SKRIPSI
Oleh :
Ajeng Roro Angistya Pinakesti 201110230311372
FAKULTAS PSIKOLOGI
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Self-disclosure dan Stres pada Mahasiswa” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Namun selama menjalani proses perkuliahan dan penyusunan skripsi ini, tidak terlepas dari hambatan-hambatan yang harus dihadapi serta dukungan yang didapatkan oleh penulis.
Selama keseluruhan proses meraih gelar sarjana psikologi, penulis mendapat banyak bimbingan, bantuan, serta petunjuk yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karen aitu, pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dra. Tri Dayakisni, M.Si., selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang
2. Dr. Diah Karmiyati, M.Si., selaku Dosen Pembimbing I dan Zakarija Achmat, S.Psi.,
M.Si., selaku Dosen Pembimbing II yang selama proses pengerjaan skripsi telah mendukung dan menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan serta pengarahan yang berguna dan baik.
3. Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A., selaku dosen wali yang telah mendukung dan
memberikan pengarahan selama perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.
4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah
memberikan ilmunya yang sangat bermanfaat, khususnya bagi penulis hingga saat ini.
5. Keluarga tercinta penulis, Mami, Papi, Ayu Hemas F.A.,S.H., Anggita Maharani K.,
dan Alexandra yang senantiasa memberikan motivasi dan doa dalam kehidupan penulis dan selama proses perkuliahan serta proses menyelesaikan skripsi ini.
6. Sahabat-sahabat baik penulis, Dessy Iqra Sardy, S.Farm yang selau mendukung,
menghibur dan membantu penulis sejak bangku SMA, and TJ for always listening to my problems, always supporting me and literally always find a way to help me clear my head and make me laugh. I wouldn’t be here if it wasn’t for my family and for you both also, thank you.
7. Teman-teman SMA, terutama Ratotoers, Putri Wardhani, Kapti Cleopatria, Neneng
Uswatun, yang telah sering menghibur penulis.
8. Teman-teman Psikologi Kelas F 2011, Intan, Ayi, Elda, Nastiti,Herdiyani, dan
teman-teman KKN 27-2015, Ecax, Intan, Nia, Tara, Meta, Lilik.
9. Seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang telah bersedia menjadi
subjek penelitian.
10.Semua pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi peneliti dan memberikan informasi pembaca pada umumnya. Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya ini sangat penulis harapkan.
Malang, 30 Januari 2016 Penulis
Ajeng Roro Angistya Pinakesti
Halaman Pengesahan ... i
Surat Pernyataan ... ii
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... iv
Daftar Tabel ... v
Daftar Lampiran ... vi
Abstrak ... 1
Latar Belakang ... 2
Tinjauan Teori ... 5
Metode Penelitian ... 11
Hasil Penelitian ... 13
Diskusi ... 14
Simpulan dan Implikasi ... 17
Referensi ... 18
Tabel 1. Uji Validitas Item ... 12
Tabel 2. Uji Reliabilitas Skala ... 12
Tabel 3. Klasifikasi self-disclosure ... 13
Tabel 4. Klasifikasi stres ... 13
Tabel 5. Hasil Uji Pearson Product Moment ... 13
Lampiran 1. Skala Try Out ... 23
Lampiran 2. Hasil Analisis Validitas dan Reliabilitas Skala ... 29
Lampiran 3. Skala Penelitian ... 36
Lampiran 4. Tabulasi Data ... 42
Lampiran 5. Hasil Analisis Pearson-Product Moment ... 58
iii
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Self-disclosure dan Stres pada
Mahasiswa” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang. Namun selama menjalani proses perkuliahan dan penyusunan skripsi ini, tidak terlepas dari hambatan-hambatan yang harus dihadapi serta dukungan yang didapatkan oleh penulis.
Selama keseluruhan proses meraih gelar sarjana psikologi, penulis mendapat banyak bimbingan, bantuan, serta petunjuk yang bermanfaat dari berbagai pihak. Oleh karen aitu, pada kesempatan kali ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada:
1. Dra. Tri Dayakisni, M.Si., selaku dekan Fakultas Psikologi Universitas
Muhammadiyah Malang
2. Dr. Diah Karmiyati, M.Si., selaku Dosen Pembimbing I dan Zakarija Achmat, S.Psi.,
M.Si., selaku Dosen Pembimbing II yang selama proses pengerjaan skripsi telah mendukung dan menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan serta pengarahan yang berguna dan baik.
3. Siti Maimunah, S.Psi., M.M., M.A., selaku dosen wali yang telah mendukung dan
memberikan pengarahan selama perkuliahan hingga selesainya skripsi ini.
4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang telah
memberikan ilmunya yang sangat bermanfaat, khususnya bagi penulis hingga saat ini.
5. Keluarga tercinta penulis, Mami, Papi, Ayu Hemas F.A.,S.H., Anggita Maharani K.,
dan Alexandra yang senantiasa memberikan motivasi dan doa dalam kehidupan penulis dan selama proses perkuliahan serta proses menyelesaikan skripsi ini.
6. Sahabat-sahabat baik penulis, Dessy Iqra Sardy, S.Farm yang selau mendukung,
menghibur dan membantu penulis sejak bangku SMA, and TJ for always listening to my problems, always supporting me and literally always find a way to help me clear my head and make me laugh. I wouldn’t be here if it wasn’t for my family and for you both also, thank you.
7. Teman-teman SMA, terutama Ratotoers, Putri Wardhani, Kapti Cleopatria, Neneng
Uswatun, yang telah sering menghibur penulis.
8. Teman-teman Psikologi Kelas F 2011, Intan, Ayi, Elda, Nastiti,Herdiyani, dan
teman-teman KKN 27-2015, Ecax, Intan, Nia, Tara, Meta, Lilik.
9. Seluruh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang telah bersedia menjadi
subjek penelitian.
10.Semua pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi peneliti dan memberikan informasi pembaca pada umumnya. Penulis menyadari masih ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini, sehingga kritik dan saran demi perbaikan karya ini sangat penulis harapkan.
iv
Halaman Pengesahan ... i
Surat Pernyataan ... ii
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... iv
Daftar Tabel ... v
Daftar Lampiran ... vi
Abstrak ... 1
Latar Belakang ... 2
Tinjauan Teori ... 5
Metode Penelitian ... 11
Hasil Penelitian ... 13
Diskusi ... 14
Simpulan dan Implikasi ... 17
v
Tabel 1. Uji Validitas Item ... 12
Tabel 2. Uji Reliabilitas Skala ... 12
Tabel 3. Klasifikasi self-disclosure ... 13
Tabel 4. Klasifikasi stres ... 13
vi
Lampiran 1. Skala Try Out ... 23
Lampiran 2. Hasil Analisis Validitas dan Reliabilitas Skala ... 29
Lampiran 3. Skala Penelitian ... 36
Lampiran 4. Tabulasi Data ... 42
SELF-DISCLOSURE
DAN STRES PADA MAHASISWA
Ajeng Roro Angistya PinakestiFakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang
Semakin banyak perubahan hidup yang dialami oleh seseorang, akan semakin banyak stres yang dirasakan dan semakin besar kemungkinannya hal ini menimbulkan gangguan dan penyakit. Tuntutan yang melebihi kapasitas dapat menimbulkan stres, termasuk yang dialami oleh mahasiswa. Transisi ke perguruan tinggi dapat dikarakteristikkan sebagai peristiwa kehidupan yang penuh dengan tekanan karena terjadi berbagai perubahan hidup. Salah satu
cara untuk menghadapi stres yang dialami adalah dengan mengungkapkan diri (
self-disclosure). Self-disclosure yang dilakukan oleh mahasiswa dapat membantu dalam mengurangi beban, mendapatkan umpan balik dan perspektif baru, serta memperoleh lebih banyak dukungan informasi dan emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
hubungan antara self-disclosure dan stres mahasiswa. Penelitian ini dilakukan pada 248 orang
mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang. Hasil analisis data dengan uji Pearson
Product Moment, menunjukkan koefisien korelasi (r) antara kedua variabel adalah sebesar -0,130. Hal tersebut berarti menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara kedua variabel, dengan taraf signifikansinya adalah 0,041 (p < 0,05) yang menunjukkan bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan.
Kata Kunci: Pengungkapan Diri, Stres, Mahasiswa
The more life changes a person experiences, the more stress they will feel and the more likely it is that illness and disease will result. The demands that exceed oneself’s capacity can cause stress, which is also experienced by university students. The transition to university can be characterized as events of a life filled with stress due to various life changes. One way to deal with the stress is to self-disclose. Self-disclosure may help in reducing the burden, to get feedback and new perspectives, as well as get more information and emotional support. The aim of this study is to determine the relationship between self-disclosure and stress among university students. This study was conducted among 248 students of University of Muhammadiyah Malang. The results of data analysis with Pearson Product Moment test showed a coefficient correlation (r) between the two variables is -0.130. This means that there is a negative relationship between two variables, with significance level is 0.041 (p <0.05), which indicates that the two variables have a significant relationship.
Stres telah dikaitkan dengan peristiwa besar dalam hidup, tuntutan pada kehidupan sehari-hari, dan perubahan dalam hidup. Stres muncul dari tuntutan lingkungan dan tuntutan internal yang berlebihan yang memerlukan usaha dan penyesuaian yang terus menerus (dalam Pfeiffer, 2001). Situasi penuh tekanan yang dapat datang kapan saja, merupakan bentuk stres yang tidak dapat kita hindari. Apabila kita dapat mengamati secara mendalam tentang semua permasalahan yang akan mengundang stres, tentunya kita akan dapat menyikapi penyebab dari stres tersebut secara tepat. Tidak ada keraguan mengenai apabila stres meningkat, maka akan meningkat pula kemungkinan munculnya penyakit. Menurut Lazarus & Folkman (1984) stres sangat terkait antara manusia dan lingkungannya. Oleh karena itu, stres diartikan sebagai hubungan antara individu dengan lingkungan yang oleh individu dinilai membebani atau melebihi kekuatannya dan mengancam kesehatannya.
Tuntutan yang melebihi kapasitas dapat menimbulkan stres, termasuk yang dialami oleh mahasiswa. Transisi ke perguruan tinggi dapat dikarakteristikkan sebagai peristiwa kehidupan yang penuh dengan tekanan karena terjadi berbagai perubahan hidup. Beberapa orang lebih sensitif terhadap tekanan yang dihadapi daripada yang lain sehingga karakteristik seseorang dan pola perilaku harus dilihat untuk menentukan kepentingan dan kerentanan mereka terhadap stres. Banyak mahasiswa mengalami stres yang amat tinggi terkait dengan tuntutan perubahan seperti meninggalkan rumah, menjadi pengambil keputusan yang independen, dan bersaing dengan standar yang baru (Altmaier,1983). Pfeiffer (2001), menyebutkan bahwa ada
beberapa sumber stres yang dialami oleh mahasiswa yakni; transisi, homesickness, tuntutan
akademis, masalah finansial/pekerjaan, menjalin hubungan, dan intervensi koping stres.
Beberapa penelitian seperti yang dilaporkan dalam artikel Prevalance of Mental Health Issues
among College Students:How Do Advisers Equip Themselves?, Hunt dan Eisenberg (2010) mengungkapkan bahwa terdapat peningkatan jumlah mahasiswa di berbagai perguruan tinggi dengan masalah kesehatan mental. Dilansir pada artikel yang sama, menurut sebuah studi percontohan yang dilakukan oleh Center for the Study of Collegiate Mental Health (CSCMH) pada tahun 2009, 75% kasus gangguan mental didiagnosis mulai pada usia 24 tahun. Hal ini berarti, bagi mahasiswa banyak masalah kesehatan mental yang akan muncul sebelum atau selama kuliah. American College Health Association (2015) melaporkan bahwa menurut mahasiswa stres adalah faktor kesehatan yang paling umum mempengaruhi kinerja akademis mereka. Merupakan hal yang sangat tidak biasa bagi mahasiswa untuk mengalami berbagai tingkat stres, kecemasan, dan depresi selama waktu mereka di perguruan tinggi, hal ini disebabkan karena mereka menghadapi tekanan baik akademik dan non-akademik selama pengalaman kuliah. Beberapa contoh stres non-akademik meliputi hubungan pribadi, kehidupan kerja, dan keluarga.
Di sisi lain, selama masa perkuliahan, yang dikenal sebagai masa yang penuh tekanan, mahasiswa dapat sering menghadapi stres pribadi, sosial, akademis, ekonomi, dan sebagainya di berbagai area dalam kehidupan. Berbagai masalah yang dihadapi mahasiswa nampaknya lebih kompleks dan memerlukan perhatian khusus, Ilakkuvan,dkk (2011) menyebutkan salah
satunya adalah bunuh diri, dimana pada tahun 2009 Healthy Minds Study (Eisenberg, dalam
Salah satu sumber penting yang dapat digunakan bagi mahasiswa untuk mengatasi stres adalah dengan mendapatkan dukungan sosial. Mahasiswa akan dapat mengatasi tekanan lebih mudah melalui dukungan yang mereka terima dari teman-teman atau keluarga. Sementara dukungan sosial dipandang sebagai mekanisme perlindungan terhadap stres, beberapa faktor psikologis mungkin memiliki peningkatan atau penurunan efek pada dukungan ini. Pengaruh positif dan negatif, dua indikator yang berlawanan dari penyesuaian psikologis individu, dapat
berfungsi secara berbeda. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Çivitcia (2015), peran
moderator dari pengaruh positif dan negatif dapat mempengaruhi hubungan antara dukungan sosial yang dirasakan dengan stres pada mahasiswa. Temuan penelitian tersebut menunjukkan bahwa pengaruh negatif memiliki peran moderator dalam hubungan antara dukungan sosial yang dirasakan dengan stres, sedangkan pengaruh positif tidak memiliki fungsi yang sama. Dengan demikian, dengan meningkatnya efek negatif, efek positif dari dukungan sosial pada stres yang dirasakan menurun.
Folkman (1986) mengatakan bahwa salah satu cara untuk memahami pertanyaan-pertanyaan mengenai stres adalah dengan mengetahui lebih lanjut tentang situasi yang dialami. Salah satu upaya untuk mengetahui situasi tersebut adalah dengan membuka diri. Pengungkapan diri atau
self-disclosure yang baik dinilai dapat meringankan stres yang dialami. Self-disclosure juga dapat membantu dalam menghadapi stres dan ketegangan, karena dengan mengungkapkan sesuatu kepada orang lain, maka seseorang akan merasa bebannya telah berkurang. Berbagi masalah atau keprihatinannya dengan orang lain mungkin akan membantu dalam menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi. Bahkan transisi besar dalam hidup seperti berada jauh dari rumah ke perguruan tinggi dapat memperburuk gangguan mental yang ada atau memicu yang baru. Hasil penelitian oleh Bell dan Bromnick (1998)
yang memaparkan bahwa self disclosure yang tinggi secara signifikan mengurangi
homesickness daripada self-disclosure yang rendah.
Johnson (1996) mengungkapkan bahwa terdapat dua cara utama dalam pengungkapan diri
untuk membangun dan memelihara hubungan, yakni; a) self disclosure memiliki dua sisi,
yakni dengan self disclosure memungkinkan orang lain untuk mengenal diri kita, dan kita
mengenal mereka, b) self disclosure memungkinkan kita dan orang lain untuk
mengidentifikasi tujuan bersama dan kebutuhan yang tumpang tindih, kepentingan, kegiatan, dan nilai-nilai. Sama seperti hubungan yang dibangun melalui pengungkapan diri, hubungan dapat rusak oleh kurangnya pengungkapan diri. Kadang-kadang orang menyembunyikan reaksi mereka dari orang lain karena takut akan penolakan, takut akan potensi terjadinya konflik, atau adanya perasaan malu dan rasa bersalah yang muncul, dimana hal ini dapat menambah stres pada suatu hubungan.
Penelitian terdahulu yang dilakukan pada tingkat pendidikan yang berbeda menunjukkan
masing-masing hasil yang berbeda pula mengenai keterlibatan self-disclosure pada stres
remaja sekolah. Penelitian yang dilakukan oleh Suryaningsih (2013) dengan subjek remaja di
Sekolah Menengah Pertama (SMP), memaparkan bahwa terdapat hubungan positif antara
self-disclosure dengan stres pada remaja dengan peran self-disclosure terhadap stress sebesar
4,8%, secara umum siswa pada penelitian ini memiliki tingkat self-disclosure sedang
(91,67%) dan tingkat stress sedang (69,05%). Sedangkan penelitian lain yang dilakukan oleh Anggrian (2014) pada remaja di Sekolah Menengah Atas (SMA) dan memperoleh hasil bahwa sebesar 81,8% adalah remaja yang terbuka dan sebesar 51,9% adalah remaja dengan tingkatan stres sedang. Hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara variabel
Tampak juga bahwa berbicara, baik itu kepada anggota keluarga, teman, ataupun ahli terapi, dapat menolong. Selain membantu kita memulai, membangun, dan memelihara hubungan,
self-disclosure juga memiliki banyak keuntungan. Menurut Johnson (1996) keuntungan self-disclosure diantaranya adalah pertama, self-disclosure memungkinkan kita untuk memvalidasi
persepsi kita tentang realitas. Kedua, self disclosure dapat membantu mengelola stres dan
kesulitan. Berkomunikasi erat dengan orang lain, terutama pada saat mengalami stres, tampaknya menjadi kebutuhan dasar manusia. Pengungkapan diri membentuk dasar untuk dukungan dan kepedulian selama krisis. Ketiga, pengungkapan diri memenuhi kebutuhan manusia untuk diketahui secara erat. Kebanyakan orang ingin seseorang yang mengetahui mereka dengan baik dan menerima, menghargai, menghormati, serta menyukai mereka. Akhirnya, pengungkapan diri meningkatkan kesadaran diri dan pemahaman tentang diri sendiri dengan memperoleh perspektif yang lebih obyektif tentang pengalaman dan melalui memprovokasi umpan balik dari orang lain.
Altman dan Taylor (dalam Sears,dkk.,1988) mengemukakan suatu model perkembangan
hubungan dengan self-disclosure sebagai media utamanya. Mereka menyebut proses untuk
mencapai keakraban hubungan antarpribadi sebagai penetrasi sosial. Mereka yakin bahwa penetrasi sosial ini terjadi dalam dua dimensi utama, yaitu keluasan dan kedalaman. Sejalan dengan perkembangan suatu hubungan dari yang dangkal sampai menjadi hubungan yang akrab, orang semakin berani mengungkapkan hal-hal yang bersifat pribadi mengenai dirinya (Sears,dkk.,1988).
Suatu hubungan yang sehat dibangun diatas pengungkapan diri. Pengungkapan diri atau
self-disclosure yang dilakukan manusia dapat terdiri dari berbagai topik seperti informasi pikiran, perasaan, dan perilaku yang sesuai dan terdapat di dalam diri (DeVito, 2010). Namun, tidak dapat kita pungkiri bahwa mengungkapkan diri pada orang lain memiliki resiko. Karena resiko inilah beberapa orang lebih memilih untuk menyembunyikan diri dari orang lain dengan keyakinan bahwa tidak mendapatkan reaksi mungkin lebih baik daripada mendapatkan reaksi negatif (Johnson, 1996). Survey yang dilakukan oleh National Office for Suicide Prevention (2007), melaporkan bahwa banyak orang tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka mengalami permasalahan psikologis, hal ini berkaitan dengan stigma yang berhubungan dengan permasalahan kesehatan mental.
Adanya dukungan sosial dapat membantu menghalau penyakit dan kemungkinan seseorang untuk sembuh dari penyakitnya dengan lebih cepat (Roy, dalam Baron & Byrne, 2005) dimana dukungan sosial tersebut bisa didapatkan dengan membuka diri kepada orang lain mengenai stres yang dialami dan mungkin dapat membantu memecahkan masalah, selain terkadang orang mencari simpati dan saran. Kedua macam dukungan ini mempunyai efek yang positif terhadap aliran darah, kelenjar endokrin, dan system kekebalan (Uchino, dalam Baron & Byrne, 2005). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Nugrahawati dan Dewi (2014) menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara dukungan sosial teman sebaya dengan pengungkapan diri, yang artinya semakin tinggi dukungan sosial teman sebaya maka semakin tinggi pula pengungkapan diri, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial teman sebaya maka semakin rendah pula pengungkapan diri. Dukungan sosial teman sebaya memberikan sumbangan efektif sebesar 32% terhadap pengungkapan diri.
mengenai apa yang kita alami. Memperhatikan dampak stres sebagaimana dijelaskan diatas, maka dibutuhkan teknik untuk menurunkan tingkat stres sehingga dampak yang akan muncul pun dapat semakin menurun. Salah satu teknik untuk menurunkan tingkat stres adalah
pengungkapkan diri atau self disclosure. Sebagian alasannya adalah karena ketika
berhubungan dengan orang lain adalah salah satu sumber kenyamanan yang kita rasakan ketika merasa tertekan.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Anggrian (2014) dan Suryaningsih (2013) terletak pada subjek yang berbeda latar belakangnya seperti usia, tingkat pendidikan dan lokasi atau jarak yang berjauhan dari keluarga atau tempat tinggal asal (mahasiswa yang merantau). Perbedaan lainnya adalah dalam penelitian ini menggunakan dua instrumen penelitian yang berbeda dengan penelitian terdahulu. Melalui penelitian ini
dimunculkan sebuah rumusan masalah yaitu bagaimana hubungan antara self disclosure
(pengungkapan diri) dengan stres. Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah untuk
mengetahui apakah ada hubungan self disclosure dengan stres. Manfaat yang didapatkan dari
penelitian ini adalah untuk menambah bahan penelitian dalam bidang psikologi klinis dan
sosial mengenai hubungan yang terjadi antara self disclosure dengan stres seseorang.
Self-disclosure
Wrightsman (dalam Dayakisni, 2009), menungkapkan bahwa self-disclosure merupakan
sebuah proses penyampaian diri yang diwujudkan dalam bentuk pengungkapan perasaan dan informasi kepada orang lain. Morton (dalam Sears, dkk., 1988) menjelaskan keterbukaan diri adalah suatu aktivitas yang diwujudkan dalam bentuk berbagi informasi sebagai upaya meningkatkan kedekatan antar individu. Pada prakteknya, dalam setiap proses pengungkapan diri menunjukkan setiap individu yang terlibat memiliki kecenderungan untuk memberikan reaksi timbal balik, yaitu ketika seseorang bercerita suatu hal yang sifatnya pribadi, secara spontan kita akan memberikan respon yang cenderung sesuai dengan harapan individu tersebut. Hal itu dikarenakan pada umumnya setiap individu memiliki harapan yang sama yaitu ingin diperlakukan sama seperti kita memperlakukan mereka (Raven & Rubin, dalam Dayakisni, 2009).
DeVito (2010) menyebutkan self disclosure merupakan bentuk komunikasi dalam rangka
penyampaian informasi tentang diri kepada individu lain yang biasanya tidak pernah diungkapkan sebelumnya. Keterbukaan diri juga dapat dikatakan sebagai wujud membagi perasaan dan informasi secara akrab dengan orang lain (Morton, dalam Sears,dkk., 1988). Sedangkan Atwater (1983) memaparkan bahwa keterbukaan diri adalah proses yang dilakukan secara suka rela dan saling menguntungkan antar individu karena mampu berbagi informasi baik dalam bentuk perasaan maupun pikiran mereka sampai kepada hal yang paling dalam.
Menurut Morton (dalam Sears,dkk., 1988) self disclosure memiliki dua sifat yakni; a) dapat
Fungsi-fungsi self-disclosure
Delrega dan Grzelak (dalam Dayakisni, 2009) menjelaskan bahwa terdapat lima fungsi
self-disclosure, yaitu:
a. Ekspresi (expression). Self disclosure merupakan wujud pengungkapan emosi atau
perasaan ketika mengalami suatu peristiwa baik peristiwa yang menyenangkan maupum peristiwa yang mengecewakan.
b. Penjernihan diri (self clarification). Self disclosure sebagai upaya mencari pencerahan
dari sebuah permasalahan agar dapat menyikapi sebuah permasalahan secara bijaksana dan objektif.
c. Keabsahan sosial (social validation). Melalui self disclosure terjadi proses timbal balik
(respon) terhadap informasi yang telah kita sampaikan, dapat berbentuk dukungan maupun kritik.
d. Kendali sosial (social control). Memberikan pembatasan informasi dalam proses
pengungkapan diri untuk menjaga penilaian orang lain terhadap kita.
e. Perkembangan hubungan (relationship development). Self-disclosure dilakukan untuk
memberikan informasi kepada orang lain merupakan salah satu langkah penting yang juga harus dilakukan sehingga dapat terbentuknya rasa saling percaya. Hal tersebut dapat meningkatkan keakraban dalam suatu hubungan.
Pengungkapan diri dapat berupa berbagai topik seperti informasi perilaku, sikap,perasaan,keinginan,motivasi dan ide yang sesuai dan terdapat dalam diri orang yang bersangkutan. Kedalaman dari pengungkapan diri seseorang tergantung pada situasi dan orang yang diajak untuk berinteraksi. Jika orang yang berinteraksi dengan kita menyenangkan dan membuat kita merasa aman serta dapat membangkitkan semangat maka kemungkinan bagi kita untuk lebih membuka diri amatlah besar. Sebaliknya, pada beberapa orang tertentu kita dapat saja menutup diri karena merasa kurang percaya.
Tingkatan self-disclosure
Powell (dalam Supratiknya, 1995), membagi self-disclosure dalam beberapa tingkatan, yakni:
a. Basa-basi; pengungkapan diri dilakukan hanya untuk sekedar sopan-santun, dan
menjadikan tingkatan ini sebagai taraf pengungkapan diri yang paling lemah.
b. Membicarakan orang lain; terjadi timbal balik namun masih pada taraf yang lemah
atau dangkal, yang diungkapkan pada taraf ini hanyalah mengenai orang lain ataupun hal lain yang bukan mengenai dirinya.
c. Menyatakan gagasan dan pendapat; taraf komunikasi meningkat dan memunculkan
hubungan erat dimana timbul keterbukaan diri dan saling mengungkapkan diri.
d. Perasaan; bersikap berani untuk saling meungkapkan perasaan dan terbuka baik pada
diri sendiri maupun lawan komunikasi.
e. Hubungan puncak; taraf ini ditandai dengan adanya kejujuran, keterbukaan dan
kepercayaan yang mutlak antara satu sama lain dan menimbulkan pengertian serta pengungkapan diri dilakukan dengan mendalam.
Dimensi self-disclosure
a. Jumlah/frekuensi: ditandai dengan frekuensi yang banyak dan hanya membutuhkan sedikit waktu untuk dapat mengutarakan suatu pernyataan yang diinginkan.
b. Valensi: melibatkan pernyataan hal-hal yang menyenangkan maupun tidak
menyenangkan oleh individu.
c. Ketepatan/kejujuran: memberikan pernyataan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya
agar orang lain memahami situasi yang akurat.
d. Keluasan: mampu mengungkapkan diri sesuai dengan keluasan informasi yang ingin
diungkapkan.
e. Kedalaman: mampu mengungkapkan hal-hal yang bersifat sangat pribadi dan khusus
tentang dirinya
Manfaat self-disclosure
DeVito (2010) memaparkan manfaat self-disclosure yang disebut sebagai imbalan
pengungkapan diri, sebagai berikut:
a. Pengetahuan diri
Memberikan sudut pandang baru tentang diri sendiri dan dapat memberikan manfaat sebagai refrensi untuk meningkatkan kualitas diri.
b. Kemampuan mengatasi kesulitan
Melalui self-disclosure dapat mencegah timbulnya rasa bersalah dan kurang percaya
diri ketika mengahadapi persoalan karena tidak menanggung beban itu sendiri dan mendapat banyak dukungan serta memiliki banyak refrensi pemecahan solusi, maka kita akan lebih siap mengatasi perasaan bersalah yang akan timbul atau bahkan mungkin hilang sama sekali.
c. Efisiensi komunikasi
Self-disclosure memperbaiki komunikasi. Pengungkapan diri akan jauh lebih efektif jika dilakukan bersama orang-orang terdekat, sehingga seluruh informasi yang kita berikan dapat diterima secara maksimal.
d. Kedalaman hubungan
Membuka diri kepada orang lain dapat menjadi dasar utama yang menciptakan suatu hubungan yang bermakna diantara dua orang atau lebih.
Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa self-disclosure memiliki beberapa manfaat seperti
menciptakan mental yang sehat bagi diri sendiri, sebagai sarana untuk melepaskan emosi yang ada dalam diri dan dapat mendorong perkembangan hubungan.
Stres
Stres merupakan kondisi dari akibat ketidakmampuan seorang individu untuk memenuhi segala bentuk permintaan atau tuntutan (dalam Mastorakos, dkk., 2005). Carrasco & Vander de Kar (2003) mendefinisikan stres sebagai respon yang diberikan oleh tubuh secara spesifik dalam proses pemenuhan permintaan sehingga dapat mengganggu keseimbangan dinamis. Sedangkan Baron dan Byrne (2005), memaparkan bahwa stres dapat dipersepsikan sebagai ancaman terganggunya kesehatan fisik atau emosional seseorang.
pengalaman emosional negatif yang disertai perubahan biokimia, fisiologis, kognitif dan perilaku seseorang (Taylor, 2003). Kendall dan Hammen (dalam Safaria & Saputra, 2012) mengartikan stres sebagai kondisi dimana individu menghadapi tuntutan-tuntutan yang melebihi kapasitasnya untuk dapat mengatasi banyaknya tuntutan yang dibebankan kepadanya, hal tersebut berpotensi menyebabkan gangguan tidak hanya stres tapi juga gangguan psikologis lainnya.
Selye (dalam Sarafino,1998) membagi dua klasifikasi stres, yaitu distress yang merupakan
jenis stres yang berbahaya dan merugikan, serta eustress yang merupakan satu jenis stres
jangka pendek yang justru bermanfaat atau konstruktif. Stres jangka pendek mungkin mempunyai akibat yang bermanfaat, namun apabila hal ini terus berlangsung akan menjadi negatif dan mengganggu.
Komponen-komponen stres
Stres memiliki tiga komponen (Helmi, dalam Safaria & Saputra, 2012) yakni stresor, proses (interaksi), dan respons stres. Stresor merupakan segala sesuatu yang mengancam kesejahteraan individu. Proses stres merupakan mekanisme interaktif yang dimulai dari datangnya stresor hingga munculnya respon stres. Sedangkan respons stres adalah dampak yang muncul dari peristiwa yang menekan. Helmi (dalam Safaria & Saputra, 2012) memaparkan beberapa pendekatan stres. Melalui pendekatan respons stres dikatakan timbulnya stres dihubungkan dengan munculnya peristiwa yang menekan pada individu yang dapat menimbulkan dampak negatif. Pendekatan kedua, definisi stres dihubungkan dari sisi stresor (sumber stres), dimana stres dilukiskan sebagai suatu tekanan yang melebihi batas optimum seseorang. Pendekatan ketiga adalah pendekatan interaksionis yang melihat karakteristik individu dalam interaksinya dengan tekanan dari luar untuk menentukan bagaimana tekanan tersebut direspon, apakah menimbulkan stres atau tidak.
Gejala-gejala stres
Stres dapat menimbulkan dampak negatif bagi individu. Dampak tersebut bisa merupakan gejala fisik maupun psikis dan akan menimbulkan gejala-gejala tertentu. Reaksi dari stres bagi individu dapat digolongkan menjadi beberapa gejala (Rice, 1992), yaitu sebagai berikut:
a. Gejala fisiologis, berupa keluhan seperti sakit kepala, sembelit, diare, sakit pinggang,
urat tegang pada tengkuk, tekanan darah tinggi,kelelahan, sakit perut , maag, berubah selera makan, susah tidur, dan kehilangan semangat.
b. Gejala emosional, berupa keluhan seperti gelisah, cemas, mudah marah, gugup, takut,
mudah tersinggung, sedih dan depresi.
c. Gejala kognitif, berupa keluhan seperti susah berkonsentrasi, sulit membuat
keputusan, mudah lupa, melamun secara berlebihan, dan pikiran kacau.
d. Gejala interpersonal, berupa sikap acuh tak acuh pada lingkungan, apatis, agresif,
minder, kehilangan kepercayaan pada orang lain, dan mudah mempersalahkan orang lain.
e. Gejala organisasional, berupa meningkatnya keabsenan dalam kerja/kuliah,
Tahap-tahap stress
Dampak negatif yang terjadi akibat stres dapat dijelaskan menurut teori sindrom adaptasi
umum (general adaptation system, GAS) dari Selye. Menurut Selye (Rice, 1992) ada tiga
tahap yang disebut sebagai sindrom adaptasi umum, yaitu:
Tahap pertama: Reaksi alarm (alarm reaction). Reaksi alarm terjadi ketika stimulasi pertama kalinya dari stressor yang menimbulkan ketegangan yang diterima oleh reseptor. Selama tahap ini, sistem simpatetik dan kelenjar-kelenjar tubuh mulai mengeluarkan hormon-hormonnya untuk tujuan penciptaan energi tubuh menghadapi tegangan. Jika tegangan itu terus terjadi maka tubuh akan memasuki tahap berikutnya.
Tahap kedua: Resistensi (resistence). Selama tahap ini tubuh terus-menerus mengeluarkan energinya untuk bertahan dan melawan ketegangan yang ada. Hormon-hormon stres mulai meningkat kadarnya di dalam tubuh seperti adrenalin, noradrenalin, dan kortisol. Semua hormon-hormon itu digunakan untuk memberi energi pada tubuh untuk melawan ketegangan. Keadaan ini akan menyebabkan sistem-sistem pertumbuhan dalam tubuh akan terganggu fungsinya, dan jika ketegangan masih terus berlangsung tubuh akan masuk pada tahap terakhir.
Tahap ketiga: Kelelahan (exhaustion). Selama tahap ini tubuh telah kehabisan energi untuk terus-menerus melawan ketegangan-ketegangan yang ada sehingga jika hal ini terus berlangsung akan berdampak negatif karena rusaknya sistem-sistem pertumbuhan di dalam tubuh. Dampak tersebut antara lain timbulnya penyakit jantung, maag, hipertensi, migraine, diabetes, dan lain sebagainya.
Berdasarkan penjelasan teori diatas, dapat disimpulkan bahwa stres merupakan suatu kondisi yang menimbulkan ketegangan disebabkan adanya tekanan dari stressor yang melebihi kapasitas individu. Intensitas yang dialami tiap individu berbeda, begitu pula dengan reaksi dan dampak yang timbul untuk merespon stres yang muncul bagi masing-masing individu. Oleh karena itu, dapat dikatakan pula bahwa stres bersifat subyektif dan individual.
Stres biasanya muncul pada situasi-situasi yang kompleks, menuntut sesuatu di luar kemampuan individu, dan munculnya situasi yang tidak jelas. Segala tuntutan baik internal maupun eksternal dalam upaya pemenuhan tugas perkembangan dapat menimbulkan stres dengan tingkatan yang berbeda pula pada mahasiswa. Dampak yang timbul akibat stres yang berlebihan dapat mengganggu dan menimbulkan perilaku negatif yang muncul sebagai respon dari stres.
Keadaan ini bermula ketika kita mengamati satu situasi, seseorang, satu kejadian atau bahkan
satu objek yang kita anggap sebagai stressor. Bagaimana kita melihat suatu kejadian secara
luas tergantung kepada konsep terhadap diri pribadi, kekuatan ego, sistem nilai dan bahkan
hereditas.Situasi yang sama dapat dilihat, secara keseluruhan, dan berbeda oleh dua individu.
Stres yang datang dari peristiwa-peristiwa dan kondisi kehidupan yang tidak menyenangkan dapat mengganggu perasaan dan tubuh kita. Stres menyebabkan kesedihan dan menghalangi untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat. Sangatlah penting untuk mengenali seseorang yang menderita stres yang berat.
Lazarus & Folkman (1984) menyebutkan salah satu jenis respon koping stres adalah
negatif yang ditimbulkan oleh stresor. Salah satu teknik EFC adalah emotional-disclosure atau pengungkapan emosional, yang melibatkan pengekspresian emosi yang kuat dengan berbicara atau menulis tentang peristiwa negatif yang memicu emosi tersebut (Pennebaker, 1995). Carver (1989) menyebutkan aspek-aspek strategi koping dapat berupa mencari dukungan sosial baik yang bersifat instrumental sebagai bantuan, nasihat atau informasi, dan dukungan sosial yang bersifat emosional, melalui dukungan moral, simpati atau pengertian.
Salah satu dari 8 nasihat umum untuk menghadapi stres yang dikemukakan oleh Jare Yates (dalam Rice, 1992) adalah tetap percaya diri dan mempunyai teman untuk berbagi dalam kesusahan. Semakin lama seseorang memendam permasalahannya, maka akan semakin berat beban yang akan dirasakan. Berbagi dengan orang lain bukan hanya sekadar untuk menuangkan pikiran dan melegakan perasaan, namun juga agar dapat memperoleh saran-saran dan informasi dari orang lain sehingga dapat berpikir dengan jernih dan mendalam. Dengan demikian, individu mempunyai tempat untuk mengutarakan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya karena setiap masalah yang membebani pikiran dan perasaan akan banyak mereda jika diutarakan kepada orang lain.
Pengungkapkan diri memberi kesempatan bagi individu untuk membiarkan orang lain memahami siapa dirinya dan apa yang ia pikirkan atau rasakan. Dengan mengungkapkan diri, individu menciptakan potensi timbulnya kepercayaan, kepedulian, komitmen, perkembangan, penerimaan diri, dan pertemanan (Johnson, 1996). Dalam mengungkapkan diri, individu juga dapat memaparkan permasalahan-permasalahan atau stres yang ia alami dan memungkinkan ia mendapatkan tanggapan, informasi, saran, ataupun dukungan dari orang lain. Timbal balik tersebut dapat memberikan individu persepsi lain terhadap apa yang ia alami.
Sehingga dengan demikian diketahui bahwa ada hubungan antara self-disclosure dengan stres.
Berdasarkan hal tersebut, hipotesis dalam penelitian ini adalah adanya hubungan negatif
antara self disclosure dengan stres, bahwa semakin tinggi self disclosure maka semakin
rendah stres,begitu pula sebaliknya. Hubungan kedua variabel tersebut dapat digambarkan dengan kerangka pemikiran sebagai berikut:
- Mendapatkan umpan balik
METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah kuantitatif korelasional untuk mengetahui
hubungan antara self-disclosure dan stres. Azwar (2001) menjelaskan bahwa pendekatan
kuantitatif merupakan pendekatan yang lebih menekankan analisisnya pada data numerikal atau angka kemudian dihitung dengan metode statistik. Rancangan penelitian menggunakan penelitian korelasional yaitu penelitian yang dilakukan untuk menyelidiki sejauh mana variasi pada satu variabel berkaitan dengan variasi pada satu atau lebih variabel lain (Azwar, 2001).
Subyek Penelitian
Subyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan dan berstatus sebagai mahasiswa aktif.
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling. Menurut
Sugiyono (2009) accidental sampling merupakan teknik pengambilan sampel berdasarkan
kebetulan, siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat dijadikan sampel bila orang tersebut dipandang cocok sebagai sumber data.
Gay (dalam Sevilla, 1993) menyebutkan bahwa ukuran minimum yang dapat diterima berdasarkan tipe penelitian korelasional adalah dengan minimum 30 subjek. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah 250 orang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.
Variabel dan Instrumen Penelitian
Terdapat dua variabel yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu self-disclosure yang merupakan
variabel bebas dan stres yang merupakan variabel terikat. Self-disclosure dalam penelitian ini
diartikan sebagai pengungkapan diri yang dilakukan seseorang untuk membagikan informasi mengenai kondisi pribadi kepada orang lain. Sedangkan stres diartikan sebagai suatu keadaan yang menimbulkan ketegangan yang terjadi ketika individu mendapatkan masalah atau tantangan dan mengganggu atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya.
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan dua skala.
Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur self-disclosure adalah dengan
menggunakan skala yang disusun sendiri oleh peneliti dengan model skala Likert. Konsep yang dikembangkan pada skala ini adalah berdasarkan teori oleh Joseph A. Devito (2010) yang mengungkapkan ada beberapa aspek yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan
self-disclosure yakni jumlah/frekuensi, valensi, ketepatan/kejujuran, keluasan, dan kedalaman.
Sedangkan untuk tingkat stres diukur dengan menggunakan Depression, Anxiety, and Stress
Scale-42 (DASS-42) yang disusun oleh Lovibond & Lovibond (1995), instrumen ini mengukur keadaan emosi negatif yakni depresi, kecemasan dan stres.
Tabel 1. Uji Validitas Item
Skala Jumlah Item yang Diuji Jumlah Item Valid Indeks Validitas
Self-disclosure 50 41 0,202 – 0,545
DASS-42 42 42 0,347 – 0,696
Berdasarkan taraf signifikansi sebesar 0.5% r tabel (0,195), maka bila indeks validitas lebih besar dari skor r tabel, maka item dianggap valid, sedangkan sebaliknya apabila indeks validitas kurang dari skor r tabel maka item dianggap gugur (tidak valid). Adapun dari hasil
uji validitas tersebut, dari 50 item pada skala self-disclosure terdapat 9 item yang dinyatakan
gugur dan terdapat 41 item dinyatakan valid. Sedangkan untuk perolehan uji validitas pada
instrumen Depression, Anxiety, Stress Scale-42 (DASS-42), diketahui bahwa keseluruhan
item yang berjumlah 42 item dinyatakan valid.
Tabel 1. Uji Reliabilitas Skala
Skala Alpha
Self-disclosure 0,863
DASS-42 0,947
Berdasarkan dari hasil pengujian Cronbach’s Alpha menunjukkan nilai reliabilitas skala
self-disclosure adalah 0,863, sedangkan DASS-42 memiliki nilai reliabilitas 0,947. Menurut Rovai, dkk (2013) koefisien reabilitas 0,7 hingga 0,9 termasuk kategori reliabilitas tinggi. Maka dari itu, dapat dikatakan bahwa kedua skala tersebut sudah reliabel.
Prosedur dan Analisa Data
Penelitian ini dibagi menjadi tiga prosedur yakni tahap perencanaan penelitian dimana peneliti mempersiapkan semua hal yang berhubungan dengan penelitian, termasuk didalamnya
menyusun skala self-disclosure dan melakukan proses adaptasi terhadap instrumen
Depression, Anxiety, Stress Scale-42 (DASS-42). Selanjutnya tahap kedua yakni tahap pelaksanaan penelitian dimana pada tahap ini peneliti melakukan pengumpulan data dengan penyebaran skala pada subjek penelitian untuk diisi, termasuk melakukan uji coba terhadap kedua skala yang digunakan. Skala diuji coba terlebih dahulu kepada 100 orang sesuai dengan karakteristik penelitian, kemudian diuji validitas dan reliabiltasnya untuk mendapatkan item yang valid. Setelah itu, peneliti menyebarkan skala pada 250 orang yang sesuai dengan karakteristik penelitian. Adapun dari total sampel yang telah ditentukan, terdapat 2 skala yang tidak memenuhi aturan pengisian sehingga didapatkan 248 skala yang layak untuk dianalisa. Pada tahap kedua ini kemudian peneliti mengumpulkan skala yang telah diisi subjek yang selanjutnya dilakukan analisa data yang telah diperoleh dengan cara melakukan skoring dan kemudian interpretasi terhadap hasil analisa data. Kemudian terakhir, tahap penulisan laporan dimana peneliti membuat laporan penelitian berdasarkan hasil yang diperoleh dari tahap pertama, kedua dan sesuai dengan format penulisan laporan penelitian.
Analisis korelasi digunakan untuk melihat hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Data yang diperoleh dalam penelitian dianalisa menggunakan metode perhitungan
SPSS program IBM SPSS statistic 20 untuk menguji korelasi antar variabel penelitian. Hasil
skala tersebut dianalisa dengan uji korelasi Pearson Product Moment. Uji ini digunakan
HASIL PENELITIAN
Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil seperti yang terlihat pada tabel-tabel berikut.
Berdasarkan pada tabel 3, self-disclosure dibagi menjadi lima kategori yakni sangat rendah
(<83), rendah (84 – 95), sedang (96 – 106), tinggi (107 – 117), dan sangat tinggi (>118). Dari
total subjek yang berjumlah 248 orang diketahui 13 orang (5,24%) termasuk kategori
self-disclosure yang sangat rendah, kemudian 23,80% atau sebanyak 59 orang termasuk kategori
self-disclosure rendah. Dengan prosentase 38,30% atau sebanyak 95 orang diketahui termasuk
dalam kategori self-disclosure sedang, sedangkan untuk kategori self-disclosure tinggi dan
sangat tinggi prosentase masing-masing kategori adalah 26,21% (65 orang) dan 6,45 % (16 orang). rendah (<12), rendah (13 – 27), sedang (28 – 43), tinggi (44 – 58), dan sangat tinggi (>59). Diketahui 11 orang (4,43%) termasuk kategori stres sangat rendah, kemudian 23% atau
sebanyak 57 orang termasuk kategori stres rendah. Dengan prosentase 44,76% atau sebanyak
111 orang diketahui termasuk dalam kategori stres sedang, sedangkan untuk kategori stres
tinggi dan sangat tinggi prosentase masing-masing kategori adalah 18,95% (47 orang) dan
8,87% (22 orang). Selain dapat mengungkap tingkat stres, dalam instrumen Depression,
Hasil analisis data dengan uji Pearson Product Moment, menunjukkan bahwa standar deviasi
variabel self-disclosure adalah 11.358. Sedangkan variabel stres memiliki standar deviasi
sebesar 15.432. Koefisien korelasi (r) menunjukkan hasil yang negatif, hal ini berarti bahwa ada hubungan negatif antara kedua variabel. Nilai signifikasi yang didapatkan adalah sebesar 0.041. Jika nilai signifikasi 0,041 < 0,05 maka kedua variabel tersebut memiliki hubungan yang signifikan.
DISKUSI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara self-disclosure
dan stres. Arah hubungan yang ditunjukkan menunjukkan hubungan yang negatif. Artinya,
semakin tinggi self-disclosure maka semakin rendah stresnya. Begitu juga sebaliknya,
semakin rendah self-disclosure maka semakin tinggi tingkat stres. Baron & Byrne (2005)
memaparkan bahwa ketika kita mengalami stres, menceritakan pada orang lain tentang masalah kita tidak hanya akan mengurangi perasaan-perasaan negatif, tetapi juga akan mengurangi timbulnya masalah-masalah kesehatan (Clark, dalam Baron & Byrne, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa self-disclosure dapat menjadi salah satu
faktor yang mempengaruhi stres pada mahasiswa. Kesulitan yang dialami oleh individu antara lain kurang dapat membuka diri dengan orang lain. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Kirby (dalam Colhoun dan Accolla,1990) membuka diri bagi beberapa orang adalah hal yang sulit. Keterampilan untuk membuka diri sangat penting bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan karena sangat mempengaruhi hubungan interpersonal yang dimiliki. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ward,dkk (2009) menunjukkan bahwa tingginya tingkat keterbukaan mengenai keadaan yang sulit, dapat diasosiasikan dengan kesehatan mental yang lebih baik, dan begitu pula sebaliknya. Diperkirakan bahwa pengungkapan informasi mengenai stres dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis dengan menyediakan sarana yang dapat digunakan untuk menghadapi stressor dan juga dengan mendorong penggunaan dukungan baik dalam pengaturan formal ataupun informal (Pennebaker, dalam Ward, 2009). Keterbukaan diri adalah penting dalam konteks bagaimana hal ini mempengaruhi hubungan, dan merupakan salah satu faktor yang paling penting yang mempengaruhi kualitas hubungan yang dekat (dalam Bauminger, 2008).
Dukungan sosial yang diberikan melibatkan ketersediaan dan keberadaan untuk memberikan dukungan selama masa-masa sulit (dalam Guerrero, 2007). Mencari persetujuan dalam pengungkapan umumnya bertujuan untuk meningkatkan penerimaan dan rasa suka seseorang dan merupakan tujuan yang utama (Baumeister, dalam Bailey, 2014). Dukungan sosial tidak hanya mengurangi pengalaman stres, tetapi meningkatkan kemampuan kita untuk mengatasinya (dalam Feldman, 1989). Pengembangan hubungan dalam pengungkapan dapat mempromosikan peningkatan hubungan kedekatan antara individu. Pengungkapan yang timbul dapat menghilangkan stress, dimana memungkinkan individu untuk membahas masalah yang terjadi dan mengungkapkan emosi negatif (dalam Bailey, 2014). Mengandalkan dukungan sosial dari orang lain, kemudian tampaknya menjadi strategi yang masuk akal untuk mengatasi stres.
Beberapa studi empiris telah menunjukkan hubungan antara perilaku bunuh diri dan berbagai aspek dari kesulitan komunikasi, termasuk kesepian, penarikan sosial dan isolasi, kurangnya keterbukaan diri, hidup sendiri dan memiliki sedikit dukungan sosial (dalam Gvion, Y.,&
Apter,A., 2012). Hasil penelitian oleh The National Psychological Wellbeing and Distress
yang mengalami permasalahan psikologis kemungkinan besar mendapatkan manfaat dari beberapa bentuk dukungan, baik itu informal dalam keluarga dan teman-teman ataupun dukungan formal yang didapatkan dari pelayanan kesehatan.
Pengungkapan dalam kontrol sosial secara strategis memberikan informasi atau sumber daya dalam upaya untuk mengontrol akibat sosial yang timbul. Klarifikasi dalam pengungkapan digunakan untuk menyampaikan informasi tentang identitas seseorang, perasaan, atau keyakinannya. Pada penelitian yang dilakukan oleh Bailey (2014) yang dilakukan untuk melihat ikatan persahabatan pribadi dan persahabatan di tempat kerja, diketahui bahwa tujuan dari pengungkapan dalam mengurangi stres secara signifikan dan berhubungan positif baik dengan kedekatan emosional dan dukungan yang dirasakan dalam persahabatan pribadi. Pengungkapan yang dapat meringankan beban dapat mencakup berbicara tentang masalah dan juga mengungkapkan emosi negatif (dalam Omarzu,2000). Karena situasi yang sering kompleks, tidak mudah untuk mengidentifikasi motivasi tujuan tertentu dalam keadaan tertentu. Tujuan tersebut dapat dikombinasikan atau mungkin tumpang tindih. Tujuan yang ada juga terkadang dapat bertentangan. Upaya untuk melakukan kontrol atas interaksi sosial dapat mengganggu kepercayaan yang diperlukan untuk pengembangan hubungan dimana terkadang keinginan untuk memberitahu seseorang tentang pengalaman menyedihkan mungkin bertentangan dengan kebutuhan untuk disukai dan diterima (dalam Omarzu, 2000). Hasil temuan dari penelitian yang dilakukan oleh Lepore,S.J.,dkk (2004) menunjukkan bahwa pengungkapan yang terjadi dalam konteks sosial memiliki pengaruh yang kuat pada proses penyesuaian dan dapat memberikan persepkitf alternatif dan lebih optimis dapat membantu individu pulih dari stressor yang tinggi. Tindakan mengekspresikan perasaan dapat mempengaruhi penyesuaian dengan merangsang perubahan kognitif positif terkait stres (Kennedy-Moore, & Watson, dalam Lepore, S.J.,dkk, 2004). Sebagai contoh, pengungkapan yang dilakukan dapat membantu orang untuk memahami respon emosional mereka terhadap stressor dimana hal ini dapat membantu untuk meningkatkan strategi regulasi emosi. Lepore, S.J.,dkk (2004) mengungkapkan bahwa mengekspresikan respon emosi seseorang terhadap
stresor dapat meningkatkan pemahaman (insight) dengan membantu memaksakan arah
pemikiran dalam peristiwa atau pengalaman menegangkan. Hal ini menunjukkan bahwa melalui pengungkapkan pengalaman stres dengan kata-kata, individu berpotensi dapat membangun sebuah cerita yang koheren atau jelas, dimana hal ini dapat membuat pengalaman dapat lebih dimengerti baik untuk diri mereka sendiri dan orang lain kepada siapa mereka mengungkapkannya. Hal tersebut sesuai dengan teori restrukturisasi kognitif, yang menunjukkan bahwa berbicara dengan orang lain dapat memberikan individu kesempatan untuk belajar perspektif baru dalam situasi stres.
Individu dalam rentang usia kuliah menyelesaikan transisi dari remaja ke dewasa, membangun rasa akan identitas diri dan mengeksplorasi potensi intelektual mereka. Penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa sering melihat diri mereka mengalami stres (dalam Eisenberg, 2012), dalam penelitian ini stres yang dirasakan dipandang sebagai indeks penyakit mental. Pengalaman positif yang didapatkan di bangku perkuliahan merupakan hal yang penting bagi performa akademik mahasiswa (dalam Dyson & Renk, 2006). Persepsi mahasiswa akan kehidupan di bangku perkuliahan sebagai stres emosi dan fisik bukanlah fenomena yang baru. Bagi kebanyakan mahasiswa, tingkat stres akademik melekat dalam persepsi pengalaman di bangku perkuliahan (dalam Larson,2006). Waktu kegiatan yang intensif seperti tugas perkuliahan, belajar untuk ujian, melakukan penelitian dan berpartisipasi dalam kegiatan lapangan dapat menimbulkan tantangan dan stres bagi mahasiswa. Tiap semsester, mahasiswa harus menanggung beban komitmen akademik dengan tekanan dari keluarga, masalah keuangan, keterampilan manajemen waktu dan daya tarik dari berbagai kebudayaan, kegiatan sosial dan olahraga yang tersedia di kampus.
Brdasarkan hasil analisa didapatkan koefisien determinasi (r2) dari kedua variabel penelitian
adalah 0,017 yang artinya self-disclosure memiliki prosentase sebesar 1,7% dalam
mempengaruhi stres, sedangkan 98,3% kontribusi lainnya dapat dipengaruhi oleh faktor lain
misalnya seperti strategi koping, self-esteem, serta faktor sosial maupun faktor akademik.
Al-Naggar (2009) melalui penelitiannya mengungkapkan bahwa sebagian mahasiswa mendefinisikan stres sebagai “kondisi mental”. Permasalahan yang paling sering menyebabkan stres pada mahasiswa antara lain adalah kurangnya tidur, masalah keuangan, dan permasalahan keluarga. Pada penelitian tersebut, partisipan dapat mengidentifikasi strategi koping yang dilakukan dalam menghadapi stres adalah dengan konseling, berbicara kepada teman, meditasi, berbagi mengenai permasalahan, tidur cukup, dan olahraga. Dixon
dan Robinson Kurpius (2008) menyebutkan dari beberapa penelitain ditemukan bahwa
self-esteem memiliki hubungan yang negatif dengan stres kehidupan, dimana semakin tinggi self-esteem seseorang, maka semakin rendah tingkat persepsi seseorang terhadap stres. Simonds, McMahon, dan Armstrong (dalam Dixon & Robinson Kurpius, 2008) mengemukakan bahwa
self-esteem atau harga diri yang positif meningkatkan kemampuan individu untuk mengatasi stres. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Tawabieh dan Qaisy (2012) menunjukkan bahwa mahasiswa mengalami tingkat stres sedang dipengaruhi oleh faktor sosial dan faktor akademik. Dalam penelitian tersebut, ditemukan bahwa faktor utama yang mempengaruhi adalah faktor sosial, hal ini mungkin karena fakta bahwa mahasiswa datang dari berbagai kota dan mereka memiliki hubungan yang baru, selain jenis kehidupan sosial di masyarakat, di samping itu sebagian besar siswa tinggal di kampus jauh dari keluarga mereka. Analisis item faktor sosial menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki masalah dalam komunikasi sosial. Faktor kedua yang mempengaruhi kesehatan mental mahasiswa dan menyebabkan stres bagi mereka adalah faktor akademik, dimana mahasiswa merasa ketidaksenangan dengan iklim universitas dan mereka membutuhkan konseling akademis untuk memecahkan masalah mereka dan menurut mereka nilai yang didapatkan menurun sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai kemajuan akademik. Faktor-faktor ini menyebabkan banyak masalah fisik bagi mahasiswa seperti kesulitan tidur dan merasa lelah serta sakit. Demakis dan McAdams (dalam Friedlander,dkk, 2007) menemukan bahwa mahasiswa yang melaporkan tingginya tingkat stres secara signifikan memiliki masalah kesehatan fisik yang lebih banyak dan kepuasan lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang melaporkan tingkat stres yang lebih rendah.
kekhawatiran dan sumber permasalahan bersama orang lain untuk mendapatkan dukungan dan penguatan untuk meningkatkan kesejahteraan diri (dalam Coates & Winston, 1987). Proses komunikasi yang terjadi ini dapat meningkatkan kerekatan hubungan dan membantu dalam mengatasi tekanan dan peristiwa traumatis (dalam Frattaroli, 2006). Pengungkapan diri memperkuat hubungan dari waktu ke waktu karena timbul peningkatan pemahaman dan kepercayaan (dalam Rose, 2007). Ketika individu cukup percaya diri untuk terlibat dalam pengungkapan diri, hubungan ini akan menjadi lebih kuat sebagai hasilnya. Demikian pula, memiliki hubungan emosional yang dekat adalah salah satu faktor yang paling menonjol yang mempengaruhi prevalensi pengungkapan diri (dalam Derlega, 2008). Mahasiswa bisa mendapatkan dukungan sosial dari mengungkapkan diri, dimana dukungan sosial merupakan salah satu hal yang dapat membantu mengurangi stres (dalam Lyrakos, 2012).
Self-disclosure dilakukan sebagai salah satu media katarsis untuk menghilangkan stres. Menyembunyikan stres atau masalah juga telah terbukti berdampak negatif terhadap kesehatan dan kesejahteraan (dalam Bailey, 2014). Dengan demikian, ketika individu berusaha untuk menghadapi stres mereka, hasil positif dari kelegaan yang dirasakan mungkin lebih besar daripada risiko mengungkapkan kepada seseorang yang mungkin biasanya tidak mereka pilih sebagai sasaran yang tepat untuk melakukan pengungkapan diri.
SIMPULAN DAN IMPLIKASI
Bedasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan bahwa ada hubungan
antara self-disclosure dan stres. Hubungan yang terlihat adalah negatif antara kedua variabel
dengan besar koefisien korelasi (r) -0,130. Selain itu, kedua variabel tersebut juga memiliki hubungan yang signifikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,041. Maka, dapat disimpulkan
bahwa hipotesis penelitian ini diterima, dengan variabel self-disclosure memberikan
kontribusi sebesar 1,7% pada tingkat stres mahasiswa, sedangkan 98,3% kontribusi lainnya
dapat dipengaruhi oleh faktor lain misalnya seperti strategi koping, self-esteem, serta faktor
sosial maupun faktor akademik.
Pengungkapan diri dapat menjadi salah satu cara untuk mendapatkan dukungan dari orang lain dan meringankan tekanan atau sumber stres, maka dari itu implikasi dari penelitian ini dapat diperuntukkan bagi mahasiswa dalam menghadapi stres dapat berguna untuk mempelajari hal-hal yang sesuai untuk mencari dukungan atau bantuan dari orang sekitar
yang dapat dipercaya. Dengan self-disclosure individu bisa mendapatkan informasi-informasi
yang mungkin dapat menjadi rekomendasi dalam pemcahan masalah. Hal lain yang perlu juga diperhatikan, terkadang seseorang lebih memilih untuk mencari bantuan dari orang terdekat daripada dari pertolongan profesional, karena faktor kedekatan dan kepercayaan sangat berpengaruh bagi seseorang untuk mengungkapkan permasalahan-permasalahan yang dimiliki. Selain itu, dibutuhkan pula terbentuknya keadaan di lingkungan sekitar untuk membantu meningkatkan keterbukaan diri terhadap stres kehidupan. Terdapat kebutuhan untuk mengenali tingkat stres psikologis di kalangan mahasiswa dan untuk mengurangi stigma yang terkait dengan masalah psikologis, dimana dengan mendorong perilaku pengungkapan diri tidak hanya diperuntukkan dalam pengaturan terapeutik, tetapi juga dalam pengaturan non-terapi. Selain itu juga terdapat kebutuhan untuk penelitian yang dipengaruhi oleh konteks sosial dan lingkungan yang mempromosikan dan memfasilitasi pengungkapan diri.
mengurangi sumber-sumber dan efek stres. Pengembangan program untuk membantu permasalahan mahasiswa juga dapat dilakukan oleh pihak universitas, hal ini dapat difokuskan pada bagaimana memberikan pengetahuan dan sumber daya bagi mahasiswa untuk secara sehat mengatasi stres dan untuk mengurangi implikasi negatif dari stres pada kesehatan. Tindakan yang diambil dapat mencakup penciptaan sumber daya yang memadai bagi pelaksanaan dan atau pemberian konseling atau bantuan secara klinis dari profesional. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan mengenai faktor-faktor spesifik yang menjadi sumber-sumber stres mahasiswa. Penelitian terkait informasi ini praktis dapat berkaitan dengan penciptaan dan pelaksanaan program dan juga mengatur dasar untuk penelitian lebih lanjut. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini cukup homogen dalam beberapa hal seperti etnis dan status sosial. Maka dari itu, bagi peneliti selanjutnya yang meneliti tema-tema serupa, ada baiknya untuk lebih memperhatikan dan mempertimbangkan karakteristik subjek penelitian yang lebih spesifik dapat mempengaruhi variabel seperti pada usia, jenis kelamin, latar belakang, tingkatan semester, dan agama. Kemudian selain itu, perlu diperhatikan juga pada faktor-faktor lain yang harus dikontrol keberadaannya.
REFERENSI
Al-Naggar,R.A. (2009). Stress and coping strategies among management and science
university students: a qualitative study. The International Medical Journal, 8 (2),
11-15.
American College Health Association. (2015). American College Health Association-National
College Health Assessment II: University of Texas Austin Executive Summary Spring
2015. Hanover, MD: American College Health Association.
Anggrian,M. (2014). Hubungan keterbukaan diri dengan tingkat stres remaja di Madrasah
Aliyah pondok pesantren Nurul Qarnain, kecamatan Sukowono, kabupaten Jember
(Jurnal). Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.
Altmaier, E. M. (1983). Helping students manage stress. San Francisco: Jossey- Boss Inc.
Atwater,E. (1983). Psychology of adjustment. New York: Pretince Hall. Inc, Engelwood Cliff.
Atkinson, Rita L., et al. (1996). Hilgard’s introduction to psychology (12th ed.). Florida:
Harcourt Brace College Publishers.
Azwar, S. (2001). Metode penelitian. Jogjakarta: Pustaka Pelajar.
Azwar, S. (2014). Reliabilitas dan validitas: edisi IV. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bailey, L.C. (2014). Disclosure decision model: analysis of private and workplace friendships. A Thesis Submitted to the Graduate Faculty of Wake Forest University Graduate School Of Arts And Sciences.
Baron R.A., & Byrne,D. (2005). Psikologi sosial (ed.10). Jakarta: Erlangga.
Bauminger, N., Finzi-Dottan, R., Chason, S., & Har-Even, D. (2008). Intimacy in adolescent
and Personal Relationships, 25, 409-428. Accessed on October 17, 2015 from
http://spr.sagepub.com/content/25/3/409.refs.html.
Bell, J., & Bromnick, L. (1998). Young people intransition: the relationship between
homesickness and self-disclosure. Journal of Adolescence, 21, 745-748.
Çivitcia,A. (2015). The moderating role of positive and negative affect on the relationship
between perceived social support and stress in college students. Edam: Educational
Sciences: Theory & Practice. Accessed on October 6, 2015 from
http://www.estp.com.tr.
Carver, C.S., Scheir, M.F., & Wientraub, J.K. (1989). Assessing coping strategies: a theoritically based approach. Journal of Personality and Social Psychology, Vol. 56, No. 2, 267 – 283.
Carrasco, G.A. & Van de Kar. (2003). Neuroendocrine pharmacology of stress. European
Journal of Pharmacology, 463, 235-272.
Coates, D., & Winston, T. (1987). The dilemma of distress disclosure. In V.J. Derlega & J.H.
Berg (Eds.), Self-disclosure: Theory, research, and therapy. New York, NY: Plenum Press.
Corley,L. (2013). Prevalance of Mental Health Issues among College Students:How Do
Advisers Equip Themselves?. Retrieved October 6, 2015, from
https://dus.psu.edu/mentor/2013/08/mental-health-college-students/
Corrigan, P.W., Kosyluk, K.A., Markowitz, F., Brown, R.L., Conlon, B., Rees, J., Rosenberg, J., Ellefson, S., & Al-Khouja, M. (2015). Mental illness stigma and disclosure in
college students. Journal of Mental Health. Accesed on December 24, 2015 from
http://www.tandfonline.com/loi/ijmh20
Dayakisni, T. (2009). Psikologi sosial. Malang: UMM Press.
Derlega, V J., Winstead, B.A., Mathews, A., & Braitman, A.L. (2008). Why does someone reveal highly personal information? Attributions for and against self-disclosure in
close relationships. Communication Research Reports, 25(2), 115-130.
DeVito,J.A. (2010). Komunikasi antar manusia (Ed.5). Jakarta: Professional Books.
Dixon, S.K., & Robinson Kurpius, S.E. (2008) Depression and college stress among
university undergraduate: do mattering and self-esteem make a difference?. Journal of
College Student Development, 49 (5), 412-424.
Dyson, R., & Renk, K. (2006). Freshmen adaptation to university life: Depressive symptoms,
stress, and coping. Journal of Clinical Psychology, 62(10), 1231–1244. Accessed on
December 28, 2015 from www.interscience.wiley.com
Eisenberg D., Hunt J., Speer N. (2012). Mental health in American colleges and universities:
Variation across student subgroups and across campuses. The Journal of Nervous and
Feldman, S.F. (1989). Adjustment: applying psychology in a complex world. USA: McGraw-Hill,Inc.
Folkman et al. (1986). Dynamics of a stressful encounter: Cognitive appraisal, coping, and
encounter outcomes. Journal of Personality and Social Psychology, 50, 992-1003.
Franklin, D. (2009). Colleges see rise in mental health issues. Retrieved October 17, 2015
from
http://www.npr.org/2009/10/19/113835383/colleges-see-rise-in-mental-health-issues
Frattaroli, J. (2006). Experimental disclosure and its moderators: a meta-analysis.
Psychol.Bull;132:823.
Friedlander, L.J., Reid, G.J., Shupak, N., & Cribbie, R. (2007). Social support, self-esteem, and stress as predictors of adjustment to university among first-year undergraduates.
Journal of College Student Development, 48 (3), 259-274.
Guerrero, L.K., Andersen, P.A., & Afifi, W.A. (2007). Close encounters: Communication in
relationships. (2nd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications, Inc.
Gvion Y, Apter A. (2012). Suicide and suicidal behavior. Public Health Reviews, 34, 1-20.
Ilakkuvan,V., Snyder, M.G., & Wiggins, J. (2011). Peer involvement in campus - based
suicide prevention: key considerations. Message were rely on
http://www.campussuicidepreventionva.org/PeerInvolvementCompleteAug16.pdf
Johnson, D. (1996). Reaching out: Interpersonal effectiveness and self-actualization (6th ed.).
USA: Allyn & Bacon.
Larson, E.A. (2006). Stress in the lives of college women: „Lots to do and not much time‟.
Journal of Adolescent Research, 21(6), 579–606.
Lazarus, R.S., & Folkman,S. (1984). Stress appraisal and coping. New York: Spinger
Publishing Company,Inc.
Lepore, S.J. , Fernandez-Berrocal, P., Ragan, J., & Ramos, N. (2004) It's not that bad: social challenges to emotional disclosure enhance adjustment to stress, anxiety, stress, &
coping. An International Journal, 17. Accessed on December 24, 2015 from
http://www.tandfonline.com/loi/gasc20
Lyrakos, D.G. (2012). The impact of stress, social support, self-efficacy and coping on
University Students, a multicultural European study. Academic Journal, 3(2),143.
Mastorakos, G. & Pavlatou, M. (2005). Exercise as a stress model and interplay between the
hypothalamus-pituitary-adrenal and the hypothalamus-pituitary-thyroid axes. Hormon
Metabolism Research, 37, 577-584.