CAMPUR KODE PADA NOVEL 5 cm KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN BAHASA DAN SASTRA DI SMA

153 

Teks penuh

(1)
(2)

ABSTRAK

CAMPUR KODE PADA NOVEL

5 cm

KARYA DONNY

DHIRGANTORO DAN IMPLIKASINYA PADA PEMBELAJARAN

BAHASA DAN SASTRA DI SMA

Oleh

SUSI WAHYUTI

Masalah dalam penelitian ini adalah bentuk-bentuk dan faktor penyebab campur

kode dalam bahasa lisan novel

5 cm karya Donny Dhirgantoro

dan Implikasinya

pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra di SMA. Penelitian ini bertujuan

mendeskripsikan bentuk-bentuk dan campur kode, penyebab terjadinya campur

kode dalam bahasa lisan novel

5 cm karya Donny Dhirgantoro

serta implikasinya

pada pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA).

Metode yang digunakan dalam peneitian ini adalah metode deskriptif kualitatif,

sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik studi dokumenter. Sumber data

dalam penelitian ini adalah bahasa lisan novel

5 cm karya Donny Dhirgantoro

.

Data

penelitian ini adalah satuan bahasa yang merupakan atau campur kode dalam bahasa

lisan

novel

5 cm karya Donny Dhirgantoro. Objek penelitian ini diterbitkan

cetakan pertama bulan Mei tahun 2005 dan cetakan kedua puluh satu bulan

Februari 2012 dengan jumlah halaman 379.

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

Halaman

ABSTRAK

...

i

HALAMAN JUDUL ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

RIWARAT HIDUP ... vi

MOTTO ... vii

PERSEMBAHAN ... viii

SANWACANA ... ix

DAFTAR ISI... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... vx

DAFTAR TABEL ... vix

DAFTAR SINGKATAN ... viix

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...

1

B. Perumusan Masalah ...

6

C. Tujuan Penelitian...

6

D. Manfaat Penelitian ...

7

E. Ruang Lingkup Penelitian ...

7

II. LANDASAN TEORI

A. Variasi Bahasa...

9

B. Kedwibahasaan...

12

C. Pengertian Kedwibahasaan ...

14

D. Akibat Kedwibahasaan ...

14

1. Interferensi ...

15

2. Integrasi ...

16

3. Alih Kode ...

16

4. Campur Kode ...

17

4.1 Wujud Campur Kode Berdasarkan Unsur-Unsur

Pembentuknya ...

18

4.2 Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode ...

20

E. Konteks ...

21

1. Pengertian Konteks ...

21

2. Jenis Konteks ...

22

3. Unsur-Unsur Konteks ...

23

4. Peranan Konteks dalam Komunikasi ...

25

(8)

A. Metode Penelitian ...

36

B. Sumber Data ...

36

C. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data ...

36

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Hasil Penelitian ...

39

B. Pembahasan Penelitian ...

41

1. Bentuk-Bentuk Campur Kode... 41

a. Campur Kode yang Berbentuk Kata ...

42

1) Campur Kode yang Berbentuk Kata dari Bahasa Jawa ...

42

2) Campur Kode yang Berbentuk Kata dari Bahasa Betawi ...

47

3) Campur Kode yang Berbentuk Kata dari Bahasa Inggris ...

48

b. Campur Kode yang Berbentuk Baster ...

56

c. Campur Kode yang Berbentuk Perulangan Kata ...

60

1) Campur Kode yang Berbentuk Perulangan Kata dari

Bahasa Jawa ...

60

2) Campur Kode yang Berbentuk Perulangan Kata dari

Bahasa Inggris ...

63

d. Campur Kode yang Berbentuk Frasa ...

65

1) Campur Kode yang Berbentuk Frasa dari Bahasa Jawa ...

66

2) Campur Kode yang Berbentuk Frasa dari Bahasa Betawi ...

69

3) Campur Kode yang Berbentuk Frasa dari Bahasa Inggris ...

70

4) Campur Kode yang Berbentuk Frasa dari Bahasa Perancis ...

78

5) Campur Kode yang Berbentuk Frasa dari Bahasa Arab ...

81

e. Campur Kode yang Berbentuk Klausa ...

83

1) Campur Kode yang Berbentuk Klausa dari Bahasa Jawa ...

84

2) Campur Kode yang Berbentuk Klausa dari Bahasa Betawi ...

87

3) Campur Kode yang Berbentuk Klausa dari Bahasa Inggris ...

89

2. Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode ...

93

a. Latar Belakang Sikap Penutur ...

93

b. Kebahasaan ...

99

C. Implikasi Campur Kode Terhadap Pembelajaran

Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA ...

105

V. SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan ...

114

B. Saran ...

115

a. Untuk Guru...

115

b. Untuk Peneliti ...

116

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(9)

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai masyarakat sosial dituntut untuk berkomunikasi dengan

sesamanya. Untuk keperluan ini, manusia dapat menggunakan bahasa. Bahasa

merupakan alat komunikasi utama dibandingkan dengan alat komunikasi lainnya.

Chaer dan Agustina (2004: 14) mengungkapkan bahasa adalah alat untuk

berinteraksi atau alat untuk berkomunikasi, dalam arti, alat untuk menyampaikan

pikiran, gagasan, konsep, atau juga perasaan. Dilihat dari segi kontak antara

penutur dan pendengar bahasa berfungsi fatik, yaitu fungsi menjalin hubungan,

memelihara, memperlihatkan perasaan persahabatan, atau solidaritas sosial (Chaer

dan Agustina, 2004: 16).

Di Indonesia ada tiga macam bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan

bahasa asing. Ketiga bahasa itu memiliki kedudukan dan fungsinya

masing-masing. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.

Fungsinya sebagai bahasa nasional dimulai sejak diikrarkanya Sumpah Pemuda

pada tanggal 28 Oktober 1928, sedangkan sebagai bahasa negara tercantum dalam

Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV pasal 36.

Bahasa lain yang ada di Indonesia yang juga memegang peranan penting dalam

(10)

mempunyai kedudukan dan fungsi yang penting. Kedudukan bahasa-bahasa

daerah ini dijamin kehidupan dan kelestariannya seperti dijelaskan pada pasal 36,

Bab XV Undang-Undang Dasar 1945.

Bahasa-bahasa lain yang bukan milik penduduk asli seperti bahasa Cina, bahasa

Inggris, bahasa Arab, bahasa Belanda, bahasa Jerman, dan bahasa Prancis

berkedudukan sebagai bahasa asing. Selain dari ketiga jenis bahasa di atas, pada

masyarakat Indonesia sekarang ini juga mengenal bahasa pergaulan yang disebut

dengan istilah bahasa slang. Bahasa slang ini bahasa yang banyak digunakan oleh

remaja.

Keragaman bahasa yang terjadi di masyarakat menyebabkan terciptanya

masyarakat bilingual atau multilingual yang memiliki dua bahasa atau lebih sehingga

mereka harus memilih bahasa atau variasi bahasa mana yang harus digunakan dalam

sebuah situasi. Penguasaan terhadap lebih dari satu bahasa oleh seseorang

mengakibatkan kedwibahasaan dalam komunikasi. Kedwibahasaan atau

bilingualisme ialah kebiasaan menggunakan dua bahasa dalam interaksi dengan

orang lain. Mackey, Fishman dalam Chaer dan Agustina (2004: 84) mengartikan

bilingualisme sebagai penggunaan dua bahasa oleh seorang penutur dalam

pergaulannya dengan orang lain secara bergantian.

Dalam situasi masyarakat yang bilingualisme tidak menutup kemungkinan adanya

kontak bahasa yang saling memengaruhi antara bahasa satu dengan bahasa

lainnya yang hidup berdampingan. Adanya kontak bahasa dapat mengakibatkan

beberapa peristiwa kebahasaan yang ditimbulkan salah satunya yaitu campur

(11)

lain untuk memperluas gaya bahasa; termasuk di dalamnya pemakain kata, klausa,

idiom, sapaan, dan sebagainya (Kridalaksana, 1993: 35). Peristiwa kebahasaan

(campur kode) dalam kehidupan sekarang ini sering dijumpai dalam tuturan yang

dilakukan oleh masyarakat.

Campur kode dapat terjadi jika dalam pembicaraan penutur menyelipkan bahasa

lain ketika sedang menggunakan bahasa tertentu dengan disengaja atau tidak

disengaja. Umumnya campur kode terjadi dalam bentuk bahasa tutur (lisan),

tetapi tidak menutup kemungkinan adanya campur kode dalam bahasa tulis,

misalnya dalam novel.

Dalam Kamus Istilah Sastra (1996: 136), novel adalah jenis prosa yang

mengandung unsur tokoh, alur, latar, latar rekaan yang menyelenggarakan

kehidupan manusia atas dasar sudut pandang pengarang dan mengandung nilai

hidup, diolah dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi

penulis. Seperti telah disebutkan dalam pengertian novel bahwa novel

mengandung beberapa unsur yang terdapat tokoh, tentu saja si pengarang juga

menyisipkan dialog-dialog seperti layaknya bahasa yang diucapkan dalam bahasa

tutur. Dialog-dialog yang merupakan bahasa lisan tokoh dalam novel merupakan

interprestasi dari bahasa pengarang yang disampaikan berdasarkan dengan

keinginan, ide, latar belakang (latar budaya, latar pendidikan, latar sosial) si

pengarang. Oleh karena itu, keberagaman tokoh, latar, dan situasi sangat memengaruhi

(12)

Pemilihan novel 5 cm karya Donny Dirgantoro sebagai subjek peneitian

didasarkan atas terdapat variasi bahasa daerah (bahasa Jawa dan bahasa Betawi),

bahasa Indonesia, bahasa asing (bahasa Inggris dan bahasa Prancis), dan bahasa

slang. Banyak pembaca yang termotivasi, meminati, dan mencari buku ini hal itu

tergambar dari cap Best Seller Nasional yang terdapat pada cover novel tersebut.

Donny Dhirgantoro sebenarnya bukanlah seorang sastrawan yang terkenal

melainkan hanya seorang Instructor/Trainer disalah satu perusahaan Konsultan

Sumber Daya Manusia di Jakarta.

Di samping itu, peneliti tertarik dengan cerita novel 5 cm karya Donny

Dhirgantoro karena novel tersebut menceritakan tentang persahabatan (Riani,

Genta, Zafran, Arial, Ian), tentang keindahan alam di Indonesia, tentang

kekaguman dan kecintaan si tokoh terhadap tanah air, dan tentang motivasi untuk

meraih mimpi yang disampaikan oleh si pengarang. Kelima sahabat itu memiliki

latar belakang pendidikan yang tinggi dan latar belakang sosial kehidupan di kota

besar. Seperti kita ketahui bahasa Inggris adalah bahasa yang wajib dikuasai oleh

semua masyarakat di dunia karena menjadi bahasa global. Dalam novel ini juga

terdapat latar belakang tempat di Malang, hal ini dapat memengaruhi terjadinya

campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa daerah.

Cerita novel 5 cm yang melibatkan banyak tokoh dengan latar budaya dan

pengetahuan yang berbeda-beda, hobi beragam tidak membuat bahasa yang

dipakainya selalu sama dan seragam yang mungkin terjadi bilingualisme atau

kedwibahasaan. Bahasa yang mereka gunakan sederhana atau familiar sehingga

(13)

menyelipkan serpihan bahasa-bahasa daerah, bahasa asing, atau bahasa gaul itu

berarti penutur telah menggunakan campur kode.

Berikut kutipan dialog pada novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro. yang terdapat

peristiwa campur kode. Dialog dilakukan oleh Arial yang bertanya kepada Genta

mengenai pekerjaan hari Senin. Dialog disampaikan malam Minggu ketika masih

berkumpul di rumah Arial.

Peristiwa tutur:

“Enggak ada yang nanya. Meg Ryan yang ngomong….

quotation-nya

gini kalo nggak salah,”

kata Genta.

Quotation adalah kata dari bahasa Inggris, kata tersebut disisipkan Genta pada

tuturan dalam bahasa Indonesia.

Dalam kaitannya dengan pembelajaran sastra di SMA, karya sastra yang akan

digunakan sebagai media pembelajaran mengenai dialog, pilihan kata, dan gaya

berbahasa harus melalui proses pemilihan. Sebagaimana kita ketahui,

perkembangan sastra telah menunjukkan banyak peningkatan. Saat ini semakin

banyak karya sastra dengan kisah beragam yang dapat kita nikmati. Karya-karya

itu diciptakan oleh sastrawan dengan mengangkat cerita kehidupan berdasarkan

pengalaman batin dan luasnya pengetahuan yang mereka miliki.

Seorang guru bahasa Indonesia di SMA harus lebih jeli dalam memilih bacaan

sastra yang akan dijadikan media atau bahan pembelajaran. Akan sangat baik jika

karya sastra yang dipilih selain bisa memenuhi tuntutan materi juga harus bisa

memberikan pengalaman dan pengajaran yang berharga bagi peserta didik

sehingga pembelajaran sastra tidak hanya membentuk kecerdasan peserta didik

(14)

bermoral. Meskipun tidak berarti orang yang banyak membaca sastra akan lebih

baik perilakunya karena perilaku seseorang lebih ditentukan oleh faktor-faktor

pribadinya yang paling dalam. Setidaknya, ada usaha seorang guru untuk

membentuk pribadi siswa ke arah yang lebih baik dengan menyuguhkan bacaan

yang isinya dapat menuntun ke arah kebaikan.

Kajian yang dilakukan dalam penelitian ini sejalan dengan Kurikulum 2006

Bahasa dan Sastra Indonesia untuk SMA. Standar kompetensi (SK) mata

pelajaran Bahasa Indonesia terdiri atas dua aspek, yaitu aspek kemampuan

berbahasa dan bersastra masing-masing terbagi atas subaspek mendengarkan,

berbicara, membaca, dan menulis.

Pada silabus Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan SMA, ditemukan kompetensi

mengenai pembelajaran sastra dengan standar kompetensi memerankan tokoh

dalam pementasan drama, sedangkan kompetensi dasarnya menyampaikan dialog

disertai gerak-gerik dan mimik, sesuai dengan watak tokoh pada kelas XI

semester ganjil (Depdiknas, 2006:26).

Berdasarkan pemaparan dan contoh di atas, peneliti semakin tertarik untuk

meneliti campur kode yang terdapat dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro

dan implikasinya pada pembelajaran bahasa dan sastra di SMA.

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, rumusan masalah dalam penelitian ini.

1.

Bagaimanakah bentuk campur kode dalam novel 5 cm karya Donny

(15)

2.

Apakah faktor penyebab terjadinya campur kode dalam novel 5 cm karya

Donny Dhirgantoro?

3.

Bagaimanakah implikasi campur kode dalam novel 5 cm karya Donny

Dhirgantoro terhadap pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di SMA?

C.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan

1.

wujud campur kode dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro;

2.

faktor penyebab terjadinya campur kode dalam novel 5 cm karya Donny

Dhirgantoro;

3.

implikasi campur kode dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro terhadap

pembelajaran bahasa dan sastra indonesia di SMA.

D.

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini meliputi manfaat teoretis dan manfaat praktis.

1.

Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara teoretis, yaitu untuk

memperkaya referensi di bidang kebahasaan mengenai sosiolinguistik khususnya

pada kajian campur kode.

2.

Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis, yaitu

a.

memberikan alternatif media pembelajaran dan bahan ajar bahasa Indonesia;

b.

memberikan pengetahuan kepada guru mengenai deskripsi campur kode dalam

novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai media pembelajaran dan bahan

(16)

c.

memberikan pengetahuan kepada penulis mengenai deskripsi campur kode

dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai media pembelajaran dan

bahan ajar bahasa dan sastra Indonesia.

E.

Ruang Lingkup Penelitian

Objek penelitian ini adalah percakapan atau dialog para tokoh dalam novel 5 cm

karya Donny Dhirgantoro, sedangkan aspek yang diteliti adalah sebagai berikut.

1.

Wujud campur kode dalam percakapan para tokoh novel 5 cm karya Donny

Dhirgantoro.

2.

Faktor penyebab terjadinya campur kode dalam percakapan para tokoh novel

5 cm karya Donny Dhirgantoro.

3.

Implikasi campur kode bahasa lisan yang dituliskan dalam novel 5 cm karya

Donny Dhirgantoro sebagai media pembelajaran dan bahan ajar bahasa dan

(17)
(18)

II. LANDASAN TEORI

A.

Variasi Bahasa

Variasi bahasa atau ragam bahasa adalah penggunaan bahasa menurut

pemakainya, yang berbeda-beda menurut topik yang dibicarakan, menurut

hubungan pembicara, kawan bicara, dan orang yang dibicarakan serta menurut

medium pembicaraan (KBBI, 2003: 920). Sebuah bahasa mempunyai sistem dan

subsistem yang dipahami sama oleh sama penutur bahasa tersebut. Namun,

karena penutur bahasa tersebut, meski berada dalam masyarakat tutur, tidak

merupakan kumpulan manusia homogen, wujud bahasa yang konkret, yang

disebut parole, menjadi tidak seragam atau bervariasi. Terjadinya keragaman atau

kevariasian bahasa ini bukan hanya disebabkan oleh para penuturnya yang tidak

homogen, tetapi juga kegiatan interaksi sosial yang mereka lakukan sangat

beragam (Chaer dan Agustina, 2004: 61)

Anggota masyarakat suatu bahasa biasanya terdiri dari berbagai orang dengan

berbagai status sosial dan berbagai latar belakang budaya yang tidak sama. Oleh

karena itu, karena latar belakang dan lingkungan yang tidak sama maka bahasa

yang mereka gunakan bervariasi atau beragam, di mana antara variasi atau ragam

(19)

Mengenai variasi bahasa ini ada tiga istilah yang perlu diketahui, yaitu idiolek,

dialek, dan ragam (Chaer, 1994: 55).

Dalam hal variasi atau ragam bahasa ini ada dua pandangan. Pertama, variasi atau

ragam bahasa itu dilihat sebagai akibat adanya keragaman sosial penutur bahasa

itu dan keragaman fungsi bahasa itu. Kedua, variasi atau ragam bahasa itu sudah

ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam kegiatan masyarakat

yang beraneka ragam (Chaer dan Agustina, 2004: 62).

Hortman dan Stork dalam Chaer dan Agustina (2004: 62) membedakan variasi

berdasarkan kriteria (a) latar belakang geografis dan sosial penutur, (b) medium

yang digunakan, (c) pokok pembicaraan. Halliday dalam Chaer dan Agustina

(2004: 62) membedakan variasi bahasa berdasarkan (a) pemakaian yang disebut

dialek, dan (b) pemakai yang disebut register. Kemudian, Chaer dan Agustina

(2004: 62) membedakan variasi bahasa menjadi empat, yaitu variasi dari segi

penutur, variasi dari segi pemakai, variasi dari segi keformalan, dan variasi dari

segi sarana.

Variasi bahasa dilihat dari segi penutur terdiri dari (1) idiolek yaitu variasi bahasa

yang bersifat perseorangan yang berkenaan dengan warna suara, pilihan kata,

gaya bahasa, susunan kalimat, dan sebagainya, (2) dialek yaitu variasi bahasa dari

sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada dalam satu tempat,

wilayah, atau area tertentu, (3) kronolek atau dialek temporal yaitu variasi bahasa

yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu, dan (4) sosiolek atau

dialek sosial yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan, dan

(20)

Variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya

disebut fungsiolek, ragam, atau register. Variasi bahasa berdasarkan bidang

pemakaian ini adalah menyangkut bahasa itu digunakan untuk keperluan atau

bidang apa. Variasi bahasa berdasarkan bidang kegiatan ini yang paling tampak

cirinya adalah dalam bidang kosakata. Setiap bidang kegiatan ini biasanya

memunyai sejumlah kosakata khusus atau tertentu yang tidak digunakan dalam

bidang lain. Namun, variasi berdasarkan bidang kegiatan ini tampak pula dalam

tataran morfologi dan sintaksis (Chaer dan Agustina, 2004: 68)

Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joos dalam Chaer dan Agustina

(2004: 70) membagi variasi atau ragam bahasa ini atas lima macam gaya (Style)

yaitu gaya atau ragam baku (frozen), gaya atau ragam resmi (formal), gaya atau

ragam usaha (konsultatif), gaya atau ragam santai (casual), dan gaya atau ragam

akrab (intimate). Ragam baku adalah variasi bahasa yang paling formal, yang

digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi, misalnya,

dalam upacara kenegaraan, khotbah di masjid, tata cara pengambilan sumpah,

kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. Ragam resmi atau

formal adalah variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat

dinas, surat-menyurat dinas, ceramah keagamaan, buku-buku pelajaran, dan

sebagainya. Ragam usaha atau ragam konsultatif adalah variasi bahasa yang

lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan raat atau pembicaraan

yang berorientasi pada hasil atau produksi. Ragam santai atau ragam kasual yaitu

variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk

berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolah raga,

(21)

yang biasa digunakan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti

antaranggota keluarga atau antarteman yang sudah karib.

Variasi bahasa dapat pula dilihat dari segi sarana atau jalur yang digunakan.

Dalam hal ini, dapat disebut adanya ragam lisan dan ragam tulis atau juga ragam

berbahasa dengan menggunakan sarana atau alat tertentu, misalnya dalam

bertelepon dan bertelegraf (Chaer dan Agustina, 2004: 72).

Masyarakat bilingual atau multilingual yang memiliki dua bahasa atau lebih harus

memiliki bahasa atau variasi bahasa mana yang harus digunakan dalam sebuah

situasi. Dalam novel digambarkan interaksi antartokoh layaknya kehidupan sosial

dalam dunia nyata. Oleh karena itu, keberagaman tokoh, latar, dan situasi sangat

mempengaruhi banyaknya variasi bahasa yang digunakan oleh pengarang.

B.

Kedwibahasaan

Pada umumnya, masyarakat Indonesia dapat menggunakan lebih dari satu bahasa.

Mereka menguasai bahasa pertama dan bahasa kedua. Kedua bahasa tersebut

berpotensi untuk digunakan secara bergantian oleh masyarakat. Artinya,

masyarakat yang menggunakan kedua bahasa tersebut terlihat dalam situasi

kedwibahasaan. Kedwibahasaan adalah kebiasaan menggunakan dua bahasa

dalam interaksi dengan orang lain (Nababan, 1986: 27).

Kedwibahasaan adalah kebiasaan untuk memakai dua bahasa atau lebih secara

bergiliran (Samsuri, 1994: 55). Selain itu. Mackey dan Fishman (dalam Chaer

dan Agustina, 2004: 84), secara sosiolinguistik mengartikan kedwibahasaan

(22)

orang lain secara bergantian. Bloomfield (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 85)

mengatakan bahwa bilingualisme adalah kemampuan seorang penutur untuk

menggunakan dua bahasa dengan sama baiknya, sedangkan Haugen (dalam Chaer

dan Agustina, 2004: 86) mengatakan tahu akan dua bahasa atau lebih berarti

bilingual. Kemudian memperjelas dengan mengatakan seorang bilingual tidak

perlu secara aktif menggunakan kedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa

memahaminya saja. Robert Lado (dalam Chaer dan Agustina, 2004: 86)

mengatakan bahwa bilingualisme adalah kemampuan menggunakan bahasa oleh

seseorang dengan sama baik atau hampir sama baiknya yang secara teknis

mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimana pun tingkatnya.

Sementara itu, Pranowo (1996: 9) menyatakan bahwa kedwibahasaan adalah

pemakaian dua bahasa secara bergantian baik secara produktif maupun reseptif

oleh seorang individu atau masyarakat.

Bilingualisme yaitu berkenaan dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode

bahasa. Untuk dapat menggunakan dua bahasa tentunya harus menguasai kedua

bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa pertamanya, dan yang

kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (Chaer dan Agustina,

2004: 84)

Dari beberapa pendapat mengenai definisi kedwibahasaan di atas, peneliti

mengacu pada pendapat Chaer dan Agustina karena dalam pengertian dan

penjelasannya terdapat unsur penggunaan dua bahasa, namun dalam penggunaan

dua bahasa itu tentu telah menguasai kedua bahasa yang digunakan tersebut, baik

(23)

C.

Pengertian Dwibahasawan

Orang yang memiliki kemampuan dua bahasa dengan sama atau hampir sama

baiknya disebut dwibahasawan (Pranowo, 1996: 8). Samsuri (1991: 55),

dwibahasawaan adalah pembicara yang memakai dua bahasa secara bergantian

dalam sistem komunikasi. Orang yang mampu atau biasa memakai dua bahasa

disebut bilingual (dalam bahasa Indonesia disebut dwibahasawan).

Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut sebagai orang yang

berdwibahasa atau dwibahasawan (Chaer dan Agustina, 2004: 84-85). Menurut

Haunger dalam Chaer dan Agustina (2004: 86), “seseorang bilingual tidak perlu

secara aktif menggunakan kedua bahasa itu, tetapi cukup kalau bisa

memahaminya sa

ja”. Mempelajari bahasa kedua, apalagi bahasa asing, tidak

dengan sendirinya akan memberi pengaruh terhadap bahasa aslinya. Seorang

yang mempelajari bahasa asing, kemampuan bahasa asing atau B2-nya akam

selalu berada pada posisi di bawah penutur asli bahasa tersebut.

Dari beberapa pendapat di atas penulis mengacu pada pendapat Pranowo karena

dikatakan adanya kemampuan yang yang dimiliki orang dalam penggunaan dua

bahasa yang sama atau hampir sama, tidak secara mutlak harus sama

kemampuannya.

D

.

Akibat Kedwibahasaan

Masyarakat tutur yang tertutup, yang tidak tersentuh oleh masyarakat tutur lain

karena tidak mau berhubungan dengan masyarakat tutur lain, akan tetap menjadi

(24)

Sebaliknya, masyarakat tutur yang terbuka, yang memunyai hubungan dengan

masyarakat tutur lain, akan mengalami kontak bahasa yang dapat terjadi atara lain

adalah interferensi, integrasi, alih kode, dan campur kode (Chaer dan Agustina,

2004: 84). Hal-hal tersebut akan diuraikan berikut ini.

1.

Interferensi

Peristiwa interferensi juga digunakannya unsur-unsur bahasa lain dalam

menggunakan suatu bahasa, yang dianggap sebagai suatu kesalahan karena

menyimpang dari kaidah atau aturan bahasa yang digunakan (Chaer dan Agustina,

2004: 120). Interferensi digunakan untuk menyebut adanya perubahan sistem

suatu bahasa sehubungan dengan adanya persentuhan bahasa tersebut dengan

unsur-unsur bahasa lain yang dilakukan penutur yang bilingual (Weinreich dalam

Chaer dan Agustina, 2004: 120), sedangkan Hartman dan Stork dalam Chaer dan

Agustina (2004: 121) menyebut interferensi itu merupakan “kekeliruan”, yang

terjadi sebagai akibat terbawanya kebiasaan-kebiasaan ujaran bahasa ibu atau

dialek ke dalam bahasa atau dialek kedua.

Kridalaksana (1993: 84) mendefinisikan interferensi sebagai penggunaan unsur

bahasa lain oleh bahasawan yang bilingual secara individual dalan suatu bahasa.

Contoh interferensi:

1.

Interferensi morfologi: ketabrak, kejebak, kekecilan, dan kemahalan;

2.

Interferensi sintaksis:

a.

Di sini toko Laris yang mahal sendiri (Toko Laris adalah toko yang paling

mahal di sini)

(25)

2.

Integrasi

Integrasi adalah penggunaan secara sistematis unsur bahasa lain seolah-olah

merupakan bagian dari bahasa itu tanpa disadari oleh pemakainya (Kridalaksana,

1993: 83). Menurut Mackey dalam Chaer dan Agustina (2004: 128), integrasi

adalah unsur-unsur bahasa lain yang digunakan dalam bahasa tertentu dan

dianggap sudah menjadi bahasa tersebut. Unsur-unsur tersebut tidak dianggap

lagi sebagai unsur pinjaman atau pungutan.

Proses integrasi ini memerlukan waktu yang cukup lama, sebab unsur yang

berintegrasi tersebut harus disesuaikan, baik lafalnya, ejaannya, maupun tata

bakunya. Berikut ini adalah contoh integrasi.

sopir

- chauffueur

pelopor

- voorloper

fonem

- phonem

standardisasi

- standardization

organisasi

- organitation

3.

Alih Kode (Code Swicting)

Appel dalam Chaer dan Agustina (2004: 107) mendefinisikan campur kode

sebagai gejala peralihan pemakaian bahasa karena perubahan situasi. Appel

mengatakan alih kode itu terjadi antarbahasa, namun berbeda dengan Hymes

dalam Chaer dan Agustina (2004: 107-108) mengatakan alih kode itu bukan hanya

terjadi antarbahasa, melainkan juga terjadi antarragam-ragam atau gaya-gaya yang

(26)

Contoh peristiwa alih kode dapat dilihat pada wacana berikut ini.

Nanang dan Ujang berasal dari Priangan, lima belas menit sebelum kuliah

dimulai sudah hadir di ruangan kuliah. Keduanya terlibat dalam percakapan

yang topiknya tak menentu dengan menggunakan bahasa Sunda, bahasa ibu

keduanya. Sekali-kali bercampur dengan bahasa Indonesia kalau topik

pembicaraan menyangkut masalah pelajaran. Ketika mereka sedang asyik

bercakap-cakap masuklah Togar, teman kuliahnya yang berasal dari Tapanuli,

yang tentu saja tidak dapat berbahasa Sunda. Togar menyapa mereka dalam

bahasa Indonesia. Lalu, segera mereka terlibat percakapan dengan

menggunakan bahasa Indonesia. Tidak lama kemudian masuk pula

teman-teman lainnya, sehingga suasana menjadi riuh, dengan percakapan yang tidak

tentu arah topiknya dengan menggunakan bahasa Indonesia ragam santai.

Ketika ibu dosen masuk ruang, mereka diam, tenang, dan siap mengikuti

perkuliahan. Selanjutnya kuliah pun berlangsung dengan tertib dalam bahasa

Indonesia ragam resmi(Chaer dan Agustina, 1995:141).

Kalau ditelusuri penyebab terjadinya alih kode itu, maka harus kita kembalikan kepada

pokok persoalan sosiolinguistik seperti yang dikemukakan Aslinda dan Syafyahya,

(2010:85) yaitu faktor yang menyebabkan terjadinya alih kode antara lain

a)

siapa yang berbicara;

b)

dengan bahasa apa;

c)

kepada siapa;

d)

kapan, dan

e)

dengan tujuan apa.

4.

Campur Kode (

Code Mixing

)

Pranowo (1996: 12) mengungkapkan campur kode (code mixing) adalah

pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur bahasa yang

satu ke dalam bahasa lain secara konsisten. Campur kode adalah suatu keadaan

berbahasa ketika seseorang penutur mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam

(27)

berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu sendiri (Nababan, 1986:

32).

Thelander dalam Chaer dan Agustina (2004: 115) mengatakan bahwa campur

kode terjadi apabila di dalam suatu peristiwa tutur, klausa-klausa maupun

frasa-frasa yang digunakan terdiri dari klausa dan frasa-frasa campuran dan masing-masing

klausa atau frasa itu tidak lagi mendukung fungsi sendiri-sendiri. Kemudian

Fasold dalam Chaer dan Agustina (2004: 115) yang mengatakan bahwa campur

kode terjadi apabila seseorang menggunakan satu kata atau frasa dari satu bahasa.

Contoh campur kode yang diambil dari buku Chaer dan Agustina (2004: 124),

dapat dikemukakan sebagai berikut.

1. Mereka akan merried bulan depan.

„Mereka akan menikah bulan depan‟.

2. Nah, karena saya sudah kadhung apik sama dia, ya saya tanda tangan saja.

„Nah, karena saya sudah benar

-benar baik dengan dia, maka saya tanda tangan

saja‟.

Contoh di atas adalah kalimat-kalimat bahasa Indonesia yang di dalamnya

terdapat serpihan-serpihan dari bahasa Inggris dan Jawa, yang berupa kata dan

frasa.

4.1 Wujud Campur Kode Berdasarkan Unsur-Unsur Pembentuknya

Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, Suwito (1983:

(28)

a. Penyisipan Unsur yang Berwujud Kata

Kata yaitu satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri, terjadi dari morfem tunggal

atau gabungan morfem (KBBI, 2003: 513). Seorang penutur bilingual sering

melakukan campur kode dengan menyisipkan unsur-unsur dari bahasa lain yang

berupa penyisipan kata. Berikut adalah contoh campur kode dengan penyisipan

unsur berupa kata.

Mangka sering kali sok ada kata-kata seolah-olah bahasa daerah itu kurang

penting.

„Karena seringkali ada anggapan bahwa bahasa daerah itu kurang penting‟.

b. Penyisipan Unsur yang Berupa Baster

Baster merupakan gabungan pembentukan asli dan asing (Sugianto, 2008: 5).

Berikut adalah contoh campur kode dengan penyisipan berupa baster.

Banyak klub malam yang harus tutup.

Hendaknya segera diadakan hutanisasi kembali.

c. Penyisipan Unsur yang Berwujud Perulangan

Perulangan adalah proses pembentukan kata dengan mengulang keseluruhan atau

sebagian bentuk dasar (Wedhawati, dkk, 2001: 12). Berikut adalah contoh

penyisipan unsur yang berupa pengulangan kata.

Sudah waktunya kita hindari backing-backing dan klik-klikan.

Saya sih boleh-boleh saja, asal dia tidak tonya-tanya lagi.

d. Penyisipan Unsur yang Berupa Frasa

Frasa adalah satuan gramatikal yang berupa gabungan kata yang bersifat

nonpredikatif, atau lazim juga disebut gabungan kata yang mengisi salah satu

fungsi salah satu dalam kalimat (Chaer, 1994: 222). Berikut adalah contoh

(29)

Nah, karena saya sudah kadhung apik sama dia ya saya teken.

„Nah, karena saya sudah terlanjur baik dengan dia, maka saya tanda

tangan‟.

e. Penyisipan Unsur yang Berwujud Klausa

Klausa adalah satuan sintaksis berupa runtunan kata-kata berkonstruksi predikatif

(Chaer, 1994: 231). Berikut adalah contoh campur kode dengan penyisipan yang

berupa klausa.

Pemimpin yang bijaksana akan selalu bertindak ing ngarsa sung tulodo,

ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

„di

depan member teladan, di tengah mendorong semangat, di belakang

mengawasi ‟

f. Penyisipan Unsur yang Berwujud Ungkapan atau Idiom

Ungkapan atau idiom adalah satuan ujaran yang maknanya tidak dapat

“diramalkan” dari makna unsur

-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara

gramatikal (Chaer, 1994: 296). Berikut adalah contoh campur kode dengan

penyisipan yang berupa ungkapan atau idiom.

Pada waktu itu hendaknya kita hindari cara bekerja alon-alon asal kelakon

(perlahan-perlahan asal dapat berjalan).

4.2 Faktor Penyebab Terjadinya Campur Kode

Ciri menonjol terjajdinya campur kode biasanya berupa kesantaian atau situasi

informal. Namun bisa terjadi karena keterbatasan bahasa, ungkapan dalam bahasa

tersebut tidak ada padanannya, sehingga ada keterpaksaan menggunakan bahasa

lain, walaupun hanya mengandung satu fungsi. Latar belakang terjadinya campur

kode dapat digolongkan menjadi dua (Suwito , 1983: 77), seperti yang dipaparkan

(30)

a. Latar Belakang Sikap Penutur

Latar belakang penutur ini berhubungan dengan karakter penutur, seperti latar

sosial, tingkat pendidikan, atau rasa keagamaan. Misalnya, penutur yang

memiliki latar belakang sosial yang sama dengan mitra tuturnya dapat melakukan

campur kode ketika berkomunikasi. Hal ini dapat dilakukan agar suasana

pembicaraan menjadi akrab.

b. Kebahasaan

Latar belakang kebahasaan atau kemampuan berbahasa juga menjadi penyebab

seseorang melakukan campur kode, baik penutur maupun orang yang menjadi

pendengar atau mitra tuturnya. Selain itu, keinginan untuk menjelaskan maksud

atau menafsirkan sesuatu juga dapat menjadi salah satu faktor yang ikut melatar

belakangi penutur melakukan campur kode.

E. Konteks

1.

Pengertian Konteks

Bahasa dan konteks merupakan dua hal yang saling berkaitan satu sama lain.

Bahasa membutuhkan konteks tertentu dalam pemakaiannya, demikian juga

konteks sebaliknya, konteks baru memiliki makna jika terdapat tindakan bahasa di

dalamnya (Duranti dalam Rusminto dan Sumarti, 2006: 51).

Konteks adalah latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki oleh penutur

dan mitra tutur yang memungkinkan mitra tutur untuk memperhitungkan tuturan

(31)

2006: 54). Lubis (1991: 94) mengatakan, yang dinamakan konteks, yaitu

teks-teks pendamping teks-teks yang ada.

Sementara itu, Schiffrin dalam Rusminto dan Sumarti (2006: 51) mendefinisikan

konteks sebagai sebuah dunia yang diisi orang-orang yang memproduksi

tuturan-tuturan atau situasi tentang suasana keadaan sosial sebuah tuturan-tuturan sebagai bagian

dari konteks pengetahuan di tempat tuturan tersebut diproduksi dan

diinterprestasi.

Dari pendapat-pendapat yang dikemukakan di atas, penulis mengacu pada

pendapat Grice karena lebih mudah dipahami dengan adanya unsur-unsur yang

maksud konteks adalah (1) latar belakang pengetahuan yang sama-sama dimiliki

oleh penutur dan mitra tutur, (2) adanya penutur, (3) mitra tutur, dan (4) mitra

tutur untuk memperhitungkan tuturan dan memaknai arti tuturan dari si penutur.

2.

Jenis Konteks

Rahardi (2006: 100-101) menjelaskan, di dalam linguistik, konteks wacana atau

teks dapat dibedakan menjadi sedikitnya menjadi tiga.

1) Konteks tuturan (context of utterance), yakni segala situasi dan kondisi

lingkungan yang muncul bersama-sama dengan hadirnya tuturan. Dapat

berupa media atau saluran yang digunakan, waktu dan lokasi terjadinya

tuturan, pemeran atau pelibat pertuturan, maksud dan tujuan pertuturan, dan

lain-

lain. Contohnya, kata „gila‟ dapat memiliki makna yang tidak sama

(32)

konteks tertentu. Tetapi, mungkin orang yang lain akan menanggapi secara

biasa-biasa saja terhadap tuturan yang sama dalam konteks yang berbeda.

2) Konteks referensi (context of reference), yakni konteks yang menunjuk pada

lingkungan atau bidang, tempat sebelum pertuturan terjadi atau dilaksanaka.

Contoh, kata „bunyi‟ dalam konteks linguistik, yang tentu saja berkkonotasi

makna berbeda dengan „bunyi‟ pada konteks fisika, demikian juga dengan

bidang musik.

3) Konteks sosial dan konteks cultural (socio-cultural context), yakni segala aspek

yang menunjuk pada keseluruhan jaringan konvensi dan institusi sosial-budaya

yang ada dalam sebuah masyarakat dalam kurun tertentu. Misal saja, kata atau

slogan seperti „ganyang kolonialisme‟, „merdeka atau mati‟, seperti hanya

muncul dalam konteks waktu ketika masyarakat kita ini masih bebrada di

bawah cengkeraman kaum penjajah, dan terbukti tidak banyak muncul lagi

pada saat-saat sekarang ini.

3.

Unsur-Unsur Konteks

Dell Hymes dalam Chaer dan Agustina (2004: 48) menyatakan bahwa

unsur-unsur konteks mencakup komponen yang bila disingkat menjadi akronim

SPEAKING.

(i)

Setting and scene. Di sini setting berkenaan dengan waktu dan tempat tutur

berlangsung, sedangkan scene mengacu pada situasi tempat dan waktu, atau

situasi psikologis pembicara. Waktu, tempat, dan situasi tuturan yang

(33)

Berbeda di lapangan sepak bola pada waktu ada pertandingan sepak bola

dalam situasi yang ramai tentu berbeda dengan pembicaraan di ruang

perpustakaan pada waktu banyak orang membaca dan dalam keadaan sunyi.

Di lapangan sepak bola seseorang bias berbicara keras-keras, tetapi di ruang

perpustakaan seperlahan mungkin.

(ii)

Participants adalah pihak-pihak yang terlibat dalam peristiwa tutur, bisa

pembicara dan pendengar, penyapa dan pesapa, atau pengirim dan penerima

(pesan). Dua orang yang bercakap-cakap dapat berganti peran sebagai

pembicara atau pendengar, tetapi dalam khotbah di masjid, khotib sebagai

pembicara dan jamaah sebagai pendengar tidak dapat bertukar peran. Status

sosial participant sangat menentukan ragam bahasa yang digunakan.

Misalnya, seorang anak akan menggunakan ragam atau gaya bahasa yang

berbeda bila berbicara dengan orang tuanya atau gurunya bila dibanding

berbicara dengan teman-teman sebayanya.

(iii)

Ends merujuk pada maksud dan tujuan yang diharapkan dari sebuah tuturan.

Misalnya peristiwa tutur yang terjadi ruang pengadilan bermaksud untuk

menyelesaikan suatu kasus perkara.

(iv)

Act sequence mengacu pada bentuk dan isi ujaran. Bentuk ujaran itu

berkenaan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya,

dan hubungan antara apa yang dikatakan dengan topik pembicaraan. Bentuk

ujaran dalam kuliah umum, dalam percakapan biasa, dan dalam pesta

(34)

(v)

Key mengacu pada nada, cara, dan semangat di mana suatu pesan

disampaikan dengan senang hati, dengan serius, dan dengan singkat, dengan

sombong, dengan mengejek, dan sebagainya. Hal ini dapat juga ditunjukkan

dengan gerak tubuh dan isyarat.

(vi)

Instrumentailtis mengacu pada jalur bahasa yang digunakan, seperti jalur

lisan, tulis, melalui telegraf atau telepon. Instrumentalitis ini juga mengacu

pada kode ujaran yang digunakan seperti bahasa, dialek, fragam, atau

register.

(vii)

Norm of interaction and interruption mengacu pada norma atau aturan yang

dipakai dalam sebuah peristiwa tutur, juga mengacu pada norma penafsiran

terhadap ujaran dari lawan bicara.

(viii)

Genre mengacu pada jenis bentuk penyampaian, seperti narasi, puisi,

pepatah, doa, dan sebagainya.

Hymes dalam Lubis (1991: 84-93) mencatat tentang ciri-ciri konteks yang relevan

itu adalah (1) advesser (pembicara), (2) advessee (pendengar), (3) topik

pembicaraan, (4) setting (waktu, tempat), (5) channel (penghubungnya: bahasa

tulis, lisan, dan sebagainya), (6) code (dialeknya, stailnya), (7) massage from

(debat, diskusi, seremoni agama), dan (8) event (kejadian).

4.

Peranan Konteks dalam Komunikasi

Sebuah peristiwa tutur tidak dapat dilepaskaan dari konteks yang melatarinya.

Schiffrin dalam Rusminto dan Sumarti (2006: 57-58) menyatakan bahwa konteks

(35)

pengetahuan abstrak yang mendasari bentuk tindak tutur; dan (2) suatu bentuk

lingkungan sosial tempat tuturan-tuturan dapat dihasilkan dan diinterprestasikan

sebagai relasi aturan-aturan yang mengikat.

Sementara itu, Hymes dalam Rusminto dan Sumarti (2006: 59) menyatakan

bahwa peran konteks dalam penafsiran tampak pada kontribusinya dalam

membatasi jarak perbedaan tafsiran terhadap tuturan dan penunjang kenerhasilan

pemberian tafsiran terhadap tuturan tersebut, konteks dapat menyingkirkan

makna-makna yang tidak relevan dari makna-makna yang sebenarnya sesuai

dengan pertimbangan-pertimbangan yang layak dikemukakan berdasarkan

konteks situasi tertentu.

Sejalan dengan pertimbangan tersebut, Kartomihardjo dalam Rusminto dan

Sumarti (2006: 59) mengemukakan bahwa konteks situasi sangat mempengaruhi

bentuk bahasa yang digunakan dalam berinteraksi. Bentuk bahasa yang telah

dipilih oleh seorang penutur dapat berubah bila situasi yang melatarinya berubah.

Besar peranan konteks bagi pemahaman sebuah tuturan dapat dibuktikan dengan

contoh berikut.

(34) Buk, lihat tasku!

Tuturan pada contoh di atas dapat mengandung maksud meminta dibelikan tas

baru jika disampaikan dalam konteks tas anak sudah dalam kondisi rusak.

Sebaliknya, tuturan tersebut dapat mengandung maksud memamerkan tasnya

(36)

sang ayah, tas tersebut cukup bagus untuk dipamerkan kepasa sang ibu, dan anak

merasa lebih cantik dengan memakai tas baru tersebut.

A.

Novel

Novel adalah jenis prosa yang mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang

menggelarkan kehidupan manusia berdasar sudut pandang pengarang, dan

mengandung nilai hidup, yang diolah dengan teknik kisahan dan ragaan (Zaidan,

1996: 136). Menurut Tarigan (1985: 164), novel adalah cerita fiktif dalam

menceritakan para tokoh, gerak serta kesederhanaan hidup nyata yang

representatif dalam suatu alur atau keadaan yang agak kacau atau kusut.

Pendapat serupa juga diungkapkan Zainudin (1991: 106) yang mengartikan novel

sebagai bentuk karangan prosa yang pengungkapannya tidak panjang lebar seperti

roman, biasanya melukiskan atau mengungkapkan sesuatu peristiwa atau suatu

kejadian yang luar biasa pada diri seseorang. Pada Kamus Besar Bahasa

Indonesia (2003: 618) novel adalah karangan prosa yang panjangnya mengandung

rangkaian cerita kehidupan dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan

watak dan sifat setiap pelaku.

Dari beberapa pendapat di atas, peneliti mengacu pada pendapat yang

dikemukakan oleh Zainudin karena lebih spesifik dan mudah dipahami yang

mengartikan novel sebagai bentuk karangan prosa yang pengungkapannya tidak

panjang lebar seperti roman, biasanya melukiskan atau mengungkapkan sesuatu

(37)

G.

Kurikulum Pembelajaran di SMA

Keberhasilan suatu sistem pembelajaran bahasa ditentukan oleh tujuan yang

realistis, dapat diterima oleh semua pihak, sarana dan organisasi yang baik,

intensitas pembelajaran yang relatif tinggi, kurikulum dan silabus yang tepat guna.

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi,

dan bahan kegiatan atau pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai

pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan

pendidikan. Kurikulum yang berlaku di sekolah menengah atas saat ini adalah

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). KTSP adalah sebuah kurikulum

operasional pendidikan yang disusun dan silaksanakan oleh masing-masing satuan

pendidikan. Tujuan umum KTSP untuk sekolah menengah atas adalah

meningkatkan kecerdasan, pengertahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta

keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut (Muslick

2008: 29)

Berdasarkan Badan Standar Nasional Pendidikan SMA, kurikulum mata pelajaran

Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan

berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai etika yang berlaku, baik secara

lisan maupun tulis, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia

sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara, memahami bahasa Indonesia dan

menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan (Kurikulum, 2006:

2).

Pembelajaran bahasa Indonesia lebih menekankan pada tujuan membina

(38)

sebagai alat komunikasi dan sarana pemahaman terhadap Iptek. Dalam kehidupan

sehari-hari pembelajaran bahasa Indonesia secara pragmatik, bahasa lebih

merupakan bentuk kinerja dan performansi daripada sebuah sistem ilmu.

Pandangan ini membawa konsekuensi bahwa pembelajaran bahasa lebih

menekankan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi daripada pembelajaran

tentang sistem bahasa (Kurikulum, 2006: 1).

Pembelajaran sastra dapat membantu pendidikan secara utuh apabila cakupannya

meliputi empat manfaat, yaitu membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan

pengetahuan budaya, mengembangkan cipta, rasa, dan menunjang pembentukan

watak (Rahmanto,1988: 16).

Pada dasarnya tujuan pembelajaran sastra adalah untuk menumbuhkan rasa cinta

dan kegemaran siswa terhadap sastra sehingga mampu mempertajam perasaan,

penalaran, dan daya khayal, serta kepekaan terhadap budaya dan lingkungan

sehingga siswa merasa terdorong dan tertarik untuk membacanya. Pembelajaran

sastra dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan siswa mengapresiasikan

karya sastra. Novel merupakan salah satu alternatif bahan pembelajaran ke dalam

komponen dasar kegiatan pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah

atas (SMA). Bahasa yang terdapat dalam sebuah novel yang di dalamnya terdapat

peristiwa campur kode dapat dijadikan pembelajaran bagi siswa untuk menambah

wawasan mereka tentang keragaman bahasa.

Dengan menentukan media pembelajaran dan bahan ajar sastra yang sesuai

dengan kurikulum yang berlaku saat ini, diharapkan siswa dapat menumbuhkan

(39)

bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik agar

dapat berkomunikasi bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan

maupun secara tulisan, serta dapat menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya

kesastraan bangsa Indonesia (Depdiknas,2006: 15).

Tujuan pembelajaran dapat berhasil dengan baik apabila ditunjang penggunaan

media dan bahan ajar yang memadai yang dapat memenuhi kebutuhan atau

mencapai tujuan yang diinginkan. Novel adalah salah satu media dan bahan ajar

yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran sastra, namun tidak semua novel

dapat dijadikan bahan ajar di sekolah. Ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan

dalam pemilihan bahan pengajaran sastra (Rahmanto,1988: 17) sebagai berikut.

1.

Bahasa

Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah

yang dibahas, tapi juga faktor-faktor lain seperti cara penulisan yang dipakai

pengarang, bahasa yang menggunakan bahasa baku, komunikatif,

memperhitungkan kosakata baru, isi wacana, cara menuangkan ide yang

disesuaikan dengan kelompok pembaca yang ingin dijangkau sehingga mudah

dipahami semua kalangan, serta ciri-ciri karya sastra disesuaikan pada waktu

penulisan itu.

2. Psikologi

Dalam memilih bahan pengajaran tahap-tahap psikologi hendaknya diperhatikan

karena sangat besar pengaruhnya terhadap minat dan keengganan anak didiknya

(40)

daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama, dan

kemungkinan pemahaman situasi atau pemecahan problem yang dihadapi. Dalam

pengajaran karya sastra tahap psikologi harus diperhatikan, guru hendaknya

menyajikan karya secara psikologis dapat menarik minat sebagian besar siswa

dalam kelas.

Untuk siswa SMA (usia 16 sampai 18 tahun), mereka berada pada tahap realistik.

Pada tahap ini anak-anak sudah benar-benar terlepas dari dunia fantasi dan sangat

berminat pada realistis atas apa yang benar-benar terjadi. Mereka terus berusaha

mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami

masalah-masalah kehidupan nyata.

3. Latar Belakang Budaya

Latar belakang budaya karya sastra meliputi hampir semua faktor kehidupan

manusia dan lingkungannya seperti; geografi, sejarah, topografi, iklim, mitologi,

legenda pekerjaan, kepercayaan, cara berpikir, nilai-nilai masyarakat, seni,

olahraga, hiburan, moral, etika, dan sebagainya.

Biasanya siswa akan mudah tertarik pada karya-karya sastra dengan latar

belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang kehidupan mereka,

terutama bila karya sastra itu menghadirkan tokoh yang berasal dari lingkungan

mereka dan memunyai kesamaan dengan mereka atau dengan orang-orang

(41)

4. Sastra ditinjau dari Aspek Pendidikan

Ciri-ciri novel yang layak dijadikan bahan ajar di SMA, berdasarkan aspek

pendidikan.

Suatu bacaan layak dijadikan bahan ajar di SMA apabila sesuai

dengan hal-hal berikut ini.

a.

Pengertian pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan

kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup (Idris,

1984: 9-10)

b.

Undang-Undang Pendidikan

Proses pendidikan harus mencakup: (1) penumbuh kembangan keimanan, (2)

pengembangan wawasan kebangsaan, kenegaraan, demokrasi dan kepribadian,

(3) penguasaan iptek, (4) pengembangan, penghayatan, apresiasi, dan deskripsi

seni, (5) pembentukan manusia yang sehat jasmani dan rohani (Permendiknas,

2006: 223).

Suatu pembelajaran dilandaskan oleh kurikulum yang terdapat beberapa prinsip

dalam pelaksanaannya yaitu sebagai berikut.

1.

Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan dan kondisi

peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.

2.

Kurikulum dilaksanakan denagn menegakkan keempat pilar pelajar, yaitu (a)

belajar untuk bertakwa dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b)

belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu

(42)

menemukan jati diri melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, afektif,

dan menyenangkan.

3.

Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat pelayanan

yang bersifat perbaikan, pengayaan atau percepatan peserta didik sesuai

potensi, tahap perkembangan, dan kondisi peserta didik dengan tahap

memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi peserta didik yang

berdimensi ke-Tuhanan, keindividuan, kesosialan, dan moral (Permendiknas,

2006: 9).

Proses pembelajaran di sekolah menyangkut tiga komponen, yaitu perencanaan,

pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran. Pada mata pelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia di SMA, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) terdiri atas dua

aspek, yaitu kemampuan berbahasa dan sastra. Kedua aspek tersebut

masing-masing terdiri atas subaspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Untuk bidang kebahasaan yang relevan dengan program pembelajaran yaitu pada

kelas X semester ganjil, standar kemampuan berbahasa pada siswa adalah mampu

mengungkapkan pikiran, perasaan, dan informasi melaluai kegiatan berkenalan,

diskusi, dan bercerita.

Berdasarkan silabus kurikulum 2006 sebagai berikut.

Nama Sekolah

: SMA / MA

Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas

: XI

Semester

: 2

(43)

10. Menyampaikan laporan hasil penelitian dalam

diskusi atau seminar

Kompetensi Dasar

: 10.1 Mempresentasikasn hasil penelitian secara

runtut dengan menggunakan bahasa yang baik dan

benar

10.2 Mengomentari tanggapan orang lain terhadap

presentasi hasil penelitian

Indikator

: - Mempresentasikasn hasil penelitian secara

runtut dengan menggunakan bahasa yang baik dan

benar

- Mengomentari tanggapan orang lain terhadap

presentasi hasil penelitian

Kemudian untuk bidang kesastraan yang sesuai dengan program pembelajaran

yaitu pada kelas XI semester ganjil, standar kemampuan bersastra pada siswa

adalah Memerankan tokoh dalam pementasan drama.

Berdasarkan silabus kurikulum 2006 sebagai berikut.

Nama Sekolah

: SMA / MA

Mata Pelajaran

: Bahasa Indonesia

Kelas

: XI

Semester

: 2

Standar Kompetensi : Berbicara

(44)

Kompetensi Dasar : 6.1 Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik,

sesuai dengan watak tokoh.

Indikator

: - Membaca dan memahami teks drama yang akan

diperankan.

- Menghayati watak tokoh yang akan diperankan

- Menyampaikan dialog disertai gerak-gerik dan mimik,

sesuai dengan watak tokoh.

Dalam hal ini, guru dapat memanfaatkan dialog yang mengandung campur kode

dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro sebagai media pembelajaran bahasa

(45)

III. METODE PENELITIAN

A.

Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Metode desktiptif merupakan

metode penelitian yang berusaha menggambarkan dan menginterprestasi objek

sesuai dengan apa adanya (Best dalam Sukardi, 2003: 157). Dalam penelitian ini

metode deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk dan

sebab-sebab terjadinya campur kode yang terjadi dalam dialog tokoh-tokoh novel 5 cm

karya Donny Dhirgantoro dan kelayakannya sebagai media pembelajaran di SMA.

Sedangkan teknik yang digunakan adalah teknik studi dokumenter.

B.

Data dan Sumber Data

Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat bahasa lisan yang dituliskan

(percakapan) antartokoh dalam novel. Data penelitiannya diperoleh dari analisis

teks novel yang berjudul 5 cm karya Donny Dhirgantoro yang cetakan pertama

pada Mei tahun 2005. Terdiri atas 379 halaman yang terbagi atas 11 Bab.

Dialog-dialog tokoh yang dianalisis dihasilkan oleh lima tokoh utama cerita dan

(46)

C.

Teknik Pengumpulan dan Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik studi

dokumentasi, maksudnya cara pengumpulan data yang dilakukan dengan

kategorisasi dan klasifikasi bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan

masalah penelitian baik dari sumber dokumen, buku-buku, koran, majalah, dan

lain-lain ( Nawawi, 1991: 95). Teknik pengumpulan dan analisis data dalam

penelitian ini adalah teknik analisis teks, yaitu dengan cara membaca novel secara

cermat. Langkah selanjutnya yang dilakukan penulis untuk menganalisis data

adalah sebagai berikut.

1.

Membaca novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro secara keseluruhan dan

berulang-ulang.

2.

Menandai dialog-dialog dalam novel 5 cm yang mengandung campur kode.

Menandai campur kode dengan tanda CK.

-

Mengidentifikasi campur kode dengan cara menandai wujud campur kode

kata dengan tanda CK Kt, campur kode baster dengan tanda CK Bs,

campur kode perulangan kata dengan tanda CK PK, campur kode frasa

dengan tanda CK Fr, campur kode klausa dengan tanda CK Kl, dan

campur kode ungkapan atau idiom dengan tanda CK Ungk.

3.

Menentukan faktor penyebab terjadinya campur kode yang sesuai dengan

konteksnya. Dengan menandai faktor penyebab campur kode 1) pengaruh

sikap penutur dengan tanda SP dan 2) pengaruh kebahasaan dengan tanda K.

4.

Mengklasifikasikan penggunaan campur kode.

(47)

6.

Menambahkan kode bahasa pada kode-kode yang telah digunakan dengan

tanda BJ (bahasa Jawa), BB (bahasa Betawi), BI (bahasa Inggris), BP (bahasa

Prancis), dan BA (bahasa Arab).

7.

Menyimpulkan wujud campur kode dan latar belakang terjadinya campur kode

bahasa lisan yang dituliskan dalam novel 5 cm karya Donny Dhirgantoro.

8.

Mendeskripsikan implikasi campur kode dalam novel 5 cm karya Donny

(48)
(49)

V. SIMPULAN DAN SARAN

A.

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan campur kode yang dilakukan para

tokoh di dalam bahasa lisan novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro. Peristiwa campur

kode terdapat pada bahasa lisan novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro. Campur kode

yang terdapat dalam bahasa lisan novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro berlangsung

dari 5 bahasa yaitu bahasa Jawa, bahasa Betawi, bahasa Inggris, bahasa Arab, dan

bahasa Perancis.

Bentuk-bentuk campur kode yang terdapat dalam bahasa lisan novel 5cm karya

Dhonny Dhirgantoro ini adalah campur kode yang berbentuk kata, baster, perulangan

kata, frasa, dan klausa. Faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode dalam

bahasa lisan novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro ini adalah faktor latar belakang

sikap penutur dan faktor kebahasaan. Campur kode yang paling banyak dilakukan

adalah bentuk campur kode dengan penyisispan unsur berupa kata dari bahasa Inggris.

Bahasa yang paling sering digunakan untuk campur kode adalah bahasa Inggris,

sedangkan bahasa yang paling jarang digunakan adalah bahasa Betawi. Kemudian,

faktor yang paling banyak mempengaruhi terjadinya campur kode adalah faktor

(50)

Pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah, penelitian ini berkaitan dengan

materi pembelajaran dan sumber belajar. Kaitannya dengan materi pembelajaran,

campur kode yang terdapat dalam bahasa lisan novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro

ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan

benar juga penggunaan bahasa Indonesia secara kontekstual. Kaitannya dengan

sumber belajar, novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro ini dapat dijadikan media

pembelajaran dalam pelajaran drama baik dalam memahami pementasan drama

maupun dalam memerankan tokoh dalam pementasan drama.

B.

Saran

Adapun saran-saran untuk guru bahasa Indonesia dan peneliti lain berdasarkan

simpulan di atas, sebagai berikut.

1.

Untuk Guru

Berdasarkan simpulan di atas, penulis menyarankan kepada guru bahasa dan

sastra Indonesia hendaknya menggunakan hasil penelitian ini untuk dijadikan

sebagai alternatif media pembelajaran dan bahan ajar tehadap pembelajaran

penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar ataupun dalam pembelajaran

menggunakan bahasa Indonesia secara kontekstual. Novel 5cm karya Dhonny

Dhirgantoro ini juga dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran drama agar

media pembelajaran lebih bervariasi dan tidak monoton sehingga pembelajaran di kelas

menjadi sangat menyenangkan. Keanekaragaman bahasa yang terdapat dalam Bahasa

lisan novel 5cm karya Dhonny Dhirgantoro ini juga dapat dijadikan bahan

(51)

2.

Untuk Peneliti

Penelitian yang dilakukan penulis terbatas pada bentuk-bentuk dan sebab-sebab

campur kode yang terdapat dalam bahasa lisan novel 5cm karya Dhonny

Dhirgantoro. Sudah banyak pula peneliti yang meneliti campur kode baik dalam film

dan novel maupun pada proses pembelajaran, namun belum ada penelitian terhadap

kedwibahasaan secara keseluruhan khususnya pada interferensi dan integrasi, untuk itu

penulis menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti kedwibahasaan secara

utuh mulai dari interferensi, integrasi, alih kode, dan campur kode baik dalam proses

pembelajaran, pada novel, ataupun pada film yang menggunakan latar suatu

(52)
(53)
(54)

Figur

Tabel Data dan Analisis Campur Kode dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro
Tabel Data dan Analisis Campur Kode dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro . View in document p.55
gambaran bagaimana jalur pendakian
gambaran bagaimana jalur pendakian . View in document p.116
Tabel Klasifikasi Campur Kode dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro
Tabel Klasifikasi Campur Kode dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro . View in document p.146
Tabel Pengelompokan Bahasa Campur Kode dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro
Tabel Pengelompokan Bahasa Campur Kode dalam Novel 5 cm Karya Donny Dhirgantoro . View in document p.150

Referensi

Memperbarui...

Unduh sekarang (153 Halaman)
Related subjects : KODE BAHASA INGGRIS DAN ITALIA