Page | 1
!" #$%
BAB I Pendahuluan
1. Latar Belakang
Akibat globalisasi dewasa ini, banyak negara-negara yang tak bisa mengelak dari
pergaulan internasional, tak terkecuali mobilisasi masyarakat dunia yang tak mengenal batas
yuridiksi. Disatu sisi, setiap negara berusaha melindungi kepentingan nasionalnya meski harus
merampas hak bangsa/negara lain dengan bungkus legitimasi hukum internasional, baik itu hak
berdaulat, menentukan nasib sendiri atau terlebih menyangkut masalah ekonomi.
Abad ke-19, dengan filsafatnya yang berorientasi bisnis, menekankan pentingnya kontrak
sebagai dasar hukum bagi perjanjian (teori perstujuan/theory of consent) yang bisa mengikat
negara-negara merdeka. Disatu sisi, tidak ada kewajiban negara-bangsa untuk melakukan/tidak
melakukan persetujuan/kontrak, dan karenanya, mereka hanya bisa diikat oleh persetujuan
mereka sendiri1. Tidak ada otoritas yang secara teoritis atau praktis mampu membuat aturan
(hukum) yang berlaku efeketif bagi negara-bangsa secara koheren dan komperhensif dalam
pergaulan di era globalisasi. Disisi lain, pengaruh hukum alam yang dikembangkan Stoa yang
mempengaruhi hukum internasional diawal perkembangannya masih mengakar kuat dan
berpengaruh hingga sekarang memberi legitimasi meta-yuridis. Sebuah aliran hukum yang
mendasarkan pada daya deduksi akal pikiran manusia sebagai ikhtiar penemuan hukum. Oleh
karena bertitik tolak dari nalar manusia maka memiliki relevansi universal2 melintasi batas-batas
yuridiksi.
Mengkaji penundaan presiden Dilma menerima Credential Letter Dubes Indonesia tentu
kurang afdhol tanpa melihat latar belakang dan suasana politik masing-masing negara.
Ketegangan diplomatik antara Indonesia dan Brasil tak bisa lepas dari motif politik yang
diemban masing-masing pemimpin negara tersebut dalam mengangkat ‘komoditas politik’
1 Malcom N. Shaw QC, Hukum Internasional, penerjemah; Derta Sri Widowatie, Imam Baihaqi, dan
M.Khozin,Nusa Media, Bandung, 2013, h. 7.
2
Page | 2 kontra hukum mati yang dibungkus dengan retorika hukum tentang cara bagaimana
mengetengahkan sudut pandang konsepsi hukuman mati menurut hukum internasional
sebagaimana yang diagendakan pemerintah brasil3, dan disisi lain, ‘berbenturan’ dengan konsep
kedaulatan dan konsep theory of consent yang diretorikakan oleh pemerintah Indonesia4.
1.1. Ketegangan Hubungan Bilateral Indonesia-Brasil
Beberapa waktu lalu, hubungan bilateral Indonesia dan Brasil yang telah lama dan
saling menguntungkan tersebut memanas karena ‘intervensi’ Pemerintah Brasil terhadap
law enforcement hukum Indonesia.
Sebelumnya, pihak Brasil juga telah memprotes keras eksekusi mati terpidana
mati terpidana narkoba dari Brasil, Marco Archer Cardoso Moreira (53 Tahun)5yang
terdaftar dalam gelombang pertama6 eksekusi mati pada 18 Januari 2015 silam terkait
kejahatan narkoba dibawah rezim pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bahkan,
pemerintah Brasil merespon terhadap kebijakan hukum yang diambil oleh pemerintah
Indonesia dengan menarik pulang Duta Besarnya, Paulo Alberto da Siveira Soares7
sebagai bentuk protes terhadap kebijakan hukum Indonesia. Presiden Dilma Rousseff
beranggapan hukuman mati menyalahi aturan Amnesti Internasional, dan tidak
sepantasnya hukuman mati dijadikan sebuah hukuman disebuah negara yang menjunjung
tinggi Hak Asasi Manusia.
1.2. Penolakan Toto Riyanto sebagai Duta Besar Indonesia oleh Pemerintah Brazil
Penolakan Toto Riyanto sebagai Duta Besar Indonesia untuk Brasil oleh Presiden
Dilma Rousseff terjadi sesaat menjelang penyerahan Credential Letter di Istana
Kepresidenan Brasil (Palacio do Planalto) pada 20 Februari 2015 pukul 09.00 pagi
5Marco Archer Cardoso Moreira ditangkap pada 2003 lalu setelah polisi di bandara Cengkareng
menenemukan 13,4 kg kokain yang disembunyikan di dalam peralatan olahraga.
6 Selain Marco Archer Cardoso Moreira, dalam gelombang pertama pelaksanaan eksekusi oleh Kejagung
ada lima terpidana lain, yaitu; Namaona Denis ( Malawi), Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (Nigeria), Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya (Belanda), dan Rani Adriani alias Melisa Aprilia (indonesia).
7Lihat http://demo.analisadaily.com/terkini/news/menlu-brasil-resmi-tarik-dubes-belanda-belum/99707
Page | 3 waktu setempat8 telah memantik ketegangan dua negara yang telah menjalin kerjasama
sejak 55 tahun silam. Sebagai Duta Besar, Toto Riyanto merupakan representasi atas
nama Bangsa Indonesia dengan membawa Credential Letter yang dibawa oleh Dubes
Toto Riyanto dengan menyandang tanda tangan langsung oleh Presiden Indonesia yang
merupakan representasi Bangsa Indonesia yang berdaulat. Sebagaimana penuturan Toto
Riyanto9, latar belakang belakang penolakan tersebut diprediksi kuat karena akumulasi
‘sakit hati’ pemerintah Brasil terkait putusan Presiden Jokowi menolak permohonan grasi
yang dilakukan oleh Dilma Roussef bagi warga negaranya yang akan menjalani vonis
hukuman mati10 terkait kasus kepemilikan psikotropika, yaitu Rodrigo Gularte.
Presiden Dilma Ro usseff berdalih penyerahan surat kepercayaan dari Presiden
Indonesia tersebut akan ditinjau dan diputuskan lebih lanjut menunggu perkembangan
nasib warga negaranya yang akan dieksekusi mati di Indonesia. Perlakuan pemerintah
Brasil ini memicu ketersinggungan Pemerintah Indonesia.
Terkait dengan insiden itu, Presiden Jokowi pun telah bertindak tegas dengan
memanggil pulang Duta Besar Toto Riyanto melalui kanal Kementrian Luar Negeri
Indonesia dibawah Menlu Retno Marsudi. Lebih jauh lagi, tindakan ini telah ditindak
lanjuti oleh Kemenlu dengan pengiriman nota protes diplomatik keras kepada pemerintah
Brasil11. Tak cukup sampai disitu, Legislatif pun membuka wacana untuk mengkaji ulang
pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Brasil sebagai bentuk protes
terhadap pemerintah Brasil12.
3. Rumusan Masalah
Dari uraian singkat diatas serta agar subtansi topik yang dibahas dalam penyusunan
makalah ini tidak melebar/bias, maka dirumuskanlah batasan kajian sebagai berikut;
8 Antaranews.com
http://www.antaranews.com/berita/481892/soal-penarikan-duta-besar-indonesia-untuk-brasil, diakses tanggal 17 April 2015.
9 OkeZone.com,
http://news.okezone.com/read/2015/02/23/18/1109537/kronologis-penolakan-dubes-ri-di-istana-presiden-brasil, diakses anggal 17 April 2015.
10 Analisadaily.com
http://demo.analisadaily.com/terkini/news/menlu-brasil-resmi-tarik-dubes-belanda-belum,/99707/2015/01/18. diakses tanggal 17 April 2015.
11Republika Online.com
http://republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/24/nk98af-dubes-toto-riyanto-ceritakan-kronologi-penolakan-brasil, diakses anggal 17 April 2015.
12Lihat
Page | 4 1. Bagaimanakah ketentuan Konvensi Wina 1961 tentang Diplomat menyangkut
perihal penolakan seorang duta besar (persona non grata) oleh negara penerima ?
2. Apakah secara empiris yang melatarbelakangi penolakan seorang diplomat negara
pengirim oleh negara penerima sudah sesuai ketentuan yuridis ?
4. Metode Penulisan
Pendekatan yang dipakai dalam penyusunan makalah ini adalah yuridis normative dan
Sosio-Empiris. Yuridis-Normatif dalam arti yang menjadi alat analisa adalah
ketentuan-ketentuan legal hukum dan teori hukum doktrinal oleh para pakar yang telah diakui
keilmuanya oleh para pakar hokum saat ini. Sedangkan Sosio-Yuridis adalah
Metode yang dikembangkan dalam pengkajian data dalam penulisan makalah ini
menggunakan cara deduktif. Dalam arti, cara memahami permasalahan yang ada dengan cara
mengkaji data-data yang didapat agar memperoleh pemahaman dan kesimpulan yang obyektif
dan komperhensif.
5. Tujuan Penulisan
Meski dalam hubungan interpendensi ini sudah ada instrument-instrumen internasional
hukum yang telah mengatur tentang tata cara hubungan antar negara, tapi dalam prakteknya,
kaidah-kaidah yang telah ditetapkan bersama tersebut kadang tidak mampu mengawal
aktifitas lalu-lintas hubungan negara karena tidak adanya organ yudikatif dalam struktur
hukum internasional. Bahkan seringkali hukum-hukum yang telah disepakati tersebut kalah
oleh kepentingan negara-negara kuat dalam implementasinya.
Bab II Pembahasan
1. Pengertian dan Ruang Lingkup Hukum Diplomatik
Pada dasarnya, Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik merupakan dasar
Page | 5 Konvensi pada hakikatnya merupakan perjanjian internasional yang melibatkan banyak negara
sebagai pihak, oleh karena itu konvensi memiliki karakter multilateral. Selain itu, konvensi
juga bisa dilakukan oleh dua negara saja sebagai pihak dalam perjanjian yang lazim dikenal
kerja sama bilateral.
Hukum diplomatik merupakan bagian dari hukum internasional, karena keberlakuannya
yang melintasi batas yuridiksi nasional13. Sedangkan Eileen Denza mengemukakan bahwa
hukum diplomatik adalah berbagai komentar atas Konvensi Wina yang menyangkut hubungan
diplomatik14. Sedangkan Jan Osmanczyk mengatakan hukum diplomatik merupakan cabang
dari hukum kebiasaan internasional yang terdiri dari seperangkat aturan-aturan dan
norma-norma hukum yang menetapkan kedudukan dan fungsi para diplomat, termasuk bentuk-bentuk
organisasional dan dinas diplomatik15. Pengertian hukum diplomatik pada hakikatnya
merupakan ketentuan/prinsip-prinsip internasional yang mengatur hubungan diplomatik antar
negara yang dilakukan atas dasar prinsip persetujuan bersama secara timbal balik (reciprocity
principle)16.
Secara subtantif, hakikat hukum diplomatik adalah seluruh ketentuan dan
prinsip-prinsip hukum internasional yang khusus mengatur hubungan diplomatik antar negara17 yang
mana kerja sama tersebut diselenggarakan berdasar kesepakatan bersama/kedua belah pihak.
Sebagaimana dikatakan Shaw dalam bukunya bahwa tidak ada kewjiban mengenai hubungan
diplomatik, dan hubungan ini ada karena asas saling menyetujui ( principle of mutual
consent)18 dan asas timbale balik (reciprocity). Jika satu negara tidak ingin masuk kedalam
hubungan diplomatik, secara hukum ia tidak bisa dipaksa melakukannya19.
2. Asas-Asas Hukum Diplomatik
Asas bisa diartikan dasar, manurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)20 yaitu
sesuatu yg menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat, Sedang menurut Sunaryati Hartono,
pengertian asas adalah kebenaran dasar (basic truth) yang memberi arah pada penyusunan
kaidah-kaidah hukum yang lebih konkret sehingga seluruh kaidah yang terdapat pada suatu
13 Prof. Dr. Widodo,
Hukum Diplomatik Pada Era Globalisasi, LBJ,, Surabaya, 2009, h. 11.
14Ibid.
15 Syahmin, Ak., Hukum Diplomatik Dalam Kerangka Analisis, Rajawali Pers, Jakarta, 2008, h. 8.
16Ibid., hlm. 11.
17 Syahmin, Ak.,
Hukum Diplomatik; Suatu Pengantar, Amico, Bandung,1988, h. 14.
18Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, Artikel 2.
19Malcom N. Shaw QC,
Hukum Int….., h. 726.
Page | 6 bidang hukum menjadi kesatuan yang tetap dan utuh21. Asas-asas hukum diplomatik tersebut
merupakan asas-asas yang telah berkembang dizaman Imperium Romawi. Misalnya asas itikad
baik (bonafides), persetujuan antar negara/bangsa harus dihormati (pacta sun servanda), timbal
balik (contractus bilateralis), kesepakatan bersama (mutual consent), berdasar pada prinsip
keadilan (et alquo et bono), hak-hak istimewa (privalegium), asas adanya kesepakatan bersama
(mutual consent), dan kekebalan hukum (immunitet). Menurut Masyur Effendi, setidaknya ada
7 asas hukum diplomatik, yaitu sebgai berikut22;
a. Asas persamaan, persaudaraan, dan perdamaian. Sebagaimana tersirat dalam
pembukaan Konvensi Wina 1961.
b. Asas penghormatan atas perbedaan negara, hal ini tersirat dalam naskah Konvensi
Wina 1961 Alenia II.
c. Asas penghormatan atas wakil-wakil negara karena berdasarkan titik tolak sebagai
kedaulatan negara masing-masing, sebagaimana uraian alenia IV naskah
pembukaan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik.
d. Asas penghormatan terhadap adat dan kebiasaan internasional, sebagaimana
penegasan Pasal 2 Konvensi Wina 1963 tentang Hubungan Konsuler.
e. Asas kehendak bersama, sebagaimana penegasan Pasal 2 Konvensi Wina 1963
tentang Konsuler.
f. Asas tidak dapat diganggu gugat (inviolability) perwakilan-perwakilan
masing-masing negara. Tersirat dalam ketentuan Pasal 22 (1) Konvensi Wina 1961.
g. Asas kepercayaan, sebagaiman diatur dalam Pasal 26 Konvensi Wina 1961 Tahun
1961.
Sedangkan asas-asas yang pernah digunakan oleh Mahkamah Internasional adalah Good
Faith, Estopel, Res Judicata, Circumtancial Evidence, Equality, Pacta Sun Servanda, dan
Effectifities23.
2. Orang Yang Tidak Disukai (Persona Non Grata)
21Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1991,
halaman 6.
22Masyur Effendi, Hukum Diplomatik Internasional: Hubungan Poltik Bebas aktif Asas Hukum Diplomatik
dalam Era Ketergantungan Antar Bangsa, Usaha Nasional, Surabaya, 1993, h. 133.
23 Prof. Dr. Widodo,
Page | 7 Jika suatu negara telah membuat persetujuan kerja sama pembukaan hubungan
diplomatik dengan negara lain atas dasar asas timbal balik (principle of reciprocity) dan asas
saling menyutujui (principle of mutual consent), maka langkah berikutnya oleh kedua negara
tersebut adalah menyusun formasi anggota korps kediplomatikan yang akan ditugaskan di
negara penerima atas dasar asas yang wajar dan pantas (principle of reasonable and
normal)24. Pada dasarnya pengangkatan anggota staf diplomatik oleh negara pengirim pada
umumnya tidak memerlukan persetujuan dari negara penerima, karena negara pengirim secara
bebas mengangkatnya dan cukup hanya memberitahukan kepada Kementerian Luar Negeri
Penerima melalui nota Diplomatik25. Berbeda dengan pengangkatan seorang Duta Besar yang
perlu persetujuan (agreement) dari negara penerima terlebih dahulu.
Pernyataan persona non grata disini dalam hubungan diplomatik menjadi bahan
perdebatan yang panjang dan menarik. Meski ketentuan Artikel 9 Konvensi Wina 1961 telah
mengatur hal ini bahwa negara penerima tidak berkewajiban member keawjiban untuk
menjelaskan penolakannya. Tapi, setiap terjadi pernyataan persona non grata, negara
pengirim meminta penjelasan kepada negara penerima atas penolakan tersebut.
Tindakan persona non grata ini lazimnya dilakukan terhadap diplomat yang terbukti
melakukan kegiatan spionase, melindungi agen-agen rahasia asing dan membiarkan mereka
menggunakan melakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan fasilitas diplomatik,
melindungi orang-orang yang dikenakan hukuman, mencampuri urusan domestik negara
penerima, melakukan penyelundupan, atau membuat pernyataan-pernyataan yang merugikan
negara setempat26.
2.1. Persona Non Grata dalam Perspektif Yuridis
Dalam ketentuan Artikel demi Artikel dalam Konvensi Wina 1961 tentang Diplomatik
yang terdiri dari 53 Artikel tersebut, secara garis besar dapat dikelompokan dalam beberapa
kategori sebagai berikut27;
a. Mengatur ketentuan terkait pribadi diplomat tersebut, baik martabat atau
keselamatan pribadinya.diantaranya yaitu; 1. kebebasan bergerak (Artikel 26),
24Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo,
Hukum Diplomatik; Teori dan Kasus, Alumni, Bandung, 2005. Hlm. 108.
25Ibid., hlm. 108-109. 26 Syahmin, Ak.,
Op.cit., h. 66.
Page | 8 b. Mengatur ketentuan tentang kekebalan fasilitas diplomatik;
c. Mengatur ketentuan mengenai kebebasan alat-alat/fasilitas komunikasi, baik itu
menyangkut kantong/tas/paket diplomatik, penggunaan fasilitas komunikasi.
Diantaranya yaitu; 1. kebebasan komunikasi (Pasal 27)
Sebagaimana rumusan Pasal 4 (1) Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik
yang dinyatakan sebagai berikut;
The sending State must make certain that the agrément of the receiving State
has been given for the person it proposes to accredit as head of the mission to
that State. ( Negara pengirim harus memastikan bahwa persetujuan negara
penerima telah diberikan bagi pengusulan orang tersebut sebagai kepala misi
untuk negara tersebut. - terjemah; penulis).
Melihat kontekstual diatas, ada 3 hal yang ditekankan dalam pengiriman diplomat;
pertama, adanya kepastian persetujuan calon diplomat dari negara penerima; Kedua, negara
penerima dapat sewaktu-waktu menyatakan seorang diplomat dari negara pengirim adalah
persona non grata, bahkan sebelum diplomat tersebut sampai di negara akreditasi28; ketiga,
negara penerima (The Receiving State) tidak berkewajiban memberi alasan penolakan
persetujuan kepada negara pengirim (Artikel 4 Ayat 2). Disamping itu, dalam Artikel 9
ditegaskan lagi Ayat 1;
The receiving Sta te may at any time and without having to explain its
decision, notify the sending State that the head of the mission or any member
of the diplomatic staff of the mission is persona non grata or that any other
member of the staff of the mission is not acceptable. In any such case, the
sending State shall, as appropriate, either recall the person concerned or
terminate his functions with the mission. A person may be declared non grata
or not acceptable before arriving in the territory of the receiving State.
(Negara penerima dapat sewaktu-waktu dan tanpa harus menjelaskan
keputusannya, memberitahukan negara pengirim bahwa kepala misi atau
anggota staf diplomatik dari misi adalah orang tidak disukai atau adanya salah
satu anggota dari staf misi tidak dapat diterima. Dalam tiap kasus tersebut,
Negara pengirim, seyogyanya, baik menimbang orang tersebut atau
28 Syahmin, Ak.,
Page | 9 membatalkan tugasnya dari misi tersebut. Seseorang dapat dinyatakan tidak
disukai atau tidak dapat diterima sebelum tiba di wila yah Negara penerima.-
terjemah; penulis).
Ayat 2;
If the sending State refuses or fails within a reasonable period to carry out its
obligations under paragraph 1 of this article, the receiving State may refuse
to recognize the person concerned as a member of the mission. (Jika negara
pengirim menolak atau gagal dalam jangka waktu yang wajar untuk
melaksanakan kewajibannya berdasarkan ayat 1 pasal ini, negara penerima
dapat menolak untuk mengakui orang bersangkutan sebagai anggota misi
tersebut.- penerjemah; penulis).
Menyimak ketentuan diatas, ada beberapa poin pemahaman yang dapat ditarik yaitu; a).
seorang calon diplomat harus mendapatkan persetujuan negara akreditasi, b) kewajiban segera
bagi negara pengirim untuk menarik diplomat tersebut pulang atau membatalkan tugas
tersebut (melepaskan kekebalanya dan keistimewaannya) dalam batas waktu kewajaran.
2.2. Fakta Empiris Yang Melatarbelakangi Pernyataan Persona Non Grata Oleh Negara Penerima dalam Praktek Hubungan Bilateral
Disamping kajian secara yuridis, tentunya kita tak bisa menutup mata pada fakta
empirik yang melatarbelakangi pernyataan persona non grata negara penerima terhadap
agen diplomat asing agar kita bisa mendapat pemahaman komparatif-diametrikal
mengenai ketentuan yuridis (das sollen) dan fakta empiris (das sein).
Menurut analisa penulis, ada dua faktor yang melatar belakanginya; pertama,
murni ketidaksukaan terhadap duta besar tersebut. Ini sebagaimana yang terjadi ketika
pemerintah Australia menolak agreement calon Dubes Indonesia, yaitu Letjen H.B.L
Mantiri. Kedua, kondisi faktor politis yang melingkupi hubungan dua negara tersebut.
Contoh kasus ini adalah penolakan bersifat politis terhadap Toto Riyanto oleh pemerintah
Brasil terkait eksekusi mati warga negaranya oleh pemerintah Indonesia. Sikap
ketidaksukaan pemerintah Brasil tersebut bukan kepada pribadi calon Duta Besar yang
Page | 10 terhadap kebijakan hukum Indonesia terkait pelaksaan eksekusi hukuman mati yang
mana 2 warga negara Brasil menjadi terhukum.
BAB III Penutup
1. Kesimpulan
Aturan hukum internasional harus dibedakan dengan dari apa yang disebut sebagai tata
krama (comity) internasional, karena ketentuan kesopanan tidak memiliki sifat mengikat.
Sedang hukum internasional bersifat legal, baik dari sudut isi maupun bentuk. Sementara
konsep moralitas internasional cabang dari etika. Meskipun dalam segi-segi tertentu memiliki
nilai-nilai kesamaan dan tidak berarti bahwa hukum internasional dapat dipisahkan darinya29.
Meski menyakitkan, perlakuan Tidak Etis Pemerintah Brasil Kepada Duta Besar
Indonesia secara legal tak menyalahi ketentuan Konvensi Wina 1961 dan tentu saja sikap
yang harus diambil masing-masing pemerintah bukanlah langkah hukum, melainkan
pertimbangan kebijakan matang terkait kepentingan ekonomi dan aliansi politis sebagai dua
negara berkembang dalam forum internasional, dan kepentingan-kepentingan lainnya.
29 Lihat Shaw,
Page | 11 DAFTRA PUSTAKA
1. Konvensi Wina Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.
2. Konvensi Wina Tahun 1963 tentang Hubungan Konsuler
3. Malcom Shaw QC, Hukum Internasional (edisi terjemah),Nusa Media, Bandung, 2013.
4. Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo, Hukum Diplomatik; Teori dan Prektek, Alumni, Bandung, cet-2, 2005.
5. Setyo Widagdo, Hukum Diplomatik dan Konsuler, Banyumedia Publishing, Malang, 2008.
6. Prof. Dr. Widodo, Hukum Diplomatik dan Konsuler Pada Era Globalisasi, LaksBang Justitia, Surabaya, 2009.