ANALISIS PERAN PENDIDIKAN DALAM MENGATASI
KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN INDONESIA
NADYA ASTRID PUSPITANINGRUM
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Peran Pendidikan Dalam Mengatasi Ketimpangan Distribusi Pendapatan Indonesia adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
Bogor, Juni 2013
Nadya Astrid Puspitaningrum
ABSTRAK
NADYA ASTRID PUSPITANINGRUM. Analisis Peran Pendidikan Dalam Mengatasi Ketimpangan Distribusi Pendapatan Indonesia. Dibimbing oleh WIWIK RINDAYATI
Ketimpangan distribusi pendapatan adalah salah satu permasalahan utama pembangunan yang dapat diatasi dengan pengembangan sumberdaya manusia. Hal itu dilakukan dengan cara perbaikan kualitas modal manusia melalui tingkat pendidikan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan perkembangan ketimpangan distribusi pendapatan dan pendidikan di Indonesia serta menganalisis peran pendidikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan dengan menggunakan metode panel data. Data penelitian ini mencakup 33 provinsi di Indonesia mulai tahun 2006 hingga 2011 dengan variabel yang digunakan yaitu: indeks gini, rata-rata lama sekolah, angka putus sekolah menurut tingkat pendidikan, PDRB per kapita, rasio anggaran belanja pemerintah sektor pendidikan, serta produktivitas tenaga kerja Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah, angka putus sekolah tingkat SMP dan SMA serta PDRB per kapita berpengaruh positif sedangkan variabel lainnya berpengaruh negatif terhadap ketimpangan distribusi pendapatan. Pemerintah perlu membuat kurikulum pendidikan yang dapat meningkatkan keterampilan sehingga kemandirian ekonomi dan kesejahteraan masyarakat semakin meningkat.
Kata kunci: pendidikan, ketimpangan distribusi pendapatan, panel data
ABSTRACT
NADYA ASTRID PUSPITANINGRUM. The Role of Education Inequality to Overcome Income Distribution in Indonesia. Supervised by WIWIK RINDAYATI
Income inequality is one of the major development problem that can be solved through development of human resources. It was done by improving the quality of human capital through education. This study aims to explain the income inequality and the development of education in Indonesia and also to analize the role of education towards the reduction of income inequality by using panel data method. The data of this study includes 33 provinces in Indonesia during the years 2006 until 2011 is using variables : gini index, average length of school, the number of dropouts by level of education, GDP per capita, the ratio of government expenditure from education sector, and labor productivity. This study finds that school enrollment rates, average length of schools, the number of school dropouts in senior and junior high school, and GDP per capita have positive effect whereas other variables have negative effect with income inequality. The government needs to create the educational curriculum that can improve the skills thus economic independence and social welfare can be increased.
Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada
Departemen Ilmu Ekonomi
ANALISIS PERAN PENDIDIKAN DALAM MENGATASI
KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN INDONESIA
NADYA ASTRID PUSPITANINGRUM
DEPARTEMEN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR
Judul Skripsi : Analisis Peran Pendidikan Dalam Mengatasi Ketimpangan Distribusi Pendapatan Indonesia
Nama : Nadya Astrid Puspitaningrum NIM : H14090099
Disetujui oleh
Dr. Ir. Wiwik Rindayati Pembimbing
Diketahui oleh
Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec. Ketua Departemen
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini. Tema yang dipilih dalam penelitian ini ialah Analisis Peran Pendidikan Dalam Mengatasi Ketimpangan Distribusi Pendapatan Indonesia.
Terima kasih penulis ucapkan kepada orang tua dan keluarga penulis, yakni Bapak Didin Syamsuddin dan Ibu Retno Kusumo atas segala doa dan dukungan yang selalu diberikan. Selain itu ucapan terima kasih juga ditujukan kepada:
1. Ibu Dr Wiwiek Rindayati selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan arahan, bimbingan, saran dan motivasi dengan sabar dan membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
2. Bapak Dr. Alla Asmara, S.Pt, M.Si selaku dosen penguji utama dan Ibu Laily Dwi Arsyianti, M.Sc selaku dosen penguji dari komisi pendidikan atas kritik dan saran yang telah diberikan untuk perbaikan skripsi ini. 3. Staff badan pusat statistik (BPS), staff kementerian keuangan, serta staff
kementerian pendidikan dan kebudayaan yang telah membantu selama pengumpulan data.
4. Para dosen, staf dan seluruh civitas akademik Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB yang telah memberikan ilmu dan berbagai bantuan.
5. Teman-teman satu bimbingan, Meilani Putri, Manda Khairatul, dan Alfi Gusmanandri, yang telah banyak memberikan bantuan, saran, kritik, motivasi dan dukungannya dalam penyelesaian skripsi ini.
6. Sahabat penulis Farhana, Friska, Nina, Maria, dan Rezka yang telah membantu dan memberi dukungan atas penyelesaian skripsi ini.
7. Teman-teman kosan putri Sinabung Ines, Nadia, Shelly, Della, Lina, Anin, dan Ayu atas dukungannya untuk menyelesaikan skripsi ini.
8. Teman-teman asrama tercinta Riana, Rahma, Liza, Icha, Vita atas perhatian dan dukungan untuk dapat menyelesaikan skripsi ini.
9. Seluruh keluarga Ilmu Ekonomi 46, 47 dan 48 atas doa dan dukungannya yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.
Bogor, Juni 2013
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR viii
DAFTAR LAMPIRAN ix
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Perumusan Masalah 4
Tujuan Penelitian 6
Manfaat Penelitian 6
Ruang Lingkup Penelitian 7
TINJAUAN PUSTAKA 7
METODE PENELITIAN 17
Jenis dan Sumber Data 17
Metode Pengolahan dan Analisis Data 18
HASIL DAN PEMBAHASAN 23
Hasil 23
Pembahasan 47
SIMPULAN DAN SARAN 52
Simpulan 52
Saran 52
DAFTAR PUSTAKA 53
LAMPIRAN 55
DAFTAR TABEL
1 Hasil Estimasi Panel Data KBI 44
2 Hasil Estimasi Panel Data KTI 45
DAFTAR GAMBAR
1 Persentase Perkembangan Pembagian Pendapatan Nasional Indonesia 1 2 Perkembangan rata-rata lama sekolah KBI dan KTI 4
3 Perkembangan rata-rata rasio alokasi anggaran belanja sektor
pendidikan KBI dan KTI 4
4 Angka Putus Sekolah Kelompok Usia 7-12 Tahun Menurut Provinsi
Tahun 2007 5
5 Perkembangan Disparitas APK Perguruan Tinggi 6
6 Kurva Lorentz 8
7 Lingkaran Kemiskinan 12
8 Kurva Kuznets “U-Terbalik” 13
9 Kerangka Pemikiran 16
10 Perkembangan Indeks Gini KBI dan KTI Tahun 2006-2011 24 11 Perkembangan Indeks Gini Provinsi- Provinsi KBI Tahun 2009-2011 25 12 Perkembangan Indeks Gini Provinsi- Provinsi KTI Tahun 2009-2011 25 13 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah KBI dan KTI Tahun 2006-2011 26 14 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Provinsi-Provinsi KBI Tahun
2009-2011 27
15 Perkembangan Rata-rata Lama Sekolah Provinsi-Provinsi KTI Tahun
2009-2011 28
16 Perkembangan Rasio Anggaran Belanja Pendidikan KBI dan KTI
Tahun 2006-2011 29
17 Perkembangan Rasio Anggaran Belanja Pendidikan Provinsi-Provinsi
KBI Tahun 2009-2011 30
18 Perkembangan Rasio Anggaran Belanja Pendidikan Provinsi-Provinsi
KTI Tahun 2009-2011 30
19 Perkembangan PDRB per Kapita ADHK 2000 KBI dan KTI Tahun
2006-2011 32
20 Perkembangan PDRB per Kapita ADHK 2000 Provinsi-Provinsi KBI
Tahun 2009-2011 32
21 Perkembangan PDRB per Kapita ADHK 2000 Provinsi-Provinsi KTI
Tahun 2009-2011 33
22 Perkembangan Produktivitas Tenaga Kerja KBI dan KTI Tahun
2006-2011 34
23 Perkembangan Produktivitas Tenaga Kerja Provinsi-Provinsi KBI
Tahun 2009-2011 35
24 Perkembangan Produktivitas Tenaga Kerja Provinsi-Provinsi KTI
Tahun 2009-2011 36
25 Perkembangan Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan KBI
26 Perkembangan Angka Putus Sekolah KTI Menurut Jenjang Pendidikan
Tahun 2006-2011 37
27 Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi-Provinsi
KBI Tahun 2011 38
28 Angka Putus Sekolah Menurut Jenjang Pendidikan Provinsi-Provinsi
KTI Tahun 2011 39
29 Perkembangan Rasio Guru Murid Menurut Jenjang Pendidikan KBI
Tahun 2006-2011 40
30 Perkembangan Rasio Guru Murid Menurut Jenjang Pendidikan KTI
Tahun 2006-2011 41
31 Perkembangan Rasio Guru Murid Menurut Jenjang Pendidikan
Provinsi-Provinsi KBI Tahun 2011 42
32 Perkembangan Rasio Guru Murid Menurut Jenjang Pendidikan
Provinsi-Provinsi KTI Tahun 2011 42
DAFTAR LAMPIRAN
1 Uji Chow pada model KBI 55
2 Uji Haussman pada model KBI 55
3 Hasil Estimasi dengan model fixed effect pada model KBI 56 4 Uji Normalitas-Residual Test-Histogram pada model KBI 57
5 Uji Chow pada model KTI 58
6 Uji Haussman pada model KTI 58
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan salah satu tujuan utama dari suatu negara. Secara luas pembangunan diartikan sebagai proses yang berkesinambungan dari suatu masyarakat secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik. Saat ini, upaya mewujudkannya tidaklah mudah apalagi untuk negara berkembang seperti Indonesia karena permasalahan utama yang dihadapi dari pembangunan adalah masalah kemiskinan dan ketimpangan distribusi pendapatan. Hal tersebut berkaitan dengan upaya untuk memperbaiki kualitas kehidupan manusia. Kualitas hidup yang baik memang mensyaratkan adanya pendapatan yang lebih tinggi namun yang dibutuhkan bukan hanya itu, tetapi juga pemerataan kesempatan, pemberantasan kemiskinan, peningkatan standar kesehatan dan nutrisi, peningkatan kebebasan individual, pelestarian ragam kehidupan budaya, serta pendidikan yang lebih baik (World Bank, 1991).
Ketimpangan distribusi pendapatan terjadi di seluruh negara di dunia, baik negara maju ataupun negara berkembang. Negara maju mengalami ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih rendah sehingga kesejahteraan penduduk pun lebih baik sedangkan negara-negara berkembang mengalami ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih tinggi sehingga tingkat kesejahteraan penduduk lebih rendah. Hal tersebut terlihat dari koefisien gini yang dihasilkan . Pada tahun 2008, berdasarkan data dari Unicef, negara sub-Saharan Afrika memiliki koefisien gini 0.44 , Asia termasuk Indonesia sebesar 0.41, Middle East dan Afrika Utara sebesar 0.39, Eropa Timur dan Asia Tengah sebesar 0.35, dan negara berpendapatan tinggi (High-income Countries) sebesar 0.31.
Sumber : BPS, 2011 (diolah)
Gambar 1. Persentase Perkembangan Pembagian Pendapatan Nasional Indonesia.
2008 2009 2010
40% terendah 18.72 18.96 18.05
40% menengah 36.43 36.13 36.48
20% tinggi 44.45 44.91 45.47
2
2006 2007 2008 2009 2010 2011
T
ahu
n
KBI
KTI
Kriteria ketimpangan menurut Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan nasional yang dinikmati oleh tiga lapisan penduduk, yaitu: 40% berpendapatan rendah, 40% berpendapatan menengah, dan 20% berpendapatan tinggi. Seperti yang terlihat pada Gambar 1, berdasarkan kriteria Bank Dunia, ketimpangan distribusi pendapatan di Indonesia tergolong rendah karena 40% penduduk berpendapatan terendah menikmati lebih dari 17% pendapatan nasional, akan tetapi yang menarik adalah porsi terbesar pendapatan nasional tetap dinikmati oleh 20% penduduk berpendapatan tinggi dan 40% penduduk berpendapatan menengah. Pada tahun 2010, kelompok 20% berpendapatan tinggi mengalami peningkatan hingga mencapai 45.47% sedangkan 40% penduduk berpendapatan rendah hanya menikmati 18.05 % pendapatan nasional dan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun 2009.
Kesenjangan ketimpangan distribusi pendapatan terjadi antara Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Hal ini disebabkan perbedaan laju pembangunan antar daerah yang ditentukan oleh kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) yang dimilki. Kualitas SDM yang berbeda disebabkan adanya perbedaan pencapaian pendidikan antara kedua wilayah tersebut yang dapat terlihat dari kinerja berbagai indikator pendidikan, salah satunya adalah rata-rata lama sekolah yang dapat mencerminkan tingginya tingkat pendidikan yang dijalani oleh seseorang. Setiap tahun rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia mengalami peningkatan., akan tetapi dari Gambar 2 dapat terlihat tidak terjadinya pemerataan pendidikan antara KBI dan KTI. Rata-rata lama sekolah KBI lebih tinggi dan selalu mengalami peningkatan sedangkan rata-rata lama sekolah di KTI sempat mengalami penurunan di tahun 2011.
Sumber : BPS, 2011 (diolah)
Gambar 2 Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah KBI dan KTI
3 di sektor pendidikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) selain gaji pendidik dan biaya kedinasan. Pada tingkat nasional, pemerintah mulai dapat memenuhi UU Sisdiknas sejak tahun 2009 yaitu sebesar 20.8% dari APBN. Akan tetapi, pelaksanaan pada tingkat provinsi, pendidikan masih belum mendapatkan tempat yang utama sebagai prioritas program pembangunan provinsi tersebut. Hal ini ditunjukkan dengan rasio anggaran belanja pendidikan yang masih rendah
Sumber : BPS, 2011 (diolah)
Gambar 3 Perkembangan Rasio Alokasi Anggaran Belanja Sektor Pendidikan KBI dan KTI
Terlihat dari Gambar 2 bahwa kinerja indikator pendidikan KTI lebih rendah dibandingkan dengan KBI. Kinerja pendidikan yang rendah di wilayah timur Indonesia mengisyaratkan pemerintah daerah perlu meningkatkan alokasi anggaran untuk pendidikan akan tetapi faktanya alokasi anggaran pemerintah di KBI selalu lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah KTI sehingga menyebabkan semakin timpangnya distribusi pendapatan antara Kawasan Barat dan Timur Indonesia. Kesenjangan pencapaian pendidikan yang semakin melebar di kedua kawasan tersebut turut menyebabkan kesenjangan kesejahteraan ekonomi dan kesenjangan sosial yang semakin tinggi. Hal ini dikarenakan tingkat penguasaan informasi dan teknologi yang berbeda dari sumber daya manusia yang dimilikinya sehingga distribusi pendapatan akan semakin timpang. Kualitas SDM KTI yang masih rendah dibuktikan oleh rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang dimiliki. Menurut BPS, pada tahun 2010 sebelas diantara dua belas provinsi di KTI memiliki IPM di bawah rata-rata nasional dengan rata-rata IPM Indonesia sebesar 72.27.
Kesenjangan kesejahteraan ekonomi terlihat dari perbedaan pendapatan per kapita kedua wilayah. Pada tahun 2011, penduduk KBI memiliki pendapatan per kapita sebesar 12.7 juta rupiah sedangkan penduduk KTI hanya sebesar 9.8 juta rupiah. Begitu pula kesenjangan dalam bidang sosial, 80% penduduk Indonesia tinggal di KBI dan hanya sekitar 12% dari penduduk KBI yang tergolong miskin,
0
2006 2007 2008 2009 2010 2011
4
dibandingkan dengan 20% penduduk Indonesia yang tinggal di KTI dan sebanyak 14% penduduk KTI tergolong miskin.
Kesenjangan pencapaian pendidikan merupakan awal dari terjadinya berbagai kesenjangan tersebut yang mengakibatkan distribusi pendapatan semakin timpang. Pada tahun 2011, ketimpangan distribusi pendapatan wilayah barat sebesar 0.37 sedangkan untuk kawasan timur mencapai 0.39. Pemerataan pendidikan merupakan cara yang dapat digunakan untuk mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. Dalam laporannya, Bank Dunia juga menyebutkan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan cara yang dapat digunakan untuk mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. Pengembangan SDM dapat dilakukan dengan perbaikan kualitas modal manusia yang mengacu pada pendidikan. Pendidikan merupakan hal yang fundamental untuk membentuk kualitas sumberdaya manusia yang lebih baik dan memainkan peran utama dalam membentuk kemampuan sebuah negara berkembang untuk menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan (Todaro & Smith, 2006).
Pendidikan diklasifikasikan menjadi barang normal karena semakin tingginya pendapatan yang dihasilkan maka anggaran yang dialokasikan untuk pendidikan akan semakin besar tetapi untuk kalangan tidak mampu pendidikan dianggap sebagai barang mewah sehingga pemerintah wajib untuk membiayai pendidikan. Pasal 31 Ayat (1) UUD 1945 menyebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan bahkan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan untuk itu pemerintah wajib membiayainya. Pemerataan pendidikan akan tercapai dan ketimpangan distribusi pendapatan akan semakin menurun karena semakin tinggi tingkat pendidikan, pendapatan yang dihasilkan akan lebih baik dan produktivitas yang dihasilkan pun menjadi lebih besar. Dengan penghasilan yang lebih baik maka kehidupan menjadi lebih sejahtera.
Perumusan Masalah
Pendidikan merupakan salah satu investasi Sumber Daya Manusia (SDM) yang penting. Dengan tingkat pendidikan yang semakin tinggi, maka akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak sehingga pendapatan yang dihasilkan pun dapat lebih tinggi, Pemerintah menyadari pentingnya pendidikan bagi bangsa ini sehingga mereka mencanangkan program-program untuk memajukan kualitas pendidikan, salah satunya adalah program wajib belajar sembilan tahun yang telah dicanangkan sejak tahun 1994.
Pemerataan pendidikan merupakan strategi lain yang dilakukan oleh pemerintah untuk mengurangi tingkat ketimpangan distribusi pendapatan. Semakin tingginya disparitas (kesenjangan) pendidikan maka distribusi pendapatan akan semakin timpang. Hal ini dapat terlihat dari berbagai indikator pendidikan, seperti: angka putus sekolah dan angka partisipasi sekolah.
5 provinsi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka putus sekolah yang berasal dari golongan mampu (tidak miskin). Menurut data BPS tahun 2009, angka putus sekolah yang berasal dari golongan miskin tertinggi berada di provinsi Sulawesi Barat dan Gorontalo yaitu sebesar 7.20% dan 6.28% sedangkan angka putus sekolah yang berasal dari golongan mampu hanya sebesar 0.92% dan 0.56%. Menurut Todaro dan Smith (2006) hal tersebut disebabkan biaya imbangan tenaga kerja anak yang berasal dari keluarga miskin jauh lebih tinggi dibandingkan dengan biaya yang dipikul oleh anak yang berasal dari keluarga mampu. Pelajar yang berasal dari golongan miskin akan mengalami putus sekolah pada awal tahun pendidikannya dan sebagian besar lebih banyak putus sekolah berada di tingkat pendidikan dasar, seperti Sekolah Dasar (SD).
Sumber : BPS, 2009
Gambar 4 Angka Putus Sekolah Kelompok Usia 7-12 Tahun Menurut Provinsi Tahun 2007
Adanya disparitas sistem pendidikan terlihat juga dari angka partisipasi kasar (APK) baik dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi. Akan tetapi,
disparitas sistem pendidikan lebih terlihat “mencolok” pada tingkat perguruan
tinggi. Pada tingkat tersebut angka partisipasi pelajar dari golongan miskin jauh lebih kecil dibandingkan dengan pelajar yang berasal dari golongan mampu. Hal itu terlihat dari Gambar 5.
6
0 5 10 15 20 25 30 35
2007 2008 2009
miskin 0.98 4.19 6.31
tidak miskin 35 32.4 32.6
pers
en
Sumber : Kemendikbud, 2010
Gambar 5 Perkembangan Disparitas APK Perguruan Tinggi
Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu :
1. Bagaimanakah perkembangan pendidikan dan ketimpangan distribusi pendapatan setiap provinsi Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)?
2. Bagaimanakah peran pendidikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan setiap provinsi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)?
Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini yaitu :
1. Menganalisis perkembangan pendidikan dan ketimpangan distribusi pendapatan setiap provinsi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI).
2. Menganalisis peran pendidikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan setiap provinsi di Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI)
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut: 1. Sebagai bahan dan masukan informasi bagi pemerintah daerah ataupun
pemerintah pusat dalam mengkaji kebijakan mengenai pendidikan sehingga sesuai dengan apa yang direncanakan dan tepat pada sasaran kebijakan tersebut.
7 3. Sebagai sumber referensi bagi penelitian selanjutnya yang akan membahas
terkait dengan pendidikan dan ketimpangan distribusi pendapatan.
Ruang Lingkup Penelitian
Penelitian ini untuk mengidentifikasi perkembangan pendidikan dan ketimpangan distribusi pendapatan serta menganalisis pengaruh pendidikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan. Penelitian ini difokuskan pada 33 provinsi di Indonesia yaitu 21 provinsi termasuk wilayah barat dan 11 provinsi termasuk wilayah timur Indonesia mulai tahun 2006 hingga tahun 2011. Ruang lingkup pendidikan yang akan diteliti meliputi indikator-indikator pendidikan seperti: angka putus sekolah, rata-rata lama sekolah, selain itu PDRB per kapita, rasio anggaran belanja pendidikan serta produktivitas tenaga kerja dapat digunakan untuk melihat peran pendidikan terhadap pembangunan ekonomi. Ketimpangan distribusi pendapatan dapat dilihat dari koefisien gini 33 provinsi di Indonesia.
TINJAUAN PUSTAKA
Distribusi Pendapatan
Distribusi pendapatan mencerminkan merata atau timpangnya pembagian hasil pembangunan suatu negara di kalangan penduduknya (Dumairy 1996). Pendapatan yang diterima individu berasal dari penghasilan yang diterimanya pada saat bekerja. Pendapatan tersebut mencerminkan tingkat produktivitas mereka, semakin produktif bekerja maka pendapatan yang dihasilkan akan semakin besar. Para ekonom umumnya membedakan dua ukuran pokok distribusi pendapatan yaitu distribusi pendapatan perseorangan dan distribusi pendapatan fungsional. (Todaro dan Smith 2006 )
Distribusi pendapatan perseorangan merupakan ukuran yang paling sering digunakan oleh para ekonom. Ukuran ini menghitung jumlah penghasilan yang diterima oleh setiap individu tanpa memperhatikan sumber penghasilannya, baik itu dari hasil bekerja ataupun hanya dari warisan. Selain itu lokasi (desa atau kota) serta sektor sumber penghasilan (pertanian, manufaktur, jasa, perdagangan) juga tidak diperhatikan sedangkan distribusi pendapatan fungsional melihat persentase penghasilan tenaga kerja secara keseluruhan dan membandingkannya dengan persentase pendapatan total yang dibagikan dalam bentuk sewa, bunga dan laba. Ukuran lain yang sering digunakan untuk mengukur distribusi pendapatan adalah, indeks gini, kriteria Bank Dunia, dan indeks theil
Bank Dunia mengelompokkan penduduk menjadi tiga lapisan, yaitu: 40% penduduk berpendapatan rendah, 40% penduduk berpendapatan menengah serta 20% penduduk berpendapatan tinggi. Kriteria ketidakmerataan Bank Dunia didasarkan atas porsi pendapatan nasional yaitu :
8
2. Ketimpangan dinyatakan sedang apabila 40% penduduk berpendapatan rendah menikmati 12% hingga 17%.
3. Ketimpangan dinyatakan rendah apabila 40% penduduk berpendapatan terendah menikmati 17% pendapatan nasional.
Indeks gini adalah suatu koefisien yang berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan sempurna), semakin besar koefisiennya (mendekati satu) maka dapat dinyatakan pendapatan semakin timpang begitu pula sebaliknya apabila koefisien semakin kecil (mendekati nol) maka dapat dinyatakan pendapatan semakin merata.
Indeks gini dapat dihitung dengan menggunakan kurva Lorentz. Kurva ini menggambarkan distribusi kumulatif pendapatan nasional di lapisan penduduk suatu negara. Semakin jauh jarak kurva Lorentz dari garis diagonal (garis pemerataan sempurna) maka distribusi pendapatan semakin tidak merata. Ketimpangan distribusi pendapatan yang tinggi dapat terlihat dari bentuk kurva Lorentz yang akan semakin melengkung mendekati sumbu horizontal seperti yang terlihat pada gambar sedangkan jika kurva Lorentz semakin mendekati garis diagonal (garis pemerataan sempurna) maka distribusi pendapatan dinyatakan semakin merata seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini.
Sumber : Todaro dan Smith, 2006
Gambar 6 Kurva Lorenz
Todaro dan Smith (2006) menyatakan bahwa ketimpangan distribusi pendapatan dinyatakan rendah apabila koefisien gini berada antara 0.20 sampai 0.35, Ketimpangan dinyatakan sedang apabila koefisien gini berada antara 0.36 sampai 0.50, dan ketimpangan dinyatakan tinggi apabila koefisien gini berada antara 0.51 sampai lebih dari 0.7. Koefisien gini merupakan salah satu ukuran yang memenuhi empat kriteria yang dibutuhkan, yaitu:
1. Prinsip anonimitas mengemukakan bahwa ukuran ketimpangan seharusnya tidak tergantung pada siapa yang mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi
9 3. Independensi populasi menyatakan bahwa pengukuran ketimpangan
seharusnya tidak didasarkan pada jumlah pendapatan (jumlah penduduk) 4. Prinsip transfer sering disebut juga dengan prinsip Pigou-Dalton yang
mengasumsikan semua pendapatan yang lain konstan jika mentransfer sejumlah pendapatan orang kaya ke orang miskin tetapi tidak banyak hingga mengakibatkan orang miskin itu justru lebih kaya daripada orang yang awalnya kaya maka akan dihasilkan pendapatan baru yang lebih merata.
Indeks Theil merupakan salah satu ukuran dalam mengukur ketimpangan distribusi pendapatan. Nilai indeks Theil berkisar antara 0 dan ∞, semakin mendekati nilai 0 maka distribusi pendapatan semakin merata dan semakin tinggi indeks Theil berarti ketimpangan distribusi pendapatan yang terjadi semakin besar.
Peran Pendidikan
Terdapatnya kegagalan-kegagalan dalam mengembangkan berbagai program di negara-negara berkembang menimbulkan kesadaran ahli-ahli ekonomi dan berbagai kalangan lainnya bahwa kemampuan suatu masyarakat untuk merencanakan dan melaksanakan pembangunan tergantung kepada taraf pendidikan masyarakatnya. Todaro (2006) menyatakan bahwa sumberdaya modal bukanlah yang sepenuhnya menentukan laju perkembangan ekonomi suatu negara melainkan sumberdaya manusia. Setiap masyarakat mempunyai kemampuan yang berbeda untuk menciptakan pembangunan ekonomi dan salah satu cara untuk mempertinggi kemampuan tersebut adalah dengan mempertinggi taraf pendidikan masyarakatnya. Kualitas sumberdaya manusia merupakan faktor terpenting dalam pembangunan ekonomi suatu negara dan untuk meningkatkannya maka diperlukan mutu pendidikan yang berkualitas. Kualitas pendidikan suatu negara dapat diukur melalui indikator-indikator pendidikan seperti yang telah dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS), antara lain: angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan angka partisipasi sekolah.
Kualitas sumber daya manusia juga ditandai oleh semakin tingginya tingkat pendidikan yang ditempuh. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan memperluas pengetahuan masyarakat dan mempertinggi rasionalitas mereka sehingga memungkinkan masyarakat dalam mengambil langkah yang bijaksana dalam mengambil keputusan selain itu dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi ditandai oleh kemampuan seseorang dalam menyerap dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang dapat memicu penciptaan teknologi-teknologi terbaru dalam kehidupan masyarakat serta memiliki keterampilan yang memadai. Malalui penguasaan IPTEK, kemampuan suatu negara akan lebih maju dan berkembang sehingga dapat meningkatkan daya saing suatu wilayah baik di tingkat lokal, nasional, ataupun global. Dengan demikian tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan dapat menjamin perbaikan yang terus berlangsung dalam tingkat teknologi yang digunakan masyarakat.
10
pendapatan yang lebih tinggi akan mendapatkan gaji yang lebih tinggi dengan kata lain tingkat pendidikan mempengaruhi tinggi rendahnya pendapatan seseorang. Dengan meningkatkan tingkat pendidikan maka tingkat pengetahuan dan keterampilan juga akan meningkat. Hal tersebut mengakibatkan produktivitas kerja seseorang meningkat sehingga akan berpengaruh positif dengan tingkat pendapatannya. Seseorang yang memiliki tingkat pendapatan yang lebih baik maka tingkat kesejahteraannya juga akan meningkat.
Tenaga kerja dari kalangan tidak mampu dianggap rendah dalam produktivitas, hal itu dikarenakan kurangnya kemampuan dalam mengakses pendidikan. Peran pemerintah sangat dibutuhkan melalui program bantuan pendidikan, seperti beasiswa sehingga kesempatan memperoleh tingkat pendidikan dapat diperoleh oleh seluruh kalangan. Pendidikan merupakan satu-satunya cara untuk memutus rantai kemiskinan. Tingkat pendidikan yang semakin tinggi akan memperbaiki kehidupan seseorang sehingga ia menjadi lebih sejahtera dan dapat terlepas dari tingkat kemiskinan.
Mekanisme Hubungan Kinerja Pendidikan dengan Ketimpangan Distribusi Pendapatan
Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) terkait erat dengan kualitas pendidikan karena pendidikan merupakan cara terefektif dalam pengembangan SDM yang dapat menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan. Akan tetapi yang dibutuhkan bukanlah hanya kualitas pendidikan yang baik melainkan disertai adanya pemerataan untuk memperoleh pendidikan sehingga semua kalangan dapat mengenyam pendidikan yang seharusnya.
Menurut Todaro dan Smith (2006) terdapat korelasi yang positif antara tingkat pendidikan seseorang dengan tingkat penghasilan yang akan diterimanya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin tinggi pula kemampuan seseorang untuk menyerap dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Peningkatan pengetahuan dan keterampilan akan meningkatkan produktivitas kerja seseorang yang berimplikasi pada peningkatan pendapatan yang akan diperoleh. Dengan pendapatan yang lebih baik maka akan mendapatkan kesejahteraan yang lebih baik sehingga penduduk yang termasuk golongan kurang mampu dapat memperbaiki kehidupannya dan ketimpangan distribusi pendapatan semakin lama akan semakin menurun. Schultz (1966) juga mengemukakan bahwa pendidikan berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan dan berfokus pada kemampuan tidak langsung untuk meningkatkan utilitas dengan meningkatkan pendapatan.
Teori Human Capital
11 Modal manusia (human capital) merupakan istilah yang sering digunakan oleh para ekonom untuk pendidikan, kesehatan, dan kapasitas manusia yang lain yang dapat meningkatkan produktivitas jika hal-hal tersebut ditingkatkan. Pentingnya modal manusia dalam pembangunan dimulai pada tahun 1960-an oleh pemikiran Theodore Schultz mengenai investment in human capital. Schultz menyatakan bahwa pendidikan bukan merupakan suatu bentuk konsumsi melainkan investasi dalam pembentukan modal manusia yang sebanding dengan modal fisik dan akan diikuti dengan pertumbuhan yang signifikan. Pengeluaran konsumsi pendidikan merupakan investasi dalam modal manusia karena mengharapkan pengembalian berupa penghasilan yang akan diperoleh masa depan. Pendidikan berkontribusi langsung terhadap kesejahteraan namum pendekatan pendidikan juga berfokus pada kemampuan tidak langsung untuk meningkatkan utilitas dengan meningkatkan pendapatan. investasi tersebut memperhitungkan biaya langsung dan biaya tidak langsung dalam mengambil sebuah keputusan, biaya langsung merupakan biaya yang langsung terlihat pada waktu itu juga seperti biaya sekolah, seragam sekolah, buku-buku, dan sebagainya sedangkan biaya tidak langsung adalah biaya yang akan terlihat di waktu yang akan datang, yaitu penghasilan yang hilang apabila ia bekerja.
Schultz (1966) melihat hubungan antara pendidikan dan produktivitas. Ia memperlihatkan bahwa sumberdaya manusia yang berkualitas dapat diwujudkan dengan membangun sektor pendidikan. Pembentukkan SDM yang berkualitas merupakan fokus dalam pembangunan ekonomi yang telah memberikan kontribusi langsung terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini dapat tercapai melalui penguasaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta keterampilan sehingga produktivitas tenaga kerja akan meningkat. Konsep yang dikemukakan oleh Schultz menganggap pendidikan merupakan faktor penting dalam mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. Semakin produktif masyarakat melalui penguasaan IPTEK maka pendapatan yang diterima mereka akan meningkat sehingga mereka dapat hidup lebih sejahtera
Teori Lingkaran Kemiskinan
12
Teori lingkaran kemiskinan terbagi menjadi dua konsep, yaitu teori yang dicetuskan oleh Gunnar Myrdall dan Nurkse. yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Teori lingkaran kemiskinan Nurkse mengemukakan bahwa dalam lingkaran kemiskinan yang terpenting adalah keadaan-keadaan yang menyebabkan timbulnya hambatan kepada terciptanya tingkat pembentukan modal yang tinggi. Menurutnya, tingkat produktivitas rendah diakibatkan oleh tingkat pendapatan masyarakat yang rendah menyebabkan kemampuan masyarakat untuk menabung juga rendah. Ini akan menyebabkan tingkat pembentukan modal yang rendah yang akan menyebabkan negara kekurangan modal dan tingkat produktivitas akan tetap rendah. (Didin Damanhuri 2010)
Teori yang dikemukakan oleh Myrdall yaitu pentingnya basic needs untuk mengurangi kemiskinan. Menurutnya kemiskinan terjadi bukan karena hanya modal saja melainkan lebih dipengaruhi oleh pendidikan, kurangnya gizi, dan
basic needs lainnya. Menurut Myrdall, keadaan miskin bermula dari pendapatan yang rendah sehingga kualitas gizi menjadi kurang. Rendahnya kualitas gizi tersebut menyebabkan rendahnya kesehatan penduduk yang rendah yang kemudian menyebabkan rendahnya produktivitas. Produktivitas rendah ini menyebabkan pendapatan yang rendah sehingga mengakibatkan kemiskinan, seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 7.
Sumber : Didin Damanhuri, 2010
Gambar 7 Lingkaran kemiskinan
Pemikirannya telah diterapkan oleh International Labour Organization
(ILO) dalam memecahkan kemiskinan yang terjadi di negara berkembang. Strategi ini dikenal dengan strategi pemenuhan kebutuhan dasar (basic need strategy) sebagai strategi pembangunan yang tepat bagi negara berkembang. Strategi tersebut menjadi inspirasi untuk Indonesia dalam hal mengurangi kemiskinan melalui strategi yang dikenal dengan strategi delapan jalur pemerataan. Delapan jalur pemerataan yang dibuat oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978 merupakan bagian dari konsep trilogi pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang
Negara miskin
Pendapatan daerah
Kualitas Gizi Penduduk Rendah Kualitas Kesehatan
Penduduk Rendah Produktivitas Penduduk rendah
13 tinggi tidak akan berarti bagi kesejahteraan masyarakat apabila masih terdapat ketimpangan distribusi pendapatan di kalangan penduduknya. Oleh karena itu, pemerintah menetapkan delapan jalur pemerataan, yaitu pemerataan dalam memenuhi kebutuhan pokok, kesempatan memperoleh pendidikan dan kesehatan, pembagian pendaptan, kesempatan kerja, kesempatan berusaha, kesempatan berpatisipasi dalam pembangunan khususnya bagi kaum wanita dan generasi muda, penyebaran pembangunan di tanah air, dan kesempatan memperoleh keadilan.
Hipotesis Kuznets
Keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan ketimpangan pendapatan telah diteliti oleh Simon Kuznets. Ia menyebutkan bahwa pada tahap awal pertumbuhan ekonomi, distribusi pendapatan cenderung memburuk namun pada tahap selanjutnya distribusi pendapatan akan membaik yang kemudian dikenal
sebagai Hipotesis Kurva Kuznets “U-Terbalik” (Inverted U-curve Hypothesis).
Ketimpangan pendapatan yang besar pada fase awal pertumbuhan ekonomi ini disebabkan proses perubahan menjadi masyarakat industri.
Menurut Todaro dan Smith (2006) Kurva Kuznets dapat dihasilkan oleh proses pertumbuhan berkesinambungan yang berasal dari perluasan sektor modern, seiring dengan perkembangan sebuah negara dari perekonomian tradisional ke perekonomian modern. Perekonomian tradisional dapat dilambangkan dari sektor pertanian sedangkan perekonomian modern dapat dilambangkan dengan sektor industri. Ketika peranan sektor industri meningkat maka produktivitas sektor industri juga akan meningkat yang akan mengakibatkan pendapatan per kapita sektor industri lebih tinggi dibandingkan dengan sektor pertanian. Ketimpangan yang terjadi di kedua sektor tersebut akan semakin tinggi pada fase awal pertumbuhan dan kemudian akan ada suatu titik balik yang akan membuat ketimpangan akan terus semakin menurun.
Sumber : Todaro dan Smith (2006)
14
Tinjauan Empiris
Penelitian mengenai peran pendidikan telah dilakukan sebelumnya, yaitu terhadap kemiskinan, pertumbuhan ekonomi, dan ketimpangan pendapatan. Dari penelitian sebelumnya dapat diketahui bahwa terdapat hubungan kausalitas antara peran pendidikan dengan distribusi pendapatan. Pendidikan akan mempengaruhi ketimpangan distribusi pendapatan, tanpa adanya pendidikan maka distribusi pendapatan akan semakin timpang.
Rasidin Karo-Karo Sitepu (2007) menganalisis mengenai dampak investasi sumberdaya manusia dan transfer pendapatan terhadap distribusi pendapatan dan kemiskinan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dampak investasi sumberdaya manusia sektoral dan transfer pendapatan rumah tangga terhadap indikator makroekonomi, output, penyerapan tenaga kerja, tingkat harga di sektoral, pendapatan, distribusi pendapatan serta tingkat kemiskinan kelompok rumah tangga. Penelitian ini menggunakan model computable general equilibrium (CGE), model ekonometrik, serta metoda FGT dan Beta Distribution Function. Penelitian ini menggunakan metode Beta Distribution Function untuk mengevalusai ketimpangan distribusi pendapatan dan untuk mengevaluasi kemiskinan digunakan model ekonomi keseimbangan umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permintaan tenaga kerja sektoral meningkat sebagai akibat dari peningkatan investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan, distribusi pendapatan cenderung menjadi lebih merata dan jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan lebih berkurang karena peningkatan investasi sumberdaya manusia. Selain itu ia juga mengemukakan bahwa peningkatan investasi sumberdaya manusia lebih efektif menurunkan ketimpangan distribusi pendapatan dan kemiskinan di Indonesia dibandingkan dengan transfer pendapatan yang dilakukan pemerintah kepada kelompok rumahtangga pedesaan.
Ajid Hajiji (2010) menganalisis mengenai keterkaitan antara pertumbuhan ekonomi, ketimpangan pendapatan, dan pengentasan kemiskinan di provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan data sekunder mulai tahun 2002 hingga 2008 dengan analisis regresi data panel Hasil penelitian dengan metode fixed effect
menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau ternyata juga meningkatkan ketimpangan pendapatan. Peningkatan ketimpangan pendapatan tersebut mengurangi efektivitas pertumbuhan ekonomi dalam pengentasan kemiskinan.
Rofiq Nur Rizal (2012) menganalisis mengenai peran pendidikan terhadap pengurangan kemiskinan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenjang pendidikan yang berperan dalam mengurangi kemiskinan di Indonesia serta peran pendidikan dasar dalam mengurangi kemiskinan. Penelitian yang dilakukannya menggunakan data sekunder dari tahun 2007 hingga 2010 dengan analisis regresi data panel. Hasil penelitian dengan metode fixed effect
15 jenjang pendidikan menengah masih berperan besar terhadap pengurangan kemiskinan di Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Kerangka Pemikiran
Pembangunan ekonomi diartikan sebagai proses yang berkesinambungan dari suatu masyarakat secara keseluruhan menuju kehidupan yang lebih baik. Menurut Todaro dan Smith (2006) salah satu tujuan inti yang harus dimiliki dari proses pembangunan adalah peningkatan standar hidup yang tidak hanya berupa peningkatan pendapatan tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja, perbaikan kualitas pendidikan, serta peningkatan perhatian atas nilai-nilai kultural dan kemanusiaan. Tujuan pembangunan tersebut sulit terpenuhi apalagi untuk negara berkembang seperti Indonesia, dalam mewujudkan tujuan tersebut lebih memerlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dibandingkan kuantitas Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki oleh suatu negara. Hal tersebut karena SDA memiliki kuantitas yang terbatas sehingga semakin lama persediaan yang tersedia akan semakin sedikit sedangkan SDM yang berkualitas tidak memiliki kuantitas yang terbatas dan akan berkembang sepenjang waktu.
Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk SDM yang berkualitas melalui penguasaan IPTEK dan keterampilan Hal tersebut dapat terlihat dari berbagai indikator yang berkaitan dengan pendidikan, seperti: angka putus sekolah, rata-rata lama sekolah, rasio anggaran belanja pendidikan, PDRB per kapita, serta produktivitas tenaga kerja.
16
Gambar 9 Kerangka Pemikiran
Keterangan
Alur analisis panel data Alur hubungan
Pembangunan ekonomi
Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas
Perkembangan kondisi pendidikan dan ketimpangan distribusi pendapatan 33 provinsi di
KBI dan KTI
Angka putus sekolah menurut jenjang pendidikan Rata-rata lama sekolah
Rasio anggaran belanja pendidikan PDRB per kapita
Produktivitas tenaga kerja
KETIMPANGAN DISTRIBUSI PENDAPATAN
Rekomendasi Kebijakan
Analisis Deskriptif
Analisis Data Panel
17
Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian sebelumnya maka hipotesis dalam penelitian ini yaitu :
1. Rasio anggaran belanja sektor pendidikan diduga berpengaruh negatif terhadap ketimpangan distribusi pendapatan.
2. PDRB per kapita sebagai proksi dari pertumbuhan ekonomi diduga berpengaruh negatif terhadap ketimpangan distribusi pendapatan
3. Indikator pendidikan seperti rata-rata lama sekolah berpengaruh negatif terhadap ketimpangan distribusi pendapatan sedangkan angka putus sekolah menurut jenjang pendidikan diduga berpengaruh positif terhadap ketimpangan distribusi pendapatan.
4. Peningkatan modal manusia direpresentasikan dengan produktivitas tenaga kerja yang diduga berpengaruh negatif terhadap ketimpangan distribusi pendapatan.
METODE PENELITIAN
Jenis dan Sumber Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder yang mencakup 33 provinsi di Indonesia dengan menggunakan data panel yaitu menggabungkan data time series
atau data deret waktu dengan kurun waktu tahunan yaitu periode tahun 2006 hingga tahun 2011 dan data cross section yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Kemenkeu), serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud). Data yang digunakan dalam penlitian ini meliputi :
1. Indeks gini 33 provinsi di Indonesia tahun 2006 hingga 2011 yang bersumber dari badan pusat statistik (BPS).
2. Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita 33 provinsi di Indonesia tahun 2006 hingga 2011 yang bersumber dari BPS.
3. Rata-rata lama sekolah 33 provinsi di Indonesia tahun 2006 hingga 2011 yang bersember dari BPS.
4. Jumlah tenaga kerja dan PDRB atas dasar harga konstan (ADHK) 2000 yang bersumber dari BPS.
5. Indikator pendidikan berupa angka putus sekolah menurut jenjang pendidikan 33 provinsi di Indonesia tahun 2006 hingga 2011 yang bersumber dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud).
18
Metode Analisis dan Pengolahan Data
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode analisis deskriptif dan metode analisis kuantitatif berupa regresi data panel . Model regresi panel diolah dengan menggunakan software Eviews 6.1 yang merupakan program analisis data dan digunakan dalam bidang ekonometrik.
Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif merupakan bentuk analisis sederhana yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan mempermudah penafsiran yang disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Analisis deskriptif pada penelitian ini digunakan untuk melihat perkembangan kualitas pendidikan dan ketimpangan distribusi pendapatan 33 provinsi di Indonesia selama periode penelitian yaitu tahun 2006 hingga 2011. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif dalam penelitian ini digunakan untuk melihat peran pendidikan terhadap ketimpangan distribusi pendapatan 33 provindi di Indonesia selama periode penelitian yaitu tahun 2006 hingga 2011. Metode analisis kuantitatif yang digunakan adalah analisis regresi data panel (pooled data). Data panel adalah data yang diperoleh dari data cross section yang diobservasi berulang pada unit individu (objek) yang sama pada waktu yang berbeda. Terdapat dua keuntungan penggunaan model data panel dibandingkan data time series atau
cross section. Dengan mengombinasikan data time series dan cross section dalam data panel membuat jumlah observasi menjadi lebih besar sehingga parameter yang diestimasi akan lebih akurat dibandingkan dengan model lain dan keuntungan yang lebih penting yaitu dapat mengurangi masalah identifikasi dan mengukur efek yang secara sederhana tidak dapat diatasi dalam data cross section
saja atau data time series saja (Verbeek dalam Firdaus 2012).
Data panel juga mampu mengontrol heterogenitas individu dan lebih baik untuk studi dynamics of adjustment. Hal ini berkaitan dengan observasi pada cross section yang sama secara berulang sehingga data panel lebih baik dalam mempelajari perubahan dinamis. Dengan mengombinasikan data time series dan
cross section, data panel memberikan data yang lebih informatif, lebih bervariasi, mengurangi kolinearitas peubah, memperbesar derajat kebebasan, dan lebih efisien.
Terdapat tiga pendekatan umum yang diaplikasikan data panel, yaitu: 1. Metode Pooled Least Square (PLS)
Metode PLS ini menggunakan metode OLS biasa. Pada prinsipnya, pendekatan ini adalah menggunakan gabungan dari seluruh data (pooled) Metode ini merupakan metode yang paling sederhana.
Model yang digunakan yaitu :
Dimana i bersifat konstan untuk semua observasi. Pendekatan ini
19 yang sama atau tidak dapat membedakan observasi yang sama pada periode yang berbeda.
2. Metode Fixed Effect Model (FEM).
Metode FEM muncul ketika antara efek individu dan peubah penjelas memiliki korelasi dengan Xit atau memiliki pola yang sifatnya
tidak acak. Pada metode ini, intersep pada regresi dapat dibedakan antar individu karena setiap individu dianggap mempunyai karakter tersendiri. Dalam membedakan intersepnya dapat digunakan peubah dummy, sehingga metode ini juga dikenal dengan model Least Square Dummy Variable (LSDV).
Model yang digunakan dalam metode FEM yaitu:
Yit = β0i+ β1X1it+ β2X2it+ ……. + βnXnit + uit
Dengan β0i merupakan intersep dan β1 β2 merupakan slope
sedangkan i menunjukkan banyaknya data yang diobservasi pada cross section. Dari model tersebut terlihat bahwa intersep yang berbeda antar variable namun intersep masing-masing variable tidak berbeda antar waktu yang disebut time invariant.
3. Metode Random Effect Model (REM)
Metode REM berbeda dengan metode FEM, pada metode REM β0i
tidak lagi dianggap konstan, namun dianggap sebagai peubah random atau acak dengan suatu nilai rata-rata dari β1. Model yang digunakan dalam
metode REM, yaitu :
Yit = β0i+ β1X1it+ β2X2it+ ……. + βnXnit + wit
Komponen wit terdiri atas dua komponen yaitu sebagai komponen
error dari masing-masing cross section dan sebagai error yang merupakan gabungan atas error dari data time series dan cross section. Berdasarkan hal tersebut, metode random ini dikenal juga dengan sebutan Error Components Model (ECM).
Metode Pemilihan Model. 1. Uji Chow (Chow Test).
Untuk mengetahui apakah model FEM lebih baik dibandingkan model PLS dapat dilakukan dengan melihat signifikansi model FEM dapat dilakukan dengan uji statistic F. Pengujian seperti ini dikenal juga dengan istilah Uji Chow atau Likelihood Test Ratio.
Hipotesis dalam pengujian ini yaitu :
H0 : model Pooled Least Square (PLS)
H1 : model fixed effect (FEM)
Jika nilai statistic F lebih besar dari nilai F tabel pada signifikansi tertentu, maka hipotesis nol (H0) akan ditolak sehingga teknik regresi data
20
2. Uji Haussman.
Untuk mengetahui apakah model fixed effect lebih baik dari model
random effect digunakan uji Haussman. Dengan mengikuti kriteria Wald,
nilai statistik Haussman akan mengikuti distribusi chi-square. Hipotesis dalam pengujian ini yaitu:
H0: Random Effect Model (REM)
H1 : Fixed Effect Model (FEM).
Statistik uji Haussman mengikuti distribusi chi-square dengan derajat bebas sebanyak jumlah peubah bebas. Hipotesis nol (H0) ditolak
jika nilai statistik Haussman lebih besar daripada nilai kritis statistik chi-square. Hal ini berarti model yang tepat untuk regresi data panel yaitu secara statistik bahwa seluruh variable independen berpengaruh secara bersama-sama terhadap variable dependen.
Hipotesis yang digunakan dalam uji F yaitu :
H0: β0 = β1 = β2= …. = βt = 0
H1 : minimal ada satu βt ≠ 0
Apabila Prob ( F-statistic) < α maka tolak H0. Hal ini berarti
minimal terdapat satu variabel independen yang mempengaruhi variabel dependennya dan bila Prob ( F-statistic) > α maka terima Ho.
Hal ini berarti tidak terdapat variabel indipenden yang mempengaruhi variabel dependennya.
b. Uji-t
Uji t adalah statistik uji yang digunakan untuk menunjukkan besarnya pengaruh masing-masing variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Hipotesis yang digunakan dalam dalam uji t yaitu :
H0: βt = 0
H1 :βt ≠ 0
Jika t-statistik > t-tabel maka tolak H0. Hal ini berarti variabel
dependen berpengaruh nyata terhadap variabel independen dan bila t-statistik < t-tabel maka terima H0. Hal ini berarti variabel dependen
tidak berpengaruh nyata terhadap variabel independennya. c. Uji Koefisien Determinasi (R2)
21 mendekati 0 menyatakan bahwa kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel sangat terbatas, sedangkan nilai R2 yang mendekati 1 menyatakan bahwa kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel tidak terbatas dan model tersebut dikatakan semakin baik.
2. Kriteria Ekonometrika. a. Uji Heteroskedastisitas.
Heteroskedastisitas terjadi jika ragam sisaan tidak konstan. Gujarati (2006) menyatakan heteroskedasitisitas memiliki beberapa konsekuensi, yaitu:
1. Dugaan parameter koefisien regresi tetap tidak bias dan masih konsisten tetapi standar errornya dapat bias ke bawah.
2. Perhitungan standar error tidak lagi dapat dipercaya kebenarannya karena varians tidak minimum sehingga dapat menghasilkan estimasi regresi yang tidak efisien.
3. Uji hipotesis yang didasarkan pada uji F-statistic dan t-statistic
tidak dipercaya.
Untuk mendeteksi adanya pelanggaran asumsi heteroskedastisitas dalam metode data panel dapat dilakukan dengan menggunakan metode Generalized Least Square (GLS) yaitu dengan membandingkan sum square residual pada weighted statistic dengan
sum square residual pada unweighted statitic. Jika sum square residual
pada weighted statistic lebih kecil dari sum square residual pada
unweighted statistic maka heteroskedastisitas terjadi. b. Uji Multikolinearitas.
Multikolinearitas berarti terdapat hubungan linier sempurna antara peubah bebas dalam suatu model regresi. Gujarati (2006) menyatakan indikasi terjadinya multikolinearitas dapat terlihat melalui :
1. Nilai R2 yang tinggi tetapi sedikit rasio yang signifikan.
2. Korelasi berpasangan yang tinggi antara variabel-variabel independennya.
3. Melakukan regresi tambahan (auxiliarry) dengan memberlakukan variabel independen sebagai salah satu variabel dependen dan variabel independen lainnya tetap diberlakukan sebagai variabel independen.
22
independen. Cara mengatasi permasalahan multikolinearitas, antara lain: melakukan transformasi terhadap peubah-peubah dalam model menjadi bentuk first difference serta penambahan data baru.
c. Uji Autokorelasi.
Autokorelasi adalah korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu seperti dalam data time series atau dirutkan menurut ruang seperti data cross section. Autokorelasi disebabkan observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu dengan yang lainnya dan juga karena adanya kesalahan residual tidak bebas satu observasi ke observasi lainnya.
Adanya autokorelasi dalam suatu model dapat terdeteksi, yaitu dengan melihat nilai Durbin-Watson (DW) statistic dalam model dan dibandingkan dengan nilai Durbin-Watson (DW) pada tabel. Model terbebas dari masalah autokorelasi apabila nilai DW terletak di area nonautokorelasi. Penentuan area tersebut dibantu dengan tabel DL dan
DU.
Hipotesis dalam pengujian autokorelasi, yaitu: H0 : tidak terdapat autokorelasi
H1 : terdapat autokorelasi.
Selang pengujian dalam autokorelasi, yaitu :
0 < d < DL : Tolak H0, ada autokorelasi positif
Pengujian asumsi normalitas dilakukan untuk melihat apakah error term mengikuti distribusi normal atau tidak. Pengujian uji normalitas dilakukan dengan uji Jarque-Bera atau dengan melihat plot dari sisaan. Hipotesis dalam pengujian normalitas yaitu :
H0 : Residual berdistrtibusi normal H1 : Residual tidak berdistribusi normal
Dasar penolakan H0 yaitu dengan membandingkan nilai Jarque
Beradengan taraf nyata α sebesar 0.05, bila nilai uji Jarque Bera lebih
besar dari taraf nyata α 0.05 maka terima H0 dan residual berdistribusi
normal sedangkan bila uji Jarque Bera lebih besar dari taraf nyata α 0.05 maka tolak H0 dan residual tidak berdistribusi normal.
Perumusan Model Penelitian
23 jenjang pendidikan dan rata-rata lama sekolah dalam melihat kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada, begitu pula dengan produktivitas tenaga kerja yang juga memperlihatkan kualitas SDM dari suatu wilayah, PDRB per kapita untuk melihat tingkat kesejahteraan penduduk, serta rasio anggaran belanja sektor pendidikan untuk melihat tingkat keseriusan pemerintah di sektor pendidikan.
Model yang akan digunakan dalam penelitian ini mengacu pada penelitian Rofiq Nur Rizal (2012) dengan melakukan beberapa modifikasi pada variabel. Variabel dependen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu IND dan variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu REDU, PDRBK, RATLS, DOSD, DOSMP,DOSMA,PDTV.
Penelitian ini menganalisis peran pendidikan dalam mengatasi ketimpangan distribusi pendapatan yang mencakup 33 provinsi di Indonesia di Kawasan Barat dan Timur Indonesia. Kedua kawasan tersebut dianalisis dengan menggunakan model dalam persamaan ini yaitu :
INDit = α0 + α1REDUit + α2 LNPDRBKit + α3DOSD it + α4DOSMPit +
α5DOSMA it+ α6LNRATLS it+ α7LNPDTV it + uit
Keterangan :
IND = Indeks Gini
REDU = Rasio anggaran belanja fungsi pendidikan terhadap APBD LNPDRBK = PDRB per kapita berdasarkan Atas Harga Konstan (AHK)
2000
LNRATLS = Rata-rata lama sekolah (tahun) DOSD = Angka Putus Sekolah Tingkat SD DOSMP = Angka Putus Sekolah Tingkat SMP DOSMA = Angka Putus Sekolah Tingkat SMA LNPDTV = Produktivitas Tenaga Kerja
α0 = intersept
α1- α7 = parameter yang diduga
i = indeks dari 33 provinsi di Indonesia
t = indeks waktu (2006 hingga 2011)
uit = error term
HASIL DAN PEMBAHASAN
Ketimpangan Distribusi Pendapatan
24
2006 2007 2008 2009 2010 2011
K
semakin timpang. Ketimpangan distribusi pendapatan merupakan inti dari masalah pembangunan. Ketimpangan distribusi pendapatan dapat diukur dengan menggunakan indeks gini. Todaro (2006) menyatakan bahwa ketimpangan distribusi pendapatan dinyatakan rendah apabila koefisien gini berada antara 0.20 sampai 0.35, sedang apabila koefisien gini berada antara 0.36 sampai 0.50, dan ketimpangan dinyatakan tinggi apabila koefisien gini berada antara 0.51 sampai lebih dari 0.7.
Ketimpangan distribusi pendapatan terlihat jelas pada Kawasan Barat Indonesia (KBI) dan Kawasan Timur Indonesia (KTI). Pada tahun 2006, indeks gini KBI dan KTI sama-sama sebesar 0.32 yang dikategorikan sebagai ketimpangan rendah kemudian pada tahun 2011 meningkat menjadi 0.37 untuk wilayah KBI dan 0.39 untuk wilayah KTI yang terkategorikan ketimpangan sedang. Adanya perbedaan tersebut terutama disebabkan oleh adanya kesenjangan pencapaian pendidikan di kedua wilayah yang berakibat terjadinya kesenjangan kesejahteraan ekonomi dan kesenjangan sosial sehingga kesenjangan ketimpangan di antara keduanya semakin meningkat.
Sumber : BPS, 2011
Gambar 10 Perkembangan Indeks Gini KBI dan KTI Tahun 2006-2011
25
Sumber : BPS, 2012
Gambar 10 Perkembangan Indeks Gini KBI Tahun 2009-2011
Sumber : BPS, 2011
Gambar 11 Perkembangan Indeks Gini Provinsi-Provinsi KBI Tahun 2009-2011 Ketimpangan distribusi pendapatan di wilayah KTI juga mengalami tren yang meningkat selama tiga tahun terakhir. Pada tahun 2011, Provinsi NTB, Sulawesi Barat, dan Maluku Utara mengalami penurunan indeks gini dengan indeks gini terendah adalah provinsi Maluku Utara sebesar 0.33. Pada tahun 2009 hingga 2011, provinsi Papua selalu memiliki indeks gini tertinggi dari provinsi lainnya yaitu sebesar 0.38 pada tahun 2009 dan meningkat menjadi 0.42 di tahun 2011. Hal ini disebabkan Papua merupakan provinsi dengan jumlah penduduk yang tidak pernah bersekolah tertinggi. Pada tahun 2011 penduduk di Papua yang tidak pernah mengenyam pendidikan mencapai 38% dari total penduduk yaitu sebesar 579 913 orang. Pendidikan memiliki peran penting dalam memperbaiki kualitas dan kesejahteraan hidup seseorang. Banyaknya penduduk yang tidak mengenyam pendidikan mengindikasikan bahwa pendapatan yang diperoleh juga rendah sehingga ketimpangan distribusi pendapatan pun semakin meningkat.
.
Sumber : BPS, 2011
Gambar 11 Perkembangan Indeks Gini Provinsi-Provinsi KBI Tahun 2009-2011
Sumber : BPS, 2011
26
2006 2007 2008 2009 2010 2011
T
Pembangunan merupakan proses berkesinambungan dari suatu masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik. Menurut Todaro dan Smith (2006) salah satu tujuan inti dari pembangunan, yaitu peningkatan standar hidup tidak hanya berupa peningkatan pendapatan tetapi juga meliputi penambahan penyediaan lapangan kerja dan perbaikan kualitas pendidikan. Pendidikan memainkan peran penting dalam membentuk kemampuan suatu negara untuk menyerap pengetahuan dan teknologi sehingga dapat meningkatkan produktivitas yang berakibat daya saing suatu negara akan semakin meningkat sehingga pertumbuhan dan pembangunan yang berkelanjutan dapat tercipta. Tingkat keberhasilan pendidikan dapat diukur dari berbagai indikator yang berhubungan dengan fungsi pendidikan, antara lain indikator pendidikan (rata-rata lama sekolah, angka putus sekolah), rasio anggaran belanja pendidikan, PDRB per kapita, serta produktivitas tenaga kerja.
1. Rata-rata Lama Sekolah
Rata-rata lama sekolah yaitu rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk usia 15 tahun ke atas di seluruh jenjang pendidikan formal yang diikuti. Semakin tinggi rata-rata lama sekolah maka semakin tinggi jenjang pendidikan yang ditempuh. Indikator ini mencerminkan struktur dan kinerja dari sistem pendidikan dan dampaknya terhadap pembentukan akumulasi modal manusia (Unesco 2009). Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia, salah satunya dengan program wajib belajar sembilan tahun yang telah dicanangkan sejak tahun 1994, dengan program ini pemerintah mengharapkan jenjang pendidikan penduduk Indonesia minimal dapat menamatkan jenjang pendidikan SLTP.
Sumber : BPS, 2011 (diolah)
Gambar 13 Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah KBI dan KTI Tahun 2006- 2011
27 minimal sembilan tahun untuk menempuh pendidikan sehingga diindikasikan bahwa jenjang pendidikan yang ditamatkan oleh pelajar di Indonesia mayoritas hanya pada tingkat dasar. Hal ini dikarenakan pengalokasian anggaran pemerintah dalam belanja pendidikan masih rendah sehingga tidak memungkinkan untuk membiayai semua anak usia sekolah secara gratis mulai dari SD hingga tamat SMP. Pada tahun 2006, rata-rata lama sekolah di KBI sebesar 7.4 tahun dan meningkat menjadi 7.9 tahun di 2011 sedangkan KTI memiliki rata-rata lama sekolah lebih rendah yaitu sebesar 7.1 tahun pada 2010 dan meningkat menjadi 7.6 tahun pada 2011. Hal ini dikarenakan anggaran belanja yang dialokasikan untuk sektor pendidikan provinsi-provinsi di KTI hanya sebesar 6.24% dari APBD sedangkan rata-rata provinsi di KBI lebih tinggi yaitu sebesar 9.22% dari APBD.
Sumber : BPS, 2011
Gambar 14 Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah Provinsi-Provinsi KBI Tahun 2009-2011
Rata-rata lama sekolah masing-masing provinsi di KBI dan KTI tergolong rendah walaupun selama tahun 2009 hingga tahun 2011 provinsi-provinsi di wilayah KBI ataupun KTI mayoritas mengalami peningkatan. Provinsi DKI Jakarta memiliki rata-rata lama sekolah tertinggi selama tiga tahun terakhir yaitu sebesar 10.3 tahun pada 2009 dan 2010 kemudian meningkat menjadi 10.4 tahun pada tahun 2011. Provinsi DKI Jakarta adalah satu-satunya provinsi yang berhasil melaksanakan program pemerintah wajib belajar sembilan tahun, hal ini dikarenakan rata-rata alokasi anggaran belanja pendidikan provinsi ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan provinsi lainnya yaitu mencapai 16.14% dari APBD sehingga dapat memungkinkan untuk membiayai semua anak secara gratis pada jenjang pendidikan SD dan SLTP. Provinsi lainnya yang memiliki rata-rata lama sekolah tertinggi yaitu provinsi Kepulauan Riau, DI Yogyakarta dan Kalimantan timur yaitu masing-masing sebesar 10 tahun dan 9.1 tahun pada tahun 2011.
28
Sumber : BPS, 2011
Gambar 15 Perkembangan Rata-Rata Lama Sekolah Provinsi-Provinsi KTI Tahun 2009-2011
Rata-rata lama sekolah provinsi-provinsi yang berada di wilayah Timur Indonesia lebih tertinggal dibandingkan dengan kawasan barat seperti dapat terlihat pada Gambar 15. Provinsi Papua memiliki rata-rata lama sekolah terendah, tidak hanya untuk wilayah KTI tetapi untuk wilayah di seluruh Indonesia selama tahun 2009 hingga 2011 yaitu sebesar 6.4 tahun di 2009 dan menurun menjadi 5.8 tahun pada tahun 2011. Hal tersebut mengindikasikan rata-rata penduduk di provinsi tersebut hanya tamat pada jenjang pendidikan dasar, yaitu SD. Hal ini mengindikasikan bahwa kualitas SDM di provinsi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya. Hal ini dikarenakan rata-rata anggaran yang dialokasikan Papua selama tahun 2009 hingga 2011 untuk pendidikan hanya sebesar 5.1% dari APBD.
2. Anggaran Fungsi Pendidikan
Pendidikan merupakan barang mewah bagi masyarakat golongan miskin (tidak mampu) sehingga dalam mengakses pendidikan tidaklah mudah bagi mereka. Pemerintah wajib untuk menjamin hak-hak sosial masyarakat,salah satunya di sektor pendidikan. Pasal 31 Ayat (1) UUD 1945 mengatur bahwa setiap warga negara berhak mendapat pendidikan,bahkan setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan untuk itu pemerintah bertanggung jawab membiayainya. Tanggung jawab pemerintah dibuktikan dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang menyebutkan bahwa bahwa pemerintah harus mengalokasikan anggaran di sektor pendidikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) selain gaji pendidik dan biaya kedinasan.
Kebutuhan anggaran yang harus disediakan oleh pemerintah tergantung dari proses perumusan program pendidikan yang akan dilakukan. Rasio anggaran belanja pendidikan merupakan rasio pengeluaran pemerintah pusat dan daerah di sektor pendidikan terhadap APBN dan APBD. Angka ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang
29 dimilki. Semakin tinggi persentase anggaran pendidikan yang dikeluarkan maka diharapkan semakin tinggi kualitas SDM nya. Keberhasilan tingkat pendidikan di Indonesia juga dapat terlihat dari besar kecilnya anggaran yang dialokasikan pemerintah di sektor pendidikan.
Sumber : Kementerian Keuangan, 2011 (diolah)
Gambar 16 Perkembangan Rasio Anggaran Belanja Pendidikan KBI dan KTI Tahun 2006-2011
Berdasarkan data yang diperoleh dari Kementerian Keuangan, rasio anggaran belanja di KBI dan KTI mengalami fluktuasi. Selama tahun 2006 hingga 2011, anggaran yang disediakan pemerintah sempat mengalami penurunan di tahun 2008 sebesar 0.71% untuk KBI dan 1.06% untuk KTI lalu kembali meningkat sehingga menjadi 10.53% untuk KBI dan 6.95% dari APBD untuk KTI. Anggaran yang dialokasikan KBI lebih tinggi dibandingkan dengan KTI akan tetapi alokasi anggaran tersebut jauh dari alokasi anggaran yang seharusnya untuk pendidikan seperti yang ditetapkan oleh UU Sisdiknas yaitu sebesar 20% dari APBD yang mengindikasikan masih rendahnya kesadaran pemerintah daerah tentang pentingnya peran pendidikan
Rasio anggaran belanja sektor pendidikan provinsi-provinsi di wilayah KBI lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah KTI. Alokasi anggaran pendidikan tertinggi yaitu provinsi DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kepulauan Riau. Pada tahun 2010 dan 2011, Jakarta telah berhasil mengalokasikan anggaran untuk sektor pendidikan sebesar 26.21% dari APBD dan 29.11% dari APBD dan merupakan provinsi dengan pengalokasian anggaran pendidikan tertinggi baik di wilayah KBI ataupun KTI, seperti yang terlihat pada Gambar 17. Hal ini memperlihatkan bahwa hanya Jakarta saja yang mampu menjalankan ketetapan UU Sisdiknas tersebut.
0 2 4 6 8 10 12
2006 2007 2008 2009 2010 2011
P
er
se
n
Tahun
KBI