• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN TEMATIK, KONTEKSTUAL (CTL) DAN PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM DI SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "PEMBELAJARAN TEMATIK, KONTEKSTUAL (CTL) DAN PEMBELAJARAN DI LABORATORIUM DI SEKOLAH DASAR"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

I. Menguraikan Konsep Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran terpadu yang menggunakan pendekatan tematik sebagai pengikat bahan dan kegiatan pembelajaran. Berawal dari pemilihan tema, kemudian dikembangkan menjadi subtema, memperhatikan keterkaitan antar mata pelajaran. Tema tersebut menjadi pusat perhatian (center of interest) untuk memahami berbagai gejala dan konsep, baik dari mata pelajaran terkait maupun lintas mata pelajaran. Pembelajaran tematik menghubungkan berbagai mata pelajaran dengan dunia nyata, mengembangkan pengetahuan dan keterampilan anak secara simultan, dan menggabungkan konsep dari beberapa mata pelajaran yang berbeda untuk pembelajaran yang lebih bermakna dan efektif. Fokusnya terletak pada proses yang ditempuh siswa dalam memahami isi pembelajaran dan mengembangkan kompetensi.

1.1 Karakteristik Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student-centered), memberikan pengalaman langsung (direct experiences), dan meniadakan pemisahan antar mata pelajaran yang tegas, terutama di kelas awal SD. Konsep dari berbagai mata pelajaran disajikan secara utuh untuk membantu siswa memecahkan masalah sehari-hari. Pembelajaran ini fleksibel, dapat disesuaikan dengan minat dan kebutuhan siswa. Kendala meliputi kurikulum yang masih terpisah-pisah antar mata pelajaran, kebutuhan sarana dan prasarana yang memadai, dan sifat konservatif sebagian guru yang terbiasa dengan metode konvensional.

1.2 Landasan Pembelajaran Tematik

Pembelajaran tematik dilandasi oleh tiga aliran filsafat: progresivisme (menekankan kreativitas, kegiatan, suasana alamiah, dan pengalaman siswa; problem solving dan metakognisi), konstruktivisme (pengetahuan sebagai konstruksi manusia melalui interaksi; pengetahuan tidak ditransfer, tetapi diinterpretasi dan dikonstruksi sendiri oleh siswa), dan humanisme (memperhatikan keunikan, potensi, dan motivasi siswa; layanan pembelajaran individual dan klasikal). Selain itu, landasan psikologis menekankan bahwa siswa membangun realitas sendiri, mampu mencari pola dan hubungan, merupakan individu berkembang, dan melihat dunia secara holistik. Landasan praktis memperhatikan perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat, keterkaitan antar mata pelajaran, masalah lintas disiplin ilmu, dan penyempitan kesenjangan teori-praktik.

1.3 Prinsip-prinsip Pembelajaran Tematik

Prinsip penggalian tema meliputi: tema tidak terlalu luas, bermakna, sesuai perkembangan siswa, menarik minat siswa, peristiwa otentik, sesuai kurikulum dan harapan masyarakat, dan ketersediaan sumber belajar. Prinsip pelaksanaan pembelajaran meliputi: guru tidak otoriter, tanggung jawab individu dan kelompok jelas, akomodatif terhadap ide siswa, kesempatan penilaian diri (self-evaluation), dan penilaian berdasarkan kriteria keberhasilan. Perencanaan pembelajaran tematik bisa dimulai dengan tema atau kompetensi dasar, memperhatikan keterkaitan antar mata pelajaran, dan mengembangkan silabus serta rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang terpadu.

1.4 Merancang Pembelajaran Tematik

Merancang pembelajaran tematik melibatkan identifikasi kompetensi dasar dan indikator dari mata pelajaran yang akan dipadukan. Dua cara perancangan: (1) dimulai dari tema, lalu identifikasi kompetensi dasar yang relevan (kelas awal SD); (2) dimulai dari kompetensi dasar yang berhubungan, lalu tentukan tema pemersatu (kelas atas SD). Langkah-langkah perencanaan meliputi: penetapan mata pelajaran, mempelajari kompetensi dasar dan indikator, pemilihan tema, menghubungkan kompetensi dasar dengan tema, penyusunan silabus, dan penyusunan RPP. Contoh bagan alur dan matriks keterkaitan kompetensi dasar dan tema disertakan untuk memperjelas proses perencanaan.

II. Menjelaskan Konsep Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Pembelajaran Kontekstual (CTL) menekankan keterlibatan penuh siswa dalam menemukan materi dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata. Inti CTL adalah keterkaitan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata, yang dapat dilakukan melalui berbagai cara, termasuk ilustrasi, contoh, sumber belajar, dan media yang relevan dengan pengalaman hidup siswa. Pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna karena siswa merasakan manfaat langsung dari apa yang dipelajari. CTL membantu guru mengaitkan materi dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa menghubungkan pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengajar bukan sekadar transfer pengetahuan, tetapi lebih menekankan pada kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan dalam konteks nyata.

2.1 Prinsip-prinsip Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Meskipun teks tidak secara eksplisit mencantumkan prinsip-prinsip CTL secara terpisah dari konsep utamanya, namun implikasi dari uraian tentang pembelajaran kontekstual mengarah pada beberapa prinsip inti. Prinsip-prinsip ini meliputi: keterlibatan siswa aktif, relevansi dengan kehidupan nyata, penggunaan berbagai sumber belajar dan media yang autentik, penekanan pada pemahaman dan aplikasi, penilaian yang holistik dan berkelanjutan, serta penciptaan lingkungan belajar yang mendukung konstruksi pengetahuan. Dengan kata lain, CTL bukan sekadar metode, tetapi juga sebuah filosofi pendidikan yang menekankan pada pembelajaran yang bermakna dan aplikatif.

2.2 Penerapan CTL dalam Pembelajaran

Teks memberikan contoh perbandingan antara dua pendekatan pengajaran tentang konsep jual beli. Contoh pertama menggunakan metode ceramah, sementara contoh kedua menggunakan simulasi jual beli dengan uang asli dan barang-barang di kelas. Contoh kedua lebih efektif karena melibatkan siswa secara aktif dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna. Penerapan CTL membutuhkan kesiapan guru dalam merancang pembelajaran yang relevan dengan kehidupan siswa, serta memanfaatkan berbagai sumber belajar dan strategi pembelajaran aktif seperti bermain peran, studi kasus, proyek, dan investigasi. Pentingnya penguasaan konsep teoritis sebelum aplikasi praktis juga ditekankan.

III. Memahami Asas dalam Model Pembelajaran Kontekstual

Asas dalam model pembelajaran kontekstual berfokus pada bagaimana menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan nyata siswa. Ini menekankan pada pentingnya belajar melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui teori abstrak. Siswa diajak aktif terlibat dalam proses belajar, menghubungkan pengetahuan yang didapat dengan penerapan praktisnya, dan menggunakan berbagai sumber belajar yang relevan. Asas ini menuntut guru untuk mampu merancang pembelajaran yang menarik dan relevan bagi siswa, serta memfasilitasi siswa untuk belajar secara aktif dan kolaboratif. Keberhasilan pembelajaran kontekstual tergantung pada bagaimana guru mampu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung, dan bagaimana guru mampu membimbing siswa dalam proses menemukan dan mengaplikasikan pengetahuan.

IV. Memahami Karakteristik Model Pembelajaran Kontekstual

Karakteristik pembelajaran kontekstual mencakup beberapa hal penting. Pertama, pembelajaran berpusat pada siswa (student-centered). Guru bertindak sebagai fasilitator, bukan sebagai sumber informasi utama. Kedua, pembelajaran menekankan pada pengalaman belajar yang nyata dan relevan dengan kehidupan siswa. Ketiga, penggunaan berbagai sumber belajar, termasuk media dan teknologi, dimaksimalkan untuk mendukung proses pembelajaran. Keempat, penilaian menekankan pada pemahaman konsep dan kemampuan aplikasi praktis, bukan hanya hafalan. Kelima, proses pembelajaran dirancang untuk mendorong kerja sama dan kolaborasi antar siswa. Keenam, pembelajaran yang fleksibel dan disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa. Ketujuh, terdapat penekanan pada keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Semua ini bertujuan agar pembelajaran lebih bermakna dan dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

V. Menguraikan Konsep Pembelajaran di Laboratorium

Teks tidak secara rinci membahas pembelajaran di laboratorium, tetapi menyinggung konsepnya sebagai salah satu pendekatan yang dapat diintegrasikan dengan pembelajaran tematik dan kontekstual. Pembelajaran di laboratorium, dalam konteks SD, kemungkinan merujuk pada kegiatan praktikum sederhana yang berhubungan dengan mata pelajaran IPA, atau kegiatan-kegiatan yang memungkinkan siswa untuk bereksperimen dan mengamati secara langsung. Integrasi dengan pendekatan tematik dan kontekstual akan menjadikan pengalaman laboratorium lebih bermakna dan relevan dengan pembelajaran lainnya. Ini membutuhkan perancangan pembelajaran yang terintegrasi dan memperhatikan aspek keselamatan dan keamanan dalam kegiatan praktikum.

VI. Menerapkan Pembelajaran Tematik, Kontekstual, dan Laboratorium pada Proses Pembelajaran

Penerapan ketiga model pembelajaran ini secara terpadu memerlukan perencanaan yang matang dan pemahaman yang mendalam terhadap masing-masing karakteristik dan prinsipnya. Guru perlu mampu mengidentifikasi kompetensi dasar dan indikator yang dapat diintegrasikan, merancang kegiatan belajar yang menarik dan menantang, serta memilih sumber belajar dan media yang tepat. Integrasi dapat dilakukan melalui kegiatan proyek, investigasi, atau simulasi yang melibatkan siswa secara aktif. Hal yang penting adalah menghubungkan teori dengan praktik, sehingga pembelajaran lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Pembelajaran laboratorium dapat menjadi salah satu wahana untuk memperkuat pemahaman konseptual dan meningkatkan keterampilan praktis siswa.

Gambar

Gambar: Alur Perencaraan Pembelajaran Tematik
Gambar imajinatif
Gambar tentang

Referensi

Dokumen terkait

digunakan terhadap hasil belajar siswa di Sekolah Dasar dengan kriteria : pembelajaran menggunakan model pembelajaran MMK berbasis Kontekstual efektif dapat

Menurut Suyatno, model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model

Judul” Pengembangan Model Pembelajaran tematik Terpadu Melalui Pendekatan Saintifik Brbasis Inkuiri Nilai” yang menghasilkan model-model strategi pembelajaran yang beroientasi pada

Materi yang disusun dalam perangkat bahan ajar CTL mencakup semua substansi pada Mata Pelajaran Matematika, Pengetahuan Alam, Pengetahuan Sosial, Bahasa Indonesia, dan

Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran kontekstual dapat meningkatkan

Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan bahwa pembelajaran IPA tematik dengan model discovery learning dapat melibatkan peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan

Beberapa ciri khas pembelajaran tematik, antara lain: (1) pengalaman dan kegiatan belajar sangat relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak usia sekolah dasar; (2)

Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang ditemukan, perencanaan pembelajaran dengan menggunakan model Group Investigation pada pembelajaran tematik terpadu di kelas V SDN 13