• Tidak ada hasil yang ditemukan

"Peran Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Multikultural (Studi Kasus di SMP Mentari International School)"

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan ""Peran Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Multikultural (Studi Kasus di SMP Mentari International School)""

Copied!
98
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh:

SADUDDIN

108011000052

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

(2)
(3)
(4)
(5)

i

ABSTRAK

Saduddin (NIM: 108011000052) : Peran Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Multikultural (Studi Kasus di SMP Mentari International School)

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran secara empiris mengenai peran guru Pendidikan Agama Islam khususnya dalam pendidikan Islam di sekolah multikultural yaitu di SMP Mentari International School. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Instrumen penelitian yang digunakan adalah metode obsevasi, interview, dan dokumentasi. Sedangkan untuk menganalisis, penulis menggunakan teknik analis diskriptif kualitatif, yaitu berupa data-data yang tertulis atau wawancara secara lisan dari orang yang terlibat dalam sekolah tersebut serta kegiatan yang di amati, sehingga dalam hal ini penulis berupaya mengadakan penelitian yang bersifat menggambarkan secara menyeluruh.

Dalam penelitian ini peneliti mendapatkan informasi keragaman multikultural di SMP Mentari International School ini berbagai macam siswa dari latar belakang kehidupan yang berbeda. Seperti latar belakang bangsa yakni bangsa Asia dan Eropa, latar belakang suku yakni suku Jawa dan suku Sunda, dan latar belakang Agama yakni Agama Islam, Buddha, Hindu, Katholik, dan Tiong Hoa. Kemudian peran guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan Pendidikan Multikultural dengan berbagai kegiatan yaitu pertama, proses pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang

menggunakan cara khusus “Tupat Sambel” yaitu tukar pendapat sambil belajar.

Kedua, rancangan pembelajaran yang di buat sendiri yaitu memakai kurikulum IB (International Baccalaurate). Ketiga, mengembangkan kesadaran multikultural peserta didik dengan caramencontohkan kepada peserta didik bagaimana bertoleransi antar agama dengan baik.

Dengan demikian keragaman multikultural di SMP Mentari International School adalah perbedaan latar belakang bangsa, suku, dan Agama, sedangkan peran guru Pendidikan Agama Islam dalam menerapkan Pendidikan Multikultural adalah mencontohkan toleransi kepada sesama tanpa memandang latar belakang mereka.

(6)

ii

kehadirat Allah SWT. Yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-Nya

sehingga penulis mampu menyelesaikan tugas akhir skripsi yang berjudul "Peran Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Multikultural (Studi Kasus di SMP Mentari International School)".

Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah berhasil membimbing dan menuntun ummat-Nya ke

jalan yang benar dan diridhoi Allah SWT, begitu pula bagi segenap keluarga, para

sahabat serta orang-orang yang meneladani danmengikutinya.

Suatu kebanggaan tersendiri bagi penulis karena dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini tidak dapat terlepas dari uluran tangan

berbagai pihak, oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan

terima kasih yang sebesar-besarnya serta penghargaan yang setinggi-tingginya

kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. Dede Rosyada, MA, selaku Rektor Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta beserta stafnya yang telah memberikan kesempatan dan

pelayanan kepada penulis untuk menyelesaikan studi di kampus UIN Jakarta.

2. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA, selaku Dekan Fakultas Tarbiyah yang telah

memberikan pelayanan kepada penulis untuk menyelesaikan studi di kampus

UIN Jakarta.

3. Bapak Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, selaku ketua Jurusan Pendidikan

Agama Islam dan Ibu Marhamah Saleh, Lc, MA, selaku wakil ketua Jurusan

Pendidikan Agama Islam.

4. Bapak Dr. M. Dahlan, M.Hum, selaku pembimbing yang telah tulus ikhlas dan

penuh kesabaran memberikan bimbingan, arahan dan nasehat kepada penulis

(7)

iii

bantuan secara moril maupun sepiritual. Serta cinta kasihnya yang telah kalian

berikan selama ini. Sangat terimakasih.

7. Bapak Aluysius Songki, selaku kepala SMP Mentari International School yang

telah memberikan kesempatan saya untuk meneliti di sekolah ini. Terimakasih.

8. Bapak Nurjamil,SS. selaku guru Pendidikan Agama Islam dan Bapak Zul

Iskandar, selaku Kepala Rohis. Terimakasih.

9. Eva Fauziyah, salah satu sahabat terdekat saya yang telah menyemangati,

membantu baik materil maupun spiritual selama tiga tahun belakangan ini.

Sehingga dapat terselesainya studi saya dan sampai pada tugas akhir skripsi ini.

Terimakasih banyak.

10.Openg, Fadil, Rengki, Ubay, Agung, Iswahyudi, Pandi, Lutfi, Nasir, Reren, Fitri,

Azwar, dan Ziah. Juga teman-teman yang tidak saya sebutkan namanya satu

persatu, namun tidak mengurangi rasa terimakasih saya. Terimaksih semuanya.

Semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis, mendapatkan imbalan

yang lebih besar dari Allah SWT dan dicatat sebagai amal sholeh, Amin. Penulis

menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari kekurangan dan

masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran dari pembaca yang budiman

sangat penulis harapkan demi mendapatkan hasil yang lebih baik di masa yang akan

datang. Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan

pembaca pada umumnya. Sekaligus dapat menambah khazanah pengetahuan untuk

mengembangkan cakrawala berfikir terutama dalam dunia pendidikan.

(8)

iv

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING

LEMBAR PERNYATAAN PENULIS

ABSTRAK

……….. i

KATA PENGANTAR

………... ii

DAFTAR ISI

………..………... iv

BAB I:

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ……… 1

B. Identifikasi Masalah ……… 7

C. Batasan Masalah ………..………... 7

D. Rumusan Masalah ………...……… 8

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………... 8

BAB II:

KAJIAN TEORI

A. Pendidikan Agama Islam Berwawasan Multikultural ……….… 9

B. Peran Guru Pendidikan Agama Islam ……….. 19

C. Kerangka Berfikir ……… 29

D. Penelitian yang Relevan ……….. 29

(9)

v

F. Tahap-Tahap Penelitian …………...……… 37

BAB IV:

HASIL PENELITIAN

A. Objek Penelitian ………... 39

B. Penyajian Data ………... 42

C. Analisa Data ………. 54

BAB V:

PENUTUP

A. Kesimpulan ……… 57 B. Saran ………..…… 58

DAFTAR PUSTAKA

UJI REFERENSI

(10)

1

A multicultural country1 merupakan sebutan yang sangat cocok untuk Indonesia. Betapa tidak, keragaman agama dan kepercayaan, suku yang terpencar

di lebih dari 17.000 pulau, keunikan bahasa daerah yang menempati jumlah

terbanyak di dunia (lebih dari 500 bahasa daerah). Selain itu penduduk Indonesia

juga menganut agama dan kepercayaan yang beragam seperti Islam, Kristen

protestan, Katolik, Hindu, Buddha, Kong Hu Chu serta berbagai aliran

kepercayaan.2 Yang semuanya berada dalam satu rumpun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), hal ini bukanlah sebuah hal yang baru terbentuk

dari awal bangsa Indonesia ini berdiri karena sejak Indonesia masih dijajah

bangsa kolonial Indonesia sudah terlahir dalam bentuk masyarakat yang memiliki

keragaman kepercayaan mulai dari kepercayaan animisme, adat dan keagamaan.

Dengan keberagaman ini Indonesia menjadi gambaran contoh kelangsungan

hidup masyarakat yang berlatar belakang multikultural.

Sejumlah keragaman tersebut merupakan potensi dan keunikan yang dimiliki

oleh Indonesia sebagai bangsa yang besar. Akan tetapi keragaman dan keunikan

tersebut selama ini tidak mendapatkan tempat dalam proses pembangunan

bangsa, bahkan diakui atau tidak keragaman sering menjadi penyebab timbulnya

persoalan yang dihadapi bangsa ini sekarang seperti kolusi, korupsi, nepotisme,

premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, seperatisme, perusakan

1Multicultural country adalah suatu negeri atau wilayah yang terdiri dari banyak kebudayaan dan antara pendukung kebudayaan saling menghargai satu sama lain, Sumber : Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta: Rajawali Press, 1985), h.18

(11)

lingkungan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang

lain.

Indonesia mempunyai berbagai macam adat-istiadat dengan beragam ras,

suku bangsa, agama dan bahasa. Indonesia adalah salah satu negara multikultural

terbesar di dunia.3 Kekayaan dan keanekaragaman agama, etnik dan kebudayaan, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi kekayaan ini merupakan khazanah yang

patut dipelihara dan memberikan nuansa dan dinamika bagi bangsa, dan dapat

pula merupakan titik pangkal perselisihan, konflik vertikal dan horizontal.4 Keberagaman ini diakui atau tidak, banyak menimbulkan berbagai persoalan

sebagaimana yang kita lihat saat ini. Kurang mampunya individu-individu di

Indonesia untuk menerima perbedaan itu mengakibatkan hal yang negatif. Sudah

banyak sekali kasus-kasus kekerasan di Indonesia yang akarnya ada pada

perbedaan tersebut.

Sebenarnya, keberagaman dalam suatu komunitas bisa memberikan energi

positif apabila digunakan sebagai modal untuk bisa bersama membangun bangsa

dalam hubungan yang saling memberi dan menerima, dan sebaliknya apabila

keberagaman masih dibingkai oleh penafsiran yang bersumber pada sebuah

simbol yang mengikat atau menekan di mana prasangka, kecurigaan, bias dan

reduksi terhadap kelompok di luar dirinya maka ia hanya akan menjadi bom

penghancur struktur dan pilar kebangsaan.5 Islam sebagai agama, kebudayaan dan peradaban besar di dunia sudah sejak awal masuk ke Nusantara pada abad ke

7 dan terus berkembang hingga sekarang. Ia telah memberi sumbangsih bagi

keanekaragaman kebudayaan lokal Nusantara. Islam tidak saja hadir dalam

bentuk tradisi agung (grand tradition) bahkan memperkaya pluralitas dengan

Islamisasi kebudayaan dan pribumisasi Islam yang pada gilirannya banyak

3

Ibid., h. 3

4

Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, (Jakarta: PT. Gelora Aksa Pratama, 2005), h. 21

5

Masdar Hilmy, Menggagas Paradigma Pendidikan Berbasis Multikulturalisme, Jurnal

(12)

melahirkan tradisi-tradisi kecil Islam. Berbagai warna Islam (dari Aceh, Melayu,

Jawa, Sunda dan lain sebagainya) telah memberi corak dan keragaman. Namun,

hal ini menyebabkan agama Islam berwajah ambigu.6

Di satu sisi dengan keragamannya Islam berjasa bagi penciptaan landasan

kehidupan bersama dalam konteks bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

dengan menawarkan norma-norma, sikap dan nilai yang dapat memperluas relasi

damai di antara komunitas-komunitas etnik, budaya dan agama. Sisi yang lain

menampakkan keragaman Islam juga dapat menyumbangkan api konflik dan

ketegangan antar kelompok yang terus membesar. Tantangan Islam tidak hanya

sebatas pada konflik-konflik yang berdasarkan agama, tetapi juga tantangan

globalisasi yang disadari atau tidak terus mendesak ke permukaan. Kehidupan

modern menawarkan banyak pilihan. Siapa pun yang hidup di Era Iptek sekarang

ini, tak terkecuali umat Islam, harus sepenuhnya menyadari ia hidup dalam ruang

dan waktu yang tidak sama persis seperti 25 atau 50 tahun yang lalu. Internet

atau dunia maya, telepon seluler, peralatan Hi-Tech, dan industri hiburan yang

ramai telah menjadi makanan sehari-hari masyarakat. Kehadiran Islam di tengah

kehidupan berbangsa dalam masyarakat Indonesia yang beragam perlu

diredefinisikan dengan menawarkan harapan dan perspektif keagamaan yang

baru, bahwa Islam adalah seraut wajah yang tersenyum (smilling face of Islam),

damai dan anti kekerasan. Islam perlu memberi nuansa paradigmatik bagi

rekonstruksi dan pembangunan karakter bangsa.7

Diperlukan strategi khusus dalam upaya menampilkan wajah baru Islam

melalui berbagai bidang, seperti; sosial, politik, budaya, ekonomi dan

pendidikan. Dunia pendidikan menjadi pilihan yang potensial. Pendidikan selain

sebagai aktivitas transfer of knowledge juga merupakan media dan aktivitas

membangun kesadaran, kedewasaan dan kedirian peserta didiknya, sebagaimana

6

Zakiyuddin Baidhawy, Pendidikan Agama Berwawasan Multikultural, (Jakarta: Erlangga, 2005), h. 44

7

(13)

dikemukakan Freire8 bahwa pendidikan harus dianggap sebagai kunci perubahan menuju arah yang lebih baik.

Pendidikanlah yang mampu menstimulus perubahan sosial ke arah

terbentuknya suatu kondisi masyarakat yang dicita-citakan. Asumsi bahwa untuk

mencapai kemajuan peradaban maka salah satu alternatif faktor pendidikan. Hal

ini disebabkan masalah pendidikan adalah merupakan masalah yang sangat

penting dalam kehidupan, bukan saja sangat penting, bahkan masalah pendidikan

itu sama sekali tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Baik dalam kehidupan

keluarga, maupun dalam kehidupan bangsa dan negara. Maju mundurnya suatu

bangsa sebagian besar ditentukan oleh maju mundurnya pendidikan negara itu.

Pengajaran agama berkaitan dengan proses pendidikan dalam lembaga

pendidikan formal dan nonformal. Pengajaran agama dengan jelas telah diatur di

dalam undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Pasal 12 ayat (1a) dengan jelas menyebutkan bahwa pengajaran agama (di dalam

undang-undang tersebut disebutkan pendidikan agama) harus diberikan di semua

satuan pendidikan baik formal maupun nonformal. Bahkan di dalam

penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah asing harus memberikan

pelajaran agama dari pengajar yang seagama dengan peserta-didik.9

Menurut Mudjia Raharjo di antara fungsi pendidikan yang menonjol adalah

sebagai wahana proses alih nilai. Maka nampak sekali bahwa pendidikan agama

adalah sebuah kemestian bagi upaya perbaikan kehidupan agama dan moral demi

masa depan bangsa yang lebih baik. Melalui pendidikanlah penanaman nilai-nilai

moral dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian pendidikan

agama yang selama ini seolah mengalami alienasi di tengah realitas kependidikan

nasional harus segera diusahakan penataannya kembali. Hal ini juga berarti

bahwa upaya reaktualisasi pendidikan agama yang sesuai dengan realitas sosial

8

Ibid,, h. 47

9

(14)

menjadi hal yang tidak dapat dinafikan tanpa usaha tersebut sangat sulit untuk

menjadikan pendidikan agama sebagai salah satu soko guru pembangun

kehidupan moral yang senyatanya sangat diperlukan di negeri ini.10

Bila bangsa ini ingin kuat, maka diperlukan adanya sikap saling menghargai,

menghormati, memahami dari sikap saling menerima dari tiap individu yang

beragam itu, sehingga dapat saling membantu bekerjasama dalam membangun

negara menjadi lebih baik. Selain itu jika memang bangsa ini sudah menjadi kuat

karena sudah menanamkan sikap menghargai dan menghormati yang di junjung

bersama maka tugas setiap individu adalah mempertahankannya karena setiap

zaman ke zaman akan ada perubahan yang dapat menimbulkan kembali gesekan

konflik antar bangsa yang timbul akibat sifat egois dari salah satu bangsa yang

ada. Jadi setiap individu harus memiliki tanggung jawab atas diri dan anggota

keluarga di masyarakat yang harus memepertahankan sikap saling menghormati

dan menghargai tanpa batas waktu.

Untuk mempunyai individu-individu yang bertanggung jawab atas dirinya

sendiri dan menghormati individu lainnya diperlukan adanya pemahaman, bahwa

perbedaan bukanlah menjadi satu persoalan. Yang lebih penting adalah

bagaimana menjadikan perbedaan-perbedaan itu menjadi indah, dinamis dan

membawa berkah.

Pendidikan mempunyai peran penting dalam membentuk kehidupan publik,

selain itu juga diyakini mampu memainkan peranan yang signifikan dalam

membentuk politik dan kultural. Dengan demikian pendidikan sebagai media

untuk menyiapkan dan membentuk kehidupan sosial, sehingga akan menjadi

basis institusi pendidikan yang syarat akan nilai-nilai idealisme.11

Pendidikan Islam berwawasan multikultural ditawarkan untuk menjawab

pertanyaan seputar membangun kesadaran menerima perbedaan sebagai bentuk

10

Mudjia Raharjo (ed). Quo Vadis Pendidkan Islam Pembacaan Realitas Pendidikan Islam, Social Dan Keagamaan, (Malang: UIN Press, 2006), h. 49

11

(15)

kesadaran multikultural. Pendidikan sampai saat ini masih terus dikembangkan

termasuk pendidikan Islam dengan seiring kemajuan zaman, lembaga

penyelenggara pendidikan semakin ikut berkembang pula, seperti lembaga

pendidikan yang makin modern dan canggih baik fasilitasnya sampai tenaga

pengajarnya, seperti banyak didirikannya sekolah-sekolah internasional di

Jakarta khususnya yang kebetulan sekolah ini menampung peserta didik dari

berbagai kultur (budaya) serta berbagai agama, karena keadaan ini maka akan

timbulnya kemajemukan dalam pendidikan khususnya pendidikan agama peserta

didik, maka dari itu pendidikan agama harus mampu menanamkan sikap dan

pengetahuan peserta didik dalam menghadapi kemajemukan agama di lembaga

sekolah, maka bisa dikatakan pendidikan yang berjalan di sekolah tersebut

menjadi pendidikan yang berwawasan multikultural.

Bagi pendidikan agama Islam gagasan multikultural bukanlah sesuatu yang

baru dan ditakuti, setidaknya ada tiga alasan untuk itu. Pertama, bahwa Islam

mengajarkan menghormati dan mengakui keberadaan orang lain. Kedua, konsep

persaudaraan Islam tidak hanya terbatas pada satu sekte atau golongan saja.

Ketiga, dalam pandangan Islam bahwa nilai tertinggi seorang hamba adalah

terletak pada integralitas taqwa dan pendekatannya dengan Tuhan. oleh karena

itu seorang guru PAI diharapkan mampu memahami dan mengimplementasikan

nilai-nilai multikultural dalam tugasnya sehingga mampu melahirkan peradaban

yang toleransi, demokrasi, tenggang rasa, keadilan, harmonis serta nilai

kemanusiaan lainnya.12

Jakarta tidak hanya mempunyai penduduk lokal. Jakarta mempunyai

masyarakat yang multikultural, karena banyak sekali pendatang, baik dari

kalangan siswa maupun mahasiswa, yang menuntut ilmu sambil mencari nafkah.

Melihat adanya masyarakat yang multikultur ini, Jakarta rawan akan terjadinya

perseteruan, karena perbedaan kultural masyarakat tersebut. Untuk membina

12

(16)

kerukunan antar pendatang dan masyarakat setempat, diperlukan adanya satu

kesepahaman tentang nilai-nilai multikultural, agar tercipta masyarakat yang

saling menghormati, menghargai, memahami dan tolong menolong.

Seperti yang telah disebutkan di atas, sekolah adalah skala kecil dari

masyarakat. salah satu bentuk pendidikan dalam masyarakat adalah pendidikan

formal (sekolah). Sekolah inilah yang menjadi salah satu media pemahaman

tentang nilai-nilai multikultural. Oleh karena itu proses pendidikan di sekolah

harus menanamkan nilai-nilai multikultural.

Pendidikan Islam berwawasan multikultural ditawarkan untuk menjawab

pertanyaan seputar membangun kesadaran menerima perbedaan sebagai bentuk

kesadaran multikultural. Hal-hal semacam inilah yang mendasari penulisan

skripsi dengan mengangkat sebuah topik permasalahan dengan judul

“Peran Guru Pendidikan Agama Islam di Sekolah Multikultural (Studi

Kasus di SMP Mentari International School)”

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang di atas, maka dalam skripsi ini identifikasi

masalahnya adalah:

1. Memaparkan dan menganalisa peran guru mulai dari konsep mengajar

menghadapi siswa yang berbeda kultur

2. Mengetahui keterampilan siswa yang mulikultural dalam memahami ajaran

Islam

3. Mengetahui sikap toleransi siswa yang diajarkan dalam agama Islam.

C. Batasan Masalah

Agar pembahasan dalam penelitian ini lebih terfokus dan terarah maka

penulis menganggap perlu membatasi akar masalah atau lingkup penulisan dan

(17)

1. Sistem pembelajaran yang digunakan guru untuk siswa multikultural

2. Keterampilan siswa dalam memahami fiqih, sejarah dan muamalah dalam

Islam yang diajarkan di sekolah berwawasan multikultural

3. Sikap toleransi siswa dalam berinteraksi dengan siswa lain sesuai yang

diajarkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam

D. Rumusan Masalah

Dari batasan masalah di atas, rumusan masalah yang hendak dikaji dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana keragaman multikultural yang ada di SMP Mentari International

School?

2. Bagaimana peran guru agama Islam di sekolah Multikultural di SMP Mentari

International School?

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

a. Mengetahui realitas keberagaman multikultural yang ada di SMP Mentari

International School.

b. Mengetahui peran guru pendidikan agama Islam dalam menerapkan

pendidikan multikultural di SMP Mentari International School.

2. Manfaat Penelitian

a. Diharapkan mampu memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan

pendidikan Islam di Indonesia yang multikultur.

b. Untuk menambah khazanah keilmuan dan wawasan bagi penulis khususnya

serta pembaca pada umumnya.

c. Berguna bagi guru agama Islam sebagai acuan pertimbangan dalam

(18)
(19)

9

A.

Peran Guru Pendidikan Agama Islam

1.

Pengertian Peran

Sebelum penulis membahas tentang pengertian guru agama Islam,

penulis akan membahas tentang pengertian peranan. Peranan adalah kata

dasar “peran” yang ditambah akhiran ”an”. Peran menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki arti perangkat tingkah laku yang diharapkan dapat

dimiliki oleh orang yang berkedudukan dalam masyarakat. Setelah

mendapatkan akhiran “an”, kata peran memiliki arti yang berbeda, di

antaranya:

a. Peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang dalam suatu

peristiwa.

b.Peranan adalah konsekuensi atau akibat kedudukan atau status seseorang.

c. Peranan adalah lakon yang dimainkan oleh seorang pemain.1

Peranan juga memiliki makna “Suatu bagian memegang pimpinan yang

terutama (terjadinya suatu hal atau peristiwa) misalnya tenaga ahli dan buruh

yang memegang peranan penting dalam pembangunan negara”.2

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dijelaskan bahwa peranan

merupakan “seperangkat tingkat yang diharapkan untuk dimiliki oleh seseorang yang berkedudukan dalam masyarakat atau yang merupakan bagian

utama yang harus dilakukan”.3

Adapun peranan yang penulis maksud dalam skripsi ini adalah peran

atau keikutsertaan guru agama dalam membina sikap atau tingkah laku

1Adi Gunawan, Kamus Cerdas Bahasa Indonesia, (Surabaya: Kartika, 2003 ), h. 640 2Adi Gunawan, Op. Cit., h. 655

3

(20)

siswanya, ke tingkat yang lebih baik dan sempurna. Dengan kata lain

diartikan bahwa pengertian peranan adalah peran serta atau usaha guru agama

dalam mendidik, membina, membimbing serta mengarahkan siswa kepada

yang lebih baik dan sempurna.4

2.

Pengertian Guru

Guru merupakan variabel terpenting dalam proses pembelajaran. Sesulit

apapun materi yang akan diajarkan, guru hendaknya mampu mentransfer

pengetahuan kepada anak didik dengan semudah-mudahnya. Seorang guru

tidak hanya dituntut untuk mempunyai intelektualitas yang memadai akan

tetapi juga kepekaan emosional untuk membaca keadaan murid.5

Menurut Zakiah Darajat, guru adalah pendidik profesional, karena

secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian

tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Selain

itu guru juga sebagai pendidik yang berkepribadian baik, karena kepribadian

guru juga bagian faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan

seorang guru sebagai pengembang sumber daya manusia. Hal ini

dikarenakan bahwa disamping ia berperan sebagai pembimbing dan

pembantu anak didik untuk mencapai kedewasaan, guru juga sebagai

panutan.6

Manurut Ahmad Tafsir, guru adalah pendidik yang memegang mata

pelajaran di sekolah.7 Sementara itu, Moh. Uzer memandang guru sebagai jabatan atau profesi yang membutuhkan keahlian khusus sebagai guru.

Untuk menjadi guru diperlukan syarat-syarat khusus, apalagi sebagai guru

4

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1982), h. 667

5

Ngainun Naim & Achmad Sauqi, Pendidikan Multikultural…, h. 54

6

Zakiah Darajat, dkk., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009), Cet. 8, h. 39

7

(21)

profesional yang harus menguasai betul seluk-beluk pendidikan dan

pengajaran dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang perlu dibina dan

dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu dan pendidikan

penjabatan.8

Selain itu, dalam Dictionary of Education dikatakan bahwa guru adalah:

a. Seseorang yang bekerja di sebuah lingkungan yang resmi dengan tujuan

untuk memandu dan menunjukkan pengalaman pembelajaran pada

masyarakat di dalam sebuah institusi pendidikan, negeri maupun swasta.

b. Seseorang yang karena kekayaan, pengalaman luar biasa, pendidikan,

keberadaannya di lapangan yang diberikan, mampu

mengkontribusikannya pada pertumbuhan dan perkembangan orang lain

yang mengadakan kontrak dengannya.

c. Seseorang yang dilengkapi dengan sebuah kurikulum profesional di

dalam institusi pendidikan guru dan yang mempunyai pelatihan yang

diakui secara resmi dengan sebuah penghargaan sertifikat pengajaran

yang layak.9

Menurut UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1,

yang dimaksud dengan guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama

mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan

formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Selanjutnya dijelaskan

pula pada Pasal 2 ayat 1 bahwa yang dimaksud dengan tenaga profesional

mengandung arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh

seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik kompetensi, dan sertifikasi

8

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2001), Edisi kedua, h. 5

9

(22)

pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang

pendidikan tertentu.10

Dalam pendidikan multikultural, guru dan murid mempunyai kedudukan

yang sama yaitu sebagai obyek.11 Guru tidak boleh mendominasi proses pembelajaran. Y.B. Mangunwijaya menegaskan bahwa pendidikan di

sekolah harus dikembalikan menjadi milik anak didik. Oleh karena itu, anak

didik harus dianggap, dinilai, didampingi, dan diajari sebagai anak, bukan

sebagi orang tua mini atau prajurit mini. Anak didik diberikan kesempatan

sesuai dengan kapasitasnya sebagai anak didik diberikan kesempatan sesuai

dengan kapasitasnya sebagai anak.12

Tugas pendidik adalah memilih metode dan strategi yang tepat dalam

mengawetkan, memelihara, melanggengkan, mengalihgenerasikan, serta

mewariskan ilmu pengetahuan, kebenaran, dan tradisi yang diyakini

sekaligus juga menyadari sepenuhnya keberadaan tradisi lain.13 Selain itu guru juga bertugas memberikan bimbingan dan arahan. Terkait dengan

materi yang akan dipelajari, ke mana mereka harus mencari informasi,

mengolah informasi tersebut, dan menghadirkannya sebagai sebuah

kesimpulan.

Istilah lain yang lazim dipergunakan untuk pendidik adalah guru. Kedua

istilah tersebut bersesuaian artinya. Bedanya, istilah guru seringkali dipakai

di lingkungan pendidikan formal, sedangkan pendidik dipakai di lingkungan

formal, informal dan nonformal.

Dari pengertian di atas walaupun redaksinya berbeda, namun

mempunyai kesamaan maksud, yaitu bahwa guru bukan hanya sekadar

10

E. Mulyasa, (ed.), Undang-Undang RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, dalam Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), Cet. III, h. 246.

11

Abdurrahman, Meaningful Learning Re-Invensi Kebermaknaan Pembelajaran, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), h. 121

12

Y.B. Mangunwijaya (ed.),, Beberapa Gagasan tentang SD Bagi 20 Juta Anak dari Keluarga Kurang Mampu. Dalam “Pendidikan Sains Humanis, (Yogyakarta: Kanisius, 1998), h. 18

13

(23)

pemberi ilmu pengetahuan kepada peserta didik di depan kelas. Tetapi juga

merupakan tenaga profesional yang mempunyai kualifikasi akademik

kompetensi, yang di samping memperhatikan aspek kognitif, juga aspek

afektif dan psikomotorik pada anak didik agar timbul dan terbina secara utuh

sebagai manusia yang berkepribadian utuh agar maksud mendidik untuk

mengantarkan peserta didk menuju kedewasaan dapat tercapai. Serta untuk

seoptimal mungkin mengarahkan peserta didk agar mereka memperoleh

pengalaman dalam rangka meningkatkan kompetensi yang diinginkan

melelui proses belajar tersebut.

3.

Pengertian Peran Guru

Al-Qur’an telah mengisyaratkan peran para nabi dan pengikutnya dalam pendidikan dan fungsi fundamental mereka dalam pengkajian ilmu-ilmu Ilahi

serta aplikasinya. Isyarat tersebut, salah satunya terdapat dalam firman-Nya

berikut ini:



























































































“Ya Tuhan Kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan

mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al-Qur’an) dan Al-Hikmah

(As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha

Kuasa lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Baqarah: 129)14

Ayat di atas dapat dipahami bahwa umat Islam dianjurkan untuk

mengajarkan ilmu pengetahuan dan menjadi seorang guru kepada orang lain

14

(24)

atau siswa, mendidiknya dengan akhlak Islam dan membentuknya menjadi

manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah SWT ke muka bumi dengan

tujuan untuk membebaskan manusia dari kejahilan kepada pemahaman dan

aqidah yang benar. Dapat dikatakan bahwa Rasulullah SAW diutus untuk

mengenal Allah SWT, ajaran Islam, dan juga mengamalkan ajarannya

dengan sungguh-sungguh sehingga selamat dunia akhirat.

Hal di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad diutus untuk menjadi

seorang guru yang dapat membebaskan manusia dari kesesatan dan

melurusknnya ke jalan yang baik dan benar yang diridhai Allah. Pendidik

adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberi bimbingan atau

bantuan kepada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya agar

mencapai kedewasaannya, mampu melaksanakan tugasnya sebagai makhluk

Allah SWT, khalifah di permukaan bumi, sebagai makhluk sosial dan

sebagai individu yang sanggup berdiri sendiri.15

Sementara itu, menurut Paul Suparno, guru mempunyai peran yang

penting dalam pendidikan multikultural. Guru harus mengatur dan

mengorganisasi isi, proses, situasi, dan kegiatan sekolah secara multikultural,

di mana tiap siswa dan berbagai suku, gender, dan ras berkesempatan untuk

mengembangkan dirinya dan saling menghargai perbedaan itu. Lebih lanjut,

ia mengemukakan bahwa guru perlu menekankan keragaman (diversity)

dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan antara lain dengan cara: (1)

mendiskusikan sumbangan aneka budaya dan orang dari suku lain dalam

hidup bersama sebagai bangsa, (2) mendiskusikan bahwa semua orang dari

budaya apa pun ternyata juga menggunakan hasil kerja orang lain dari

15

(25)

budaya lain. Dalam pengelompokan siswa di kelas maupun dalam kegiatan di

luar kelas guru diharapkan melakukan keragaman itu.16

a.

Komponen-komponen Peran Guru Sebagai Pendidik

1) Materi Pendidikan

Materi dapat diketagorikan menjadi dua yakni, teks dan konteks.

Teks berisi materi pelajaran yang bersifat normatif dan general,

sementara konteks merupakan realitas empiris–faktual yang bersifat partikular. Sumber materi tidak hanya dihasilkan dari guru, tetapi

juga berasal dari realitas yang ada di sekitarnya. Peran guru di sini

hanya sekedar fasilitator, mediator, dan memberdayakan sarana

pembelajaran agar dapat dijadikan untuk mengoptimalkan

pengetahuan dan pemahaman.17

Karakteristik materi potensial yang relevan dengan pembelajaran

berbasis multikultural, antara lain meliputi:18

a) Menghormati perbedaan antar teman (gaya pakaian, mata

pencaharian, suku, agama, etnis dan budaya)

b) Menampilkan perilaku yang didasari oleh keyakinan ajaran

agama masing-masing

c) Kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara

d) Membangun kehidupan atas dasar kerjasama umat beragama

untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan

e) Mengembangkan sikap kekeluargaan antar suku bangsa dan

antar bangsa-bangsa

f) Tanggung jawab daerah (lokal) dan nasional

g) Menjaga kehormatan diri dan bangsa

16

Paul Suparno, Pendidikan Multikultural, Kompas, 7 Januari 2003

17

Ngaiman Naim dan Achmad Saoqi, Op. Cit.,, h. 204

18

(26)

h) Mengembangkan sikap disiplin diri, sosial dan nasional

i) Mengembangkan kesadaran budaya daerah dan nasional

j) Mengembangkan perilaku adil dalam kehidupan

k) Membangun kerukunan hidup

l) Menyelenggarakan „proyek budaya’ dengan cara pemahaman dan sosialisasi terhadap simbol-simbol identitas nasional, seperti

bahasa Indonesia, lagu Indonesia Raya, bendera merah putih,

lambang negara Garuda Pancasila, bahkan budaya nasional yang

menggambarkan puncak-puncak budaya di daerah dan

sebagainya.

Dari karakteristik di atas dapat disimpulkan bahwa materi

pendidikan multikultural harus mengajarkan kepada siswa nilai-nilai

luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis

(kultural).

2) Metode Pendidikan

Terkait dengan metode yang digunakan dalam pendidikan

multikultural harus mencerminkan nilai-nilai demokratis, yang

menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa

dan kelompok etnis (multikulturalis). Yang mana guru menjadi

penengah dan penetralisir faham antara pemahaman siswa yang

berbeda, sesuai dari informasi siswa yang dia dapat.

Metode yang bisa diterapkan di sini adalah dengan menggunakan

model komunikatif dengan menjadikan aspek perbedaan sebagai titik

tekan. Metode dialog sangat efektif, apalagi dalam proses belajar

mengajar yang sifatnya kajian perbandingan agama dan budaya.

Selain dalam bentuk dialog, perlibatan siswa dalam pembelajaran

dapat dilakukan dalam bentuk “belajar aktif” yang dapat dikembangkan dalam bentuk collaborative learning, atau biasa

(27)

menyumbangkan informasi, pengalaman, ide, sikap, pendapat,

kemampuan, dan ketrampilan yang dimilikinya, untuk secara

bersama-sama saling meningkatkan pemahaman seluruh anggota.

Collaborative Learning juga dilandasi oleh pemikiran bahwa

kegiatan belajar hendaknya mendorong dan membantu peserta didik

untuk terlibat secara membangun pengetahuan sehingga mencapai

pemahaman yang mendalam. Selain itu Collaborative Learning dapat

meningkatkan motivasi dan minat peserta didik, serta meningkatkan

dan mengembangkan cara berpikir kreatif. Hal ini terkait dengan

peningkatan tanggungjawab peserta didik dalam belajar secara

berkelompok sehingga dapat menciptakan seseorang yang berpikir

kreatif.19

Beberapa pilihan strategi dilaksanakan secara simultan, dan

harus tergambar dalam langkah-langkah model pembelajaran

berbasis multikultural. Namun demikian, masing-masing strategi

pembelajaran secara fungsional memiliki tekanan yang berbeda.

Strategi pencapaian konsep digunakan untuk memfasilitasi siswa

dalam melakukan kegiatan eksplorasi budaya lokal untuk

menemukan konsep budaya apa yang dianggap menarik bagi dirinya

dari budaya daerah masing-masing, dan selanjutnya menggali

nilai-nilai yang terkandung dalam budaya daerah asal tersebut. Salah

satunya jenis strategi Cooperative Learning yang merupakan istilah

umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk

mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa. Tujuan

pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan

pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap

keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial yang digunakan

19

(28)

untuk menandai adanya perkembangan kemampuan siswa dalam

belajar bersama-sama mensosialisasikan konsep dan nilai budaya

lokal dari daerahnya dalam komunitas belajar bersama teman atau.

3) Media Pendidikan Berwawasan Multikultural

Media merupakan sesuatu yang dapat menyalurkan informasi

dari sumber informasi kepada penerima informasi. Dengan demikian,

media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan

untuk menyalurkan informasi dari guru ke siswa sehingga dapat

merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat siswa dan pada

akhirnya dapat menjadikan siswa melakukan kegiatan belajar.

Ada beberapa manfaat media pembelajaran, yakni:

a) Penyampaian materi pembelajaran dapat diseragamkan

b) Proses pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik

c) Proses pembelajaran menjadi lebih interaktif

d) Efisiensi dalam waktu dan tenaga

e) Meningkatkan kualitas hasil belajar siswa

f) Memungkinkan proses belajar dapat dilakukan di mana saja dan

kapan saja

g) Menumbuhkan sikap positif siswa terhadap materi dan proses

belajar

h) Mengubah peran guru ke arah yang lebih positif dan produktif.20 Dalam konteks pendidikan multikultural, Enndha, misalnya,

memberi dua contoh media pendidikan multikultural, yakni puisi

Bhinneka Tunggal Ika dan gambar benda budaya daerah (diusahakan

20

(29)

yang tidak sama dengan kebudayaan daerah siswa di kelas

pembelajaran, agar pelakonan siswa lebih bersifat alamiah).21

Selain itu, pendidikan multikultural dapat juga memanfaatkan

berbagai produk teknologi pendidikan sebagai media. Teknologi

pendidikan dikembangkan berdasarkan pada sejumlah asumsi, di

antaranya “pendidikan dapat berlangsung secara efektif, baik di

dalam kelompok yang homogen, heterogen, maupun perseorangan

(individualized)”, dan “belajar dapat diperoleh dari siapa dan apa

saja, baik yang disengaja dirancang maupun yang diambil

manfaatnya”.22

Dari uraian di atas tampak bahwa teknologi pendidikan dapat

menjadi sarana untuk mendorong terjadinya proses pendidikan

multikultural yang berlangsung di Indonesia. Teknologi pendidikan

dengan berbagai inovasinya akan dapat melayani pendidikan bagi

semua (education for all), tanpa harus terganggu oleh perbedaan latar

belakang budaya masyarakat Indonesia yang sangat beragam.23

B.

Pendidikan Agama Islam Berwawasan Multikultural

Sebelum membahas tentang pengertian pendidikan agama Islam, perlu

kiranya untuk mengetahui pengertian multikultural, pendidikan multikultural,

pendidikan agama Islam sebagai titik tolak untuk mendapatkan pengertian

pendidikan agama Islam berwawasan multikultural.

1.

Pengertian Multikuturalisme

21

Enndha, http://enndha,wordpress.com/2009/07/31/pembelajaran-multikultural-multicultural-education. diakses pada 30 November 2009

22

Ngaiman Naim & Achmad Saoqi, Op. Cit., h. 37

23

Khairudin, Kontribusi Teknologi Pendidikan dalam Membangun Pendidikan Multikultural.

(30)

Kata culture, artinya sama dengan “kebudayaan” berasal dari kata Latin colere yang berarti “mengelola atau mengerjakan” terutama mengelola tanah atau bertani. Dari arti ini berkembang arti culture sebagai segala daya upaya

serta tindakan manusia untuk mengolah tanah dan merubah alam.24

Sedangkan kata budaya berasal dari kata Sansekerta buddhayah, yaitu

bentuk jama’ dari “budi” atau “akal”. Dengan demikian kebudayaan dapat

diartikan: “Hal-hal yang bersangkutan dengan akal”. Ada sarjana lain yang mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari majemuk budi-daya,

yang berarti “daya dari budi” karena itu mereka membedakan “budaya” dari “kebudayaan”. Demikianlah “budaya” adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta. Karsa

dan rasa itu.25

Menurut Ki Hadjar Dewantara26 kebudayaan berarti buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat

yaitu alam dan zaman (kodrat dan masyarakat). Sedangkan kebudayaan

merupakan suatu proses pemanusiaan artinya di dalam kehidupan berbudaya

terjadi perubahan, perkembangan, motivasi. Di dalam proses pemanusiaan

tersebut yang penting bukan hanya prosedur dan teknologi, tetapi juga jangan

dilupakan isi atau materi dari perubahan dan perkembangan. Setiap proses

pemanusiaan selalu didasarkan kepada suatu visi mengenai tujuan proses

tersebut. Proses pemanusiaan diarahkan kepada apa yang pantas diinginkan,

apa yang pantas dilaksanakan. Sikap tersebut akan berlawanan dengan sikap

fanatisme dan dogmatisme yang tidak mengakui adanya perbedaan pendapat

24H.A.R. Tilaar. Kekuasaan dan pendidikan “Suatu tinjauan dari perspektif studi kultural “ (

Indonesiatera, Magelang, 2003), hal.167.

25

Ainurrofiq Dawam, Pendidikan Multikultural, (Yogyakarta: Inspeal, 2006), h. 60.

26

(31)

dan usaha untuk mencari kesepakatan. Hidup demokrasi adalah hidup yang

diarahkan kepada suatu yang diinginkan.27

Istilah multikultural sebenarnya merupakan kata dasar yang mendapat

awalan. Kata dasar itu adalah kultur yang berarti kebudayaan, kesopanan, atau

pemeliharaan. Sedangkan awalannya adalah multi yang berarti banyak, ragam,

atau aneka. Dengan demikian multikultural berarti keragaman kebudayaan,

aneka kesopanan atau banyak pemeliharaan. Namun dalam tulisan ini lebih

diartikan sebagai keragaman budaya sebagai keragaman latar belakang

seseorang.28

Menurut Alo Liliweri, multikulturalisme merupakan suatu paham atau

situasi-situasi masyarakat yang tersusun dari banyak kebudayaan.

Multikulturalisme merupakan perasaan nyaman yang dibentuk manusia

berpengetahuan. Pengetahuan dibangun oleh keterampilan yang mendukung

suatu proses komunikasi yang efektif, dari setiap orang dari sikap kebudayaan

yang ditemui alam setiap situasi yang melibatkan sekelompok orang yang

berbeda latar belakangnya. Rasa aman yang diciptakan adalah suatu suasana

tanpa kecemasan, tanpa mekanisme pertahanan diri dalam pengalaman dan

perjumpaan lintas budaya.29

Multikultural seringkali diartikan sebagai pengakuan terhadap

kelompok-kelompok kecil untuk menjalankan kehidupannya, baik yang berkaitan dengan

urusan publik maupun privat. Secara etimologis, multikulturalisme

sesungguhnya berumur lama. Istilah multikulturalisme marak digunakan pada

tahun 1950-an di Kanada. Menurut Longer Oxford Dictionary istilah

“multicultural”. Kamus ini menyitir kalimat dari surat kabar Kanada,

27

Zamroni, A. Pendidikan Kecakapan Hidup dan Kesadaran Budaya, (Jakarta: MPA, 2006) h. 36

28

Ainurrofiq Dawam., Op. Cit., h. 72.

29

(32)

Montreal Times yang menggambarkan masyarakat Montreal sebagai

masyarakat “multi-kultural dan multi-lingual”.30

2.

Pengertian Pendidikan Multikultural

Pendidikan multikultural adalah pendidikan nilai yang harus ditanamkan

pada siswa sebagai calon warga negara, agar memiliki persepsi dan sikap

multikulturalistik, bisa hidup berdampingan dalam keragaman watak kultur,

agama dan bahasa, menghormati hak setiap warga negara tanpa membedakan

etnis mayoritas dan minoritas, dan dapat membangun bersama-sama kekuatan

bangsa sehingga diperhitungkan dalam percaturan global dan nation dignity31 yang kuat. Pendidikan multikultural pada jenjang pendidikan menengah, dapat

dilakukan secara komprehensif melalui pendidikan kewargaan dan pendidikan

agama Islam. Pendidikan multikultural melalui pendidikan agama Islam,

dapat dilakukan melalui penambahan atau perluasan kompetensi hasil belajar

dalam konteks pembinaan akhlak mulia dengan memberi penekanan pada

berbagai kompetensi dasar.

Pendidikan multikultural melalui pendidikan agama Islam juga harus

dilakukan dalam pendekatan deduktif diawali dengan kajian ayat dalam

tema-tema yang relevan, kemudian dikembangkan menjadi norma-norma

keagamaan, baik norma hukum maupun etik. Sehingga dapat dikembangkan

berbagai kompetensi dasar sebagai berikut:32

i. Menjadi warga negara yang menerima perbedaan-perbedaan etnis, agama,

bahasa dan budaya dalam struktur masyarakatnya.

ii. Menjadi warga negara yang bisa melakukan kerja sama multietnis,

multikultur, dan multireligi dalam konteks pengembangan ekonomi dan

kekuatan bangsa.

30

Majalah Inovasi, Kurikulum Berbasis Multikulturalisme, (Jakarta: 2003), edisi 4, h. 14.

31

Nation Dignity ialah harkat dan martabat sebuah Bangsa

32

(33)

iii. Menjadi warga negara yang mampu menghormati hak-hak individu warga

negara tanpa membedakan latar belakang etnis, agama, bahasa dan

budaya dalam semua sektor sosial, pendidikan, ekonomi, politik, dan

lainnya, bahkan untuk memelihara bahasa dan mengembangkan budaya

mereka.

iv. Menjadi warga negara yang memberi peluang pada semua warga negara

untuk terwakili gagasan dan aspirasinya dalam lembaga-lembaga

pemerintahan, baik legislatif maupun eksekutif.

v. Menjadi warga negara yang mampu mengembangkan sikap adil dan

mengembangkan rasa keadilan terhadap semua warga negara tanpa

membedakan latar belakang etnis, agama, bahasa dan budaya mereka.

Menurut seorang pakar pendidikan dari Barat, Prudence Crandall

sebagaimana dikutip Ainurrofig Dawam, pendidikan multikultural secara

epistemologis terdiri atas dua terma, yaitu pendidikan dan multikultural.

Pendidikan dapat diartikan sebagai proses pengembangan sikap dan tata laku

seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia

melalui pengajaran, pelatihan, proses, perbuatan, dan cara-cara yang

mendidik. Sedangkan istilah multikultural berasal dari kata dasar “kultur” yang berarti kebudayaan, kesopanan, atau pemeliharaan yang mendapat

awalan “multi” yang berarti banyak, ragam, atau aneka.

Secara terminologis, pendidikan multikultural berarti proses

pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan

heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan aliran

(agama).33 Pengertian pendidikan multikultural yang demikian tentu mempunyai implikasi yang sangat luas dalam pendidikan. Karena pendidikan

33

(34)

sendiri secara umum dipahami sebagai proses tanpa akhir atau proses

sepanjang hayat.34

Melihat dan memperhatikan pengertian pendidikan multikultural di atas,

maka dapat diambil pemahaman bahwa pendidikan multikultural bertujuan

menawarkan satu alternatif melalui implementasi strategi dan konsep

pendidikan yang berbasis pada pemanfaatan keragaman yang terdapat dalam

masyarakat, khususnya yang ada pada siswa seperti pluralitas etnis, budaya,

bahasa, agama, status sosial, gender, kemampuan, umur, dan ras. Strategi

pendidikan ini tidak hanya bertujuan supaya siswa mudah memahami

pelajaran yang dipelajarinya, namun juga untuk meningkatkan kesadaran

mereka agar senantiasa berperilaku humanis, pluralis, dan demokratis.

Jadi menurut penulis dapat disimpulkan bahwa multikultural adalah

semua buah pikir dan budi manusia yang merupakan hasil perjuangan

manusia terhadap kelangsungan kehidupan manusia itu sendiri untuk saling

menghargai dan menghormati berbagai perbedaan, seperti bahasa, sistem

pengetahuan, organisasi sosial, pencarian hidup, religi, kesenian dan

sebagainya. Yang semuanya itu menjadi tatanan hidup dan bagian dari

pluralitas ciptaan Tuhan yang manusia harus nikmati sebagai makhluk-Nya,

karena jika manusia tidak diciptkan dalam keragaman maka manusia sulit

untuk saling mengenal dan berinteraksi dalam keragaman yang mewarnai

kehidupan. Dengan adanya sikap yang baik terhadap kehidupan yang

multikultural maka harapan hidup yang damai dalam keragaman akan tercipta.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap multikultural adalah

kecenderungan untuk berperilaku yang selalu diarahkan untuk menghormati

dan menghargai kepada semua pikiran dan budi manusia yang merupakan

34

Mey. S dan Syarifuddin M., Pendidikan Berwawasan Multikultural di Madrasah,

(35)

hasil perjuangan manusia terhadap kelangsungan kehidupan manusia itu

sendiri seperti bahasa, sistem pengetahuan, organisasi sosial, pencarian hidup,

religi, kesenian dan sebagainya. Dan yang semua ini pada intinya adalah

saling menerima kemajemukan dalam kelangsungan hidup masyarakat demi

terciptanya mobilitas atau terlaksananya masyarakat yang rukun damai

ditenga perbedaan.

3.

Pendidikan Agama Islam

a.

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Memperbincangkan pendidikan agama Islam tentu saja tidak dapat

dilepaskan dari pendidikan secara umum. J. Sudirminta mendefinisikan

pendidikan sebagai usaha sadar yang dilakukan oleh pendidik melalui

bimbingan, pengajaran, dan latihan untuk membantu peserta didik

mengalami proses pemanusiaan diri ke arah tercapainya pribadi yang

dewasa-susila.35

Pendidikan menurut Abuddin Nata adalah “upaya menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai bagi anak didik. Sehingga nilai-nilai yang

terkandung dalam pendidikan itu menjadi bagian dari kepribadian anak

yang pada gilirannya ia menjadi orang pandai, baik, mampu hidup dan

berguna bagi masyarakat”.36

Menurut KI Hajar Dewantara, sebagaimana yang dikutip Abuddin

Nata, menyatakan bahwa:

“Pendidikan adalah usaha yang dilakukan dengan penuh keinsyafan yang ditujukan untuk keselamatan dan kebahagiaan manusia. Pendidikan tidak hanya bersifat pelaku pembangunan tetapi sering merupakan perjuangan. Pendidikan berarti memelihara hidup ke arah kemajuan, tidak boleh melanjutkan keadaan kemarin menurut alam

35

J. Sudarminta, Filsafat Pendidikan, (Yogyakarta: IKIP Sanata Dharma, 1990), h. 12.

36

(36)

kemarin. Pendidikan adalah usaha kebudayaan, berasas peradaban, yaitu memajukan hidup agar mempertinggi derajat kemanusiaan.”37

Kata pendidikan, menurut Zakiyah Daradjat,38 sinonim dengan kata

tarbiyah (dalam bahasa Arab). Pendidikan Islam yang merupakan

terjemahan dari tarbiyah Islamiyah, dipahami sebagai proses untuk

mengembangkan fitrah manusia, sesuai dengan ajarnya (pengaruh dari

luar). Sedangkan, Bassam Tibi mendefinisikan pendidikan sebagai sistem

sosial yang dapat membentuk subsistem-subsistem dalam sistem sosial

secara total. Interaksi terjadi antara subsistem dan institusi-institusi lain

dari sistem sosial masing-masing. Dalam sistem pendidikan, orang-orang

tersosialisasikan sesuai dengan orientasi yang ditentukan secara budaya.

Sistem semacam ini kadangkala juga dipengaruhi secara eksternal,

khususnya dalam konteks interaksi dengan lingkungan baik nasional

maupun internasional.39 Menurut Redja Mudyaharjo, pendidikan adalah

“segala pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan

sepanjang hidup”.40

Berdasarkan pengertian tentang pendidikan di atas, dapat disimpulkan

bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan seorang pendidik

untuk memberi bimbingan kepada yang terdidik dalam mengembangkan

potensi yang dimilikinya menuju arah kehidupan yang lebih baik, baik

bersifat formal, informal maupun nonformal. Yang juga bertujuan

37

Abuddin Nata, Op. Cit., h. 11

38

Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam Sejak Dini, (Jakarta: A.H. Ba’adillah Press, 2002),

Cet. I, h. 11

39

Sutrisno, Fazhur Rahman, Kajian terhadap Metode, Epistemologi dan Sistem Pendidikan,

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), h. 27

40

(37)

membangun dan memperbaiki akhlaq budi pekerti dalam pekembangan

mental dan jiwa terdidik.

Pendidikan agama sendiri adalah “pendidikan yang memberikan pengetahuan dan membentuk sikap, kepribadian dan ketrampilan peserta

didik dalam mengamalkan ajaran agamanya, yang dilaksanakan

sekurang-kurangnya melalui mata pelajaran atau kuliah pada semua jalur, jenjang

dan jenis pendidikan”.41 Dengan kata lain, pendidikan agama merupakan

“pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan

peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan tentang ajaran agama

dan/atau menjadi ahli ilmu agama dan mengamalkan ajaran agamanya”.42 Menurut Hasan Langgulung, pendidikan agama Islam adalah

pendidikan yang memiliki empat macam fungsi, yaitu: 1) Menyiapkan

generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam

masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan

kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri. 2). Memindahkan ilmu

pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari

generasi tua kepada generasi muda. 3) Memindahkan nilai-nilai yang

bertujuan memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi

syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan

peradaban. Dengan kata lain, tanpa nilai-nilai keutuhan (integrity) dan

kesatuan (integration) suatu masyarakat, maka kelanjutan hidup tersebut

tidak akan dapat terpelihara dengan baik yang akhirnya akan berkesudahan

dengan kehancuran masyarakat itu sendiri.43

Sedangkan pendidikan Agama Islam menurut Zakiah Darajat adalah

“suatu usaha untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa

41

http://www.depdiknas.co.id, Di akses pada: 18 November 2014

42

http://www.depag.co.id, Di akses pada: 18 November 2014

43

Starawaji, Pengertian Pendidikan Agama Islam Menurut Beberapa Pakar,

(38)

dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh. Lalu menghayati tujuan,

yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai

pandangan hidup”.

Pendidikan Agama Islam juga diartikan sebagai pendidikan dengan

melalui ajaran-ajaran agama Islam, yakni berupa bimbingan dan asuhan

terhadap anak didik agar nantinya setelah selesai dari pendidikan, ia dapat

memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam yang

telah diyakininya secara menyeluruh serta menjadikan ajaran agama Islam

itu sebagai suatu pandangan hidupnya demi keselamatan dan kesejahteraan

hidup di dunia maupun di akhirat kelak.44

Pendidikan merupakan aktivitas kultural yang sangat khusus dan

fundamental dalam kehidupan manusia karena tanpa pendidikan mustahil

sebuah kebudayaan atau peradaban dapat bertahan hidup.45 Hal ini mengandung arti bahwa fungsi kultural pendidikan meliputi fungsi

konservatif (melestarikan kultur) dan perkembangan progresif (memajukan

kultur). Perkembangan budaya akan mengalami stagnasi manakala fungsi

“melestarikan” budaya amat dominan. Sebaliknya, perkembangan budaya akan sangat dinamis manakala fungsi “memajukan dan merekonstruksi”

dalam epistemologi budaya juga dominan.

b.

Fungsi Pendidikan Agama Islam

Menurut Abdul Majid dan Dian Andayani,46 pendidikan Agama Islam di sekolah dan madrasah berfungsi untuk memotivasi siswa melakukan

perbuatan yang baik agar dalam dirinya tercipta kepribadian yang

berakhlak terpuji dan untuk mengembangkan mental keagamaan serta

44

Zakiah Darajat, Op. Cit., h.37

45

Hilmy Masdar, Menggagas Paradigma Pebdidikan Berbasis Multikulturalisme,

(Jakarta: Jurnal Ulumuna, 2003), h. 68

46

(39)

memberikan pengetahuan agar siswa paham mengenai ajaran-ajaran

agama. Lebih rinci lagi, pendidikan agama Islam berfungsi sebagai wahana

untuk:

1) Pengajaran tentang ilmu pengetahuan keagamaan secara umum, sistem

dan fungsionalnya.

2) Penanaman nilai, yaitu sebagai pedoman hidup untuk mencari

kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

3) Pengembangan, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan peserta

didik kepada Allah SWT, yang telah ditanamkan mulai dari dalam

lingkungan keluarga agar terus berkembang secara optimal sesuai

dengan tingkat perkembangannya.

4) Penyesuaian mental, yaitu menyesuaikan diri dengan lingkungannya

baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dan dapat mengubah

lingkungannya sesuai dengan agama Islam.

5) Penyaluran, yaitu untuk menyalurkan anak-anak yang memiliki bakat

khusus di bidang agama Islam agar bakat tersebut dapat berkembang

secara optimal sehingga dapat dimanfaatkan untuk dirinya sendiri dan

bagi orang lain.

6) Pencegahan, yaitu untuk menangkal hal-hal negatif dari lingkungannya

atau dari budaya lain yang dapat membahayakan dirinya dan

menghambat perkembangannya menuju manusia Indonesia seutuhnya.

7) Perbaikan, yaitu untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan,

kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam keyakinan,

pemahaman dan pengalaman dalam ajaran sehari-hari.47

Dari penjelasan di atas, fungsi Pendidikan Agama Islam di sekolah

atau madrasah yakni untuk mengembangkan pemahaman siswa

mengenai ajaran agama Islam yang telah mereka dapatkan dalam

47

(40)

lingkungan keluarga serta memperbaiki dan mencegah dari

kesalahan-kesalahan pemahaman dan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran

agama Islam.

C.

Kerangka Berfikir

Pendidikan agama merupakan kebutuhan yang tidak dapat dipungkiri bagi

anak didik khususnya di Indonesia. Sebab mayoritas penduduk Indonesia adalah

penduduk yang mengakui agama, hal ini terbukti dari falsafah bangsa Indonesia

sendiri yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sehingga kehidupan moral manusia

dan penghayatan keagamaan dalam kehidupan seseorang sebenarnya bukan

sekadar mempercayai seperangkat aqidah dan melaksanakan tata cara upacara

keagamaan saja, tetapi merupakan usaha yang terus menerus untuk

menyempurnakan diri pribadi dalam hubungan vertikal kepada Tuhan dan

horizontal terhadap sesama siswa sehingga mewujudkan keselarasan, keserasian

dan keseimbangan hidup menurut fitrah kejadiannya sebagai mahluk individu,

mahluk sosial, serta mahluk yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa.

D.

Hasil Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini antara lain penelitian

yang dilakukan oleh:

1. Resdhia Maulana Pracahya, dengan judul Konsep K.H. Abdurrahman Wahid

Tentang Pendidikan Islam Multikultural. Penelitian ini menyatakan bahwa

pendidikan Islam multikultural lebih menekankan pada aspek psikomotorik

ditambah dengan aspek spiritual dan humanisme. Aspek tersebut akan

(41)

Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta.

2. Akhwani Subkhi, dengan judul Pendidikan Berperspektif Multikultural.

Penelitian ini menyatakan bahwa pendidikan multikultural adalah sebuah

proses yang harus terus menerus dikembangkan dan diperhalus oleh para ahli

pendidikan. Tahun 2010 di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas

(42)

32

BAB III

METODE PENELITIAN

Penelitian yang dilakukan oleh penulis merupakan penelitian kualitatif atau

dengan kata lain penelitian yang bersifat non statistik. Jenis penelitian kualitatif ini

mengacu pada prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari pelaku yang dapat diamati.

Penelitian ini merupakan penelitian lapangan tentang Peran Guru Pendidikan

Agama Islam dalam Menerapkan Pendidikan Multikultural Di Sekolah Menengah

Pertama (SMP) Mentari International School Jakarta.

A.

Tempat dan Waktu

Tempat yang dijadikan objek penelitian adalah di SMP Mentari

International School yang beralamat Jl. H. Jian RT 004 RW 03 Cipete Utara.

Adapun pelaksanaannya dilaksanakan pada bulan Februari 2015.

B.

Metode Penelitian

Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk

mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.1

Pengertian metode penelitian adalah anggapan dasar tentang suatu hal yang

dijadikan pijakan berpikir dan bertindak dalam melaksanakan penelitian.

Misalnya, peneliti mengajukan asumsi bahwa sikap seseorang dapat diukur

dengan menggunakan skala sikap. Dalam hal ini, ia tidak perlu membuktikan

kebenaran hal yang diasumsikannya itu, tetapi dapat langsung memanfaatkan

hasil pengukuran sikap yang diperolehnya. Asumsi dapat bersifat substantif atau

1

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,

(43)

metodologis. Asumsi substantif berhubungan dengan permasalahan penelitian,

sedangkan asumsi metodologis berkenaan dengan metodologi penelitian.2

Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan

data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.3 Penelitian skripsi ini menggunakan metode deskriptif yaitu penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala,

peristiwa, kejadian yang terjadi saat sekarang. Penelitian deskriptif memusatkan

perhatian pada masalah aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian

berlangsung. Melalui penelitian deskriptif, peneliti berusaha mendeskripsikan

peristiwa dan kejadian yang menjadi pusat perhatian tanpa memberikan

perlakuan khusus terhadap peristiwa tersebut. Variable yang diteliti bisa tunggal

(satu variable) bisa juga lebih dari satu variable.4

C.

Teknik Pengumpulan data

Untuk memperoleh data yang diperlukan penulis menggunakan metode yang

sekiranya sesuai dengan masalah yang diteliti Dalam hal ini penulis

menggunakan:

1.

Observasi

Metode observasi adalah metode yang digunakan dengan jalan

mengadakan pengamatan terhadap objek yang diteliti sebagaimana yang

diungkapkan Sutrisno Hadi: “Metode observasi bisa dikatakan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematis terhadap fenomena-fenomena

yang diselidiki, dalam arti yang luas, observasi tidak hanya terbatas pada

pengamatan yang dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung”.5

2

Juliansyah Noor, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011), h. 254

3

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 2

4

Ibid., h. 34

5

(44)

Observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang

spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara dan

kuesioner. Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan

orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek

alam yang lain.6

Tindakan observasi dilakukan peneliti pada umumnya menpunyai

tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul dalam

variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi

variabe

Referensi

Dokumen terkait

Selain mempunyai beberapa peran Guru PAI juga mempunyai tugas yang harus dilakukan untuk mengembangkan mutu pendidikan peserta didik. Dalam aspeknya guru mempunyai

Dengan mengamati fakta tekstual maupun kontekstualnya, maka di sini penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam PAI

Azizah, Imro’atul. Strategi Guru Pendidikan Agama Islam dalam Menanamkan Nilai-nilai Multikultural di SMP Negeri 15 Kota Malang. Tesis, Program Studi Magister Pendidikan

Murid secara etimologis artinya orang yang berkehendak, berkemauan dan mempunyai cita-cita. Murid dalam istilah tarekat adalah orang yang bermaksud menempuh jalan untuk

Faktor Pendukung Salah satu yang menjadi faktor pendukung bagi kepala sekolah dalam meningkatkan profesionalisme guru PAI di SDN Mulyorejo 1 ini adalah latar belakang pendidikan

Beberapa upaya yang bisa dilakukan oleh guru PAI dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan bullying ini adalah melakukan pengembangan kepribadian siswa yang mencerminkan

Tujuan dari penelitian disini ada tiga yaitu, untuk mendeskripsikan strategi guru pendidikan agama islam PAI dalam membentuk karakter siswa di SDN Manggis 3 Puncu, selain itu juga untuk

Upaya lain juga dilakukan guru PAI untuk mengatasi kesulitan belajar membaca Al-Qur’an yang dialami siswa mengenai kurangnya pemahaman siswa terhadap memahami hukum-hukum tajwid pada