PROPOSAL SKRIPSI
ANALISIS DAYA SAING EKONOMI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI
OLEH
TENGKU SITI FATIMAH 110501059
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ABSTRACT
The purposive of the reasearch is for analysing some elements which influence and be determinant of economic competitiveness in Serdang Bedagai in 2014. Thisresearch is using Analytical Hierarchy Process Method (AHP). This will be using purposive sampling method, this research uses primary data which it will be using quetioneres and interview over 30 respondens, it consists it students, teachers,publics,birocration,nonbanking, and businessman.
The result of the research is the element which the most influential factor determining economic competitiveness in Serdang Bedagai is Infrastructur of physical which it has value of weigth 0,225, and then regional economic (0,244), labor and productivity (0,208), institutional (0,164), and in the last position is social politic (0,128)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penentu daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2014 dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian ini menggunakan data primer dengan kuisioner dan wawancara terhadap 30 responden yang terdiri dari mahasiswa, pengajar, tokoh masyarakat, birokrasi, perbankan, non perbankan, dan pengusaha.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, faktor yang paling berpengaruh dalam penentuan daya saing ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai yaitu faktor infrastruktur fisik yang memiliki nilai bobot sebesar 0,255.Kemudian diikuti oleh faktor perekonomian daerah (0,244), faktor tenaga kerja dan produktifitas (0,208), faktor kelembagaan (0,164), dan pada posisi terakhir adalah faktor sosial politik (0,128).
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas kasih dan
rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan skripsi berjudul
“ Analisis Daya Saing Ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai”.
Penelitian ini disusun sebagai salah satu syarat menyelesaikan studi di
Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Sumatera Utara dan untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi.Tentunya dalam
penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan, maka penulis dengan
terbuka mengharapkan masukan dari berbagai pihak.
Dalam kesempatan ini, penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih
kepada berbagai pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini
dan penyelesaian studi penulis, terutama kepada :
1. Kedua orangtua tercinta Tengku Iskandar Zulkarnain, S.HdanYulisma atas
cinta, kasih, sayang, doa dan seluruh dukungan baik moril maupun materil
yang telah diberikan kepada penulis.
2. Bapak Prof. Dr Azhar Maksum, S.E., M.Ec.,Ac, Ak, CA. selaku Dekan
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Wahyu Ario Pratomo, S.E., M.Ec.selaku Ketua Departemen Ekonomi
Pembangunan dan Drs. Syahrir Hakim, M.Si sebagai Sekretaris Departemen
Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera
4. Bapak Irsyad Lubis, S.E., M.Soc.Sc., Ph.D, selaku Ketua Program Studi S1
Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera
Utara.
5. Bapak Paidi Hidayat, S.E., M.Si. selaku Sekretaris Program Studi S1
Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera
Utara dan sebagai dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan
waktunya untuk memberikan bimbingan dari awal sehingga terselesaikannya
skripsi ini.
6. Ibu Dra. Raina Linda Sari, M.Si. selaku dosen penguji yang telah meluangkan
waktunya dan memberikan saran dan kritik dalam skripsi ini.
7. Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution,S.E., M.Si.selaku dosen penguji saya yang
telah banyak memberikan dukungan dan masukan berupa saran dan kritik.
8. Seluruh staf pengajar dan staf pegawai Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Sumatera Utara, terutama Departemen Ekonomi Pembangunan.
9. Kepada keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan moril dan
juga materil.
10. Kepada seluruh teman-teman Ekonomi pembangunan 2011 dan kepada
seluruh pihak yang telah banyak membantu dalam penyusunan skripsi ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga hasil penelitian skripsi ini dapat
bermanfaat bagi banyak pihak, termasuk bagi penulis sendiri.
DAFTAR ISI
2.2.4 Infrastruktur dan Sumber Daya Alam ... 12
2.2.5 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ... 12
2.2.6 Sumber Daya Manusia ... 13
2.2.7 Kelembagaan ... 13
2.2.8 Governance dan Kebijakan Pemerintah ... 14
3.6 Waktu dan Lokasi Penelitian ... 22
4.1 Gambaran Umum Kabupaten Serdang Bedagai ... 37
4.1.1 Kondisi Geografis dan Topografis ... 37
4.1.2 Kondisi Demografis ... 38
4.1.3 Kondisi Ekonomi ... 38
4.2 Profil Responden ... 40
4.3 Pembobotan dan Pemeringkatan Daya Saing Ekonomi ... 41
4.3.1 Faktor Infrastruktur ... 43
4.3.2 Faktor Perekonomian Daerah ... 45
4.3.3 Faktor Tenaga Kerja dan Produktifitas ... 47
DAFTAR TABEL
No. Tabel Judul Halaman
1.1 PDRB per kapita dan PDRB lapangan usaha
Kabupaten Serdang Bedagai ... 3
3.1 Jumlah Sampel Berdasarkan Kelompok Masyarakat ... 20
3.2 Matriks Perbandingan Berpasangan ... 31
3.3 Skala Penilaian Perbandingan ... 33
3.4 Pembangkit Random (RI) ... 36
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Judul Halaman
2.1 Indikator Penentu Daya Saing di Kabupaten Serdang Bedagai ... 17 4.1 Nilai Bobot dari Faktor Penentu Daya Saing Ekonomi
Kabupaten Serdang Bedagai ... 42 4.2 Persentase Bobot Variabel Faktor Infrastruktur
Fisik...44 4.3 Persentase Bobot Variabel Faktor Perekonomian
Daerah ...45 4.4 Persentase Bobot Variabel Faktor Tenaga Kerja dan
DAFTAR LAMPIRAN No.
Lampiran Judul Halaman
ABSTRACT
The purposive of the reasearch is for analysing some elements which influence and be determinant of economic competitiveness in Serdang Bedagai in 2014. Thisresearch is using Analytical Hierarchy Process Method (AHP). This will be using purposive sampling method, this research uses primary data which it will be using quetioneres and interview over 30 respondens, it consists it students, teachers,publics,birocration,nonbanking, and businessman.
The result of the research is the element which the most influential factor determining economic competitiveness in Serdang Bedagai is Infrastructur of physical which it has value of weigth 0,225, and then regional economic (0,244), labor and productivity (0,208), institutional (0,164), and in the last position is social politic (0,128)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi dan menjadi penentu daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2014 dengan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Penelitian ini menggunakan data primer dengan kuisioner dan wawancara terhadap 30 responden yang terdiri dari mahasiswa, pengajar, tokoh masyarakat, birokrasi, perbankan, non perbankan, dan pengusaha.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, faktor yang paling berpengaruh dalam penentuan daya saing ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai yaitu faktor infrastruktur fisik yang memiliki nilai bobot sebesar 0,255.Kemudian diikuti oleh faktor perekonomian daerah (0,244), faktor tenaga kerja dan produktifitas (0,208), faktor kelembagaan (0,164), dan pada posisi terakhir adalah faktor sosial politik (0,128).
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal sebagaimana tertuang dalam UU
nomor 22 dan 25 tahun 1999 telah mulai dilaksanakan pada tanggal 1 Januari
2001. Pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi ini menandai dimulainya
babak baru di dalam pembangunan daerah. Terlepas dari perdebatan mengenai
ketidaksiapan pemerintah di berbagai bidang untuk melaksanakan kedua UU
tersebut, otonomi daerah dan desentralisasi fiskal diyakini merupakan jalan
terbaik dalam rangka mendorong pembangunan daerah, menggantikan konsep
pembangunan terpusat yang oleh beberapa pihak dianggap sebagai penyebab
lambannya pembangunan di daerah dan semakin membesarnya ketimpangan
antardaerah. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, yang berarti adanya
keleluasaan bagi daerah untuk mengembangkan potensi penerimaan daerah pada
satu sisi, dan keleluasaan untuk menyusun daftar prioritas pembangunan di sisi
lainnya akan dapat mendorong percepatan pembangunan daerah.
Dalam rangka pelaksanaan pembangunan daerah yang semakin dinamis di
daerah maka diperlukan upaya pembinaan, pengembangan dan inovasi secara
lebih terarah dan terpadu sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kemajuan pembangunan daerah. Proses menuju kemandirian suatu
daerah dalam era globalisasi saat ini tidaklah terlepas dari, perlu adanya daya
seperti ini mungkin menjadi salah satu penyebab mengapa daya saing lebih sering
di terjemahkan sebagai persaingan atau rivalitas yang berkonotasi negatif.
Konsekuensi lebih lanjut adalah kecenderungan pengambilan kebijakan yang over
protective dan keengganan untuk bekerja sama. Selain dari pada itu daya saing
juga lebih banyak diartikan sebagai suatu potensi yang bersifat tunggal, sehingga
dengan demikian tidak ada upaya pemahaman bagimana kompleksitas
faktor-faktor yang membentuk daya saing.Daya saing tidaklah hanya berorientasi pada
indikator ekonomi saja, tetapi lebih jauh lagi yaitu daya saing tersebut diartikan
sebagai kemampuan daerah untuk menghadapi tantangan dan persaingan global
untuk peningkatan kesejahteraan hidup rakyat yang nyata dan berkelanjutan serta
secara politis, sosial dan budaya dapat diterima oleh seluruh masyarakat.
Menurut World Economic Forum (WEF) 2014-2015 tingkat daya saing
Indonesia telah menempati peringkat ke-34 dari 144 negara atau naik 4 tingkat
dari sebelumnya 38 (2013-2014) dan peringkat ke-50 (2013-2012). Menurut
WEF, kenaikan ranking indeks daya saing Indonesia pada periode ini dikarenakan
perbaikan di beberapa kriteria seperti infrastruktur, konektifitas, kualitas tata
kelola sektor swasta dan publik efisiensi pemerintah, dan pemberantasan korupsi.
WEF sendiri mengelompokkan Indonesia sebagai lima besar ekonomi ASEAN
bersama Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam yang terus memperbaiki
peringkat daya saing mereka sejak tahun 2009.
Tingginya tingkat persaingan antarnegara ini tidak hanya akan berdampak
pada perekonomian Indonesia secara keseluruhan, tetapi juga akan berdampak
daerah dan desentralisasi fiskal. Tantangan ini selanjutnya harus diartikan sebagai
tuntutan bagi setiap daerah di Indonesia untuk meningkatkan daya saing
masing-masing daerah. Otonomi daerah dan desentralisasi fiskal akan berimplikasi pada
kemampuan daerah dalam meningkatkan daya saing daerahnya masing-masing
sebagai penentu keberhasilan pembangunan di daerah tersebut.
Kabupaten Serdang Bedagai merupakan pemekaran dari kabupaten Deli
Serdang sesuai dengan UU nomor 36 tahun 2003.Kabupaten Serdang Bedagai
memiliki daerah seluas 1.900,22 km², yang terdiri dari 17 kecamatan dan 237
desa.Jumlah penduduknya mencapai 594.383 juta jiwa.
Tabel 1.1
PDRB per kapita dan PDRB lapangan usaha Kab. Serdang Bedagai
Tahun PDRB
2011 18.177,76 10.905,56
2012 20.385,14 12.313,15
Sumber : Badan Pusat Statistik
Dalam tabel diatas dapat dilihat bahwa PDRB Kabupaten Serdang Bedagai
dari tahun 2009-2012 mengalami kenaikan yang cukup baik.Sektor pertanian
merupakan kontributor utama yang paling memberikan peran dalam peningkatan
PDRB di Kabupaten Serdang Bedagai.Selanjutnya, diikuti oleh sektor
perdagangan, hotel dan restoran, dan sektor bangunan.Pada tahun 2011 Kabupaten
Serdang Bedagai mendapat peringkat 5 derah pemekaran terbaik di Indonesia
1999 sampai tahun 2009. Kriteria penilainnya meliputi kesejahteraan masyarakat,
good governance, pelayanan publik dan daya saing daerah.
Dari hasil penelitian PPSK Bank Indonesia dan LP3E FE-UNPAD (2008)
dalam neraca daya saing daerah, kabupaten Serdang Bedagai berada di peringkat
ke-200 secara keseluruhan dalam daya saing daerah dari 434 neraca daya saing
daerah. Berdasarkan input perekonomian daerah, kabupaten Serdang Bedagai
berada di peringkat 232. Peringkat ini masih di bawah kabupaten dan kota lainnya
di Sumatera Utara seperti kota Pematang Siantar yang berada di peringkat 117,
kota Sibolga di peringkat 131, dan kota Binjai di peringkat 141. Berdasarkan input
SDM dan ketenagakerjaan, kabupaten Serdang Bedagai berada di peringkat 160.
Berdasarkan input infrastruktur, SDA, dan lingkungan, berada di peringkat 161
dan berdasarkan output tingkat kesempatan kerja, kabupaten Serdang Bedagai
berada di peringkat 163.
Hal ini disebabkan oleh Infrastruktur jalan yang kurang memadai, sektor
pariwisata yang tidak terawat, tingkat pendidikan yang masih belum memenuhi
kebutuhan pasar tenaga kerja serta ketidakstabilan politik yang menyebabkan
investor ragu untuk berinvestasi di Kabupaten Serdang Bedagai.Maka, inilah yang
menjadi tugas para pemerintah daerah untuk menyelesaikan masalah yang
menghambat peningkatan daya saing di Kabupaten Serdang Bedagai. Supaya
tingkat daya saing ekonomi daerah di Kabupaten Serdang Bedagai mampu
menyaingi daerah lainnya, seperti Kota Sibolga, Kota Binjai, dan Kota Pematang
Siantar yang saat ini peringkatnya jauh diatas Kabupaten Serdang Bedagai.
Setiapa karya ilmiah pasti memiliki permasalahan yang akan di tinjau,
pembahasannya akan di mulai dan berlanjut pada penarikan kesimpulan maupun
pemberian saran-saran. Demikian juga halnya dengan penulisan skripsi ini, sesuai
latar belakang diatas, telah di tentukan permasalahan – permasalahan yang akan di
bahas pada skripsi ini yaitu sebagai berikut :
Faktor apa yang paling memiliki pengaruh dalam menentukan tingkat daya saing
ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktorapa yang paling memiliki pengaruh dalam menentukan
tingkat daya saing ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai.
1.3.2 Manfaat Penelitian
a. Sebagai tambahan pengetahuan untuk penulis agar lebih mengetahui
tentang daya saing.
b. Sebagai bahan referensi untuk para peneliti lainnya yang akan membahas
tentang daya saing ekonomi suatu daerah.
c. Sebagai salah satu pedoman bagi pemerintah untuk menentukan dan
Setiapa karya ilmiah pasti memiliki permasalahan yang akan di tinjau,
pembahasannya akan di mulai dan berlanjut pada penarikan kesimpulan maupun
pemberian saran-saran. Demikian juga halnya dengan penulisan skripsi ini, sesuai
latar belakang diatas, telah di tentukan permasalahan – permasalahan yang akan di
bahas pada skripsi ini yaitu sebagai berikut :
Faktor apa yang paling memiliki pengaruh dalam menentukan tingkat daya saing
ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai ?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktorapa yang paling memiliki pengaruh dalam menentukan
tingkat daya saing ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai.
1.3.2 Manfaat Penelitian
a. Sebagai tambahan pengetahuan untuk penulis agar lebih mengetahui
tentang daya saing.
b. Sebagai bahan referensi untuk para peneliti lainnya yang akan membahas
tentang daya saing ekonomi suatu daerah.
c. Sebagai salah satu pedoman bagi pemerintah untuk menentukan dan
memutuskan kebijakan yang tepat untuk Kabupaten Serdang Bedagai.
2.1 Konsep Daya Saing Daerah
Daya saing merupakan kemampuan menghasilkan produk barang dan jasa
yang memenuhi pengujian internasional dan saat kemampuan daerah
menghasilkan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja yang tinggi dengan tetap
terbuka terhadap persaingan eksternal (European Commission, 1999).Daya saing
daerah kini merupakan salah satu isu sentral, terutama dalam rangka
mengamankan stabilitas ketenagakerjaan, dan memanfaatkan integrasi eksternal
(kecendrungan global), serta keberlanjutan pertumbuhan kesejahteraan dan
kemakmuran.(Camagni, 2002).Sementara itu Center for Urban and Regional
Studies (CURDS) mendefinisikan daya saing daerah sebagai kemampuan sektor
bisnis atau perusahaan pada suatu daerah dalam menghasilkan pendapatan yang
tinggi serta tingkat kekayaan yang lebih merata untuk penduduknya.Selanjutnya,
daya saing daerah merupakan kemampuan ekonomi dan masyarakat lokal untuk
memberikan peningkatan standart hidup bagi warga (Malecki, 1999).
Sedangkan definisi daya saing nasional menurut para ahli lainnya yaitu,
menurut Institute Of Management Development (IMD) suatu lemabaga yang
menerbitkan “World Competitiveness Yearbook” secara rutin mendefinisikan
daya saing nasional sebagai kemampuan suatu negara dalam menciptakan nilai
tambah dalam rangka menambah kekayan nasional dengan cara mengelola aset
dan proses, daya tarik dan agresivitas, globality, dan proximity serta dengan
kondusif kepada perusahaan-perusahaan dalam mempertahankan daya saing
domestic dan global. Menurut WEF daya saing nasional adalah kemampuan
perekonomian nasional untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan
berkelanjutan. Menurut Porter (1990) menyatakan bahwa konsep daya saing yang
dapat diterapkan pada level nasional tak lain adalah “produktivitas” yang
didefinisikannya sebagai nilai ouput yang dihasilkan oleh seorang tenaga kerja.
Bank Dunia menyatakan hal yang relatif sama dimana “daya saing mengacu
kepada besaran serta laju perubahan nilai tambah perunit input yang dicapai oleh
perusahaan”. Akan tetapi baik Bank Dunia ataupun Porter serta literatur-literatur
lainnya mengenai daya saing nasional memandang bahwa daya saing tidak secara
sempit mencakup hanya sebatas tingkat efisiensi suatu perusahaan. Daya saing
mencakup aspek yang lebih luas, tidak berkutat hanya pada level mikro
perusahaan, tetapi juga mencakup aspek diluar perusahaan seperti iklim berusaha
(business environment) yang jelas-jelas diluar kendali suatu perusahaan.
Aspek-aspek tersebut dapat bersifat firm-specific, region-specific, dan bahkan
country-specific.Secara umum, ketika membandingkan kedua definisi daya saing daerah
diatas dengan definisi daya saing nasional yang dibahas sebelumnya, terdapat
kesamaan yang essensial.Dapat dikatakan bahwa perbedaan konsep daya saing
hanya terpusat pada cakupan wilayah, dimana yang pertama adalah daerah (bagian
suatu negara), sementara yang kedua adalah negara.Dalam berbagai pembahasan
tentang daya saing nasional pun, baik secara eksplisit maupun implisit terangkum
relevansi pengandopsian konsep daya saing nasional ke dalam konsep daya saing
Dari pembahasan tentang berbagai konsep dan definisi tentang daya saing
suatu negara atau daerah sebagimana diuraikan diatas, dapat diambil suatu
kesimpulan dalam mendefinisikan daya saing perlu diperhatikan beberapa hal
sebagai berikut :
a. Daya saing mencakup aspek yang lebih luas dari sekedar produktivitas atau
efisiensi pada level mikro. Hal ini memungkinkan kita lebih memilih
mendefinisikan daya saing sebagai “kemampuan suatu perekonomian”
daripada “kemampuan sektor swasta atau perusahaan”.
b. Pelaku ekonomi (economic agent) bukan hanya perusahaan akan tetapi juga
rumah tangga, pemerintah, dan lain-lain. Semuanya berpadu dalam suatu
sistem ekonomi yang sinergis. Tanpa memungkiri peran besar sektor swasta
perusahaan dalam perekonomian, fokus perhatian tidak hanya pada itu saja.
Hal ini diupayakan dalam rangka menjaga luasnya cakupan konsep daya saing.
c. Tujuan dari hasil akhir meningkatkan daya saing suatu perekonomian tak lain
adalah meningkatkan tingkat kesejahteraan penduduk dalan perekonomian
tersebut. Kesejahteraan (level of living) adalah konsep yang sangat luas yang
pasti tidah hanya tergambarkan dalam sebuah besaran variabel seperti
pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi hanya satu aspek dari
pembangunan ekonomi dalam rangka peningkatan standart kehidupan
masyarakat.
d. Kata kunci dari konsep daya saing adalah “kompetisi”. Disinilah peran
Kata “daya saing” menjadi kehilangan maknanya pada suatu perekonomian
yang tertutup.
Berdasarkan keterangan-keterangan yang telah di jelaskan diatas, daya saing
daerah yang menjadi acuan dalam penelitian ini di definisikan sebagai
“kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat
kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan
domestik dan internasional“ (Abdullah, 2002).
2.2 Indikator Utama Daya Saing Daerah
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Paidi Hidayat (2012) yang mengukur daya
saing ekonomi kota Medan, dengan menggunakan 5 faktor pembentuk yang di
gunakan adalah perekonomian daerah, infrastruktur, sistem keuangan,
kelembagaan dan sosial politik. Selain itu, menurut penelitian KPPOD, 2005 yang
tentang daya tarik investasi kabupaten / kota di Indonesia dengan menggunakan
indicator-indikator seperti : kelembagaan, sosial politik, ekonomi daerah, tenaga
kerja dan produktivitas serta infrastruktur fisik. Penelitian yang dilakukan oleh Ira
irawati dkk (2005) yang mengukur tingkat daya saing di wilayah provinsi
Sulawesi Tenggara dengan menggunakan indikator perekonomian daerah,
infrastruktur, sumber daya manusia dan sumber daya alam. Penelitian yang
dilakukan Abdullah, dkk (2002 : 15) menyebutkan indikator-indikator utama yang
dianggap menentukan daya saing daerah adalah (1) Perekonomian daerah, (2)
Keterbukaan, (3) Sistem Keuangan, (4) Infrastruktur dan sumber daya alam, (5)
Governance dan Kebijakan pemerintah, dan (9) Manajemen dan ekonomi mikro.
Masing-masing indikator tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Perekonomian Daerah
Perekonomian daerah merupakan ukuran kinerja secara umum dari
perekonomian makro (daerah) yang meliputi penciptaan nilai tambah, akumulasi
kapital, tingkat konsumsi, kinerja sektoral perekonomian, serta tingkat biaya
hidup. Indikator kinerja ekonomi makro mempengaruhi daya saing daerah melalui
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Nilai tambah merefleksikan produktivitas perekonomian setidaknya dalam
jangka pendek.
2) Akumulasi modal mutlak diperlukan untuk meningkatkan daya saing
dalam jangka panjang.
3) Kemakmuran suatu daerah mencerminkan kinerja ekonomi di masa lalu.
4) Kompetisi yang di dorong mekanisme pasar akan meningkatkan kinerja
ekonomi suatu daerah. Semakin ketat kompetisi pada suatu perekonomian
daerah, maka akan semakin kompetitif perusahaan-perusahaan yang akan
bersaing secara internasional maupun domestik.
b. Keterbukaan
Indikator keterbukaan merupakan ukuran seberapa jauh perekonomian
suatu daerah berhubungan dengan daerah lain yang tercermin dari perdagangan
daerah tersebut dengan daerah lain dalam cakupan nasional dan internasional.
1) Keberhasilan suatu daerah dalam perdagangan internasional merefleksikan
daya saing perekonomian daerah tersebut.
2) Keterbukaan suatu daerah baik dalam perdagangan domestik maupun
internasional meningkatkan kinerja perekonomiannnya.
3) Investasi internasional mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien
ke seluruh penjuru dunia
4) Daya saing yang didorong oleh ekspor terkait dengan orientasi
pertumbuhan perekonomian daerah.
5) Memepertahankan standar hidup yang tinggi mengharuskan integrasi
dengan ekonomi internasional.
c. Sistem Keuangan
Indikator sistem keuangan merefleksikan kemampuan sistem finansial
perbankan dan non-perbankan di daerah untuk memfasilitasi aktivitas
perekonomian yang memberikan nilai tambah. Sistem keuangan suatu daerah
akan mempengaruhi alokasi faktor produksi yang terjadi di perekonomian daerah
tersebut. Indikator sisitem keuangan ini mempengaruhi daya saing daerah melalui
prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Sistem keuangan yang baik mutlak diperlukan dalam memfasilitasi
aktivitas perekonomian daerah.
2) Sektor keuangan yang efisien dan terintegrasi secara internasional
d. Infrastruktur dan Sumber Daya Alam
Infrastruktur dalam hal ini merupakan indikator seberapa besar sumber
daya seperti modal fisik, geografis, dan sumber daya alam dapat mendukung
aktivitas perekonomian daerah yang bernilai tambah. Indikator ini mendukung
daya saing daerah melalui prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Modal fisik berupa infrastruktur baik ketersediaan maupun kualitasnya
mendukung aktivitas ekonomi daerah.
2) Modal alamiah baik berupa kondisi geografis maupun kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya juga mendorong aktivitas perekonomian
daerah.
3) Teknologi informasi yang maju merupakan infrastruktur yang mendukung
berjalannya aktivitas bisnis di daerah yang berdaya saing.
e. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Ilmu pengetahuan dan teknologi mengukur kemampuan daerah dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi serta penerapannya dalam aktivitas ekonomi yang
meningkatkan nilai tambah. Indikator ini mempengaruhi daya saing daerah
melalui beberapa prinsip di bawah ini:
1) Keunggulan kompetitif dapat dibangun melalui aplikasi teknologi yang
sudah ada secara efisien dan inovatif.
2) Investasi pada penelitian dasar dan aktivitas yang inovatif yang
menciptakan pengetahuan baru sangat krusial bagi daerah ketika melalui
f. Sumber Daya Manusia
Indikator sumber daya manusia dalam hal ini ditujukan untuk mengukur
ketersediaan dan kualitas sumber daya manusia. Faktor SDM ini mempengaruhi
daya saing daerah berdasarkan prinsip-prinsip berikut:
1) Angkatan kerja dalam jumlah besar dan berkualitas akan meningkatkan
daya saing suatu daerah.
2) Pelatihan dan pendidikan adalah cara yang paling baik dalam
meningktakan tenaga kerja yang berkualitas.
3) Sikap dan nilai yang dianut oleh tenaga kerja juga menentukan daya saing
suatu daerah.
4) Kualitas hidup masyarakat suatu daerah menentukan daya saing daerah
tersebut begitu juga sebaliknya.
g. Kelembagaan
Kelembagaan merupakan indikator yang mengukur seberapa jauh iklim
sosial, politik, hukum, dan aspek keamanan mampu mempengaruhi secara positif
aktivitas perekonomian di daerah. Pengaruh faktor kelembagaan terhadap daya
saing daerah didasarkan pada beberapa prinsip sebagai berikut:
1) Stabilitas sosial dan politik melalui sistem demokrasi yang berfungsi
dengan baik merupakan iklim yang kondusif dalam mendorong aktivitas
ekonomi daerah yang berdaya saing.
2) Peningkatan daya saing ekonomi suatu daerah tidak akan dapat tercapai
3) Aktivitas perekonomian suatu daerah tidak akan dapat berjalan secara
optimal tanpa didukung oleh situasi keamanan yang kondusif.
h. Governance dan Kebijakan Pemerintah
Indikator Governance dan kebijakan pemerintah dimaksudkan sebagai
ukuran dari kualitas administrasi pemerintah daerah, khususnya dalam rangka
menyediakan infrastruktur fisik dan peraturan-peraturan daerah. Secara umum
pengaruh faktor Governance dan kebijakan pemerintah bagi daya saing daerah
dapat didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Dengan tujuan menciptakan ilkim persaingan yang sehat intervensi
pemerintah dalam perekonomian sebaiknya diminimalkan.
2) Pemerintah daerah berperan dalam menciptakan kondisi sosial yang
terprediksi serta berperan pula dalam meminimalkan resiko bisnis.
3) Efektivitas administrasi pemerintahan daerah dalam menyediakan
infrastruktur dan aturan-aturan berpengaruh terhadap daya saing ekonomi
suatu daerah.
4) Efektivitas pemerintah daerah dalam melakukan koordinasi dan
menyediakan informasi tertentu pada sektor swasta mendukung daya
saing ekonomi suatu daerah.
5) Fleksibilitas pemerintah daerah dalam menyesuaikan kebijakan ekonomi
merupakan faktor yang kondusif dalam mendukung daya saing daerah.
i. Manajemen dan Ekonomi Mikro
cara yang inovatif, menguntungkan dan bertanggung jawab. Prinsip-prinsip yang
relevan terhadap daya saing daerah di antaranya adalah:
1) Rasio harga/kualitas yang kompetitif dari suatu produk mencerminkan
kemampuan manajerial perusahaan-perusahaan yang berada di suatu
daerah.
2) Orientasi jangka panjang manajemen perusahaan akan meningkatkan daya
saing daerah dimana perusahaan tersebut berada.
3) Efisiensi dalam aktivitas perekonomian ditambah dengan kemampuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan adalah keharusan bagi perusahaan
yang kompetitif.
4) Kewirausahaan sangat krusial bagi aktivitas ekonomi pada masa-masa
awal.
5) Dalam usaha yang sudah mapan, manajemen perusahaan memerlukan
keahlian dalam mengintegrasikan serta membedakan kegiatan-kegiatan
usaha.
2.3 Penelitian Terdahulu
Paidi Hidayat (2012) dengan penelitiannya yang berjudul “Analisis Daya
Saing Ekonomi Kota Medan”.Dengan menggunakan metode AHP dapat diambil
kesimpulan bahwa faktor yang paling berpengaruh dalam meningkatkan daya
saing adalah faktor infrastruktur dengan nilai bobot (0,252), diikuti faktor
perekonomian daerah dan selanjutnya faktor sistem keuangan yang
masing-masing bobot nilainya (0,243) dan (0,219). Skala prioritas untuk faktor
pelabuhan laut dan udara serta kualitas jalan. Selain itu, skala prioritas
perekonomian daerah adalah tingkat daya beli maasyarakat.Sementara, untuk
skala prioritas sistem keuangan dalah kinerja lembaga keuangan.
Millah (2013) dalam penelitiannya yang berjudul “Analisis Daya Saing
Daerah di Jawa Tengah” memberikan hasil penelitian yaitu hasil tingkat daya
saing daerah kota di Jawa Tengah antara lain Kota Semarang menduduki
peringkat pertama pada tingkat daya saing daerah kota di Jawa Tengah dari tahun
2009 sampai tahun 2011. Sedangkan Kota Tegal menduduki peringkat terendah
pada tahun 2009 dan tahun 2011, dan Kota Magelang menduduki peringkat
terendah pada tahun 2010. Potensi Kota Semarang unggul pada hampir seluruh
indikator daya saing. Semakin unggul potensi yang dimiliki suatu daerah maka
semakin tinggi pula tingkat daya saing daerah kota tersebut.
KKPOD (2005) dengan judul penelitiannya “Analisis daya tarik investasi 214
kabupaten/kota di Indonesia” dalam penelitian ini KPPOD menyatakan bahwa
beberapa kabupaten/kota di Indonesia hanya mengedepankan upaya-upaya
meningkatkan PAD dan relatif mengabaikan aspek-aspek yang mampu menarik
investasi.
Ira Irawati, dkk (2008) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengukuran
Tingkat Daya Saing Daerah Berdasarkan Variabel Perekonomian Daerah,
Variabel Infrastruktur dan Sumber Daya Alam serta Variabel Sumber Daya
Manusia di Wilayah provinsi Sulawesi Tenggara” dengan menggunakan metode
manusia pada kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Tenggara turut mendukung
kabupaten/kota tersebut menjadi peringkat terbaik secara umum.
Kuncoro (2005) dalam penelitiannya yang berjudul “Daya Tarik Investasi dan
Pungli di DIY” menyebutkan bahwa menurut persepsi pelaku usaha di DIY,
faktor kelembagaan memiliki bobot terbesar dalam menentukan daya tarik
investasi/ kegiatan berusaha di DIY.Kemudian diikuti oleh faktor infrastruktur
fisik, yang ketiga adalah faktor sosial politik.
2.4 Kerangka Konseptual
Gambar 2.1
Indikator Penentu Daya Saing Ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai
Kerangka konseptual diatas merupakan indikator penentuan daya saing
Faktor Penentu Daya Saing Ekonomi Daerah
daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai harus sesuai dengan tujuan dari
penelitian ini. Adapun variabel-variabel yang menjadi indikator utama dalam
penelitian ini berdasarkan perbandingan dari beberapa penelitian terdahulu
tentang daya saing yaitu, KPPOD (2005), Paidi Hidayat (2012), Ira Irawati
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini mengkaji tentang faktor-faktor penentu daya
saing ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2014
dengan pendekatan Analytical Hierarchy Process (AHP).
3.2 Penentuan Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penduduk yang tinggal dan
bermukim di Kabupaten Serdang Bedagai. Berdasarkan data BPS (2014), jumlah
penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai sebanyak 594.383 juta jiwa. Namun,
dalam penelitian ini ditetapkan jumlah sampel yang sudah cukup representatif
yaitu 150 responden yang mewakili seluruh komponen masyarakat yang terdapat
di 17 kecamatan dan 237 desa Kabupaten Serdang Bedagai. Adapun jumlah
sampel berdasarkan kelompok masyarakat adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1.
Jumlah Sampel Berdasarkan Kelompok Masyarakat
No Kelompok Masyarakat Responden
1 Mahasiswa/Pelajar 3
2 Staf Pengajar/Dosen/Guru 3
3 Masyarakat Umum 4
4 Birokrasi 4
5 Perbankan 3
6 Non Perbankan 3
7 Pengusaha 10
3.3 Metode Pengambilan Sampel
Prosedur pengambilan sampel atau responden dilakukan secara purposive
sampling, yakni dengan menentukan sampel atau responden yang dianggap dapat
mewakili segmen kelompok masyarakat yang dinilai mempunyai pengaruh atau
merasakan dampak besar terkait daya saing ekonomi daerah.
3.4 Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini metode yang di gunakan adalah metode deskriptif
kualitatif. Muhammad Idrus dalam bukunya Metode Penelitian Ilmu Sosial (Edisi
kedua, 2009:25) mengungkapkan salah satu ciri penelitian kualitatif adalah data
penelitian yang bersifat deskriptif yaitu data penelitian kualitatif berupa narasi
cerita, penuturan informan, dokumen-dokumen pribadi seperti foto, catatan
pribadi/diary (buku harian), perilaku, gerak tubuh, mimik, dan banyak hal lain
yang tidak didominasi angka-angka sebagaimana peneitian kuantitatif. Bogdan
dan Taylor (1992:21-22) menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah salah satu
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan
dan perilaku orang-orang yang diamati. Selain itu, penelitian kualitatif juga
bersifat dinamis dan berkembang, yaitu terkait dengan situs alamiahnya, maka
fenomanya yang dilihat peneliti bersifat dinamis dan berkembang.Untuk itu,
seorang peneliti kualitatif harus terus mengikuti subjek yang diteliti dalam kurun
waktu yang “cukup lama” agar dapat melihat perubahan atau perkembangannya
3.5 Tempat dan Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kabupaten Serdang Bedagai provinsi Sumatera
Utara, Indonesia.Penelitian ini dilakukan dalam kurun waktu satu bulan.
3.6 Jenis dan Metode Pengumpulan Data 3.6.1 Jenis Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan dalam penelitian ini maka jenis
data yang digunakan adalah :
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari pihak pertama
yang menjadi objek penelitian.Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari
wawancara dan juga pengisian kuisioner terhadap kelompok masyarakat yang
dijadikan sampel.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari instansi-instansi yang terkait
dengan melakukan studi kepustakaan terhadap bahan-bahan publikasi secara
resmi, buku-buku, majalah-majalah serta laporan lain yang berhubungan dengan
penelitian.
3.6.2 Metode Pengumpulan Data
Sedangkan metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini
adalah :
1. Kuisioner
Para penduduk yang menjadi responden atau sampel dalam penelitian ini
kelompok masyarakat yang menjadi sampel dalam penelitian daya saing ekonomi
Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Wawancara
Teknik wawancara dilakukan kepada kelompok masyarakat yang menjadi
sampel adalah untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai saran
atau keluhan masyarakat secara langsung terhadap faktor-faktor penentu daya
saing ekonomi kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2014.
3.7 Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam menganalisis daya saing ekonomi
Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2014 meliputi analisis deskriptif dan
Analytical Hierarchy Process (AHP). Secara jelasnya, metode yang digunakan
antara lain sebagai berikut:
1. Analisis Deskriptif
Analisis ini memberikan gambaran tentang karakteristik tertentu dari data
yang telah dikumpulkan. Data tersebut akan dianalisis sehingga menghasilkan
gambaran mengenai persepsi masyarakat terhadap faktor-faktor penentu daya
saing ekonomi kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2014.
Analisis data disajikan dalam bentuk tabulasi, gambar (chart) dan
diagram.Prioritas alternatif terbaik dari total rangking yang diperoleh merupakan
rangking yang dicari dalam Analytical Hierarchy Process(AHP) ini.Dalam
menyelesaikan persoalan dengan metode Analytic Hierarchy Process(AHP) ada
2. Analytical Hierarchy Process (AHP)
Analisis ini digunakan untuk memberikan nilai bobot setiap faktor dan
variabel dalam menghitung faktor-faktor penentu daya saing ekonomi
kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2014. Proses pemberian
bobot indikator dan sub-indikator (variabel) dilakukan dengan menggunakan
Analitical Hierarchy Process (AHP) melalui kuisioner untuk kelompok
masyarakat yang sudah ditentukan sebelumnya dari berbagai latar belakang
disiplin ilmu.
Metode Analytical Hierrchy Process(AHP) awalnya dikembangkan oleh Prof.
Thomas Lorie Saaty dari Wharton Business School sekitar tahun 1970.Metode ini
digunakan untuk mencari rangking atau urutan prioritas dari berbagai alternatif
dalam pemecahan suatu permasalahan.Dalam kehidupan sehari-hari, seseorang
senantiasa dihadapkan untuk melakukan pilihan dari berbagai alternatif.Disini
diperlukan penentuan prioritas dan uji konsistensi terhadap pilihan-pilihan yang
telah dilakukan.Dalam situasi yang kompleks, pengambilan keputusan tidak
dipengaruhi oleh satu faktor saja melainkan multifaktor dan mencakup berbagai
jenjang maupun kepentingan.
Pada dasarnya AHP adalah suatu teori umum tentang pengukuran yang
digunakan untuk menemukan skala rasio, baik dari perbandingan berpasangan
yang diskrit maupun kontinu.Perbandingan-perbandingan ini dapat diambil dari
ukuran aktual atau skala dasar yang mencerminkan kekuatan perasaan dan
preferensi relatif. Metode ini adalah sebuah kerangka untuk mengambil keputusan
pengambilan keputusan dengan memecahkan persoalan tersebut kedalam
bagian-bagiannya, menata bagian atau variabel ini dalam suatu susunan hirarki, memberi
nilai numerik pada pertimbangan subjektif tentang pentingnya tiap variabel dan
mensintesis berbagai pertimbangan ini untuk menetapkan variabel yang mana
yang memiliki prioritas paling tinggi dan bertindak untuk mempengaruhi hasil
pada situasi tersebut.
Analytical Hierarchy Process(AHP) dapat menyederhanakan masalah yang
kompleks dan tidak terstruktur, strategik dan dinamik menjadi bagiannya, serta
menjadikan variabel dalam suatu hirarki (tingkatan). Masalah yang kompleks
dapat diartikan bahwa kriteria dari suatu masalah yang begitu banyak
(multikriteria), struktur masalah yang belum jelas, ketidakpastian pendapat dari
pengambil keputusan, pengambil keputusan lebih dari satu orang, serta
ketidakakuratan data yang tersedia.
Metode AHP ini membantu memecahkan persoalan yang kompleks dengan
menstruktur suatu hirarki kriteria, pihak yang berkepentingan dengan hasil yang
menarik berbagai pertimbangan guna mengembangkan bobot atau
prioritas.Metode ini juga menggabungkan kekuatan dari perasaan dan logika yang
bersangkutan pada berbagai persoalan, lalu mensintesis berbagai pertimbangan
yang beragam menjadi hasil yang cocok dengan perkiraan kita secara intuitif
sebagaimana yang dipresentasikan pada pertimbangan yang telah dibuat.Selain itu
AHP juga memiliki perhatian khusus tentang penyimpangan dari konsistensi,
Analytical Hierarchy Process (AHP) mempunyai landasan aksiomatik yang
terdiri dari:
1. Resiprocal Comparison, yang mengandung arti bahwa matriks perbandingan
berpasangan yang terbentuk harus bersifat berkebalikan.Misalnya, jika A
adalah k kali lebih penting dari pada B maka B adalah 1/k kali lebih penting
dari A.
2. Homogenity, yaitu mengandung arti kesamaan dalam melakukan
perbandingan. Misalnya, tidak dimungkinkan membandingkan jeruk dengan
bola tenis dalam hal rasa, akan tetapi lebih relevan jika membandingkan
dalam hal berat.
3. Dependence, yang berarti setiap level mempunyai kaitan (complete
hierarchy) walaupun mungkin saja terjadi hubungan yang tidak sempurna
(incomplete hierarchy).
4. Expectation, yang berarti menonjolkon penilaian yang bersifat ekspektasi dan
preferensi dari pengambilan keputusan. Penilaian dapat merupakan data
kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif.
Secara umum pengambilan keputusan dengan metode AHP didasarkan pada
langkah-langkah berikut:
1. Mendefinisikan masalah dan menentukan solusi yang diinginkan.
2. Membuat struktur hirarki yang diawali dengan tujuan umum, dilanjutkan
dengan kriteria–kriteria dan alternaif–alternatif pilihan yang ingin di
3. Membentuk matriks perbandingan berpasangan yang menggambarkan
kontribusi relatif atau pengaruh setiap elemen terhadap masing–masing tujuan
atau kriteria yang setingkat diatasnya. Perbandingan dilakukan berdasarkan
pilihan atau judgement dari pembuat keputusan dengan menilai tingkat
tingkat kepentingan suatu elemen dibandingkan elemen lainnya.
4. Menormalkan data yaitu dengan membagi nilai dari setiap elemen di dalam
matriks yang berpasangan dengan nilai total dari setiap kolom.
5. Menghitung nilai eigen vector dan menguji konsistensinya, jika tidak
konsisten maka pengambilan data (preferensi) perlu diulangi. Nilai eigen
vector yang dimaksud adalah nilai eigen vector maksimum yang diperoleh
dengan menggunakan matlab maupun dengan manual.
6. Mengulangi langkah 3, 4, dan 5 untuk seluruh tingkat hirarki.
7. Menghitung eigen vectordari setiap matriks perbandingan berpasangan. Nilai
eigen vectormerupakan bobot setiap elemen. Langkah ini untuk mensintesis
pilihan dalam penentuan prioritas elemen–elemen pada tingkat hirarki
terendah sampai pencapaian tujuan.
8. Menguji konsistensi hirarki. Jika tidak memenuhi dengan CR < 0,15 maka
penilaian harus diulang kembali.
Rasio Konsistensi (CR) merupakan batas ketidakkonsistenan (inconsistency)
yang ditetapkan Saaty.Rasio Konsistensi (CR) dirumuskan sebagai perbandingan
indeks konsistensi (RI). Angka pembanding pada perbandingan berpasangan
- Skala 1 = setara antara kepentingan yang satu dengan kepentingan yang
lainnya
- Skala 3 = kategori sedang dibandingkan dengan kepentingan lainnya
- Skala 7 = kategori amat kuat dibandingkan dengan kepentingan lainnya
- Skala 9 = kepentingan satu secara ekstrim lebih kuat dari kepentingan
Prioritas alternatif terbaik dari total rangking yang diperoleh merupakan
rangking yang dicari dalam Analytical Hierarchy Process (AHP) ini. Dalam
menyelesaikan persoalan dengan metode Analytic Hierarchy Process (AHP) ada
beberapa prinsip dasar yang harus dipahami antara lain sebagai berikut (Saaty,
1990) :
a. Decomposition
Sistem yang kompleks dapat dengan mudah dipahami kalau sistem tersebut
dipecah menjadi berbagai elemen pokok, kemudian elemen-elemen tersebut
disusun secara hirarkis. Hirarki masalah disusun untuk membantu proses
pengambilan keputusan dengan memperhatikan seluruh elemen keputusan yang
terlibat dalam sistem. Sebagian besar masalah menjadi sulit untuk diselesaikan
karena proses pemecahannya dilakukan tanpa memandang masalah sebagai suatu
sistem dengan suatu struktur tertentu.
Pada tingkat tertinggi dari hirarki, dinyatakan tujuan, sasaran dari sistem yang
dicari solusi masalahnya.Tingkat berikutnya merupakan penjabaran dari tujuan
tersebut.Suatu hirarki dalam metode AHP merupakan penjabaran elemen yang
tersusun dalam beberapa tingkat, dengan setiap tingkat mencakup beberapa
elemen-elemen yang berada di bawahnya.Dalam menyusun suatu hirarki tidak terdapat
suatu pedoman tertentu yang harus diikuti.Hirarki tersebut tergantung pada
kemampuan penyusun dalam memahami permasalahan. Namun tetap harus
bersumber pada jenis keputusan yang akan diambil.
Untuk memastikan bahwa kriteria-kriteria yang dibentuk sesuai dengan
tujuan permasalahan, maka kriteria-kriteria tersebut harus memiliki sifat-sifat
berikut:
1. Minimum
Jumlah kriteria diusahakan optimal untuk memudahkan analisis.
2. Independen
Setiap kriteria tidak saling tumpang tindih dan harus dihindarkan
pengulangan kriteria untuk suatu maksud yang sama.
3. Lengkap
Kriteria harus mencakup seluruh aspek penting dalam permasalahan.
4. Operasional
Kriteria harus dapat diukur dan dianalisis, baik secara kuantitatif maupun
kualitatif dan dapat dikomunikasikan.
b. Comparative Judgment
Prinsip ini berarti membuat penilaian tentang kepentingan relatif dua elemen
pada suatu tingkat tertentu dalam kaitannya dengan criteria di atasnya. Penilaian
ini merupakan inti dari AHP, karena ia akan berpengaruh dalam menentukan
Hasil dari penilaian ini disajikan dalam bentuk matriks yang dinamakan matriks
pairwise comparison.
Yang pertama dilakukan dalam menentapkan prioritas elemen-elemen dalam
suatu pengambilan keputusan adalah dengan membuat perbandingan berpasangan,
yaitu membandingkan berpasangan, yaitu membandingkan dalam bentuk
berpasangan seluruh kriteria untuk setiap sub sistem hirarki.Dalam perbandingan
berpasangan ini, bentuk yang lebih disukai adalah matriks, karena matriks
merupakan alat yang sederhana yang biasa dipakai, serta memberi kerangka untuk
menguji konsistensi.Rancangan matrik ini mencerminkan dua segi prioritas yaitu,
mendominasi dan didominasi.
Misalkan terdapat suatu sub sistem hirarki dengan kriteria C dan sejumlah n
alternatif dibawahnya, Ai sampai An. Perbandingan antar alternatif untuk sub
sistem hirarki itu dapat dibuat dalam bentuk matriks n × n, seperti pada tabel 2
dibawah ini:
a. Seberapa jauh tingkat kepentingan A1 (baris) terhadap kriteria C
b. Seberapa jauh dominasi A1 (baris) terhadap A1 (kolom) atau
c. Seberapa banyak sifat kriteria C terhadap A1 (baris) dibandingkan dengan A1
(kolom).
Nilai numerik yang dikenakan untuk seluruh perbandingan diperoleh dari
skala perbandingan yang disebut Saaty pada tabel 4. Apabila bobot kriteria Ai
adalah Wi dan bobot elemen Wj maka skala dasar 1-9 yang disusun Saaty
mewakili perbandingan (Wi/Wj)/1. Angka-angka absolute pada skala tersebut
merupakan pendekatan yang amat baik terhadap perbandingan bobot elemen Ai
Tabel 3.3
Skala penilaian perbandingan Skala tingkat
kepentingan Definisi Keterangan
1 Sama pentingnya Kedua elemen mempunyai pengaruh yang sama
3 Sedikit lebih penting
Pengalaman dan penilaian sedikit memihat satu elemen dibandingkan dengan pasangannya
5 Lebih penting
Pengalaman dan penilaian sangat memihak satu elemen dibandingkan dengan pasangannya
7 Sangat penting
Satu elemen sangat disukai dan secara praktis dominasinya sangat nyata dibandingkan dengan elemen pasangannya
9 Mutlak lebih penting
Satu elemen terbukti mutlak lebih disukai dibandingkan dengan pasangannya, pada tingkat keyakinan yang tertinggi
2,4,6,8 Nilai tengah
Diberikan bila terdapat keraguan penilaian antara dua penilaian yang berdekatan
Kebalikan Aij = 1/Aji
Bila aktivitas i memperoleh suatu angka bila dibandingkan dengan aktivitas j, maka j memiliki nilai kebalikannya bila dibandingkan i
Thomas L. Saaty menyusun angka-angka absolute sebagai skala penilaian
berdasarkan kemampuan manusia untuk menilai secara kualitatif, yaitu melalui
ungkapan sama, lemah, amat kuat, dan absolute atau ekstrim. Penilaian yang
dilakukan oleh banyak partisipan akan menghasilkan pendapat yang berbeda satu
sama lain. AHP hanya memerlukan satu jawaban untuk matriks perbandingan.
Jadi semua jawaban dari partisipan harus dirata-ratakan.Dalam hal ini Saaty
memberikan metode perataan dengan rata-rata geometric atau geometric mean.
Rata-rata geometric dipakai karena bilangan yang dirata-ratakan adalah deret
bilangan yang sifatnya rasio dan dapat mengurangi gangguan yang ditimbulkan
salah satu bilangan yang terlalu besar atau terlalu kecil.
Teori rata-rata geometric menyatakan bahwa jika terdapat n partisipan yang
melakukan perbandingan berpasangan, maka terdapat n jawaban atau nilai
numerik untuk setiap pasangan. Untuk mendapatkan nilai tertentu dari semua nilai
tersebut, masing-masing nilai harus dikalikan satu sama lain kemudian hasil
perkalian itu dipangkatkan dengan 1/n. Secara sistematis dituliskan sebagai
berikut :
aij = (z1. z2. z3. …. zn)1/n
dengan:
aij= Nilai rata-rata perbandingan berpasangan kriteria Ai dengan Aj untuk n partisipan.
Zi= Nilai perbandingan antara A1 dengan Ai untuk partisipan i, dengan nilai i = 1, 2, 3, …, n
n = Jumlah partisipan
c. Synthesis of Priority
Dari setiap matriks Pairwise Comparison kemudian dicari eigenvector dari
priority.Prosedur melakukan sintesis berbeda menurut bentuk hirarki.Pengurutan
elemen-elemen menurut kepentingan relatif melalui prosedur sintesis dinamakan
priority setting.
d. Logical Consistency
Salah satu asumsi utama model AHP yang membedakannya dengan model -
model pengambilan keputusan lain adalah tidak adanya syarat konsistensi mutlak.
Dengan model AHP yang memakai persepsi manusia sebagai inputnya maka
ketidakkonsistenan mungkin terjadi karena manusia memiliki keterbatasan dalam
menyatakan persepsinya secara konsisten terutama kalau harus membandingkan
banyak kriteria. Berdasarkan kondisi ini maka manusia dapat menyatakan
persepsinya tersebut akan konsisten nantinya atau tidak.
Pengukuran konsistensi dari suatu matriks itu sendiri didasarkan atas
eigenvalue maksimum.Dengan eigenvalue maksimum, inkonsistensi yang biasa
dihasilkan matriks perbandingan dapat diminumkan.
Rumus dari indeks konsistensi adalah:
CI = (λmaks – n) ( n – 1)
Dengan:
CI = indeks konsistensi (λmaks = eigenvalue maksimum
n = orde maktrik
denganλ merupakan eigenvalue dan n ukuran matriks. Eigenvalue maksimum
suatu matriks tidak akan lebih kecil dari nilai n sehingga tidak mungkin ada nilai
CI negatif. Makin dekat eigenvalue maksimum dengan besarnya matriks, makin
konsisten matriks tersebut dan apabila sama besarnya maka matriks tersebut
biasa disebut indeks inkonsistensi karena rumus (2.2) di atas memang lebih cocok
untuk mengukur inkonsistensi suatu matriks.
Indeks inkonsistensi di atas kemudian diubah dalam bentuk rasio
inkonsistensi dengan cara membaginya dengan suatu indeks random. Indeks
random menyatakan rata-rata konsistensi dari matriks perbandingan berukuran 1
sampai 10 yang didapatkan dari suatu eksperimen oleh Oak Ridge National
Laboratory dan kemudian dilanjutkan oleh Wharton School.
Tabel 3.4
Pembangkit Random (RI)
N 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
RI 0 0 0.58 0.9 1.12 1.24 1.32 1.41 1.45 1.49
CR = CI/RI
CR = Rasio konsistensi RI =Indeks random
Selanjutnya konsistensi responden dalam mengisi kuesioner
diukur.Pengukuran konsistensi ini dimaksudkan untuk melihat ketidak
konsistensinan respon yang diberikan responden. Sato dalam Chow and Luk
(2005) telah menyusun nilai CR (Consistency Ration) yang diizinkan adalah CR <
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Kabupaten Serdang Bedagai 4.1.1 Kondisi Geografis dan Topografis
Kabupaten Serdang Bedagai merupakan salah satu kabupaten yang berada di
kawasan Pantai Timur Sumatera Utara. Secara geografis Kabupaten Serdang
Bedagai terletak pada posisi 3˚01’2,5” lintang Utara - 3˚46’33” Lintang Utara dan
98˚44’22” Bujur Timur - 99˚19’01” Bujur Timur dengan ketinggian berkisar 0 –
500 meter diatas permukaan laut. Luas wilayah Kabupaten Serdang Bedagai
sebesar 1.900,22 km², Kabupaten Serdang Bedagai terdiri dari 17 Kecamatan dan
243 Desa. Adapun batas-batas wilayah Kabupaten Serdang Bedagai sebagai
berikut :
a. Sebelah utara berbatasan dengan Selat Malaka
b. Sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Simalungun
c. Sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Batu Bara dan Kabupaten
Simalungun
d. Sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang
Kabupaten Serdang Bedagai memiliki iklim tropis dimana kondidinya hampir
sama dengan Kabupaten Deli Serdang sebagai kabupaten induk. Rata-rata
temperatur udara perbulan minimum 23,8˚C dan maksimum 32, 1˚C dengan rata
4.1.2 Kondisi Demografis
Jumlah penduduk di Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2013 berjumlah
605.583 jiwa dengan komposisi jumlah penduduk laki-laki 303.963 jiwa dan
perempuan 301.620 jiwa. Kepadatan penduduk Kabupaten Serdang Bedagai pada
tahun 2013 adalah sebesar 319 jiwa/km². kepadatan penduduk terbesar adalah di
Kecamatan Perbaungan yaitu sebesar 913 jiwa/km², disusul Kecamatan Teluk
Mengkudu 625 jiwa/km², Sei bamban 602 jiwa/km². Sedangkan kecamatan
dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Kotarih 104 jiwa/km²,
dan Kecamatan Bintang Bayu 113 jiwa/km².
4.1.3 Kondisi Ekonomi
Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai tahun 2013 yang diukur
berdasarkan kenaikan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga
konstan 2000 meningkat 5,97 persen terhadap tahun 2012.
Pertumbuhan tersebut terjadi pada semua sektor ekonomi, dengan
pertumbuhan tertinggi dicapai oleh sektor keuangan, persewaan dan jasa
perusahaan 7,73 persen, disusul oleh sektor bangunan 7,63 persen, sektor jasa-jasa
7,51 persen, sektor pengangkutan dan komunikasi 6,84 persen, sektor
pertambangan dan penggalian 6,67 persen, sektor listrik, gas dan air bersih 6,59
persen, sektor perdagangan, hotel dan restoran 6,25 persen dan sektor pertanian
2013meningkat dari tahun 2012 yang sebelumnya sebesar Rp. 12.313,15 milyar
menjadi Rp14.041,79 milyar.
Pada tahun 2013 angka PDRB per kapita Serdang Bedagai mencapai Rp.
23,25 juta dengan laju peningkatan sebesar 13,53 persen dibandingkan dengan
PDRB per kapita tahun 2012 sebesar Rp. 20,48 juta. Meningkatnya pendapatan
perkapita bisa disebabkan oleh dua hal, yang pertama adalah peningkatan PDRB
atas dasar harga berlaku atau menurunnya jumlah penduduk pertengahan tahun.
Potensi Ekonomi wilayah Kabupaten Serdang Bedagai semakin hari semakin
berkembang sesuai dengan meningkatnya permintaan konsumen terhadap
produk-produk yang dihasilkan terutama sektor pertanian, industri, perdagangan dan jasa,
pariwisata dan sebagainya.Potensi-potensi ekonomi yang ada mempunyai
jenjang/klas pemasaran yang berbeda-beda, mulai dari tingkat desa sampai
regional.Pusat ekonomi dengan lingkup pelayanan lokal (desa/kecamatan) antara
lain :
1. Kawasan Industri dan Perdagangan makanan Pasar Bengkel di Kecamatan
Perbaungan.
2. Kawasan Perdagangan di Kecamatan Perbaungan.
3. Kawasan Pariwisata Theme Park di Kecamatan Pantai Cermin, Perbaungan,
Teluk Mengkudu, Tanjung Beringin dan Bandar Khalipah.
4. Wisata Kuliner pada daerah-daerah pesisir pantai.
Pusat perbelanjaan tradisional di Kabupaten Serdang Bedagai lebih sering
disebut sebagai pekan. Berikut nama-nama pekan yang terdapat di Kabupaten
Serdang Bedagai :
a. Pekan Tanjung Beringin
b. Pekan Dolok Masihul
c. Pekan Perbaungan
d. Pekan Sei Rampah
Sarana transportasi di Kabupaten Serdang Bedagai terutama adalah mobil
angkutan umum, untuk tranportasi keluar kota ada juga mobil angkutan antar kota
dalam provinsi, seperti KUPJ, Prima Jaya, Rajawali dan lain-lain. Selain itu,
kereta api juga bisa menjadi transportasi yang dapat menghubungkan Kabupaten
serdang Bedagai dengan Kota Medan, Tebing Tinggi, Asahan dan Tanjung Balai.
Panjang jalan di seluruh Kabupaten Serdang Bedagai pada tahun 2013
mencapai 1.434,750 km, setiap tahunnya baik prasarana jalan atau jembatan selalu
mendapatkan prioritas untuk mendapatkan perbaikan dengan anggaran yang telah
ditetapkan.
4.2 Profil Responden
Berdasarkan hasil tabulasi terhadap 30 responden yang menjadi sampel dalam
peneltian ini didapat informasi bahwa responden berjenis kelamin pria lebih
banyak dibandingkan dengan responden yang berjenis kelamin wanita dengan
bobot masing-masing 67% dan 33%. Sedangkan responden yang paling banyak
masing-Serta yang berusia diatas 50 tahun hanya sebesar 3%.Sementara itu untuk tingkat
pendidikan, pada umumnya responden tamatan D3/S1/S2 sebesar 56% dan
selebihnya tamatan SMA/Sederajat sebesar 37%.Dan hanya 7% responden yang
tamatan SMP/Sederajat.Untuk lebih jelasnya, karakteristik responden dapat dilihat
pada tabel di bawah ini.
Tabel 4.1.
Karakteristik Responden
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1 Pria 20 67
2 Wanita 10 33
Usia (Tahun) Jumlah Persentase (%)
1 20 – 30 8 27
2 31 – 40 9 30
3 41 – 50 9 30
4 >50 4 13
Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase (%)
1 SMP/Sederajat 2 7
2 SMA/Sederajat 11 37
3 D3/S1/S2 17 56
Sumber : Data Primer Diolah
4.3 Pembobotan dan Pemeringkatan Faktor Daya Saing Ekonomi
Daya saing ekonomi daerah merupakan representasi dari dari kinerja
indikator-indikator pembentuknya. Semakin baik kinerja indikator-indikator
pembentuknya, maka akan semakin tinggi daya saing ekonomi suatu daerah.
Sebaliknya, apabila kinerja indikator-indikator pembentuk daya saing ekonomi
tersebut rendah, maka daya saing ekonomi daerah tersebut juga rendah.Untuk
bobot dari masing-masing faktor tersebut.Pembobotan ini diperoleh dengan
menggunakan metode Analytic Hierarchy Proccess (AHP) dengan bantuan
Software yaitu Expert Choice.
Pembobotan ini digunakan sebagai dasar untuk menentukan faktor-faktor
yang menentukan daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai tahun
2014.Bobot yang lebih besar dari suatu faktor menunjukkan bahwa faktor tersebut
lebih penting dibandingkan dengan faktor lainnya dalam menentukan daya saing
ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai.Berikut ini hasil pembobotan dari
faktor-faktor penentu daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai seperti yang
Gambar 4.1
Nilai Bobot dari Faktor Penentu Daya Saing Ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai
Berdasarkan hasil dari penelitian diatas menunjukkan bahwa faktor penentu
daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai adalah faktor infrastruktur yang
memiliki bobot paling besar yakni sebesar 0,255.Kemudian diikuti oleh faktor
perekonomian daerah sebesar 0,244 dan faktor tenaga kerja dan produktifitas
dengan nilai bobot 0,208. Sedangkan faktor kelembagaan dengan bobot sebesar
0,168 dan faktor sosial politik sebesar 0,128, kedua faktor penentu ini lah yang
menempati posisi keempat dan kelima untuk faktor penentu daya saing ekonomi
Melihat hasil pembobotan tersebut menunjukkan bahwa tanggapan responden
terhadap faktor penentu daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai tahun
2014 dipengaruhi oleh 3 faktor dengan nilai bobot terbesar, yakni faktor
infrastruktur, faktor perekonomian daerah, dan faktor tenaga kerja dan
produktifitas. Pentingnya faktor infrastruktur dikarenakan faktor tersebut menjadi
alat ukur bagi berkembangannya kegiatan ekonomi disuatu daerah.Oleh Karena
itu, hasil pembobotan ini memperlihatkan bahwa faktor non ekonomi, yakni
infrastruktur menjadi faktor penentu utama daya saing ekonomi Kabupaten
Serdang Bedagai.Sedangkan faktor ekonomi sendiri, yaitu perekonomian daerah
yang menempati posisi kedua dalam menentukan daya saing ekonomi Kabupaten
Serdang Bedagai.Berikut ini penjelasan faktor-faktor penentu daya saing
Kabupaten Serdang Bedagai berdasarkan hasil pembobotan dan pemeringkatan
tahun 2014.
4.3.1 Faktor Infrastruktur Fisik
Infrastruktur fisik merupakan faktor pendukung dalam kegiatan ekonomi.Jika
kegiatan ekonomi semakin meningkat maka kebutuhan terhadap ketersediaan
infrastruktur semakin meningkat sehingga dibutuhkan kesinambungan untuk terus
menjaga ketersediaan dan kualitas infrastruktur fisik. Dari hasil pembobotan fakor
infrastruktur fisik yang terdiri dari variabel ketersediaan infrastruktur dengan
bobot 0,446 atau 45% dan variabel kualitas infrastruktur dengan bobot 0,554 atau
55%. menurut tanggapan responden bahwa variabel kualitas infrastruktur yang
Gambar 4.2
Persentase bobot variabel faktor infrastruktur fisik
Hasil dari pembobotan dan pemeringkatan ini didukung oleh hasil wawancara
terhadap responden yang menunjukkan bahwa 53% responden mengatakan
kualitas jalan di Kabupaten Serdang Bedagai sudah membaik, sedangkan sekitar
37% masih kurang setuju dengan kualitas jalan yang semakin membaik. Selain
itu, akses dan kualitas pelabuhan (Pelabuhan Pantai Cermin), dimana sebagiaan
besar (53%) responden kurang setuju, dan hanya sekitar 20% responden setuju.
Tanggapan responden terhadap akses dan kualitas pelabuhan udara, 40%
responden setuju dengan hal tersebut dan sekitar 33% yang kurang setuju dengan
hal tersebut.
Berdasarkan hasil analisis dan persepsi responden bahwa masyarakat
menginginkan kualitas infrastruktur fisik yang baik.Selain itu, peningkatan
ketersediaan infrastruktur fisik juga menjadi pendorong atau penentu untuk
meningkatkan daya saing ekonomi di Kabupaten Serdang Bedagai untuk waktu
mendatang.
Ketersediaan Infrastruktur
Fisik 45% Kualitas
4.3.2 Faktor Perekonomian Daerah
Perekonomian daerah adalah indikator dari variabel potensi ekonomi dan
struktur ekonomi yang menjadi faktor penetu daya saing di suatu daerah. Faktor
perokonmian daerah memiliki nilai bobot tertinggi kedua setelah faktor
infrastruktur fisik sebesar 0, 244 yang terdiri dari 2 variabel yaitu, variabel
potensi ekonomi dan variabel struktur ekonomi yang memiliki masing-masing
nilai bobot sebesar 0,526 atau 53% dan 0,474 atau 47%. Persentase bobot dari
perekonomian daerah dapat dilihat dari diagram dibawah ini.
Gambar 4.3
Persentase bobot variabel faktor perekonomian daerah
Dari tanggapan responden, variabel potensi ekonomi dianggap lebih penting
dan menjadi prioritas dalam indikator perekonomian daerah dalam menentukan
daya saing ekonomi Kabupaten Serdang Bedagai.
Dari hasil wawancara persepsi masyarakat dalam variabel potensi ekonomi,
50% responden menyatakan setuju bahwa tingkat daya beli masyarakat cenderung
Potensi Ekonomi
53% Struktur
responden menyatakan kurang setuju, bahwa tingkat daya beli masyarakat
cenderung semakin meningkat. Selanjutnya untuk perkembangan kondisi ekonomi
yang semakin membaik, 57% responden menyatakan setuju dan 10% responden
menyatakan sangat setuju, dan 33% responden menyatakan kurang setuju bahwa
perkembangan kondisi ekonomi semakin membaik. Kemudian, 46% responden
setuju dan bahkan 10% responden sangat setuju bahwa kondisi harga-harga
barang dan jasa relatif stabil dan terjangkau, dan ada juga sekitar 40% responden
yang kurang setuju dengan hal tersebut. Selanjutnya untuk tingkat kesejahteraan
masyarakat yang cenderung semakin membaik, 57% responden setuju bahkan
10% responden sangat setuju tetapi, 33% responden kurang setuju bahwa tingkat
kesejahteraan masyarakat cenderung semakin membaik.
Dalam variabel struktur ekonomi, 70% responden menyatakan setuju bahwa
nilai tambah atau kontribusi sektor primer semakin meningkat. 23% responden
menyatakan kurang setuju, dan 3% responden menyatakan sangat setuju dan 3%
untuk responden yang tidak setuju. Selanjutnya, 66% responden setuju dan 10%
responden sangat setuju bahwa nilai tambah atau kontribusi sektor sekunder
semakin meningkat, lain halnya 23% responden menyatakan kurang
setuju.Kemudian, 53% responden setuju bahwa nilai tambah atau kontribusi
sektor tersier semakin meningkat. 37% responden menyatakan kurang setuju ada
juga sekitar 3% responden tidak setuju, dan 7% responden sangat setuju bahwa
nilai tambah atau kontribusi sektor tersier semakin meningkat.
Berdasarkan hasil analisis dan wawacara persepsi para responden, variabel
kontribusi sektor primer, sekunder, dan tersier cenderung semakin
meningkat.Sama halnya dengan struktur ekonomi, potensi ekonomi juga
mengalami peningkatan.Teatapi, pemerintah juga harus tetap memperhatikan
kedua hal tersebut sebagai variabel dari indicator penentu daya saing di
Kabupaten Serdang Bedagai.
4.3.3 Faktor Tenaga Kerja dan Produktifitas
Tenaga kerja merupakan indikator yang penting dalam meningkatkan daya
saing ekonomi suatu daerah. Tenaga kerja yang berkualitas akan meningkatkan
daya saing ekonomi suatu daerah. Faktor tenaga kerja dan produktivitas terdiri
dari 3 variabel, yaitu biaya tenaga kerja, ketersediaan tenaga kerja, dan
produktivitas tenaga kerja.
Variabel produktifitas tenaga kerja memiliki bobot sebesar 0,369 atau 37%
dari keseluruhan bobot faktor tenaga kerja dan produktivitas.Variabel ketersediaan
tenaga kerja memiliki bobot sebesar 0,357 atau 36%.Dan variabel biaya tenaga
kerja memiliki bobot sebesar 0,274 atau 27% dari keseluruhan bobot faktor tenaga
kerja dan produktivitas.Persentase bobot dari masing-masing variabel dapat dilihat