• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bahan psikologi sosial 2

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Bahan psikologi sosial 2"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

RANGKUMAN MATERI PSIKOLOGI SOSIAL 2

SELF, PSIKOLOGI MASSA, DAN APLIKASI PSIKOLOGI SOSIAL DALAM POLITIK Disusun Oleh : Kelompok 1

[Nur Delila Mesky; Amanda Dierathy Sewel; Muhammad Renaldy; Tiara Karliani; Ria Setiani Hayatunnufus; Helena Yolanda A.; Wira Permadi Azhar; Khairur Rahman; Ratna Budi Astuti] . Latar Belakang

Dalam psikologi sosial, terdapat bermacam teori. Teori mengenai diri, psikologi massa, dan beragam pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan pendekatan pikologis dalam memandang sesuatu.

. Rumusan Masalah

1. Bagaimana teori self dalam psikologi sosial? 2. Apakah psikologi massa itu?

3. Bagaimana kaitan antara psikologi dengan ilmu politik?

. Tujuan

1. Untuk mengetahui teori self dalam psikologi sosial. 2. Untuk mengetahui psikologi massa.

3. Untuk mengetahui kaitan antara psikologi dengan ilmu politik.

Teori Self

Self, dirumuskan sebagai cara individu bereaksi terhadap dirinya sendiri melalui pengalaman individu dengan dunia sebagai eksistensi kita. Teori self ini menjadi teori kepribadian yang dijelaskan melalui sudut pandang humanistik yang menekankan kapasitas seseorang untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk memilih takdirnya sendiri, dan berbagai kualitas positif manusia.

(2)

seseorang terhadap dirinya. Dalam perumusan kedua, self dianggap sebagai proses, self terdiri dari sekelompok proses berfikir, mengingat, dan mengamati.

Rumusan paling terkenal dan paling lengkap tentang teori self adalah yang dikemukakan oleh Carl Rogers. Karya Rogers yang inovatif memberikan dasar bagi lebih banyak penelitian kontemporer pada harga diri, pertumbuhan pribadi, dan determinasi diri.

Diri (Self) Melalui pengalaman individu dengan dunia, diri muncul “saya” atau “aku” sebagai eksistensi kita. Rogers tidak memercayai bahwa segala aspek diri disadari, tetapi ia meyakini semuanya dapat diakses ke kesadaran. Diri merupakan suatu keseluruhan, terdiri atas persepsi diri seseorang (seberapa menarik saya, seberapa baik saya bergaul dengan orang lain, seberapa baiknya saya menjadi) dan nilai-nilai yang kita lekatkan pada persepsi tersebut (baik/buruk, berharga/tidak berharga). Diri adalah keyakinan yang kita pegang tentang diri kita sendiri seperti karakteristik, kelebihan, kelemahan, dan situasi apa yang kita suka dan tidak suka. Seperangkat keyakinan tentang diri kita ini dinamakan self-concept (konsep diri).

Konsep diri (self-concept), merupakan tema sentral dalam pandangan Rogers. Yaitu keseluruhan persepsi dan penilaian individu mengenai kemampuan, prilaku, dan kepribadiannya..

Dalam membahas mengenai konsep diri, Rogers membedakan antara diri sebenarnya (real self), yaitu diri yang berasal dari pengalaman kita, dan diri ideal (ideal self), yaitu diri yang ingin kita capai. Semakin besar selisih perbedaan antara diri sebenarnya dan diri ideal, kondisi yang Rogers sebut ketidakselarasan (incongruence), semakin ia tidak dapat menyesuaikan diri. Untuk meningkatkan penyesuaian dan menjadi selaras, kita dapat mengembangkan lebih banyak persepsi positif pada diri sebenarnya, tidak terlalu khawatir mengenai apa yang orang lain inginkan, dan meningkatkan pengalaman positif kita dalam dunia.

Jadi, konsep diri adalah gagasan tentang diri sendiri yang mencakup keyakinan, pandangan, dan penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Konsep diri terdiri atas bagaimana cara kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana yang kita harapkan. Semakin baik atau positif konsep diri seseorang maka akan semakin mudah ia mencapai keberhasilan. Dengan konsep diri yang baik/positif, seseorang akan bersikap optimis, berani mencoba hal-hal baru, berani sukses dan berani pula gagal, penuh percaya diri, bersikap dan berpikir secara positif. Sebaliknya, semakin jelek atau negative konsep diri, maka akan semakin sulit seseorang untuk berhasil. Dengan konsep diri yang jelek/negatif akan mengakibatkan tumbuh rasa tidak percaya diri, takut gagal sehingga tidak berani mencoba hal-hal yang baru dan menantang, merasa diri bodoh, rendah diri, merasa diri tidak berguna, pesimis, serta berbagai perasaan dan perilaku inferior lainnya.

(3)

Penghargaan positif tanpa syarat (unconditional positive regard) adalah istilah dari Rogers untuk penerimaan, penghargaan, dan menjadi positif terhadap orang lain tanpa memedulikan perilaku seseorang. Ketika perilaku seseorang tidak pantas, menjengkelkan atau tidak dapat diterima, orang tersebut tetap memerlukan rasa hormat, kenyamanan, dan cinta dari orang lain (Assor, Roth, & Deci, 2004).

Rogers sangat meyakini bahwa penghargaan positif tanpa syarat mengangkat harga diri (self-esteem) seseorang. Jadi, harga diri adalah evaluasi terhadap dirinya sendiri secara positif atau negative. Evaluasi individu tersebut terlihat dari penghargaan yang ia berikan terhadap eksistensi dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri positif akan menerima dan menghargai dirinya sendiri sebagaimana adanya serta tidak cepat-cepat menyalahkan dirinya atas kekurangan atau ketidaksempurnaan dirinya. Rogers juga mengatakan bahwa kita dapat membantu orang lain mengembangkan konsep diri yang lebih positif jika kita empati dan tulus. Menjadi empati berarti menjadi seorang pendengar yang sensitif dan memahami perasaan orang lain yang sebenarnya. Menjadi tulus berarti terbuka dengan perasaan kita dan menghilangkan kepura-puraan dan kepalsuan.

Self-esteem (penghargaan diri) merupakan hasil evaluasi tentang diri kita sendiri. Artinya, kita tidak hanya menilai seperti apa kitaa tetapi juga menilai kualitas-kualitas diri kita.

Menurut Rogers, penghargaan positif tanpa syarat, empati, dan ketulusan merupakan tiga ramuan penting dalam hubungan antarmanusia yang sehat. Kita dapat menggunakan teknik-teknik tersebut untuk membantu orang lain merasa lebih baik mengenai dirinya sendiri danmembantu kita untuk bergaul lebih baik dengan orang lain.

Orang yang memiliki tingkat penghargaan diri yang tinggi biasanya memiliki pemahaman yang jelas tentang kualitas personalnya. Sedangkan orang yang memandang rendah dirinya sendiri kurang memiliki konsep diri yang jelas.

SELF CONTROL AND SELF MANAGEMENT THEORIES Self Control Theory

(4)

Menurut Drever, self control adalah kontrol atau pengendalian yang dijalankan oleh individu terhadap perasaan-perasaan, gerakan-gerakan hati, tindakan-tindakan sendiri. sedangkan Goleman mengartikan bahwa self control sebagai kemampuan untuk menyesuaikan dan mengendalikan dengan pola sesuai dengan usia. Bander menyatakan bahwa self control merupakan kemampuan individu dalam mengendalikan tindakan yang ditandai dengan kemampuan dalam merencanakan hidup, maupun frustasi-frustasi dan mampu menahan ledakan emosi.

Masa-masa remaja ditandai dengan emosi yang mudah meletup atau cenderung untuk tidak dapat mengkontrol dirinya sendiri, akan tetapi tidak semua remaja mudah tersulut emosinya atau tidak mampu untuk mengkontrol dirinya, pada remaja tertentu juga sudah matang dalam artian mampu mengkontrol setiap tindakan yang dilakukannya.

Self Management Theory

Secara istilah self management yaitu menempatkan individu pada tempat yang sesuai untuk dirinya dan menjadikan individu layak menempati suatu posisi sehingga tercapai suatu prinsip. Stephen M. Edelson, Ph.D. menyatakan bahwa self management adalah istilah psikologi yang digunakan untuk menjelaskan proses mencapai kemandirian (personal autonomy). Mahoney & Thoresen mengatakan Self-management berkenaan dengan kesadaran dan ketrampilan untuk mengatur keadaan sekitarnya yang mempengaruhi tingkah laku individu. Cormier & Cormier (1991:519) menyebutkan Self-management adalah suatu proses dimana klien mengarahkan sendiri pengubahan perilakunya dengan satu strategi atau gabungan strategi.

Beberapa pengertian di atas akhirnya dapat diambil simpulan bahwa Self-management (pengelolaan diri) adalah suatu kemampuan yang berkenaan dengan kesadaran diri dan ketrampilan di mana individu mengarahkan pengubahan tingkah lakunya sendiri dengan pemanipulasian stimulus dan respon baik internal maupun eksternal. Dengan lain Self-management merupakan kemampuan individu dalam mengelola potensi diri dan potensi lingkungan untuk mengubah perilakunya.

(5)

diri. Sedangkan strategi Self-management adalah cara, metode atau teknik dalam rangka mengembangkan kemampuan pengolahan pengelolaan diri.

Watson & Tharp (1981:11) menjelaskan bahwa Self-management yang sukses terdiri atas unsur penting yaitu:

1. Self-knowledge (pengetahuan diri)

Pengetahuan diri adalah unsur penting dari Self-management, karena pengetahuan tentang diri (Self-knowledge) adalah dasar dari program ini. Pengetahuan diri mendasari penentuan perilaku yang akan diubah, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, dan cara yang efektif untuk mengubahnya. Selain itu juga diperlukan pengetahuan diri tentang potensi diri dan potensi lingkungan yang dibutuhkan untuk pengubahan perilaku. Perilaku ini menurut Watson & Tharp (1983) meliputi perbuatan, pikiran dan perasaan.

Untuk memperoleh pengetahuan tentang perilaku target yang akan diubah dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dengan metode observasi dan perekaman. Untuk perilaku diri sendiri, observasi dan perekaman dapat dilakukan dengan mencatat perilaku yang berasal dari pantuan diri sendiri melalui proses mengingat catatan buku harian dan meminta pendapat orang lain tentang perilaku kita.

Aspek-aspek pengetahuan diri - Skema diri

Skema adalah struktur kognisi tentang beberapa konsep atau stimulasi yang terorganisir. Selain punya skema tentang sifat orang lain dan kejadian, seseorang juga punya skema tentang dirinya sendiri. Skema diri adalah bagaimana orang berpikir tentang kualitas personalnya dalam domain kehidupan tertentu.

Orang punya skema tentang dimensi yang penting bagi mereka, sebagai dasar pemikiran dan keyakinan. Namun tak semua skema diri adalah positif. Orang juga punya keyakinan tentang kualitas negatif dirinya sendiri.

Orang tidak hanya memiliki konsep diri tentang kualitas mereka saat sekarang, namun juga tentang ciri-ciri yang mungkin ada di masa depan. Possible selves adalah skema orang mengenai akan seperti apa diri mereka kelak di masa depan.

- Diskrepansi diri

Self-discrepancies adalah diskrepansi antara diri kita yang sesungguhnya atau sebagaimana yang seharusnya menurut orang lain.

(6)

Ought self adalah atribut personal yang diyakini seharusnya dimiliki seseorang. 2. Planning (Perencanaan)

Unsur kedua Self-management adalah perencanaan dalam program modifikasi perilaku diri sendiri. Perencanaan pengubahan perilaku diri sendiri harus didasari komitmen yang kuat untuk berubah, yaitu keinginan berubah menjadi lebih baik. Individu melakukan perencanaan pengubahan perilaku setelah mendapat informasi yang diperlukan tentang diri dan lingkungannya. Perencanaan dilakukan agar tujuan pengubahan perilaku dapat lebih mudah terscapai.

3. Information Gathering (penggabungan informasi)

Untuk membantu proses pengubahan perilaku diperlukan berbagai informasi sebagai data pendukung. Macam-macam informasi yang diperlukan meliputi informasi tentang jenis, faktor yang mempengaruhi, dan cara yang efektif merubah perilaku. Informasi tersebut digabungkan (dikumpulkan) agar dapat menghasilkan suatu petunjuk yang jelas dalam mengubah perilaku. 4. Modification of Plan (modifikasi perencanaan)

Modifikasi perencanaan haruslah didasari komitmen yang kuat, yaitu komitmen untuk terus melakukan pengubahan untuk mendapatkan perilaku yang lebih baik. Unsur ini pada pokoknya membahas tentang adanya tahap modifikasi perencanaan melalui tahap evaluasi.

PSIKOLOGI MASSA . Definisi

Psikologi adalah ilmu tentang perilaku dan proses mental. Massa dapat diartikan sebagai bentuk kolektivisme (kebersamaan). Jadi, Psikologi massa adalah studi mengenai tingkah laku banyak orang atau kumpulan manusia mengenai kelompok-kelompok yang terorganisir dengan longgar sekali. Psikologi Massa akan berhubungan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok massa. Fenomena kebersamaan ini diistilahkan pula sebagai Perilaku Kolektif (Collective Behavior).

(7)

Reicher & Potter (1985) mengidentifikasi adanya lima tipe kesalahan mendasar dalam psikologi tentang kerumunan (perilaku massa) di masa lalu dan masa kini. Kesalahan-kesalahan itu, meliputi yaitu :

1. Abstraksi tentang episode kerumunan bersumber dari konflik antar-kelompok 2. Kegagalan untuk menjelaskan proses dinamikanya

3. Terlalu dibesar-besarkannya anonimitas keanggotaannya 4. Kegagalan memahami motif anggota kerumunan

5. Selalu menekankan pada aspek negatif dari kerumunan.

Reicher (1987), Reicher & Potter (1985) selama ini melihat adanya dua bentuk bias dalam memandang teori kerumunan (crowds), yaitu bias politik dan bias perspektif. Bias politik terjadi karena teori kerumunan disusun sebagai usaha mempertahankan tatanan sosial dari mob dan tindakan kerumunan selalu dipandang sebagai konflik sosial. Sementara itu bias perspektif terjadi karena para ahli hanya berperan sebagai orang luar (outsider) yang hanya mengamati masalah tersebut. Akibatnya, terjadi kesalahan dalam memandang tindakan kerumunan secara objektif.

. Kondisi-Kondisi Pembentuk Perilaku Massa

Neil Smelser mengidentifikasi beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif , yaitu:

1. Structural conduciveness: beberapa struktur sosial yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, seperti: pasar, tempat umum, tempat peribadatan, mall, dst.

2. Structural Strain: yaitu munculnya ketegangan dalam masyarakat yang muncul secara tersturktur. Misalnya: antar pendukung kontestan pilkada.

3. Generalized beliefs: share interpretation of event.

4. Precipitating factors: ada kejadian pemicu (triggering incidence). Misalnya: ada pencurian, ada kecelakaan.

5. Mobilization for actions: adanya mobilisasi massa. Misalnya: aksi buruh, rapat umum suatu ORMAS, dst .

6. Failure of Social Control – akibat agen yang ditugaskan melakukan kontrol sosial tidak berjalan dengan baik.

(8)

1. Crowd (Kerumunan)

Secara deskriptif Milgram (1977) melihat kerumunan (crowd) sebagai: a. Sekelompok orang yang membentuk agregasi (kumpulan)

b. Jumlahnya semakin lama semakin meningkat

c. Orang-orang ini mulai membuat suatu bentuk baru (seperti lingkaran)

d. Memiliki distribusi diri yang bergabung pada suatu saat dan tempat tertentu dengan lingkaran (boundary) yang semakin jelas

e. Titik pusatnya permeable dan saling mendekat.

Ada beberapa bentuk kerumunan (Crowd) yang ada dalam masyarakat, yaitu:

1. Temporary Crowd: orang yang berada pada situasi saling berdekatan di suatu tempat dan pada situasi sesaat.

2. Casual Crowd: sekelompok orang yang berada di ujung jalan dan tidak memiliki maksud apa-apa.

3. Conventional Crowd: audience yang sedang mendengarkan ceramah.

4. Expressive Crowd: sekumpulan orang yang sedang nonton konser musik yang menari sambil sesekali ikut melantunkan lagu.

5. Acting Crowd atau Rioting Crowd: sekelompok massa yang melakukan tindakan kekerasan. 6. Solidaristic Crowd: kesatuan massa yang munculnya karena didasari oleh kesamaan ideologi. 2. Mob

Mob adalah kerumunanan (Crowds) yang emosional, cenderung melakukan kekerasan/penyimpangan (violence) dan tindakan destruktif. Umumnya mereka melakukan tindakan melawan tatanan sosial yang ada secara langsung. Hal ini muncul karena adanya rasa ketidakpuasan, ketidakadilan, frustrasi, adanya perasaan dicederai oleh institusi yang telah mapan atau lebih tinggi. Bila mob ini dalam skala besar, maka bentuknya menjadi kerusuhan massa. Mereka melakukan pengrusakan fasilitas umum dan apapun yang di pandang menjadi sasaran kemarahanannya.

3. Panic

(9)

hal ini tidak terjadi ketika mereka mulai tenang. Bentuk lebih parah dari kejadian panik ini adalah Histeria Massa. Pada histeria massa ini terjadi kecemasan yang berlebihan dalam masyarakat. Misalnya: munculnya issue gempa bumi, tsunami, banjir.

4. Rumors

Rumors adalah suatu informasi yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya, dan dikomunikasikan yang muncul dari satu orang kepada orang lain (issue sosial). Umumnya terjadi pada situasi di mana orang seringkali kekurangan informasi untuk membuat interpretasi yang lebih komprehensif. Media yang digunakan umumnya adalah telepon.

5. Opini Public

Opini Public adalah sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat. Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan / perspektif. Konflik bisa sangat potensial terjadi pada masyarakat yang kurang memahami akan masalah yang menjadi interes dalam masayarakat tersebut. Misalnya: adanya perbedaan pandangan antar masyarakat tentang hukuman mati, pemilu, penetapan undang-undang tertentu, dan sebagainya. Bentuknya biasanya berupa informasi yang beda. Namun, dalam kenyataannya bisa menjadi stimulator konflik dalam masyarakat.

6. Propaganda

Propaganda adalah informasi atau pandangan yang sengaja digunakan untuk menyampaikan atau membentuk opini publik. Biasanya diberikan oleh sekelompok orang, organisasi, atau masyarakat yang ingin tercapai tujuannya. Media komunikasi banyak digunakan untuk melalukan propaganda ini. Kadangkala juga berupa pertemuan kelompok (crowds).Penampilan dari public figure kadang kala menjadi senjata yang ampuh untuk melakukan proraganda ini. . Hubungan Antara Perilaku Massa Dengan Agresi

Banyak pandangan yang menyatakan bahwa perilaku kolektif berkatian erat dengan tindakan agresi / kekerasan. Bahkan sejumlah studi banyak dilakukan untuk melihat pengaruh berkumpulnya orang dalam massa terhadap kekerasan yang ditimbulkannya. Pendekatan keamanan selama ini juga selalu memandang bahwa adanya kumpulan orang selalu disikapi sebagai bentuk potensi konflik, dan kadangkala tindakan antisipasi yang dilakukannya sangat berlebihan. Ciri penting yang harus dipahami petugas apakah kumpulan dapat mengakibatkan potensi konflik?

(10)

2. Apakah ada stimulator / pemicu dari lingkungan yang membahayakan? Alat agresi apakah muncul dalam kerumunan massa tu. Batu, pentungan, senjata tajam, dll, sangat mendorong munculnya kekerasan.

3. Apakah ada provokator yang terorganisir? Provokator selalu menyemangati para anggota kelompoknya untuk tetap melakukan tindakan demonstrasi.

4. Apakah situasinya panas atau hujan? Situasi panas dapat membuat situasi tidak nyaman, dan situasi ini dapat mudah menyulut kekerasan.

5. Apakah munculnya sesaat atau bersifat kronis? Perilaku kolektif yang munculnya sesaat umumnya tidak menimbulkan agresi, terkecuali memang sudah ada konflik didalamnya.

6. Adakah keberpihakan dalam perilaku kolektif ?Konsep ini muncul dari adanya pemahamana bahwa bila ada dua kelompok atau lebih yang sedang berkompetisi, maka mereka akan saling berusaha untuk mengalahkan yang lain.

7. Adakah motif dasar yang melatarbelakangi munculnya perilaku kolektif? Perilaku kolektif akan menjadi sangat berbahaya apabila dalam kolektivitasnya itu dipicu oleh masalah kebutuhan pokok.

8. Apakah ada organisasi yang mensponsori? Kekerasan akan semakin meningkat konstelasinya apabila ada dukungan sponsorship yang kuat, sehingga perilaku kolektif ini akan berlangsung lama. Oleh karena itu, kesiapan logistik yang cukup harus dilakukan dan dicarinya upaya strategi yang tepat untuk mengatasinya.

D. Teori-Teori Perilaku Kolektif

1. Social Contagion Theory (Teori Penularan sosial) menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. mereka melakukan tindakan meniru/imitasi.

2. Emergence Norm Theory: menyatakan bahwa perilaku didasari oleh norma kelompok, maka dalam perilaku kelompok ada norma sosial mereka yang akan ditonjolkannya. Bila norma ini dipandang sesuai dengan keyakinannya, dan berseberangan dengan nilai / norma aparat yang bertugas, maka konflik horizontal akan terjadi.

3. Convergency Theory: menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadian di mana ketika mereka berbagi (convergence) pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian. Orang akan mengumpul bila mereka memiliki minat yang sama dan mereka akan terpanggil untuk berpartisipasi.

(11)

E.Cara Menyikapi Perilaku Massa

1. Memahami bentuk perilaku kolektif. 2. Memahami motif perilaku kolektif. 3. Perencanaan penyelesaian yang matang. 4. Pengendalian diri yang baik.

5. Keberanian dalam bersikap.

Aplikasi Psikologi Sosial dalam Bidang Politik . Pengertian dari Ilmu Psikologi Politik

Psikologi politik merupakan pertemuan antara ilmu politik dan ilmu psikologi dalam dimensi epistemologis dan ontologis. Oleh karena itu perlu diuraikan satu persatu tentang pengertian kedua disiplin ilmu tersebut.

. Definisi ilmu Politik dan Ilmu Psikologi

Ada beberapa definisi tentang ilmu politik, diantaranya:

Lasswell ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh dan kekuasaan.

Paul Janet : ilmu yang mengatur perkembangan Negara begitu juga prinsip- prinsip pemerintahan. Pendapat ini didukung oleh R.N. Gilchrist.

Bluntschli, Garner dan Frank Goodnow: ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari lingkungan kenegaraan.

Seely dan Stephen Leacock: ilmu politik merupakan ilmu yang serasi dalam menanggani pemerintahan.

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat dikemukakan bahwa Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang mempelajari :

Teori dan praktik politik,

Deskripsi dan analisa sistem politik, dan Perilaku politik.

(12)

mempelajari kegiatan manusia dari segi-segi ekstern (lingkungan sosial, fisik, peristiwa-peristiwa, gerakan-gerakan massa) maupun dari segi intern (kesehatan fisik perorangan, semangat, dan emosi). Sehingga dapat dikemukakan bahwa psikologi (sosial) mempengaruhi suatu hasil keputusan dalam kebijaksanaan politik dan kenegaraan dengan memperhatikan sikap dan tindakan-tindakan sosial masyarakat yang melahirkan tuntutan-tuntutan terhadap kebijakan politik suatu pemerintahan.Antara psikologi dan ilmu politik sama-sama mempelajari tingkah laku manusia.

. Hubungan Ilmu Psikologi dengan Politik

Kajian utama dari hubungan antara Psikologi dan Politik adalah berkaitan dengan pikiran, emosi, dan perilaku manusia dalam politik. Contoh aspek yang diteliti dalam psikologi politik adalah, pemerintahan, aktor pengambil keputusan, organisasi internasional dan partai – partai politik. Penggabungan antara konsep dan teori ilmu Psikologi dengan ilmu Politik merupakan hal yang sangat mengesankan. Perspektif Psikologi Politik dapat memberikan satu bentuk analisa yang lebih komprehensif terhadap sebuah fenomena politik. Politik tidak lepas dari seorang aktor politik, entitas politik dan tata pemerintahan politik. Setiap aspek tersebut sangat berkaitan erat dengan individu (manusia) sebagai pelaksana politik.

Dapat dikatakan bahwa kedua ilmu ini mempunyai titik temu. dan

Oleh karena itu Psikolog sebagai ahli psikologi dan politikus atau ahli politik dapat memberikan peran dalam menjelaskan tentang persoalan-persoalan yang menarik yang berkaitan dengan kehidupan politik seperti :

- Kebijakan politik dalam negeri dan luar negeri

- Konflik etnis dari kekerasan ringan sampai pembantaian etnis - Motivasi aksi terorisme dan pencegahannya

- Peta pikiran dari penganut rasis - Perilaku memilih

- Memahami elemen-elemen kepribadian secara mendalam dari pemimpin politik

(13)

Psikologi merupakan ilmu yang mempunyai peranan penting dalam bidang politik, dimana teori yang diperlukan adalah “massa psikologi” atau “Psikologi Massa”

Penting bagi politisi untuk menyelami gerakan jiwa dari rakyat pada umumnya, golongan tertentu pada khususnya.

Psikologi sosial dapat menjelaskan bagaimana sikap dan harapan masyarakat dapat melahirkan tindakan serta tingkah laku yang berpegang teguh pada tuntutan masyarakat.

C. Penutup

Teori self, merupakan teori cara kita memersepsikan diri kita dan dunia di sekitar kita yang menjadi unsur kunci dalam kepribadian. Menekankan kapasitas diri untuk pertumbuhan pribadi, kebebasan untuk memilih takdir sendiri, dan berbagai kualitas positif diri. Tiap-tiap diri memiliki kemampuan untuk mengkonsep diri, mengaktualisasi diri, mengendalikan diri, dan mencapai apa yang kita inginkan untuk memahami diri dan dunia kita.

Jadi, dengan teori self, terdapat dimensi pengetahuan yang memberi penjelasan dari “siapa saya” yang akan memberi gambaran diri kita. Dimensi harapan, yaitu kita memiliki sejumlah pandangan diri yang dicita-citakan di masa depan. Dan dimensi penilaian kita terhadap diri kita sendiri yang memiliki rasa menyayangi diri sendiri dan harga diri yang tinggi.

Terdapat juga self control theory dan self management theory. self control merupakan kemampuan untuk menangguhkan kesenangan naluriah langsung dan keputusan untuk memperoleh tujuan masa depan yang biasanya dinilai secara sosial. Self control adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan yang dianggapnya penting dengan melakukannya secara individu, mengambil yang positif dan menghindari hal yang tidak diinginkan.

Secara istilah self management yaitu menempatkan individu pada tempat yang sesuai untuk dirinya dan menjadikan individu layak menempati suatu posisi sehingga tercapai suatu prinsip. Self-management (pengelolaan diri) adalah suatu kemampuan yang berkenaan dengan kesadaran diri dan ketrampilan di mana individu mengarahkan pengubahan tingkah lakunya sendiri dengan pemanipulasian stimulus dan respon baik internal maupun eksternal.

Self-management yang sukses memiliki unsur penting, yaitu : Self-knowledge (pengetahuan diri), Planning (Perencanaan), Information Gathering (Penggabungan informasi), Modification of plan (Modifikasi rencana).

(14)

Kondisi-Kondisi Pembentuk Perilaku Massa menurut Neil Smelser yakni Structural conduciveness, Structural Strain, Generalized beliefs, Precipitating factors, Mobilization for actions, dan Failure of Social Control. Macam-macam perilaku kolektfi adalah Crowd, Mob, Panic, Rumors, Opini Public, dan Propaganda

Teori-Teori Perilaku Kolektif terdiri atas Social Contagion Theory (Teori Penularan sosial), Emergence Norm Theory, Convergency Theory, dan Deindivuation Theory.

Psikologi politik merupakan pertemuan antara ilmu politik dan ilmu psikologi dalam dimensi epistemologis dan ontologis.

Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang mempelajari : Teori dan praktik politik, Deskripsi dan analisa sistem politik, dan Perilaku politik. Sedangkan Psikologi merupakan ilmu yang mempelajari karakteristik, perilaku dan fenomena pikiran manusia.

Ilmu psikologi sangat diperlukan dalam politik dikarenakan dalam politik diperlukan adanya kemampuan untuk memahami tuntutan peran dari masyarakat, kemampuan memahami massa dan kemampuan untuk mempengaruhi orang lain.

PERTANYAAN :

1. Pada saat kita yakin akan diri kita seperti yakin akan kualitas diri kita, maka kita sudah mempunyai ...

a. Self esteem b. Self concept c. Self regulation d. Self presentation e. Self management Jawaban: B

2. Self-management yang sukses terdiri atas unsur penting, yaitu :

(15)

e. Modification of plan, self-knowledge, information gathering, dan planning. Jawaban : A

3. Gerakan massa yang merombak norma lama membentuk norma baru termasuk dalam gerakan massa yang…

a. Progresif b. Status quo c. Reaksioner d. Pasif e. Aktif Jawaban : A

4. Neil Smelser mengidentifikasi beberapa kondisi yang memungkinkan munculnya perilaku kolektif, kecuali…

a. Structural Conduciveness b. Generalized Belief c. Structural Strain d. Precipitating Factors e. Temporary crowd Jawaban : E

5. Menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadian di mana ketika mereka berbagi pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadian, merupakan pengertian dari…

(16)

e. Social Theory Jawaban : A

6. Tindakan yang terorganisir di dalam perilaku kolektif seseorang atau sekelompok orang yang ingin melakukan perubahan sosial dalam kelompoknya, institusinya, maupun masyarakatnya. Tindakan ini disebut dengan…

a. Collective Behavior b. Social Movement

c. Structural conduciveness d. Mobilization for actions e. Structural Strain

Jawaban : B

7. Menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa. mereka melakukan tindakan meniru/imitasi merupakan pengertian dari...

a. Convergency Theory b. Social Contagion Theory c. Deindividuatiom Theory d. Emergence Norm Thepry e. Social Theory

Jawaban : B

8. Ilmu yang mengatur perkembangan Negara begitu juga prinsip- prinsip pemerintahan adalah definisi ilmu politik yang dikemukakan oleh

a. Paul Janet

(17)

d. Hutahuruk

e. Prof. Mr. Moh. Yamin Jawaban : A

9. Ilmu psikologi yang berperan penting dalam bidang politik adalah ilmu psikologi yang membahas teori

a. Teori Medan

b. Teori identitas sosial c. Teori peran

d. Teori psikologi massa e. Teori agresi

Jawabadn : D

Resume materi konsep diri, teori peran, dan aplikasi psikologi sosial di bidang ekonomi Disusun Oleh:

[Anita Dwi Oktari; Muhammad Chairil Akbar; Riana Khairul; Rif’atul Hasanah; Novita Elmayandari; Muhammad Rifqi; Fajar Bayu Raynadi; Ryskie Arrahman]

Kata pengantar

Salah satu penentu dalam keberhasilan perkembangan adalah konsep diri.Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Perasaan individu bahwa ia tidak mempunyai kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki. Pandangan dan sikap negatif terhadap kualitas kemampuan yang dimiliki mengakibatkan individu memandang seluruh tugas sebagai suatu hal yang sulit untuk diselesaikan, maka dari itu sangatlah penting untuk seseorang memahami konsep diri.

(18)

“menjadi” manusia. Dalam pergaulan hidup, manusia menduduki fungsi yang bermacam-macam. Di satu sisi ia menjadi anak buah, tetapi di sisi lain ia adalah pemimpin. Di satu sisi ia adalah ayah atau ibu,tetapi di sisi lain ia adalah anak. Di satu sisi ia adalah kakak, tetapi di sisi lain ia adalah adik. Demikian juga dalam posisi guru dan murid, kawan dan lawan, buruh dan majikan, besar dan kecil, mantu dan mertua dan seterusnya. Dalam hal ini kita akan lebih mengetahui bahwa teori peran itu penting untuk kita ketahui dalam kehidupan sehari-hari.

. Rumusan Masalah :

1. Apa pengertian dari konsep diri?

2. Apa saja komponen yang ada dalam konsep diri?

3. Apakah ada faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri? 4. Apa pengertian dari teori peran?

5. Bagaimanakah konsep dari teori peran?

6. Bagaimana aplikasi psikologi sosial dalam bidang ekonomi? . Tujuan Penulisan :

1. Mengetahui pengertian dari konsep diri

2. Mengetahui apakah ada faktor-faktor yang mempengaruhi harga diri 3. Mengetahui pengertian teori peran dan konsep dari teori peran

4. Mengetahui bagaimana aplikasi bidang ekonomi dalam psikologi sosial

. Pengertian konsep diri

Konsep diri (self consept)merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia.Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya.Para ahli psikologi berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian. Konsep diriseseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

(19)

diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7).Pendapat tersebut dapat diartikan bahwa konsep diri yang dimiliki individu dapat diketahui lewat informasi, pendapat, penilaian dari orang lain mengenai dirinya. Individu akan mengetahui dirinya cantik, pandai, atau ramah jika ada informasi dari orang lain mengenai dirinya.

Sebaliknya individu tidak tahu bagaimana ia dihadapkan orang lain tanpa ada informasi atau masukan dari lingkungan maupun orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari secara tidak langsung individu telah menilai dirinya sendiri. Penilaian terhadap diri sendiri itu meliputi watak dirinya, orang lain dapat menghargai dirinya atau tidak, dirinya termasuk orang yang berpenampilan menarik, cantik atau tidak.

Seperti yang dikemukakan Hurlock (1990:58) memberikan pengertian tentang konsep diri sebagai gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya.Konsep diri ini merupakan gabungan dari keyakinan yang dimiliki individu tentang mereka sendiri yang meliputi karakteristik fisik, psikologis, sosial, emosional, aspirasi dan prestasi.

Menurut William D. Brooks bahwa pengertian konsep diri adalah pandangan dan perasaan kita tentang diri kita (Rakhmat, 2005:105). Sedangkan Centi (1993:9) mengemukakan konsep diri (self-concept) tidak lain tidak bukan adalah gagasan tentang diri sendiri, konsep diri terdiri dari bagaimana kita melihat diri sendiri sebagai pribadi, bagaimana kita merasa tentang diri sendiri, dan bagaimana kita menginginkan diri sendiri menjadi manusia sebagaimana kita harapkan. Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil. Maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.

Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalahcara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

. Komponen konsep diri

Konsep diri terdiri dari beberapa komponen, yaitu : 1. Gambaran diri

(20)

penampilan dan potensi tubuh saat ini dan masa lalu yang secara berkesinambungan di modifikasi dengan pengalaman baru setiap individu.( Stuart dan Sundeen, 1998 ).

Beberapa hal terkait citra tubuh antara lain :

a) Fokus individu terhadap bentuk fisiknya lebih terasa pada usia remaja.

b) Bentuk badan, tinggi badan, serta tanda-tanda kelamin sekunder menjadi citra tubuh.

c) Cara individu memandang dirinya berdampak penting terhadap aspek psikologis individu tersebut.

d) tubuh seseorang sebagian dipengaruhi oleh sikap dan respon orang lain terhadap dirinya dan sebagian lagi oleh eksplorasi individu terhadap dirinya.

e) Gambaran yang realistis tentang menerima dan menyukai bagian tubuh akan memberi rasa aman serta mencegah kecemasan dan meningkatkan harga diri.

f) Individu yang stabil , realistis, dan konsisten terhadap citra tubuhnya terhadap citra tubuhnya dapat mencapai kesuksesan.

2. Ideal Diri

Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu (Stuart and Sundeen ,1991). Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai.

Faktor yang mempengaruhi ideal diri ( Ana Keliat, 1998 ), yaitu :

1. Kecenderungan individu menetapkan ideal pada batas kemampuannya. 2. Faktor budaya akan mempengaruhi individu menetapkan ideal diri.

3. Ambisi dan keinginan untuk melebihi dan berhasil, kebutuhan yang realistis, keinginan untuk mengklaim diri dari kegagalan, perasaan cemas dan rendah diri.

4. Kebutuhan yang realistis.

5. Keinginan untuk menghindari kegagalan. 6. Perasaan cemas dan rendah diri.

(21)

• Pembentukan ideal diri pertama kali terjadi pada masa kanak-kanak.

• Masa remaja terbentuk mulai proses identifikasi terhadap orang tua, guru dan teman.

• Ideal diri dipengaruhi oleh orang-orang yang dianggap penting dalam memberikan tuntunan dan harapan.

• Ideal diri mewujudkan cita-cita dan harapan pribadi berdasarkan norma, keluarga dan sosial. 3. Harga Diri

Harga diri merupakan penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh perilaku seseorang dalam memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen, 1991). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992).

Cara- cara untuk meningkatkan harga diri seseorang : 1. Memberinya kesempatan untuk berhasil.

2. memberinya gagasan.

3. Mendorongnya untuk beraspirasi. 4. Membantunya membentuk koping.

Faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan harga diri, seperti : • Perkembangan individu

Faktor predisposisi dapat dimulai sejak masih bayi, seperti penolakan orang tua menyebabkan anak merasa tidak dicintai dan mengkibatkan anak gagal mencintai dirinya dan akan gagal untuk mencintai orang lain.

• Ideal Diri tidak realistis

Individu yang selalu dituntut untuk berhasil akan merasa tidak punya hak untuk gagal dan berbuat kesalahan.

• Gangguan fisik dan mental

(22)

Orang tua yang mempunyai harga diri yang rendah tidak mampu membangun harga diri anak dengan baik.

• Pengalaman traumatik yang berulang,misalnya akibat aniaya fisik, emosi dan seksual.

Individu merasa tidak mampu mengontrol lingkungan.Respon atau strategi untuk menghadapi trauma umumnya mengingkari trauma, mengubah arti trauma, respon yang biasa efektif terganggu.Akibatnya koping yang biasa berkembang adalah depresi dan denial pada trauma.

4. Peran

Peran merupakan serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial.Peran yang ditetapkan adalah perandimana seseorang tidak mempunyai pilihan.Peran yang diterima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.( Stuart dan Sundeen, 1998 ). Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat.( Keliat, 1992 ) .Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal.

5. Identitas Diri

Identitas adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi, dan keunikan individu.Beberapa hal terkait dengan identitas diri antara lain :

• Identitas personal terbentuk sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan pembentukan konsep diri.

• Individu yang memiliki identitas diri yang kuat akan memandang dirinya tidak sama dengan orang lain.

• Identitas jenis kelamin berkembang secara bertahap.

• Kemandirian timbul dari perasaan berharga, sikap menghargai diri sendiri, kemampuan dan penguasaan diri.

• Individu yang mandiri dapat mengatur dan menerimanya dirinya.

(23)

1. Tingkat perkembangan dan kematangan

Perkembangan anak seperti dukungan mental, perlakuan dan pertumbuhan anak akan mempengaruhi konsep diri.Contoh, bayi membutuhkan lingkungan yang mendukung dan penuh kasih sayang, sedangkan anak membutuhkan kebebasan untuk belajar dan menggali hal-hal baru. 2. Budaya

Pada usia anak-anak nilai akan diadopsi dari orang tuanya, kelompoknya dan lingkungannya.Orang tua yang bekerja seharian akan membawa anak lebih dekat pada lingkungannya.

3. Faktor Internal dan Eksternal

Kekuatan dan perkembangan pada individu sangat berpengaruh terhadap konsep diri.Pada sumber internal misalnya, orang yang humoris koping individunya lebih efektif.Sumber eksternal misalnya adanya dukungan dari masyarakat dan ekonomi yang kuat.

4. Pengalaman sukses dan gagal

Ada kecenderungan bahwa riwayat sukses akan meningkatkan konsep diri demikian pula sebaliknya.

5. Stresor

Stresor dalam kehidupan misalnya perkawinan, pekerjaan baru, ujian dan ketakutan. Jika koping individu tidak kuat maka akan menimbulkan depresi, menarik diri dan kecemasan.

6. Usia, keadaan sakit, dan trauma

Usia tua, keadaan sakit akan mempengaruhi persepsi dirinya.

. Pengerian teori peran

Menurut Kozier Barbaraperan adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu sistem. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil.Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seesorang pada situasi sosial tertentu.Peran adalah deskripsi sosial tentang siapa kita dan kita siapa. Peran menjadi bermakna ketika dikaitkan dengan orang lain, komunitas sosial atau politik. Peran adalah kombinasi adalah posisi dan pengaruh.

(24)

untuk menghadapi dan memenuhi. Model ini didasarkan pada pengamatan bahwa orang berperilaku dengan cara yang dapat diprediksi, dan bahwa perilaku individu adalah konteks tertentu, berdasarkan posisi sosial dan faktor lainnya. Teater adalah metafora sering digunakan untuk menggambarkan teori peran.

. Konsep teori peran

Menurut teori ini, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana peran setiap orang dalam pergaulannya. Dalam skenario itu sudah `tertulis” seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak, mantu, mertua dan seterusnya. Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara.Jadi perilaku ditentukan oleh peran sosial.Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya.Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam kaitannya dengan peran yang harus dilakukan, tidak semuanya mampu untukmenjalankan peran yang melekat dalam dirinya.Oleh karena itu, tidak jarang terjadi kekurangberhasilan dalam menjalankan perannya.Dalam ilmu sosial, ketidakberhasilan ini terwujud dalam role conflict dan role strain.

• Role Conflict

Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadang-kadang peran-peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan. Menurut Hendropuspito [1989], konflik peran sering terjadi pada orang yang memegang sejumlah peran yang berbeda macamnya, kalau peran-peran itu mempunyai pola kelakuan yang saling berlawanan meski subjek atau sasaran yang dituju sama.

• Role Strain

(25)

pekerja (terhadap karyawan-karyawan lain di perusahaan itu), dan sebagai penjual (terhadap konsumen dan masyarakat yang ditawari produk perusahaan tersebut).

Faktor-faktor Penyesuaian Peran

Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam menyesuaikan diri dengan peran yang harus dilakukan, yaitu :

a. Kejelasan perilaku dan pengetahuan yang sesuai dengan peran

b. Konsistensi respon orang yang berarti terhadap peran yang dilakukan c. Kesesuaian dan keseimbangan antar peran yang diemban

d. Keselarasan budaya dan harapan individu terhadap perilaku peran

e. Pemisahan perilaku yang akan menciptakan ketidak sesuaian perilaku peran

. Aplikasi bidang ekonomi dalam psikologi sosial

Ilmu ekonomi mempelajari segala perilaku individu yang berhubungan dengan hal-hal yang berkaitan dengan ekonomi,perilaku manusia dalam memilih dan menciptakan kemakmuran.Pengertian perilaku dalam ilmu ekonomi dijelaskan bahwa segala sesuatau yang berhubungan dengan tindakan yang akan dilakukan didasarkan atas hukum ekonomi. Asumsi dasar yang muncul dalam perilaku tersebut dapat berupa dalam proses pengambilan keputusan, konsep konsekuensi yang akan diterima nantinya di didasarkan atas hukum-hukum dalam ekonomi yang secara konsep di gambarkan dalam bentuk yang kaku dan formal (Van Raij dalam Antonides, 1991).

Perilaku ekonomi ini memunculkan bentuk pengambilan keputusan yang menitikberatkan atas pertimbangan-pertimbangan yang bersifat rasional atau logika dan berusaha untuk memaksimalkan penggunaannya dalam sudut pandang ekonomi (Hayes dalam Antonides). Sifat rasional di sini diartikan sebagai ciri dari tindakan yang

1. Memperhitungkan untung-rugi,

2. Mementingkan keuntungan dirisendiri (self-interest),

3. Memberikan hasil yang sebesar-besarnyadengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Pengertian rasional itumendasari cara pikir para ekonom sebagai berikut:

(26)

2. Masalah yangmereka kaji intinya adalah seputar menetapkan keuntungan dan kerugian; 3. Analisis yang mereka tampilkan adalah analisis marjinal;

4. Menerapkan nilai waktu terhadap uang, dalam arti Rp. 100 sekarang lebih berharga dari Rp. 100 besok karena bisa diinvestasi dan mendapat bunga.

Menurut pandangan ekonomi rasional itu, dalam kondisi apapun manusia selalu menampilkan perilaku yang didasari oleh perhitungan untung-rugi dengan kepentingan untuk menguntungkan dirinya.Perilaku yang ditampilkan selalu diusahakan agar sesedikit mungkin disertai pengorbanan untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya. Contoh, seorang pedagang akan menjual baju kepada orang yang jadi korban bencana banjir dengan harga yang sama dengan yang ia tawarkan kepada orang yang tidak mengalami bencana. Pertimbangan pedagang itu adalah ia harus mendapat untung dalam berdagang lepas dari kondisi yang dialami atau karakteristik yang dimiliki oleh pembelinya. Faktor sentimen, solidaritas, motif altruistik dan sebagainya tidak menjadi pertimbangan pedagang itu.Yang penting bagi pedagang itu adalah mendapatkan untung sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.

Pemahaman terhadap perilaku ekonomi yang tak terbatas hanya padaurusan uang dan dagang menjadikan perilaku ekonomi sebagai kajianpsikologi.Sebagai ilmu yang mempelajari tingkahlaku manusia, psikologimenjadikan perilaku ekonomi sebagai objek kajiannya. Hasilnya, sesuaidengan cara pandang deskriptif, ditemukan bahwa manusia tidak mestirasional. Ada pengaruh faktor-faktor non-rasional dalam pengambilan keputusan, seperti

• faktor gairah (passion), • motif sosial,

• pertimbangan kondisi orang lain.

Pemikiran seperti ini sebenarnya bukan hal baru dalam ekonomi. Adam Smith (1759) dalam buku Theory of Moral Sentiments sudah mengemukakan bahwa perilaku ditentukan oleh dua proses yang bertentangan,

• gairah (seperti dorongan seks dan lapar) serta

• proses individu melihat dirinya dari kacamata orang lain (impartialspectator). Proses itu dapat mengoreksi bahkan menggagalkan dorongangairah.

Psikologi Ekonomi

(27)

maka dalam ekonomi motivasi dibalik perilaku manusia adalah untuk mendapatkan manfaat sebesar-besarnya dengan usaha sekecil-kecilnya, atau maximizing utility.

Psikologi ekonomi menunjukkan bahwa dalam aktivitas ekonomi maupun mekanisme peraturan yang terbentuk bukanlah berdasarkan pada hukum ekonomi yang ada. Aspek-aspek dari kehidupan sosial dan manusia itu sendiri memiliki pengaruh yang besar dalam proses munculnya sebuah perilaku. Hal tersebut menunjukkan bahwa psikologi ekonomi cenderung lebih memiliki pengaruh dalam sistem ilmu sosial.

Kirchler dan Holzl, 2003 menjelaskan bahwa area studi dalam psikologi ekonomi, berkaitan dengan pengambilan keputusan, studi tentang memilih dan mengambil keputusan oleh individu, interaksi sosial, pengulangan dari perspektif teori permainan, topik yang berkaitan dengan perilaku keuangan termask dalam keputusan berinvestasi, perilaku menabung, debit dan kredit dalam berumah tangga, pasar uang. Psikologi ekonomi juga memberikan ruang studi terhadap perilaku tentang perpajakan, pasar kerja, sosialisasi ilmu ekonomi dan teori tentang peletakannya.

Ada banyak teori psikologi sosial yang dapat kita aplikasikan ke bidang ekonomi antara lain: • Ingratiation

Membuat orang lain menyukai kita sehingga menyetujui permintaan kita. Dengan cara : - Packing good

- Rayuan - Mempesona

- Menunjukkan minat dan rasa suka pada orang yg jadi target (dasar pertemanan rasa suka) Contohnya seperti yang dilakukan para sales

• Foot in the door

Taktik ini juga sangat jitu yaitu memulai dengan permintaan kecil selanjutnya meminta dgn permintaan yg lebih besar.

Contohnya seperti dalam hal bisnis MLM • Teknik lowball

(28)

Contohnya seperti Tawaran diskon kelipatan / kupon (matahari), akan ada diskon ketika konsumen telah sepakat untuk mengambil diskon.

• Door in the face

Taktik ini yaitu mencoba dengan permintaan yg besar, ketika ditolak baru meminta dengan permintaan yang kecil.

Contohnya yaitu pilihan penawaran dgn tunai atau kredit. • That’s not all

Yaitu pemohon menawarkan keuntungan tambahan kepada orang yg jadi target, sebelum mereka mengambil keputusan ya atau tidak. Dengan menggunakan prinsip timbal balik.

Contohnya Promosi / iklan produk buy 1 get 1 free.

• Jual mahal

Kesan bahwa kita banyak diinginkan oleh orang lain, sehingga membuat orang lain lebih menghargai kita dan menyetujui permintaan kita (implisist maupun eksplisit)

• Teknik Deadline

Orang yang menjadi target diberi tahu bahwa mereka hanya punya sedikit waktu / keterbatasan waktu untuk memperoleh suatu barang.Didasarkan pada prinsip kelangkaan (apa yg langka adalah sesuatu yg berharga).

Contohnya dengan menjual produk limited edition dalam promosi berjangka. • Teknik pique

Menggunakan permintaan yg tidak umum,menarik perhatian,membuat orang lain untuk tidak dapat bilang ‘tidak’.

Contohnya Permintaan terselubung dgn penawaran yg menarik

. Kesimpulan

(29)

2. Konsep diri terdiri dari beberapa komponen, yaitu : gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran, dan identitas diri.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri terdiri : tingkat perkembangan dan kematangan, budaya, factor internal dan eksternal,Pengalaman sukses dan gagal, stresor, dan keadaan sakit, dan trauma.

4. Teori peran adalah perspektif dalam sosiologi dan psikologi sosial yang menganggap sebagian besar kegiatan sehari-hari menjadi pemeran dalam kategori sosial (misalnya ibu, manajer, guru). 5. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa-apa yang ditetapkan oleh budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman bersama yang menuntun kita untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.

6. Dalam ilmu sosial, ketidakberhasilan dalam peran terwujud dalam role conflict dan role strain. 7. Psikologi ekonomi berkaitan dengan pengambilan keputusan, studi tentang memilih dan mengambil keputusan oleh individu, interaksi sosial, pengulangan dari perspektif teori permainan, topik yang berkaitan dengan perilaku keuangan termask dalam keputusan berinvestasi, perilaku menabung, debit dan kredit dalam berumah tangga, pasar uang.

SOAL DAN JAWABAN :

1. Apabila individu cenderung berpikir akan berhasil. Maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Berikut ini yang merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, adalah...

. Konsep diri. . Gambaran diri. . Harga Diri.

. Faktor predisposisi. . Identitas Diri.

2. Serangkaian pola perilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi individu di berbagai kelompok sosial adalah pengertian dari...

. Peran.

(30)

. Harga diri. . Hakikat diri. . Pola individu.

3. Berikut ini faktor yang mempengaruhi konsep diri, kecuali... . Persepsi.

. Budaya.

. Faktor Internal dan Eksternal. . Pengalaman sukses dan gagal. . B, C, dan D adalah benar.

4. Adanya harapan-harapan yang bertentangan dalam satu peran yang sama ini dinamakan role strain. Penyebab dari role strain adalah...

. karena peran, sering menuntut adanya interaksi dengan berbagai status lain yang berbeda. . Setiap orang memainkan sejumlah peran yang berbeda, dan kadang-kadang peran-peran tersebut membawa harapan-harapan yang bertentangan.

. Karena adanya harapan yang menuntut.

. Keinginan untuk Kesesuaian dan keseimbangan antar peran yang diemban . Tidak ada jawaban yang benar.

5. cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya merupakan definisi dari...

(31)

6. Menurut teori peran, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana peran setiap orang dalam pergaulannya. Berikut merupakan teori peran adalah...

. jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara.

. Jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan bahagia, akan tetapi jika ia menyalahi skenario, maka ia tidak akan mendapatkan apa-apa.

. Seorang murid SMA yang belajar untuk berbuat kejahatan. . Ibu yang merangkap sebagai ayah.

. Seorang pegawai yang di PHK karena melalaikan tugas.

7. Membuat orang lain menyukai kita sehingga menyetujui permintaan kita. Disebut teknik apakah cara tersebut...

. Door in the face . Teknik pique . Ingratiation . Jual mahal . Foot in the door

8. Penawaran atau persetujuan diubah setelah orang yg menjadi target menerimanya didisarkan pada prinsip komitmen / konsistensi.

. Teknik lowball . Foot in the door . Door in the face . Jual mahal . Teknik pique

(32)

Psikologi sosial adalah suatu studi tentang hubungan antara manusia dan kelompok. Para ahli dalam bidang interdisipliner ini pada umumnya adalah para ahli psikologi dan semua ahli psikologi sosial menggunakan baik individu maupun kelompok sebagai unit analisis mereka. Psikologi sosial sempat dianggap tidak memiliki peranan penting, tapi kini hal itu mulai berubah. Dalam psikologi modern, psikologi sosial mendapat posisi yang penting. psikologi sosial telah memberikan pencerahan bagaimana pikiran manusia berfungsi dan memperkaya jiwa dari masyarakat kita. Melalui berbagai penelitian laboratorium dan lapangan yang dilakukan secara sistematis, para psikolog sosial telah menunjukkan bahwa untuk dapat memahami perilaku manusia, kita harus mengenali bagaimana peranan situasi, permasalahan, dan budaya.

Sekarang banyak sekali hubungan psikologi sosial dengan disiplin ilmu lain beserta aplikasinya. Seperti aplikasi pada bidang hukum dan bidang pendidikan. Sedikit banyaknya sangat berpengaruh. Karena psikologi sosial banyak juga membahas ilmu sosial yang terdapat juga pada disiplin ilmu pendidikan dan ilmu hukum.

Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dan penjelasan tentang Presentasi diri

2. Apa dan bagaimana hubungan antara Psikologi Sosial dengan bidang hukum 3. Apa dan bagaimana hubungan antara Psikologi Sosial dengan bidang pendidikan Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian dan penjelasan tentang presentasi diri 2. Untuk mengetahui hubungan antara psikologi sosial dan bidang hukum 3. Untuk mengetahui hubungan antara psikologi sosial dan bidang pendidikan.

PRESENTASI DIRI 1. Pengertian

(33)

2. Tujuan presentasi diri

Tujuan dasar dari presentasi diri adalah menata interaksi agar mendapatkan hasil yang kita inginkan. Presentasi diri membantu kita mendeskripsikan diri kita kepada orang lain. Selain itu, presentasi diri juga mempengaruhi pengetahuan diri dan juga ketika kita memperkenalkan diri kita terhadap orang lain dapat mempengaruhi konsep diri kita.

Motif yang paling lazim dalam presentasi diri adalah untuk mencipakan kesan baik. Salah satu strategi untuk menciptakan kesan baik adalah menyesuaikan diri dengan norma situasi sosial. Strategi berbeda dalam menciptakan kesan positif adalah promosi diri dan mencari muka. Promosi diri adalah menyampaikan informasi positif tentang diri sendiri, entah itu melalui tindakan atau dengan mengatakan hal-hal positif tentang diri sendiri. Sebaliknya, mencari muka adalah memuji atau mengatakan hal positif tentang pendengar dengan maksud agar pendengar tersebut menyukai Anda atau melakukan sesuatu untuk Anda.

3. Menurut Jones & Pittman (1982), lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda adalah :

a. Ingratiation: dengan tujuan agar disukai, ,menampilkan diri sebagai orang yang ingin membuat orang lain senang.

b. Self-promotion: dengan tujuan agar dianggap kompeten, kita menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan atau kekuatan baik dalam hal kemampuan atau trait pribadi.

c. Intimidation: dengan tujuan agar ditakuti, kita menampilkan diri sebagai orang yang berbahaya dan menakutkan.

d. Supplication : dengan tujuan dikasihani, kita menampilkan diri sebagai orang yang lemah dan tergantung.

e. Exemplification: dengan tujuan dianggap memiliki integritas moral tinggi, kita menampilkan diri sebagai orang yang rela berkorban untuk orang lain.

Aplikasi Psikologi Sosial dalam Bidang Hukum Latar Belakang

(34)

kepemimpinan, komunikasi hubungan kekuasaan, kerjasama, persaingan, konflik. Hukum merupakan hal yang bisa dikatakan mempunyai pengaruh yang dominan dalam kehidupan manusia untuk mengarahkan kehidupannnya ke arah yan lebih baik.

Blackburn (dalam Bartol & Bartol, 1994; Kapardis, 1995) membagi peran psikologi dalam bidang hukum: psikologi in law, psikologi and law, psikologi of law.

a. Psikologi in law, merupakan aplikasi praktis psikologi dalam bidang hukum seperti psikolog diundang menjadi saksi ahli dalam proses peradilan.

b. Psikologi and law, meliputi bidang psycho-legal research yaitu penelitian tentang individu yang terkait dengan hukum seperti hakim, jaksa, pengacara, terdakwa.

c. Psikologi of law, hubungan hukum dan psikologi lebih abstrak, hukum sebagai penentu perilaku. Isu yang dikaji antara lain bagaimana masyarakat mempengaruhi hukum dan bagaimana hukum mempengaruhi masyarakat.

Psikolog sosial mempelajari banyak topik yang berkaitan dengan pemikiran dan perilaku sosial, karenanya riset psikologi sosial yang dilakukan dalam sejumlah riset hukum. Jadi dalam hubungan antara psikologi sosial dan hukum akan dibahas tentang identifikasi saksi mata, dan kesaksian, pengakuan palsu, deteksi kebohongan, keputusan juri, kesaksian ahli, sikap terhadap hukuman mati, dan diskriminasi dalam bidang hukum.

A. Psikologi Sosial Dalam Bidang Hukum

Isu-isu yang berkaitan dengan kajian aplikasi psikologi dalam bidang hukum berkenaan dengan persepsi keadilan (bagaimana sesuatu putusan dikatakan adil, kenapa orang berbuat kejahatan, bagaimana mengubah perilaku orang untuk tidak berbuat kejahatan). Aplikasi secara detail dalam bidang ini antara lain: forensik, kriminalitas, pengadilan (hakim, jaksa, terdakwa, saksi, dll), pemenjaraan, dan yang berkaitan dengan penegakan hukum seperti kepolisian, dan lain-lain. Prof. Adrianus Meliala, Ph.D berpendapat bahwa Psikolog dapat amat membantu kepolisian dalam rangka membangun database terkait psychological profilling dari para calon tersangka atau menginterpretasikan sesuatu yang ditemukan di tempat kejadian perkara secara psikologis sehingga dapat menjadi barang bukti (psychological evidences). Pandangan di atas sesuai dengan pendapat Mark Constanzo (Damang, 2011) bahwa peran psikolog/psikologi dalam bidang hukum antara lain : Sebagai penasehat, Sebagai evaluator, dan sebagai pembaharu.

Psikologi Sosial Dalam Proses Investigasi Kasus Tindak Pidana

(35)

Dalam konsep psikologi, memori saksi sangat rentan karena banyak faktor yang menyebabkan informasi menjadi kurang akurat. Dibutuhkan teknik psikologi untuk mengurangi bias informasi yang terjadi. Dua teknik yang biasa digunakan adalah hipnosis dan wawancara kognitif. Untuk dapat melakukan kedua teknik ini dibutuhkan ketrampilan. Disinilah psikologi forensik diperlukan untuk memberikan pelatihan keterampilan tersebut. Teknik ini terutama diperlukan saat penggalian kesaksian awal (di kepolisian), karena pada saat itulah Berita Acara Pemeriksaan disusun. Hal yang membuat sulit adalah polisi selama ini sudah terbiasa melakukan interogasi dengan pertanyaan-pertanyaan yang menuntun dan menekan.

Psikologi juga memiliki kemampuan untuk menjadikan hakim kembali humanis dan peka dengan permasalahan-permasalahan kepribadian dan kemanusiaan pada umumnya. Bisa dibayangkan, akan terdapat peningkatan kualitas persidangan apabila psikologi berkesempatan memfokuskan diri pada hakim mengingat pada diri hakim terdapat kewenangan besar untuk mengendalikan percakapan, menginterogasi sekaligus memutus perkara.

B. Kontribusi Psikologi Sosial Dalam Bidang Hukum

Ada dua cara yang dipakai oleh psikolog sosial untuk member kontribusi pada sistem hukum yaitu melalui kesaksian ahli dan keterangan amicus curine.

1. Kesaksian Ahli

Salah satu cara yang paling lazim bagi para psikolog sosial untuk berbagi pengetahuan adalah melalui expert testimony (kesaksian ahli). Para psikolog sosial biasa diminta untuk menjelaskan temuan riset guna member kerangka pemahaman bagi juri dan hakim dan untuk mengevaluasi bukti dalam kasus tertentu (Monahan & Walker, 1998; Taylor, 2009).

Kesaksian dari para ahli adalah penting karena pengadilan tidak ingin juri mempertimbangkan bukti yang tidak reabel atau tidak jelas. Jadi, para psikolog kemungkinan bersaksi hanya tentang riset yang memenuhi standar hukum untuk diterima sebagai bukti.

Para psikolog harus cermat dalam mengevaluasi kualitas topic seperti identifikasi saksi mata, memori yang ditekan, stereotip gender, tes poligraf, sindrom wanita yang dianiaya, trauma pemerkosaan, anak sebagai saksi, dan prediksi tingkat bahaya. Hakim yang mengetahui tentang topic seperti testimony saksi lebih cenderung untuk mengizinkan ahli psikologis bersaksi di pengadilan (Wise & Safer, 2004; Taylor, 2009).

1. Amicus Curies

(36)

Ringkasan amicus, ditulis oleh tim ahli psikologis dan jaksa, telah diberikan oleh American psychological association (APA) hamper 150 kasus sampai tingkar mahkama agung AS. Sekitar 150 kasus melibatkan beberapa isu kebijakan public yang signifikan dan controversial, seperti tindakan afirmatif, aborsi, diskriminasi pekerjaan, pelecehan seksual pada anak, pasangan sesame jenis, dan hukum mati (Taylor, 2009).

Sebuah ringkasan amicus diserahkan APA yang berisi riset psikologi sosial tentang stereotype gender dan prasangka gender untuk membantu Mahkama Agung AS memutuskan kasus tentang diskriminasi pekerjaan. Para psikolog sosial dapat member pengadilan bukti ilmiah yang dapat membuat keputusan hukum yang lebih adil.

C. Penerapan Psikologi Sosial Pada Aspek Interpersonal Dari Sistem Hukum

Pada kenyataannya sistem hukum tidak sesempurna seperti yang diidealkan, namun tidak seburuk itu pula, seperti yang akan tercipta bila partisipasinya tidak adekuat dan tidak memiliki etika. Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam sebuah proses hukum biasanya mencoba melakukana apa yang mereka yakini sebagi hal yang benar. Studi Psikologi yang berkaitan dengan persoalan hukum psikologi forensik mempelajari efek dari bebrbagai faktor psikologi terhadap proses hukum.

Beberapa akibat dari kekhilafan manusia yang mempengaruhi bebrbagai aspek dalm hukum adalah penilian yag bias, ketergantungan pada Stereotip, ingatan yang keliru dan keputusan yang salah atau tidak adil. Karena adanya keterkaitan antara psikologi dan hukum, para psikolog sering diminta bantuan sebagai saksi ahli dan konsultan di ruang sidang. Peran sebagai pakar atau konsultan menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana cara terbaik untuk memberikan pelatihan bagi mereka menjalankan fungsi tsb dana apakah mereka harus memilki surat izin. 1. Efek Dari Prosedur Kepolisian Dan Liputan

Efek dari prosedur kepolisian upaya untuk membuktikan seseorang bersalah umumnya melibatkan bagaimana cara saksi mata / tersangka. Gaya interogasi ada dua gaya yang sering digunakan pendekatan konversasional yang aramah versus pendekatan konfrontasional yang bernada marah. Interogasi (alat memulihkan ingatan) Di luar persoalan palsu, ada pertanyanan umum yang juga berhubungan yaitu mengenai “ingatan yg pulih” recovered memories. Misalnya ketika seorang dewasa (biasanya saat ditanya mengenai sebuah kejahatan atau menjalaninya psikoterapi) mengingat suatu tindakan criminal yang traumatis dimasa lalunya, seberapa akurat ingatannya ? ada banyak tulisan yg dipublikasikan mengenai pulihnya ingatan tetang pelecehan seksual di masa kanak-kanak secara tiba-tiba tetapi Humphreys (1998) menyatakan bahwa banyak dari ingatan yang pulih tersebut keliru.

(37)

berbagai kejahatan yang dijadikan berita sering kali tampak mengerikan, dan public berkeinginan untuk mengindetifikasi dan menghukum individu yang bertanggungjawab atas perbuatan jahat tersebut.

2. Kesaksian Saksi Mata

Ketika Saksi Mata Keliru. Seorang yang menyaksikan suatu tindakan kriminal atau sesuatu yang berkaitan dengan hal tsb barangkali akan diminta untuk memberikan kesaksian informasi krusial dalam sebuah intesvigasi atau persidangan. Meningkatkan Akurasi saksi mata. Prosuder untuk meningkatkan akurasi antara lain adalah : mempersentasikan gambar atau adegan criminal terkait berikut korbannya kepada para saksi mata sebelum proses identifikasi berlangsung(Culter, Penrod , & Martens , 1987).

3. Peran Utama dalam Persidangan: Dampak dari Pengacara, Hakim, Juri, dan Terdakwa Pengacara.Perseteruan antara penuntut dengan pembela.

Dalam sistem hukum di AS, penuntut dan pembela tidak saling bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama (kebenaran), tapi mereka justru saling berkompetisi dan berjuang untuk memenangkan kasus masing-masing (Garcia, Darley,&Robinson, 2001; Baron & Byrne,2005). Hakim: Menegakkan aturan dan Meminimalkan Bias.

Idealnya, hakim adalah seorang yang harus sepenuhnya objektif dan adil. Namun, mereka juga manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan sikap bias. Para juru diinstruksikan untuk mandasari keputusan mereka sesuai dengan bukti factual. Para juri cenderung mengabaikan perintah hakim kecuali jika juri yakin bahwa hakin punya alasan bagus untuk meminta mereka untuk mengabaikan bukti tersebut.

Efek karakteristik terdakwa dan Juri.

Sejumlah faktor yang bipelajari dalam psikologi sosial akan berpengaruh dalam proses evaluasi. Determinan-determinan yang paling penting adalah komunikasi nonverbal, atribusi, pembentukan kesan, dan menajemen kesan, prasangka, serta ketertarikan interpersonal. Hal-hal seperti kesan pertama, stereotip dan ketertarikan seharusnya berperang dalam ruang siding, namun pada kenyataannya hal tersebut memang berpengaruh terhadap hasil keputusan yang diperoleh dalam situasi persidangan nyata maupun dalam persidangan simulasi (Baron & Byrne, 2005).

D. Pendekatan Psikologi

1. Pendekatan Tipologi Fisik dalam Kepribadian

(38)

tubuh fisiologis dengan tipe kepribadian seseorang. Menurut Kretchmer ada tiga tipe jaringan embrionik dalam tubuh, yaitu:

1. Endoderm berupa sistem digestif (pencernaan) 2. Ectoderm berupa sistem kulit dan syaraf 3. Mesoderm yang terdiri dari tulang dan otot.

Menurut Kretchmer orang yang normal itu memiliki perkembangan yang seimbang, sehingga kepribadiannya menjadi normal. Apabila perkembangannya imbalance, maka akan mengalami problem kepribadian. William Shldon (1949), dengan teori Tipologi Somatiknya, ia bentuk tubuh ke dalam tiga tipe, antara lain :

1. Endomorf: Gemuk (Obese), lembut (soft), and rounded people, menyenangkan dan sociabel. 2. Mesomorf : berotot (muscular), atletis (athletic people), asertif, vigorous, and bold.

3. Ektomorf : tinggi (Tall), kurus (thin), and otak berkembang dengan baik (well developed brain), Introverted, sensitive, and nervous.

Menurut Sheldon, tipe mesomorf merupakan tipe yang paling banyak melakukan tindakan kriminal. Banyak kajian tentang perilaku kriminal yang didasarkan pada hubungan antara bentuk fisik dengan tindakan kriminal. Misalnya, karakteristik fisik pencuri memiliki kepala pendek (short heads), rambut merah (blond hair), dan rahang tidak menonjol keluar (nonprotruding jaws), sedangkan karakteristik perampok misalnya ia memiliki rambut yang panjang bergelombang, telinga pendek, dan wajah lebar. Apakah pendekatan ini diterima secara ilmiah? metode ini yang paling sering digunakan oleh para ahli kriminologi dahulu, yaitu dengan mengukur ukuran fisik para pelaku kejahatan yang sudah ditahan/ dihukum, orang lalu melakukan pengukuran dan hasil pengukuran itu disimpulkan.

2. Pendekatan Teori Trait Kepribadian

Pendekatan ini menyatakan bahwa sifat atau karakteristik kepribadian tertentu berhubungan dengan kecenderungan seseorang untuk melakukan tindakan kriminal. Beberapa ide tentang konsep ini dapat dicermati dari hasil-hasil pengukuran tes kepribadian. Dari beberapa penelitian tentang kepribadian baik yang melakukan teknik kuesioner ataupun teknik proyektif dapatlah disimpulkan memiliki kecenderungan kepribadian yang memiliki hubungan dengan perilaku kriminal.

(39)

aspek sifat kepribadian yang diteliti, melainkan seluruh sifat itu bisa diprofilkan secara bersama-sama.

3. Pendekatan Psikoanalisis

Freud melihat bahwa perilaku kriminal merupakan representasi dari Id yang tidak terkendalikan oleh ego dan super ego. Id ini merupakan impuls yang memiliki prinsip kenikmatan (Pleasure Principle). Ketika prinsip itu dikembangkannya Super-ego terlalu lemah untuk mengontrol impuls yang hedonistik ini. perilaku untuk sekehendak hati asalkan menyenangkan muncul dalam diri seseorang. Hal itu disebabkan oleh resolusi yang tidak baik dalam menghadapi konflik Oedipus, artinya anak seharusnya melakukan belajar dan beridentifikasi dengan bapaknya, tapi malah dengan ibunya.

Penjelasan lain dari pendekatan psikoanalis yaitu bahwa tindakan kriminal disebabkan karena rasa cemburu pada bapak yang tidak terselesaikan, sehingga individu senang melakukan tindak kriminal untuk mendapatkan hukuman dari bapaknya. Psikoanalist lain (Bowlby: 1953) menyatakan bahwa aktivitas kriminal merupakan pengganti dari rasa cinta dan afeksi. Umumnya kriminalitas dilakukan pada saat hilangnya ikatan cinta ibu-anak.

4. Pendekatan Teori Belajar Sosial

Teori ini dimotori oleh Albert Bandura (1986). Bandura menyatakan bahwa peran model dalam melakukan penyimpangan yang berada di rumah, media, dan subcultur tertentu (gang) merupakan contoh baik untuk terbentuknya perilaku kriminal orang lain. Observasi dan kemudian imitasi dan identifikasi merupakan cara yang biasa dilakukan hingga terbentuknya perilaku menyimpang tersebut. Ada dua cara observasi yang dilakukan terhadap model yaitu secara langsung dan secara tidak langsung (melalui vicarious reinforcement).

5. Pendekatan Teori Kognitif

Penelitian Yochelson & Samenow (1976, 1984) mencoba mengetahui tentang gaya kognitif (cognitive styles) pelaku kriminal dan mencari pola atau penyimpangan baga

Referensi

Dokumen terkait

Sekolah adalah lembaga pendidikan. Pendidikan merupakan bagian penting dalam proses pertumbuhan pembentukan satu kepribadian manusia. Sekolah harus membangun lingkungan

Konsep self review mengadopsi konsep self assessment. Self assessment merupakan pola penilaian terhadap suatu hal yang dilakukan oleh diri sendiri untuk

Percaya diri merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang percaya diri yakin atas kemampuan mereka

bagian dari kepribadian itu mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dan dinamisasi serta mekanisme tersendiri yang bekerja dalam diri

Sifat pemuaian merupakan sifat yang penting dalam logam cor dan ekstrusi, yang pada. umumnya merupakan bagian

bagian dari kepribadian itu mempunyai fungsi, sifat, komponen, prinsip kerja, dan dinamisasi serta mekanisme tersendiri yang bekerja dalam diri

Oleh karena itu, manusia tak bisa lepas dari interaksi sosial untuk membentuk kepribadian yang baik. -Manusia yang mampu menjaga keseimbangan dan dapat menyesuaikan

Kepribadian : Gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang Nilai : Konsepsi-konsepsi abstrak dalam diri manusia mengenai apa yang dianggap baik