif.
6) Memutuskan tindakan yang tepat. 5. Profesionalisme
a) Pengertian Profesionalisme
Lee (1995) dalam Ikhsan (2007) istilah professional digunakan untuk menunjukkan pengorganisasian pekerjaan dalam bentuk institusi, dimana praktisi memiliki komitmen secara jelas untuk melayani kepentingan publik dan menawarkan pada klien pelayanan yang berhubungan dengan intelektualitas dan ilmu pengetahuan.
29 atau special knowledge dibutuhkan pengakuan dalam bentuk sertifikasi. Seorang yang profesional di dalam melakukan suatu profesi biasanya akan memiliki motivasi yang tinggi. Sejalan dengan ha1 tersebut, Soekmadidjaja (1989) dalam Ikhsan (2007) berpendapat bahwa karakter yang dimiliki oleh para profesional adalah dorongan sangat tinggi untuk berprestasi, mempunyai keyakinan dan keberanian untuk menampilkan prestasi terbaiknya, serta memiliki jiwa kreatif dan inovatif.
Seorang auditor bisa dikatakan profesional apabila telah memenuhi dan mematuhi standar-standar kode etik yang telah ditetapkan oleh IAI (Ikhsan dan Ishak, 2005), antara lain :
1) Prinsip-prinsip yang ditetapkan oleh IAI yaitu standar ideal dari perilaku etis yang telah ditetapkan oleh IAI seperti dalam terminologi filosofi.
2) Peraturan perilaku seperti standar minimum perilaku etis yang ditetapkan sebagai peraturan khusus yang merupakan suatu keharusan.
3) Inteprestasi peraturan perilaku tidak merupakan keharusan, tetapi para praktisi harus memahaminya.
30 b) Konsep Profesionalisme
Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting, tanpa melihat apakah suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak. Selama beberapa dekade yang lalu banyak sekali penelitian empiris yang dilakukan terhadap profesionalisme dalam organisasi. Beberapa penelitian empiris yang dilakukan terhadap profesionalisme membuktikan profesionalisme merupakan konstruk yang bersifat multidimensional.
Menurut Hall (1968) dalam Wahyudi dan Mardiyah (2006) terdapat lima dimensi profesionalisme, yaitu :
1) Pengabdian pada profesi
31 2) Kewajiban sosial
Kewajiban sosial adalah pandangan tentang pentingnya peranan profesi dan manfaat yang diperoleh baik masyarakat maupun profesional karena adanya pekerjaan tersebut.
3) Kemandirian
Kemandirian dimaksudkan sebagai suatu pandangan seseorang yang profesional harus mampu membuat keputusan sendiri tanpa tekanan dari pihak lain (pemerintah, klien, dan bukan anggota profesi). Setiap ada campur tangan dari luar dianggap sebagai hambatan kemandirian secara profesioanal.
4) Keyakinan terhadap peraturan profesi
Keyakinan terhadap profesi adalah suatu keyakinan bahwa yang paling berwenang menilai pekerjaan profesional adalah rekan sesama profesi, bukan orang luar yang tidak mempunyai kompetensi dalam bidang ilmu dan pekerjaan mereka.
5) Hubungan dengan sesama profesi
32 c) Cara Akuntan Publik Mewujudkan Perilaku Profesional
IAI berwenang menetapkan standar (yang merupakan pedoman) dan aturan yang harus dipatuhi oleh seluruh anggota termasuk setiap kantor akuntan publik lain yang beroperasi sebagai auditor independen. Persyaratan-persyaratan ini dirumuskan oleh komite-komite yang dibentuk oleh IAI. Ada empat bidang utama dimana IAI berwenang menetapkan standar dan memuat aturan yang bisa meningkatkan perilaku profesioanal seorang auditor.
1) Standar auditing.
33 2) Standar kompilasi dan penelaahan laporan keuangan.
Komite SPAP IAI dan Compilation and Review Standards Committee bertanggung jawab untuk mengeluarkan pernyataan mengenai pertanggungjawaban akuntan publik sehubungan dengan laporan keuangan suatu perusahaan yang tidak diaudit. Pernyataan ini di Amerika Serikat disebut Statements on Standards for Accounting and Review Services (SSARS) dan di Indonesia disebut Pernyataan Standard Jasa Akuntansi dan Review (PSAR). PSAR 1 disahkan pada 1 Agustus 1994 menggantikan pernyataan NPA sebelumnya mengenai hal yang sama. Bidang ini mencakup dua jenis jasa, pertama, untuk situasi dimana akuntan membantu kliennya menyusun laporan keuangan tanpa memberikan jaminan mengenai isinya (jasa kompilasi). Kedua, untuk situasi dimana akuntan melakukan prosedur-prosedur pengajuan pertanyaan dan analitis tertentu, sehinggga dapat memberikan suatu keyakinan terbatas bahwa tidak diperlukan perubahan apapun terhadap laporan keuangan bersangkutan (jasa review).
3) Standar atestasi lainnya.
34 mengembangkan standar yang terinci mengenai jenis jasa atestasi yang spesifik. Kedua, sebagai kerangka pedoman bagi para praktisi bila tidak terdapat atau belum ada standar spesifik seperti itu. Komite Kode Etik IAI di Indonesia dan Committee on Professional Ethics di Amerika Serikat menetapkan ketentuan perilaku yang harus dipenuhi oleh seorang akuntan publik yang meliputi standar teknis. Standar auditing, standar atestasi, serta standar jasa akuntansi dan review dijadikan satu menjadi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP).
6. Pengalaman
Pengalaman merupakan suatu proses pembelajaran dan pertambahan perkembangan potensi bertingkah laku baik dari pendidikan formal maupun non formal atau bisa diartikan sebagai suatu proses yang membawa seseorang kepada suatu pola tingkah laku yang lebih tinggi. Suatu pembelajaran juga mencakup perubahaan yang relatif tepat dari perilaku yang diakibatkan pengalaman, pemahaman dan praktek.
35 Dalam memandang pengaruh pengalaman terhadap pertimbangan auditor menghadapi preferensi klien, lebih cenderung mengaitkannya dengan faktor eksternal dari diri auditor, yaitu insentif kontekstual. Hal yang juga penting dikaitkan dengan hal ini adalah berkaitan dengan karakteristik individual auditor yang berpengalaman itu. Jadi, efek pengalaman dalam hal ini dihubungkan sebagai faktor internal dalam karakteristik diri auditor itu.
B. Tinjauan Penelitian Terdahulu
Adapun hasil-hasil sebelumnya dari penelotian-penelitian terdahulu mengenai topic yang berkaitan dengan penelitian ini dapat dilihat dalam table 2.1 berikut:
Judul Hasil Penelitian (Kesimpulan)
36
37
38
40 C. Kerangka Berfikir
Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam gambar 2.1.
Bersambung pada halaman berikutnya
Pengaruh Etika, Profesionalismen dan Pengalaman Audit terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik
Teori Atribusi, Teori Peran, dan Teori Auditing
Variabel Independen Variabel Dependen
Etika (X1)
Profesionalisme (X2)
Pengalaman Audit (X3)
Semakin Kompleksnya Tugas Audit dan Adanya Tuntutan untuk Meningkatkan untuk Meningkatkan Ketepatan
Pemberian Opini Akuntan Publik
Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik
41 Gambar 2.1 (Lanjutan)
Gambar 2.1
Skema Kerangka Pemikiran Model Analisis:
Regresi Berganda
Uji Kualitas Data: 1. Validitas 2. Reliabilitas
Uji Asumsi Klasik: 1. Multikolonieritas 2. Heteroskedastisitas 3. Normalitas
Uji Hipotesis: 1. Uji R2 2. Uji t 3. Uji F
Hasil Pengujian dan Pembahasan
42 D. Hipotesis
1. Etika terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik
Penelitian yang dilakukan oleh Herawaty dan Susanto (2009) dan Kusuma (2012) yang menyatakan bahwa etika berpengaruh positif signifikan terhadap pertimbangan tingkat materialitas dimana berarti berpengaruh dalam ketepatan pemberian opini audit oleh auditor.
Berdasarkan hal tersebut, maka keterkaitan antara etika dengan ketepatan pemberian opini akuntan publik dapat dirumuskan dalam hipotesis sebagai berikut:
H1: Etika berpengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik.
2. Profesionalisme terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik
43 Wahyudi dan mardiyah (2006), menyatakan bahwa sebagai profesional, akuntan publik mengakui tanggung jawabnya terhadap masyarakat, terhadap klien, dan terhadap rekan seprofesi, termasuk untuk berperilaku yang terhormat, sekalipun ini merupakan pengorbanan pribadi. Penelitian juga dilakukan oleh Herawaty dan Susanto (2009) yang menyatakan bahwa auditor professional dalam mendeteksi kekeliruan memiliki pengaruh positif terhadap tingkat materialitas dimana berarti berpengaruh dalam ketepatan pemberian opini audit oleh auditor.
Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut, maka keterkaitan antara profesionalisme dengan ketepatan pemberian opini audit dapat dirumuskan dalam hipotesis sebagai berikut:
H2: Profesionalisme berpengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik.
mm
44 Aji (2009) dalam Singgih dan Bawono (2010) menyatakan bahwa semakin banyak tugas yang dikerjakan, akan semakin mengasah keahliannya dalam mendeteksi suatu hal yang memerlukan perlakuan khusus yang banyak dujumpai dalam pekerjaannya dan sangat bervariasi karakteristiknya. Jadi dapat dikatakan bahwa seseorang jika melakukan pekerjan yang sama secara terus menerus, maka akan menjadi lebih cepat dan lebih baik dalam menyelesaikannya, serta telah banyak mengalami berbagai hambatan-hambatan atau kesalahan-kesalahan dalam pekerjaannya tersebut, sehingga dapat lebih cermat dan berhati-hati menyelesaikannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Herliansyah dan Ilyas (2006) yang menyatakan bahwa penggunaan pengalaman didasarkan pada asumsi bahwa tugas yang dilakukan secara berulang-ulang memberikan peluang untuk belajar melakukannya dengan yang terbaik.
Berdasarkan hal tersebut, maka keterkaitan antara pengalaman dengan ketepatan pemberian opini akuntan publik dapat dirumuskan dalam hipotesis sebagai berikut:
H3: Pengalaman berpengaruh positif terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik.
4. Etika, Profesionalisme dan Pengalaman Audit terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik
45 Bawono (2010), Gunawan (2012), serta Sabrina dan Januarti (2012), maka diduga bahwa etika, profesionalisme dan pengalaman audit secara simultan berpengaruh signifikan terhadap ketepatan pemberian opini akuntan publik. Sehingga dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H₄: Etika, profesionalisme dan pengalaman audit secara simultan
46 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Ruang Lingkup
Penelitian ini dilaksanakan di Jakarta pada tahun 2012 dengan objek penelitian auditor Kantor Akuntan Publik (KAP). Penelitian ini difokuskan kepada Pengaruh Etika, Profesionalisme, dan Pengalaman Audit terhadap Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik dalam proses pemeriksaan Laporan Keuangan. Penelitian ini merupakan penelitian kausalitas, yaitu melakukan pengujian pengaruh antara tiga variabel independen, yaitu Etika, Profesionalisme, dan Pengalaman Audit. Sedangkan sebagai variabel dependen, yaitu Ketepatan Pemberian Opini Akuntan Publik. Populasi dalam penelitian ini adalah Kantor Akuntan Publik yang berada di DKI Jakarta.
B. Sampel Penelitian
47 C. Metode Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan menggunakan data primer, sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli atau tidak melalui media perantara. Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei dengan menggunakan kuesioner. Kuesioner yang dikirimkan kepada para auditor yang terdaftar di KAP yang tersebar di wilayah Jakarta. Pengiriman kuesioner dilakukan secara langsung.
D. Metode Analisis Data
Metode analisis data menggunakan statistik deskriptif, uji kualitas data, uji asumsi klasik dan analisis data.
1. Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum, sum, range, kurtoris, dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2009).
2. Uji Kualitas Data
Untuk melakukan uji kualitas data atas data primer ini, maka peneliti menggunakan uji validitas dan reliabilitas.
a. Uji Validitas
48 valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dinyatakan valid jika pertanyaan atau pernyataan pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur pada kuesioner tersebut. Pengujian validitas dengan menggunakan Pearson Correlation yaitu dengan cara menghitung korelasi antara nilai yang diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan. Apabila Pearson Correlation yang didapat memiliki nilai di bawah 0,05 berarti data yang diperoleh adalah valid (Ghozali, 2009).
b. Uji Realibilitas
Uji realibilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan dua kali atau lebih terhadap gejala yang sama dengan menggunakan alat ukur yang sama. Suatu konstuk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbach Alpha > 0, 60 (Ghozali, 2009)
3. Uji Asumsi Klasik 1) Uji Normalitas
49 dengan titik-titik data yang menyebar di sekitar garis diagonal, dan penyebaran titik-titik data searah mengikuti garis diagonal (Santoso, 2004).
Penilitian ini juga menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang memiliki kriteria untuk normalitas dipenuhi jika hasil uji tidak signifikan untuk suatu taraf signifikasi (a) tertentu (dalam penelitian ini digunakan a sebesar 0,05). Sebaliknya, jika hasil uji signifikan maka normalitas tidak terpenuhi.
2) Uji Multikolonieritas
50 haruslah lemah (dibawah 0,5). Jika korelasinya kuat, maka terjadi problem multiko (Ghozali, 2009).
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas (Ghozali, 2009).
Deteksi ada atau tidaknya heterokedastisitas dapat dilihat dengan ada tidaknya pola tertentu pada grafik scaterplot. Jika ada pola tertentu maka mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Tetapi jika tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas (Ghozali, 2009).
51 4. Analisis Data
a. Analisis Regresi Berganda
Pengujian dalam penelitian ini menggunakan model regresi berganda. Rumus regresi berganda yang digunakan adalah sebagai berikut:
Y = α + β1 X1 + β2 X2 + β3 X3 + e
Keterangan:
Y = Ketepatan pemberian opini akuntan publik
α = Konstanta
β1,..3 = Koefisien regresi
X1 = Etika
X2 = Profesionalisme X3 = Pengalaman Audit e = error terms
b. Analisis Koefisien Determinan
Untuk mengetahui besarnya atau kecilnya persentase pengaruh variabel bebas (X) terhadap variabel berikut (Y) dipergunakan koefisien determinan dengan rumus sebagai berikut:
KD = r2 x 100%
Keterangan:
52 c. Uji Hipotesis
1) Uji t
Uji t bertujuan untuk menguji seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual. Untuk dapat mengetahui apakah ada pengaruh signifikan dari variabel masing-masing independen terhadap variabel dependen, maka nilai signifikannya dibandingkan dengan derajat kepercayaannya. Apabila tingkat signifikan lebih kecil dari 0,05 maka Ha diterima. Demikian pula sebaliknya jika tingkat signifikan lebih besar dari 0,05 maka Ha ditolak. Bila Ha diterima dan Ho ditolak berarti ada hubungan signifikan antara variabel independen dengan variabel dependen (Ghozali, 2009).
2) Uji F
53 Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
1) Jika Probabilitas > 0,05 maka Ha ditolak 2) Jika probabilitas < 0,05 maka Ha diterima
E. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel-variabel yang terdapat dalam penelitian ini merupakan variabel independen (X) dan variabel dependen (Y). Variabel-variabel tersebut dioperasionalkan sebagai berikut:
1) Variabel Independen a) Etika (X1)
Variabel etika ini diukur menggunakan pertanyaan-pertanyaan tentang kesadaran etis dan kepedulian pada etika profesi. Instrument pengukuran variabel ini menggunakan instrument pengukuran variabel yang digunakan oleh Justiana (2010). Semua item pertanyaan diukur pada skala likert 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan skala 5 (sangat setuju).
b) Profesionalisme (X2)
54 besar; seorang auditor bekerja keras untuk membantu KAP dimana dia
bekerja; selalu berpartisipasi dalam pertemuan eksternal auditor. Instrumen pengukuran variabel ini menggunakan instrumen yang
digunakan oleh Syamsiah (2010). Semua item pertanyaan diukur pada skala likert 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan skala 5 (sangat setuju).
c) Pengalaman (X3)
Variabel pengalaman audit ini diukur berdasarkan jangka waktu (tahun)/berapa lama seorang auditor bekerja. Instrumen pengukuran
variabel ini menggunakan instrumen yang digunakan oleh Sari (2011), semua item pertanyaan diukur menggunakan skala likert 1
(sangat tidak setuju) sampai dengan skala 5 (sangat setuju). 2) Variabel Dependen
a. Ketepatan pemberian Opini Akuntan publik
55 digunakan oleh Sari (2011) dan menggunakan skala likert, yaitu skala 1 (sangat tidak setuju) sampai dengan skala 5 (sangat setuju).
Tabel 3.1
Operasionalisasi Variabel
Variabel Indikator No. Butir
Pertanyaan
Skala Pengukuran Etika
(X1)
1. Menurut anda, etika profesi menjadi salah satu penentu kesuksesan auditor.
1
Skala interval
2. Kepedulian pada etika profesi adalah sangat baik untuk dilaksanakan.
2 3. Nilai nilai yang Anda
yakini dengan nilai-nilai yang ada dalam etika profesi auditor memiliki banyak kesamaan.
3
4. Aturan-aturan yang ada dalam etika profesi yang dikeluarkan oleh Institusi Akuntan Publik Indonesia telah sesuai dengan Standar Profesional Akuntan
Publik.
4
5. Kepedulian terhadap etika profesi dapat memberikan yang terbaik dalam
melakukan setiap pekerjaan audit.
5
6. Menurut Anda, auditor adalah profesi terbaik dibanding dengan profesi lainnya
6
56 Table 3.1 (Lanjutan)
Variabel Indikator No. Butir
Pertanyaan
Skala Pengukuran 7. Dalam situasi saat ini,
apabila ada sedikit
2. Saya akan tetap teguh pada profesi sebagai auditor meskipun saya mendapat tawaran pekerjaan lain dengan imbalan yang lebih besar.
9
3. Saya mau bekerja keras diatas batas normal untuk membantu KAP dimana saya bekerja.
10
4. Saya selalu berpartisipasi dalam pertemuan para eksternal auditor.
11 5. Saya merasa terlalu riskan
untuk meninggalkan pekerjaan saya sekarang.
12
57 Table 3.1 (Lanjutan)
Variabel Indikator No. Butir
Pertanyaan
58 Tabel 3.1 (Lanjutan)
Variabel Indikator No. Butir
Pertanyaan
3. Opini audir harus sesuai dengan temuan dan bukti audit yang ada.
22 4. Bukti yang cukup dan
kompeten sehingga tepat dalam memberikan opini audit
23
5. Kesalahan yang material dapat mempengaruhi jenis opini yang akan diberikan oleh auditor.
24
6. Auditor menolak memberikan pendapat dikarenakan ketidakpastian yang terdapat dalam pos-pos laporan keuangan.
59
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian 1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan terhadap akuntan publik (auditor) yang bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) yang berada di wilayah Jakarta. Auditor yang berpartisipasi dalam penelitian ini meliputi manajer, supervisor, auditor senior, maupun auditor junior yang melaksanakan pekerjaan di bidang auditing.
Pengumpulan data dilaksanakan melalui penyebaran kuesioner penelitian secara langsung seperti dengan cara mendatangi responden, melalui e-mail, serta secara tidak langsung melalui perantara kepada responden yang bekerja pada KAP di wilayah Jakarta dan terdaftar dalam Directory Kantor Akuntan Publik 2012 yang diterbitkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI). Penyebaran serta pengembalian kuesioner dilaksanakan mulai tanggal 16 Oktober 2012 hingga 18 Desember 2012.
60 kuesioner yang tidak dapat diolah karena tidak memenuhi kriteria sebagai sampel dan tidak diisi secara lengkap oleh responden sebanyak 10 buah atau 10%. Gambaran mengenai data sampel disajikan pada tabel 4.1.
Tabel 4.1
Data Sampel Penelitian
No. Keterangan Jumlah Persentase
1. Jumlah kuesioner yang disebar 100 100% 2. Jumlah kuesioner yang tidak kembali 18 18% 3. Jumlah kuesioner yang tidak dapat diolah 41 41% 4. Jumlah kuesioner yang dapat diolah 41 41% Sumber: Data primer yang diolah
Data distribusi penyebaran kuesioner penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 4.2.
Tabel 4.2
Data Distribusi Sampel Penelitian
No. Nama Kantor Akuntan Publik Kuesioner
dikirim
61 Table 4.2 (Lanjutan)
Data Distribusi Sampel Penelitian
No. Nama Kantor Akuntan Publik Kuesioner
dikirim
2. Karakteristik Profil Responden
Responden dalam penelitian ini adalah auditor yang bekerja pada KAP di DKI Jakarta. Berikut ini adalah deskripsi mengenai identitas responden penelitian yang terdiri dari jenis kelamin, usia, jabatan kerja, pendidikan terakhir dan pengalaman kerja responden.
a. Deskripsi responden berdasarkan jenis kelamin
Deskripsi mengenai data responden berdasarkan jenis kelamin ini dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3
Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Frequency Percent
Sumber: Data primer yang diolah
62 b. Deskripsi responden berdasarkan usia
Deskripsi mengenai data responden berdasarkan usia ini dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4
Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasarkan Usia
Frequency Percent
Valid Percent
Cumulativ e Percent Valid 20 - 25 tahun 25 61.0 61.0 61.0
26 - 30 tahun 11 26.8 26.8 87.8
31 - 35 tahun 2 4.9 4.9 92.7
36 - 40 tahun 3 7.3 7.3 100.0
Total 41 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah
Tabel 4.4 menunjukkan responden yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik sebanyak 25 responden atau 61,0% berusia 20-25 tahun. Sedangkan yang berusia 26-30 tahun sebanyak 11 responden atau 26,8%. Sebanyak 2 responden atau 4,9% berusia 31-35 tahun. Sedangkan yang berusia 36-40 tahun sebanyak 3 responden atau 7,3%.
c. Deskripsi responden berdasarkan jabatan kerja
63 Tabel 4.5
Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasarkan Jabatan Kerja
Frequency Percent
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan tabel 4.5 diatas diperoleh informasi bahwa mayoritas responden sebanyak 20 orang atau sebesar 48,8% menduduki posisi sebagai auditor junior. Responden yang menduduki jabatan sebagai auditor senior sebanyak 21 orang atau 51,2%.
d. Deskripsi responden berdasarkan pendidikan terakhir
Deskripsi mengenai data responden berdasarkan pendidikan terakhir ini dapat dilihat pada tabel 4.6
Tabel 4.6
Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Frequency Percent Sumber: Data primer yang diolah
64 responden atau 92,7%. Sebanyak 2 responden atau sekitar 4,9% berpendidikan terakhir Diploma III (D3) dan sisanya sebesar 2,4% atau sebanyak 1 orang berpendidikan terakhir Strata Dua (S2). e. Deskripsi responden berdasarkan pengalaman kerja
Deskripsi mengenai data responden berdasarkan pengalaman kerja ini dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7
Hasil Uji Deskripsi Responden Berdasarkan Pengalaman Kerja
Frequency Percent
Valid Percent
Cumulative Percent Valid <1 tahun 13 31.7 31.7 31.7
1 - 3 tahun 18 43.9 43.9 75.6 >3 tahun 10 24.4 24.4 100.0 Total 41 100.0 100.0
Sumber: Data primer yang diolah
65 B. Hasil Uji Instrumen Penelitian
1. Hasil Uji Statistik Deskriptif
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini diuji secara statistik deskriptif seperti yang terlihat dalam tabel 4.8.
Tabel 4.8
Hasil Uji Statistik Deskriptif
N Min Max Mean Std.
Deviation
Etika 41 23 35 29.07 3.312
Profesionalisme 41 18 25 21.17 2.036 Pengalaman Audit 41 17 35 25.07 3.958 Ketepatan Pemberian Opini 41 20 30 24.98 2.824 Valid N (listwise) 41
Sumber: Data primer yang diolah
66 2. Hasil Uji Kualitas Data
a. Hasil Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuesioner. Pengujian ini dilakukan dengan menggunakan Pearson Corelation, pedoman suatu model dikatakan valid jika tingkat signifikansinya dibawah 0,05 maka butir pertanyaan tersebut dapat dikatakan valid. Tabel berikut menunjukkan hasil uji validitas dari empat variabel yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Etika (ETK), Profesionalisme (PRF), Pengalaman Audit (PA), dan Ketepatan Pemberian Opini (KPO) dengan 41 sampel responden.
Tabel 4.9
Hasil Uji Validitas Etika
Nomor
Sumber: Data primer yang diolah