• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN CREDE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISA YURIDIS TERHADAP PENOLAKAN CREDE"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

Page | 1

!" #$%

BAB I Pendahuluan

1. Latar Belakang

Akibat globalisasi dewasa ini, banyak negara-negara yang tak bisa mengelak dari

pergaulan internasional, tak terkecuali mobilisasi masyarakat dunia yang tak mengenal batas

yuridiksi. Disatu sisi, setiap negara berusaha melindungi kepentingan nasionalnya meski harus

merampas hak bangsa/negara lain dengan bungkus legitimasi hukum internasional, baik itu hak

berdaulat, menentukan nasib sendiri atau terlebih menyangkut masalah ekonomi.

Abad ke-19, dengan filsafatnya yang berorientasi bisnis, menekankan pentingnya kontrak

sebagai dasar hukum bagi perjanjian (teori perstujuan/theory of consent) yang bisa mengikat

negara-negara merdeka. Disatu sisi, tidak ada kewajiban negara-bangsa untuk melakukan/tidak

melakukan persetujuan/kontrak, dan karenanya, mereka hanya bisa diikat oleh persetujuan

mereka sendiri1. Tidak ada otoritas yang secara teoritis atau praktis mampu membuat aturan

(hukum) yang berlaku efeketif bagi negara-bangsa secara koheren dan komperhensif dalam

pergaulan di era globalisasi. Disisi lain, pengaruh hukum alam yang dikembangkan Stoa yang

mempengaruhi hukum internasional diawal perkembangannya masih mengakar kuat dan

berpengaruh hingga sekarang memberi legitimasi meta-yuridis. Sebuah aliran hukum yang

mendasarkan pada daya deduksi akal pikiran manusia sebagai ikhtiar penemuan hukum. Oleh

karena bertitik tolak dari nalar manusia maka memiliki relevansi universal2 melintasi batas-batas

yuridiksi.

Mengkaji penundaan presiden Dilma menerima Credential Letter Dubes Indonesia tentu

kurang afdhol tanpa melihat latar belakang dan suasana politik masing-masing negara.

Ketegangan diplomatik antara Indonesia dan Brasil tak bisa lepas dari motif politik yang

diemban masing-masing pemimpin negara tersebut dalam mengangkat ‘komoditas politik’

1 Malcom N. Shaw QC, Hukum Internasional, penerjemah; Derta Sri Widowatie, Imam Baihaqi, dan

M.Khozin,Nusa Media, Bandung, 2013, h. 7.

2

(2)

Page | 2 kontra hukum mati yang dibungkus dengan retorika hukum tentang cara bagaimana

mengetengahkan sudut pandang konsepsi hukuman mati menurut hukum internasional

sebagaimana yang diagendakan pemerintah brasil3, dan disisi lain, ‘berbenturan’ dengan konsep

kedaulatan dan konsep theory of consent yang diretorikakan oleh pemerintah Indonesia4.

1.1. Ketegangan Hubungan Bilateral Indonesia-Brasil

Beberapa waktu lalu, hubungan bilateral Indonesia dan Brasil yang telah lama dan

saling menguntungkan tersebut memanas karena ‘intervensi’ Pemerintah Brasil terhadap

law enforcement hukum Indonesia.

Sebelumnya, pihak Brasil juga telah memprotes keras eksekusi mati terpidana

mati terpidana narkoba dari Brasil, Marco Archer Cardoso Moreira (53 Tahun)5yang

terdaftar dalam gelombang pertama6 eksekusi mati pada 18 Januari 2015 silam terkait

kejahatan narkoba dibawah rezim pemerintahan Presiden Joko Widodo. Bahkan,

pemerintah Brasil merespon terhadap kebijakan hukum yang diambil oleh pemerintah

Indonesia dengan menarik pulang Duta Besarnya, Paulo Alberto da Siveira Soares7

sebagai bentuk protes terhadap kebijakan hukum Indonesia. Presiden Dilma Rousseff

beranggapan hukuman mati menyalahi aturan Amnesti Internasional, dan tidak

sepantasnya hukuman mati dijadikan sebuah hukuman disebuah negara yang menjunjung

tinggi Hak Asasi Manusia.

1.2. Penolakan Toto Riyanto sebagai Duta Besar Indonesia oleh Pemerintah Brazil

Penolakan Toto Riyanto sebagai Duta Besar Indonesia untuk Brasil oleh Presiden

Dilma Rousseff terjadi sesaat menjelang penyerahan Credential Letter di Istana

Kepresidenan Brasil (Palacio do Planalto) pada 20 Februari 2015 pukul 09.00 pagi

5Marco Archer Cardoso Moreira ditangkap pada 2003 lalu setelah polisi di bandara Cengkareng

menenemukan 13,4 kg kokain yang disembunyikan di dalam peralatan olahraga.

6 Selain Marco Archer Cardoso Moreira, dalam gelombang pertama pelaksanaan eksekusi oleh Kejagung

ada lima terpidana lain, yaitu; Namaona Denis ( Malawi), Daniel Enemuo alias Diarrassouba Mamadou (Nigeria), Ang Kiem Soei alias Kim Ho alias Ance Tahir alias Tommi Wijaya (Belanda), dan Rani Adriani alias Melisa Aprilia (indonesia).

7Lihat http://demo.analisadaily.com/terkini/news/menlu-brasil-resmi-tarik-dubes-belanda-belum/99707

(3)

Page | 3 waktu setempat8 telah memantik ketegangan dua negara yang telah menjalin kerjasama

sejak 55 tahun silam. Sebagai Duta Besar, Toto Riyanto merupakan representasi atas

nama Bangsa Indonesia dengan membawa Credential Letter yang dibawa oleh Dubes

Toto Riyanto dengan menyandang tanda tangan langsung oleh Presiden Indonesia yang

merupakan representasi Bangsa Indonesia yang berdaulat. Sebagaimana penuturan Toto

Riyanto9, latar belakang belakang penolakan tersebut diprediksi kuat karena akumulasi

‘sakit hati’ pemerintah Brasil terkait putusan Presiden Jokowi menolak permohonan grasi

yang dilakukan oleh Dilma Roussef bagi warga negaranya yang akan menjalani vonis

hukuman mati10 terkait kasus kepemilikan psikotropika, yaitu Rodrigo Gularte.

Presiden Dilma Ro usseff berdalih penyerahan surat kepercayaan dari Presiden

Indonesia tersebut akan ditinjau dan diputuskan lebih lanjut menunggu perkembangan

nasib warga negaranya yang akan dieksekusi mati di Indonesia. Perlakuan pemerintah

Brasil ini memicu ketersinggungan Pemerintah Indonesia.

Terkait dengan insiden itu, Presiden Jokowi pun telah bertindak tegas dengan

memanggil pulang Duta Besar Toto Riyanto melalui kanal Kementrian Luar Negeri

Indonesia dibawah Menlu Retno Marsudi. Lebih jauh lagi, tindakan ini telah ditindak

lanjuti oleh Kemenlu dengan pengiriman nota protes diplomatik keras kepada pemerintah

Brasil11. Tak cukup sampai disitu, Legislatif pun membuka wacana untuk mengkaji ulang

pembelian alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari Brasil sebagai bentuk protes

terhadap pemerintah Brasil12.

3. Rumusan Masalah

Dari uraian singkat diatas serta agar subtansi topik yang dibahas dalam penyusunan

makalah ini tidak melebar/bias, maka dirumuskanlah batasan kajian sebagai berikut;

8 Antaranews.com

http://www.antaranews.com/berita/481892/soal-penarikan-duta-besar-indonesia-untuk-brasil, diakses tanggal 17 April 2015.

9 OkeZone.com,

http://news.okezone.com/read/2015/02/23/18/1109537/kronologis-penolakan-dubes-ri-di-istana-presiden-brasil, diakses anggal 17 April 2015.

10 Analisadaily.com

http://demo.analisadaily.com/terkini/news/menlu-brasil-resmi-tarik-dubes-belanda-belum,/99707/2015/01/18. diakses tanggal 17 April 2015.

11Republika Online.com

http://republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/24/nk98af-dubes-toto-riyanto-ceritakan-kronologi-penolakan-brasil, diakses anggal 17 April 2015.

12Lihat

(4)

Page | 4 1. Bagaimanakah ketentuan Konvensi Wina 1961 tentang Diplomat menyangkut

perihal penolakan seorang duta besar (persona non grata) oleh negara penerima ?

2. Apakah secara empiris yang melatarbelakangi penolakan seorang diplomat negara

pengirim oleh negara penerima sudah sesuai ketentuan yuridis ?

4. Metode Penulisan

Pendekatan yang dipakai dalam penyusunan makalah ini adalah yuridis normative dan

Sosio-Empiris. Yuridis-Normatif dalam arti yang menjadi alat analisa adalah

ketentuan-ketentuan legal hukum dan teori hukum doktrinal oleh para pakar yang telah diakui

keilmuanya oleh para pakar hokum saat ini. Sedangkan Sosio-Yuridis adalah

Metode yang dikembangkan dalam pengkajian data dalam penulisan makalah ini

menggunakan cara deduktif. Dalam arti, cara memahami permasalahan yang ada dengan cara

mengkaji data-data yang didapat agar memperoleh pemahaman dan kesimpulan yang obyektif

dan komperhensif.

5. Tujuan Penulisan

Meski dalam hubungan interpendensi ini sudah ada instrument-instrumen internasional

hukum yang telah mengatur tentang tata cara hubungan antar negara, tapi dalam prakteknya,

kaidah-kaidah yang telah ditetapkan bersama tersebut kadang tidak mampu mengawal

aktifitas lalu-lintas hubungan negara karena tidak adanya organ yudikatif dalam struktur

hukum internasional. Bahkan seringkali hukum-hukum yang telah disepakati tersebut kalah

oleh kepentingan negara-negara kuat dalam implementasinya.

Bab II Pembahasan

1. Pengertian dan Ruang Lingkup Hukum Diplomatik

Pada dasarnya, Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik merupakan dasar

(5)

Page | 5 Konvensi pada hakikatnya merupakan perjanjian internasional yang melibatkan banyak negara

sebagai pihak, oleh karena itu konvensi memiliki karakter multilateral. Selain itu, konvensi

juga bisa dilakukan oleh dua negara saja sebagai pihak dalam perjanjian yang lazim dikenal

kerja sama bilateral.

Hukum diplomatik merupakan bagian dari hukum internasional, karena keberlakuannya

yang melintasi batas yuridiksi nasional13. Sedangkan Eileen Denza mengemukakan bahwa

hukum diplomatik adalah berbagai komentar atas Konvensi Wina yang menyangkut hubungan

diplomatik14. Sedangkan Jan Osmanczyk mengatakan hukum diplomatik merupakan cabang

dari hukum kebiasaan internasional yang terdiri dari seperangkat aturan-aturan dan

norma-norma hukum yang menetapkan kedudukan dan fungsi para diplomat, termasuk bentuk-bentuk

organisasional dan dinas diplomatik15. Pengertian hukum diplomatik pada hakikatnya

merupakan ketentuan/prinsip-prinsip internasional yang mengatur hubungan diplomatik antar

negara yang dilakukan atas dasar prinsip persetujuan bersama secara timbal balik (reciprocity

principle)16.

Secara subtantif, hakikat hukum diplomatik adalah seluruh ketentuan dan

prinsip-prinsip hukum internasional yang khusus mengatur hubungan diplomatik antar negara17 yang

mana kerja sama tersebut diselenggarakan berdasar kesepakatan bersama/kedua belah pihak.

Sebagaimana dikatakan Shaw dalam bukunya bahwa tidak ada kewjiban mengenai hubungan

diplomatik, dan hubungan ini ada karena asas saling menyetujui ( principle of mutual

consent)18 dan asas timbale balik (reciprocity). Jika satu negara tidak ingin masuk kedalam

hubungan diplomatik, secara hukum ia tidak bisa dipaksa melakukannya19.

2. Asas-Asas Hukum Diplomatik

Asas bisa diartikan dasar, manurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)20 yaitu

sesuatu yg menjadi tumpuan berpikir atau berpendapat, Sedang menurut Sunaryati Hartono,

pengertian asas adalah kebenaran dasar (basic truth) yang memberi arah pada penyusunan

kaidah-kaidah hukum yang lebih konkret sehingga seluruh kaidah yang terdapat pada suatu

13 Prof. Dr. Widodo,

Hukum Diplomatik Pada Era Globalisasi, LBJ,, Surabaya, 2009, h. 11.

14Ibid.

15 Syahmin, Ak., Hukum Diplomatik Dalam Kerangka Analisis, Rajawali Pers, Jakarta, 2008, h. 8.

16Ibid., hlm. 11.

17 Syahmin, Ak.,

Hukum Diplomatik; Suatu Pengantar, Amico, Bandung,1988, h. 14.

18Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, Artikel 2.

19Malcom N. Shaw QC,

Hukum Int….., h. 726.

(6)

Page | 6 bidang hukum menjadi kesatuan yang tetap dan utuh21. Asas-asas hukum diplomatik tersebut

merupakan asas-asas yang telah berkembang dizaman Imperium Romawi. Misalnya asas itikad

baik (bonafides), persetujuan antar negara/bangsa harus dihormati (pacta sun servanda), timbal

balik (contractus bilateralis), kesepakatan bersama (mutual consent), berdasar pada prinsip

keadilan (et alquo et bono), hak-hak istimewa (privalegium), asas adanya kesepakatan bersama

(mutual consent), dan kekebalan hukum (immunitet). Menurut Masyur Effendi, setidaknya ada

7 asas hukum diplomatik, yaitu sebgai berikut22;

a. Asas persamaan, persaudaraan, dan perdamaian. Sebagaimana tersirat dalam

pembukaan Konvensi Wina 1961.

b. Asas penghormatan atas perbedaan negara, hal ini tersirat dalam naskah Konvensi

Wina 1961 Alenia II.

c. Asas penghormatan atas wakil-wakil negara karena berdasarkan titik tolak sebagai

kedaulatan negara masing-masing, sebagaimana uraian alenia IV naskah

pembukaan Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik.

d. Asas penghormatan terhadap adat dan kebiasaan internasional, sebagaimana

penegasan Pasal 2 Konvensi Wina 1963 tentang Hubungan Konsuler.

e. Asas kehendak bersama, sebagaimana penegasan Pasal 2 Konvensi Wina 1963

tentang Konsuler.

f. Asas tidak dapat diganggu gugat (inviolability) perwakilan-perwakilan

masing-masing negara. Tersirat dalam ketentuan Pasal 22 (1) Konvensi Wina 1961.

g. Asas kepercayaan, sebagaiman diatur dalam Pasal 26 Konvensi Wina 1961 Tahun

1961.

Sedangkan asas-asas yang pernah digunakan oleh Mahkamah Internasional adalah Good

Faith, Estopel, Res Judicata, Circumtancial Evidence, Equality, Pacta Sun Servanda, dan

Effectifities23.

2. Orang Yang Tidak Disukai (Persona Non Grata)

21Sunaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni, Bandung, 1991,

halaman 6.

22Masyur Effendi, Hukum Diplomatik Internasional: Hubungan Poltik Bebas aktif Asas Hukum Diplomatik

dalam Era Ketergantungan Antar Bangsa, Usaha Nasional, Surabaya, 1993, h. 133.

23 Prof. Dr. Widodo,

(7)

Page | 7 Jika suatu negara telah membuat persetujuan kerja sama pembukaan hubungan

diplomatik dengan negara lain atas dasar asas timbal balik (principle of reciprocity) dan asas

saling menyutujui (principle of mutual consent), maka langkah berikutnya oleh kedua negara

tersebut adalah menyusun formasi anggota korps kediplomatikan yang akan ditugaskan di

negara penerima atas dasar asas yang wajar dan pantas (principle of reasonable and

normal)24. Pada dasarnya pengangkatan anggota staf diplomatik oleh negara pengirim pada

umumnya tidak memerlukan persetujuan dari negara penerima, karena negara pengirim secara

bebas mengangkatnya dan cukup hanya memberitahukan kepada Kementerian Luar Negeri

Penerima melalui nota Diplomatik25. Berbeda dengan pengangkatan seorang Duta Besar yang

perlu persetujuan (agreement) dari negara penerima terlebih dahulu.

Pernyataan persona non grata disini dalam hubungan diplomatik menjadi bahan

perdebatan yang panjang dan menarik. Meski ketentuan Artikel 9 Konvensi Wina 1961 telah

mengatur hal ini bahwa negara penerima tidak berkewajiban member keawjiban untuk

menjelaskan penolakannya. Tapi, setiap terjadi pernyataan persona non grata, negara

pengirim meminta penjelasan kepada negara penerima atas penolakan tersebut.

Tindakan persona non grata ini lazimnya dilakukan terhadap diplomat yang terbukti

melakukan kegiatan spionase, melindungi agen-agen rahasia asing dan membiarkan mereka

menggunakan melakukan kegiatan-kegiatan dengan menggunakan fasilitas diplomatik,

melindungi orang-orang yang dikenakan hukuman, mencampuri urusan domestik negara

penerima, melakukan penyelundupan, atau membuat pernyataan-pernyataan yang merugikan

negara setempat26.

2.1. Persona Non Grata dalam Perspektif Yuridis

Dalam ketentuan Artikel demi Artikel dalam Konvensi Wina 1961 tentang Diplomatik

yang terdiri dari 53 Artikel tersebut, secara garis besar dapat dikelompokan dalam beberapa

kategori sebagai berikut27;

a. Mengatur ketentuan terkait pribadi diplomat tersebut, baik martabat atau

keselamatan pribadinya.diantaranya yaitu; 1. kebebasan bergerak (Artikel 26),

24Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo,

Hukum Diplomatik; Teori dan Kasus, Alumni, Bandung, 2005. Hlm. 108.

25Ibid., hlm. 108-109. 26 Syahmin, Ak.,

Op.cit., h. 66.

(8)

Page | 8 b. Mengatur ketentuan tentang kekebalan fasilitas diplomatik;

c. Mengatur ketentuan mengenai kebebasan alat-alat/fasilitas komunikasi, baik itu

menyangkut kantong/tas/paket diplomatik, penggunaan fasilitas komunikasi.

Diantaranya yaitu; 1. kebebasan komunikasi (Pasal 27)

Sebagaimana rumusan Pasal 4 (1) Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik

yang dinyatakan sebagai berikut;

The sending State must make certain that the agrément of the receiving State

has been given for the person it proposes to accredit as head of the mission to

that State. ( Negara pengirim harus memastikan bahwa persetujuan negara

penerima telah diberikan bagi pengusulan orang tersebut sebagai kepala misi

untuk negara tersebut. - terjemah; penulis).

Melihat kontekstual diatas, ada 3 hal yang ditekankan dalam pengiriman diplomat;

pertama, adanya kepastian persetujuan calon diplomat dari negara penerima; Kedua, negara

penerima dapat sewaktu-waktu menyatakan seorang diplomat dari negara pengirim adalah

persona non grata, bahkan sebelum diplomat tersebut sampai di negara akreditasi28; ketiga,

negara penerima (The Receiving State) tidak berkewajiban memberi alasan penolakan

persetujuan kepada negara pengirim (Artikel 4 Ayat 2). Disamping itu, dalam Artikel 9

ditegaskan lagi Ayat 1;

The receiving Sta te may at any time and without having to explain its

decision, notify the sending State that the head of the mission or any member

of the diplomatic staff of the mission is persona non grata or that any other

member of the staff of the mission is not acceptable. In any such case, the

sending State shall, as appropriate, either recall the person concerned or

terminate his functions with the mission. A person may be declared non grata

or not acceptable before arriving in the territory of the receiving State.

(Negara penerima dapat sewaktu-waktu dan tanpa harus menjelaskan

keputusannya, memberitahukan negara pengirim bahwa kepala misi atau

anggota staf diplomatik dari misi adalah orang tidak disukai atau adanya salah

satu anggota dari staf misi tidak dapat diterima. Dalam tiap kasus tersebut,

Negara pengirim, seyogyanya, baik menimbang orang tersebut atau

28 Syahmin, Ak.,

(9)

Page | 9 membatalkan tugasnya dari misi tersebut. Seseorang dapat dinyatakan tidak

disukai atau tidak dapat diterima sebelum tiba di wila yah Negara penerima.-

terjemah; penulis).

Ayat 2;

If the sending State refuses or fails within a reasonable period to carry out its

obligations under paragraph 1 of this article, the receiving State may refuse

to recognize the person concerned as a member of the mission. (Jika negara

pengirim menolak atau gagal dalam jangka waktu yang wajar untuk

melaksanakan kewajibannya berdasarkan ayat 1 pasal ini, negara penerima

dapat menolak untuk mengakui orang bersangkutan sebagai anggota misi

tersebut.- penerjemah; penulis).

Menyimak ketentuan diatas, ada beberapa poin pemahaman yang dapat ditarik yaitu; a).

seorang calon diplomat harus mendapatkan persetujuan negara akreditasi, b) kewajiban segera

bagi negara pengirim untuk menarik diplomat tersebut pulang atau membatalkan tugas

tersebut (melepaskan kekebalanya dan keistimewaannya) dalam batas waktu kewajaran.

2.2. Fakta Empiris Yang Melatarbelakangi Pernyataan Persona Non Grata Oleh Negara Penerima dalam Praktek Hubungan Bilateral

Disamping kajian secara yuridis, tentunya kita tak bisa menutup mata pada fakta

empirik yang melatarbelakangi pernyataan persona non grata negara penerima terhadap

agen diplomat asing agar kita bisa mendapat pemahaman komparatif-diametrikal

mengenai ketentuan yuridis (das sollen) dan fakta empiris (das sein).

Menurut analisa penulis, ada dua faktor yang melatar belakanginya; pertama,

murni ketidaksukaan terhadap duta besar tersebut. Ini sebagaimana yang terjadi ketika

pemerintah Australia menolak agreement calon Dubes Indonesia, yaitu Letjen H.B.L

Mantiri. Kedua, kondisi faktor politis yang melingkupi hubungan dua negara tersebut.

Contoh kasus ini adalah penolakan bersifat politis terhadap Toto Riyanto oleh pemerintah

Brasil terkait eksekusi mati warga negaranya oleh pemerintah Indonesia. Sikap

ketidaksukaan pemerintah Brasil tersebut bukan kepada pribadi calon Duta Besar yang

(10)

Page | 10 terhadap kebijakan hukum Indonesia terkait pelaksaan eksekusi hukuman mati yang

mana 2 warga negara Brasil menjadi terhukum.

BAB III Penutup

1. Kesimpulan

Aturan hukum internasional harus dibedakan dengan dari apa yang disebut sebagai tata

krama (comity) internasional, karena ketentuan kesopanan tidak memiliki sifat mengikat.

Sedang hukum internasional bersifat legal, baik dari sudut isi maupun bentuk. Sementara

konsep moralitas internasional cabang dari etika. Meskipun dalam segi-segi tertentu memiliki

nilai-nilai kesamaan dan tidak berarti bahwa hukum internasional dapat dipisahkan darinya29.

Meski menyakitkan, perlakuan Tidak Etis Pemerintah Brasil Kepada Duta Besar

Indonesia secara legal tak menyalahi ketentuan Konvensi Wina 1961 dan tentu saja sikap

yang harus diambil masing-masing pemerintah bukanlah langkah hukum, melainkan

pertimbangan kebijakan matang terkait kepentingan ekonomi dan aliansi politis sebagai dua

negara berkembang dalam forum internasional, dan kepentingan-kepentingan lainnya.

29 Lihat Shaw,

(11)

Page | 11 DAFTRA PUSTAKA

1. Konvensi Wina Tahun 1961 tentang Hubungan Diplomatik.

2. Konvensi Wina Tahun 1963 tentang Hubungan Konsuler

3. Malcom Shaw QC, Hukum Internasional (edisi terjemah),Nusa Media, Bandung, 2013.

4. Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo, Hukum Diplomatik; Teori dan Prektek, Alumni, Bandung, cet-2, 2005.

5. Setyo Widagdo, Hukum Diplomatik dan Konsuler, Banyumedia Publishing, Malang, 2008.

6. Prof. Dr. Widodo, Hukum Diplomatik dan Konsuler Pada Era Globalisasi, LaksBang Justitia, Surabaya, 2009.

Referensi

Dokumen terkait

Jika ternyata dalam prakteknya korporasi tersebut lalai dengan tidak mengindahkan kewajiban yang telah ditetapkan dalam hukum positif, maka hakim dapat menjatuhkan sanksi

Selanjutnya dalam ayat (2), ketentuan mengenai tukar-menukar informasi antar bank diatur lebih lanjut oleh Bank Indonesia. Selanjutnya Bank Indonesia telah mengatur ketentuan

Paranata sosial merupakan prosedur atau tata cara yang telah diciptakan untuk mengatur  hubungan antar manusia yang tergabung dalam suatu kelompok masyarakat yang

Pada prakteknya pembayaran tidak dapat dilakukan sesuai dengan isi Pasal ini dikarenakan nota pembayaran (invoice) yang telah dicetak di kirim kepada perusahaan pengguna jasa

Pengeluaran Barang ke dan dari Kawasan yang telah Ditetapkan Sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dan Pembebasan Cukai, perlu mengatur kembali ketentuan mengenai

Pada pertengahan 1980-an, pakta Andes telah semua tapi runtuh dan telah gagal untuk mencapai salah satu tujuan yang ditetapkan. Tidak ada perdagangan bebas tarif antar negara

Page mengartikan lembaga kemasyarakatan sebagai tata cara atau prosedur yang telah diciptakan untuk mengatur hubungan antar manusia yang berkelompok dalam kelompok kemasyarakatan

Tata Gratis, Kata Kunci : Bantuan Hukum, Tindak Pidana, Komunitas Tidak Mampu PENDAHULUAN Yang mempunyai norma – norma serta peraturan – peraturan hukum yang telah dibuat oleh para