• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUBUNGAN KONSEP DIRI INDEPENDEN DENGAN STRES KERJA PADA PERWIRA POLRI��

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUBUNGAN KONSEP DIRI INDEPENDEN DENGAN STRES KERJA PADA PERWIRA POLRI��"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KONSEP DIRI INDEPENDEN DENGAN STRES

KERJA PADA PERWIRA POLRI

SKRIPSI

Oleh :

Nanda Puspita Sari 201210230311193

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(2)

HUBUNGAN KONSEP DIRI INDEPENDEN DENGAN STRES

KERJA PADA PERWIRA POLRI

SKRIPSI

Diajukan Kepada Universitas Muhammadiyah Malang sebagai salah satu persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

Oleh :

Nanda Puspita Sari 201210230311193

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

(3)

i

LEMBAR PENGESAHAN

1. Judul Skripsi : Hubungan Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja pada perwira Polri

2. Nama Peneliti : Nanda Puspita Sari

3. NIM : 201210230311193

4. Fakultas : Psikologi

5. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang 6. Waktu Penelitian : 7 Desember 2015 – 5 Januari 2016 Skripsi ini telah diuji oleh dewan penguji pada tanggal

Dewan Penguji

Ketua Penguji : Dra. Tri Dayakisni, M.Si

Anggota Penguji : 1. Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si ( ) 2. Zainul Anwar, S.Psi., M.Psi ( ) 3. Istiqomah, S.Psi., M.Si ( )

Pembimbing I Pembimbing 2

Dra. Tri Dayakisni, M.Si Zakarija Achmat, S.Psi., M.Psi

Malang, Mengesahkan,

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

(4)

ii

SURAT PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Nanda Puspita Sari

NIM : 201210230311193

Fakultas/ Jurusan : Psikologi

Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang Menyatakan bahwa skripsi/karya ilmiah yang berjudul :

Hubungan Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja pada Perwira Polri

1. Adalah bukan karya orang lain baik sebagian maupun keseluruhan kecuali dalam bentuk kutipan yang digunakan dalam naskah ini dan telah disebutkan sumbernya.

2. Hasil tulisan skripsi/karya ilmiah dari penelitian yang saya lakukan merupakan Hak Bebas Royalti non eksklusif, apabila digunakan sebagai sumber pustaka.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan apabila pernyataan ini tidak benar, maka saya bersedia mendapat sanksi sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Malang, 3 Februari 2016

Mengetahui

Ketua Program Studi Yang Menyatakan

(5)

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Hubungan Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja pada Perwira Polri”, sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan petunjuk serta bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dra. Tri Dayakisni, M.Si selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang sekaligus selaku dosen pembimbing I yang selalu memberikan arahan, dan semangat yang sangat berguna selama penyusunan skripsi, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

2. Zakarija Achmat, S.Psi., M.Si selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan arahan untuk perbaikan skripsi sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Tri Muji Ingarianti, S.Psi., M.Psi selaku dosen wali yang telah memberikan banyak arahan dan semangat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi. 4. Seluruh dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang

telah memberikan banyak ilmu yang bermanfaat bagi penulis.

5. Kepala Resort dan Bagian Sumber Daya Manusia di seluruh Polres yang menjadi sampel peneliti yang telah memberikan izin dalam proses pengambilan data penelitian.

6. Bapak, Ibu, Mas Indra, Mbah kung dan uti dan Om Rudi dan seluruh keluarga besar yang telah banyak memberikan doa, perhatian, dukungan, dan semangat yang tak pernah henti mulai awal hingga akhir perkuliahan.

7. Sahabat-sahabat di Malang, Nur Rahmatul A., Mulia S., Jeannita A.R, Siti Elita A., Eva Ning T., Afi Nindya P., Audia Citra P., Ibnu Munfaridz, Septian C.S dan Putri Adriyati yang selalu memberikan semangat, perhatian, dukungan, saran dan selalu menjadi tempat untuk sharing.

8. Seluruh teman Psikologi khususnya Psikologi C angkatan 2012 yang telah memberikan informasi, dukungan dan semangat kepada penulis.

9. Teman-teman di Pontianak, Andi, Chandra, Imam, Acok, Indah yang telah membantu penulis dalam proses pengambilan data penelitian dan memberikan semangat, dalam penyusunan skripsi.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan karya ini, sehingga diperluka kritik dan saran demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi peneliti khususnya dan para pembaca.

Malang, 3 Februari 2016 Penulis

(6)

iv DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...

LEMBAR PENGESAHAN ... i

SURAT PERNYATAAN ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... vi

ABSTRAK ... 1

PENDAHULUAN ... 2

LANDASAN TEORI ... 5

Stres Kerja ... 5

Konsep Diri Independen ... 6

Hubungan Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja ... 7

Hipotesa ... 9

METODE PENELITIAN ... 9

Rancangan Penelitian ... 9

Subjek Penelitian ... 9

Variabel dan Instrumen Penelitian ... 9

Prosedur Penelitian dan Analisa Data Penelitian ... 10

HASIL PENELITIAN ... 11

DISKUSI ... 12

SIMPULAN DAN IMPLIKASI ... 15

REFERENSI ... 15

(7)

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Validitas dan Reliabilitas Skala Setelah Try Out ... 10

Tabel 2. Deskripsi Data Konsep Diri Independen ... 11

Tabel 3. Deskripsi Data Stres Kerja ... 12

(8)

vi

DAFTAR LAMPIRAN LAMPIRAN 1

Skala Tryout Konsep Diri Independen dan Stres Kerja ... 18

Skala Try Out Konsep Diri Independen ... 19

Skala Try Out Stres Kerja ... 20

LAMPIRAN II Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 24

Validitas dan Realibitas Konsep Diri Independen ... 25

Validitas dan Realibitas Stres Kerja ... 27

Indeks Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 28

LAMPIRAN III Blue Print Skala Konsep Diri Independen dan Stres Kerja ... 30

Blue Print Skala Konsep Diri Independen ... 31

Blue Print Skala Stres Kerja ... 31 Input Data dari Subjek Penelitian ... 38

Input Data Skala Konsep Diri Independen ... 39

Input Data Skala Stres Kerja ... 46

Tabulasi Data Penelitian Konsep Diri Independen ... 72

(9)

1

HUBUNGAN KONSEP DIRI INDEPENDEN DENGAN

STRES KERJA PADA PERWIRA POLRI

Nanda Puspita Sari Fakultas Psikologi, Universitas Muhammadiyah Malang

[email protected]

Stres kerja merupakan salah satu bahasan yang dapat menjelaskan kondisi respon individu saat menghadapi tuntutan besar dalam pekerjaan yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan subjek penelitian berjumlah 170 perwira pertama Polri di 5 Polres di Kalimantan Barat dan menggunakan skala adaptasi konsep diri independen dan skala adaptasi stres kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesa penelitian ditolak yang berarti tidak ada hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri (r= -0,19; p= 0,806>0,05).

Kata Kunci: Konsep diri independen, stres kerja

Job stress is one of topics which can explain the condition of individual responses when faced the high job demands that can affect the emotions, mind and person's condition. The aim of this research is to find out the relationship between self-concept independent and job stress in Indonesian Police (POLRI) officers. This research is the correlational quantitative research with the research subject is 170 of low rank officers in 5 police resorts at West Borneo. The method of obtaining data used the adaptation of self-concept independent scale and adaptation of job stress scale. The results of research showed that the research hypothesis is rejected, which means there is no corelation between self-concept independent with job stress in Indonesian police officers (r = -0.19; p = 0.806> 0.05).

(10)

2

Polri merupakan suatu lembaga negara yang bergerak dibidang hukum dan berhubungan langsung dengan masyarakat. Saat ini Polri telah terpisah dari militer atau ABRI dan menjadi organisasi independen dan langsung dibawah kepimimpinan Presiden. Pasal 5 Undang-undang No.2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia menyebutkan bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia merupakan alat negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri (UU RI Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia). Banyaknya tugas dan tuntutan dari masyarakat yang harus dilakukan Polri, membuat seluruh anggota Polri harus bersikap profesionalisme dalam menjalankan tugas-tugasnya. Setiap tugas yang dilakukan oleh Polri langsung berhubungan dengan masyarakat dan langsung mendapatkan penilaian serta sorotan dari masyarakat.

Secara faktual, sikap dan perilaku anggota Polri belum sepenuhnya mencerminkan pribadi yang tertera di dalam Undang-Undang No.2 Tahun 2002 pasal 5 sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat (Satoto, 2014). Saat ini Polri masih berperilaku arogan, cenderung menggunakan kekerasan, diskriminatif, kurang responsif dan belum profesional (Satoto, 2014). Schuller & Jakson dkk (dalam Dodik, & Kamsih, 2012) menyatakan bahwa Profesi polisi merupakan salah satu profesi yang mempunyai stres kerja tinggi. Hal ini didukung oleh laporan hasil survei tahunan yang bertajuk 2012 CareerCast.Com mengevaluasi 200 jenis profesi dan salah satu profesi dengan tingkat stres paling tinggi adalah Perwira Polri yang berada pada urutan kelima dari 10 profesi dengan tingkat stres paling tinggi (beritasatu.com, Januari 2012). Pada tahun 2015 tingkat stres Polri maupun perwira Polri lebih rendah dibandingkan dengan angkatan militer, dengan persentase 50,82% (brilio.net, 2015).

Pernyataan diatas didukung dengan adanya beberapa fakta yang terjadi di anggota Polri yaitu kasus penembakan seorang perwira Polri, AKBP Pamudji yang ditembak oleh anggotanya Brigadir Susanto hingga tewas pada bulan Maret 2014 yang merupakan salah satu dampak dari stres kerja pada anggota Polri (indopos.co, Maret 2014). Indonesia Police Watch (IPW) mencatat setidaknya ada 17 kasus pelanggaran berat yang dilakukan anggota Polri baik brigadir maupun periwra di awal tahun 2013 diantaranya kasus narkoba, penganiayaan, perilaku menyimpang dan kekerasan di Indonesia (okezone.com, April 2013). Indonesia Police Watch juga mencatat jumlah anggota Kepolisian Indonesia yang bunuh diri pada 2013 naik 300% lebih dari tahun-tahun sebelumnya (sinarharapan.co, Februari 2014). Kasus lain juga terjadi di Polda Kalimantan Barat, tahun 2014 Polda Kalbar memberhentikan secara tidak hormat 9 brigadir Polri dan satu perwira Polri berpangkat Kompol yang masih masuk dalam DPO. Hal ini terjadi karena anggota Polri melakukan pelanggaran tidak masuk dinas tanpa keterangan yang sah lebih dari 30 hari kerja secara berturut-turut (Jawapos.com, Agustus 2014).

(11)

3

rumahtangga. Stres akibat tekanan psikologi yang berat ini dapat menimbulkan dua hal yaitu dari tahun ke tahun semakin banyak anggota Polri yang bunuh diri, anggota Polri mudah tersulut emosi dan dengan mudah melepaskan tembakan kepada rekan maupun atasannya (indopos.co.id, Maret 2014). Stres di tempat kerja dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti faktor internal, yaitu kepribadian yang salah satu didalamnya adalah konsep diri independen.

Fakta lainnya yaitu penyampaian hasil evaluasi kinerja Polda Kalbar selama satu bulan oleh Kapolda, Waka Polda dan Irwasda Polda Kalbar untuk jajaran Polres dan pejabat utama. Beberapa Polres mendapatkan bendera tengkorak sebagai simbol tidak berkompeten melaksanakan tugas dan satu Polres yang mendapatkan bendera jempol sebagai simbol penghargaan atas kinerja yang telah dilakukan dan berkompeten dalam melaksanakan tugasnya. Ada lima Polres, satu rumah sakit dan bagian Dit Pam Obvit yang mendapatkan bendera tengkorak dan satu diantara lima Polres tersebut termasuk didalamnya Polres Pontianak Kota (Policenewscenter.com, Oktober 2015).

Polres, rumah sakit dan bagian Dit Pam Obvit yang mendapat bendera tengkorak akan menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi seluruh anggotanya terutama bagi perwira Polri di kesatuan itu karena dianggap tidak berkompeten dalam melaksanakan tugasnya. Simbol yang kurang baik yang diberikan pimpinan merupakan salah satu stresor bagi seluruh anggota di kesatuan tersebut terutama bagi pemimpin di kesatuan tersebut yang dapat memicu terjadinya stres pada diri anggota maupun perwira Polri yang bersangkutan. Pemaparan diatas sesuai dengan pernyataan Sunarni (dalam Pribadi, 2014) bahwa aktivitas sehari-hari yang menyangkut kehidupan berorganisasi tentu membuat manusia dapat mengalami stres ketika dihadapkan dengan peristiwa yang memicu timbulnya tekanan dan tuntutan karena ketidakmampuannya dalam menjawab tuntutan tersebut.

Polres yang mendapat simbol jempol terutama bagi perwira Polri yang berada di kesatuan tersebut menjadi sebuah penghargaan dan kebanggaan tersendiri karena dianggap mampu dan berkompeten dalam melaksanakan tugas dengan profesionalisme dan bebas tanpa dikendalikan oleh suatu kekuatan apapun, baik dalam pembuatan kebijakan maupun dalam hal menjalankan operasionalnya (independen). Pernyataan ini didukung dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Torelli (2006) bahwa individu dengan konsep diri independen lebih menggunakan keyakinan pribadinya sebagai dasar untuk penilaian dirinya terlepas dari mengaantisipasi untuk pembenaran dirinya dan sebaliknya individu dengan konsep diri interdependen atau ketergantungan lebih mengambil pengetahuan atau informasi dari pendapat orang lain yang dipercaya, jika tidak percaya maka akan menggunakan keyakinan diri sendiri untuk penilaian dirinya.

(12)

4

yang menyatakan bahwa pada waktu yang bersamaan mereka harus menjaga keamanan masyarakat dan menginvestigasi kejahatan, harus tetap berhati-hati terhadap kemungkinan yang mengancam keselamatan diri sendiri sehingga mereka juga harus tetap mengontrol emosi mereka sekalipun dalam kondisi di bawah tekanan. Sehingga hal inilah yang menjadi salah satu dasar pertimbangan peneliti dalam menentukan sampel untuk penelitian ini.

Perwira Polri memiliki kekuasan dan wewenang lebih besar untuk mengatur dan menata anggotanya serta mengambil keputusan yang tepat agar sesuai dengan tujuan yang diinginkannya untuk menjadi lebih unggul, lebih baik dan untuk mencapai sebuah prestasi dalam kinerjanya. Kondisi-kondisi seperti ini, bila tidak terwujud sesuai dengan harapannya, maka dapat mengakibatkan rentan terhadap stres kerja pada perwira Polri. Studi empiris mengenai stres polisi menemukan bahwa sepanjang 13 tahun pertama pengabdian, stres anggota Polri baik brigadir maupun perwira Polri menjadi meningkat. Hal ini disebabkan oleh ketidakyakinan terhadap kemampuan diri mereka sendiri yang harus melaksanakan sejumlah pekerjaan administrasi besar dan merasa adanya gap antara pelatihan akademi formal dan keterampilan yang nyata yang keduanya harus diaplikasikan untuk menjadi efektif dalam melaksanakan tugas (humaspoldametrojaya.blogspot.co.id, Mei 2009).

Pernyataan diatas sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh DeCicco & Stroink (2007) bahwa ada korelasi negatif antara konsep diri independen dengan kecemasan. Jika individu dengan konsep diri independen yang rendah, maka akan mudah mengalami depresi dan kecemasan begitu sebaliknya. Selain itu dalam penelitian yang sama juga menyebutkan bahwa individu yang memiliki konsep diri independen yang tinggi tidak mudah memberikan toleransi terhadap informasi yang masih bersifat ambigu atau belum jelas kebenarannya karena individu yang seperti ini tidak mudah membandingkan diri dengan situasi eksternal dan tidak menganggapnya sebagai sebuah ancaman bagi dirinya dan begitu sebaliknya jika individu yang memiliki konsep diri independen rendah.

Konsep diri independen merupakan kondisi diri yang mengkonsepkan dirinya dan berfokus pada atribut personal dan internalnya, seperti kemampuan inteligensinya, target pencapaian, kemampuan dirinya dalam melakukan sesuatu atau keyakinan pada potensi yang dimiliki dirinya sebagai ciri khas pada dirinya untuk dapat dibedakan dengan orang lain dan utuk menyatakan fungsi dirinya dalam kelompoknya (Sarwono, 2015). Menurut Sunyoto, & Burhanudin (dalam Pribadi, 2014) stres di tempat kerja dapat dipengaruhi beberapa faktor seperti faktor internal, yaitu kepribadian, kemampuan dan nilai budaya dan sedangkan faktor eksternal meliputi kondisi pekerjaan, peran dalam organisasi dan pengembangan karir, hubungan kerja serta struktur dalam organisasi.

(13)

5

kerja pada perwira Polri. Manfaat dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi berupa informasi baru mengenai penelitian ini di ranah bidang ilmu psikologi khususnya Psikologi Industri dan Organisasi. Selain itu menjadi referensi bagi Polri dalam pemahaman konsep diri independen dan hubungannya dengan stres kerja serta diharapkan memiliki strategi untuk mengurangi stres kerja sehingga dapat meningkatkan kinerja pada Polri.

Stres Kerja

Stres menurut Fincham & Rhodes merupakan kumpulan dari gejala-gejala dan tanda-tanda faal, perilaku, psikologikal dan somatik akibat tidak adanya kecocokan antara orang (kepribadian, bakat dan kecakapan) dengan lingkungannya, yang mengakibatkan ketidakmampuannya untuk menghadapi berbagai tuntutan terhadap dirinya secara efektif (Munandar, 2008). Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan dan hasilnya muncul berbagai gejala stres baik secara fisik maupun psikis yang dapat mengganggu pelaksanaan kerja karyawan. Menurut Mariho (dalam Aulya, 2013) bahwa stres adalah ketegangan/ tekanan emosional yang dialami seseorang saat menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi fisik seseorang. Jimad dan Iin Apriyani (dalam Rochmanasari, 2013) mendefinisikan stres suatu respon dalam menyesuaikan diri yang dipengaruhi oleh perbedaan individu dan proses psikologisn sebagai konsekuensi dari tindakan lingkungan, situasi atau peristiwa yang banyak menuntut psikologis seseorang.

Berdasarkan pernyataan tokoh-tokoh diatas, maka dapat disimpulkan bahwa stres kerja merupakan suatu kondisi ketegangan dan respon yang ditunjukkan seseorang saat menghadapi tuntutan besar dalam pekerjaan yang menuntut psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran dan kondisi seseorang.

Faktor-faktor Penyebab Stres

Wijono (2014) faktor-faktor penyebab stres atau sumber stres dikelompokkan menjadi 2, yaitu :

1. Faktor-faktor Pekerjaan (On the job)

Tosi et al (Wijono, 2014) menyebutkan ada beberapa faktor yang menjadi sumber stres dalam organisasi, yaitu :

a. Faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan seorang individu b. Stres peran atau konflik peran

c. Peluang partisipasi d. Tanggung jawab

e. Faktor-faktor organisasi

2. Faktor-faktor di Luar Pekerjaan (Off the job)

Tosi et al (Wijono, 2014) menyebutkan ada beberapa faktor yang dapat menjadi sumber stres di luar pekerjaan, yaitu :

(14)

6 b. Dukungan sosial

c. Locus of control, keyakinan individu dapat mempengaruhi lingkungan kerja melalui apa yang dilakukan dan bagaimana melakukannya. d. Kepribadian tipe A dan B. Keduanya yang memiliki kesamaan seperti

mengerjakan tugas dengan cepat, sikap kompetitif yang tinggi, tidak sabar, berorientasi pada hasil, mudah stres, mudah tertekan dan lain-lain. e. Harga diri. Hal ini yang dapat menentukan bagaimana seseorang dalam

menjawab tekanan-tekanan dari lingkungannya.

f. Fleksibelitas versus kaku. Individu yang kaku akan mudah mengalami tekanan dalam pekerjaan

g. Kemampuannya. Hal ini merupakan suatu aspek yang dapat mempengaruhi respon-respon individu terhadap kondisi, situasi atau peristiwa yang menimbulkan stres.

Gejala-Gejala Stres Kerja

Cooper,C, 1989 (Munandar, 2008) meringkas gejala-gejala stres ke dalam tiga golongan, yaitu :

1. Gejala Fisik, seperti: tekanan darah, diare dan obstipasi 2. Gejala Psikologikal, seperti: kecemasan dan ketidaktegasan 3. Gejala Perilaku, seperti : perokok, peminum

4. Gejala Organisasi, seperti : angka absen tinggi

Konsep Diri

Brehm & Kassin (1993) menyatakan konsep diri merupkan keyakinan yang ada pada diri individu tentang ciri-ciri sifat yang dimiliki dirinya atau karakteristik pribadi dirinya (Dayakisni Hudaniah, 2012). Konsep diri menurut Burns (1979) merupakan organisasi dari persepsi diri, dimana organisasi yang dimaksud adalah bagaimana cara kita mengenal, menerima, dan menilai diri kita sendiri serta mendeskripsikan diri kita mulai dari identitas fisik, sifat, hingga prinsip (Dayakisni & Salis, 2004). Selain pemaparan dari beberapa tokoh diatas mengenai konsep diri, menurut Rakhmat (2012) menyatakan bahwa konsep diri merupakan pandangan dan perasaan tentang diri kita yang dapat bersifat psikologi, sosial dan fisis. Konsep diri tidak hanya sekedar gambaran deskriptif, tetapi penilaian kita terhadap diri kita, sehingga konsep diri meliputi apa yang kita pikirkan dan apa yang kita rasakan tentang diri kita (Rakhmat, 2012).

Berdasarkan pemaparan dari beberapa tokoh diatas mengenai konsep diri maka dapat disimpulkan konsep diri merupakan keyakinan pada diri sendiri dalam mengenal, memahami, menerima dan menilai diri sendiri, mulai dari yang kita pikirkan hingga yang kita rasakan yang menjadikan karakteristik pribadi pada setiap individu.

(15)

7

1. Konsep Diri Independen (Independent self-concepts)

Kondisi individu dalam mengkonsepkan dirinya berfokus pada atribut internal yang bersifat personal seperti kemampuan individual, intelegensi, kepribadian, target pencapaian atau prefensi sebagai ciri khas dirinya untuk dihadapkan dan dibedakan dengan orang lain dan untuk menyatakan fungsi dirinya dalam kelompok atau menekankan pada tujuan pribadi (Sarwono, 2015). Individu dengan konsep diri independen cenderung menjadi individualistis (memiliki keyakinan dengan diri sendiri, tenang, realistis dan rasional), egosentris (diri sebagai pusat pemikiran atau perilaku yang mementingkan diri sendiri dan tidak memikirkan orang lain), dan otonom (kemampuan untuk dapat berdiri sendiri, tidak membutuhkan orang lain dan tidak terikat oleh siapapun untuk urusan apapun) dan mendefiniskan dirinya dengan apa yang dilakukannya, apa yang dimilikinya dan karakteristik pribadinya. (Hawkins, & Coney, 2004).

2. Konsep Diri Interdependen (Interdependent self-concepts)

Kondisi individu cenderung berfokus pada status interdependen mereka dengan orang lain dan berupaya untuk memenuhi tanggung jawab sosial yang ada (Sarwono, 2015). Konsep diri interdependen dibentuk dari hubungan keluarga, hubungan kebudayaan, hubungan profesional, serta hubungan sosial. Selain itu konsep diri interdependen cenderung patuh, sosiocentric, holistik, dan berorientasi pada hubungan dengan sesama individu (Hawkins, 2004). Individu dengan konsep diri interdependen ini mendifinisikan dirinya dalam peran sosial, hubungan keluarga, dan adanya kesamaan dengan anggota kelompoknya.

Berdasarkan pemaparan teori kedua konsep diri di atas bahwa konsep diri independen berbeda dengan konsep diri interdependen, tetapi tidak berlawanan. Artinya jika individu yang memiliki konsep diri independen rendah bukan berarti individu tersebut termasuk dalam kategori konsep diri interdependen atau sebaliknya. Dalam penelitian ini peneliti lebih memfokuska pada salah satu konsep diri yaitu konsep diri independen.

Dinamika Hubungan Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja

Konsep diri independen merupakan suatu kondisi yang mengkonsepkan dirinya pada keyakinan dirinya dan apa yang dimiliki dirinya seperti kemampuan intelegensi, prestasi, kepribadian dan lebih menekankan pada keinginan pribadi tanpa mempertimbangkan orang lain. Individu yang memiliki konsep diri independen yang tinggi cenderung tidak mudah mengalami kecemasan hingga depresi terhadap suatu kondisi karena mereka yakin dengan apa yang dimiliki dan yang dilakukannya tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain. Selain itu individu dengan konsep diri independen tinggi juga tidak mudah memberikan toleransi terhadap informasi yang masih bersifat ambigu atau belum diketahui dengan jelas kebenarannya karena individu yang seperti ini tidak mudah membandingkan diri dengan situasi eksternal dan tidak menganggapnya sebagai sebuah ancaman bagi dirinya (DeCicco &Stroink, 2007). Sehingga terdapat hubungan yang negatif antara konsep diri independen dengan stres kerja.

Kerangka Berfikir

(16)
(17)

9 Hipotesa

Ada hubungan negatif antara konsep diri independen dengan stres kerja perwira Polri. Semakin tinggi konsep diri independen maka semakin rendah stres kerja pada perwira Polri dan sebaliknya semakin rendah konsep diri independen maka semakin tinggi stres kerja pada perwira Polri.

METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian menggunakan penelitian kuantitatif korelasional antara dua variabel dengan menggunakan metode perhitungan statistik SPSS sehingga akan diketahui ada atau tidaknya hubungan antara dua variabel yang diteliti.

Subjek Penelitian

Populasi merupakan keseluruhan subjek penelitian yang akan dijadikan sumber untuk menggali data dari penelitian ini. Penelitian ini akan menyelidiki hubungan konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri di wilayah Polres di Kalimantan Barat, dengan populasi perwira pertama di lima Polres sebanyak 264 orang perwira pertama. Jumlah populasi 264 orang perwira pertama terdiri dari 26 orang di Polres Ketapang, 125 orang di Polresta Pontianak, 37 orang di Polres Mempawah, 47 orang di Polres Singkawang, 24 orang di Polres Sambas.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan Nonprobability Sampling, Purposive Sampling dimana teknik pengambilan sampel ini hanya dilakukan pada individu yang didasarkan pada pertimbangan dan karakteristik yang telah ditentukan oleh peneliti dengan memberikan skala. Adapun karakteristik subjek penelitian yaitu perwira Polri pertama baik laki-laki maupun perempuan yang meliputi pangkat inspektur dua, inspektur satu dan ajun komisaris yang bekerja di wilayah Polres yang telah ditentukan peneliti. Berdasarkan jumlah populasi yang ada, untuk menentukan besarnya sampel dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori yang dikemukakan oleh Krejcie dan Morgan. Pada tabel yang disusun Krejcie dan Morgan (dalam Sinambela, 2014) disebutkan jika populasi 264 orang maka yang akan dijadikan sampel minimal berjumlah 159 orang dengan taraf kesalahan 5%. Sehingga, sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 170 orang perwira pertama Polri yang terdapat di lima Polres di Kalimantan Barat dengan karakteristik yang telah dipaparkan diatas.

Variabel dan Instrumen Penelitian

(18)

10

membutuhkan dan tidak terikat oleh orang lain dalam segala hal), yang dapat diungkap dengan menggunakan skala konsep diri independen.

Stres kerja merupakan suatu kondisi saat mengalami ketegangan yang dihadapkan pada tuntutan besar dalam pekerjaan dan respon yang diberikan dapat mempengaruhi psikis seperti emosi, pikiran, kondisi fisik dan perilaku seseorang. Individu yang mengalami stres akan memiliki gejala-gejala seperti gejala pada fisik (tekanan darah, diare), gejala psikologikal (kecemasan), gejala perilaku (peminum) dan gejala organisasi (angka absen tinggi) yang dapat diungkap dengan skala stres kerja

Instrumen yang digunakan pada penelitian ini yaitu adaptasi dari skala konsep diri independen milik Veva Ardhyaning Kencana Sari (2012) dengan indeks validitas 0,310-0,755 dan dengan reliabilitas 0,856 dan skala stres kerja milik Widya Puspita Nugraeni (2012) dengan indeks validitas 0,326-0,767 dan dengan reliabilitas 0,865.

Tabel. 1

Validitas dan Reliabilitas Skala Setelah Try Out Variabel Jumlah Item

Berdasarkan tabel diatas, setelah dilakukannya try out maka diperoleh jumlah item valid pada skala konsep diri independen 13 item dengan indeks validitasnya 0,222-0,563 dan dengan reliabilitas 0,771. Pada skala stres kerja diperoleh jumlah item valid sebanyak 31 item dengan indeks validitasnya 0,223-0,623 dan dengan reliabilitas 0,875. Penentuan standar validitas dengan menggunakan r tabel Pearson yang mana jika jumlah sampel untuk try out berjumlah 100 orang maka standar validitas suatu item yaitu 0,195 dengan taraf kesalahan 5%. Try out skala dilakukan karena subjek penelitian yang digunakan pada penelitian ini berbeda dengan subjek penelitian terdahulu yang terdapat pada skala aslinya. Hasil ini diperoleh setelah diuji cobakan kepada 100 orang anggota Polri baik brigadir maupun perwira.

Prosedur dan Analisa Data Penelitian

(19)

11

sampai 5 Januari 2016. Proses pengambilan data ini pula dilakukan dengan cara peneliti mendatangi setiap Polres dan membagikan skala yang dibantu Bagian Sumber Daya Manusia (Bag.SUMDA) untuk dikumpulkan menjadi satu yang nantinya akan disebar kepada perwira-perwira pertama Polri yang ada, baik yang berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan. Sehingga peneliti tidak bisa melihat secara langsung selama proses pengisian skala. Kemudian dilakukan entry data dilanjutkan dengan analisa data untuk mengetahui hasil dari penelitian yang dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode analisis product moment correlation atau pearson correlation untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas (X) dengan variabel terikat (Y).

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada 170 perwira pertama Polri di Kalimantan Barat yang tersebar di lima Polres di Kalimantan Barat yang meliputi Polres Kota Pontianak, Polres Mempawah, Polres Singkawang, Polres Sambas dan Polres Ketapang. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 161 perwira pertama yang berjenis kelamin laki-laki dan 9 orang perwira pertama yang berjenis kelamin perempuan. Sampel dari 170 perwira pertama ini juga meliputi 100 yang berpangkat IPDA, 42 berpangkat IPTU, dan 28 berpangkat AKP.

(20)

12

independen tinggi dan 17 subjek atau 10,0% berada pada kategori sangat tinggi. Berdasarkan perhitungan di atas, maka diketahui konsep diri independen subjek penelitian paling banyak berada pada kategori tinggi atau sejumlah 69 subjek atau 40,6%. terdapat 2 subjek atau 1,2% yang kondisi stres kerjanya yang sangat rendah, 21 subjek atau 12,4% yang stres kerjanya berada pada kategori rendah, 83 subjek atau 48,8% berada pada kategori sedang, 60 subjek atau 35,3% kondisi stres kerjanya berada pada kategori tinggi dan 4 subjek atau 2,4 % yang stres kerjanya berada pada kategori sangat tinggi. Berdasarkan perhitungan tersebut, maka diketahui stres kerja subjek penelitian paling banyak berada pada kategori sedang dengan 83 subjek atau 48,8% dan 60 subjek atau 35,3% berada pada kategori stres kerja yang tinggi.

Tabel. 4

Berdasarkan hasil analisis korelasi diatas, ternyata tidak ada hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri. Hal ini dapat dilihat dari nilai signifikansi yaitu 0,806 yang bermakna nilai signifikansi lebih besar dibandingkan dengan taraf signifikansi yang ditoleransi 0,05. Hasil perhitungan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa hipotesa penelitian ditolak, yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri.

(21)

13

Penelitian ini berfokus pada pengujian bagaimana hubungan konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri di Kalimantan Barat khususya perwira pertama. Hasil dari penelitian ini membuktikan hipotesa peneliti ditolak, dengan angka korelasi (r) sebesar -0,019 dan nilai signifikansi 0,806 > 0,05 yang berarti bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel yaitu konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri.

Hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian terdahulu di Canada yang menyebutkan bahwa ada korelasi negatif antara konsep diri independen dengan kecemasan. Jika individu dengan konsep diri independen yang rendah, akan mudah mengalami depresi dan kecemasan. Sedangkan individu dengan konsep diri independen yang tinggi cenderung tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas kebenarannya dikarenakan mereka tidak mudah membandingkan dirinya dengan situasi eksternal dan tidak menganggap hal itu sebagai ancaman bagi dirinya (DeCicco & Stroink, 2007).

Hal ini dikarenakan penelitian terdahulu dilakukan diluar Asia. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Bond & Tak-Sing (dalam Dayakisni & Salis, 2004) kepada orang Amerika dan Asia bahwa orang Amerika cenderung memberikan respon abstrak yang menekankan pada atribut personal dibandingkan orang Asia yang cenderung memberikan respon situasional yang berarti cenderung melihat dirinya dalam konteks situasional dalam hubungannya dengan orang lain. Selain itu penelitian serupa yang dilakukan oleh Triandis dan rekan (dalam Dayakisni & Salis, 2004) bahwa orang Asia lebih memberikan respon yang sifatnya kategori hubungan sosial dan mengindikasikan bahwa dalam budaya Asia hubungan dengan orang lain menempati bagian penting dalam konsep diri mereka. Faktor inilah salah satunya yang memungkinkan tidak adanya hubungan konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri.

Pernyataan diatas menguatkan beberapa temuan di lapangan, diantaranya dalam satu ruangan di Polres-polres yang dijadikan sampel penelitian seluruh anggota Polri baik brigadir maupun perwira saling berkordinasi dan saling membantu dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Temuan ini dapat dihubungkan dengan budaya dan nilai-nilai yang dianut serta ditanamkan pada diri seluruh rakyat Indonesia untuk saling tolong-menolong, bergotong-royong dan bermusyawarah yang telah tertuang di dasar negara, yaitu Pancasila. Hal ini yang dapat menjadikan hipotesa peneliti ditolak karena perwira Polri khususnya di wilayah Kalimantan Barat belum menunjukkan sepenuhnya konsep diri yang independen dalam menjalankan tugasnya. Sehingga antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri tidak memiliki hubungan.

(22)

14

penelitian ini bahwa tidak ada hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri.

Tidak adanya hubungan antara konsep diri dengan stres kerja pada perwira Polri memang belum ada penelitian sejenis yang membahas kedua variabel tersebut. Akan tetapi terdapat penelitian tentang hubungan antara konsep diri dan kecemasan komunikasi pada mahasiswa psikologi UIN SUKA Yogyakarta, bahwa semakin positif konsep diri maka tidak selalu menjadikan mahasiswa mempunyai kecemasan komunikasi rendah (Adawiyah, 2012). Namun dalam penelitian ini tidak dijelaskan faktor yang membuat hipotesis penelitian ini ditolak bahwa tidak ada hubungan antara konsep diri dengan kecemasan komunikasi.

Berdasarkan tabel deskripsi data stres kerja, ditemukan kondisi yang kurang ideal dengan konsep diri independen yang sebagian besar berada pada kondisi tinggi, dan kondisi stres kerja perwira Polri sebagian besar berada pada kategori sedang dengan persentase 48,8% dan kategori stres kerja perwira Polri terbanyak berada pada kategori tinggi dengan persentase 38,8%. Hal tersebut dapat disebabkan oleh dua faktor yang mempengaruhi stres kerja, yaitu faktor pekerjaan (On the job) dan faktor di luar pekerjaan (Off the job). Konsep diri independen termasuk dalam faktor di luar pekerjaan (Off the job) dimana lebih berfokus pada dalam diri dan faktor di luar pekerjaan juga meliputi perubahan-perubahan struktur kehidupan, dukungan sosial, locus of control, tipe kepribadian A dan B, harga diri, fleksibelitas versus kaku dan kemampuannya. Kondisi stres kerja yang berada pada kategori tinggi ini dapat berpengaruh negatif pada pekerjaan, tanggung jawab, hubungan dengan rekan kerja maupun masyarakat dan dapat memicu hal-hal yang tidak diinginkan seperti beberapa kasus yang terjadi di anggota Polri seperti bunuh diri, saling tembak menembak baik sesama rekan kerja maupun masyarakat.

Selain faktor diluar pekerjaan ada juga faktor pekerjaan (On the job) yang meliputi faktor-faktor yang berkaitan dengan pekerjaan seorang individu, stres peran atau konflik peran, peluang partisipasi, tanggung jawab dan faktor-faktor organisasi (Wijono, 2014). Hal ini yang menandakan bahwa masih banyak faktor lain yang dapat mempengaruhi stres kerja perwira Polri dan faktor-faktor pekerjaan (On the job) juga berpengaruh terhadap subjek sehingga sangat mungkin tidak adanya hubungan konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri.

Pemaparan-pemaparan diatas juga semakin menunjukkan bahwa hipotesa penelitian ini ditolak, bahwa tidak ada hubungan konsep diri independen dengan stres kerja. Artinya tidak selalu konsep diri independen tinggi cenderung memiliki stres kerja yang rendah dan begitu sebaliknya. Selain itu konsep diri independen bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan atau yang memicu terjadinya stres kerja, namun masih banyak faktor lain yang menyebabkan atau pemicu stres kerja yang telah disebutkan diatas.

(23)

15

bahkan seleksi alih golongan (SAG) dan perbandingan jumlah subjek antara laki-laki dan perempuan yang tidak seimbang serta kurang mempertimbangkan kondisi di lapangan seperti waktu pengambilan data yang bersamaan dengan siaga satu pemilihan kepala daerah, dimana waktu kerja anggota Polri menjadi lebih padat. Kelemahan lainnya dari penelitian ini yaitu pada peneliti sendiri dimana saat penyebaran dan pengisian skala tidak dipantau langsung oleh peneliti yang dapat mempengaruhi hasil penelitian. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan tidak adanya korelasi yang signifikan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri.

SIMPULAN DAN IMPLIKASI

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh hasil bahwa hipotesa penelitian ditolak yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja.

Implikasi dari penelitian ini adalah untuk lembaga Polri khususnya perwira pertama Polri yang menjadi subjek penelitian mengetahui gejala-gejala stres kerja yang muncul pada dirinya dan mengetahui cara untuk menurunkan stres kerja seperti melakukan kegiatan yang menjadi hobinya saat hari libur agar kinerjanya lebih optimal baik dalam pelayanan masyarakat maupun hubungan antar rekan kerja dan atasan. Selain itu dengan adanya hasil penelitian ini yang menunjukkan tidak adanya hubungan antara konsep diri independen dengan stres kerja pada perwira Polri maka anggota Polri khususnya perwira Polri tidak diharuskan membentuk konsep diri independen.

Bagi peneliti selanjutnya yang tertarik untuk meneliti tema-tema yang hampir sama dengan penelitian ini, diharapkan untuk lebih memperhatikan karakteristik subjek penelitian misalnya jumlah subjek penelitian antara laki-laki dan perempuan sama, menspesifikasikan rentang usia dan tingkat perwira pertama yang berasal dari akademi (AKPOL), secapa, atau seleksi alih golongan (SAG). Selain itu yang tertarik untuk meneliti tema yang sama dapat mempertimbangkan variabel-variabel lain yang lebih berhubungan, seperti kepribadian, pola komunikasi, iklim organisasi dan lain-lain.

REFERENSI

Adwiyah, R. 2012. Hubungan konsep diri dengan kecemasan komunikasi mahasiswa Psikologi UIN SUKA Yogyakarta. Skripsi Strata 1, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Diakses pada 12 Januari 2016 dari

http://digilib.uinsuka.ac.id/12458/1/bab%20i,%20v,%20daftar%20pustaka.p df

(24)

16

Brilio.net.(2015). Sembilan pekerjaan yang paling stres di tahun 2015. Diakses pada 15 Oktober 2015 dari http://www.brilio.net/life/9-pekerjaan-yang-paling-stres-di-tahun-2015-profesi-stres-2015-1504077.html

Dayakisni, T. dan Hudaniah. 2012. Psikologi sosial. Malang: UMM Press.

Dayakisni, T. dan Yuniardi, S. 2004. Psikologi lintas budaya. Malang: UMM Press. DeCicco, T. dan Stroink, M.L. 2007. A Third model of self-construal: the metapersonal self. International Journal Of Transpersonal Studies, diakses

25 Oktober 2015 dari

http://www.transpersonalstudies.org/imagesrepository/ijts/downloads/a%20t hird%20model%20of%20selfconstrual%20the%20metapersonal%20self.pdf

Dodik, A. dan Astuti, K. 2012. Hubungan antara kepribadian hardiness dengan stres kerja pada anggota polri bagian operasional di polresta yogyakarta. Jurnal insight vol.10, no.1, diakses 14 Oktober 2015 dari

http://fpsi.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2012/06/3.

hubungan-antara-kepribadian-hardiness-dengan stres-kerja-pada-anggota-polri-bagian-operasional-di-polresta-yogyakarta.pdf

Hawkins, D., Best, R.J, Coney, K.A, Koch, E.C. 2004. Consumer behavior; building marketing strategy. New York: Mc.Graw Hill Companies Inc. Humaspoldametrojaya.blogspot.co.id. (2009). Puskominfo bid humas Polda Metro

Jaya. Diakses pada 8 Februari 2016 dari

http://humaspoldametrojaya.blogspot.co.id/2009/05/stress.html

Indopos.com. (2014). Masih terjadi, Polisi ngamuk main tembak; Tes abal-abal, banyak Polisi stres. Diakses pada 20 Januari 2016 dari

http://www.indopos.co.id/2014/03/tes-abal-abal-banyak-polisi-stres.html

Jawapos.com. (2014). Satu perwira polisis masuk DPO. Diakses pada 20 Januari 2016 dari http://www2.jawapos.com/baca/artikel/5488/satu-perwira-polisi-masuk-dpo

Munandar, Ashar S. 2008. Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: UI-Press Nugraeni, Widya P. 2012. Tingkat stres pada kepolisian lalu lintas di Polres

Malang. Skripsi Strata 1, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Okezone.com. (2013). Ada 17 kasus yang dilakukan anggota Polisi di awal tahun

2013. Diakses pada 20 Januari 2016 dari

http://news.okezone.com/read/2013/04/02/337/784713/ada-17-kasus-yang-dilakukan-anggota-polisi-di-awal-2013

Policenewscenter.com (2015). Evaluasi kinerja Polda Kalbar : 5 Bendera tengkorak diberikan. 2015. Diakses pada 15 Oktober 2015 dari

(25)

17

Pribadi, R.A. 2014. Hubungan antara gaya kepemimpinan transformasional dengan stres kerja pada anggota polisi di polresta surakarta. Skripsi

psikologi, diakses 18 oktober 2015 dari

http://eprints.ums.ac.id/21226/1/03.%20Halaman%20Depan.pdf

Rochmanasari, D. 2013. Analisis pengaruh stres kerja dan gaya kepemimpinan terhadap kinerja pegawai perusahaan daerah bank perkreditan rakyat bkk kabupaten demak. Skripsi ekonomika dan bisnis, diakses 12 April 2015 dari

http://eprints.undip.ac.id/39005/1/rochmanasari.pdf

Rakhmat, J. 2012. Psikologi komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Sari, Veva A.K. 2012. Hubungan konsep diri independen dengan intensi membeli

sepeda fixie. Skripsi Strata 1, Universitas Muhammadiyah Malang, Malang. Sarwono, S.W. 2015. Psikologi lintas budaya. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. Sasoto, S. 2014. Membangun kemandirian dan profesionalisme polisi republik

indonesia sebagai pelindung pengayom dan penegak hukum. Jurnal Inovatif, Vol. VII NO.3, diakses pada 19 Oktober 2015 dari

http://online-journal.unja.ac.id/index.php/jimih/article/view/2174/1513

Sinambela, L.P. 2014. Metodologi penelitian kuantitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sinarharapan.com. (2014). Ketika Polisi bunuh diri. Diakses pada 20 Januari 2016 dari

http://www.sinarharapan.co/news/read/31751/ketika-polisi-bunuh-diri-Torelli, C.J. 2006. Individuality or conformity? the effect of independent and interdependent self-concepts on public judgments. Journal of consumer psychology, diakses pada 25 Oktober 2015 dari

http://www.researchgate.net/publication/232751218_Individuality_or_Conf

ormity_The_Effect_of_Independent_and_Interdependent_Self-Concepts_on_Public_Judgments

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Republik Indonesia. Diakses pada 17 Oktober 2015 dari

http://www.dpr.go.id/dokjdih/document/uu/UU_2002_2.pdf

(26)

18

LAMPIRAN I

(27)

19 2 Saya enggan meminta pertolongan orang lain

jika saya dalam kesulitan.

3 Saya senang membantu orang lain dalam memecahkan masalahnya.

4 Menurut saya sebuah tugas akan selesai lebih baik bila dikerjakan bersama-sama dengan orang lain.

5 Saya merasa puas memperoleh sesuatu yang saya inginkan dengan kemampuan saya sendiri.

6 Saya lebih mementingkan kepentingan saya sendiri daripada kepentingan orang lain. 7 Saya mampu mengerjakan tugas dengan baik

sendirian tanpa harus mengerjakannya

10 Saya merasa senang bila orang lain

membutuhkan saya dalam suatu pekerjaan. 11 Saya sering mengambil keputusan sendiri

tanpa meminta masukan dari orang lain. 12 Saya merasa tidak perlu membantu orang

lain untuk menyelesaikan masalahnya. 13 Saya dapat menyelesaikan banyak hal

sendirian tanpa bantuan dari orang lain. 14 Saya merasa kurang mampu menyelesaikan

(28)

20 15 Saya merasa puas jika dapat membantu

oranglain yang sedang kesusahan.

16 Saya sering meminta bantuan teman saya jika saya sedang mendapatkan kesulitan.

17 Saya senang melihat suatu permasalahan berdasarkan pada fakta dan kenyataan yang ada.

18 Saya tidak tertarik dengan kehidupan orang lain.

19 Saya merasa terganggu jika ada orang yang ingin mencampuri urusan saya.

20 Saya senang mendapatkan sesuatu yang saya inginan mlalui bantuan orang lain.

21 Saya akan meluangkan waktu saya untuk membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan saya.

22 Saya sering merasa kesulitan jika harus mengerjakan sebuah tugas sendirian. 23 Saya mampu berpikir rasional dalam

menghadapi suatu masalah.

24 Saya tidak memperdulikan komentar orang lain tentang saya.

25 Saya tidak suka merasa terikat dengan orang lain.

26 Saya sering meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan sebuah tugas. 27 Saya senang mendengarkan komentar dan

pendapat orang lain untuk saya.

28 Saya sering merasa kurang yakin dengan kemampuan yang saya miliki.

29 Saya merasa mampu mengerjakan suatu pekerjaan dengan kemampuan saya sendiri. 30 Saya tidak suka memperhatikan orang-orang

(29)

21

31 Saya lebih puas dengan hasil pekerjaan yang saya kerjakan sendiri daripada yang

dikerjakan secara bersama-sama.

32 Saya sering memberikan saran pada teman saya yang mempunyai masalah.

1 Detak jantung saya terasa lebih cepat ketika mendekati deadline saat bertugas.

2 Konflik dengan rekan kerja membuat saya merasa tegang dalam menyelesaikan pekerjaan.

3 Kesejahteraan anggota kurang membuat produktifitas kerja saya menurun.

4 Saya tetap merasa santai dan tidak tegang saat ada konflik dengan rekan kerja saya 5 Saya mampu menunjukkan produktivitas

kerja yang optimal meskipun sedang ada masalah.

6 Kepala saya terasa sakit ketika pekerjaan yang telah saya kerjakan tidak menunjukkan hasil yang maksimal.

(30)

22 10 Saya tetap santai meskipun banyak tugas

yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. 11 Meskipun persaingan dalam lingkungan kerja tidak sehat, tidak menurunkan produktivitas saya.

12 Rasa sakit kepala saya mudah muncul ketika tidak segera menemukan solusi dalam menghadapi kendala dalam pekerjaan. 13 Saya merasa cemas saat kurang bisa

mengendalikan tugas saat di lingkungan kerja.

14 Saya merasa gelisah saat lingkungan kerja kurang kondusif.

15 Saya tidak mengalami pusing meskipun hasil pekerjaan belum memenuhi harapan impian. 16 Saya tidak merasa cemas ketika pekerjaan

padat meski tidak ada bantuan orang lain. 17 Saya tidak mengalami kegelisahan meskipun

tugas pekerjaan susah untuk dikendalikan. 18 Saya merasa ada peningkatan detak jantung

ketika pelaporan hasil kerjaan tidak sesuai dengan standart yang ditetapkan.

19 Kecemasan terhadap masalah keluarga membuat kerja saya tidak optimal.

20 Pekerjaan yang tidak segera selesai membuat saya merasa gelisah.

21 Detak jantung saya tetap stabil meskipun penyelesaian pekerjaan tidak tepat waktu. 22 Saya tidak mengalami kecemasan meski

kurang koordinasi dalam pekerjaan. 23 Saya tidak pernah gelisah ketika bekerja

dalam situasi apapun.

(31)

23

25 Jenis pekerjaan yang monoton membuat saya merasa bosan.

26 Kegelisahan saya meningkat ketika saya merasa tidak dapat memaksimalkan tugas saya.

27 Saya tidak mengalami sakit kepala berat saat menghadapi tekanan yang berlebihan pada pekerjaan saya.

28 Saya mampu tetap tenang meskipun pekerjaan hampir melampaui batas waktu yang ditetapkan.

29 Perut saya merasa mulas ketika mendapatkan tugas yang berat bagi saya.

30 Tidak adanya waktu untuk refreshing/ rekreasi membuat saya merasa bosan.

33 Saya tidak mengalami gangguan tidur ketika ada masalah dengan pekerjaan.

34 Saya mudah marah jika melihat kesalahan sekecil apapun yang dilakukan oleh anggota lain.

35 Saya cenderung kurang tidur ketika deadline pekerjaan semakin dekat.

(32)

24

LAMPIRAN II

(33)
(34)
(35)
(36)

28

Setelah dilakukan try out dan dilakukan uji validitas terhadap skala konsep diri independen yang terdiri dari 32 item diperoleh 13 item valid dan 19 item tidak valid. Reliabilitas Skala Konsep Diri Independen

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha N of Items

,771 13

(37)

29 B. Stres Kerja

Indeks Validitas Skala Stres Kerja

No Indikator No Item Valid No Item Tidak Valid

Indeks Validitas 1 Gejala Fisik 1, 4, 10, 13, 16,

19, 22, 25, 30 7 0,259 - 0,584

2 Gejala Psikologis 2, 5, 8, 14, 17, 20, 23, 26, 28 31

11, 34 0,230-0,623

3 Gejala

Keprilakuan 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, 33, 35, 36

29, 32 0,223 - 0,563

Setelah dilakukan try out dan dilakukan uji validitas terhadap skala stres kerja yang terdiri dari 36 item diperoleh 31 item valid dan 5 item tidak valid.

Reliabilitas Skala Stres Kerja

Berdasarkan analisis reliabilitas skala stres kerja yang dilakukan, diperoleh hasil 0,875 dimana nilai tersebut lebih dari nilai standart reliabilitas yaitu 0,50. Maka dapat disimpulkan bahwa skala stres kerja reliabel untuk digunakan dalam Reliability Statistics penelitian ini.

Cronbach's Alpha

N of Items

(38)

30

LAMPIRAN III

BLUE PRINT

SKALA KONSEP DIRI

(39)

31 A. Konsep Diri Independen

Blue Print Skala Konsep Diri Independen sebelum Try Out

Skala konsep diri independen yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 32 item sebagai berikut :

No Indikator Favourable Unfavourable Total

1 Individualistis 1, 5, 11, 17, 23,

Blue Print Skala Konsep Diri Independen setelah Try Out

Hasil uji validitas diperoleh blue print skala konsep diri independen setelah try out sebagai berikut :

No Indikator Favourable Unfavourable Total

1 Individualistis 5, 12 10 3

2 Egosentris 6 2, 4, 9, 11 5

3 Otonom 1, 7, 13 3, 8 5

Jumlah 6 7 13

B. Stres Kerja

Blue Print Skala Stres Kerja sebelum Try Out

Skala stres kerja yang digunakan pada penelitian ini berjumlah 36 item sebagai berikut :

No Indikator Favourable Unfavourable Total

(40)

32

Jumlah 20 16 36

Blue Print Skala Stres Kerja setelah Try Out

Hasil uji validitas diperoleh blue print skala stres kerja setelah try out sebagai berikut :

No Indikator Favourable Unfavourable Total

1 Gejala Fisik 1, 11, 17, 23, 27 4, 9, 14, 20 9 2 Gejala Psikologis 2, 7, 12, 18, 24,

28 5, 15, 21, 26 10

3 Gejala

Keprilakuan 3, 6, 10, 16, 22, 30 8, 13, 19, 25, 29, 31 12

(41)

33

LAMPIRAN IV

(42)

34

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERISTAS MUHAMMADIYAH MALANG

Pengantar

Dengan hormat,

Saya Nanda Puspita Sari mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang yang saat ini sedang menempuh skripsi sebagai tugas akhir dengan penelitian mengenai “Konsep Diri Perwira Polri”. Oleh karena itu saya memohon kesedian anda untuk mengisi skala ini sesuai dengan kondisi diri anda secara jujur tanpa harus merasa khawatir dengan jawaban yang anda berikan karena saya akan menjamin kerahasiaan jawaban anda dan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian yang bersifat ilmiah.

Saya harap anda dapat membantu kelancaran dalam proses penelitian yang saya lakukan. Atas bantuan dan kerjasamanya saya ucapkan terimakasih.

Petunjuk Pengisian

1. Isilah identitas anda pada tempat yang telah disediakan

2. Di bawah ini terdapat pernyataan-pernyataan. Pada setiap pernyataan terdapat empat (4) pilihan jawaban, yaitu: kondisi diri anda, berilah tanda silang (X) pada jawaban anda. Apabila anda ingin mengganti jawaban pertama anda dengan jawaban yang lebih tepat, lingkari terlebih dahulu jawaban pertama anda kemudian berilah tanda silang (X) pada jawaban anda yang paling tepat.

Contoh :

Jawaban pertama : SS S TS STS

Jawaban yang tepat : SS S TS STS

(43)

35

1 Saya enggan meminta pertolongan orang lain jika saya dalam kesulitan.

2 Saya senang membantu orang lain dalam memecahkan masalahnya.

3 Menurut saya sebuah tugas akan selesai lebih baik bila dikerjakan bersama-sama dengan 6 Saya merasa tidak perlu membantu orang

lain untuk menyelesaikan masalahnya. 7 Saya dapat menyelesaikan banyak hal

sendirian tanpa bantuan dari orang lain. 8 Saya sering meminta bantuan teman saya jika

saya sedang mendapatkan kesulitan. 9 Saya akan meluangkan waktu saya untuk

membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan saya.

10 Saya sering meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan sebuah tugas. 11 Saya senang mendengarkan komentar dan

pendapat orang lain untuk saya.

(44)

36

13 Saya lebih puas dengan hasil pekerjaan yang saya kerjakan sendiri daripada yang

1 Detak jantung saya terasa lebih cepat ketika mendekati deadline saat bertugas.

2 Konflik dengan rekan kerja membuat saya merasa tegang dalam menyelesaikan pekerjaan.

3 Kesejahteraan anggota kurang membuat produktifitas kerja saya menurun.

4 Saya tetap merasa santai dan tidak tegang saat ada konflik dengan rekan kerja saya. 5 Saya mampu menunjukkan produktivitas kerja yang optimal meskipun sedang ada masalah.

6 Kepala saya terasa sakit ketika pekerjaan yang telah saya kerjakan tidak menunjukkan

9 Saya tetap santai meskipun banyak tugas yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. 10 Rasa sakit kepala saya mudah muncul ketika

(45)

37 11 Saya merasa cemas saat kurang bisa

mengendalikan tugas saat di lingkungan kerja.

12 Saya merasa gelisah saat lingkungan kerja kurang kondusif.

13 Saya tidak mengalami pusing meskipun hasil pekerjaan belum memenuhi harapan impian. 14 Saya tidak merasa cemas ketika pekerjaan

padat meski tidak ada bantuan orang lain. 15 Saya tidak mengalami kegelisahan meskipun

tugas pekerjaan susah untuk dikendalikan. 16 Saya merasa ada peningkatan detak jantung

ketika pelaporan hasil kerjaan tidak sesuai dengan standart yang ditetapkan.

17 Kecemasan terhadap masalah keluarga membuat kerja saya tidak optimal.

18 Pekerjaan yang tidak segera selesai membuat saya merasa gelisah.

19 Detak jantung saya tetap stabil meskipun penyelesaian pekerjaan tidak tepat waktu. 20 Saya tidak mengalami kecemasan meski

kurang koordinasi dalam pekerjaan. 21 Saya tidak pernah gelisah ketika bekerja

dalam situasi apapun.

NO PERNYATAAN SS S TS STS

22 Saya mengalami sakit kepala berat saat menghadapi tekanan yang berlebihan pada pekerjaan saya.

23 Jenis pekerjaan yang monoton membuat saya merasa bosan.

(46)

38

25 Saya tidak mengalami sakit kepala berat saat menghadapi tekanan yang berlebihan pada pekerjaan saya.

26 Saya mampu tetap tenang meskipun pekerjaan hampir melampaui batas waktu yang ditetapkan.

27 Tidak adanya waktu untuk refreshing atau rekreasi membuat saya merasa bosan. 28 Saya sulit tidur ketika mempunyai

tanggungan pekerjaan yang banyak.

29 Saya tidak mengalami gangguan tidur ketika ada masalah dengan pekerjaan.

30 Saya cenderung kurang tidur ketika deadline pekerjaan semakin dekat.

31 Kebutuhan tidur saya tetap terpenuhi meski ada masalah dalam penyelesaian pekerjaan.

(47)

39

LAMPIRAN V

(48)

40 Input Data Konsep Diri Independen

No Insial Pangkat Satker JK Usia 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 JUMLAH 1 A IPDA RESKRIM L 50 1 1 1 1 3 2 4 2 1 4 1 4 3 28 2 SG IPDA RESKRIM L 40 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 29 3 NR IPDA RESKRIM P 49 2 1 1 3 2 2 2 2 2 1 1 2 2 23 4 RH IPTU RESKRIM L 53 2 2 1 2 2 1 2 2 2 3 2 3 3 27 5 G AKP RESKRIM P 28 1 1 1 2 1 1 1 2 2 3 2 3 2 22 6 QN IPDA RESKRIM P 24 2 2 2 2 1 1 2 2 2 3 2 3 3 27 7 IB IPTU RESKRIM L 53 2 1 1 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 26

8 W AKP LANTAS L 35 3 2 2 2 3 2 3 2 2 3 2 3 4 33

9 SS IPDA LANTAS L 49 1 1 1 1 1 1 4 1 1 3 1 2 2 20 10 DG IPDA LANTAS L 50 1 1 1 1 1 1 4 1 1 3 1 1 1 18 11 HT IPDA LANTAS L 48 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 4 4 23

12 PO AKP INTEL P 30 2 2 1 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 22

13 GOES IPDA INTEL L 50 1 1 2 2 4 2 2 2 2 3 2 2 2 27 14 NA IPDA INTEL P 38 1 2 1 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 20 15 SP IPDA INTEL L 47 1 2 1 2 2 1 1 2 1 2 2 1 2 20 16 YU IPDA INTEL P 48 1 2 1 2 2 1 1 2 2 2 2 3 2 23

17 W IPTU INTEL L 50 1 2 1 2 2 1 1 2 2 2 2 3 2 23

(49)

41

Input Data Stres Kerja 21 JY IPTU SUMDA L 56 1 2 1 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 19

(50)

42

46 BG IPDA RESKRIM L 47 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 24 47 DU IPTU SEK TA L 55 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 2 2 24 48 SY IPTU RESKRIM L 51 2 1 2 2 2 2 2 4 1 3 3 3 3 30

49 RM AKP UTARA L 31 1 1 1 2 2 2 3 2 2 3 3 3 3 28

50 IM IPDA UTARA L 55 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 27 51 SWK AKP UTARA L 57 1 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 3 23 52 MT IPTU UTARA L 50 1 3 2 1 2 2 2 3 1 3 2 3 4 29 53 HRT IPDA UTARA L 48 2 2 1 1 2 2 2 2 2 3 2 2 2 25 54 IZ IPDA UTARA L 47 4 2 2 2 3 1 2 2 2 2 2 2 2 28 55 WY IPDA LANTAS L 57 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 4 4 22 56 KL IPDA UTARA L 48 3 1 1 2 4 1 3 1 1 2 1 3 3 26 57 KSMN IPDA SELATAN L 54 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 30 58 SL AKP SELATAN L 55 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 27 59 PO IPDA SELATAN L 47 3 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 2 29 60 UDIN IPDA SELATAN L 47 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 26 61 KWWP AKP KPOLSEK L 32 3 2 2 2 2 1 3 3 2 2 3 2 2 29 62 SBS IPDA SELATAN L 42 3 3 3 3 3 3 2 3 2 3 2 1 3 34 63 AEK IPDA SELATAN L 26 2 2 2 2 2 2 3 2 3 4 2 3 2 31 64 A IPDA SELATAN L 48 1 1 1 2 2 1 2 2 2 3 2 3 4 26 65 EK IPDA KNIT LTS L 47 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 4 4 22 66 NAK AKP KPOLSEK L 30 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 27 67 S IPTU KNIT SBHR L 52 2 2 2 3 2 2 1 2 2 3 2 3 2 28 68 H IPTU KNIT INTEL L 52 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 26

69 S IPTU

KNIT

(51)

43

70 BU IPDA

KNIT

RESKM L 48 2 2 2 2 2 2 1 1 2 3 2 2 3 26 71 YF IPTU WKPOLSEK L 27 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 27 72 KAMIN AKP SABHARA L 58 1 2 1 2 2 1 2 2 1 2 2 2 2 22 73 TUGIMN IPTU MPWAH L 53 2 2 3 1 3 2 3 2 2 2 2 2 3 29 74 SD IPDA MPWAH L 47 3 1 3 2 3 1 2 3 2 2 2 3 2 29 75 SR IPDA RESKRIM L 47 2 1 2 2 2 1 3 3 2 3 2 3 3 29 76 M.HOLIL IPTU MPWAH L 58 1 2 1 2 1 2 1 2 1 2 2 3 2 22 77 MARKUM IPDA KSPKT L 53 2 2 1 2 2 2 1 2 2 3 2 3 3 27 78 SUMARNO IPDA KSPKT L 47 2 2 2 3 3 1 3 1 1 1 2 4 3 28 79 RA'IN IPDA KSPKT L 47 2 2 1 3 1 2 2 2 1 2 2 2 3 25 80 D IPDA BINMAS L 52 2 2 2 2 2 1 3 2 2 3 2 3 2 28 81 M IPDA LANTAS L 51 2 1 2 2 2 1 2 2 1 2 2 2 3 24 82 TE IPDA LANTAS L 49 3 1 1 2 2 1 3 2 1 2 2 4 3 27 83 HAZI IPTU KSPKT L 56 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 27

84 M IPDA MPWAH L 51 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 27

85 TB AKP MPWAH L 34 1 1 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 14

86 GATOT AKP BINMAS L 50 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 27 87 NOKO IPTU MPWAH L 58 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 3 2 29 88 MARJITO IPDA MPWAH L 48 3 2 3 2 2 2 2 2 2 3 2 2 3 30 89 EH IPDA MPWAH L 47 2 1 2 2 2 2 3 3 2 4 2 4 4 33 90 SAHATA IPDA SUMDA L 37 2 1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 3 3 24 91 WT IPTU MPWAH L 40 2 2 2 2 2 2 3 3 2 3 2 3 2 30 92 JU IPDA MPWAH P 37 2 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 3 2 24

(52)

44

94 JS IPDA MPWAH L 43 3 2 2 3 2 3 3 3 2 3 2 3 3 34 95 SUTRSNO IPDA KTPANG L 50 3 1 3 2 2 1 2 2 2 3 2 3 3 29 96 BB IPDA KTPANG L 47 3 1 3 2 2 1 2 2 2 3 2 3 3 29 97 AGS IPTU KTPANG L 56 2 1 2 2 2 2 2 2 4 2 2 4 2 29 98 MADE AKP KTPANG L 58 2 1 1 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 21 99 RS IPDA KTPANG L 39 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 1 3 2 22 100 MR IPDA KTPANG L 49 1 1 2 1 1 1 3 2 1 4 1 1 1 20 101 RSY IPTU KTPANG L 49 1 1 1 1 1 1 3 3 1 4 1 1 1 20 102 PLNR IPTU KTPANG L 54 1 1 3 3 1 1 2 1 1 2 1 3 3 23 103 SDT IPTU KTPANG L 52 3 2 1 2 2 2 3 2 2 3 2 4 4 32 104 FH IPDA KTPANG L 50 2 2 1 2 1 2 1 3 2 2 1 3 2 24 105 ALI IPDA KTPANG L 52 1 2 2 2 2 2 4 2 2 4 2 3 4 32 106 JK AKP NARKOBA L 48 3 1 1 2 2 1 2 3 2 3 2 3 3 28 107 STW IPDA SABHARA L 49 3 2 2 2 3 2 3 3 2 3 2 3 3 33 108 CDR IPDA SIUM P 40 2 1 2 2 2 1 2 2 1 2 1 3 2 23

109 B IPDA DIRUT L 40 2 1 1 2 2 1 2 2 1 2 1 3 2 22

110 TRS IPDA KTPANG L 54 2 1 1 2 1 2 2 1 2 2 1 3 2 22 111 PG IPDA KTPANG L 52 2 1 2 2 2 2 2 2 4 2 2 3 2 28 112 SUKARDI IPDA SKW L 54 2 1 2 2 2 1 3 3 2 3 2 3 3 29 113 MARWIN IPTU SKW L 51 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 3 25 114 ANGGIAT IPDA PROPAM L 49 1 1 3 1 1 1 1 2 1 3 2 3 3 23 115 DJUNAIDI IPTU SKW L 57 2 1 2 2 3 2 3 2 2 2 2 3 3 29

116 SDR IPDA SKW L 50 2 1 1 2 2 2 2 3 2 3 2 3 2 27

117 PR IPDA SKW L 47 2 1 1 2 2 2 1 3 2 3 2 3 3 27

(53)

45

119 R IPDA RESKRIM L 49 2 1 1 2 2 1 2 2 2 3 2 2 2 24 120 DF IPDA RESKRIM L 42 3 1 1 1 2 1 2 3 1 3 1 3 2 24 121 CS AKP NARKOBA L 51 3 2 3 2 2 2 3 3 2 3 2 3 3 33 122 MM IPDA NARKOBA L 50 3 2 3 2 3 2 3 3 1 3 1 4 3 33

123 AB IPTU SKW L 50 2 2 2 1 2 3 3 3 2 3 2 4 2 31

124 J IPDA LANTAS L 47 1 1 1 1 1 1 2 2 1 3 2 3 2 21

125 AS IPDA SKW L 49 2 1 2 2 2 1 2 2 2 3 2 3 2 26

126 EAN AKP SKW L 42 3 1 1 1 2 2 2 2 2 3 2 3 3 27

127 GST IPDA SKW L 57 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 4 4 31

128 RM IPDA SKW L 47 2 2 2 3 2 1 1 2 2 1 2 1 1 22

129 STM IPTU SKW L 54 2 2 2 3 2 2 2 2 2 1 2 1 1 24

130 MARYO IPDA SKW L 47 1 2 2 2 2 1 2 2 1 2 2 4 2 25

131 IR IPDA SKW L 47 2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1 22

132 GS IPTU SKW L 52 2 2 2 3 2 1 2 2 2 3 3 2 2 28

133 JS IPDA SKW L 51 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 25

134 AZ IPTU SKW L 53 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 25

135 RS IPDA SKW L 49 1 1 2 2 2 1 2 2 1 3 2 2 3 24

136 MA IPDA SAMBAS L 22 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 4 1 16 137 MD IPDA SAMBAS L 22 2 1 2 2 2 2 2 2 2 3 2 3 2 27 138 HT IPDA SAMBAS L 52 1 1 1 2 3 2 2 2 1 3 1 2 4 25 139 YC AKP SAMBAS L 43 2 2 1 2 1 1 1 2 1 3 2 3 2 23 140 DEDE IPDA RESKRIM L 40 1 1 2 2 2 1 3 2 1 2 1 3 3 24 141 P IPDA SAMBAS L 43 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 16 142 AW IPDA SAMBAS L 38 2 2 2 2 2 2 2 2 1 3 2 2 4 28

(54)

46

(55)

47

No Insial Pangkat Satker JK Usia 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 JUMLAH 1 A IPDA RESKRIM L 50 1 1 1 1 1 2 1 1 1 1 1 3 3 2 2 1 1 3 2 2 1 1 2 3 2 1 2 1 2 3 2 51 2 SG IPDA RESKRIM L 40 3 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 2 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 82 3 NR IPDA RESKRIM P 49 3 4 2 3 1 4 4 2 3 4 4 4 3 4 4 4 2 4 3 2 3 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 88 4 RH IPTU RESKRIM L 53 3 2 2 2 2 3 2 2 3 2 3 2 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 3 2 2 2 2 2 2 3 77 5 G AKP RESKRIM P 28 3 2 2 3 2 2 2 3 2 2 3 2 3 3 3 3 2 2 2 3 3 1 3 3 2 3 2 3 3 2 2 76 6 QN IPDA RESKRIM P 24 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 2 2 2 2 3 3 2 2 3 2 2 3 3 68 7 IB IPTU RESKRIM L 53 3 2 2 2 2 3 1 3 3 2 3 2 3 2 2 3 2 3 3 2 2 2 3 3 2 3 3 2 2 2 2 74 8 W AKP LANTAS L 35 3 3 2 2 2 2 2 2 3 2 3 3 2 2 2 3 2 3 3 2 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 71 9 SS IPDA LANTAS L 49 1 1 4 3 1 1 4 4 4 1 2 3 3 3 2 4 1 4 4 3 1 1 1 3 2 1 4 2 1 2 2 73 10 DG IPDA LANTAS L 50 1 1 4 4 1 2 4 4 4 1 2 3 4 4 2 4 1 4 3 3 1 2 2 3 2 2 3 2 1 2 2 78 11 HT IPDA LANTAS L 48 4 4 2 3 1 4 4 1 3 2 4 4 1 1 1 4 4 4 1 3 1 2 4 4 1 1 2 2 3 4 3 82 12 PO AKP INTEL P 30 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 2 3 3 3 3 91 13 GOES IPDA INTEL L 50 2 1 2 2 2 2 3 2 2 2 2 2 2 3 3 3 1 3 2 3 3 2 3 2 2 2 4 3 3 3 3 74 14 NA IPDA INTEL P 38 2 2 2 2 2 3 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 2 2 2 73 169 GS IPDA INTEL L 47 2 2 1 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 28

(56)

48

(57)

49

(58)

50

(59)

51

(60)

52

(61)

53

(62)

54

Gambar

Tabel. 4 Korelasi Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja .........................
Deskripsi DataTabel. 2  Konsep Diri Independen
Tabel. 4 Korelasi Konsep Diri Independen dengan Stres Kerja

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian-uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi disiplin kerja antara lain: faktor kepribadian, faktor lingkungan antara lain;

ABSTRAKSI ... Latar Belakang Masalah ... Stres Pengasuhan ... Pengertian Stres Pengasuhan ... Aspek-aspek Stres Pengasuhan .... Faktor yang Mempengaruhi Stres Pengasuhan

Berarti masih terdapat 76,9 % faktor-faktor lain yang mempengaruhi stres kerja diluar variabel dukungan sosial tersebut misalnya, faktor dari dalam individu

Faktor- faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas kerja karyawan. antara lain adalah motivasi, kepuasan kerja, tingkat stres, kondisi

Maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara dukungan sosial dengan stres kerja anggota Polri pada Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda

Faktor yang mempengaruhi stres kerja dibagi menjadi dua faktor, yaitu internal dan eksternal.Dalam penelitian ini peneliti memfokuskan pada faktor eksternal yang berpengaruh

Faktor lain yang mempengaruhi stres kerja selain kecerdasan adversitas yaitu faktor- faktor instrinsik dalam pekerjaan, peran individu dalam organisasi, pengembangan

Stres kerja yang tidak berpengaruh secara signifikan menandakan bahwa stres kerja yang dialami oleh karyawan masih dapat ditoleransi bahkan stres kerja tersebut berkorelasi